TEORI PERKEMBANGAN MENURUT ERIKSON "Anda harus belajar menerima hukum kehidupan, dan menghadapi kenyataan bahwa kita hancur perlahan-lahan". E R I K H . E R I K S O N _Erik H. Erikson Sebuah proyek yang disusun oleh kelompok 6 Mata kuliah Perkembangan Peserta Didik Dosen Pengampu : Dr. Herson Kadir, S.Pd, M.Pd Tim Penyusun 1. Artika Cahyanti Hadjim2. Bayu Adi Wiyono 3. Pauziah Djamani
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas kelompok untuk mata kuliah Perkembangan Peserta Didik, dengan Judul: “Teori Perkembangan Menurut Erik Erikson”. Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini tidak terlepas dari bantuan banyak pihak yang dengan tulus memberikan doa, saran dan kritik sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Kami Menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dikarenakan terbatasnya pengalaman dan pengetahuan yang kami miliki. Oleh karena itu, kami mengharapkan segala bentuk saran serta masukan bahkan kritik yang membangun dari berbagai pihak. Akhirnya kami berharap semogamakalah ini dapat memberikan manfaat bagi perkembangan dunia pendidikan. Gorontalo, 22 Oktober 2023 Penulis I KATA PENGANTAR Teori Perkembangan Erikson I
KATA PENGANTAR........................................................................................ DAFTAR ISI................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN.................................................................................... 1.1 LATAR BELAKANG............................................................................. 1.2 BIOGRAFI TOKOH............................................................................... BAB II PEMBAHASAN................................................................................... 2.1 PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL MENURUT ERIK ERIKSON................. 2.2 FONDASI TEORI ERIKSON.................................................................. 2.3 TAHAPAN PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL ERIKSON.......................... 2.4 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL...... BAB III PENUTUP.......................................................................................... 3.1 SIMPULAN...................................................................................... DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ DAFTAR ISI Teori Perkembangan Erikson ii
1.1 LATAR BELAKANG alam pendidikan tidak terlepas dalam memperhatikan perkembangan peserta didik. Dengan mengetahui perkembangan peserta didik dapat membantu pendidik untuk lebih mengenal peserta didik dan tahu bagaimana menghadapi serta membantu peserta didik dalam pendidikannya. Perkembangan dimaknai sebagai suatu proses perubahan dalam diri individu, secara fisik maupun psikis menuju tingkat kedewasaan atau kematangan. Perkembangan itu berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan secara psikis perkembangan mengarah kepada pembentukan kepribadian yang sangat menentukan seseorang dalam bersosialisasi. ada dasarnya perkembangan menunjuk kepada perubahan sistematik tentang fungsi-fungsi fisik dan psikis. Perubahan fisik meliputi perkembangan biologis dasar sebagai hasil dari konsepsi (pembuahan ovum oleh sperma) dan hasil dari literasi proses biologis dan genetika dengan lingkungan. Sementara perubahan psikis menyangkut keseluruhan karakteristik psikologi individu seperti perkembangan kognitif emosi sosial dan moral. Perkembangan merupakan proses perubahan kuantitatif dan kualitatif individu dalam kehidupannya mulai dari masa konsepsi, masa balik, masa kanak-kanak, masa remaja, sampai masa dewasa, dengan demikian perkembangan dapat diartikan sebagai suatu proses perubahan dalam diri individu atau organisme baik fisik jasmani maupun fisik rohani menuju tingkat kedewasaan atau kematangan yang berlangsung secara sistemati, progresif, dan berkesinambungan. Teori Perkembangan Eriksonl 1 D P Bab I Pendahuluan
01 Sistematis 02 Progresif 03 Berkesinambungan Perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling ketergantungan atau saling mempengaruhi antara bagian-bagian organisme fisik dan psikis dan merupakan suatu kesatuan yang harmonis contohnya prinsip ini seperti kemampuan berjalan kaki seiring dengan matangnya otot-otot kaki atau berkembangnya minat untuk memperhatikan lawan jenis seiring dengan datangnya hormon seksual. Perubahan yang terjadi bersifat maju meningkat mendalam atau meluas baik secara kuantitatif fisik maupun secara kualitatif atau psikis Contohnya seperti terjadinya perubahan proporsi dan ukuran Fisik anak dari pendek menjadi tinggi dari kecil menjadi besar dan perubahan pengetahuan atau kemampuan anak dari yang sederhana sampai kepada yang kompleks mulai dari pengenalan huruf dan angka sampai kepada kemampuan membaca menulis dan berhitung. perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara berurutan dan beraturan contohnya untuk dapat berjalan seorang anak lebih dahulu terlentang tengkurap duduk merangkak dan berdiri Sedangkan untuk anak dapat berbicara didahului dengan meraban dan untuk mencapai masa dewasa harus melalui masa konsepsi bayi anak dan remaja. 2 Teori Perkembangan Erikson
