“Real Museums
are place
where Time is
Transfored
into Space”
Orhan Pamuk
SEKILAS
MUSEUM
PENERANGAN
Mangkok merah merupakan sebuah alat komunikasi
tradisional masyarakat Dayak yang penuh simbolis,
prestisius, dan mistis. Mangkok merah digunakan oleh Suku
Dayak di Kalimantan Barat sebagai sarana penyampaian
pesan agar masyarakat waspada terhadap gangguan
dari suku lain yang akan menghancurkan dan merusak
persatuan dan kesatuan mereka. Disebut mangkok
merah karena mangkok tersebut berisi darah merah,
yang mengandung arti agar masyarakat membela dan
mempertahankan suku sampai titik penghabisan darah.
Mangkok ini juga diisi dengan bulu burung yang berarti agar
beritanya dapat dibawa ke seluruh anggota suku secepat
burung terbang dan tidak perlu khawatir panas atau hujan
karena telah dilengkapi dengan daun lontar yang akan
melindungi pembawanya. Kelengkapan mangkok merah
adalah dua helai bulu burung, selembar daun lontar.
Mangkok ini juga diisi dengan bulu burung yang berarti agar
beritanya dapat dibawa ke seluruh anggota suku secepat
burung terbang dan tidak perlu khawatir panas atau hujan
karena telah dilengkapi dengan daun lontar yang akan
melindungi pembawanya. Kelengkapan mangkok merah
adalah dua helai bulu burung, selembar daun lontar.
Mangkok ini juga diisi dengan bulu burung yang berarti agar
beritanya dapat dibawa ke seluruh anggota suku secepat
burung terbang dan tidak perlu khawatir panas atau hujan
karena telah dilengkapi dengan daun lontar yang akan
melindungi pembawanya. Kelengkapan mangkok merah
adalah dua helai bulu burung, selembar daun lontar.
KEPALA
MUSEUM
PENERANGAN
Abdullah
“kata-kata Mangkok merah merupakan sebuah
alat komunikasi tradisional masyarakat
penting yang Dayak yang penuh simbolis, prestisius,
di highliht” dan mistis. Mangkok merah digunakan
oleh Suku Dayak di Kalimantan Barat
sebagai sarana penyampaian pesan agar
masyarakat waspada terhadap gangguan
dari suku lain yang akan menghancurkan
dan merusak persatuan dan kesatuan
mereka. Disebut mangkok merah karena
mangkok tersebut berisi darah merah, yang
mengandung arti agar masyarakat membela
dan mempertahankan suku sampai titik
penghabisan darah.
Mangkok ini juga diisi dengan bulu
burung yang berarti agar beritanya dapat
dibawa ke seluruh anggota suku secepat
burung terbang dan tidak perlu khawatir
panas atau hujan karena telah dilengkapi
dengan daun lontar yang akan melindungi
pembawanya. Kelengkapan mangkok merah
adalah dua helai bulu burung, selembar
daun lontar.
KURATOR
MUSEUM
PENERANGAN
Yuri Arief Waspodo
Mangkok merah merupakan sebuah “kata-kata
alat komunikasi tradisional masyarakat
Dayak yang penuh simbolis, prestisius, penting yang
dan mistis. Mangkok merah digunakan di highliht”
oleh Suku Dayak di Kalimantan Barat
sebagai sarana penyampaian pesan agar
masyarakat waspada terhadap gangguan
dari suku lain yang akan menghancurkan
dan merusak persatuan dan kesatuan
mereka. Disebut mangkok merah karena
mangkok tersebut berisi darah merah, yang
mengandung arti agar masyarakat membela
dan mempertahankan suku sampai titik
penghabisan darah.
Mangkok ini juga diisi dengan bulu
burung yang berarti agar beritanya dapat
dibawa ke seluruh anggota suku secepat
burung terbang dan tidak perlu khawatir
panas atau hujan karena telah dilengkapi
dengan daun lontar yang akan melindungi
pembawanya. Kelengkapan mangkok merah
adalah dua helai bulu burung, selembar
daun lontar.
