GENDIS SEWU BERKARYA
MERANGKAI IMAJI
Antologi Cerita Pendek
Bibit Penulis Gendis Sewu Dinas Perpustakaan
dan Kearsipan Kota Surabaya
Bekerja Sama dengan SDN Tanah Kalikedinding
V/579 Surabaya
MERANGKAI IMAJI
Penulis : Nayla Adzkiya S., Haafizhah
Maulidiyah H., Keisya Artha
M., dkk.
Desain Sampul : Alfian Adam Prasetya
Penyunting : A’an Aditya dan Ameilia
Rizky C
Penyunting Akhir : Faradila Elifin, Vivi
Sulviana, Ayu Dewi ASN, Rici
Alric K, dan Vegasari Yuniati
Diterbitkan pada tahun 2022 oleh
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota
Surabaya
Jln. Rungkut Asri Tengah 5-7, Surabaya
Buku ini merupakan kumpulan karya dari bibit
Gendis Sewu, sebagai penghargaan atas
partisipasi yang telah diberikan dalam Gerakan
Melahirkan 1000 Penulis dan 1000 Pendongeng.
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.
KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulillah segala puji bagi Allah Swt.
atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya yang
begitu besar, sehingga dapat menyelesaikan
penyusunan buku ini sebagai bentuk apresiasi
kepada para bibit penulis yang mengikuti
Gerakan mendongeng dan menulis seribu (Gendis
Sewu) dengan baik dan lancar.
Antologi merupakan kumpulan karya cerita
pendek dari para penulis SDN Tanah
Kalikedinding V/579 Surabaya. Buku ini
merupakan hasil imajinasi dan kreatifitas berfikir
dari para penulis yang merupakan bibit Gendis
Sewu Berkarya.
Kami menyadari bahwa sebuah karya
memiliki ketidaksempurnaan. Apabila dalam
penyusunan buku ini masih jauh dari
kesempurnaan dan masih ada kekurangan kami
mengharap kritik dan saran yang bisa
membangun dari segenap pembaca buku ini.
Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi
perkembangan karya tulis anak bangsa
khususnya di Kota Surabaya dan seluruh
Indonesia pada umumnya.
Surabaya, 2022
Tim Penulis se-Kecamatan Kenjeran
KATA SAMBUTAN
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Kota Surabaya
Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Swt.
yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayat-Nya, hanya dengan kemurahan-Nya kita
selalu dapat berikhtiar untuk berkarya dalam ikut
serta membangun Kota Surabaya yang kita
cintai.
Kita patut bangga dan memberi apreasiasi
kepada para bibit penulis Gendis Sewu Gerakan
mendongeng dan menulis seribu, para editor
penulis Dispusip di Kota Surabaya yang telah
bekerja keras membuat karya tulis yang berjudul
Merangkai Imaji.
Buku para bibit Gendis Sewu
menghasilkan karya tulis dari anak-anak cerdas
yang telah melalui proses panjang dan berjenjang
dan merupakan karya-karya imajinatif yang
mengandung pesan moral dengan bahasa yang
mudah dipahami juga sangat baik untuk
dinikmati.
Semoga ke depannya akan menjadi
inspirasi untuk berkembangnya budaya literasi
dari berbagai kalangan masyarakat di Kota
Surabaya. Akhir kata, semoga buku Gendis Sewu
Berkarya dengan judul Merangkai Imaji
bermanfaat bagi semua pihak dan perkembangan
para bibit Gendis Sewu.
Surabaya, 2022
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Kota Surabaya,
Mia Santi Dewi, S.H, M.Si
SEKAPUR SIRIH
Kepala Bidang Pembinaan dan Pengelolaan
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya
Alhamdulillah, dengan menyebut nama Allah Swt.
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kami
sangat bersyukur atas ke hadirat-Nya, hanya
dengan kemurahan Allah Swt. kami dapat
menghimpun berbagai karya tulis para bibit
penulis Gendis Sewu dan menerbitkannya dalam
sebuah buku antologi cerpen dengan judul
Merangkai Imaji.
