The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Jesika Andriani Sijabat, 2023-06-03 13:49:55

PROJEK KSDA_BUKU PEMANFAATAN DAN PENGELOLAAN MANGROVE

PROJEK KELOMPOK 4, GEO E 2020

Keywords: Buku Pemanfaatan dan Pengelolaan Mangrove

51 4. Pertimbangkan dengan cermat risiko atau alasan mengapa proyek mungkin gagal. 5. Kembangkan proses yang memungkinkan keputusan yang masuk akal dibuat, yang didasarkan pada sains. 6. Memastikan partisipasi yang setara tidak hanya oleh tokoh masyarakat tetapi juga anggota masyarakat marjinal. Proses perencanaan yang komprehensif, seperti metode ZOPP (Ziel Orientierte Project Planung = objectives oriented project planning) (GTZ, 1997) atau The Conceptual Model Approach to Planning Projects (Margoulis & Salafsky, 1998), keduanya sangat teliti, dan disarankan untuk perencanaan proyek multi-pemangku kepentingan skala besar. Untuk tujuan manual ini, mengajukan proses perencanaan 6 langkah sederhana, yang sesuai untuk pengguna sumber daya alam langsung pedesaan. Metode ini disatukan dari kegiatan asli yang digunakan oleh MAP selama pelatihan EMR, serta kegiatan dari program IPM Komunitas FAO dan Jaringan Pendidikan Lingkungan Sungai Global (GREEN) untuk digunakan di sekolah lapang petani dan program penelitian tindakan / pemecahan masalah, dan telah diadaptasi untuk digunakan dalam komunitas bakau. Hal ini juga sejalan dengan proses yang digunakan dengan Forest Management Learning Groups (FMLG's) sejenis sekolah lapangan untuk rimbawan masyarakat. Implementasi adalah proses fisik melakukan proyek rehabilitasi berdasarkan desain yang dikembangkan dalam tahap perencanaan. Fase proses rehabilitasi ini dapat dicapai hanya dengan kerja manual, dengan bantuan alat berat, atau campuran keduanya. Di negara-negara berkembang, masyarakat lokal sering kali ingin terlibat


52 dalam fase pekerjaan ini untuk mendapatkan bayaran, meskipun tingkat kesukarelaan penting untuk dibangun ke dalam program untuk memastikan tingkat kepemilikan yang lebih tinggi setelah pekerjaan rehabilitasi. Proyek skala besar > 100 ha, biasanya membutuhkan penggunaan alat berat, terutama jika diperlukan pemindahan tanah yang cukup besar, seperti pembobolan dinding tanggul, penggalian anak sungai pasang surut, mengisi parit drainase buatan manusia atau substrat regrading. Analisis biaya rehabilitasi menggunakan tenaga kerja manual vs. alat berat mungkin diperlukan untuk menentukan pendekatan terbaik. Implementasi mungkin memerlukan serangkaian langkah tergantung pada jenis bakau, tujuan dan sasaran proyek Anda, dan tingkat degradasi. Langkah-langkah dalam implementasi dapat dipecah menjadi meliputi; persiapan lokasi, perbaikan hidrologi, amandemen ekologis, survei as-built, pemantauan, pemeliharaan, dan koreksi tengah kursus. Persiapan Lokasi Selama persiapan lokasi, lokasi proyek diubah baik untuk memungkinkan proses alami beroperasi atau untuk mempersiapkannya untuk intervensi manusia tambahan. Kegiatan umum dalam tahap ini meliputi: Memasang papan nama untuk membuat masyarakat lokal mengetahui proyek Menghilangkan spesies yang tidak diinginkan (mis: Acrostichum aureum, vegetasi di dinding tanggul) Meratakan gundukan lobster lumpur (Thalassina spp) Membuang sampah Mengubah tanah dengan nutrisi, kapur dolomit, kompos atau perangkat tambahan lainnya


53 Membawa tanah atau substrat yang sesuai Memagari ternak yang merumput Menyiapkan jaring pelindung untuk mengurangi risiko sedimen terkikis yang mengganggu ekosistem di dekat pantai J. Pelibatan Masyarakat dan Pemberdayaan Perempuan Pesisir Pengelolaan berbasis masyarakat disini merupakan penggunaan dari sumberdaya yang penting yaitu masyarakat juga harus menjadi pemeran pengelola sumberdaya tersebut.Keterlibatan masyarakat dibutuhkan untuk kepentingan pengelolaan dengan berkelanjutan pada sumberdaya, dan secara umum kelompok masyarakat yang berbeda akan berbeda pula untuk kepentingannya pada sumberdaya tersebut. Pengelolaan sumberdaya tidak akansukses tanpa melibatkan semua pihak yang mempunyai kepentingan. Suatu pembangunan berbasis masyarakat bisa terbentuk, ketika ada suatu kelompok berkolaborasi, sebab mereka sadar tidak mampu mengerjakan suatu tugas secara individu dan tidak sanggupmeraih tujuan secara individu baik akibat sifat dari tugas atau tujuan itu sendiri, ataupun akibat keterbatasan sumber-sumber.Kebersamaan dan kesamaan dalam kepedulian dan perhatian, biasanya dapat menyatukan masyarakat.Apabila kebersamaan itu melembaga, sertamembangkitkan rasa saling percaya, rasa kesetiakawanan, terciptanya aturan-aturan main, maka inilah landasan dari terbentuknya basis masyarakat.Maka strategi yang tepat untukdilaksanakandalam menangani permasalahan yang mempengaruhi lingkungan pesisir dengan partisipasi aktif dan bentuk nyata dari masyarakat pesisir itu sendiri.Dengan adanya partisipasi dari masyarakat menjadikan hal yang penting dalam upaya pengelolaan hutan mangrove berbasis masyarakat.Pelaksanaan program yang gagal mengikutsertakan masyarakat


54 sejak awal program sehingga banyak program dan kegiatan pengelolaan yang kurang berhasil. Masyarakat pesisir keseluruhannya perlu memperoleh pengertian bahwa hutan mangrove yang direhabilitasi tersebut ke depannya akan menjadi milik masyarakat dan untuk masyarakat, terutama yang berada di kawasan pesisir. Berdasarkan hasil penilaian sebelumnya – memastikan inklusi perempuan, anggota masyarakat miskin dan rentan. Mengadakan pertemuan desa yang inklusif untuk membahas pelaksanaan proyek, peran, tanggung jawab, upah dan pengeluaran secara transparan. Libatkan masyarakat luas untuk menentukan jenis dan jumlah layanan dalam bentuk barang yang akan mereka berikan pada proyek. Penjangkauan ke komunitas lain, seperti mahasiswa, klub lingkungan, dll., Untuk bergabung dengan restorasi sebagai sukarelawan. Proses rehabilitasi adalah kerja keras, tetapi dapat dijadikan kesenangan juga. Jadikan itu acara sosial. Undang media, makan banyak makanan dan minuman. Libatkan Pemuda Lumpur = menyenangkan. Mempromosikan fakta bahwa proyek ini lebih dari sekadar menanam bakau. Publikasikan metode EMR dan juga hasil yang diantisipasi. Ambil tindakan pencegahan keamanan yang diperlukan. Adakan pengarahan keselamatan. Siapkan peralatan keselamatan dan pertolongan pertama. Memiliki bantuan medis di tangan. Perbaikan Hidrologi Metode Umum Perbaikan Hidrologi dapat mencakup :


55 Menembus dinding tanggul dan tanggul secara strategis Mengisi saluran drainase buatan Menggali anak sungai pasang surut berukuran sesuai Gundukan tanah untuk membangun tambalan yang ditinggikan Re-grading tanah yang ada Menempatkan dan menilai tanah baru Menempatkan alat pemecah gelombang Beberapa Teknik Yang Berhubungan dengan Perbaikan Hidrologi a) Pelanggaran Strategis b) Penggalian c) Penciptaan Sungai Pasang Surut d) Mengenai Situs yang Membutuhkan Fil e) Pemecah gelombang buatan f) Gundukan g) Membuat Open Water untuk Refugia Ikan h) Pembengkokan Pasang Surut i) Penciptaan Cekungan Belaka K. Perlindungan Hutan Mangrove Hutan mangrove sebagai suatu ekosistem juga sebagai sumberdaya alam pendayagunaannya ditujukandemi kesejahteraan manusia.Untuk mewujudkan pendayagunaannyahingga dapat berkelanjutan, maka hutan mangrove perlu dilestarikan keberadaannya (Kusmana, 2005).Pengelolaan hutan mangrove adalah suatu upaya pelestarian