DAFTAR ISI
1 Sejarah Departemen Penerangan
& Komunikasi Traadisional
12 Sejarah Radio
20 Sejarah Film
27 Sejarah Jurnali
& Foto Jurnalis
33 Sejarah Teknologi Cetak
38 Sejarah Televisi
Nama Koleksi 0
Nama Koleksi 0
Nama Koleksi 0
Nama Koleksi 0
Nama Koleksi 0
Nama Koleksi 0
Nama Koleksi 0
Nama Koleksi 0
Nama Koleksi 0
Nama Koleksi 0
Nama Koleksi 0
Nama Koleksi 0
Nama Koleksi 0
Nama Koleksi 0
Nama Koleksi 0
Nama Koleksi 0
Nama Koleksi 0
Nama Koleksi 0
Nama Koleksi 0
Nama Koleksi 0
Nama Koleksi 0
Nama Koleksi 0
Nama Koleksi 0
Nama Koleksi 0
Nama Koleksi 0
Nama Koleksi 0
SEJARAH
DEPARTEMEN
PENERANGAN
& KOMUNIKASI
TRADISIONAL
1
1
Sejarah Departemen Penerangan dan Komunikasi Tradisional
2 Katalog Koleksi Museum Penerangan
Sejarah Departemen Penerangan dan Komunikasi Tradisional
Mangkok Merah
Mangkok merah merupakan sebuah alat komunikasi
tradisional masyarakat Dayak yang penuh simbolis,
prestisius, dan mistis. Mangkok merah digunakan oleh Suku
Dayak di Kalimantan Barat sebagai sarana penyampaian
pesan agar masyarakat waspada terhadap gangguan
dari suku lain yang akan menghancurkan dan merusak
persatuan dan kesatuan mereka. Disebut mangkok
merah karena mangkok tersebut berisi darah merah,
yang mengandung arti agar masyarakat membela dan
mempertahankan suku sampai titik penghabisan darah.
Mangkok ini juga diisi dengan bulu burung yang berarti agar
beritanya dapat dibawa ke seluruh anggota suku secepat
burung terbang dan tidak perlu khawatir panas atau hujan
karena telah dilengkapi dengan daun lontar yang akan
melindungi pembawanya. Kelengkapan mangkok merah
adalah dua helai bulu burung, selembar daun lontar.
Nomor Registrasi : 2.46
Tahun Registrasi : 1993
Nomor Iventaris : MP.PC/PEU0001
Ukuran : d: 15 cm, t: 7cm
Katalog Koleksi Museum Penerangan 3
Sejarah Departemen Penerangan dan Komunikasi Tradisional
Terompet
Tois
Pada zaman dahulu terompet kulit kerang
ini digunakan di Nusa Tenggara Timur untuk
mengumpulkan masyarakat yang akan
diberi penerangan.
Kode bunyi yang digunakan sebagai berikut
bunyi panjang tiga kali berarti penerangan
dari pemerintah, bunyi panjang dua kali
berarti keperluan rohani, bunyi pendek-
pendek berarti keperluan yang sangat
segera dan cepat, misalya ketika terjadi
bencana alam atau kebakaran. Terompet
ini didalam bahasa Rote disebut To’is dan
bahasa Sabu disebut Watabe.
Nomor Registrasi : 2.47 | 2.48
Tahun Registrasi : 1993
Nomor Iventaris : MP.PC/PEU0323a | MP.PC/PEU0323b
Bahan : Kulit Kerang
Ukuran : p: 32cm, l: 18cm, t:16,5cm
4 Katalog Koleksi Museum Penerangan
Sejarah Departemen Penerangan dan Komunikasi Tradisional
Katalog Koleksi Museum Penerangan 5
Sejarah Departemen Penerangan dan Komunikasi Tradisional
6 Katalog Koleksi Museum Penerangan
Sejarah Departemen Penerangan dan Komunikasi Tradisional
Kentongan Ukiran
Pekan Penerangan Nasional Tingkat III tahun 1990 di Wonogiri
Kentongan merupakan sebuah alat pertolongan dengan cepat. Kentongan yang
komunikasi tradisional yang hingga saat ini dipamerkan ini dibuat khusus, diukir dengan
masih dipakai di pedesaan Indonesia. Alat cantik dan menjadi simbol pembuka dalam
ini dipukul dan panjang pendek dari pukulan acara penting pada tahun 1990, yaitu Pekan
tersebut menandakan sebuah pesan bahwa penerangan Pedesaan Tingkat Nasional
situasi di desa tersebut aman, ada pencuri, III, yang digelar di Kabupaten Wonogiri,
terjadi kebakaran, bencana alam, atau Jawa Tengah. Kentongan ini berbentuk
pesan lainnya. Sebelum banyaknya suara seperti tabung, dan terbuat dari kayu yang
dari perangkat elektronik seperti sekarang, dilapisi cat berwarna cokelat. Di bagian
bunyi kentongan bisa terdengar sampai jauh tengah terdapat lubang yang memanjang.
