P a g e 1 | 31 Kajian Thaharah Dalam Perpestif Kitab Safinatun An-Najah dan Riyadhulbadiah Disusun oleh: Kelompok 5 Anggota: 1) Ananda Zakiyah Amalia 2) Dias Muhamad Fathul Huda 3) Fauziah Risalatull F 4) Frika dewi Listiani 5) Indri Revalina Esa Putri
P a g e 2 | 31 Pengantar Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, kami memanjatkan puji dan syukur kepada-Nya yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan rahmat-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan E-book tentang ‘ Kajian Thaharah Dalam Perpestif kitab Safinatun An-Najah dan Riyadhulbadiah’ . Format E-book ini telah kami susun secara maksimal dengan berdoman pada kitab Riyadhulbadiah, dan Safinatun An-Najah. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan E-book ini. Materi yang penulis paparkan dalam E-book ini tentunya jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik yang bersifat membangun sangat penulis butuhkan untuk kesempurnaan E-book ini. Akhir kata penulis berharap semoga E-book tentang ‘ Kajian Thaharah Dalam Perpestif kitab Safinatun An-Najah dan Riyadhulbadiah’ ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.
P a g e 3 | 31 DAFTAR ISI PENGANTAR .....................................................................................i DAFTAR ISI ........................................................................................ii BAB I PENDAHULUAN ..................................................................... 1 1.1 Latar Belakang .................................................................1 1.2 Rumusan Masalah .......................................................... 3 1.3 Tujuan Penelitian ............................................................ 4 1.4 Manfaat Penelitian .......................................................... 4 BAB II THAHARAH ........................................................................... 5 1. Thaharah Menggunakan Batu .............................................. 6 2. Wudhu ..................................................................................... 7 3. Tayamum ................................................................................ 14 Membersihkan Najis ........................................................................ 17 a. Haid ......................................................................................... 17 b. Nifas ....................................................................................... 18 c. Wiladah .................................................................................. 21 d. Junub ...................................................................................... 22 BAB III PENUTUP ..............................................................................25
P a g e 4 | 31 BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang Habluminallah hubungan antara manusia dengan Tuhan yang tentunya memerlukan adab berupa ilmu fiqih dalam melaksanakan hubungan dengan Tuhan yang biasa disebut dengan beribadah. Di zaman ini banyak yang keliru bahkan tidak memperhatikan ilmu fiqih dalam beribadah. Ilmu fiqih wajib untuk di pelajari agar ibadah yang dikerjakan dapat di terima oleh Allah SWT. Ilmu fiqih dapat mengantarkan kepada keselamatan. Dalam kehidupan sehari-hari ilmu fiqih khususnya tentang shalat sangat diperlukan bagi umat beragama Islam. Shalat adalah panggilan Allah, olehnya sebagai umat muslim wajib hukumnya melaksanakan perintah Allah SWT. Syariat shalat sudah diajarkan kepada umat Nabi Ibrahim, meski penyempurnaan ajaran itu disampaikan oleh baginda Nabi Muhammad SAW. Ketika Nabi Muhammad SAW mi’ raj ke langit, beliau menerima perintah langsung dari Allah SWT akan kewajiban shalat. Namun sebelum pelaksanaan shalat itu dilakukan sebagaimana agama yang menjaga kesucian lahiriah maupun batiniah, islam telah mengatur segala hal-hal yang berkaitan dengan masalah tersebut. Yaitu suatu kegiatan bersuci dari hadas maupun najis sehingga seorang diperbolehkan untuk mengerjakan suatu ibadah yang dituntut harus dalam keadaan suci seperti shalat yang sudah di sebutkan sebelumnya. Penulis akan mengkaji ilmu fiqih khususnya dalam mensucikan diri sebelum shalat yang dalam islam
P a g e 5 | 31 menyucikan lahiriah ini dikenal dengan thaharah. Keberadaan thaharah mempengaruhi terhadap kualitas ibadah seorang hamba. Sebagaimana pula Sebelum melaksanakan shalat pasti harus memenuhi syarat-syarat secara utuh, dan harus mengetahui bagaimana cara menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada saat bersuci. Keberadaan thaharah mempengaruhi terhadap kualitas ibadah seorang hamba. Thaharah mendidik seseorang yang ditaklif syara’ untuk senantiasa menjaga kebersihan dalam keseharian baik dalam bentuk lahiriyah maupun batiniyah. Ibadah seseorang dipandang baik secara kualitas apabila ia beribadah dalam keadaan bersih baik secara lahir maupun batin. Thaharah erat kaitannya dengan rutinitas ibadah terutama shalat. Seseorang yang hendak melaksanakan shalat maka ia wajib untuk melaksanakan thaharah sebelumnya. Oleh karena itu, thaharah mempunyai kedudukan penting dalam shalat yang menjadi rutinitas ibadah karena orang yang khusyu sebelum shalat (thaharah) maka telah didapatkan baginya kunci shalat. Para ulama ahli fiqih (Fuqhaha) membagi thaharah kedalam empat bagian yaitu: wudhu, mandi junub, tayamum, dan istinja. Thaharah mempunyai kedudukan penting dalam rutinitas ibadah terutama shalat tetapi hal ini sering dikesampingkan karena kurangnya pemahaman serta bimbingan bagi orang yang melaksanakan thaharah. Terkait dengan permasalahan bagi lanjut usia, thaharah sering dikesampingkan misalnya, berwudhu secara langsung dengan air kurang dari dua qullah. Seseorang yang bersuci dengan air yang kurang dari dua qullah jelas dipandang tidak sah menurut aturan fiqih. Hal ini disebabkan karena kurangnya
