EDISI SEPTEMBER 23 Fiqh BULETINSAKU TARBIYAH RUHIYAH DEPARTEMEN/KSM BEDAH TORAKS, KARDIAK DAN VASKULAR FK UNAIR - RSUD. DR. SOETOMO Tazkiyatun Nafz Memaknai Jihad Rasullullah Faedah Sirah Nabi: Bagaimana Nabi Disakiti dan Diganggu dalam Dakwah? Aqidah Rasul, Al-Quran, Allah Tiga Peristiwa Penting Rasulullah pada Bulan Rabi’ul Awal TEMA: TINGKATKAN UKHUWAH ISLAMIYAH DALAM DIRI DENGAN MENELADANI KEHIDUPAN BAGINDA RASULULLAH SHALALLAHU ALAIHI WASSALAM Sejarah
SUSUNAN REDAKSI SEPTEMBER 2023 BULETIN SAKU Tarbiyah Ruhiyah Aqidah: Rasul, Al-Quran, Allah Fiqh : Memaknai Jihad Rasullullah Sirah : Tiga Peristiwa Penting Rasulullah pada Bulan Rabi’ul Awal Tazkiyatun Nafz : Faedah Sirah Nabi: Bagaimana Nabi Disakiti dan Diganggu dalam Dakwah? KONTRIBUTOR DESAIN PIMPINAN REDAKSI dr. Heroe Soebroto, Sp.B, Sp.BTKV, Subsp. JPK (K) PIMPINAN UMUM DAFTAR ISI EDITOR DONATUR TARBIYAH RUHIYAH Bagi kaum muslimin yang ingin menjadi donatur kegiatan pengajian Tarbiyah Ruhiyah BTKV, dapat menyalurkan infaqnya melalui: Rek . Bank Jatim Syariah No: 6102190586 a.n. dr. Heroe Soebroto, Sp.B, Sp.BTKV, Subsp. JPK(K) dr. Ryan Prasdinar Pratama Putra dr. Rezandi Giga Utama dr. Sri Pramesthi Wisnu Bowo Negoro dr. Bentito Zulyan Pamungkas dr. Ahmad Fiko Nugraha dr. Farida Zahira dr. Bentito Zulyan Pamungkas DISTRIBUTOR dr. Sri Pramesthi Wisnu Bowo Negoro dr. Lalu Muhammad Sabar Setiawan
1 Aqidah Rasul, Al-Quran, Allah Dalam agama islam, hal yang harus kita ingat ialah Nabi Muhammad Rasul kita, Al-Quran kitab kita, dan Allah Tuhan kita. Agar kita lebih mudah mengingat, kita harus mengenal, Rasul, Al Quran, dan Allah dalam kehidupan kita. Mengenal Nabi Muhammad dan Turunnya Al-Quran Nabi Muhammad adalah Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muththalib bin Hasyim. Hasyim dari Quraisy dan Quraisy dari Arab, dan Arab dari keturunan Ismail bin Ibrahim Al-Khalil ‘alaihis Salam. Usia beliau 63 tahun sebelum beliau meninggal. 40 tahun sebelum kenabian, dan 23 tahun sebagai Nabi dan Rasul. Awal kenabian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan turunnya wahyu surat Al- ‘Alaq dan kerasulan dengan turunnya wahyu surat Al-Muddats-tsir. Negeri beliau Makkah. Allah mengutus beliau sebagai pemberi peringatan dari kesyirikan dan mengajak kepada
2 tauhid. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: و ﴿ َ ث ِ S اUَ ك َ ف )٣َ ) َ [ \ ]^ و ِّْ ر َ َ b ك َّ ر )٢َ ) ف ْ َ أ \ ن ْ ق ِذ ُ م ال )١ْ ) n م د ُ َّ ث ِّ ر أ ُ \ ي ه ُّ َ v ا َ ا ف اص َ ْ ]^ ِ و ْ َ ل ِ x َ b ك ِّ َ ) ٦( z س َ ت ْ َ [ n ]} ِ ت ُ َ م ْ Ä ُ Ä و ْ لا َ َ ف )٥) اه َ ج ْ ر ُ و ْ ج ُّ الر َ ز ْ ف )٤َ ) ط َ ه َ ر ِّ ْ ﴾ “Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi agar memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan karena Tuhanmu, bersabarlah.” (QS. Al-Muddatsir [74]: 1-7) Setelah 10 tahun kenabian, beliau dinaikkan ke langit dan mendapatkan kewajiban shalat lima waktu. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat di Makkah selama 3 tahun, setelah itu diperintah hijrah ke Madinah. Hijrah adalah berpindah dari negeri kesyirikan ke negeri Islam. Hijrah diwajibkan atas umat ini dari negeri kesyirikan menuju negeri Islam. Hal ini tetap berlaku hingga terjadinya Kiamat.
