Antologi Cerpen Hasil Program Guru Penggerak "SaMu SaPen" Rinai Karya Siswa SMPN 47 Sijunjung Penyunting: Velly Syafriani, S.Pd CGP Angkatan 6 Kabupaten Sijunjung Satu Murid Satu Cerpen
Daftar isi Tanpa Jejak -- Sija Nurhahida Wetri Senyuman Terakhir-- Tasya Citra Lestari Kesedihan sebelum Kebahagiaan -- Wella Gustina Duri -- Salwa Ramadhani Sukma Kehilangan -- Tasya Citra Lestari 1. 2. 3. 4. 5.
Tanpa Jejak Penulis: Silja Nurhajida Wetri Namaku Silja, aku tinggal di Unggan Sumatera Barat. Aku adalah anak bungsu dari tiga bersaudara di keluargaku, aku mempunyai kakak yg sudah mempunyai suami dan 2 orang anak. Dan aku juga mempunyai abang yang sekarang berprofesi sebagai seorang Nahkoda di kepulauan Mentawai. Kami mempunyai seorang ayah yang bekerja sebagai petani. Dulu waktu aku masih kecil, ayahku bekerja sebagai seorang pencari gaharu dengan pamanku, aku sering ditinggal oleh ayahku dengan alasan pergi bekerja. Ayahku sudah hampir menempuh semua provinsi di Indonesia. Suatu ketika, ayah dan pamanku pulang kerja dari Riau, baru beberapa hari dirumah mereka harus kembali lagi bekerja, kali ini mereka memutuskan pergi ke hutan yang lebih jauh lagi, yaitu Papua. Menjelang keberangkatan mereka, pamanku sempat bertengkar dengan bibiku. Karena bertengkar pamanku bilang dia tidak akan pulang dari Papua selama 5 tahun, tapi sayangnya bibiku tidak mempercayai perkataan dari pamanku.
Pada saat ayahku ingin masuk ke dalam mobil, ia tidak lupa untuk mencium keningku dan juga kening anak pamanku atau sepupuku, begitu pun dengan pamanku. Anehnya pamanku menyemburkan air liurnya ke kepalaku dan juga sepupuku, aku tidak tahu kenapa dia seperti itu, biasanya dia tidak pernah seperti itu. Tak lama mereka pun berangkat, aku tidak sanggup menahan air mata melihat mereka pergi, kata ibuku, ayahku akan pergi sangat lama dari biasanya. Mendengar hal itu aku pun menangis hingga tersedu-sedu, dan ibuku pun mencoba untuk menenangkan ku. Beberapa hari kemudian... Ayahku menelpon ibuku, ayahku mengatakan bahwa ia sudah sampai di Papua dan ia akan pergi ke hutan yang ada di sana. Dan ibuku juga bilang kepada ayahku agar dia bisa menjaga pamanku, karena nenekku punya firasat buruk terhadap pamanku. Lima bulan berlalu semenjak ayahku menelpon ibuku, selama 5 bulan tersebut ayahku tidak ada kabar, mungkin itu karena jaringan memang sulit disana. Pada saat tengah malam ayahku menelpon ibuku, ibuku merasa heran karena tidak biasanya ayahku menelpon ibuku tengah malam. Karena hp ibuku berdering akupun terbangun, aku bertanya kepada ibuku.
“Bu, siapa yang telpon ibu tengah malam?.” “Ayah Nak, ayahmu menelpon ibu,” jawab ibuku dengan nada suaranya yang jelas terlihat sedih. “Oh ayah, apa kata ayah Bu? Kok ibu kelihatan sedih?”tanyaku. “Tapi kamu harus janji jangan bilang ke siapapun termasuk kepada sepupumu ataupun bibimu,” lanjutibuku. “Baik Bu, aku tidak akan bilang ke siapapun,” ucapku dengan penuh keyakinan. “Ayahmu tadi bilang ke ibu, bahwa pamanmu hilang,” jawab ibu “Hilang? Maksudnya apa sih bu?”tanyaku “Iya, bisa lah, hilang, pamanmu hilang, ayahmu tidak bisa menemukannya, ia hilang di hutan pada saat rombongan ayahmu ingin pulang kerumah yang ia tinggali disana,” jawab ibuku. “Apa! Loh Kok bisa?”tanya ku “ Ya ... Itu karena pamanmu tidak mau mendengarkan ayahmu,” jawab ibu “Ooo, jadi paman hilang karena tidak mau mendengarkan perkataan ayahku ya Bu,” ucapku. Dan ibuku pun menganggukkan kepalanya tanda bahwa perkataanku benar. Keesokkan harinya...
Sepupuku pergi main kerumah nenekku, aku mengajaknya bermain, dan pada saat bermain aku tidak sengaja mengatakan bahwa ayah sepupuku hilang, sepupuku terkejut. Esok harinya, aku di panggil oleh sepupuku, dan menyuruhku agar pergi ke rumah nenekku, karena disuruh tanpa berpikir panjang aku pun pergi kerumah nenekku. Ternyata sepupuku bilang ke ibunya bahwa ayahnya hilang, dan bibiku pun menanyakan hal tersebut kepadaku, aku sangat gugup menjawab semua perkataan bibiku. Karena aku waktu itu masih bocil kelas 1 SD, aku pun menjawabnya dengan jujur, semua yang ibuku katakan kepadaku. Aku pun mengatakan hal seperti itu kepada bibiku, nenekku juga mendengarkannya, nenekku langsung menangis mendengar haltersebut. Ibuku mengetahui bahwa aku membocorkan rahasia yang seharusnya aku tutupi dari bibi, sepupu, dan nenekku. Dan akhirnya, waktu malam hari, ibuku memarahiku. Baru berapa hari semenjak pamanku hilang, gosip tentang pamanku tersebar satu kampung, aku tidak tahu dari mana, ada yang bilang pamanku dimakan oleh buaya dan ada juga yang bilang pamanku sudah dipengaruhi oleh makhluk halus yang ada di sana. Padahal ceritanya tidak seperti itu.