P a g e 6 | 31 pemahaman pribadi serta pemahaman keluarga terkait pentingnya thaharah. Padahal, lanjut usia sangat membutuhkan bimbingan yang bersifat spiritual untuk memberikan ketenangan di masa usia. Dalam menjalankan rutinitas keseharian lanjut usia mempunyai keterbatasan yang disebabkan oleh perubahan fisik serta psikologis yang berada pada perkiraan usia enampuluh tahun.Hal demikian menjadi alasan bahwa dalam melaksanakan rutinitas keseharian khususnya thaharah, para lanjut usia membutuhkan bimbingan dalam pelaksanaannya. Kemampuan fisik serta psikis menjadi penghalang bagi lanjut usia dalam melakukan rutinitas keseharian yang bersifat spiritual khususnya thaharah. Oleh karena itu, perlu adanya bimbingan untuk membantu lanjut usia dalam mencapai kemampuan secara maksimum serta pemahaman diri mengenai arti penting thaharah dan pengaplikasiannya yang baik dan benar menurut aturan syara’ . Bimbingan yang dimaksud adalah suatu proses pemberian bantuan yang tersedia secara terus menerus dan sistematis dari pembimbing kepada terbimbing. Tidak adanya program khusus bagi lanjut usia mengenai thaharah dari instansi setempat serta keterbatasan pengetahuan dari pihak keluarga, mengakibatkan para lanjut usia tidak mendapatkan bimbingan thaharah. Hal demikianlah yang menjadi alasan bagi para lanjut usia dalam melaksanakan kewajiban beribadah khususnya thaharah tidak ada dalam aturan syara’ yang semestinya. Seseorang yang bersuci sebelum shalat tetapi ia bersuci keluar dari aturan yang semestinya, maka ia tidak sah shalatnya. Sebagai contoh jika seseorang memiliki persoalan tata cara bersuci setelah haid atau berhadas yang mengakibatkan
P a g e 7 | 31 seseorang terhalang untuk menjalani shalat, memasuki masjid, serta melaksanakan ibadah lainnya karena dalam kondisi yang tidak suci akan dibahas dalam bab mandi, jika hendak bersuci namun tidak ditemukan air akan di kaji dalam bab tayamum dan apa hukum ketika belum atau saat pelaksanaan shalat dilakukan ditemukan air, dan apa saja hal pembatal ketika sudah bersuci akan di bahas pada bab wudhu. Untuk itu berdasarkan persoalan dan hal-hal yang telah dirangkum di atas, penulis berharap pembaca dapat mengambil manfaat dan tambahan pengetahuan terhadap salah satu ilmu fiqih yang akan penulis lanjutkan dalam isi sebagaimana rincian tata cara, niat, dan syarat yang benar sebelum bersuci untuk melaksanakan shalat menurut syariat. 1.2Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang di paparkan diatas maka muncul pokok-pokok masalah dalam penelitian ini: 1. Apakah kita harus bersuci terlebih dahulu sebelum melaksanakan shalat? 2. Apa pengertian thaharah? 3. Bagaimana tata cara bersuci yang benar menurut syariat? 4. Apa yang dilakukan saat hendak bersuci namun tidak ditemukannya air? 1.3Tujuan Penelitian Dari latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka penulis dapat memberitahukan tujuan penelitian sebagai berikut: 1. Mengetahui hal-hal yang harus dilakukan sebelum melaksanakan shalat.
P a g e 8 | 31 2. Menganalisis tata cara, syarat dan niat yang benar saat bersuci. 3. Ingin mengetahui macam-macam air dan pembagiannya. 1.4Manfaat Penelitian Adapun kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Memberikan Informasi mengenai salah satu ilmu fiqih yaitu bersuci sebelum melaksankan shalat. 2. Menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada saat hendak bersuci. 3. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi peneliti untuk menambah wawasan dan pengetahuan di bidang Fiqih khususnya terkait masalah Thaharah dalam perspektrif kitab Safinatun An- Najah dan Riyadhulbadiah. 4. Memberikan sumbangan pemikiran kepada para pelajar mengenai implementasi Thaharah.
P a g e 9 | 31 BAB II PEMBAHASAN Thaharah Menurut Kitab Riyadhulbadi'ah karya Imam Nawami Madzhab Syafi'I Tidak sah wudhu mandi, dan menghilangkan najis kecuali dengan air. Air yang di gunakan tidak terkena najis, tidak ada sedikitnya yang telah di pakai yang disebut dengan Mustamal. Thaharah bisa menggunakan air yang mengalir, air hujan, sumur, embun dan lain lain. Ketika terkena dalam sesuatu dari beberapa yang suci seperti madu, yang terpisah darinya seperti minyak dengan perubahan yang sangat dalam artian berubah warnanya, baunya, serta rasanya maka, itu suci adanya akan tetapi tidak mengangkat hadas dan tidak mensucikan. Thaharah menurut bahasa artinya “bersih” sedangkan menurut istilah syara’ thaharah adalah bersih dari hadas dan najis. Selain itu thaharah dapat juga diartikan mengerjakan pekerjaan yang membolehkan shalat, berupa wudhu, mandi, tayamum dan menghilangkan najis. Thaharah merupakan sarana untuk mensucikan diri yang harus dilakukan oleh seorang muslim sebelum melaksanakan ibadah. Untuk melaksanakan shalat misalnya, seseorang harus berwudhu terlebih dahulu dan membersihkan najis yang melekat di badan. Tujuan Thaharah Thaharah memiliki alat dan tujuan. Adapun alat yang dapat digunakan untuk bersuci ada empat yaitu: 1. Air Mutlak yaitu air yang suci dan menyucikan. 2. Debu yang murni, suci dan tidak musta’mal.