1.2 BIOGRAFI TOKOH Erik H. Erikson adalah salah satu tokoh psikoanalisa yang lahir di Frankurt, Jerman, 15 Juni 1902. Ayah kandung Erikson adalah seorang pria kebangsaan Denmark yang meninggalkan Erikson pada usia tiga tahun sehingga ibu Erikson yang bernama Karla Abrhamsen menikah lagi dengan Theodore Homberger yang menjadi ayah tiri Erikson dan nama Hamberger kini menjadi bagian dari nama Erikson. Setelah lulus SMA, Erikson menjadi seniman namun tidak mengambil kuliah seni dan memelih berkeliling Eropa untuk menikmati dan belajar seni. Erikson menjadi guru pada sekolah yang dikelolah Dorothy Burlingham, teman Anna Freud yang direkomendasikan oleh Peter Blos pada usia 25 tahun. Tahun 1927 – 1933, Erikson belajar sebagai Child Analyst di Vienna Psycholoanalytic Institute bersama Anna Freud dan menikahi Joan Serson pada tahun 1930 serta memiliki tiga orang anak. Selama tahun tersebut, Erikson mendapat sertifikan dari Motessori Education dan Vienna Psychoanalityc Society. Tahun 1933 ketika Nazi berkuasa, Erikson Pindah ke Copenhagen, lalu pindah ke Denmark dan ke Boston, Amerika. Erikson mengajar di Harvard Medical School dan membuka praktik psikoanalisis anak-anak. Di sinilah Erikson bertemu Henry Murray dan Kurt Lewin serta tokoh-tokoh besar lainnya.Selanjutnya Erikson mengajar di University of California di Berkeley dan melakukan penelitian tentang kehidupan modern dalam suku Lakota dan Yurok. Tahun 1939, Erikson mengubah namanya dari Erik Homberger menjadi Erik H. Erikson. Pada tahun 1950, Erikson membuat Childhood and Society, analisis Maxim Gorky dan Adolph Hitler, diskusi “Kepribadian Amerika”, beberapa ringkasan teori Freudian, dan Gandhi’s Truth yang memenangkan Award dan National Book Award. Beberapa tahun kemudian, Erikson meninggalkan Berkeley kemudian bekerja dan mengajar di sebuah klinik di Massachussets selama 10 tahun, dan 10 tahun kemudian kembali ke Harvard. Tahun 1970, Erikson menulis dan melakukan penelitian bersama istrinya dan akhirnya meninggal pada tahun 1994. Teori Perkembangan Erikson 3
2.1 Perkembangan Psikososial Menurut Erikson alah satu ahli yang mendasari teorinya dari sudut sosial ialah Erik H. Erikson. Menurut Erikson, perkembangan kepribadian seseorang berasal dari pengalaman sosial sepanjang hidupnya sehingga disebut sebagai perkembangan psikososial. Perkembangan ini sangat besar mempengaruhi kualitas ego seseorang secara sadar dengan menyebut pendekatannya “Psikososial” atau “Psikohistoris”. Erikson berusaha menjelaskan bahwa ada hubungan timbal balik antara pribadi dan kebudayaan sampai orang tersebut menjadi dewasa. S Teori Perkembangan Eriksonl 4 Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan hidup masyarakat dibentuk dari awal hingga akhir oleh sejarah masyarakat secara keseluruhan, dengan hubungan yang saling terkait antara manusia, masyarakat, dan perkembangan budaya. Hal ini berarti memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap lingkungan manusia dan organisasi yang terus berkembang sehingga setiap individu dapat menjadi bagian dari fokus budaya tersebut. Erikson berusaha menemukan perkembangan psikososial ego melalui berbagai organisasi sosial dalam kelompok dan budaya tertentu. Ia berupaya membangun hubungan antara manifestasi psikologis, pendidikan dan budaya masyarakat. Dalam penelitiannya, Erikson menemukan bahwa melalui praktik pengasuhan anak, struktur keluarga tertentu, kelompok sosial, dan pengaturan kelembagaan, masyarakat dan budaya mempengaruhi kekuatan ego yang berbeda-beda yang dibutuhkan anak-anak untuk mengambil peran dan tanggung jawab sosial yang berbeda. BAB II Pembahasan
Perkembangan psikososial mengacu pada tahapan kehidupan seseorang sejak lahir hingga meninggal yang diakibatkan oleh pengaruh sosial yang berinteraksi dengan organisme yang matang secara fisik dan psikologis. Perkembangan psikososial juga berkaitan dengan perasaan dan emosi, perubahan kepribadian, dan perubahan hubungan antar individu. dengan orang lain. Teori perkembangan psikososial yang dikemukakan oleh Erik Erikson merupakan salah satu teori yang paling berpengaruh dalam psikologi. Erikson memegang posisi penting dalam psikologi bersama dengan Sigmund Freud. Karena menggambarkan tahapan perkembangan manusia sejak lahir hingga tua. Ada satu hal yang tidak dilakukan Freud. Selain itu, teori Erikson yang mempertimbangkan