The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kak_hasto, 2020-11-01 05:56:11

Jurnal Pendidikan dan Pendekatan Interdependensi

Oleh: Prof. Dr. Cholichul Hadi, M.Si

Keywords: Pendidikan,Interdependensi,Seminar Nasional

Halaman 1 dari 12

PENDIDIKAN DAN PENDEKATAN INTERDEPENDENSI
Cholichul Hadi,1 Ilham Nur Alfian,2 Ilhamuddin3

Ringkasan
Tulisan ini mendeskripsikan keterkaitan antara pendidikan dan pendekatan
interdependensi. Pendidikan yang dijalankan selama ini sebenarnya secara tidak
langsung telah menghadirkan berbagai praktek interdependensi di sekolah.
Interdependensi yang sudah ada dikelola menjadi modal untuk meningkatkan
keberhasilan proses pendidikan dan pada saat bersamaan mendorong terciptanya
kebahagiaan pada peserta didik.

Pengantar
Pendidikan adalah proses sepanjang hayat baik bagi pendidik maupun bagi peserta

didik. Tidak ada kata berhenti bagi proses tersebut dan tidak ada kata selesai bagi siapapun
yang ingin terus mendapatkan pendidikan. Proses pendidikan ini dimulai sejak dari buaian
hingga peristirahatan terakhir bagi manusia. Long life education, pendidikan sepanjang
hayat, itulah sloga yang sering kita dengar.

Mengaca dari berbagai teori dan pengalaman hidup manusia, proses pendidikan
tersebut memungkinkan manusia menjadi sadar dan menjadi manusia yang seutuhnya.
Menjadi manusia yang utuh berarti sadar akan dirinya, menyadari keberadaan dirinya di
tengah komunitas masyarakat yang luas, dan mampu mendorong dirinya menjadi pribadi
yang membawa kemanfaatan dan kemashlahatan bagi semua makhluk hidup. Jika tujuan
ini tercapai, maka akan semakin berkurang berbagai permasalahan sosial, seperti,
ketimpangan sosial, kemunduran sikap dan perilaku moral, dan kerusakan alam. Karena
pada hakikatnya proses pendidikan akan membuat manusia menjadi lebih baik bagi dirinya,
lingkungannya, dan alam semesta. Jika hal ini belum tercapai, kemungkinan masih banyak
hal yang tidak sesuai dalam proses pendidikan. Hal yang tidak sesuai itu dapat berangkat

1 Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. [email protected]
2 Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga [email protected]
3 Dosen Jurusan Psikologi FISIP Universitas Brawijaya dan Mahasiswa Program Doktor by Research Fakultas

Psikologi Universitas Airlangga [email protected] / [email protected]

Halaman 2 dari 12

dari niat yang keliru, proses pendidikan yang tidak mengedepankan akhlak dan adab, proses
pendidikan yang bertumpu pada pengembangan penaralan bukan pada kebijaksanaan,
proses pendidikan yang penuh pamrih, dan tidak menghadirkan Tuhan dalam setiap
prosesnya.

Proses pendidikan tidak cukup hanya dilihat dari teori behavioristik, bahwa manusia
bergerak secara mekanis dengan pola stimulus dan respon. Atau membingkainya secara
sederhana sebagai bagian dari tugas perkembangan manusia untuk mendewasakan
mentalnya. Proses pendidikan jauh lebih kompleks dari sekedar apa yang terlihat. Ada
banyak hal-hal yang nampak (overt) dan abstrak (covert) dalam prosesnya. Sebagai contoh,
keberhasilan peserta didik tidak cukup hanya dilihat dari keberhasilannya menyerap materi
atau mencapai prestasi tertentu. Di situ mungkin saja ada, keikhlasan guru, doa dan ridho
orangtua, keterikatan dalam proses belajar, keterikatan dengan pergaulan sosial yang
positif, dan kebaikan-kebaikan dari kesalingketergantungan (interdependensi) antar
sesama peserta didik. Dengan kata lain proses pendidikan melibatkan berbagai proses
psikologis individual, proses sosial, proses manajemen, proses belajar berkelanjutan dan
berbagai proses lain yang tidak terhitung jumlahnya.