P a g e 10 | 31 3. Alat menyamak yaitu sesuatu yang kasar, kuat sehingga dapat menghilangkan sisa-sisa kotoran kulit bangkai. 4. Batu istinja’ dengan syarat harus suci, dapat menghilangkan kotoran dan benda yang tidak dihormati. Adapun tujuan bersuci ada lima, yaitu: a. Menggunakan Batu b. Berwudhu c. Tayamum d. Menghilangkan Najis e. Menghilangkan Nifas Dari pendapat tersebut dapat dipahami bahwa Thaharah juga dapat diartikan melaksanakan pekerjaan dimana tidak sah melaksanakan shalat kecuali dengannya yaitu menghilangkan atau mensucikan diri dari hadats dan najis dengan air. Bersuci dari najis berlaku pada badan, pakaian dan tempat. Cara menghilangkannya harus dicuci dengan air suci dan mensucikan Macam-Macam Thaharah Bersuci ada dua bagian: a) a.Bersuci dari hadas. Bagian ini khusus untuk badan, seperti mandi, berwudhu, dan tayamum. b) b.Bersuci dari najis. Bagian ini berlaku pada badan, pakain, dan tempat 1. Thaharoh menggunakan batu Bersuci menggunakan batu ataupun benda keras lainnya seperti kayu yang keras yang sekiranya najis tersebut tidak berceceran untuk menghilangkan hadas ketika tidak ada air Syarat-syarat sesuci menggunakan batu ada 8 yaitu: 1.3 butir batu atau 1 batu yang mempunyai 3 sudut 2.Sesucinya harus bersih/ tempatnya kering 3.Najisnya tidak kering
P a g e 11 | 31 4.Najisnya tidak berpindah-pindah 5.Najis yang mau di bersihkan benar-benar tuntas 6.Dibiasakan ketika ingin selesai berhadas untuk mengejan 3x 7.Najis yang mau dibersihkan tidak berantakan 8.Najisnya tidak kena air 9.Batunya harus suci Bersuci menggunakan batu wajib membersihkan tempat keluar hadas dan pinggirannya, apabila 3x merasa kurang bersih boleh lebih dari 3x. 2. Wudhu a. Pengertian Wudhu Para ulama ahli bahasa berkata, “Kata Wudhu jika dibaca dengan mendhommah dua huruf awalnya, maka yang dimaksud adalah perbuatan wudhu itu sendiri. Dalam ilmu sharaf, kata ini berbentuk masdar. Namun apabila dibaca dengan memfathah huruf awalnya sehingga berbunyi wadhu, maka yang dimaksud adalah air yang dipergunakan untuk bersuci” Dasar disyari’akan melakukan wudhu ditegaskan berdasarkan 3 macam alasan, yakni sebagai berikut: 1. Firman Allah dalam surat Al-Maidah (5):6 م ِاَلى اْل َم َرا ِف ِق ُك ْ ي ِد َي ْ َوَا ْ ْو َه ُكم ج ُل ْوا ُو ُ ص ٰلو ِة َفا ْغ ِس م ِاَلى ال َّ ْ ُت م ُنوْٓا ِا َذا ُق ْ ٰا َم ي َن ي َها اَّل ِذ ْ ٰٓيَاُّ ْوا ح ُ م َس َوا ْ ِۗن ي ْ عَب م ِاَلى اْل َك ْ جَل ُك ْ ُ ر م َوَا ْ ُك ْ ْو ِس ء ُ ر ُ ِب Artinya: “Hai orang-orang yan beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basulah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki 1. Sabda Rasuluallah
P a g e 12 | 31 َّتى يَ َت َو َّضَأ ح َد َث َح م إ َذا َأ ْ ُل الَّل ُه َصلا َة َأحَ ِد ُك ْ ْقَب لا َي Artinya: “Allah tidak menerima shalat salah seorang diantaramu bila ia berhadats, sehingga ia berwudhu”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim) 2. Ijma Telah terjalin kesepakatan kaum muslim atas disyari’atkannya wudhu semenjak zaman Rasullah hingga sekarang ini, sehingga tidak dapat disangkal lagi bahwa ia adalah ketentuan yang berasal dari agama. Syaratnya wudhu ada 10: 1. Islam 2. Tamyiz, Tamyiz adalah dapat membedakan yang benar dan yang salah 3. Suci dari haid dan nifas 4. Tidak boleh ada sesuatu yang mencegah datangnya air ke kulit seperti Tipe-X, getah, Pikok, Kutek 5. Di dalam anggota tubuhnya tidak ada sesuatu yang merubah air seperti cuang 6. Mengetahui fardhu wudhu 7. Yang fardhu tidak boleh diyakini sunah 8. Airnya suci dan mensuncikan 9. Masuknya waktu sholat bagi yang langgeng hadasnya 10. Menurut urutan Fardhunya wudhu ada 6: 1. Niat Hendaknya berniat (menyengaja) menghilangkan hadats atau menyengaja berwudhu. Niat ini berdasarkan hakikatnya ada di dalam hati yang dimaksudkan pada sesuatu yang dilafalkan bersamaan dengan mengerjakannya (sesuatu tersebut dalam hal ini adalah wudhu). Lafal niat wudhu: ًضاِلل ِه َت َعاَلى ر ص َغ ِر َف ْ ْف ِع اْل َح َد ِث ْا َلا ْ ُت اْل ُو ُض ْو َء ِل َر ي َن َو ْ Artinya “Aku niat berwudhuuntuk menghilangkan hadats
