The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Riza Kudus, 2023-05-22 00:35:24

Kelompok 4 - Ilmu Munasabah

Kelompok 4 - Ilmu Munasabah

MAKALAH ILMU MUNASABAH FI AL-QUR’AN DAN ILMU I’JAZIL QUR’AN Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Studi Quran Hadist Dosen Pengampu : Dr. Muhammad Miftah, M.Pd.I. Disusun oleh Kelompok 4 : 1. . Najma Falihah Robi’ah (2110610028) 2. . Aura Diva Azzahra (2110610042) Kelas : B2TMR PROGRAM STUDI TADRIS MATEMATIKA FAKULTAS TARBIYAH IAIN KUDUS TAHUN 2021 Jl. Conge Ngembalrejo Kotak Pos 51 Kudus 59322 Telp. (0291) 438818 Fax. 441613 E-Mail : [email protected] Webside : www.iainkudus.ac.i


ii KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas rahmat dan hidayahNya, kami dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah studi quran hadist yang berjudul “Ilmu Munasabah Fi Al-Qur’an dan Ilmu I’Jazil Qur’an” dengan tepat waktu. Selain itu, makalah ini bertujuan menambah wawasan tentang ilmu munasabah fi al-qur’an dan ilmu i’jazil qur’an bagi para pembaca dan kami penulis. Shalawat serta salam tak lupa kita haturkan kepada junjungan Nabi Agung Muhammad SAW semoga kita menjadi umat yang kelak mendapatkan syafa’atnya sehingga kita termasuk umat yang bersama-sama masuk surga bersama Beliau. Aamiin. Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Muhammad Miftah M.Pd.I selaku dosen mata kuliah studi quran hadist. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada semua pihak yang telah membantu diselesaikannya makalah ini. Kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, saran dan kritik yang membangun diharapkan demi kesempurnaan makalah. Kudus, 18 Maret 2022 Penulis


iii DAFTAR ISI Halaman Judul .......................................................................................... i Kata Pengantar ........................................................................................ ii Daftar Isi ................................................................................................... iii BAB 1 PENDAHULUAN ......................................................................... 1 1.1 Latar Belakang ............................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah .......................................................................... 1 1.3 Tujuan ............................................................................................ 2 BAB 2 PEMBAHASAN............................................................................ 3 2.1 Pengertian Ilmu Munasabah dan Pokok Bahasannya ..................... 3 2.2 Macam-macam Ilmu Munasabah di dalam Al-Qur’an .................. 4 2.3 Fungsi Ilmu Munasabah fi Al-Qur’an ............................................ 6 2.4 Pengertian I’jazil Qur’an ................................................................ 8 2.5 Tujuan dan Fungsi I’jazil Qur’an ................................................... 8 2.6 Macam-macam I’jazil Qur’an ........................................................ 9 2.7 Unsur-unsur I’jazil Qur’an ............................................................. 10 2.8 Aspek-aspek I’jazil Qur’an dan Fungsinya .................................... 12 BAB 3 PENUTUP...................................................................................... 15 3.1 Kesimpulan ..................................................................................... 15 3.2 Saran................................................................................................ 15 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 16


1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Al-Qur’an merupakan kitab suci yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk, penjelas, serta mukjizat baik dari segi bahasa maupun ilmiah. Dalam sejarah, studi quran hadist berjalan cukup lama. Al-Qur’an yaitu berupa mukjizat yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW, sehingga tidak mungkin adanya kontradiksi, ketidakteraturan serta saling bertentangan satu dengan lainnya. Jika Al-Qur’an dilihat hanya dari satu sisi, maka akan adanya pemahaman yang tidak utuh, sehingga Al-Qur’an itu sendiri terkesan tidak rapih. Ilmu Munasabah tujuan menjadikan Al-Qur’an sebagai satu kesatuan yang serasi dan tidak persial. Terdapat beberapa fungsi utama dari ilmu al-munasabah seperti, untuk menemukan arti yang tersirat dalam susunan dan urutan kalimatkalimat, ayat-ayat, dan surah-surah dalam Al-Qur’an. Untuk menjadikan bagianbagian Al-Qur’an saling berhubungan sehingga tampak menjadi satu rangkaian yang utuh dan integral. 1.2 Rumusan Masalah a. Bagaimana Pengertian Ilmu Munasabah dan Pokok Bahasannya? b. Apa Macam-macam Ilmu munasabah di dalam Al-Qur’an? c. Bagaimana Fungsi Ilmu Munasabah fi Al-Qur’an? d. Bagaimana Pengertian I’jazil Qur’an? e. Bagaimana Tujuan dan Fungsi I’jazil Qur’an? f. Apa Macam-macam I’jazil Qur’an? g. Mengapa Unsur-unsur I’jazil Qur’an Itu Penting? h. Bagaimana Aspek-aspek I’jazil Qur’an dan Fungsinya?


