The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by , 2021-11-17 02:00:17

MAKALAH KEL 1

MAKALAH KEL 1

MAKALAH
PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM DALAM AL-QUR’AN

DAN AS-SUNNAH

Makalah disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Al Islam dan
Kemuhammadiyahan 4

Dosen Pembimbing;
Dr. Mahsun Jayadi, M.Ag.

Disusun Oleh :

KELOMPOK 1 (20191110006)
Nama Anggota : (20191110026)
1) St. Aisyah
2) Nabila Innana Lailihiya

S-1 PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
TAHUN 2021

PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM
DALAM AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH

ii

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kehadirat ALLAH SWT atas segala rahmat-Nya sehingga
makalah ini dapat tersusun sampai dengan selesai. Penulis sangat berharap semoga makalah
ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi pembaca. Bahkan kami berharap
lebih jauh lagi agar makalah ini bisa menjadi pedoman pembaca dalam kehidupan sehari-hari.
Kami sebagai penyusun merasa bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan
makalah ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman kami. Untuk itu kami sangat
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk kesempurnaan makalah
ini.

iii

DAFTAR ISI ii
iii
1. Halaman Sampul iv
2. Kata Pengantar
3. Daftar Isi 1
4. BAB I Pendahuluan 1
1
1.1 Latar belakang
1.2 Rumusan masalah 2
1.3 Tujuan 3
5. BAB II Pembahasan 4
2.1 Pengertian Pendidikan Islam 5
2.2 Tujuan Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qur‟an
2.3 Tauhid Sebagai Pondasi Awal Pendidikan Islam 9
2.4 Metode Pendidikan Islam Dalam Al-Qur‟an dan As-Sunnah 10
6. BAB III Penutup
3.1 Simpulan
7. Daftar Pustaka

iv

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Agama Islam merupakan agama samawi, yaitu agama yang bersumber dari Al-Qur‟an

dan al-Sunnah. Sebagai agama samawi, Islam memiliki ajaran yang komperhensif dan
integral, yaitu ajaran yang lengkap, menyeluruh dan menyentuh seluruh aspek kehidupan.

Ajaran Islam tidak hanya bertujuan untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia saja
melainkan juga di akhirat nanti. Kandungan yang lengkap dan luas yang terdapat Al-
Qur‟an dan Al-Sunnah sebagai dua sumber utama dalam ajaran Islam memiliki keunikan
tersendiri. Sebab itu Jimly Asshiddiqie mengatakan spektrum Islam tercermin dalam
tema-tema besar yang terdapat dalam Al-Qur‟an dan sunnah, karenanya, bila kita
melakukan elaborasi yang teliti terhadap substansi agama Islam, akan kita temukan bukan
hanya doktrin-doktrin ketuhanan dan etika, melainkan juga konsep-konsep yang aplicable
misalnya dalam bidang sains ekonomi, dan social.

Falsafah hidup dalam Islam adalah Al-Qur‟an dan al-Sunnah. Keduanya mengajarkan
bahwa setiap aktifitas yang dilakukan oleh seorang muslim harus betul-betul ditujukan
sebagai pengabdian kepada Allah SWT semata. Salah satu keistimewaan Al-Qur‟an
adalah metodenya yang menakjubkan tentang konsep pendidikan. Al-Qur‟an dapat
memberikan kepuasan nalar yang sejalan dengan fitrah manusia, dan di sisi lain dibarengi
dengan pengutamaan afeksi dan emosi manusiawi. Dengan demikian, Al-Qur‟an mampu
mengetuk akal dan hati sekaligus. Sementara al-Sunnah mempunyai dua fungsi utama
dalam pendidikan Islam, yaitu berfungsi menjelaskan konsep dan kesempurnaan
pendidian Islam sesuai konsep Al-Qur‟an, dan menjadi contoh yang tepat dalam
penentuan metode pendidikan.

1.2 Rumusan Masalah
1) Apa yang dimaksud Pendidikan Islam?
2) Apa tujuan Pendidikan Islam dalam perspektif Al-Qur‟an?
3) Apa saja metode Pendidikan Islam menurut Al-Qur‟an dan As-Sunnah?

1.3 Tujuan
1) Untuk mengetahui pentingnya pendidikan islam dalam Al-Quran dan As-Sunnah.
2) Menggali lebih dalam pemahaman pendidikan islam.
3) Mengenal metode-metode dalam pendidikan islam.