P a g e 13 | 31 kecil, fardu karena Allah Ta’ala Sabda rasullulah: ع َما ُل ِبالِّنيَّ ِة ِإَّن َما ا َْلأ ْ Artinya: “Sesungguhnya amal itu tergantung niat, Dalam melafalkan niat juga menentukan keikhlasan seseorang dalam melaksanakan ibadah nya. Firman Allah SWT yang terdapat dalam surat Al-Bayyinah (4) يِ َن ُةۗ ّ م اْلَب ْت ُه ُ ع ِد َما َجۤا َء ن بَ ْ ُاوُْتوا اْل ِك ٰت َب ِا َّلا ِم ْۢ ي َن ر َق اَّل ِذ ْ َو َما َت َفَّ Artinya: “Dan tidaklah mereka disuruh melainkan supaya menyembah Allah serta ikhlas bergama padaNya.31 Sedangkan untuk waktu niat terdapat pada perbedaan pendapat dari para fuqaha’ antara lain: 1) Hanafiyah, niat dilakukan sebelum istinja’ , agar semua pekerjaan mengandung ibadah 2) Malikiyah, niat itu dilakukan pada waktu membasuh muka 3) Syafi’iyah, niat itu dilakukan pada waktu membaca basmala Niat dalam wudhu dilakukan saat membasuh muka (wajah), dalam hal ini bersamaan dengan membasuh wajah bukan pada saat sebelum membasuh muka dan juga bukan sesudah membasuh muka. Bagi orang yang sedang berwudhu, maka ia harus berniat menghilangkan diri dari hadats dari sekian banyak hadats yang ditanggungnya. Atau niat menunaikan syarat agar diperbolehkan mengerjakan sesuatu yang didahului dengan wudhu untuk bersuci, dan juga niat untuk menunaikan rukunnya wudhu. Jadi, apabila orang yang sedang berwudhu tidak mengucapkan niat menghilangkan hadats maka dianggap tidak sah wudhunya. Sedangkan apabila ada orang yang sedang wudhu berniat seperti niat yang sesuai dengan niat wudhu yang semestinya dan disertai niat membersihkan badan atau berniat agar badannya segar maka wudhunya dianggap sah
P a g e 14 | 31 2. Membasuh muka Adapun batas dari muka yang harus dibasuh adalah mulai dari atas tempat tumbuhnya rambut kepala sampai pada bagian bawah kedua tulang dagu yaitu kedua tulang yang tempatnya tumbuh gigi bagian bawah, dimana kedua tulang itu permulaannya berkumpul (bertemu) di dagu, sedang pada bagian akhirnya ada di sekitar telinga. Adapun batas lebarnya (muka), yaitu mulai dari telinga kanan hingga sampai telinga kiri. Adapun jika terdapat jenggot laki-laki yang tumbuh lebat, sekiraya orang yang berbicara didepannya tidak dapat melihat kulit (dagunya) dari sela-sela jenggot, maka cukup membasuh pada bagian muka (yang tampak) saja. Namun, jika jenggot yang tumbuh itu jarang-jarang (tipis), yaitu sekiramya orang yang berbicara dapat melihat kulit dari dagunya, maka wajib membasuh hingga air itu sampai mengenai bagaian kulitnya.33 Seluruh bagian muka tersebut wajib dibasuh, tidak boleh tertinggal sedikitpun, bahkan wajib dilebihkan sedkit agar yakin jika sudah terbasuh semuanya, sebab hal tersebut termasuk dalam hal yang membuat sempurnanya pembasuhan bagian muka 3. Membasuh kedua tangan sampai sikut Kalau ada seseorang yang tidak memiliki siku-siku, maka yang harus dibasuh adalah bagian yang diperkirakan sebagai siku-sikunya. Wajib pula membasuh bagian-bagian yang ada di dua tangan seperti rambut (bulu), uci-uci (daging yang tumbuh di badan), jari-jari tambahan dan kuku-kuku (sekalipun panjang). Dan wajib pula menghilangkan kotoran (benda) yang terdapat di bagian bawah kuku yang bisa mencegah air sampai mengena pada kuku 4. Mengusap sebagian kepala Dalam hal ini maksudnya mengusap sebagaian kepala bagi lakilaki maupun perempuan atau setidaknya mengusap sebagaian rambut yang masih ada pada batas-batas kepala. Sedangkan dalam hal mengusap ini, tidak harus dengan tangan, tetapi bisa saja memakai secarik kain yang lainnya. Dan seandainya ada orang yang tidak mengusap kepala, tetapi sebagai gantinya ia membasuhnya,
P a g e 15 | 31 maka diperbolehkan, dan demikian pula seandainya ada orang yang hanya meletakkan tangannya yang sudah dibasahi tanpa menggerak-gerak kannya itupun boleh-boleh saja hukumnya sah 5. Membasuh kedua kaki sampai mata kaki Wajib pula membasuh sesuatu yang terdapat pada kedua kaki tersebut seperti rambut (bulu yang tumbuh) uci-uci, jari tambahan dan kotoran (benda) yang terdapat di bagian bawah kuku yang bisa mencegah air sampai mengena pada kuku, sebagaimana ketika membasuh kedua tangan. Apabila seseorang sedang berwudhu dan memakai kedua khufnya (sepatunya), maka diperbolehkan mengusap kedua khufnya (sepatunya) 6.Tertib Berurutan yakni membasuh anggota wudhu satu persatu dan mendahulukan rukun wudhu yang harus dahulu dan mengakhirkan rukun wudhu yang harus diakhirkan. Hanafiyah dan Malikiyah menganggap tertib membasuh anggota wudhu itu hanya sunnah muakkad saja. Sedangkan syafi’iyah dan Hanabilah tertib dalam wudhu itu wajib, tetapi tidak wajib dalam mandi Sunah wudhu: Beberapa perkara yang menjadi sunnah-sunnah nya wudhu, antara lain: 1. Membaca basmallah (bismillahir-rahmaanir-rahiim). Hal ini mengacu pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah: Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak berwudhu, dan tidak ada wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah Ta’ala atasnya.” Hadits lain menegaskan bahwa pekerjaan yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah (bismillah), pekerjaan tersebut akan sia-sia. “Tiap-tiap pekerjaan yang penting, kalau tidak dimulai dengan nama Allah, maka pekerjaan itu akan percuma jadinya.