hingga ke desa lainnya. Kentongan biasanya Kentongan ini penuh dengan ukiran seperti:
ada di pos Siskamling (Sistem Keamanan ukiran berbentuk wajah di bagian tengah
Lingkungan) dimana ketika sebuah desa atas dan ukiran yang menyerupai motif baik
membutuhkan pertolongan, desa lain di tengah sampai ke bawah.
bisa mendengarnya dan memberikan
Nomor Registrasi : 2.43
Tahun Registrasi : 1993
Nomor Iventaris : MP.PC/PEU0020
Bahan : Kayu
Ukuran : d: 38cm, t: 180cm
Katalog Koleksi Museum Penerangan 7
Sejarah Departemen Penerangan dan Komunikasi Tradisional
Kentongan Hijau
Pekan Penerangan Tingkat I Pertama
Pekan Penerangan Nasional bahwa situasi di desa
Tingkat I tahun 1988 di tersebut aman, ada pencuri,
Kulon Progo Yogyakarta terjadi kebakaran, bencana
dimulai dengan dipukulnya alam, atau pesan lainnya.
Kentongan Hijau ini. Sebelum banyaknya suara
Kentongan ini dibuat oleh dari perangkat elektronik
mahasiswa Universitas seperti sekarang, bunyi
Gajah Mada yang sedang kentongan bisa terdengar
melakukan kuliah kerja nyata sampai jauh hingga ke desa
didaerah Wates, daerah lainnya. Kentongan biasanya
istimewa Yogyakarta. ada di pos Siskamling
Kentongan merupakan (Sistem Keamanan
sebuah alat komunikasi Lingkungan) dimana ketika
tradisional yang hingga sebuah desa membutuhkan
saat ini masih dipakai di pertolongan, desa lain
pedesaan Indonesia. Alat ini bisa mendengarnya dan
dipukul dan panjang pendek memberikan pertolongan
dari pukulan tersebut dengan cepat.
menandakan sebuah pesan
Nomor Registrasi : 2.45
Tahun Registrasi : 1993
Nomor Iventaris : MP.PC/PEU0022
Bahan : Kayu
Ukuran : d: 30cm, t: ??cm
8 Katalog Koleksi Museum Penerangan
Sejarah Departemen Penerangan dan Komunikasi Tradisional
Katalog Koleksi Museum Penerangan 9
Sejarah Departemen Penerangan dan Komunikasi Tradisional
10 Katalog Koleksi Museum Penerangan
Sejarah Departemen Penerangan dan Komunikasi Tradisional
Kentongan Gagarancah
Nusa Tenggara Barat Tahun 1981
Kentongan Gagarancah ini pernah digunakan pada tahun 1981 di Nusa Tenggara Barat,
untuk mengumpulkan masa pada saat dicanangkan gerakan Gagarancah (Istilah sistem
pertanian bercocok tanam dengan biji padi yang langsung ditebarkan di ladang yang paling
tepat bagi sawah tadah hujan atau tegal) oleh Presiden Soeharto dalam rangka pemenuhan
kebutuhan pangan.Kentongan merupakan sebuah alat komunikasi tradisional yang hingga
saat ini masih dipakai di pedesaan Indonesia.
Alat ini dipukul dan panjang pendek dari pukulan tersebut menandakan sebuah pesan
bahwa situasi di desa tersebut aman, ada pencuri, terjadi kebakaran, bencana alam, atau
pesan lainnya. Sebelum banyaknya suara dari perangkat elektronik seperti sekarang, bunyi
kentongan bisa terdengar sampai jauh ke desa lainnya.
Nomor Registrasi : 2.45
Tahun Registrasi : 1993
Nomor Iventaris : MP.PC/PEU0022
Bahan : Kayu
Ukuran : d: 30cm, t: ??cm
Katalog Koleksi Museum Penerangan 11
12
SEJARAH
RADIO
13
Sejarah Radio
14 Mikrofon MAVRO
Mataramsche Vereeniging Voor Radio Omroep
Semasa perang kemerdekaan, mikrofon mavro ini dipakai
untuk kepentingan para gerilyawan di Gunung Kidul,
Yogyakarta. Pada awalnya mikrofon ini digunakan oleh
Mataramsche Vereeniging voor Radio Omroep (MAVRO) di
Yogyakarta untuk menyiarkan acara yang menggugah rasa
cinta budaya bangsa Indonesia, sebagai reaksi terhadap
Nederlandsche Indische Radio Omroep (NIROM) yang
menjadi corong pemerintah kolonial.
