The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

ebook ini berisi Kumpulan cerita pendek remaja inspirasi kehidupan

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by lutfi asfi, 2023-05-01 22:55:23

Kumpulan Cerita Pendek Remaja " Senandung Qalbu "

ebook ini berisi Kumpulan cerita pendek remaja inspirasi kehidupan

Keywords: #ebook,#cerpen,#remaja,#inspirasi,#senandung qalbu

AKHIRKU, BAHAGIA “Bundaaaa....Bundaaaa....banguuun...banguun....,jangan tinggalin Teva. Bun...Bunda sudah janji..,” teriakku histeris dengan cucuran air mata yang membanjiri pipi dan kerudung putihku. Di kamar bercat putih tulang, kabel tersambung ke berbagai alat, begitu juga dengan selang oksigen yang sedang dicabut oleh perawat. Kuguncang-guncangkan tubuh kaku Bunda. Namun, wajah teduh Bunda yang selama ini menemani hari-hariku dengan penuh keceriaan, semangat, dan tak pernah kutahu Bunda sakit, kini, pucat pasi. Aku terhenyak menghadapi kenyataan ini. Tubuhku lunglai, rasanya semua tulangku rontok satu per satu. Aku terjatuh dan......gelap. Sayup-sayup kudengar keramaian luar. Aku sadar, ini kamarku, batinku. Kuseka sisa air mata yang mengalir mengingat peristiwa yang kualami hari ini. Kukuatkan diri melangkah keluar. “Neng... kuat untuk nganter Bunda?” suara parau Pak Rahmat, tertahan. Beliau tukang kebun sekaligus pengantar susu untuk keluargaku. Bibirku kelu, tak sanggup berucap. Hanya kepalaku memberi isyarat “ya”. Iring-iringan pelayat ramai sekali. Teman-teman Bunda dan Ayah datang. Tak ketinggalan para tetangga. Semua kehilangan. Terkenang sosok ramah, sabar, penyayang; bukan hanya kepada manusia, kepada hewan dan tumbuhan pun, beliau sayang. Kutatap gundukan tanah merah di hadapanku. Batu nisan yang bertuliskan Khonsa Qonita Binti Habibi Rais. Wafat: Sabtu, 12 Rajab 1441 H/7 Maret 2020 M. Kupeluk erat, rasanya ingin kuturut serta. Para pelayat pengantar jenazah Bunda, satu per satu meninggalkan pemakaman. Mereka menguatkan Aku agar bersabar dan mengikhlaskan kepergian Bunda. Bahkan ada yang menawarkan untuk tinggal dan menjadi anak angkatnya. Namun, hanya tatapan sendu sebagai jawaban. Mereka memaklumi itu. Aku merasa sendiri di dunia ini. Apa yang akan terjadi? Sanggupkah Aku sendiri? Bagaimana nasibku?. Ya Rabb.....ratap batinku. Sepeninggal Bunda, Aku ditemani Pak Rahmat dan Mbak Min. Mbk Min, perempuan setengah baya yang menjadi pengasuhku sejak bayi. Ia tahu persis, betapa terpukulnya Aku. Ia tak henti-hentinya mengingatkanku agar ikhlas melepas Bunda, begitu juga Pak Rahmat. Kedua orang ini menjadi saksi hidup keluargaku. Saksi tragedi tewasnya Ayah yang tragis. Saat itu, Aku baru berumur 1 tahun. Begitulah cerita yang kudengar dari Bunda. Tentu saja, memori usiaku saat itu belum menyimpan banyak kenangan tentang sosok Ayah. Hatiku pun belum bisa merasakan artinya sakit, pedih, dan kehilangan seseorang yang disayangi.


Sekarang, tepat dua pekan berlalu, kuajarkan hatiku untuk menerima takdirku sebagai anak yatim piatu. Aku berusaha berdamai dengan takdirku meski teramat berat. Kubenahi helai demi helai agenda hidupku. Di usiaku saat ini, tentu saja masih terasa sulit. Namun kupaksakan. Hariku pertama masuk sekolah, semua teman-teman, Bapak dan Ibu Guru menyemangatiku. Aku tidak tahu, perlakuan guru-guru dan orang-orang di sekitarku amat menyayangiku dan memperhatikanku. Perlakuan ini bukan hanya karena Aku anak yatim piatu, perhatian ini kudapatkan bahkan sebelum keadaanku saat bini. Entah apa alasannya, sampai hari ini pun, Aku tidak tahu. Begitu juga hari ini, semua menawarkan jasa mengantarku pulang. Tetapi, Aku menolaknya.Aku pulang berjalan kaki dengan teman-teman yang lain. Senang rasanya karena selama ini Aku selalu dijembut Pak Rahmat. Sesampai di rumah, Aku masuk terburu-buru karena kebelet pipis. “Assalamu’alaikum, Mbak Miiiiin....Mbaaaak,’ kubuka pintu ruang tamu tergesa-gesa. Tak sengaja tali sepatu yang belum kulepas terinjak dan membuat badanku tersungkur dan kepalaku menghantam ujung meja kaca ruang tamu. “Bruuuuk....praaaang,” hantaman badanku yang keras menghancurkan kaca meja. Cairan merah mengalir deras membasahai kerudung putihku. Gelap dan...... “Ya Allah, astagfirullaaaah, neeng...neeng..,” Mbak Min menyebut namaku sambil menempelkan telapak tangannya di pelipisku yang mengucurkan darah. Iapun berteriak memanggil Pak Rahmat. Dalam diamku, kudengar mereka berbicara di sela isak tangis Mbak Min. “Siapkan semua keperluan Neng, kita harus membawanya ke rumah sakit,” dibalutnya lukaku dan dibopong ke mobil. Suara mobil menderu menyusuri jalan. Aku dipangku Mbak Min tak hentinya terisak. “Kenapa kejadian gini lagi?” sesal Pak Rahmat. “Saya sedang di belakang, lagi nyiram bunga-bunganya ibu. Terdengar suara benda jatuh dan pecah. Saya lari, ternyata neng sudah tergeletak dan bersimbah darah,” suara Mbak Min tersendat-sendat. Ini kali kedua Aku dilarikan ke rumah sakit karena terluka. Fisikku memang lemah. Ditambah lagi Aku yang tak bisa melihat darah, tepatnya fobia darah yang amat sangat parah, hiperfobia. Tak lama, Aku bisa merasakan kesejukan AC. Selang oksigen dipasang. Lukaku dijahit, diperban dan bajuku pun diganti. Antara sadar dan tidak, kurasakan sepasang tangan selembut sutera mengelus dan mengusap pipiku.


“Teva, Eva.... sayaaang,...bangun...bangun,” suara yang tak asing di telingaku. Kubuka mataku perlahan. Duduk di hadapanku, wanita cantik dan anggun yang selama ini kurindukan. “Bundaaaa....,” wajahku sumringahmenatap wajahnya. Ia pun tersenyum padaku dan memelukku. “Bunda jangan pergi lagi,” Aku bermanja. tak kulepas pelukannya. “Kamu harus kuat sayang,” ia pun membelaiku “Nggaaak, Teva mau ikut Ayah sama Bunda aja,” kataku merengek. “Belum waktunya sayang, kalau sudah tiba waktunya, Insya Allah kita pasti bertemu. Kamu harus sabar, kuat, dan tegar.” Bunda melepaskan pelukanku dan berlalu.... “Bundaaaa....Bundaaa....,” teriakku memanggil Bunda berkali-kali. Kurasakan seseorang menggoyangkan badan dan mengusap pipiku. “Neng...neng....bangun,” suaranya tertdengar rapuh dan sedih. Aku pun sadar. Kulihat sekelilingku. “Va di mana, Mbak,” tanyaku lirih.“Rumah sakit, Neng...,” jawabnya. Mbak Min meberitahuku kalau tak sadarkan diri hampir empat jam. “Pulang, Mbak.” Pintaku lirih. Aku berusaha bangkit. Mbak Min menahanku. “Jangan bergerak dulu neng, kita tunggu Pak Rahmat dulu. Aku pun tak menolak. Tak lama kemudian, Pak Rahmat masuk diikuti seorang dokter wanita berhijab, bersahaja. Dialah dokter keluargaku. Dokter Rachel namanya. Ia mendekatiku, memeluk, dan mencium keningku. “Teva sayang, baik-baik ya, Nak?!” katanya. “Istirahat dulu di sini agar Ibu bisa kontrol kondisi Teva,” lanjutnya lagi. “Insya Allah, besok pagi kalau sudah baikan, Teva boleh pulang,” katanya. “Va gak apa-apa, Bu Dok,” kukuatkan suaraku. “Va mau pulang,” sambungku lagi. Sepertinya Dokter Rachel tak ingin menolak permintaanku.Tatapan matanya membuatku merasa sangat lemah dan rapuh. Aku tahu apa arti tatapannya, beliau khawatir denganku. Mbak Min berkemas-kemas. Aku pun pamit ke Dokter Rachel. Sekali lagi, Ia menatap dan memelukku...lagi.


Kami pun pulang. Tidak ada yang bersuara dalam mobil. Hanya deru mesin. Kutatap Pak Rahmat dan Mbak Min. Mereka pun saling menatap. Hanya raut kecemasan yang tertangkap dari wajah mereka. “Pak Mat sama Mbak Min, gak usah khawatir,” suaraku kuceriakan agar mereka juga ceria. Namun gagal. Mereka malah tambah sendu dan muram. Seolah-olah saatku telah tiba. Aku pun terdiam. Pikiranku melayang pada Ayah dan Bunda. Batinku menjerit....Ayah....Bunda.... Rumah bercat putih dihiasi beraneka ragam tanaman bunga menyambut kedatangan kami. Kulihat siluet sosok Bunda di senja syahdu. Terpaan udara sejuk perbukitan merasuki hingga relung hatiku. Ah....Bunda....Ayah ....jemput Teva. “Neng...masuk dulu,” suara Pak Rahmat di belakangku. “Iya Neng, ntra masuk angin,” Mbak Min menggandeng tanganku. Aku pun menuruti kata-katanya. Sampai di ruanag tamu, Mbak Min membereskan kaca meja yang pecah dan darahku yang telah mengering karena tidak sempat dibereskan. Ingin membantu, tapi Mbak Min melarangku. Pak Rahmat memasukkan barang yang dibawa ke kamar. Kami pun duduk berhadapan di ruang tamu. “Pak, maafin Va, ya?” suaraku ragu. “Va selalu nyusahin Bapak sama Mbak Min,” tak terasa bulir mengalir deras di pipiku. Beliau pun seperti berusaha untuk menahan desakan air matanya yang memberontak ingin segera keluar. “Terima kasih sudah merawat, menjaga, dan menggantikan tugas Ayah,” Aku sudah tidak bisa menguasai diri lagi. Tiba-tiba, Mbak Min memelukku erat. Suara tangisan kami sahut-sahutan. Kami larut dalam suasana haru. Tetapi, tiba-tiba suasana sendu dan haru kami pecah karena ada suara yang terdengar dari luar. “Assalamu’alaikum,” suara yang penuh semangat dari luar. Kami bertiga saling menatap dan keluar. Aku tak percaya dengan apa yang diliohat mataku. Kukucek berkali-kali. Ada apa ini? Batinku bertanya. Di senja jingga keemasan, berdiri seorang wanita setengah baya namun energik. Menatapku lembut. Mbak Min dan Pak Rahmat pun meleongo, kok bisa sama persis? Mungkin itu pertanyaan yang muncul dalam hati mereka. Wanita itu mengembangkan kedua tangannya. Tanpa berkata-kata, dengan sekuat tenaga, Aku berlari ke arahnya dengan deraian air mata. Aku peluk ia erat sekali. “Kenapa baru sekarang. Va sendiri, lelah berat,” Ocehku tak henti-hentinya. Pelukanku tambah erat. Ia pun membalas pelukanku. Ia biarkan Aku menangis sejadinya. Setelah puas melepas segala rasaku, Ia pun mengurai pelukanku.


