BUKU AJAR DESAIN INTERIOR
PENGEMBANGAN DESAIN KURSI BOROBUDUR
[Kajian Budaya Duduk Orang Jawa Abad ke 8]
Rahmanu Widayat
Anung B Studyanto
PROGRAM STUDI DESAIN INTERIOR
FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2019
LEMBAR PENGESAHAN
Bahan ajar ini disusun oleh:
Nama : Dr. Rahmanu Widayat, M.Sn.
NIDN : 0021126205
Nama : Anung B. Studyanto, S.Sn., M.T.
NIDN : 0016087103
Matakuliah : INTERIOR TRADISI
Semester/Th. Genap/ 2019
Akademik
Prodi/Fakultas :
Universitas : Desain Interior/ Fakultas Seni Rupa Dan Desain
: Universitas Sebelas Maret Surakarta
Disahkan pada tanggal : 10 November 2019
Universitas Sebelas Maret Universitas Sebelas Maret
Fakultas Seni Rupa Dan Desain Fakultas Seni Rupa Dan Desain
Wakil Dekan I Dekan
Dr. Deny Tri Ardianto, S.Sn., MA Drs. Rahmanu Widayat, M.Sn
NIP 197905212002121002 196212211992011001
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmatnya
sehingga penulisan bahan ajar berjudul PENGEMBANGAN DESAIN KURSI
BOROBUDUR [Budaya Duduk Orang Jawa Abad ke 8] ini dapat terselesaikan.
Berangkat dari kenyataan bahwa penulisan buku tentang ragam hias yang berkaitan
dengan desain interior masih langka, maka penulis berusaha untuk membuat bahan
ajar tersebut diperuntukkan bagi mahasiswa jurusan desain interior pada semester VI
yang mengambil matakuliah Interior Tradisi. Penulis berharap agar bahan ajar ini
dapat digunakan sebagai buku pegangan yang dapat membantu kelancaran mahasiswa
dalam menempuh studinya di Program Studi Desain Interior FSRD UNS. Bahan ajar
ini berisi tentang tinjauan mata kuliah, pendahuluan, desain interior dan budaya jawa,
sejarah borobudur, Budaya Duduk orang Jawa, kursi borobudur, dan diakhiri dengan
penutup.
Penulis sangat berterima kasih kepada rekan-rekan di Program Studi Desain
Interior FSRD UNS yang telah memberi masukan dalam penulisan bahan ajar ini.
Tidak lupa ucapan terimakasih kepada para penulis yang buku, tulisan, dan
gambarnya penulis jadikan referensi. Tanpa beliau para penulis itu, kiranya bahan ajar
ini sulit untuk terwujud. Terimakasih pula kepada Lembaga Pengembangan
Pendidikan (LPP) UNS yang telah memberikan saran dan masukan serta
mengesahkan bahan ajar ini.
Kekurangan dalam penulisan bahan ajar ini tentu saja selalu ada, untuk itu
kritik, saran dan masukan demi sempurnanya bahan ajar INTERIOR TRADISI ini
sangat penulis harapkan. Terakhir penulis berharap semoga bahan ajar ini dapat
bermanfaat bagi mahasiswa dalam memperlancar studinya, atau bagi mahasiswa
desain interior yang memerlukan informasi tentang ragam hias dan penerapannya
dalam desain interior dapat menggunakan bahan ajar ini.
Surakarta, 10 November 2019
Dr. Rahmanu Widayat, M.Sn.
iii
DAFTAR ISI
Halaman Judul Halaman
Halaman Pengesahan i
Kata Pengantar ii
Daftar Isi iii
Tinjauan Mata Kuliah iii
1
BAB I Desain Interior dan Budaya Jawa 3
BAB II Borobudur [Kerajaan Mataram Kuno Periode Jawa Tengah] 12
BAB III Budaya Duduk Orang Jawa Abad 8 19
BAB IV Pengembangan Desain Kursi Borobudur 24
BAB IV Penutup 32
Daftar Pustaka 33
Tentang Penulis 34
iv
TINJAUAN MATAKULIAH
A. Deskripsi Singkat Matakuliah
Mata Kuliah Interior Tradisi bertujuan agar mahasiswa mampu membuat
konsep desain interior berdasarkan potensi lokal (tradisi). Sehingga materi
perkuliahannya meliputi pengertian interior tradisi, konsep interior tradisi, perilaku
masyarakat tradisi, wujud interior tradisi, dan proses penciptaan desain interior
dengan sumber ide budaya tradisi.
Masyarakat Jawa selain terbiasa duduk dengan lesehan, juga mengenal budaya
duduk di kursi. Duduk di kursi bagi masyarakat Jawa menurut Denys Lombard baru
dikenal awal abad ke-20 saat masa Kolonial. Orang Jawa sebelumnya mempunyai
kebiasaan duduk bersila di atas tikar. Ketika orang Jawa duduk di kursi harus
menyesuaikan cara duduk model tersebut. Namun kebiasaan lama kadang-kadang
muncul kembali, setelah menaruh sepatunya di bawah kursi, ia menarik kakinya ke
atas dan duduk bersimpuh di atas kursi (Lombard, 1996 : I/159).
Benjelasan tersebut seolah-olah orang Jawa baru mengenal kursi pada masa
Kolonial. Sebenarnya menurut pengamatan peneliti, secara visual informasi tentang
kursi dapat ditemui pada relief Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-8.
Kursi sudah ada, walaupun cara duduknya seperti yang disinyalir Denys Lombard
(duduk dikursi dengan kaki bersimpuh). Menarik untuk diketahui, pada relief Candi
Borobudur terdapat wujud kursi di tengah-tengah dominasi duduk di lantai. Meskipun
begitu, keberadaan kursi patut diduga bahwa pada masa Mataram Kuno itu kursi
sudah digunakan oleh masyarakat Jawa.
B. Kegunaan Matakuliah
Mahasiswa yang mengambil mata kuliah Ragam Hias akan mendapatkan
tambahan wawasan dalam bidang Interior Tradisi terkait dengan Budaya Duduk
Orang Jawa Abad ke 8 dan Kursi Borobudur.
Manfaat bagi pengembangan pribadi mahasiswa adalah mempunyai wawasan
budaya duduk orang Jawa, dan menggali potensi desain interior lewat tafsir relief
Candi Borobudur yang dapat diterapkan ke dalam desain interior.
1
Tujuan jurusan desain interior di mana mata kuliah ini diajarkan adalah
menghasilkan desainer interior yang profesional, artinya mempunyai keahlian yang
memadai dalam mendesain interior dengan ditunjang oleh wawasan tentang desain
yang luas. Interior Tradisi, satu diantara beberapa wawasan yang penting untuk
dikuasai mahasiswa dan mampu praktek membuat ragam hias, agar kelak ketika
menjadi desainer interior karyanya lebih berkualitas dengan konsep dan wujud
mempunyai korelasi yang jelas.
C. Standar Kompetensi Matakuliah
Mahasiswa mampu menguasai Budaya Duduk Orang Jawa dan menerapkan
teorinya ke dalam desain interior masakini.
D. Susunan Urutan Bahan Ajar
Susunan Bahan Ajar terdiri dari: Tinjauan Mata Kuliah, Desain Interior,
Desain Interior dan Budaya Jawa, Borobudur [Kerajaan Mataram Kuno Periode Jawa
Tengah], Budaya Duduk Orang Jawa, dan Kursi Borobudur terakhir penutup yang
berisi tentang tugas-tugas praktek.
E. Petunjuk bagi Mahasiswa untuk Mempelajari Bahan Ajar
Untuk mempelajari Interior Tradisi, mahasiswa diwajibkan membaca tiap-tiap
bab dan mengenali gambar-gambar ragam hias yang terdapat dalam bahan ajar ini.
Selanjutnya selain mengerjakan tugas yang terdapat dalam tiap bab, mahasiswa juga
mengerjakan tugas untuk menggali potensi desain interior lewat tafsir relief Candi
Borobudur yang dapat diterapkan ke dalam desain interior.
2
BAB I
DESAIN INTERIOR DAN BUDAYA JAWA
A. Kompetensi Dasar dan Indikator
Kompetensi Dasar: Mahasiswa mampu menjelaskan tentang ragam hias.
Indikator:
1. Menjelaskan pengertian desain interior
2. Menjelaskan fungsi desain interior
3. Menjelaskan pengertian budaya jawa
4. Menjelaskan latar belakang budaya jawa
5. Menjelaskan kaitan desain interior dengan budaya jawa
B. Deskripsi Singkat
Bab I mengenai Desain Interior dan Budaya Jawa berisi tentang hal-hal
mendasar yang perlu diketahui oleh mahasiswa sebelum mempelajari materi atau bab
selanjutnya. Materi dalam bab ini disusun secara berurutan mulai pengertian desain
interior, fungsi desain interior, pengertian budaya jawa, latar belakang budaya jawa,
kaitan desain interior dengan budaya jawa.
