The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by syifakikyi, 2022-01-25 09:11:46

Bahasa Indonesia Sekolah Menengah Pertama

Materi Drama
Kelas VIII

Keywords: Drama

MATERI DRAMA

A. Pengertian Drama

Kata drama dari bahasa Yunani yaitu dromai yang mepunyai makna berbuat,
bertindak, dan bergerak melakukan aksi sesuai naskah. Secara umum, drama
merupakan suatu karya sastra yang ditulis dalam bentuk dialog dan dengan maksud
dipertunjukkan oleh aktor.

Pementasan drama sering disebut dengan istilah teater. Drama juga bisa dikatakan
sebagai cerita dalam naskah yang diperagakan dalam panggung. Secara umum drama
mempunyai dua makna secara sempit dan secara luas.

Drama dalam arti luas adalah suatu pertunjukkan yang mengandung cerita dan
dipentaskan di depan khalayak umum. Sedangkan untuk dalam arti sempit yaitu
sebuah kisah hidup seseorang yang di ditampilkan di atas panggung yang ditonton
oleh kalayak umum.

Drama dapat diartikan sebagai cerita atau kisah, terutama yang melibatkan konflik
atau emosi yang khusus disusun untuk pertunjukan teater. Drama juga bisa diartikan
dengan komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan
dan watak melalui tingkah laku (peran) atau dialog yang dipentaskan.

B. Sejarah Singkat Drama

Drama sudah dijadikan sebuah pertunjukkan yang dipertontonkan nenek moyang dan
sekarang juga masih banyak yang meminatinya. Nenek moyang melakukan
pertunjukan ini sejak beberapa abad silam. Ada bukti tertulis bahwa drama sudah ada
sejak abad ke-5 SM.

Hal ini berdasarkan atas penemuan naskah drama yang ada di Yunani. Yang di tulis
oleh Aeschylus diperkiran hidup 525-256 SM. Isi teks naskah drama pertama kali
berisi tentang persembahan kepada dewa-dewa.

Genre sastra drama di Indonesia benar-benar baru, seiring dengan perkembangan
pendidikan di Indonesia, muncul pada tahun 1900-an.Sastra drama di Indonesia ditulis
pada awal abad 19, tepatnya tahun 1901, oleh seorang peranakan Belanda bernama F.
Wiggers, berupa sebuah drama satu babak berjudul Lelakon Raden Beij Soerio Retno.
kemudian bermunculanlah naskah-naskah drama dalam bahasa Melayu Rendah yang
ditulis oleh para pengarang peranakan Belanda dan/ atau Tionghoa. Sejarah
perkembangan drama di Indonesia dipilah menjadi sejarah perkembangan penulisan
drama dan sejarah perkembangan teater di Indonesia. Sejarah perkembangan
penulisan drama meliputi:

1. Periode Drama Melayu-Rendah

2. Periode Drama Pujangga Baru
3. Periode Drama Zaman Jepang
4. Periode Drama Sesudah Kemerdekaan
5. Periode Drama Mutakhir.

C. Unsur-Unsur Drama

a. Alur

Alur adalah rangkaian peristiwa dan konflik yang menggerakkan jalan cerita. Alur
drama mencakup bagian-bagian 1) pengenalan cerita; 2) konflik awal; 3)
perkembangan konflik; dan 4) penyelesaian.

b. Penokohan

Penokohan merupakan cara pengarang di dalam menggambarkan karakter tokoh.
Dalam pementasan drama, drama mempunyai posisi yang penting. Tokohlah yang
mengaktualisasikan naskah drama di atas pentas. Tokoh yang didukung oleh latar
peristiwa dan aspek-aspek lainnya akan menampilkan cerita dan pesan-pesan yang
ingin disampaikan.

Berdasarkan perannya, tokoh terbagi atas tokoh utama dan tokoh pembantu.

