Gelapku karena dia Dewi Sri
Dewi Sri Editor : Dewi Sri Cover Design : Dewi Sri Gelapku karena dia SMPN 3 BATAM
Di sebuah rumah yang terlihat sederhana, hidup keluarga kecil yang tampak begitu bahagia. Di dalam rumah itu hidup seorang gadis kecil dengan kedua orang tuanya. Gadis berambut hitam legam, pipi tembam dengan kulit putih bersih dan mata cokelat tua itu bernama Dara Aninda. Nama yang indah untuk gadis polos yang sangat cantik itu. Dara bak putri raja yang selalu dimanjakan oleh kedua orang tuanya, karena dia anak perempuan satu satunya yang paling ditunggu - tunggu. Hingga ia beranjak remaja dia masih dimanjakan oleh kedua orang tuanya.
Banyak mata melihat dan merasa bahwa hidup menjadi Dara sangat menyenangkan, namun tidak untuk dirinya sendiri. Rumah yang orang lihat nyaman, tidak pernah nyaman untuk gadis kecil yang baru berusia 3 tahun. Hingga umur Dara yang saat ini 15 tahun, rumah itu masih sama tak nyamannya. Sebelum lahirnya Dara, mamanya sangat percaya bahwa suaminya adalah laki laki yang tulus, karena terlihat papa Dara adalah sosok yang sangat mencintai istrinya. Namun kebohongan besar terbongkar ketika mama Dara mengandung anaknya di usia 5 bulan. Sebuah kejutan besar di dapat oleh mamanya dengan penuh rasa kecewa.
Siapa yang akan menyangka, laki laki yang terlihat sangat mencintai istrinya itu telah menikah sebelum menikahi dirinya. Berat, sangat berat kalau harus berpisah saat sedang hamil tua. Akhirnya mempertahankan hubungan yang penuh dengan kekecewaan hanya demi gadis kecil tak berdosa inilah jawabannya. Pada akhirnya gadis itu menanggung semua rasa sakitnya. Kini gadis mungil itu berusia 3 tahun, anak sekecil dia selalu mengusahakan agar pandai menulis dan membaca sendirian, karena ayahnya selalu tak ada waktu untuk gadis kecil itu dan ibunya yang tak bersekolah membuatnya tak bisa membaca dan menulis.
“Mama, mau sekolah.” Rengekan Dara adalah santapan ibunya sehari - hari. Tak heran Dara adalah gadis yang gemar belajar. Anak - anak seusianya kebanyakan hanya berpikir untuk bermain. Namun, berbeda dengan Dara. Seminggu setelahnya, Dara benar benar masuk ke TK di dekat rumahnya. Senang, sangat amat bahagia dirasakan Dara. “Yey, sekolah !” Dara mencium pipi ibunya dengan bibir indahnya yang mungil. Hari, minggu, bulan dan tahun berlalu. Dara tumbuh menjadi gadis yang pintar, selalu menjadi juara di kelasnya. Semuanya ia lakukan untuk kedua orang tuanya.
“Selamat sayang, sekarang udah naik kelas 3, harus lebih rajin belajarnya.” Dara tersenyum senang karena di semester ini dia mendapat juara 1 setelah selalu menetap menjadi juara 2. namun sepertinya keberuntungan belum berpihak pada Dara. Hari hari berikutnya tak akan sebahagia hari ini. Dara dan ibunya sedang berbaring di atas satu kasur yang sama, bermain ponsel dan tertawa. Tanpa suara ayah Dara merebut ponsel ibu Dara dan membantingnya ke lantai. Ponsel itu hancur seperti hati Dara saat ini. Dia diam dan menangis karena lagi dan lagi orang tuanya bertengkar di hadapan gadis kecil tak berdosa ini.