C. Materi
Sebelum mengulas sejarah perkembangan desain interior rumah Jawa ada
baiknya diperkenalkan terlebih dahulu mengenai apa sebenarnya desain interior itu.
Desain mempunyai arti yang sangat luas. Menurut Agus Sachari:
Kata desain berasal dari bahasa Inggris design yang di-Indonesiakan menjadi
desain. Istilah ini menggeser kata “rancang/merancang” yang dinilai tidak
sepenuhnya mewahanai kegiatan, keilmuan, keluasan dan pamor profesi.
Sejalan dengan itu ditawarkan pula kata “rancang bangun”, namun karena
penggunaannya lebih kepada praktek rekayasa, maka kata “desain” tetap
dipertahankan. Hal ini ditindaklanjuti pada pembakuan nama program studi di
perguruan tinggi, nama cabang ilmu, nama organisasi profesi, maupun istilah
yang dipergunakan pada beberapa undang-undang perlindungan intelektual 1.
1 Lihat, Tinjauan Desain. (Bandung: Penerbit ITB, 1998), 1
3
Kata desain berasal dari kata designo (Italia) yang artinya gambar. Namun
pengertiannya tidak sesederhana arti kata mengingat banyaknya ahli yang
mengemukakan pengertian tentang desain. J. Christoper Jones dalam bukunya Design
Methods mengumpulkan pengertian tentang desain sebagai berikut :
- Menemukan komponen-komponen fisik yang tepat dari suatu struktur fisik
(Alexander, 1963).
- Suatu aktivitas pemecahan masalah yang diarahkan kepada goal (Acher,
1963).
- Pengembalian keputusan, dalam menghadapi ketidaktentuan, dengan ganjaran
yang berat bagi keselahan (Asimow, 1962).
- Menirukan apa yang kita ingin buat (atau lakukan) sebelum kita membuatnya
(atau melakukannya) berulang-ulang sebanyak yang diperlukan untuk merasa
yakin akan hasil akhirnya (Booker, 1964).
- Desain enginering adalah penggunaan prinsip-prinsip ilmiah, informasi teknis
dan imajinasi dalam mendefinisikan suatu struktur mekanikal, mesin atau
sistem untuk melakukan fungsi-fungsi yang diperinci sebelumnya dengan
ekonomi dan efisiensi maksimum (Fielden, 1966).
- Mempertalikan produk dengan situasi untuk memberikan kepuasan (Gregory,
1966).
- Menjalankan suatu keyakinan yang amat rumit (Jones, 1966).
- Pemecahan optimum bagi sejumlah keperluan sesungguhnya dari sekumpulan
kondisi tertentu (Matchett, 1968).
- Lompatan imajinatif dari fakta yang sekarang kepada kemungkinan-
kemungkinan yang akan datang (Page, 1966).
- Suatu aktifitas kreatif - termasuk mewujudkan sesuatu yang baru dan
bermanfaat yang tidak ada sebelumnya (Reswick, 1965) 2.
Sementara itu ahli-ahli desain Indonesia memberikan pengertian desain
sebagai berikut :
- Menurut Ikatan Ahli Desain Indonesia yang tertuang dalam anggaran
dasarnya, bahwa desain adalah pemecahan masalah yang menyuarakan
budaya zamannya.
- Menurut Solichin Gunawan seorang desainer interior profesional menyatakan
bahwa desain adalah terjemahan fisik dari aspek sosial, ekonomi dan tata
hidup manusia dan merupakan cermin budaya zamannya.
- Menurut Widagdo sebagai salah seorang pendidik desain senior
mengungkapkan bahwa desain adalah salah satu manifestasi kebudayaan yang
berujud dan merupakan produk nilai-nilai untuk kurun waktu tertentu.3
Berdasarkan berbagai pendapat di atas penulis dapat menarik kesimpulan
bahwa desain adalah aktivitas pemecahan masalah secara visual berdasarkan
2 Design Methods atau Metoda-metoda disain, terjemahan buku 1. hal.1 – 2.
3 Lihat Agus Sachari. Tinjauan Desain. Ibid.hlm.5.
4
pertimbangan tertentu yang diwujudkan untuk memenuhi berbagai kepentingan.
Kesimpulan penulis ini lebih mengarah pada pengertian desain sebagai proses dan
desain sebagai wujud. Ketika Ikatan Ahli Desain Indonesia, Solichin Gunawan dan
Widagdo menekankan pada persoalan menyuarakan budaya zamannya, cermin
budaya zamannya atau kurun waktu tertentu menurut hemat penulis bisa masuk
sebagai salah satu pertimbangan (baik untuk mengkaji proses maupun wujudnya) di
samping pertimbangan-pertimbangan lain dalam desain.
Pertimbangan-pertimbangan itu dapat ditafsirkan ke dalam berbagai bidang
desain. Seperti pada ranah desain interior, pertimbangan – pertimbangan yang harus
ada misalnya pertimbangan fungsi, bahan yang digunakan, persoalan teknis, dan
termasuk didalamnya pertimbangan estetis. Selain hal tersebut pertimbangan tertentu
dapat muncul pula pada pertimbangan ergonomis, ekonomis, pertimbangan
lingkungan baik pisik maupun psikis, dan juga pertimbangan budaya zamannya.
Pengertian desain dalam berbagai bidang esensinya sama, namun setelah
memasuki karakteristik keilmuan atau disiplin ilmu yang dimaksud dengan desain
menjadi berbeda. Disiplin ilmu yang ada dalam ranah desain diantaranya adalah
desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, desain tekstil dan lain
sebagainya. Pertimbangan dalam bidang – bidang tersebut yang tidak sama karena ada
penekanan – penekanan yang harus hadir dalam desainnya.
Kata interior dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti 1) bagian
dalam dari gedung (ruang dsb); 2) tatanan perabot (hiasan, dsb) di dalam ruang dalam
dari gedung dsb. Dengan demikian yang dimaksud dengan desain interior adalah
aktivitas pemecahan masalah terkait dengan perencanaan, dan perancangan bagian
dalam dari gedung atau bangunan atau ruang secara visual, yang diwujudkan untuk
mewadahi aktivitas penghuni baik secara fisik, maupun phisik secara optimal.
Perencanaan yang dimaksud adalah proses, perbuatan, cara merencanakan.
Sebelum proses desain, pada umumnya didahului oleh proses perencanaan yang
mengkaji berbagai aspek yang berhubungan dengan faktor-faktor obyektif yang
dipakai sebagai kriteria. Dalam desain interior yang termasuk perencanaan adalah:
1. Analisis eksisting, yaitu: lokasi, potensi lingkungan, denah existing, dan
pengembangan denah existing
2. Programing, meliputi: status kelembagaan, struktur organisasi, sistem operasional,
program kegiatan , koleksi benda-benda inventaris, fasilitas ruang, besaran ruang
(untuk kepentingan fisik, kepentingan psikis), sistem organisasi ruang, sistem
5
sirkulasi, hubungan antar ruang, zoning (zone publik, zone semi publik, zone
operatif, zone privat) dan grouping (pengelompokan ruang berdasarkan zone)
Perancangan adalah proses mengolah data-data standard untuk menjadi wujud
desain yang baru, yang benar, dan yang indah. 4 Semua itu masuk dalam konsep
desain yang isinya meliputi: ide dasar desain, tema desain interior, atmosfir desain
interior, layout, pembentuk ruang (lantai, dinding, langit-langit), architectural interior
systems (pencahayaan, penghawaan, akustik), desain furniture, elemen estetis, skema
bahan dan warna, dan sistem keamanan.
Mengenai lingkup bangunan yang terkait dengan desain interior dapat
dijelaskan sebagai berikut :
1. Bangunan untuk kediaman (residential): rumah tinggal, apartemen, flat,
condominium dan lain-lain.
2. Bangunan untuk pendidikan (educational): taman kanak-kanak (nursery school),
children’s center (pusat kegiatan anak-anak), child care center (pusat perawatan
anak), elementary school and secondary school (sekolah dasar dan sekolah
menengah/ lanjutan), perguruan tinggi dan sebagainya.
3. Bangunan untuk kebudayaan (cultural): museum, gallery, perpustakaan,
theaters, amphitheaters, fasilitas musik dan lain-lain.
4. Bangunan untuk kesehatan (health): rumah sakit dan sebagainya.
5. Bangunan untuk keagamaan (religius): masjid, gereja, pura, dan vihara.
6. Bangunan untuk pemerintahan dan umum (Govermental and Public): balai kota,
gedung pengadilan, kantor polisi, kedutaan besar, kantor pos dan sebagainya.