“Hei...hei..jangan cengeng dong,sayang,”suaranya lembut. “Lihat Mimi,” katanya sambil mengusap pipiku. “Mimi ada di sini sekarang, Insya Allah...Mimi akan menemani gadis kecil Mimi sampai kapanpun,” raut wajahnya serius. “Janji?!” tanyaku penuh harap. “Insya Allah, janji, jika Allah menghendaki dan mengizinkan,” kami pun berpelukan. Aku menatap Mbak Min dan Pak Rahmat dengan senyum terkembang. Tak kurasakan sakit yang kuderita. Aku memperkenalkan Mimi kepada Pak Rahmat dan ,Mbak Min . Mereka pun sangat senang sekali dengan kedatangan Mimi. Mimi adalah saudara di atasanya Bunda. Tapi karena jaraknya kelahiran mereka sangat dekat, jadi mereka seerti saudara kembar. Wajah mereka bak pinang dibelah dua. Mimi memang gak pernah di rumah. Ia sangat suka travelling. Apalagi beliau senang belajar ditambah lagi profesi beliau sebagai guide. Jadi keliling dunia, itulah pekerjaannya. “Okelah kalau begitu, nanti kita sambung ceritanya. Sebentar lagi magrib,” kata Mimi. Kami pun masuk rumah. Bersiap-siap untuk salat berjamaah. Pak Rahmat, imamnya. Usai salat, kami membaca Al Quran yang terniatkan untuk Ayah dan Bunda serta keluarga yang telah mendahului. Kemudian, kami duduk santai di ruang tengah yang berbatasan langsung dengan dapur Tak henti-hentinya Aku berceritaBahkan, sesekali Mbak Min juga ikut nimbrung mengiyakan atau melengkapi ceritaku. Aku juga memperhatikan ekspresi Pak Rahmat yang terbengong-bengong melihatku. Mungkin karena selama ini, Beliau melihatku sedikit bicara. Usai makan malam, Aku mengajak Mimi membuka album keluarga. Suara canda dan tawa kami berempat mencairkan suasana hingga isya tiba. Kami pun menunaikan isya berjamaah. Hatiku bahagia sekali, meski tak sebahagia ketika adanya Bunda. Bunda... Malam hampir larut. Saat Aku mulai saja terlena dalam dekapan malam, kudengar Mimi, Pak Rahmat, dan Mbak Min masih belum beranjak dari ruang tengah. Hatiku terusik ketika namaku disebut. Kupaksakan mataku untuk terjaga. Kupusatkan pendengaranku, kutempelkan telingaku ke dinding kamarku. Suara Mimi terdengar jelas meski ditekan. Ia bertanya perihalku. Bergantian, Pak Rahmat bdan Mbak Min memberikan penjelasan. Semua tentang dukaku, lukaku, sakitku, dan tentu saja harapan mereka terhadapku.


Tersadarlah Aku sekarang, alasan Bunda begitu protective. Begitu juga dengan dua orang setia pada keluargaku. Sedikit saja Aku terluka, akan fatal akibatnya. Diperparah lagi, Aku yang fobia darah. Kurebahkan tubuhku. Ya Rabb....kutatap langit-langit kamarku. Kucoba pejamkan mataku Namun gagal. Lembaran-lembaran perjalanan hidup yang tersimpan dalam memori otakku, satu per satu terbayang. Tak terasa, bulir-bulir bening menganak sungai di pipiku. Lelah raga dan jiwa ini membuatku lena dalam tidurku. Tepat pukul tiga dini hari, Aku terbangun oleh rasa haus yang mencekik kerongkonganku. Kulewati ruang tengah. Kulihat Pak Rahmat tidur. Beliau tidak pulang ke rumahnya malam ini. Mungkin, Mimi yang memintanya atau karena terlalu larut, tebakku. Setengah berjinjit kulewati mihrab keluarga. Kulihat perempuan mengenakan mukena putih sedang bersujud. Tiba-tiba saja hausku hilang. Dorongan batinku menyuruhku untuk segera berwudu. Kukenakan mukena yang tersimpan di lemari mihrab. Kulakukan gerakan yang pernah diajarkan Bunda, tahajjud. Kucoba untuk khusuk dalam tahajjudku. Kurasakan hadir-Nya yang selama ini terkadang menyalahkan-Nya atas takdirku. Kusesali sgala prasangka buruk yang terbersit di benakku. Kutundukkan hatiku dalam sujud terdalamku. Ya Rabb...ampuni hamba yang hina ini Yang selalu merasa Engkau adil padaku Ya Rabb...hamba tahu, Engkau Maha Pengampun Maka...hamba mohon ampunan-Mu Ya Rabb...selama ini hanya kelu kesah dan ratapan pilu karena Engkau ambil mereka dariku Padahal...Engkaulah pemilik sesungguhnya Ya Rabb...jika dengan sakit ini, Engkau mengampuni hamba, mencintai hamba, dan hamba lebih dekat kepada-Mu, hamba ridho Ya Rabb...hamba ikhlas. Ya Rabb...semoga akhirku bahagia. Kabulkanlah....aamiin Keangkuhan yang selama ini merajai, kini luluh bersama deraian air mata yang tak hendak berhenti membasahi pipiku. Betapa Aku telah salah dan keliru selama ini. Kuakhiri tahajjudku dengan salam dan senyum kebahagiaan. Kulihat Mimisudah terlebih dulu menyelesaikan tahajjudnya.Mimi menungguku. Tatapan mata Bunda menjelma pada bola mata Mimi. Mimi memelukku penuh kasih sayang. Kedamaian...itulah yang kurasa.


“Insya Allah, Mimi akan bersamamu, sayang.” Aku hanya menganggukkan kepala mengiyakan. Sekarang, perasaan lega melalui hari-hariku, meski kutahu vonis dokter tak lama lagi. Akhinya kuputuskan, Mimi kupanggil Bunda. Ia pun tak menolaknya. Semenjak “Bundaku” lahir kembali, semangatku melawan sakitku semakin kuat. Teva pendiam berubah menjadi cerewet, bawel, banyak rencana, banyak ide. Sepulang sekolah, Aku ditemani teman-teman kelasku. Aku akan menyumbangkan semua mainan, baju, alat tulis, tas, sepatu dalam kegiatan bakti sosial ke beberpa panti asuhan. Aku pun tak lupa meminta izin Bunda. Beliau setuju. Bunda, Mbak Min, bahkan Pak Rahmat pun ikut membantu mengemasi barangbarangku.Teman-temanku pun kusuruh memilih barang yang mereka suakai. Mereka sanagt senang. “Makasih, Va...,mari Bun” teman-temanku berpamitan. “Makasih Bunda, udah ngijinan Teva,” Aku bermanja. “Lakukan apa yang Teva anggap baikdan bermanfaat untuk orang lain,” jawab Bunda. “Tapi apa gak apa-apa, semuanya?” tanya Bunda. “Ngak apa-apa dong Bun, Allah akan menggantinya dengan yang leebih baik, Iya kan?” Aku balik bertanya. Bunda hanya mengangguk. Kutangkap raut wajahnya berubah. Keesokan harinya, Aku diantar Pak Rahmat, Bunda, dan yang tak mau ketinggalan, Mbak Min. Dus-sus barang yang sudah dipak, dinaikkan Pak Rahmat ke mobil. Setibanya kami di sekolah, bapak, ibu guru dan teman-teman yang ikut dalam kegiatan bakti sosial, sudah siap-siap. Kami mengenadarai tiga mobil. Perjalanan yang cukup jauh. Aku mulai merasakan kelelahan yang amat sanagt. Namun kusembunyikan dengan pura-pura tidur. Setelah tiga jam perjalanan, kami pun sampai di lokasi. Acara berjalan lancardan begitu semangat, penuh keceriaan dan kebahagiaan anak-anak panti asuhan Bunda Maya, salah satu guru kami. Aku un sangat bahagia telah menjadi bagian dari kegiatan ini. Waktu salat zuhur pun tiba. Kami bersama-sama menyiapkan sebuah ruangan yang disulap sebagai musalla. Guru agamaku, Pak Kamil sebagai imamnya. Di sujud rakaat kedua, kurasakan jantungku berdegup pelan...lambat.Ya Rabb, tibakah waktuku? Keringat sekujur tubuhku. Inikah sakaratul mautku? Ya Rabb...jika sekarang waktunya...hamba ikhlas. Dan...semuanya gelap...melayang. Suasana ribut, tak terkendali melihat jasadku yang masih bersujud hingga salam. Isak tangis teman-temanku, Mbak Min, Pak Rahmat, dan guru-guruku, begitu


juga dengan Bunda. Kulihat senyuman kerelaan di wajahnya melepasku. Aku tahu mereka memperhatikanku saat di perjalanan. Seakan-akan mereka telah siap untuk hari ini. Pak Kamil menatap semua yang hadir,”Innalillahi wainna ilaihi roji’un.”dengan suara kompak semua yang hadir mengikuti Pak Kamil. Kulihat senyum tersungging di wajahku. “Mari kita sam-sama berdoa,semoga anak kita, teman kita, arwahnya diterima di sisi Allah SWT,” Pimpin Pak Kamil. “Insaya Allah, ananda Teva Islamiah Ahmadi, khusnul khotimah,”lanjutnya. “Aamiin,” semua yang hadir mengaminkan. Ya Rabb...segala puji bagi-Mu. Engkau kabulkan doa hamba-Mu ini. INSTING SAINSKU “Leha...Leha....!!!” Bapak memanggilku dari halaman belakang. Aku bergegas menemuinya. Setibaku di halaman belakang, “Ada apa, Pak?” tanyaku. “Ini namanya kayu sepang ,” kata bapak sambil memotong dahan kayu seukuran lenganku. “Bapak dikasi Pak Bedul di kebun, tadi,”. Aku masih diam mendengarkan.Dari jongkok, aku pun duduk karena tertarik dengan warna kayu itu. “Ini untuk apa, Pak?” tanyaku sambil memegang potongan kecil kayu sepang itu. “Beberapa hari lalu, Bapak sudah minta sama Pak Bedul, untuk obat,” kata Bapak. “Oh... gitu, jadi tugas Leha?” “Tugas anak Bapak yang pinter, ambil panci, tambahkan air, rebus sampai warnanya merah pekat,” Bapak menjelaskan. “Beres bos,” aku berdiri dengan posisi tanganku hormat. *** Namaku Soleha. Usiaku 12 tahun jalan. Sekolahku di SMP Negeri 3 Taliwang. Aku baru kelas VII. Aku teman satu-satunya Bapak. Ibu pergi entah ke mana sejak aku kelas IV sekolah dasar Banjar. Otomatis, aku dibesarkan Bapak dengan didikan keras dan tegas. Namun, aku tetap bangga menjadi anak bapak,


Aku sadar itu semua tujuannya agar Aku menjadi tegar dan kuat. Aku pun bahagia meskipun hidup kami sederhana. Sejak kecil aku diajarkan hidup mandiri dan disiplin. Bapak dan aku sudah terbiasa berbagi tugas rumah tangga. Dan itu mudah bagiku. “Pak..., air sepangnya sudah siap,” kataku Bapak keluar dari kamarnya, kulihat wajahnya agak pucat. “Astagfirullah...., Bapak!!!” pekikku. Bergegas kupapah bapak untuk duduk. “Nggak apa-apa,” suara bapak lirih. “Kenapa Bapak nggak kasi tahu Leha,” sambil kusodorkan segelas air sepang hangat. “Insyaallah, setelah minum ini, Bapak akan baikan.” Suara bapak menenangkanku. Setetes embun bening mengalir di pipiku. “Anak Bapak tidak boleh cengeng.” tangan kasar, namun penuh kasih mengusap lembut pipiku. “Oh iya Pak, kita makan dulu atau salat?”tanyaku pada bapak . Meskipun kondisinya belum betul-betul membaik, Bapak mengajakku salat berjamaah dulu. Selesai salat, aku mempersiapkan hidangan spesial hari ini. Kami makan siang dengan lahap meskipun hanya nasi putih, rebusan daun singkong, dan sambal bageq. Emmm...Alhamdulillah, maeeees. Selanjutnya, tugasku adalah beres-beres. Aku masuk ke dapur. Aku letakkan semua piring kotor. Tiba-tiba insting sainsku tergelitik melihat sisa air sepang yang merah pekat di dalam panci. Otakku mulai bekerja. Jeruk purut di tanganku, aku belah. Sesendok air sepang kumasukkan ke dalam mangkuk. Perlahan, aku peras jeruk di atas mangkuk berisi air sepang. Tetes demi tetes. Kuamati dan kutunggu reaksinya. Beberapa detik kemudian, wooow, keren, amazing. Hatiku melonjak kegirangan sekaligus bingung. Berbagai pertanyaan bermunculan di otakku dan tak terjawab, tentunya . Tapi senyumku merekah. Besok pagi, Bu Lilik.... Malam hari, selesai salat dan ngaji, aku persiapkan buku dan perlengkapan sekolahku. Tak lupa kuambil buku diaryku. Berbagai pertanyaan siang tadi, aku tulis. Aku yakin, Bu Lilik akan memberikan penjelasan ilmiah atas pertanyaanku, batinku. Aku tersenyum.


