The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Keberagaman Lingkungan Sekitar Kelas VII

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by intan dewi ariyani, 2024-04-24 00:04:46

Keberagaman Lingkungan Sekitar Kelas VII

Keberagaman Lingkungan Sekitar Kelas VII

Keywords: Berkenalan dengan lingkungan sekitar,Pembiasaan diri untuk melestarikan lingkungan,Pembangunan berkelanjutan dan kelangkaan

KEBERAGAMAN LINGKUNGAN SEKITAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL TEMA 2 KELAS VII


KEBERAGAMAN LINGKUNGAN SEKITAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL TEMA 2 KELAS VII NAMA KELOMPOK Tutut Janar Intan Dewi Ariyani Hesti Darmaningsih Apriliana Putri Setyaningrum Laela


DAFTAR ISI IBERKENALAN DENGAN LINGKUNGAN SEKITAR Berkenalan dengan Alam PEMBIASAAN DIRI UNTUK MELESTARIKAN LINGKUNGAN Pembiasaan Melestarikan Sumber Daya Udara PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DAN KELANGKAAN Pembangunan Berkelanjutan juan Pembangunan Berkelanjutan 1 Keanekaragaman Lingkungan Sekitar Berkenalan dengan Masyarakat Pembiasaan Melestarikan Sumber Daya Air Pembiasaan Melestarikan Sumber Daya Tanah Aktivitas Manusia Zaman Praaksara Mengenal Leluhur Bangsa Indonesia Diaspora Bangsa Indonesia Karakteristik Pembangunan Berkelanjutan Kelangkaan dan Kebutuhan Manusia yang Tidak Terbatas Faktor yang Menyebabkan Kelangkaan Langkah Pencegahan Kelangkaan Sumber Daya Dampak Ekonomi atas Kelangkaan Sumber Daya Masalah Pokok Ekonomi 20 26


A.BERKENALAN DENGAN LINGKUNGAN SEKITAR 1.BERKENALAN DENGAN ALAM Bumi kita sudah sangat tua dan banyak mengalami kerusakan. Pemanasan global (global warming), efek rumah kaca, polusi udara, air, dan tanah merupakan contoh yang dapat merusak bumi. Proses perkembangan bumi sebagai pembabakan sejarah berdasarkan ilmu geologi dibagi ke dalam empat zaman, antara lain: Zaman Arkaekum (Arkeozoikum) merupakan periode awal sejarah Bumi. Pada masa ini, terbentuknya beberapa jenis batuan, seperti batuan vulkanik dan batuan metamorf, serta muncul berbagai bentuk kehidupan primitif, seperti bakteri dan ganggang biru-hijau. 1. Ciri-ciri zaman Arkakakum 1. Merupakan zaman tertua Seperti yang sudah kita ketahui, zaman Arkaekum merupakan zaman tertua yang diperkirakan berlangsung di bumi sekitar 2.500 juta tahun silam. 2. Belum ada tanda kehidupan Pada zaman ini belum ada satu spesies makhluk hidup yang menghuni bumi karena tingginya suhu bumi yang membuat tidak ada satu pun spesies yang mampu bertahan hidup saat itu. 3.Sebagian besar batuan bersifat magmatik Batuan-batuan yang terdapat pada zaman Arkaekum ini bersifat magmatik karena saat era te mulai tersebut aktivitas gunung berapi masih terus berlangsung. 4. Suhu bumi sangat tinggi Faktor utama yang membuat suhu bumi sangat tinggi pada era tersebut ialah ledakan Big Bang yang juga menjadi penyebab terbentuknya bumi. Pasalnya, bintang tersebut mengandung gas, helium, hidrogen, dan metana yang bersuhu tinggi.


Zaman Primer (Paleozoikum) adalah periode di mana terjadi diversifikasi kehidupan yang signifikan, seperti munculnya invertebrata laut, ikan, dan tumbuhan darat. Pada zaman ini, terbentuknya berbagai bentuk batuan, seperti batuan sedimen dan batuan karbonat. Zaman Sekunder (Mesozoikum) ditandai dengan munculnya dinosaurus dan tumbuhan berbunga. Pada zaman ini juga terbentuknya berbagai jenis batuan, seperti batuan kapur dan batuan dasar laut. Zaman Sekunder (Mesozoikum) ditandai dengan munculnya dinosaurus dan tumbuhan berbunga. Pada zaman ini juga terbentuknya berbagai jenis batuan, seperti batuan kapur dan batuan dasar laut. Ciri-ciri zaman Mesozoikum Terdapat ciri-ciri umum zaman mesozoikum, yakni berikut ini: 1.Berlangsung antara 252,2 - 66 juta tahun yang lalu 2.Hewan dan tumbuhan semakin beragam 3.Benua mulai terpisah menjadi beberapa daratan 4.Diakhiri dengan kepunahan massal terbesar yang menyebabkan hilangnya Dinosaurus. 2


Zaman Hidup Baru (Neozoikum) adalah zaman di mana manusia modern mulai muncul. Neozoikum diambil dari kata dalam Bahasa Yunani yaitu "Kainos" artinya baru dan "Zoe" artinya kehidupan. Pada masa ini, diversifikasi kehidupan semakin berkembang, termasuk munculnya mamalia dan manusia purba. Perubahan iklim dan pergeseran lempeng bumi juga terjadi pada zaman ini. Pada zaman ini dibagi menjadi dua zaman tersier dan zaman kuartier Ciri-ciri zaman neozoikum: 1. Munculnya hewan mamalia 2. Hewan reptil besar telah punah 3. Iklim bumi sudah mulai stabil 4. Terbagi menjadi dua zaman yaitu zaman tersier dan zaman kuarter 5. Berlangsung sekitar 60 juta tahun yang lalu 3