Mikrofon ini keluaran merk RCA, memiliki ciri berbentuk
segi empat yang terbuat dari logam campuran yang di
bagian tengahnya terdapat anyaman yang berfungsi
untuk mengeluarkan suara. Pada bagian samping
terdapat gagang yang terbuat dari logam campuran yang
melengkung untuk dikaitkan dengan kabel-kabel transparan
pada mikrofon. Mikrofon ini juga memiliki alas berbentuk
persegi yang terbuat dari kayu.
Katalog Koleksi Museum Penerangan
Sejarah Radio
Nomor Registrasi : 4.16
Tahun Registrasi : 1993
Nomor Iventaris : MP.PC/RAD0005
Merek : RCA
Bahan : Kayu
Ukuran : p: 29cm, l: 14cm, t:20cm
Katalog Koleksi Museum Penerangan 15
Sejarah Radio
Radio Oemoem
Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), semua radio
milik penduduk disegel. Rakyat hanya diizinkan mendengar
radio “Oemoem” yang dipasang di tempat-tempat
strategis, sehingga rakyat hanya dapat mendengarkan
siaran langsung pemerintah Jepang. Namun akhirnya
“Radio Oemoem” mengumandangkan berita Proklamasi
Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945.
Nomor Registrasi : 4.13
Tahun Registrasi : 1993
Nomor Iventaris : MP.PC/RAD0010
Merek : Philips
Bahan : Kayu, Plastik dan Kain
Ukuran : p: 41cm, l: 28cm, t:50cm
16 Katalog Koleksi Museum Penerangan
Sejarah Radio
Katalog Koleksi Museum Penerangan 17
Sejarah Radio
18 Tape Recorder
Engkol
Untuk pengoperasiannya dalam perekaman suara,
tidak menggunakan daya listrik maupun baterai, namun
menggunakan tenaga manusia. Ya, sumber tenaganya
berasal dari per yang diengkol secara manual dengan
tangan. Perlu kemahiran tersendiri dari operatornya agar
bisa menghasilkan putaran pita dengan stabil sehingga
suara bisa terekam dengan baik. Tape recorder merk Sony
ini mulai digunakan RRI tahun 1961 sampai tahun 1967
untuk meliput kegiatan-kegiatan dari lokasi yang tidak
ada aliran listriknya. Salah satu peristiwa bersejarah yang
direkam dengan tape recorder engkol ini, adalah ketika
ditemukannya jenazah tujuh pahlawan revolusi korban
keganasan G-30S/PKI di Lubang Buaya. Suara Mayjen
Soeharto selaku Panglima Kostrad direkam dengan tape
recorder ini pada hari Senin, 04 Oktober 1965.
Katalog Koleksi Museum Penerangan
Sejarah Radio
Nomor Registrasi : 4.12
Tahun Registrasi : 1993
Nomor Iventaris : MP.PC/RAD0015
Bahan : Logam, Plastik dan Karet
Ukuran : p: 40cm, l: 16,5cm, t:20cm
Katalog Koleksi Museum Penerangan 19
20
20
SEJARAH
FILM
21
Sejarah Film
Kamera “Darah d an Doa”
Kamera yang Digunakan untuk Merekam Scene Pertama Film Indonesia
Pertama (Darah dan Doa)
Kamera film ini digunakan dalam pembuatan Pada hari itu, pengambilan gambar pertama
film “Darah dan Doa”, yang merupakan kali untuk film nasional pertama ini pun
film nasional pertama. Film ini merupakan dimulai. Itulah mengapa tanggal tersebut
film legendaris Indonesia. Karena film kemudian dijadikan peringatan Hari Film
inilah yang pertama kali sepenuhnya Nasional. Dan, pengambilan gambar
diproduksi oleh orang Indonesia. Film karya pertama tersebut menggunakan kamera ini.
usmar ismail ini menjadi tonggak utama Selain untuk perekaman gambar film “Darah
munculnya film Indonesia dan kemudian dan Doa”, kamera ini juga digunakan di
diikuti oleh film-film nasional yang lainnya. lapangan ataupun studio oleh Perusahaan
30 Maret 1950, merupakan momentum Film Negara dalam memproduksi film-film
penting bagi dunia perfilman bangsa ini. lainnya sejak tahun 1950 hingga tahun 1960.
