The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

kelas10_smk_teknik_grafika_dan_industri_grafika_antonius-bowo-wasono

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by mutia.ajeng188, 2024-01-08 01:12:22

kelas10_smk_teknik_grafika_dan_industri_grafika_antonius-bowo-wasono

kelas10_smk_teknik_grafika_dan_industri_grafika_antonius-bowo-wasono

193 5. Bahan-bahan Kimia untuk Fotografi 5.1. Cairan Pengembang (Developer) Jika kita memotret sebuah model asli, maka gambar yang terekam pada emulsi film masih merupakan gambar yang tersembunyi (latent image). Ini berarti bahwa gambar tersebut belum kelihatan. Untuk mengubah gambar/image tersebut menjadi suatu gambar yang dapat dilihat, gambar tersebut perlu diproses terlebih dahulu, yaitu dikembangkan/didevelop di dalam cairan pengembang. Pengembangan pada film akan mengubah atom perak dari perak hologenida yang telah terkena cahaya (tersinari), menjadi perak metalik yang hitam warnanya. Setelah pengembangan dianggap cukup, film perlu dimasukkan/ dicelupkan ke dalam cairan Gambar 4.27. Kepekaan film terhadap cahaya Gambar 4.28. Film developer in tray design


194 penghenti (stop bath), kemudian dimantapkan dan seterusnya dicuci dalam air yang mengalir lalu dikeringkan. Bahan-bahan cairan pengembang Pada umumnya cairan pengembang mengandung bahan-bahan seperti berikut : 5.1.1. Bahan Pengembang Bahan ini diperlukan untuk mereduksi bagian-bagian emulsi yang terkena cahaya. Bahan pengembang ini adalah bahan-bahan yang sangat mudah memberikan elektron di dalam reaksi. Secara sederhana reaksi yang terjadi dapat digambarkan : Ion perak Ag+ + Electron = Ag/perak (hitam) Bahan-bahan yang biasa dipilih sebagai bahan pengembang adalah metol, hydroquinone dan phehidone. Bahan-bahan tersebut biasanya digunakan bersama-sama dalam campuran metol-hydroquinone atau phenidone-hydroquinone, oleh karena itu apabila hydreoquinone digunakan bersama dengan salah satu dari bahan metol atau phenidone, akan memperlihatkan sifat-sifat pengembangan yang lebih baik daripada apabila digunakan sendiri-sendiri. Dengan bahan pengembang tersebut, sebuah film yang cukup mendapat penyinaran akan menghasilkan densitas bagian gelap, nada tengah dan bagian terang (shadow,mod-tone, dan highlight density) yang baik dalam waktu pemrosesan yang praktis (tidak terlalu lama) 5.1.2. Pemercepat (aselerator) Bahan pengembang (developing agent) hanya bisa bekerja dengan aktif apabila ada di dalam cairan bahan alkali. Dengan adanya bahan alkali ini waktu pengembangan dapat dipersingkat. th deep tank


195 Karena itu bahan alkali yang terdapat di dalam cairan pengembang dinamakan acelerator) Bahan-bahan alkali yang digunakan biasanya antara lain: Boraks (Borax) - pH9 Sodium karbonat (sodium carbonat) - pH10 Kaustik soda (caustic Soda) Catatan : Ph = adalah ukuran keasaman dan keahlian sesuatu bahan dan dinyatakan dengan angka 0 -14 pH = 7 berarti normal pH > 7 berarti alkali Ph < 7 berarti asam. 5.1.3. Penahan (restrainer) Selama pengembangan sebagian dari perak halogenida yang tidak terkena cahaya (unexposed area) juga cenderung turut terkembangkan sebelum pengembangan mencapai tingkat yang diinginkan. Gambar 4.30. Diagram skematis film processor


196 Hal ini adalah tidak diinginkan dan dapat dikurangi dengan menambahkan sedikit bahan penahan dan cairan pengembang, misalnya potasium bromida. Bahan ini akan menahan aktivitas pengembangannya 5.1.4. Pemelihara (preservative) Bahan pengembang dalam campuran air terutama dengan adanya bahan alkali, akan cepat berubah dengan warna kecoklatan, kehila ngan daya penge mban gnya dan akan meny ebabkan pengotoran pada emulsi film. Ini disebabkan karena telah terjadi oksidasi pada cairan tersebut. Untuk mengatasi hal ini biasanya ditambahkan bahan pengawet misalnya (sodium sulphite) yang akan mencegah terjadinya oksidasi dan memelihara cairan tetap bersih. 5.1.5. Pelarut (solvent) Bahan pengembang biasanya berupa bubuk. Karena itu sebelum dapat digunakan perlu terlebih dahulu dilarutkan menjadi cairan dengan air. 5.2. Jenis-jenis Cairan Pengembang (Developer) Ada 2 jenis yaitu : 1. cairan pengembang untuk nada penuh (continous tone) Gambar 4.31. Pengembangan film secara manual


197 cairan ini terdiri dari satu macam dan dapat digunakan tanpa dicampur (full strength) atau dicampur dengan air/dilemahkan menurut kebutuhan,misalnya Ilford I.D. 2, Kodak DK 50, D.11 dan sebagainya. 2. cairan pengembang untuk bahan lith cairan ini terdiri dari 2 bagian yang terpisah, dan baru dicampur sesaat sebelum digunakan. Hal ini perlu diperhatihan berhubung cairan pengembang tersebut keadaannya menjadi tidak stabil apabila telah dicampur, artinya daya kerjanya akan berangsurangsur kurang. Ciri dari cairan pengembang jenis ini adalah bekerja kontras dan menghasilkan pinggiran batas yang tajam, misalnya Kodalith A dan B dan super developer. 5.3. Cairan Penghenti (Stop Bath) Cairan ini dimaksudkan untuk menghentikan/menyetop bekerjanya pengembangan. Ini digunakan pada tahapan antara pengembang dan fixing dan cairan itu akan segera menyetop dengan serempak dan merata kerja pengembangan. 2 (dua) fungsi utamanya adalah : 1. memungkinkan pengontrolan yang cermat terhadap pengembangan yang telah terjadi pada film. 2. mencegah turut terbawanya developing agents yang aktif oleh jelatin film ke dalam cairan fixer, yang mana dapat menimbulkan dicroic fog. Stop bath yang paling sederhana adalah air. Pada film yang telah dikembangkan, sisa-sisa cairan pengembangnya yang terdapat pada emulsi film sebagian besar akan terbasuh bersih apabila film dicelupkan ke dalam air untuk kira-kira ½ jam sampai 1 menit. Di sini sebenarnya proses pengembangan tidak terhenti sama sekali melainkan hanya