2 tahun kemudian ... Setelah dua tahun ayahku mencari pamanku, akhirnya ia menyerah, karena pamanku sudah lama tidak ada kabar bahkan sampai dua tahun. Dan ayahku juga sudah tidak mempunyai biaya untuk hidup di sana, akhirnya ayahku dan para rombongannya memutuskan akan pulang ke Unggan lagi. Dan mereka meminta ibuku dan teman ibuku menjemput mereka. Saat kami ingin berangkat nenekku menangis, dan bertingkah seperti orang gila, padahal aku hanya menjemput ayahku. Pada akhirnya pamanku yang ada di Unggan mencoba menenangkannya, dan menyuruh kami untuk segera berangkat. Saat sampai di Padang aku bertemu dengan abangku yang waktu itu masih kuliah, ia juga ingin menjemput ayahku, dan saat sampai di bandara kami menunggu ayahku dan melihat pesawat dari dekat, aku kira pesawat itu memang kecil tenyata pesawat itu besar. Saat bermain di sana aku melihat seorang penjual es krim, aku mengajak abangku untuk membelinya, apalah daya seorang abang melihat adeknya ingin memakan es krim pasti akan dituruti.
Tak lama, pesawat yang di naiki ayahku mendarat dengan selamat, aku dan yang lainnya pun bergegas menuju ayahku dan rombongannya, pada saat itu aku merasa ada yang kurang, ternyata perasaan itu karena pamanku yang tidak ada, perasaanku waktu itu campur aduk, antara senang dan sedih. Karena aku sudah bertemu dengan ayahku, kami pun pergi ke kos abangku yang tidak jauh dari bandara, di sana ayahku menceritakan kejadian selama di Papua, ayahku bilang sebelum pamanku hilang ia sempat bertengkar dengan pamanku, pamanku saat itu sangat egois, dia sama sekali tidak mempercayai omongon ayahku karena sudah terpengaruh oleh makhluk halus yang ada di hutan Papua tersebut. Pamanku diganggu oleh makhluk halus karena ada satu larangan yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh siapapun, sayangnya larangan tersebut aku tidak tahu pasti itu apa, karena ayahku tidak menyebutkannya atau di rahasiakan dari siapapun, dan pamanku melanggar larangan tersebut. Makhluk halus tersebut mempunyai nama, yaitu KUBU. Kata ayahku, saat mereka ingin pulang ke tempat mereka tinggal atau kos mereka. Ada satu persimpangan yang mereka ragukan, ayahku bilang kalau jalan pulang adalah sebelah kiri, sedangkan pamanku bilang sebelah kanan, karena di sebelah kanan terdapat sungai kecil, kata penduduk Papua sungai tersebut adalah sungai yang di huni oleh orang kubu atau makhluk halus yang mengganggu pamanku.
Mereka sering bermain di sana dan sungai tersebut disebut dengan rumah orang kubu. Ada salah satu penduduk Papua bilang ke ayahku bahwa di sana pamanku akan menjadi suami dari salah satu anak gadis orang kubu, karena batasan orang biasa dengan orang kubu sudah dilewati oleh pamanku, yaitu lumpur yang sangat dalam dan bisa membuat orang tenggelam dalam lumpur tersebut, anehnya pamanku melewati itu sama sekali tidak tenggelam, sedangkan ayahku dan juga rombongannya sempat ingin tenggelam disana, karena ingin mengejar pamanku. Pamanku bisa melewatinya karena sudah termasuk salah satu orang kubu. Seperti gosip sudah beredar di mana-mana tentang pamanku ternyata salah atau mitos, kejadian yang sebenarnya adalah pamanku dipengaruhi oleh orang kubu karena sudah melanggar aturan yang dibuat oleh nenek moyang orang kubu dan akan menjadi suami salah satu anak gadis orang kubu. Kata ayahku orang kubu yang dulu berbeda dengan yang sekarang, sekarang orang kubu sudah tidak tinggal lagi di hutan, sedangkan waktu ayahku di papua orang kubu tinggal di hutan dan memiliki ilmu goib yang sangat berbahaya bagi orang biasa. Setelah bercerita di kos abangku, akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke Unggan. Setelah sampai di Unggan ayahku langsung menemui nenekku dan kakekku untuk meminta maaf karena tidak bisa menjaga pamanku atau adiknya.
Karena nenekku sangat menginginkan kembali pamanku, akhirnya ia meminta berbagai dukun untuk melihat keadaan pamanku, dukun itu bilang pamanku masih hidup, tapi ia sudah mempunyai keluarga di sana, dan juga sudah mempunyai seorang anak perempuan. Satu tahun kemudian kakekku meninggal, sebelum ia meninggal ia masih berharap bahwa ia akan bertemu dengan pamanku, tetapi saat ia meninggal ia masih belum bisa bertemu dengan pamanku. Karena kakekku sudah meninggal akhirnya nenekku tidak lagi pergi ke dukun, ia akan mencoba mengikhlaskan pamanku bagaimana pun caranya walaupun itu sangat sulit. Sudah enam tahun semenjak pamanku hilang, kakakku sering bermimpi tentang pamanku, di dalam mimpi tersebut pamanku mengatakan bahwa, ia bisa bebas dari orang kubu, tetapi dengan cara simbol yang ada di bagian tangan kirinya bisa di lepaskan, dan pamanku meminta bantuan kepada kakakku. Suatu ketika kakakku dan abangku mendapatkan nomor telepon pamanku dari teman abangku yang satu kos dengan abangku, kakakku mencoba menelpon nomor tersebut. Tidak di sangka nomor tersebut benar-benar diangkat oleh seorang laki-laki. "Halo," kata kakakku "Iya, ini siapa ya?" jawab pamanku "Ini Ises Paman, anak Mardiwas," lanjut kakakku
Mendengar hal itu telepon dari kakakku dimatikan begitu saja, dan sekarang giliran abangku, hal yang sama juga terjadi. Kakakku menyimpulkan bahwa pamanku tidak ingin pulang ke Unggan lagi. Semenjak kejadian tersebut, kami sekeluarga memutuskan untuk mengikhlaskan pamanku. Dan bibiku memutuskan untuk menikah lagi setelah menjadi janda selama 8 tahun. Sampai saat ini pamanku masih tidak ditemukan, dan mungkin tidak akan ditemukan. Tamat