aspek kehidupan sosial dan fungsi budaya dinilai lebih realistis, karena Freud lebih banyak berbicara tentang alam bawah sadar manusia. Teori Perkembangan Psikososial 5 Signmund Freud Erik H. Erikson Bagi Erikson, dinamika kepribadian selalu diwujudkan sebagai hasil interaksi antara kebutuhan dasar biologis dan ekspresinya sebagai perilaku sosial. Jelas apa arti psikososial ketika istilah ini digunakan dalam kaitannya dengan perkembangan. Secara khusus, tahapan kehidupan seseorang sejak lahir hingga lahir dibentuk oleh pengaruh sosial yang berinteraksi dengan organisme seiring dengan kedewasaan fisik dan psikologisnya. Di sisi lain, konsep perkembangan yang dikemukakan dalam teori psikologi seksual terdiri dari tiga tahapan: oral, anal, dan genital, serta mencakup bagaimana hubungan sosial individu terbentuk dan sekaligus dibentuk melalui perjuangan instingtual di setiap tahapnya, sehingga menjadi delapan tahap. Teori Perkembangan Psikososial
2.2 Fondasi Teori Erikson 6 1. epigenetik Erikson melihat hidup manusia terdiri atas 8 tahap, menurutnya urutan ini sudah ditentukan secara genetik dan tidak bisa diubah lagi disebutnya prinsip epigenetik yang dideskripsikan sebagai berikut: dalam memahami pertumbuhan manusia harus diingat jika prinsip epigenetik yang mengaturnya sudah beroperasi sejak di dalam rahim, prinsip ini menegaskan bahwa apapun yang bertumbuh memiliki suatu rancangan dasar untuk mengerjakan suatu fungsi secara lengkap. Erikson mengatakan, kekuatan yang diperoleh di setiap tahap perkembangan di tes oleh keniscayaannya untuk melampaui tahap tersebut dengan suatu cara, sehingga individu dapat meraih kesempatan di tahap berikutnya mengembangkan kekuatan yang awalnya rapuh di tahap sebelumnya. Menurut prinsip epigenetik, karakteristik kepribadian yang jadi mengemuka di suatu tahap perkembangan, sudah eksis sebelum tahap itu muncul, dan akan terus bertahan setelah tahapan itu dilalui. 2. Krisis Setiap tahap perkembangan ini dicirikan oleh sebuah krisis. Krisis yang mencirikan setiap tahap perkembangan akan Munculkan suatu resolusi positif namun jika gagal diselesaikan akan memunculkan resolusi negatif resolusi positif berkontribusi bagi penguatan ego untuk memperbesar kemampuan manusia beradaptasi. Resolusi negatif akan bersifat sebaliknya yang akan melemahkan ego dan menghambat manusia beradaptasi. Berdasarkan prinsip epigenetik, setiap krisis selalu eksis dalam tiga fase sebagai berikut: fase belum berkembang (immature) yaitu krisis tidak menjadi fokus perkembangan kepribadian. 2 fase kritis yaitu ketika disebabkan karena berbagai alasan seperti biologis, psikologis dan sosial, yaitu menjadi titik fokus perkembangan kepribadian dan 3) fase resolusi , ketika resolusi atas krisis mempengaruhi perkembangan kepribadian di tahap selanjutnya. Teori Perkembangan Eriksonl
3. Ritualisasi dan ritualisme Bagi Erikson, penting sekali mengakui perkembangan kepribadian manusia yang muncul dalam sebuah setting budaya. Kesesuaian antara individu dan budayanya. Menurutnya pengalaman internal dan eksternal manusia mestinya sama, minimal beberapa tarafnya, Jika seorang individu berkembang dan berfungsi normal di budayanya masing-masing. Menurut Erikson 1977, ritualisasi adalah pola-pola perilaku yang muncul berulang yang mencerminkan nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, kebiasaankebiasaan dan perilaku-perilaku yang diatur dan diberi sanksi oleh masyarakat dan budaya tertentu. Dalam arti lain ritualisasi adalah pola perilaku sehari-hari yang disetujui secara kultural dan menjadikan seseorang diterima dalam suatu budaya. Erikson mendefinisikan ritualisme adalah ritualisasi yang tidak tepat atau keliru, dan mereka adalah penyebab-penyebab di banyak patologi dan sosial. Teori Perkembangan Erikson 7
Inti dari teori perkembangan ego Erikson adalah asumsi-asumsi tentang perkembangan setiap orang, yang umumnya merupakan tahapan yang ditetapkan dalam kehidupan setiap orang. Proses yang terjadi pada setiap tahap persiapan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap “prinsip epigenetik” yang matang. Dengan kata lain, Erikson mengutarakan pandangan bahwa pertumbuhan terjadi berdasarkan prinsip epigenetik. Erikson menyatakan dalam serangkaian kata dalam teorinya: Pada dasarnya seluruh perkembangan kepribadian manusia mengalami keselarasan dari tahap yang telah ditentukan. Hal ini memungkinkan perkembangan setiap individu dilihat, didorong, dipahami dan dipengaruhi dalam lingkaran sosial yang lebih besar. Masyarakat juga pada prinsipnya mempunyai unsurunsur yang harus dilestarikan ketika individu-individu baru masuk dan berinteraksi dengan lingkungan hidup serta berupaya melestarikan dan memajukan lingkungan hidup dengan baik berdasarkan pergerakan alam melalui tahapan-tahapan yang ada. Teori Perkembangan Erikson 8
