The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Diktat Agama Katolik Universitas Kaltara

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by YB Prih Muji Darmawan, 2024-05-06 00:47:24

Diktat Agama Katolik Universitas Kaltara

Diktat Agama Katolik Universitas Kaltara

M a t e r i K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a K a t o l i k - U n i v e r s i t a s K a l t a r a | 219 hanya mempersiapkan perkawinan hanya dengan menabung, membeli rumah atau peralatan rumah tangga. Pengetahuan mengenai keluarga berencana sering dianggap sebagai persiapan utama dalam berkeluarga. Keluarga pertama- tama membutuhkan kesejateraan lahir dan batin. Lebih jauh dibutuhkan suara hati yang jujur, jernih, dan benar guna kemungkinan pasangan suami isteri berkomunikasi secara terbuka. Kehidupan perkawinan dewasa ini mengalami berbagai tantangan. Tantangan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor. Kemajuan zaman dan teknologi dewasa ini memberi warna tantangan tersendiri dalam mahligai rumah tangga. Beberapa contoh dibawah ini adalah sbb: a) Perbedaan Pandangan dan Pendapat Dalam kehidupan sehari-hari, berbeda pendapat adalah hal yang lumrah dan biasa terjadi. Dalam hal itu yang penting adalah sikap menghargai dan menghormati pendapat pasangan hidup. Berbagai masalah perbedaan pandangan akan muncul dalam keluarga (pendidikan anak, ekonomi keluarga, KB) sehingga perlu mencari solusi yang terbaik dengan kepala dingin. Kemungkinan besar akan dihadapkan pada perbedaan prinsip. Persoalan akan menjadi besar bila ada salahsatu pihak suami atau isteri yang memaksakan kehendak. Apabila hal ini tidak disikapi dengan baik atau ada pihak yang merasa disepelekan maka percekcokan dalam rumah tangga bisa pecah. Setiap saat bisa terjadi bentrokan dalam keluarga. b) Kebosanan dan kejenuhan Biasanya pada tahap masa pacaran, relasi antara dua sejoli yang saling mencintai masih sangat hangat. Pada permulaan perkawinanpun masih berupa cinta yang emosional dan romantik. Pada masa-masa itu tentu hidup perkawinan terasa sangat indah. Sebagai ungkapan cinta, seringkali dengan rela dan melaksanakan segala sesuatu yang membahagiakan pasangan, rela berkorban untuk membuktikan keseriusan cinta itu. Seiring dengan berjalannya waktu, mulailah terlihat kekurangan dan cacat cela dalam diri pasangan. Dari waku ke waktu cacat kecil bisa timbun-menimbun, dan mulai muncul rasa kecewa, bosan dan jenuh. Terkadang keinginan untuk cinta diri mulai muncul. Hal ini adalah batu penghambat untuk tenggang rasa, saling mengerti dan memaafkan. Apabila tidak disikapi, hal ini menjadi pemicu bencana dalam kelurga. Dalam situasi ini, cinta romantik sebaiknya digantidengan cinta rasional yang menuntut dimensi tanggung jawab yang lebih kuat kepada pasangan hidup dan anak-anak.