*** Mendung menutupi sang sraja siang, pagi ini. Gelap sekali, batinku. “Leha, sudah siap?, berangkat lebih awal, Nak , sebelum hujan!” suara bapak dari ruang tamu. Aku pun bergegas, berpamitan. Bapak terlihat heran melihat ekspresiku hari ini. Aku tidak menjawab pertanyaan beliau. “Assalamu’alaikum,”aku mencium tangan Bapak. “Nanti, Leha cerita pulang sekolah,” aku buat Bapak penasaran. Jarak dari rumah ke sekolahku kurang lebih 1,5 km. Kuayun langkahku penuh semangat. Kegembiraan hatiku tak mampu diselimuti oleh mendung dan kabut yang menyelimuti pagi. Aku samapai sekolah tepat pukul 06.15 WIT, seperti yang terlihat di jam dinding sekolahku—Peraturan sekolahku mewajibkan siswa datang paling telat 06.35 harus ada di dalam sekolah. Jadi, aku harus berangkat lebih awal. Syukur-syukur kalau ada tumpangan warga yang ke pasar. Kulewati gerbang dan koridor menuju kelasku. Baru beberapa siswa yang datang, kemungkinan siswa piket. Biasanya aku membantu teman-teman yang piket di kelasku. Aku pungut sampah yang tertiup angin kencang semalam. Aku pun mencuci tangan, dan kemudian menunggu kedatangan Bu Lilik. Siswa lain mulai berdatangan, begitu juga dengan bapak dan ibu guru. Hatiku berdebar, aku atur nafas. Terlihat sosok guru yang kutunggu-tunghu. “Assalamu’alaikum, Bu,” sapaku sambil mencium tangannya. “Wa’alaikumussalam, Soleha,” jawabnya lembut dan beliau mengusap kepalaku. “ehh...Bu, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan,boleh?” suaraku ragu. “Boleh, ayo ikut ibu ke dalam,” sahut beliau Kami pun masuk ke ruang guru. Aku duduk berhadapan dengan Bu Lilik. “Ada Yang bisa Ibu bantu?” tanya Bu Lilik. “emmm...sebetulnya saya ragu, Bu. Tapi saya tidak kuat menahan pertanyaan yang muncul di otak saya,” jelasku. “Coba ceritakan,” sepertinya beliau memahami kebingunganku. Aku menceritakan percobaan sederhanaku, mencampur air sepang dengan asam dan jeruk. Air sepang yangg awalnya merah pekat, berubah menjadi orange bening, tidak pekat lagi. Begitu juga dengan asam. Aku menyimpulkan bahwa air rebusan kayu sepang tersebut dapat dijadikan sebagai pengganti kertas lakmus sebagai penguju asam dan basa.


“Jadi begitu, Bu,” suaraku tegang namun segala ganjalan di dalam dadaku terasa plong, lega. “Hebat....hebat, brilian,” puji Bu Lilik yang tak kuduga. “Dari mana kamu dapat ide itu?” tanya Bu Lilik “Ide itu muncul ketika Ibu menjelaskan tentang bahan-bahan alam yang dapat menggantikan peran kertas lakmus, saat kita praktek di lab, sabtu kemarin, Bu” terangku. “Baik kalau begitu. Besok kamu bawa sampelnya, lebih lanjutnya kita akan uji coba temuanmu di laboratorium. Kita akan buat proyek penelitiannya,” jelas Bu Lilik membuat hatiku bahagia tak terkira. Anganku melambung. Rasanya tak sabar ingin segera pulang. Akan aku bagi kebahagiaan dan kegembiraanku pada bapak. Jam pertama. Kedua, dan ketiga KBM, aku lalui penuh semangat. Bel pulangpun berbunyi. Tanpa menunggu lama, aku keluar dari kelas dengan setengah berlari. Teman-temanku tak ada yang kuberi tahu . Mereka hanya terheran-heran melihat tingkahku. Tunggu waktu yang tepat, teman-teman. Mudahmudahan proyekku dengan Bu Lilik berhasil, batinku. Setibaku di rumah, buru-buru aku buka sepatu. “Bapak...bapak !!!” teriakku. Aku buka pintu kamar, dapur, tidak ada. Kupakai sendal, kemudian lari ke kebun singkong belakang rumahku. Bapak ada di sana. “Eh....anak Bapak sudah pulang,”kata bapak. Aku menyalami beliau. Aku pun mengajak celebration khas ala kami. Tangan kanan gaya menanam, kemudian adu kepala, dan bersalaman terus tinju kepalan tangan. “Ada apa?” suara Bapak terengah. “Yes...yes...yes...,” teriakku. Aku pun menceritakan dari awal sampai akhir, tak terlewat satupun, tentunya dengan semangat membara. Aku lihat bapak mendengarkan dengan semangat pula. Aku mengakhiri ceritaku dengan standing up. Bapak meraih tanganku. Aku duduk di samping beliau. Bapak mengusapa kepalaku. Aku lihat mata sayu itu berkaca-kaca. “Bapak doakan, semoga kamu berhasil dalam hidupmu,” kalimat bapak sendu dan syahdu. “Iya...Pak, amin,” hanya it u kata-kata yang mampu terucap. Aku akan membuat bapak bapak bahagia dan bangga, itu janjiku.


JODOHKU ANAK MA’HADAH Hari ini, kampus baru menjadi tujuankku. Aku baru pindah mengikuti Ayah yang pindah tugas ke Kota Selong. Sejujurnya, kepindahan ini tidak kuduga, bahkan ada perasaan tidak rela. Tapi, aku bukan tipe anak yang suka mendebat orang tua. Motor gedeku kuparkirkan di depan kantor sekretariat kampus. Semua berkas kepidahan kampus sudah dikirim melalui email, tinggal datang lapor dan cari kelas.


Jadual sudah kuterima dari Kaprodi Jurusan Matematika. Tentu saja aku masih sangat asing dengan suasana kampus karena hari ini, hari pertama ke kampusku. Bertanya, itu yang harus kulakukan. Gengsi dong nanya di sekretariat tadi, karena sudah bilang tahu. Ya udah, resiko karena sok tahu....jadi senyum sendiri. Aku sedikit lupa kalau ini bukan kota kelahiranku. Aku pun keluar dari halaman kantor sekretariat. Kebetulan instingku memerintahkan mengambil jalur belakang. Ada sebuah bangunan hijau daun dan hijau tua yang sangat menyejukkan mata. Bangunan sederhana tetapi begitu karismatik bila dipandang. Kuturunkan standar mogeku, berhenti sejenak di samping gerbang. Oh...ini kampus Darul Qur’an Wal Hadits, dalam hati kubaca plang nama bangunan tersebut. Kukeluarkan hp dari saku levisku. Kubuka aplikasi GPS, berniat mencari kampus MIPA. Namun, niatku terhenti dengan suasana yang begitu khidmat. Sepertinya komplekan ini adalah komplek madrasah, batinku. Dari dalam bangunan aku mendengar suara yang begitu berirama yang sangat menentramkan hati. Seperti terhipnotis, aku terdiam mendengarkan dengan khidmat pula. Tak terasa hampir lima belas menit aku terpaku. Tiba-tiba, dari arah gedung, keluar manusia dengan tampilan yang belum pernah aku lihat sama sekali di kotaku sebelumnya. Apakah ini santri? Batinku. Kembali aku terpaku melihat wajah-wajah mereka yang memancarkan cahaya. Wajahnya berseri-seri. Berbalut pakain yang terlihat bersahaja. Kain putih dengan lis bawah warna abu, baju koko putih polos, kopiah putih, dan surban berwarna hijau yang diletakkan dibahu mereka. Satu lagi, beberapa kitab di tangan mereka menambah kebersahajaan dan aura menyejukkan. Belum habis keterpukauanku menatap para santri, keluar lagi makhluk yang sangat cantik. Kecantikan yang luar biasa menurutku. Tapi inilah yang kurasakan. Kekaguman akan makhluk ciptaan Tuhan dengan balutan pakaian tertutup. Kain


batik putih hijau, baju kurung putih selutut, hijab putih polos menutupi mahkota mereka, kaos kaki dan sendal sederhana sebagai alas kaki mereka. Tentu saja ini adalah pemandangan istimewa menurutku. Diberikan kesempatan ini, rasa syukur menjalar di hatiku. Tanpa sadar, aku memideokan setiap langkah mereka. Tanpa sadar, aku tersenyum takjub. O iya, kadang-kadang aku suka iseng membuat video jika peristiwa atau kejadian itu menurutku menarik dan istimewa. Tepat sekali, pikirku. Tiba-tiba, hpku berdering. Ayah, aduh..aku kan belum sampai kampus. Cepat-cepat kujawab panggilan ayah, tentu saja tak lupa menyimpan hasil rekamanku. “Assalamu’alaikum, Yah,” sapaku. “Wa’alaikumussalam, Ayah sudah hubungi Kaprodi, katanya kamu sudah ke kampus?!” tanya Ayah. eh tapi kok nadanya bukan nanya, pikrku. “ Em...ya ni Yah. Aku sudah ke kantor sekretariat untuk lapor, cuma belum sampai kampus. He..he.. aku nyasar, Yah,” kataku jujur. “Ya sudah, nanti Ayah suruh asisten Ayah untuk nunjukkin kamu kampusnya,” nada suara ayah serius. “Gak usah, Yah. Aji sudah dewasa. Biar Aji cari sendiri,” kataku tegas. Ah ayah, masih saja menganggap aku masih anak yang harus terus dibantu. Tapi, wajar juga sih, karena aku baru di kota ini. “Baiklah kalau begitu, baik-baik kamu di sana, Assalamu’alaikum” akhirnya Ayah mengakhiri percakapan kami. Kubuka kembali video yang sudah kuambil. Terulas senyum menatap santrisantri yang berjalan keluar dari aula. Aku pun kembali tersadar dengan tujuan awalku. Selang lima menit, sebuah gedung yang lumayan megah berdiri kokoh di hadapanku. Moge kuparkirkan di halaman kampus. Tentu saja suasana agak sepi