P a g e 16 | 31 2. Bersiwak Tentang keutamaan dan tata caranya telah dijelaskan sebelumnya. Dan, tempatnya adalah pada saat madhmadhah. Sehingga dengannya dan dengan madhmadhah mulut menjadi bersih, sebagai persiapan untuk beribadah dan membaca Al-Qur’an serta untuk bermunajat kepada Allah. 3. Membasuh kedua telapak tangan tiga kali di awal wudhu sebelum membasuh wajah. Hal itu berdasarkan hadits-hadits yang berisi tentang hal itu. Dan, karena kedua tangan merupakan alat untuk memindahkan air ke anggota wudhu, maka dengan membasuhnya menjadi penjaga bagi seluruh wudhu. 4. Memasukkan air kedalam sela-sela (jari-jari ) kedua tangan dan kedua kaki 5. Membasuh anggota wudhu masing-masing tiga kali, berarti membasuh muka tiga kali, tangan tiga kali dan seterusnya. Kecuali, apabila waktu shalat hampir habis jika dikerjakan tiga kali, maka akan habislah waktu shalat tersebut. Maka dalam keadaan seperti ini haram membasuh tiga kali, tetapi wajib membasuhnya satu kali saja. Demikian pula apabila air yang digunakan untuk berwudhu itu diperlukan untuk minum, sedangkan air yang ada tidak mencukupi, maka wajid satu kali saja, dan haram membasuh tiga kali. 6. Mendahulukan anggota yang kanan daripada yang kiri. Nawawi berkata, “Tiap pekerjaan yang mulia dimulai dari kanan. Sebaliknya pekerjaan yang hina, seperti kakus (wc), hendaklah dimulai dari kiri”. Rasulullah dalam melakukan segala sesuatunya suka memulai dengan anggota yang kanan daripada anggota yang kiri. 7. Mengusap kepala sekali dengan memulai dari kepala bagian depan sampai kebelakang kemudian kembali lagi ke bagian depan, lalu mengusap kedua telinga
P a g e 17 | 31 dengan memasukan jari telunjuk ke dalam lubang telinga dan mengusap bagian luar telinga dengan ibu jari. 8. Muwallat (berturut-turut) antar anggota. Yang dimaksud dengan berturut-turut adalah “sebelum kering anggota pertama, anggota kedua dibasuh” , dan sebelum kering anggota kedua, anggota ketiga sudah dibasuh pula, dan seterusnya. 9. Menjaga suapaya percikan air itu tidak terkena anggota wudhu atau jangan sampai kembali ke badan. 10. Menghadap kiblat ketika wudhu dan membaca do’a setelah selesai berwudhu. Dari penjelasan di atas adalah jika sunah-sunah wudhu dilakukan akan mendapatkan pahala yang lebih sesuai dengan pengertiannya, sunnah adalah apa bila dilakukan mendapat pahala dan apa bila tidak dilakukan tidak mendapat apa-apa. Larangan ketika tidak mempunyai wudhu: 1. Haram sholat 2. Haram thawaf 3. Haram menyentuh mushaf 4. Haram membawa mushaf Hal-hal yang membatalkan wudhu Hal-hal yang dapat membatalkan wudhu, diantaranya adalah: a. Keluar sesuatu dari dua qubul dan dubur. Misalnya buang air kecil maupun besar, atau keluar angin dan sebagainya. b. Hilangnya akal sebab gila, pingsan, mabuk dan tidur nyenyak
P a g e 18 | 31 c. Bersentuhan antara kulit laki-laki dan perempuan yang sama-sama dewasa, keduanya bukan muhrim dengan tidak ada penghalang antara kedua kulit tersebut. (muhrim artinya keluarga yang tidak boleh dinikahi). d. Memegang dan menyentuh kemaluan (qubul atau dubur) dengan telapak tangan atau dengan bagian dalam jari-jari yang tidak memakai tutup (walaupun kemaluannya sendiri). Ataupun kemaluan orang lain, baik kemaluan orang dewasa maupun kemauan kanak-kanak. Penjelasan diatas adalah apa bila ada seseorang yang menyentuh kemaluan dengan telapak tangan atau dengan bagian dalam jari-jari yang tidak memakai sesuatu yang bisa menutupi tangannya tersebut maka hendaknya dia harus berwudhu. 3.Tayamum Tayammum merupakan salah satu cara untuk bersuci yang sifatnya adalah dlaruri dalam artian adanya tayammum adalah apabila bersuci dengan menggunakan atau alat bersuci yang utama yaitu air tidak ada atau tidak bisa karena adanya halangan maka bersucinya dengan cara tayammum. menurut istilah ahli fiqh Tayammum adalah menyampaikan atau mengusapkan debu yang suci ke muka dan kedua tangan sebagai ganti dari wudlu atau mandi atau pengganti membasuh anggauta dengan syarat-syarat husus. Syarat Tayammum Syarat dari adanya tayammum itu ada lima macam, yaitu: 1. Adanya Uzur sebab bepergian atau karena sakit. Syarat dari diperbolehkannya tayammum adalah adanya uzur atau halangan yang menyebabkan tidak bisa menggunakan air. Halangan sakit yang menyebabkan diperbolekannya tayammum tentunya harus
P a g e 19 | 31 berdasarkan rekomendasi dari dokter yang ahli dimana jika dia menggunakan air akan menyebabkan kematian atau menyebabkan bertambah parah penyakitnya. 2. Sudah masuk waktu salat. Tayammum sebagai alat bersuci pengganti tidak setiap waktu dan setiap saat dilakukan. Jika adanya tayammum dilakukan untuk salat maka adanya tayammum dilakukan setelah masuk waktu, jadi seumpama tayammum dilakukan karena mau salat zuhur tentulah tayammum tersebut dilakukan setelah masuk waktu zuhur. Tayammum tidak boleh dilakukan sebelum masuk waktu zuhur jika untuk salat zuhur. 3. Setelah mencari Air. Apabila adanya tayammum itu bukan karena suatu penyakit akan tetapi karena tidak ada air, maka tayammum bisa dilakukan jika setelah mencari air kearah barat, timur, utara, dan selatan. 4. Adanya Uzur/halangan menggunakan Air. Apabila adanya tayammum dilakukan karena adanya suatu penyakit yang menyebabkan tidak menggunakan air maka ketika tayammum harus dipastikan halangan atau penyakit yang membolehkan dia tayammum itu masih ada, misalnya pada pagi hari menurut dokter tidak boleh terkena air penyakitnya, maka ketika dia tayammum hendak salat zuhur harus yakin bahwa penyakit yang menghalanginya memakai air tersebut masih ada. 5. Debu yang Suci. Debu yang digunakan untuk tayammum harus debu yang suci, kering dan belum pernah dipakai untuk bersuci dan tidak bercampurnajis. Fardhunya tayamum ada 4: 1. Niat, orang yang hendak melakukan tayamum haruslah berniat terlebih dahulu karena hendak melakukan shalat atau sebagainya, bukan semata-mata untuk menghilangkan hadas saja, sebab sifat tayamum tidak
P a g e 20 | 31 dapat menghilangkan hadas, hanya diperbolehkan untuk melakukan shalat karena darurat. 2. Mengusap muka dengan tanah 3. Mengusap kedua tangan sampai siku. 4. Tertib, artinya mendahulukan muka daripada tangan Hal-Hal yang Membatalkan Tayamum Adapun hal-hal yang membatalkan tayamum ialah: 1. Salah satu yang membatalkan tayamum ialah semua yang membatalakan wudhu’ , yaitu: a. Keluar sesuatu dari dua pintu atau dari salah satunya, baik berupa zat ataupun angin, yang biasa ataupun tidak biasa, seperti darah baik yang keluar itu najis ataupun suci. b. Hilang akal, hilang akal karena mabuk atau gila. Demikian pula karena tidur dengan tempat keluar angin yang tidak tertutup akan tetapi berbeda dengan orang yang tidur dengan keadaan duduk yang tetap keadaan badannya tidak membatalkan wudhu’ karena tiada timbul sangkaan bahwa ada sesuatu yang keluar darinya. c. Bersentuhan antara kulit laki-laki dan perempuan yang sama-sama dewasa, keduanya bukan mahram dengan tidak ada penghalang antara kedua kulit tersebut. d. Memegang atau menyentuh kemaluan (qubul atau dubur) dengan telapak tangan atau dengan bagian dalam jari-jari yang tidak memakai tutup (walaupun kemaluannya sendiri) 2. Orang yang bertayamum karena berhadas besar tidak akan kembali berhadas besar, kecuali bila ditimpa yang mewajibkan mandi.