Buku ini merupakan antologi cerpen
kolaborasi Gendis Sewu dengan SDN Tanah
Kalikedinding V/579 Surabaya. Kolaborasi ini
menghasilkan 8 karya tulis cerpen pendampingan
petugas se-Kecamatan Kenjeran yang
diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan
Kearsipan Kota Surabaya.
Kegiatan Gendis Sewu memanfaatkan
platform buatan Dinas Perpustakaan dan
Kearsipan Kota Surabaya yang bernama Taman
Kalimas.
Taman Kalimas yang merupakan singkatan
dari Tempat Menampung Karya Literasi
Masyarakat memberikan layanan literasi yang di
dalamnya terdapat tiga layanan sekaligus, antara
lain layanan Taman Kalimas Pembelajaran,
Taman Kalimas Karya dan Taman Kalimas
Publikasi.
Para bibit penulis Gendis Sewu terlebih
dahulu didaftarkan untuk mengikuti kelas
berjenjang dari mulai kelas reguler Taman
Kalimas di tingkat kecamatan, lalu untuk bibit
terbaik akan mendapatkan reward naik ke kelas
khusus minat dan bakat setelah itu karyanya
akan dibuat buku dan dipublikasikan.
Saya mengapresiasi bangga kepada para
bibit penulis Gendis Sewu yang memiliki
semangat literasi dengan tidak hanya menjadi
pembaca pasif melainkan menjadi pembaca aktif,
yaitu selain membaca juga mampu menulis.
Saya juga mengucapkan terima kasih
kepada Tim Gendis Sewu dan Tim Inti Penulis
Dispusip yang terdiri dari para tutor kelas
reguler di tingkat kecamatan, para editor area
(Dira), dan para penyunting akhir hingga buku ini
terselesaikan secara baik.
Buku ini adalah jawaban nyata atas kinerja
para Tim Penulis Dispusip yang berkolaborasi
dengan SDN Tanah Kalikedinding V/579
Surabaya.
Membangun kota maka perlu disertai
'membangun' manusia di dalamnya. Tentu tidak
lah mudah, karena awal membangun seringkali
terlihat abstrak, dipertanyakan, atau diragukan.
Walaupun begitu, tetap terus 'membangun'
karena 'membangun' manusia melalui literasi
adalah sebuah investasi jangka panjang untuk
kota tercinta kita Kota Surabaya.
Salam Literasi.
Surabaya, 2022
Kepala Bidang Pembinaan dan Pengelolaan
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Kota Surabaya
Pudji Astuti, S.T
DAFTAR ISI 1
6
1. Dua Sahabat Terbaikku 10
2. Momo, Kelinci Kesayanganku 15
3. Cici dan Empus 21
4. Hamau Baik Hati 26
5. Kucing dan Anjing 29
6. Kucingku yang Malang 34
7. Awal Persahabatan
8. Semut dan Belalang
DUA SAHABAT TERBAIKKU
Oleh Nayla Adzkiya Salsa
Suatu hari yang cerah, Lala sedang bermain
sepeda bersama kedua sahabatnya, Lisa dan
Khansa. Kami sangat senang bersepeda. Ketika
sedang asyik bersepeda, Lala terjatuh dari
sepedanya. Lisa dan Khansa kaget karena mereka
tepat di belakang Lala. Lisa dengan sigap
membantu Lala untuk bangun dari sepedanya. Di
tubuh Lala banyak luka akibat jatuh dari sepeda,
sehingga membuatnya susah untuk berdiri.
Khansa yang juga ikut membantu Lisa menolong
Lala untuk memegang sepedanya.
1
“Assalamualaikum, Om. Maaf saya
mengganggu. Saya mau bilang kalau Lala jatuh
dari sepedanya,” kata Lisa menelepon ayah Lala.
“Waalaikumsalam, Lisa. Lala jatuh dari
sepeda? Jatuh di mana, Lisa?” tanya ayah Lala.