karena kemungkinan besar, banyak kelas pagi. Hanya beberapa mahasiswa yang ada di luar, mungkin nunggu kelas berikutnya, tebakku. Kulangkahkan kaki menghampiri beberapa mahasiswa yang duduk di berugaq. “Assalamu’alaikum,” Sapaku. Mereka pun menghentikan aktivitas mereka dan menjawab salamku bebarengan. Aku pun memperkenalkan diri dan menyampaikan tujuanku ke kampus ini. “Oh, terima kasih, Bang,” jawabku hormat. Kuikuti petunjuk yang diberikan oleh mahasiswa yang kurus jangkung. Tidak begitu sulit untuk mencari ruangan yang kucari. Walaupun sudah menjadi mahasiswa pascasarjana, tapi masih saja perasaan grogi merayap di hatiku. Tentu saja, karena kota ini bukan kotaku. Pintu kaca transfaran kuketuk serta ucapan salam yang sedikit tegang. Aku pun disilakan masuk oleh dosen. Sepertinya dosen sudah mengetahui siapa aku. Beliau pun menyilakanku untuk berkenalan. Tapi tatapan rekan mahasiswa tidak melepas sosokku. Ada yan salah? Tanya dalam hatiku. Apa mungkin karena penampilanku? Memang hari ini, Aku memakai stelan kaos oblong dengan kaca mata hitam tercangklong di sana, jaket kulit khas anak motor, dan satu lagi, sepatu jenggle. Salahkah? Tanyaku lagi dalam-dalam. Akhirnya, kelas berakhir. Aku termasuk orang yang intropert, jadi sulit bergaul dengan orang lain, apalagi ini di lingkungan baru. Kuputuskan untuk pulang, karena kelas berikutnya, nanti malam. Masih banyak waktu, pikirku. Aku harus mencari pakain formal, batinku. Aku sudah melihat bagaimana penampilan teman kelasku. Sepertinya aku sudah memahami akar masalah dari tatapan lekat mereka tadi siang. Moge kugas dengan kecepatan sedang menuju area pertokoan. Kumasuki satu toko yang terletak di pojokan. Sepertinya agak sepi. Ternyata, semua barang yang


dipajang sesuai seleraku. Kupilih beberapa potong kemeja lengan panjang, kaos oblong, dan celana kain semi levis. Aku harus menyesuaikan penampilanku di kampus, batinku. Aku pun kembali ke rumah. Kurapikan semua belanjaanku dan beristirahat. Sambil berbaring, kubuka lagi video rekaman tadi pagi. Kuputar ulang dengan slow motion. Tiba-tiba, ada sosok perempuan yang sedang berdiri sendiri dengan wajh sumringah berseri, mungkin sedang menanti kawan? Kucoba zoom, aku tak mampu berucap, terpana. Yang membuatku terpana adalah mata bulat sayu kecoklatan bak madu dan senyum kecil yang begitu anggun dan menawan. Ya Allah, sungguh indah ciptaan-Mu, batinku. Sedetik berikutnya, ada desiran yang begitu halus di kalbuku. Tak henti-hentinya kutatap wajah Tidak pernah ada rasa ini sebelumnya. Beberapa perempuan dan gadis yang coba mendekatiku sebelumnya. Tak satu pun yang bisa membuatku seperti ini. Senyumku tersungging sembari menatap wajah di layar hpku.Kupejamkan mata dengan senyuman penuh. Jodohku...? *** Tak terasa hampir satu bulan sudah aku berada di kota ini. Kesibukan kampus tak membuatku teralihkan dari mata sayu coklat seperti madu milik “gadisku” . Aku pun berusaha dengan modal nekad mencari tahu siapa gadis itu. Malam ini, jari-jariku bergerak memutar video itu lagi. Tatapanku tak teralihkan dari wajah menawan gadis itu. Ya Allah, ampuni hamba. Jika memang Engkau ciptakan dia untukku, satukan Ya Rabb. Pintaku. Sudah beberapa malam kucoba untuk bermunajat memohon petunjuk-Nya sembari memohon terkabulnya harapan agar dipersatukan dengannya. Aku tahu, rasanya belum pantas mengklaim dia sebagai “milik”, tapi keyakinan di dada


semakin membulatkan tekadku untuk segera mengkhitbahnya. Akhirnya, kuputuskan untuk menyampaikan hal ini kepada Ayah. “Yah, ada masalah penting yang Aji mau sampaikan,” kalimatku membuka percakpan. Aku berusaha mengatasi ketegangan di hatiku. Kulihat tatapan ayah menyelidik, namun penuh kehangatan. “Sampaikan saja, ayah akan dengar,” jawab ayah. Aku pun menceritakan keinginan dan harapanku. “Aji harap, ayah setuju,” kalimat terakhirku membuat ayah tersenyum. “Sebenarnya, inilah yang ayah tunggu-tunggu selama ini,” ucapan ayah memaksaku mendongakkan kepala. “Maksud ayah?” tanyaku. “Lihat dirimu, sudah saatnya, Ji. agar ada orang yang menemani, menjaga, merawat dan tentu saja sebagai penyempurna ibadahmu. Penuhi harapan terakhir almarhumah ibumu,” kalimat ayah panjang dan lebar. Aku pun memahami apa makna ucapannya. Memang benar, ibu memintaku untuk menikah setelah wisuda strata satuku. Tetapi, aku menolak dengan alasan masih belum siap. Aku tidak tahu, bahwa itu adalah permintaan terakhir ibu. Restu ayah membuatku semangat dan ayah mendukungku untuk ta’arruf dan tentu saja ayah ikut andil dalam semua rencanaku. Ayah juga membantu menghubungi tuan guru yang menjadi tokoh di kampus Darul Qur’an wal Hadits untuk membantu menjelaskan maksud dan tujuan kami kepada pihak orang tua “gadisku” . Pihak kampus dan orang tua bersedia untuk bertemu. Waktu dan tempat pun ditetapkan. Meski persyaratan pertemuan yang diajukan lumayan membuatku terkejut. Tapi, tetap aku sanggupi. Ayahpun menyemangatiku. Kami akan bertemu setelah pengajian umum pagi Jumat di Masjid Al Abror. Hatiku berdebar sangat


kencang. Tangankupun berkeringat. Bagaimana tidak. Di tengah-tengah jama’ah dan mahasiswa ma’had dan ma’hadah seperti lautan manusia, kami akan dipertemukan. Ya Rabb, kuatkan hamba, batinku memohon. Aku, ayah beserta beberapa Kaprodi diundang ke dalam aula. Tatapan keheranan dari jama’ah dan para mahasiswa terus mengikuti langkah kami hingga tepat di tengah-tengah aula dan di depan mimbar. Kami pun dipersilakan duduk. Aku tak berani menatap ke keramaian. “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh,” salam dari seorang tuan guru yang mengisi pengajian hari ini. Beliau minta maaf karena telah meminta para jama’ah untuk tidak melanjutkan aktivitas mereka sejenak untuk pertemuan kami. Ya Allah, aku semakin berdebar. “Niki araq mama soleh melene ngelamar anakda Fatihati Nuri binti Kamil,” suara tuan guru melanjutkan kalimatnya. Mulai terdengar suara-suara dari para jam’ah. Dan tak terduga, yang kudengar adalah ucapan alhamdulillah dan takbir yang sahut-sahutan. “Bagaimana saudara Aji Anugrah Saufi Majid, apakah benar?” tuan guru bertanya kepadaku. Kuangkat kepala dan pandangan kuarahkan kepada Bapak Tuan Guru Haji Mas’ud Amin. Dengan penuh keyakinan, aku pun menjawab ,”Benar, Bapak Tuan Guru.” “Terus, ngumbe menurutde Amaq Kamil, araq mame soleh melene ngelamar anakde? Reda sideke?” giliran orang tua “gadisku” yang ditanya. “Tiangje berembe melen kankne, Bapak Tuan Guru. Lamunne bau, deketuan langsung epen awaq.” “Nuri, araq mama soleh melene ngelamar epe, ngumbe menurut epe?” tuan guru bertanya lagi. Sekarang sasarannya adalah pemberi jawaban penentu. Ya


Allah, kuserahkan segala urusan hamba kepada-Mu, batinku, tanpa berani menatap ke depan. “Lamun pelinggih sebut mamane soleh, tiang nurut leq pelinggih. tiang terima lamaranne, Bapak Tuan Guru. ” Alhamdulillah....Allahuakbar...akupun sujud syukur mendengar jawaban “gadisku” yang diikuti oleh seluruh jama’ah. Akhirnya,....perasaan lega dan senang yang tak bisa terlukiskan dan tak bisa kuucapkan. Ayah pun mengucapkan terima kasih kepada para tuan guru yang hadir dan khusus kepada orang tua “gadisku”. Setelah beberapa saat diskusi, akhirnya diputuskan, pernikahank kami akan dilaksanakan setelah pengajian Jumat pagi pekan depan di Aula Al Abror. Terdengar dari pengeras suara, diumumkan kepada para jama’ah undangan umum pernikahan kami. Ya Rabb, segala puji bagi-Mu atas pilihan terbaik untuk kehidupan di dunia dan akhirat hamba. Jadikan pasangan hamba ini sebagai penyempurna keimanan hamba agar bersama-sama menuju ridho-Mu. Aamiin Glosarium


“Niki araq mama soleh melene ngelamar (ini ada lelaki soleh ingin melamar) Terus, ngumbe menurutde Amaq Kamil, araq mame soleh melene ngelamar anakde? Reda sideke?” (Lalu, bagaimana pendapat anda Pak Kamil, ada lelaki soleh ingin melamar anak anda? Ikhlasakah anada?) “Tiangje berembe melen kankne, Bapak Tuan Guru. Lamunne bau, deketuan langsung epen awaq.” (Kalau saya bagaimana anaknya, Bapak Tuan Guru. Kalau bisa, Bapak tanya langsung yang punya badan) araq mama soleh melene ngelamar epe, ngumbe menurut epe (ada lelaki soleh ingin melamar kamu, bagaimana menurutmu) “Lamun pelinggih sebut mamane soleh, tiang nurut leq pelinggih. tiang terima lamaranne, Bapak Tuan Guru. ” (Kalau Anda menyebut lelakinya soleh, saya ikuti Anda. Saya terima lamarannya, Bapak Tuan Guru)


