The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

LK 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah Nina Nuraeni Kelas 001

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by lilishikmatunnisa, 2023-12-12 01:00:40

LK 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah Nina Nuraeni Kelas 001

LK 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah Nina Nuraeni Kelas 001

LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah Nama lengkap : Nina Nuraeni, S.H. No peserta : 201503879925 Kelas : K1 - 212 - 154 - 3 - KELAS 001 Bidang studi : Pendidikan Pancasila No. Masalah yang telah diidentifikasi Hasil eksplorasi penyebab masalah Analisis eksplorasi penyebab masalah 1 Peserta didik sulit menyerap dan memahami materi pembelajaran yang menganalisis dan menentukan topik dalam pembelajaran PPKn khususnya study kasus 1. Kajian Literatur 1) Menurut Hamzah B. Uno (2013:3) bahwa “motivasi adalah dorongan yang terdapat dalam diri seseorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhannya.” 2) Menurut Emda (2018) dalam penelitian yang berjudul ”Kedudukan Motivasi Belajar Siswa dalam Pembelajaran” mengemukakan bahwa motivasi memiliki kedudukan yang penting untuk mencapai tujuan pembelajaran. Munculnya motivasi tidak semata - mata dari diri sendiri saja tetapi guru harus melibatkan diri juga untuk memotivasi belajar siswa. Dengan adanya motivasi dapat memberikan semangat kepada siswa sehingga siswa akan mengetahui arah dan tujuan belajarnya. Motivasi belajar dapat muncul apabila siswa memiliki keinginan untuk belajar. 3) Fahmi (2020) menyebutkan bahwa pada dasarnya daya serap materi pelajaran merupakan persentase dari tingkat kesukaran butir soal.Misal tingkat kesukaran butir soaladalah 0,87, hal tersebut berarti87% siswa menjawab benar soaltersebut atau daya serap materiyang diujikan sebesar 87%. sumber: Fahmi. (2020). Daya serap materi pelajaran dan reliabilitas tes matematika bentuk soal uraian. (https://ijeajournal.kemdikbud.go.i d/index.php/ijea/article/download /58/38, diakses 2 September 2022) 1) Prasetyo (2018) dalam Journal of Education Research, 2(2), 2021, Pages 82-88 berpendapat bahwa: Kurangnya Setelah dianalisis dari berbagai sumber literasi dan hasil wawancaradapat disimpulkan bahwa masalah Peserta didiksulit menyerapdan memahami materi pembelajaran menganalisis dan menentukan mana yang termasuk kasus pelanggaran dan kejahatan Hak asasi Manusia dikarenakan oleh: Faktor internal 1. Motivasi belajarnya rendah 2. kesadaran membaca 3. Kurang bisa memahami materi dikarenakan kurang mencatat materi sehingga mudah lupa 4. Kurangnya mengikuti pemberitaan yang mengenai kasus yg terjadi dilingkungan sekitar 5. Kurangnya percaya diri dalam menentukan suatu keputusan krn jarang dilatih dalam mengeluarkan pendapat 6. Mindset peserta didik bahwa persoalan itu bukan persoalan mereka Faktor eksternal 1. Lingkungan belajar yang kurang nyaman Proses pembelajaran


