MAKALAH
PEREMPUAN SEBAGAI PENOLONG
YANG SEPADAN MENURUT
KEJADIAN 2 :18
GEREJA PENTAKOSTA INDONESIA(GPI)
Sidang Batam Center
Oleh : Kaum Ibu Kelompok 1
September Tahun 2020
PEREMPUAN SEBAGAI PENOLONG
Pada hakikatnya, semua orang baik perempuan maupun laki-laki harus biasa menjadi
penolong. Namun berbeda yang disampaikan Kitab Kejadian 2:18 diakatakan Tuhan Alllah
berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadi penolong baginya,
yang sepadan dengan dia.”
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kehidupan keluarga, secara khusus keluarga Kristen seringkali terjadi ketidakseimbangan
dalam perjalanannya, Kerapkali juga dijumpai dalam keluarga, isteri merasa dirinya pembantu
dalam keluarga untuk melakukan tugas pekerjaan di rumah.
Demikian dalam hal persoalan ekonomi keluarga harus dipenuhi secara mutlak. Ada yang
berpendapat isteri tidak berkewajiban untuk kebutuhan ekonomi keluarga dan karena isteri hanya
dirumah saja mengurus anak dan sebagainya. Sedangkan yang lain berpendapat bahwa setuju saja
karena bukan hanya suami saja yang dapat bekerja dan mencukupi kebutuhan keluarga, artinya
saling mendukung diantaranya.
Dalam jenjang karier atau pendidikan, seringkali perempuan memiliki rasa egois artinya merasa
paling hebat dari suami. Dengan kata lain suami seringkali disepelekan atau tidak dihargai karena
jenjang karier istri lebih dominan. Dalam kehidupan sehari-hari istri merasa wonder women, bisa
melakukan pekerjaan seorang diri. Ada ungkapan istri “bahwa suami tidak akan sanggup jika
seorang diri saja.” Tidak jarang hal itu membawa konflik dalam rumah tangga. Dalam hal ini
apakah isteri harus tunduk, apakah suami berhak untuk memberikan keputusan bekerja atau tidak,
hal ini masih menjadi polemik dalam rumah-tangga kristen.
B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah : Mengapa perempuan disebut sebagai
penolong? Bagaimana seorang istri menjalankan perannya sebagai penolong yang sepadan bagi
suaminya?
C. TUJUAN PEMBAHASAN
Tujuan dari pembahasan makalah ini adalah supaya seluruh perempuan yang membaca
makalah ini mempunyai pemahaman yang sama bahwa perempuan diciptakan Tuhan sebagai
penolong.
BAB II PEMBAHASAN
Setiap perempuan menyadari akan keberadaannya dalam kehidupan sehari-hari, yaitu
melakukan peran yang menghormati kepemimpinan suaminya untuk mencapai maksud dan rencana
Allah didalam rumah tangga. Jika istri menentang tugas ini, itu artinya dia juga menentang Allah.
Dalam makalah ini sangat penting memahami arti perempuan dan penolong.
A. PENGERTIAN
Menurut Kejadian 2:18 bahwa ada 3 kata yang perlu diartikan yaitu perempuan, penolong
dan sepadan.
1. Defenisi Perempuan
Pengertian perempuan secara etimologis berasal dari kata empu yang berarti “tuan”, yaitu
orang yang mahir atau berkuasa, kepala, hulu, yang paling besar. Namun menurut Zaitunah Subhan
(2004:19) kata perempuan berasal dari kata empu yang artinya dihargai. Menurut kajian medis dua
faktor, yaitu faktor fisik dan psikis.Secara biologis dari segi fisik, perempuan dibedakan atas dasar
fisik perempuan yang lebih kecil dari laki-laki, suaranya lebih halus, perkembangan tubuh
perempuan terjadilebih dini, kekuatan perempuan tidak sekuat laki-laki dan sebagainya. Dari segi
psikis, perempuan mempunyai sikap pembawaan yang kalem, perasaan perempuan lebih cepat
menangis dan bahkan pingsan apabila menghadapi persoalan berat (Muthahari, 1995:110).