NEMBEQ Di kampungku, ada seorang laki-laki setengah baya. Beliau selalu keliling untuk mengambil “upah atau gajinya” di setiap rumah warga. Jadual beliau mengambil “gajinya” biasanya setiap Rabu dan Kamis. Aku atau anakku— terkadang anakku yang pertama, yang kedua, bahkan anakku yang berumur 3 tahun—bergantian memberikan “gajinya”. Anak-anakku sudah hafal dengan ciri khas salamnya. “Assalaaamu’alaikuuuuuum,” khas ucapan salam dengan nada yang tinggi. Terkadang kami menjawabnya bersamaan, serentak. Selain “gajinya”, istriku kadang memberikan uang lebih kepadanya. Bisa sepuluh ribu, dua puluh, kadang lima puluh—kalau ada rezeki lebih—beliau terima. Warga kampung biasanya memanggil beliau Nembeq Din atau Pak mbot Ding. Iya, beliau adalah nembeq di masjid kampung kami. Sebetulnya, beliau mendapatkan insentif dari Pemda. Tetapi, itu tak tentu kapan cairnya. Tugasnya sebagai nembeq terkadang terlalu berat dan tumpang tindih dengan tugas yang lain. Apalagi sekarang. Bisa dikatakan, beliau merangkap semunya. Ya dia imam, ya dia cleaning service, ya dia yang azan, ya dia penyampai pengumuman, dan tugas-tugas dan pekerjaan lainnya. Terkadang ada perasaan kasihan kepadanya. Tapi apa hendak dikata, Aku hanya pendatang di kampung ini, tidak bisa berbuat banyak. Hanya bisa membantu seadanya dan semampunya. Ba’da salat, kadang-kadang beliau bercerita kepadaku tentang harapannya. Harapan terhadap orang-orang yang ditunjuk menjadi pengurus dan masyarakat tentunya. Mereka—yang katanya pengurus—hanya datang sesekali saja jika ada


keperluan atau kepentingan. Aku berusaha mendengarkan saja apa yang beliau sampaikan. “Sabar,” itu saja kata yanga bisa aku ucapkan kepada beliau. Kulihat raut wajahnya yang keriput dengan tulang pipi yang menonjol, kulit cokelat gelap, gigi kuning yang sudah tak utuh lagi. Beliau hanya bisa menghela napas panjang. “Maya kedapoq masana masyarakat na bereme-rema beserame ko masjid saq,” itulah kalimat yang sering beliau ucapkan. Kalimat itu beliau ucapkan karena masjid tidak pernah full shafnya bila salat berjamaah. Paling-paling hany dua shaf itu pun tidak penuh. Kecuali Jumat, acara maulid, Idul Fitri, dan Idul Adha.Hmmm.... aku juga ikut prihatin. Kamis ini, kami belum juga kedatangan nembeq. Seperti biasa, istriku sudah menyiapkan “gaji” untuknya dan sedikit uang. “Bu, kemarin kan kamu sudah kasi uang juga,” kataku pada istriku. “Cukup dah dulu ngasinya,” lanjutku lagi. Istriku tidak banyak bicara. Ia hanya mengatakan itu tabungan akhirat kita. Kalau dia sudah ngomong begitu, Aku hanya bisa diam. Sejurus kemudian, suara salam nembeq pun tertdengar di rumah tetangga. Anak-anakku berebut untuk memberikan “gaji” untuk nembeq. Kulihat jalannya tidak seperti biasa, beliau pincang. “Kenapa?” saya tanya sambil menunjuk ke kakinya. “Teriq ning WC,” jawabnya sambil mengurut kakinya. Aku hanya bisa mendoakan semoga beliau lekas sembuh. Pernah Aku mengusulkan agar ketika


beliau berkeliling kampung ke rumah-rumah warga beliau pakai sepeda motor. Namun, beliau menolak usulanku. Katanya biar sehat dan dapat banyak pahala. Aku terenyuh mendengar jawabannya. Rasa malu kadang sering menggodaku ketika melihat beliau yang begitu tulus dan ikhlas menjalani harai-harinya sebagai seorang nembeq . Begitu banyak pelajaran yang Aku dapatkan dari beliau. Kesabaran, ketulusan, dan keikhlasan. Dan satu lagi, keceriaan. Namun, pernah satu kali, aku dapati beliau selesai salat zuhur berjamaah, beliau terlihat murung dan tak bersemangat. Karena kami sering bercakap-cakap dan bercanda, Aku pun langsung bertanya kepada beliau, apa yang terjadi. “Gak ada apa-apa, Pak Kus,” jawab beliau sekenanya. Tapi, Aku tahu, bukan itu jawaban sebenarnya. “Cerita saja, siapa tahu saya bisa bantu,” kataku meyakinkan. Akhirnya, terlihat dengan berat hati dan agak berbisik, beliau menceritakan kejadian tadi pagi kepadaku. “Melukku ampoqna, saya sudah menjalankan tugas dan tanggung jawab yang mereka berikan kepada saya,” nada suaranya mulai meninggi. “Saya tidak terima dikatakan sebagai pemakan uang masjid,” tambahnya lagi. Aku biarkan Beliau mencurahkan segala isi hatinya. Menurut beliau, apa yang telah dilakukan selama ini telah sesuai dengan kesepakatan. Beliau hanya digaji seikhlasnya oleh masyarakat. Yang Aku tahu, beliau—selama ini—tidak pernah mengeluh dengan gajinya. Bahkan, ketika pemerintah daerah memberikan sedikit insentif untuk nembeq, beliau secara sukarela memberikan sebagian


jatahnya untuk rekan beliau yang kadang-kadang menggantikan tugasnya untuk azan jika berhalangan ke masjid. Aku rasa, masalah ini cukup serius dan menyinggung perasaan beliau. Sepekan berlalu dari sejak beliau bercerita kepadaku. Aku belum bertemu dengan sosok nembeq yang suka guyon dan sedikit oro. Tepat hari ini, seperti biasa, Aku tak langsung pulang ke rumah ba’da zuhur berjamaah. Ingin rasanya Aku bertanya ke Pak Lebe masjid. Tapi, keingintahuanku hanya sampai di kerongkongan saja. Perasaan takut, ragu, kalau-kalau Pak Lebe marah bahkan tesinggung jika Aku menanyakan masalah nembeq . Hanya pasrah yang bisa kulakukan. Sesampai di rumah, istriku bertanya tentang masalah Nembeq. Aku pun menyampaikan apa yang kutahu. Sepertinya dia juga memikirkan orang tua itu. “Bagaimana, kalau Abang ke rumahnya pak RT atau Pak Kaling. Siapa tahu ada solusi,” kata istriku. Pikiranku pun sama dengan istriku. Tapi, keraguan dan sangkaan selalu memberatkan langkahku untuk berbuat. Apalagi, kami—Aku,istriku, anak-anakku—adalah pendatang. Apa kata mereka nanti, jika Aku lancang mengurusi masalah orang. Akhirnya kuputuskan untuk mendatangi nembeq meminta persetujuannya agar mau menemui Pak Aji Rusdin—Beliau adalah salah satu tokoh agama yang disegani warga selain Pak Lebe—Tapi, nembeq sepertinya kecewa berat dan tidak setuju dengan usulanku. Timbul perasaan takut di hatiku. Entah apa sebabnya, rasa takut ini tidak bisa hilang. Siapa tahu nanti, Aku dianggap sebagai provokator oleh pengurus masjid. Tapi rasa takut di hati kutekan sekuat-kuatnya saat berhadapan dengan Pak Aji Rusdin.


Kuceritakan semua yang dialami dan tuduhan beberapa warga yang disampaikan pengurus masjid yang tak bisa diterima oleh nembeq. Perasaan lega memenuhi hatiku. Seperti beban dari pundakku telah diangkat. Plong. Mungkin orang mengatakan Aku terlalu berlebihan. Tapi, bagiku, masalah ini berat karena menyangkut nama baik dan harga diri. “ Kalau memang begitu masalahnya, kita harus selesaikan dengan bermusyawarah,” Pak Aji Rusdin menyarankan. Aku masih menunggu lanjutannya. “Biar saya yang ngomong dengan pengurus masjid mengenai masalah ini,” ujarnya. “Baik, Pak Aji,” sahutku. Aku pun meninggalkan rumah Pak Aji Rusdin dengan perasaan plong namun was-was. Akhirnya, pertemuan musyawarah sudah diatur. Tepatnya, ba’da salat Jumat. Infonya, lagi-lagi aku dapatkan dari nembeq. Dan benar saja, pengumuman musyawarah disampaikan oleh Pak Kaling. Bapak-bapak jamaah salat Jumat bertanya-tanya, ada apa sebenarnya. Sebagai tokoh agama yang disegani, Pak Aji Rusdin memang sosok yang karismatik. “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucapan salam Pak Aji Rusdin kepada jamaah yang dijawab dengan serempak. Pak Aji Rusdin menyampaikan permasalahan yang menyangkut nama baik nembeq. Beliau begitu bijaksana memberikan nasehat lewat beberapa lawas yang sarat akan makana. Sai tu totang ko nene Ke sarea singin diri


Santurit kewa bismillah Bismillah ayap ke ikhlas Satenris tutu ke ate Benrang empat ya pamalas Tidak ada yang berani membantah lawas yang disampaikan. Betul-betul aji pamungkas. Semua masalah ternetralkan. Aku bersyukur sekali. Ya Allah, segala puji bagi-Mu atas keberanian yang Engkau berikan untuk mengungkap kebenaran yang ada sehingga Nembeq terbebas dari beban tuduhan yang tak beralasan. Glosarium “Maya kedapoq masana masyarakat na bereme-rema beserame ko masjid saq,” (kapan mungkin waktunya masyarakat akan bersama-sama meramaikan masjid ini) “Teriq ning WC,” ( jatuh di WC) Insentif ( honor) Full (penuh) “Melukku ampoqna (bagaimana lagi) Nembeq (merbot) Lebe (imam masjid, tokoh agama) Lawas (salah satu sastra lisan di Daerah Sumbawa) Sai tu totang ko nene Ke sarea singin diri Santurit kewa bismillah (Barang siapa yang mengingat Allah beserta nama-Nya diikuti dengan mengucapkan bismilaah) Bismillah ayap ke ikhlas Satenris tutu ke ate Benrang empat ya pamalas (bismillah dipanjatkan dengan penuh keikhlasan dan diteguhkan dengan keyakinan di hati untuk mendapatkan balasan empat sungai kebaikan)


Si Hitam, Aping Malam itu, aku mendengar percakapan Aping Aji dan Aping Ajaq dari ranjangku. Terdengar suara Aping Aji keras dan berat. Mereka membicarakan tentang si Hitam, kesayangan Aping Aji. Aku belum tahu banyak tentang bagaimana mereka. Baru enam bulan lalu Aku datang ke Moneq dan tinggal bersama mereka. Yang aku tahu Aping Ajaq lebih keras dan tegas dari Aping Aji. Tapi, malam itu berbeda. “Terserah mereka ngomong apa, aku tidak peduli.” Kata Aping Aji “Aku yakin bukan Si Hitam yang merusak tanaman mereka,” lanjutnya. “Sia ini, coba dengar baik-baik, simak kalau dikasi tahu,” Sahut Aping Ajaq dari dalam kamar. Tidak ada jawaban dari Aping Aji . Aku dengar langkah Aping Aji menuju tiang rumah. Dimatikannya stop kontak dari mesin tenaga surya yang terpasang di tiang kayu. Seperti biasa, seolah-olah beliau tahu aku belum tidur. “Alma, Aping matikan lampunya, biar salat subuh besok masih bisa nyala.” Aku tidak menjawab. Lampu di Desa Moneq bersumber dari tenaga matahari, jadi masyarakat harus hemat menyalakan lampu. Apalagi di musim penghujan. Bisa-bisa lampu tidak menyala selama berbulan-bulan. Jadi, Aku harus menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut. Tugas dan PR, Aku kerjakan siang hari. Malam berlalu ditemani nyanyian jangkrik. Aku belum memahami, alasanku berada di desa terpencil ini. Berbgai macam pertanyaan muncul, namun otakku tak dapat menemukan jawabannya. Mak, Uaq, pulang. Khayalanku tentang orang tuaku mengantarkanku pada mimpi yang kutak tahu maknanya, hanya menjelma sebagai kembang tidur. Lamat laun, Aku dengar suara azan dari surau dekat rumah. Mataku masih berat. Aku sudah hafal, Itu suara Nde Man. Anak tertua Aping.