198 diperlambat. Akan tetapi hal ini masih lebih baik daripada tidak digunakan stop bath sama sekali. Apabila dikehendaki penghentian pengembangan dengan cepat, maka sebaiknya digunakan adalah cairan pengembangan yang mengandung asam. Cairan ini akan menetralisir bekerjanya bahan pengembang dengan segera dan dengan demikian menghindarkan kemungkinan terjadinya dichroic fog pada waktu film difixer. Asam yang digunakan antara lain asam asetat, asam citrat dengan kadar keasaman 2-5%. 5.4. Cairan untuk Fixing Bagian-bagian dari emulsi film yang tidak terkena penyinaran tidak berubah menjadi perak metalik pada waktu film dikembangkan (didevelop). Bagian ini masih mengandung lapisan perak halogenida dan masih tetap peka terhadap cahaya. Apabila dibiarkan bagian tersebut lambat laut akan menjadi hitam dan mengkaburkan seluruh gambar. Proses ini menghilangkan/membuang lapisan perak halogenida yang tidak tersinari inilah yang disebut fixing. Ada 4 (empat) jenis fixer : 1. Hypo biasa 2. Acid fixer 3. Acid hardering fixer 4. Rapid fixer Kalau hypo biasa yang digunakan untuk fixing, maka perlu digunakan acid stop bath (bukannya air) yaitu untuk mencegah terjadinya pengotoran karena oksidasi dan dichroic fog. Kadar hypo dalam cairan fixing ini biasanya antara 20-40%. Jika digunakan acid fixer, keasamannya harus dijaga agar sekedar cukup untuk menetralisasi bahan pengembang, akan tetapi tidak cukup kuat untuk memutihkan silver image dari film. Seandainya diperkirakan bahwa suhu air untuk


199 mencuci film diakhir proses ataupun suhu pada waktu mengeringkan film adalah cukup tinggi sehingga mungkin menyebabkan rusaknya jelatin film, maka pada filter dapat ditambahkan bahan pengeras jelatin. Pada umumnya bahan tersebut adalah chrome atau potassium alum. Jika kecepatan waktu lebih diutamakan maka digunakan rapid fixer. Biasanya adalah 20% ammonium thiosulphate atau menambahkan ammnium chlorida pada fixer yang biasa. 5.5. Cairan Pengeras (Hardener) Fungsi dari bahan pengeras/hardener adalah : 1. untuk mengurangi menggembungnya jelatin dari emulsi film pada pemrosesan lebih lanjut. 2. meninggikan ketahanan jelatin terhadap goresan. Bahan-bahan yang digunakan sebagai pengeras adalah potassium alum, K2SO4, Al2 (SO4),24H2O, atau chrome alum K, SO4, Cr (SO4), 24H2O dan dicampurkan pada fixer. Bahan ini apabila tergabung dengan jelatin akan meninggikan titik cair jelatin dan menambah ketahanan terhadap goresan. 5.6. Cairan Pelemah (Reducer) Pelamahan (reduction) adalah membuang atau mengurangi perak yang terdapat pada gambar (image) dari hasil pengembangan karena kelebihan penyinaran ( atau terlalu lama) waktu mengembangkan. Proses ini dapat diterapkan pada gambar (image) jenis garis (line), nada lengkap (halftone) dan nada penuh (contonous tone), misalnya untuk gambar-gambar yang terlalu tinggi densitasnya, terlalu kontras atau terselubung pinggirnya. Ada 3 jenis pelemah (reduction) : 1. pelemah permukaan (surface atau subtractive) jenis ini mengurangi densitas yang sama besarnya di seluruh bagian gambar, jadi tidak mengurangi kontras. Jenis ini sangat cocok diterapkan untuk gambar garis dan nada lengkap. Bahan


200 yang digunakan adalah “Farmer’s reducer” yang terdiri dari 2 campuran yaitu campuran A dan campuran B. 2. pelemah sebanding (propotional) jenis ini bekerja secara proporsional, artinya akan mengurangi densitas yang sama prosentasenyadi seluruh bagian gambar. Apabila besarnya prosentase pengurangan = 20% misalnya di bagian yang mempunyai densitas 1.0 akan berkurang 2, sedang di bagian yang mempunyai densitas .1 akan berkurang .02. Jenis pelemah (reducer) ini mengurangi tidak hanya densitas, tetapi juga kontras. Dengan demikian tidak cocok untuk gambar garis dan nada lengkap. 3. pelemah banding tinggi (super propotional) jenis pelemah ini akan mengurangi densitas lebih banyak (bekerja lebih kuat) di bagian yang mempunyai densitas tinggi daripada di bagian yang mempunyai densitas rendah. Ia akan menghasilkan pengurangan kontras yang banyak. Tidak cocok untuk digunakan bagi gambar garis ataupun nada lengkap. Catatan : Farmer’s reducer terdiri dari 2 bagian, yaitu Bagian A dan bagian B. Bagian A : Air (hangat) - 500 cc Potassium ferisianida - 50 gram Air untuk menjadikan - 1000 cc Bagian B : Air hangat - 500 cc Potassium ferisianida - 250 gram Air untuk menjadikan - 1000 cc


201 Larutan A dan larutan B harus disimpan terpisah, dan baru dicampur sesaat akan digunakan. Untuk penggunaan harus dicampur dahulu : 1 bagian dari larutan A 4 bagian dari larutan B 15 bagian air. Apabila bekerjanya terlalu lambat, airnya dapat dikurangi menjadi 8 bagian saja. 5.7. Cairan Penguat (intensifier) Kadang-kadang karena keadaan dapat terjadi bahwa negatif yang dihasilkan agak kurang kehitamannya, misalnya karena kurang penyinaran waktu pemotretan atau kurang cukup waktu mengembangkannya. Dalam hal demikian negatif dapat diperbaiki dengan menggunakan cairan penguat (intensifier). Jenis penguat yang biasa digunakan antara lain penguat merkuri (mercury intebsifier). Resep dari bahan kimia tersebut adalah : Potassium bromida - 22,5 gram Merkuri khlorida - 22,5 gram Air untuk menjadikan - 1000 cc Untuk menggunakannya, pertama-tama negatif harus diputihkan (bleach) terlebih dahulu dengan campuran bahan kimia tersebut diatas, kemudian dicuci bersih. Sesudah itu barulah negatif tersebut dihitamkan dengan mencelupkannya ke dalam cairan larutan sulfit (sulphite) 10%, cairan Gambar 4.32. Film processor merk Tung Shung


202 pengembang biasa atau cairan larutan aminia 10%. 6. Cara kerja filter Filter akan meneruskan cahaya dengan warna yang sama dengan warnanya sendiri dan akan menyerap berkas cahaya warna-warna yang lain. Pada fotografi pemisahan warna, umumnya dipakai tiga filter yaitu biru, hijau dan merah masing-masing untuk penyinaran terpisah-pisah. Ini menghasilkan tiga pemisahan negatif untuk pencetakan ketiga warna tinta proses kuning, magenta, dan cyan. Untuk hitam biasanya dipakai kombinasi ketiga filter. 6.1. Membuat negatif untuk pemisahan warna Model yang berwarna ditempatkan pada bidang model. Kemudian Gambar 4.33. Kerja filter


203 dibuat empat penyinaran yang terpisah, masing-masing dengan selembar film, dengan filter yang berbeda-beda (warnanya) pada lensa kamera untuk setiap penyinaran dan dengan raster yang digeser kedudukannya untuk setiap penyinaran. Penyinaran yang pertama, untuk negatif cyan dibuat dengan filter merah dan sudut raster 105Û. Penyinaran kedua, untuk negatif magenta, dibuat dengan filter hijau dan sudut raster 75Û. Penyinaran ketiga, untuk negatif kuning, dibuat dengan filter biru dan sudut raster 90Û. Sedang penyinaran keempat, untuk negatif hitam biasanya dibuat dengan tiga kali penyinaran dengan masing-masing menggunakan filter merah, hijau, dan biru pada lembaran film yang sama, sudut raster adalah 45Û. 7. Pemisahan Warna dengan Raster Semua yang dikatakan sebelumnya tentang reproduksi warna, mempunyai hubungan dengan reproduksi pada bahan nada penuh, untuk cetak dalam itu adalah yang paling cocok, akan tetapi teknik-teknik cetak lain memerlukan pemisahan dengan raster. Pembuatannya dapat dilakukan dengan dua cara yang berlainan : 7.1. Metode langsung Metode ini mencakup pembuatan negatif bagian nada lengkap langsung dari model berwarna dengan memakai raster garis silang atau raster kontak abu-abu dan dengan menggunakan filter. Cara Gambar 4.34. Sudut raster


