The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by permadhi, 2020-02-14 18:52:26

PUSKUR - Gempa

PUSKUR - Gempa

Keywords: puskur,gempa

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMA/SMK/MA/MAK

Letak episentrum gempa bumi dapat ditentukan dengan tiga cara yaitu:
(1) metode homeoseista, yaitu dengan menggunakan tiga tempat yang
terletak pada suatu homeoseista. Homeoseista adalah gari pada peta yang
menghubungkan tempat-tempat yang mengalami/mencatat gelombang
primer pada waktu yang sama; (2) metode episentral, yaitu dengan
menggunakan rumus laksa; (3) jika diketahui tiga stasiun, dapat ditentukan
dimana letak pusat gempa itu.
Kekuatan gempa antara satu tepat dengan tempat lainnya berbeda-beda.
Kekuatan gempa itu dapat diklasifikasikan dengan menggunakan skala.
Ada beberapa skala yang biasa digunakan, antara lain:
 Skala mercalli, disusun berdasarkan derajat kerusakan akibat gempa,

dengan skala I-XII
 Skala omori, disusun berdasarkan derajat kerusakan akibat gempa,

dengan skala I-VII
 Skala derossiferol, disusun berdasarkan derajat kerusakan akibat gempa,

dengan skala I-X
 Skala cancani, disusun berdasarkan derajat kerusakan akibat gempa,

dengan skala I-XII
 Skala richter, disusun berdasarkan skala magnitudonya (ukuran

besarnya gempa), dengan skala 0-8.

Karena perambatan gelombang gempa merupakan gelombang seismik
maka alat untuk merekamnya disebut seismograf dan hasil rekaman disebut
seismogram. Dari rekaman tersebut maka dapat disimpulkan penyebab
terjadinya, lokasi asalnya, kekuatannya, jenisnya serta sifat-sifatnya. Bahkan
dari gelombang gempa tersebut dapat diketahui struktur bagian bumi.
Gelombang seismik sendiri adalah gelombang mekanis yang muncul akibat
adanya gempa bumi. Adapun pengertian gelombang secara umum adalah
femomena perambatan gangguan (usikan) dalam medium sekitarnya.
Gangguan ini mula-mula terjadi secara lokal yang menyebabkan terjadinya
osilasi (pergeseran) kedudukan partikel-partikel medium, osilasi tekanan
ataupun osilasi rapat.
Gempa bumi dapat dirasakan oleh tubuh manusia namun manusia tidak
dapat mengukur kekuatan gempa. Kekuatan gempa dapat diukur dengan
alat tertentu yang disebut dengan seismograf. Seismograf mencatat lama
dan intensitas gelombang gempa. Seismograf modern dapat menangkap
gelombang gempa dari berbagai arah (vertikal dan horizontal). Bentuk
visualsasi hasil perekaman seismograf terhadap gempa yang terjadi disebut
seismogram.

33

Pengurangan Risiko Gempa Bumi

Gambar 3.10. Seismograf Horizontal Gambar 3.11. Seismograf Vertikal

Gambar 3. 12. Seismogram

3.2.2. Tindakan Saat Terjadi Gempa Bumi
Saat terjadinya gempa, biasanya kita dalam kondisi panik dan terpana,
serta kaget dengan kejadian yang baru saja menimpa kita. Hal ini biasanya
menjadikan kita tidak bisa berbuat apa-apa. Namun untuk meminimalisir
adanya korban, maka kita melakukan tanggap darurat. Tanggap darurat
adalah upaya yang dilakukan segera pada saat kejadian bencana, untuk
menanggulangi dampak yang ditimbulkan, terutama berupa penyelamatan
korban dan harta benda, evakuasi, dan pengungsian.
Adapun tindakan penyelamatan diri saat terjadi gempa adalah :

Bila berada di ruangan, maka:
 Lindungi kepala dan badan dari reruntuhan bangunan dengan tas, papan,

atau bantal atau bersembunyi di bawah meja, dll.
 Jangan menggunakan lift atau tangga berjalan
 Hindari benda-benda yang mudah jatuh, misalnya lemari, lampu gantung,

kaca ruangan, genting/atap rumah, dll.
 Menunduk di bawah meja atau di sudut ruangan
 Berdiri menempel pada dinding bagian dalam berdiri dibawah kusen

pintu
 Berdiri menempel pada dinding bagian dalam
 Berlari keluar apabila masih bisa dilakukan

Di luar bangunan
 Hindari objek yang mudah roboh, seperti papan reklame, tiang listrik,

jembatan, gedung, sehingga lebih baik berkumpul di lapangan terbuka,
jongkok dan lindungi kepala di lapangan terbuka.

34

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMA/SMK/MA/MAK

 Perhatiakn tempat anda berpijak hindari jika terjdai rekahan tanah
 Hindari daerah yang mungkin terjadi longsoran
 Jika tampak tanda tsunami segera lari menuju ketempat yang lebih tinggi,

ikuti jalur evakuasi.

Di dalam kendaraan
 Jauhi persimpangan, jembatan dan bangunan lainnya
 Hentikan mobil, keluar, turun, dan menjauhi dari mobil, hindari jika terjadi

pergeseran atau kebakaran

Jika getaran gempa telah berhenti
 Jangan masuk kedalam bangunan jika kondisinya terdapat kerusakan,

gempa susulan walaupun berkekuatan kecil dapat merobohkan bangunan
yang kondisisnya sudah parah.
 Periksa lingkungan sekitar anda dari kebocoran pipa gas, kebakaran, terjadi
arus pendek listrik, dll.
 Perkecil segala hal yang dapat membahayakan (mematikan listik, tidak
menyalakan api, dll)
 Mendengarkan informasi mealui radio atau media komunikasi lainnya
untuk informasi gempa susulan, dll.
Adapun hal-hal yang sebaiknya dilakukan saat gempa bumi terjadi adalah:
 Bila anda berada di dalam bangunan, dan bila ada kesempatan, segera
keluar menuju tempat terbuka, hati-hati terhadap pecahan kaca atau benda
yang jatuh. Jika tidak, jongkok atau tiarap di lantai. Gunakan bangku, meja,
atau perlengkapan rumah tangga yang kuat sebagai perlindungan
 Menjauhlah dari jendela kaca, perapian, kompor, atau peralatan rumah
tangga yang mungkin akan jatuh
 Jika malam hari dan anda di tempat tidur, cari tempat yang aman di bawah
tempat tidur atau meja yang kuat. Lampu senter sebaiknya selalu tersedia
di dekat tempat tidur.
 Jika anda di luar, cari tempat terbuka, jauh dari bangunan, pohon tinggi,
dan jaringan listrik. Hindari rekahan akibat gempa yang dapat sangat
berbahaya.
 Jika anda mengemudi, berhentilah jika aman, tapi tetap dalam mobil.
Menjauhlah dari jembatan, jembatan layang, atau terowongan.
 Jika anda di pegunungan, dekat dengan lereng atau jurang yang rapuh,
waspadalah dengan batu atau tanah longsor yang runtuh akibat gempa.
 Jika anda di pantai, segeralah berpindah ke daerah yang agak tinggi atau
beberapa ratus meter dari pantai. Gempa bumi dapat menyebabkan
tsunami.
Adapun hal-hal yang harus dilakukan saat anda dan keluarga terlepas dari
bahaya akibat gempa awal :
 Periksa adanya luka. Setelah menolong diri sendiri, bantu menolong

35

Pengurangan Risiko Gempa Bumi

mereka yang terluka atau terjebak.
 Periksa keamanan. Periksa hal-hal berikut setelah gempa: api atau bahaya

kebakaran, kebocoran gas, kerusakan saluran listrik dlsb.
 Lindungi diri anda dari bahaya tidak langsung.
 Bantu tetangga yang memerlukan bantuan. Orang tua dan orang cacat

mungkin perlu bantuan tambahan.
 Pembersihan. Singkirkan barang-barang yang mungkin berbahaya,

termasuk obat-obatan yang tumpah.
 Waspada dengan gempa susulan.
 Tetaplah berada jauh dari bangunan. Biarkan jalan bebas rintangan untuk

mobil darurat

3.2.3. Tindakan Sesudah Terjadinya Gempa
Setelah terjadi bencana, harus dilakukan upaya-upaya untuk menormalkan
kembali kehidupan yang mengalami kerusakan. Adapun hal-hal yang harus
dilakukan setelah terjadinya bencana gempa bumi ini, antara lain adalah:
a. Rehabilitasi
Merupakan upaya langkah yang dilakukan setelah kejadian bencana untuk
membantu masyarakat memperbaiki rumahnya, fasilitas umum, fasilitas sosial
penting, dan menghidupkan kembali roda perekonomian. Rehabilitasi ini
dilakukan melalui pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat
di wilayah bencana dengan sasaran utama normalisasi atau berjalannya secara
wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan social ekonomi masyarakat
pada wilayah bencana. Misalnya,
pembersihan jalan yang terisolasi atau
tertutup lumpur banjir dan reruntuhan,
pembersihan kantor, sekolahan, dan
lain-lain.

Gambar 4.1 Rehabilitasi Korban Gempa Bumi

b. Rekonstruksi
Merupakan program jangka menengah
dan jangka panjang guna perbaikan
fisik, sosial, dan ekonomi untuk
mengembalikan masyarakat pada kondisi yang sama atau lebih baik dari
sebelumnya.
Pembangunan kembali ini dilakukan pada semua aspek, baik sarana dan prasarana,
kelembagaan pada wilayah bencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun
masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan
perekonomian, sosial, udaya, tegaknya hukum dan ketertiban dan bangkitnya
peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada
wilayah bencana.

36

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMA/SMK/MA/MAK

Kegiatan rekonstruksi yang
efektif dan efisien memerlukan
lima hal;

 adanya pengakuan
pemerintah terhadap
kerugian proses
pembangunan nasional
yang diakibatkan oleh
bencana,

 adanya penanggung jawab, Gambar 4.2 Rekonstruksi
alokasi dana, dan koordinasi
instansi terkait dalam
melaksanakan berbagai
kegitan rekonstruksi yang
diperlukan,

 pembangunan saran dan prasarana yang lebih aman sehingga ketahanan
terhadap bencana dimasa depan lebih meningkat,

 penerapan rancangan bangunan yang tepat dan pembangunan
infrastruktur yang lebih baik dan tahan terhadap bencana, serta

 pembangunan sarana dan prasaran peredam bencana dimasa
mendatang.

c. Pemulihan
Pemulihan adalah proses pengembalian kondisi masyarakat yang terkena
bencana, dengan memfungsikan kembali sarana dan prasaran pada keadaan
semula dengan melakukan upaya memperbaiki prasaran dan pelayanan dasar
(jalan, listrik, air bersih, pasar, puskesmas, dan lain-lain).

d. Bantuan darurat
Bantuan darurat merupakan upaya untuk memerikan bantuan berkaitan
dengn pemenuhan kebutuhan dasar berupa pangan, sandang, tempat tinggal
sementara, perlindungan, kesehatan, sanitasi, dan air bersih.

e. Tindakan penyelamatan diri

Tindakan untuk penyelamatan diri setelah terjadi gempa bumi adalah:
1. Keluar dengan tertib dan hati-hati menuju lokasi yang aman.
2. Hindari benda-benda yang berbahaya (runtuhan, pecahan, saluran listrik,

gas, dan lain-lain.
3. Periksa jika ada yang terluka (P3K)
4. Periksa lingkungan sekitar, waspada terhadap bahaya kebakaran, dan

retakan tanah.
5. Dengarkan instruksi dari instansi terkait (via radio)
6. Waspadalah terhadap: Gempa susulan, Isu-isu yang menyesatkan, dan

Lingkungan sekitar yang berpotensi menimbulkan bahaya.

37

Pengurangan Risiko Gempa Bumi

f. Perlakuan khusus untuk anak-anak
Usahakan agar keluarga tetap berkumpul,
tenangkan anak-anak, biarkan anak-
anak bercerita tentang pengalaman dan
perasaan mereka selam gempa, serta
libatkan anak-anak dalam kegiatan pasca
gempa.

Goncangan gempa yang sangat dahsyat
dapat mengakibatkan gangguan kece­
masan pascatrauma (PTSD) yang merujuk
pada gangguan psikologis dan luka
emosional yang dialami oleh individu
yang mengalami suatu peristiwa tragis
dan luar biasa (Schiraldi, 2000). Gangguan
kecemasan pascatrauma bagi anak yang
mengalami bencana gempa bumi dapat
Gambar 4.3 Perlakuan khusus dikategorikan sebagai suatu gangguan

kecemasan dengan indikator dan ciri-ciri diagnostik tertentu yang berbeda
dengan kecemasan biasa.

Gangguan kecemasan pascatrauma pada anak-anak jika tidak dikelola dengan
baik akan menimbulkan gangguan:
1. Aspek fisik antara lain: suhu badan meninggi, menggigil, badan terasa

lesu, mual-mual, pening, ketidakmampuan menyelesaikan masalah, sesak
napas, panik. Aspek emosi, antara lain: hilangnya gairah hidup, ketakutan,
dikendalikan emosi, dan merasa rendah diri.
2. Aspek mental antara lain: kebingungan, tidak dapat berkonsentrasi, tidak
mampu mengingat dengan baik, tidak dapat menyelesaikan masalah.
3. Aspek perilaku antara lain: sulit tidur, kehilangan selera makan, makan
berlebihan, banyak merokok, minum alkohol, menghindar, sering menangis,
tidak mampu berbicara, tidak bergerak, gelisah, terlalu banyak gerak,
mudah marah, ingin bunuh diri, menggerakkan anggota tubuh secara
berulang-ulang, rasa malu berlebihan, mengurung diri, menyalahkan
orang lain.
4. Aspek spiritual antara lain: putus asa, hilang harapan, menyalahkan Tuhan,
berhenti ibadah, tidak berdaya, meragukan keyakinan, dan tidak tulus, dll.