BERDASARKAN ARKEOLOGI 1. Zaman Paleolitikum (Zaman Batu Tua) – Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat awal Zaman batu tua berlangsung pada 50.000-10.000 SM. Zaman praaksara ini disebut sebagai zaman batu tua karena pada saat itu manusia menggunakan alat-alat batu yang masih dibuat secara kasar dan sederhana. Zaman Batu Pada zaman praaksara ini manusia hidup secara nomaden atau berpindah-pindah dalam kelompok kecil (10-15 orang) untuk mencari makanan. Pada zaman praaksara ini, manusia hanya mengenal berburu (hewan) dan mengumpulkan makanan (buah dan umbiumbian), mereka belum mulai memasak atau bercocok tanam. Mereka berlindung dari alam dan hewan buas dengan tinggal di dalam gua. Pada masa ini, manusia purba sudah mengenal api. Ciri-ciri Kehidupan Zaman Paleolitikum Memanfaatkan perkakas dari bahan batu yang belum diolah untuk menjaga eksistensi, Batu yang dipilih masih dalam bentuk yang kasar dan primitif, Hidup bersama komunitas kecil yang berpindah-pindah, Ketergantungan pada alam, berburu, dan mengumpulkan makanan sebagai cara hidup (pengumpulan makanan), Tempat tinggal di gua sebagai bentuk perlindungan. 4


01 1. Kebudayaan Pacitan Ditemukan oleh Von Koenigswald pada tahun 1935, artefak Paleolitikum terletak di beberapa lokasi di Indonesia, seperti Pacitan, Progo, Gombong (Jawa Tengah), Sukabumi (Jawa Barat), dan Lahat (Sumatera Utara). Peninggalan ini termasuk kapak genggam yang digunakan sebagai alat pemotong tanpa tangkai, kapak perimbas untuk memahat dan berburu, serta alat-alat serpihan yang primitif. berbagai jenis manusia yang hidup pada zaman ini, diantaranya adalah: Pithecanthropus Erectus (Manusia kera yang berjalan tegak) Meganthropus palaeojavanicus (Manusia purba berbadan besar yang berada di Jawa) Peninggalan Hasil Kebudayaan Zaman Paleolitikum di Indonesia Zaman Paleolitikum, melalui berbagai sumber penemuan, menghasilkan peninggalan-peninggalan berikut: 2. Kebudayaan Ngandong Kebudayaan Ngandong: Selain di Pacitan, peninggalan Paleolitikum juga ditemukan di Ngandong, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Di sini, peninggalan mencakup kapak genggam untuk berburu, alat-alat dari tulang hewan yang dibuat menjadi belati, tombak dengan ujung tajam dari gigi hewan di sisinya untuk mencari ikan, serta alatalat serpihan yang digunakan untuk berbagai keperluan, seperti mengupas makanan dan berburu. Jenis Manusia Purba Zaman Paleolitikum Homo Erectus (Manusia yang berdiri tegak) Homo Soloensis (Manusia yang hidup di Bengawan Solo) Homo Wajakensis (Jenis manusia homo sapiens di Indonesia) Homo Floresiensis (Manusia dengan tubuh dan volume otak kecil) 5


Kapak Genggam Kapak genggam banyak ditemukan di daerah pacitan. Alat ini biasanya disebut “chopper” (alat penetak/pemotong. Alat ini dinamakan kapak genggam karena alat tersebut serupa dengan kapak., tetapi tidak bertangkai dan cara menggunakannya dengan cara digenggam. Pembuatan kapak genggam dilakukan dengan cara memangkas salah satu sisi batu sebagai tempat genggam. Kapak genggam berfungsi menggali umbi, memotong, menguliti binatang. sampai tajam dan sisi lainnya dibiarkan apa adanya. Kapak Perimbas Kapak perimbas berfungsi untuk merimbas kayu, memahat tulang dan sebagai senjata. Manusia kebudayaan Pacitan adalah jenis Pithecanthropus. Alat ini juga ditemukan di Gomabnag (Jawa Tengah), Sukabumi (Jawa Barat), Lahat (Sumatra Utara), dan Goa Choukoutieen (Beijing). Alat ini paling banyak ditemukan di Pacitan sehingga R.V Koenigswald disebut kebudayaan pacitan. Salah satu alat peninggalan zaman paleolitikum yaitu alat dari tulang binatang. Alat ini termasuk kebudayaan ngandong.Kebanyakan alat ini berupa alat penusuk (belati) dan ujung tombak bergerigi. 6


01 2. Zaman Mesolitikum (Zaman Batu Tengah) – Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut Merupakan peralihan zaman paleolitikum dan neolitikum. Manusia pendukungnya yaitu bangsa Papua-Melanosoid. Manusia mulai hidup semi menetap di gua-gua yang disebut Abris Sous Roche. Pada saman praaksara mesolitikum, lakilaki berburu dan perempuan tinggal di gua untuk menjaga anak dan memasak. Hasil budaya yang ditemukan pada zaman mesolitikum, yaitu: Kebudayaan zaman Mesolitikum meninggalkan jejak di Sumatra, Jawa, flores Kalimanta, Sulawesi. Peninggalan zaman Mesolitikum yang sangat terkenal adalah adanya kebudayaan Pendukung kebudayaan zaman batu tengah adalah Homo sapiens. Kjokkenmoddinger ini berasal dari bahasa Denmark, kjokken yang berarti “dapur” dan modding berarti “sampah”. Kjokkenmoddinger adalah sampahsampah dapur berupa tumpukan kulit kerang. Kjokkenmoddinger ditemukan di sepanjang pantai timur Sumatera. 7