Anak lugu itu tidak tau apa masalah yang terjadi. Yang dia tau hingga detik ini hanya orang tuanya tak pernah saling mencintai. Setiap hari ada saja suara besar dan pecahan kaca yang dia dengar dari dalam kamar. Muak, Dara terlalu muak untuk menangis dan berteriak. “Semuanya sama aja, ga akan ada yang berubah.” Setelahnya Dara tertawa dengan suara paraunya. Pagi harinya Dara datang ke sekolah seperti biasa, seolah tak pernah terjadi apapun yang membuatnya tidak bisa tidur. Gadis kecil berusia 9 tahun sudah mendengar banyak permasalahan yang dia sendiri tidak paham.
Tahun berlalu hingga kini Dara sudah menginjak kelas 5 SD. Dara bukan lagi gadis kecil sekarang dia sudah menjadi seorang remaja yang tingkat penasarannya sangat tinggi. Dara kini bukan lagi anak yang rajin belajar. Dia tidak punya banyak tenaga untuk sekedar memegang buku di rumah, mendengar perkelahian kedua orang tuanya membuat energinya habis. Dara selalu berusaha kuat di depan kebanyakan orang walaupun dia akan menangis sendirian meratapi betapa sedih hidupnya. Mendekati ujian akhir semester, Dara kembali di hantam kenyataan yang sangat pahit. Perceraian kedua orang tuanya.
Dara tak heran, namun anak mana yang tidak bersedih ? Perceraian itu di akibatkan perempuan asing yang tak pernah Dara kenal. Dia merebut cinta pertama Dara. Dara seringkali menyebut perempuan itu dengan sebutan perempuan gila. Dia tak akan sudi memanggil ular itu dengan panggilan ibu. Dara membenci ayahnya, Dara membenci perempun itu, tapi dia lebih membenci dirinya sendiri. “Kalau hidup itu berat, kenapa anak kecil harus ngerasain beratnya hidup ?” Hidup nya tak seindah ‘katanya’.
Semakin lama Dara berusaha ikhlas, Dara malah semakin membenci dirinya. Dia menyesali kelahirannya. Kata orang kelahirannya sangat di tunggu oleh ayahnya, namun kenapa setelah dia lahir ia seperti anak yang tak pernah di harapkan. “Nak, kamu harus kuat kaya mama ya. Jangan sedihin papa, ikhlasin.” Sampai detik ini Dara tak tau kenapa ibunya begitu kuat melepaskan semua kehidupannya. “Iya ma, Dara usahain.” Percakapan itu usai setelah Dara menutup matanya, bukan untuk tidur tapi menahan agar air matanya lagi lagi tak keluar.
Setahun setelah perceraian orang tuanya, Dara semakin ikhlas, namun perasaan benci tak mudah hilang begitu saja. Ibunya pun sudah menikah lagi dengan seseorang yang tak Dara kenal. Dara tak suka dengan laki laki itu, namun ini demi kebahagiaan ibunya. Dunia sempat berputar, meletakkan Dara di tempat paling tinggi dan membuatnya sangat bahagia. Namun dunianya berputar, meletakkan Dara diposisi paling bawah dan memberikan banyak beban hingga akhirnya Dara kembali berputar ke atas dengan rasa bahagia. Namun sepertinya Dara salah bahwa dia telah sepenuhnya bahagia.
Lemparan pisau hampir mengenai perempuan kesayangannya. Untung saja pisau itu meleset dan menusuk televisi di sebelahnya. “Kok TV nya rusak ?” Dara dengan perasaan polosnya bertanya pada ibunya. Diam, tanpa sepatah katapun hanya itu yang Dara dapat. Dara paham itu adalah ulah ayah tirinya. Mereka sama saja, dua laki laki itu brengsek. Dara tak pernah lupa bahwa dia hanya mengikuti kemauan ibunya untuk kebahagian ibunya. “Ma, Dara capek.”