“Daya serap merupakan salah satu faktor yang menjadi tolak ukur atau Mempengaruhi usaha untuk mengetahui sejauhmana pemahaman peserta didik terhadap pelajaran yang diajarkakan oleh guru”. Sumber: Haryani, Elisa. (2021). Analisis faktor-faktor penyebab rendahnya daya serap siswa pada pelajaran akutansi. (https://jer.or.id/index.php/jer/ar ticle/download/51/49/104, 30 Agustus 2022) Jadi, dapat disimpulkan bahwa daya serap adalah kemampuan untuk memahami suatu tindakan dalam kegiatan pembelajaran yang disampaikan oleh guru, sehingga siswa dapat mengerti, memahami dan mengingat dengan baik materi ajar yang disampaikan. 2. Hasil wawancara dengan teman sejawat a. Bapak Arifin, S.Ag. (Guru PAIBP SMPN 2 Greged) beliau berpendapat ada beberapa hal yang mempengaruhimasalah tersebut, yaitu: Peserta didik kurang memahami materi dengan baik Kurang pembiasaan dalam kehidupan sehari hari di sekolah maupun di rumah. b. Bu Lilis Hikmatunnisa, S.Pd. (Guru Bahasa Indonesia SMPN 2 Greged beliauberpendapat mengenai permasalahan ini yaitu: Kurangnya literasi Peserta didik kurang fokus / tidak konsentrasi pada saat jam pelajaran Faktor eksternalnya dianggap kurang menarik c. Bu Yuliana, S.Pd. (Guru BK SMPN 2 Greged), menyebutkan bahwa faktor penyebabnya adalah: Kurang pembiasaan akibat tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari Tidak familiar Jarang mengikuti perkembangan yang terjadi dilingkungan sekitar dan dunia umumnya masih berpusat pada guru 3. pada peserta didik Guru kurang menarik dan kurang mampu membangun rasa empati 2. Guru kurang memberikan pengetahuan daninformasi yang terjadidilingkungan sekitarmengenai pelanggarandan kejahatan


3. Hasil wawancara dengan kepala sekolah Bapak Aung Sambudi, S.Pd. faktor yang memperngaruhi adalah: Guru yang belum maksimal memfasilitasi peserta didik dalam proses belajar Pola mengajarnya masih berpusat pada guru. Gurunya kurang sabar dalam menghadapi karakteristik peserta didik. Istilah yang kurang familiar menurut peserta didik. 4. Hasil wawancara dengan orang tua peserta didik Dari kesimpulan wawancara dengan 5 orang tua, saya menarik kesimpulan dari permasalan ini adalah: a. Sudah lama tidak mendapatkan pengajaran secara tatap muka di sekolah. b. Materinya dianggap cukup sulit. c. Anak lebih bersikap lebih santaidalam belajar. d. Pola pikir anak yang belum berkembang. e. Gurunya terlalu kaku pada saat belajar 5. Hasil wawancara dengan peserta didik Setelah melaksanakan wawancara dengan lima peserta didik dapat disimpulkan : a. Peserta didik merasa asing denganistilah tersebut. b. Mudah lupa dan jarang mencatatdi buku. c. Jarang melihat berita di Media Sosial. 6. Hasil wawancara dengan Pakar / Ahli a. Irman Firmansyah, S.Pd., M.Pd. (Pengawas Manajerial Bidang SMP) menyebutkan adabeberapa faktor yang dapat mempengaruhi, yaitu: 1) Faktor internal peserta didik: kurang termotivasi karena mapelnya kurang disukai disebabkan kurangnya pemahaman bahwa semua mapel itu penting, dan peserta


didik kurang familiar dengan maslah HAM dan istilah tersebut dikarenakan kurang melihat media masa danmedia sosial dan dalam kehidupan sehari-hari. 2) Faktor eksternal dari lingkungan keluarga: kurangnya dukungan dari orang tua dan lingkungan belajar yang kurang nyaman, sehingga anak kurang adanya keinginan untuk belajar. 3) Faktor eksternal dari guru: guru kurang bisa membangun rasa empati pada siswa, guru kurang berpenampilan menarik pada saat kegiatan pembelajaran, bisa disebabkan kurang senyum, pembelajarannya kaku, dan kurang bisa membangun atmosfir pembelajaran yang menyenangkan. Kesimpulan hasil wawancara Dari kegiatan wawancara yang telah dilakukan kepada beberapa nasumber dan studi leteratur yang telah dilaksanakan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Pesertadidiksulit menyerapdan memahamimateri pembelajaran yang menganalisis dan menentukan mana yang termasuk kasus pelanggaran dan kejahatan Hak asasi Manusia y a n g jarang dibahas dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dirasa kurang familiar dan mindset peserta didik yang menganggap tidak penting, hal ini bisa dikarenakan oleh model pembelajaran, kondisi lingkungan belajar, minat dan karakteristik peserta didik yang mulai bergeser akibat hp dampak pembelajaran daring yang tidak mudah untuk dikembalikan.


