The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by permadhi, 2019-12-28 00:34:42

Atlas Budaya Indonesia Candi

Atlas Budaya Indonesia Candi

Candi Plaosan Lor

berbaris sebelah timur atau

belakang kedua candi utama,

sedangkan 17 candi lagi

berbaris di depan kedua candi

utama.

Setiap candi utama berdiri

di atas kaki setinggi sekitar

60 cm tanpa selasar yang

mengelilingi tubuhnya.

Tangga menuju pintu

dilengkapi dengan pipi

tangga yang memiliki hiasan

kepala naga di pangkalnya.

Bingkai pintu dihiasi pahatan

bermotif bunga dan sulur-su-

luran. Di atas ambang pintu

terdapat hiasan kepala Kala

tanpa rahang bawah. Sepan-

jang dinding luar tubuh

Candi Plaosan Lor kedua candi utama dihiasi
07044’ 26” LS
110030’ 16” BT Candi Plaosan Lor adalah oleh relief yang menggam-

candi Buddha yang didirikan barkan laki-laki dan perem-

pada masa Mataram kuno. puan yang sedang berdiri

Tidak berbeda dengan Candi dalam ukuran yang

Plaosan Kidul, candi ini mendekati ukuran manusia

Utara dibangun pada awal abad ke- sesungguhnya. Relief pada

Arah hadap candi 9 oleh Raja Rakai Pikatan. dinding candi yang di selatan

Candi ini dibangun dan men- menggambarkan laki-laki,

jadi persembahan Raja Rakai sedangkan pada candi yang di

Pikatan untuk permaisurinya, utara menggambarkan

Pramodhawardani yang perempuan.

memiliki gelar Sri Kahulu- Saat ini, kondisi Candi

nan. Pramodhawardani Plaosan Lor cukup terawat.

sendiri adalah putri dari Raja Usaha untuk membangun

Samarattungga. kembali reruntuhan candi

Komplek Candi Plaosan masih berjalan. Selain itu,

Lor terdiri atas 2 candi utama pemberian informasi pen-

yang dikelilingi oleh pagar dukung dan penjagaan atas

batu. Masing-masing candi lingkungan candi juga cukup

dikelilingi oleh 174 candi per- baik. Wisatawan domestik

wara, yang terdiri atas 58 dan mancanegara juga cukup

candi kecil dengan denah banyak yang berkunjung,

dasar persegi dan 116 bangun khususnya mereka yang ter-

an stupa. Tujuh candi tarik akan situs dan arsitek-

berbaris di masing-masing tur budaya masa lampau.

sisi utara dan selatan setiap

candi utama, 19 candi

Formasi Ruang Candi Plaosan
dan Perwaranya

| |60 Atlas Budaya Indonesia (Edisi Candi) BIG

Candi Plaosan Kidul

Tulisan di batu Candi Plaosan Kidul

Candi Plaosan Kidul Arah hadap candi
07044’ 33” LS
110030’ 16” BT Utara

Komplek Candi Plaosan merupakan Candi Plaosan Kidul
candi Buddha yang didirikan pada
masa Mataram kuno, tepatnya abad | |Atlas Budaya Indonesia (Edisi Candi) BIG 61
ke-9 oleh Raja Rakai Pikatan. Candi
ini merupakan persembahan raja
Rakai Pikatan untuk permaisurinya,
Pramodhawardani.

Candi ini memiliki teras berbentuk
segi empat yang dikelilingi oleh din
ding, tempat bertapa/semedi berupa
gardu yang terletak dibagian barat,
serta stupa disisi lainnya. Candi
Plaosan Kidul juga memiliki pendopo
di bagian tengah yang dikelilingi 8
candi kecil yang terbagi menjadi 2
tingkat dan tiap-tiap tingkat terdiri
dari 4 candi. Pada candi ini terdapat
gambaran Tathagata Amitbha, Vajra-
pani dengan atribut vajra pada utpala
serta Prajnaparamita yang dianggap
sebagai "ibu dari semua Buddha".