Namanya Rahmad Novesa. Anak pertama dan memiliki seorang adik perempuan. Vesa begitu orang-orang memanggilnya. Dia juga punya prestasi yang cukup membanggakan. orangnya pendiam, ganteng dan taat dalam beribadah. Sewaktu dia duduk di sekolah dasar dia adalah murid yang cukup pandai dalam kelasnya, dia mendapatkan juara kelas. Dia juga bisa di katakan pintar. Suatu ketika saat penerimaan raport, dia yang biasanya adalah siswa yang mendapat juara kelas kecewa, karna dia mendapatkan peringkat 5. Saat pulang ia malu dan takut karena ia berfikir ibunya akan memarahinya. Saat akan di tanya ibunya. Ia hilang, dan ngumpet di bawah kolong tempat tidur kakeknya. Semua orang mencari dan khawatir akan tindakannya. Kebetulan pada saat itu mati lampu sehingga ibunya beserta keluarganya hanya bisa mencarinya dengan lampu minyak tanah. Tak ada rasa takut sedikitpun di dalam dirinya, padahal di kamar kakeknya sangat gelap. Tak terfikirkan dia akan mengumpet di bawah kolong tempat tidur yang di isi dengan karduskurdus buku yang dimiliki kakeknya. Senyum Terakhir Penulis: Tasya Citra Lestari
Sekitar sejam atau dua jam lebih mencarinya, dia keluar dari kolong tempat tidur dan pindah ke bawah kolong meja yang cukup menyembunyikan badannya yang kecil mungil. Saat di temui di kolong meja dia terkejut, dia seperti takut untuk menatap wajah ibunya. Tapi ibunya tak memarahinya, dia hanya menanyakan tentang raportnya. Vesa menjawab dengan jujur. Tanpa dia sangka ternyata ibunya tak marah sedikitpun. Dia hanya tersenyum lebar dan menasehati Vesa agar tidak mengumpet lagi dan lebih giat untuk belajar. Setelah penerimaan raport pasti liburan, dia hanya liburan di rumah saja. Tak ada kunjungan ke tempat-tempat wisata yang dia lakukan. Hanya di rumah dan di perkarangan saja dia menghabiskan waktu liburannya. Dia tidak pernah meminta agar diajak jalan-jalan oleh orang tuanya. Dia tidak ingin merepotkan ibu dan bapaknya karna jalan-jalan. Dia sadar bapak dan ibunya hanya seorang petani kebun yang harus mengurusi kebun dan sawah. Bahkan ketika dia mendapatkan juara kelas, dia tak meminta apapun dari bapak dan ibunya. Keseharian Vesa di rumah saat liburan hanya menolong ibu di kebun dan terkadang dia mencari ikan di sungai bersama teman-temannya yang bernasib sama dengannya. Dia tak pernah mengeluh kepada ibunya.
Dia juga tidak pernah meminta uang jajan lebih atau pun kado spesial dari ibunya. Dia adalah laki-laki pekerja dan polos. Jika mau sesuatu dia tak akan memintanya pada ibunya tapi akan mengumpulkan uang jajan nya hingga sanggup membeli sesuatu itu. Disaat teman-temannya punya sepeda ia tak meminta sepeda kepada ibu ataupun bapaknya. Dia hanya diam dan melakukan kesehariannya. Mungkin karna bapaknya tahu kalau cuma Vesa yang belum punya sepeda, Ia membelikan Vesa sepeda yang saat itu cukup jadi incaran banyak anak. Terlihat raut wajah Vesa yang sangat senang menerima sepeda dari orang tuanya. Dalam mengendarai sepeda Vesa juga cukup mahir karna sudah pernah menaiki sepeda temannya.. Setelah tamat dari sekolah dasar, dia memilih bersekolah di salah satu SMP yang berjarak cukup jauh dari rumahnya. Namun dia sangat bersemangat sekolah disana. Ibunya dan Bapaknya juga mengizinkan untuk bersekolah disana. Meski jaraknya lumayan jauh, dia bersemangat karna dia ingin sekali sekolah disana. Selama SMP dia adalah anak remaja yang berteman tanpa melibatkan perasaan. Dia punya banyak teman. Baik itu cowok ataupun cewek. Dia juga tak pernah pacaran selama SMP. Setahuku dia anak yang suka berteman dengan siapapun. Mau jahat sekalipun seseorang kepadanya, dia pasti membalas baik kepada orang itu.
Saat SMP dia juga mendapatkan peringkat kelas dan dia juga pernah mendapatkan juara umum. Tak disangkanya ia akan mendapatkan juara umum, karna itu adalah penerimaan raport semester terakhir baginya di SMP. Ia sangat senang pulang ke rumah membawa sebuah amplop dan buku hadiah. Dan saat sampai di rumah, ibu dan bapaknya terlihat sangat bahagia dan bangga atas prestasi yang ia dapatkan. Setelah tamat, Vesa melanjutkan sekolahnya ke salah satu SMA favorit di Kabupaten Sijunjung. Dia di terima dan kost di salah satu rumah kecil di dekat sekolahnya. Ia mencari kosan yang dekat sekolah agar ia bisa jalan kaki ke sekolahnya. Karna ngekost dia memerlukan peralatan, jadi pamannya lah yang membantu membelikan peralatan yang dia butuhkan. Jadi ibunya tidak terlalu repot karna harus membeli barang-barang. Di SMA dia juga tak pernah sombong. Salatnya di jaga dengan baik. Ia pun bercita-cita ingin sukses dan membanggakan orang tuanya. Tak ada gaya trend di dalam dirinya. Dia bergaya sesuai dengan apa yang ia punya. Namun walaupun orang-orang tau dia hanya anak petani, dia tak pernah di kucilkan. Dia punya banyak teman. Mulai dari orangtuanya dokter, bidan, guru, dan bahkan anak petani sepertinya pun menjadi temannya.
Dia tak pernah malu dengan keadaan orang tuanya. Tak ada rasa kesal saat orang tuanya telat mengirimkan uang kepadanya. Dia penyabar. Tak pernah marah karna uang yang orang tuanya kirimkan walau itu sedikit. Ia tahu bahwa orang tuanya bukanlah orang kaya, jadi ia hanya bisa menerima tak pernah meminta. HP pun ia di belikan pamannya. Karna ia berhasil mendapatkan peringkat sepuluh besar. Tiga tahun bersekolah jauh dari orang tua. Dan kini ia hampir menamatkan sekolahnya. Setiap liburan semester ia selalu pulang untuk melihat orang tuanya. Ia tak berani pulang terlalu sering karna akan banyak memakan biaya. Jika dia sakit biasanya ia di jenguk pamannya yang kebetulan bekerja dan punya rumah di sekitar sekolah nya. Tamat dengan nilai yang lumayan baik dan di terima di salah satu universitas di kota Pekanbaru menjadi hal yang sangat membanggakan baginya. Hari itu, sekolahnya menyelenggarakan perpisahan untuk anak-anak yang telah lulus dan bagi seluruh siswa. Untuk pertama kalinya keluarga kecil Vesa datang dan melihat kondisi sekolahnya. Ibu, bapak beserta seorang adik perempuan nya datang ke sekolahnya hari itu. Perasaannya sudah tentu campur aduk. Antara senang dan terharu. Ia begitu bangga memperkenalkan orang tuanya yang hanya berprofesi sebagai petani sawah dan kebun.