2 Peserta didik kurang berinisiatif untuk mengemukakan pendapat atau berkomentar pada saat diskusi kelas atau kelompok 1. Kajian Literatur Gusnita (2021) menyebutkan bahwa: “Kemandirian dalam belajar merupakan tindakan inisiatif siswa untuk bekerja secara individu atau kelompok dan berani mengemukakan gagasan atau ide yang dimiliki tanpa paksaan dari siapapun yang dapat dilihat dalam proses belajar. Alur proses belajar tidak harus berasal dari guru menuju siswa. Siswa bisa juga saling mengajar dengan sesama siswa yang lainnya secara mandiri”. Sumber: Gusnita. (2021). Kemandirian belajar siswa melalui pembelajaran kooperatif think pair square (TPSq). (file:///C:/Users/GURU_MERDEK A/Downloads/artikel-4-gusnita286-296.pdf, diakses 2 Agustus 2022) Pendapat adalah menurut kamus besar bahasa Indonesia sangat sederhana: pikiran, atau pendirian. Pendapat (Opini) merupakan suatu akumulasi citra yang tercipta atau diciptakan oleh proses komunikasi. Sumber: https://eprints.umm.ac.id/35405/ 3/jiptummpp-gdl-tubagussya49896-3-babii.pdf, diakses 31 Agustus 2022) Menurut Slameto (2010: 26), motivasi belajar dipengaruhi oleh tiga komponen, yaitu: 1) Dorongan kognitif, yaitu kebutuhan untuk mengetahuhi, mengerti, dan memecahkan masalah. Dorongan ini timbul di dalam proses interaksi antara siswa dengan tugas/ masalah. 16 2) Harga diri, yaitu ada siswa tertentu yang tekun belajar dan melaksanakan tugas-tugas bukan terutama untuk memperoleh pengetahuan atau kecakapan, tetapi untuk memperoleh status dan harga diri. 3) Kebutuhan berafiliasi, yaitu kebutuhan untuk menguasai bahan pelajaran/ belajar dengan niat guna mendapatkan pembenaran dari orang lain/ teman-teman. Kebutuhan ini sukar dipisahkan dengan harga diri. Sumber: Setelah dianalisis dari berbagai sumber literasi dan hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa masalah Peserta didik kurang berinisiatif untuk mengemukakan pendapat atau berkomentar pada saat diskusi kelas atau kelompok dikarenakan oleh: Faktor internal 1. Kurang fokus pada saat pelajaran 2. Malu dan tidak percaya diri, sehingga timbul perasaan raguragu untuk bertanya 3. Takut untuk bertanya 4. Kesulitan dalam merangkai kata-kata yang tepat Faktor eksternal 1. Kurang pembiasaan dari guru untuk mengemukakan pendapat 2. Lingkungan belajar yang kurang mendukung 3. Guru kurang memberi rangsangan atau stimulus pembelajaran yang tepat di awal kegiatan pembelajaran, sehingga anak cenderung menjadi pasif.


Slameto. 2010. Belajar dan FaktorFaktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta Kemandirian belajar itu erat kaitanya dengan inisiatif peserta didik dalam proses pembelajarannya. Sehingga, dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, isiniatif mengemukakan pendapat dalam diskusi adalah kemampuan mengembangkan ide, pikiran, atau pendirian dengan salah satu metode pembelajaran dalam menguraikan dan memecahkan masalah, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami pengetahuan serta untuk membuat suatu keputusan tanpa adanya paksaan dari siapapun secara mandiri. 2. Hasil wawancara dengan teman sejawat a. Bapak Arifin, S.Ag. (Guru PAIBP SMPN 2 Greged) Beliau menyebutkan faktor penyebabnya, yaitu: Rendahnya kemauan untuk bertanya, sehingga persentase peserta didik yang aktif di kelas rendah Kurang memahami materi Tidak terbiasa dalam mengungkapkan pendapat, sehingga menimbulkan perasaan takut salah b. Bu Lilis Hikmatunnisa, S.Pd. (Guru B. Indonesia di SMPN 2 Greged) beliau berpendapat mengenai permasalahan ini yaitu: Belum paham dengan metode belajar diskusi Keterbatasan pengetahuan sehingga anak menjadi bingung dan sulit dalam merangkai katakata Malu dan tidak percaya diri c. Bu Juningsih, S.Pd. (Guru IPS SMPN2 Greged beliau menjelaskan ada beberapa faktor penyebab, yaitu: Peserta didik cenderung pasrah dengan materi yang diajarkan Takut pada guru atau takut di soraki oleh teman-temannya Merasa malu dan tidak percaya