Candi Plaosan Kidul

Candi Lumbung

Candi Lumbung Candi Lumbung terletak lebih ku-
07044’ 53” LS rang 300 meter di sebelah utara Candi
110029’ 34” BT Prambanan. Berbeda dengan Candi
Prambanan yang merupakan candi
Candi Lumbung Hindu, Candi Lumbung adalah candi
Buddha. Hal ini diketahui dari bentuk
| |62 Atlas Budaya Indonesia (Edisi Candi) BIG atap candi perwara yang berbentuk
seperti stupa sehingga diperkirakan
atap candi utama yang saat ini telah
runtuh pun berbentuk stupa.
Berdampingannya candi Hindu dan
Buddha memperlihatkan telah adanya
toleransi beragama yang cukup kuat
pada masa itu.

Candi Lumbung diperkirakan
dibangun pada abad ke-9 di masa
Kerajaan Mataram Kuno. Bangunan
candi yang terbuat dari material batu
kali terdiri atas 1 candi utama yang
dikelilingi oleh 16 candi perwara. Selu-
ruh candi perwara menghadap candi
utama. Candi utama memiliki luas
denah dasar 350 m2. Keempat sisi pada
bagian luar candi utama dihiasi oleh
pahatan-pahatan gambar lelaki dan
perempuan. Ukuran pahatan tersebut
hampir sama dengan kenyataan. Selain
pahatan, pada dinding luar di sisi
barat, utara, dan selatan terdapat juga
relung untuk meletakkan arca Dhyani
Buddha dengan jumlah relung 3 buah
pada masing-masing sisi. Namun, saat
ini, relung-relung tersebut kosong.
Gambar pada dinding yang mengapit
pintu masuk adalah Kuwera dan Hari-
ti. Untuk memasuki candi utama, terse-
dia tangga dan pintu masuk yang
terletak di sisi timur.

Kondisi candi saat ini cukup tera-
wat. Meskipun candi utama sudah
tidak utuh lagi dan candi perwara juga
runtuh akibat gempa bumi yang me-
landa Yogyakarta dan sekitarnya pada
Mei 2006, namun usaha untuk mem-
bangun kembali candi-candi tersebut
tetap dilaksanakan. Selain itu, usaha-
usaha pelestarian candi juga dilakukan.
Hal ini dikarenakan candi ini termasuk
salah satu objek yang cukup banyak
dikunjungi oleh wisatawan dan lokasi
candi yang berada satu kompleks de-
ngan Candi Prambanan.

Candi Bubrah Candi Bubrah

Bubrah dalam bahasa Jawa berarti hancur be-
rantakan. Kondisi inilah yang terjadi pada saat
candi ini ditemukan. Meskipun demikian pem-
berian nama bubrah itu sendiri masih kurang
jelas. Apakah karena kondisinya yang hancur
atau memang begitulah namanya.

Candi Bubrah merupakan candi Buddha yang
diperkirakan dibangun pada abad ke-9 di masa
Kerajaan Mataram Kuno. Dilihat dari sisa ba
ngunan, ukuran candi relatif kecil dengan bentuk
persegi panjang, memanjang dari utara ke sela-
tan. Tinggi kaki candi (batur) lebih kurang 2
meter dan sepanjang pelipit atas dihiasi oleh pa-
hatan berpola simetris. Tangga naik ke selasar
terletak disebelah timur.

Dalam kompleks wisata Prambanan, candi ini
terletak lebih kurang 200 meter dari Candi Lum-
bung. Tidak berbeda dengan Candi Lumbung,
candi inipun sepi pengunjung karena para wisa-
tawan banyak terkonsentrasi di Candi Pram-
banan. Kondisi candi yang hanya tinggal
reruntuhan menyurutkan minat pengunjung
untuk dating. Usaha untuk membangun kembali
candi ini pun tidak maksimal karena keter-
batasan referensi sejarah tentang struktur asli
candi ini. Usaha pelestarian lebih terlihat pada
melindungi batu-batuan sisa candi dari pela-
pukan alam.

Candi Bubrah
07044’ 47” LS
110029’ 34” BT

| |Atlas Budaya Indonesia (Edisi Candi) BIG 63

Candi Merak

Candi Merak merupakan candi Hindu Desa Candi, Karangnongko
yang dibangun pada abad VIII-IX Masehi Klaten
pada masa Kerajaan Mataram kuno.
Candi terdiri atas 1 candi induk, 3 candi Candi Merak
perwara. Candi ini memiliki ukuran pan-
jang 8,86 meter, lebar 13,5 meter, dan Kompleks Candi Merak
tinggi 12 meter. Arca yang dapat dite- 07040’ 10” LS
mukan di lokasi ini adalah Yoni, arca 110033’ 12” BT
Ganesha, dan arca Durga Mahisasura-
mardhini. Selain itu juga terdapat Nandi
serta arca dewa-dewa lain dalam agama
Hindu. Nama Merak itu sendiri diduga
terkait banyaknya sarang burung Merak
yang ada ditempat ini.