Penampilan demi penampilan ditampilkan oleh seluruh kelas. Termasuk kelas Vesa yang menarikan lagu kekinian atau yang di sebut anak sekarang dance. Orang tua Vesa sangat bangga kepadanya. Vesa sangat pintar dalam berteman, ia tak pernah membeda-bedakan temantemannya. Ia mau berteman dengan siapa saja. Ia sangat baik dan jarang emosi dalam urusannya. Bahkan saat ada permasalahan rumit ia lebih mengutamakan berpikir dengan kepala dingin, ia tak berani jika harus mengambiltindakan saat sedang marah merajainya. Setelah perpisahan pun Vesa mengikuti bimbel di kota padang. Karna di kampungnya tak ada bimbel. Ia juga mendaftarkan dirinya untuk bersekolah di salah satu Universitas di Riau Pekanbaru. Ia berharap ia bisa lolos disana dengan jalur BIDIKMISI. Beberapa bulan setelahnya, ia mendapatkan kabar bahwa ia Lulus dan berhasil untuk kuliah di UNRI. Ia bangga sekali karna di samping lolos dengan kuliahnya ia juga mendapatkan BIDIKMISI. Jadi ia tak membayar uang kuliah saat semester pertama yang biasanya cukup mahal, baginya yang hanya anak seorang petani. Kemudahan demi kemudahan di berikan Allah kepadanya. Tepat sekali langkahnya untuk mengambil sekolah di sana dengan Jurusan Teknik. Salah satu pamannya yang sudah cukup sukses juga tinggal di pekanbaru. Tetapirumahnya lumayan jauh dari kampus.
Jadi selama Vesa ospek dan mencari tempat tinggal dia menempati rumah pamannya dan menggunakan sepeda motor pamannya untuk pergi ke tempatia kuliah. Setelah ospek itu, Alhamdulillah ia mendapatkan tempat tinggal yang berada tepat di belakang kampus. Kami keluarganya datang untuk mengantarkannya. Semua peralatannya di pindahkan ke kontrakan barunya. Yang hanya di sewakan untuk kamar saja. Selama kuliah Vesa tak ingin pulang terlalu sering, karna ia menghemat biaya. Sambil kuliah ia juga berjualan online. Menjual Casing hanphone. Ia dan teman-Temannya berencana mendirikan usaha yang bisa memberikan mereka untung sekaligus untuk biaya mereka selama kuliah. Agar tidak terlalu merepotkan orang tua mereka. Apalagi sekarang Vesa tak lagi mendapatkan BIDIKMISI. Karna melihat Vesa yang begitu giat belajar dan tak pernah meninggalkan sholat dan ia selalu menyempatkan waktunya untuk ke masjid, salah seoeang dosennya mengajak Vesa untuk tinggal di rumahnya. Dengan senang hati Vesa menerima hal itu. Sebelum itu juga Vesa sudah dianggap sebagai asisten dosennya itu dan menjadi penjaga laboratorium yang biasa teman-temannya pakai.
Vesa memiliki 2 Orang teman yang begitu akrab dengannya saat kuliah ini. Salah satu temannnya adalah orang Bukittinggi dan satu lagi asli orang Pekanbaru. Saat mereka akan memulai bisnisnya untuk mendirikan usaha kecil-kecilan, liburan datang. Dan tentu saja mereka harus pulang ke kampung mereka masing-masing. Temannya yang saat itu pulang dari Pekanbaru ke Bukitinggi dengan mengendarai sepeda motor miliknya, saat itu bertabrakan di Kelok Sembilan dengan sebuah Mobil yang membuat teman Vesa tersebut meninggal dunia dan berita yang di dapatkan muka temannya sudah hancur. Dia tak bisa di kenali lagi. Dan orang-orang mengetahuinya karna jaket almamater kampus yang bertuliskan nama dari pria tersebut. Vesa ikut mengantarkan jenazah temannya ke rumah peristirahatan terakhir baginya. Setiap kali Hari Raya aidil Fitri Vesa selalu menjunguk keluarga daritemannya tersebut. Setelah kejadian itu, Vesa kembali fokus kuliah, karna ia berharap bisa menamatkan kuliahnya secepatnya. Satu tahun setelah kecelakaan yang terjadi pada salah satu temannya tersebut. Kecelakaaan maut pun terjadi padanya. Maut tak bisa terelakkan. Mati adalah takdir. Tapi caranya yang begitu sadis membuat keluarga besarnya tak terima begitu saja
Minggu 20 Oktober 2019 satu nyawa melayang karna sepeda motor. Ceritanya begini: "Saat itu adalah menjelang salat zhuhur. Semua orang berniat melaksanakan salat di masjid. Karna masjid sudah penuh Vesa mengajak temannya untuk salat di musholla sebelah masjid. Saat vesa ingin melangkah ke sebarang, sebuah motor dengan begitu kencang menabrak Vesa. Hingga ia terpelanting sejauh 8 meter. Pekikkan terdengar. Tapi nyawa tak bisa tertolongkan. Vesa tergeletak di pinggir jalan dengan tubuh kaku yang tak bisa di gerakkan. Semua menolong Vesa dan melarikannya ke puskesmas kampus yang berada cukup dekat. Namun nyawanya tak tertolong lagi. Dan syukur pelaku atau pengendara motor ditangkap oleh teman-temannya. Meskipun saat itu pelaku purapura pingsan. Pelaku di bawa kekantor polisi dan korban atas nama Vesa itupun tak tertong lagi. Pihak keluarga saat itu terkejut karna semalam sebelum kejadian pihak keluarga masih berkomunikasi lewat handphone dengan vesa. Singkat cerita tangis histeris terjadi di puskesmas tempat Vesa di larikan. Keluarga Vesa pun ikut menangis di kampung. Semua menjerit mendengar berita duka. Semua menangis karna tak menyangka orang baik dan rajin sholat itu harus pergi dengan cepat dan dengan cara yang dirasa tak tepat.
