“Suatu hari, rubah mengundang temannya yaitu burung bangau untuk bersama-sama menyantap makan malam di rumahnya. “
Malam itu, sang bangau pun datang ke rumah rubah. Sesampainya di rumah rubah, ia mengetuk pintu dengan menggunakan paruhnya yang panjang.
Mendengar bangau sudah datang, rubah membuka pintu dan mempersilahkan sahabatnya masuk. Ia lalu mengajak bangau untuk makan bersama, “ayo masuk, kita makan malam bersama”, ucapnya.
Ia pun mengajak bangau duduk di tempat yang sudah disediakan. Setelah itu rubah menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Sang rubah menghidangkan sup dengan mangkuk untuk makan malam mereka. Perut bangau mulai berbunyi, ia semakin lapar mencium aroma makanan yang terasa begitu enak. Setelah mempersilahkan bangau untuk makan, rubah pun menyantap makanannya dengan cepat. Di sisi lain, sang bangau terus berusaha makanan yang ada di mangkuk tersebut. Tetapi, berkali-kali mencoba ia tetap saja tidak bisa sedikitpun menyantap makanan yang dihidangkan. Ia tidak bisa menyantap sup tersebut karena mangkuk yang digunakan terlalu dangkal untuk paruhnya yang panjang. Kali ini bangau benar-benar malang, ia hanya bisa tersenyum dan menahan lapar.
Melihat sahabatnya tidak memakan makanan yang disuguhkan, rubah pun heran, “bangau, kenapa kau tak memakan sup itu, kamu suka bukan?”, ucap rubah. “Iya, terima kasih banyak, kamu sangat baik mau mengundang aku makan malam bersama”, jawab bangau. Beberapa saat kemudian, ia pun mengundang rubah untuk makan malam di rumahnya, “besok, kamu makan malam di rumah ku ya…”, ucap bangau. “Baik, baiklah…”, jawab rubah dengan semangat.
Keesokan malamnya rubah pun datang memenuhi undangan sang bangau. Sesampainya di rumah bangau, rumah mendapati makan malam dengan sup juga. Tapi kali ini beda, sup disajikan di sebuah kendi yang cukup tinggi. Kali ini, bangau menyantap makanannya dengan mudah dan nikmat sementara rubah tidak bisa sama sekali tidak bisa menyentuh makanan tersebut. Mulutnya tidak cukup kecil untuk menjangkau sup yang disajikan dalam kendi, bahkan lidahnya pun tak sampai menjilat sup tersebut. Malam itu, giliran dia yang harus menahan lapar.