Sahabat yang Mulia Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, ٍ سوداء َاة النداد: هو الشرك، أخفى من َدِبي ِب النمل على َصف في ظلمة الليل. وهو أن تقول: وال وحياتك يا فلن، وحياتي، ة هذا لتانا اللصوص، ولول البط في الدار َُ ب ْ كَلي ُ وتقول: لول لتانا اللصوص، وقول الرجل لصاحبه: ما شاء ال وشئت، وقول الرجل: لول ال وفلن، ل تجعل فيها فلنا؛ هذا كله به شرك “Sekutu-sekutu adalah syirik, yang lebih tersembunyi dari rayapan semut di atas batu hitam dalam kegelapan malam, yaitu jika engkau mengatakan: - Demi Allah, demi hidupmu wahai fulan, dan demi hidupku. - Kalau bukan karena anjing kecil ini maka pencuri akan mendatangi kita. Kalau bukan karena burung di rumah maka pencuri akan masuk. - Sesuai dengan kehendak Allah dan kehendakmu. - Kalau bukan karena Allah dan fulan. Janganlah kamu jadikan fulan di dalamnya, ini semua adalah syirik.” [Diriwayatkan Ibnu Abi Hatim] Syirik besar apabila ia meyakini fulan tersebut sama dengan Allah ‘azza wa jalla. Syirik kecil apabila ia tidak meyakini fulan tersebut sama dengan Allah ‘azza wa jalla. Semua bentuk penyamaan antara Allah ‘azza wa jalla dengan makhluk termasuk syirik, baik dalam keyakinan, ucapan maupun perbuatan. 51
22. Syirik Menisbatkan Nikmat kepada Selain Allah ‘Azza wa Jalla Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, و َن ُ ِر ل َكاف ْ م ا ُ ه ُ ُ َر كث َ َها َوأَ ْ ون ُ ِر ك ْ ُن م ي َ ُ ع َم َت الِ ث ْ ِ و َن ن ُ ع ِرف ْ َ ي “Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya, dan kebanyakan mereka adalah orangorang yang kafir.” [An-Nahl: 83] Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman, ِي ِند ع لمٍ ْ ِ ه َعَلىٰ ع ُُ ِيت وت َ َما أُ ِن َقاَل إ “Qorun berkata: Aku mendapatkan harta karena ilmu yang aku miliki.” [Al-Qoshosh: 78] Tiga Bentuk Penisbatan Nikmat kepada Selain Allah ‘Azza wa Jalla Pertama: Apabila dinisbatkan kepada sebab yang samar, tetapi bukan sebab yang hakiki, seperti ucapan: “Kalau bukan karena wali fulan di kubur keramat tersebut, saya belum punya anak” dan ucapan yang semisalnya maka ini adalah syirik besar. Kedua: Apabila dinisbatkan kepada sebab yang hakiki, seperti ucapan, ‘Harta ini aku wariskan dari orang tuaku’, dan yang semisalnya, maka boleh dengan dua syarat: (1) Meyakini bahwa itu hanya sebab, dan Allah ‘azza wa jalla yang memberikan nikmat. (2) Tidak melupakan Allah sebagai Pemberi nikmat. Apabila syarat pertama tidak terpenuhi maka syirik besar, dan apabila syarat kedua tidak terpenuhi maka syirik kecil. 52
Ketiga: Apabila dinisbatkan kepada sebab yang zhahir, tetapi bukan sebab yang hakiki, yang dapat dibuktikan secara syari’at dan takdir, seperti ucapan, “Gelang ini atau kalung ini yang menyelamatkan saya” dan yang semisalnya, maka termasuk syirik, sama dengan keyakinan terhadap jimat, maka syiriknya dalam dua tingkatan: (1) Syirik besar, apabila diyakini benda itu berpengaruh dengan sendirinya, bukan Allah ‘azza wa jalla yang memberi nikmat. (2) Syirik kecil, apabila diyakini benda itu berpengaruh dengan izin Allah ‘azza wa jalla, karena seakan-akan ia bersekutu bersama Allah ta’ala dalam menentukan sesuatu sebagai sebab. 53