Namun apakah semua rasa lelah itu membuat Dara menyerah ? tidak. Dara mengusahakan kebahagian ibunya, bukan dirinya. Meskipun banyak goresan di tangan, rambut yang rontok dan dada yang sesak tak membuat Dara mati dalam keadaan frustasinya. Dara yang kini berusia 11 tahun hanya bisa tertawa di depan banyak orang dan tak membiarkan satupun orang tau bahwa dia terluka. Semakin lama menutupi ternyata Dara tak sekuat itu. Banyak pikiran untuk dia mengakhiri hidup, Dara hanya berpikir bahwa mati adalah solusi. Tak pernah terjadi, namun pernah mencoba.
Bertahun tahun Dara hidup bersama laki laki brengsek dan ibunya dia hanya merasakan sengsara. Ibunya terluka, Dara pun merasa muak. Ketika suatu hari kedua orang tuanya bertengkar hebat, laki laki itu mencekik dan mendorong ibunya. Dara menarik tangan kekar lelaki itu dan mendorong nya. Laki laki itu tak berkutik, dia diam. “Dara, masuk kamar nak.” Dara menuruti ibunya sambil menatap tajam laki laki itu. Dara berjalan sambil melempar barang yang ada di meja. “SEMUANYA SAMA SAMA BRENGSEK !” Suara bantingan pintu dan teriakan frustasi terdengar dari kamar Dara.
Tahun ini Dara berusia 15 tahun, dia hanya berharap hidupnya akan lebih membaik. Dara menemukan seorang laki laki yang bisa menjadi teman, tempat Dara bercerita dan tempat Dara kembali ketika dia sangat membutuhkan sandaran. Dara tak pernah nyaman di rumah, rumah itu bukan rumah yang seperti kata orang nyaman. Rumah itu seperti neraka. Dara tidak pernah menyerah, hanya ibunya dan laki laki itulah yang membuat Dara bangkit. “Aku bertahan bukan untuk aku, tapi untuk mama dan kamu.” Goresan tangan itu perlahan hilang, namun luka di hatinya tak pernah memudar.
Dara mulai merasakan ikhlas atas segala pahit masa kecilnya. Sekarang hanya menunggu apakah semua nya akan membaik atau tidak. Hingga saat ini Dara tetap hidup menjadi remaja yang tangguh, Dara mulai rajin belajar kembali dan memulai semuanya dari awal. Tujuan hidupnya untuk ibunya, bukan dirinya. Dara usahakan menjadi seorang dokter kelak. Dara tak menyerah dan tujuannya untuk mati hanya dia simpan baik baik di pikirannya. Hidup dengan banyaknya masalah dari dia kecil bukanlah hambatan untuknya tetap bahagia. Dia bahagia, ketika dia sudah mengikhlaskan segalanya.
Tak selamanya dimanjakan ketika kecil akan tumbuh menjadi sosok yang angkuh. Dara belajar dari kehidupannya sendiri. Dara berdamai dengan masalalunya, Dara belajar menerima takdirnya, Dara mengikhlaskan cinta pertamanya, Dara mencoba kuat seperti ibunya. Dia tidak lemah hanya saja hatinya sangatlah rapuh. Dirinya mudah terluka, sudah banyak goresan luka di hatinya, namun akhirnya Dara menemukan obat penyembuhnya. Dia, Narya. Hidup tak akan selalu di atas dan tak selalu di bawah. Hidup itu berputar dan berubah.
Tentang kehidupan seorang anak perempuan yang rasanya tak pernah merasakan bahagianya. Semua Bahagianya terasa di renggut selama bertahun tahun. Selama 15 tahun itu Dara terluka, banyak goresan di tangannya, banyak pula goresan di hatinya. Semua orang mengira hidupnya sempurna, namun hidupnya hanya dia yang tau. Tak seperti katanya, hidupnya tak sebahagia yang terlihat. Hidup hanya demi kebahagiaan ibunya bukan demi dirinya. Berusaha mati matian agar tetap hidup waras walaupun seperti akan gila.