Karena jarak yang cukup jauh antara tempat kejadian dengan kampung korban. Korbanpun sampai kampungnya malam. Dan tangis sedih pun terdengar lagi.saat jenazah masuk kedalam rumah duka tak ada bau amis darah, padahal darahnya masih mengalir sedikit. Tak ada bau amis yang ada hanya bau wangi seperti minyak kasturi. Pagi harinya jenazah di mandikan dan sebelum zhuhur jenazah sudah dikebumikan. Saat menyalatkan pun tak tercium wangi amis, lagi lagi bau minyak kasturi. Tak sedikit orang yang menyolatkannya. Masjid tempat ia di solatkan penuh dengan umat yang ingin menyolatkan nya untuk terakhir kalinya. Semua teman teman nya pulang untuk melayat, bahkan dosen dan gurunya semasa sekolah melayat . Orangtua nya yang sudah tua menangis dengan penuh air mata. Matanya bengkak hanya darah saja yang belum keluar dari matanya. Keluarga nya pun begitu." Dan hal terakhir yang saya ingat, dia meninggal dengan senyuman terakhirnya. Itulah senyuman abadinya. Dia tersenyum dengan bahagia. Tamat
Namaku Agni Lila sagara,biasa di panggil Lila. Saat ini usiaku memasuki 16 tahun. Aku memiliki tinggi diatas rata-rata teman seusiaku, rambutku ikal, kulitku sawo matang. Aku memiliki saudara laki laki yang baru menginjak usia SD. Saat ini aku sedang merenungi masa masa yang lampau disebuah kursi panjang sambil melihat indahnya langit jingga disore hari. Dulu aku, ibuku dan bapakku hanya tinggal disebuah pondok kecil ditengah sawah dikarenakan ada sebuah masalah keluarga. Aku tinggal bersama keluarga kecilku dipondok tersebut sekitar dua setengah tahun. Sampai akhirnya bapakku mengalami penyakit. Dan kami sekeluarga memutuskan untuk pindah kerumah kami yang ada di kampung. Bapakku mengalami penyakitnya selama 1 tahun, dan selama itu pula ibuku yang bekerja untuk menghidupkan kebutuhan kami sehari hari .Ibuku bekerja sambil mengembala kambing dalam keadaan hamil. Hingga satu hari sebelum bapakku meninggal dunia dia meninggalkan pesan kepadaku saatitu. “Baik-baik tinggal ya Nak!”ucap bapakku sambilterengah-engah. Kesedihan sebelum Kebahagiaan Penulis: Wella Gustina
Aku yang mendengar itu hanya bisa menangis,dan begitu juga dengan ibuku yang saat iitu baru saja memberikan obat daun daunan kepada bapakku. “Apakah kamu tidak akan merawat kami lagi?”tanya ibuku sambil terisak. “Aku tak tahan lagi, aku sudah tak kuat” jawab bapak. Dan setelah itu, kami bertiga hanya bisa menangis karna tak tau lagi harus bagaimana dengan semuanya. Hingga esok harinya bapakku meninggal dunia,a ku ingat betul bagaimana dia memelukku sebelum dia meghembuskan nafas terakhirnya.Tapi aku sungguh menyesal karna tidak sempat melihat detik detik dia meghembuskan nafas terakhirnya dihadapanku. Setelah dia memelukku, aku pergi hanya untuk menenangkan pikiranku.Tapi belum sampai kakiku melangkah sampai kedepan pintu, suara tangis ibuku pecah dan seketika aku berbalik dan melihat apa yang terjadi.Dan ternyata bapakku sudah tidak ada lagi. “BAPAAAAK!” jeritku histeris. Duniaku seakan runtuh karna ditinggalkan oleh seorang laki laki dari cinta pertamaku saat akan memasuki kelas 3 SD dan saat itu ibuku yang sedang hamil besar.
Empat puluh dua hari setelah bapakku meninggal. Adikku lahir dalam keadaan prematur dan mengharuskan ia untuk mandi dengan minyak dan dua buah botol kaca disampingnya yang berisi air panas. Pasti sangat berat bagi ibuku yang melahirkan anak tanpa suami, dan juga bayi Yang dilahirkan adalah prematur.Tapi walaupun begitu, aku tidak pernah melihat ibuku menangis saat didekatku.Mungkin ibuku tidak ingin terlihat lemah didepanku, mungkin ia ingin aku tidak bersedih kalo melihatnya sedih. Tapi aku thau ibuku tak sekuat itu untuk bisa menghadapi itu semua. Satu setengah tahun berlalu, datang seorang pria kerumahku saat malam hari. Dia menyampaikan bahwa ia ingin menikahi ibu dan ingin merawatku dan adikku. Saat mendengar itu, aku menolak mentah mentah keinginan tersebut. Aku menangis sambil mengatakan tidak mau dan mengatakan bahwa aku sudah memiki bapak. Aku lari kekamarku sambil menangis dan memeluk adikku yang sedang tidur. Sampai-sampai aku tidak menyadari bahwa aku sudah tertidur karna menangis. Beberapa hari telah berlalu ,saat itu aku dan ibuku sedang berada didalam kamarku. Dan ibuku memberikan pengertian bahwa ia meminta izin padaku untuk menikah lagi, awalnya aku menolak tapi ibuku mengatakan.
“Jika umpamanya suatu saat nanti, Ibu meninggal siapa yang akan merawat kalian berdua,” ucap ibuku lirih. Mendengar itu aku sempat termenung, aku tidak memikirkan bagaimana susahnya ibuku saat memenuhi kebutuhanku dan adikku. Aku tidak berpikir bahwa ia akan susah untuk menafkahi kami sendiri. Memikirkan susah ibuku, membuat hatiku perih dan sakit.Tanpa terasa air mataku luruh dengan sendirinya. Aku membelakangi ibuku karna tak ingin dia melihatku menangis. Dan pada akhirnya aku membolehkan ibuku untuk menikah lagi. Sebulan berlalu ,aku menyaksikan ibuku menikah lagi. Aku bahagia bisa melihat ibuku bahagia dan semoga saja dia tidak susah lagi. Sudah cukup kesedihannya selama ini. Dan pria yang menikahi ibuku aku panggil ayah dengan adikku, semenjak adanya ayahku, ibuku tidak lagi mencari uang untuk kami.Ibuku hanya membantu sedikit sedikit. Ibuku yang dulunya hanya terus bekerja untukku dan adikku kini sudah lebih cantik dari dulu bahkan lebih cantik dariku.Terkadang orang orang yang tidak mengenal aku dan ibuku mengira kami adalah adik kakak. Ayahku begitu menyayangi aku dan adikku, tak pernah sedikitpun dia bersikap kasar padaku. Jangankan bersikap kasar, suara tinggi saja tidak pernah. Dia menyayangiku dan adikku layaknya anak kandung.Bahkan lebih besar dari itu, begitupun aku yang menyayanginya.