1

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN PENDIDIKAN ISLAM
Pembahasan ini akan diawali dengan mencermati dua kata, yaitu kata pendidikan dan

Islam. Untuk kata pendidikan, dalam Al-Qur‟an dan al-Sunnah terdapat tiga istilah yang
berbeda namun berdekatan maknanya untuk mengungkapkan kata pendidikan, yaitu
attarbiyah, at-ta‟lim, dan at-ta‟dib. At-Tarbiyah berasal dari kata rabba yurabbi yang
berarti mendidik. Istilah ini diungkapkan dalam Al-Qur‟an seperti dalam surat Al-Isra
ayat 24 dan As-Syura ayat 18:

Dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka
berdua Telah mendidik Aku waktu kecil”. Fir'aun menjawab: "Bukankah kami Telah
mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu
tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.

Sedangkan kata At-Ta‟lim berakar dari „allama yu‟allimu yang berarti mengajar.
Istilah ini diungkapkan dalam Al-Qur‟an seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 151 dan
AlJumu‟ah ayat 2 yang artinya :
“Dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu
apa yang belum kamu ketahui. .... dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As
Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang
nyata.”

Dan di dalam hadis riwayat Bukhari3 , Rasulullah SAW menyatakan:
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur‟an dan mengajarkannya..”.
Adapun pengertian Islam berasal dari bahasa arab aslama yuslimu islaman yang
berarti berserah diri, patuh, dan tunduk Q.S Al-Baqarah 112, Ali Imran 83. Kata aslama
tesebut pada mulanya berasal dari salima, yang berarti selamat, sentosa, dan damai. Dari
pengertian tersebut secara harifah Islam dapat diartikan patuh, tunduk bersertah diri
kepada Allah untuk mencapai keselamatan dan kedamaian. Pengertian Islam dari segi
kebahasaan ini sudah mengacu kepada misi Islam itu sendiri yaitu mengajak manusia agar
hidup aman, damai, dan selamat dunia dan akhirat melalui cara patuh dan tunduk kepada
Allah yang selanjutnya upaya ini dinamakan dengan ibadah.
Selanjutnya Islam menjadi nama suatu agama 4 yang ajaran-ajarannya diwahyukan
tuhan kepada manusia melalui Nabi Muhammad SAW sebagai rasul (Qs Ali Imran: 19
dan 85).

2

Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mencapai satu segi
tapi mengenai berbagai segi kehidupan manusia. Kemudian jika kata pendidikan dan
Islam disatukan menjadi pendidikan Islam, maka artinya secara sederhana adalah
pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam dengan ciri-cirinya sebagaimana di atas.

2.2 TUJUAN PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN
Membahas tujuan pendidikan dalam Islam mengingatkan kita bahwa yang sedang

dibicarakan di sini adalah bukan tujuan pendidikan secara umum, akan tetapi fokus pada
tujuan pendidikan Islam. Dengan demikian, untuk merumuskan tujuan pendidikan Islam
kita hanya mengacu kepada falsafah hidup dalam Islam. Sebab antara tujuan dan falsafah
hidup sangat erat kaitannya. Sudah jelas bahwa falsafah hidup dalam Islam adalah al-
Qur‟an dan as-Sunnah. Keduanya mengajarkan bahwa setiap aktifitas yang dilakukan
oleh seorang muslim harus betul-betul ditujukan sebagai pengabdian kepada Allah SWT
semata. Penegasan ini dinyatakan dalam al-Qur‟an sebagai berikut:

Katakanlah: “Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah
untuk Allah, Tuhan semesta alam”.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepadaKu”.

Berdasarkan hal di atas, maka dapat kita rumuskan tujuan pendidikan Islam itu sejalan
dengan falsafah hidup itu sendiri. Bahwa bila tujuan penciptaan manusia itu tidak lain
hanya untuk menghambakan diri kepada Allah, dan segala kegiatan hidup harus bertujuan
pengabdian kepada-Nya, maka sesunggunya itulah tujuan puncak pendidikan Islam yang
hakiki, yaitu mencetak manusia-manusia yang „abid (menghamba/menyembah) hanya
kepada Allah semata. Artinya pendidikan Islam itu bertujuan sangat sejalan dengan tujuan
penciptaan itu sendiri.

Sejalan dengan uraian tesebut konferensi pendidikan Islam di Islam abad tahun 1980
merumuskan bahwa pendidikan harus merealisasikan cita-cita atau idealitas Islam yang
mencakup pengembangan kepribadian muslim yang bersifat menyeluruh secara harmonis
yang berdasarkan psikologis dan fisiologisi maupun yang mengacu kepada keimanan dan
sekaligus berilmu pengetahuan secara berkesimbangan sehingga terbentuklah manusia
muslim yang paripurna yang berjiwa tawakkal secara total kepada allah SWT.