Candi ini telah mengalami pemugaran
beberapa kali, yaitu pemugaran bagian
kaki dan tubuh dilaksanakan pada tahun
2007 dan 2010 sedangkan pemugaran
bagian atap dilakukan pada tahun 2011.
Pemugaran dilakukan dengan mengganti
batu-batu penyusun candi yang sudah
lapuk atau rusak dengan batu.

Kondisi candi saat ini sangat terawat.
Lingkungan dipercantik dengan taman
dan dijaga oleh petugas juru pelihara.

Candi Merak

| |64 Atlas Budaya Indonesia (Edisi Candi) BIG

Candi Karangnongko

Kompleks Candi Karangnongko
07041’ 48” LS
110034’ 36” BT

Candi Karangnongko ditemukan pada
tahun 1970-an. Dilihat dari posisi candi de
ngan permukaan tanah disekitarnya, candi ini
terkubur lebih kurang 1 meter dibawah per-
mukaan tanah. Berada ditengah persawahan,
candi ini diidentifikasi sebagai candi Hindu
karena ditemukan Lingga pada bagian candi
induk. Selain itu, juga ditemukan reruntuhan
batuan penyusun candi perwara.

Tidak jauh dari candi ini, terdapat sumber
mata air yang oleh penduduk setempat disebut
dengan Sumur Bandung. Pada dasar mata air
ini terdapat susunan-susunan batu yang
menyerupai kolam zaman dulu. Candi inipun
berlokasi tidak jauh dari sungai. Sungai ini di-
identifikasi sebagai sumber mata air penduduk
kala itu.

Saat ini, kondisi candi cukup terawat den-
gan adanya seorang petugas pembersih yang
membersihkan dan memelihara taman diseki-
tar candi. Kontras dengan kondisi itu, usaha
untuk eskavasi tubuh candi lainnya belum
juga dilakukan sehingga masih banyak rahasia
masa lalu yang diduga terubur disana.

Salah satu sudut Candi Karangnongko

| |Atlas Budaya Indonesia (Edisi Candi) BIG 65

Candi Gana

Kompleks Candi Gana Stupa Candi Gana Relief di Candi Gana
Candi Gana
Candi Gana atau disebut juga Candi Asu ter- Candi Sewu
letak disebelah timur kompleks Candi Sewu. Lokasi Candi Gana
Pada awalnya, candi ini disebut Candi Asu.
Dalam bahasa Jawa, Asu berarti anjing. Konon,
banyak anjing yang berkeliaran diwilayah candi
ini pada masa pra pemugaran. Akibatnya, petu-
gas pada masa itu harus membersihkan banyak
kotoran anjing yang berserakan.

Perubahan nama menjadi Candi Gana dise-
babkan banyak ditemukannya hiasan gana yang
menggambarkan orang kerdil. Candi ini juga
memiliki relief-relief unik seperti pola-pola me
lingkar, relief seorang putri yang dilingkari be-
berapa ekor ular, dan relief kaki binatang, kaki
singa atau kaki anjing.

Candi Gana merupakan candi Hindu.
Meskipun demikian, candi ini memiliki karak-
teristik seperti candi Buddha. Hal ini terlihat
dari ditemukannya sisa bangunan berbentuk
stupa yang berada di sudut bangunan candi.

Saat ini, candi masih berada dalam masa pe-
mugaran. Petugas masih mencocokan batu-batu-
an penyusun candi. Selain itu, masih akan
dilaksanakan usaha eskavasi untuk menemukan
bangunan-bangunan candi lainnya. Diperki-
rakan masih ada bangunan candi yang tertimbun
dibawah rumah-rumah penduduk.

| |66 Atlas Budaya Indonesia (Edisi Candi) BIG

Candi Sojiwan

Candi Sojiwan merupakan salah satu candi yang stupa. Bagian puncak candi diberi mahkota stupa

dibangun pada masa Mataram Kuno, yaitu abad yang besar.