23. Kesyirikan dan Kekufuran Yahudi dan Nasrani Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, َ َم َا ِر َج َهن ِى ن ِ َي ف ش ِرك ْ ُ ٱل ْ ٰ ِب َو ِتَ لك ْ ه ِل ٱ ن أَ ْ ْ ِ وا۟ م ُ َر ِي َن َكف لذ َ ن ٱ َ ِ إ ِ َة َ ِري لب ْ ُ ٱ م َشر ْ ه ِ َك ُ ۚ أُ ۟ولَٰٓئ ِي َهآ ِي َن ف ِد ٰخَل “Sesungguhnya orang-orang kafir yakni Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan orang-orang yang musyrik akan masuk neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.”:[Al-Bayyinah: 6] Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman, ۖ ن الِ ُ ْ َ ِسيحُ اب ال ْ َى َ َصار ن الِ َوَقاَل ِت الن ُ ْ ٌ اب ر ْ عزَي ُ د ُ هو ُ َ لي ْ َوَقاَل ِت ا ۚ ل ُْ ِن َقب وا م ُ َر ِي َن َكف لذ َ وَل ا و َن َقْ ُ ُ َضا ِهئ ي ۖ م ْ ْ َوا ِه ِه َف هم ِبأ ل ُ ُ و ِ َك َقْ ٰل ذَ كو َن ُ َ ؤف ْ ُ َىٰ ي م الُۚ أَن ُ ه ََل ُ َقات “Orang-orang Yahudi berkata, ‘Uzair itu anak Allah’, dan orang Nasrani berkata, ‘Al-Masih itu anak Allah’. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut-mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” [At-Taubah: 30] Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman, َ ِسيحُ ال ْ َ َم َوَقاَل ي ْ ن َمر ُ ْ َ ِسيحُ اب ال ْ هَو ن الَ ُ َ ِ لوا إ ُ ِي َن َقا لذ َ َ ا َر د َكف َل َق ْ ك ِبالِ ْ ش ِر ْ ُ ن ي ْ ه َم َُ ِن م إ ك ْ ُ َ َب ي َور ِ َب دوا الَ ر ُ ُ عب ِيَل ا ْ َائ سر ْ ِ ِي إ َن َا ب ي ر ٍ ْ َصا َن ن أ ْ ِ ِِ َي م ال َ ِلظ ُ َوَما ل ار َ ُ الن َْواه ََة َوَمأ ل َجن ْ ِ ا ه ْ َ َم الُ َعَلي د َحر َ َق ْ ف 54
“Sesungguhnya telah kafir orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putra Maryam’, padahal Al-Masih (sendiri) berkata: ‘Wahai Bani Israel, sembahlah Allah Rabbku dan Rabbmu’. Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah haramkan surga atasnya, tempatnya adalah neraka, dan tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” [Al-Maidah: 72] Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman, ه َِلٌ ِل إ ٍ إ َِله ن إ ْ ِ ٍ َوَما م َة َلث ث ث ُ ِ َال لَه ث َ ِنَ ال لوا إ ُ ِين َقا لذ َ َ ا َر د َكف َل َق ْ د ٌ َوا ِح “Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah satu dari yang tiga, dan tidaklah sesembahan itu kecuali sesembahan yang satu.” [Al-Maidah: 73] Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman, ت س َماَوا ُ د ال َ َ َكا ُ ِ ًدّا ت ًا إ ْئ م َشي ْ ُ ت ْ د ِجئ دا َل َق ْ ن َوَل ً ُ حَم ْ َ َ الر َ َخذ لوا ات ُ َوَقا وا ْ ن َد َع ً أَ ْ ل َهداّ ُ َا ِب لج ْ ُ ا َ ِخر ض َوت ُ ْ ْلَر ق ا ُ ْ َش َن ه َوت ُْ ِن ْ َن م ر َ َط َف َت ي دا حَم ِن َوَل ً ْ َ لر ِ ل “Dan mereka berkata, ‘(Allah) yang Maha Penyayang mempunyai anak’. Sesungguhnya (dengan perkataan itu) kamu telah mendatangkan suatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi terbelah, serta gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwakan Allah yang Maha Penyayang mempunyai anak.” [Maryam: 88-91] 55