3 Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menetap di Madinah, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diperintah dengan syariat Islam yang masih tersisa, seperti zakat, puasa, haji, jihad, azan, amar ma’ruf, nahi mungkar, selama 10 tahun. Kemudian beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat dalam keadaan agama sempurna. Sebagaimana surat terakhir diturunkan, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ل ﴿ \ î ï م و ُ ر َ óت ِض َ م ُ َ ôö ِع ن ِõ ع ْ َ ل \ S ْ î ï م و ْ َ أ \ ت ْ م ين ِد ُ ْ ت م َ َ î ï م ل ْ \ î ï م أ ْ \ ° n م ل َ ت n ال ُ n ي و َ م ْ َ ين ِد ً الإ ا ِ س ْ لا ْ م َ َ ﴾ “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama bagimu dan telah Kucukupkan nikmat-Ku padamu serta telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Ma`idah [5]: 3) Selama masa Nabi, Nabi Muhammad juga menyampaikan Al-Quran kepada umatnya, dimana Al Quran merupakan firman Allah. Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, ف َ ي َ ≠ ِ S د ْ ُ U م ِ خ َ ْ ل ï و و ٍق ْ َ ل \ ل َ ْس ó \ د ُ ن ْ ه و ُ ِ ن م َ و ْ ج َ ل َ ع َّ ز َ ∑ ِ∂ َّ لا \ َ م و ُ الق َ ر ُ آن ْ ُ
4 “Al-Qur’an itu kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla), berasal dari sisi-Nya. Al-Qur’an itu bukanlah makhluk yang akan binasa.” Dalil yang menunjukkan hal di atas adalah firman Allah, خ َ ح Ωæ ]ِب ٍم َ ل ِكS \ د ن ُ ِمن ْ ف ْ ص ُ ل ِّ ت \ ث ْ ُ م آv َّ ات َ ُ ه أ ُ ï ح ِكت ْ َ ت ِ¬م ْ اب َ رلا ۚ ٌ “Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayatayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu.” (QS. Hud: 1) Sebagai bahan pembelajaran, Allah sudah memudahkan Al-Quran untuk dipelajari Dalam ayat disebutkan, م د ُ ِمن æِ كر َّ ف ْ َ ه ل َ لذ ِل ْ ِّ ك n ال «ر n ق ر ُ آن ْ ن ْ َّ... َ َ ا و َ َ ل \ ق د َ ْ “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan AlQuran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17)
5 Allah Tuhan Kita Sebagaimana kita tahu, Allah itu Tuhan kita, seperti firman Allah berikut ز «ر ِمن ٍق ْ ِمن ْ ْ ه م ُ أ ْ ï Õد «ر ِSل ُ ع َ ْ Œ د ُ م ِون ُ إ ا َ لا ِ و َّ الإ َ ْ ِ – ال َس ْ ِجن n خ َّ َ ل \ ق ت ْ و ُ م َ َ ا ال n م َ Ωت ِÄ ال ُ n ق و ُ ة َّ ذ ِ ُ ز َّ الر و اق َّ ه ُ و ُ v َ ‘ ا“ َ ط ُ ِعم ْ ِن إ ِون ُ أ َّ \ ن أ ْ ï Õد «ر و ُ م َ َ ا “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58) Allah juga menurunkan Al-Quran, sebagaimana ayat berikut الإ ْ ِ – س ْ ان َ خ َ َ ل ق \ ال . َ n ق ر ُ آن ْ ع َ َ ل ‘ م ح َّ الر . َ م ْ ن َ ُ “Allah Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia.” (QS. Ar-Rahman: 1-3).