Dr. Mohd. Fadhil al-Jamaly mengutarakan empat tujuan pendidikan islam, tiga
diantaranya adalah “tujuan antara”. Empat tujuan pendidikan islam itu adalah:

3

1) Memperkenalkan manusia tentang eksistensinya di antara para makhluk, dan
tanggunjawab masing-masing individu dalam kehidupan.

2) Memperkenalkan manusia akan hubungan-hubungan sosial dan tanggunjawabnya
dalam rangka suatu sistem sosial manusia.

3) Memperkenalkan manusia tentang alam sekitar (makhluk) dan kemudian
mengajaknya yntuk memahami hikmah penciptaanya.

4) Memperkenalkan manusia akan pencipta jagat raya ini.

2.3 TAUHID SEBAGAI PONDASI AWAL PENDIDIKAN ISLAM
Secara linguistik tauhid berarti mengesakan/man-satu-kan. Penanaman tauhid

mengawali seluruh rangkaian pendidikan keagamaan yang lain seperti muamalah. Sejak
diangkat sebagai Nabi, dalam kurun waktu 12 tahun 5 bulan dan 21 hari di Makkah,
Rasulullah SAW menanamkan prinsip ini kepada seluruh peserta didik (para sahabat)
ketika itu.

Menurut Ahmad Tafsir, pengajaran yang disampaikan selama itu adalah Al-Qur‟an
sebanyak 93 surat, umumnya surat-surat pendek yang disebut surat makkiyah. Muatan
pendidikan itu meliputi iman kepada Allah, Rasul Allah, hari akhirat, shalat dan akhlak.
Dan pendidikan tauhid ini ternyata mendapat tantangan yang hebat dari bangsa Arab
ketika itu, karena bertentangan dengan praktik kehidupan mereka sehari-hari, karenanya
Nabi SAW mengajarkannya secara bertahap dan sembunyi-sembunyi, dimulai dari
keluarga terdekat baru kemudian secara terbuka di kalangan luas.

Secara tersirat, hal ini mengandung makna bahwa apapun tantangan dan resikonya
prinsip ini harus disampaikan paling awal sebelum yang lainnya. Landasan ini kita
dapatkan di dalam Al-Qur‟an dimana ketika Luqman hendak memberikan pendidikan
kepada anaknya, ia mengawalinya dengan pendidikan tauhid. (lihat surat luqman ayat 13-
19).

Begitu pula seruan dan pendidian seluruh para nabi diawali dengan menanamkan
prinsip ini kepada umatnya, lihat misalnya seruan Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu‟aib
alaihimussalam semuanya sama. Ini berarti bahwa seluruh rangkaian aktifitas kehidupan
termasuk di dalamnya pendidikan harus diawali dengan menanamkan prisnip ini kepada
peserta didik.

Kesimpulannya adalah bahwa pondasi awal bagi pelaksanaan pendidikan dalam Islam
harus dengan menanamkan prinsip tauhid, sehingga anak yang baru lahir sekalipun sudah

4

diperdengarkan kalimat azan, sehingga diharapkan aktifitas hidupnya di kemudian hari
dimotivasi oleh semangat men-tauhid-kan Allah.

2.4 METODE PENDIDIKAN ISLAM DALAM AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH
Al-Qur‟an dan Al-Sunnah bukanlah buku sains, filsafat, atau buku mistik. Namun,

keduanya menjadi rujukan dan sumber ilmu pengetahuan modern, memuat tata nilai dan
pokok-pokok ajaran. Sebagai kitab yang bersumber dari wahyu dan diyakini lengkap,
keduanya memuat berbagai macam metode pendidikan dan pengajaran yang dapat
menjadi teladan bagi dunia pendidikan modern.
a. Metode Hiwar Qur’ani dan Nabawi (dialog Qurani dan Nabawi)

Hiwar (dialog) ialah percakapan silih berganti antara dua pihak atau lebih
melalui tanya jawab mengenai suatu topik mengarah kepada suatu tujuan. Kedua
pihak bertukar pendapat tentang perkara tertentu. Hiwar mempunyai dampak yang
sangat dalam terhadap jiwa pendengar atau pembaca yang mengikuti topik
percakapan secara seksama.