Nomor Registrasi : 3.37
Tahun Registrasi : 1993
Nomor Iventaris : MP.PC/FIL0012
Bahan : Logam, dan Kaca
Ukuran : p: 44cm, l: 25,5cm, t: 35cm
22 Katalog Koleksi Museum Penerangan
Sejarah Film
Katalog Koleksi Museum Penerangan 23
Sejarah Film
24 Katalog Koleksi Museum Penerangan
Sejarah Film
Replika
Trofi Piala
Sjaiful Bachri
Piala ini diberikan sebagai penghargaan
untuk film musikal terbaik sejak tahun 1983.
Nama piala ini diambil dari nama seorang
tokoh musik Indonesia yang terkenal pada
tahun 1960-an, Sjaiful Bachri. Ia dilahirkan
di Payakumbuh, Sumatera Barat, 19
September 1924, dan meninggal dunia di
Tokyo, Jepang, pada 5 Desember 1976.
Nomor Registrasi : 3.34
Tahun Registrasi : 1993
Nomor Iventaris : MP.PC/FIL0122
Bahan : Logam Kuningan dan Kayu
Ukuran : p: 35,5 cm, l: 15,5cm, t: 46cm
Katalog Koleksi Museum Penerangan 25
SEJARAH
JURNALIS &
FOTO JURNALIS
26
27
27
Sejarah Jurnalis dan Foto Jurnalis
28 Katalog Koleksi Museum Penerangan
Sejarah Jurnalis dan Foto Jurnalis
Kamera
Peristiwa Serangan
PGRS PARAKU
Kamera Lipat AGC Pronto dengan Lensa Schneider Kreuznach
Radionar Yang Digunakan Dalam Pemberitaan Peristiwa
Seputar Serangan Atas PGRS PARAKU
Kamera ini digunakan oleh Juru Foto dari Kantor Penerangan Kalimantan
Barat untuk meliiput operasi penumpasan gerombolan komunis PGRS/
PARAKU (Pasukan Gerilyawan Revolusioner Serawak/Pasukan Rakyat
Kalimantan Utara) dan gerakan PKI gelap didaerah tersebut pada tahun
1967. Hasil liputan ini digunakan untuk memberi penerangan kepada
Masyarakat Kalimantan Barat bahwa setiap ideologi yang tidak sesuai
dengan pancasila pasti akan hancur.
Nomor Registrasi : 2.26
Tahun Registrasi : 1993
Nomor Iventaris : MP.PC/PEU0090
Merek : AGC (Alfred Gauthier Calmbach)
Bahan : Logam Campuran, Kayu dan Kulit
Ukuran : p: 12 cm, l: 12cm, t: 9cm
Katalog Koleksi Museum Penerangan 29
Sejarah Jurnalis dan Foto Jurnalis
Kamera
Departemen
Penerangan RI
Tustel Nikon N8235496 merupakan
sarana operasional Direktorat Penerangan
Rakyat Ditjen. Penum Deppen RI. Sarana
penerangan yang pernah digunakan untuk
meliput peristiwa penting yang telah dicatat
dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia,
antara lain ;1. Liputan demo mahasiswa
menuntut reformasi di bidang supremasi
hukum, pemberantasan KKN, mengadili
Soeharto dan kroninya, mempersembahkan
otda seluas - luasnya, amandemen
konstitusi, pencabutan dwifungsi TNI -
Polritahun 1998;2. Liputan pelanggaran dan
senjata GAM kepada Tim Monitoring Aceh
(AMM) di Aceh tahun 2005.