204 kerja ini biasanya diterapkan pada reproduksi model berwarna yang sederhana. Dalam pembuatan klise koreksi nilai nada dan nilai warna dikerjakan oleh juru etsa warna pada pelat bagian. Dalam lithografi koreksi nilai nada dan nilai warna dilakukan masing-masing pada negatif bagian nada lengkap dan positif bagian nada lengkap. Dalam hal ini juru lito foto mengetsa titik-titik raster menjadi lebih kecil dengan menggunakan bahan pelemah Farmer. 7.2. Metode tak langsung Pada cara kerja ini mula-mula dibuat negatif nada penuh dari model berwarna. Pada negatif nada penuh itu dapat dilakukan koreksi nilai nada dan nilai warna dengan menerapkan metode masker yang modern. Untuk pembuatan klise, dari negatif nada penuh yang telah dikoreksi dibuat positif nada lengkap (positif RASTER), yang kemudian dikontak menjadi negatif nada lengkap. Cara kerja lain ialah bahwa mula-mula dari negatif nada penuh dibuat positif nada penuh dengan kontak, yang kemudian dijadikan negatif nada lengkap. Gambar 4.35. Metode pemisahan warna


205 Untuk pelat kopi positif cetak ofset dari negatif nada penuh yang telah dikoreksi dapat dibuat positif nada lengkap, baik dalam kamera maupun dalam lemari kontak dengan menggunakan raster kontak. Pada positif nada lengkap itu juru lito-foto dapat dikoreksi. Untuk pelat kopi negatif cetak ofset masih diadakan satu langkah lagi, positif nada lengkap yang telah dikoreksi diubah menjadi negatif nada lengkap dengan kontak. Dalam pada itu jumlah kemungkinan untuk koreksi tambah satu lagi, sedangkan karena pengontakan positif nada lengkap, titik-titik raster dalam negatif menjadi tajam. Metode tak langsung kebanyakan lebih disukai daripada metode langsung, oleh karena pada negatif nada penuh dapat dilakukan koreksi dengan jalan foto mekanis, yang berarti penghematan waktu sangat besar. 7.3. Kedudukan Raster Bila tidak diadakan prajaga khusus, cetak tumpang pelat bagian nada lengkap dapat menyebabkan yang disebut moare. Pada gejala ini, terjadi pola berulang pada jarak-jarak tertentu yang terbentuk karena titik-titik raster bertumpangan secara khusus. Untuk mencegah timbulnya moare digunakan kedudukan raster yang


206 saling berbeda pad pelat bagian seperangkat warna. Untuk reproduksi dua warna dipakai kedudukan raster : Warna gelap - 45° Warna terang - 15° Untuk reproduksi tiga warna digunakan kedudukan raster sebagai berikut : Cyan - 45° Magenta - 15° Yellow - 75° Kedudukan magenta dan kuning dapat ditukar. Kedudukan 45° selalu dicadangkan untuk warna paling gelap, oleh karena titik raster yang dalam kedudukan ini dicetakkan pada kertas, dan paling sedikit memberikan efek yang mengganggu. Pada reproduksi empat warna digunakan kedudukan raster seperti di bawah ini Black - 45° Cyan - 15° Magenta - 75° Yellow - 0° Dalam pada itu kedudukan raster sian dan magenta dapat ditukar. Gejala moare yang timbul tidak disebabkan oleh kedudukan 0° pelat kuning, oleh karena kuning merupakan warna yang paling tidak menonjol, dan biasanya tidak mengganggu. Gambar 4.37. Scanning head of color separation scanner


207 Apabila hitam hanya merupakan pelat kerangka, maka warna yang paling menyolok dapat ditempatkan dalam kedudukan 45°. Dalam penggunaan raster titik rantai, perlu diterapkan kedudukan raster yang lain. Sebelumnya harus ditentukan arah titik rantai yang merupakan poros panjang titik. Kedudukan raster pelat magenta tidak boleh 75°, akan tetapi poros panjang titik untuk warna ini harus tegak lurus pada kedudukan 75°. Kedudukan manapun yang diambil untuk pelat magenta dibandingkan dengan titik rantainya harus selalu tegak lurus pada kedudukan yang dipakai pada raster biasa dengan titik-titik persegi. Gambar 4.38. Proses produksi dari model sampai siap di film


208 8. Montase film Montase adalah suatu proses menempatkan dan melekatkan secara tepat dan seksama satu atau lebih film positif atau negatif seukuran dengan pelatnya di atas landasan montase yang transparan. Dengan demikian teks dan/ atau gambar film dapat disinari pada posisi yang dikehendaki pada pelat offset. Langkah-langkah dasar adalah sebagai berikut : setelah semua film yang dibutuhkan dibuat oleh juru kamera, juru montase kemudian melekatkan film-film itu, dengan emulsi menghadap ke atas, pada selembar landasan montase yang transparan sesuai dengan imposisi halamannya, seukuran dengan pelat cetak, tepat sebagaimana dimaksudkan juru layout. Kemudian hasil montase itu dibalikkan sehingga dalam kedudukan dapat dibaca, yaitu landasan ada di atas dan sisi emulsinya ada di bawah. Hasil montase dalam kedudukan dapat dibaca ini kemudian ditaruhkan di atas pelat offset yang peka cahaya, pada mesin penyinaran pelat (bingkai pengkopi). Setelah sekian waktu tertentu disinari di bawah sumber cahaya secara intensif, pelat itu kemudian dikembangkan untuk menimbulkan teks dan/atau gambar-gambarnya dan membuat teks dan/atau gambargambar itu dapat menyerap tinta pada waktu pencetakan. Dalam membuat montase film-film harus ditempatkan dengan sisi emulsi menghadap ke atas dalam posisi tak terbaca. Kemudian, jika hasil montase itu dipasangkan pada pelat berlapisan emulsi (selama Gambar 4.39. Penempelan film saat montase


209 pelat itu disinari) sisi emulsi film harus dihimpit erat-erat pada lapisan pelat dalam posisi terbaca dan menghadap ke bawah. Selembar film dikatakan tidak terbaca jika sisi emulsi dalam keadaan terbaca dari kanan ke kiri (terbalik). Negatif-negatif dan positif-positif yang terbalik ini dibutuhkan untuk montase offset. 8.1. Montase Negatf Montase negatif adalah membuat montase yang terdiri dari film-film negatif. Montase negatif ini digunakan untuk menyinari pelat-pelat offset kerja negatif, sehingga menghasilkan teks atau gambar yang positif pada pelat. Untuk montase negatif, semua bagian yang tidak mencetak pada pelat harus ditutupi dengan kertas tak tembus cahaya atau bahan plastik. Setelah bahan tak tembus cahaya ini ditempatkan, film negatif dilekatkan pada bagian tersebut dengan bagian emulsi menghadap ke atas. Semua lubang-lubang dan guratan-guratan walaupun kecil juga tetap harus ditutupi dengan lak dengan menggunakan kuas. Lembaran itu kemudian harus dibalik dan bagian-bagian yang mencetak harus dilubangi. Proses negatif lebih rumit terutama waktu penempatan film-film. Juga membutuhkan waktu lebih lama dan keahlian daripada proses montase positif. Keuntungannya hanya bahwa dibutuhkan satu film saja (yaitu film negatif) dab bahwa pelat kerja negatif harganya lebih murah. 8.2. Montase Positif Montase ini terdiri dari film-film positif dan untuk repro dibutuhkan pelat kerja positif. Lembaran montase positif mungkin terdiri dari satu atau sejumlah lembaran-lembaran film positif yang dilekatkan pada selembar plasti transparan seukuran pelat cetak.