M a t e r i K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a K a t o l i k - U n i v e r s i t a s K a l t a r a | 220 c) Ketidakserasian dalam hubungan seksual Bentuk komunikasi yang paling intim dalam hubungan suami dan isteri adalah hubungan seksual. Hal ini merupakan hal yang peka. Apabila tidak memupuk tenggang rasa bisa mengakibatkan ketegangan dan kerenggangan relasi antara suami dan isteri. Apabila suami terlalu menuntut, baik mengenai tempat, cara dan aktual untuk berhubungan seksual, maka pihak isteri akan merasadirinya hanyalah pemuas nafsu suami saja. Hal ini akan menimbulkan rasa sakit hati kepada suami. Sebaliknya, jika isteri menolak untuk melayani suami atau melayani hanya dengan setengah hati, maka suami akan tersinggung. Hal ini akan memicu suami untuk berpaling kepada wanita lain yang lebih memuaskan hastar seksualnya dari pada isterinya. d) Perselingkuhan dan perzinahan Ada berbagai faktor yang menyebabkn suami isteri tidak bisa melakukan hubungan seksual dalam jangka waktu tertentu. Barangkali karena urusan tugas, urusan persalinan, minggu-minggu pertama sesudah persalinan, dll. Dalam situasi ini, salah satu dari pasangan dapat tergoda dan menyeleweng dari perkawinannya dan segala kewajibannya. Ia akan mencari kepuasan hubungan seks dengan wanita atau laki-laki lain. Terjadinya perselingkuhan ini akan merongrong atau melanggar kesucian perkawinan dan juga mendatangkan penderitaan bagi suami atau isteri, anggota keluarga dan termasuk pihak yang melakukan perselingkuhan itu. Gereja sangat tegas menilai perzinahan itu, tetapi Gereja tak pernah menginginkan perceraian. Solusi yang wajar untuk pasangan suami isteri itu adalah bertobat, saling mengampuni, memperbaharui lagi cinta yang ikhlas demi kebahagian seluruh keluarga. e) Kemandulan Banyak masalah yang terjadi dalam hidup perkawinan. Salah satunya adalah kemandulan. Hal ini serigkali menimbulkan krisis bagi pasangan suami isteri, karena seringkali saling menyalahkan pasangannya. Apabila pasangan tersebut tidak bijaksana dalam menghadapi masalah ini, makan akan menyebabkan hancurnya perkawinan tersebut. Karena itu, bila salah satu dari pasangan suami isteri mengalami kemandulan, diharapkan mereka tidak berhenti untuk saling mencintai dan menerima kekurangan pasangannya. Setiap pasangan suami isteri katolik harus tetap menyadari bahwa meskipun perkawinan tersebut tidak menghasilkan keturunan, namun hakekat perkawinan tersebut tidaklah berkurang. Perkawinan tersebut tetap memiliki arti yang dalam.


M a t e r i K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a K a t o l i k - U n i v e r s i t a s K a l t a r a | 221 6. Keluhuran seks, Seksualitas, Perkawinan, Hidup Berkeluarga menurut Kitab Suci dan Ajaran Gereja a. Kitab Suci Kesetiaan dalam perkawinan bertujuan untuk melindungi perkawinan yang sah (bdk. Kel 20:14; Ul 5: 18; Mat 5:27. 31-32). Dan dalam sepuluh perintah Allah ditegaskan dengan ajaran ”jangan berzinah”. Pandangan Israel kuno tentang berzinah adalah ”apabila seorang kedapatan tidur dengan seorang perempuan yang bersuami, maka keduanya harus dibunuh: laki-laki yang tidur dengan perempuan itu dan juga perempuan itu”. Larangan perzinahan itu melindungi tata sosial. Pandangan Israel tentang seksualitas sangat duniawi. Dalam Perjanjian Baru, kesetiaan dalam perkawinan menjadi pokok perhatian Yesus. Wejangan Yesus mengenai perkawinan menegaskan kembali akan sifat dan ciri perkawinan yang tidak terceraikan. Yesus mengingatkan soal menjaga kesetiaan perkawinan dan menganjurkan untuk membina hidup bersama sedemikian satu sama lain dan tidak merongong perkawinan orang lain. Dalam Mrk 10:1-12, Yesus ditanya murid-murid-Nya mengenai perceraian. Dan Yesus mengatakan bahwa cerai sama dengan zinah. Setiap orang yang menceraikan isterinya membuatnya berzinah dan setiap orang yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, berbuat zinah. Ketika bersoal jawab dengan orang Farisi mengenai kehendak Allah sendiri yang menginginkan perkawinan yang setia,Yesus mengatakan bahwa apa yang disatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. Dalam hal ini Yesus mau menegaskan kembali maksud tradisi bangsa Israel mengenai perceraian, yaitu bukan Musa yang menyuruh untuk memberi surat cerai namun karena ketegaran hati bangsa Israel yang menginginkan demikian. Pokok ajaran dalam Perjanjian Lama adalah kesatuan yang diinginkan Allah sebagaimana Allah setia dengan umat-Nya. Kesetiaan Allah yang merupakan terwujudnya kerajaan Allah hadir dalam diri Yesus, dan kesetiaan Allah itu menjadi efekif dalam kesetiaan suami isteri. Paulus dalam suratnyajuga menegaskan kembali ajaran Yesus mengenai perkawinan. Tuntutan untuk tidak bercerai dalam perrkawinan merupakan perintah Tuhan (1 Kor 7:10-11). Hal ini menunjukkan betapa luhurnya perkawinan itu. Paulus mengajak umat untuk membangun hidup bersama sehingga mereka yang menikah dibantu untuk setia dalam perkawinannya. Seksualitas menunjuk pada fakta bahwa manusia selalu ada sebagai pria dan wanita. Seks berarti segala sesuatu yang mengkhususkan manusia serta membedakannya sebagai pria dan wanita. Maka seksualitas adalah sesuatu yang manusiawi, bukan biologi semata-mata. Seksualitas adalah daya naluri yang memungkinkan adanya