P a g e 21 | 31 3. Hilangnya udzur yang dapat membolehkan tayamum, seperti mendapatkan air setelah sebelumnya tidak membatalkannya. Terhadap hal ini, madzhabMaliki berpendapat bahwa adanya air atau kemampuan menggunakan airtidak membatalkan tayammum kecuali sebelum mengerjakan shalat dengansyarat waktu ikhtiyar masih longgar untuk mendaptkan satu rakaat setelahmenggunakan air pada anggota bersuci. Apabila seseorang mendapatkan airsetelah memasuki shalat, maka tidak batal tayammumnya dan ia wajibmeneruskan shalatnya walaupun waktunya masih leluasa. Tidak batalnya iniadalah apabila ia tidak dalam keadaan lupa terhadap air yang ada di tempattinggalnya. Sebab apabila seseorang bertayammum kemudian mengerjakanshalat, dan ketika dalam keadaan shalat ia ingat akan adanya air, maka bataltayammumnya apabila waktunya masih longgar untuk mendapatkan satu rakaatsetelah menggunakan air. Apabila waktunya sudah cukup, maka tidak batalshalatnya. Apabila ketika ingat sesudah selesai mengerjakan shalat, makawajib mengulangi pada waktu itu saja karena ia tergolong ceroboh 4. Mampu menggunakan air setelah sebelumnya tidak mampu menggunakannya 5. Murtad Membersihkan najis Najis merupakan kotoran yang menjadi sebab terhalangnya beribadah kepada Allah. Najis terbagi menjadi 3 yaitu 1. Najis Mukhofafah merupan najis tingkatan ringan seperti air kencing anak laki-laki usia 2 tahun, masih meminum asi belum memakan apapun. Cara membersihkannya dengan menyiramkan air ke tempat, pakaian, ataupun anggota tubuh yang terkena najis tersebut 2. Najis mutawasitoh merupakan najis tingkatan tengah Contohnya seperti air kecing dan peses Cara
P a g e 22 | 31 membersihkannya dengan menghilangkan bau, rasa dan warnanya 3. Najis Mugholadoh merupakan najis tingkatan berat Seperti anjing, babi, hasil perkawinan antara anjing maupun babiCara membersihkannya dengan menggunakan air 7x salah satunya basuhan airnya dicampur dengan menggukana tanah Menghilangkan Hadas Hadas kecil Merupakan keadaan seseorang yang menyebabkan wudhunya batal seperti buang air kecil, kentut, dan buang air besar. Hadas besar merupakan keadaan seseorang yang diharuskan untuk mandi besar untuk mensucikan nya Contohnya seperti: A. Haid, a. Nifas, b. Wiladah, c. Junub d. Haid Haid merupakan keluarnya darah dari kubul seorang wanita yang umumnya dari mulai usia 9 tahun sampai menopause. Haid merupkan cirinya seorang wanita baligh dan wajib untuk melaksanakan rukun Islam. Haid merupakan meluruhnya dinding rahim pada ovum karena tidak terjadinya pembuahan. Paling sedikit haid 24 jam, umumnya 7 hari dan paling lama 15 hari. Ketika lebih dari 15 hari maka hukumnya istihadoh atau darah penyakit wajib melaksanakan sholat, puasa dan lain-lain. Yang diharamkan ketika haid: 1. Sholat 2. Thawaf
P a g e 23 | 31 3. Memegang Qur'an 4. Membawa Qur'an 5. Duduk di dalam masjid jika khawatir darahnya akan jatuh 6. Baca Alquran walaupun 1 ayat kecuali niatnya untuk dzikir/hal yang sudah umum 7. Puasa tetapi wajib untuk mengqodho 8. Talak 9. Istimna atau bersetubuh antar pusar sampai lutut. Jika melakukan hukumnya seperti istimna dengan ibunya B. Nifas a. Pengertian Nipas Nifas adalah pendarahan yang terjadi setelah melahirkan. Sedangkan dalam terminologi hukum Islam, nifas berarti darah yang keluar dari dalam rahim wanita selama atau setelah persalinan. Darah yang keluar dari rahim wanita setelah keguguran juga disebut nifas. b. Lama Masa Nipas Tidak ada batas waktu minimal dalam nifas. Bahkan, jika setetes darah keluar dari dalam rahim selama atau setelah melahirkan, itu tetap dianggap nifas. Durasi maksimal nifas adalah empat puluh hari. Bila darah darah keluar hanya beberapa hari setelah melahirkan, dan kemudian keluar lagi beberapa hari kemudian, selama masih dalam jangka waktu 40 hari setelah melahirkan, itu tetap disebut nifas. Ketika pendarahan telah berhenti, wanita harus segera mandi besar. Setelah itu wanita bisa menjalankan hak dan kewajibannya kembali, seperti shalat dan puasa. Sering kali terjadi ketika wanita mengira masa nifasnya berakhir, karena sudah tidak terjadi pendarahan, maka mandi besar lah dia dan menunaikan shalat. Tetapi beberapa hari kemudian terjadi lagi pendarahan, bila belum