38

Materi Pembelajaran Pengurangan BAB IV
Risiko Gempa Bumi

4.1. Identifikasi Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko
Gempa Bumi

Muatan Pendidikan PRB untuk siswa SMA/SMK/MA/MAK disusun dengan
mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
a. Kepentingan dan kemampuan peserta didik dan lingkungannya
Muatan pendidikan PRB dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta
didik memiliki peluang atau kesempatan untuk selamat dan membantu orang
lain agar selamat ketika gempa bumi terjadi. Untuk mendukung pencapaian
tujuan tersebut perlu peningkatan kompetensi/kapasitas peserta didik
disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan
peserta didik serta tuntutan lingkungan, termasuk kearifan lokal yang dimiliki
masyarakat dalam lingkungan tersebut. Kegiatan pembelajaran PRB berpusat
pada peserta didik.
b. Keragaman risiko bahaya dan karakteristik daerah dan lingkungan
Setiap daerah memiliki risiko, kebutuhan, tantangan, dan keragaman
karakteristik lingkungan. Masing-masing daerah memerlukan pendidikan PRB
sesuai dengan karakteristik daerah dan pengalaman hidup sehari-hari. Oleh
karena itu, kurikulum harus mengakomodir keragaman tersebut yang relevan
dengan kebutuhan pendidikan PRB.
c. Kondisi sosial budaya masyarakat setempat
Pengembangan muatan pendidikan PRB dilakukan dengan memperhatikan
karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian
keragaman budaya. Penghayatan dan apresiasi pada budaya setempat
diperlukan, termasuk kearipan lokal yang ada.
d. Peningkatan kesadaran akan adanya risiko bencana akibat gempa
Muatan pendidikan PRB dimaksudkan untuk menumbuhkembangkan
kesadaran siswa akan adanya risiko bahaya gempa. Untuk itu diperlukan
pengetahuan dan pemahaman terjadinya gempa bumi, zona gempa bumi,
hal-hal yang terjadi ketika dan setelah gempa bumi.

Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Gempa Bumi

e. Peningkatan kompetensi/kapasitas diri agar dapat mengurangi
bahaya bencana yang diakibatkan gempa bumi

Pendidikan PRB dilakukan secara sistematik dan terpadu dengan pendidikan
mata pelajaran lain, untuk meningkatkan kompetensi siswa secara holistik yang
memungkinkan potensi diri (afektif, kognitif, psikomotor) berkembang secara
optimal, agar selamat ketika gempa terjadi. Sejalan dengan itu, kurikulum disusun
dengan memperhatikan potensi, tingkat perkembangan, minat, kecerdasan
intelektual, emosional, sosial, spritual, dan kinestetik peserta didik.

f. Menyeluruh dan berkesinambungan
Substansi muatan pendidikan PRB mencakup keseluruhan dimensi kompetensi
yang diperlukan, dimensi kognitif, psikomotor dan afektif.

g. Belajar sepanjang hayat
Pengembangan muatan pendidikan PRB diarahkan kepada proses
pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan peserta didik yang
berlangsung sepanjang hayat.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, dirumuskan kompetensi yang nantinya
dirumuskan ke dalam indikator, yang harus dikuasai siswa SMA/MAadalah :
a. Memahami peristiwa gempa bumi dan dampaknya.
b. Memahami risiko, bahaya, kerentanan dan kapasitas dirinya.
c. Siap siaga terhadap ancaman gempa bumi (rencana darurat).
d. Mengidentifikasi ancaman, kerentanan dan kapasitas di lingkungan gempa

bumi.
e. Memahami jenis ketahanan gedung dan fasilitas sekolah terhadap ancaman

bencana.
f. Memahami upaya tanggap darurat sebelum, disaat, setelah gempa bumi

terjadi.
g. Memahami kondisi psikologi anak sebelum, sesaat dan setelah terjadi

bencana.

Menimbang karakteristik pengorganisasian pembelajaran di SMA/SMK yang
bersifat blok bukan bersifat spiral, maka pengintegrasian pendidikan PRB ada
baiknya dilakukan secara terpadu dan menyeluruh kepada salah satu cara berikut:
1) Pengintegrasian kepada salah satu mata pelajaran pokok dan hal-hal yang
bersifat praktis yang tidak berkaitan dengan SK dan KD mata pelajaran pokok
dapat diintegrasikan pada kegiatan ekstra kurikuler, misalnya hal yang berkaitan
dengan mengevakuasi korban bencana gempa di integrasikan dalam kegiatan
Pramuka, hal yang berkaitan dengan pertolongan pertama pada kecelakaan
pada saat gempa bumi diintegrasikan dalam kegiatan Palang Merah Remaja. 2)
Pengintegrasian menjadi muatan lokal, atau 3) pengintegrasian kepada/ menjadi
kegiatan ekstra kurikuler. Agar perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi mudah
dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan, tidak disarankan untuk
meng-integrasikan secara terpisah sepotong-sepotong menyebar kepada SK dan
KD dari banyak mata pelajaran.

Selanjutnya adalah, bila muatan pendidikan PRB dintegrasikan dengan
suatu mata pelajaran atau muatan lokal, diperlukan merumuskan Standar
Kompetensi dan Kompetensi Dasar muatan Pendidikan PRB. Membuat
40

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMA/SMK/MA/MAK

perencanaan pembelajaran dan evaluasi muatan Pendidikan PRB atas dasar
SK dan KD muatan Pendidikan PRB kedalam silabus dan RPP. Bila muatan
Pendidikan PRB diintegrasikan dengan Program Pembiasaan, maka selanjutnya
adalah menyusun program pelaksanaan muatan Pendidikan PRB tersebut.
Adapun materi pembelajaran pengurangan risiko gempa bumi untuk setiap
jenjang kelas adalah sebagai berikut:

Tabel 4.1: Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Gempa Bumi

."5&3* 1&.#&-"+"3"/ ,&-"4
t 4FCFMVN #FODBOB t ,FMBT 9 4FNFTUFS
Gempa bumi tektonik t ,FMBT 9* 4FNFTUFS
Gempa bumi vulkanik
Ukuran kekuatan gempa
Kapasitas/ kerentanan
Hubungan bencana dengan kekuatan
gempa dan kapasitas/ kerentanan
Tindakan-tindakan antisipatif

t 4BBU #FODBOB t ,FMBT 9 4FNFTUFS
Tindakan-tindakan yang perlu dilakukan t ,FMBT 9* 4FNFTUFS
ketika gempa terjadi

t 4FTVEBI #FODBOB t ,FMBT 9 4FNFTUFS
Tindakan-tindakan yang perlu dilakukan t ,FMBT 9* 4FNFTUFS
sesaat setelah gempa terjadi

4.2. Pemetaan Indikator Siswa

Tabel 4.2: Indikator Prilaku Siswa untuk Pembelajaran Pengurangan Risiko Gempa Bumi

MATERI */%*,"503 13*-",6 4*48"
1&.#&-"+"3"/

t 4FCFMVN #FODBOB t .FNBIBNJ CBIXB UFSKBEJOZB HFNQB CVNJ UJEBL EBQBU EJIJOEBSJ
(FNQB CVNJ t .FNBIBNJ CBIXB SJTJLP CFODBOB ZBOH EJTFCBCLBO PMFI HFNQB
UFLUPOJL CVNJ CVLBO TVBUV UBLEJS UFUBQJ EBQBU EJSFEVLTJ NFMBMVJ VTBIB
VTBIB ZBOH EJMBLVLBO TFDBSB TBEBS EBO UFSFODBOB
(FNQB CVNJ t .FOHFUBIVJ UFNQBU UFNQBU ZBOH CFSCBIBZB LFUJLB HFNQB
vulkanik terjadi
t .FOHFUBIVJ UFNQBU UFNQBU ZBOH BNBO LFUJLB HFNQB UFSKBEJ
Ukuran kekuatan t .FOHFUBIVJ CFOEB CFOEB ZBOH CFSHVOB VOUVL NFMJOEVOHJ EJSJ
gempa ketika gempa terjadi
t .FOHFUBIVJ MJOHLVOHBO BMBN ZBOH SFOUBO LFUJLB HFNQB CVNJ
Kapasitas/ terjadi
kerentanan t .FOHFUBIVJ JOGSBTUSVLUVS ZBOH SFOUBO LFUJLB HFNQB CVNJ
terjadi
)VCVOHBO t %BQBU NFNCFEBLBO LFLVBUBO HFNQB NFMBMVJ UBOEB UBOEB
CFODBOB EFOHBO yang terjadi
kekuatan gempa t .FOHVBTBJ QFUB MJOHLVOHBO TFLPMBIOZB 41

dan kapasitas/ t .FOHVBTBJ QFUB MJOHLVOHBO UFNQBU UJOHHBMOZB
kerentanan t .FNBIBNJ LFKBEJBO LFKBEJBO TVTVMBO TFUFMBI UFSKBEJ HFNQB
CVNJ

UFLUPOJL CVNJ CVLBO TVBUV UBLEJS UFUBQJ EBQBU EJSFEVLTJ NFMBMVJ VTBIB
VTBIB ZBOH EJMBLVLBO TFDBSB TBEBS EBO UFSFODBOB
(FNQB CVNJ t .FOHFUBIVJ UFNQBU UFNQBU ZBOH CFSCBIBZB LFUJLB HFNQB
vulkanik terjadi
t .FOHFUBIVJ UFNQBU UFNQBU ZBOH BNBO LFUJLB HFNQB UFSKBEJ
MatUekriuPreamn bkeelkaujaartaannPengtu .raFnOgHanFURBiIsiVkJo CGFeOmEpBa CBFuOmEiB ZBOH CFSHVOB VOUVL NFMJOEVOHJ EJSJ
gempa ketika gempa terjadi
MATERI t t.erFjOadHiFUBIVJ MJOHL*V/O%HB*,O "B5MB0N3 Z 1BO3H*- S"FO,U6BO 4 L*F4U8JLB" HFNQB CVNJ
1K&a.pa#s&it-as"/+"3"/
t k4eFrCeFnMtVanNa n#FODBOB tt ..FFNOHBFIUBBNIVJ JC JBOIGSXBTBU SUVFSLKUBVESJ OZBZOB HH FSFNOQUBBO C LVFNUJLJ UBJ EHBFLN EQBBQ CBUV ENJIJ JOEBSJ
(FNQB CVNJ t t.erFjNadBiIBNJ CBIXB SJTJLP CFODBOB ZBOH EJTFCBCLBO PMFI HFNQB
U)FVLCUPVOOJHLBO t C%VBNQBJ UC NVLFBNOC TFVEBBUVL BUOBL LEFJLS VUFBUUBBQOJ HEFBNQBQUB E NJSFFEMBVMVLTJ JU BNOFEMBB MVUBJ OVETBBI B
CFODBOB EFOHBO VyaTBnIgBt eZrBjOadHi EJMBLVLBO TFDBSB TBEBS EBO UFSFODBOB
(keFkNuQatBa CnVgNemJ pa tt ..FFOOHHFVUBBTIBVJ QJ UFFUNB MQJOBHU LUVFNOHQBBOU TZFBLOPHM BCIFOSCZBBIBZB LFUJLB HFNQB
vdualnkaknaipkasitas/ t t.erFjOadHiVBTBJ QFUB MJOHLVOHBO UFNQBU UJOHHBMOZB
kerentanan tt ..FFONHBFIUBBNIVJ JL UFFKNBEQJBBOU ULFFNKBQEBJBU OZ BTOVHTV BMNBOB TOF LUFFMUBJLIB U HFSFKNBEQJ BH FUFNSKQBEB J
Ukuran kekuatan t C.VFNOHJ FUBIVJ CFOEB CFOEB ZBOH CFSHVOB VOUVL NFMJOEVOHJ EJSJ
Tgienmdapkaan-tindakan t k.eFtiOkHaFgUeBmIVpJ aUJtOeErjBaLdBiO UJOEBLBO ZBOH TFHFSB EJCVBU LFUJLB
BOUJTJQBUJG t H.FFNOQHBF UCBVINVJJ MUJOFHSKLBVEOJ HBO BMBN ZBOH SFOUBO LFUJLB HFNQB CVNJ
t t.erFjOadHiFUBIVJ DBSB DBSB NFOZFMBNBULBO EJSJ LFUJLB HFNQB CVNJ
Kapasitas/ t t.erFjOadHiFUBIVJ JOGSBTUSVLUVS ZBOH SFOUBO LFUJLB HFNQB CVNJ
kerentanan
t t.erFjOadHiFUBIVJ DBSB DBSB NFNFSJLTB QFSBMBUBO ZBOH NVOHLJO
)VCVOHBO t N%BFQOBJNU NCVFMNLBCOF ECBBLIBBOZB L FLBLVSFBOUBBO H HFNFNQQB BC NVNFMJB UMFVSJK BUBEOJ EB UBOEB
CFODBOB EFOHBO t y.aFnOgHtFeUrBjaIdViJ LFCVUVIBO NBTZBSBLBU LPSCBO CFODBOB HFNQB
kekuatan gempa t C.VFNOHJ VBTBJ QFUB MJOHLVOHBO TFLPMBIOZB
dan kapasitas/ tt .#FFSOQHBVSUBJTTJBQJB QTFJ UTBV OMJOHHHLVVIO THVBOOH UHFVNIQ QBBU EUJBO THJHNBVMOMBZTBJ QFOZFMBNBUBO
kerentanan t d.irFiNsaBaItBgNemJ LpFaKBtEeJrBjOad LiFKBEJBO TVTVMBO TFUFMBI UFSKBEJ HFNQB
t C.VFNNJQFSTJBQLBO CFOEB CFOEB ZBOH CFSHVOB LFUJLB EBO
Tindakan-tindakan t T.FFTVOEHBFIUB HIFVNJ UQJOBE CBVLNBOJ UUFJOSKEBBELJ BO ZBOH TFHFSB EJCVBU LFUJLB
t B4OBUBJTUJQ #BFUJOG DBOB t H.FFNOQHBH CVVONBJL UBFOSK BCEFJOEB CFOEB ZBOH CFSHVOB VOUVL NFMJO
Tindakan-tindak- t d.uFnOgHiFdUBiIriVkJ eDtBiSkBa DgBeSBm NpFaOtZeFrMjBaNdiBULBO EJSJ LFUJLB HFNQB CVNJ
an yang perlu t tttt t CtdNHpC..#...eiVFFVerrFFFFFFSNijNrNOOOaQMOMskBBdJHHJaBiQNHJLLr iaFFSUaBFUVVtCUUFJk OBBTLLgCVSaIIJBKBBeQMVBnLVVMOOmB NEBJJUT k OBJDULDpJJeJ BOF B aTOCUkSCVSEFEBBtuBOVeSB IB aKDHUr DBBLVjtBUHaBZEaBBISdVBSBnOJOBBi I LnNO E UNBy TBJNFSOVa FFNUOEBOFOTHFBBSZZHKSL FBBHJVLBSMEFTBBOINJBLNO Q ZBQQZBBBUFBB EOULS LCBHBPHB MVSFT BTOCNJNUNFB BEHJOOQ VUJF SFMBCZBJSS BFBTCLKOBOJ F VEEQHDUNJJBF J CNLOOJVB BZVE BF HOHBUMHFBF OLNLNN FJNOBUQQJ UFBLBB NB O
dilakukan ketika
gempa terjadi

