http://facebook.com/indonesiapustaka POSTER
gai pemimpin, cinetron jadi kesenian, dan pengkhotbah jadi se-
lebritas.
Mungkin itu sebabnya Penyair Allen Ginsberg berseru, ”Bah!”
Tampaknya tiap kali orang merindukan kembali selapismasyara-
kat yang bisa menjaga kehidupan bersama sebagai komunitas
yang cerdas, bebas, dan beradab—mereka yang oleh Asrul Sani
disebut mempunyai ”aristokrasi jiwa”.
Soalnya kemudian, mungkinkah aristokrasi ini, yang jauh
dari lalat di pasar dan koreng di jalan, bisa melihat dunia bukan
hanya sebagai sebuah pigura dengan garis yang elegan, geometris,
dan semi-abstrak. Bukankah kekonyolan demokrasi setidaknya
bisa mengingatkan kita tentang satu hal: ruwetnya manusia?
Tempo, 22 Juni 2003
442 Catatan Pinggir 6
http://facebook.com/indonesiapustaka BULAQ AL-DAKRUR
DI suatu restoran yang sudah hampir kosong di Jalan
Gawhar El Kaid, Kairo, ada informasi yang disampai
kan Samir, seorang pelayan, kepada tamunya yang ke-
sepian setelah makan malam dengan seporsi felfela. Informasiitu
menakjubkan: Usamah bin Ladin, menurut Samir, adalah se
orang agen Mossad.
Buktinya? Ia dulu bersekolah bersama Ariel Sharon.
Tak dijelaskan apa persisnya almamater kedua orang itu. Sa
mir tak suka detail. Juga Mustafa. Sopir taksi ini, seraya menyetir
Toyota Camry-nya menyusuri Al-Kurnish di tepi timur Sungai
Nil, mencoba meyakinkan penumpangnya bahwa Saddam Hus-
sein kini tinggal di Amerika.
Kenapa? Mustafa punya jawab: ”Saddam itu agen CIA. Juga
Usamah bin Ladin. Keduanya dibayar Bush untuk membuat
ulah sehingga Amerika punya alasan untuk menguasai Timur
Ten gah.”
Mossad dan CIA.... Di jalan-jalan Kairo, tak jelas apakah
orang waswas atau kagum kepada kedua makhluk itu. Mungkin
ngeri dan terkesima, seperti ketika kita membayangkan jin ifrit
dari Bagdad.
Tuan mungkin geli mendengar takhayul, baik kuno maupun
modern. Juga Hani Shukrallah, yang menulis untuk Al-Ahram.
Ia menyebut ”teori” Samir dan Mustafa sebagai contoh pemikir
an ”Mazhab Bulaq al-Dakrur”. Ia tentu saja melucu.
Bulaq al-Dakrur adalah wilayah di sisi barat Sungai Nil, tem-
pat rumah kumuh berjajar—sebuah bagian penting daerah Al-
Jîzah. Di sinilah konon banyak pendukung ”Mazhab Bulaq al-
Dakrur”. Atau lebih tepat: di sinilah asal-usulnya. Sebab dalam
”mazhab” itu yang tersirat bukanlah ketajaman analisis, melain-
Catatan Pinggir 6 443
http://facebook.com/indonesiapustaka BULAQ AL-DAKRUR
kan amarah orang yang tak berdaya.
Maka Hani Shukrallah tak sepenuhnya mencemooh. ”Secara
faktual,” katanya, ”kesimpulan ’Mazbah Bulaq Al-Dakrur’ me
nertawakan. Namun, sebagai metafor, dari dalamnya mencuat
segudang kebenaran.”
Setidaknya, bukan seluruhnya omong kosong. Serangan 11
September 2001 dan teror Usamah memang telah menyediakan
sesuatu yang dibutuhkan politik luar negeri (dan industri sen-
jata) Amerika—yakni musuh. Februari 2002, di dep anCoun-
cil on Foreign Relations, Wakil Fresiden Cheney berc eritabahwa
Amerika pernah punya problem setelah runtuhnya Uni Soviet.
”Ketika musuh besar Amerika tiba-tiba lenyap,” kata Chen ey,
”banyak yang mempersoalkan arah baru apa yang akan diambil
politik luar negeri kita.” Sebab, kata Cheney pula, waktu itu tak
ada satu ancaman global ”yang tunggal dan langsung.” Tapi, se-
jak 11 September 2001, ”Ancama n itu diketah ui, dan peran kita
jelas sekarang.”