“Alma, bangun, salat subuh berjamaah,” tangan keriput Aping Ajaq mengelus rambutku, lembut. Aku bangkit dari ranjang. Kami bersama-sama berwudu di samping surau. Hawa dingin menusuk ke tulang sum-sum . Ingin rasanya lari ke ranjang dan berselimut. Tapi, semua itu hanya rasa ingin yang menjerit di dalam hatiku. Tak ada keberanian untuk melawan. Salat subuh berjmaah berjalan khidmat. Aping Aji menjadi imamnya. Sungguh suasana yang berbeda dengan di rumah. Jam segini, Aku masih masih dalam dekapan selimut kesayanganku. Selesai berdoa, Aku dan Aping Ajaq bergegas memasak untuk sarapan. Nde Man mengikuti Aping Aji dari belakang. Sempat kudengar si Hitam di sebut lagi. Sampai mereka masuk ke rumah, di ruang tengah. Mereka duduk bersila, bersebelahan. “Pak, sudah banyak keluhan dari tetangga tentang si Hitam,” kata Nde Man. “Si Hitam sering masuk lahan warga, dan tanaman mereka banyak yang rusak.” Nde Man memberikan penjelasan. Aping Aji terdiam. “Alma, mana kopinya?” suara Aping Aji melunak. Tidak seperti tadi malam.” Buatkan Nde Manmu juga,” katanya lagi. “Ee .“ jawabku singkat. Dua gelas kopi dan lomaq rebus Aku hidangkan. “Kopinya Nde,” kataku, basa-basi. Aku kembali ke dapur dengan rasa penasaran, apa sebetulnya alasan Aping bersikap keras seperti itu jika itu menyangkut si Hitam. “Bagaimana Pak?” tanya Nde Man lagi. Sejenak tak ada jawaban. Seruputan kopi Aping Aji terdengar jelas. “Itu sudah Bapakmu , leq les sedana,” kata Aping Ajaq sambil mengulek sambel bawang gula kesukaan Aping. “Kalau mereka keberatan, suruh mereka temui Bapak,” akhirnya keluar juga jawaban itu. Jawaban yang menurutku membuat Aping Ajaq tambah jengkel. Tak ada jawaban dari Nde Man. Beliau tahu, jawaban itu tidak bisa ditawar-tawar. Aku memberanikan diri bertanya pada Aping Ajaq, apa sebetulnya yang terjadi. Tetapi, beliau malah menyuruhku untuk siap-siap untuk berangkat ke sekolah.”Lema mani, besebo, nengkamu telat sekolah.” Di sekolah, fokusku pudar menerima pelajaran yang disampaikan guru. Pikiranku melayang pada si Hitam. Mengapa warga Blok B begitu marah, tetapi takut berhadapan, bicara langsung pada Aping. Aku juga mendengar cerita Le, teman kelasku. Kemarin, hampir si Hitam ditangkap oleh Mamiq Baok karena masuk ke lahannya. Aku semakin penasaran, padahal yang kutahu, si Hitam jarang sekali keluyuran mencari rumput sampai Blok


A. Dan seingatku, si Hitam mempunyai kalung dari seutas tali tambang warna hitam dengan lonceng kecil ditengah-tengahnya, tanduk yang lancip melengkung ke dalam, dan di bagian telapak kaki kanan depannya, ada satu tanda yang Aping pun mungkin tidak meperhatikannya. Tanda itu, guratan putih melengkung berbentuk U. Aku bergegas pulang ke rumah setelah bel pulang berbunyi. Kupercepat langkahku. Ingin rasanya segera samapai rumah. Aku ingin memastikan ciri-ciri yang disebutkan oleh Lael. Ternyata, setelah obrolan singkat Aping dengan Nde Man ba’da subuh tadi, si Hitam dikandangkan. Si Hitam tak henti-hentinya mengembik, seperti protes ke Aping karena tidak dilepas seperti biasa. Seolah dia tahu, nanti sore akan diadili. Mengingat itu, aku geli sendiri. Aping Ajaq memberitahuku bahwa nanti sore, warga yang merasa dirugikan akan datang. Kenapa aku yang deg-degan,ya? Si Hitam yang akan diadili, aku yang sakit perut. Akhirnya, ba’da salat asar, satu per satu warga yang dirugikan karena ulahnya si Hitam berdatangan. Warga yang paling kukenali adalah Mamiq Baok. Badannya tinggi besar, kulitnya hitam legam. Beliau orang Lombok. Mas Waluyo, orang Jawa, dan yang lainnya aku tidak kenal. Mungkin dari blok lain. Di luar dugaan, warga yang tidak ada urusan juga berdatangan. Pengadilan Si Hitam pun dimulai. Aping mendengarkan satu per satu aduan dari warga. Beliau mendengarkan dengan seksama. Tak lupa, Nde Man, Eaq Doan, dan Bapak Toh juga hadir. Aku dan Aping Ajaq , mendengarkan dari ruang tamu. Aping terdengar berbeda dari sebelumnya. Sepertinya beliau sudah memahami karakter orang-orang ini. Akhirnya, Aping buka suara. “Saya sudah dengar semuanya,” suara Aping berat. ” Sebelum bertanggung jawab atas hewan piaraan saya, saya mau tanya, apa buktinya saudara-saudara menuduh bedis saya yang merusak tanaman saudara-saudara”. Sejurus, belum ada yang menjawab. Terdengar mereka saling suet. “Siane”, “Lemamo”. Suara itu terdengar shut-sahutan. “Baik, kalau tidak ada yang mau memberikan bukti, berarti tuduhan ini saya anggap fitnah. Dan saya akan menuntut balik karena kalian sudah mencemarkan nama baik saya. Saya akan minta ganti rugi kepada kalian.” Suara di luar makin gaduh. “Ya ndak bisa gitu,Pak Aji, ” denganengan logat Jawa yang medok, akhirnya Mas Waluyo memberanikan diri untuk berbicara. Semua menunggu apa yang akan terjadi. Termasuk Aping.


“Kambing sampean itu, warna hitam, kan?” tanya Mas Waluyo. “Memangnya kambing hitam, hanya saya saja yang punya?”Aping balik bertanya. “Laguq, araq tetanggen tiang serioqan, Aping.Bembeq side saq tame laiq lahan tiang” Mamiq Baok pun bersuara. “Mana tetanggamu yang lihat langsung si Hitam masuk lahanmu?” tanya Aping lagi. “Betul-betul, saya lihat sendiri. Kambing itu pakai kalung hitam, bertanduk runcing lurus, dan ....” belum selesai kalimat Bapak berbaju kotak-kotak, Aping langsung memotong kalimatnya. “Teduuuu...tedu..tedu,” Teriak Aping. “Kamu bilang tadi tanduknya runcing? Tapi kamu tidak pernah lihat bagaimana sebetulnya tanduk si Hitam, kan?”. Suara yang tadi ribut tak karuan, terhenti, hening seketika. Tidak ada yang berani menatap Aping. Tiba-tiba, Aping turun dari berugak dan bergegas ke belakang rumah, setengah berlari menuju kandang si Hitam. Aku pun keluar mengikuti Aping dari belakang. Beliau membuka bara dan masuk. Aping menatap si Hitam. Dielusnya si Hitam dengan lembut. Bulir bening di pipi keriput Aping mengalir. Tiba-tiba, Aku juga merasa iba dan sayang pada si Hitam. Semoga dia tidak dijadikan kambing hitam oleh warga. Aping menuntun Si Hitam keluar bara. Hitam pun menurut, aku mengikuti dari belakang. Aping menambat si Hitam di tengah-tengah halaman di bawah pohon mangga. “Sekarang, lihat baik-baik. Kambing inikah yang kalian lihat di lahan dan pekarangan serta pelaku yang merusak tanaman kalian? “ nada Aping tinggi. Warga yang hadir maju satu per satu untuk memastikan apakah benar si Hitam yang beberapa hari ini menjadi topik pembicaraan warga Monek yang katanya masuk ke lahan, pekarangan dan merusak tanaman warga. Mereka berbisik-bisik . “Bukan kambing ini....” kata bapak berkaos kotak-kotak. “ Ee siyong bedis ta “, “Betul, bukan...” yang lain menimpali . Suara mereka tak berani dikeraskan. Selanjutnya, mereka mundur satu –satu menjauhi si Hitam. Si Hitam mengembik sekeras-kerasnya, “Embeeeek....embeeeeek”. Aku jadi geli mendengarnya. Embikannya seolah-olah ungkapan kemenangan atas tuduhan warga kepadanya, embekannya seolah-olah mengejek warga. Tidak ada yang berani menatap Aping. Terlihat wajah Aping kembali tenang. Beliau pun duduk di berugaq. Bersila sambil menyulut kembali rokok klobotnya . Dihisapnya dalam-dalam. Asap tebal diembuskan dengan perlahan.


Aping menatap satu per satu warga yang ada di hadapnya “Puas kalian sekarang? Ternyata kalian hanya mengkambinghitamkan si Hitam saja”. Tak ada satu pun yang menyahuti Aping. “Kalian seharusnya memeriksa dulu sebelum kalian ngomong ke sana ke mari, kejadian ini sudah membuat saya malu, mencemarkan nama baik saya”. “ Baik, urusan kalian dengan saya dan si Hitam sudah selesai, Saya bukan mengusir, tapi sekarang silakan Bapak-Bapak kembali ke rumah masing-masing.” Kata Aping. “Pak, naq bero”, kata Nde Man. “Berikan kesempatan kepada warga untuk berbicara”, Eaq Doan juga ikut berbicara. “Tidak usah, saya sudah memaafkan kalian semua.Tapi sekali lagi, saya ingatkan, jangan sampai terulang lagi”. Nde Man dan Eaq Doan tidak bisa berkatakata. Mereka sudah paham betul sifat Aping. Kalau sudah bilang A tetap A. Aping pun meninggalkan semua yang hadir tanpa kata-kata. Beliau pun membuka tali si Hitam dan membawanya ke kandang. Warga hanya menatap lesu dan malu. “Maaf ya, Bapak-Bapak” kata Eaq Doan. “Kami seharusn saq ngendeng maaf leq pelungguh sekeluarge”, kata Mamiq Baok. Mamiq Baok pun berpamitan dan menyalami anak-anaknya Aping diikuti oleh warga yang lain. Kejadian tadi sore membuat seisi rumah kelu. Tak ada sapa. Aping Ajaq yang biasanya becerocet , malam ini tak banyak bicara. Mungkin karena beliau juga merasa bersalah karena ikut-ikutan menyudutkan si Hitam. Sajian makan malam, malam ini terasa hambar. Bukan karena rasa makanan, tapi karena suasana hati kami yang tak karuan. Malam ini kulalui dengan perasaan tak nyaman. Sampai detik mataku terlelap, Aku tak mendengar sepatah katapun kalimat Aping Aji. Aku pun berinisiatif mematikan lampu. Aping Aji langsung tidur setelah salat isya. Ya Allah, Aku berharap, esok semuanya akan baik-baik saja.