7. Bangunan untuk komersial (comersial): shopping center, toko pengecer (retail
shops), supermarkets, bank, restaurant and eating places, kantor (offices), radio
stations, TV. Stations, hotel, motel, fasilitas komputer, photographic
laboraturium dan lain-lain.
8. Bangunan untuk sarana transportasi (transportation): airports and Terminal,
stasiun kereta api, terminal bus dan sebagainya.
9. Bangunan untuk industri (industrial)
10. Bangunan untuk rekreasi dan hiburan (recreation and entertainment): gedung,
olah raga, movie theaters (gedung bioskop) dan lain-lain. 5
Desain interior bertalian dengan dunia praktisi adalah sebuah profesi yang
harus ditempuh dalam dunia pendidikan tinggi dengan jenjang S1, yang bertujuan
untuk menghasilkan desainer interior yang profesional. Sementara desain interior
boleh dikatakan dalam kelompok keahlian baru muncul di Indonesia sekitar tahun 70
4 Widagdo. Desain dan Kebudayaan. (Bandung: Penerbit ITB, 2005)
5 Rahmanu Widayat. Kumpulan Istilah Desain Interior. (Surakarta: FSSR Publishing Solo,2010), 11-
12.
6
an. Mengenai perkembangan desain interior sebagai keahlian, dijelaskan oleh Solichin
Gunawan, yang telah diolah dan dikembangkan oleh penulis sebagai berikut 6.
Sejarah desain interior dari sisi profesi berawal dari ruang-ruang rumah tinggal
yang secara tradisi berakar pada prinsip-prinsip estetik. Sampai saat ini estetik
menjadi salah satu pertimbangan yang penting dalam pemikiran seorang desainer
interior. Ruang lingkup pekerjaan bermula dari ruang-ruang rumah tinggal pribadi,
kemudian berkembang pada ruang-ruang komersial dan institusional baik yang
dikelola oleh pemerintah maupun swasta. Profesi ini berkembang pesat mengingat
sebagian besar kehidupan manusia dilewatkan di dalam interior, seperti di ruang-
ruang tempat tinggal, ruang ibadah, ruang kerja dan ruang-ruang umum dan khusus
lainnya.
Pada permulaan tahun 1950 an, dikenal profesi yang namanya dekorator
interior, yang khusus memberi pelayanan jasanya dengan menghias dan menata
ruang-ruang pada bangunan yang telah diselesaikan oleh arsiteknya. Ternyata
perkembangan pembangunan begitu cepatnya sehingga menambah kompleks
permasalahan interior yang harus dipecahkan. Interior tidak dapat lagi dikerjakan
hanya dekorasinya saja, namun dituntut untuk memecahkan masalah secara
menyeluruh terpadu. Baik dengan arsitektur maupun disiplin-disiplin yang terlibat
dengan pembangunan gedungnya. Hal itu tidak menyebabkan dekorasi dihilangkan
dari kegiatan profesi desain interior, tetapi menjadi salah satu elemen pendukung
interior yang dibutuhkan.
Perkembangan proses desain interior tidaklah statis, namun maju seiring
dengan perkembangan kemajuan dunia informasi dan teknologi. Jika tahun 70 an dan
80 an cara mendesain masih dilakukan secara manual dibantu dengan mesin gambar,
namun saat ini penggunaan media komputer sangat membantu dalam pembuatan
proses desainnya. Seperti dalam membuat gambar bagan bisa dilakukan dengan
program autocad, sedangkan untuk membuat gambar perspektif bisa menggunakan
program 3D (tiga dimensi), bahkan maket sudah bisa digantikan dengan program
animasi 3D.
Bertalian dengan dunia profesi seiring dengan banyaknya proyek yang
dikerjakan muncul adanya spesialisasi, yaitu residential interior untuk yang
mengkhususkan mengerjakan proyek-proyek rumah tinggal, dan contract interior atau
6 Solichin Gunawan. Desain Interior Sebagai Profesi dan Persiapan Pendidikannya. (Makalah Diskusi
dalam Rangka Dies Natalis IX Universitas Sebelas Maret Surakarta. Tahun 1987), 1 – 4.
7
non residential yang memilih proyek-proyek komersial dan institusi lainnya. Melihat
perkembangan tersebut cita rasa estetik saja dirasa tidaklah cukup terutama terkait
dengan proyek-proyek non residential yang lebih menuntut sikap profesionalisme.
Semakin banyaknya proyek desain interior, dituntut tanggung jawab yang
lebih bagi profesi desain interior. Sehingga diperlukan tata aturan dalam mengerjakan
proyek desain interior. Mengingat desain interior lebih dekat hubungannya dengan
dunia arsitektur maka pedoman tata cara berprofesi mengikuti bidang arsitektur.
Kehadiran desain interior di Indonesia, sebagaimana cabang-cabang desain
lainnya dianggap sebagai sesuatu yang fenomenal. Tahun 50 an sampai dengan 60 an
masih dianggap berada di luar jangkauan angan-angan. Tetapi di tahun 70 an dan 80
an akibat terjadinya ledakan pembangunan fisik muncul sebagai realita yang cepat
tumbuh dan dibutuhkan untuk mengimbangi tuntutan pembangunan yang berjalan
dengan menggebu-gebu. Sampai saat ini-pun pembangunan di bidang fisik atau
arsitektur tidak pernah berhenti dan semakin mapanlah profesi desain interior.
Kemapanan profesi desain interior tersebut diimbangi dengan munculnya
asosiasi profesi pada tahun 80 an, yaitu Himpunan Desainer Interior Indonesia
(HDII). Pada tahun 1985 HDII diterima sebagai anggota International Federation of
Interior Designes (IFI) dalam konggresnya di Paris. Dengan demikian jika desainer
interior diterima menjadi anggota HDII otomatis menjadi anggota IFI sebagai
himpunan desainer interior di seluruh dunia.
Sejalan dengan perkembangan tersebut maka definisi seorang desainer interior
profesional yang mengacu pada konggres IFI di Hamburg tahun 1983 , adalah:
1. mengenal, meneliti untuk kemudian secara kreatif memecahkan masalahnya
sesuai dengan fungsi dan mutu dari sesuatu ruang interior,
2. memberikan pelayanan jasa yang berhubungan dengan ruang-ruang interior
mulai dari penyusunan program ruang, analisa desain, perencanaan dan
estetika ruang hingga penerapan pengetahuannya yang khusus dalam
konstruksi interior, sistem dan komponen bangunan, peralatan, bahan-bahan
sentuhan akhir dan peraturan atau perundangan yang berlaku yang
berhubungan dengan bangunan,
3. mempersiapkan gambar-gambar dan dokumen pelengkap yang berhubungan
dengan ruang-ruang interior, dengan tujuan turut meningkatkan mutu
kehidupan, melindungi kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan masyarakat
yang menggunakan jasa pelayanannya 7.
Terkait dengan perkembangan desain interior, ketika berbicara tentang sejarah
desain interior sebenarnya tidak dimulai tepat pada saat bidang desain interior
7 Solichin Gunawan. Ibid.hlm. 4 – 5.
8
menjadi profesi baru sekitar tahun 50 an, namun bisa mengikuti sejarah
perkembangan arsitektur, mengingat interior adalah bagian dalam dari arsitektur.
Artinya tidak hanya interior modern saja yang didesain berdasarkan ilmu desain.
Namun desain interior masa lalu-pun diwujudkan melalui pertimbangan-
pertimbangan desain, baik unsur-unsur desain maupun prinsip-prinsip desainnya,
untuk menghasilkan desain interior yang indah.
Perkembangan desain interior berdasarkan sejarah dunia bisa dimulai dari
desain interior zaman Prasejarah, Mesir, Babilonia-Asiria, Persia, Yunani, Romawi,
Zaman tengah (a. Gaya Nasrani Kuno b. Romanesk dan Gotik), Renaisans
(Renaissance), Barok, Rococo, Abad 19 dan abad 20 (a. Klasisisme, b. Modern).
Sedangkan sejarah perkembangan desain interior di Indonesia dapat dimulai dari
Zaman Prasejarah, Zaman Purba (Pengaruh India sampai dengan 1500 M), Zaman
Madya, sampai dengan Zaman Baru (Modern). Rentang penulisan sejarah desain
interior yang panjang tersebut tentu saja belum tuntas diungkapkan, dan masih
menunggu peneliti-peneliti desain interior yang berkonsentrasi dalam ranah sejarah
untuk merekonstruksikan kembali mengenai desain interiornya. Untuk itu penulis
mencoba menulis sebagian kecil sejarah desain interior, yaitu Sejarah Perkembangan
Desain Interior Rumah Jawa.