Sebagai pengantar dari tulisan ini, penulis ingin memberikan penekanan bahwa
proses pendidikan harus dimulai dari niat yang baik untuk mengembangkan diri,
memajukan masyarakat, menghadirkan kedamaian dan kebahagiaan bagi semesta. Dan di
atas semua itu, proses pendidikan harus mengantarkan manusia menjadi lebih baik di
hadapan Tuhan-nya.

Fungsi Utama Pendidikan
Menurut Pasal 3 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional, fungsi dan tujuan pendidikan adalah mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,

Halaman 3 dari 12

berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab. Menilik tujuan tersebut, tujuan pendidikan tidak bisa dihitung dari
tahun per tahun, namun dari generasi ke generasi. Peradaban bangsa tidak dibangun oleh
satu generasi saja, sebaliknya berkelanjutan dari waku ke waktu oleh semua generasi yang
saling berkesinambungan.

Pada satu waktu, akan ada empat generasi sekaligus yang saling berhubungan dalam
proses pendidikan. Sebagai contoh saat ini, generasi alfa masih akan berkomunikasi dan
belajar dari generasi Z, Y, X dan sebagian kecil dari generasi Baby Boom. Semua mengalir
dalam proses pendidikan, melalui karya-karya besar pemikir dan penulis generasi
sebelumnya. Sama sebagaimana kita saat ini tidak bisa melepaskan diri dari semua teori
dan kerangka berpikir dari paradigma teori-teori besar sebelumnya.

Semua proses pendidikan tidak akan pernah lepas dari konteks waktu, tempat, dan
pelakunya. Pendidikan tidak juga mungkin melepaskan diri dari realitas yang ada di
sekitarnya. Pendidikan tidak berangkat dari ruang kosong pemikiran. Oleh karena itu,
pendidikan harus merefleksikan kehidupan dengan segala macam gegap gempita-nya
kehidupan, kemajuan dan kemunduran-nya serta cerita bahagia dan ironi dari prosesnya.
Dan dibutuhkan manusia-manusia yang jernih cara berpikir, bertindak, dan bersikap dengan
baik dan benar. Mereka inilah yang dapat diberi atribut sebagai manusia yang utuh.

Fungsi pendidikan sendiri adalah memanusiakan manusia. Manusia sebagai ciptaan
Tuhan yang berpotensi luhur harus didorong dan disiapkan untuk menjadi manusia-
manusia luhur di masa depan. Manusia yang luhur adalah mereka yang mampu bersikap
dan berperilaku dengan akhlak yang baik, benar, dan proporsional serta mengedepankan
kebijaksanaan dalam merespon setiap perubahan. Dengan demikan, pendidikan bukan
hanya sekedar memintarkan para peserta didik dengan kemampuan hafalan yang banyak,
penguasaan teori yang luas, dan prestasi-prestasi gemilang. Pendidikan harus membuat
mereka menjadi manusia yang beradab sehingga mampu melahirkan peradaban gemilang
yang baru tanpa melepaskan diri dari peradaban lama. Pendidikan beradab tidak akan bisa
melepaskan diri dari nilai-nilai agama yang ada dalam proses pendidikan.

Halaman 4 dari 12

Pendidikan yang memanusiakan manusia dalam konteks yang lebih luas juga tidak
bisa melepaskan diri dari fungsi pendidikan itu sendiri, yaitu fungsi sosialisasi, fungsi
integrasi sosial, fungsi penempatan sosial, dan fungsi inovasi sosial.
1. Fitrahnya manusia adalah bersosialisasi. Ia tidak akan bisa menjadi manusia yang utuh