56 serta perlindungan hutan mangrove agar menjadi kawasan hutan konservasi serta rehablitasi hutan mangrove semisal kegiatan penghijauan hingga mengembalikan nilai estetika juga fungsi ekologis kawasan hutan mangrove yang pernah ditebang dan dialihkan fungsinya pada kegiatan lain (Bengen, 2000). Hutan mangrove di pesisir pantai dan sungai umumnyamenyajikan habitat bagi beraneka jenis ikan (Kustanti, 2011). Hutan mangrove sebagai satudari berbagai lahan basah di kawasan tropis serta akses yang mudah dengan kegunanan komponen biodiversitas juga lahan yang tinggi membuat sumberdaya ini sebagai sumberdaya tropis yang kelestariannya akan terancam (Valiela et al., 2001). Hal tersebut menjadi salah satu pusat dari masalah lingkungan global yang adalah ekosistim pesisir yang sangat penting dalam mendukung keberlangsungan hidup berbagai biota laut (Kustanti, 2011).Lumrahnya ekosistim tersebut merupakan hutan yang berada disepanjang muara sungai atau pantai yang begitu dipengaruhi oleh keadaan pasang surut air laut. Kebijakan pengelolaan hutan mangrove di Indonesia diaturberlandaskan analisis terhadap isu-isue utama yang dijumpai dalam pelaksanaan pengelolaan ekosistem hutan mangrove.Terdapatsejumlah isu utama dalam pengaturan strategi pengelolaan hutan mangrove di Indonesia yaitu (Strategi Nasional hutan Mangrove Indonesia, 2004): 1) isu ekologi mencakup lebih dari 50% dari total luas hutan mangrove di Indonesia rusak hingga fungsi ekologis menurun, konservsi serta rehabilitasi yang diharapkan dapatmenaikkan fungsi ekologi; 2) isu ekonomi yang mencakup adanya perbedaan pemahaman mengenai nilai dan fungsi ekosistem mangrove diantara pengambil kebijakan dan masyarakat, yakni pemahaman masyarakat lokal dan perencanaan pengelolaan ekosistem mangrove belum maksimal, sebagaian besar keadaan masyarakat disekitar ekosistem mangrove masih terbilang miskin termasuk kegiatan pemberdayaan sumberdaya mangrove yang ramah lingkungan masih kurang; 3) isu kelembagaan mencakup koordinasi di antara lembaga terkait dengan pengelolaan ekosistem mangrove belum efektif, dan; 4) isu peraturan perundang–undangan pengelolaan ekosisitem mangrove yang belum


57 memadai, penegakan hukun dalam pengelolaan ekosisitem mangrove belum efisienserta belum adanya perlindungan yang memadai dalam strategi nasional pengelolaan ekosisitem mangrovenasiona


58 BAB VI PELESTARIAN HUTAN MANGROVE A. Pelestarian Hutan Mangrove Hutan mangrove merupakan suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut, terutama pantai yang terlindungi, laguna dan muara sungai yang tergenang pada saat surut yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap garam. Kerusakan mangrove dapat terjadi secara alami atau melalui tekanan masyarakat ataunulah manusia. Pada hakekatnya, hutan mangrove tersebut banyak mendukung terhadap sistem kehidupan berbagai macam biota. Untuk mengantisipasi hal-hal tersebut untuki memulihkan kondisi perairan pantai yang telah rusak dan menciptakan ekosistem pantai yang layak untuk kehidupan ikan, maka perbaikan perairan pantai yang telah rusak mutlak dilakukan dengan melestarikan mangrove. B. Penyebab Rusaknya Ekosistem Mangrove Hutan merupakan tipe ekosistem peralihan darat dan laut yang mempunyai multi fungsi, yaitu selain sebagai sebagai sumberdaya potensial bagi kesejahteraan masyarakat dari segi ekonomi, social juga merupakan pelindung pantai dari hempasan ombak. Oleh karena itu, dalam usaha pengembangan ekonomi kawasan mangrove seperti pembangkit tenaga listrik, lokasi rekreasi, pemukiman dan sarana perhubungan serta pengembangan pertanian pangan, perkebunan, perikanan dan kehutanan harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan kelestarian sumber daya wilayah pesisir.


59 C. Upaya Pelestarian Ekosistem Mangrove Ekosistem mangrove yang rusak dapat dipulihkan dengan cara restorasi/rehabilitasi. Restorasi dipahami sebagai usaha mengembalikan kondisi lingkungan kepada kondisi semula secara alami. Campur tangan manusia diusahakan sekecil mungkin terutama dalam memaksakan keinginan untuk menumbuhkan jenis mangrove tertentu menurut yang dipahami manusia. Dengan demikian, usaha restorasi semestinya mengandung makna memberi jalan/peluang kepada alam untuk mengatur diri sendirinya. D. Upaya Konservasi Hutan Mangrove Dewasa ini banyak sekali areal hutan mangrove dikonversi untuk berbagai kegiatan pembangunan, maka perlindungan di kawasan pesisir yang dianggap rawan terhadap kerusakan adalah suatu langkah yang sangat urgen dan tepat untuk dilakukan. Upaya perlindungan, pengawetan dan pelestarian alam dalam bentuk penyisihan areal sebagai kawasan suaka alam pada prinsipnya adalah untuk melestarikan habitat dengan tipe ekosistemnya, melindungi flora dan fauna yang terancam punah dan mengelola areal mangrove secara berkesinambungan. Perlindungan flora dan fauna dan ekosistem di Indonesia pada dasarnya telah tercakup dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1990, mengenai konservasi sumber daya hayati dan ekosistemnya. Pada dasarnya kebijakankebijakan tersebut memberikan suatu batasan yang sangat jelas, namun dalam pelaksanaan penghijauan harus menyertakan masyarakat setempat. Untuk mendukung keberhasilan program rehabilitasi dan konservasi hutan mangrove tersebut, maka seyogyanya instansi pemerintah setempat dan LSM dilibatkan untuk mengkoordinasi program, memonitor pelaksanaan program serta bertanggung jawab untuk memberikan penyuluhan tentang arti penting dari program yang dilakukan. E. Upaya Pemulihan dan Pendayagunaan Potensi Hutan Mangrove


60 Upaya menjaga kelestarian hutan mangrove dapat dilakukan melalui teknik Silvofeshery dan pendekatan bottom up dalam upaya rehabilitasi. Silvofeshery nerupakan teknik pertambakan ikan dan udang yang dikombinasikan dengan tanaman hutan mangrove. Usaha ini dilakukan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan dan memelihara ekosistem hutan mangrove sehingga terjaga kelangsungan hidupnya. Pendekatan secara bottom up yang merupaka suatu teknik dalam rehabilitasi hutan mangrove yang lebih banyak melibatkan masyarakat. Dengan demikian semua proses rehabilitasi (reboisasi) hutan mangrove yang dimulai dari proses penanaman, perawatan, penyulaman dilakukan oleh masyarakat sehingga masyarakat merasa memiliki dan akan selalu turut menjaga kelestarian hutan mangrove. Ada beberapa hal yang dapat dilaksanakan dalam upaya pelestarian hutan mangrove, yaitu : Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna yang mengkombinasikan antara teori dengan pengetahuan tradisional yang sudah terbentuk sebelumnya yang lebih mudah diterima dan dikembangkan sesuai dengan keadaan setempat. Perlu adanya peraturan-peraturan tertulis mengenai tanggung jawab pemerintah dan masyarakat akan kelangsungan ekosistem hutan mangrove berupa peraturan daerah.