“Lala jatuh di Jalan Tunas, Om,” jawab
Lisa.
“Baiklah, Lisa. Om akan segera kesana,”
jawab ayah Lala.
Tak lama kemudian, ayah Lala datang dan
langsung kaget melihat keadaannya yang sedang
kesakitan karena habis jatuh. Beliau langsung
membawa Lala ke dokter berdekat.
2
Setelah diperiksa dokter, ternyata kaki
Lala hanya luka luar saja dan tidak ada tulang
yang retak atau patah.
“Bapak, Lala hanya mengalami luka-luka
dan memar saja,” kata dokter.
“Syukurlah, Nak. Kamu baik-baik saja,”
ucap ayah Lala.
Setelah dari dokter, Lala langsung diantar
pulang oleh ayahnya.
Sesampai di rumah, sudah ada Lisa dan
Khansa yang menunggu di ruang tamu. Mereka
sangat khawatir dengan keadaan sahabatnya.
Mereka langsung memeluk Lala yang berjalan
perlahan menghampiri mereka.
3
“Bagaimana kondisimu, La?” tanya
Khansa.
“Iya, kamu baik-baik saja, Lala?“ tambah
Lisa.
“Alhamdulillah, aku baik-baik saja. Terima
kasih ya Lisa dan Khansa. Kalian berdua memang
sahabat terbaikku,” kata Lala.
Kemudian Lala, Lisa, dan Khansa saling
berpelukan. Hari ini menjadi pelajaran yang
sangat berharga bagi mereka.
Waktu sudah semakin siang, Lisa dan
khansa berpamitan kepada ayah dan bunda Lala.
“Om, Tante, kami berdua pulang dulu, ya,”
kata Lisa.
4
“Semoga kamu lekas sembuh ya, La.
Supaya kita bisa bersepeda bersama lagi,” ucap
Khansa.
“Terima kasih Lisa dan Khansa. Lain kali
kalau bersepeda lebih berhati-hati ya, supaya
kejadian seperti ini tidak terjadi lagi,” ibu Lala
memberi nasihat.
“Baik, Tante,” jawab Lisa dan Khansa
bersama.
“Hati-hati ya, Lis, Khan,” kata Lala sambil
memeluk kedua sahabatnya.
Akhirnya Lisa dan Khansa pulang.
Lala sangat terharu dan bersyukur sekali
memiliki dua sahabat seperti Lisa dan Khansa.
5
MOMO, KELINCI KESAYANGANKU
Oleh Haafizhah Maulidiyah Hamid
Udara pagi saat itu sangat bersahabat. Mentari
bersinar terang, terdengar suara kicauan burung
yang sangat merdu.
"Hai, apa itu yang mengikutimu sambil
melompat-lompat?” tanya Tiara, sepupuku.
"Ada apa, Ra? Aku tidak tahu kelinci milik
siapa ini, masih pagi sudah berkeliaran. Mungkin
milik tetanggaku yang kurang rapat menutup
kandangnya,” jawabku spontan menoleh.
"Oh, kelinci itu bukan milikmu, ya?
Bagaimana kalau aku ambil dan kubawa pulang?”
tanya Tiara
6
“Jangan dulu, Ra. Takut pemiliknya
mencari kelinci ini,” jawabku.
Kelinci itu mengikutiku masuk ke halaman
rumah. Aku tidak memiliki kandang kelinci. Aku
pun mencari keranjang seadanya dan memberi
informasi ke tetangga bahwa telah menemukan
seekor kelinci. Apabila ada yang merasa
memilikinya bisa langsung datang ke rumahku.
Seminggu berlalu, tak seorang pun merasa
kehilangan hewan lucu, cerdik, dan berbulu indah
ini. Anehnya ia sangat penurut dan suka
mengikuti. Aku sering mengajaknya bermain.
Terkadang kutaruh di pangkuan sembari
memanjakannya. Ia sangat senang ketika aku
mengajaknya bermain.
7
"Aku sungguh sangat menyayangimu.