VIII – X Masehi, lebih tepatnya antara tahun 842 – Candi ini telah mengalami proses pemugaran

850 M. Candi ini dibangun sebagai bentuk peng- yang dimulai pada tahun 1996 sampai 2006. Untuk

hormatan dari Raja Balitung kepada sang nenek, mengantisipasi kejadian gempa yang tidak terduga,

yang bernama Nini Haji Rakryan Sanjiwana. Candi struktur bangunan candi menggunakan batu an-

ini sendiri merupakan bangunan suci yang harus desit yang diperkuat dengan angkur besi serta ma-

dijaga kelesatriannya oleh warga sekitar karena terial penguat antar batu. Selama proses

Sang Nenek telah berjasa melakukan perbaikan di pemugaran, dilakukan juga kegiatan penelitian

Desa Rukam. Hal ini tersebut dalam Prasasti arkeologis hingga ditemukannya struktur parit ke-

Rukam yang berangka tahun 907 Masehi. liling, struktur pagar halaman I sisi utara dan

Luas kompleks Candi Sojiwan adalah 8.140 m2 timur, struktur pagar halaman II sisi utara, serta

dan hanya ada satu bangunan candi. Dimensi ba struktur candi perwara stupa pada halaman II sisi

ngunan candi adalah 401,3 m2 dengan tinggi 27 utara.

meter. Candi menghadap kearah barat. Pada kaki Lingkungan candi sangat terawat. Lokasi candi

candi ditemukan relief yang berkisah tentang juga cukup banyak diminati oleh wisatawan asing

satwa Jataka. Tubuh candi berukir sulur-sulur dan domestik sehingga diperlukan penjagaan dan

namun dikarenakan banyak batu yang hilang maka perawatan ekstra untuk memelihara keasrian

batu pengganti polos yang dipasang. Didalam ru- lingkungan candi.

angan bilik hanya relung dan singgasana yang

aslinya mungkin menyimpan arca Buddha atau

Boddhisatwa yang kini sudah hilang. Satu arca

Buddha yang telah rusak dan hilang kepalanya

ditemukan di candi ini dan kini tersimpan di pos

penjagaan candi. Atap candi bersusun tingkat tiga.

ana Pada masing-masing tingkat ini terdapat jajaran

Kompleks Candi Sojiwan

Kompleks Candi Sojiwan
07045’ 40” LS
110029’ 45” BT

Desa Kebondalem Kidul, Prambanan

Candi Sojiwan

| |Atlas Budaya Indonesia (Edisi Candi) BIG 67

PETA SEBARAN CANDI KABUPATEN KARANGANYAR

68 | Atlas Budaya Indonesia (Edisi Candi) | BIG 7°27’00”LS Ke Purwodadi 110°50' 111°00' 111°10' 7°27’00”LS

110°44’00”BT U 111°13’00”BT
Bengawan Solo
Kalioso KABUPATEN
SRAGEN
Gondangrejo Ke Sragen Skala 1 : 200.000
0
KABUPATEN 0 24 8 Km
BOYOLALI 12 4 Cm

Kebakkramat

Kebaksambi

Ke Surakarta Kerjo PROPINSI
Mojogedang JAWA TIMUR
KOTA
SURAKARTA Tasikmadu Karangpandan Jenawi
KARANGANYAR Matesih
Ke Surakarta Jaten Ketek 7°35'
Cetho
7°35'

Ngargoyoso

Sukuh G. Lawu
3265

KABUPATEN Tugu
SUKOHARJO

LEGENDA : Ke Magetan
7°45'
Candi Sungai Jumantono Tawangmangu
2329 Gunung Berapi KABUPATEN
Ibukota Kabupaten Jumapolo Jatiyoso WONOGIRI
dan Kota / Tinggi (m) Jatipuro
Ibukota Kecamatan
Kota Lainnya Ketinggian
Jalan Kolektor
Jalan Lokal 0 - 100 m
Jalan Kereta Api 101 - 200 m
Batas Provinsi 201 - 500 m
501 - 1000 m
Batas Kabupaten 1001 - 1500 m
dan Kota 1501 - 2000 m
2001 - 2500 m
> 2501 m

7°45'

110°44’00”BT 111°13’00”BT

7°47’30”LS 110°50' 111°00' 111°10' 7°47’30”LS
































































Click to View FlipBook Version