Orang-orang di Bulaq al-Dakrur tentu tak tahu perasaan lega
yang aneh di Washington, DC itu. Mereka jauh dari kajian strate
gis di Al-Ahram atau di Markas Besar Liga Arab di Tahir Square.
Mereka tak terbiasa dengan informasi dan definisi yang persis.
Tapi mereka punya logika, meskipun dengan premis yang
aneh. Bagi mereka, ”Mossad”, ”Bin Ladin”, ”Sharon”, ”CIA”,
”Saddam” bukan cuma nama. Masing-masing penanda dari se
sua tu yang keji, julig, dan sakti. Wajar jika mereka berada di satu
kubangan, saling mendorong. Dalam arti tertentu, ”Mazhab Bu-
laq al-Dakrur” punya satu kesadaran dialektik.
Konon memang ada yang berubah di Timur Tengah. Kini
telahmuncul ”the Arab street”.
Fenomena ”suara pinggir jalan” itu bermula dari gagalnya
para penguasa Timur Tengah mengekang arus informasi. Koran,
radio, dan televisi memang diawasi ketat, tapi telah datang CNN,
444 Catatan Pinggir 6
http://facebook.com/indonesiapustaka BULAQ AL-DAKRUR
Internet, video, dan Al-Jazeera. Mereka menembus ke segala po-
jok, sampai ke kedai ahwa di kaki lima. Ruang nasional yang di-
cengkeram sensor tak lagi punya batas yang kedap.
Informasi itu meluas bersama meluasnya penggunaan bahasa
Arab ”yang baik dan benar”, berkat pendidikan. Dale F.Eickel-
man, pakar Timur Tengah itu, bercerita bagaimana di awal 1970-
an penduduk sebuah desa di Maroko kadang-kadang meminta
nyamenerjemahkan bahasa Arab di media ke dalam bahasa Arab
lokal sehari-hari. Kini hal itu tak perlu lagi. Di rumah-rumah ku-
muh di Bulaq al-Dakrur, orang bisa menyerap langsung informa-
si dari Al-Jazeera yang disiarkan dari Qatar.
Tapi informasi bisa punya bentuk, seperti mozaik, ketikaada
subyek yang aktif yang mengurai dan menyusunnya. Untuk itu
dibutuhkan tukar pikiran yang hidup, dalam suasana yang bebas
dan beradab. Di Kairo, memang ada koran, ada kamp us, ada par-
tai politik, tapi suasana itu praktis tak terb angun.Negara terus-
menerus mencoba mencegahnya.
Pada suatu pagi di bulan Maret, Tamim Barghouti ditangkap.
Ia seorang penyair berumur 25 tahun yang dianggap bersalah ka
rena aktif dan bersuara lepas dalam demonstrasi menentang pe
rangIrak di Tahir Square. Ia bukan orang pertama, bukan satu-
satunya. Ketika Tamim berumur setahun, ayahn ya, Mourad,
juga seorang penyair, mengalami nasib yang sama di bawah pe
merintahan Sadat.
Tapi orang selamanya ingin bicara dan ingin mendengar. Ke-
tika parlemen dikekang dan media dijinakkan, suara orang di
tepi jalan pun dianggap bisa jadi indikasi perasaan dan pikira n
rakyat. Namun kita tahu, seperti dalam mendengarkan”Mazhab
Bulaq al-Dakrur”, bagaimana sulitnya sebuah percakapan yang
hanya bertolak dari sikap yang menuntut kita taklid: ”Anda ha-
rus percaya.”
Saya ingat kalimat Naguib Mahfouz dalam Seribu Satu Siang
Catatan Pinggir 6 445
http://facebook.com/indonesiapustaka BULAQ AL-DAKRUR
dan Malam. ”Tiga tahun ia jalani antara takut dan harap ... tiga
tahun ia jalani dengan bercerita....” Sensor tak hanyamembuat
tiap cerita dibawakan seperti Syahrazad membawak annya: de-
ngan takut dan harap. Sensor membungkam kata, dan akhirnya
menyebarkan ketidakpercayaan kepada kata. ”Mazhab Bulaq al-
Dakrur” adalah usaha untuk memulihkan kepercayaan kepada
kata, tapi tak ada lagi cara dan ukuran untuk menentukan kata
apa yang bisa dipercaya.
Jika ”mazhab” Samir dan Mustafa itu kemudian dianggap
seb agai suara rakyat dalam keadaan ”defisit demokrasi” (untuk
meminjam istilah Eickelman), bagaimana dialog bisa terjadi?
Bagaimana kecerdasan tumbuh?
Tempo, 29 Juni 2003
446 Catatan Pinggir 6