6 Allah pun memberikan perintah untuk menyembah kepada Allah dalam ayat berikut ِ ِذك ل n لا َّ الص «ير ة َ و َ َ أ ِم \ ف ِق اع َ ْ Œ د ُ ْ Ÿ Ä أ ِõ \ ن َ إ ا لا ِ إ َّ ل ِ َ ـ ـه ٰ لا َ َ أ ’ ُ ا“ \ ن َ إ ا ن ِ ôÄ َّ õِ “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. Thaha: 14)” Kesimpulan Mengenal Rabb kita Allah, yaitu mengenal-Nya sebagaimana terdapat dalam Alquran, dan lewat lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengenal-Nya berarti mengenal keesaan Allah, juga mengenal nama dan sifat-Nya. Inilah landasan pokok dari landasan lainnya. Kita wajib mengenal Allah sehingga kita bisa menyembah Allah di atas bashirah (bukti) dan keyakinan. Daftar pustaka https://rumaysho.com/31828-tsalatsatul-ushulmengenal-nabi-kita-muhammad-hari-berbangkitpengertian-thaghut-hingga-jihad.html
7 https://rumaysho.com/18629-syarhus-sunnahmanfaat-mengenal-nama-dan-sifat-allah.html https://rumaysho.com/20939-syarhus-sunnah-alquran-itu-kalamullah.html
8 Fiqih Memaknai Jihad Rasullullah Jihad dengan ilmu adalah milik orang-orang istimewa dan lebih sangat dibutuhkan. Karena mengatasi pemahaman sesat dan serangan orang munafik hanya dengan ilmu. Allah Ta’ala berfirman, v ا أ َ \ ي ه ُّ ال ِ ِد اه َ ُّ ج ِ õ^ ô َّ ا الن َ n [ ï ف ار َّ و َ ال َ n م ن ُ Äِ ِ قΩ اف َ و َ اغ َ ْ ل ظ ï ع n َ ل \ ي م ِه ْ و ْ م َ َ أ n و اه َ م ُ ج ْ ه َ ن َ م َّ ُ و َ b ِ ‚ ال َس ْ n م ُ ِصΩَ ] “Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orangorang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.” (QS. AtTahrim: 9). Ibnul Qayyim menjelaskan dalam Miftah Dar As-Sa’adah (1:268-269), “Jihad melawan orang munafik dengan hujjah dan Al-Qur’an.” Jihad sendiri ada dua macam menurut Ibnul Qayyim di halaman yang sama. Pertama, jihad dengan tangan dan senjata, ini semua bisa melakukannya. Kemudian yang kedua adalah jihad dengan argumen dan penjelasan, ini hanya dilakukan
9 oleh pengikut para rasul, inilah jihadnya orang yang berilmu. Jihad kedua dengan ilmu ini adalah jihad yang lebih utama dilihat dari besarnya manfaatnya, bekalnya yang banyak, dan banyak musuh yang menantang. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, م ن َ خ ْ َ x ج َ َ ‰ ل َ ِ ط Ä ال ِب \ n ل ِع n ف ِم َ ه و ُ َ ‰ =/ َ ِ س Ä ا“ ِSل ِ ôö ِ َ ح ’ ي َّ ر َ ِجع ْ َ “Siapa yang keluar menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali.” (HR. Tirmidzi, no. 2647. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan pula bahwa hadits ini dha’if). Dari sebagian sahabat berkata, “Jika datang kematian lalu seorang penuntut ilmu berada dalam keadaan menuntut ilmu, maka ia mati dalam keadaan syahid.” Abu Ad-Darda’ berkata, “Siapa yang menganggap bahwa berjihad dengan ilmu bukanlah jihad, maka ia akal dan logikanya telah salah.” (Miftah Dar As-Sa’adah, 1:269-270)