M a t e r i K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a K a t o l i k - U n i v e r s i t a s K a l t a r a | 222 hidup manusia. Oleh sebab itu mesti dipertanggugjawabkan pula. Iman Kristiani mengakui manusia seperti itu sebagai ciptaan Tuhan, maka seksualitas yang dipertanggungjawabkan itu dipandang sesuai dengan rencana Allah. Manusia menjadi diri sebagai pria dan wanita, maka seks amat erat berkaitan dengan penampilan individu dan dengan hidup pribadi. Seksualitas merupakan nilai sangat tinggi, karena hubungan erat dengan manusia. Segala tindakan yang menyangkut seksualitas juga menyangkut hormat terhadap manusia sebagai pribadi, yang tidak boleh dijadikan sarana untuk tujuan apapun juga. Sebagai sesuatu yang amat pribadi, seksualitas tidak dibiarkan tumbuh begitu saja, tetapi mesti dibina oleh setiap orang agar berkembang dan menjadi dewasa. Seksualitas mesti diatur dalam lingkungan untuk mencapai pengertian dalam kebersamaan, sebab perbedaan antara pria dan wanita tidak hanya menyangkut pribadi melainkan penting juga untuk susunan hidup bersama, maka penting untuk mengindahkan kaidah berikut ini: laku seks mesti menjadi tanggung jawab pribadi, laku seks mesti menghormati pribadi orang lain dan mengindahkan kepentingan bersama. Kelurga adalah tempat normal bagi laku seks, karena kelurga dapat memberi perlindungan, persekutuan pribadi dan bebas serta sekaligus lembaga tetap dalam masyarakat. Persekutuan pribadi dan bebas dalam wujud lembaga dan tetap dalam menciptakan rasa aman yang perlu sehingga partner laku seks tidak dipandang sebagai objek. Perekutuan pribadi dan lembaga yang tetap dapat merupakan lingkngan dan sarana unuk mebesarkan an mendidik anak-anak menjadi manusia mandiri. Melalui lembaga yang dibentuk secara bebas dan diakui oleh masyarakat, laku seks diakui dan sekaligus dibatasi; seks tidak dikutuk sebagai sesuatu yang jahat dalam masyarakat. Jika ditempatkan dalam hidup dan perkembangan kelurga pengertian dan pelaksanaan seks berkembng menurut perkembangan pengertian dan gaya hidup keluarga. Penghayatan seks mengikuti irama keluarga. Hubungan seks adalah komunikasi yang paling intim dan paling menyeluruh dalam hubugan suami isteri sebagai perwujutan nyata dari bersatu padunya dua pribadi jiwa dan raga. Akan tetapi hubungan seks juga dapat menjadi sumber kekecewaan, frustrasi dan percekcokan yang pling menekan. Seks bukan pertama-tama suatu kegiatan yang dilakukan untuk mencari kepuasan biologis melainkan merupakan sebuah komunikasi yang dimaksudkan untuk mempererat hubungan suami dan isteri dalam kasih mesra. Hubungan seks pada dasarnya hanya ”meragakan” relasi yang ada. Bila hati dekat, hubungan seks juga memuaskan. Akan tetapi bila hati tidak merasa dekat maka segala teknik seks yang paling canggih sekalipun tidak akan membuat perkawinan menjadi sukses. Sebaliknya relasi yang baik membuat seks menjadi sebuah pengalaman yang