1. Tokoh utama adalah tokoh yang menjadi sentral cerita dalam pementasan drama.

2. Tokoh pembantu adalah tokoh yang dilibatkan atau dimunculkan untuk mendukung
jalan cerita dan memiliki kaitan dengan tokoh utama.

Berdasarkan segi perwatakannya, tokoh dan perannya dalam pementasan drama
terdiri empat macam.

1. Tokoh berkembang adalah tokoh yang mengalami perkembangan nasib atau watak
selama pertunjukan. Misalnya, tokoh yang awalnya seorang yang baik, pada akhirnya
menjadi seorang yang jahat.

2. Tokoh pembantu adalah tokoh yang diperbantukan untuk menyertai, melayani, atau
mendukung kehadiran tokoh utama. Tokoh pembantu memerankan suatu bagian
penting dalam drama, tetapi fungsinya tetap sebagai tokoh pembantu.

3. Tokoh statis adalah tokoh yang tidak mengalami perubahan karakter dari awal
hingga akhir dalam dalam suatu drama. Misalnya, seorang tokoh yang berkarakter
jahat dari awal drama akan tetap bersifat jahat di akhir drama.

4. Tokoh serbabisa adalah tokoh yang dapat berperan sebagai tokoh lain.Misalnya,
tokoh yang berperan sebagai seorang raja, tetapi ia juga berperan sebagai seorang
pengemis untuk mengetahui kehidupan rakyatnya.

c. Dialog

Ketiga elemen yang tidak boleh dilupakan dalam dialog adalah tokoh, wawancang,
dan kramagung.

Tokoh adalah pelaku yang mempunyai peran yang lebih dibandingkan pelaku-pelaku
lain, sifatnya bisa protagonis atau antagonis.

Wawancang adalah dialog atau percakapan yang harus diucapkan oleh tokoh cerita.

Kramagung adalah petunjuk perilaku, tindakan, atau perbuatan yang harus dilakukan
oleh tokoh.

Dialog sendiri mempunyai struktur sendiri, diantaranya antara lain adalah :

a) Orientasi
Bagian awal permasalahan, kejadian awal kenapa konflik bisa muncul. Atau juga
dimulai dengan memperkenalkan suasana sekitar.

b) Konflik
Bagian puncak dimana merupakan bagian pusatnya dari permasalahan yang ada

c) Resolusi
Akhir yang sering kali diasumsikan sebagai bagian dimana setelah konflik dijelaskan
disini apa yang selanjutnya terjadi pada tokoh tersebut.

d. Latar

Latar adalah keterangan mengenai ruang dan waktu. Penjelasan latar dalam drama
dinyatakan dalam petunjuk pementasan.

D. Ciri-ciri Drama

1. Seluruh cerita yang ada didalam cerita drama mengadung bentuk dialog. Baik
tokoh maupun narrator. Ciri utama pada naskah dialog adalah semua ucapan disusun
dalam bentuk teks.

2. Dalam dialog drama tidak menggunakan tanda petik (“…”). Karena dalam dialog
drama tidak menggunakan kalimat langsung. Sehingga dalam drama tidak
menggunakan tanda petik.

3. Dalam suatu drama diengkapi dengan sebuah petunjuk tertentu yang perlu
diperhatikan oleh tokoh pameran yang bersangkutan. Pada umumnya petunjuk ditulis
didalam tanda kurung dan bisa juga menggunakan jenis huruf yang berbeda yang
tidak ada pada dialog.

4.Naskah drama terletak pada ditas dialaog atau disamping dialog.

E. Struktur Teks Drama

Struktur drama yang berbentuk alur pada umumnya tersusun sebagai berikut :

1. Prolog merupakan pembukaan atau peristiwa pendahuluan dalam sebuah drama
atau sandiwara. Pembuka ini dapat berupa narasi yang dibacakan oleh narator apabila
drama ini dipentaskan nantinya.