Aku merasa dia sudah menjadi ayah kandungku, dia merawatku bagai kasih sayang. Aku yang kehilangan kasih sayang dari seorang ayah mendapatkan kasih sayang yang berlimpah darinya. Mungkin jika aku tidak mengizinkan ibuku menikah dengan ayahku ,mungkin kasih sayang itu semua tak akan bisa kurasakan. Mungkin itu semua akan menjadi milik orang lain. Aku sangat bersyukur dengan semua ini yang sudah memberiku kebahagiaan yang berlimpah walau sederhana. Dan sekarang hidupku diwarnai dengan kebahagiaan, mungkin dulunya memang susah, aku yang masih kecil harus tinggal dipondok kecil dan bapakku meninggalkanku untuk selamanya.Tapi dengan kehadiran ayahku aku sangat bahagia dan hidupku kini lebih dari kata cukup. “Kak,ngapain Kakak sendiri disini. Ayo masuk rumah sudah mau Magrib. Kakak dipanggil Ibu,” ucap adikku dari arah belakang. Aku yang mendengar itu seketika tersadar dari lamunanku dan melihat kearah adik yang tersenyum kearahku. “Oh iya, ayo!”ajakku pada sang adik. Aku berjalan bersama adikku dan ternyata ibuku sudah menantiku didepan pintu dengan senyum dibibirnya.
Tidak ada kebahagiaan sebelum kesedihan, pasti akan ada masanya dimana kesedihan itu menimpa kita.Tapi itu semua hanya cobaan dari yang maha kuasa untuk kita tetap tabah dalam menghadapinya dan bagaimana cara kita menghadapi itu semua. Setelah ada kesedihan pasti akan ada kebahagiaan, dan itu semua tergantung pada kita dalam menantinya dengan penuh kesabaran dan tetap berdoalah kepada sang pencipta. Tamat
"Hati-hati, Yah" ucap Kak Ana sambil melambaikan tangannya ke arah Ayah. Hari ini adalah hari Minggu, hari ini ayahku berangkat kerja, ayah bekerja sebagai seorang sopir. Namaku Alizha, bisa di panggil Zazha. Ayahku bernama Farhan, Ibuku bernama Ratna, dan kakakku bernama Ananta. Aku, Ibu, dan kakak terpisah dari Ayah selama 11 tahun. Dulu kami tinggal di Duri. Waktu aku berumur 3 tahun, Ayah dan Ibu pisah karena ada orang ketiga. Namanya Siska, dia kejam, dia selalu melarang Ayah untuk bertemu kami. Dia juga melarang Ayah untuk memberi kami uang. Setelah 2 tahun Ibu menjadi tulang punggung keluarga kami, Ibu menikah dengan seorang laki-laki duda anak 3. Tapi Ibu bisa menerima dan memperlakukan ketiga saudara tiriku itu dengan baik. Aku bahagia karena ibu sudah menikah, jadi ibu nggak harus kerja lagi. Jujur, aku selalu sedih serial melihat Ibu harus pergi ke kebun karet untuk mencari nafkah agar bisa memenuhi kebutuhan kami. Kalau aku bangun tidur, aku sudah tidak melihat Ibu di sampingku, aku terus memanggil Ibu sambil menangis, aku mencari Ibu ke setiap sudutrumah. Duri Penulis: Salwa Ramadhani Sukma
Kalau sudah Zuhur, Ibu akan pulang ke rumah untuk salat dan makan. Ketika Ibu pulang, aku langsung berlari dan duduk di pangkuannya. Setelah salat dan makan, Ibu pergi lagi ke kebun karet. Aku selalu meneteskan air mataku ketika melihat punggung Ibu berjalan pergi menjauh meninggalkan rumah. Aku sangat bahagia jika aku sakit, karena kalau aku sakit ibu tidak akan pergi ke kebun karet. Dulu aku selalu berdoa agar aku selalu sakit. Aku juga bahagia kalau hari hujan, karena Ibu tidak akan pergi ke kebun karet. Dulu aku tidak berpikir seperti sekarang. Dulu aku sering mikir, kenapa Ibu tega meninggalkan aku. Kenapa Ibu tidak menghabiskan waktunya untukku. "Aku tidak butuh uang, aku hanya butuh Ibu!" ucapku. Sekarang aku sudah berumur 14 tahun. Sekitar 4 bulan yang lalu, Ibu dan Ayah rujuk. Ibu berpisah dengan Ayah tiriku 1 tahun yang lalu karena masalah, tapi aku tidak tau masalah apa itu. Ayah dan Ibu tiriku berpisah sekitar1 bulan yang lalu. Aku senang bisa berkumpul dengan keluargaku. Aku sangat bahagia Ayah kembali kepada kami. Dan Ibu tidak susah lagi mencari uang untuk kami. Aku bahagia, tapi aku juga kurang nyaman, karena aku belum terbiasa dengan kehadiran Ayah. Tapi seiring berjalan wkatu, aku mulai terbiasa.
Ayah telah pergi bekerja dan hari ini empat hari setelah ayah pergi bekerja. Hari ini ayah pulang dan aku merasa senang, karena ayah membelikanku dendeng. Dendeng adalah salah satu makanan terfavoritku. "Assalamu'alaikum," ucap Ayah sambil mengetuk pintu. "Wa'alaikumsalam," sahutku sambil menyalamitangan Ayah. Ayah mengayunkan sebuah kantung plastik yang isinya sudah pasti dendeng. Aku langsung meraihnya dan menyimpannya untuk makan malam.Aku bahagia karena bisa makan dan berkumpul dengan keluarga kecilku. "Aku berharap kita selalu seperti ini " harapku. "Aku juga berharap begitu," sahut kak Ana. Kami melanjutkan makan malam dan setelah itu kami melanjutkan salatIsya berjamaah. Setelah seminggu dirumah. Ayah pergi kerja lagi. Namu kali ini setelah beberapa hari Ayah pergi. Tak kami dengar lagi kabar ayah. Kami mencoba menghubungi Ayah beberapa kali,tapi Ayah tidak bisa. Keesokkan harinya, Ayah menelpon ibu dan aku menyimak pembicaraanya. "Tadi kami menghubungi kamu, kenapa kamu nggak jawab telpon kami?"tanya Ibu.