61 BAB VII HUTAN MANGROVE DI INDONESIA A. Persebaran Hutan Mangrove di Indonesia (Gambar Peta Persebaran Mangrove Di Indonesia) Berikut adalah beberapa hutan mangrove yang terkenal di Indonesia : 1. Hutan Mangrove Di Pantai Muara Serdang, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara Desa Bagan Serdang, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, merupakan rumah bagi salah satu ekosistem mangrove. Mayoritas masyarakat yang tinggal di Desa Bagan Serdang bermata pencaharian sebagai Nelayan, oleh karena itu Desa Bagan Serdang sering disebut dengan kampung Nelayan. Masyarakat memanfaatkan mangrove untuk dijadikan olahan


62 makanan seperti Peyek, Kerupuk, dan daun mangrove yang dapat dijadikan sebagai selai,dodol, dan pewarna pakaian. Adapun Jenis mangrove yang ada di pantai muara serdang yaitu; 1) Mangrove Rhizophora Apiculata (bakau minyak), mangrove ini dikenal dengan mangrove Tandok, tandanya adalah kemerahan pada batang dan sisi bawah daun. Jenis mangrove ini banyak dimanfaatkan karena memiliki kandungan aktif yang bermanfaat, masyarakat pesisir memanfaatkannya sebagai obat. Batang, akar, dan kulit pohon bakau semuanya mengandung antioksidan alami. Ciri ciri Mangrove Rhizophora yaitu : Memiliki daun yang berwarna hijau tua, dengan biru muda ditengah dan merah dibagian bawah daun. Daunnya elips dan meruncing kebentuk kerucut. Bunga yang memiliki serbuk sari dan putik. Ujung tangkai kuning danberukuran kurang dari 14 mm. Memiliki buah yang kurang lebih berbentuk bulat dan memanjang, seperti buah pir, berwarna coklat dengan biji yang subur didalamnya.


63 2) Avvicennia Marina (mangrove api-api), mangrove ini dikenal sebagai kayu kendeka, kayu ting (manado). Pohon api memiliki akar yang bercabang dari akar horizontal yang terkubur didalam tanah dan tumbuh vertical secara berkala. Ciri-ciri mangrove api-api antara lain : Bentuk akarnya mirip paku panjang dengan bentuk rapat yang menjulang diatas permukaan lumpur dengan pangkal batang mengelilinginya. Daunnya berwarna hijau cerah dibagian atas. Bentuk buahnya menyerupai buah manga, ujung nya panjang dan tumpul dan berukuran sekitar 1 cm. Ketika pohon mangrove api-api sudah rusak, bahkan tumbang maka akan tumbuh tunas baru.


64 3) Acanthus Ili Cifolius L (Jeruju). Adapun ciri- ciri dari Mangrove jenis Acanthus Ili Cifolius L (jeruju) diantaranya adalah : Memiliki tinggi 0,5 – 2 meter Memiliki batang yang berduri panjang dan tajam, berbentuk bulat, silindris, agak lurus, permukaan nya licin. Tangkai daun berbentuk oval atau landsat, dengan pangkal tajam dan ujung berduri. Buah nya berukuran panjang kurang lebih 3 cm, berbentuk persegi dan lonjonng serta berwarna coklat tua.


65 d). Sonneratia Caseolaris (Pedada) : Pedad merupakan salah satu hutan mangrove yang terletak sepanjang garis pantai bersalinitas rendah dan berlumpur. Pedada adlah pohon yang hidup di rawa-rawa, dan mangrove dengan pohon berukuran kecil hingga sedang. Dengan tajuk yang ramping, cabang-cabang yang terkulai diujung dan banyak akar vertical disekitar batang. Daun tunggal bersebrangan, tangkai daunnya kemerahan dan pendek, benang sari sangat beragam dan cepat rontok.


66 B. Pemanfatan Hutan Mangrove Pantai Muara Serdang yang terletak di Desa Bagan Serdang, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang merupakan pantai yang disepanjang pesisirnya di kelilingi oleh hutan mangrove, yang pada saaat ini dijadikan kawasan Ekowisata. Dengan beragam jenis mangrove yang ada, dapat dijadikan sebagai olahan oleh masyarakat serta membuat daya tarik pengunjung untuk datang melihat langsung keindahan dari pantai muara serdang . hal ini membawa dampak kepada masyarakat yang tinggal di desa bagan serdang dalam hal ekonomi.


67 Hasil Olahan Mangrove Yang Dikelola Masyarakat Dari segi ekonomi mangrove memiliki banyak manfaat. Diantaranya dapat menjadi olahan makanan seperti : Daun mangrove jenis Acanthus Ili Cifolius L (Jeruju) dapat diolah menjadi olahan kripik dan juga peyek. Getah buah mangrove jenis Rizhophora Mucronata diolah menjadi berbagai jenis warna batik. Daun jeruju diolah menjadi produk olahan kerupuk dengan Brand “ Menggoda” merupakan hasil karya perempuan desa bagan serdang yang tergabung dalam kelompok ECO WOMAN. Daun mangrove dapat dijadikan olahan sirup, selai, dan dodol. 2. Hutan Mangrove Muara Angke di Jakarta Kawasan hutan bakau Muara Angke merupakan kawasan sebuah kawasan konservasi alam berupa kawasan hutan bakau yang ada di pantai utara daerah ibukota Jakarta. Keberadaan hutan bakau Muara Angke ini memang diperuntukkan untuk mencegah terkikisnya daratan kota Jakarta dan sebagai penyeimbang habitat alam yang ada disana. Kawanan burung juga menjadi salah satu hewan yang hidup disini. Ada 91 jenis burung yang bisa ditemukan di kawasan hutan Muara Angke ini. Pemanfaatan kawasan hutan sebagai tempat wisata juga bisa digunakan oleh masyarakat untuk aktivitas jalan-jalan menyusuri kawasan hutan dengan berjalan diatas jembatan kayu. 3. Hutan Mangrove Rembang, Jawa Tengah


68 Hutan bakau yang ada di daerah pesisir kabupaten Rembang di Jawa Tengah ini bukan hanya kawasan konservasi melainkan juga menjadi kawasan wisata yang sering dikunjungi oleh masyarakat pada saat liburan tiba. Kondisi alam yang memang sangat asri dan hijau menjadikan kawasan hutan bakau ini menjadi favorit masyarakat setempat untuk jalan-jalan santai. Hutan mangrove ini digunakan oleh ikan-ikan yang ada di perairan laut Jawa untuk melakukan proses bertelur secara alami 4. Hutan Mangrove Tapak-Tugurejo, Semarang, Jawa Tengah Jawa Tengah juga memiliki kawasan hutan bakau yang lainnya berada di wilayah kota Semarang di bagian pesisir yakni berada di daerah Tapak Tugurejo. Kawasan hutan wisata bakau yang satu ini menjadi salah satu andalan juga dalam kegiatan pariwisata alam di kota Semerang. Keberadaan hutan bakau Tapak Tugurejo ini membuat semacam proteksi untuk daerah pesisir seperti daerah kota Semarang yang memang terletak di tepi Laut Jawa. Yang menarik di kawasan hutan bakau ini adalah sarana transportasi menuju hutan yaitu menggunakan kereta kuda “andhong” yang merupakan kendaraan tradisional masyarakat Jawa. 5. Hutan Mangrove Tarakan di Kalimantan Timur Kawasan hutan bakau di daerah Tarakan ini berkisar di angka 21 hektar, dimana banyak ragam jenis tanaman mangrove yang bisa dinikmati oleh para pengunjung. Fungsi hutan bakau Tarakan ini juga sebagai kawasan penghasil udara bersih untuk masyarakat. Kegiatan penelitian sering dilakukan oleh para peneliti di kawasan hutan bakau ini dimana memang dilakukan untuk menjaga dan mengembangkan potensi hutan bakau Tarakan secara lebih optimal. Ikan Gelodok yang sering terlihat pada saat air laut surut membuat sebuah pemandangan yang unik karena kumpulan ikan ini akan meloncat-loncat mencari tempat perlindungan