1) Hiwar Qishashi (dialog kisah) dari Al-Qur‟an.
Hiwar qishashi adalah salah satu metode pengajaran yang dicontohkan

oleh Al-Qur‟an dan ini sangat banyak. Sebagai contoh dialog kisah yang
terjadi antara Nabi Syu‟aib dengan kaumnya dalam surat Hud ayat 84 –
95. Sepuluh ayat pertama merupakan hiwar (dialog), kemudian Allah
mengahiri kisah ini dengan dua ayat terakhir yang menerangkan akibat
yang diterima kaum Nabi Syu‟aib karena pembangkangannya.
2) Hiwar Nabawi

Hiwar Nabawi adalah metode hiwar yang digunakan oleh Nabi SAW
dalam mendidik para sahabatnya, beliau menghendaki agar sahabat-
sahabatnya mengajukan pertanyaan. Pada praktiknya metode ini tampak
dalam sebuah hadis riwayat Abu Hurairah dimana Nabi SAW suatu ketika
tampak di hadapan umum, tiba-tiba seorang laki-laki mendatanginya dan
langsung mengajukan pertanyaan: Apakah iman itu? Beliau menjawab
iman ialah engkau beriman kepada Allah, Malaikat, hari perjumpaan-Nya,
rasul-rasul, dan hari kebangkitan. Kemudian ia bertanya lagi tentang Islam,
Ihsan, dan tentang terjadinya hari kiamat. Diakhir hadis Nabi mengatakan:
ia adalah malaikat Jibril, ia datang untuk mengajarkan manusia tentang
agamanya”. HR Bukhari dan muslim.

5

b. Pendidikan Metode Amtsal (perumpamaan)
Di dalam al-Qur‟an dan al-Sunnah banyak seklai kita temukan pendidikan

dalam bentuk amtsal (perumpamaan) dalam mendidik umat. Di antaranya, kita
temukan dalam surat AlJum‟ah ayat 5: Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan
(diamanahkan) kepadanya kitab Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya
(menunaikannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.
Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan
Allah tiada memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim (al-Jum‟ah: 5).

c. Pendidikan Melalui Qudwah (Keteladanan)
Pada dasarnya, setiap orang membutuhkan panutan dan sosok teladan yang

mampu mengarahkan kepada jalan kebenaran dan sekaligus menjadi perumpamaan
yang dinamis yang menjelaskan cara mengamalkan syari‟at Allah. Murid-murid
cenderung meneladani gurunya dan menjadikannya sebagai tokoh identifikasi dalam
segala hal, sebab secara psikologis anak adalah seorang peniru yang ulung oleh
karena itu Allah mengutus nabiNya Muhammad SAW sebagai seorang murabbi
(pendidik) agar dijadikan teladan oleh seluruh manusia dalam melaksanakan syariat-
Nya, termasuk di bidang pendidikan. Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullahitu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (al-
Ahzab: 21) Dengan kepribadian, sifat, tingkah laku, dan muamalahnya terhadap
sesama manusia, Rasulullah SAW benar-benar merupakan interpretasi praktis dalam
menghidupkan hakikat ajaran, adab, dan syariat al-Qur‟an yang melandasi ruh
pendidikan Islam serta penerapan metode pendidikan Qurani yang terdapat di
dalamnya.

d. Pendidikan melalui Metode Ibrah dan Mau’idzah
Pendidikan melalui metode ibrah dan mau‟idzhah adalah suatu metode

pengajaran yang ditampilkan di dalam al-Qur‟an dan al-Sunnah. Secara harfiah, ibrah
berarti pelajaran. Dan yang dimaksud dengan pendidikan melalui metode ibrah adalah
suatu langkah pendidikan yang dilakukan dengan mengambil pelajaran dari kisah
orang-orang dahulu, kejadian di alam sekitar, tegak dan hancurnya suatu bangsa,
binasanya suatu kaum, dan seterusnya. Bagaimana dan mengapa Fir‟aun, Qarun,

6

Haman dihancurkan Allah SWT dan mengapa pula kaum Nuh, Hud, Shalih, Syu‟aib
(Qs. al-A‟raf: 59-136) juga dibinasakan, merupakan kisah nyata yang harus diambil
ibrahnya. Oleh generasi yang hidup kemudian. Itulah sebabnya al-Qur‟an dalam ayat
terakhir surat Yusuf berpesan: Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat
pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur‟an itu bukanlah cerita
yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan
menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang
beriman (Yusuf: 11).