Bagaimana kalau kamu kuberi nama Momo?
Momo kelinci kesayanganku. Bagaimana jika
suatu hari ada yang mencarimu?” gumamku.
Aku membelikan Momo kandang berwarna
merah jambu yang lucu. Ia terlihat senang
dengan kandang barunya.
***
Sebulan berlalu, Tiara main ke rumahku.
Dia melihat Momo.
“Wah, kelinci ini sekarang kau pelihara?”
tanya Tiara.
“Iya, Ra. Namanya Momo. Ia kelinci
kesayanganku,” jawabku.
8
“Tak ada yang mencarinya sampai saat
ini? Padahal dulu aku juga ingin merawatnya,
tetapi kamu tak mengizinkan,” ucap Tiara.
“Ya, karena waktu itu aku takut ada yang
mencarinya, Ra. Namun, sekarang takkan
kuberikan padamu karena aku sudah sangat
menyayangi Momo,” kataku.
Sejak aku memiliki Momo, hatiku sangat
gembira. Aku tak memilliki saudara kandung
yang bisa kuajak main atau bercanda. Namun,
kini aku memiliki Momo yang selalu menemani.
Setiap pulang sekolah, aku mengajaknya
bermain. Aku tak pernah lupa memberi makan
Momo. Kandangnya juga rutin kubersihkan agar
ia merasa nyaman.
9
CICI DAN EMPUS
Oleh Keisya Artha Mevia
Cici dan Empus adalah dua kucing yang selalu
bersama. Mereka berdua tinggal di sebuah rumah
yang sederhana.
“Aduh ... perutku sakit sekali,” teriak Cici
yang perutnya berbunyi karena lapar.
Teriakan Cici membangun Empus yang
tidur di sebelahnya.
“Kamu kenapa, Ci?” tanya Empus.
“Aku sangat kelaparan karena semalam
lupa makan. Sekarang aku mau keluar dulu cari
makan ya, Pus,” jawab Cici.
Cici langsung bergegas meninggalkan
Empus yang melanjutkan tidurnya. Cici terus
10
berjalan sambil menoleh ke kanan dan kiri untuk
mencari makan. Namun, ia berhenti di dekat
semak-semak. Cici mencoba mengendus
semak-semak tersebut untuk mencari makanan.
Namun, ia kaget bukan karena menemukan
makanan, tetapi ia melihat ada suatu tempat
yang sangat besar dan mewah.
“Tempat apa ini? Pasti di dalam sana
banyak makanan,” gumam Cici heran.
Tak seperti yang dibayangkan oleh Cici, ia
tak menemukan makanan apapun yang bisa
dimakan. Cici sedih karena ia sangat kelaparan.
Cici pantang menyerah dan terus berjalan hingga
menemukan sebuah gua.
11
Cici coba masuk ke dalam gua tersebut.
Namun, semakin ia masuk, semakin gelap
sehingga Cici tak bisa melihat apapun di
sekitarnya. Cici terus menyusuri gua itu
meskipun ketakutan menyelimuti hatinya.
Terlihat sebuah cahaya kecil dari kejauhan. Cici
berjalan mendekati cahaya tersebut sambil
berharap itu adalah jalan keluar dari gua ini.
Hari semakin terik, Empus mulai khawatir
dengan Cici yang tak kunjung kembali ke rumah.
Empus memutuskan untuk mencari Cici. Ia sudah
berkeliling kompleks, tetapi tak terlihat
keberadaan Cici. Empus beristirahat sejenak di
bawah pohon karena lelah.
12
Cici masih berusaha menemukan jalan
keluar. Ia semakin ketakutan.
“Siapa pun itu, tolong aku!” teriak Cici
putus asa.
Empus mendengar suara teriakan Cici. Ia
mencoba mencari sumber suara itu. Tak jauh dari
tempat istirahatnya ada sebuah lubang.
“Cici, apakah itu kamu?” teriak Empus.