Desain interior rumah Jawa adalah hasil pengolahan bagian dalam rumah Jawa
yang ada di wilayah budaya Jawa sejak zaman prasejarah, zaman sejarah, zaman
Islam, zaman Kolonial yang melahirkan desain interior rumah Jawa klasik, dan zaman
Indonesia merdeka yang memunculkan desain interior rumah Jawa kontemporer.
Dalam membahas sejarah perkembangan desain interior rumah Jawa tidak
hanya berhubungan dengan angka tahun dan ciri-cirinya saja, namun dikaitkan
dengan perkembangan budaya saat itu. Mengingat penelitian ini fokus pada persoalan
rumah Jawa maka dalam pembahasannya juga dikaitkan dengan perkembangan
kebudayaan Jawa. Kebudayaan yang dimaksud dalam pengertian konsep masyarakat
Jawa, pola tingkah laku masyarakat Jawa, dan artefak (interior rumah Jawa) dari
berbagai zaman.
8. Rangkuman
Setelah mempelajari materi Bab I Desain Interior Dan Budaya Jawa,
diharapkan mahasiswa mampu menjelaskan pengertian desain interior, menjelaskan
9
fungsi desain interior, menjelaskan pengertian budaya jawa, menjelaskan latar
belakang budaya jawadan menjelaskan kaitan desain interior dengan budaya jawa.
Daftar Pustaka
Christoper Jones, J . Design Methods atau Metoda-metoda disain, terjemahan buku 1.
Gunawan, Solichin. 1987. Desain Interior Sebagai Profesi dan Persiapan
Pendidikannya. (Makalah Diskusi dalam Rangka Dies Natalis IX Universitas
Sebelas Maret Surakarta. Tahun 1987).
Sachari, Agus. 1988. Tinjauan Desain. Bandung: Penerbit ITB.
Widagdo. 2005. Desain dan Kebudayaan. Bandung: Penerbit ITB
Widayat, Rahmanu. 2010. Kumpulan Istilah Desain Interior. Surakarta: FSSR
Publishing.
D. Daftar Bacaan Tambahan
Kaplan, David. dan Manners, Albert. 2000. Teori Budaya. Penerjemah Landung
Simatupang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Lombard, Denys. 1996. Nusa Jawa: Silang Budaya Batas-batas Pembaratan. Buku 1.
Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
_____________. 1996. Nusa Jawa: Silang Budaya Kajian Sejarah Terpadu Warisan
Kerajaan-kerajaan Konsentris. Buku 3. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia
Pustaka Utama.
Sedyawati, Edi. 2006. Budaya Indonesia Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah.
Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Soekmono, R. 1995. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia. Jilid 1,2,3.
Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Tim Penyusun. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
E. Pertanyaan Kunci
1. Jelaskan pengertian desain interior
2. Jelaskan fungsi desain interior
3. Jelaskan n pengertian budaya jawa
4. Jelaskan n latar belakang budaya jawa
10
5. Jelaskan kaitan desain interior dengan budaya jawa
F. Soal/ Tugas
Tugas I :
Mahasiswa membuat kliping tentang desain interior minimal 30 halaman, bahannya
adalah bangunan candi, rumah-rumah tardisional, yang ada di Indonesia, dan lain-lain.
11
BAB II
BOROBUDUR [Kerajaan Mataram Kuno Periode Jawa Tengah]
A. Kompetensi Dasar dan Indikator
Kompetensi Dasar: Mahasiswa mampu menjelaskan Kerajaan Mataram Kuno Periode
Jawa Tengah [Borobudur]
Indikator:
1. Menjelaskan pengertian Kerajaan Mataram Kuno Periode Jawa Tengah
2. Menjelaskan Sejarah Candi Borobudur
B. Deskripsi Singkat
Bab II mengenai Desain Interior Rumah Jawa Zaman Prasejarah berisi tentang
hal-hal mendasar yang perlu diketahui oleh mahasiswa sebelum mempelajari materi atau
bab selanjutnya. Materi dalam bab ini disusun secara berurutan mulai Kerajaan Mataram
Kuno Periode Jawa Tengah dan Sejarah Candi Borobudur
C. Materi
Sumber mengenai kerajaan Mataram Kuna periode Jawa Tengah diketahui dari
Berita Cina yang mengatakan bahwa pada abad V-VI M terdapat kerajaan di Jawa yang
memberikan persembahan kepada Cina (Wolters,1967 dalam Jones,1984:hlm. 1). Selain
Berita Cina, tidak banyak informasi mengenai kelanjutan kerajaan tersebut hingga
ditemukannya Prasasti Canggal (732 M). Prasasti Canggal (732 M) menyebutkan bahwa
Sanjaya mendirikan bangunan suci untuk pemujaan lingga di atas Gunung Wukir
(Magelang), sebagai lambang telah ditaklukannya raja-raja kecil di sekitarnya yang
dahulu mengakui kemaharajaan Sanna (Poesponegoro dan Notosusanto,1990:hlm. 109).
Dalam Prasasti Mantyasih (907 M), Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya adalah
raja pertama Mataram Kuna. Setelah Sanjaya wafat tahta kerajaan diserahkan kepada
anaknya yang bernama Sankhara atau Rakai Panangkaran Dyah Sankhara Sri
Sanggramadhananjaya. Rakai Panangkaran adalah raja yang membangun gugusan
candi-candi kerajaan, antara lain Candi Sewu untuk pemujaan Manjusri, seperti yang
disebutkan pada Prasasti Kelurak (782 M), Candi Plaosan yang melambangkan kesatuan
kerajaan, dan Candi Borobudur untuk pemujaan pendiri Rajakula Sailendra. Candi lain
yang dibangun Panangkaran adalah Candi Kalasan (778 M) dan bangunan lain di bukit
Ratu Baka.
13
Menurut sumber Prasasti Nalanda, Rakai Panangkaran mempunyai anak
bernama Samaragrawira atau Samaratungga yang disebut dalam Prasasti Kayumwungan
(824 M). Bagian pertama Prasasti Kayumwungan menyebutkan Raja Samaratungga
adalah permata Wangsa Sailendra, yang mempunyai anak perempuan bernama
Pramodawarddhani. Pramodawarddhani adalah pendiri bangunan suci agama Buddha di
Çrimad venumana dan mantahbiskan Arca Sri Ghananatha yang terdapat di dalamnya
(824 M) (Poesponegoro dan Notosusanto,1990:hlm. 109-113).
Rakai Panangkaran, yang telah memeluk agama Buddha Mahayana memerintah
dengan waktu yang cukup lama, yaitu antara tahun 750 M hingga sekitar tahun 792 M.
Ia digantikan oleh Samaratungga yang menurunkan Pramodawarddhani dan
Balaputradewa. Pramodawarddhani kemudian dikawinkan dengan Rakai Pikatan yang
memeluk agama Siwa. Setelah Samaratungga meninggal kedudukan sebagai maharaja
digantikan oleh Rakai Pikatan (Poesponegoro dan Notosusanto,1990:hlm. 119-120).
Rakai Pikatan adalah raja yang memerintahkan membangun candi kerajaan yang
lain yang berlandaskan agama Siwa, yaitu Candi Prambanan. Hal ini diketahui dari
Prasasti Siwagrha (856 M). Selain memerintahkan untuk membangun Candi Lara
Jonggrang atau Prambanan, untuk menghormati Rakai Panangkaran dan permaisurinya
yang beragama Buddha, Pikatan membangun sekurang-kurangnya dua bangunan
perwara berupa stupa di kompleks Candi Plaosan (Poesponegoro dan
Notosusanto,1990:hlm. 119-120).
Rakai Pikatan kemudian mengundurkan diri dan menjadi pertapa. Pemerintahan
kemudian diserahkan kepada anaknya, Dyah Lokapala atau Rakai Kayuwangi. Berbagai
pendapat mengatakan bahwa Rakai Kayuwangi diangkat menjadi raja karena jasanya
sebagai panglima perang yang berhasil menaklukkan Rakai Walaing Pu Kumbhayoni.
Naiknya Rakai Kayuwangi (tahun856 M) sebagai maharaja, menimbulkan berbagai
permasalahan. Hal ini karena kedudukan maharaja seharusnya dipegang oleh kakaknya,
putri mahkota Rakai Gurunwangi Dyah Saladu (Poesponegoro dan
Notosusanto,1990:hlm. 127-133)
Prasasti Mungu Antan (887 M) menyebutkan bahwa pengganti Rakai
Kayuwangi adalah Rakai Gurunwangi. Pergantian kekuasaan tersebut mengindikasikan
adanya perebutan kekuasaan antara Rakai Kayuwangi dan Rakai Gurunwangi, sebab
yang seharusnya menjadi raja menggantikan Kayuwangi adalah putra mahkota, Rakai
Hino Pu Aku (Poesponegoro dan Notosusanto,1990:hlm. 134).