ABRIS SOUS ROCHE Manusia pada zaman praaksara ini manusia purba tinggal di gua-gua pada tebing pantai yang dinamakan Abris Sous Roche. Hasil budaya yang ditemukan dari gua-gua tersebut yaitu peralatan dari batu yang telah diasah serta peralatan dari tulang dan tanduk (banyak ditemukan di gua Lawa, Sampung, Ponorogo, Jawa Timur, karena itu disebut sebagai Sampung Bone Culture). Abris Sous Roche juga banyak ditemukan di Besuki, Bojonegoro, dan Sulawesi Selatan. Bone culture adalah budaya manusia purba zaman Mesolitikum yang hidup di gua-gua untuk menggunakan alat-alat sehari-hari dari tulang. Nama Sampung bone culture berasal dari penemuan Callenfels di Gua Lawa di Jawa Timur yang sebagian besar merupakan peralatan dari tulang. Von Stein Callenfels merupakan peneliti pertama di Gua Lawa, dekat Sampung, Ponorogo, Jawa Timur pada 1928-1931. Ia saat itu menemukan alat-alat dari batu, seperti ujung panang dan flake, batu-batu penggolingan, kapak yang sudah diasah, alat-alat dari tulang, dan tanduk rusa Kebudayaan Tala adalah kebudayaan suku bangsa Toala yang mendiami gua-gua di Lamoncong, Sulawesi Selatan hingga akhir abad ke-19. Kebudayaan Toala meninggalkan flake, alat-alat dari tulang, dan serpih bilah. Ujung serpih yang runcing dapat menjadi alat penusuk untuk melubangi benda, seperti kulit. Salah satu ciri khas kebudayaaan Toala adalah lukisan-lukisan di gua-gua tempat tinggal warga suku Toala, seperti cap tangan dan lukisan babi hutan yang dicat. Peninggalan lukisan kebudayaan Toala masih dapat dilihat di Maros, Sulawesi Selatan. 8


Hasil budaya lain yang menonjol yaitu lukisan gua berupa cap tangan yang diyakini sebagai bagian dari ritual agama, dianggap memiliki kekuatan magis. Lukisan tersebut banyak ditemukan di gua Leang-Leang, Sulawesi Selatan. Cap jari tangan warna merah diperkirakan sebagai simbol kekuatan dan perlindungan dati roh-roh jahat, sementara cap tangan jadi jarinya tidak lengkap diperkirakan merupakan ungkapan duka atau berkabung. Di samping itu, lukisan juga bertalian dengan upacara-upacara penghormatan nenek moyang, upacara penguburan, dan keperluan meminta hujan atau kesuburan. 9


3. Zaman Neolitikum (Zaman Batu Baru/ Batu Muda) – Masa bercocok tanam Kehidupan manusia pada zaman praaksara ini sudah mulai menetap, tidak berpindah-pindah. Jenis manusia yang hidup pada pada zaman praaksara ini yaitu Homo Sapiens ras Mongoloide dan Austromelanosoide. Mereka juga sudah mengenal bercocok tanam, tetapi masih melakukan perburuan. Mereka juga sudah dapat menghasilkan bahan makanan sendiri (food producing). Hasil budaya peninggalan pada zaman praaksara neolitikum, pembuatannya sudah lebih sempurna, lebih halus dan disesuaikan dengan fungsinya. Alat-alat pada masa ini banyak digunakan untuk pertanian dan perkebunan. Ciri-ciri Zaman Neolitikum Alat-alat batu sudah diasah dan dihias Tempat tinggal manusianya sudah menetap Perubahan dari food gathering ke food producing Masyarakatnya mengenal bercocok tanam dan beternak Ditemukannya kebudayaan kapak lonjong dan kapak persegi Masyarakatnya telah mengenal kepercayaan 10


Hasil kebudayaan yang terkenal pada zaman Neolotikum, yaitu: Kapak Lonjong: alat dari batu yang diasah berbentuk lonjong seperti bulat telur. Diperkirakan digunakan dalam menebang pohon. Peninggalan ini banyak ditemukan di Indonesia bagian timur, seperti Minahasa dan Papua. Kapak Persegi: berbentuk persegi panjang atau trapesium, mirip dengan cangkul, digunakan untuk kegiatan persawahan. Ukuran besar sering disebut beliung atau pacul, yang berukuran kecil disebut tarah (tatah) dan digunakan untuk mengerjakan kayu. Persebarannya di daerah Indonesia bagian barat, seperti Sumatera, Jawa, dan Bali. Di samping kapak persegi dan kapak lonjong, ditemukan pula peninggalan Zaman Neolitikum yang tidak terbuatdari batu. Berikut ini beberapa contohnya. Perhiasan Perhiasan berupa gelang dan kalung dari batu indah banyak ditemukan di Jawa. Pakaian Di Kalimantan, Sulawesi Selatan, dan beberapa tempat lainnya ditemukan alat pemukul kulit kayu yang biasanya dipakai untuk membuat pakaian. Dapat diambil kesimpulan bahwa manusia dari Zaman Neolitikum sudah berpakaian. Tembikar Peninggalan berupa barang-barang tembikar atau periuk belanga terdapat di lapisan teratas dari bukit-bukit kerang di Sumatra. Walaupun hanya berupa pecahan-pecahan kecil, tetapi dapat dilihat bahwa tembikar tersebut sudah dihiasi gambar-gambar yang didapat dengan cara menekankan suatu benda ke tanah yang belum kering. Di bukit-bukit pasir di pantai selatan Jawa antara Yogyakarta dan Pacitan juga ditemukan banyak pecahan periuk belanga. 11


4. Zaman Megalitikum (Zaman Batu Besar) zaman perunggu. Manusia sudah dapat membuat dan meningkatkankebuday aan menghasilkan bangunan-bangunan dari batu besar. Mereka telah membuat berbagai macam bangunan batu untuk kepentingan upacara keagamaan dan mengubur jenazah. Manusia pendukung pada zaman praaksara ini didominasi oleh Homo Sapiens. Kebudayaan pada zaman praaksara megalitikum diperkirakan berkembang dari zaman neolitikum sampai Menurut Von Heine Geldren, kebudayaan megalitikum menyebar ke Indonesia melalui 2 gelombang. Pertama adalah Megalitikum Tua (2500-1500 SM) yang menyebar ke Indonesia pada zaman neolitikum dibawa oleh pendukung Kebudayaan Kapak Persegi (Proto Melayu). Contoh bangunan Megalithikum adalah menhir, punden berundak-undak, arca-arca statis. 12