210 Pertama kertas layout (biasanya kertas putih) ditempatkan pada permukaan meja montase. Kemudian dibuat sketsa layoutnya ; ukuran pelat, bidang-bidang gambar/teks dan batas-batas cetak, posisi gambar/teks dan sebagainya, semuanya itu harus disketsa pada kertas layout ini. Setelah itu lembaran montase seukuran pelat cetak ditempatkan pada register untuk ditempeli sesuai dengan susunan layout itu. Film-film positifnya kemudian dapat ditempelkan, bagian emulsi di atas, bagian landasan di bawah, dengan menggunakan kertas layout sebagai pedoman. Semua titik-titik lubang dan guratan-guratan pada bidang gambar/teks harus ditutup dengan bahan lak, sedang titik-titik dan guratan-guratan di luar gambar/teks harus dihapuskan. Gambar 4.40. Montase film


211 Keuntungan-keuntungan montase positif adalah : 1. film-film positif dapat langsung dihasilkan dari mesin set foto atau dengan menggunakan film-film positif langsung. 2. film-film positif lebih mudah (daripada film negatif) untuk ditumpang tindihkan pada register, terutama untuk pekerjaanpekerjaan warna. seni pekerjaan tangan untuk poster dan sebagainya dapat dicatkan atau dituliskan pada lembaran transparan dan lembaran ini dapat langsung disinari di atas pelat.


212 Gambar 4.41. Montase 8 halaman buku Keterangan : 1. tanda-tanda tengah 2. side lay (letak samping) 3. gripper (penjepit) 4. batas kemungkinan cetak 5. tanda urutan lembaran


213 9. Drum Scanner dan Film Processor Cara pemrosesan film yang manual hingga melakukan montase seperti diatas, sudah banyak ditinggalkan oleh banyak percetakan. Disamping waktu pengerjaannya membutuhkan waktu yang lama, hasilnya juga tidak maksimal. Pada pemrosesan cara ini peluang pengembangan titik raster akan semakin besar dan faktor human error sangat tinggi. Gambar 4.42. Diagram skematis pemisahan warna scanner Gambar 4.43. Bagan scanner drum Keterangan : 1. supply cassette 2. transport rollers 3. drum 4. drum supports 5. punch 6. blade 7. take-up cassette 8. optical and deflecting system 9. transport system 10. vibration dampers 11. photographic material 12. laser beam


214 Gambar 4.44. The drum imagesetter Quicksetter 460 Quasar Quasar


215 Imagesetter PI-M Series Drum Imagesetter Gambar 4.45. The drum imagesetter and Film Processor


216 10. Pelat cetak offset Selembar pelat offset adalah lembaran logam yang tipis ataupun lembaran kertas dimana acuan cetak yang ditintai dipindahkan ke atas silinder karet offset selama pelaksanaan offset. Setiap pelat offset punya dua daerah yang terpisah dan berbeda yaitu bagian yang tidak mencetak dan bagian gambar/teks (acuan cetak). a. Bagian yang tidak mencetak dari pelat itu tidak mengandung gambar teks atau perwujudan yang lain. Karena mempunyai sifat mengandung air, bagian ini menyerap air dan mengandung lapisan air yang tipis pada permukaannya. Ini akan menolak masuknya tinta, bila rol tinta bergulung di atasnya. b. Bagian gambar/ teks (bagian yang mencetak) pada pelat merupakan daerah cetak, yang sedikit berminyak, sehingga menolak melekatnya air, tetapi menerima melekatnya tinta. Gambar 4.46. Struktur pelat cetak offset


217 Pelat offset terbuat dari kertas, kertas berlapis plastik, seng, aluminium. Jenis-jenis utama pelat offset, antara lain : - pelat-pelat permukaan (surface plates) adalah pelat-pelat yang paling umum dipakai, terutama dengan mesin-mesin cetak yang lebih kecil dan duplikator. Pada pelat jenis ini bagian yang mencetak sepermukaan dengan bagian yang tidak mencetak. - Pelat yang dietsa dalam, dimana acuan cetaknya dietsa sampai kedalaman tertentu, sedikit dibawah permukaan bidang yang tidak mencetak. Acuan cetak pada pelat logam yang dietsa ini terisi tinta, mempunyai kemampuan mengandung tinta yang lebih besar dan daya cetak yang lebih lama daripada pelat permukaan. Pelat cetak offset dibagi menjadi 2 (dua) yaitu pelat positif dan pelat negatif. Yang dimaksud pelat positif yaitu untuk disinari di bawah montase film positif yang menghasilkan acuan yang positif pada pelat setelah dikembangkan. Bagian yang transparan pada montasenya akan muncul sebagai bagian yang tidak mencetak di atas pelat. Sebaliknya bagian yang kelam akan muncul tercetak. Pelat negatif dimaksudkan untuk disinari di bawah montase film negatif, tetapi menghasilkan acuan cetak yang positif pada pelat setelah dikembangkan. 10.1. Skala Kekelabuan (grey scale) Untuk mengontrol waktu penyinaran, skala kekelabuan dapat disertakan pada potongan montasan sepanjang sisi gripper. Skala ini dapat diberikan baik pada pelat positif maupun pelat negatif. 10.2. Pengembangan Pelat Pelat harus dikembangkan dengan bahan-bahan kimia yang dianjurkan oleh pabrik pembuat pelat tersebut. Sesudah bahan pengembang dikenakan pada pelat, maka pelat harus bebas dari emulsi pada bagian yang tidak mencetak. Ini dikerjakan dengan sikat yang


218 halus dan gerakan berputar sambil menekan sedikit. Sesudah pelat dikembangkan, pelat dicuci dengan air, dikeringkan dan kemjudian diberi gum. Gum ini berfungsi untuk menghindarkan oksidasi pada bidangbidang yang tidak mencetak atau bagian yang tidak mencetak tetap peka terhadap air. Gum ini berfungsi juga mencegah pelat dari debu, tinta dan lumuran gemuk. Gambar 4.47. Bak tempat pengembangan pelat


219 Berikut contoh kasus problem pelat dan cara penanganannya : Tabel 4.1. Problem pelat dan cara penanganannya Langkah Kasus Problem Kondisi film Density rendah Daya cetak turun, hasil cetak kotor. Fog (berkabut) Hasil cetak kotor, daya cetak turun. Noda, kotor Bintik pada plate Penyimpanan pelat Panas Hasil cetak kotor Kelembaban tinggi Daya cetak turun Exposure Over expose Titik menjadi kecil, daya cetak menurun Under expose Titik menjadi besar Cetak kotor, garis tepi film timbul Developer Over developed Daya cetak turun, emulsi pelat menjadi tipis. Konsentrasi tinggi Temperature tinggi Under developer Hasil cetak kotor Konsentrasi rendah Developer Singkat Salah developer Gambar hilang Corector Terlalu lama Hasil cetak kotor, non image Gambar 4.48. Skema permukaan pelat