9 2.3 Tahapan Perkembangan Psikososial Erik Erikson Erikson membuat diagram yang mengatur delapan tahap perkembangan ego yang berbeda dalam istilah psikososial, yang umumnya dikenal sebagai "Delapan Tahapan Perkembangan Manusia". Erikson mendalilkan bahwa setiap tahap menimbulkan epigenetika. Epigenetik terdiri dari dua suku kata: epi yang berarti “pada” atau sesuatu yang bertahan lama, dan genetik yang berarti “kemunculan” atau kemunculan. Penjelasan mengenai perkembangan gagasan pada setiap tahapan siklus kehidupan sangat erat kaitannya dengan waktu, dan waktu sangat dominan sehingga selalu terjadi pada setiap tahapan perkembangan hingga berakhir pada masa dewasa. Secara keseluruhan, setiap tahapan berfungsi atau menggunakan kepribadiannya masingmasing. Lebih lanjut, Erikson berpendapat bahwa setiap tahapan psikososial selalu disertai dengan krisis. Perbedaan setiap unsur kepribadian yang terdapat pada setiap krisis merupakan permasalahan yang perlu diatasi/diselesaikan. Konflik sangat penting dan merupakan bagian integral dari teori Erikson, karena pertumbuhan dan perkembangan hubungan interpersonal dalam lingkungan adalah untuk meningkatkan sikap yang dapat dengan mudah diserang pada tahap apapun oleh fungsi ego. Erikson meyakini bahwa “prinsip epigenetik” akan maju atau matang jika kita dapat mengenali dengan jelas krisiskrisis psikososial yang terjadi dalam siklus hidup setiap manusia, yang kemudian menjadi hal yang lumrah dialami oleh semua manusia. yang dilalui anak. Delapan tahap perkembangan menurut teori psikososial Erikson disajikan di bawah ini. Teori Perkembangan Erikson
10 1. Percaya VS Ketidakpercayaan ( 0-1 tahun Pada tahap inilah perkembangan kepribadian setiap individu dimulai. Keyakinan muncul dari rasa sejahtera fisik dan rendahnya tingkat kecemasan dan ketakutan terhadap masa depan. Kepercayaan masa kecil membentuk harapan seumur hidup bahwa dunia adalah tempat yang baik untuk ditinggali (Trust and Distrust in International Relations, 2006). Keyakinan inti paling awal terbentuk selama tahap orosensori dan terlihat pada kemampuan bayi untuk tidur nyenyak, makan dengan nyaman, dan membuang kotoran dengan santai. Kebiasaan-kebiasaan ini bertahan sepanjang hidup bayi dan merupakan dasar paling awal untuk mengembangkan rasa identitas psikososial. Melalui pengalaman bersama orang dewasa, bayi belajar bergantung pada dirinya sendiri tapi mungkin yang lebih penting, dia percaya pada dirinya sendiri. Keyakinan ini harus mengalahkan kebalikan negatif dari keyakinan dasar: keraguan mendasar. Harapan adalah kebajikan hidup yang paling awal dan paling penting. Landasan harapan yang pertama terletak pada hubungan dengan orang tua yang memberikan pengalaman seperti istirahat, nutrisi, dan kehangatan (Wiresti & Na`imah, 2020). Pada saat yang sama, Anda mengembangkan kemampuan untuk melepaskan ekspektasi yang mengecewakan dan memiliki harapan untuk tujuan dan kemungkinan di masa depan. Menurut Erikson, harapan adalah keyakinan yang berkelanjutan terhadap kemungkinan terwujudnya keinginan yang kuat. Tahap pertama kehidupan ini diisi dengan tahapan ritualisasi yang tak terhitung banyaknya: perasaan bayi akan kehadiran ibu, dalam hal ini tatapan, genggaman, sentuhan, asi. Teori Perkembangan Erikson
11 2. Autonomi(Kemandirian) VS Rasa Malu dan ragu (usia 1-3 tahun) Tahap ini merupakan tahap perkembangan pribadi yang kedua dan ditandai dengan berkembangnya kemandirian (Aristya & Rahayu, 2018). Anak-anak pada usia ini memasuki tahap kesadaran eksternal, di mana mereka mencoba memahami dunia di sekitar mereka menggunakan mulut, mata, dan tangan. Pada titik ini, anak-anak sudah mampu berdiri, duduk, berjalan, bermain, dan minum air dari botol sendiri sampai tingkat tertentu tanpa bantuan orang tua. Namun, anak-anak sering kali memiliki pertanyaan dan mungkin meminta bantuan orang tuanya atau bahkan bertanya kepada pengasuhnya. . Pada tahap ini anak sudah menunjukkan kemandirian (Suryana, 2016). Kemandirian anak dioptimalkan dan dikembangkan ketika mereka mendapat dukungan dan dorongan dari orang tua dalam usahanya (Holis, 2007). Namun jika orang tua melakukan kesalahan dalam mengasuh anaknya, maka anak akan tumbuh dengan perasaan malu dan ragu. Beberapa rasa malu dan keraguan harus dianggap normal. Tanpa hal tersebut, anak akan mengembangkan kecenderungan maladaptif, yang disebut Erickson sebagai impulsif, dimana mereka melakukan sesuatu tanpa berpikir. Orang yang obsesif akan menganggap segalanya mudah dan sempurna. Oleh karena itu, banyak orang yang malu dan meragukan dirinya sendiri. Sedikit kesabaran dan toleransi dalam membantu anak bermanfaat bagi tumbuh kembang anak. Orang tua yang mengasuh anak pada usia ini tidak perlu menguatkan atau memadamkan keberanian anaknya. Jadi perlu ada keseimbangan di sini. Ada pernyataan terkait yang sering kali menjadi peringatan dan nasihat bagi orang tua ketika membesarkan anak. Arti ungkapan tersebut ternyata benar adanya, karena metode ini memungkinkan anak mengembangkan pengendalian diri dan harga diri. Jika anak tidak berhasil melewati fase ini, maka anak tidak akan memiliki inisiatif yang diperlukan pada fase berikutnya dan akan menghadapi kendala terus menerus pada fase berikutnya. Teori Perkembangan Erikson