Secara garis besar pengertian perempuan dalam menurut kaum ibu kelompok 1 adalah
perempuan itu seorang yang unik dicipakan Tuhan meskipun memiliki kelemahan, seorang yang
mandiri, multi fungsi dalam rumahtangga, pekerja keras, tulang rusuk laki-laki serta memiliki peran
yang sangat penting dalam keluarga.
2. Defenisi Penolong
Makalah ini juga menjelaskan apa itu penolong. Dalam Kej. 2:8-14 diceritakan bahwa Allah
menyediakan taman yang indah dengan segala buah yang melimpah di dalamnya. Dalam bagian
selanjutnya Allah juga mempersiapkan penolong yang sepadan bagi Adam (2:18, 20). Jelas
dipahami bahwa ide memberikan „penolong‟ buat Adam merupakan inisiatif Allah. Beberapa
petunjuk mengarah pada hal ini: “Allah berkata” (2:18), “Allah membentuk” (2:19), “Allah
membuat manusia tertidur” (2:20), “Allah membangun seorang perempuan” (2:22).
Pernyataan Allah yang menyatakan bahwa „penolong‟ itu adalah seorang perempuan atau
wanita, merupakan sebuah konsep yang unik. Perempuan memiliki nilai kehormatan di hadapan
Allah, karena secara spesifik Allah mengatakan pada 2:18b“Aku akan menjadikan….”. Dalam hal
apa, perempuan/ wanita disebut sebagai penolong: penolong dalam menjaga dan memelihara taman
(2:15), penolong dalam hal melahirkan keturunan (1:28) dan banyak bentuk pertolongan yang bisa
diberikan oleh Hawa (bdk. Pkt 4:9-10; Ams 31:10-31).
Apakah arti penolong di sini? Penolong menunjukkan bahwa suami membutuhkan
bahkan “bergantung” pada dukungan dan pertolongan istri. Dan jangan salah mengerti
dulu, bukan berarti bahwa seolah-olah suami harus berada di “bawah ketiak” sang istri.
Karena firman Tuhan juga berkata “laki-laki tidak diciptakan untuk perempuan, tetapi
perempuan untuk laki-laki” (1Kor. 11:9). Namun ini juga tidak menunjukkan bahwa laki-
laki lebih superior atau lebih tinggi daripada perempuan. Allah mendesain laki -laki
membutuhkan perempuan dan perempuan membutuhkan laki-laki (lihat 1Kor.11:11).
Kedua-duanya adalah manusia yang equal dan juga memiliki sekaligus peranan berbeda
untuk sama-sama menggenapi panggilan Allah dalam hidup mereka sebagai pasangan.
Allah tidak menciptakan Hawa dari debu. Allah menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam.
Mengapa? Ini untuk menunjukkan kepada Adam bahwa istrinya adalah bagian dari dia, equal
dengan dia, bukan ciptaan yang lebih rendah. Seorang laki-laki harus mengasihi istrinya seperti
dirinya sendiri (Ef. 5:28-29). Perempuan tidak diambil dari kepala Adam sehingga dapat
memerintah atas laki-laki, tidak juga dari kaki sehingga dia dapat direndahkan oleh laki-laki, tetapi
diambil dari rusuknya sehingga dia dapat melindunginya dan menjaganya selalu dekat di hatinya.
3. Defenisi Sepadan
Menurut KBBI bahwa sepadan adalah mempunyai nilai (ukuran, arti, efek dan sebagainya)
yang sama. Arti lainnya dari sepadan adalah sebanding (dengan). Sepadan berasal dari kata dasar
padan. Dalam bahasa aslinya (bahasa Ibrani) digunakan kata “Kenegdo” yang artinya “didesain
dan dirancang untuk menjadi teman atau partner yang sesuai hanya untuk Adam.