220 terkikis Terlalu singkat Noda tidak hilang dengan sempurna Gum Terlalu tebal Hasil cetak kotor, emulsi pelat terangkat Terlalu tipis Hasil cetak kotor Cetak Penanganan kasar Tergores, sobek, kesulitan dalam ketepatan cetak. Tinta Keras (lama) Hasil cetak kotor, daya cetak menurun Pengencer berlebihan Hasil cetak kotor Kualitas rendah Hasil cetak kotor Kertas Debu Hasil cetak kotor Daya cetak menurun Permukaan kasar Daya cetak menurun Blanket Underlay terlalu tebal Daya cetak menurun Plate packing Underlay terlalu tebal Daya cetak menurun Form rollers Tekanan tinggi Daya cetak menurun, tergores 10.3. Membuat pelat dengan beberapa image Dalam proses membuat barang cetakan, sebaiknya diperhatikan apakah langkah yang kita ambil sudah efesien ataukah belum. Kadang kita harus memilih, apakah melakukan penghematan pada film, jumlah naik cetak, atau bahan/ kertas yang digunakan. Hal ini tentunya tidak terlepas dengan banyak dan sedikitnya jumlah cetakan dan biaya produksi yang harus dikeluarkan. Jika didapati pekerjaan dengan oplag besar, warna cetakan sederhana (satu warna) dan ukuran/ dimensi cetakan kecil tidak sebanding dengan ukuran mesin cetak yang digunakan, kita dapat melakukan penghematan pada film dan berapa jumlah naik cetak. Dengan melihat karakter dari pekerjaan, kita dapat menentukan langkah yang terbaik untuk melakukan penghematan, antara lain :


221 1. Model/ desain cetakan hanya satu, film di letakkan diatas pelat dengan cara : bagian pelat yang lain ditutup dengan kertas hitam lalu diekpose, demikian seterusnya hingga ke empat model yang sama dapat diekpose dalam satu pelat. 2. Model/ desain cetakan jumlahnya lebih dari satu, film yang berbeda diekpose diatas satu pelat. Jika film yang akan dicetak merupakan repeat order (order ulang) yang sudah ada filmnya, maka langkah pengekpossan yang dilakukan, dengan sistem buka tutup, sama Gambar 4.49. Bagian demi bagian pelat di ekpose Gambar 4.50. Film yang sama diekpose dalam satu pelat


222 dengan point 1. Ekpose pelat dengan berbagai karakter model yang berbeda harus diperhatikan waktu penyinaran yang ideal untuk menghasilkan kualitas image yang kita kehendaki. Gambar 4.51 memperlihatkan model raster dan blok dalam satu pelat. 11. Pelat cetak daur ulang 11.1. Pelat bekas. Di percetakan, pelat bekas cetak yang akan didaur ulang kembali, sering tidak disimpan dengan baik oleh para operator cetak, dan sering kurang diperlakukan secara apik. Kita sering lihat sendiri bagaimana ruangan cetak seperti bak sampah depan rumah kita saja. Bekas tinta, oli mesin, kertas bekas dan lain-lain berserakan tidak teratur. Sehingga pelat bekas, termasuk juga pelat yang akan dipakai cetak ulang, sering tergores oleh benda keras, permukaan pelat cekung tidak lagi rata, terkena lemak minyak pelumas dan lain sebagainya. Hal ini dapat mempengaruhi hasil akhir dalam pembuatan pelat daur ulang, seperti pelat tergores mengakibatkan pada bagian yang tergores dapat menarik tinta, pelat cekung menjadikan emulsi pelat tidak rata, lemak minyak pelumas menimbulkan gumpalan kecil-kecil pada permukaan pelat dan terdapat titik-titik putih pada permukaan pelat (pin hole). Gambar 4.51. Berbagai image diekpose dalam satu pelat


223 Kejadian-kejadian seperti diatas tadi sering terjadi pada pelat daur ulang. Memang dalam pemilihan pelat bekas yang akan dijadikan pelat offset siap pakai diperlukan ketelitian agar pelat bekas tersebut layak untuk didaur ulang kembali. 11.2. Bahan peka cahaya atau photosensitive layer Melalui proses kimia, pelat bekas dibersihkan dari bekas-bekas tinta, lemak, emulsi (Photosensitive layer), agar mendapatkan lembaran pelat yang layak digunakan. Pelat bekas yang sudah bersih ini diproses menjadi pelat yang siap digunakan lagi. proses pembuatan pelat baru atau daur ulang, melalui proses yang sama. Dengan demikian pelat daur uloang mengalami proses electrograining dua kali. Yang terjadi pada pelat daur ulang adalah ketebalan pelat menipis, dan daya lekat lapisan peka cahaya (photosensitive layer) ini akan berkurang, disebabkan dangkalnya akar yang melekat pada permukaan pelat. Oleh karena itu pelat daur ulang tidak dianjurkan untuk mencetak diatas 50.000 druck. Gambar dibawah ini memperlihatkan perbandingan antara pelat baru dan daur ulang. Ciri-ciri pelat daur ulang, antara lain : ƒ Sering terdapat lipatan pada sisi panjang, yang disebabkan oleh penjepit pelat pada silinder. ƒ Sisi belakang pelat kusam, tidak seperti pelat yang baru ƒ Terdapat tanda register yang berlainan (karena menggunakan pelat bekas dari berbagai merek) ƒ Pada sisi panjang kadang terdapat lubang, bekas pelubang (punch register) ƒ Permukaan pelat bergelombang dan tidak semulus pelat baru. ƒ Potongan pelat tidak sama ƒ Pelat cenderung melengkung


224 ƒ Pada bagian sudut pelat teropong (sering dilakukan oleh operator cetak dengan memotong sudut pelat agar lebih mudah kanan-kiri untuk mencari ketepatan cetak). Terlepas dari pro dan kontra pelat daur ulang, kita patut memberikan tempat khusus atas kehadiran pelat daur ulang, yang memberikan alternatif pilihan untuk berhemat karena harga ongkos cetak yang cenderung turun bebas. Gambar 4.52. Graining pada pelat cetak Gambar 4.53. Plate making Gambar 4.51. Proses produksi dari membual model hingga print finishing Gambar 4.54. Proses produksi dari membuat model hingga print finishing


225 Gambar 4.55. Diagram proses transfer data file ke RIP dilanjutkan ke berbagai media (CtFilm, CtPlate, CtPress)


226 Gambar 4.57. Contact copier Gambar 4.58. Plate processor


227 Gambar 4.59. Plate making Gambar 4.60. Computer to Plate


Lampiran A a1 DAFTAR PUSTAKA Afiff, Faisal. 1993. Strategi Pemasaran. Bandung : Angkasa Ariani, Dorothea Wahyu. 1999. Manajemen Kualitas. Yogyakarta : Andi Offset Basir, Herry. 1986. Pedoman Praktis Sablon. Jakarta : Simplex Brosur Behe Machinery Workshop Brosur Bright Arts Graphics Brosur Digital Printing 9 Agustus 2006 Politeknik Negeri Jakarta Brosur Growtech Brosur Lexus Brosur Mimaki Brosur Wit-Color Digital Brosusr Speed Cemani Tuka. Tinta dan Permasalahannya Centra Screen bersama Sablon Dameria, Anne. Color Management. 2004. Jakarta : Link & Match Graphics . Panduan Designer dalam Produksi Cetak dan Digital Printing. 2005. Jakarta : Link & Match Graphics Departemen Pendidikan Nasional. Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Grafika. Jakarta Departemen Perindustrian. Pelatihan Kemasan. 2007. Jakarta