14
Setelah Rakai Gurunwangi, sangat sedikit sumber yang memberikan keterangan
mengenai raja selanjutnya sampai ditemukannya Prasasti Poh Dulur (890 M) yang
menyebut nama Maharaja Rake Limus Dyah Dewindra. Keterangan mengenai
Maharaja Dewindra dalam Prasasti Poh Dulur (890 M) tersebut masih diragukan, karena
prasasti tersebut merupakan prasasti tinulad (Poesponegoro dan Notosusanto,1990:hlm.
135).
Penguasa selanjutnya adalah Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Sri
Dharmmodaya Mahasambhu. Balitung memerintah selama dua belas tahun (899-911
M). Poerbatjaraka berpendapat bahwa gelar Rakai Watukura menunjukkan bahwa ia
seorang penguasa watek yang naik tahta karena mengawini putri mahkota
(Poesponegoro dan Notosusanto,1990:hlm. 136-137).
Hal yang perlu diperhatikan pada masa pemerintahan Balitung adalah disebutnya
nenek raja Rakryan Sanjiwana dalam Prasasti Rukam (907 M). Prasasti Rukam (907 M)
memperingati perintah raja untuk menetapkan desa Rukam yang merupakan salah satu
pusat kerajaan menjadi daerah sima bagi Rakryan Sanjiwana Nini Haji. Dengan
demikian dapat diperkirakan bahwa Rakryan Sanjiwana ialah nenek raja yang
dikaitkan dengan salah satu candi di Kawasan Prambanan, yaitu Candi Sojiwan.
Sehingga dimungkinkan Rakryan Sanjiwana adalah istri Rakai Pikatan atau anak
Samaratungga yang beragama Buddha, karena Candi Sojiwan adalah candi Buddha
(Poesponegoro dan Notosusanto,1990:hlm. 140-142).
Rakai Watukura Dyah Balitung digantikan oleh Daksa atau Sri Daksottama
Bahubajra Pratipaksaksaya, yang bukan merupakan anak Balitung. Daksa adalah pejabat
tinggi yang berkedudukan sebagai rakryan mahamantri i hino pada masa Balitung.
Tidak terdapat peristiwa sejarah yang penting pada masa pemerintahan Daksa. Kecuali
satu hal yang perlu dicatat pada masa Daksa, yaitu pada Prasasti Sugih Manek (915 M)
yang menyebut permaisuri raja, yang mendapat sebutan Rakryan Binihaji Parameswari
(Poesponegoro dan Notosusanto,1990:hlm. 144,145,148).
Rakai Layang Dyah Tlodhong Sri Sajjana Sanmatanuraga Tunggadewa adalah
penguasa selanjutnya yang menggantikan kedudukan Daksa. Kapan pemerintahan Rakai
Layang Dyah Tlodhong berakhir, tidak diketahui (Poesponegoro dan
Notosusanto,1990:hlm.153)
15
Pada tahun 928 M muncul nama Dyah Wawa, yang menyebut dirinya anak
Kryan Landheyan sang lumah ring alas menjadi maharaja. Masa pemerintahan Rakai
Sumba berakhir dengan tiba-tiba, kemungkinan diakibatkan letusan Gunungapi Merapi
pada tahun 1.006 M (Poesponegoro dan Notosusanto,1990:hlm. 153-155).
Nama Mataram kembali disebut pada Prasasti Paradah (943 M) dan Anjukladang
(937 M). Kedua prasasti tersebut berasal dari masa Sindok, yang menyebut ibukota di
Tamwlang (daerah Jombang, Jawa Timur). Kondisi ini menyebabkan para ahli
menyebut kerajaan Mataram telah berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur
(Poesponegoro dan Notosusanto,1990:hlm. 157).
Karajaan Mataram Kuna periode Jawa Tengah agaknya menitikberatkan pada
sektor pertanian. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya prasasti yang berkaitan dengan
penetapan sima berupa sawah. Indikasi ini kemudian diperkuat dengan perpindahan
pusat pemerintahan dari Mdaň ri Poh Pitu (Kedu-saat ini) ke Mdaň ri Mamrati
(Prambanan-saat ini) karena tanahnya yang subur dan cocok untuk persawahan dan
terletak disekitar gunungapi, sehingga tanahnya mengandung unsur hara yang sangat
diperlukan khususnya bagi tanaman padi (Darmosoetopo,2003:hlm. 37). Jabatan seperti
hulu air, pejabat yang mengatur dan bertanggungjawab terhadap tata air pada lahan
pertanian (van Der Meer,1979:hlm. 63, dalam Darmosoetopo,2003:hlm. 57) dijumpai
dalam sejumlah prasasti, antara lain Prasasti Jurungan (876 M), membuktikan bahwa
pertanian sawah memegang peranan penting di Kerajaan Mataram Kuna periode Jawa
Tengah.
Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-8, berdiri megah dan indah di
Magelang Jawa Tengah. Borobudur saat ini merupakan warisan masa lalu yang masih
menyimpan banyak misteri. Ada tesis yang mengatakan Candi Borobudur itu dahulu
terletak di tengah-tengah danau di atas sebuah pulau, bagaikan bunga teratai yang
mengapung di atas air. Tesis tersebut berasal dari Nieuwenkamp, seorang arsitek,
pemahat, pelukis, etnolog dan penulis. Kebenaran tesis tersebut diperkuat oleh geolog
Belanda di Utrecht Prof. Dr. R.M.R. Rutten dan Dr. R.W. van Bemmelen yang
mengatakan zaman dahulu Kedu (lokasi Candi Borobudur) terdapat danau yang kini telah
mengering (Joesoef, 2004: 68-69). Tentu tidak hanya letaknya di tengah danau yang
membuat banyak orang terpukau, namun candinya sendiri sangat menarik untuk diteliti.
Candi Borobudur sudah banyak dikaji, namun seakan-akan tak pernah habis untuk
diteliti. Candi Borobudur juga sudah banyak di tulis dalam bentuk buku, namun tak
menyurutkan minat para peneliti dalam menemukan hal-hal baru. Candi Borobudur
mempunyai susunan tiga tingkatan, yaitu kamadhatu atau alam nafsu atau hasrat,
rupadhatu atau alam keterikatan pada rupa, dan arupadhatu atau alam yang tidak terikat
pada rupa (Sedyawati, 2006: 416). Kamadhatu terdiri dari 160 relief
16
Mahakarmavibangga yaitu tentang hukum karma, dalam keadaan tertutup batu, namun
ada yang dibuka di sudut tenggara candi. Rupadhatu berisi 120 relief Lalitavistara
tentang kisah Sidharta Budha Gautama, kisah kelahiran Jatakamala dan kepahlawanan
Avadana sebanyak 720 panel, kisah Gandavyuha yaitu perjalanan Bodhisattva dalam
mengembara mencari kebijaksanaan sebanyak 420 relief. Arupadhatu dalam rupa stupa
72 buah, dan sebuah sebuah stupa besar (Mudhiuddin, 2009: 62-66). Secara keseluruhan
menurut Daoed Joesoef Candi Borobudur mempunyai 1.460 (Joesoef, 2004: 100).
Daftar Pustaka
Joesoef, Daoed, 2004. Borobudur. Jakarta: Buku Kompas.
Kaplan, David dan Manners, Albert A. 2000. Teori Budaya. Penerjemah Landung
Simatupang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Mudhiuddin. Andi M., 2009. Borobudur-Prambanan dan Candi lainnya. Yogyakarta:
Kreasi Wacana.
Sedyawati, Edi. 2006. Budaya Indonesia Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah. Jakarta:
PT RajaGrafindo Persada.
Setyawan, Hari, 2007, Potensi Dan Pengelolaan Sumber Daya Flora Kawasan Prambanan Abad IX-X
M (Studi Kasus Melalui Relirf Candi Prambanan Dan Sojiwan
Yogyakarta, Universitas Gajah Mada
Sutrisno, Mudji dan Hendar Putranto, ed., Teori-teori Kebudayaan, Yogyakarta:
Kanisius, 2005.
D. Daftar Bacaan Tambahan
Marizar, Eddy Supriyatna, 2013. Kursi Kekuasaan Jawa. Yogyakarta: Narasi.
Sutrisno, Mudji dan Hendar Putranto, ed., Teori-teori Kebudayaan, Yogyakarta:
Kanisius, 2005.
Tim Penyusun KBBI, 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Widayat, Rahmanu, 2010. Kumpulan Istilah Desain Interior, Surakarta: FSSR
Publishing.