“Empus, tolong aku! Aku sangat
ketakutan,” jawab Cici
Suara Empus membuat Cici menjadi
kembali bersemangat. Ia lanjut berjalan hingga
akhirnya bisa keluar dari gua itu dan bertemu
Empus.
13
“Pus, aku sangat ketakutan di dalam gua
yang sangat gelap tanpa teman,” kata Cici
“Bagaimana kamu bisa sampai tersesat di
dalam gua ini?” tanya Empus.
“Aku berjalan terus untuk mencari makan
hingga masuk ke dalam gua, tetapi tak
menemukan makanan apa pun,” jawab Cici.
“Ikut aku, Ci! Tadi aku diberi makan oleh
orang baik,” kata Empus.
“Terima kasih, Pus,” Cici tersenyum.
Mereka berdua berjalan menuju tempat
yang dimaksud Empus dan makan bersama. Cici
merasa sangat bersyukur memiliki sahabat
seperti Empus yang selalu sabar dan mengerti
dirinya. Cici juga belajar lebih perhatian Empus.
14
HAMAU BAIK HATI
Oleh Ladyus AMS
Di sebuah hutan belantara, ada seekor harimau
yang tertidur lelap. Namanya adalah Hamau. Ia
terlelap karena kekenyangan. Mungkin ia baru
saja menyantap buruannya. Entah seekor kijang
atau domba. Saat sedang asyik tidur, datang
seekor anak kelinci. Anak kelinci itu tidak sengaja
menginjak ekor Hamau dan membuatnya
terkaget.
Hamau yang merasa kesakitan, kemudian
segera bangun. Hamau menatap tajam dengan
bola matanya yang bulat dan bersinar itu.
Tatapan Hamau membuat anak kelinci itu
ketakutan. Namun, Hamau sendiri adalah
15
harimau yang berbeda. Ia tidak mau memangsa
hewan kecil yang lemah.
“Hai, kelinci. Siapa namamu?” tanya
Hamau dengan suara yang menggelegar.
“Namaku, Kelin,” jawab Kelin dengan
gemetaran.
“Hahaha. Jangan takut, Kelin! Aku tidak
akan memakanmu. Kenalkan, aku Hamau,” ucap
Hamau.
Suara tawa Hamau membuat Kelin tidak
takut lagi.
Heran, mengapa harimau ini tidak
menerkam dan bahkan bersikap lembut padaku,
batin Kelin.
16
“Kenapa diam?” Hamau mengejutkan
Kelin.
Kelin yang kaget langsung berjalan mundur
dan menjaga jarak karena ketakutan. Ia takut
jika sewaktu-waktu Hamau menerkamnya. Kelin
diam dan tidak langsung menjawab. Hamau yang
merasa Kelin sedang takut padanya memutuskan
menjauh juga.
“Oh, tidak. Aku hanya heran melihat
harimau unik sepertimu,” jawab Kelin yang mulai
tenang.
“Unik?” sahut Hamau.
“Iya. Kenapa harimau yang ganas malah
tidak suka dengan daging?” tanya Kelin.
17
“Bukan aku tak suka daging, tetapi aku
tidak sembarangan memangsa hewan. Kenapa
kamu bisa tersesat?” tanya Hamau.
“Aku sedang mencari orang tuaku. Aku
sudah mencarinya kemana-mana dan belum
ketemu juga. Aku takut jika mereka menjadi
santapan binatang buas sepertimu,” jelas Kelin.
“Baiklah, aku akan coba membantumu,”
ucap Hamau.
Keduanya mulai berjalan menyusuri hutan.
Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan
Ular Piton. Ular itu langsung menyerang Kelin.
Hamau membalas ular itu untuk melindungi Kelin.
Terjadi pertarungan sengit, Kelin semakin takut
dan bersembunyi. Kelin ingin membantu Hamau,
18
tetapi ia sadar kalau badannya sangatlah kecil
dan tidak berdaya. Kelin pun berpikir keras. Ia
mencari cara menolong Hamau agar Ular Piton
tersebut menjauh.