69 karena adanya proses surut air laut yang membuat ikan Gelodok ini terlihat jelas oleh para pengunjung. 6. Hutan Bakau Margomulyo, Balikpapan, Kalimantan Timur Daerah Kalimantan Timur juga memiliki hutan bakau yang terkenal lainnya yaitu hutan bakau Margomulyo yang merupakan kawasan konservasi alam yang ditetapkan pemerintah dan sangat dilindungi keberadaannya oleh pemerintah. Berbagai macam burung yang sering terlihat disini menjadi sajian utama pemandangan kawasan hutan mangrove Margomulyo ini. Kumpulan kepiting dan siput laut juga menjadikan kawasan hutan ini sebagai tempat tinggal habitat mereka secara alami. 7. Hutan Bakau Kampung Nipah, Sumatera Utara Kawasan hutan bakau kampong Nipah ini merupakan kawasan wisata hutan yang berupa kumpulan tanaman mangrove namun yang unik adalah adanya daerah pantai yang berpasir putih yang sangat indah dan menawan yang sering disebut sebagai pantai Mangrove oleh masyarakat setempat. Jadi para pengunjung selain menikmati wisata hutan bakau, mereka juga bisa menikmati wisata pantai pasir putih yang berkilauan ini. Masyarakat setempat sering berkunjung ke tempat wisata ini bersama dengan keluarga untuk menghabiskan masa liburan. 8. Hutan Bakau Wanasari, Bali Bali juga memiliki kawasan hutan bakau yang digunakan juga sebagai tempat berwisata alam yaitu kawasan hutan bakau Wanasari. Di kawasan hutan ini dibangun Pusat Informasi Mangrove yang sering didatangi oleh para peneliti baik dalam negeri maupun peneliti dari luar negeri untuk melakukan penelitian dan juga saling bertukar informasi seputar hutan bakau. Dengan adanya hutan bakau Wanasari ini menjadikan Bali memiliki cagar alam yang berguna untuk mencegah


70 proses abrasi air laut yang tentu membuat keuntungan tersendiri bagi alam yang ada di pulau Bali ini. Pengunjung bisa melihat beraneka macam burung yang mendiami hutan bakau ini melalui menara pengawwas dengan teropong yang disediakan pihak pengelola. Tujuh hutan bakau diatas merupakan bagian dari kawasan hutan bakau yang jumlahnya sangat banyak di Indonesia. Indonesia menjadi acuan utama dalam penjagaan dan pengembangan hutan bakau yang ada di dunia, dimana Indonesia memiliki peranan penting sebagai penyumbang hutan bakau yang ada di dunia, dimana Indonesia memiliki peranan penting sebagai penyumbang hutan bakau terbesar di dunia. Keberadaan hutan bakau ini wajib kita pertahankan dan dijaga dengan baik agar keseimbangan antara daratan dan lautan terkelola dengan benar. C. Identifikasi Jenis – Jenis Pohon Mangrove di Indonesia Kata mangrove merupakan kombinasi antara bahasa Portugis mangue dan bahasa Inggris grove (Macnae, 1968). Dalam bahasa Inggris kata mangrove digunakan, baik untuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan pasang-surut maupun untuk individu-individu jenis tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut. Dalam bahasa Portugis kata mangrove digunakan untuk menyatakan individu jenis tumbuhan, dan kata mangal untuk menyatakan komunitas tumbuhan tersebut. Menurut Aksornkoae (1993), hutan mangrove adalah tumbuhan halofit yang hidup disepanjang areal pantai yang terletak diantara pasang tertinggi sampai daerah yang mendekati ketinggian rata-rata air laut, atau lebih tinggi dari permukaan air laut, yang tumbuh di daerah tropis dan sub-tropis.


71 Adapun ekosistem mangrove adalah merupakan suatu sistem yang terdiri atas organisme (tumbuhan dan hewan) yang berinteraksi dengan faktor lingkungan dan dengan sesamanya di dalam suatu habitat mangrove. Ruang lingkup sumberdaya mangrove secara keseluruhan terdiri atas : 1. Satu atau lebih jenis tumbuhan yang hidupnya terbatas hanya di habitat mangrove. 2. Jenis tumbuhan yang hidupnya di habitat mangrove, namun juga dapat hidup di habitat non-mangrove. 3. Biota yang berasosiasi dengan mangrove (biota darat dan laut, lumut pohon, cendawan, ganggang, bakteri dan lain-lain), baik yang hidupnya menetap, sementara, sekali-sekali, biasa ditemukan, atau terbatas hanya di habitat mangrove. 4. Proses-proses alamiah dinamis yang berperan dalam mempertahankan ekosistem ini, baik yang berada di daerah bervegetasi maupun di luarnya. 5. Mud flat (dataran lumpur) yang berada antara batas hutan sebenarnya dengan laut. 6. Penduduk yang tinggal, baik di dalam maupun di sekitar hutan mangrove. Tomlinson (1984) membagi flora mangrove menjadi tiga kelompok, yakni : 1. Flora mangrove sejati (flora mangrove sebenarnya), yakni flora yang hanya tumbuh di habitat mangrove, berkemampuan membentuk tegakan murni dan secara dominan mencirikan struktur komunitas, secara morfologi mempunyai bentuk-bentuk adaptif khusus (bentuk akar napas / udara dan viviparitas) terhadap lingkungan mangrove, dan mempunyai mekanisme fisiologis dalam mengontrol garam (mengeluarkan garam untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan). Contohnya adalah jenisjenis dari genus Avicennia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Kandelia, Sonneratia, Lumnitzera dan Nypa.


72 2. Flora mangrove penunjang (minor), yakni flora mangrove yang tidak mampu membentuk tegakan murni, sehingga secara morfologis tidak berperan dominan dalam struktur komunitas, contohnya adalah Excoecaria, Xylocarpus, Heritiera, Aegiceras. Aegialitis, Acrostichum, Camptostemon, Scyphiphora, Pemphis, Osbornia dan Pelliciera. 3. Tumbuhan asosiasi mangrove, yakni flora yang berasosiasi dengan tumbuhan mangrove sejati dan penunjang, contohnya adalah jenis-jenis dari genus Cerbera, Acanthus, Derris, Hibiscus, Calamus, dan lain-lain. Beberapa faktor lingkungan yang penting dalam mempengaruhi zonasi mangrove adalah : 1) Pasang surut, yang secara tidak langsung mengontrol dalamnya muka air (water table) dan salinitas air serta tanah. Secara langsung arus pasang surut dapat menyebabkan kerusakan terhadap anakan. 2) Tipe tanah, yang secara tidak langsung menentukan tingkat aerasi tanah, tingginya muka air dan drainase. 3) Kadar garam tanah dan air, yang berkaitan dengan toleransi species terhadap kadar garam. 4) Cahaya, yang berpengaruh terhadap pertumbuhan anakan dari species intoleran seperti jenis-jenis dari genus Rhizophora, Avicennia dan Sonneratia. Hutan mangrove dikenal juga dengan istilah tidal forest, coastal woodland, vloedbosschen, dan hutan payau (bahasa Indonesia). Penyebaran hutan mangrove terbatas dari daerah tropika sampai 320 LU dan 380 LS. Menurut Chapman (1975), penyebaran hutan mangrove di dunia dibagi ke dalam dua kelompok yaitu :


73 1. The Old World Mangrove yang meliputi Afrika Timur, Laut Merah, India, Asia Tenggara, Jepang, Filipina, Australia, New Zealand, Kepulauan Pasifik dan Samoa. Kelompok ini disebut pula Grup Timur. 2. The New World Mangrove yang meliputi pantai Atlantik dari Afrika dan Amerika, Meksiko, dan pantai Pasifik Amerika dan kepulauan Galapagos. Kelompok ini disebut pula Grup Barat. Struktur dan komposisi mangrove di Indonesia lebih bervariasi bila dibandingkan dengan wilayah lain. Di Indonesia dapat ditemukan tegakan Avicennia marina dengan ketinggian 1-2 m pada pantai yang tergenang air laut terus menerus, hingga tegakan campuran Bruguiera-Rhizophora-Ceriops dengan tinggi lebih dari 30 m. Pada pantai terbuka, dapat ditemukan jenis Avicennia alba dan Sonneratia alba, sementara di sepanjang sungai yang mempunyai salinitas yang lebih rendah banyak ditemukan jenis palem Nypa fruticans dan Sonneratia caseolaris. Dilain pihak kawasan mangrove sekunder, didominasi oleh anakan mangrove dan berbagai jenis semak atau herba, misalnya Acanthus ilicifolius dan Acrostichum aureum. Di Indonesia sendiri terdapat perbedaan dalam hal keragaman jenis mangrove antara satu pulau dengan pulau lainnya. Dari 202 jenis mangrove yang telah diketahui, 166 jenis terdapat di Jawa, 157 jenis di Sumatera, 150 jenis di Kalimantan, 142 jenis di Irian Jaya (Papua), 135 jenis di Sulawesi, 133 jenis di Maluku dan 120 jenis di Kepulauan Nusa Tenggara. Sebaran jenis mengrove di pulau-pulau di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 1