2. Dialog merupakan media kiasan yang melibatkan tokoh-tokoh drama yang
diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak manusia, problematika yang
dihadapi, dan cara manusia dapat menyelesaikan persoalan hidupnya. Di dalam dialog
tersaji urutan peristiwa yang dimulai dengan, orientasi, komplikasi, sampai dengan
resolusi.

Orientasi, adalah bagian awal cerita yang menggambarkan situasi yang sedang sudah
atau sedang terjadi.

Komplikasi, berisi tentang konflik-konflik dan pengembangannya: gangguan-
gangguan, halangan-halangan dalam mencapai tujuan, atau kekeliruan yang dialami
tokoh utamanya.

Resolusi, adalah bagian klimaks (turning point) dari drama, berupa babak akhir cerita
yang menggambarkan penyelesaian atas konflik-konflik yang dialami para tokohnya.

3. Epilog adalah bagian terakhir dari sebuah drama yang berfungsi untuk
menyampaikan inti sari cerita atau menafsirkan maksud cerita oleh salah seorang
aktor atau dalang pada akhir cerita.

F. Jenis-Jenis Teks Drama

Untuk jenis teks drama, kita bisa membaginya berdasarkan beberapa sudut pandang.

Berdasarkan penyajian kisah drama, yaitu :

1. Tragedi
Isinya banyak bercerita tentang kesedihan.

2. Komedi
Isinya cerita tentang hal hal yang mengandung kelucuan dengan maksud menghibur.

3. Tragekomedi
Isinya cerita tentang perpaduan drama tragedi dan drama komedi.

4. Opera
Isi penyampaian dialog dalam drama ini menggunakan nyanyian atau musik

5. Melodrama
Penyapaian dialognya dalam drama ini diucapkan dan diiringi dengan suara musik
atau lagu.

6. Farce
Drama ini menyerupai dengan drama dagelan tetapi tidak sepenuhnya sama, ada
perbedaan ketika dalam penyampaian.

7. Tablo
Drama ini lebih dominan dengan melakukan dengan gerak dan para pemainnya tidak
mengeluarkan ucapan dialog. Drama yang menampilkan kisah dengan sikap dan
posisi pemain, dibantu oleh pencerita.

8. Sendratari
Drama ini penggabungan antara seni drama dan seni tari. Sendratari merupakan
kepanjangan dari seni drama dan tari.

Berdasarkan Dengan Sarana Pementasan, yaitu :

1. Drama Panggung
Drama yang dimainkan oleh para aktor yang dipentaskan diatas panggung.

2. Drama radio
Drama ini tidak bisa tonton secara langsung, tetapi hanya bisa didengar oleh penimat.

3. Drama televisi
Drama ini hampir sama dengan drama panggung, namun tidak bisa diraba dan hanya
bisa ditonton saja.

4. Drama film
Drama ini menggunakan media layar lebar serta biasanya dipertunjukkan di bioskop.

5. Drama wayang
Drama ini ketika pertunjukan diiringi oleh pagelaran wayang.

6. Drama boneka
Drama ini seorang tokoh di digambarkan dengan oneka yang dimainkan oleh
bebrapan orang.

Jenis drama berdasarkan masanya, yaitu :

1. Drama tradisional

Drama tradisional adalah drama yang pada umumnya menceritakan tentang kesaktian,
kehidupan istana atau kerajaan, kehidupan dewi-dewi, kejadian luar biasa, dll.Pada
umumnya drama ini dipentaskan tidak menggunakan naskah.

2. Drama modern

Drama modern adalah drama yang memiliki tujuan untuk memberikan pendidikan
kepada masyarakat yang umumnya bertema kehidupan manusia sehari-hari. Pada
umumnya drama ini dipentaskan dengan menggunkan naskah.