Sedangakan masa Megalitikum Muda (1000-10 SM), menyebar pada zaman perunggu dibawa oleh pendukung Kebudayaan Dongson (Deutro Melayu). Contoh bangunan megalitikum adalah peti kubur batu, dolmen, waruga, sarkofagus dan arca-arca dinamis. Menhir adalah sebuah tugu batu yang tegak sebgai tempat pemujaan terhadap arwah leluhur. Menhir bisa anda temukan di sebagian wilayah indonesia khususnya di sumatera, sulawesi tengah dan kalimantan. Dolmen adalah meja batu tempat meletakkan sesaji yang akan dipersembahkan kepada arwah nenek moyang. Di bawah dolmen ini biasanya ditemukan kuburan batu.Dolmen yang merupakan tempat pemujaan misalnya ditemukan di Telagamukmin, Sumberjaya, Lampung Barat. Dolmen yang mempunyai panjang 325 cm, lebar 145 cm, tinggi 115 cm ini disangga oleh beberapa batu besar dan kecil. Dolmen-dolmen yang masih dapat disaksikan sampai sekarang mempunyai bentuk-bentuk besar sehingga kadangkadang sulit dibayangkan bagaimana batu besar dan dengan berat berton-ton itu dapat diangkut. Pengangkutan batu sampai setinggi dua meter lebih tentu mempunyai teknik tersendiri di dalam cara pengangkutannya. Besar tiang-tiang penyangga biasanya disesuaikan dengan besar batu datarnya. Semakin besar batu datar maka semakin besar pula tiang penyangganya. Sarkofagus adalah peti jenazah yang terbuat dari batu bulat (batu tunggal) / Bisa disebut juga sebuah peti mati untuk menyimpan jenasah seseorang yang sudah meninggal. Sarkofagus sering disimpan di atas tanah oleh karena itu sarkofagus seringkali diukir, dihias dan dibuat dengan teliti. Beberapa dibuat untuk dapat berdiri sendiri, sebagai bagian dari sebuah makam atau beberapa makam sementara beberapa yang lain dimaksudkan untuk disimpan di ruang bawah tanah. Di Mesir kuno, sarkofagus merupakan lapisan perlindungan bagi mumi keluarga kerajaan dan kadang-kadang dipahat dengan alabaster. Patung identik digunakan sebagai karya seni dari seorang seniman, tetapi pada jaman dahulu patung digunakan sebagai tempat pemujaan arwah nenek moyang yang sudah meninggal. 13


Arca atau patung bisasnya identik dengan agama hindu, budha dan kristen dan agama ini termasuk salah satu dari 5 agama yang ada di di indonesia. Untuk mengetahui atau melihat arca peninggalan jaman kuno, atau yang ada di jaman modern ini mungkin anda bisa mencoba melihatnya ke tempat ibadah dari agama yang sudah saya sebutkan diatas, atau anda bisa menemukan arca ini di wilayah indonesia khususnya Sumatera selatan, Lampung, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Patung adalah benda tiga dimensi karya manusia yang diakui secara khusus sebagai suatu karya seni. Orang yang menciptakan patung disebut pematung. Tujuan penciptaan patung adalah untuk menghasilkan karya seni yang dapat bertahan selama mungkin. Kuburan batu adalah peti jenazah yang terbuat dari batu pipih. Sebagaimana kebiasaan atau adat jaman purbakala yang dikenal dengan jaman batu masyarakat purba seringa memanfaatkan batu sebagai alat utama, tidak hanya digunakan untuk memasak, alat bercocok tanama tetapi batu pun juga di gunakan sebagai alat untuk menyimpan jenasah, biasanya Kuburan batu bisa anda temukan di sebagian daerah indonesia seperti kuningan, jabar, dan nusa tenggara. Punden berundak atau bisa disebut juga dengan Punden berundakundak memiliki pengertian sebuah bangunan/ tempat suci sebagai tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang yang dibuat dalam bentuk bertingkat-tingkat atau berundak-udak. anda bisa menemukan Bangunan ini banyak ditemukan di daerah Lebak Si Bedug, Banten Selatan. mungkin anda mau wisata atau mengenal sejarah purbakala indonesia bisa mencoba berkunjung ke tempat-tempat dimana di temukannya peninggalan sejarah jaman purba indonesia seperti pundek berundak ini. Waruga adalah kubur atau makam leluhur orang Minahasa yang terbuat dari batu dan terdiri dari dua bagian. Bagian atas berbentuk segitiga seperti bubungan rumah dan bagian bawah berbentuk kotak yang bagian tengahnya ada ruang. 14


B. Zaman Logam batu (bivalve) dan dengan cetakan tanak liat dan lilin (a cire perdue). Zaman logam dibagi menjadi 3 zaman yaitu zaman tembaga, zaman perunggu, dan zaman besi, namun zaman tembaga tidak terjadi di Indonesia. Zaman logam disebut juga sebagai zaman perundagian karena di masyarakat timbul golongan undagi yang terampil dalam melakukan pekerjaan tangan. Pada zaman ini, manusia purba sudah mulai mengenal teknologi dan pertukangan. dengan membuat peralatan yang sesuai dengan kebutuhan hidup Manusia sudah mulai membuat alat dari logam seperti perunggu dan besi. Ada 2 teknik pembuatan alat logam, yaitu dengan cetakan Zaman logam ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu Zaman Tembaga, Zaman Perunggu dan zaman besi. Zaman tembaga adalah awal bagi manusia mulai mengenal benda yang disebut logam. Saat itu, tembaga digunakan sebagai bahan dasar membuat peralatan yang digunakan sehari-hari. Hingga kini di Indonesia tidak ditemukan adanya peninggalan sejarah dari zaman tembaga. Pada zaman perunggu manusia mulai membuat berbagai perkakas dengan bahan dasar perunggu. Di Indonesia ada banyak peninggalan dari zaman perunggu yang ditemukan. Nekara yang merupakan genderang besar atau tambur yang berbentuk seperti dandang terbalik, digunakan untuk keperluan upacara ritual khusus. Ada juga kapak corong, moko, bejana perunggu, dan arca perunggu. 15