Lampiran A a2 Dermawan, Budiman. 1987. Pendidikan Seni Rupa. Bandung : Ganeca Exact Gradasi edisi I no.3. 2007. Semarang : Gradasi Grafika Indonesia edisi 89. 1999. Jakarta : Serikat Grafika Pers edisi 99. 2001. Jakarta : Serikat Grafika Pers edisi 112. 2004. Jakarta : Serikat Grafika Pers edisi 113. 2004. Jakarta : Serikat Grafika Pers edisi 118. 2006. Jakarta : Serikat Grafika Pers edisi 120. 2006. Jakarta : Serikat Grafika Pers Harahap, Sofyan Syafri. 2001. Sistem Pengawasan Manajemen. Jakarta : PT. Pustaka Quantum Heidelberger. 1995. Basic Principles of Quality Control Densitometry. Heidelberg . 1995. Cielab Color Space. Heidelberg . 1995. Color and Quality. Germany : Heidelberg (diterjemahkan) . 1995. CP Tronic – CPC. Heidelberg . 1995. Data Control. Heidelberg . 1995. Digital Prepress : The Time Has Come !. Heidelberg . 1995. Does Color Reproduction Have to be Difficult. Heidelberg . 1995. Lino Color. Heidelberg . 1995. Quasar. Heidelberg . 1995. Quickmaster DI 46-4 Market and Technology. Heidelberg


Lampiran A a3 . 1995. Quickmaster DI 46-4. Heidelberg . 1995. S-Offset. Heidelberg . 1995. Speedmaster CD 102. Heidelberg . 1995. Speedmaster SM 52. Heidelberg . 1995. Speedmaster SM 74. Heidelberg . 1995. Tango. Heidelberg . 1995. The New Approach to Quality Control in Printing. Heidelberg HTTP://www.graphic-map.com HTTP://id.wikipedia.org/wiki/rotogravure HTTP://www.artseditor.com HTTP://www.beadesigngroup.com HTTP://www.dynodan.com HTTP://www.heidelberg.com HTTP//www.iloveletterpress.com HTTP://www.international paper HTTP://www.kertasgrafis.com HTTP://www.mesin pengemas.com/mesin_pad_printing HTTP://www.ekamajumesinindo.com HTTP://www.pneac.org HTTP://www.postdiluvian.org HTTP://www.princessa.co.id/product/printing/pad_printing


Lampiran A a4 HTTP://www.rba.gov.au Kleppner, Otto. 1966. Advertizing Procedure Engelwood Cliffs, New Jersey : Pren-tice Hall Inc. Kiphan, Helmut. 2000. Handbook Print Media. Germany : Heidelberg Kusrianto, Adi. 2007. Pengantar Desain Komunikasi Visual. Yogyakarta : Andi Mardjuki, Sentot. 2001. Dasar-Dasar Kalkulasi dan Perhitungan Biaya Cetak Buku. Jakarta : Pusat Grafika Indonesia McClelland’s, Deke. 2002. Look & Learn Photoshop 6. Jakarta : Elex Media Komputindo Mulyona, Ahmad Parlan. 1988. Pendidikan Seni Rupa Jilid 2. Surakarta : Widya Duta Nusantara, Guntur. 2005. Panduan Praktis Cetak Sablon. Jakarta : Kawan Pustaka Penggunaan Bahan/ Faktor Kimia dalam Proses Cetak – Seminar di PT. Masscom Graphy tanggal 17 Juni 2002 Printpack, No 1 Maret – April 2007. Jakarta : PT Gramedia Pusat Grafika Indonesia. 1978. Pengajaran Terprogramkan Cetak – Offset Jilid 1s/d 6. Jakarta . 1981. Cetak Tinggi Mesin, Bahan dan Perkakas. Jakarta . 1982. Fotografi Nada Penuh dan Nada Lengkap Model, Peralatan, Bahan, Pengukuran. Jakarta . 1983. Fotografi Nada Penuh dan Nada Lengkap jilid 2 dan 3. Jakarta . 1983. Kejuruan Litografi. Jakarta


Lampiran A a5 . 1983. Pengetahuan Kejuruan Dasar Penjilidan Buku 1. Jakarta . 1983. Penyelesaian Buku Jilid Massal dan Brosur. Jakarta . 1987. Tata Letak dan Perwajahan. Jakarta . 1989. Warna dan Tinta. Jakarta . 1990. Teknik Grafika dan yang sehubungan dengan itu. Jakarta . 1990. Teori Menyusun Buku dengan Tangan 1. Jakarta . 1991. Beberapa Pokok tentang Fotografi Garis Jilid 2. Jakarta . 1991. Pengertian Dasar tentang Fotografi Reproduksi 1. Jakarta . 1991. Penuntun Praktek Cetak Offset Besar. Jakarta . 2000. Petunjuk dan Pengukuran Keasaman Kertas. Jakarta . 2007. Majalah Penyuluh Grafika. Jakarta Rewoldt, Stewart H, dkk. 1995. Strategi Promosi Pemasaran. Jakarta : Rineka Cipta Sahman, Humar. 1993. Mengenali Dunia Seni Rupa. Semarang : IKIP Semarang Press Santoso, Endro. 2004. Membuat Pisau Ril/Pon/Emboss. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Scheder, Georg. 1990. Perihal Cetak Mencetak. Yogyakarta : Kanisius Setyanto, Heri. 1995. Komposisi Garis, Bidang dan Warna dalam Seni Lukis. Skripsi Strata Satu IKIP Semarang


Lampiran A a6 Sidik, Fajar. 1981. Desain Elementer. Yogyakarta : STSRI ASRI Soedjono. 1985. Keselamatan Kerja Jilid 1. Jakarta: Bhratara Karya Aksara Soetarno. 1981. Peranan Perwajahan dalam Produksi Cetak. Jakarta : Departemen Penerangan Republik Indonesia Subagyo, R. Tinta dan Masalah dalam Cetak Offset – Seminar PT Inkote & PT. Masscom Graphy 17 Juni 2002 Sudjirman. 1983. Memahami Sifat Alir Tinta Cetak. Jakarta: Pusat Grafika Indonesia Sukardi, Ketut. 1988. Bimbingan dan Konseling. Jakarta : PT.Bina Aksara Sukaryono, Eddi. 1988. Pendidikan Seni Rupa Jilid 2. Surakarta : Widya Duta Sulistyono. 2003. Membuat Ilustrasi dengan Adobe Illustrator 10 jilid 1. Jakarta : Pusat Grafika Indonesia Sumedi, Pudjo. 2005. Direktori Grafika dan Media. Jakarta : Pusat Grafika Indonesia Sunaryo, Aryo. 2000. Nirmana I (Hand Out). Semarang : Universitas Negeri Semarang Suparmi. 2004. Mengelem Hasil Pon (kemasan lipat) secara Manual. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Suradjijo, Suryo. 1985. Dasar-dasar Seni. Surakarta : Fakultas Sastra UNS