Sedangkan mau‟idzah, secara harfiah berarti tadzkirah, yaitu nasehat. Metode
mau‟idzah ini dapat dilakukan melalui ceramah, khutbah, dan dilakukan dengan
penuh kekhusukan, keheningan, menyentuh kalbu, dan pada umumnya diperankan
oleh orang yang alim dan berpengetahuan. Metode ini pernah diterapkan Nabi SAW
dihadapan para sahabatnya.

e. Pendidikan melalui Metode Targhib dan Tarhib
Targhib adalah anjuran kepada kebaikan yang diiringi dengan janji yang baik

pula berupa kesenangan dan kenikmatan akhirat. Sedangakan Tarhib adalah larangan
terhadap sesuatu yang disertai dengan ancaman berupa siksaan dan azab di kemudian
hari. Metode ini bertujuan untuk mendidik orang agar taat dan patuh serta lebih
mencintai Allah dan Rasulnya-Nya dari pada selain keduanya, dan kemudian
menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarangnya. Metode ini didasarkan atas fitrah
manusia, yaitu sifat kejiwaan manusia yang cenderung suka kepada kesenangan,
keselamatan, dan tidak menginginkan kepedihan dan kesengsaraan.

Di dalam al-Qur‟an, banyak ayat mencontohkan metode ini dalam rangka
mendidik umat manuisa agar tunduk terhadap ketentuan-ketentuan Allah dan
menjauhi segala laranganNya, diantaranya, surat Maryam 68 – 72:

 Ayat 68, artinya “Demi Tuhanmu, Sesungguhnya akan kami bangkitkan
mereka bersama syaitan, Kemudian akan kami datangkan mereka ke sekeliling
Jahannam dengan berlutut.”

 Ayat 69, artinya “Kemudian pasti akan kami tarik dari tiap-tiap golongan siapa
di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah.”

 Ayat 70, artinya “Dan Kemudian kami sungguh lebih mengetahui orang-orang
yang seharusnya dimasukkan ke dalam neraka.”

7

 Ayat 71, artinya “Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan
mendatangi neraka itu. hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang
sudah ditetapkan.”

 Ayat 72, artinya “Kemudian kami akan menyelamatkan orang-orang yang
bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam
keadaan berlutut.”
Keistimewaan pemberian pendidikan melalui metode ini adalah ia langsung

menyentuh kalbu dan perasaan manusia sehingga dapat menjadikannya sebagai
seorang muslim yang taat dan taqwa kepada Allah SWT.

8

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Salah satu keistimewaan al-Qur‟an terletak pada metodenya yang menakjubkan dan
unik tentang konsep pendidikan. Ia mampu menciptakan individu yang beriman, dan
senantiasa mengesakan Allah, serta mengimani hari akhir. Al-Qur‟an dapat memberikan
kepuasan nalar yang sejalan dengan fitrah manusia tanpa unsur paksaan, dan di sisi lain
dibarengi dengan pengutamaan afeksi dan emosi manusiawi. Dengan demikian al-Qur‟an
mampu mengetuk akal dan hati sekaligus. Sementara al-Sunnah mempunyai dua fungsi
utama dalam pendidikan Islam. Pertama, menjelaskan konsep dan kesempurnaan
pendidikan Islam sesuai konsep al-Quran. Kedua, menjadi contoh yang tepat dalam
penentuan metode pendidikan.

9

DAFTAR PUSTAKA
Prof. Dr. Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibani, Filsafat Pendidikan Islam,

terjemahan Hasan Langgulung, Cet. 1, Bulan Bintang, Jakarta, 1979
Prof. Dr. Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Kalam Mulia, 1994
Dr. Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Cet. 3, Remaja
Rosdakarya, Bandung, 2000
Muhammad Yusuf Hasan, Pendidikan Anak dalam Islam, Terjemahan Muhammad
Yusuf Harun, Darul Haq, Jakarta, 1998
Drs. H. Abd. Halim Soebahar, M.A., Wawasan Baru Pendidikan Islam, Cet. 1 Kalam
Mulia, Jakarta 2002
Abdurrahman al-Nawawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat,
terjemahan Shihabuddin, Cet. 2, Gema Insani Press, Jakarta, 1996.
Abdul Majid bin Aziz Al-Zindani, dkk., Mukjizat Al-Qur‟an dan As-Sunnah tentang
IPTEK, Gema Insani Press, Jakarta , 1997.
Mukhtasar Shahih Bukhari, Cet. 7, al-Yamamah Li al-Thiba‟ati wa al-Nasyri wa al-
Tauzi, Bairut, 1420 H – 1999 M.
Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al-Lu‟lu‟ wal Marjan fima Ittafaa „Alaihis Syaikhain,
Darul Fikri, Vol. 2, t.t
Mustafa Said al-Khinn, dkk., Nahatul Muttaqin Syarh Riyadus Shalihin Lin Nawawi,
Cet. 21, Muassasah Ar Risalah, Baerut, 1414 h – 1993 M.
Ibrahim Mustafa, dkk. Al-Mu‟jam al-Wasith, al-Maktabah al-Islamiyah, Istambul,
Turki, t.t.

10


Click to View FlipBook Version