E. Pertanyaan Kunci
1. Jelaskan pengertian zaman Kerajaan Mataram Kuno Periode Jawa Tengah
2. Jelaskan Sejarah Candi Borobudur, yang terkait dengan relief budaya duduk.
17
F. Soal/ Tugas
Tugas II :
Mahasiswa membuat paper [tugas kelompok] tentang Kerajaan Mataram Kuno Periode
Jawa Tengah minimal 30 halaman, bahannya adalah relief candi, rumah-rumah
tardisional, dan lain-lain.
18
BAB III
BUDAYA DUDUK ORANG JAWA ABAD Ke 8
A. Kompetensi Dasar dan Indikator
Kompetensi Dasar: Mahasiswa mampu menjelaskan budaya duduk orang Jawa Abad
ke 8.
Indikator:
1. Menjelaskan pengertian Budaya Duduk
2. Menjelaskan pengertian Budaya Duduk Orang Jawa Abad ke 8
B. Deskripsi Singkat
Bab III mengenai budaya duduk orang Jawa abad ke 8 berisi tentang
hal-hal mendasar yang perlu diketahui oleh mahasiswa sebelum mempelajari materi
atau bab selanjutnya. Materi dalam bab ini disusun secara berurutan mulai pengertian
budaya duduk orang jawa dan budaya duduk yang ada pada relief Candi Borobudur.
C. Materi
Di Indonesia terdapat lebih dari 200 suku bangsa yang memiliki
keanekaragaman budaya. Tidak jarang keanekaragaman itu membuat kita heran dan
merasa aneh dengan kebudayaan suku bangsa lain. Salah satu keanekaragaman itu
adalah pola pikir mengenai tata cara makan.
Orang jawa memiliki kebiasaan yang mungkin aneh disbanding suku lain. Saat
kita makan kita tidak boleh mengeluarkan suara karena dianggap mirip hewan
terutama sapi yang jika makan mereka selalu mengeluarkan suara. Pada zaman dulu
orang jawa makan dengan piring yang terbuat dari tanah liat sehingga sebelum
meletakkan makanan akan diberi sehelai daun pisang karena jika tidk makanan akan
kotor. Orang jawa, sama seperti halnya suku lain,tidak punya alat makan. Oleh karena
itu orang jawa menggunakan tangan saat makan. Di zaman sekarang piring sudah
terbuat dari keramik dan sendok bisa dijumpai dimana-mana karena itu orang jawa
sekarang makan menggunakan sendok. Namun kebiasaan makan pakai tangan tetap
tidak bisa hilang terutama saat prosesi adat seperti “genduren“.
19
Yang unik pada orang jawa lainnya adalah suka makan di atas lantau dan tidak
terlalu suka makan di kursi seperti suku batak atau orang barat. Saat makan laki-laki
duduk bersila sedangkan wanita duduk dengan merapatkan selakangannya karena jika
membuka selakangan dianggap tidak sopan, selain itu pakaian adat wanita zaman dulu
tidak memungkinkan wanita untuk duduk mengangkan.
Saat makan bersama keluarga atau ada acara makan bersama anggota keluarga
atau tamu akan mengellilingi nasi dan lauk dan biasanya ada acara basa basi dulu.
Maksudnya tuan ruah akan menyuruh tamu makan dulu dan tamu biasanya akan
mengatakan “tidak, sudah kenyang, sudah makan” dan lain-lain, yang mana hanya
untuk basa basi dan bukan berarti tamu tersebut tidak menyukai makanannya. Setelah
beberpa lama tuan rumah memaksa tamu untuk makan tamupun langsung makan
dengan wajah malu-malu. Namun biasanya jika tamu tidak mau juga tuan rumah akan
makan lebih dulu agar tamu tidak malu untuk makan karena biasanya tamu
menganggap “tuan rumah saja tidak makan, masak saya makan terlebih dulu”.
Mungkin ini sedikit rumit karena tidak ada aturan pasti siapa dulu yang harus makan.
Namun jika tidak ada ini bisa dianggap tidak sopan.
Setelah makan maka kita membasuh tangan dengan air kobokan yang telah
disediakan. Kadang-kadang dalam air koboka ada kemang yang bisa menghilangkan
bau pada tangan yang telah menyentuh makanan.
Masyarakat Jawa selain terbiasa duduk dengan lesehan, juga mengenal budaya
duduk di kursi. Duduk di kursi bagi masyarakat Jawa menurut Denys Lombard baru
dikenal awal abad ke-20 saat masa Kolonial. Orang Jawa sebelumnya mempunyai
kebiasaan duduk bersila di atas tikar. Ketika orang Jawa duduk di kursi harus
menyesuaikan cara duduk model tersebut. Namun kebiasaan lama kadang-kadang
muncul kembali, setelah menaruh sepatunya di bawah kursi, ia menarik kakinya ke
atas dan duduk bersimpuh di atas kursi (Lombard, 1996 : I/159).
Kursi bertalian dengan makna denotatif adalah tempat duduk yang berkaki dan
bersandaran (Tim Penyusun KBBI, 1996: 546). Secara konotatif kursi mempunyai
makna yang luas, dalam konteks budaya adalah artefak yang lahir dari cipta, rasa, dan
karsa. Kursi dalam konteks sosial dapat menunjukkan status sosial pemiliknya.
Bertalian dengan politik kursi sebagai simbol kekuasaan (Marizar, 2013: 57-58).
Sejarah perkembangan kursi atau fasilitas duduk sudah cukup lama, mulai dari
zaman Mesir Kuno, zaman Yunani Kuno, zaman Romawi, zaman Romanesk/Gothik,
zaman Renaissance, zaman Barok, zaman Rokoko, Neo Klasik, zaman Revolusi
20
Industri menuju modern (gaya Art Nouveau, gaya Art Deco, de Stijl), zaman modern,
Post Modern, dekonstruksi dan kontemporer. Selain itu ada kursi Cina (Tiongkok)
dan lain-lain. Namun perkembangan yang lengkap itu melupakan kursi yang
berkembang zaman Hindu-Budha di Nusantara khususnya Jawa melalui data visual
seperti relief Candi Borobudur.
Kehadiran kursi pada relief Candi Borobudur tentu sangat menarik untuk
dikaji, baik itu jenis-jenisnya, dan juga bentuknya. Bentuk kursi sebaiknya tidak
hanya berhenti dikaji dalam wujud dua dimensi seperti yang ada pada relief. Namun
akan lebih baik jika direkonstruksi dan dibuat tiga dimensinya atau mock-up dengan
skala yang mendekati ukuran sebenarnya. Kursi bentuk jadi tersebut bisa dinamakan
“Kursi Borobudur”, karena berasal dari relief di Candi Borobudur. Proses
rekonstruksi (mewujudkan kembali) berdasarkan kursi di relief candi Borobudur
dapat dilakukan dengan cara interpretasi. Untuk menginterpretasi wujud kursi
digunakan pendekatan ilmu tafsir atau hermeneutik. Secara etimologis kata
„hermeneutik‟ berasal dari bahasa Yunani „hermeneuein‟ yang berarti „menafsirkan‟.
Maka, kata benda hermeneia secara harfiah dapat diartikan sebagai “penafsiran” atau
interpretasi (Sumaryono, 1999: 23).
21
Pola Duduk pada Relief Candi Borobudur
Sila: duduk lesehan, Sila panggung: duduk lesehan Sila tumpang: duduk
kaki ditekuk ke dengan lutut dinaikkan
dalam (seperti duduknya para nyai) lesehan, dengan kaki
ditumpangkan pada
paha kaki yang satunya
(duduknya para
dhalang)
Jégang: duduk Jèngkèng: duduk Kebiasaan duduk dengan
lesehan satu kaki lesehan dengan kaki posisi jègang , kaki
ditekuk menapak kedua kaki ditekuk dililitkan kain/tali ke
lantai, satu kaki menyamping. pinggang seperti pada
ditekut lututnya gambar. Kebiasaan duduk
diatas. seperti itu sudah tidak
ditemukan dalam
masyarakat Jawa saat ini.
22
Daftar Pustaka
Lombard, Denys. 1996. Nusa Jawa: Silang Budaya Batas-batas Pembaratan. Buku 1.
Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
Marizar, Eddy Supriyatna, 2013. Kursi Kekuasaan Jawa. Yogyakarta: Narasi.
Sumaryono, E., 1999. Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Kanisius.
D. Daftar Bacaan Tambahan
Joesoef, Daoed, 2004. Borobudur. Jakarta: Buku Kompas.
Mudhiuddin. Andi M., 2009. Borobudur-Prambanan dan Candi lainnya. Yogyakarta:
Kreasi Wacana.
E. Pertanyaan Kunci
1. Jelaskan pengertian Budaya Duduk
2. Jelaskan pengertian Budaya Duduk Orang Jawa Abad ke 8
F. Soal/ Tugas
Tugas III :
Mahasiswa membuat paper [tugas kelompok] tentang Budaya Duduk, minimal 30
halaman, bahannya adalah relief bangunan candi, rumah-rumah tardisional, dan lain-
lain.