Glosarium Aping Ajaq : sebutan untuk nenek yang sudah pergi haji di beberapa daerah di Pulau Subawa. Aping Aji : sebutan untuk kakek yang sudah pergi haji di beberapa daerah di Pulau Subawa. Araq : ada Bara : kandang Becerocet : berceloteh Bedis : kambing (bahasa Sumbawa) Bembeq : kambing ( bahasa Sasak) Berugak : bangunan berbentuk rumah tanpa dinding yang digunakan untuk tempat duduk bersantai Besebo : sarapan Eaq : kakak dari ibu/bapak Ee : iya; ya Ee, siyong bedis ta : iya, bukan kambing ini Jok : ke Klobot : kulit tongkol jagung Laguq : tetapi Lemamo : cepatlah; segeralah Lema maning : cepat mandi Leq les sedana : lama keluar suaranya ( lama nyahut/menjawab) Lomaq : talas Mamiq : panggilan bapak Suku Sasak yang berketurunan bangsawan ( lalu) Maq : ibu Naq bero : jangan begitu Nde : adik dari ibu/bapak Nengka : nanti Saleng suet : saling suruh Saq : yang Serioqan : melihat Siane : anda sudah ( untuk mempersilakan) Side : anda Tedu : diam Tiang : saya dalam bahasa Sasak (bentuk halus dari aku)


TAK SEANGGUN NAMANYA “Assalamu’alaikum, semuanya, selamat pagi.” Sapa siswi baru di dalam kelas kami. Senyumnya terus mengembang. Aku sudah tahui namanya. Dia dipanggil Anggun. Lengkapnya, Anggun Tanaya Happy Zalila Zidan. “Panggil saja...Anggun.” Ia melanjutkan perkenalannya. Ia pun dipersilakan duduk di tempat yang kosong. Ada perasaan bersalah yang hinggap di hatiku. Terbayang lagi kejadian memalukan dua hari lalu, tepatnya ketika keluarga Anggun pindahan. Aku dan adikku bermain petak umpet. Meski permain yang kami mainkan tidak cocok denganku, tapi mau gimana lagi....Aku mencari adikku yang kelihatannya berlari ke arah rumah sebelah. Kelihatannya rumah itu sibuk mindahin barang –barang dari atas pick up . Aku berusaha mencari adikku perlahan. Tetapi, tiba-tiba....praaaaang. Aku mematung...gadis itu berkacak pinggang dengan mata melotot hampir keluar. Mata yang begitu bulat dan bening. “Kamu punya mata nggak?!” gadis di depanku beteriak dengan suara nyaring dan melengking. “Sorry...sorry....maaf.” Hanya itu yang bisa terucap. Aku terus meminta maaf dan berusaha membantunya. Tapi, aku malah dibentak lagi. “Ada apa Anggun?” muncul seorang wanita dengan paras yang cantik sekali, seperti model. Kurasa, wanita ini ibunya, aku membatin. “Maaf....Tante....sa..saya tidak sengaja.”suaraku gugup. “Lihat Kak, diorama kesayanganku pecaaaaah....hu...hu...” Oh...kakanya!!!! Suaranya tiba-tiba berubah dratis. Yang tadinya galak sekarang....malah...seperti anak kecil....Dia duduk sambil nangis merang-raung seperti kucing beranak , kaki dihentakkan-hentakkan. Mulutnya tak henti-hentinya mengomel. Aku hanya bisa menunduk. Dilihat dari tampilannya, semestinya anak ini gak akan seperti ini. Wanita cantik yang baru saja muncul tidak menghiraukan gadis yang lagi ngambek itu. “Kamu...anaknya Tante Lika, ya?” suaranya begitu lembut. “I..i..iya, Kak. Maaf tadi, saya kira..” Jawababnku begitu gugup, terbata-bata. Bukan karena melihat wanita di depanku, tapi karena rasa bersalahku pada cewek yang terus-menerus menggerutu. Kulihat adikku keluar dari persembunyiannya dan berjalan ke arah kami. “Ini adikkmu?” Tanyanya lagi. Kutarik lengan adikku hingga sejajar denganku.


“Iya, Kak. Saya Gori, ini Qori,” aku menjulurkan tangan diikuti Qori. Kembali kulirik cewek yang sudah hampir selesai membersihkan serpihan-serpihan dioramanya. Tepat ketika tatapan mata kami bertemu di udara. Tanpa kuduga, ia menjulurkan lidahnya. Aku terkejut dan memalingkan tatapanku. “Gak usah dimasukkan ke hati,ya, kata-katanya Anggun, anaknya memang begitu, rewel,” Kalimat wanita cantik di depanku. “Eh...iya, Kak...sekali lagi saya mohon maaf.” Pintaku. “Kalau begitu, kami pamit, Kak.” Kami kemudian pamit. Kakak perempuna cewek itu menganggukkan kepalanya. Setelah di luar pagar, aku masih bisa mendengar suara cewek itu ngedumel. ‘Hai....Bosku...kenapa bengong?!” bisikan di telingaku membuyarkan ingatanku. Ah...Dion. Aku tak sadar ternyata guru sudah masuk . Perasaan bersalahku terus membayangi. Aku harus minta maaf secara langsung padanya, batinku. Bel istirahat berbunyi. Teman sekelasku dan siswa dari kelas lain pun berhamburan keluar meninggalkan ruang kelas mereka masing-masing. Tentu saja, kantin tujuan mereka. Mereka berjubel, gak beraturan. Jangan tanya tentang prokes, intinya yang terpenting adalah isi perut. Itu kata mereka. Padahal, imbauan melalui poster, spanduk, baliho, terpasang di mana-mana, tetap saja tidak diindahkan. Setelah wabah covid melanda seluruh dunia, termasuk Indonesia, meski akhir-akhir ini dikatakan sudah dinyatakan aman, tetapi, aku harus tetapa memakai masker dan menjalankan prokes lainnya. Aku tidak jajan di kantin. Ibu selalu menyiapkan sarapan dan membuatkan cemilan untukku dan adikku. Meski kadang, aku risih. “Jangan jajan sembarangan....tidak sehat.” Itulah kalimat ibu yang selalu diucapkan sebelum kami berangkat sekolah. Kuarahkan pandanganku ke belakang, ragu-ragu. Terlihat Nisa, Fitri, Lila, yang sedang ngobrol basa-basi perkenalan dengan siswi baru itu. Kulihat dia menatapku, acuh tak acuh. Kutarik lagi pandanganku. “Cie...cie...ehem...kayaknya ada yang mau curi-curi pandang nih,” suara Nisa membeo. “Apaan sih, biasa aja kali...” balas Anggun datar. “ Anggun, tahu tidak, cowok di depan kita itu, .....” Suara Lila semakin samar. Aku tidak bisa mendengarnya. Terdengar mereka cekikikan, “ Masak sih?” dan jawaban Anggun membuatku sedikit mengerti maksud kalimat Lila tadi. Aku hanya membisu. Ya sudahlah, lain kali cari waktu untuk minta maaf padanya, kutenangkan diriku.


Waktu terus berjalan. Tak terasa, bel pulang berbunyi. Aku tak bergegas seperti biasanya. Kucoba untuk menoleh ke belakang. Ah...ternyata dia sudah tidak terlihat. Kapan dia keluar? Ada perasaan kecewa menyelimuti. Kalau begini, kapan minta maafnya? Batinku. Kulangkahkan kaki keluar kelas dengan lesu. “Ciluk baaaa.....!” tiba-tiba suara cewek di depanku dengan ekspresi yang imut, tetapi dengan suara melengking dan nyaring telah berhasil mengejutkanku. Saking kagetnya, aku sampai terjatuh dengan bokongku terlebih dahulu terhempas di lantai kelas yang dingin. “Ha...ha...ha...!!!” suara tawanya terbahak-bahak melihatku dengan tatapan puas. “Kita....impas,” suaranya santai. Dia mengulurkan tangannya. “Bangun!” Lagilagi ia membekukanku. Tatapanku tak beralih darinya. “Gak usah, aku bisa sendiri!” Jawabku ketus. Aku pun bangkit. “Ya udah....” Ia pun dengan santai membalikkan badannya, hendak beranjak. “Tunggu!” Kuberanikan diri menghentikannya. Ia berhenti tanpa membalikkan badannya. “Aku minta maaf karena kejadian kemarin, walaupun kamu bilang kita impas. “Aku tidak sengaja.” Lanjutku. “Itu aja?!” Tanyanya membuatku bertanya-tanya. Ia pun berbalik. “Kamu tahu, benda itu adalah diorama kesayanganku.” Jelasnya. “Kenang-kenanganku dari nenekku.” Dia melanjutkan kalimatnya lagi. “Maafin aku ya,” Kuulang lagi ppermohonan maafku. “Aku terima maaf kamu, tapi.....,” suaranya tertahan dengan tatapan mata yang mencurigakan. “Tapi apa ?” kataku. “Kamu harus nraktir aku sekarang!” suaranya datar. “Baik....mau apa?” tanyaku tanpa ragu. “Bakso,” jawabnya singkat. “OK,” Aku setuju dengan syaratnya. Kami pun melangkah bersama.Ternyata langkahnya lincah dan gesit. Aku sedikit kewalahan menyamai langkahnya. “Bisa gak langkahnya lebih santai?” Tanyaku sambil terus berjalan. “Ah...kamu ini,” suaranya ketus. “Lapar tahu” mulutnya dimonyongin. Aduh cewek ini. Tapi , tanpa sadar, aku tersenyum melihat tingkahnya. Akhirnya, kami sampai di luar sekolah. Jarak seratus meter, Kebetulan ada tukang bakso yang


sedang parkir. Mamang tukang bakso yang laris manis karena baksonya enak, kata teman-teman. Aku gak pernah nyoba sih. Aku termasuk orang yang pilih-pilih makanan dan peduli kebersihan. Anggun duduk di bangku yang disediakan. Aku juga ikut duduk. Aku memesankan Anggun semangkuk bakso . Mudah-mudahan aja, uang sakuku cukup, batinku. “Kamu nggak makan?” Tanyanya. “Nggak, udah kenyang,” Jawabku seadanya. “Ya udah..., Mang, yang pedes ya!” Anggun berteriak ke tukang baksonya. Aduh cewek ini, bisa gak dia nggak teriak, kan tukang baksonya dekat. Satu mangkuk bakso dilahapnya sampai ludes sama air-airnya. Bahkan saat makan, dia sedikitpun nggak noleh ke arahku. “Satu lagi, Mang...baksonya enak, belum kenyang” Pintanya sambil mengelus perutnya. Waduh, aku hanya bengong menatapnya. Tuhan....cewek ini kecil, tapi perutnya....Ia melirikku sebelum memakan bakso pesanannya. “Kamu ada uang untu bayarkan?” Ia menanyaiku tanpa melihatku. Aku masih bengong menatap cewek di depanku. Terlalu banyak keterkejutan yang diberikan cewek ini. Melihat caranya makan yang tidak sabaran, belepotan, ditambah lagi cairan bening dari hidungnya, sebentar-sebentar dilap pakai tisu. Satu lagi, bibir mungilnya yang terlihat merah dan bengkak kepedasan. Keringatnya membanjiri wajah bersihnya. Tapi, dia begitu acuh padaku. Tak peduli dengan tatapanku. “Hei...kamu dengar tidak?” Tanyanya mengagetkanku. “Ya...kenapa?”Aku tergagap. “Bayar, aku sudah kenyang,” suaranya semangat sambil mengelus perutnya. Aku mengangguk dan langsung membayar dua mangkuk bakso. Cewek hebat, pikirku. Tapi... Kami pun pulang bersama. Jalan kami searah, tentu saja, ini karena kami tetanggaan. “Makasi ya traktirannya,” Ucapannya menyadarkanku ternyata kami sudah di depan rumahku. Aku hany membalasnya dengan anggukan dan senyuman kecil. Baru pertama kali ini aku begitu dekat dengan seorag cewek. Meski sekarang aku sudah di kelas 2 SMA. Tidak seperti teman-temanku yang sudah terbiasa dengan pergaulan yang kebablasan. “Assalamu’alaikum, Bu,” Sapaku pada ibu yang ada di dapur. Tak lupa aku mencuci tangan terlebih dahulu lalu mencium tangan ibu. “Wa’alaikumussalam,...Tumben, telat,” Suara ibu terdengar berbeda, tidak seperti biasanya. Memang, aku tidak pernah telat sebelumnya. “Maaf,Bu. Tadi ada sedikit masalah yang harus Gori selesaikan,” Kenapa aku berbohong menjawab ibu? Hatiku berdebar-debar. Aku malu untuk jujur. Aku malu