tt .,BFMNBVQ FNSTVJBOQHLLBJOO
C NFOFENB CCFFSOJ EBBC ZBB OBCH BC FLSFHQVBOEBB L PFUSJBLOBH E BMBOJ O EBMBN
TmFTeVnEyBeIla HmFNatQkBa nCVdNirJi UFSKBEJ
t 4BBU #FODBOB tt ..FFOMBHLHVVLOBOBL QBFOO CZFFMOBENBB CUBFOO EEBJS JZ TBFOTHV BCJF MSBHUJVIOBBO V QOBUEVBL TNBBFUM JO
Tindakan-tindak- dsiumnugliadsiirpi ekneytieklaamgeamtapnadtierirjsaadait gempa terjadi
an yang perlu tt ..FFONHBFOOGBBMB UUBLOBOE BC FUBOOEEBB C UFFOSKEBEB JZOBZOBH H CFNFSQHVB OCBV LNFJU EJLBBO H NFNFNQB
dilakukan ketika pCeVrNkiJr UaFkSaKBnEkJekuatannya
t 4gFeTmVpEaBIte rjadi t 5.JEFBMBLL QVFLSBHOJ ULJFO EUFBNLBQOB U JUOFENBLQBBOU ZZBBOOHH CTFHSCFBSBI BEZJCB VLBFUU JLLFBU JLB
#FODBOB HgFeNmQpBa CteVrNjadJ UiFSKBEJ
Tindakan-tindak- t .1FFSMHBJL LVFL UBFON DQBSBBU DUFBNSBQ NBUF ZOBZOFHMB NBNBUBLOB LOF EUJLSJB L HFFUJNLBQ HBF UNFSQKBBE J
an yang perlu t C4VFTNFJH UFFSSBKB NEJVOHLJO NFOKBVI EBSJ MJOHLVOHBO BMBN ZBOH
dilakukan sesaat t S,FBOMBUBVO N LVFUOJLHBL JHOF
NQFNB CCVFNSJ JB UCFBS KBECJB LFQBEB PSBOH MBJO EBMBN
setelah gempa t m8eBnTQyBeElaBm UFatSkIaBnEBdQir iLFKBEJBO LFKBEJBO TVTVMBO TFUFMBI
terjadi t U.FSFKMBBELJV HLFBNO QBF OCZVFNMBJNBUBO EJSJ TFTVBJ MBUJIBO QBEB TBBU
t s.imFOuVlaKsVi UpFeNnQyeBlUa QmFaOtHaVnOdHirTiJBsOaa BtUgBVem LFpNa CteBrMjJa VdOi UVL
t N.FNFBSOJLGBTBU QLBFOSB CMBFUOBEOB Z BCOFHO ENBV ZOBHOLHJO C NFSFHOVJONBC LVFMULJLBBO HCFBNIBQZBB
CLBVSNFOJ BUF HSKFBNEJQB CVNJ
tt 55VJESBVLU NQFFSNHJC LBFO UUFVN NQBBTUZ UBFSNBLQBBUU L ZPBSOCHB OC CFSFCOBDIBBOZBB H LFFNUJLQBB CVNJ
t 4FTVEBI t g.eFmNpBaOtGeBrBjUaLdBiO CFOEB CFOEB ZBOH CFSHVOB TFTVEBI
#FODBOB
Tindakan-tindak- t H1FFNSHQJ LBF C UVFNNJQ UBFUS KUBFENJ QBU ZBOH BNBO LFUJLB HFNQB UFSKBEJ
an yang perlu t 4FTFHFSB NVOHLJO NFOKBVI EBSJ MJOHLVOHBO BMBN ZBOH
42 dilakukan sesaat SFOUBO LFUJLB HFNQB CVNJ UFSKBEJ
setelah gempa t 8BTQBEB UFSIBEBQ LFKBEJBO LFKBEJBO TVTVMBO TFUFMBI
terjadi UFSKBEJ HFNQB CVNJ
t .FOVKV UFNQBU QFOHVOHTJBO BUBV LFNCBMJ VOUVL

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMA/SMK/MA/MAK

4.3. Pendekatan Kegiatan Belajar Mengajar

Terapan pendidikan kesiapsiagaan bencana maupun pendidikan bencana,
bermuara pada (1) Pemahaman tentang bencana, (2) Pemahaman tentang
kerentanan, (3) Pemahaman tentang kerentanan fisik dan fasilitas-fasilitas
penting untuk keadaan darurat bencana, dan (4) Sikap dan kepedulian
terhadap risiko bencana.
Tujuan pendidikan pengurangan risiko bencana, dalam pelaksanaan di sekolah
perlu dijabarkan menjadi indikator perilaku siswa. Penetapan indikator perilaku
siswa dalam pengurangan risiko bencana mempertimbangan beberapa aspek,
yaitu:
1. perkembangan psikologis anak, diperlukan terutama dalam menentukan

isi/materi yang diberikan kepada anak agar tingkat keluasan dan
kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan anak dan peristiwa
bencana yang dialami oleh anak.
2. berbasis lingkungan, dengan mengutamakan nilai-nilai kearifan lokal. Ini
mempunyai makna bahwa siswa diajak untuk bersahabat dengan alam
lingkungan sekitar yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal.
3. mempunyai nilai aplikatif yang tinggi, karena siswa bisa langsung
menerapkan pengetahuan dan keterampilan dasar yang benar-benar
diperlukan pada saat bencana maupun tanggap darurat.
Adapun pendekatan yang dapat dilaksanakan pada kegiatan pembelajaran
PRB, agar lebih menyenangkan siswa, sebaiknya digunakan pendekatan
cooperative learning dan simulasi, serta pendekatan dan metode lainnya jika
diperlukan. Pendidikan pengurangan risiko bencana adalah sebuah proses
pembelajran bersama yang bersifat interakitf di tengah masyarakat dan
lembaga-lembaga yang ada. Cakupan pendidikan pengurangan risiko bencana
lebih luas daripada pendidikan formal di sekolah dan universitas. Termasuk
di dalamnya adalah pengakuan dan penggunaan kearifan tradisional dan
pengetahuan terhadap bencana (UN-ISDR).
Pengintegrasian materi ajar PRB di dalam kurikulum harus dikembangkan
berdasarkan prinsip-prinsip pengembangan KTSP. Oleh karena itu perlu adanya
kajian terhadap mata pelajaran-mata pelajaran yang dapat dikembangkan
dengan materi ajar PRB gempa bumi. Untuk jenjang SMA/SMK/MA/MAK, mata
pelajaran tersebut diantaranya adalah Geografi, Fisika dan IPS.

43

BAB V Pengintegrasian Materi Pokok
Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke dalam Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan
Menengah Atas (SMA/SMK/MA/MAK)

Integrasi pendidikan pengurangan risiko bencana kedalam Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP) dimaknai sebagai menggabungkan muatan pendidikan
PRB dan muatan KTSP, atau memasukkan muatan pendidikan PRB dalam
muatan KTSP. Pengintegrasian pendidikan PRB dilakukan dengan memperhatikan
keterpaduan dan kesinambungan muatan pendidikan PRB dan muatan KTSP
(termasuk program ekstra kurikuler yang dimiliki sekolah), sumber daya yang
dimiliki untuk melaksanakan pendidikan PRB. Pengintegrasian muatan pendidikan
PRB dapat dilakukan dengan muatan mata pelajaran pokok, mata pelajaran muatan
lokal, dan/atau program ekstra kurikuler. Pengintegrasian dilakukan secara terpadu
sehingga menyatu, saling terkait dan berkesinambungan secara harmonis.
Pengintegrasian dilakukan dengan mempertimbangkan muatan pendidikan PRB,
standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran pokok dan muatan lokal,
objek kajian mata pelajaran pokok, program pembiasaan, dan/ atau ketersediaan
sumber daya guru yang akan melaksanakannya. Cara pengintegrasian yang dipilih
mempunyai implikasi tuntutan pengerjaan administratif yang berbeda-beda
sebelum pelaksanaan pendidikan PRB dilakukan.
Pengintegrasian pendidikan PRB ada baiknya dilakukan secara terpadu dan
menyeluruh kepada salah satu cara berikut: mata pelajaran pokok, muatan lokal,
atau kegiatan ekstra kurikuler. Agar perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi mudah
dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan.
Selanjutnya adalah, bila muatan pendidikan PRB dintegrasikan dengan muatan
mata pelajaran, merumuskan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar muatan
Pendidikan PRB. Membuat perencanaan pembelajaran dan evaluasi muatan
Pendidikan PRB atas dasar SK dan KD muatan Pendidikan PRB kedalam silabus
dan RPP. Bila muatan Pendidikan PRB diintegrasikan dengan Program Pembiasaan,
maka selanjutnya adalah menyusun program pelaksanaan muatan Pendidikan PRB
tersebut
Permen Diknas No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses mengamanatkan bahwa
proses pembelajaran untuk mencapai KD dilakukan secara interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif,
serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian
sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMA/SMK/MA/MAK

Selain itu, proses pembelajaran juga harus menggunakan metode yang disesuaikan
dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, yang dapat meliputi proses
eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.
Berbagai model pembelajaran dapat diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar
agar anak mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna sesuai dengan tingkat
perkembangannya. Untuk itu, guru perlu mengupayakan kegiatan pembelajaran
tersebut. Salah satu model pembelajaran yang dapat diberikan pada siswa SMA/
SMK/MA/MAK adalah model pembelajaran terintegrasi.
Pembelajaran integrasi yang memasukkan materi tertentu ke dalam suatu bidang
studi dengan menggunakan tema sebagai pemersatu kegiatan, diharapkan akan
dapat memotivasi anak dalam belajar dan memberikan pengetahuan, sikap, atau
keterampilan yang bermakna bagi anak.
Terdapat beberapa alternatif cara mengitegrasikan pendidikan PRB kedalam
kurikulumsatuanpendidikan.Pertamaadalahmengintegrasikanmuatanpendidikan
PRB kedalam mata pelajaran pokok. Kedua adalah mengintegrasikan muatan
pendidikan PRB kedalam mata muatan Lokal. Ketiga adalah mengintegrasikan
muatan pendidikan PRB kedalam kegiatan ekstra kurikuler. Keempat adalah
mengintegrasikan secara lintas mata pelajaran, atau kedalam beberapa mata
pelajaran pokok, mata pelajaran muatan lokal, dan/atau kegiatan ekstra kurikuler.

5.1. Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi ke dalam
Mata Pelajaran

Tahapan dalam pengintegrasian materi PRB terhadap mata pelajaran di tingkat
SMA/SMK/MA/MAK sebagai berikut.
1. Identifikasi Materi Pembelajaran tentang PRB

Konsep mengenai pendidikan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dapat
diintegrasikan ke dalam mata pelajaran pokok dalam kurikulum, diantaranya:
IPA Terpadu, IPS Terpadu, Bahasa Indonesia, Muatan Lokal, dan Penjas Orkes.
2. Analisis KD yang Memungkinkan dapat diintegrasikan dengan PRB
Kompetensi-kompetensi dasar yang terdapat pada KTSP dapat diintegrasikan
dengan materi PRB dalam bentuk model KTSP daerah bencana. Model ini
disusun sesuai dengan kondisi, kebutuhan, potensi, dan karakteristik satuan
pendidikan dan peserta didik di daerah bencana yang diharapkan dapat
digunakan sebagai acuan atau referensi bagi satuan pendidikan di daerah lain
yang punya karakteristik yang sama.
Setelah kurikulum, bahan ajar sebagai acuan yang lebih operasional dalam
melaksanakan pembelajaran di sekolah, merupakan komponen yang sangat
berperan dalam memberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai
bencana dan kesiapsiagaan bencana terhadap warga negara, khsusnya
peserta didik.
Melalui bahan ajar yang disusun pada pembelajaran tematik dan di setiap
mata pelajaran dapat diintegrasikan mengenai jenis-jenis bencana beserta

45

Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Atas (SMA/SMK/MA/MAK)

penyebabnya, usaha-usaha yang dapat dilakukan dalam menghindari
terjadinya beberapa bencana, apa yang harus dilakukan ketika terjadi
bencana, dampak yang ditimbulkan oleh bencana dan usaha-usaha yang
dalam mengurangi dampak tersebut, apa yang dilakukan setelah bencana itu
terjadi, dan lain-lain.

3. Menyusun Silabus yang Terintegrasi PRB
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata
pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi
dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator,
penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar yang diintegrasikan
dengan nilai-nilai pengurangan risiko bencana (PRB).

Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar
ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator
pencapaian kompetensi untuk penilaian.

Silabus Integrasi PRB dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masing-
masing sekolah dan jenis ancaman bencana yang rentan di wilayahnya.
Langkah-langkah penyusunan silabus yang mengintegrasikan PRB diantaranya
adalah sebagai berikut.
a. Mengkaji dan menentukan Standar Kompetensi (SK) yang dapat

diintegrasikan dengan PRB.
b. Mengkaji dan menentukan Kompetensi Dasar (KD) yang sesuai dengan SK

yang diintegrasikan.
c. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi (dengan mengacu pada

SK dan KD).
d. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran yang sesuai dengan PRB

gempa bumi.
e. Mengembangkan kegiatan pembelajaran berintegrasi PBR gempa bumi,

seperti penyampaian informasi bahaya gempa, simulasi penyelamatan
diri, pertolongan pertama, dan lainnya.
f. Menentukan Jenis Penilaian.
g. Menentukan Alokasi Waktu.
h. Menentukan Sumber Belajar yang berhubungan dengan PRB gempa
bumi.

4. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana pembelajaran merupakan langkah awal dari suatu menejemen
pembelajaran yang berisi kebijakan strategic tentang pelaksanaan
pembelajaran yang akan dilakukan. Dalam rencana pembelajaran selalu
terdapat komponen yang saling berkaitan yaitu tujuan, bahan ajar, metode/
teknik, media, alat evaluasi, dan penjadwalan setiap langkah kegiatan.
Komponen-komponen tersebut saling berkaitan dan diintegrasikan dengan
nilai-nilai usaha pengurangan risiko bencana (PRB).

RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali
pertemuan atau lebih. Guru merancang penggalan RPP untuk setiap
pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan. RPP

46

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMA/SMK/MA/MAK

yang terintegrasi PRB gempa disusun sesuai dengan KD yang relevan dengan
materi ajar PRB gempa bumi.
Untuk lebih jelasnya, tahapan pengintegrasian dijelaskan sebagai berikut.

5.1.1. Identifikasi Mata Pembelajaran tentang Pengurangan Risiko Bencana.

Di bawah ini terdapat contoh format analisis KD dari beberapa mata pelajaran
yang dapat diintegrasikan dalam pendidikan pengurangan risiko bencana
gempa bumi.
Setelah dianalisis, ternyata PRB dapat diintegrasikan pada mapa pelajaran
Geografi dan fisika. Pemetaan mata pelajaran dan nomor KD yang dapat
diintegrasikan dengan PRB sebagai berikut.