74 Dalam hal fisiografi, kondisi yang menguntungkan untuk mangrove adalah adanya teluk dangkal yang terlindung, estuaria, laguna, dan sisi semenanjung atau pulau dan selat yang terlindung. Meskipun keberadaan rawa-rawa mangrove tidak tergantung pada iklim, dan ditemukan pada kondisi yang selalu basah ataupun pengaruh musiman


75 (Tomlinson, 1986; Percival and Womersley, 1975), tetapi keberadaan mangrove yang luas, nampaknya bergantung pada tujuh faktor dasar berikut ini (Chapman, 1975b) : 1. Suhu Udara 2. Arus Laut 3. Perlindungan 4. Pantai yang dangkal 5. Air masin 6. Kisaran pasang surut 7. Substrat lumpur Proses ekologis internal yang menyebabkan bisa dipertahankannya dan bisa diperbaharuinya ekosistem mangrove adalah bergantung pada proses eksternal berikut ini : 1. Percampuran antara air masin (pasang surut) dengan air tawar (air sungai) yang seimbang. 2. Pasokan hara yang memadai. 3. Substrat yang stabil. Menghilangkan satu atau lebih dari faktor-faktor tersebut akan merusak atau menghilangkan sifat terbarukan dari sumberdaya tersebut. Secara floristik, jenis tumbuhan di hutan mangrove dapat dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu kelompok mangrove utama, kelompok mangrove penunjang dan assosiasi mangrove (Tomlinson, 1984). A. Kelompok Mangrove Utama Jenis yang termasuk ke dalam kelompok mangrove utama ini memiliki karakteristik berikut: a. Hanya hidup di habitat mangrove, tidak dapat tumbuh menyebar ke daratan.


76 b. Berperan penting dalam struktur komunitas mangrove dan mampu membentuk tegakan murni. c. Memiliki morfologi spesifik sebagai hasil adaptasi terhadap lingkungan, seperti adanya akar permukaan (akar napas / akar udara) dan buah vivipar. d. Secara fisiologis memiliki mekanisme untuk mengeluarkan garam dari tubuhnya. e. Relatif terisolasi secara taksonomi dari komunitas daratan, minimal pada level marga (genus). Contoh Mangrove Utama : Figure 1 Avicennia alba Blume 1826


77 B. Kelompok Mangrove Penunjang Jenis dari kelompok mangrove penunjang ini mereka banyak tumbuh di tepi atau batas luar habitat mangrove serta jarang membentuk tegakan atau komunitas murni. Contoh Mangrove Penunjang : Figure 2 Aegiceras corniculatum (L.) Blanco 1837 C. Kelompok Tumbuhan Asosiasi Mangrove Tumbuhan asosiasi mangrove ini tidak pernah menjadi penghuni komunitas mangrove sejati. Mereka ditemukan hanya sebagai vegetasi transisi. Jumlah mereka


78 belum bisa dipastikan dan baru bisa diperkirakan secara subyektif, dan tentu saja jumlah ini akan bertambah, terutama bila tumbuhan tak berkayu dimasukkan. Keberadaan mangrove merupakan salah satu sifat utama wilayah pesisir di Indonesia, dan memainkan peranan penting dalam perlindungan dan pengembangan wilayah pesisir. Pemanfaatan mangrove di Indonesia dapat dipandang, baik dari segi penggunaan produknya (produk langsung dan tak langsung) maupun dari segi ekosistem mangrovenya itu sendiri. konversi mangrove menjadi bentuk penggunaan lahan yang lain telah mencapai taraf yang cukup memprihatinkan, dan di beberapa tempat hal ini terjadi secara besar-besaran (misalnya di Sulawesi). Konversi mangrove telah terjadi untuk pembangunan pelabuhan laut dan udara (misalnya di Bali), pembangunan pemukiman dan marina (misalnya di Jakarta), areal industri, ladang garam, tambak ikan dan kegiatan pertanian, yang sekarang terjadi secara meluas di Indonesia. Desakan untuk mengkonversi mangrove tidak bisa dibiarkan terus menerus kalau jasa dan produk-produk mangrove ingin dipertahankan. Mangrove di Indonesia tidak hanya menghasilkan produk fisik, tapi juga menyediakan hal yang lebih penting, yaitu fungsi ekologis, yang manfaatnya sangat luas terhadap lingkungan dan manusia, yakni : 1. Sebagai tempat pembiakan, bertelur, pembesaran, mencari makan, dan tempat tinggal bagi beberapa ikan jenis komersil, kerangkerangan, udang-udangan, moluska (hewan lunak), dan satwa liar lainnya, misalnya burung. 2. Sebagai penyangga terhadap ombak dan badai yang kuat. 3. Sebagai pelindung garis pantai, dan pantai berpasir serta mencegah intrusi air laut. 4. Sebagai tempat perlindungan satwa liar dan sebagai tempat rekreasi.


79 Keberadaan mangrove adalah sangat menguntungkan karena menghasilkan banya produk berharga, sambil juga memberikan banyak fungsi secara gratis (misalnya mendukung habitat satwa liar, kelestarian lingkungan, pendidikan, dan sebagainya) kepada masyarakat pesisir yang seringkali padat penduduknya. Dalam hal ini mangrove akan terus dimanfaatkan oleh penduduk pesisir untuk kepentingan ekonomis mereka pada tingkat subsisten. Nilai-nilai dan kegunaan sumberdaya mangrove adalah sangat beragam dan sangat penting bagi kondisi sosisal-ekonomi di Indonesia (Wind 1924). Peranan penting mangrove berasal dari produk langsung dan tak langsung serta dari manfaat yang disediakan mangrove didalam dan diluar wilayah mangrove itu sendiri. Sebagai sumber produk, mangrove Indonesia telah dieksploitasi secara ekonomis, terutama untuk kehutanan dan perikanan. Dengan berjalannya waktu dari tahun ke tahun, eksploitasi mangrove telah bergeser dari pengumpulan produk hutan dan perikanan secara sederhana, ke pengumpulan berskala komersil, misalnya pada Mangrove Bintuni di Papua. Penggunaan mangrove yang tercatat zaman dahulu, terkait dengan produk-produk (hasil) langsung dan tak langsung yang bisa diperoleh dari mangrove, yang kebanyakan terkait dengan kehutanan, pertanian, perikanan dan kegiatan budaya. A. Manual Penanaman Mangrove Tujuan penanaman mangrove adalah untuk merehabilitasi mangrove yang rusak atau membangun suatu hutan tanaman mangrove. Tujuan kegiatan penanaman tersebut harus didefinisikan dengan jelas dari awal, sebab tujuan ini nanti akan menentukan diantaranya jenis yang akan ditanam, jarak tanam, dan lamanya daur. Sebagai contoh, penanaman untuk tujuan rehabilitasi lahan, seyogyanya menggunakan jarak tanam yang lebih rapat


80 dibandingkan dengan tujuan penanaman untuk menghasilkan hasil hutan tertentu (kayu, chip, arang, dsb). Selain itu, penanaman untuk rehabilitasi lahan yang rusak, cenderung menggunakan spesies yang bersifat pionir, seperti Avicennia marina dan Sonneratia alba, sedang untuk produksi kayu pertukangan atau kayu bakar, cenderung menggunakan spesies yang memiliki kualitas kayu lebih baik seperti Bruguiera gymnorrhiza, Rhizophora mucronata, Rh. Stylosa atau Rh. apiculata. Adapun tahapan penanaman mangrove dapat dilihat pada gambar dibawah ini. Figure 1 Diagram alir kegiatan penanaman mangrove Dalam penanaman mangrove, mula mula perlu ditentukan dulu areal mana saja yang bisa ditanami mangrove. Beberapa pedoman untuk memilih lokasi yang bisa ditanami mangrove adalah sebagai berikut :