tanpa ada kehadiran sosial dalam kehidupannya. Bahkan kematangan emosi dan
spiritualitas manusia salah satu indikatornya adalah kemampuan sosialisasi secara tepat
dan proporsional. Pendidikan memampukan manusia menjadi bagian penting dari
sosial, dimana ia belajar bagaimana memahami, menerima, dan mematuhi nilai-nilai
atau norma yang berlaku di masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan anak usia dini
mempersiapkan peserta didik mampu mempelajari dan mempraktekkan nilai dan
norma sederhana sebagai modal penting untuk menjadi bagian dari masyarakat sosial
lebih luas.
2. Setelah mampu memahami dan mempraktekkan nilai-nilai dan norma sosial yang ada,
individu secara bertahap siap untuk memasuki lingkungan sosial baik dalam bergaul,
bekerjasama, belajar bersama, dan membentuk kelompok sosial yang saling
mendukung (supportif). Inilah fungsi pendidikan integrasi sosial. Awalnya individu
merasa aman dan cukup leluasa dengan keberadaan dirinya dengan segala ego yang
melekat pada dirinya. Namun pada saat ia harus berada pada lingkungan sosial, ia
belajar untuk mengelola egonya secara proporsional di antara ego-ego individu yang
lain. Pendidikan jangka panjang akan terus-menerus mengingatkan para peserta didik
untuk memahami hak dan kewajibannya. Dimana setiap hak dan kewajiban tersebut
akan berhimpitan atau berbatasan dengan hak dan kewajiban orang lain. Sehingga
peserta didik memahami prinsip kerjasama, saling mendukung, saling tergantung, dan
saling mempengaruhi dalam lingkungan sosial.
3. Fungsi pendidikan juga memampukan individu untuk membingkai peran sosialnya di
masa mendatang atau bagaimana ia menempatkan peran dirinya dalam lingkungan
sosial secara lebih luas. Ada kekeliruan yang fatal bagi para orangtua dimana mereka
membiarkan anak-anak mereka memilih peran sosialnya secara mandiri tanpa ada

Halaman 5 dari 12

pendampingan dari orang dewasa (guru dan orangtua). Atau juga sebaliknya dimana
orang dewasa (guru dan orangtua) memaksakan peran sosial yang diinjeksikan ke dalam
pilihan dan kesadaran anak. Yang tepat adalah membantu anak dalam memilih peran
sosial dengan memberikan pertimbangan-pertimbangan yang proporsional.
Pertimbangan orang dewasa menjadi rujukan karena pengalaman orang dewasa
mampu memotret baik secara subjektif maupun objektif terhadap pilihan peran sosial
anak. Sementara di sisi lain, anak-anak pun perlu didorong untuk mengeksplore secara
luas peran sosial yang ingin dipilih oleh mereka di masa mendatang.
4. Fungsi pendidikan yang terakhir adalah inovasi sosial. Pendidikan merupakan proses
mengembangkan segala potensi yang ada dalam individu agar mereka mampu
mencapai makna hidup yang paling tinggi atau paling esensial. Makna hidup yang
esensial tersebut adalah kebermanfaatan yang luas dan terus-menerus. Dalam proses
pendidikannya, individu diajarkan dan dilatih untuk melakukan inovasi dan terobosan
yang bermanfaat bagi kehidupan. Tanpa pendidikan mustahil melahirkan inovator-
inovator baru. Fungsi semua elemen pendidikan mulai dari orang, sistem, manajemen,
lingkungan, instrumen dan semua budayanya adalah melahirkan inovator-inovator
baru. Pendidikan pada akhirnya menjadi jalan panjang membentuk manusia yang
beradab, melahirkan peradaban, dan meninggalkan jejak-jejak kemajuan peradaban
pada masanya.

Konsep Dasar Interdependensi
Kata interdependence mulai dikenal tahun 1817 sebagai kondisi yang menjelaskan

kesalingketerhubungan (interconnectedness) dan kesalingketergantungan antara satu
orang dengan orang lain (mutual dependence) (Merriam Webster Online Dictionary). Secara
psikologis dependence merujuk pada keadaan seseorang yang tergantung pada orang lain.
Namun saat disebut mutual dependence berarti keduanya saling tergantung sama sama
lain, dimana jika satu pihak tidak dapat bekerja tanpa melibatkan orang lain, begitu juga

Halaman 6 dari 12

sebaliknya. Keberadaan keduanya saling membutuhkan, saling terhubung, dan saling
memberikan keberuntungan (simbiosis mutualisme).