P a g e 24 | 31 melewati batas 40 hari, maka harus segera meninggalkan shalat. Bila setelah 40 hari masih ada darah yang keluar dari dalam rahim, hak itu bukan lagi nifas, tetapi disebut istihada. Ketika istihada, wanita tetap wajib menjalankan shalat. c. Cara Mengetahui Masa Suci Nipas 1. Ketika keringnya kemaluan atau keluar cairan bening. 2. Jika darah nifas keluar melebihi batas waktu maksimum, maka waktu maksimum keluarnya darah nifas itu adalah tanda dia wajib sholat kembali. Apabila darah itu masih keluar, maka darah yang keluar setelah itu dihukumi sebagai darah istihadhah. d. Hal-hal yang dilarang ketika nipas 1. Salat Bagi perempuan yang mengalami nifas maka ia diharamkan untuk melakukan ibadah salat, dan tidak perlu mengganti salat yang ditinggalkannya. Namun, jika darah yang keluar sudah berhenti maka Mama harus segera mandi wajib, lantas segera menunaikan salat di waktu itu. 2. Puasa Perempuan yang sedang nifas tidak boleh menjalankan puasa sampai ia sudah suci. Nantinya setelah suci, jika ia meninggalkan puasa wajib, maka ia harus mengganti puasanya sebanyak hari yang ditinggalkan di lain hari. 3. Membaca Al Quran
P a g e 25 | 31 Larangan membaca Al Quran seperti larangan bagi orang yang memiliki hadas besar lainnya. Dalam beberapa pendapat jika seorang perempuan dimisalkan sedang haid dan akan membaca Al Quran maka niatkanlah untuk berzikir. 4. Memegang mushaf Larangan ini terutama untuk mazhab Syafi’i karena tak hanya yang berhadas besar saja, berhadas kecil pun dilarang untuk memegang mushaf. 5. Berdiam diri di Masjid Hal ini juga dilarang bagi orang yang memiliki hadas besar. Dikutip dari website NU Online, ditambah keterangan dalam Al-Fiqhul Manhaji ‘ala Madzhabil Imamis Syafi’i bahwa dilarang juga lewat dalam masjid, sebab darah yang keluar dikhawatirkan akan menetes di area masjid. 6. Thawaf Nabi SAW menyebutkan bahwa persyaratan kesucian thawaf itu sebagaimana shalat. Maka perempuan yang sedang dalam masa nifas pun dilarang untuk melakukan thawaf. 7. Berhubungan badan Pada dasarnya larangan ini tidak jauh berbeda dengan perempuan yang mengalami haid. Tidak diperkenankan istimta’ (berhubungan seks dan bersenang-senang) antara pusar dan lutut seorang yang sedang haid dan nifas. Larangan ini berlaku sampai masa menstruasi atau nifas berakhir.
P a g e 26 | 31 e. Hal-hal yang diperbolehkan ketika nipas 1. Memperbanyak Berdzikir 2. Sholawat Kepada Nabi 3. Mendengarkan Tausiyah atau 4. Pengajian 5. Bersedekah 6. Menghafalkan Al-Quran 7. Menyiapkan Makanan Berbuka 8. Makan dan minum berdua C. Wiladah a. Pengertian mandi Wiladah Mandi wiladah adalah hal yang wajib dilaksanakan setiap wanita pasca melahirkan, walaupun yang dilahirkan itu hanya segumpal darah atau daging. Alasannya, karena setiap “anak” yang lahir merupakan sperma yang menggumpal. Mandi wiladah yaitu salah satu sistem mensucikan diri seorang wanita dari hadats besar atau darah yang dikeluarkannya ketika melahirkan. Wanita yang seharusnya mandi wiladah tidak hanya wanita yang melahirkan saja. Adapun mereka, wanita yang mengalami keguguran bayi dalam kandungan baik dalam wujud gumpalan darah atau alaqah maupun gumpalan daging atau mudghah. Maka wajib bagi mereka untuk melaksanakan mandi wiladah. Mandi wiladah juga berbeda dengan mandi nifas, yaitu mandi wiladah adalah mandi yang wajib dilaksanakan wanita setelah melahirkan karena keluarnya bayi baik tanpa darah maupun disertai dengan darah. Sedangkan nifas adalah darah yang keluar sesudah melahirkan, sama halnya seperti menstruasi atau haid tapi bentang waktunya lebih lama yakni menempuh 40 hari. Menurut Imam Syafi‟i, Imam Malik dan Imam Ahmad; wanita yang melahirkan anak atau keguguran, ia wajib mandi. Ini karena dikiaskan kepada mani. Anak atau janin adalah air mani yang telah menjadi kanak-kanak. Keluarnya anak atau janin dari faraj dapat diumpamakan seperti keluar mani darinya, maka
P a g e 27 | 31 wajiblah mandi. Sekalipun berbeda rupa kandungan yang dilahirkan atau cara kelahirannya. Mandi Wiladah adalah wajib dan bukan sunah. b. Tata Cara Mandi Wiladah 1. Mencuci tangan sebanyak 3 kali 2. Membersihkan kemaluan dan kotoran dengan tangan kiri 3. Mencuci tangan lagi setelah membersihkan kemaluan dengan menggosokkannya ke lantai atau menggunakan sabun 4. Berwudhu seperti hendak salat 5. Menyiramkan air ke atas kepala sebanyak 3 kali 6. Mengguyur kepala dengan air sebanyak 3 kali hingga pangkal rambut atau kulit kepala sembari menggosok-gosoknya 7. Mengguyur air ke seluruh badan dimulai dari sisi kanan sebelum ke sisi kiri. Terkait mandi wiladah, nifas, dan haid ada beberapa tambahan. Salah satunya menggunakan sabun, hal ini sesuai dengan hadits dari Aisyah RA yang bertanya pada Nabi SAW tentang mandinya wanita setelah haid. Beliau menjelaskan, “Kalian hendaklah mengambil air dan daun bidara, lalu wudhu dengan sempurna. Kemudian siramkan air pada kepala, gosoklah agak keras hingga mencapai akar rambut. Kemudian, siramkan lagi air pada kepala. Kemudian, ambillah kapas bermisik, lalu bersucilah dengannya, " (HR Bukhari dan Muslim).” D. Junub a. Pengertian Junub Secara bahasa, junub berasal dari kata janabah yang berarti jauh, sedangkan junub secara istilah adalah keadaan seseorang setelah mengeluarkan air mani (al-inzal) bagi perempuan dan laki-laki, karena sebab mimpi basah atau berhubungan seksual.