2 1.3 Tujuan a. Mengetahui Pengertian Ilmu Munasabah b. Mengetauhi Macam-macam Ilmu Munasabah dalam Al-Qur’an. c. Mengetahui fungsi Ilmu Munasabah fi Al-Qur’an. d. Mengetahui Pengertian I’jazil Qur’an. e. Mengetahui Tujuan dan Fungsi I’jazil Qur’an. f. Mengetahui Macam-macam I’jazil Qur’an. g. Mengetahui Unsur-unsur I’jazil Qur’an. h. Mengetahui Aspek-aspek I’jazil Qur’an dan Fungsinya.


3 BAB 2 PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Ilmu Munasabah Kata munasabah secara etimologi berarti al-muqarabah (kedekatan), almusyakalah (keserupaan) dan al-muwafaqoh (kecocokan).1 Sehubungan dengan Al-Qur’an, pemahaman dari satu ayat ke ayat lainnya, dari satu surah ke surah lainnya, kesatuan yang saling terkait ini adalah studi yang harus dipelajari. Para ahli menyebut studi ini dengan nama munasabah. Mereka sepakat tentang urutan surahsurah, tetapi para ulama memiliki pendapat yang berbeda tentang urutan surah di dalam Al-Qur’an. Pada golongan lain berpendapat bahwa urutan seluruh surah didasarkan pada ijtihad para sahabat. Jika urutan surah-surah adalah sesuatu yang bersifat tauqifi (ketentuan dari Allah), tidak mungkin mereka akan menentangnya. Munasabah dalam pengertian bahasa berarti kedekatan. Munasabah adalah suatu urusan yang dapat dimengerti. Ketika munasabah dikemukakan pada akal, niscaya akal tentu menerimanya. Imam Zarkasyi sendiri menulis munasabah sebagai ilmu yang mengaitkan pada bagian-bagian pemulaan ayat dan akhirnya, mengaitkan lafadz umum dan lafadz khusus, atau hubungan antar ayat terkait dalam hal sebab-akibat, ‘illat dan ma’lul, kemiripan ayat, pertentangan (ta’arudh) dan lain sebagainnya. Manna’ al-Qattan dalam kitabnya Mabahits fi ulum al-Qur’an. Munasabah menurut bahasa disamping berarti muqarabah juga musyakala2h (kesamaan). Di sisi lain, menurut istilah ulum al-Qur’an, itu berarti pengetahuan tentang berbagai hubungan didalam al-Qur’an. Kata munasabah secara etimologis menurut asy1 Ibrahim Anis dkk, Al-Mu’jam al-Wasith, (Beirut: Darul Fikr, 1972), h. 916. 2 Muhammad Chirzin, al-Qur’an dan Ulumul Qur’an, (Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 1998), hlm. 50