Kelin menemukan ide. Ia segera mencari
tali, lalu diikatkan dari satu pohon dan ke pohon
lainnya. Jebakan itu untuk mengikat Ular Piton.
Kelin menunggu Ular Piton mendekati pohon.
Kelin juga mengisyaratkan agar Hamau
membawa Ular Piton mendekati pohon. Hamau
mengerti kode dari Kelin.
Srap ....
Ular Piton itu terperangkap jebakan Kelin.
Kemudian Ular Piton itu ditinggal oleh Hamau
19
dan Kelin. Mereka bergegas pergi melanjutkan
mencari orang tua Kelin.
Sudah lama sekali kedua hewan itu
berkeliling hutan. Akhirnya mereka bisa
menemukan kedua orang tua Kelin. Kelin
langsung berlari menghampiri mereka. Hamau
sangat senang, kemudian ia pergi untuk kembali
melihat Ular Piton. Hamau ingin melepaskan
perangkap itu.
Setelah dilepaskan dari perangkap, Ular
Piton langsung meminta maaf kepada Hamau dan
Kelin.
20
KUCING DAN ANJING
Oleh Aulia Izzatunnisa
Ada seekor kucing dan anjing yang sedang
bertengkar. Mereka bertengkar karena berebut
makanan. Pertengkaran mereka membuat
kebisingan sehingga mengganggu kesunyian dan
ketenangan hutan.
“Hai, Anjing! Tolong beri makanan itu
kepadaku!” gertak Kucing.
“Enak aja. Aku juga mau makanan ini,”
sahut Anjing.
“Aku belum makan. Tolong berikan
kepadaku!” ucap Kucing lagi.
“Tidak! Aku ingin makananku sendiri,”
jawab Anjing.
21
Kucing berusaha merebut makanannya.
Namun, Anjing tidak diam begitu saja. Anjing
berhasil membawa pergi makanannya. Lalu
Kucing juga pergi dengan wajah yang sedih
karena tidak berhasil membawa makanannya.
Sore harinya, di hutan mendadak turun
hujan. Anjing yang sedang membawa
makanannya bergegas ingin berteduh. Ia
kebingungan karena selain harus mencari tempat
berteduh, juga harus fokus membawa
makanannya. Badan Anjing basah, ia lebih
memilih melindungi makanan yang dibawa
daripada badannya. Ia takut makanannya
terjatuh.
22
Setelah lama berjalan, ia memutuskan
berteduh di bawah jembatan. Tidak disangka,
Kucing juga berteduh di sana. Anjing dan Kucing
sama-sama terkejut. Anjing memasang wajah
sinis karena takut makanannya direbut kembali.
Namun, Kucing ternyata lebih memilih diam saja.
Anjing terlalu fokus menjaga makanannya. Ia
lupa kalau jalanan di sekitaran sana menjadi licin
karena air hujan. Anjing tercebur ke dalam
sungai.
“Tolong! Tolong!” teriak Anjing.
Melihat itu, Kucing terkejut. Kucing
dengan cepat menolong Anjing karena merasa
kasihan. Kucing mengambil sebatang kayu lalu
menjulurkannya kepada Anjing. Kemudian Anjing
23
menggigit kayu. Kucing dengan sekuat tenaga
menariknya. Anjing pun selamat.
Anjing tidak sadar kalau makanannya
hilang karena hanyut di sungai tadi. Namun, ia
tidak memikirkan itu. Ia lebih memilih untuk
langsung minta maaf ke Kucing. Mereka saling
memaafkan.
“Maafkan aku, Cing. Aku tidak akan
mengulangi kesalahan itu. Aku terlalu serakah.
Akhirnya aku terkena musibah,” ucap Anjing.
“Tidak apa-apa, Jing. Sepertinya kita
harus saling berbagi makanan,” sahut Kucing.
“Benar. Mulai hari ini kita harus
bersahabat dan saling membantu,” ucap Anjing.
“Setuju,” sahut Kucing.