G. Istilah-Istilah Yang Merujuk Pada Pengertian Drama Tradisional
Masyarakat

a. Sandiwara

Istilah sandiwara diciptakan oleh Mangkunegara VII, berasal dari kata bahasa Jawa
sandhi yang berarti ’rahasia’, dan warah yang berarti ’pengajaran’. Oleh Ki Hajar
Dewantara, istilah sandiwara sebagai pengajaran yang dilakukan dengan perlambang,
secara tidak langsung.

b. Lakon
Istilah ini memiliki beberapa kemungkinan arti, yaitu (1) cerita yang dimainkan dalam
drama, wayang, atau film (2) karangan yang berupa cerita sandiwara, dan (3)
perbuatan, kejadian, peristiwa.

c. Tonil

Istilah tonil berasal dari bahasa Belanda toneel, yang artinya ’pertunjukan’. Istilah ini
populer pada masa penjajahan Belanda.

d. Sendratari

Sendratari kepanjangan dari seni drama dan tari. Sendratari berarti pertunjukan
serangkaian tari-tarian yang dilakukan oleh sekelompok orang penari dan
mengisahkan suatu cerita dengan tanpa menggunakan percakapan.

e. Tablo

Tablo merupakan drama yang menampilkan kisah dengan sikap dan posisi pemain,
dibantu oleh pencerita. Pemain-pemain tablo tidak berdialog.

H. Kaidah Kebahasaan Drama

1. Menggunakan kata yang menyatakan urutan waktu (konjungsi temporal), seperti:
sebelum, sekarang, setelah itu, mula-mula, kemudian.

2. Menggunakan kata kerja yang menggambarkan suatu peristiwa yang terjadi, seperti
menyuruh, menobatkan, menyingkirkan, menghadap, beristirahat.

3. Menggunakan kata kerja yang menyatakan sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan
oleh tokoh, seperti : merasakan, menginginkan, mengharapkan, mendambakan,
mengalami.

4. Menggunakan kata-kata sifat untuk menggambarkan tokoh, tempat, atau suasana.
Kata-kata yang dimaksud, misalnya, ramai, bersih, baik, gagah, kuat.

5. Kalimat Langsung

Kalimat-kalimat yang tersaji di dalam teks drama hampir semuanya berupa dialog
atau tuturan langsung para tokohnya. Kalimat langsung dalam drama lazimnya diapit
oleh dua tanda petik (” ”).

6. Kata Ganti Orang Ketiga

Teks drama menggunakan kata ganti orang ketiga pada bagian prolog atau epilognya.
Karena melibatkan banyak pelaku (tokoh), kata ganti yang lazim digunakan adalah
mereka.

7. Kata Ganti Orang Pertama dan Kedua

Lain halnya dengan bagian dialognya, yang kata gantinya adalah kata orang pertama
dan kedua. Mungkin juga digunakan kata-kata sapaan. Seperti yang tampak pada
contoh teks drama tersebut bahwa kata-kata ganti yang dimaksud adalah aku, saya,
kami, kita, kamu. Adapun kata sapaan, misalnya, anak-anak, ibu.

8. Kosakata Percakapan

Sebagaimana halnya percakapan sehari-hari, dialog dalam teks drama juga tidak lepas
dari munculnya kata-kata tidak baku dan kosakata percakapan, seperti kok, sih, dong,
oh.

9. Kalimat Seru, Suruhan, Pertanyaan

Di dalam teks drama juga banyak ditemukan kalimat seru, suruhan, pertanyaan.
Perhatikan contoh berikut!
1. Selamat pagi, Anak-anak!
2. Selamat pagi, Buuuuuu!
3. Wah…jangan marah dong, aku kan cuma bercanda!
4. Arga, kenapa sih kamu selalu usil?
5. Kenapa kamu selalu mengejek aku?
6. Memangnya kamu suka kalau diejek?
7. Aduh…maaf deh! Kamu marah ya, In?

10. Konjungsi Temporal

Teks drama juga banyak menggunakan kata yang menyatakan urutan waktu
(konjungsi temporal), seperti: sebelum, sekarang, setelah itu, mula-mula, kemudian.

11. Kata Kerja yang Menggambarkan Suatu Peristiwa

Di dalam teks drama juga banyak menggunakan kata kerja yang menggambarkan
suatu peristiwa yang terjadi, seperti menyuruh, menobatkan, menyingkirkan,
menghadap, beristirahat.