4 Syuthi berarti al-Musyakalah (kesamaan) dan muqarabah (kedekatan). Dalam pengertian istilah, munasabah adalah ilmu yang membahas tentang hikmah mengaitkan urutan ayat al-Qur’an. Dengan kata lain, munasabah adalah upaya pemikiran manusia dalam menggali rahasia hubungan antar ayat atau surat yang dapat diterima oleh akal. Ada beberapa istilah yang digunakan oleh para mufassir kaitannya dengan munasabah. Ar-razi menggunakan istilah ta’alluq sebagai sinonim munasabah. Sayyid Qutum menggunakan lafal irtibath sebagai pengganti istilah munasabah. Ketika beliau menafsirkan surat al-Baqarah 188, “Pertalian (irtibath) antara bagian ayat tersebut jelas, yaitu antara bulan baru (ahillah) waktu bagi manusia dan haji serta antara adat jahiliyah khususnya dalam masalah haji sebagaimana diisyaratkan dalam bagian ayat kedua. Rasyid Ridla menggunakan dua istilah, al-ttishal dan atta’lil. 2.2 Macam-macam Ilmu Munasabah dalam Al-Qur’an Macam-macam munasabah: 1. Munasabah antar surat dengan surat sebelumnya. 2. Munasabah antara nama surat & tujuan turunnya. 3. Munasabah antar bagian dari ayat. 4. Munasabah antar ayat yang letaknya berdekatan. 5. Munasabah antara sekelompok ayat dengan sekelompok ayat disampingnya. 6. Munasabah antara fashilah (pembatas) dan isi ayat. 7. Munasabah antara awal surat dan akhir surat yang sama. 8. Munasabah antara akhir suatu surat dan awal surat berikutnya.3 3 Jalaluddin Abdurrahman as-Suyuti, al-Itqan fi Ulumil Qur’an, Jilid II, Juz III, (Kairo: Dar al-Turats), hlm. 330-338


5 Para ulama yang mempelajari ilmu munasabah al-Qur’an mengemukakan dan bahkan mungkin membuktikan kecocokan yang dimaksud. Setidaknya berisi hubungan berikut ini: 1. Munasabah antar surat dengan surat sebelumnya, berfungsi sebagai menyempurnakan surat sebelumnya. Satu surah membantu menjelaskan surah sebelumnya, Misalnya dalam bagian surah Al-Fatihah ayat 6 disebutkan sebagai berikut : َ ُم ْستَِقيم ْ ٱ ْهِدنَا ٱل ِ ص َر َٰ َط ٱل “Tunjukilah Kami jalan yang lurus,” (Q.S. Al-Fatihah: 6) Kemudian, dalam surah Al-Baqarah ayat, bahwa jalan yang lurus adalah mengikuti petunjuk al-Qur’an, sebagaimana dijelaskan : ُب ََل َرْي َب ۛ فِ ْي ِهۛ هُدًى ِكتَٰ ْ ِل َك ال ِقْي َن َٰ ذ ُمتَّ ْ ل ِل “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,” (Q.S. Al-Baqarah: 2) 2. Munasabah antara nama surat & tujuan turunnya. Nama surah biasanya diambil dari masalah utama didalam satu surah, seperti surah An-Nisa’ (perempuan) karena banyak menceritakan tentang persoalan perempuan. 3. Hubungan antara ayat pertama dan ayat terakhir dalam satu surah. Misalnya surah al-Mu’minuun : ُمْؤ ِمنُو َن ْ َح ال لَ فْ َ قَدْ أ “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,” (Q.S. AlMu’minuun: 1) Kemudian diakhiri dengan: ْفِل ُح ه اِنَّ ٗه ََل يُ ٖۗ ِ َرب َما ِح َسابُٗه ِعْندَ ِ هٖۙ فَِانَّ ٗه ب َخ َر ََل بُ ْر َها َن لَ َٰ ًها ا َٰ َم َع هّٰللاِ اِل ْ َٰكِف ُرْو َن َو َم ْن يَّدْعُ ال “Dan barang siapa menyembah tuhan yang lain selain Allah, padahal tidak ada suatu bukti pun baginya tentang itu, maka perhitungannya