24
Setelah kejadian itu, mereka berdua saling
bersahabat. Anjing berjanji tidak akan
mengulangi kesalahannya lagi. Kucing juga
merasa senang sudah bisa membantu bahkan
memiliki sahabat baru. Mereka menunggu hujan
reda di bawah jembatan secara bersama.
25
KUCINGKU YANG MALANG
Oleh Alif Amiruddin
Hari Minggu, aku berlibur ke Desa Tambin di
Kabupaten Bangkalan. Aku pergi bersama
keluargaku untuk mengunjungi nenek yang ada di
sana. Kebetulan nenek juga memelihara kucing.
Binatang yang sangat aku sukai. Namanya
Sherly. Ia lucu dan menggemaskan. Aku sangat
suka bermain dengannya.
Kemana pun aku pergi, ia selalu mengikuti.
Sherly sudah menjadi induk. Ia memiliki dua
anak. Namanya Nunu dan Nana. Mereka sangat
lucu dan imut sekali. Sebenarnya aku ingin
membawa pulang mereka semua ke rumah.
Namun, ayah tidak memperbolehkan.
26
Suatu hari, aku mendapatkan kabar dari
nenek kalau Sherly meninggal karena keracunan
makanan. Aku merasa kaget dan sedih
mendengar berita itu. Seketika aku mengajak
ayah untuk pulang ke desa, melihat Sherly untuk
terakhir kalinya.
Kenapa kamu bisa begini, Sherly?, tanyaku
dalam hati.
Hatiku hancur ketika melihat Sherly sudah
terbujur kaku. Lemas tidak berdaya. Tidak
disangka bisa secepat ini Sherly meninggalkan
kami. Sherly juga meninggalkan kedua anaknya
yang masih kecil. Kasihan Nana dan Nunu. Tidak
bisa menyusu lagi kepada induknya.
27
Akhirnya kami sepakat untuk merawat
Nana dan Nunu. Kubawa mereka berdua pulang
ke rumah. Aku merawat mereka dengan penuh
kasih sayang. Mereka diberi susu formula khusus
kucing agar tetap mendapatkan gizi dan cepat
tumbuh besar. Setiap kali melihat Nana dan
Nunu, aku selalu teringat pada Sherly.
Selamat jalan, Sherly. Kami tidak akan
melupakanmu. Kami sayang sekali padamu. Kami
juga berjanji akan merawat Nana dan Nunu
dengan kasih sayang. Semoga kami juga bisa
berhati-hati agar tidak mengulangi kesalahan
yang menimpamu, kataku dalam hati.
28
AWAL PERSAHABATAN
Oleh Muhammad Iqbalul Khoir
Suatu hari, ada seekor Katak yang sedang
bersantai di pinggir sungai. Saat sedang asyik
bersantai, Katak melihat binatang kecil yang
sedang berjalan melintas di depannya.
“Kalian hewan apa? Kecil sekali,” tanya
Katak pada gerombolan Semut.
“Kami adalah semut. Kami memang
berukuran kecil, tetapi kami selalu bisa
menyelesaikan semua pekerjaan berat. Kami
melakukannya secara gotong royong,” sahut
Pemimpin Semut.
Setelah berbincang-bincang, Pemimpin
Semut berpamitan kepada Katak. Semut ingin
29
mempersiapkan pesta di kediaman mereka. Para
semut bergegas pergi.
Sekarang Katak sudah sendirian lagi. Ia
kembali asyik memandangi sungai. Sesekali ia
juga mencari makan. Katak menunggu nyamuk.
Tidak terasa ia sudah lama di sana. Namun, tak
seekor nyamuk pun yang terbang di dekatnya.
Katak memutuskan pulang ke rumah.
Saat akan bergegas pergi, ia melihat Ular
yang berenang menuju tempatnya. Ular itu
hendak memangsa Katak. Beruntung Katak sudah
melihatnya dari jauh dan langsung melompat
menjauhi sungai. Namun, Ular itu tetap mengejar
Katak. Katak panik. Ia mempercepat
30
lompatannya dan akhirnya berhasil meloloskan
diri.