24. Kesyirikan dan Kekufuran Aliran Kebatinan Pertama: Kekufuran Sinkretisme, Mencampurkan Antara Hindu, Budha dan Islam Allah jalla wa ‘ala berfirman, م سلَ ُ ْ َد الِ ا ِل ْ ِن دي َن ع ن ال ِ َ ِ إ “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” [Ali Imran: 19] Allah tabaraka wa ta’ala juga berfirman, ِ َن ِ م َة ِي ال ِخر هَو ف ُ ه َو ُْ ِن َ َل م قب ْ ُ ن ي ََل ْ ًا ف ِين سلَمِ د َ ا ِل ْ ر ْ َغِ َغي ْت َب ن ي ْ َوَم ل َخا ِس ِري َن ْ ا “Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” [Ali ‘Imran: 85] Kedua: Kekufuran Tidak Meyakini Allah ‘Azza wa Jalla Sebagai Satu-satunya yang Berhak Disembah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ن َ َ ل َوأ ُ َا ِط لب ْ هَو ا ُ ِ ِه دون ُ ِن عو َن م ُ د ْ َ ن َما ي َ َ ق َوأ ُ ل َح ْ هَو ا ن الَ ُ َ َ ِ َك ِبأ ٰل ذَ ُ ل َكِبير ْ ِيُ ا ل َعل ْ هَو ا الَ ُ “Yang demikian itu karena Allah Dialah sesembahan yang benar, dan apa saja yang mereka sembah selain Dia maka itu adalah sembahan yang batil, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” [Al-Hajj: 62] 56
Ketiga: Kesyirikan dalam Rububiyyah Keyakinan mereka bahwa makhluk-makhluk di gunung tertentu atau di pantai tertentu adalah penguasa dan pelindung-pelindung mereka, yang bisa memberi manfaat dan menimpakan mudharat, selain Allah ‘azza wa jalla, maka ini adalah syirik besar. Allah ‘azza wa jalla berfirman, ِى ف ٍ َة َر ْ َقاَل ذ ِث كو َن م ُ ِ مل ْ َ دو ِن ٱلِۖ َل ي ُ من ِ م ُ مت ْ ِي َن زَ َع لذ َ عوا۟ ٱ ُ د ق ِل ٱ ْ ُ هم ُْ ِن هۥ م ك َوَما َلُ ٍ ْ ِن ِشر ِي ِه َما م م ف ْ ه ْ ِض َوَما َل ُ ْلَر ِى ٱ ٰ ِت َوَل ف سمَٰوَ ٱل َ هۥ ِ َن َلُ ن أَذ ْ َِ ل ل َِ ُۥٓ إ ِن َده ة ع ُ ٰ َع شفَ َ َعُ ٱل َنف ر، َوَل ت ٍ َ ِهي من ظ ِ “Katakanlah: Berdoalah kepada mereka yang kamu anggap sebagai tuhan selain Allah, maka mereka tidak memiliki kekuasaan seberat zarrah pun di langit dan di bumi, dan tidak pula mereka bersekutu dengan Allah sedikit pun dalam penguasaan langit dan bumi, dan tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya, dan tidak bermanfaat syafa’at di sisi-Nya kecuali bagi siapa yang Dia izinkan.” [Saba’: 22-23] Allah ‘azza wa jalla juga berfirman, م ك ْ ُ ُ ضر ُ َ ْـًٔا َوَل ي م َشي ك ْ ُ ع ُ َ َنف دو ِن ٱلِ َما َل ي ُ ِن دو َن م ُ ُ عب ْ َ َت َقاَل أَف “Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak pula memberi mudharat kepadamu?" [Al-Anbiya: 66] 57
Allah ‘azza wa jalla juga berfirman, ِ ضر ُ ش َف ٱل ْ كو َن َك ُ ِ مل ْ َ َ َل ي ِۦ ف ِه دون ُ من ِ م ُ مت ْ ِي َن زَ َع لذ َ عوا۟ ٱ ُ د ق ِل ٱ ْ ُ ل ً حِوي ْ َ م َوَل ت نك ْ ُ َع “Katakanlah: Panggillah mereka yang kamu anggap tuhan selain Allah, maka mereka tidak punya kuasa untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya.” [Al-Isra’: 56] Keempat: Kesyirikan dalam Uluhiyyah Mereka mengagungkan dan mendekatkan diri (taqorrub) kepada makhluk-makhluk tersebut dengan berbagai ritual dan upacara untuk mempersembahkan berbagai macam ibadah, maka ini adalah syirik besar, karena ibadah milik