Lampiran A a7 Susanto, Mikke. 2002. Diksi Rupa : Kumpulan Istilah Seni Rupa. Yogyakarta : Kanisius Sutarmo, dkk. 1983. Cetak Khusus. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Suwarto. 1999. Perilaku Organisasi. Yogyakarta : Universitas Atmajaya Tim MGMP. 1994. Kerajinan Tangan & Seni Rupa Kertakes Jilid 2. Surakarta Wasono, Antonius Bowo. 1992. Mesin Lipat STAHL K-52 dan Permasalahannya dalam Industri Penerbitan Buku serta Pengajarannya pada SMT Grafika . 2007. Membangun Unit Produksi Sekolah yang Profesional di SMK Grafika. Jakarta : Pusat Grafika Indonesia Wong, W. 1986. Beberapa Asas Merancang Dwi Matra. Bandung : ITB Bandung


Lampiran B b1 DAFTAR ISTILAH accelerator (pemercepat), Bahan kimia terdapat dalam cairan pengembang fotografi yang menggiatkan pengembangan cairan; misal sodium karbonat dan sodium hidrosida. accordion fold, dua atau lebih lipatan/gulungan paralel buka dan tutup seperti sebuah akordeon/harmonika tangan. achromatic (akromatis), sifat pembiasan cahaya tanpa menguraikan menjadi warna-warna bagiannya; tak berwarna. achromatic lens (lensa akromatis), lensa yang fidak mempunyai aberasi kromatis. additive colour (warna aditif), warna yang terjadi sebagai hasil pencampuran sinar-sinar warna. adhesive binding, perfect binding (jilid perekat), jilid tanpa benang. adsorption (adsorpsi), perpaduan molekul-molekul bahan-bahan tertentu pada permukaan dua fase, misalnya: larutan gom arabika pada permukaan pelat ofset atau pigmen dengan pernis tinta; ini tidak merupakan reaksi kimia dan mudah terlepas. advertisement (iklan), berita pesanan yang isinya bersifat menawarkan, memperkenalkan, atau memberitahukan sesuatu; lihat juga pesan. aluminium foil (foli alumunium), lembaran aluminium sangat tipis digulung pada ketebalan kurang dari 0.00”. Foli aluminium dapat diperoleh dalam bentuk sebagai: 1. rol foli dalam bentuk gulungan dengan pinggiran tersisir; 2. lembaran foli yaitu foli dalam bentuk persegi panjang, dipotong dalam ukurannya; 3. bahan foli, yaitu bahan yang digulung lagi untuk dibuat foli. american Standard Association (ASA), standar untuk mengukur kecepatan dan kepekaan emulsi film terhadap cahaya.


Lampiran B b2 amplitude (amplituda), nilai tertinggi dari suatu gelombang; pada arus bolak-balik berbentuk gelombang sinus; maka nilai tertinggi = arus efektif akar 2 (dua). analogue system (sistem analog), sistem pada komputer elektronik yang mengalihkan bilangan menjadi kuantitas yang dapat diukur, misalnya voltage, tahanan listrik, atau putaran. angle of wife sudut rakel, kedudukan bilah rakel pada silinder acuan cetak dalam dan cetak saring. antihalation (antihalo), sifat suatu lapisan (biasanya diberi warna-opak) yang mencetah penyebaran cahaya di luar batas yang semestinya. antihalotion backing (lapisan antihalo), lapisan yang mengandung boan warna pada punggung film untuk mencegah pantulan cahaya dari permukaan alas film. anti-set off (antitular), jangan sampai menular; misalnya bahan antitular adalah bahan yang ditebarkan pada permukaan cetakan agar tinta cetakan tidak menular ke sisi belakang kertas berikutnya. aperture (apertur), lubang lensa yang memungkinkan siar cahaya dapat melaluinya; sering disebut lubang diafragma atau disingkat diafragma. aql, accpetable quality level (nilai ambang batas mutu/ AQL), batas mutu suatu produk; misalnya cetakan yang masih dapat diterima atau masih dianggap layak. aquamatic offset (ofset akuamatik), cetak ofset yang prinsipnya sama dengan cetak ofset biasa yang air pembasahannya tidak langsung ke pelat ofset, tetapi telah tercampur pada rol tinta, yang kemudian air dan tinta itu bersama-sama diteruskan oleh rol hantar ke pelat cetak; pada umumnya diterapkan pada cetak ofset kecil. aquamatic system (sistem akuamatik), sistem cetak ofset yang rol tintanya juga berfungsi memberikan air pembasah pada pelat, tetapi bak air dan bak tinta terpisah.


Lampiran B b3 aqueous coating Aqueous adalah pengeringan cepat, beralaskan air, lapisannya protektif/bersifat melindungi yang diterapkan sederet/segaris pada mesin cetak untuk memperoleh keberagaman penyelesaian/hasil pada harga ekonomis yang berbeda-beda dibandingkan dengan pernis. arabic gum (gom arabika) gom atau getah yang diperoleh dari dua jenis pohon akasia, digunakan dalam semua bagian grafika; aslinya beripa kristal coklat bening, mudah larut dalam air; larutannya bersifat asam lemah, digunakan untuk membuat bagian tak bergambar pada pelat cetak tidak peka terhadap tinta; dicampurkan juga dalam air pembasah, dan dapat pula digunakan sebagai perekat pada perangko, label, kertas rokok, dll. arragement of printing unit (tata unit cetak), sistem penyusunan silinder pada mesin cetak, misalnya sistem 5 silinder dan sistem unit pada mesin ofset. art binding (jilid seni), jilid tangan dengan mengutamakan segi seninya. artwork gambar (model), gambar hitam putih atau warna, suatu disain, potret, dan sebagainya yang ditata dengan teks, siap untuk direproduksi. ascii, akronim dari Kode Standar Amerika (American Standard Code) sebagai/untuk pertukaran informasi, kode standar yang digunakan untuk membantu mentransfer file antara aplikasi software yang berbeda atau alat-alat hardware. astrallon (astralon), lembaran terbuat dari bahan sistetis yang tembus pandang (bahan dasar vinyl copolymerisat), digunakan di dalam pekerjaan montase. audio waves gelombang (audio gelombang elektromagnetik), yang berfrekuensi di bawah 20.000 Herzt dan dapat ditangkap dengan telinga (didengar).


Lampiran B b4 autoscreen film (film otoskrim), film yang telah mengandung raster nada lengkap; apabila dipergunakan untuk memotret gambar nada penuh akan dihasilkan gambar negatif yang berpola/berbentuk titik-titik dengan sendirinya, seperti kalau digunakan raster nada lengkap pada waktu pemotretan. base ink (tinta baku), tinta yang dibuat dan disimpan dalam jumlah besar dan digunakan untuk ramuan guna menghasilkan warna yang diinginkan. bibliogrphy (bibliografi), 1).daftar pustaka yang dipakai penulis untuk menyusun buku; 2). daftar buku yang diterbitkan. bichromate coating (olesan bikromat), bahan peka cahaya untuk pembuatan pelat ofset yang diberi campuran bikromat. binary biner (Dasar hitung dengan basis dua); bilangan hitung yang ada hanya 0 dan 1; jadi 2 = 10,3 = 11,4 = 100 dan seterusnya, digunakan dalam komputer. binding system (sistem jilid), cara mengumpulkan lengkap dan menjahit kuras menjadi blok buku dan kemudian memberikan sampulnya. bleed, sebuah gambar atau warna yang dicetak yang berjalan/bergerak ke tepi kertas. Ketika mesin cetak tidak dapat mencetak tinta sampai pada tepi kertas cetak, gambar ini dicetak pada kertas cetak yang ukurannya lebih besar dan kemudian dipotong sedikit sesuai ukurannya blue sensitive (peka biru), peka terhadap cahaya biru saja. blueline, cetakan percobaan printer yang terdiri dari kertas yang diperlakukan secara khusus dicetak dalam warna biru yang digunakan untuk pengecekan jenis kesalahan apapun.