Masa ini sering disebut usia prasekolah dan ditandai dengan spontanitas, kecenderungan merasa bersalah. Pada tahap ini perkembangan anak ditandai dengan kemampuannya bertindak secara mandiri dalam menanggapi tugas-tugas perkembangan. Fase ketiga ini disebut juga dengan periode permainan. Tahap ini terjadi pada titik tertentu ketika anak berusia antara tiga dan enam tahun. Tugas yang harus diselesaikan anak pada tahap ini adalah belajar mempunyai ide (spontanitas) tanpa melakukan terlalu banyak kesalahan. Penanggulangan masalah merupakan respon positif terhadap tantangan hidup. Orang tua ingin anaknya mampu mengutarakan pikirannya. Apa yang harus dilakukan orang tua jika anaknya berada pada tahap ini? Orang tua diharapkan dapat mendorong dan mendorong anak untuk menemukan dirinya sendiri. Jika tidak, kritik tidak akan membuat anak Anda mengembangkan spontanitasnya dan malah akan melemahkan semangat anak Anda dan membuat Anda merasa bersalah sepanjang waktu. 3. Inisiatif VS Rasa Bersalah (3-6 tahun) Teori Perkembangan Erikson 12
13 4. Industri VS Inferioritas (usia 6-12 tahun) Anak-anak mengembangkan lebih banyak inisiatif dan mengurangi rasa bersalah ketika mencoba aktivitas baru. Tahap ini terjadi pada saat anak memasuki sekolah dasar. Spontanitas anak menciptakan berbagai pengalaman baru. Ketika anak-anak memasuki masa kanak-kanak pertengahan dan akhir, mereka memfokuskan energi mereka pada perolehan pengetahuan dan keterampilan intelektual. Sebagai kelanjutan dari tahap perkembangan sebelumnya, anak pada usia ini sangat aktif mempelajari segala sesuatu yang ada di lingkungannya. Anak merasa mampu melakukan apa saja sesuai dengan kemampuannya (Issawi & Dauphin, 2017). Keinginan untuk mengetahui dan menyikapi lingkungannya sangat kuat, namun pada saat yang sama, kemampuan dan pengetahuannya terbatas dan terkadang dapat menemui kesulitan, hambatan, bahkan kegagalan. Teori Perkembangan Erikson
Oleh karena itu, penting bagi orang tua pada tahap ini untuk mengembangkan kemampuan anak dalam bekerja keras dan menghindari perasaan rendah diri. Pada usia ini, lingkungan sosial anak meluas dari lingkungan rumah ke lingkungan sekolah, sehingga setiap aspek memegang peranannya: orang tua harus senantiasa memberikan semangat kepada anak, guru harus memberikan perhatian, teman harus menerima kehadiran anak. Jika anak pada usia ini tidak diperlakukan sebagai anak yang tidak kompeten, maka perkembangannya akan ditandai dengan perasaan rendah diri (perasaan tidak kompeten dan tidak produktif). Teori Perkembangan Erikson 14
Di sinilah anak-anak mulai beranjak remaja. Kali ini saatnya mencari identitas. Pada masa ini, individu menghadapi pencarian keberadaannya sendiri (biasanya disebut pencarian identitas). Ada berbagai jenis hambatan yang harus diatasi untuk mencapai identitas. Ketika remaja mencari jati dirinya dan berhubungan dengan lingkungan yang baik, maka muncul pula identitas yang baik. Jika tidak, maka akan terjadi krisis identitas (Kitchens&Abell, 2020). Pada tahap perkembangan ini, peran orang tua sangatlah penting. Orang tua berperan dalam pembentukan identitas diri remaja. Ketika orang tua yang terlalu protektif dan otoriter membatasi kebebasan bergerak remaja, remaja terkena dampak ketidakmampuan menafsirkan kepribadiannya secara holistik. Remaja akan kebingungan karena mencari bimbingan dan acuan dalam kehidupan remajanya. Teori Perkembangan Erikson 5. Identitas VS Kekacauan Identitas (usia 12-18 tahun) 15
6. Keintiman vs Isolasi (usia 19-40 tahun) Pada tahap ini, seseorang memasuki masa remaja. Semua orang pada tahap ini sudah siap dan berusaha mengintegrasikan identitasnya dengan orang lain. Artinya, masyarakat mulai belajar bersosialisasi. Individu pada tahap ini tampil sebagai orang yang mencintai, menjaga persahabatan, bekerja, bahkan berbagi dengan orang lain (Sarang et al., 2019). Beberapa hal tersebut menentukan kepercayaan diri dan harga diri seseorang dalam lingkungan dengan orang-orang yang seumuran. Apa resiko yang dialami individu jika pada tahapan ini ia mengalami kegagalan dalam mengembangkan diri? Umumnya tiap individu akan mengalami tekanan yang membuatnya merasakan kehidupan yang terisolasi. Teori Perkembangan Erikson 16