" "Rat, aku di rumah Siska, Siska sakit gak ada yang ngurusin", tutur Ayah. "Bodoh" gumamku dalam hati. Aku pergi kerumah sepupuku. Aku tidak ingin mendengarkan percakapan bodoh itu. Aku tidak habis pikir, entah kenapa ayah begitu patuh kepada Ibu tiriku itu. Padahal mereka sering bertengkar. Tapi Ayah masih mau kembali padanya. Aku bingung, kenapa ayah tidak mau meninggalkannya. Aku rindu Ayah yang dulu, yang bijaksana, lembut, penyayang, adil, tapi sekarang sudah berbeda. Untuk kesekian kalinya ayah membuatku sakit hati, wanita ketiga itu selalu hadir bagai duri. Duri penghalang kebahagiaan keluarga kami. Namun aku hanya bisa pasrah, karena aku percaya dibalik semua ini pasti ada hikmah besar yang Allah siapkan untukku, ibu dan saudarasaudaraku. Tamat
Namaku adalah Putri Andini. Biasa di panggil dini. Usiaku masih 15 tahun dan pastinya aku masih kelas 9 SMP. Aku adalah anak ke-2 dari 4 orang bersaudara. Tinggal di kampung bersama nenek kakekku yang sudah tua, dan jauh dari orang tua. Aku punya seseorang yang begitu spesial di dalam hari hariku. Seseorang yang membuat aku bahagiah jika didekatnya. Seseorang yang melebihi teman bagiku, selalu bersama setiap saat. Dia adalah Jelita sahabatku. Yah ... dia seorang perempuan yang selalu membuat aku tertawa lepas, walaupun terkadang aku tengah sedih dilema kerinduan dengan keluarga ku di Jakarta. Kami bersahabat hampir 5 tahun, semenjak aku dan dia kelas 4 Sekolah Dasar. Tak ada rasa bosan ataupun cemburu diantara kami. Aku adalah tipe perempuan yang sangat feminim, selalu memakai rok, dan jarang memakai celana. Sedangkan Jelita dia adalah perempuan yang sedikit tomboy, sering berkelahi, jarang memakai rok, dan terkadang dia memakai topi bak ala laki-laki. Tapi perbedaan antara kami,membuat kami saling menguatkan dan saling melengkapi. Kehilangan Penulis: Tasya Citra Lestari
Tak terasa sudah 3 bulan kami berada di kelas 9, dan sudah seminggu Jelita dirawat di RS di kota sana. Aku tidak diizinkan oleh Jelita untuk menjenguknya karena dia menyuruhku untuk tekun belajar. Katanya agar aku bisa mendapatkan nilai bagus. Saat aku tengah duduk di depan kelasku, Indah salah satu teman sekelasku datang menghampiriku. Ia memberitahukan kepadaku bahwa ia tahu penyakit apa yang dialami jelita. Aku bertanya kepadanya dengan muka penasaran sambil menggoda nya agar mau memberitahuku. Indah berkata “bahwa jelita menderita penyakit serius yang jarang dialami orang orang dan penyakit itu bisa membuat seseorang meninggal dunia secara tiba tiba.” Aku terdiam dan berfikir positif bahwa Indah berbohong, tapi Indah bilang dia tidak berbohong. Seketika Air mataku menetes, tak tahu apa yang harus aku lakukan. Indah menyuruhku untuk tidak bertemu dengan jelita karna penyakit yang di derita jelita sudah pasti akan menular, begitu katanya kepadaku. Aku tak menghiraukan ucapan indah aku mengambiltasku dan melangkah keluar pintu kelas.
“Kamu mau kemana? Disini saja kamu ngak kasihan sama kakek nenekmu jika kamu ketularan penyakit Jelita, kamu ngak kasihan dengan ibu bapakmu yang jauh jauh merantau untuk mencari uang. Nanti kalau kamu sakit mereka akan lebih susah lagi lho. kamu ngak kasihan Din?” kata indah kepadaku. “Aku kasihan kok sama keluargaku kalo aku sakit parah, tapi bayangin deh kalo kamu lagi di posisiJelita, kamu pasti bakalan sedih banget kan?” ucapku. Indah menjelaskan panjang lebar kepadaku yang membuat aku tak ingin bertemu Jelita, dia juga bilang kalo jelita ngak mau kalau di jenguk aku, apalagi sekarang Jelita sudah benci sama aku. Aku beranggapan mungkin benar, mungkin Jelita marah sama aku karena aku tidak ngejenguknya. Beberapa hari berlalu tanpa Jelita, aku sekarang punya teman baru yaitu Indah dan Lastri. Mereka juga baik kepadaku. Tapi aku masih belum bisa melupakan Jelita yang sudah lama berteman dengan ku. Indah juga cerita kalau Jelita sering menggosipiku, dan bodohnya aku percaya dengan semua yang di bilang Indah dan Lastri. Aku jadi benci kepada Jelita, aku beranggapan bahwa Jelita diam diam selalu menggosipiku.