Setelah mengenal perunggu, manusia mulai mengenal besi dan meng gunakannya. Sehingga pada masa itu dikenal dengan zaman besi. Pada zaman ini manusia sudah bisa membuat peralatan yang lebih sempurna. Nekara banyak ditemukan di Bali, Jawa, Sumatra, Kepulauan Kei, Rotel, Selayar, dan Pulau Sangean. Kapak corong adalah hasil kebudayaan zaman logam di masa perunggu. Kapak corong termasuk kapak dengan bagian tajam menyerupai kapak batu. Bagian corong berfungsi sebagai tempat pemasangan tangkai kayu yang menyiku mirip bentuk kaki. Fungsi kapak corong untuk mencangkul atau mengerjakan kayu. Bejana perunggu adalah hasil kebudayaan zaman logam di masa perunggu. Bejana perunggu ditemukan di Madura dan Sumatra. Hasil peninggalan pada zaman perunggu ini menjadi bukti bahwa kebudayaan logam yang ada di Indonesia tergolong masih satu kebudayaan logam Asia dengan pusatnya di Dongson. Tidak heran, di Indonesia terdapat kebudayaan zaman perunggu dan sering dikenal dengan kebudayaan Dongson. Arca perunggu merupakan hasil budaya zaman logam dan ada yang berbentuk binatang serta manusia di masa perunggu. Banyak ditemukan di Lumajang, Riau, Bangkinang Riau, Bogor, hingga Palembang. Zaman besi menghasilkan berbagai kebudayaan. Beberapa di antaranya, yaitu: Mata panah adalah salah satu bentuk peninggalan zaman besi yang dibuat dengan tujuan sebagai alat pengasah tulang dan kayu. Masyarakat kala itu menggunakan alat ini saat berburu binatang. Seiring berjalannya waktu, alat ini dapat menjadi lebih baik sehingga mampu bertahan lebih lama. Mata pisau pada zaman besi dikenal sebagai sebuah perkakas yang berkualitas cukup baik. Pasalnya, perkakas satu ini bisa dimanfaatkan hampir dalam setiap kepentingan sehari-hari. Fungsi dari alat ini adalah untuk mencari makanan serta menjadi alat perlindungan dari serangan binatang buas. Mata sabit mempunyai bentuk mirip dengan mata pisau. Tetapi, keduanya mempunyai perbedaan di mana bagian mata di mata sabit lebih besar daripada mata di mata pisau. Alat satu ini digunakan dalam bercocok tanam. Bahkan, mata sabit hingga kini juga banyak digunakan oleh orang pertanian. Proto Celtic, Yunani, Mycea, dan Het merupakan pihak yang pertama kali memakai pedang. Adanya sumber yang dapat menjadi produksi besi membuat mereka berpikir untuk menciptakan senjata yang dapat dipakai dalam peperangan. 16


2. BERKENALAN DENGAN MASYARAKAT Interaksi sosial adalah proses saling berhubungan dan berdampak antara individu atau kelompok individu dalam masyarakat. Hal ini melibatkan pertukaran informasi, pendapat, emosi, dan perilaku antara individu atau kelompok yang berinteraksi. Interaksi sosial dapat berlangsung dalam berbagai bentuk, baik positif maupun negatif. Interaksi sosial adalah proses saling berhubungan dan berdampak antara individu atau kelompok individu dalam masyarakat. Hal ini melibatkan pertukaran informasi, pendapat, emosi, dan perilaku antara individu atau kelompok yang berinteraksi. Interaksi sosial dapat berlangsung dalam berbagai bentuk, baik positif maupun negatif. Syarat Interaksi Sosial Pada dasarnya, sebuah interaksi sosial tidak mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat utama. Keduanya adalah kontak sosial dan komunikasi. Kontak berasal dari bahasa latin yakni con atau cum (yang artinya bersamasama) dan tango (yang artinya menyentuh). Sebagai gejala sosial, kontak tidak melulu berarti hubungan fisik dan bisa dilakukan dengan cara lainnya. Dalam prosesnya, kontak sosial bisa berlangsung dalam tiga bentuk yaitu: Antara perorangan, contohnya antara seorang anak dengan temannya. Antara perorangan dengan suatu kelompok, contohnya seorang anak dan keluarganya. Antara suatu kelompok dengan kelompok lainnya, contohnya antara kelompok mahasiswa asal Ambon dan kelompok mahasiswa asal Medan. Kontak sosial tidak selalu berhubungan fisik karena bisa bersifat primer dan sekunder. Kontak primer terjadi apabila hubungan terjadi secara langsung, bertemu dan berhadapan muka. Contoh terjadinya kontak primer adalah berjabat tangan serta saling senyum. Sedangkan kontak sekunder terjadi ketika prosesnya memerlukan perantara. Contohnya, si A ingin berkenalan dengan si B melalui sosok si C. 17


Komunikasi adalah proses penyampaian dan penerimaan pesan berupa ide atau gagasan dari satu pihak ke pihak lainnya. Komunikasi dalam interaksi sosial bukan sekedar tentang apa yang dikatakan, tetapi juga bagaimana cara penyampaiannya kepada siapa. Komunikasi bisa dibagi menjadi dua, yakni komunikasi verbal dan nonverbal. Komunikasi verbal bersifat langsung sedangkan komunikasi non-verbal dalam interaksi sosial dapat dilihat dalam berbagai pola sosial. Komunikasi nonverbal dalam percakapan sehari-hari bisa berbentuk anggukan kepala, kontak mata, ekspresi wajah, sentuhan dan sebagainya. Bentuk Interaksi Sosial Menurut ahli sosiologi John Lewis Gillin dan Jogn Philip Gillin, ada dua macam proses sosial yang timbul sebagai akibat adanya interaksi sosial, yaitu: 1. Interaksi Sosial Asosiatif Interaksi sosial asosiatif adalah proses sosial yang mendekatkan atau mempersatukan. Ada beberapa contoh interaksi sosial terkait proses asosiatif yaitu: - Kerja Sama (Cooperation) Kerja sama berarti bekerja sama dalam rangka mencapai suatu tujuan. Ada empat faktor yang mendorong terjadinya kerja sama, yaitu motivasi atau kepentingan pribadi, kepentingan umum, motivasi alturistik, dan tuntutan situasi. Contohnya, ada beberapa proses kerja sama seperti gotong royong dalam kerja bakti, tolong menolong, dan musyawarah. - Akomodasi (Accommodation) Akomodasi adalah suatu keadaan dan usaha-usaha dalam mengakhiri pertikaian secara permanen atau sementara di antara pihak-pihak yang berkonflik. Beberapa bentuk akomodasi seperti paksaan, kompromi, mediasi, konsiliasi, dan toleransi. - Asimilasi (Assimilation) Asimilasi adalah proses sosial yang ditandai dengan usaha-usaha mengurangi perbedaan yang terdapat diantara perorangan atau kelompok-kelompok manusia. Proses asimilasi ditandai oleh usaha-usaha mempertinggi kesatuan dengan memerhatikan kepentingan dan tujuan bersama. 18