Tabel 5.1. Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Gempa Bumi

,&-"4 ."5&3* 1&.#&-"+"3"/
I 13#

1. Fenomena Gempa bumi di Indonesia
2. Peristiwa Gempa bumi

a. Pengertian gempa
b. Pengertian Ancaman
c. Pengertian Risiko
d. Pengertian Kerentanan
e. Pengertian Kapasitas
3. Skala Richter
Pengukuran gempa
Interval skala Richter
o Skala Richter merupakan hasil pengukuran energi gempa
dalam bentuk gelombang seismik yang ditangkap alat
pencatat gelombang yang disebut seismograf/ seismometer.
Skala ini mempunyai nilai yang terletak pada interval 0-10.
t < 2,0 Umumnya tak terasa, tapi terekam
2,0-2,9 Getaran hampir terasa, belum terasa
oleh kebanyakan orang
t 3,0-3,9 Terasa oleh sebagian kecil orang
t 4,0-4,9 Terasa oleh hampir semua orang
t 5,0-5,9 Getaran mulai menimbulkan kerusakan
t 6,0-6,9 Menimbulkan kerusakan pada daerah
padat penduduk
t 7,0-7,9 Gempa skala besar, getaran kuat, menimbulkan
kerusakan besar
t 8,0-8,9 Gempa dahsyat, getaran kuat, kehancuran dekat
episentrum

47

Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Atas (SMA/SMK/MA/MAK)

5.1.2. Analisis Kompetensi Dasar Mata Pelajaran yang dapat di Integrasikan
dengan PRB
Analisis kompetensi dasar mata pelajaran yang memungkinkan dapat
diintegrasikan dengan pengurangan risiko bencana diuraikan dibawah ini.

48

5. 2 Analisis KD mata pelajaran yang dapat diintegrasikan dengan PRB

KELAS MATERI PEMBELAJARAN INDIKATOR PRILAKU SISWA MATA PELAJARAN Standar Kompetensi
I SMA PRB (Indikator Pembelajaran PRB) 1. Fisika/ Geogra Kompetensi (SK) Dasar (KD)
Sebelum gempa
4. Fenomena Gempa bumi di Indonesia t .FNBIBNJ CBIXB UFSKBEJOZB HFNQB CVNJ
5. Peristiwa Gempa bumi tidak dapat dihindari
a. Pengertian gempa t .FNBIBNJ CBIXB SJTJLP CFODBOB ZBOH
b. Pengertian Ancaman disebabkan oleh gempa bumi bukan suatu t
c. Pengertian Risiko akdir tetapi dapat direduksi melalui
d. Pengertian Kerentanan usaha-usaha yang dilakukan secara sadar
e. Pengertian Kapasitas dan terencana
6. Skala Richter t .FOHFUBIVJ UFNQBU UFNQBU ZBOH CFSCBIBZB
Pengukuran gempa LFUJLB HFNQB UFSKBEJ
Interval skala Richter t .FOHFUBIVJ UFNQBU UFNQBU ZBOH BNBO LFUJLB
o Skala Richter merupakan hasil pengukuran HFNQB UFSKBEJ
energi gempa dalam bentuk gelombang seismik t .FOHFUBIVJ CFOEB CFOEB ZBOH CFSHVOB VOUVL
yang ditangkap alat pencatat gelombang yang NFMJOEVOHJ EJSJ LFUJLB HFNQB UFSKBEJ
disebut seismograf/ seismometer. Skala ini t .FOHFUBIVJ MJOHLVOHBO BMBN ZBOH SFOUBO LFUJLB
mempunyai nilai yang terletak pada interval 0-10. HFNQB CVNJ UFSKBEJ
< 2,0 Umumnya tak terasa, tapi terekam t .FOHFUBIVJ JOGSBTUSVLUVS ZBOH SFOUBO LFUJLB
t 2,0-2,9 Getaran hampir terasa, belum terasa HFNQB CVNJ UFSKBEJ
t %BQBU NFNCFEBLBO LFLVBUBO HFNQB NFMBMVJ
oleh kebanyakan orang UBOEB UBOEB ZBOH UFSKBEJ
t .FOHVBTBJ QFUB MJOHLVOHBO TFLPMBIOZB
t 3,0-3,9 Terasa oleh sebagian kecil orang t .FOHVBTBJ QFUB MJOHLVOHBO UFNQBU UJOHHBMOZB
t .FNBIBNJ LFKBEJBO LFKBEJBO TVTVMBO TFUFMBI
t 4,0-4,9 Terasa oleh hampir semua orang UFSKBEJ HFNQB CVNJ
t .FOHFUBIVJ UJOEBLBO UJOEBLBO ZBOH TFHFSB
t 5,0-5,9 Getaran mulai menimbulkan EJCVBU LFUJLB HFNQB CVNJ UFSKBEJ
kerusakan t .FOHFUBIVJ DBSB DBSB NFOZFMBNBULBO EJSJ LFUJLB
HFNQB CVNJ UFSKBEJ
t 6,0-6,9 Menimbulkan kerusakan pada t .FOHFUBIVJ DBSB DBSB NFNFSJLTB QFSBMBUBO ZBOH
daerah padat penduduk mungkin menimbulkan bahaya karena gempa
CVNJ UFSKBEJ
t 7,0-7,9 Gempa skala besar, getaran kuat, t .FOHFUBIVJ LFCVUVIBO NBTZBSBLBU LPSCBO
menimbulkan kerusakan besar bencana Gempa bumi
t #FSQBSUJTJQBTJ TVOHHVI TVOHHVI QBEB TJNVMBTJ
t 8,0-8,9 Gempa dahsyat, getaran kuat, QFOZFMBNBUBO EJSJ TBBU HFNQB UFSKBEJ
kehancuran dekat episentrum t .FNQFSTJBQLBO CFOEB CFOEB ZBOH CFSHVOB
LFUJLB EBO TFTVEBI HFNQB CVNJ UFSKBEJ

KELAS MATERI PEMBELAJARAN INDIKATOR PRILAKU SISWA MATA PELAJARAN Standar Kompetensi
I SMA PRB (Indikator Pembelajaran PRB) 1. Fisika/ Geogra Kompetensi (SK) Dasar (KD)

Pada saat gempa:
t .FOHHVOBLBO CFOEB CFOEB ZBOH CFSHVOB VOUVL
NFMJOEVOHJ EJSJ LFUJLB HFNQB UFSKBEJ
t .FOHFOBM UBOEB UBOEB UFSKBEJOZB HFNQB CVNJ EBO
NFNQFSLJSBLBO LFLVBUBOOZB
t .FMBLVLBO UJOEBLBO UJOEBLBO ZBOH TFHFSB EJCVBU
LFUJLB HFNQB CVNJ UFSKBEJ
t .FMBLVLBO DBSB DBSB NFOZFMBNBULBO EJSJ LFUJLB
HFNQB CVNJ UFSKBEJ
t ,BMBV NVOHLJO
NFNCFSJ BCB BCB LFQBEB PSBOH
MBJO EBMBN NFOZFMBNBULBO EJSJ
t .FMBLVLBO QFOZFMBNBUBO EJSJ TFTVBJ MBUJIBO QBEB
TBBU TJNVMBTJ QFOZFMBNBUBO EJSJ TBBU HFNQB UFSKBEJ
t .FNBOGBBULBO CFOEB CFOEB ZBOH CFSHVOB LFUJLB
HFNQB CVNJ UFSKBEJ
4FTVEBI HFNQB
t 5JEBL QFSHJ LF UFNQBU UFNQBU ZBOH CFSCBIBZB
LFUJLB HFNQB UFSKBEJ
t 1FSHJ LF UFNQBU UFNQBU ZBOH BNBO LFUJLB
HFNQB UFSKBEJ
t 4FTFHFSB NVOHLJO NFOKBVI EBSJ MJOHLVOHBO
BMBN ZBOH SFOUBO LFUJLB HFNQB CVNJ UFSKBEJ
t 8BTQBEB UFSIBEBQ LFKBEJBO LFKBEJBO TVTVMBO
TFUFMBI UFSKBEJ HFNQB CVNJ
t .FOVKV UFNQBU QFOHVOHTJBO BUBV LFNCBMJ VOUVL
NFNFSJLTB QFSBMBUBO ZBOH NVOHLJO NFOJNCVMLBO
CBIBZB LBSFOB HFNQB CVNJ
t 5VSVU NFNCBOUV NBTZBSBLBU LPSCBO CFODBOB
HFNQB CVNJ
.FNBOGBBULBO CFOEB CFOEB ZBOH CFSHVOB TFTVEBI
HFNQB CVNJ UFSKBEJ

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMA/SMK/MA/MAK

5.1.3. Penyusunan Silabus Integrasi Standar Kompetensi/Kompetensi Dasar
(SK/KD)
Silabus sebagai acuan pengembangan RPP memuat komponen yang harus
dikembangkan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik dan
lingkungannya. Komponen tersebut terdiri atas Standar Kompetensi (SK),
Kompetensi Dasar (KD), materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator
pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.
Silabus dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan Standar Isi (SI)
dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), serta panduan penyusunan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Silabus harus menjawab pertanyaan
kompetensi apa yang harus dicapai anak? Bagaimana cara mencapainya? Dan
bagaimana cara menilai ketercapaian kompetensi itu?
Dalam pelaksanaannya, pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para
guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah/madrasah atau
beberapa sekolah, kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) atau
Pusat Kegiatan Guru (PKG), dan Dinas Pendidikan. Pengembangan silabus
disusun di bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab
di bidang pendidikan.
Pada tahap 2 integrasi pengurangan risiko bencana ke dalam mata pelajaran
adalah menyusun silabus. Di bawah ini terdapat contoh format analisis
Kompetensi Dasar (KD) dari beberapa mata pelajaran yang dapat diintegrasikan
dalam pendidikan pengurangan risiko bencana gempa bumi.

51

Tabel 5.3 Analisis Kompetensi Dasar (KD) untuk Mata Pelajaran Terintegrasi
$POUPI 4JMBCVT .VBUBO -PLBM 1FOEJEJLBO 13# (FNQB #VNJ Pengurangan Risiko Gempa Bumi

STANDAR KOMPETENSI MATERI KEGIATAN INDIKATOR PENILAIAN ALOKASI SUMBER/
KOMPETENSI DASAR POKOK PEMBELAJARAN WAKTU BAHAN/

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
Memahami peristiwa 1. Memahami peris- Gempa bumi 1FOJMBJBO 2 jp Buku
dan daerah-daerah tiwa gempa bumi tektonik t 1FNCBIBTBO UFOUBOH t .FOHFUBIVJ TUSVLUVS MBQJTBO CVNJ project Internet
yang rawan gempa tektonik struktur bumi t .FOHFUBIVJ EJOBNJLB QFSHFSBLBO
bumi t 1FNCBIBTBO UFOUBOH lempeng bumi
implikasi perbedaan t .FOHFUBIVJ QSPTFT UFSKBEJ HFNQB
panas antar lapisan- bumi tektonik
lapisan bumi t .FOHFUBIVJ [POB [POB HFNQB
t 1FNCBIBTBO QSPTFT bumi tektonik
terjadi gempa bumi t .FOHFUBIVJ UFNQBU UFNQBU EJ
tektonik Indonesia yang rawan terjadi gempa
t 1FNCBIBTBO GFOPNFOB bumi tektonik
alam di zona-zona gempa
t 1FNCBIBTBO EBFSBI
daerah di Indonesia yang
rawan gempa bumi
tektonik

2. Memahami peris- Gempa bumi t 1FNCBIBTBO EJOBNJLB t .FOHFUBIVJ EJOBNJLB HVOVOH
tiwa gempa bumi vulkanik gunung berapi merapi
vulkanik t 1FNCBIBTBO QSPTFT UFSKB t .FOHFUBIVJ QSPTFT UFSKBEJOZB
dinya gempa bumi gempa bumi vulkanik
vulkanik t .FOHFUBIVJ LBXBTBO ring of re
t 1FNCBIBTBO GFOPNFOB t .FOHFUBIVJ UFNQBU UFNQBU
alam di kawasan di Indonesia yang rawan gempa
ring of re bumi vulkanik
t 1FNCBIBTBO EBFSBI
daerah di Indonesia yang
rawan gempa bumi
vulkanik

STANDAR KOMPETENSI MATERI KEGIATAN INDIKATOR PENILAIAN ALOKASI SUMBER/
KOMPETENSI DASAR POKOK PEMBELAJARAN WAKTU BAHAN/

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
Ukuran r 1FNCBIBTBO LFLVBUBO r .FOHFUBIVJ LFLVBUBO HFNQB 1FOJMBJBO 2 jp
Dapat memperkira- 1. Memahami uku- kekuatan gempa dengan ukuran dengan ukuran SR project
kan ukuran kekua- ran kekuatan gempa SR r .FOHFUBIVJ LFLVBUBO HFNQB
tan gempa melalui gempa dan tanda- r 1FNCBIBTBO LFLVBUBO melalui intensitas gempa
gejala-gejala yang tanda yang Ukuran gempa dengan ukuran
terjadi dan risiko ditimbulkannya kekuatan intensitas r .FOHFUBIVJ SFTJLPSJTJLP CBIBZB
bahaya yg ditimbul- gempa bila gempa dengan kekuatan
kannya r .FNCBIBT SJTJLP CBIBZB tertentu terjadi
2. Memahami uku- bila gempa dengan r .FOHFUBIVJ UJOEBLBO UJOEBLBO
ran kekuatan gem- kekuatan tertentu terjadi yang tepat setelah terjadi gempa
pa dan risiko bahaya r .FNCBIBT UJOEBLBO
yang ditimbulkan- tindakan yang tepat
nya setelah terjadi gempa
untuk antisipasi gempa
susulan atau kejadian
alam yang disebabkan
oleh gempa.