khusus Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla berfirman, ِ َي، ٰ َلم لعَ ْ ب ٱ ِ َ ِى لِ ر َا َى َوَم َمات حي ْ ِى َوَم سك ُ ُ ِى َون ن َصَلت َ ِ ل إ ْ ق ُ ِ َي ِم سل ْ ُ ٱل ْ ل ُ و ََ َا۠ أ َن ت َوأ ُ ْ ِر م ِ َك أُ ٰل ۖ َوِبذَ هۥ َل َش ِريَك َلُ “Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Rabb seluruh makhluk. Tiada sekutu bagi-Nya; dan itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku muslim yang pertama.” [Al-An’am: 162-163] Kelima: Tidak Melaksanakan Shalat Mereka tidak mementingkan shalat lima waktu, bagi mereka yang penting sudah eling maka itu cukup sebagai bentuk ibadah, maka ini termasuk kekafiran. 58
Allah ‘azza wa jalla berfirman, دي ِن ِي ال ِ م ف ك ْ ُ ُ خَوان ْ ِ َإ َ ف وا الزََكاة َُ َ َوآت صَلة وا َوأَ َق ُاموا ال َ ُ َاب ن ت ْ ِ َإ ف “Apabila mereka bertaubat (meninggalkan syirik), menegakkan sholat dan menunaikan zakat, maka mereka adalah saudara-saudaramu seagama.” [At-Taubah: 11] Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ِ صلة َك ال َ ْ َر ْ ِر ت كف ُ ل ْ ِك وا ْ شر ِ ْ َي ال ج ِل وب ُ َ ْ َي الر إنَ ب “Sesungguhnya antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan sholat.” [HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu‘anhuma] Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda, َ َر د َكف َ َق ْ َك َها ف َ َر ن ت ْ َ َم ، ف ُ صَلة م ال َ ُ ه َُ ن ْ َي َا َوب َن ن ْ َي ِي ب لذ َ د ا ُ ه ْ ال َع “Perjanjian antara kami dengan mereka adalah sholat, barangsiapa yang meninggalkannya maka ia telah kafir.” [HR. At-Tirmidzi dan An-Nasaai dari Buraidah bin Al-Hushaib radhiyallahu’anhu, Shahih An-Nasaai: 162] Tabi’in yang Mulia Abdullah bin Syaqiq rahimahullah berkata, ِ َن ًا م ْئ و َن َشي ْ َ َر ل َم َل ي َ ِ َو َس ه ْ ه َعَلي لُ َ لى ال َ ٍ َص مد َ م َح ُ ب ص َحا ُ َكا َن أَ ْ ِ صَلة َ ال َ ر ْ ٌ َغي ر ْ كف ُ ه كُ ُ ْ َر ع َما ِل ت الَ ْ “Dahulu para sahabat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam tidaklah memandang adanya satu amalan yang apabila ditinggalkan merupakan kekafiran, kecuali sholat.” [Diriwayatkan At-Tirmidzi, Shohihut Targhib: 565] 59
25. Kesyirikan dan Kekufuran Syi’ah dan Kesamaannya dengan Sebagian Shufiyyah/Tarekat/Tasawuf Pertama: Syirik dalam Tawassul (Menjadikan Makhluk Sebagai Perantara dalam Beribadah) Syi’ah meyakini bahwa imam-imam mereka adalah perantara dalam beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla (lihat Ushul Madzhab Syi’ah, 2/441). Demikian pula Shufiyyah meyakini bahwa wali-wali mereka adalah perantara dalam berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla yang mereka sebut ‘tawassul’, padahal itu adalah tawassul yang syirik, bukan tawassul yang syar’i, karena doa itu ibadah yang hanya boleh ditujukan kepada Allah ‘azza wa jalla (lihat pembahasan dosa syirik nomor 1). Kedua: Syirik dalam Tabarruk (Mencari Berkah dari Kuburan dan Batu-batuan) Syi’ah meyakini bahwa batu di kuburan Al-Husain radhiyallahu’anhu dapat memberikan berkah yang menyembuhkan segala penyakit (lihat Ushul Madzhab Syi’ah, 2/489). Demikian pula Shufiyyah meyakini bahwa batu-batuan di kuburan para wali atau bangunan kuburan-kuburan itu dapat memberikan berkah kepada mereka, maka ini termasuk syirik karena hanya Allah ‘azza wa jalla yang dapat memberikan dan menetapkan sesuatu memiliki berkah (lihat pembahasan dosa syirik nomor 11). 60