2. Interaksi Sosial Disosiatif Interaksi sosial disosiatif adalah proses yang menjauhkan atau mempertentangkan sesuatu. Beberapa proses disosiatif adalah: - Persaingan (competition) Proses sosial yang melibatkan individu atau kelompok dalam mencapai keuntungan tanpa adanya ancaman atau kekerasan. - Kontravensi Merupakan proses sosial yang ditandai oleh adanya sikap dan perasaan tidak suka yang disembunyikan. Bentuk proses sosial ini berada di antara persaingan dan konflik. - Pertikaian Pertikaian adalah proses sosial ketika individu atau kelompok berusaha menentang pihak lain dengan cara mengancam atau menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuannya. - Konflik Konflik dapat didefinisikan sebagai proses sosial ketika individu atau kelompok berusaha saling menyingkirkan satu sama lain dengan jalan menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya. Bentuk Interaksi Sosial Kekinian Seiring dengan berkembangnya zaman, ada lima bentuk interaksi sosial kekinian yang baru, yaitu: Pertukaran sosial (social exchange): tipe interaksi sosial yang tampak dalam transaksi perdagangan atau bisnis. Konflik sosial (social conflict): tipe interaksi sosial yang tampak pada perselisihan antara dua individu atau dua kelompok yang berbeda tentang pandangan atas satu objek tertentu. Persaingan atau kompetisi: bentuk interaksi sosial yang berlangsung antara individu-individu dalam mendapatkan sesuatu yang seringkali ketersediaannya melimpah. Kerja sama: Interaksi sosial yang terjadi di antara beberapa individu atau kelompok dalam hal saling bahu-membahu untuk mencapai tujuan. Akomodasi: Interaksi sosial dalam mempertemukan pihak yang sedang berkonflik untuk didamaikan. 19


Budaya masyarakat daerah akan membentuk karakteristik(kebiasaan) yang dapat membedakan dengan masyarakat daerah lain. Setiap daerah memiliki kebudayaan yang khas, seperti kebiasaan dalam berpakaian, makanan, bahasa, dan adat istiadat. Hal ini merupakan hasil dari interaksi sosial dan pengaruh lingkungan. d. Pembentukan Karakteristik Buda- ya (Kebiasaan) Masyarakat Daerah Cultural shock (keguncangan budaya) merupakan fenomena di mana seseorang merasa kaget ketika menghadapi unsur-unsur kebudayaan baru karena perubahan. Contohnya ketika ada orang Amerika yang liburan ke Indonesia. Ketika mereka melihat orang Indonesia makan pakai tangan, mereka kaget. Karena, budaya mereka itu makan pakai sendok dan garpu. Penyebab Culture Lag Penyebab timbulnya ketertinggalan budaya adalah budaya material seperti ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat, namun beberapa masyarakat cenderung menolak perkembangan tersebut. Dengan kata lain, mereka sulit beradaptasi. Kurangnya Pengetahuan dan Daya Pikir Masyarakat Kurangnya Kontak dengan Budaya Lain Heterogenitas Masyarakat Tinggi Dampak Cultural Lag Adanya perubahan dalam masyarakat, terutama yang berkaitan dengan kebudayaan seringkali memiliki dampak. Dampak cultural lag adalah menimbulkan kejutan sosial dengan pola-pola pemikiran baru, perbuatan atau tindakan baru, hingga menciptakan kebiasaan yang baru. Hal tersebut bisa menimbulkan berbagai macam konflik, khususnya yang berbenturan dengan nilai-nilai tradisional. Mereka yang memiliki pandangan yang lebih tradisionalis misalnya, menginginkan agar budayanya cenderung tetap sama dengan yang dimiliki oleh nenek moyang mereka. Sementara, kelompok lain yang memiliki pandangan yang lebih progresif, menginginkan agar budayanya bisa berubah mengikuti perkembangan zaman. Cara Mengatasi Cultural Lag Cara mengatasi cultural lag tentu saja dengan kecerdasan itu sendiri. Kecerdasan manusia itulah yang akan berusaha untuk menemukan cara melakukan sesuatu dengan lebih cepat dan mudah. Orang lain memang bisa membantu masyarakat yang mengalami fenomena ketertinggalan budaya. Misalnya dengan melakukan pemberdayaan, sosialisasi terhadap perubahan, mempermudah akses pendidikan, dan melakukan pembangunan. 20


Ketimpangan Budaya (Cultural Lag) ketimpangan salah satu unsur kebudayaan untuk menyesuaikan diri dengan unsur kebudayaan lain yang sudah berubah. Jadi, ketimpangan budaya adalah adanya kelambanan dari salah satu unsur kebudayaan untuk beradaptasi dengan unsur lain yang sudah berubah. Contoh, kurang disiplinnya berlalu lintas. Di satu pihak, secara materi terjadi peningkatan pembelian mobil. Di lain pihak, aturan lalu lintas belum diketahui, sehingga tidak memperhatikan rambu- rambu lalu lintas. Contoh lain, tingginya kecelakaan di pabrik-pabrik disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam menjalankan mesin-mesin. Listrik masuk desa juga telah mendorong petani untuk membeli alat-alat elektronik, seperti TV, radio, dan kulkas, tetapi tidak disertai dengan kesiapan mental dan pengetahuan. Akibatnya, masyarakat petani hanya meniru sesuatu yang dianggap mudah. Ketimpangan budaya banyak terjadi pada masyarakat yang sedang mengalami perubahan, baik di bidang teknologi maupun pola berpikir. 21