Memahami hubu- 1. Memahami Kapasitas/ r 1FNCBIBTBO LFLVBUBO r .FOHFUBIVJ LFLVBUBO HFNQB 1FOJMBJBO 4 jp
ngan bencana kapasitas dan kerentanan gempa dengan ukuran SR dengan ukuran SR project
dengan kekuatan kerentanan dalam r 1FNCBIBTBO LFLVBUBO r .FOHFUBIVJ LFLVBUBO HFNQB
gempa dan menghadapi gempa dengan ukuran melalui intensitas gempa
kapasitas/ bahaya gempa intensitas
kerentanan
2. Mengetahui Hubungan r .FNCBIBT SFTJLPSJTJLP r .FOHFUBIVJ SFTJLPSJTJLP CBIBZB
hubungan antara bencana bahaya bila gempa bila gempa dengan kekuatan
bencana dengan dengan dengan kekuatan tertentu terjadi
kekuatan gempa kekuatan tertentu terjadi r .FOHFUBIVJ UJOEBLBO UJOEBLBO
dan kapasitas/ gempa dan r .FNCBIBT UJOEBLBO yang tepat setelah terjadi gempa
kerentanan kapasitas/ tindakan yang tepat
kerentanan setelah terjadi gempa
untuk antisipasi gempa
susulan atau kejadian
alam yang disebabkan
oleh gempa

STANDAR KOMPETENSI MATERI KEGIATAN INDIKATOR PENILAIAN ALOKASI SUMBER/
KOMPETENSI DASAR POKOK PEMBELAJARAN WAKTU BAHAN/

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
Penilaian 6 jp
Memahami dan me- 1. Melakukan Tindakan- r .FNCBIBT SJTJLP CBIBZB r .FOHFUBIVJ SJTJLP CBIBZB ZBOH kinerja
lakukan antisipasi tindakan-tindakan tindakan yang ditimbulkan oleh ditimbulkan oleh suatu guncangan
tindakan untuk antisipatif untuk antisipatif suatu guncangan r .FMBLVLBO UJOEBLBO UJOEBLBO
mengurangi risiko mengurangi risiko untuk r .FMBLVLBO UJOEBLBO antisipatif di sekolah dan di rumah
bahaya yang di- bahaya yang mengurangi antisipatif di sekolah untuk mengurangi resikorisiko
timbulkan diakibatkan risiko bahaya untuk mengurangi risiko bahaya yang ditimbulkan oleh
oleh gempa. oleh gempa. yang diaki- bahaya yang ditimbulkan gempa
batkan oleh oleh gempa r .FNCBOHVO TJTUFN QFSJOHBUBO EJOJ
gempa. r .FNCBIBT LFTJBQTJBHBBO
dalam menghadapi
gempa

2. Memahami Tin- Tindakan- r .FNCBIBT UFNQBU r .FOHFUBIVJ UJOEBLBO UJOEBLBO
dakan-tindakan tindakan tempat yang aman untuk yang tepat ketika berada di dalam
yang tepat pada antisipatif berlindung di didalam ruangan/ gedung bertingkat dan
saat terjadi gempa untuk ruangan sekolah/ gedung gempa bumi terjadi
bumi mengurangi bertingkat ketika gempa r .FOHFUBIVJ UJOEBLBO UJOEBLBO
risiko bahaya terjadi yang tepat ketika berada di luar
yang diaki- r .FMBLVLBO TJNVMBTJ ruangan atau area terbuka dan
batkan oleh tindakan yang tepat dila- gempa bumi terjadi
gempa. kukan ketika berada r .FOHFUBIVJ UJOEBLBO UJOEBLBO
dalam ruangan kelas dan yang tepat ketika berada di dalam
gempa terjadi kenderaan
r .FNCBIBT UFNQBU
tempat yang aman di luar
ruangan atau area terbuka
ketika gempa terjadi
r .FNCBIBT UFNQBU
tempat yang tidak aman
di luar ruangan atau area
terbuka ketika gempa
terjadi

STANDAR KOMPETENSI MATERI KEGIATAN INDIKATOR PENILAIAN ALOKASI SUMBER/
KOMPETENSI DASAR POKOK PEMBELAJARAN (5) WAKTU BAHAN/
(2)
(1) (3) (4) (6) (7) (8)

r .FMBLVLBO TJNVMBTJ UJO
EBLBO ZBOH UFQBU EJMB
LVLBO LFUJLB EJ MBQBOHBO
TFLPMBI EBO HFNQB UFSKBEJ
r .FNCBIBT UFNQBU
UFNQBU ZBOH BNBO BSFB
UFSCVLB LFUJLB HFNQB
UFSKBEJ
r .FNCBIBT UFNQBU
UFNQBU ZBOH UJEBL BNBO
BSFB UFSCVLB LFUJLB HFNQB
UFSKBEJ
r .FNCBIBT UJOEBLBO ZBOH
UFQBU EJMBLVLBO LFUJLB
CFSBEB EJ LFOEFSBBO EBO
HFNQB UFSKBEJ

.FNBIBNJ 5JOEBLBO r .FNCBIBT DBSB QFNFSJL r .FOHFUBIVJ DBSB NFNFSJLTB QFSB
UJOEBLBO UJOEBLBO UJOEBLBO TBBBO QFSBMBUBO ZBOH MBUBO ZBOH NFOHHVOBLBO BSVT MJTUSJL
ZBOH QFSMV EJMB BOUJTJQBUJG NFOHHVOBLBO BSVT MJTUSJL VOUVL BOUJTJQBTJ UFSKBEJ TBNCVOHBO
LVLBO TFUFMBI VOUVL r .FNCBIBT DBSB NFNF BSVT TJOHLBU LPSTMFUJOH

HFNQB UFSKBEJ NFOHVSBOHJ SJLTB EBQVS r .FOHFUBIVJ NFNFSJLTB EBQVS
SJTJLP CBIBZB r .FNCBIBT DBSB NFNF VOUVL BOUJTJQBTJ CBIBZB LFCPDPSBO
ZBOH EJBLJ SJLTB UFNQBU QFOZJNQBOBO HBT
CBULBO PMFI [BU [BU r .FOHFUBIVJ NFNFSJLTB UFNQBU
HFNQB QFOZJNQBOBO [BU [BU CFSCBIBZB
VOUVL BOUJTJQBTJ CBIBZB ZBOH
EJUJNCVMLBOOZB

STANDAR KOMPETENSI MATERI KEGIATAN INDIKATOR PENILAIAN ALOKASI SUMBER/
KOMPETENSI DASAR POKOK PEMBELAJARAN WAKTU BAHAN/

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

4. Memahami Tindakan- r .FNCBIBT UJOEBLBO r .FOHFUBIVJ DBSB QFOZFMBNBUBO EBO
tindakan- tindakan tindakan penyelamatan dan eva- evakuasi korban
yang tepat ketika antisipatif kuasi korban r .FOHFUBIVJ DBSB NFNCBOUV LPSCBO
bencana gempa untuk r .FNCBIBT LPOEJTJ ñTJL
bencana gempa bumi
terjadi mengurangi LFTFIBUBO
EBO LFSFO r .FOHFUBIVJ DBSB NFNCFSJLBO QFS
risiko bahaya tanan korban gempa dan tolongan pertama dalam kecelakaan
yang diaki- tindakan-tindakan yang r .FOHFUBIVJ UJOEBLBO UJOEBLBO
batkan oleh diperlukan trauma healing.
gempa. r .FNCBIBT LPOEJTJ
psikologis dan kerentanan
korban.
r .FNCBIBT UJOEBLBO
tindakan trauma healing.
r .FNCBIBT LFCVUVIBO
korban gempa dan
tindakan-tindakan yang
diperlukan
r .FNCBIBT DBSB NFNCF
rikan pertolongan per-
tama dalam kecelakaan

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMA/SMK/MA/MAK

5.1.4. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik
dalam upaya mencapai KD. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban
menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung
secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta
didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi
prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan
perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. RPP disusun untuk setiap
Kompetensi Dasar (KD) yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan
atau lebih. Guru merancang penggalan RPP untuk setiap pertemuan yang
disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) memiliki
a. Identitas mata pelajaran
Identitas mata pelajaran, meliputi: satuan pendidikan, kelas, semester,
program/program keahlian, mata pelajaran atau tema pelajaran, jumlah
pertemuan.
b. Standar kompetensi
Standar kompetensi merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta
didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan
keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester
pada suatu mata pelajaran.
c. Kompetensi dasar
Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai
peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan
indikator kompetensi dalam suatu pelajaran.
d. Indikator pencapaian kompetensi
Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau
diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu
yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian
kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional
yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan
keterampilan.
e. Tujuan pembelajaran
Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang
diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.
f. Materi ajar
Materi ajar memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan,
dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator
pencapaian kompetensi.

57

Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Atas (SMA/SMK/MA/MAK)

g. Alokasi waktu
Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian
Kompetensi Dasar dan beban belajar.

h. Metode pembelajaran
Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran

Kotak. 5. 1 Contoh RPP Integrasi materi gempa bumi ke dalam mata pelajaran

Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
1. Contoh RPP

SatuRaenncPaennadPideilkaaknsa naan Pem: bSeMlaAjaran ( RPP )

MatSaaPtuealanjaPreannd idikan : SM:A
KelaMsa/tSaePmeleasjaterar n ::
AlokKAaeloslaikswas/aiSkwetumak etuster :
JeniJseBneisnBceanncaa na : 2 x: 425xM4e5nMit enit
: Ge:mGpeamBpuma Bi umi

STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
1. Memahami peristiwa dan daerah- 1.1 Memahami peristiwa gempa bumi

daerah yang rawan gempa bumi tektonik.

Indikator
 Mengetahui struktur lapisan bumi
 Mengetahui dinamika pergerakan lempeng bumi
 Mengetahui proses terjadi gempa bumi tektonik
 Mengetahui zona-zona gempa bumi tektonik
 Mengetahui tempat-tempat di Indonesia yang rawan terjadi gempa bumi

tektonik
I. Materi Ajar

Peristiwa dan daerah-daerah rawan gempa bumi tektonik
II. Alat / Bahan / Sumber Belajar
Alat : Komputer
Sumber belajar : Buku yang berisi pembahasan gempa bumi tektonik

dan gambar struktur bumi dan zona-zona gempa Bumi
III. Langkah – langkah Pembelajaran

Kegiatan awal (10 Menit )
1. Guru bertanya kepada siswa apakah mengikuti berita tentang gempa bumi

di Sumatera Barat?

58

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMA/SMK/MA/MAK

2. Siswa menjawab
3. Apa kerugian yang disebabkan oleh gempa bumi tersebut?
4. Siswa menjawab
5. Berapa besar kekuatan gempa bumi tersebut?
6. Siswa menjawab
Kegiatan Inti (70 Menit)
1. Guru memberikan bahan bacaan tentang struktur lapisan bumi dan meminta

siswa untuk mengkajinya.
2. Siswa membaca
3. Guru meminta siswa untuk menjelaskan struktur lapisan bumi.
4. Siswa menjelaskan
5. Guru memberi penegasan melalui gambar struktur lapisan-lapisan bumi,

bentuk wujud zat lapisan-lapisan bumi, suhu lapisan-lapisan.
6. Guru meminta siswa menjelaskan mengapa lempeng-lempeng tersebut

bergerak dan bagaimana peristiwa terjadinya gempa bumi
7. Siswa menjelaskan
8. Guru memberi penegasan mengapa lempeng-lempeng tersebut bergerak

dan bagaimana peristiwa terjadinya gempa bumi tektonik
9. Guru meminta anak untuk menjelaskan zona-zona gempa bumi tektonik dan

tempat-tempat di Indonesia yang rawan terjadi gempa bumi tektonik
10. Siswa menjelaskan
11. Guru memberi penegasan zona-zona gempa bumi tektonik dan tempat-

tempat di Indonesia yang rawan terjadi gempa bumi tektonik.
Kegiatan Akhir (10 Menit)
 Siswa diminta membuat catatan dengan kalimat sendiri tentang struktur

lapisan-lapisan bumi, dinamika pergerakan lempeng bumi, peristiwa terjadinya
gempa bumi tektonik, zona-zona gempa bumi, daerah-daerah di Indonesia
yang rawan terjadi gempa bumi.
IV. Penilaian
Bentuk : Tertulis
Jenis : Uraian
V. Soal
1. Gambarkan dan berikan label struktur lapisan-lapisan bumi.
2. Jelaskan peristiwa terjadinya gempa bumi tektonik
3. Sebutkan zona-zona gempa bumi dan daerah-daerah di Indonesia yang rawan
terhadap gempa bumi.
4. Mengapa Indonesia rawan terhadap terjadi gempa bumi tektonik?

59

Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Atas (SMA/SMK/MA/MAK)

5.2. Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi Sebagai
Pelajaran Muatan Lokal

Muatan Lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan
kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk
keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam
mata pelajaran yang ada. Substansi mata pelajaran Muatan Lokal ditentukan
oleh satuan pendidikan disesuaikan dengan karakteristik daerah masing-
masing.
Muatan Lokal merupakan bagian dari struktur dan muatan kurikulum yang
terdapat pada Standar Isi dan harus diwujudkan dalam kurikulum tingkat
satuan pendidikan. Keberadaan mata pelajaran Muatan Lokal merupakan
bentuk penyelenggaraan pendidikan yang tidak terpusat, sebagai upaya
agar penyelenggaraan pendidikan di masing-masing daerah lebih meningkat
relevansinya terhadap keadaan dan kebutuhan daerah yang bersangkutan.
Hal ini sejalan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan nasional sehingga
keberadaan mata pelajaran Muatan Lokal mendukung dan melengkapi mata
pelajaran yang lain.
Muatan lokal merupakan mata pelajaran, sehingga satuan pendidikan
harus mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk
setiap jenis Muatan Lokal yang diselenggarakan. Satuan pendidikan dapat
menyelenggarakan satu mata pelajaran muatan lokal setiap semester. Ini
berarti bahwa dalam satu tahun satuan pendidikan dapat menyelenggarakan
dua mata pelajaran Muatan Lokal. Pelaksanaan pembelajaran Muatan Lokal
dapat dilaksanakan secara erkesinambungan sesuai dengan kompetensi yang
dicapai.

Tujuan

Muatan Lokal bertujuan untuk memberikan bekal pengetahuan, keterampilan
dan perilaku kepada peserta didik agar mereka memiliki wawasan yang mantap
tentang keadaan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sesuai dengan
nilai-nilai/aturan yang berlaku di daerahnya dan mendukung kelangsungan
pembangunan daerah serta pembangunan nasional.
Lebih jelas lagi agar peserta didik dapat:
1. Mengenal dan menjadi lebih akrab dengan lingkungan alam, sosial, dan

budayanya,
2. Memilikibekalkemampuandanketerampilansertapengetahuanmengenai

daerahnya yang berguna bagi dirinya maupun lingkungan masyarakat
pada umumnya,
3. Memiliki sikap dan perilaku yang selaras dengan nilai-nilai/aturan-aturan
yang berlaku di daerahnya, serta melestarikan dan mengembangkan nilai-
nilai luhur budaya setempat dalam rangka menunjang pembangunan
nasional.
4. Menyadari lingkungan dan masalah-masalah yang ada di masyarakat serta
dapat membantu mencari pemecahannya.
5. Memiliki keterampilan khusus yang dapat menciptakan lapangan kerja.

60

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMA/SMK/MA/MAK

Kedudukan Muatan Lokal
Mata pelajaran Muatan Lokal mempunyai kedudukan yang sama dengan
mata pelajaran lain. Hal ini sesuai dengan Struktur Kurikulum pada Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006, karena memiliki alokasi
waktu sebanyak 2 jam pelajaran per minggu di setiap satuan pendidikan.
Apabila dipandang perlu, sekolah dapat menambahkan alokasi waktu lebih
dari 2 jam sesuai dengan kebutuhannya.