M a t e r i K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a K a t o l i k - U n i v e r s i t a s K a l t a r a | 223 indah dan membahagiakan. Dapat dikatakan bahwa hubungn seks bukan sekedar masalah ”tempat tidur” melainkan masalah seluruh hubungan sepanjang hari. b. Ajaran Gereja Dalam dokumen Konsili Vatikan II, yaitu Konstitusi Pastoral Gudium Et Spes, perkawinan dimengerti sebagai kesatuan mesra dalam hidup dan kasih antara pria dan wanita yang merupakan lembaga tetap yang berhadapan dengan masyarakat. Dalam hal ini perkawinan menurut bentuknya merupakan suatu lembaga dalam kehidupan masyarakat. Tanpa pengakuan lembaga perkawinan menjadi semacam hidup perkawinan yang liar. Menurut maksud dan intinya perkawinan merupakan kesatuan hidup dari dua pribadi. Maka perkawinan akan terwujud dengan persetujuan antara seorang pria dan seorang wanita yang diungkap secarakan secara bebas untuk membagi hidup satu sama lain, persetujuan itu dinyatakan secara publik dihadapan saksi-saksi dan menurut aturan yang berlaku dalam lingkungan masyarakat. Perkawinan itu mempunyai pelbagai tujuan sosial. Kedua partner saling membantu dan bukan hanya meringankan hidup melainkan membentuk kesatuan sosial yang kecil, yang kendati terbatas namun paling kodrati sehingga tidak boleh diabdikan pada tujuan manapun juga. Suami isteri saling membantu satu sama lain, dengan saling memberikan dan mendapat pengertian dan mengalami berkat perkembangan satu sama lain. Dalam perkawinan anak-anak yang lahir dididik dan dibesarkan dan sehingga kelangsungan hidup mereka dapat terjamin. Dalam kebanyakan lingkungan kebudayaan, lembaga perkawinan pandang sebagai tempat yang sah untuk melakukan hubungan suami isteri. Dalam perkawinan yang sah, laku seks menjadi wajar. Jadi tujuan hidup bersama suami isteri adalah membantu satu sama lain dan membiarkan diri dibantu oleh pasangan dalam perjalan hidup menuju kebahagiaan didunia ini dan diakhirat. Dalam pandangan Gereja Katolik, perkawinan adalah sakramen, di mana Allah bertemu dengan suami isteri tersebut. Perkawinan katolik adalah sakramen karena Allah sendirilah yang menguduskan hubungan suami isteri. Sakramen berarti tanda. Karena itu yang ditandakan dalam sakramen perkawinan adalah:


M a t e r i K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a K a t o l i k - U n i v e r s i t a s K a l t a r a | 224 1) Cinta Allah Dalam sakramen perkawinan, suami adalah tanda kehadiran Allah untuk mencintai sang isteri dan isteri menjadi tanda cinta dan kebaikan Allah kepada sang suami. Bukan hanya sekedar tanda, tetapi dipilih menjadi utusan atautangan Tuhan. Melalui suami atau isteri Tuhan hadir menolong, menguatkan, dan membahagiakan pasangannya. Tuhan memilih suami dan isteri kristen supaya menjadi tanda dan sarana kasih setia-Nya bagi satu sama lain dalam hidup bersama. Dalam kitab Kejadian pasangan manusia dicita-citaka oleh Tuhan menurut hakikat-Nya sendiri: ”baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita supaya mereka berkuasa... maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya laki-laki dan perempuan...(Kej 1:26-28). Hakikat Tuhan adalah cinta yang maha sempurna yang menyatukan Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Allah juga menghendaki supaya manusia menjadi seperti hakikat-Nyayaitu, satudalam cinta mesra. Manusia yang menjadi dua ketika Allah menciptakan Hawa dari tulang usuk Adam dan langsung disatukan kembali secara lebih sempurna dalam cinta. Allah membimbing Hawa kepada Adam dan Adam menyambut dengan ucapan ”inilah dia tulang dari tulangku dan daging dari dagingku” sejak saat itu laki-laki meninggalkan bapa dan ibunya untuk bersatu jiwa dan raga dengan isterinya. Mereka bukan lagi dua melainkan satu. Persatuan cinta antara pria dan wanita menjadi tanda cinta-Nya. 2) Cinta Kristus kepada Gereja-Nya Perkawinan Kristen merupakan gambaran dari hubungan yang lebih mulia, yaitu persatuan Kristus dengan umat-Nya. Adanya suami disamping isteri atausebaliknya adalah ikatan cinta, tanda bahwa Kristus selalu menyertai kita, dan mereka sebagai suami isteri selalu semakin dipersatukan dalam Dia. Santo Paulus menegaskan hal ini dengan mengatakan: ”hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan. Karena suami adalah kepala isteri sama seperi Kristus adalah kepala jemaat...hai suami kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya...demikian juga suami harus mengasihi isterinya seperti tubuhnya sendiri...sebab tidak ada orang yang membenci diriya, tetapi mengasihinya dan merawatnya seperti Kristus terhadap jemaat karena kita adalah anggota tubuh-Nya” (Ef. 5:22-33). Dalam hal ini kasih Kristuslah yang harus menjadi dasar hidup suami isteri. Suami dan isteri dipilih Tuhan untuk menjadi suatu sakramen. Mereka diangkat untuk menjadi tanda kehadiran Kristus yang selalu menguduskan, menguatkan dan menghibur tanpa syarat apapun. Karena