Nomor Registrasi : 3.34
Nomor Iventaris : MP.PC/PEU0099
Merek : Nikon N8235496
Bahan : Besi, Kain dan Kaca
Ukuran : p: 15 cm, l: 10 cm, t: 9cm
30 Katalog Koleksi Museum Penerangan
Sejarah Jurnalis dan Foto Jurnalis
Katalog Koleksi Museum Penerangan 31
SEJARAH
TEKNOLOGI
CETAK
32
33
33
Sejarah Teknologi Cetak
Mesin Cetak Rotary Offset Lithographic Katalog Koleksi Museum Penerangan
Victoria-Front
Mesin cetak tinggi berbahan logam,
dengan merk victoria front. Digunakan
pada masa perjuangan, dan mempunyai
andil besar dalam mencetak lembaran
RI, poster-poster penggalang persatuan,
Teks proklamasi kemerdekaan Republik
Indonesia, dan bicara-pidato presiden RI
yang disebarluaskan ke masyarakat. Mesin
ini memiliki kemampuan mencetak 1.500
eksemplar per jam, mulai digunakan
percetakan Negara RI tahun 1945.
34
Sejarah Teknologi Cetak
Nomor Regristasi : 1.14
Tahun Registrasi : 1993
Nomor Iventaris : MP.PC/PER0170
Merek : Victoria Veb
Bahan : Besi, Baja, Serat Kain dan Karet
Ukuran : p: 370 cm, l: 185 cm, t: 160 cm
Katalog Koleksi Museum Penerangan 35
Sejarah Teknologi Cetak
36 Katalog Koleksi Museum Penerangan
Sejarah Telivisi
Mesin Ketik
Huruf Jawa
dari Keraton Surakatra
Mesin ini mulai dipakai sejak tahun 1917 oleh keraton
Surakarta, digunakan terutama untuk mengetik surat-
menyurat, keputusan (kekancingan dalem), pengumuman
resmi mengenai “Titah Ingkah Sinuhun“ untuk masyarakat
luas dan berbagai laporan proses pengadilan. Sedangkan
pada masa kemerdekaan digunakan untuk mengetik
pengumuman-pengumuman Pemerintah dengan huruf jawa
disebarluaskan untuk daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur
sampai tahun 1960.
Nomor Regristasi : -
Tahun Registrasi : -
Nomor Iventaris : -
Merek :-
Bahan :-
Ukuran : p: - cm, l: - cm, t: - cm
Katalog Koleksi Museum Penerangan 37
38
38
SEJARAH
TELEVISI
39
Sejarah Televisi
40 Katalog Koleksi Museum Penerangan
Sejarah Telivisi
Pesawat Penerima
Televisi Pertama
Pesawat penerima televisi pertama di Indonesia
ini digunakan untuk menerima siaran televisi yang
dipancarluaskan oleh TVRI pada tahun 1962. Pesawat
Merk Ralin yang merupakan sumbangan dari Bapak Imam
Rahardjo ini adalah satu di antara 10.000 pesawat televisi
yang disampaikan pemerintah kepada masyarakat dalam
rangka menyukseskan Asian Games IV tahun 1962 di
Jakarta.
Nomor Regristasi : 5.2
Tahun Registrasi : 1993
Nomor Iventaris : MP.PC/TV0067
Merek : Nippon Electric Corporation, Ltd.
Bahan : Kayu, Logam dan Kaca
Ukuran : p: 46 cm, l: 44 cm, t: 85 cm
Katalog Koleksi Museum Penerangan 41
Sejarah Televisi
Kamera Studio Broadcasting
TVRI Bali
Kamera video berwarna ini pernah kamera ini perlu disamakan tingkat cahaya
dioperasikan di studio TVRI Stasiun Bali dan warna. Proses ini memakan waktu
sejak tahun 1991 hingga tahun 2009 dua jam setiap harinya. Untuk operasional
yang memiliki resolusi tinggi. Kamera ini peliputan di lapangan, digunakan pula
merekam gambar di studio, yang kemudian kamera dengan model yang sama, bedanya
gambarnya disimpan melalui alat VTR, adalah bentuk tripodnya. Saat acara besar
untuk digabungkan dengan suaranya. Hasil seperti PON dan SEA GAMES, kamera-
rekaman berupa Kaset Betacam. Dalam kamera dari Bali ini ikut mendukung
satu studio, diperlukan tiga buah kamera peliputan TVRI pusat di Jakarta.
seperti ini. Sebelum bisa dioperasikan, tiga
Nomor Regristasi : 5.75
Nomor Iventaris : MP.PC/TV0079
Merek : Toshiba
Bahan : Besi, Baja, Kaca, Karet dan Plastik
Ukuran : p: 112 cm, l: 95 cm, t: 195 cm
42 Katalog Koleksi Museum Penerangan