6 hanya pada Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntung.” 4. Hubungan antara satu ayat dengan ayat yang lain pada satu surah. Misalnya pada surah al-Baqarah ayat 2, kaya “Muttaqin” menggambarkan ciri-ciri orang yang bertaqwa pada ayat berikutnya. 5. Hubungan antar kalimat lain dalam sebuah ayat. Misalnya dalam surah AlFatihah ayat 1: “Segala puji bagi Allah”, lalu dikalimat berikutnya menyatakan: “Tuhan semesta alam”. 6. Hubungan fashilah dengan isi ayat. Misalnya, dalam ayat 25 surat AlAhzab, disebutkan: ِقتَا َلٖۗ .7 ْ ُمْؤ ِمنِ ْي َن ال ْ َو َكفَى هّٰللاُ ال “Cukuplah Allah (yang menolong) menghindarkan orang-orang mukmin dalam peperangan.” (Q.S. Al-Ahzab: 25) ِويًّا َعِزْي ًزا َو َكا َن هّٰللاُ قَ “Dan Allah Mahakuat, Mahaperkasa” (Q.S. Al-Ahzab: 25) 7. Hubungan antara akhir dari surah dan awal surah berikutmya. Misalnya penutup surah al-Waqi’ah : عَ ِظْيِم .8 ْ ِ َك ال ِا ْسِم َرب ِ ْح ب َسب فَ “Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar.” Selanjutnya, surah berikutnya surah al-Hadiid ayat 1: ُم َح ِكْي ْ عَ ِزْي ُز ال ْ َو ال ْر ِ ض َوهُ َْلَ ِ َما فِى ال َّس َٰمَٰو ِت َوا َح ِّلِله َسبَّ “Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.”


7 2.3 Fungsi Ilmu Munasabah Fi Al-Qur’an Ilmu al-Qur’an adalah rangkaian ilmu yang berkaitan satu sama lain. Kemajuan zaman yang beragam dari waktu ke waktu dalam bidang pengetahuan, termasuk ilmu munasabah. Kemudian dengan mempelajarinya, seseorang akan dapat lebih memahami al-Qur’an, ilmu ini bagus kerena menjelaskannya dengan cara yang sederhana hubungan antara ayat-ayat dalam surah al-Qur’an. Selain itu, para ulama sepakat bahwa al-Qur’an ini telah diturunkan dalam tempo lebih dari 20 tahun, mengandung berbagai hukum (Tasyri) dan dengan beragam sebab yang melatarbelakangi (asbab nuzul). Meski demikian, sesungguhnya al-Qur’an memiliki ayat-ayat yang berkaitan erat satu sama lain (interkoneksi), sehingga untuk memahami ayat-ayat yang tanpa asbab nuzul tertentu, maka dapat menggunakan ilmu munasabah sebagai sarana untuk menempati ruang kosong tersebut. Adapun manfaat mempelajari ilmu munasabah dijelaskan sebagai berikut: 1. Dapat menepis pendapat sebagian orang bahwa tema-tema al-Qur’an kehilangan relevasi antara satu bagian dan bagian yang lainnya. Contoh pada Terjemahan firman Allah dalam surat Al-Baqarah [2] ayat 189: “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertaqwa. Dan masukanlah ke rumah-rumah itu dari pintunya; dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu beruntung” (Q.S. Al-Baqarah: 189) Dalam penjelasan munasabah, Az-Zarkasy menjelaskan: “Sudah diketahui bahwa ciptaan Allah mempunyai hikmah yang jelas dan mempunyai kemaslahatan bagi hamba-hamba-Nya, maka tinggalkan pertanyaan tentang hal itu, dan perhatikanlah sesuatu yang engkau