Variasi interdependensi tersebut dapat berpola positif dan negatif atau tidak ada
saling ketergantungan. Interdependensi negatif bentuknya adalah kerjasama, kolaborasi,
sinergi. Dinamika psikologis dari interdepensi yang positif adalah dimana setiap individu
meyakini bahwa tujuan akan tercapai jika dan hanya jika tujuan dari anggota yang lain
dalam kelompok juga tercapai. Sebaliknya interdependensi negatif bentuknya adalah
persaingan. Dinamika psikologis interdependensi yang negatif adalah dimana setiap
individu berkeyakinan bahwa ketika seseorang telah mencapai tujuannya maka anggota
lainnya gagal mencapai tujuannya. Sementara tidak ada interdependensi merujuk pada
situasi setiap individu mencari manfaat pribadi untuk mendapai tujuannya tanpa
memperhatikan akibatnya bagi orang lain (Johnson & Johnson, 2012).

Teori interdepensi merupakan salah satu teori pertukaran sosial (social exchange
theory) yang menjelaskan bahwa hubungan interpersonal didefinisikan melalui
kesalingketergantungan interpersonal. Hal ini berarti interaksi antar orang dalam hubungan
sosial mempengaruhi respon, perilaku, dan pengalaman orang lain. Dalam konteks ini sulit
sekali melepaskan orang lain dalam situasi hubungan interpersonal dimana kehadiran orang
lain justru penting bagi keberadaan individu. Teori pertukaran sosial secara umum
memahami bahwa keberadaan individu dalam lingkungan sosial tidak akan berarti atau
tidak ada gunanya tanpa kehadiran orang lain. Karena pada dasarnya, dalam interaksi sosial
terjadi proses pertukaran pesan, peran, dan fungsi antar setiap anggota dalam ruang
interaksi sosial tersebut.

Pada masyarakat individualis, isu interdependensi – mungkin – dianggap sebagai isu
baru atau baru disadari keberadaan variabel ini. Sebaliknya pada masyarakat kolektivis,
interdependensi menjadi bagian penting dalam proses sosial. Sebagai contoh budaya
gotong royong, kerja bakti dan berbagai bentuk aktivitas saling bantu dalam kehidupan
sosial merupakan salah satu sistem sosial budaya sekaligus pranata budaya yang menjadi

Halaman 7 dari 12

penciri dari masyarakat kolektivis. Konsep barter barang dan jasa merupakan hal yang wajar
dalam masyarakat kolektivis.

Merujuk pada konsep dasar teorinya, interdependensi dapat formulasikan dengan
rumus I = f [A, B, S] yang berarti, interaksi interpersonal (I) merupakan fungsi (f) dari situasi
yang ada (S) ditambah tindakan (A) dan karakteristik individu (B). Secara kontekstual
formula tersebut menjelaskan interaksi interpersonal adalah hasil dari adanya situasi yang
memungkinkan masing-masing individu bereaksi atau bertindak sesuai karakteristik
masing-masing di mana mereka saling mempengaruhi satu sama lainnya.

Dengan demikian interdependensi (saling ketergantungan) tidak bisa dilihat hanya
pada satu level interaksi semata. Interdependensi merupakan konsep yang diaplikasikan
pada multilevel analisis antar individu, kelompok, dan organisasi. Dimana konsep ini
merujuk pada saling keterkaitan antar aspek atau dimensi dalam interaksi sosial, baik
interaksi antar individu, kelompok maupun organisasi. Interaksi tersebut bersifat dinamis
yang berarti saling ketergantungan antara anggotanya dapat bervariasi (Johnson & Johnson,
2012).