Dalam terminologi Erikson, generasi ini sedang memasuki tahap sharing versus egoisme dan stagnasi (usia 40-65 tahun), atau biasa disebut dengan masa dewasa. Orang-orang pada tahap ini bersemangat membantu kaum muda tumbuh dan menjalani kehidupan yang lebih bermakna. Fakta bahwa seseorang sudah mempunyai anak tidak menjamin akan merasakan semangat berbagi. Misalnya, orang tua tidak hanya harus meninggalkan keturunannya saja, tapi juga harus melindungi dan membimbingnya. Artinya, seringkali orang tua harus mengabaikan kebutuhannya sendiri (Sarang et al., 2019). Selain itu, orang-orang pada tahap ini harus menahan godaan untuk berpuas diri, yang hanya akan mengarah pada stagnasi yang tidak produktif. Stagnasi adalah ketika individu merasa tidak berbuat apa pun untuk membantu generasi muda. Jika kita bisa menyelesaikan konflik ini secara proaktif, kita akan mengembangkan kemampuan kepedulian terhadap generasi muda (Nantais & Stack, 2017). 7. Generitivitas VS Stagnasi (usia 40-65 tahun) 17 Teori Perkembangan Erikson
Menurut Erickson, orang yang tidak memiliki anak pun bisa mengembangkan semangat berbagi dan kasih sayang. Contohnya termasuk biarawati dan pendeta yang dapat membesarkan anak-anak rohani, sama seperti orang lain menggunakan kemampuan khusus mereka di bidang lain. Dengan cara ini, orang-orang tersebut dapat mengajar dan membimbing generasi berikutnya "dengan membimbing anakanak orang lain dan membantu membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik bagi mereka. Teori Perkembangan Erikson 18
8. Integritas Ego VS Keputusasaan (usia 65 tahun ke atas) Kaum lanjut usia dalam tahapan ini harus menghadapi serangkaian kehilangan fisik dan sosial. Mereka kehilangan kekuatan fisik, kesehatan, kehilangan pekerjaan sehingga pendapatan mereka sekarang bergantung kepada dana pensiun. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai kehilangan pasangan, kerabat atau teman-teman satu per satu. Erikson menyadari bahwa banyak penyesuaian fisik maupun sosial yang harus dilakukan para lansia (Gilleard, 2020). Selain itu, Erikson menyebutkan tahapan ini merupakan pergulatan integritas ego vs keputusasaan. Ketika orang lanjut usia menghadapi kematian, mereka mengevaluasi apa yang telah mereka lakukan dalam hidup. Proses ini ditentang oleh perasaan putus asa, perasaan bahwa hidup tidak lagi seperti dulu, namun kini waktu semakin sempit dan tidak ada lagi kesempatan untuk mencoba gaya hidup alternatif (Bertrand, 2019). Seringkali, seseorang yang sudah terjerumus pada tahap ini tidak lagi memiliki kesabaran untuk melawan dan mengalahkan orang lain seperti sebelumnya. Semakin banyak keputusasaan yang dihadapi orang lanjut usia, semakin mereka berusaha memahami integritas ego mereka. Teori Perkembangan Erikson 19
Menurut Erikson, integritas ego sangat sulit didefinisikan, namun mencakup pengertian bahwa siklus hidup harus terjadi. Erickson juga menekankan pentingnya aspek positif dan negatif dari krisis penuaan. Kita sering melihat keterbatasan fisik dan sosial para lansia dan menyadari bahwa para lansia tersebut “tidak berguna”. Namun evaluasi tersebut hanya valid sampai batas tertentu, karena opini tersebut terbentuk hanya dengan mengamati perilaku eksternal (Ejim, 2020). Ketika kita terlalu fokus pada kenyataan bahwa orang lanjut usia tidak lagi memiliki semangat muda yang mereka hargai, kita gagal memahami pergumulan batin mereka. Kita mengabaikan fakta bahwa orang-orang ini sedang bergulat dengan pertanyaan kemanusiaan yang penting: "Setelah menghadapi kematian, apakah hidup saya layak untuk dijalani?" Apa yang membuat hidup saya bermakna? Konflik batin ini cenderung membuat orang lanjut usia bagaikan filsuf, bergulat dengan dirinya sendiri untuk mengembangkan kekuatan ego yang disebut kebijaksanaan. Dalam hal ini, kebijaksanaan dapat diungkapkan dengan berbagai cara, namun selalu mencerminkan upaya kepedulian dan penuh harapan. Tujuannya adalah untuk menemukan nilai dan makna hidup dalam menghadapi kematian (Lane & Munday, 2020). Teori Perkembangan Erikson 20
Menurut Erikson ada beberapa poin-poin penting dari pendekatan tahapan perkembangan: 1. Pertumbuhan mengikuti prinsip epigenetik 2. Setiap tahapan memiliki interaksi berlawanan 3. Konflik menghasilkan kekuatan ego 4. Terlalu kecilnya kekuatan pada satu tahapan menghasilkan patologi pada tahap selanjutnya 5. Setiap tahapan tidak pernah meninggalkan aspek biologis dalam perkembangan manusia 6. Peristiwa-peristiwa di tahapan sebelumnya tidak menyebabkan perkembangan pribadi selanjutnya 7. Mulai dari masa remaja sampai masa selanjutnya, perkembangan kepribadian melibatkan krisis identitas Teori Perkembangan Erikson 21