81 1. Lokasi terbaik untuk penanaman mangrove terletak pada ketinggian lahan diantara permukaan laut rata-rata sampai permukaan rata-rata pasang tertinggi. 2. Mangrove akan tumbuh lebih baik pada lahan yang sedikit miring dibanding pada lahan yang benar-benar datar dimana air cenderung menggenang dan titik mengalir. 3. Lokasi yang akan dijadikan areal penanaman bukan merupakan lahan yang ditumbuhi oleh rumput laut. 4. Mangrove akan tumbuh lebih baik pada tanah lumpur yang relatif stabil. 5. Lokasi yang akan ditanami mangrove harus terlindung dari ombak laut dan angin yang kuat, serta terhindar dari erosi. 6. Tempat-tempat tertentu yang tanahnya hitam dan mengeluarkan bau yang menyengat, tidak bisa ditanami mangrove dengan hasil yang baik. Penentuan lokasi penanaman tersebut dilakukan dengan suatu survey lapangan dengan bantuan peta topografi yang diusahakan berskala maksimal 1 : 25.000, yang menunjukkan lokasi sungai, jalan, saluran air dan insfrastruktur lainnya.selain itu juga dianjurkan untuk memanfaatkan peta-peta lainnya misalnya peta klasifikasi penggunaan lahan, atau peta tata guna lahan, dan peta vegetasi yang menunjukkan penyebaran vegetasi. Selanjutnya lokasi penanaman tersebut digambarkan dalam peta kerja dengan skala maksimal 1 : 5000, dan batas-batasnya dilapangan ditandai dengan menggunakan patokpatok bambu yang di cat dengan warna menyolok, atau patok lainnya yang bentuknya lebih permanen. Keberhasilan penanaman mangrove membutuhkan pemeliharaan yang tepat. Aktivitas ini terutama diperlukan pada awal tahun penanaman. Adapun praktek pemeliharaan yang dilakukan adalah sebagai berikut :


82 1. Penyiangan, pada tahap penyiangan dilakukan 2 kali dalam setahun dan dilakukan setelah tanaman mangrove mencapai tinggi 2 meter. 2. Penyulaman, pada tahan penyulaman ini merupakan tahap dimana penanaman semai mangrove untuk menggantikan tanaman yang mati. 3. Penjarangan, tahap ini merupakan tahap penebangan sebagian pohon yang masih muda atau terkena hama dengan maksud memberikan ruang tumbuh yang ideal bagi pohon lainnya sehingga akan diperoleh tegakan mangrove dengan kualitas yang lebih baik. 4. Kontrol terhadap faktor-faktor perusak, faktor-faktor perusak yang dapat menyebabkan kegagalan penanaman mangrove, diantara nya adalah Kepiting ( terutama Sesarma dan Chiromantes ), kera/monyet, arus air laut, teritip, tumbuhan paku, hama serangga dan organisme lain, kambing, manusia, erosi pantai, pencemaran oleh minyak atau partikel-partikel lain, sampah dan rumput laut. 5. Pemangkasan, pada tahap ini biasanya dilakukan terhadap tanaman yang ditanam di tambak, pinggir sungai atau saluran air. Tujuan dari pemangkasan ini sendiri ialah untuk membuat pohon kelihatan rapi, memudahkan melihat orang di tambak terutama di malam hari, dan menstimulasi pertumbuhan tanaman.


83


84 BAB VIII PENYEBAB RUSAKNYA HUTAN MANGROVE A. Penyebab Kerusakan Hutan Mangrove Kondisi hutan mangrove di Indonesia semakin memprihatinkan. Sejumlah data mengungkap, laju kerusakan mangrove di Indonesia, tercepat di dunia. Indonesia memiliki sekitar 3 juta hektar hutan mangrove (data Cifor, Desember 2015). Mangrove sebagai salah satu sumber daya alam yang tumbuh di kawasan pantai, merupakan ekosistem unik. Ekosistem hutan mangrove menjadi ekosistem penyambung atau interface antara daratan dan lautan. Dampak hilangnya mangrove mulai dirasakan oleh masyarakat daerah pesisir. 1. Kerusakan Hutan Mangrove Kerusakan mangrove dapat terjadi secara alamiah atau melalui tekanan masyarakat. Secara alami umumnya kadar kerusakannya jauh lebih kecil daripada kerusakan akibat ulah manusia. Kerusakan alamiah timbul karena peristiwa alam seperti adanya topan badai atau iklim kering berkepanjangan yang menyebabkan


85 akumulasi garam dalam tanaman. Banyak kegiatan manusia di sekitar kawasan hutan mangrove yang berakibat perubahan karakteristik fisik dan kimiawi di sekitar habitat mangrove sehingga tempat tersebut tidak lagi sesuai bagi kehidupan dan perkembangan flora dan fauna di hutan mangrove. Kusmana (2003) mengemukakan lima faktor utama yang menyebabkan kerusakan pada kawasan mangrove, yaitu: a. Pencemaran b. Pembangunan dermaga c. Perluasan areal tambak d. Kurangnya perhatian terhadap faktor lingkungan dalam melakukan konversi area mangrove, dan e. Penebangan serta pencemaran yang berlebihan (pencemaran minyak, logam berat.) Konversi lahan juga dilakukan guna budidaya perikanan, pertanian, ekspansi jalan, kawasan industri, pemukiman, pertambangan dan penggalian pasir. - Konversi untuk pemukiman Salah satu penyebab terbesar kerusakan ekosistem hutan bakau adalah konversi untuk pemukiman. Penduduk Indonesia yang tinggal di radius 100 km dari garis pantai mencapai 96% dari total populasi. Hal ini karena wilayah pesisir menyediakan ruang kemudahan bagi aktivitas ekonomi seperti pasar, transportasi (pelabuhan, kapal), aksesbilitas dan rekreasi. - Konversi untuk tambak Meningkatnya harga udang windu di pasaran internasional membuka lahan pertambakan secara besar-besaran, dan areal yang dikonversi untuk pertambakan adalah hutan bakau. Kawasan hutan bakau dianggap paling cocok untuk lokasi pertambakan. Karena itu, potensi lahan untuk area tambak dihitung berdasarkan luas lahan mangrove yang ada. - Pengambilan kayu Tumbuhan mangrove yang berupa pohon kayu antara lain adalah bakau, tanjang, apiapi, pedada, nyirih, tengar dan buta-buta. Pohon-pohon di ekosistem hutan


86 bakau menghasilkan kayu yang berkualitas baik sehingga dapat dimanfaatkan untuk konstruksi bangunan dan kebutuhan rumah tangga (kayu bakar). Pengambilan kayu untuk bahan bangunan dan kayu bakar menyumbang kerusakan ekosistem hutan bakau, pengambilan kayu menyebabkan kegundulan, pada tahap selanjutnya terjadi abrasi pantai oleh gelombang pasang yang lama- kelamaan merusak faris pantai. - Pencemaran Pencemaran perairan, baik sungai, danau, perairan pesisir maupun laut dapat menyebabkan kerusakan ekosistem hutan bakau. Bahan polutan yang masuk kedalam sungai dapat tersangkut ke pesisir sehingga dapat menyebabkan kerusakan ekosistem hutan bakau. Pada umumnya bahan pencemar itu berasal dari kegiatan industry, pertanian, dan rumah tangga. Selain itu, pencemaran juga dapat berasal dari aktivitas lalu-lintas kapal yang terlalu tinggi melewati kawasan hutan bakau. -Ekploitasi Ekploitasi berlebihan terhadap hutan mangrove guna memanfaatkan kayu pohon dalam berbagai keperluan sehingga merusak ekosistem dan sumber daya alam kawasan tersebut. -Pengelolaan dan pemanfaatan wilayah pesisir yang belum terarah. Pengelolaan dan pemanfaatan kawasan pesisir, utamanya wilayah mangrove, belum dilakukan secara serius oleh pemerintah daerah melalui otonomi daerah. -Penegakkan hukum yang lemah Beberapa pihak yang terlibat dalam pengelolaan sumber daya hayati hutan bakau cenderung mengabaikan keadaan ekologi kawasan tersebut. Tindakan


87 hukum yang dilakukan secara tidak tegas memperparah dampak yang ditimbulkan oleh eksploitasi oleh pihak-pihak tersebut. -Pembuangan limbah produksi ataupun rumah tangga Pembuangan limbah produksi ataupun rumah tangga seringkali dibuang di kawasan sungai sehingga limbah mengalir ke arah hutan bakau -Rusaknya vegetasi mangrove „diakibatkan berbagai pemanfaatan kayu hutan yang dilakukan secara berlebihan oleh masyarakat. Kerusakan kawasan mangrove juga disebabkan oleh proses tebang pilih yang kurang tepat 2. Dampak yang Terjadi Akibat Hutan Mangrove Rusak 1. Abrasi Pantai Abrasi pantai adalah proses pengikisan pantai yang dikarenakan kekuatan gelombang laut dan arus laut yang kuat dan bersifat merusak, dan kerusakan atau abrasi pantai disebabkan oleh gejala alami dan ulah tangan manusia. Abrasi pantai tidak hanya membuat garis-garis pantai menjadi menyempit, bila dibiarkan bisa menjadi berbahaya terhadap pantai. Abrasi biasanya terjadi akibat penggundulan hutan bakau oleh manusia. Di Indonesia sendiri, banyak sekali terdapat hutan bakau, akan tetapi semakin lama semakin berkurang akibat penebangan yang melebihi batas yang ditentukan, untuk perdagangan, dan lain-lain. Mangrove dibutuhkan karena ditanam di pinggiran pantai, karena akar-akarnya mampu menahan ombak sehingga menghambat terjadinya pengikisan pantai. Sebagai contoh terjadinya abrasi pantai, yaitu : Abrasi di Kabupaten Indramayu Di daerah pesisir pantai wilayah kabupaten Indramayu terjadi abrasi mampu menenggelamkan daratan antara 2 hingga 10 m pertahun dan sekarang dari panjang