Interdependensi dalam Pendidikan
Sebagaimana interdepensi dalam kehidupan sosial, begitu pula dalam proses

pendidikan. Dulu kita mengenal Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) hingga sekarang paradigma
belajar menjadi Project Based Learning (PJBL). Dari semua metode belajar yang kita ketahui,
mayoritas proses belajar menekankan pada pentingnya berinteraksi dengan siswa lain.
Interaksi antar siswa mengantarkan peserta didik menjadi lebih mudah memahami materi,
karena di saat itu ada proses belajar bersama, berusaha saling memberikan pemahaman,
berdiskusi untuk menemukan kesimpulan terbaik, dan tidak sedikit saling berdebat untuk
mempertahankan pribadi antar peserta didik. Bagaimana pun dan pola cara belajarnya,
pada akhirnya akan berujung pada proses untuk mengembangkan pemahaman siswa
secara kontekstual dan mendorong mereka terlibat dengan lebih banyak orang.

Halaman 8 dari 12

Menghadapi kompleksitas permasalahan dan tantangan yang dihadapi siswa di
masa depan, secara tidak langsung, proses intedependensi mengajarkan tidak satu solusi
yang final untuk suatu permasalahan. Selalu ada peluang untuk menemukan perspektif
yang lain, unik, aneh, bahkan tidak biasa. Dan solusi tersebut tidak cukup hanya ditemukan,
dirumuskan namun juga perlu didiskusikan dengan pihak lain untuk mendapatkan
perspektif yang berbeda. Interdependensi demikian memungkinkan satu orang
berkontribusi kepada orang lain atau menerima lebih banyak kontribusi dari orang lain.
Dalam belajar proses demikian memungkinkan siswa memilih khazanah pemahaman yang
lebih luas dari yang lainnya.

Menjadikan interdependensi sebagai bagian dari proses belajar setidaknya perlu
dilihat dari 4 fungsi, yaitu interdependensi sebagai strategi belajar, modal belajar, modal
perubahan, dan modal keberhasilan peserta didik.

1. Interdependensi Sebagai Strategi Belajar
Mungkinkah interdependensi menjadi salah satu strategi belajar? Jawabannya

sudah pasti harus. Karena interdependensi mensyaratkan kehadiran orang lain dalam
proses belajar. Mendorong para peserta didik untuk belajar bersama, mengerjakan projek
sekolah bersama-sama, berdiskusi satu sama lain, membuat projek belajar yang saling
terhubung satu sama lain, dan berbagai aktivitas lainnya yang memungkinkan.

Dalam proses belajar yang melibatkan strategi interdependensi akan tercipta
kerjasama, kolaborasi, sinergi, kreativitas, dan komunikasi antar peserta didik. Semua hal
itu menjadikan keberadaan masing-masing individu menjadi sangat dibutuhkan dan saling
mendukung. Situasi yang saling membutuhkan dan saling mendukung pada akhirnya akan
melahirkan lingkungan belajar supportif bagi sesama peserta didik.

2. Interdependensi Sebagai Modal Belajar
Modal belajar adalah semua potensi dalam diri individu yang memungkinkannya

untuk melaksanakan proses belajar dengan berhasil dan tuntas. Selama ini kita mengenal

Halaman 9 dari 12

modalitas belajar selalu merujuk pada kemampuan inderawi dominan untuk menangkap
informasi yang diterima. Sementara dalam interdependensi sebaga modal belajar, siswa
tidak lagi dilihat secara terpisah dari lingkungan belajarnya. Ia diposisikan sebagai satu
kesatuan yang saling terhubung antar satu sama lain dengan keadaan yang saling
membutuhkan dan saling tergantung. Sebagai modal belajar, siswa tidak cukup dinilai dari
pencapaian personal, pencapaian kelompok atau rerata kelompoklah yang akan
diperhitungkan.

Asumsi yang dibangun adalah keberhasilan yang diharapkan dalam proses belajar
adalah capaian setiap orang dalam kelompok yang saling berkorelasi satu sama lain.
Sehingga mau tidak mau, setiap orang dalam kelompok akan berpikir bagaimana caranya
agar temannya juga mendapakan keberhasilan yang relatif sama atau lebih dari dirinya
sendiri. Pada masyarakat kita yang kolektivis, modal kebersamaan dapat menjadi perekat
interdependensi sebagai modal belajar.