Mahasiswa membuat materi presentasi [max 10menit].
23
BAB IV
PENGEMBANGAN DESAIN KURSI BOROBUDUR
A. Kompetensi Dasar dan Indikator
Kompetensi Dasar: Mahasiswa mampu menjelaskan Rekontruksi Kursi Borobudur .
Indikator:
1. Menjelaskan pengertian Fasilitas Duduk
2. Menjelaskan pengertian Fasilitas duduk yang ada pada relief Candi Borobudur
3. Menjelaskan pengertian Rekonstruksi Kursi Borobudur.
B. Deskripsi Singkat
Bab IV mengenai Kursi Borobudur berisi tentang hal-hal mendasar
yang perlu diketahui oleh mahasiswa sebelum mempelajari materi atau bab
selanjutnya. Materi dalam bab ini disusun secara berurutan mulai pengertian Fasilitas
duduk pada relief Candi Borobudur dan rekonstruksi Candi Borobudur.
C. Materi
Hasil dan pembahasan ini merupakan jawaban dari rumusan masalah, yaitu
tentang 1) apa saja jenis-jenis kursi atau fasilitas duduk pada relief Candi Borobudur?
2) Bagaimana wujud hasil rekonstruksi kursi pada relief Candi Borobudur atau “Kursi
Borobudur”? 3) Bagaimana membuat replika “Kursi Borobudur”? 4) Bagaimana
pengembangan desain “Kursi Borobudur”
A. Pengembangan Desain Kursi Borobudur
Untuk mengembangkan “Kursi Borobudur” dicoba dengan teori wangun untuk
ngowahi rupa (merubah bentuk atau redesain) berdasarkan rupa yang sudah ada.
Dalam konteks ngowahi rupa yang dilakukan dengan sengaja untuk
kepentingan kagunan (seni), masyarakat Jawa sebenarnya dapat belajar dari
sejarah perubahan rupa candi. Perubahan rupa candi dari periode Jawa Tengah
yang tambun menjadi rupa yang ramping pada periode Jawa Timur. Perubahan
rupa candi dari bahan batu di Jawa Tengah berganti dengan bahan batu bata di
Jawa Timur. Perubahan rupa tersebut tidak merubah struktur rupa secara
vertikal seperti adanya kaki, badan, dan kepala. Intinya dalam ngowahi rupa
ketika dipahami berdasarkan pendapat Lévi-Strauss, tidak merubah “struktur
24
dalam”, namun “struktur luarnya” yang malih rupa atau berganti rupa atau
transformasi. (Widayat, 2016: 308)
Atas
Tengah
Bawah
Gambar 1. Belajar ngowahi rupa dari Candi Periode Jawa Tengah ke Candi Periode Jawa Timur,
dengan tidak merubah struktur dalam-nya yaitu rupa telu-teluning atunggal bawah, tengah, dan atas
(Sumber: Disertasi Rahmanu Widayat dari scan buku Kompendium Sejarah Arsitektur, 1981: 91,98)
Berdasarkan hal tersebut di atas, untuk mengubah bentuk atau ngowahi rupa
agar dapat menghasilkan model baru, sebaiknya tidak menghilangkan ciri-ciri
khusus yang sudah ada pada barang kagunan (“Kursi Borobudur”) model
klasik (MK). Ciri-ciri khusus tersebut sebagai contoh struktur bawah, tengah,
atas atau rupa telu-teluning atunggal yang mengesankan rupa Jawa tetap
dipertahankan agar kesan Jawa-nya masih nampak dan tidak kehilangan
“kejawaannya” atau ora ilang Jawané (Widayat, 2016: 309).
25
Bertalian dengan “Kursi Borobudur” untuk ngowahi rupa-nya secara
berurutan, yakni berdasarkan “Kursi Borobudur” hasil rekonstruksi dicari struktur
dalamnya dan selanjutnya dirubah struktur luarnya. Proses tersebut secara visual
dapat dijelaskan seperti berikut ini.
Atas/sandaran
Tengah/duduka
n
Bawah/kaki
Gambar 2. Rekonstruksi “Kursi Borobudur”untuk Gambar 3. Ngowahi rupa atau merubah
duduk satu orang, dengan struktur bawah/kaki, struktur luar atau redesain alternatif 1
tengah/dudukan, atas/sandaran
Gambar 4. Ngowahi rupa atau merubah Gambar 5. Ngowahi rupa atau merubah
struktur luar atau redesain alternatif 2 struktur luar atau redesain alternatif 3
26
Atas/
Sandaran
Tengah/dudukan
Bawah/kaki
Gambar 6. Rekonstruksi “Kursi Borobudur”untuk duduk tiga orang dengan struktur bawah/kaki,
tengah/dudukan, atas/sandaran
Atas/sandaran
Tengah/dudukan
Bawah/kaki
Gambar 7. Ngowahi rupa atau merubah struktur luar atau redesain alternatif 1 kursi untuk duduk tiga orang
27
Atas/sandaran
Tengah/dudukan
Bawah/kaki
Gambar 8. Ngowahi rupa atau merubah struktur luar atau redesain alternatif 2 kursi untuk duduk tiga orang
Atas/sandaran
Tengah/dudukan
Bawah/kaki
Gambar 9. Ngowahi rupa atau merubah struktur luar atau redesain alternatif 3 kursi untuk duduk tiga orang
B. Membuat mock-up pengembangan “Kursi Borobudur”
Berdasarkan hasil pengembangan desain “Kursi Borobudur” dibuat gambar
kerja. Gambar kerja meliputi tampak atas, tampak bawah, tampak depan, tampak
samping, tampak potongan dan lain-lain dengan memnggunakan skala. Gambar
tersebut dilengkapi dengan notasi (catatan pendek yang perlu diketahui atau untuk
28
mengingatkan sesuatu) yaitu mengenai: ukuran, bahan yang digunakan dan lain lain.
Skala untuk gambar kerja furniture yang berupa meja, kursi biasanya menggunakan
skala 1 : 5 sedangkan untuk almari biasanya menggunakan skala 1 : 10. (Widayat,
2010: ). Untuk gambar kerja pengembangan ”Kursi Borobudur” ini skala 1:5. Gambar
tampak potongan yang dimaksud adalah cara penggambaran secara frontal dari
potongan tampak atas furniture untuk memperlihatkan rancangan furniture secara
vertikal. Gambar kerja juga dilengkapi dengan gambar detail, yaitu: Gambar yang
terperinci dan jelas bentuknya untuk mempermudah pihak pemborong menghitung
harganya serta untuk mempermudah pekerja atau tukang melaksanakan pekerjaannya.
Gambar detail biasanya memakai skala menggunakan skala 1 : 2 dan 1 : 1.
Desain pengembangan ’Kursi Borobudur’ terpilih ada 2 buah kursi,
diantaranya adalah ;
Gambar 10. Desain [terpilih] kursi duduk
satu orang
Gambar 11. Alternatif finishing untuk Desain [terpilih]
kursi duduk satu orang
29
Gambar 12. Desain [terpilih] Kursi untuk
duduk tiga orang
Gambar 12. Perspektif Desain [terpilih] Kursi untuk
duduk tiga orang
Daftar Pustaka
Joesoef, Daoed, 2004. Borobudur. Jakarta: Buku Kompas.
Marizar, Eddy Supriyatna, 2013. Kursi Kekuasaan Jawa. Yogyakarta: Narasi.
Mudhiuddin. Andi M., 2009. Borobudur-Prambanan dan Candi lainnya. Yogyakarta:
Kreasi Wacana.
D. Daftar Bacaan Tambahan
Kaplan, David dan Manners, Albert A. 2000. Teori Budaya. Penerjemah Landung
Simatupang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sedyawati, Edi. 2006. Budaya Indonesia Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah.
Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Sutrisno, Mudji dan Hendar Putranto, ed., Teori-teori Kebudayaan, Yogyakarta:
Kanisius, 2005.
Yoety, Oka A., 1985. Komersialisasi Seni Budaya dalam Pariwisata. Bandung:
Angkasa.
30
E. Pertanyaan Kunci
1. Jelaskan pengertian Fasilitas Duduk
2. Jelaskan pengertian Fasilitas duduk yang ada pada relief Candi Borobudur
3. Jelaskan pengertian Rekonstruksi Kursi Borobudur.
F. Soal/ Tugas
Tugas IV :
Mahasiswa membuat paper [tugas kelompok] tentang Relief Candi Borobudur yang
ada aktifitas duduk dan fasilitasnya.
minimal 30 halaman, bahannya adalah relief bangunan candi, rumah-rumah
tardisional, dan lain-lain.
Mahasiswa membuat materi presentasi [max 10menit].
