The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by aditpret998877, 2020-12-08 07:43:27

kelompok 1_kelas E

kelompok 1_kelas E

BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

MENGENAL KARYA SASTRA

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS
MATA KULIAH : BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

DOSEN PENGAMPU:
Drs. BAHAUDDIN AZMY M.Pd

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 1

ARIMANDA CEMPAKANINGTIYAS S. (208000245)

EKA PUTRI WULANDARI (208000246)

KUNTI MUTHIA SARI (208000051)

SAHRUL ADITYA (208000052)

KELAS E
JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS PEDAGOGIK DAN PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PGRI ADIBUANA SURABAYA

2020

AKU

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih

Dan aku akan lebih tak peduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi
Karya : Chairil Anwar (Maret 1943)
Diambil dari halaman https://www.batikimono.com/2016/08/chairil-anwar-ingin-hidup-
seribu-tahun.html

Hasil Apresiasi atau Analisis puisi

Struktur fisik

1. Bentuk diksi

Lampiral asli: untuk ketepatan pemilihan kata sering kali penyair mengganti kata yang di
pergunakan berkali-kali yang di rasa belum tepat .di ubah kata-katanya seperti pada baris
kedua: bait pertama " ku mau tak seorang kan merayu" , itu merupakan suatu pengganti dari
sebuah kata " ku tahu" ." Kalau sampai waktuku" dapat berarti " kalau aku mati" , " tak perlu
sedu sedan " dapat berarti " berarti tak ada gunanya kesedihan itu" , " tidak juga kau" dapat
berarti " tidak juga engkau anaku, istriku, ataupun kekasihku" .

Analisis kita : Bentuk diksi dari pusi AKU karya chairil anwar yaitu harus tepat saat akan
memilih sebuah kata maka dari itu penyair lebih sering mengganti kata-katanya sehingga
dapat di gunakan berkali-kali ,jika di rasa belum tepat dapat di ganti lagi kata-katanya .

Inspirasi dari halaman Http://compashare.blogspot.com/2015/06/analisis-puisi-aku-karya-
cahiril-anwar.html

2. Rima

Lampiran asli: dalam puisi "AKU" karya Chairil anwar , terdapat rima dan irama yang
terlihat jelas , contoh analisis rima dan irama adalah pada bait pertama teradapat aliran yang
sama yaitu akhiran "u" di setiap akhir kalimat,

Bait " aku ini binatang jalang" " dari kumpulannya terbuang" , juga menandakan adanya
persamaan akhiran " ng" , di bait terakhir juga dapat di lihat bahwa semua kata terakhir
memiliki akhiran yang sama, yaitu akhiran "i". Selain itu juga terdapat struktur kata-kata
yang di gunakan serta memiliki kesamaan , contohnya " pedih" dan " perih" .Puisi ini juga
menerapkan majas aliterasi pada baris " luka dan bisa ku bawa berlari" dan mengulang huruf
"b" pada kata " bisa" ,"bawa", "berlari".

Analisis kita :Bentuk rima yang terdapat dalam puisi " AKU" karya chairil anwar yaitu pada
baris atau bait pertama terdapat akhiran huruf "u" , dan pada bait ke-3 terdapat kesamaan
akhiran huruf "ng" , serta bait terakhir juga terdapat kesamaan atau akhiran dari huruf "i"
Yang sudah di terangkan dalam lampiran di atas.

Inspirasi dari halaman https://taldebrooklyn.com

3. Pengimajinasian (visual, auditif, taktil)

Lampiran asli:Pencitraan/pengimajiandi dalam sajak ini terdapat beberapa pengimajian,
diantaranya :„Ku mau tak seorang ‟kan merayu (Imaji Pendengaran), „Tak perlu sedu sedan
itu‟ (Imaji Pendengaran), „Biar peluru menembus kulitku‟ (Imaji Rasa), „Hingga hilang pedih
perih‟ (Imaji Rasa).

Analisis kita : Ada 2 majas yang terdapat dalam puisi "Aku" yaitu ajinasi pendengaran dan
imajinasi rasa. Contoh "ku mau tak seorangpun merayu" dan "Tak perlu sedu sedan itu" nah

ini adalah contoh dari imajinasi pendengaran hal ini disebabkan karena si penyair ingin
menyampaikan kepada pendengar seolah-olah ada suara seperti yang disampaikan oleh
penyair. Yang ke-2 ada majas rasa contohnya:"Biar peluru menembus kulitku" dan "Hingga
hilang pedih perih" hal ini dikarenakan si penyair ingin si pendengar juga merasakan isi dari
kata-kata tersebut

Inspirasi dari halaman http://composhare.blogspot.com/2015/06/analisis-puisi-aku-karya-
cahiril-anwar.html

4. Kata konkret

Kalau sampai waktuku

Waktu yang dimaksud dalam kutipan pertama adalah sampaian dari waktu atau sebuah tujuan
yang dibatasi oleh waktu. Gini kah

Awalan kata „kalau‟ yang berarti sebuah pengandaian

Ku mau tak seorang „kan merayu

Pada kutipan (2) inilah watak Charil sangat tampak mewarnai sajaknya. Ia tahu bahwa
dengan menuliskan puisi Aku ini akan memunculkan banyak protes dari berbagai kalangan,
terutama dari kalangan penyair.