B. PERAN PEREMPUAN MENURUT ALKITAB
Dari defenisi diatas perempuan memiliki peran dalam kehidupan sehari-hari yaitu peran dikeluarga,
gereja dan masyarakat. Berikut penjelasan peran perempuan:
1. Perempuan Dalam Keluarga
Ada beberapa hal yang menjadi bimbingan tentang sikap dan tanggungjawab perempuan
dalam keluarga, serta berkat-berkat rohani yang menjadi bagiannya.
a) Posisi sebagai seorang istri atau perempuan (Kejadian 2:18-25)
Berikut ini merupakan beberapa hal yang dapat dijadikan acuan atau pedoman tentang posisi
sebagai seorang Istri, yaitu:
Penolong dan pelengkap suami
Penerima dan pendamping suami
Penurut dan pendukung suami
Pencinta suami
b) Sikap sebagai seorang istri atau perempuan (Efesus 5:21-22)
Sebagai seorang istri, maka ia harus tunduk atau patuh atau menyesuaikan terhadap
suaminya. Dari hal tersebut, maka terdapat dampak-dampak yang luar biasa bagi seorang
istri yang diperoleh dari suaminya, yaitu:
Keamanan dan perlindungan bagi diri dan keluarganya
Berkenan Tuhan atas dirinya karena ia menaati firman Tuhan
Kesempatan memenangkan suaminya bagi Kristus (1 Pet.3:1-2)
Kesaksian yang baik bagi lingkungannya
c) Penampilan sebagai seorang istri atau perempuan Kristen (1 Petrus 3:3-6)
Setiap perempuan Kristen harus lebih mementingkan inner beauty dari pada penampilan
luar, yaitu sisi riasan, pakaian, dan perhiasan. Karena kecantikan adalah warisan bagi setiap
perempuan yang menjadi milik Kristus. “… tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang
tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut
dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah” (1 Ptr.3:4). Kecantikan sejati yang tidak
dapat rusak atau pudar, sesungguhnya dimulai dari dalam, dan pancarannya pasti mengubah
pembawaan atau penampilan.
d) Kewajiban seorang Istri dan Ibu (Amsal 31:10-31)
Berikut ini merupakan beberapa kewajiban bagi seorang perempuan dalam keluarganya,
yaitu:
Berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat
Bekerja keras dan memiliki kecakapan ekonomi (di sini dimungkinkan Istri
membantu suami dalam memperoleh tambahan penghasilan, asalkan tidak
menelantarkan pendidikan anak)
Memiliki belas kasihan
Tahu secara jelas kehendak Allah
Memiliki kecakapan, karunia dan urapan
Memiliki kredibilitas dan integritas yang baik, sehingga suaminya dikenal.
e) Berkat bagi istri atau perempuan (Mazmur 133)
Allah menyediakan berkat khusus bagi seluruh perempuan yang berperan baik dalam
keluarganya. Berkat tersebut dapat berupa perlindungan Allah melalui suami yang
merupakan wakil Allah di dunia. Kekerasan yang dialami Perempuan dalam keluarga yaitu
Kekerasan Fisik
Kekerasan Emosional
Kekerasan Ekonomi
Kekerasan Seksual
Kekerasan Budaya
2. Perempuan Dalam Gereja
Keluarga Kristen dapat dikatakan sebagai Gereja rumah tangga. Hal ini dikarenakan bahwa
dalam persekutuan orang-orang Kristen yang menjadi kepala persekutuan itu adalah Kristus, oleh
sebab itu dalam keluarga Kristen yang menjadi kepala dalam keluarga adalah Kristus. Disisi lain,
perlu juga kita pahami, bahwa “Gereja” berasal dari kata Yunani kyriake oikia, memiliki arti
“Keluarga Allah”. Dengan demikian jelas bahwa dalam keluarga Kristen termasuk komunitas yang
diselamatkan.
Alkitab mencatat beberapa nama perempuan yang perannya dalam keluarga sebagai
Perempuan atau Istri yang begitu bervariasi. Ada yang sesuai dengan kehendak Allah, namun
adapula yang menyimpang.
a) Hawa (Kej.3) – mengambil keputusan tanpa berkonsultasi dengan Adam, suaminya.
b) Sarai (Kej.25) – meragukan dan menertawakan janji TUHAN, bahkan mendahului
waktu TUHAN dengan memberikan Hagar kepada Abraham.
c) Ribka (Kej.25) – pilih kasih terhadap kedua anaknya dan mengajari Yakub untuk
berdusta sehingga mendahului waktu TUHAN.
d) Rahel – Lea (Kej.29-30) – selalu berselisih dan saling cemburu untuk mendapatkan cinta
Yakub.
e) Tamar dan Rahab (Kej.38; Yos.2) – mementingkan keselamatan keluarga dan mau
dipulihkan dari masa lalunya yang buruk, sehingga nama mereka tercantum dalam
silsilah Yesus Kristus.