M a t e r i K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a K a t o l i k - U n i v e r s i t a s K a l t a r a | 225 Kristus dengan setia menyertai dan menolong suami isteri, maka merekapun sanggup untuk setia satu sama lain, karena itu perkawinan tersebut sifat monogam dan tak terceraikan. Tugas 1. Ajaran Sosial Gereja kita itu begitu indah dan baik? Menurut Anda mengapa tidak terlalu terwujud dalam masyakat Indonesia? 2. Langkah-langkah apa yang bisa dibuat sehingga ajaran sosial itu bisa dirasakan oleh masyarakat?


M a t e r i K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a K a t o l i k - U n i v e r s i t a s K a l t a r a | 226 DAFTAR PUSTAKA Alwi, Hasan (peny.). 2002 Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, Andang, Al. 2006. Agama Yang Berpijak dan Berpihak. Yogyakarta: Kanius. Budi Legawo, Tyas . 2013 Nowwen, dari Kuasa ke Belarasa. Yogyakarta: Kanisius. Dahler, Franz dan Candra, Julius. 1989.Asal dan Tujuan Manusia – Teori Evolusi yang Menggemparkan Dunia, Yogyakarta: Kanisius. Dahler, Franz.1990. Masalah Agama. Yogyakarta: Kanisius,. Dister, Syukur Nico 1987. Kristologi, Sebuah Sketsa.Yogyakarta: Kanisius. Gea, Antonius, dkk.(tanpa tahun). Relasi dengan Tuhan, Jakarta: Grasindo, Go Piet, Ocarm.2007. Hubungan Antaragama dan Kepercayaan. Jakarta: Dokpen KWI. Groenen,Cl.1993. Percakapan tentang Agama Katolik. Yogyakarta: Kanisius, Groenen,Cl.1993.1998.Soteriologi Alkitabiah. Yogyakarta: Kanisius. Habeahan, Salman. 2006. Membangun Hidup Berpolakan Pribadi Yesus. Yogyakarta: Nusatama:, Hardawiryana (Penterjemah). 1993. Dokumen Konsili Vatikan II. Jakarta: Dokpen KWI & Obor. Hardawiryana, R., S.J..1992. Mengikuti Kristus Mewartakan Kerajaan Allah, Jakarta: Obor. Harjawyata, Frans.OCSO (ed.). 1998.Yesus dan Situasi Zaman-Nya. Yogyakarta: Kanisius.. Hendropuspito, OC. 1983. Sosiologi Agama. Yogyakarta Kanisius. Heuken, A., S.J.. 1991 Ensiklopedi Gereja I. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka,. Heuken, A., S.J.2002. Ensiklopedi Gereja II. Jakarta: Penerbit Obor, Ismartono, I., S.J. 1993. Kuliah Agama Katolik. Jakarta: Obor. Jacobs, T. S.Y. & Sumadia, R. S.Y. 1975. Injil Gereja Purba tentang Kristus Tuhan Kita. Yogyakarta: Kanisius. Kasper, W. 1976. Jesus The Christ. New York. Keene, Michael. 2006. Agama-Agama Dunia, Yogyakarta: Kanisius Kirchberger, Georg & Prior, Johan M. (eds.) 2001. Yesus Kristus Penyelamat. Jakarta : LPBAJ dan Penerbit Celesty Hieronika.,