88 pantai 114 km telah tergerus 50 km. Dari 10 kecamatan yang memiliki kawasan pantai, hanya satu wilayah kecamatan yakni kecamatan Centigi yang hampir tidak memiliki persoalan abrasi. Hal ini karena di wilayah kecamatan Centigi memiliki kawasan hutan mangrove yang mampu melindungi kawasan pantai dari abrasi. Di daerah pesisir pantai wilayah kabupaten Karawang yaitu di kecamatan Pedes dan Cibuaya mempunyai tingkat abrasi yang cukup tinggi. Dampak lain dari adanya abrasi adalah menghancurkan rumah-rumah penduduk dan tambak-tambak udang dan bandeng yang berorientasi eksport milik warga setempat, yang menyebabkan kerugian dan mengurangi pendapatan dan roda perekonomian daerah tersebut. 2. Pencemaran Lingkungan Laut dan Dampaknya Pencemaran laut merupakan rusaknya kondisi laut akibat perbuatan manusia. Aktivitas manusia sehari-hari memegang peranan yang paling besar dan merupakan penyebab utama dari terjadinya polusi laut dunia. Lebih dari 80% polusi laut yang terjadi pada lautan berasal dari aktivitas yang terjadi di darat. Mulai dari hancurnya terumbu karang, penumpukan sampah, timbunan zat kimia berbahaya, sampai peningkatan suhu permukaan laut sehingga mengakibatkan tidak seimbangnya ekosistem yang ada di laut. Tumpahan minyak tentu berdampak pada banyak hal, diantaranya, terhadap kondisi lingkungan laut, biota laut, dan tentu saja berdampak pada ekonomi nelayan. Pencemaran minyak di laut juga merusak ekosistem mangrove. Minyak tersebut berpengaruh terhadap sistem perakaran mangrove yang berfungsi dalam pertukaran CO2 dan O2. hutan mangrove merupakan sumber nutrien dan tempat pemijah bagi ikan, dapat rusak oleh pengaruh minyak terhadap sistem perakaran yang berfungsi dalam pertukaran CO2 dan O2. Contoh terjadinya pencemaran lingkungan pantai yaitu


89 : Kasus yang terjadi di daerah Balikpapan yaitu pantai mengalami pencemaran yang cukup parah seperti yang cukup parah seperti pada tahun 2004 tercemar oleh limbah minyak. Pada tahun 2006, kerusakan terumbu karang dan ekosistem taman nasional itu diperkirakan mencapai 75 km. Kasus yang terjadi sekitar teluk Jakarta. Bengen (2001) mengemukakan bahwa dampak yang telah disebutkan diakibatkan oleh intervensi yang dilakukan manusia terhadap hutan mangrove, salah satunya peralihan fungsi kawasan mangrove demi keperluan mereka.Hal ini dikarenakan fungsi kawasan mangrove sebagai penyedia sumber daya alam yang berfungsi dalam kehidupan manusia, yakni pemenuhan keperluan rumah tangga serta industri.Dampak yang paling memengaruhi kawasan mangrove adalah hilangnya spesies flora dan fauna kawasan mangrove dalam jangka panjang.Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem mangrove dan pesisir.Oleh karena itu, Bengen (2001) menyarankan agar lebih memerhatikan isu sosial ekonomi, utamanya pemanfaatan hutan mangrove oleh manusia.Beberapa kegiatan industri, yakni budidaya perikanan atau pembuangan limbah, juga harus dipertimbangkan dengan matang. Terkait pengaruh faktor sosial-ekonomi, Dephut (2002) mengemukakan bahwa parameter sosial ekonomi yang sering digunakan untuk mengkaji kerusakan ekosistem mangrove di antaranya jumlah penduduk, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan pandangan masyarakat mengenai hutan mangrove.Hal ini mengindikasikan pentingnya pendekatan kelembagaan masyarakat guna menanggulangi kerusakan ekositem mangrove.Dahuri (2001) menyarankan agar kelompok atau lembaga swadaya masyarakat dibentuk untuk mengelola kawasan pesisir secara efektif.Hal ini senada dengan Wantasen (2002) yang mengemukakan bahwa keterlibatan berbagai pihak terkait dalam pengelolaan kawasan mangrove dapat mencegah kerusakan area tersebut.Penelitian yang dilakukan di kawasan Cagar


90 Alam Mutiara Hijau di Teluk Bintuni juga menyimpulkan pentingnya melibatkan lembaga swadaya masyarakat dalam menjaga kawasan mangrove (Sihite, 2005). Ekosistem mangrove menawarkan beragam manfaat kepada manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Hutan mangrove kaya akan sumber daya alam yang membantu beberapa industri serta berperan sebagai habitat beberapa fauna (Zaitunah, 2005). Namun pada kenyataannya, kerusakan pada kawasan mangrove terbilang cukup parah. Hal ini diakibatkan oleh beberapa faktor yang telah dibahas sebelumnya serta kecenderungan mengabaikan upaya pelestarian ekosistem.Savitri dan Khazali (1999) mengemukakan bahwa upaya konversi lahan mangrove yang tidak terkendali mengakibatkan terputusnya siklus hidup spesies ikan dan udang pada area tersebut.Hal ini memengaruhi jumlah pendapatan para nelayan kecil yang beroperasi di sekitar pantai. B. Kerusakan Akibat Faktor Alam Salah satu bentuk ekosistem yang memegang peranan penting di kawasan pesisir Indonesia adalah ekosistem mangrove. Kawasan mangrove di Indonesia diperkirakan memiliki luas 3,5 juta ha sehingga Indonesia dikenal sebagai negara dengan kawasan mangrove terluas di dunia (18-23% dari luas kawasan mangrove dunia). Beberapa negara yang memiliki kawasan mangrove yang luas adalah Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta ha) dan Australia (0,97 juta ha). Mangrove terluas di Indonesi terdapat di Papua sekitar 1.350.600 ha (38% dari luas kawasan mangrove di Indonesia), kemudian diikuti Kalimantan 978.200 ha (28 %) dan Sumatera 673.300 ha (19%). Mangrove dapat tumbuh maksimal pada pantai yang terlindungi meskipun di area lain tumbuhan tersebut juga dapat berkembang dan tumbuh dengan baik (Nur,


91 2006). Tingkat kerusakan sumberdaya pesisir, terutama pada wilayah pesisir dengan pembangunan yang pesat, semakin parah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yakni Eksploitasi yang tidak terkendali, Pencemaran, Penggunanan teknologi yang tidak ramah lingkungan, Abrasi pantai dan sedimentasi, gelombang laut, arus laut, angin, topografi pesisir, pasang surut, perpindahan muara sungai, dan tsunami. Kerusakan ekosistem pesisir berdampak pada penurunan kualitas habitat perikanan, menghambat populasi ikan untuk berkembang serta berkurangnya fungsi estetika lingkungan tersebut.Kegiatan eksploitasi berlebihan oleh manusia disebabkan kurangnya alternatif dalam memanfaatkan sumberdaya perikanan.