Ruang Lingkup

1. Lingkup Keadaan dan Kebutuhan Daerah.
Keadaan daerah adalah segala sesuatu yang terdapat di daerah tertentu yang
pada dasarnya berkaitan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial ekonomi,
dan lingkungan sosial budaya. Kebutuhan daerah adalah segala sesuatu yang
diperlukan oleh masyarakat di suatu daerah, khususnya untuk kelangsungan
hidup dan peningkatan taraf kehidupan masyarakat tersebut, yang disesuaikan
dengan arah perkembangan daerah serta potensi daerah yang bersangkutan.
Kebutuhan daerah tersebut misalnya kebutuhan untuk:
a . Melestarikan dan mengembangkan kebudayaan daerah
b . Meningkatkan kemampuan dan keterampilan di bidang tertentu, sesuai

dengan keadaan perekonomian daerah
c . Meningkatkan penguasaan bahasa asing untuk keperluan sehari-hari, dan

menunjang pemberdayaan individu dalam melakukan belajar lebih lanjut
(belajar sepanjang hayat)
d . Meningkatkan kemampuan berwirausaha.
2. Lingkup isi/jenis Muatan Lokal,
Memiliki ciri khas dan potensi daerah. Mata pelajaran Muatan Lokal meliputi
cakupan: Budaya Lokal, Keterampilan Wirausaha/Keterampilan Pra-vokasional,
Pendidikan Lingkungan dan Kekhususan Lokal lain. Pada akhirnya dari ketiga
lingkup tersebut bersinergi membentuk kecakapan hidup (life skill) yang
dimiliki peserta didik.

Berkaitan dengan hal tersebut, pembelajaran penanggulangan risiko bencana
juga dapat diajarkan sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri, yaitu sebagai
muatan lokal. Bencana gempa bumi dapat terjadi di mana saja dan kapan
saja. Semua anggota masyarakat harus paham bagaimana cara-cara yang
aman untuk mengantisipasi bahya gempa. Bukan hanya bagi mereka yang
bermukim di daerah rawan gempa saja, anggota masyarakat yang tinggal di
daerah yang aman pun perlu memahaminya. Mungkin saja suatu saat mereka
berurusan dengan bahaya gempa mengingat topografi wilayah Indonesia
banyak yang rawan gempa.

Untuk itu, satuan pendidikan perlu mempertimbangkan penanggulangan
risiko bencana longsor menjadi salah satu mata pelajaran muatan lokal. Namun
demikian, karena standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran
muatan lokal harus dikembangkan sendiri, sebaiknya sebelum melakukan
penyusunan mata pelajaran muatan lokal, satuan pendidikan perlu melakukan
studi atau analisis konteks terlebih dahulu. Dengan Proses pengembangannya
sebagai berikut:

61

Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Atas (SMA/SMK/MA/MAK)

5.2.1 Analisis Konteks Mata Pelajaran Muatan lokal
Analisis konteks diperlukan untuk menjawab sejumlah pertanyaan:
 Mengapa pelajaran penanggunlangan risiko bencana gempa bumi
diperlukan?
 Seberapa penting siswa memiliki kompetensi tersebut
 Bagaimana ketersediaan bahan ajar?
 Siapa yang mengajarkan, adakah guru yang ahli dalam mengajarkan hal
tersebut?
 Bagaimana metode pembelajarannya? Jangan sampai pembelajaran hanya
bersifat teori, karena yang diperlukan bukan penguasaan teori, melainkan
sikap dan perilaku.
 Bagiamana system penilaianya?.
Pertanyaan tersebut harus dijawab, untuk itu kita perlu mengkaji kekuatan,
kelemahan, peluang dan tantangan yang dihadapi.
Kekuatan :
Kekuatan dapat diperoleh dari ketersediaan bahan ajar, atau tenaga yang
dimiliki. Kemudahan memperoleh bahan ajar misalnya disebabkan karena di
daerah dekat sekolah tersebut terdapat pemukiman yang rawan gempa. Hal
ini menjadi kekuatan karena akan memotivasi siswa untuk belajar bagaimana
tindakan penyelamatan diri untuk mengurangi risiko bencana gempa.
Kekuatan juga dapat diperoleh dari mudahnya akses sumber belajar dan
ketersediaan tenaga ahli di sekitar sekolah.
Kelemahan
Kelemahan dapat bersumber dari sulitnya mendapat bahan belajar atau
tenaga ahli di bidang itu. Namun kelemahan bukan berarti hambatan, atau
menjadi penghambat, kelemahan justru menjadi inspirasi bagi sebagian
orang mencari peluang.
Peluang
Banyak orang berfikir bahwa kelemahan dapat menjadi peluang. Perilaku
masyarakat yang kurang mendukung program penghijauan di sekitar lereng,
dapat menjadikan peluang bagi sekolah untuk melakukan pendidikan
masyarakat antara lain melalui pembelajaran muatan lokal.
Tantangan
Tantangan sering kali muncul dari perilaku masyarakat pada umumnya.
Misalnya terkait dengan kebiasaan mereka yang tidak memperhatikan aspek
keamanan jangka panjang.
Kondisi tersebut dapat dijadikan dasar untuk memperkuat alasan perlunya
penanggulangan bencana menjadi salah satu mata pelajaran muatan lokal.
Apa LangkahYang Harus Dilakukan Untuk Menetapkan Mata Pelajaran Muatan
Lokal?

62

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMA/SMK/MA/MAK

Langkah Pertama:
Sebelum menetapkan penanggulangan risiko bencana sebagai mata pelajaran
muatan lokal, perlu dilakukan pengkajian terhadap kesiapan dalam rancangan
proses pembelajaran, perangkat pendukung seperti sarana, tenaga pengajar,
ketersediaan bahan ajar dan media pembelajaran.
Langkah Kedua
Perlu dipersiapkan proses penilaian. Muatan lokal sebaiknya lebih
menekankan kepada aspek psikomotor dan afektif. Penguasaan secara
kognitif juga diperlukan, namun yang diutamakan adalah aspek psikomotor
dan afektifnya.
Langkah Ketiga
Melakukan persiapan sesuai dengan kondisi satuan pendidikan. Hal ini penting
untuk menjawab seberapa penting mata pelajaran ini diberikan kepada
siswa.
Langkah keempat
Terakhir, target pencapaian akhir dari pembelajaran harus disesuaikan dengan
kondisi satuan pendidikan. Bagi satuan pendidikan yang berada di daerah
rawan gempa, target pencapaian mungkin lebih komprehensif dibanding
daerah lain yang relatif lebih aman.
5.2.2 Penyusunan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Muatan Lokal
Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Standar kompetensi merupakan kemampuan yang meyeluruh mencakup
tiga ranah kemampuan (kognitif, psikomotor, dan afektif ). Kompetensi dasar
merupakan bagian atau dapat juga disebut tahapan dari pencapaian standar
kompetensi. Indikator, merupakan ciri atau bukti bahwa kompetensi tersebut
dikuasai oleh siswa.

Pemberlakuan KTSP membawa implikasi bagi sekolah dalam melaksanakan
KBM sejumlah mata pelajaran, di mana hampir semua mata pelajaran sudah
memiliki Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk masing-masing
pelajaran. Sedangkan untuk Mata Pelajaran Muatan Lokal yang merupakan
kegiatan kurikuler yang harus diajarkan di kelas tidak mempunyai Standar
Kompetensi dan Kompetensi Dasarnya. Hal ini membuat kendala bagi sekolah
untuk menerapkan Mata Pelajaran Muatan Lokal. Pengembangan Standar
Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata pelajaran Muatan Lokal
bukanlah pekerjaan yang mudah, karena harus dipersiapkan berbagai hal
untuk dapat mengembangkan Mata Pelajaran Muatan Lokal
Langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi keadaan dan kebutuhan daerah

Kegiatan ini dilakukan untuk menelaah dan mendata berbagai keadaan
dan kebutuhan daerah yang bersangkutan. Data tersebut dapat diperoleh
dari berbagai pihak yang terkait di daerah yang bersangkutan seperti
Pemda/Bappeda, Instansi vertikal terkait, Perguruan Tinggi, dan dunia
usaha/industri.

63

Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Atas (SMA/SMK/MA/MAK)

Keadaan daerah seperti telah disebutkan di atas dapat ditinjau dari potensi
daerah yang bersangkutan yang meliputi aspek sosial, ekonomi, budaya,
dan kekayaan alam.
Kebutuhan daerah dapat diketahui antara lain dari:

1) Rencana pembangunan daerah bersangkutan termasuk
prioritas pembangunan daerah, baik pembangunan jangka pendek,
pembangunan jangka panjang, maupun pembangunan berkelanjutan
(sustainable development);

2) Pengembangan ketenagakerjaan termasuk jenis kemampuan-
kemampuan dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan;

3) Aspirasi masyarakat mengenai pelestarian alam dan pengembangan
daerahnya, serta konservasi alam dan pemberdayaannya

b. Menentukan fungsi dan susunan atau komposisi muatan lokal
Berdasarkan kajian dari beberapa sumber seperti di atas dapat
diperoleh berbagai jenis kebutuhan. Berbagai jenis kebutuhan ini
dapat mencerminkan fungsi muatan lokal di daerah, antara lain untuk
memahami dan mangantisipasi bencana yang terjadi, pelestarian alam
dan pengembangan daerah, serta konservasi alam dan pemberdyaannya.

c. Menentukan bahan kajian muatan lokal
Kegiatan ini pada dasarnya untuk mendata dan mengkaji berbagai
kemungkinan muatan lokal yang dapat diangkat sebagai bahan kajian
sesuai dengan dengan keadaan dan kebutuhan sekolah. Penentuan bahan
kajian muatan lokal didasarkan pada kriteria berikut:

1) Kesesuaian dengan tingkat perkembangan peserta didik;
2) Kemampuan guru dan ketersediaan tenaga pendidik yang diperlukan;
3) Tersedianya sarana dan prasarana
4) Tidak bertentangan dengan agama dan nilai luhur bangsa
5) Tidak menimbulkan kerawanan sosial dan keamanan
6) Kelayakan berkaitan dengan pelaksanaan di sekolah;
7) Lain-lain yang dapat dikembangkan sendiri sesuai dengan kondisi dan

situasi daerah.

d. Mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar serta
silabus, dengan mengacu pada Standar Isi yang ditetapkan oleh
BSNP.
1) Pengembangan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar adalah
langkah awal dalam membuat mata pelajaran muatan lokal agar
dapat dilaksanakan di sekolah. Adapun langkah-langkah dalam
mengembangkan standar kompetensi dan kompetensi dasar adalah
sebagai berikut:
a) Pengembangan Standar Kompetensi
Standar kompetensi adalah menentukan kompetensi yang didasarkan
pada materi sebagai basis pengetahuan.

64

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMA/SMK/MA/MAK

b) Pengembangan Kompetensi Dasar
Kompetensi dasar merupakan kompetensi yang harus dikuasai siswa.

Penentuan ini dilakukan dengan melibatkan guru, ahli bidang kajian,
ahli dari instansi lain yang sesuai.
Di bawah ini merupakan Contoh SK dan KD Muatan Lokal Pendidikan PRB
Gempa Bumi sebagai mata pelajaran muatan lokal (MULOK):

65

Tabel 5.4 Analisis Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk Mata Pelajaran
Muatan Lokal Pengurangan Risiko Gempa Bumi

$POUPI 4, EBO ,% .VBUBO -PLBM 1FOEJEJLBO 13# (FNQB #VNJ

STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR INDIKATOR PERILAKU SISWA

.FNBIBNJ QFSJTUJXB EBO EBFSBI EBFSBI ZBOH .FNBIBNJ QFSJTUJXB HFNQB CVNJ UFLUPOJL t .FOHFUBIVJ TUSVLUVS MBQJTBO CVNJ
SBXBO HFNQB CVNJ t .FOHFUBIVJ EJOBNJLB QFSHFSBLBO MFNQFOH CVNJ
t .FOHFUBIVJ QSPTFT UFSKBEJ HFNQB CVNJ UFLUPOJL
t .FOHFUBIVJ [POB [POB HFNQB CVNJ UFLUPOJL
t .FOHFUBIVJ UFNQBU UFNQBU EJ *OEPOFTJB ZBOH SBXBO UFSKBEJ
gempa bumi tektonik

.FNBIBNJ QFSJTUJXB HFNQB CVNJ WVMLBOJL t .FOHFUBIVJ EJOBNJLB HVOVOH NFSBQJ
t .FOHFUBIVJ QSPTFT UFSKBEJOZB HFNQB CVNJ WVMLBOJL
t .FOHFUBIVJ LBXBTBO ring of re
t .FOHFUBIVJ UFNQBU UFNQBU EJ *OEPOFTJB ZBOH SBXBO HFNQB
CVNJ WVMLBOJL

Dapat memperkirakan ukuran kekuatan gempa .FNBIBNJ VLVSBO LFLVBUBO HFNQB EBO UBOEB UBOEB ZBOH t .FOHFUBIVJ LFLVBUBO HFNQB EFOHBO VLVSBO 43
NFMBMVJ HFKBMB HFKBMB ZBOH UFSKBEJ EBO SJTJLP ditimbulkannya t .FOHFUBIVJ LFLVBUBO HFNQB NFMBMVJ JOUFOTJUBT HFNQB
bahaya yang ditimbulkannya t .FOHFUBIVJ SFTJLPSJTJLP CBIBZB CJMB HFNQB EFOHBO LFLVBUBO
2. Memahami ukuran kekuatan gempa dan risiko bahaya yang UFSUFOUV UFSKBEJ
ditimbulkannya t .FOHFUBIVJ UJOEBLBO UJOEBLBO ZBOH UFQBU TFUFMBI UFSKBEJ

gempa

Memahami hubungan bencana dengan 1. Memahami kapasitas dan kerentanan dalam menghadapi t .FOHFUBIVJ LFLVBUBO HFNQB EFOHBO VLVSBO 43
kekuatan gempa dan kapasitas/kerentanan bahaya gempa t .FOHFUBIVJ LFLVBUBO HFNQB NFMBMVJ JOUFOTJUBT HFNQB

2. Mengetahui hubungan antara bencana dengan kekuatan t .FOHFUBIVJ SJTJLP CBIBZB CJMB HFNQB EFOHBO LFLVBUBO
gempa dan kapasitas/ kerentanan UFSUFOUV UFSKBEJ
t .FOHFUBIVJ UJOEBLBO UJOEBLBO ZBOH UFQBU TFUFMBI UFSKBEJ
gempa

STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR INDIKATOR PERILAKU SISWA

Memahami dan melakukan antisipasi tindakan 1. Melakukan tindakan-tindakan antisipatif untuk mengurangi t .FOHFUBIVJ SJTJLP CBIBZB ZBOH EJUJNCVMLBO PMFI TVBUV
untuk mengurangi risiko bahaya yang ditim- risiko bahaya yang diakibatkan oleh gempa. guncangan
bulkan oleh gempa. t .FMBLVLBO UJOEBLBO UJOEBLBO BOUJTJQBUJG EJ TFLPMBI EBO EJ
rumah untuk mengurangi risiko bahaya yang ditimbulkan
2. Memahami tindakan-tindakan yang tepat pada saat terjadi oleh gempa
gempa bumi t .FNCBOHVO TJTUFN QFSJOHBUBO EJOJ
t .FOHFUBIVJ UJOEBLBO UJOEBLBO ZBOH UFQBU LFUJLB CFSBEB
3. Memahami tindakan-tindakan yang perlu dilakukan setelah di dalam ruangan/ gedung bertingkat dan gempa bumi
gempa terjadi. terjadi
t .FOHFUBIVJ UJOEBLBO UJOEBLBO ZBOH UFQBU LFUJLB CFSBEB
4. Memahami tindakan-tindakan yang tepat ketika bencana di luar ruangan atau area terbuka dan gempa bumi terjadi
gempa terjadi t .FOHFUBIVJ UJOEBLBO UJOEBLBO ZBOH UFQBU LFUJLB CFSBEB
di dalam kenderaan
t .FOHFUBIVJ DBSB NFNFSJLTB QFSBMBUBO ZBOH NFOHHVOBLBO
arus listrik untuk antisipasi terjadi sambungan arus singkat
(korsleting)
t .FOHFUBIVJ NFNFSJLTB EBQVS VOUVL BOUJTJQBTJ CBIBZB
kebocoran gas
t .FOHFUBIVJ NFNFSJLTB UFNQBU QFOZJNQBOBO [BU [BU
berbahaya untuk antisipasi bahaya yang ditimbulkannya.
t .FOHFUBIVJ DBSB QFOZFMBNBUBO EBO FWBLVBTJ LPSCBO
t .FOHFUBIVJ DBSB NFNCBOUV LPSCBO CFODBOB HFNQB CVNJ
t .FOHFUBIVJ DBSB NFNCFSJLBO QFSUPMPOHBO QFSUBNB EBMBN
kecelakaan.
t .FOHFUBIVJ UJOEBLBO UJOEBLBO USBVNB IFBMJOH
(khusus untuk guru).