diri Pasif dan kurang memperhatikan pada saat jam pelajaran 3. Hasil wawancara dengan kepala sekolah Bapak Aung Sambudi, S.Pd. beliau berpendapat bahwa, ada beberapa poin yang menjadi tolak ukur permasalahan tersebut, yaitu: Kondisi belajar yang mengharuskan peserta didik duduk diam dan memperhatikan, sehingga anak tidak nyaman dan takut untuk mengeluarkan pendapat, sehingga mindset gurunya harus dirubah. Apalagi untuk kurikulum merdeka ini guru berperan sebagai fasilitator Kurangnya pembiasan dan bimbingan dari guru yang bersangkutan sehingga kurangnya ikatan emosional antara guru dan peserta didik 4. Hasil wawancara dengan orang tua peserta didik Berikut adalah kesimpulan yang diambil dari hasil wawancara lima orang tua peserta didik, yaitu: Peserta didik lebih suka materi yang simpel dan tidak senang penjelasan materi yang terlalu panjang lebar. Kurang pembiasaan menjadikan peserta didik takut untuk bertanya. Rasa ingin tahu nya rendah. Tidak mengerti apa yang ingin ditanyakan. Kurang konsentrasi pada saat jam pelajaran. 5. Hasil wawancara dengan peserta didik Berikut merupakan kesimpulan yang diambil dari beberapa sampel peserta didik, yaitu: Takut diejek teman dan jika bertanya hanya ikut-ikutan teman Malu Jika diskusi, hanya beberapa orang saja yang mengerjakan Ragu-ragu pada saat mau bertanya. Kurang fokus pada saat kegiatan belajar karena diajar mengobrololeh teman.


Kesulitan dalam merangkai kata- kata 6. Hasil wawancara dengan Pakar / Ahli a. Irman Firmansyah, S.Pd., M.Pd. (Pengawas Manajerial bidang SMP) menyebutkan ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi, yaitu: Stimulus atau rangsangan pembelajaran kurang menarik yang diberikan oleh guru Masalah pembelajaran yang kurang faktual, dikarenakan dengan perkembangan jaman sekarang anak akan lebih tertarik dengan masalah yang dapat diamati secara langsung, namun yang menjadi titik poin nya guru harus mampu mengaitkannya dengan materi yang akan diajarkan Sumber belajar yang mudah diakses, sehingga dapat memunculkan dan merangsang rasa ingin tahu peserta didik, dan memicu keinginannya untuk bertanya dalam menggali informasi terkait materi yang sedang dipelajari Kesimpulan hasil wawancara Dari kegiatan wawancara yang telah dilakukan kepada beberapa nasumber dan studi leteratur yang telah dilaksanakan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kurangnya inisiatif peserta didik dalam berpendapat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya lingkungan belajar yang kurang mendukung danstimulus yang diberikan oleh guru kurang tepat, sehingga peserta didik tidak ada keinginan untukberkompetisi, kurang percaya diri, dan malu untuk bertanya. Inilah kondisi yang harus dianalisis dan dievaluasi oleh guru, karena jika terus menerus dibiarkan akan mengakibatkan hasil belajar menjadi rendah dan peserta didik tidak termotivasi untuk belajar.