31
BAB V
PENUTUP
Bahan Ajar Desain Interior Tradisi, kiranya dapat membantu mahasiswa
desain interior untuk mendesain interior yang bertitik tolak pada budaya duduk.
Petunjuk yang ada pada buku ini akan lebih memudahkan mahasiswa untuk mengenal
budaya duduk di jawa abad ke 8, fasilitas duduk, dan kaitannya dengan desain interior
tradisi. Banyak contoh-contoh visual relief terkait budaya duduk pada Candi
Borobudur dalam bahan ajar ini yang berkembang di Indonesia. Kemudian mahasiswa
juga bisa mendapatkan tentang apa yang dimaksud dengan Kursi Borobudur. Terakhir
dengan berbagai tugas yang dilakukan atau dikerjakan oleh mahasiswa, diharapkan
dapat mendesain atau merancang desain interior tradisi yang bisa diaplikasikan ke
dalam desain interior.
Pertama fasilitas duduk atau kursi yang ada di relief Candi Borobudur banyak
jenisnya, fasilitas duduk satu orang dengan sandaran, fasilitas duduk satu orang tanpa
sandaran, fasilitas duduk untuk dua orang tanpa menggunakan sandaran, fasilitas
duduk panjang untuk tiga orang dengan sandaran, tempat duduk pendek untuk satu
orang bangsawan.
Kedua wujud hasil pengembangan desain rekonstruksi kursi pada relief Candi
Borobudur atau “Kursi Borobudur” 1) Kursi bangsawan untuk 1 orang. 2) Tempat
duduk bangsawan (panjang) untuk 3 orang dengan sandaran punggung. Ketiga cara
membuat replika “Kursi Borobudur” dengan menggunakan pendekatan analogi visual,
analogi etnografi, dibuat gambar sketsa tiga dimensi, dibuat gambar kerjanya, dan
dibuat bentuk jadi atau mock-up atau replika.
34
DAFTAR PUSTAKA
Joesoef, Daoed, 2004. Borobudur. Jakarta: Buku Kompas.
Kaplan, David dan Manners, Albert A. 2000. Teori Budaya. Penerjemah Landung
Simatupang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Marizar, Eddy Supriyatna, 2013. Kursi Kekuasaan Jawa. Yogyakarta: Narasi.
Mudhiuddin. Andi M., 2009. Borobudur-Prambanan dan Candi lainnya. Yogyakarta:
Kreasi Wacana.
Strauss, Anselm & Juliet Corbin, 2003. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif
Tatalangkah dan Teknik-teknik Teoritisasi Data, terj. Muhammad Shodiq dan
Imam Muttaqien. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sedyawati, Edi. 2006. Budaya Indonesia Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah.
Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Sumaryono, E., 1999. Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Kanisius.
Sutopo, H.B., 2002. Metode Penelitian Kualitatif, Surakarta: Sebelas Maret
University Press.
Sutrisno, Mudji dan Hendar Putranto, ed., Teori-teori Kebudayaan, Yogyakarta:
Kanisius, 2005.
Tim Penyusun KBBI, 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Widayat, Rahmanu, 2010. Kumpulan Istilah Desain Interior, Surakarta: FSSR
Publishing.
Yoety, Oka A., 1985. Komersialisasi Seni Budaya dalam Pariwisata. Bandung:
Angkasa.
Zaman, Biranul Anas, 2012. “Jurus Cendekia dalam Industri Seni Menyiasati
Ekonomi Kreatif-Seni-Pariwisata”, Artikel dalam Prosiding Seminar Nasional
Perguruan Tinggi Seni Dalam Era Ekonomi Kreatif-Program Pascasarjana ISI
Surakarta. Surakarta: ISI Press.
33
TENTANG PENULIS
Rahmanu Widayat
Lahir di Kediri Jawa Timur pada 21 Desember 1962, S1 Program Studi Desain
Interior Jurusan Seni Rupa Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret (UNS)
Surakarta. Setelah lulus, bekerja sebagai desainer interior salah satu Biro Perancangan
Interior di Surabaya. Kemudian mulai tahun 1992 menjadi staf pengajar di Prodi
Desain Interior Jurusan Seni Rupa Fakultas Sastra UNS. S2 ditempuh di program
Pengkajian Seni Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta, dan S3 di
Pengkajian Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Terkait dengan kebutuhan sekretaris Program Studi Desain Interior, tahun 2002
diangkat menjadi sekretaris Program Studi. Seiring dengan perubahan status Program
Studi menjadi Jurusan tahun 2002 diangkat menjadi Sekretaris Jurusan Desain Interior
sampai tahun 2003. Tahun 2007 - 2011 dipilih menjadi Ketua Jurusan Desain Interior
Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR) UNS. Tahun 2015 – 2019 terpilih sebagai
Wakil Dekan Bidang Akademik FSRD UNS. Saat ini [2019 – 2023] sebagai Dekan
Fakultas Seni Rupa Dan Desain UNS, dan mengajar mata kuliah Tinjauan Desain I,
Tinjauan Desain II, Desain Interior III, Desain Interior IV, Desain Produk Interior,
dan beberapa mata kuliah pilihan, yakni Interior Tradisi, Eco-Design Interior, dan
Ragam Hias. Juga membimbing mahasiswa Kerja Profesi dan Tugas Akhir.
Beberapa artikel ilmiahnya pernah dimuat di Demensi Interior, Jurnal Desain
Interior Universitas Kristen Petra Surabaya; Ekspresi, Jurnal Institut Seni Indonesia
(ISI) Yogyakarta; Haluan Sastra Budaya, Majalah Ilmiah FSSR UNS Surakarta;
Etnografi, Jurnal Penelitian Budaya Etnik FSSR UNS Surakarta.
Sejak tahun 2004 menulis artikel tentang interior, arsitektur dan seni budaya di
Majalah Pendidikan dan Keluarga GENTA sekaligus sebagai redaktur menangani
bidang Arstistik dan Perwajahan. Selain menjadi desainer interior yang telah
mengerjakan beberapa proyek rumah tinggal dan bangunan umum, juga menekuni
hobi menggambar dan beberapa kali ikut pameran lukisan.
Buku yang sudah diterbitkan Kumpulan Istilah Desain Interior diterbitkan oleh
FSSR Publishing. Buku yang akan diterbitkan adalah Membaca Desain Kajian
Tekstual dan Kontekstual, Desain Interior, Desain Produk Interior, dan Desain
Interior Rumah Jawa. Bahan Ajar yang sudah ditulis Ragam Hias, dan yang sedang
dalam proses adalah Bahan Ajar Eko Desain Interior.
34
Anung B Studyanto
Lahir di Surakarta pada 16 Agustus 1971, menyelesaikan S1 Program Studi
Desain Interior Jurusan Seni Rupa Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret (UNS)
Surakarta tahun 1997 dan S2 Magister Arsitektur di Universitas Diponegoro
Semarang pada tahun 2007. Bekerja sebagai desainer interior di Biro Perancangan
Interior di Semarang dan Yogyakarta dari tahun 1997 - 2005. Bergabung dengan
Jurusan Desain Interior FSSR UNS sejak tahun 2005, serta aktif dalam kegiatan
Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, ditunjukkan dengan perolehan
pendanaan dari Hibah Universitas dan Dikti. Saat ini mengajar mata kuliah Pengantar
Studi Seni Rupa II,desain Furniture I, Desain Interior III, Desain Interior IV, Desain
Produk Interior, dan beberapa mata kuliah pilihan, yakni Konservasi Interior, serta
membimbing mahasiswa Kerja Profesi dan Tugas Akhir.
Sejak tahun 2005 aktif pada organisasi profesi Himpunan Desainer Interior
Indonesia Cabang Solo, sebagai Humas [2006- 2008], sebagai wakil ketua [2009 –
2013]. Sebagai co Produser program acara Hunian pada TATV[Kerjasama Jurusan
Desain Interior dan TATV] pada antara tahun 2005/2006.
Pengalaman manajerial antara lain sebagai; Koordinator Kemahasiswaan Jurusan
Desain Interior [2005 – 2008], Sekretaris, Hibah SP4 Batch 3 [2006], Ketua Hibah
SP4 Batch 3 [2007], Sekretaris Jurusan Desain Interior [2007 – 2011], Sekretaris Tim
Perencanaan Program Dan Penganggaran Fakultas Sastra dan Seni Rupa [2009 –
2010], Anggota Tim P3LB [Pengendalian Penataan Pemanfaatan Lahan Dan
Bangunan Kampus UNS] [2008 - 2016], Ketua Tim Perencanaan Program Dan
Penganggaran Fakultas Sastra dan Seni Rupa [2011 - 2018], Ketua Jurusan Desain
Interior [2011 – 2015], Kepala Program Studi Desain Interior FSRD [2015 – 2019]
35
36