8 anggap sebagai kebaikan, padahal sama sekali bukan merupakan sebuah kebaikan.” 2. Mengetahui persambungan atau hubungan (korelasi) antara bagian AlQuran, baik antarakalimat atau antarayat juga antarsurat, sebagai akibatnya lebih memperdalam pengetahuan & sosialisasi tentang kitab Al-Quran & memperkuat keyakinan terhadap kewahyuan & kemukjizatannya. 3. Terlihat bahwa kualitas dan tingkat keunggulan bahasa Al Quran berkorelasi satu sama lain dalam konteks kalimat dan satu ayat atau surat dangan yang lainnya. 4. Setelah mengetahui hubungan antara satu kalimat atau ayat dengan ayat lainnya, ada baiknya untuk menginterpretasikan ayat-ayat Al-Qur'an lebih akurat dan tepat. 2.4 Pengertian I’Jazil Qur’an I’jaz secara bahasa adalah masdar dari kata “a’jaza”, yang berarti melemahkan. Pelakunya (yang melemahkan) disebut mu’jiz. Kemampuannya untuk melemahkan dan membungkam lawannya disebut mukjizat. Ini memiliki arti superlatif (mubālaghah) karena tāmarbutah ditambahkan ke akhir kata. Kata mu’jizat berasal dari bahasa Arab yaitu yu'jizu I'jaz, mu'jiz, yang artinya melemahkan atau melumpuhkan. 4 Mu’jizat itu luar biasa dengan tantangan dan tidak ada yang siap menghadapi tantangan itu. Beberapa dari mu’jizat ini bersifat empiris dan beberapa bersifat aqliah. Sebagian besar mu’jizat Bani Isra’il bersifat empiris, dan mu’jizat Nabi Muhammad adalah aqliah. Karena syari’at Islam bersifat abadi dan universal, mu’jizat nya juga bersifat aqliah, abadi, dan orang-orang yang berfikir dapat 4 M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur'an: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Gaib (Bandung: Mizan,1999), h. 23


9 menyaksikannya. Istilah mu’jizat pemahaman Al-Qur'an telah diusulkan oleh beberapa ulama. Salah satunya adalah Manna Khalil Al Qattan, yang menyebut perbuatan luar biasa dari persaingan secara damai dengan orang yang menentangnya. Selain pengertian di atas, mu’jizat mengungkapkan kebenaran Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT dengan mendapatkan pengakuan orang lain dengan menunjukkan kelemahan bangsa Arab bersaing dengan mu’jizat abadi yaitu Al-Qur’an.5 2.5 Tujuan dan Fungsi I’jazil Qur’an I'jazil Qur’an memiliki beberapa tujuan: 1. Membuktikan bahwa Nabi Muhammad SAW yang membawa mukjizat Al-Qur'an adalah benar-benar seorang nabi atau rasul Allah. Ia diutus untuk menyampaikan ajaran Allah SWT kepada umat manusia dan menawarkan tantangan kepada orang-orang yang inngkar untuk menyaingi Alquran. 2. Qur’an membuktikan bahwa itu benar-benar wahyu Allah SWT, bukan buatan malaikat Jibril atau Nabi Muhammad. Karena jika Al-Qur'an untuk Nabi Muhammad yang tidak pandai membaca dan menulis, maka penyair Arab profesional tentu tidak hanya pandai membaca dan menulis, tetapi juga khusus dalam sastra, dan tata bahasa Arab. Jelaslah bahwa Al-Qur'an bukanlah buatan manusia. 3. Menunjukkan kelemahan kualitas sastra dan wacana wacana manusia. Karena telah terbukti bahwa tidak ada ahli sastra dan seni Arab yang dapat menemukan hal yang sama dengan Al-Qur'an. 4. Menunjukkan kelemahan upaya dan rekayasa manusia yang tidak sebanding dengan kesombongan dan keangkuhannya. 5 Imam As- Sayuthi, Apa Itu Al-Qur'an, (Jakarta: Gema Insani Press, 1994), h.