3 Guru menyamaratakan model pembelajaran tanpa mempertimbangk an karakteristik peserta didik 1. Kajian Literatur Wijanarko, Yudi (2017)Menjelaskan bahwa Modelpembelajaran dapat dijadikan sebagai pola pilihan dalam proses pembelajaran, karena penggunaanmodel pembelajaran yang kurang tepat dapat menimbulkankebosanan, materi pelajaran kurang dipahami, dan pembelajaran menjadi monoton sehingga peserta didik tidak termotivasi untuk belajar. Sumber: Wijanarko, Yudi. 2017. Model pembelajaran make a match Untuk pembelajaran ipa yang menyenangkan. Jurnal taman cendikia, Vol. 1 No. 01 Juni 2017: Halaman 1 Munawaroh, Isniatun (2019:62) menyebutkan bahwa karakteristik merupakan ciri-ciri dari setiap peserta didik yang menghasilkan berbagai data penting terkait peserta didik yang nantinya dapat dijadikan pijakan dalam menentukan berbagai metode yang optimal untuk mencapai tujuan pembelajaran secara optimal. Sumber: Munawaroh, Isniatun. 2019. Modul 1 : konsep dasar ilmu pendidikan. Jakarta Ali, Muhtadi (2019) Menyebutkan bahwa Pembelajaran blended learning tidak hanya sekedar mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran di kelas. Namun dalam pembelajaran blended learning keberadaan teknologi lebih difokuskan untuk memfasilitasi peserta didik dalam mengeskplorasi materi bahan ajar dan mendapatkan pengalaman belajar secara mandiri tanpa adanya paksaan. Sumber : Muhtadi Ali. 2019. Modul 3: Pembelajaran Inovatif. Jakarta Maka jika dilihat dari penjabaran di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa model pembelajaran merupakan cara atau pola yang digunakan oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran, disesuaikan depan kemampuan Setelah dianalisis dari berbagai sumber literasi dan hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa masalah Guru menyamaratakan model pembelajaran tanpa mempertimbangkan karakteristik peserta didik dikarenakan oleh: Faktor internal 1. Kurang memahami karakteristik peserta didik 2. Kurang memahami istilah-istilah model pembelajaran inovatif 3. Gara mengajar yang belum di upgrade 4. Keilmuannya harus dikembangkan 5. Kurang kreatifitas Faktor eksternal 1. Karakteristik peserta didik yang beragam Pemanfaatan sarana prasarana yang belum maksimal


peserta didik. Sehingga, materi pembelajaran dapat mudah. dipahami, proses pembelajaran menjadi menarik, dan peserta didik dapat termotivasi untuk belajar. 2. Hasil wawancara dengan teman sejawat a. Bapak Arifin, S.Ag. (Guru PAIBP SMPN 2 Greged) menjelaskan terdapat beberapa kendala dalam proses menentukan model pembelajaran, diantaranya: Belum maksimal dalam mengakomodir gaya belajar peserta didik dalam proses pembelajaran di kelas Kurang memahami istilahistilah model pembelajaran dengan baik Gaya mengajar masih berpusat pada guru (teacher centre) b. Ibu Lilis Hikmatunnisa, S.Pd. (Guru Bahasa Indonesia SMPN2 Greged) menjabarkan beberapa faktor penghambat,yaitu: Masih minim menggunakan model pembelajaran dengan berbasis teknologi Kurang maksimal dalam memvariasikan model pembelajaran secara menyeluruh c. Ibu Yuliana, S.Pd. (Guru BK SMPN 2 Greged) beliau menjelaskan ada beberapa faktor penyebab, yaitu: Proses pembelajaran masih berpusat pada guru Belum memanfaatkan dengan maksimal macam-macam model pembelajaran inovatif, karena keterbatasan memahami model pembelajaran 3. Hasil wawancara dengan kepalasekolah Bapak Aung Sambudi, S.Pd. beliau berpendapat bahwa, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan ketika seorang guru memilih model pembelajaran inovatif, yaitu: Mindset guru harus berubah, bahwa guru sebagai fasilitator dan kegiatan belajar berpusat padasiswa