Tidak juga kau

Kau yang dimaksud dalam kutipan (3) adalah pembaca atau penyimak dari puisi ini. Ini
menunjukkan betapa tidak pedulinya Chairil dengan semua orang yang pernah mendengar
atau pun membaca puisi tersebut, entah itu baik, atau pun buruk.

Dalam kutipan (4), ia menggunakan kata „binatang jalang‟, karena ia ingin menggambar
seolah seperti binatang yang hidup dengan bebas, sekenaknya sendiri, tanpa sedikitpun ada
yang mengatur. Lebih tepatnya adalah binatang liar. Karena itulah ia „dari kumpulannya
terbuang‟. Dalam suatu kelompok pasti ada sebuah ikatan, ia „dari kumpulannya terbuang‟
karena tidak ingin mengikut ikatan dan aturan dalam kumpulannya.

Pada kutipan Biar peluru menembus kulitku: Peluru tak akan pernah lepas dari pelatuknya,
yaitu pistol. Sebuah pistol seringkali digunakan untuk melukai sesuatu.

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Inilah yang menegaskan watak dari penyair atau pun dari puisi ini, suatu ketidakpedulian.
Pada kutipan (6), bait ini seolah menjadi penutup dari puisi tersebut

Chairil berharap bahwa ia masih hidup seribu tahun lagi agar ia tetap bisa mencari-cari apa
yang diinginkannya.

Inspirasi dari halaman http://composhare.blogspot.com/2015/06/analisis-puisi-aku-karya-
cahiril-anwar.html

5. Bahasa figuratif (majas) dibagi 2 kiasan sama lambang

Lampiran asli: Majas dalam puisi tersebut menggunakan majas hiperbola pada kalimat “Aku
tetap meradang menerjang”. Terdapat juga majas metafora pada kalimat “Aku ini binatang
jalang”.

Analisis kita : Dalam puisi "Aku" terdapat 2 majas yaitu majas hiperbola dan majas metafora.
Majas hiperbola terdapat pada baris ke-7 yang menyatakan bahwa si penulis seakan-akan
tidak takut mati dan tetap siap maju, hal ini cocok dengan arti majas hiperbola yaitu
melebihkan suatu hal. Lalu yang kedua ada majas metafora majas ini terdapat pada baris ke-
Baris ke-4 bisa dikatakan sebagai majas metafora karena arti majas metafora adalah
menyampaikan bukan dengan arti sebenarnya.

Insipirasi dari halaman http://composhare.blogspot.com/2015/06/analisis-puisi-aku-karya-
cahiril-anwar.html

6. Tipografi

Lampiran asli : Tipografi atau disebut juga ukiran bentuk. Dalam Puisi didefinisikan atau
diartikan sebagai tatanan larik, bait, kalimat, frase, kata dan bunyi untuk menghasilkan suatu
bentuk fisik yang mampu mendukung isi, rasa dan suasana. Namun dalam sajak „Aku‟ karya
Chairil Anwar tidak menggunakan tipografi.

Analisis kita : tidk ada tipografi dalam puisi “AKU”

Inspirasi dari halaman https://agustiastono.wordpress.com/2010/07/16/analisis-puisi-aku-
chairil-anwar/

Struktur batin atau unsur makna isi(hakikat puisi)

1. Tema

Lampiran aslinya : Tema pada puisi “Aku” karya Chairil Anwar adalah menggambarkan
kegigihan dan semangat perjuangan untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan, dan
semangat hidup seseorang yang ingin selalu memperjuangkan haknya tanpa merugikan orang
lain, walaupun banyak rintangan yang ia hadapi. Dari judulnya sudah terlihat bahwa puisi ini
menceritakan kisah „AKU‟ yang mencari tujuan hidup.

Analisis kita: Tema dari puisi “Aku” Karya Chairil Anwar adalah gambaran dari tujuan hidup
yang gigih dan semangat perjuangan untuk membebaskan diri dengan melawan penjajahan
dan kesanggupan diri yang selalu ingin memperjuangkan haknya tanpa merugikan orang lain
walaupun melewati banyak rintangan yang dihadapi yang dapat dilihat dari baris keempat dan
kelima.