10 2.6 Macam-macam I’jaz Al-Quran Secara garis besar, I’jaz dapat dibagi menjadi dua pokok: 1. Mu'jizat Material Inderawi Artinya Mukjizat yang tidak kekal. Maksudnya mukjizat jenis ini hanya berlaku pada Nabi selain Nabi Muhammad Saw dan juga mukjizat ini hanya berlaku untuk jaman tertentu, kapan mukjizat itu diturunkan. Oleh karena itu wajar kalau sifat mukjizat tersebut tidak kekal. Secara umum dapat diambil contoh adalah mukjizat nabi Musa AS dapat membelah lautan, mukjizat nabi Daud AS dapat melunakkan besi, mukjizat nabi Isa AS dapat menghidupkan orang mati, mukjizat nabi Ibrahim AS tidak hangus oleh api saat dibakar dan mukjizat-mukjizat nabi lainnya. 1. Mu'jizat Immaterial Artinya mukjizat ini bersifat kekal dan berlaku sepanjang jaman. Mu'jizat tersebut adalah Al-Qur'an al- Karim. Hal ini, menurut Syahrur, karena Muhammad (sebagai penerima mu'jizat ini) nabi terakhir, sehingga mu'jizatnya harus memiliki sifat abadi dan berlaku sampai dunia ini hancur. Secara lebih gamblang, Syahrur membedakan mukjizat nabi Muhammad dengan nabi-nabi sebelumnya. Pertama aspek rasionalitas kenabian Muhammad yang berupa Al-Qur'an dan al-sab'ul al matsani mendahului pengetahuan inderawi, yaitu dalam bentuk mutasyabih. Setiap jaman berubah, konsepsi-konsepsi Al-Qur'an masuk kedalam wilayah pengetahuan inderawi yang disebut sebagai takwil langsung, yaitu kesesuaian antara teks pengetahuan terhadap hal inderawi.6 2.7 Unsur-Unsur Mu'jizat 6 Juhana Nasrudin, Kaidah Ilmu Tafsir Al-Qur'an, (Yogyakarta: Deepublish, 3017), h. 167-172.


11 Unsur-unsur yang terdapat pada mukjizat, adalah sebagai berikut: a. Peristiwa yang luar biasa Peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam misalnya yang terlihat seharihari walaupun menakjubkan, tidak dapat dikatakan mukjizat karena hal itu merupakan sesuatu yang biasa. Yang dimaksud luar biasa adalah sesuatu yang berada diluar jangkauan sebab dan akibat yang diketahui secara umum hukum-hukumnya, dengan demikian hipnotisme atau sihir misalnya, walaupun sekilas terlihat ajaib atau luar biasa, karena dapat dipelajari, sihir itu tidak termasuk dalam pengertian luar biasa menurut definisi diatas. b. Terjadi atau dipaparkan oleh seseorang yang mengakibatkan Nabi Tidak mustahil terjadi hal-hal yang diluar kebiasaan pada diri siapapun. Namun apabila bukan dari seseorang yang mengakibatkan Nabi, hal itu tidak dinamakan mukjizat. Sesuatu yang luar biasa yang tampak pada diri seseorang yang kelak bakal menjadi nabipun tidak dinamakan mukjizat. Keluarbiasaan itu juga bisa terjadi pada seseorang yang taat dan dicintai Allah, tetapi ini pun tidak dapat disebut mukjizat. Hal ini seperti dinamakan karamah atau kekeramatan, yang bahkan tidak mustahil terjadi pada seseorang yang durhaka kepada-Nya. Yang terakhir ini dinamakan penghinaan atau rangsangan untuk lebih durhaka lagi. Bentuk tolak dari keyakinan umat Islam bahwa nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir, maka tidak diragukan lagi terjadi suatu mukjizat sepeninggal beliau, walaupun ini bukan berarti keluarbiasaan tidak dapat terjadi dewasa ini. c. Mengandung tantangan terhadap yang meragukan kenabian Tantangan ini harus bersamaan dengan pengakuannya sebagai Nabi, bukan sebelum atau sesudahnya. Di sisi lain, tantangan tersebut harus pula merupakan sesuatu yang sejalan dengan ucapan nabi. Kalau misalnya ia berbicara "batu itu dapat berbicara", tetapi ketika batu itu berbicara dikatakannya bahwa sang penantang berbohong, maka keluarbiasaan ini bukanlah suatu mukjizat, tetapi istidraj. d. Tantangan tersebut tidak mampu atau gagal dilayani