Lampiran B b5 bone folder (tulang pelipat), alat bantu dalam penjilidan (dulu dibuat dari tulang), yang dipakai untuk melipat lembaran kertas dengan tangan. bone glue (lem tulang), lem (perekat) yang dibuat dengan bahan dasar tulang. book (buku), 1) menurut definisi Unesco terbitan tak berkala yang berisi lebih dari 48 halaman, tidak termasuk sampul. 2) di Indonesia juga yang kurang dari 48 halaman dan kertas yang di berkas, dijilid dan diberi sampul disebut buku, misalnya buku tulis, buku gambar. broat sheet (ukuran plano), ukuran kertas yang berbentuk lembaran utuh. bronze printing (cetak prada), proses cetak memakai tepung (serbuk) warna emas atau perak. buble-tubeviscometer (viskometer gelembung), viskometer yang dilengkapi dengan tabung kaca pendek berisi gelembung udara dan tertutup pada kedua ujungnya. bulletin (buletin), terbitan berkala suatu badan, perkumpulan, dinas, dan sebagainya. bump exposure, no screen exposure (penyinaran tanpa raster), penyinaran yang diberikan di samping penyinaran utama, dilakukan dengan menggunakan model tanpa raster, diterapkan pada pemotretan model yang tidak kontras untuk memperbaiki detail bagian terang. burn, menampakkan bahan foto-sensitif ke cahaya, seperti halnya dalam, pembakaran lempengan/pelat pada cetak offset. cahier stitch (tusuk kaye), jenis tusuk yang jalan benangnya melingkar memanjang seperti tusukan benang pada penjilidan buku tulis (kahier dengan diucapkan kaye).


Lampiran B b6 calandering (kalender), proses melapiskan suatu zat, agar yang dilapisi menjadi lebih halus dan licin, misalnya kertas yang dilapis dengan high gloss. calculation (kalkulasi cetak), perhitungan biaya cetak yang diperlukan dalam memproduksi barang cetakan. calibration (tera, peneraan), penentuan nilai pembagian yang sebenarnya pada perbandingan skala bertingkat; penetapan nilai relatif pada perbandingan (skala) sembarang. caliper ketebalan kertas, biasanya diekspresikan dalam ribuan inch (mil). camera (kamera), alat yang memakai susunan lensa untuk merekam gambar dengan menggunakan cahaya; dapat juga disebut alat potret. camera extention (jarak kamera), jarak antara diafragma dan film dalam kamera. camera ready copy, sebuah istilah berkaitan dengan tingkatan dalam percetakan ketika kopi/salinan dokumen atau karya seni siap dipotret/digambar untuk membuat pelat pada mesin cetak candle (lilin), satuan kuat cahaya; l lilin = 12,56 lumen. caption (keterangan gambar), teks pendek, yang biasanya ditempatkan di bawah atau di samping gambar untuk memberi penjelasan tentang gambar itu. central print control (sistem cpc/ sistem pusat pengontrolan cetak), Suatu sistem pengendalian penintaan dengan alat komputer pada mesin cetak HEIDELBERGER: ada dua macam cpc, yaitu cpc-1 ialah sistem pengendalian penyaluran dan peralatan tintanya sendiri, dan cpc-2 ialah sistem pengontrolan hasil cetaknya dengan penintaan yang telah terkendalikan.


Lampiran B b7 ceramic ink (tinta keramik), tinta yang cocok untuk diletakkan pada keramik, biasanya berdaya lengket besar, lekas mengering dan keras bila kering. chinese drawing ink, india ink (tinta cina), tinta hitam yang pekat (opak) terbuat dari jelaga, gom, dan air; digunakan untuk menggambar dengan pena atau untuk meretus. choke atau choking, ketika karya seni dicetak dengan beberapa titik yang saling berinteraksi, celah atau pergeseran warna muncul antara obyek. Choking menutup celah ini dengan menumpang tindih warna gelap pada batas warna yang lebih terang. chromalin, sistem percobaan cetak warna yang dikembangkan dengan/oleh DuPont dengan menggunakan warna-warna kapur yang beragam. chromatic aberration (aberasi kromatis), penyimpangan optik pada lensa yang menyebabkan warna spektrum tidak dapat difokuskan. chromatic diagram (diagram kromatik), diagram warna. chromaticity co ordinates (koordinat warna), perbandingan masing masing ketiga nilai tristimulans warna terhadap jumlahnya; istilah yang dipakai dalam pengukuran warna. clay, kaolin (kaolin China), tanah liat putih halus yang digunakan oleh pembuat kertas untuk bahan pengisi dan untuk pigmen pelapis permukaan kertas cetak seni; juga disebut tanah liat cina; nama kimianya : alumunium silikat; rumusnya Al2O3.2SiO2.2h2O. cmyk printer menggunakan CMYK – merupakan representasi warna tinta cyan, magenta, kuning dan hitam, ketika mencetak hasil karya proses 4 warna. Ini disebut dengan warna mengurang, ketika mengkombinasikan semuanya maka diperoleh warna hitam. Pengurangan satu atau lebih dari warna-warna tersebut akan menghasilkan warna lain. Ketika dikombinasikan dalam prosentase


Lampiran B b8 yang beragam, keempat tinta tersebut akan menghasilkan sebuah spektrum warna, termasuk warna yang digunakan dalam fotografi warna. coated paper, kertas dengan lapisan penyalut (biasanya dasar/alasnya pekat) yang diterapkan di/pada satu sisi (C1S) atau kedua sisi (C2S), seperti kilapan, mengkilat. Selama menurunnya dot gain, coated paper menampakkan gambar yang lebih tajam dan sering digunakan dalam pekerjaan mencetak empat warna seperti/sama dengan halftone hitam dan putih. coatedpaper (kertas terlapis), kertas atau karton yang permukaannya diberi lapim piginen; termasuk dalam kelompok ini, kertas cetak seni (art paper). cold glue (lem dingin), jenis lem untuk penjilidan, yang dalam penggunaannya tidak perlu dipanaskan; contoh: lem PVA (Poly Vinyl Acetat);lem vinH. cold-set ink (tinta kering dingin), tinta padat yang harus dilelehkan dan digunakan pada mesin cetak panas; tinta akan memdat lagi dalam kontak dengan kertas yang relatif dingin. collage (kolase), teknik pembuatan ilustrasi untuk mengubah bentuk dengan cara tempel menempel. collating (komplet, mengomplet), memeriksa apakah kuras kuras yang telah tersusun untuk satu blok buku tidak salah urutannya. color key, bahan percobaan cetak lama yang terdiri dari empat kertas cetak asetat warna yang merepresentasikan proses pemisahan warna untuk pekerjaan tertentu. color matching, buku sampel warna yang digunakan untuk mencocokkan warna dengan tinta standar yang digunakan oleh sebagian besar printer. Printer kemudian akan menyiapkan lempeng/pelat cetakan yang terpisah untuk setiap/masing-masing


Click to View FlipBook Version