f) Abigail (1 Sam.25) – melayani hamba-hamba TUHAN (yaitu Daud dan rombongannya),
sekalipun tanpa sepengetahuan Nabar, suaminya yang kikir itu.
g) Izebel (1 Raja 21) – istri Ahab yang hidup dalam penyembahan berhala dan tindakannya
begitu jahat di hadapan TUHAN.
h) Safira (Kis.5) – setuju dengan keputusan suaminya untuk mendustai Roh Kudus,
sehingga akhirnya dibinasakan TUHAN.
i) Priskila (Kis.18) – bekerjasama dengan suaminya mengerjakan pembuatan kemah untuk
menopang pelayanan bagi TUHAN.
Dari beberapa contoh di atas, seorang perempuan sebenarnya memiliki potensi yang luar
biasa, yang jika diarahkan kepada hal yang positif sangat konstruktif. Sebaliknya, jika diarahkan
kepada hal yang negatif menjadi sangat destruktif.
3. Perempuan Dalam Masyarakat
Sebagai makhluk sosial, manusia seharusnya memiliki tanggungjawab di tengah-tengah
masyarakat. Baik laki-laki maupun perempuan, harus memberikan dirinya sendiri kepada
masyarakat untuk memperoleh pemenuhan dirinya dalam jenis pelayan yang mereka butuhkan,
karena dengan berlaku seperti itu, mereka sedang bertindak menurut sifat mereka. Untuk menuju ke
masyarakat luas tersebut, maka hal yang perlu diperhatikan adalah komunitas keluarga, sebab hanya
di dalam komunitas hidup yang langgeng itulah mereka mampu memberikan diri mereka sendiri
secara total dan sempurna sebagai suami-istri.
Dalam budaya Batak, suami adalah kepala keluarga. Dia memerintah rumah, dari penguasa
atas anak-anak dan istri serta atas harta benda. Dia melayani dan dilayani menurut kemauannya, dia
dapat menyebut istri na hutuhor (yang saya beli). Dengan kata lain perempuan ditempatkan pada
posisi domestik yakni hanya berkutat dalam rumahtangga sedangkan laki-laki di sektor publik.
Bila Suami maupun Istri sungguh-sungguh sadar akan kesamaan martabat dan nilai mereka
dalam keluarga, Gereja, dan Masyarakat, maka mereka semua akan menjadi lebih bebas dalam
saling mencintai, sehingga mereka akan lebih menghendaki atas keterlibatan mereka di dalamnya.
Maka dari itu, pasangan Suami-Istri tidak kehilangan identitas dan tidak individualisme dalam
saling memberikan diri dan memenuhkan diri.
Ada beberapa hal yang menjadi tantangan terhadap perempuan jika aktif dimasyarakat yaitu:
Individualisme
Konsumerisme
Materialisme
Perempuan terpanggil untuk mampu mengatasi dimasyarakat bukan sebaliknya terjerumus
di dalamnya. Lebih lanjut masalah diskriminasi masih terjadi.
C. FUNGSI PENOLONG
Fungsi penolong ada dua yaitu intern dan ekstern
a. Fungsi intern yaitu yang berfungsi di dalam diri sendiri terdiri dari
Fungsi sebagai istri
Istri sangat berfungsi bagi suami baik saat dirumah, dalam pelayanan bahkan di
masyarakat.
Fungsi sebagai ibu
Seperti nasehat ibu Raja Lemuel dalam Amsal 31, bahwa seorang istri itu bukan
hanya berperan sebagai penolong suami tetapi juga harus mampu mengelola rumah
tangganya dengan baik, membesarkan anak-anaknya dengan bijaksana dan sesuai
kebenaran, dan juga berperan dalam masyarakat.
Sebagai ibu tidak hanya dibatasi oleh anak kandung sendiri, karena jika belum
dikaruniai keturunan maka sebagai ibu bagi keponakan bahkan ibu dari anak-anak
yang ada disekitar tempat tinggal.
b. Fungsi ekstern yaitu berfungsi untuk orang lain terdiri dari
Fungsi sebagai ibu rohani
Dalam Kitab Titus 2:3-5 dikatakan hendaklah saling menasehati, wanita tua
mendidik wanita-wanita muda, menjadi ibu rohani yang bijaksana baik dalam rumah
maupun dalam pelayanan dan masyarakat harus mampu menjadi ibu rohani.