Contoh Silabus Muatan Lokal Pendidikan PRB Gempa Bumi
Tabel 5.5 Contoh Pengembangan Silabus Muatan Lokal Pengurangan Risiko Gempa

STANDAR KOMPETENSI MATERI KEGIATAN PEMBELAJARAN INDIKATOR PENILAIAN ALOKASI SUMBER/
KOMPETENSI DASAR POKOK (5) (6) WAKTU BAHAN
(2)
(1) (3) (4) t .FOHFUBIVJ TUSVLUVS 1FOJMBJBO QSPKFDU (7) (8)
Memahami peristiwa 2. Memahami lapisan bumi +BN 1FMBKBSBO Buku Internet
dan daerah-daerah peristiwa Gempa bumi t 1FNCBIBTBO UFOUBOH TUSVLUVS t .FOHFUBIVJ EJOBNJLB 1FOJMBJBO QSPKFDU
yang rawan gempa gempa bumi tektonik bumi pergerakan lempeng bumi
bumi tektonik t 1FNCBIBTBO UFOUBOH JNQMJLBTJ t .FOHFUBIVJ QSPTFT UFSKBEJ
perbedaan panas antar gempa bumi tektonik
2. Memahami nlapisan-lapisan bumi t .FOHFUBIVJ [POB [POB
peristiwa t 1FNCBIBTBO QSPTFT UFSKBEJ gempa bumi tektonik
gempa bumi gempa bumi tektonik t .FOHFUBIVJ UFNQBU UFNQBU
vulkanik t 1FNCBIBTBO GFOPNFOB BMBN di Indonesia yang rawan
di zona-zona gempa UFSKBEJ HFNQB CVNJ UFLUPOJL
t 1FNCBIBTBO EBFSBI EBFSBI
di Indonesia yang rawan t .FOHFUBIVJ EJOBNJLB
gempa bumi tektonik gunung merapi
t .FOHFUBIVJ QSPTFT
Gempa bumi t 1FNCBIBTBO EJOBNJLB UFSKBEJOZB HFNQB CVNJ
vulkanik gunung berapi vulkanik
t 1FNCBIBTBO QSPTFT UFSKBEJOZB t .FOHFUBIVJ LBXBTBO
gempa bumi vulkanik ring of re
t 1FNCBIBTBO GFOPNFOB BMBN t .FOHFUBIVJ UFNQBU UFNQBU
EJ LBXBTBO SJOH PG öSF di Indonesia yang rawan
t 1FNCBIBTBO EBFSBI EBFSBI gempa bumi vulkanik
di Indonesia yang rawan t .FOHFUBIVJ LFLVBUBO HFNQB
gempa bumi vulkanik dengan ukuran SR
t .FOHFUBIVJ LFLVBUBO HFNQB
Dapat mem- 1. Memahami Ukuran t 1FNCBIBTBO LFLVBUBO HFNQB melalui intensitas gempa +BN 1FMBKBSBO
perkirakan ukuran ukuran kekuatan kekuatan dengan ukuran SR
kekuatan gempa gempa dan gempa t 1FNCBIBTBO LFLVBUBO HFNQB
melalui gejala-gejala tanda-tanda yang dengan ukuran intensitas
yang terjadi dan ditimbul-kannya
risiko bahaya yg
ditimbulkannya

2. Memahami Ukuran t .FNCBIBT SJTJLP CBIBZB CJMB t .FOHFUBIVJ SJTJLP CBIBZB
ukuran kekuatan kekuatan gempa dengan kekuatan bila gempa dengan kekuatan
gempa dan risiko gempa UFSUFOUV UFSKBEJ UFSUFOUV UFSKBEJ
bahaya yang t .FNCBIBT UJOEBLBO UJOEBLBO t .FOHFUBIVJ UJOEBLBO
ditimbulkannya ZBOH UFQBU TFUFMBI UFSKBEJ HFNQB tindakan yang tepat setelah
untuk antisipasi gempa susulan UFSKBEJ HFNQB
BUBV LFKBEJBO BMBN ZBOH
disebabkan oleh gempa.

STANDAR KOMPETENSI MATERI KEGIATAN PEMBELAJARAN INDIKATOR PENILAIAN ALOKASI SUMBER/
KOMPETENSI DASAR POKOK WAKTU BAHAN
(2) (4) (5) (6)
(1) (3) 1FOJMBJBO QSPKFDU (7) (8)
4 Jam Pelajaran
t .FNCBIBT UFNQBU UFNQBU ZBOH t .FOHFUBIVJ LFLVBUBO HFNQB
tidak aman di luar ruangan atau dengan ukuran SR
area terbuka ketika gempa terjadi t .FOHFUBIVJ LFLVBUBO HFNQB
t .FMBLVLBO TJNVMBTJ UJOEBLBO melalui intensitas gempa
yang tepat dilakukan ketika
di lapangan sekolah dan
gempa terjadi
t .FNCBIBT UFNQBU UFNQBU ZBOH
aman area terbuka ketika
gempa terjadi
t .FNCBIBT UFNQBU UFNQBU ZBOH
tidak aman area terbuka ketika
gempa terjadi
t .FNCBIBT UJOEBLBO ZBOH UFQBU
dilakukan ketika berada
di kenderaan dan gempa terjadi

3. Memahami Tindakan- t .FNCBIBT DBSB QFNFSJLTBBBO t .FOHFUBIVJ DBSB NFNFSJLTB
tindakan-tindakan tindakan peralatan yang menggunakan peralatan yang menggunakan
yang perlu antisipatif arus listrik arus listrik untuk antisipasi
dilakukan setelah untuk t .FNCBIBT DBSB NFNFSJLTB EBQVS terjadi sambungan arus
gempa terjadi. mengurangi t .FNCBIBT DBSB NFNFSJLTB singkat (korsleting)
risiko bahaya tempat penyimpanan zat-zat t .FOHFUBIVJ NFNFSJLTB
yang dapur untuk antisipasi bahaya
diakibatkan LFCPDPSBO HBT
oleh gempa. t .FOHFUBIVJ NFNFSJLTB
tempat penyimpanan zat-zat
berbahaya untuk antisipasi
bahaya yang ditimbulkannya.

4. Memahami Tindakan- t .FNCBIBT UJOEBLBO t .FOHFUBIVJ DBSB
tindakan-tindakan tindakan penyelamatan dan penyelamatan dan
yang tepat ketika antisipatif evakuasi korban evakuasi korban
CFODBOB HFNQB untuk t .FNCBIBT LPOEJTJ öTJL
t .FOHFUBIVJ DBSB NFNCBOUV
terjadi mengurangi LFTFIBUBO
EBO LFSFOUBOBO LPSCBO CFODBOB HFNQB CVNJ
risiko bahaya korban gempa dan tindakan- t .FOHFUBIVJ DBSB
yang tindakan yang diperlukan memberikan pertolongan
diakibatkan t .FNCBIBT LPOEJTJ QTJLPMPHJT QFSUBNB EBMBN LFDFMBLBBO
oleh gempa. dan kerentanan korban. t .FOHFUBIVJ UJOEBLBO
t .FNCBIBT UJOEBLBO UJOEBLBO tindakan trauma healing.
trauma healing.
t .FNCBIBT LFCVUVIBO LPSCBO
gempa dan tindakan-tindakan
yang diperlukan
t .FNCBIBT DBSB NFNCFSJLBO
pertolongan pertama dalam
LFDFMBLBBO

STANDAR KOMPETENSI MATERI KEGIATAN PEMBELAJARAN INDIKATOR PENILAIAN ALOKASI SUMBER/
KOMPETENSI DASAR POKOK (6) WAKTU BAHAN
(4) (5)
(1) (2) (3) t 1FNCBIBTBO LFLVBUBO HFNQB t .FOHFUBIVJ LFLVBUBO HFNQB 1FOJMBJBO QSPKFDU (7) (8)
Memahami dengan ukuran SR dengan ukuran SR +BN 1FMBKBSBO
hubungan bencana 1. Memahami Kapasitas/ t 1FNCBIBTBO LFLVBUBO HFNQB t .FOHFUBIVJ LFLVBUBO HFNQB 1FOJMBJBO LJOFSKB
dengan kekuatan hubungan kerentanan dengan ukuran intensitas melalui intensitas gempa +BN 1FMBKBSBO
gempa dan bencana dengan
kapasitas/ kekuatan gempa
kerentanan dan kapasitas/
kerentanan
Memahami dan me-
lakukan antisipasi 2. Mengetahui Hubungan t .FNCBIBT SJTJLP CBIBZB CJMB t .FOHFUBIVJ SJTJLP CBIBZB
tindakan untuk hubungan bencana gempa dengan kekuatan tertentu bila gempa dengan kekuatan
mengurangi risiko antara bencana dengan terjadi tertentu terjadi
bahaya yang dengan kekuatan kekuatan t .FNCBIBT UJOEBLBO UJOEBLBO t .FOHFUBIVJ UJOEBLBO
ditimbulkan gempa dan gempa dan yang tepat setelah terjadi gempa tindakan yang tepat setelah
oleh gempa. kapasitas/ kapasitas/ untuk antisipasi gempa susulan terjadi gempa
kerentanan kerentanan atau kejadian alam yang
disebabkan oleh gempa.

1. Melakukan Tindakan- t .FNCBIBT SJTJLP CBIBZB ZBOH t .FOHFUBIVJ SJTJLP CBIBZB
tindakan-tindakan tindakan ditimbulkan oleh suatu yang ditimbulkan oleh suatu
antisipatif untuk antisipatif guncangan. guncangan
mengurangi risiko untuk t .FMBLVLBO UJOEBLBO BOUJTJQBUJG t .FMBLVLBO UJOEBLBO
bahaya yang mengurangi di sekolah untuk mengurangi tindakan antisipatif di sekolah
diakibatkan risiko bahaya risiko bahaya yang ditimbulkan dan di rumah untuk
oleh gempa. yang oleh gempa. mengurangi risiko bahaya
diakibatkan t .FNCBIBT LFTJBQTJBHBBO EBMBN yang ditimbulkan oleh gempa
oleh gempa. menghadapi gempa. t .FNCBOHVO TJTUFN
peringatan dini

2. Memahami Tindakan- t .FNCBIBT UFNQBU UFNQBU ZBOH t .FOHFUBIVJ UJOEBLBO
Tindakan tindakan tindakan aman untuk berlindung tindakan yang tepat ketika
yang tepat pada antisipatif di didalam ruangan sekolah/ berada di dalam ruangan/
saat terjadi untuk gedung bertingkat ketika gedung bertingkat dan
gempa bumi mengurangi gempa terjadi. gempa bumi terjadi
risiko bahaya t .FMBLVLBO TJNVMBTJ UJOEBLBO t .FOHFUBIVJ UJOEBLBO
yang yang tepat dilakukan ketika tindakan yang tepat ketika
diakibatkan berada dalam ruangan kelas dan berada di luar ruangan atau
oleh gempa. gempa terjadi. area terbuka dan gempa
t .FNCBIBT UFNQBU UFNQBU ZBOH bumi terjadi
aman di luar ruangan atau area t .FOHFUBIVJ UJOEBLBO
terbuka ketika gempa terjadi. tindakan yang tepat ketika
berada di dalam kenderaan