Pengetahuan guru perlu di upgrade Belajar keluar dari batasan danbelajar berpikir inovatif, agarketerbatasan sarana prasarana dalam proses pembelajaran tidak menjadi hambatan. Belajar untuk membangun keterikatan emosional denganpeserta didik, sehingga ketika ikatan emosional itu sudah terjalin, guru akan lebih mudah memahami peserta didik dan dapatmenentukan model pembelajaran yang tepat dalam menyusun tujuan pembelajaran 4. Hasil wawancara dengan peserta didik Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa peserta didik dapat diambil kesimpulan yaitu: Kegiatan pembelajaran dirasa kaku, sehingga peserta didik kurang nyaman dan sulit memahami materi Membuat peserta didik cepat bosan dan mudah pecah konsentrasi Pembelajaran monoton, sehingga peserta didik kurang termotivasi untuk belajar 5. Hasil wawancara dengan orang tua peserta didik Berikut merupakan kesimpulan yang diambil dari beberapa sampel orang tua peserta didik, yaitu: Guru kaku dalam pembelajaran Suasana belajar yang kurang kondusif. 6. Hasil wawancara dengan Pakar / Ahli Bapak Irman Firmansyah, S.Pd., M.Pd. (Pengawas Manajerial Bidang SMP) Agar guru dapat meningkatkankompetensinya dalam melaksanakankegiatan pembelajaran inovatif dengan: Cara klasikal dengan cara malnjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi Aktif mengikuti kegiatan kelompok kerja MGMP


Guru dapat mengikuti pelatihan yang mendukung kualitas pembelajaran Memperbanyak kegiatan literasi Guru membuat karya tulis Namun kegiatan tersebut harus divariasikan dengan karakteristik peserta didik agar proses pembelajaran tidak terasa monoton, sebagai contoh pembelajaran yang dapat dilakukan yaitu: ceramah, sosiodrama, dan diskusi atau bisa dilakukan dengan cara ceramah, demonstrasi dan latihan Kesimpulan hasil wawancara Dari kegiatan wawancara yang telah dilakukan kepada beberapa nasumber dan studi leteratur yang telah dilaksanakan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa mindset, pola mengajar dan model pembelajaran yang guru gunakan merupakan titik utama yang sangat penting, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Akan tetapi model pembelajaran yang dipilih harus mempertimbangkan karakteristik peserta didik, agar kondisi pembelajaran tidak monoton dan dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Karena, kegiatan pembelajaran yang monoton akan membuat kondisi belajar yang membosankan dan peserta didik tidak dapat menyerap materi dengan baik. 4 Guru belum mampu menyediakan akses belajar peserta didik terkait pembiasaan literasi dan pemecahan masalah terkait materi HOTS 1. Kajian Literatur Sani (2019:2) Higher Order Thinking Skill (HOTS) atau kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah kemampuan berpikir strategis untuk menggunakan informasi dalam menyelesaikan masalah, menganalisa argumen, negosiasi isu, atau membuat prediksi. Sumber: Sani, R.A. 2019. Pembelajaran Berbasis HOTS. Tanggerang: Tira Smart Setelah dianalisis dari berbagai sumber literasi dan hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa masalah Guru belum mampu menyediakan akses belajar peserta didik terkait pembiasaan literasi dan pemecahan masalah terkait materi HOTS dikarenakan oleh: 1. Guru sulit keluar dari zona nyaman dan semua keterbatasannya 2. Belum maksimal


Ariyana, Yongki, dkk. (2018:5) menjelaskan bahwa: Keterampilan berpikir tingkat tinggi yang dalam bahasa umum dikenal sebagai Higher Order Thinking Skill (HOTS) dipicu oleh empat kondisi, yaitu a. Sebuah situasi belajar tertentu yang memerlukan strategi pembelajaran yang spesifik b. Kecerdasan yang tidak lagi dipandang sebagai kemampuan yang tidak dapat diubah, melainkan kesatuan pengetahuan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang terdiri dari lingkungan belajar, strategi dan kesadaran dalam belajar c. Pemahaman pandangan yang telah bergeser dari unidimensi, linier, hirarki atau spiral menuju pemahaman pandangan ke multidimensi dan interaktif d. Keterampilan berpikir tingkat tinggi yang lebih spesifik seperti penalaran, kemampuan analisis, pemecahan masalah, dan keterampilan berpikir kritis dan kreatif Sumber: Ariyana, Yongki, dkk. 2018. Buku pegangan pembelajaran tingkat tinggi. Jakarta: Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan Literasi menurut Kemendikbud (2016:2)adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan berbicara. Sumber: Kemendikbud. 2016. Literasi (http://repository.ump.ac.id/4209 /3/IMELDA%20APRILIA%20- %20BAB%20II.pdf, diakses 1 September 2022) Maka jika diambil kesimpulan, pembiasaan literasi pada peserta dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam mengakses, memahami dan mengembangkan berbagai konsep serta metode dalam memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis dan memecahkan masalah 3. Guru yang harus mau mengupdate diri serta keilmuannya