D. KRITERIA PENOLONG YANG SEPADAN MENURUT ALKITAB
Tentunya suami menjadi kepala dalam keluarga akan sangat senang melihat mahkotanya sesuai
yang diharapkan, setidaknya bukan harus sempurna tetapi belajar untuk menjadi istri yang sesuai
firman Tuhan. Beberapa kriteria penolong yang sepadan dalam makalah ini yaitu M3 (Membantu,
Menghormati, dan Mengasihi).
1. Membantu suami
Hal pertama yang dilakukan oleh seorang istri yang Alkitabiah adalah membantu suami
bukan pembantu. Artinya memaksimalkan karunia-karunia, talenta-talenta, ketrampilan-
ketrampilan, dan pelatihan yang diberikan Tuhan untuk perbaikan keluarga di bawah
kepemimpinan suami dan juga dalam kerjasama (kemitraanmu) dengan suami.
Ketika Allah menciptakan Hawa, Dia membuat sebuah pernyataan yang dalam, “Tidak baik,
kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan
dia” (Kej 2:8). Perempuan itu nggak hanya sekedar suatu tambahan manusia saja, tetapi perempuan
merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari rencana Allah.
Banyak pernikahan yang gagal karena perempuan tidak menolong suaminya, istri malah
menggunakan pernikahan untuk menolong dirinya sendiri. Bukannya menjadi sahabat atau
penolong untuk mendampingi suami, istri malah bekerja melawan peranannya dan tidak kerja sama
dengan rencana Allah untuk keluarganya.
Kalau seorang istri sudah kehilangan pandangan atas peranan tersebut (penolong, mitra dll),
maka bisa dipastikan bahwa keluarga akan terus dipenuhi dengan suasana negatif. Kalau Allah
menginginkan istri menjadi penolong, itu artinya suami membutuhkan pertolongan bukan? Saat
kamu (istri) menemukan kesalahan suami, kamu harus menolongnya menjadi lebih baik bukan
malah membiarkannya atau mendukungnya dalam kesalahan. Membiarkan atau mendukung
kekeliruan yang dilakukan oleh suami sama dengan menginginkan iblis masuk dan memimpin
rumah tangga kalian. Bersikap diam dan masa bodoh adalah kesalahan besar yang sering dilakukan
oleh para istri.
Bantulah suami dalam masalah keuangan
Salah satu cara seorang istri bisa menolong suaminya adalah dalam bidang keuangan.
Wanita yang menolong suaminya ini adalah wanita yang terampil. Dia adalah pengelola keuangan
keluarga secara bijaksana artinya bahwa istri yang menjadi bendahara dalam keluarga. Istri dari
Amsal 31 mempunyai semua kerampilan dan kemampuan dalam dunia ini.
Kalau seorang istri mulai hidup untuk diri sendiri, maka berkat rohani dari Allah tidak akan
turun atas kehidupannya ataupun keluarganya. Kalau seorang wanita mulai menjalani kehidupan
pernikahannya dan hampir tidak pernah memikirkan suami dan rumah tangganya, wanita itu sudah
bergabung dengan iblis untuk menolong menghancurkan pernikahannya.
Bantulah suamimu sebagai orangtua
Amsal 31:15 mengatakan, “Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan
untuk seisi rumahnya, dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya
perempuan.” Kemudian dalam ayat 21 kita membaca, “Ia tidak takut kepada salju untuk seisi
rumahnya, karena seluruh isi rumahnya berpakaian rangkap.”
Mengapa Allah meminta wanita untuk mendahulukan rumah tangganya? Karena pekerjaan
di rumah adalah untuk membesarkan generasi berikutnya bagi Tuhan. Seorang isteri Kristen
membantu suaminya dengan menjadi pengelola di rumahnya dengan cara mendidik anak-anaknya
mengasihi Tuhan dan mendidik mereka dalam kebenaran.