2.4. Faktor Psikososial yang dapat mempengaruhi Perkembangan Anak Perkembangan psikososial yang normal berarti anak mempunyai karakter yang baik, berani, kooperatif, terbuka terhadap gagasan, dan percaya diri pada diri sendiri dan orang lain. Sebaliknya jika perkembangan psikososial anak tidak memadai atau menyimpang maka anak akan menunjukkan sifat-sifat negatif seperti kurang percaya diri, terisolasi, dan rendah diri (Riyadi, 2009). Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan psikososial antara lain: 1. Stimulasi Selain itu, salah satu faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak adalah dukungan perkembangan (Bowden & Greenberg, 2014). Stimulasi yang tepat akan merangsang otak dan membantu anak mengembangkan motorik, bahasa, sosialisasi, dan kemandirian secara lebih optimal untuk kelompok usianya (Sri, 2019). Dukungan tumbuh kembang anak diberikan oleh keluarga di rumah atau oleh petugas kesehatan di Posyandu. Teori Perkembangan Erikson 22
Anak usia dini merupakan masa emas bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, pertumbuhan yang sangat pesat terjadi pada tahap ini. Tumbuh kembang optimal seorang anak dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah status gizi. Malnutrisi pada anak dapat mempengaruhi pertumbuhan dan kerentanan terhadap infeksi, serta pada akhirnya menghambat tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, anak harus mengonsumsi makanan dalam jumlah dan kualitas yang tepat setiap hari. Dua Kebutuhan nutrisi pada masa bayi memerlukan makanan yang lebih banyak karena masa bayi merupakan masa emas (golden period). 2. Status Kesehatan 26 Teori Perkembangan Erikson
2. Orangtua Salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan psikososial anak adalah dukungan yang diberikan oleh pengasuh utama anak yaitu orang tua. Dukungan sejak dini atau sejak dini dari orang tua mempunyai dampak yang sangat positif terhadap perkembangan bahasa dan ingatan anak, meningkatkan kesiapan anak untuk bersekolah dan membantu mereka mencapai potensi penuh dalam hidup. Berdasarkan penelitian Soumyati tahun 2016, ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara stimulasi dengan tumbuh kembang anak usia 4 hingga 5 tahun. Hal ini didukung oleh penelitian Soedjatmiko pada tahun 2016 yang menemukan bahwa stimulasi orang tua berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Selain itu, orang tua juga mempengaruhi perkembangan psikososial remaja. Memang benar, masa remaja merupakan masa yang menyenangkan sekaligus sulit dalam hidup. Mereka penuh dengan impian, aspirasi, cita-cita, kemungkinan, pergolakan, dan pemberontakan. Pada masa ini, remaja tidak hanya mengalami perubahan fisik saja, namun juga perubahan psikologis. Ketika gelarnya berubah dari anakanak menjadi remaja, maka statusnya pun ikut berubah. Masalah sering kali berpusat pada hubungan dengan orang tua. Teori Perkembangan Erikson 27
Banyak di antara mereka yang memilih jalan yang salah meski tumbuh dalam keluarga yang solid, ramah, penuh kasih sayang, dan mendidik. Peran orang tua sangat penting dalam memberikan pengaruh positif pada anak karena berkaitan dengan kelanjutan perkembangan dan kebutuhannya. Peran orang tua dalam mendukung masalah psikososial anak. Psikososialitas juga berkaitan dengan kemampuan anak untuk secara mandiri melakukan tugas yang diberikan, terlepas dari orang-orang penting di sekitarnya. Perlakuan negatif terhadap remaja dapat terjadi karena pemahaman perilaku yang kurang tepat. Perilaku remaja akibat maladaptasi terjadi karena pengaruh faktor internal (internal) remaja dan faktor eksternal (eksternal). Teori Perkembangan Erikson 28
Faktor internal meliputi: A. Masalah psikologis dan sosial yang dihadapi. Masa remaja dengan berbagai tantangannya seringkali memberikan tekanan pada generasi muda yang dapat berujung pada permasalahan psikologis seperti stres dan depresi. B. Kontrol diri yang lemah: Remaja yang tidak terbiasa mengendalikan diri dan terus berupaya mencapai tujuan yang lebih tinggi cenderung mudah menyerah pada kesenangan sesaat melalui perilaku berisiko, sehingga dapat menimbulkan masalah baru. Faktor eksternal meliputi: 1. Keluarga Pengajaran nilai-nilai yang salah dalam keluarga, permasalahan komunikasi antar anggota keluarga, atau konflik antar anggota keluarga dapat menimbulkan perilaku negatif pada remaja. Seorang remaja yang tumbuh dalam keluarga otoriter yang tidak terlalu harmonis dan anakanaknya tidak merasa bahagia. 30 Teori Perkembangan Erikson