12 Bila orang yang ditantang berhasil melakukan hal yang serupa, ini berarti bahwa pengakuan sang penantang tidak terbukti. Perlu digaris bawahi bahwa kandungan tantangan harus benar-benar dipahami oleh orang-orang yang ditantang. Bahkan untuk lebih membuktikan kegagalan mereka, biasanya aspek kemukjizatan masing-masing tidak sesuai dengan keahlian umatnya. Al-Qur'an digunakan oleh nabi Muhammad SAW untuk menantang orang-orang pada masa beliau dengan generasi sesudahnya yang tidak percaya akan kebenaran Al-Qur'an sebagai firman Allah (bukan ciptaan Muhammad) dan tidak percaya akan risalah Muhammad SAW dan ajaran yang dibawanya. 7 2.8 Aspek - Aspek I'jaz Al-Qur'an dan Fungsinya Sampai saat ini tidak ada kesepakatan ulama dalam menetapkan aspek-aspek kemukjizatan Al-Qur’an. Namun demikian, aspek-aspek kemukjizatan Al-Qur’an dapat diklasifikasikan ke dalam empat hal, yaitu aspek kebahasaan, aspek ilmu pengetahuan, aspek berita ghoib, dan aspek isyarat ilmiah. 1. Aspek Kebahasaan Gaya bahasa yang digunakan Al-Qur’an berbeda dengan gaya bahasa yang digunakan oleh orang-orang Arab. gaya bahasa Al-Qur’an membuat orang Arab pada saat itu kagum dan terpesona. Walaupun AlQur’an menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya, kalimat demi kalimat mengandung unsur sastra yang sangat baik namun tetap mudah dipahami tanpa mengurangi sedikit pun kandungan misteri di dalamnya. Hal tersebut karena keistimewaan aspek gaya bahasa yang digunakan oleh Al-Quran. Bahkan, Umar bin Khaththab pun yang mulanya dikenal sebagai seorang yang paling memusuhi Nabi Muhammad SAW dan 7 Syamsu Nahar, Studi Ulumul Qur'an, (Medan: Perdana Publishing, 2015), h. 123-125.


13 bahkan berusaha untuk membunuhnya, memutuskan untuk masuk Islam dan beriman pada kerasulan Muhammad hanya karena membaca petikan ayat-ayat Alquran. Susunan kalimat dan gaya bahasa Al-Qur'an, yang tidak terikat oleh pola atau susunan syair atau sajak pada saat itu, justru semakin menunjukkan keistimewaan Al-Qur’an yang mencakup semua bentuk puisi dan prosa. Keharmonisan irama yang muncul dari rangkaian kata dan kalimat dalam setiap lafaz dan ayat-ayat Al-Qur’an, semakin memberikan ekspresi keindahan pada setiap qalbu pendengarnya. 2. Aspek Ilmu Pengetahuan Hakikat ilmiah yang disinggung dalam Al-Qur’an, dikemukakan dalam redaksi yang singkat dan sarat akan makna. Ketika pengetahuan itu belum ditemukan, Al-Qur'an pada dasarnya telah memberikan isyarat tentangnya, dan Al-Qur’an sendiri tidaklah mempunyai pretensi pertentangan dengan penemuan-penemuan baru yang dihasilkan oleh penelitian-penelitian ilmiah. Misalnya, Al-Qur’an berbicara mengenai awan. Proses pembentukan hujan dimulai dengan pembentukan awan tebal karena adanya dorongan angin sedikit demi sedikit, perhatikah ayat berikut “tidakkah kamu melihat (bagaimana) Allah menggerakkan awan, kemudian mengumpulkan (bagian-bagian)-nya, kemudian menjadikannya bertindihtindih, maka kamu lihat hujan keluar dari celah-celah (awan). (QS. An-Nur: 43.). Para ilmuan kemudian menjelaskan bahwa awan tebal bermula dari dorongan angin yang mengiringi ke awan-awan kecil, menuju ke convergence zone (daerah pusat pertemuan awan). Pergerakan bagianbagian awan ini, menyebabkan bertambahnya jumlah uap air dalam perjalanannya, terutama pada convergece zone itu. Meskipun ada sekian kebenaran ilmiah yang dipaparkan oleh Al-Qur'an tetapi tujuan itu semua hanya untuk menunjukkan kebesaran Tuhan dan keunikan Al-Qur’an itu sendiri.