Bantulah suami dalam pelayanan
Ini adalah tentang seorang isteri yang melayani di samping suaminya dalam pelayanan
mereka bagi Tuhan. Seperti yang dikatakan Amsal 31:20,26, “Ia memberikan tangannya kepada
yang tertindas, mengulurkan tanganya kepada yang miskin ……. Ia membuka mulutnya dengan
hikmat, pengajaran yang lemah-lembut ada di lidahnya."
Wanita ini melayani orang-orang yang tertindas dan membimbing orang-orang yang
membutuhkan hikmat Allah. Tidak ada yang bisa menarik pasangan untuk menjadi lebih dekat
selain dari pada melayani Tuhan bersama-sama. Isteri yang digambarkan di sini tidak punya waktu
untuk bermalas-malasan dan bergosip. Dia tidak punya waktu untuk menonton sinetron setiap hari.
Dia sudah terlalu sibuk melayani Tuhan bersama suami.
Pelayanan seorang Istri bagi Tuhan adalah menjadi partner pelayanan suami dalam gereja
lokal. Tuhan sangat tidak terkesan dengan kerohanian yang dijalankan secara sendiri, namun yang
dimaksudkan untuk dilakukan bersama-sama. Kecuali pasangan kamu menolak tegas untuk dibantu.
Jika sudah demikian maka Tuhan yang akan mengurus pasangan kamu yang tidak mau hidup dalam
rencana-Nya.
2. Menghormati Suami
Efesus 5:33, Paulus menuliskan “Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku:
kasihanilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.”Ayat
tersebut menjelaskan tentang doktrin ketertundukan. Sikap tunduk adalah sebuah konsep Alkitabiah
tentang merendahkan hati . Seperti Yesus merendahkan diri tunduk kepada Bapa (Fil 2:6).
Sebagai istri, kita diminta untuk tunduk dan menghormati suami. Bukan berarti kita
kehilangan kesetaraan kita dengan suami dan kita menjadi rendah diri, namun hal ini adalah cara
Allah supaya suami mengenali posisi dirinya sebagai kepala rumah tangga untuk menjalankan
rencana Allah di dunia ini.
3. Mengasihi Suami
“Dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-
anaknya,” (Titus 2:4). Ayat ini sangat jelas berbicara mengenai kasih yang tulus antara istri ke
suami, kasih yang nggak memandang layak atau nggak nya seorang suami, kasih yang nyata, kasih
yang terlihat dengan cara kita memperlakukan suami, kasih yang keluar dari hati yang penuh
dengan cinta. Sebagai istri, berdoalah setiap hari untuknya. Doakan pekerjaanya, atasannya,
usahanya, kehidupan rohaninya, dan juga pelayanannya. Demikian istri mengasihi suami dengan
baik.
BAB III KESIMPULAN
Rumah tangga Kristen yang gagal akibat dari masalah yang tidak terselesaikan. Konflik
dalam rumah tangga pada dasarnya adalah sehat, namun jika konflik tidak dapat diatasi atau
diselesaikan dengan baik maka konflik justru menimbulkan frustasi. Sebagai seorang perempuan
atau istri harus menyadari perannya sebagai penolong yang sepadan yaitu melakukan peran yang
menghormati kepemimpinan suaminya untuk mencapai maksud dan rencana Allah didalam rumah
tangga. Jika istri menentang tugas ini, itu artinya dia juga menentang Allah. Sebab Suami dipakai
Allah untuk melindungi istri secara fisik, psikologis, dan rohani.
Jika sebagai istri yang sesuai Firman Tuhan, mustahil suami tidak merasa senang melihat
istrinya yang cakap dan bijaksana. Jauhkan perasaan egois atau merasa paling hebat, paling benar,
paling bias melakukan seorang diri. Kata “paling” ini mengajak atau menolong iblis masuk dalam
nikah rumah tangga. Setidaknya jika ada masalah berusaha untuk sadar akan kekurangan masing-
masing. Sebagai perempuan kita harus menyadari bahwa Tuhan menciptakan kita sebagai penolong
yang sepadan artinya partner suami kemanapun suami kita melangkah jika kita dibutuhkan bahkan
tidak dibutuhkan sekalipun. Marilah berusaha menjadi istri yang sesuai dengan kehendak Tuhan
sebab kepada keluarga kitalah berkat itu akan dicurahkan.