Sementara itu, gerombolan semut sudah
sampai di rumahnya. Mereka kaget melihat
rumahnya hancur.
“Wah, rumah kita hancur!” ucap Pemimpin
Semut.
“Sepertinya ada yang sudah merusak
rumah kita,” sahut salah satu semut.
Segera Pemimpin Semut menyuruh
pasukan untuk membangun kembali rumahnya.
Semua semut saling membantu. Ada yang
menggali lubang dan ada yang membersihkan
permukaan pasir dengan mengangkat
benda-benda yang tergeletak di atasnya.
31
Saat semut-semut sedang fokus bekerja,
Katak kebetulan lewat depan mereka. Katak
memutuskan untuk berhenti.
“Sedang apa kalian?” tanya Katak.
“Rumah kita hancur. Kita memutuskan
untuk membangun kembali. Kalau kamu sedang
apa di sini?” tanya Pemimpin Semut.
“Aku tadi kabur dari kejaran Ular dan
kebetulan melewati rumah kalian,” sahut Katak.
“Ternyata hari ini kita sama-sama
mengalami musibah, ya,” ucap Pemimpin Semut.
Mendengar ucapan itu, Katak berpikir
kalau yang dikatakan Pemimpin Semut benar.
Akhirnya Katak memutuskan untuk tinggal
sebentar dan mengobrol dengan para semut.
32
Tentunya juga ikut membantu semut-semut
untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.
Tidak terasa langit sudah berwarna jingga.
Pekerjaan semut juga sudah selesai. Katak
berpamitan kepada para semut.
33
SEMUT DAN BELALANG
Oleh Fadiatul Aulia
Di musim panas yang sangat cerah, ada seekor
Belalang dengan santai memainkan biola
kesayangannya. Ia juga bernyanyi dan menari.
Setiap hari, Belalang terus-menerus melakukan
kegiatan itu. Ia tidak memikirkan kegiatan
lainnya. Padahal musim dingin akan tiba.
Suatu hari, Belalang sedang asyik duduk
santai di atas daun pisang. Dari atas, ia melihat
ada kawanan semut yang sedang bekerja. Mereka
sedang sibuk mengumpulkan makanan untuk
persiapan musim dingin. Kemudian Belalang
memutuskan untuk turun dan menghampiri
mereka.
34
“Hai, kawanan semut. Apakah kalian mau
bermain dan bersenang-senang di rumahku?”
tanya Belalang.
“Maaf, Belalang. Kita tidak bisa ikut. Kita
ingin bekerja untuk bekal musim dingin kelak,”
jawab salah satu semut dengan santun.
“Kita juga harus memperbaiki rumah agar
merasa nyaman saat musim dingin tiba,” sahut
semut yang lainnya.
Belalang merasa heran karena semua
semut dengan kompak menolak penawarannya.
Namun, Belalang tidak tinggal diam. Ia tetap
mencoba merayu kawanan semut itu.
35
“Berhentilah memikirkan hal yang tidak
penting! Ayo, kita senang-senang saja!” ucap
Belalang.
Tidak disangka musim panas berakhir lebih
cepat. Belalang tidak siap menghadapinya. Ia
panik bukan main. Lantas ia memutuskan untuk
meminta pertolongan kepada kawanan semut.
Berharap ia mendapatkan bantuan.
“Semut, apakah aku bisa minta makanan
dan tinggal bersama kalian?” tanya Belalang.
“Maafkan kita. Rumah kita pasti tidak
muat dengan tubuhmu. Persediaan makanan
yang ada juga hanya cukup untuk kawanan kita,”
jawab semut.
36
Belalang akhirnya meninggalkan rumah
kawanan semut dengan rasa menyesal dan sedih
hati.
“Andai aku bisa mencontoh perbuatan
kawanan semut saat itu. Pasti aku merasakan
perut yang kenyang bahkan bisa tidur dengan
nyenyak,” gumamnya.
37