pembelajaran pada tingkat kemampuan berpikir tingkat tinggi, sehingga peserta didik mampu memecahkan suatu permasalahan yang mereka alami. 2. Hasil wawancara dengan teman sejawat a. Bapak Arifin, S. Ag. berpendapat bahwa kendala yang dihadapi yaitu: Minat literasi peserta didik rendah Kurang termotivasi untuk berpikir kritis, lebih senang mencari jawaban yang instan Belum semua siswa mampu melaksanakan proses pembelajaran materi HOTS berorientasi pada keterampilan b. Ibu Lilis Hikmatunnisa, S.Pd. (Guru Bahasa Indonesia SMPN 2 Greged) faktor penyebabnya yang mempengaruhinya yaitu: Peserta didik belum terbiasa melaksanakan kegiatan literasi diawal pembelajaran Terbatasnya sarana dan prasarana yang tersedia Belum maksimal mengaitkan materi ajar dengan materi HOTS yang diharapkan 3. Hasil wawancara dengan kepala sekolah Bapak Aung Sambudi, S.Pd. menjelaskan bahwa kembali mindset guru yang harus dirubah dan dengan kurikulum baru ini baru sekitar 50% guru memahami dan dapat memfasilitasi peserta didik dalam mengembangkan literasi. Yang perlu digaris bawahi adalah: Guru harus mau berkembang dan meng upgrade kualitas diri Proses pembelajaran bisa dilakukan dengan cara mengamati atau menganalisis suatu permasalahan diluar kelas, sehingga siswa lebih termotivasi dan tidak tertekan Harus mau belajar dan keluar dari zona nyaman dan keterbatasan yang ada Belajar membiasakan peserta didik dalam belajar menggunakan materi tingkat HOTS dikaitkan dengan


pengalaman yang mereka miliki 4. Hasil wawancara dengan Pakar / Ahli Bapak Irman Firman Firmansyah, S.Pd., M.Pd. (Pengawas Manajerial Bidang SMP) menjelaskan bahwa salah satu ciri penerapan pembelajaran abad 21yaitu: a. Penerapan pembelajaran berbasis HOTS pada literasi peserta didik HOTS adalah cara berpikir tingkat tinggi yang dikembangkan dengan berbagai konsep metode kognitif dan taksonomi pembelajaran c. Pembelajaran HOTS berpusat pada aktivitas analisis, mengevaluasi dan mencipta d. Implikasi pembelajaran literasi berbasis HOTS meliputi: Pemilihan pendekatan Model Strategi Metode, dan Media yang digunakan mendukung proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik Kesimpulan hasil wawancara Dari kegiatan wawancara yang telah dilakukan kepada beberapa nasumber dan studi leteratur yang telah dilaksanakan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa guru harus memiliki motivasi untuk mengupgrade diri terutama dalam pengembangan akses pembelajaran literasi dengan mengembangkan keterampilan HOTS peserta didik. Dimana implikasi pembelajaran literasi berbasis HOTS bisa dilakukan dengan beberapa cara yang tepat berdasarkan karakteristik peserta didik, sehingga anak memiliki motivasi dan keinginan untuk membiasakan diri melaksanakan kegiatan literasi dan mau berpikir tingkat tinggi dalam memecahkan masalah dalam pembelajaran,sehingga kegiatan pembalajaran kegiatan pembelajaran menyenangkan dan dapat mengembangkan kemampuan peserta didik.


Click to View FlipBook Version