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMA/SMK/MA/MAK

5.3. Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana Pada Kegiatan
Pengembangan Diri
Pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran
sebagai bagian integral dari kurikulum sekolah/madrasah. Kegiatan
pengembangan diri merupakan upaya pembentukan watak dan kepribadian
peserta didik yang dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling
berkenaan dengan masalah pribadi dan kehidupan sosial, kegiatan belajar,
dan pengembangan karir, serta kegiatan ekstra kurikuler. Di samping itu,
untuk satuan pendidikan kejuruan, kegiatan pengembangan diri, khususnya
pelayanan konseling ditujukan guna pengembangan kreativitas dan
karir. Untuk satuan pendidikan khusus, pelayanan konseling menekankan
peningkatan kecakapan hidup sesuai dengan kebutuhan khusus peserta
didik.
Kegiatan pengembangan diri berupa pelayanan konseling difasilitasi/
dilaksanakan oleh konselor, dan kegiatan ekstrakurikuler dapat dibina oleh
konselor, guru dan atau tenaga kependidikan lain sesuai dengan kemampuan
dan kewenangnya. Pengembangan diri yang dilakukan dalam bentuk kegiatan
pelayanan konseling dan kegiatan ekstrakurikuler dapat megembangankan
kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.
Pengembangan diri meliputi kegiatan terprogram dan tidak terprogram.
Kegiatan terprogram direncanakan secara khusus dan diikuti oleh peserta didik
sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pribadinya. Kegitan tidak terprogram
dilaksanakan secara lansung oleh pendidik dan tenaga kependidikan di
sekolah/madrasah yang diikuti oleh semua peserta didik.
Kegiatan terprogram terdiri atas dua komponen, yaitu pelayanan konseling,
meliputi pengembangan kehidupan pribadi, kemampuan sosial, kemampuan
belajar, wawasan dan perencanaan karir. Sedangkan ekstrakurikuler, meliputi
kegiatan kepramukaan, latihan kepemimpinan, ilmiah remaja, palang merah
remaja, seni, olahraga, cinta alam, jurnalistik, teater, keagamaan.
Contoh Pengintegrasian Kegiatan Ekstra Kurikuler
1. Analisis kegiatan ekstrakurikuler yang mengitegrasikan Pendidikan PRB
Dalam analisis ini, diidentifikasi kegiatan ekstra kurikuler di SMA/SMK/
MA/MAK yang dapat diintegrasikan dalam pendidikan pengurangan
risiko bencana. Misalnya, ditetapkan kegiatan Pramuka, karena kegiatan
Pramuka dapat diupayakan kegiatan terprogram, terutama agar siswa
mapu mengidentifikasi lingkungan sekitar dan dibiasakan secara rutin
simulasi penyelamatan diri.
2. Menyusun program kegiatan ekstrakurikuler yang mengintegrasikan
pendidikan PRB.
Setelah diteapkan kegiatan Pramuka dapat diintegrasikan dalam pendidikan
pengurangan risiko bencana gempa bumi, selanjutnya pembina kegiatan
Pramuka menyusun program dengan mengacu pada indikator perlaku
siswa untuk pendidikan pengurangan risiko bencana gempa bumi. Format
program kegiatan ekstrakurikuler dapat dilihat seperti berikut:

71

Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa BumiTabel 5. 6 Format Integrasi PRB ke dalam Kegiatan Ekstrakurikuler
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Atas (SMA/SMK/MA/MAK)
Jenis Kegiatan:
Bulan :72

NO WAKTU SASARAN RANGKAIAN TEMPAT PERALATAN YANG PELAKSANA PENGORGANISASIAN
KEGIATAN KEGIATAN KEGIATAN DIGUNAKAN KEGIATAN

Mengetahui, Jakarta,
Kepala Sekolah Penanggung jawab Kegiatan

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMA/SMK/MA/MAK5BCFM 1FOZVTVOBO 4JMBCVT *OUFHSBTJ 13# VOUVL 1SBNVLB

73MATERI KEGIATAN TUJUAN KEGIATAN METODE PROSES KEGIATAN/BELAJAR ALOKASI ALAT DAN BAHAN SUMBER/BAHAN
KEGIATAN WAKTU KEGIATAN BELAJAR
(13) /BELAJAR
Mengevakuasi korban
yang luka dalam Membantu korban yang simulasi t 1FOKFMBTBO JOUFSBLUJG
UFOUBOH DBSB 1 kali pertemuan 5BOEV EBO BMBU CBIBO $BSB DBSB NFNCVBUB EBO
peristiwa gempa bumi tidak dapat berjalan membuat atau menggunakan tandu yang diperlukan lainnya menggunakan tandu
untuk sampai ke tempat t 1FSBHBBO NFOHHVOBLBO UBOEV
penampungan sementara t -BUJIBO NFOHHVOBLBO UBOEV

Daftar Istilah

74

Tabel 5. 8 Penyusunan Silabus Integrasi PRB untuk PMR

MATERI KEGIATAN TUJUAN KEGIATAN METODE PROSES KEGIATAN/BELAJAR ALOKASI ALAT DAN BAHAN SUMBER/BAHAN
KEGIATAN WAKTU KEGIATAN BELAJAR
(13) /BELAJAR 2 kali pertemuan
Pertolongan pertama "MBU EBO CBIBO ZBOH 1FUVOKVL NFMBLVLBO
dalam kecelakaan Membantu korban yang simulasi t 1FOKFMBTBO JOUFSBLUJG
UFOUBOH diperlukan untuk pertolongan pertama
gema bumi. mengalami kecelakaan kecelakaan dan peragaan cara pertolongan pertama dalam kecelakaan
dalam peristiwa gempa melakukan pertolongan pertama. pada kecelakaan
bumi t -BUJIBO NFMBLVLBO QFSUPMPOHBO
pertama dalam kecelakaan

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMA/SMK/MA/MAK

DAFTAR ISTILAH

Pengurangan Risiko Bencana
Pengurangan risiko bencana adalah konsep dan praktik mengurangi risiko bencana
melalui upaya sistematis untuk menganalisa dan mengelola faktor-faktor penyebab
dari bencana termasuk dengan dikuranginya paparan terhadap ancaman,
penurunan kerentanan manusia dan properti, pengelolaan lahan dan lingkungan
yang bijaksana, serta meningkatkan kesiapsiagaanan terhadap kejadian yang
merugikan.
Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat dan Negara.
Pengarusutamaan PRB
Proses dimana pertimbangan-pertimbangan pengurangan risiko bencana
dikedepankan oleh organisasi/individu yang terlibat di dalam pengambilan
keputusan dalam pembangunan ekonomi, fisik, politik, sosial-budaya suatu negara
pada level nasional, wilayah daerah dan/atau lokal; serta proses-proses dimana
pengurangan risiko bencana dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan
tersebut.
Pendidikan Siaga Bencana
Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kecakapan hidup dalam mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian
dan langkah-langkah yang tepat guna dan berdaya guna.
Komite Sekolah
Organisasi mandiri yang dibentuk dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan,
dan efisiensi pengelolaan pendidikan di satuan pendidikan. Ia menjadi ruang bagi
orangtua, masyarakat, dan pihak sekolah menyampaikan aspirasi dan merumuskan
kebijakan bagi peningkatan pendidikan di sekolah. Ia merupakan badan independen
yang tidak memiliki hubungan hirarkis dengan Kepala Sekolah. Ia menjadi mitra
kepala sekolah dalam menjalankan peran dan fungsinya dalam memajukan
sekolah.
KTSP
Kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan
pendidikan. Sekolah dan kepala sekolah mengembangkan KTSP dan silabus
berdasarkan a). Kerangka dasar kurikulum, b). Standar kompetensi, dibawah
supervisi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Provinsi.
Kurikulum
Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahanpelajaran serta
cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran
untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

75

Daftar Istilah

Ekstra kurikuler
adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk
membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat
dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh
pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan
di sekolah/madrasah.
Standar Kompetensi
ukuran kompetensi minimal yang harus dicapai peserta didik setelah mengikuti
suatuproses pembelajaran pada satuan pendidikan tertentu.
Kompetensi
kemampuan bersikap, berpikir, dan bertindak secara konsisten sebagai
perwujudan dari pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki peserta didik.

Standar Nasional Pendidikan
Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan
di seluruh wilayah hukum NKRI. Lingkup standar nasional pendidikan meliputi: a.
standar isi, b. standar proses, c. standar kompetensi lulusan, d. standar pendidik dan
tenaga kependidikan, e. standar sarana dan prasarana, f. standar pengelolaan, g.
standar pembiayaan, h. standar penilaian pendidikan.
Sumber/bahan belajar
adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran.
Sumber belajar dapat berupa media cetak dan elektronik, nara sumber, serta
lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.
Standar isi
adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam
kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata
pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada
jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Standar proses
adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan
pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi
lulusan.
Standar kompetensi lulusan
adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan
keterampilan.
Standar pendidik dan tenaga kependidikan
adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta
pendidikan dalam jabatan.
Standar sarana dan prasarana
adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang
ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium,
bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber

76

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMA/SMK/MA/MAK

belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk
penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.
Standar pengelolaan
adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan,
pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan,
kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas
penyelenggaraan pendidikan.
Standar pembiayaan
adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan
pendidikan yang berlaku selama satu tahun; dan
Standar penilaian pendidikan
adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur,
dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik.
Bencana
adalah suatu peristiwa yang disebabkan oleh alam atau ulah manusia, yang
dapat terjadi secara tibatiba atau perlahan-lahan, yang menyebabkan hilangnya
jiwa manusia, kerusakan harta benda dan lingkungan, di mana masyarakat
setempat dengan segala kemampuan dan sumberdayanya tidak mampu untuk
menanggulanginya.
Bahaya
adalah situasi, kondisi, atau karakteristik biologis, geografis, sosial, ekonomi, politik,
budaya dan teknologi suatu masyarakat di suatu wilayah untuk jangka waktu
tertentu yang berpotensi menimbulkan korban dan kerusakan.
Kerentanan
adalah tingkat kekurangan kemampuan suatu masyarakat untuk mencegah,
menjinakkan, mencapai kesiapan, dan menanggapi dampak bahaya tertentu.
Kerentanan dapat berupa kerentanan fisik, ekonomi, sosial dan tabiat, yang dapat
ditimbulkan oleh beragam penyebab.
Kemampuan
adalah penguasaan sumberdaya, cara, dan kekuatan yang dimiliki masyarakat,
yang memungkinkan mereka untuk, mempersiapkan diri, mencegah, menjinakkan,
menanggulangi, mempertahankan diri serta dengan cepat memulihkan diri dari
akibat bencana.
Risiko
adalah kemungkinan timbulnya kerugian pada suatu wilayah dan kurun waktu
tertentu yang timbul karena suatu bahaya menjadi bencana. Risiko dapat berupa
kematian, luka, sakit, hilang, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi,
kerusakan atau kehilangan harta dan gangguan kegiatan masyarakat.
Pencegahan
adalah upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya bencana dan jika mungkin
dengan meniadakan bahaya.

77

Daftar Pustaka

Mitigasi
adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak bencana, baik secara
fisik struktural melalui pembuatan bangunan-bangunan fisik, maupun non fisik-
struktural melalui perundang-undangan dan pelatihan.
Kesiapsiagaan
adalah upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana, melalui
pengorganisasian langkah-langkah yang tepat guna dan berdaya guna.
Peringatan Dini
adalah upaya untuk memberikan tanda peringatan bahwa bencana kemungkinan
akan segera terjadi, yang menjangkau masyarakat, segera, tegas tidak
membingungkan, resmi.
Tanggap Darurat
adalah upaya yang dilakukan segera pada saat kejadian bencana, untuk
menanggulangi dampak yang ditimbulkan, terutama berupa penyelamatan korban
dan harta benda, evakuasi dan pengungsian.
Bantuan Darurat
merupakan upaya untuk memberikan bantuan berkaitan dengan pemenuhan
kebutuhan dasar berupa pangan, sandang, tempat tinggal sementara, perlindungan,
kesehatan, sanitasi dan air bersih.
Pemulihan
adalah proses pengembalian kondisi masyarakat yang terkena bencana, dengan
memfungsikan kembali sarana dan prasarana pada keadaan semula dengan
melakukan upaya memperbaiki prasarana dan pelayanan dasar (jalan, listrik, air
bersih, pasar, puskesmas, dll).
Rehabilitasi
adalah upaya langkah yang dilakukan setelah kejadian bencana untuk membantu
masyarakat memperbaiki rumahnya, fasilitas umum dan fasilitas sosial penting, dan
menghidupkan kembali roda perekonomian.
Rekonstruksi
adalah program jangka menengah dan jangka panjang guna perbaikan fisik, sosial
dan ekonomi untuk mengembalikan kehidupan masyarakat pada kondisi yang
sama atau lebih baik dari sebelumnya.
Penanggulangan Bencana
adalah seluruh kegiatan yang meliputi aspek perencanaan dan penanggulangan
bencana, pada sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana, mencakup tanggap
darurat, pemulihan, pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan.

78

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMA/SMK/MA/MAK

DAFTAR PUSTAKA

Carolus Prasetya, dkk, Gempa Yogya dan Dinamika Palung Jawa, Yogyakarta: Pusat
Studi Bencana UPN Veteran Yogyakarta, 2007.
Diposaptotomo, Subandono, dkk, Menyiasati Perubahan Iklim di Wilayah Pesisir
dan Pulau-pulau Kecil, Bogor: Buku Ilmah Populer, 2009.
Diposaptotomo, Subandono, dkk, Hidup Akrab dengan Gempa dan Tsunami, Bogor:
Buku Ilmah Populer, 2008.
ET Paripurno, Gempa dan Tsunami, Yogyakarta: Pusat Studi Bencana UPN Veteran
Yogyakarta, 2007.
Hidayati, Sri, Kesiapsiagaan Msyarakat Menghadapi Bencana Gempa Bumi dan
Tsunami, Jakarta: Prosiding, 2009.
Muktaf Hanafi, Akhmad, Manajemen Resiko Bencana Gempa Bumi (Studi Kasus
Gempa Bumi Yogyakarta 27 Mei 2006), Jakarta: Batan, 2008.
SC-DRR/UNDP, Jakarta: Draf Nol Strategi Nasional Pengarusutamaan Pengurangan
Resiko Bencana
Teguh Peripurno, Eko, Modul Majemen Bencana Pengenalan Gempa Untuk
Penanggulangan Bencana, Yogyakarta: Pusat Studi Bencana UPN Veteran
Yogyakarta, 2007.
UN/ISDR, Terminology on Disaster Risk Reduction, 2009
UNESCO, Natural Disaster Preparedness and Education for Sustainable
Development, Bangkok: 2007.
UNESCO, Siap Menghadapi Bencana, Jakarta: DEPDIKNAS, 2007
Badan Meteorologi dan Geofisika, http://rekapuspa.wordpress.com/2009/10/08/
antisipasi-gempa-bumi/, November 2009.
Keuntungan dan Pengaruh Posisi Letak Geografis dan Geologi Indonesia, http://
bimly-se.blogspot.com/2009/08/keuntungan-dan-pengaruh-posisi-dan.html,
November 2009
Antisipasi Gempa Bumi http://rekapuspa.wordpress.com/2009/10/08/antisipasi-
gempa-bumi/
Fauzi, Keuntungan Dan Pengaruh Posisi Dan Letak Geografis Indonesia, http://
bimly-se.blogspot.com/2009/08/keuntungan-dan-pengaruh-posisi-dan.html
http://www.reindo.co.id/Gempa/Reference/Indore.htm
Kertapati, E. K., ”Aktivitas Gempabumi di Indonesia, Pusat Penelitian dan
Pengembangan Geologi”, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian
Energi dan Sumber Daya Mineral, Januari 2004.

79

Daftar Pustaka

Nugroho, Imam, Penyebaran Gempa Bumi Hubungannya denganTektonik Lempeng
Jogjakarta: Perpustakaan Geologi UGM, 2008.
Priyono, Juniawan - KPJ’94 (2007). Pengurangan Resiko Bencana Dimulai dari
Sekolah http://sutikno.org/index.php?option=com_content&task=view&id=37&It
emid=49

80


Click to View FlipBook Version