3. Interdependensi Sebagai Modal Perubahan
Perubahan yang digerakkan oleh individu tetap efektif, namun perubahan yang

digerakkan secara bersama-sama dengan membangun konektivitas dengan berbagai pihak
tentu menjadi lebih powerfull. Untuk tagline seperti together we can change menunjukan
bahwa lingkungan sosial yang saling mendukung dapat menjadi modal perubahan bagi
siapapun yang ada dalam kelompok belajar/sosial.

Pada prinsipnya perubahan harus dimulai dengan niat, kemudian diteruskan dengan
membangun kelompok. Kelompok yang baik atau terbentuk dengan cara yang baik dapat
terus menggerakkan roda perubahan atau bahkan menjadi seperti agen perubahan dalam
pendidikan. Perubahan itu pasti, cepat atau lambat akan menghinggap pada kita dengan
segala kondisi mau diterima atau ditolak. Dan kesiapan menghadapi perubahan dapat terus
digaungkan oleh para kelompok yang telah meletakkan iterdependence sebagai realitas
penting dalam hubungan antar personal.

Halaman 10 dari 12

4. Interdependensi Sebagai Modal Keberhasilan
Dalam teori kelompok disebutkan bahwa untuk mencapai kekuatan kelompok

dalam membawa perubahan dan kemajuan maka kelompok harus melewati 3 proses awal,
yaitu pembentukan kelompok (forming), mengelola badai konflik dan perbedaan
(storming), merumuskan aturan dan kesepakatan yang harus dipatuhi (norming), baru yang
terakhir organisasi dapat bekerja (performing). Interdependensi menjadi modal utama bagi
keberhasilan siswa atau peserta didik.

Penutup: Kunci Sukses Pendidikan Masa Depan
Pendidikan adalah proses mencerdaskan manusia agar mereka mampu menangani

berbagai problematika kehidupan pada waktunya. Oleh karena itu target pendidikan yang
paling penting adalah mendorong kemampuan untuk beradaptasi dengan berbagai situasi
dan keadaan sembari meningkatkan kualitas well being masing-masing orang dalam proses
pendidikan. Sementara untuk menjamin keberhasilan dan kualitas pendidikannya, negara
harus hadir dalam proses pendidikan dengan mengeluarkan peaturan-peraturan yang
mendukung program belajar siswa.

Interdependensi dalam pendidikan melibatkan berbagai pihak sekaligus berbagai
proses. Dengan keterlibatan banyak pihak, diharapkan luaran dari proses pendidikan sudah
memenuhi target minimal program pendidikan itu sendiri. Sementara prosesnya dapat
berjejaring dengan berbagai pihak yang dapat saling mendukung.

Renungan Akhir
Waktu tidak akan pernah menunggumu bangun tidur
untuk membangun kehidupan dan peradaban.
Ia akan tetap berlari meski engkau masih terlelap
menikmati bunga-bunga mimpimu.
Dan ketika bangun,
engkau terperanjat karena tiba-tiba saja dirimu
sudah berada di ambang garis finish kehidupanmu.
Lantas engkau naik pitam mencela waktu,
mengapa ia secepat itu menuakan usiamu

Halaman 11 dari 12

dan berlalu tanpa turut berikhtiar nyata meng-indah-kan kehidupan.
Mendengar cemoohanmu, waktu hanya berbisik lirih:
“Bukan aku yang mencuri usiamu,
tetapi dirimu yang dengan sengaja melepaskannya pergi sia-sia.”

Halaman 12 dari 12

Daftar Rujukan

Johnson, D. W., & Johnson, F. P. (2012). Dinamika Kelompok Teori dan Keterampilan, Edisi
Kesembilan. Jakarta: Indeks.

https://www.merriam-webster.com/dictionary/interdependence#h1


Click to View FlipBook Version