14 3. Aspek Berita Gaib Al-Qur’an juga meyakinkan kepada pembacanya bahwa Al-Qur’an mampu memprediksi masa depan (nubuwah), kejadian-kejadian pada masa Nabi atau Umatter dahulu, dan kejadian besar yang akan menimpa kaum muslim sepeninggal Nabi. Al-Qur’an juga berisi tentang pengetahuan yang kemudian baru diketemukan pada ribuan tahun setelah Al-Qur’an turun, misalnya kesatuan alam, (QS al-Anbiya": 30) terjadinya perkawinan dalam tiap-tiap benda, (QS al-Dzariyat: 49) perbedaan sidik jari manusia, (Q.S. al-Qiyamah: 2-3) khasiat madu, (QS al-Nahl: 69) dll., yang ke semuanya itu terbukti sampai saat ini. 4. Aspek Isyarat Ilmiah Isyarat-isyarat ilmiah itu dapat dilihat dalam beberapa bidang ilmu pengetahuan. Misalnya: 1. Astronomi (Penciptaan alam, bentuk bulat oval bumi, matahari berotasi, Bintang-Bintang dan Planet-Planet, Lapisan Gas Sebelum Penciptaan Galaksi, Sinar Bulan Pantulan dan Sinar Matahari dari Dirinya). 2. Geologi (Gunung-gunung sebagai pasak, gunung-gunung berdiri tegak). BAB 3


15 PENUTUP 3.1 Kesimpulan Ilmu Munasabah mempunyai tujuan menjadikan Al-Qur’an sebagai satu kesatuan yang serasi dan tidak persial. Terdapat beberapa fungsi utama dari ilmu al-munasabah seperti, untuk menemukan arti yang tersirat dalam susunan dan urutan kalimat-kalimat, ayat-ayat, dan surah-surah dalam Al-Qur’an. Untuk menjadikan bagian-bagian Al-Qur’an saling berhubungan sehingga tampak menjadi satu rangkaian yang utuh dan integral. Ijaz atau mukjizat al-Qur'an adalah studi tentang bagaimana al-Qur'an mampu melindungi dirinya dari beragam "serangan", baik yang berbentuk ketidakpercayaan, maupun keragu-raguan sampai pengingkaran terhadapnya. Pada saat yang sama, alQur'an juga mampu melakukan counterattack yang mampu mementahkan dan mengalahkan serangan-serangan tersebut. Kemukjizatan AlQur’an tidak mungkin bisa tertandingi. Hal ini terwujud karena unsur keindahan bahasa serta karena aspek ilmu pengetahuan yang terkandung didalamnya, aspek berita gaib, kisah yang terkandung di dalamnya dan sebagainya 3.2Saran Kami sebagai penulis menyadari jika makalah ini memiliki banyak sekali kekurangan yang jauh dari kata sempurna. Tentunya, penulis akan terus memperbaiki makalah dengan mengacu kepada sumber yang bisa dipertanggungjawabkan. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun mengenai pembahasan di atas.


16 DAFTAR PUSTAKA Ibrahim Anis. 1972. Al-Mu’jam al-Wasith. Beirut: Darul Fikr. Imam As-Syuthi. 1994. Apa Itu Al-Qur-an. Jakarta: Gema Insani Press. Jalaliddin Abdurrahman As-Suyuti. Al-Itqan Fi Ulumil Qur’an, Jilid II, Juz III. Kairo: Dar Al-Turats. Juhana Nasrudin. 2017. Kaidah Ilmu Tafsir Al-Qur’an. Yogyakarta: Deepublish. M. Quraish Shihab. 1999. Mukjizat Al-Qur’an: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan Isyarat Ilmiah dan Pemberitahuan Gaib. Bandung: Mizan. Muhammad Chirzin. 1998. Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an. Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa. Syamsu Nahar. 2015. Studi Ulumul Qur’an. Medan: Perdana Publishing.


Click to View FlipBook Version