B. Pembiasaan Diri untuk Melestarikan Lingkungan Untuk melestarikan lingkungan sekitar, kita perlu membiasakan diri dengan caracara yang berkelanjutan dalam pengelolaan sumber daya alam. Hal ini melibatkan upaya untuk melestarikan sumber daya udara, air, dan tanah, serta mengubah pola konsumsi dan produksi yang tidak ramah lingkungan. Berikut merupakan beberapa pembiasaan diri yang dapat dilakukan untuk melestarikan lingkungan: 1. Pembiasaan Melestarikan Sumber Daya Udara Udara adalah salah satu sumber daya alam yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Untuk melestarikan sumber daya udara, kita dapat melakukan beberapa tindakan berikut: Menjaga kebersihan udara dengan mengurangi emisi gas rumah kaca dan polusi udara. Menggunakan transportasi yang ramah lingkungan, seperti berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan kendaraan listrik. Menanam pohon dan menjaga kelestariannya untuk menghasilkan oksigen dan menyerap karbon dioksida. Mengurangi pemakaian bahan bakar fosil dengan menggunakan energi terbarukan, seperti energi surya atau energi angin. Mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah dalam pencegahan polusi udara dan perubahan iklim. 2. Pembiasaan Melestarikan Sumber Daya Air Air adalah sumber daya alam yang juga sangat penting bagi kehidupan manusia. Untuk melestarikan sumber daya air, kita dapat melakukan beberapa tindakan berikut: Mengurangi pemakaian air secara berlebihan, seperti memperbaiki kerusakan pipa dan menghindari pemborosan air. Menggunakan teknologi yang efisien dalam penggunaan air, seperti toilet dengan sistim pembilasan yang hemat air dan pompa air yang efisien. Menghindari pencemaran air dengan membuang limbah secara bertanggung jawab, seperti menggunakan toilet yang ramah lingkungan dan tidak membuang limbah industri ke sungai atau danau. Mendukung kebijakankebijakan pemerintah dalam pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan. 3. Pembiasaan Melestarikan Sumber Daya Tanah Tanah adalah salah satu sumber daya alam yang menjadi dasar kehidupan manusia. Untuk melestarikan sumber daya tanah, kita dapat melakukan beberapa tindakan berikut: Menggunakan metode pertanian yang berkelanjutan, seperti sistem organik, rotasi tanaman, dan pemanfaatan kompos sebagai pupuk. Menghindari penggunaan pestisida dan bahan kimia berbahaya dalam pertanian yang dapat merusak kualitas tanah. Menjaga kelestarian hutan dan lahan gambut untuk mencegah erosi tanah. 22


4. Aktivitas Manusia Zaman Praaksara a. Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan Tingkat Sederhana Zaman praaksara merupakan masa di mana manusia belum menggunakan tulisan atau memiliki catatan sejarah tertulis. Pada masa ini, manusia hidup sebagai pemburu dan pengumpul makanan tingkat sederhana. Mereka bergantung pada hasil buruan, seperti binatang, ikan, dan tumbuhan liar yang dikumpulkan. Masyarakat pada masa ini hidup secara nomaden, berpindah-pindah tempat dalam mencari sumber makanan. Alat kehidupan yang digunakan pada masa food gathering (masa mengumpulkan makanan) berupa batu kapak perimbas (chopper), yaitu sejenis kapak batu yang digenggam dan tidak bertangkai. Manusia pada masa itu hidup berkelompok dan tinggal di gua-gua yang dekat dengan sungai atau sekitar pantai. Corak kehidupan di masa ini ditandai pula dengan berpindah-pindah (nomaden). . b. Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan Tingkat Lanjut Seiring berjalannya waktu, manusia pada masa praaksara mengembangkan teknologi dan strategi berburu yang lebih canggih. Mereka mulai menggunakan alat-alat yang dipahat, seperti tombak dan panah, untuk membantu dalam berburu. Selain itu, mereka juga mulai mengenal teknik pertanian sederhana dan mengumpulkan makanan dari tanaman yang tumbuh liar. c. Masa Bercocok Tanam Pada masa ini, manusia mulai mengembangkan pertanian dan menciptakan permukiman tetap. Mereka mengenal sistem bercocok tanam, seperti membajak tanah, menanam biji-bijian, dan merawat tanaman. Pertanian menjadi sumber utama penghidupan dan manusia mulai membentuk masyarakat yang lebih kompleks. Di tahap ini terjadi perubahan dari tradisi food gathering menjadi food producing (menghasilkan makanan). Karena sudah menghasilkan makanan sendiri dengan bercocok tanam dan beternak, maka manusia mulai membangun rumah dan tidak lagi berpindah-pindah. Alat batu yang digunakan umumnya sudah diasah hingga halus, seperti kapak persegi, kapak lonjong, dan mata panah. Manusia juga telah mengenal sistem barter dengan menukar garam, ikan laut kering, dan hasil kerajinan tangan. 23


d. Masa Perundagian Masa perundagian adalah masa di mana manusia memperkenalkan sistem barter dan pertukaran barang. Mereka mulai mengenal nilai dan penggunaan logam, seperti emas, perak, dan tembaga. Hal ini memungkinkan manusia untuk berdagang dengan daerah-daerah lain dan meningkatkan hubungan sosial dan budaya antar masyarakat. Pada tahap perundagian, manusia purba telah pandai membuat perkakas yang berasal dari logam. Pada masa itu, peninggalan prasejarah yang ditemukan berupa artefak yang terbuat dari perunggu dan besi seperti kapak, arca, dan bejana perunggu, serta perhiasan. Tahap-tahap kehidupan manusia pada masa praaksara dapat dibedakan berdasarkan ciri kehidupan dan alat yang digunakan. Karena belum mengenal tulisan, maka untuk mengetahui sejarah dan perkembangan manusia di Indonesia adalah dengan mengamati sisa peninggalan yang ditemukan. 24