10 Pensyariatan jihad di jalan Allah ada beberapa tahapan. TAHAPAN PERTAMA Pada awal mula Islam, orang-orang mukmin yang berdomisili di Makkah diperintahkan untuk shalat, menunaikan zakat, berdamai, dan memaafkan orang-orang musyrik serta bersabar atas perilaku mereka. Sebenarnya umat Islam sangat ingin menumpas musuh-musuh Allah. Namun, karena jumlah mereka yang masih sedikit dan posisi mereka juga di tanah haram, maka berjihad saat itu belum diperintahkan. Allah Ta’ala berfirman, أ \ ل \ م ت ْ َ ر ِË إ َ ال \ ل َ ِقSل َ ِذين ’ \ ه م ُ ك ْ ï ف وا أ ُّ \ v ِدvْ َ î ï م و ْ َ أ لا َّ وا الص ُ ِقSم \ ة َ و َ آت َ َّ وا الز ُ ° اة \ َ “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!” (QS. An-Nisaa’: 77)
11 Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya ‘Abdurrahman bin ‘Auf dan sahabat-sahabatnya mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Makkah. Mereka mengatakan, Wahai Nabi Allah, kami merupakan orang-orang yang terhormat sesama kami musyrik. Namun, ketika kami beriman, kami menjadi hina.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku diperintahkan untuk memberi maaf. Oleh karena itu, janganlah kalian memerangi kaum tersebut.” (HR. An-Nasai, 6:3; Al-Baihaqi, 9:11; Hakim dalam Al-Mustadrak, 2:307) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat memaafkan orang-orang kafir dan juga ahli kitab seperti yang diperintahkan oleh Allah dan bersabar atas perilaku orang-orang musyrik. Allah berfirman, ل \ ت ُ Œ ْ ل \ و ن ُ ‰ َّ Ä أ ِõ \ م و ْ ِî ال َ ï م و ْ َ أ \ ن ْ ف ِس¬ ُ ï م و ْ َ ل \ Ì س َ م ْ ع َ ن ُ ِمن َّ ال َ أ َ ِذين ’ ï وت ِ]ت n وا ال ُ اب َ ِمن َ ْ ق َ Œ ْ ِîل ï م و ْ ِ ن م َ ال َ أ َ ِذين ’ \ ÓÔ ْ َ وا أ ï \ ذ ىك ً َ اۚ و ً ِثΩ\ ] Û ن ِ ت ْ ص َ ْ ]^ ِ َ وا و ُ ت َ ت َّ ق وا ف ُ َ ِن إ ذ َّ َ ٰ ِك ل ِمن َ ْ ع ز َ الأ ِم ْ م ْ ُ «ور ُ “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-
12 sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (QS. Ali Imran: 186) Dengan demikian, ulama bersepakat bahwa jihad tidak disyariatkan, kecuali pada periode Madinah. Imam Qurthubi mengatakan, “Ketika Nabi di Makkah, beliau tidak diizinkan untuk berperang. Namun, setelah hijrah, maka diizinkan baginya untuk memerangi siapa saja yang memerangi mereka dari golongan musyrikin.” (Al-Jaami’ li Ahkam AlQur’an, 3:38) Ibnu Hajar mengatakan, “Ulama bersepakat bahwa awal mula disyariatkannya jihad adalah setelah hijrah ke Madinah.” (Zaad Al-Ma’ad, 3:70)