M a t e r i K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a K a t o l i k - U n i v e r s i t a s K a l t a r a | 227 Komisi Kateketik KWI. 2007. Materi Pokok Pendidikan Agama Katolik, Modul untuk Universitas Terbuka. Jakarta: Universitas Terbuka. Komisi Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian.2009. Konfendium Ajaran Sosial Gereja. Ledalero: Penerbit Ledalero. Konferensi Wali Gereja Indonesia. 2009. Dokumen Konsili Vatikan II, (terj. Hardawiryana, R., S.J.) Jakarta: Penerbit Obor, Konferensi Wali Gereja Indonesia. 2009. Katekismus Gereja Katolik (terj. Susanto, Harry, S.J.) Yogyakarta : Kanisius. Konferensi Wali Gereja Indonesia.1996. Iman Katolik, Buku Informasi dan Referensi. Jakarta: Obor Konferensi Waligereja Indonesia. 1997. Iman Katolik; Buku Informasi dan Referensi. Yogyakarta: Kanisius. Lalu, Yosep, Pr. 1986. Yesus dari Nazareth, Siapakah Dia, APTIK,. Lalu, Yosep, Pr. 2000. Yesus Mewartakan Khabar Baik Kerajaan Allah. Jakarta: Komkat KWI.. Lalu, Yosep, Pr. 2006. Percikan Kisah-Kisah Anak Manusia. Jakarta: Komkat KWI. Leahy, Louis. 2001.Siapakah Manusia?: Sintesis Filosofis tentang Manusia. Yogyakarta: Kanisius. Leks, Stefan. 1981. Yesus Kristus Menurut Keempat Injil. Yogyakarta: Kanisius. Lembaga Biblika Indonesia. 1980. Kitab Suci Perjanjian Baru. Ende: Nusa Indah. Lembaga Biblika Indonesia. 1980. Kitab Suci Perjanjian Lama. Ende: Nusa Indah. Martasudjita, E., Pr. 2003. Sakramen-sakramen Gereja, Tinjauan Teologis, Liturgis dan Pastoral. Yogyakarta: Kanisius. Mello, A.de S.J.. 1998. Burung Berkicau. Jakarta: CLC,. Mulyanto, Sumardi. 1982. Penelitian Agama. Masalah dan Pemikiran. Jakarta: Sinar Harapan. Nico Syukur Dister OFM, DR,1988, Pengalaman dan Motifasi Beragama, Yogyakarta, kanisius. Pilarczyk, Daniel E.2002. Beriman Katolik. Jakarta: Penerbit Obor,. Profinsi Gereja Ende, (penter). (1995). Katekismus Gereja Katolik, Ende: Nusa Indah Riyanto, Armada. C.M. 2010. , Dialog Interreligius Historis, Tesis, Pergumulan, Wajah, Yogyakarta: Kanisius.


M a t e r i K u l i a h P e n d i d i k a n A g a m a K a t o l i k - U n i v e r s i t a s K a l t a r a | 228 Sekretariat KWI (Penterj), (1991). Kitab Hukum Kanonik. Jakarta: Obor Suharyo, I. 1990. Kisah Sengsara Yesus Kristus dalam Injil Sinoptik. Yogyakarta: Kanisius.. Sumardi Mulyanto. 1982. Penelitian Agama. Masalah dan Pemikiran. Jakarta: Sinar Harapan. Suseno, Franz Magnis-2001. Etika Dasar: Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral . Yogyakarta: Kanisius. Tarigan, Jacobus RD. 2013. Tahu dan Percaya. Jakarta: Penerbit Universitas Atma Jaya. Theo Huijber.1977. Filsafat Ketuhanan. Yogyakarta: Kanisius Wijngaards, John. 1993. Yesus Sang Pembaharu. Yogyakarta: Kanisius.. Sumber Internet http://katolisitas-indonesia.blogspot.com/2012/07/gereja-universal-dan-gereja- partikular. html http://id.wikipedia.org/wiki/Empat_Ciri_Gereja


Click to View FlipBook Version