Satu minggu kemudian, Jelita pulang dari rumah sakit. Dia sudah masuk sekolah, namun aku masih benci kepadanya. Saat aku tengah duduk di dalam kelas Jelita menghampiriku, dia duduk di sebelahku. Karna aku membenci nya aku berdiri dan pindah duduk ke luar kelas. Dia bengong sambil melihat kearahku. Beberapa detik berlalu dia masih menatapku, aku kembali menatapnya dengan tatapan marah. Dia terlihat bingung dan segera mengalihkan tatapannya. Satu minggu lagi kami akan menghadapi Ujian Nasional, aku masih saja membenci Jelita, sahabatku yang begitu sabar menghadapiku. Aku teringat janjiku dan Jelita, kami akan melanjutkan sekolah di kampung bersama sama, tapi karna ke egoisanku dan hasutan dari Indah dan Lastri aku meminta kepada ayahku agar aku di sekolahkan di Jakarta. Aku memberi alasan kepada ayahku yaitu karna aku ngak kuat jauh dari ayah, ibuk, kakak dan adik-adikku. Padahal alasannya sama sekali bukan itu. Ujian selesai, kamipun menunggu hari kelulusan tiba. Sambil menunggu aku bertanya kepada Indah dan Lastri “Apasih sebenarnya yang diomongin Jelita tentangku ke kalian?”. Lastri keceplosan, “Kan kami cuma bohongin kamu!” begitu katanya
Aku kaget akan jawaban Lastri. Dan akhirnya mereka mengaku bahwa mereka cuma becanda dan usil saat itu. Aku berlari pergi ke arah rumah jelita dan aku lihat tak ada orang disana. Langit gelap pun datang, aku kembali pulang ke rumah dengan keadaan sedih. Hari kelulusan pun tiba, aku berharap bisa ketemu Jelita dan meminta maaf kepadanya. Saat kertas yang kupegang kubuka, disana ada kata yang bertuliskan ‘LULUS’. Aku begitu senang dengan hal ini. Aku berlari keliling lapangan, kulihat sudut demi sudut lapangan, aku mencari seorang perempuan tinggi dan ternyata aku tak menemukannya. Aku belum menyerah aku masih mencari hingga ke setiap sudut dan ruangan kelas, namun nihil yang kudapatkan, Jelita tak nampak batang hidungnya. Aku masih belum menyerah, kucari dia kerumah nya, namun nasib sama yang kudapatkan. Tak ada siapapun di rumah jelita, dan kata tetangganya dia pindah ke kota sana. Aku kembali pulang ke rumahku, nenek dan kakekku sudah menunggu di depan pintu. Begitu sampai aku langsuang ke kamarku. Beberapa minggu kemudian, ayahku datang dari jakarta, dia menjemputku untuk sekolah di kota sana. Aku langsung mengemasi barang barangku. Dan hari selanjutnya kami berangkat ke Jakarta dengan naik mobil. Sampai dirumahku yang di Jakarta, aku menceritakan kejadian ini kepada kakakku. Dia berusaha menghiburku, dia berusaha menenangkan ku
Setelah beberapa lama di jakarta, aku pun bersekolah. Hari pertama sekolah aku diantar kakakku naik motor ke sekolah. Di sana begitu ramai, banyak sekali siswa siswi baru. Tak ada satu orang pun yang aku kenal. Aku mencoba mendekati Indah dan Lastri tapi mereka malah menjauhiku. Disaat inilah aku diajak berkenalan oleh seorang perempuan, dia putih, agak gemuk, dan ramah. Namanya adalah Rani. Dia adalah teman pertamaku di Jakarta. Lama kelamaan aku dan Rani menjadi sahabat. Mungkin juga karna kami satu kelas dan lebih sering chat-an juga. Aku dan Rani juga sering belajar bareng, ngegame bareng, pokoknya kami sudah deket banget. Beberapa bulan berlalu. Diberitakan oleh wali kelasku bahwa akan ada anak baru yang pindah dari Bogor dan dia termasuk murid di kelasku. Tak berselang lama, anak baru itu datang dan ternyata dia adalah Jelita. Aku begitu malu kepada Jelita. Aku tak pernah berkomunikasi dengan Jelita karna aku gengsi jika harus menyapa duluan. Kelihatannya Jelita telah melupakan aku. Jelita telah merubah penampilannya dan mungkin sikap nya juga telah berubah.
Dua bulan jelita dan aku satu sekolah tapi aku belum berani meminta maaf kepadanya. Jangankan meminta maaf berbicara saja aku malu. Aku ngak tahu harus bagaimana aku meminta maaf kepada jelita. Apalagi sekarang jelita telah punya banyak teman di sini. Pada saat kami tengah berlari dilapangan untuk latihan olahraga, tibatiba hidung Jelita berdarah. Aku sangat panik, aku berlari ke arah Jelita, kupegang dia. Kami membawanya ke UKS sekolah. Jelita yang saat itu di UKS dipercayakan kepada aku dan Rani. Ya ... aku dan rani yang menjaga Jelita. Hingga jam pulang pun datang, aku di paksa rani untuk ikut mengantarkan jelita kerumahnya dengan mobil Rani. Aku sengaja duduk di depan di samping supir Rani karna aku masih belum PD untuk dekat dan mengobrol dengan Jelita. Dua hari Jelita tidak masuk, akupun panik. Dan ternyata Jelita di rawat di rumah sakit. Aku bersama perangkat kelas menjenguk Jelita yang tengah sakit. Tapi aku tak berani masuk ke ruangan Jelita dirawat. Saat rani dan yang lainya keluar , Rani menarik tanganku masuk ke ruangan Jelita. Di sana ada Jelita yang sedang terbaring lemah, di infus dan banyak sekali peralatan yang ditancapkan ke tubuh Jelita. Bukan hanya Jelita, disana juga ada ibu bapaknya.
Saat aku masuk Jelita memanggilku “Din.. kamu marah ya sama aku, maafin aku? Oh iya.. walaupun kamu marah sama aku kamu tetap sahabatku kok.” Air mataku mengalir begitu saja, aku memegang tangan Jelita sambil berkata, “Jel aku nggak marah kok sama kamu, seharusnya aku yang minta maaf sama kamu, aku udah ngerusak persahabatan kita, maafin aku yah? Kamu ini kan dari dulu sahabat aku. Sekarang jangan sedih ya! Cepat sembuh biar kita bisa bareng-bareng lagi!” ucapku terisak. Jelita pun tersenyum, dia kelihatan begitu bahagia sekali. Aku dan Jelita pun berpelukan. Dan tiba-tiba jelita mengucapkan syahadat. Ketika itulah nyawa Jelita diambil, ketika itulah Jelita pergi. Setelah jelita di kuburkan. Aku bersama kakak Jelita berpelukan dan ketika itu emosiku tak terkontrol. Saat melihat jenazah Jelita di masukkan ke tanah aku memberontak Rani yang memegang tanganku. Aku shok hingga aku pingsan dan aku tak tahu apa yang terjadi setelahnya.
Setelah dua hari kejadian ini, aku baru tahu ternyata Jelita terkena penyakit Gagal Ginjal dan kondisinya sudah sangat parah. Aku sadar , aku terlalu egois. Karna aku terlalu cepat bertindak, karna aku lebih mempercayai orang yang ternyata jahat kepadaku. Aku kehilangan seorang sahabat yang sangat sabar akan sifat egoisku. Karna aku mempercayai mereka yang hanya bermoduskan ingin berteman denganku, aku jadi kehilangan sahabat yang tulus ingin berteman denganku. Disini aku tidak sepenuhnya menyalahkan Indah dan Lastri karna aku juga salah, aku telah mempercayai tanpa meminta bukti atau tanpa membuktikan terlebih dahulu. Jadi, jangan terlalu mempercayai orang dan jangan terlalu cepat bertindak. Ingatjangan pernah percaya jika belum ada buktinya. Tamat