92 BAB IX PENUTUP A. KESIMPULAN Kata mangrove, berasal dari perpaduan dua bahasa, yaitu mangue (bahasa Portugis), yang berarti tumbuhan, dan grove (bahasa Inggris) berarti ditepi laut. Hutan mangrove adalah sekelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropis sampai sub tropis yang memiliki fungsi istimewa di suatu lingkungan yang mengandung garam dan bentuk lahan berupa pantai dengan rekasi tanah anaerob. Hutan mangrove atau hutan bakau adalah hutan yang tumbuh di air payau, dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat dimana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organic. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai dimana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu. Mangrove merupakan vegetasi yang tumbuh di zona pasang surut (intertidal) dan dapat ditemukan di sepanjang daerah pesisir tropis hingga subtropis. Indonesia merupakan negara yang memiliki kawasan mangrove terluas di dunia yaitu sekitar 3,1 juta hektar atau 22,6% dari total mangrove di dunia (Giri et al, 2010). Menurut data yang dikeluarkan Badan Informasi Geospasial (BIG), hutan mangrove terluas di Indonesia terdapat di Papua, yaitu sekitar 1.158.268 hektar (Saputro et al, 2009). Di Bali, hutan mangrove dapat ditemukan di lima kabupaten/kota, dengan total area 2.489,7 hektar, termasuk di Kabupaten Jembrana dengan luas area sekitar 350 hektar (BAPPEDA Bali, 2015). Hutan mangrove terdiri dari satu jenis pohon. Satu jenis pohon itu yaitu pohon bakau, dengan banyaknya pohon bakau hutan mangrove juga biasa dikenal dengan hutan bakau.


93 Hutan mangrove memiliki akar yang tidak beraturan Yang menjadi ciri khas yang dimiliki oleh hutan mangrove adalah adanya akar-akar tanaman mangrove atau bakau yang menimbul ke atas. Maka dari itu ketika kita memasuki kawasan hutan mangrove kita akan melihat banyak sekali akar-akar pohon bakau yang keluar dari permukaan tanah. Hutan mangrove mempunyai biji yang bersifat vivipara Yang mana biji ini akan dapat menghasilkan kecambahdi pohon mangrove itu sendiri. Adapun fungsi Hutan Mangrove yaitu; a. Fungsi Fisis, meliputi : pencegah abrasi, perlindungan terhadap angin, pencegah intrusi garam, dan sebagai penghasil energi serta hara. b. Fungsi Biologis : sebagai tempat bertelur, tempat asuhan berbagai biota. c. Fungsi Ekonomis : sebagai sumber bahan bakar, bahan bangunan, perikanan, pertanian, makanan, minuman, bahan baku kertas, keperluan rumah tangga, tekstil, serta sintesis, penyamakan kulit dan obat-obatan. Pemanfaatan sumberdaya mangrove dapat dikategorikan menjadi tiga golongan, yaitu pemanfaatan secara tradisional (traditional utilization), pemanfaatan secara komersial (commercial utilization), dan pemanfaatan untuk tujuan industri jangka panjang (industrial utilization). Pemanfaatan tradisional adalah sumberdaya mangrove dipanen atau dimanfaatkan hanya untuk tujuan pemakaian atau konsumsi sendiri, barter atau diperjual belikan dalam skala lokal. Pemanfaatan ini yang sering kita kenal dengan sistim subsisten. Selanjutnya, pemanfaatan secara komersial, adalah pemanenan atau pemanfaatan yang sudah mengarah kepada orientasi ekonomi, yaitu memperoleh pendapatan. Pemanfaatan secara komersial dari mangrove misalnya adalah produk arang (charcoal) dari kayu mangrove, atau menjual kayu mangrove untuk kepentingan industri.


94 B. SARAN Dengan dibuatnya buku pemanfaatan dan pengelolaan mangrove ini dapat diketahui bahwasanya hutan mangrove memiliki banyak sekali manfaat bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu kita sebagai masyarakat harus dapat menjaga dan melestarikan hutan mangrove tersebut. Penulis menyarankan agar pemerintah dan masyarakat dapat bekerjasama untuk melakukan pengelolaan dan ehabilitasi hutan mangrove yang berkelanjutan.


95 SOAL LATIHAN Soal 1: Apa yang dimaksud dengan hutan mangrove? a) Hutan yang terdiri dari pohon-pohon mangrove b) Hutan yang terdiri dari pohon-pohon kelapa c) Hutan yang terdiri dari pohon-pohon bambu d) Hutan yang terdiri dari pohon-pohon pinus Soal 2: Manfaat hutan mangrove yang paling signifikan adalah: a) Penghasil kayu berkualitas tinggi b) Sumber energi terbarukan c) Menjaga kestabilan pantai dan pencegahan abrasi d) Tempat hidupnya spesies hewan langka Soal 3: Apa yang dimaksud dengan pengelolaan hutan mangrove? a) Praktik penebangan liar hutan mangrove b) Upaya untuk menjaga dan memanfaatkan hutan mangrove secara berkelanjutan


96 c) Menggantikan hutan mangrove dengan jenis pohon yang lebih menguntungkan secara ekonomi d) Proses penggundulan hutan mangrove secara total Soal 4: Salah satu ancaman terbesar terhadap hutan mangrove adalah: a) Penebangan liar b) Perubahan iklim c) Pencemaran air d) Semua jawaban benar Soal 5: Manfaat ekonomi yang dapat diperoleh dari hutan mangrove meliputi: a) Penghasil kayu berkualitas tinggi b) Pariwisata dan pendapatan dari sektor jasa c) Bahan bakar kayu d) Semua jawaban benar Soal 6: Apa yang dimaksud dengan replantasi hutan mangrove?


97 a) Penebangan pohon mangrove dan penggantian dengan spesies yang berbeda b) Pengelolaan hutan mangrove tanpa mengubah vegetasi yang ada c) Pengembangan kebun buah-buahan di hutan mangrove d) Penggundulan hutan mangrove untuk kepentingan pertanian Soal 7: Teknik pengelolaan hutan mangrove yang bertujuan untuk menghasilkan kayu berkualitas tinggi disebut: a) Agroforestri b) Reboisasi c) Silvikultur d) Ekowisata Soal 8: Apa manfaat utama dari pengelolaan hutan mangrove? a) Menyediakan kayu bakar b) Melindungi garis pantai c) Menyediakan tempat berlindung bagi ikan d) Meningkatkan polusi air


98 Soal 9: Apa yang dimaksud dengan restorasi hutan mangrove? a) Pemanenan kayu secara berkelanjutan b) Pembangunan infrastruktur di sekitar hutan mangrove c) Pengembalian ekosistem hutan mangrove yang rusak menjadi kondisi semula d) Penggunaan hutan mangrove untuk pariwisata Soal 10: Apa yang menjadi penyebab utama kerusakan hutan mangrove? a) Polusi udara b) Perubahan iklim c) Eksploitasi kayu yang berlebihan d) Penggunaan pupuk kimia Soal 11: Apa yang dimaksud dengan ekowisata hutan mangrove? a) Pemanenan kayu secara berkelanjutan b) Pemanfaatan hutan mangrove untuk pariwisata yang bertanggung jawab secara lingkungan c) Penggunaan hutan mangrove sebagai lahan pertanian


99 d) Penghancuran hutan mangrove untuk pembangunan perumahan Soal 12: Apa dampak negatif dari perubahan penggunaan lahan di sekitar hutan mangrove? a) Penurunan polusi air b) Peningkatan biodiversitas c) Penurunan penangkapan ikan d) Peningkatan vegetasi hutan mangrove Soal 13: Apa manfaat ekonomi yang dapat diperoleh dari pemanfaatan hutan mangrove? a) Penyediaan kayu bakar b) Penangkapan ikan komersial c) Pengolahan limbah industri d) Peningkatan keanekaragaman hayati Soal 14: Apa yang dimaksud dengan reboisasi hutan mangrove? a) Pengembalian hutan mangrove yang rusak menjadi kondisi semula b) Pemotongan pohon-pohon mangrove yang tidak produktif


100 c) Pembangunan pemukiman penduduk di sekitar hutan mangrove d) Pemanenan kayu mangrove secara berkelanjutan 15. Mangrove adalah jenis ekosistem yang terdapat di daerah... a. Gurun pasir b. Hutan hujan tropis c. Daerah pesisir d. Pegunungan 16. Manfaat utama dari hutan mangrove adalah... a. Tempat hidup bagi berbagai spesies laut b. Tempat pembangunan perumahan c. Sumber energi terbarukan d. Sumber air tawar 17. Salah satu manfaat ekonomi dari hutan mangrove adalah... a. Tempat rekreasi alam b. Tempat pembuatan barang-barang kayu c. Tempat pemancingan komersial d. Tempat penambangan batu bara


Click to View FlipBook Version