2. Rasa

Lampiran aslinya : Rasa adalah sikap penyeir terhadap pokok permasalahan yang terdapat
pada puisinya.Pada puisi “Aku” karya Chairil Awar merupakan eskpresi jiwa penyair yang
menginginkan kebebasan dari semua ikatan. Di sana penyair tidak mau meniru atau
menyatakan kenyataan alam, tetapi mengungkapkan sikap jiwanya yang ingin berkreasi.
Sikap jiwa “jika sampai waktunya”, ia tidak mau terikat oleh siapa saja, apapun yang terjadi,
ia ingin bebas sebebas-bebasnya sebagai “aku”. Bahkan jika ia terluka, akan di bawa lari
sehingga perih lukanya itu hilang. Ia memandang bahwa dengan luka itu, ia akan lebih jalang,
lebih dinamis, lebih vital, lebih bergairah hidup. Sebab itu ia malahan ingin hidup seribu
tahun lagi. Uraian di atas merupakan yang dikemukakan dalam puisi ini semuanya adalah
sikap chairil yang lahir dari ekspresi jiwa penyair.

Analisis kita: Rasa atau ekspresi yang menggambarkan puisi ini adalah eskpresi dari peyair
yang ingin membebaskan diri dari semua ikatan. Penyair tidak ingin meniru atau menyatakan
kenyataan alam tetapi mengungkapkan bahwa jiwanya ingin berkreasi dan tidak mau terikat
oleh siapa saja apapun yang terjadi ia ingin bebas. Bahkan jika terluka lukanya akan dibawa
lari sampai hilang dengan anggapan luka itu membuat hidup bergairah dan ingin hidup seribu
tahun lagi seperti pada bait “ “.uraian ini adalah sikap penyair yang lahir dari ekspresi jiwa
dan rasa.

3. Nada dan suasana

Lampiran asli:
a.) Nada
Dalam puisi tersebut penulis menggambarkan nada-nada yang berwibawa, tegas,
lugas dan jelas dalam penyampaian puisi ini, karena banyak bait-bait puisi tersebut
menggandung kata perjuangan. Dan menggunanakan nada yang syahdu di bait yang
terkesan sedikit sedih.
B.) Suasana
Suasana yang terdapat dalam puisi tersebut adalah suasana yang penuh perjuangan,
optimis dan kekuatan emosi yang cukup tinggi tetapi ada beberapa suasana yang
berubah menjadi sedih karena dalam puisi tersebut menceritakan ada beberapa orang
yang tak mengangap perjuangannya si tokoh.

Analisis kita:
a) Nada

Dalam puisi tersebut penulis menggambarkan nada yang tegas,berwibawa dan jelas dalam
penyampaian puisi, didalam bait puisi juga banyak mengandung kata perjuangan dan nada
yang berkesan sedih

b) Suasana

Dalam puisi tersebut penulis menggambarkan suasana yang penuh
perjuangan,optimis,menjadi diri sendiri dan emosi yang cukup tinggi tetapi terdapat suasana
sedih juga karena menceritakan beberapa orang yang tidak menganggap perjuangan tokoh.

4. Amanat atau pesan.

Lampiran asli : Amanat adalah hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisinya.
Amanat berhubungan dengan makna karya sastra. Makna bersifat kias, subjektif, dan umum.
Makna berhubungan dengan individu, konsep seseorang dan situasi tempatpenyair
mengimajinasikan puisinya.Amanat dalam Puisi „Aku‟ karya Chairil Anwar yang dapat saya
simpulkan dan dapat kita rumuskan adalah sebagai berikut

1. Manusia harus tegar, kokoh, terus berjuang, pantang mundur meskipun rintangan
menghadang.

2. Manusia harus berani mengakui keburukan dirinya, tidak hanya menonjolkan
kelebihannya saja.

3. Manusia harus mempunyai semangat untuk maju dalam berkarya agar pikiran dan
semangatnya itu dapat hidup selama-lamanya.

Analisis saya :amanat atau pesan yang terkandung berisi teks yang mendorong penyair untuk
menciptakan puisi, berhubungan dengan karya sastra,individu. Seperti harus
kuat,tegar,kokoh,pantang menyerah meskipun rintangan menghadang dan tetap menjadi diri
sendiri. Mengakui keburukan dan tidak menonjolkan kelebihan. Semangat untuk maju dalam
berkarya agar pikiran dan semangat tetap hidup selamanya. Tetap berperilaku baik walaupun
tidak dihiraukan.

Inspirasi dari halaman http://composhare.blogspot.com/2015/06/analisis-puisi-aku-karya-
cahiril-anwar.html


Click to View FlipBook Version