P a g e 28 | 31 Ketika masih dalam keadaan junub, seorang muslim diwajibkan untuk mandi besar. Jika tidak, dia dilarang mendekati tempat ibadah dan melakukan ibadah tertentu. Perintah untuk mandi junub atau mandi besar tertuang dalam Surat Al-Maidah ayat 6. Allah SWT berfirman sebagai berikut: ْوۗا ر با َفا َّطَّهُ ً ُن ج ُ م ْ ن ُت ُك ْ ن َوِا ْ “Dan jika kamu junub, hendaklah bersuci”. Istilah janabah ini digunakan untuk menunjukkan kondisi seseorang yang sedang berhadats besar karena telah melakukan hubungan suami istri, atau sebab-sebab lainnya, janabah dan hadas besar itu adalah dua kata yang mempunyai maksud yang sama. Jika ada seseorang yang berkata sedang dalam kondisi janabah, itu berarti dia sedang dalam keadaan berhadas besar. Ada tujuh penyebab seseorang memiliki janabat dan diwajibkan untuk mandi besar, di antaranya: 1. keluarnya air mani. Mani itu adalah benda cair yang keluar dari kemaluan dengan aroma yang khas, agak amis, sedikit kental dan mudah mengering seperti telur bila telah mengering. Biasanya, keluarnya disertai dengan rasa nikmat dengan cara memancar. 2. berhubungan suami istri. Apabila berhubungan suami istri disertai keluarnya mani atau tidak, meski hanya sebatas bertemunya dua kemaluan, maka kondisi itu sudah membuat seseorang wajib mandi. 3. wanita yang telah selesai masa haid. 4. selesai masa nifas. Nifas adalah darah yang keluar mengiringi keluarnya bayi juga darah yang keluar setelahnya. Keluarnya darah nifas ini mewajibkan mandi walaupun ternyata bayi yang dilahirkan dalam keadaan meninggal dunia. Setelah darah ini berhenti, maka bersegeralah untuk mandi, agar bisa menjalankan aktivitas ibadah yang selama ini tertinggal.
P a g e 29 | 31 5. wanita yang telah melahirkan. Kewajiban mandi ini didasarkan kepada ijma (konsensus) para ulama, seperti yang tegaskan Ibn Al Mundzir. Bagian dari hal yang mewajibkan seseorang mandi, walaupun melahirkannya tidak disertai nifas. Menurut penuturan sebagian dari para suami memang ada sebagian istri mereka yang melahirkan tanpa nifas. 6. Orang yang meninggal dunia. Ini adalah kondisi terakhir yang membuat seseorang wajib mandi, karena sudah meninggal dunia dan tidak mampu untuk mandi sendiri, maka kewajiban memandikan berada dipundak mereka yang masih hidup. 7. Rasulullah SAW berkata saat salah satu putri beliau meninggal dunia, “Mandikanlah dia tiga kali atau lima kali atau lebih bebih dari sana” (H.R. Bukhari dan Muslim).” 8. Orang yang baru masuk Islam. Perkara Islamnya seseorang kafir ini memang masih menjadi perdebatan diantara para ulama, apakah mereka wajib mandi atau tidak. Para ulama dari mazhab Maliki dan Hanbali berpendapat bahwa orang kafir yang masuk Islam wajib mandi. b. Hal-Hal yang Dilarang Saat dalam Kondisi Junub Sebelum menyucikan dirinya dengan mandi besar, seorang muslim yang masih dalam kondisi junub dilarang menunaikan ibadah tertentu. Mengutip buku Fiqih Bersuci dan Salat Sesuai Tuntunan Nabi oleh Abu Usman Kharisman, larangan tersebut antara lain: BAB III
P a g e 30 | 31 PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah peneliti lakukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Thaharah Menurut Kitab Riyadhulbadi'ah karya Imam Nawami Madzhab Syafi'I Tidak sah wudhu mandi, dan menghilangkan najis kecuali dengan air. Air yang di gunakan tidak terkena najis, tidak ada sedikitnya yang telah di pakai yang disebut dengan Mustamal. 2. Thaharah merupakan sarana untuk mensucikan diri yang harus dilakukan oleh seorang muslim sebelum melaksanakan ibadah. Untuk melaksanakan shalat misalnya, seseorang harus berwudhu terlebih dahulu dan membersihkan najis yang melekat di badan. 3. Adapun tujuan bersuci ada lima, yaitu: a. Menggunakan Batu b. Berwudhu c. Tayamum d. Menghilangkan Najis e. Menghilangkan Hadas 4. Bersuci ada dua bagian: Bersuci dari hadas. Bagian ini khusus untuk badan, seperti mandi, berwudhu, dan tayamum. Bersuci dari najis. Bagian ini berlaku pada badan, pakain, dan tempat. 5. Najis terbagi menjadi 3 (tiga) yaitu : a. Najis Mukhofafah b. Najis Mutawasitoh
P a g e 31 | 31 c. Najis Mugholadoh 6. Paling sedikit haid 24 jam, umumnya 7 hari dan paling lama 15 hari. Ketika lebih dari 15 hari maka hukumnya istihadoh atau darah penyakit wajib melaksanakan sholat, puasa dan lain-lain. 7.Nifas adalah pendarahan yang terjadi setelah melahirkan. Durasi maksimal nifas adalah empat puluh hari. Bila darah darah keluar hanya beberapa hari setelah melahirkan, dan kemudian keluar lagi beberapa hari kemudian, selama masih dalam jangka waktu 40 hari setelah melahirkan, itu tetap disebut nifas. 8. Mandi wiladah adalah hal yang wajib dilaksanakan setiap wanita pasca melahirkan, walaupun yang dilahirkan itu hanya segumpal darah atau daging. 9. junub berasal dari kata janabah yang berarti jauh, sedangkan junub secara istilah adalah keadaan seseorang setelah mengeluarkan air mani (al-inzal) bagi perempuan dan laki-laki, karena sebab mimpi basah atau berhubungan seksual. 1. Salat. 2. Thowaf di Baitullah. 3. Memegang Al-Qur’an. 4. Membaca Al-Qur’an meski tanpa menyentuh mushaf. 5. Tinggal atau berdiam diri di dalam masjid.