nantinya ibu akan melihatku dengan cara yang berbeda. Aku tahu, ibu pasti sudah bisa menebak isi hatiku. “Kalau memang kamu tidak mau cerita sekarang, gak masalah,” suara ibu normal kembali. Tapi tatapannya menusuk hatiku. “ Tapi, Gori mohon, ibu jangan melihat seperti itu,” pintaku. “Baiklah, kalau begitu, salat, makan dan istirahat,” perintah ibu. Aku pun ke kamar, mengganti baju, membereskan buku, kemudian salat. Usai salat, aku tak melihat bayangan Qori. Ternyata, Qori ke rumah temannya untuk mengerjakan tugas kelompok, kata ibu. Aku pun makan di dapur. Selesai makan, aku duduk di samping ibu. Sepertinya, ibu masih penasaran dengan keterlambatanku pulang. Tapi, aku berusaha meyakinkan ibu. “Gori tahu, ibu masih penasaran. Tapi, ibu jangan khawatir, gak ada masalah yang serius, kok,” Suaraku kucoba setenang mungkin agar ibu bisa yakin. Jujur saja, setelah kejadian di rumah Anggun, dadaku terus berdesir dan senyum-senyum sendiri setiap mengingat tatapan bening dan ekspresi wajahnya. Ah...apa ini? “ Gori ke kamar dulu ya, Bu,” Aku pamit pada ibu. Ibu hanya bisa menatapku dalam diam dan mengangguk. Badanku kurebahkan, tak berapa lama, aku merasa mata ku berat. Baru saja akan terlelap, tiba-tiba.... Hiaaat...ciat..ciat.hiaaaa. Suara yang begitu ribut dan memekakkan telinga. Aku duduk di tempat tidurku. “Siapa sih siang-siang begini ribut-ribut?” gerutuku. Kujongkokkan badanku bertumpu pada lutut di tepi jendela kamarku yang terbuka. Haaa....Aku melongo melihat pemandangan yang ekstrem. Anggun...cewek itu memakai baju putih dengan sabuk hitam sedang berlatih karate dengan ayahnya. Jadi, ini kemungkinan alasan logis, kenapa langkahny begitu gesit, lincah, dan tangkas. Aku tak bisa berhenti menatapnya. Gerakannya begitu tegas, jauh dari kesan anggun. Tak kuduga, Anggun melihat ke arahku. Ia tersenyum. Dadaku berdesir. Kuturunkan kepalaku. Pekerjaan menguntitku, akhirnya terhenti. *** Hari-hari berlalu seperti biasa. Tak ada yang istimewa. Tapi hari ini berbeda. Aku merasa ada yang mengikutiku. Hanya saja, aku terus melanjutkan perjalananku, tanpa menoleh. Hari ini, aku lebih awal lagi datang, karena aku piket kelas. “Hei Gori, tunggu!” Suara dari belakang mengejarku, menjajarkan langkahnya dengan langkahku. “Kenapa kamu berangkat pagi sekali?” Tanyanya penuh semangat. “Piket kelas,” jawabku singkat. Hanya oh yang kudengar. Kami pun berjalan bersama-sama. Tiba di gerbang sekolah, beberapa anak yang berpapasan dengan kami, menatap penuh arti.


“Kenapa mereka melihat ke arah kita seperti itu?” Tanya Anggun. Sebenarnya, aku tahu alasan mereka melihat kami seperti itu. Tentu saja, aku tahu alasan mereka berbisik-bisik. Selama ini, banyak di antara mereka ingin menarik perhatianku, alasannya beragam. Ada yang bilang pingin jadi siswa pintar sepertiku, karena aku cool, atau karena aku tampan? He..he...nyombong dikit. Terkadang aku geli mengingat tingkah mereka. Aku berhenti lalu menatap Anggun sesaat, kemudian mengangkat bahuku. Kami pun masuk kelas. Kuangkat bangku lalu menghapus papan. Kulihat cewek yang sudah mulai menganggu fokusku menatap tanpa henti. Aku risih. Kulihat seulas senyum tersungging di bibir mungilnya. Tak terduga, ia melangkah mendekatiku. Debaran di dadaku semakin kencang. Ia mengulurkan tangannya dan mengenggam gagang sapu yang kupegang. “Ehemeem...so sweet,” suara Nisa dan Fitri kompak. Spontan, sapu kulepas. “Anggun...baru beberapa hari , kamu sudah...,” suara Nisa semangat 45 tapi dipotong Fitria,” Ternyata sudah meleleh gunung es itu...,” timpalnya tak kalah semangat. Yang digoda hanya nyengir kuda. Aduh! Aku membatin, pasti mereka salah paham. Atau jangan-jangan, ini rencana mereka? Akhirnya, keluar adalah pilihan terbaik. Gak kuat rasanya menerima ledekan teman-teman tentu saja karena tidak terbiasa. Suasana sekolah telah sepenuhnya ramai oleh canda tawa siswa yang berdatangan. Aku sedikit merasa jengah denga suasana tadi pagi. Dari luar jendela, kulihat ketiga cewek itu tertawa lepas. Entah apa yang ditertawakan. Apakah mereka berhasil mengerjaiku?Ah...bodoh, aku menyalahkan diriku sendiri. Bel masuk pun berbunyi. Semua siswa masuk ke kelas masing-masing. Begitu juga aku. Aku keki, sekarang. Kucoba menenangkan diri. Kutarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan-pelan. Kudapatkan kembali fokusku. Jam pertama terlewati dengan aman. Baik, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mengatasi ketegangan ini. Presentasi tugas kelompok, kami selesaikan dengan baik. Teman-teman memberikan standing aplause atas penjelasan rinciku. “Ada yang mau bertanya?” Tanya Bu Vivi kepada teman-temanku. Tidak ada yang mengangkat tangan. Tiba saatnya kelompokku menutup presentasi kami. Tibatiba Lila menyela,”Anggun mau nanya, Bu,” suaranya menggoda Anggun. Seketika, wajahku terasa panas. Kukepalkan tangan di bawah meja untuk menekan grogi di hatiku, berkelebat kembali adegan tadi pagi. “Betul, Bu...dari tadi Anggun penasaran,”Sambung Fitri. Semua menatap Anggun penuh keheranan. Bukannya pembahasannya sudah jelas ? kira-kira seperti itu arti tatapan keheranan itu. “Silakan Anggun, pertanyannya,” moderator kelompokku menyilakan Anggun untuk bertanya. “Eng...anu...itu...apa,” Anggun pun grogi tak berdaya karena ditatap oleh seisi kelas. Kriiik....kriiik sesaat.


“Dia mau nanya, Gori sudah punya pacar belum?” Kalimat Nisa mengagetkan seisi kelas. Dia hanya bisa melongo melihat Nisa. Sedetik berikutnya, wajahku mengeras dan tambah panas menahan malu. “Nis,...apan sih!” bentak Anggun. “Nggak, Bu...bukan begitu!” Anggun berusaha menjelaskan. Teman-temanku ribut tak terkendali. Bu Vivi pun tak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya, Aku dan Anggun digoda habis-habisan. Aku sudah tak tahan. Kukuatkan lagi kepalan tanganku. Cukup sudah rasanya jadi objek candaan mereka. Braaak!!! Suara meja kugebrak, “Diam semuanya,” teriakanku menggema memenuhi ruang kelas. Semua terhenti. Sepi, hening, bahkan tak ada gerakan sedikitpun. Seolah-olah waktu terhenti. Semua pada posisinya. Kutatap seisi kelasku begitu juga Anggun yang terlihat syok. “Selama ini, aku hanya diam menanggapi ledekan, candaan, sematan, julukan, bahkan entah apalah namanya,” suaraku agak berat karena tertekan. “Tapi, hari ini sudah keterlaluan,” Nada suaraku tak kuubah. Tak ada yang bersuara.. Mereka masih syok mendengar suaraku, memang selama ini aku tidak banyak bicara. Kulangkahkan kaki ke arah Anggun. Semua menatap gerakanku tanpa bersuara. Untuk pertama kalinya, aku menangkap tatapan bola mata cokelat seperti madu itu sedekat ini. Kuraih tangan Anggun perlahan dan mengenggamnya erat. Ia tak berkutik. Debaran dihatiku bergejolak dengan sangat kencang. “Lepasin...,”pinta Anggun. Tapi aku tak menggubrisnya. Kulangkahkan kaki dengan tegas sambil menarik Anggun. Dia terlihat pucat, tidak seperti biasanya. Biasanya, selalu tertawa ceria, nyengir kuda,bahkan ngupil-suatu waktu pernah melihatnya-Ah...benar-benar tak anggun. Kusejajarkan posisi Anggun denganku tanpa melepaskan gengaman. Kudengar mereka mulai berbisik. “Dengar kata-kataku ini baik-baik,” kutata suaraku dengan tegas dan kuat.” Hari ini....Anggun Tanaya Happy Zalila Zidan menjadi pacar Gori Rakasya Al-Kahfi,” tegasku. Ekor mataku melihat tatapan Anggun. Sengaja tak kuhiraukan. Apakah terbalaskan perasaanku tadi pagi? “Yah...gagal deh...,”Suara riuh anak-anak cewek. “SO SWEET,” Fitri, Lila, dan Nisa kompak. “Gori..Gori...,” Suara Bu Vivi sambil menggelengkan kepala dan tersenyum kemudian keluar kelas karena memang jam pelajaran terakhir telah usai. Ekspresi masih seperti tadi. Teman-temaku berdehem. Ada yang memberi selamat, ada yang lesu, terutama yang cewek. Tersisalah kami berdua. Kulepaskan tangan Anggun yang sedari tadi meronta.


“Maksud kamu apa?” suaranya serak, matanya melotot, berkacang pinggang pula. “Ha...ha...haa...kena kamu!!!” suara tawaku tak tertahankan melihat ekspresinya. “Jadi, hanya prank?Aku kira...,” terdengar suaranya jengkel dan dongkol sekali. Kucoba redam tawaku, kusisakan senyum dan kembali ekapresiku serius. “Mau kamu?!” dengan ekspresi mataku menyipit menatapnya. “Kamu juga buat aku keki tadi pagi, “ Imbuhku “Tapi...,”Ia ingin menjelaskan, tapi kalimatnya kupatahkan. “Sudah...gak ada tapi tapian!” Suaraku masih serius. “Terus, bagaimana dengan anak-anak?,” suaranya ketus. “Mereka menganggap omonganmu....,”pungkasnya. “Biarkan saja,” Balasku sengit. “Kamu keterlaluan,” suaranya tiba-tiba lirih. Kulihat mata cokelatnya berkacakaca. Aku membeku menatap mata cokelat beningnya. “Balasanmu keterlaluan,” Ia membelakangiku dan berlari keluar kelas sambil menangis, tiba-tiba ia menoleh membalikkan badan ke arahku lagi. Aku hanya membeku menatapnya. “Anggun.....awaaas....!!!” suara teriakanku tak mampu menyelamatkan Anggun yang jatuh terjerembab ke depan karena tidak melihat anak tangga yang menurun. Spontan, kakiku berlari tanpa komando. “Kamu gak apa-apa kan?” tanyaku sambil mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. “Gak perlu!” bentaknya.”Aduuuh...sakit ....sakit,” ia pun menangis sejadijadinya seperti anak kecilyang direbut mainannya. Aku gak habis pikir, cewek jago karate dan kalau dilihat dari facenya begitu cantik, imut, dan....menawan tentunya, tapi lagi-lagi.... “Semua ini gara-gara kamu,” ia bersuara di sela tangisnya. “Kamu harus tanggung jawab, untung kepalaku gak bocor dan gegar otak,” imbuhnya lagi. Ia menyeka air matanya, dan....Tuhan... tak kuduga, dia malah mengelap ingusnya di bajuku . Astaga....cewek ini. Detik berikutnya, ia cengengesan. “Bakso, dua mangkuk,”lagi-lagi dia mematahkan nama dan tampilannya.Tapi, aku suka dia yang seperti ini. Dia tidak sok jaim di depanku. Anggun....Anggun....kau tak seanggun namamu. Aku hanya tersenyum menatapnya.


Click to View FlipBook Version