Ketiga: Syirik Meyakini Imam dan Wali Mereka Mengetahui Ilmu Ghaib Syi’ah meyakini bahwa imam-imam mereka memiliki ilmu ghaib (lihat Ushul Madzhab Syi’ah, 1/330). Demikian pula Shufiyyah meyakini bahwa wali-wali mereka mengetahui perkara ghaib, ini adalah syirik karena hanya Allah ‘azza wa jalla yang mengetahui perkara ghaib (lihat pembahasan dosa syirik nomor 14). Keempat: Syirik Meyakini Imam dan Wali Mereka Berhak Menghalalkan dan Mengharamkan Syi’ah meyakini bahwa imam-imam mereka berhak menghalalkan dan mengharamkan sekehendak mereka (lihat Ushul Madzhab Syi’ah, 2/484). Demikian pula Shufiyyah meyakini bahwa wali-wali mereka apabila sudah mencapai derajat hakikat maka halal baginya melakukan yang haram secara syari’at atau meninggalkan kewajiban syari’at, ini adalah syirik karena hanya Allah ‘azza wa jalla yang berhak menghalalkan dan mengharamkan (lihat pembahasan dosa syirik nomor 18). Kelima: Syirik Wihdatul Wujud Syi’ah meyakini bahwa bagian dari diri Allah ‘azza wa jalla menyatu dengan imam-imam mereka (lihat Ushul Madzhab Syi’ah, 2/519). Demikian pula Shufiyyah meyakini wihdatul wujud, yaitu menyatunya wali-wali mereka dengan Allah ‘azza wa jalla. 61
Bahkan sebagian mereka meyakini bahwa Allah ‘azza wa jalla menyatu dengan semua makhluk, sehingga mereka pun meyakini bahwa semua yang disembah selain Allah ‘azza wa jalla pada hakikatnya adalah Allah ‘azza wa jalla sendiri, dan mereka mengklaim itulah hakikat Laa ilaaha illallah. Tidak diragukan lagi ini adalah keyakinan syirik dan kufur serta pelecehan terhadap Allah ‘azza wa jalla, karena bagaimana mungkin Allah jalla wa ‘ala yang Maha Suci, Maha Besar, Maha Agung, Pemilik segala kebaikan dan semua pujian, menyatu dengan makhluk yang hina, kotor, lemah, kecil dan penuh dosa…!? Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim Al-Harrani rahimahullah berkata, ِي َن لذ َ ِ ا جود ُ و لُ ْ ِ ا ح َدة ْ ه ِل و ْ َ ل أ ُ و هَو َقْ ُ ِي لذ َ ق" ا َْل ُ ُط ال ْ د ِ َحا ُ ما "ا ِلت َ َ َوأ ل ٌ ع ِطي ْ َ َا ت َ َهذ ِ ِق ف ل َخال ْ ِ ا جود ُ و ُ ي ُ ْ هَو َع لو ِق ُ ُ خ ْ َ ال ْ جوَد ُ و ُ ن مو َن أَ َ ُ ع َزْ ُ ي ك ٍ ْ ل ِشر ِ ك ُ ِ ِعٌ ل هَو َجام ُ ه َو د َلُ ٌ حو ُ ج ُ ِعِ َو صان ل َ ِ ل “Adapun penyatuan secara mutlak yang merupakan pendapat pengikut wihdatul wujud, yang menganggap bahwa adanya makhluk adalah dzat pencipta itu sendiri, maka ini adalah pengingkaran dan penentangan terhadap Pencipta, dan itu mengumpulkan semua bentuk kesyirikan.” [Majmu’ Al-Fatawa, 10/59] وبال التوفيق، وصلى ال على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم. 62
ttrraavveell..ssooffyyaannrruurraayy..iinnffoo 0088111188118844221111