12. Kata Kerja yang Menyatakan Sesuatu yang Dipikirkan atau Dirasakan

Banyak menggunakan kata kerja yang menyatakan sesuatu yang dipikirkan atau
dirasakan oleh tokoh, seperti : merasakan, menginginkan, mengharapkan,
mendambakan, mengalami.

13. Kata Sifat untuk Menggambarkan Tokoh, Tempat, atau Suasana
Kata-kata yang dimaksud, misalnya, ramai, bersih, baik, gagah, kuat.

I. Menulis Teks Drama

1. Teks Drama dari Karya yang Sudah Ada

Membuat naskah drama dari karya yang sudah ada tidak begitu sulit. Hal ini karena
ide cerita, alur, latar, dan unsur-unsur lainnya sudah ada. Kamu hanya mengubah
formatnya ke dalam bentuk dialog.

1. Naskah Drama dengan Orisinalitas Ide

Langkah-langkah penulisannya tidak jauh berbeda dengan ketika menulis cerpen,
puisi, ataupun karya-karya fiksi lain.

1. Menentukan topik, yakni berupa suatu peristiwa yang menarik dan memiliki
konflik yang kuat.

2. Menentukan tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya serta karakternya.

3. Membuat kerangka alur, yang menarik dan tidak mudah ditebak (penuh kejutan).

4. Mengembangkan kerangka itu ke dalam dialog-dialog dengan memperhatikan
struktur dan kaidah kebahasaannya yang tepat.

3. Pementasan Karya Sendiri

Langkah-langkah pementasan drama berikut :

a. Melakukan pembedahan secara bersama-sama terhadap isi naskah yang akan
dipentaskan. Tujuannya agar semua calon pemain memahami isi naskah yang akan
dimainkan.

b. Reading. Calon pemain membaca keseluruhan naskah sehingga dapat mengenal
masing-masing peran.

c. Casting. Melakukan pemilihan peran.
Tujuannya agar peran yang akan dimainkan sesuai dengan kemampuan akting pemain.

d. Mendalami peran yang akan dimainkan.
Pendalaman peran dilakukan dengan mengadakan pengamatan di lapangan. Misalnya,
peran itu sebagai seorang tukang jamu, lakukanlah pengamatan terhadap kebiasaan
dan cara kehidupan para tukang jamu.

d. Blocking.
Sutradara mengatur teknis pentas, yakni dengan cara mengarahkan dan mengatur
pemain. Misalnya, dari mana seorang pemain harus muncul dan dari mana mereka
berada ketika dialog dimainkan.

f. Running.
Pemain menjalani latihan secara lengkap, mulai dari dialog sampai pengaturan pentas.

g. Gladi resik atau latihan terakhir

Sebelum pentas. Semua bermain dari awal sampai akhir melakukan latihan akhir;
tanpa ada kesalahan lagi.

h. Pementasan. Semua pemain sudah siap dengan kostumnya. Dekorasi panggung
sudah lengkap.

J. Tujuan Drama

1. Untuk membahagiakan sekaligus menghibur intruksi untuk para penonton.
2. Memperoleh suatu pengetahuan, pengalaman, pengetahuan seni keindahan.
3. Untuk menghibur santai dan pengalaman mengenai estetika.

K. Manfaat Drama

1. Membentuk kersa sama yang baik dalam sebuah pergaulan sosial.
2. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melahirkan daya kreasi bagian setiap
orang.
3. Mengembangkan emosi yang sehat untuk pada anakanakagar dapat melahirkan
daya kreasi.
4. Dapat menghilangkan rasa malu, gugup, takut yang terdapat pada didri seseorang.
5. Mengembangkan sifat dan sikap percaya diri untuk tampil didepan orang banyak.
6. Mengharagai pendapat dan pikiran seseorang dengan cara baik


Click to View FlipBook Version