5. Mengenal Leluhur Bangsa Indonesia Leluhur bangsa Indonesia dikenal dengan sebutan “orang Indonesia purba” atau “manusia purba Indonesia”. Mereka hidup sebagai pemburu-pengumpul pada masa praaksara dan berkembang menjadi pembudidaya pertanian pada masa bercocok tanam. 6. Diaspora Bangsa Indonesia Diaspora adalah migrasi penduduk dari suatu negara atau wilayah ke negara atau wilayah lain. Bangsa Indonesia memiliki sejarah diaspora yang panjang. Sejak zaman kuno, bangsa Indonesia sudah melakukan berbagai perdagangan dengan bangsa-bangsa Asia, Eropa, dan Arab. Hal ini membawa pengaruh budaya, agama, dan bahasa asing ke Indonesia. Asal-usul leluhur berdasarkan bukti arkeologis dapat dibagi menjadi: bukti linguistik (kebahasaan), bukti arekologis dan bukti genetik yang ditemukan. Berdasarkan kepada bukti linguistik (kebahasaan) para ahli menduga bahwa orangorang yang menggunakan bahasa Austronesia di kepulauan Indonesia sama dengan yang ada di daerah Pasifik Barat Daya. Berdasarkan kepada bukti arkeologis para ahli berdasarkan kepada bukti terbaru berpendapat bahwa leluhur bangsa Indonesia berasal dari daerah sekitar Taiwan dan menamakan teorinya dengan Out of Taiwan. Berdasarkan kepada bukti genetika menunjukkan di daerah kepulauan Indonesia sudah didiami oleh penduduk sebelum bangsa Austronesia datang bermigrasi dari Taiwan. Kalian pasti pernah dengar lagu “Nenek Moyangku Seorang Pelaut” kan? Pada catatan sejarah, bangsa Indonesia tercatat pandai dalam mengarungi samudra, jadi lagu tersebut bukan hanya isapan jempol belaka. 25


C. Pembangunan Berkelanjutan dan Kelangkaan 1. Pembangunan Berkelanjutan Pembangunan berkelanjutan adalah konsep pembangunan yang bertuju- an untuk memenuhi kebutuhan manusia saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi masa depan untuk memenuhi kebutuhan mereka. 2. Karakteristik Pembangunan Berkelanjutan Pembangunan berkelanjutan memiliki beberapa karakteristik, antara lain: Pembangunan yang memperhatikan kelestarian lingkungan dan penggunaan sumber daya alam secara bijaksana. Pembangunan yang berfokus pada pemerataan pembangunan dan peningkatan kualitas hidup manusia. Pembangunan yang melibatkan partisipasi masyarakat, melindungi hak asasi manusia, dan mempromosikan keadilan sosial. Pembangunan yang berorientasi pada inovasi dan pengembangan teknologi yang ramah lingkungan. 3. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Tujuan pembangunan berkelanjutan adalah untuk mencapai keseimbangan antara kebutuhan manusia, perlindungan lingkungan, dan pertumbuhan ekonomi. Tujuan pembangunan berkelanjutan meliputi: Menjamin keberlanjutan sumber daya alam. Mengurangi kemiskinan dan meningkatkan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan yang layak. Mengurangi emisi gas rumah kaca dan mengatasi perubahan iklim. Mempromosikan kerjasama internasional dalam pembangunan berkelanjutan. Berdasarkan hasil Deklarasi SDGs terdapat 17 tujuan pembangunan berkelanjutan yang kemudian dikelompokan menjadi 4 pilar, yaitu: pilar sosial, pilar ekonomi, pilar lingkungan hidup dan pilar tata kelola 4. Kelangkaan dan Kebutuhan Manusia yang Tidak Terbatas Kelangkaan adalah kondisi di mana sumber daya yang tersedia tidak mencukupi untuk memenuhi semua kebutuhan atau keinginan manusia. Kelangkaan terjadi karena sumber daya alam yang terbatas dan kebutuhan manusia yang tidak terbatas. Manusia memiliki kebutuhan yang terus meningkat seiring dengan perkembangan teknologi dan pertumbuhan populasi, namun sumber daya alam yang tersedia terbatas. 26.


5. Faktor yang Menyebabkan Kelangkaan Faktor-faktor yang menyebabkan kelangkaan antara lain: Pertumbuhan populasi yang cepat. Penggunaansumber daya yang berlebihan dan tidak efisien. Perubahan iklim dan bencana alam. Kerusakan lingkungan dan kehilangan habitat alam. 6. Dampak Ekonomi atas Kelangkaan Sumber Daya Kelangkaan sumber daya alam memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Kelangkaan sumber daya dapat menyebabkan naiknya harga atau biaya produksi, terganggunya pasokan bahan baku, dan berkurang- nya lapangan kerja. Dampak ekonomi lainnya adalah terjadinya persaing- an yang intens dalam mendapatkan sumber daya, sehingga bisa memun-culkan konflik sosial dan politik. 7. Langkah Pencegahan Kelangkaan Sumber Daya Untuk mencegah kelangkaan sumber daya, kita perlu mengambil langkah-langkah berikut: Menerapkan pengelolaan sumber daya yang bijaksana dan berkelanjutan. Menggunakan teknologi dan inovasi yang ramah lingkungan. Mendorong penggunaan energi terbarukan dan penghematan energi. Melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan terkait sumber daya alam. 8. Masalah Pokok Ekonomi Kelangkaan sumber daya alam merupakan salah satu masalah pokok dalam ilmu ekonomi. Ilmu ekonomi mempelajari bagaimana mengelola sumber daya yang terbatas agar dapat memenuhi kebutuhan manusia yang tidak terbatas. Masalah pokok ekonomi meliputi masalah alokasi, distribusi, dan produksi sumber daya untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, ilmu ekonomi juga mempertimbangkan keberlanjutan sumber daya alam dan preservasi lingkungan. 27


Daftar Pustaka https//studiliv.com/materi-ips-kelas -7-bab-2/ https//www.kherysuryawan.id/2022/10/rangkuman-materi-ipskelas-7-tema-2-html


Click to View FlipBook Version