2. Rekan Pada dasarnya hubungan dengan teman sebaya sangatlah penting dalam kehidupan seorang remaja. Anak-anak belajar prinsip kejujuran dan keadilan melalui teman sebayanya dan melalui konflik dengan teman sebayanya. Namun, beberapa remaja mungkin mengalami perasaan terisolasi dan permusuhan karena ditolak atau diabaikan oleh teman sebayanya. Selain itu, penolakan teman sebaya juga dikaitkan dengan kesehatan mental dan masalah kriminal. Perilaku negatif teman sebaya juga dapat mempengaruhi perilaku remaja. Selain itu, teman sebaya dapat memperkenalkan remaja pada kejahatan, alkohol, narkoba, dan berbagai bentuk perilaku menyimpang. Remaja menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bersosialisasi dan menghabiskan waktu bersama teman sebayanya. Ketika remaja berusaha untuk diterima oleh teman sebayanya, mereka mudah terpengaruh dan sulit menolak ajakan teman, bahkan yang mungkin merugikan diri sendiri atau orang di sekitar mereka. Masu. Teori Perkembangan Erikson 31
3. Lingkungan Masyarakat (sosial). Lingkungan sosial suatu masyarakat adalah tempat individu atau kelompok tumbuh, berkembang, dan meneruskan proses pembelajaran, sosialisasi, dan interaksi antar anggota masyarakat sejak masa kanak-kanak hingga dewasa. Salah satu aspek yang dapat mempengaruhi kemampuan individu dalam melakukan suatu aktivitas adalah lingkungan sosial. Menurut para ahli, lingkungan sosial adalah tempat berlangsungnya interaksi antara seseorang dengan orang lain yang mempengaruhi kepribadian dan perilaku seseorang. Pengaruh lingkungan sosial dapat memberikan dampak positif atau negatif tergantung pada keadaan lingkungan sosial dimana seseorang tinggal (Gunadi, 2017). Teori Perkembangan Erikson 32
BAB III PENUTUP Perkembangan psikososial adalah tahaptahap kehidupan seseorang dari lahir sampai mati dibentuk oleh pengaruh-pengaruh sosial yang berinteraksi dengan suatu organisme yang menjadi matang secara fisik dan psikologis, perkembangan psikososial juga berhubungan dengan perubahan-perubahan perasaan atau emosi dan kepribadian serta perubahan dalam Bagaimana individu berhubungan dengan orang lain. Melalui teori ini Erikson menyusun bagan untuk mengurutkan delapan tahap secara terpisah mengenai perkembangan ego dalam psikososial, yang biasa dikenal dengan istilah “delapan tahap perkembangan manusia”. Meliputi Tahap Kepercayaan versus Ketidakpercayaan, Autonomi(Kemandirian) versus Rasa Malu dan ragu, Inisiatif versus Rasa Bersalah, . Industri versus Inferioritas, . Identitas versus Kekacauan Identitas, . Identitas versus Kekacauan Identitas, Generitivitas versus Stagnasi, Integritas Ego versus Keputusasaan. 3.1 Kesimpulan Teori Perkembangan Erikson 33
Anggraini, Talita dkk.2023. Dampak Lingkungan sosial terhadap Perkembangan Psikologi Anak. Vol.4 . Hal. 217. Jurnal Ilmiah Multidisiplin.https://jurnal.arkainstitute.co.id/index.php/nautical/index Ajhuri, Kayyis Fithri. 2019. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Penebar Media Pustaka. Aulia, Zachra dkk. 2022. Peran Orang tua dalam Perkembangan Psikososial Pada Masa Remaja. Vol 4. Halaman 1. Jurnal Pendidikan dan Konseling: Special Issue (General). Di akses melalui link https://doi.org/10.31004/jpdk.v4i6.10141 Danim, Sudarwan. 2010. Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Alfabeta Erikson, Erik H.1998. Identitas dan Siklus Hidup Manusia. Jakarta: Gramedia. Kyasanah, Alfiyanti Nur. Optimalisasi Psikologi Perkembangan Anak dalam Lingkungan Keluarga. Vol. 3. Hal. 5, 6. Jurnal Pendidikan Raudhatul Afthal. Di akses melalui link https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/japra/article/download/8809/pdf_1 Hamuni, dkk. 2020. Perkembangan Peserta Didik. Semarang: CV Eurika Media Aksara. Khasanah, Ulfa Ainul, dkk. 2019. Hubungan Perkembangan Psikososial dan Prestasi Belajar Anak Usia Sekolah. Vol 2. Halaman 158. Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa. Mokalu, Valentino Reykliv. 2021. Teori Psikososial Erik Erikson: Implikasinya Bagi Pendidikan Agama Kristen Di Sekolah. Vol 12. Halaman 183,184,185. Vox Edukasi: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan. http://jurnal.stkippersada.ac.id/jurnal/index.php/VOX . Pada tanggal 24 Oktiber 2023. A.M, Muhammad. 2006. Psikologi Remaja, petunjuk bagi guru dan orang tua. Bandung: Pustaka Setia. 123, 124 Thahir, Andi. 1989. Psikologi Perkembangan. Lampung: Aura Pablishing. Saputro, Heri. 2017. Pengaruh Keluarga Terhadap Perkembangan Psikososial Pada Anak Prasekolah. Vol. 1. Halaman 3. Journal Of Nursing Practice. http:jurnal.strada.ac.id/jnp. Diakses pada tanggal 25 Oktober 2023. Sit, Masganti. 2015. Psikologi Perkembangan Anak Usia Dini Jilid I. Medan: Perdana Publishing. Yenawati, Sri. (2010). Stimulasi Tumbuh Kembang Anak. Vol. III. Halaman 121 Psympathic, Jurnal Ilmiah Psikologi. http://dx.doi.org/10.15575/psy.v3i1.2181. Pada tanggal 24 Oktober 2023. Yenawati, Sri. 2014. Teori Psikologi Perkembangan Erik H. Erikson dan Manfaatnya bagi tugas Pendidikan Kristen Dewasa ini. Vol 2. Halaman 46,47. Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. http://www.sttpb.ac.id/e-journal/index.php/kurios. Tanggal 24 Agustus. DAFTAR PUSTAKA Teori Perkembangan Erikson 34