13 TAHAPAN KEDUA Periode ini telah diizinkan untuk berperang setelah hijrah, tetapi belum merupakan suatu kewajiban. Allah Ta’ala berfirman, أ ِذن ï ل ِل َ vِ َ ذين ’ ق ُ ات َ َ ل ون ï َ U ِ أ \ ن َّ ه م ُ ظ ْ ï ِ م ل َ واۚ و ُ Û ن ِ ع ’ َ ا“ َّ َ ˆ \ ن ٰ َ ˜ْ ِهم « ل ْ \ ق ٌ ِدير َ “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.” (QS. Al-Hajj: 39) Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam sunannya dan Hakim dalam kitab Al-Mustadrak bahwasanya Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari Makkah, Abu Bakar berkata, ‘Mereka (kafir Quraisy) telah mengeluarkan Nabi mereka. Sesungguhnya kami milik Allah dan akan kembali ke sisi-Nya. Sungguh mereka akan binasa. Kemudian turunlah ayat, “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa
14 menolong mereka itu.” Ayat ini adalah ayat yang pertama yang diturunkan tentang jihad. TAHAPAN KETIGA Periode ini merupakan periode diwajibkannya berjihad untuk melawan orang-orang yang memerangi. Allah Ta’ala berfirman, و ق َ َ ل ِات ï ‰ وا Ä س õِ َ ≠ ا“ ِSل ِ vِ َ ذين ’ ِ ال ’ ق ُ ل ِات َ ون ï َ î ï م و ْ لا َ ت َ َ ع ت ْ د َ ن ِ واۚ إ ُ لا ’ َ ا“ َّ َ v ُّ ِحب ُ ال n م ع ُ ت ْ َ ِدين َ “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190). Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ayat tersebut memerintahkan untuk memerangi orang-orang yang memerangi mereka saja.” TAHAPAN KEEMPAT Periode ini merupakan periode terakhir tentang wajibnya memerangi kaum musyrikin. Allah Ta’ala berfirman,
15 ق َ ل ِات وا ال ï لا َ ِذين ’ ي َ ؤ ُ ْ م ن ِ ون ُ َ U ا“ ِ لا َ ِ و ’ َ U ال ِ n ي و َ الآ ِم ْ و « ِخر ْ لا َ َ v ح ُ ر َ م ِّ ون ُ م َ ر َ ا ح َ م َّ ’ ُ ا“ َ و ر َ س َ ول ُ ï ه و ُ لا َ َ v ِدين َ ون ُ ين ِد َ ال َ ح n ق َ ِمن ِّ ال َ أ َ ِذين ’ ï وت ِ]ت n وا ال ُ اب َ ح َ َ ôö َّ ٰ v ع ُ ط ْ وا ُ ال ِج˚ n ْ Õ ة َ ع َ ن َ ْ v ه َ ٍد و َ م ُ ص ْ ِ ر اغ َ ون ُ َ “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. At-Taubah: 29). Sebagian ulama berkata bahwa berdasarkan ayat ini, kewajiban berperang adalah fardhu ‘ain dan sebagian lagi berpendapat, hukumnya adalah fardhu kifayah. Pelajaran dari Pensyariatan Jihad Pertama: Jihad disyariatkan pada waktu yang tepat karena ketika mereka berada di Makkah, orangorang musyrik jumlahnya lebih banyak. Seandainya orang-orang muslim diperintahkan untuk berjihad,
16 sedangkan jumlah mereka sangat sedikit pasti sangat membahayakan kaum muslimin. Oleh karena itu, ketika orang-orang kafir berbuat keji serta mengeluarkan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Makkah dan mereka berkeinginan untuk membunuhnya serta menyiksa sahabat-sahabatnya, maka hijrahlah sekelompok sahabat ke Habasyah dan sebagian yang lain ke Madinah. Ketika mereka menetap di Madinah serta menyusun strategi kemenangan hingga terbentuknya wilayah kekuasaan Islam dan akhirnya disyariatkannya memerangi musuh mereka. Hal itu merupakan hikmah dari ditundanya kewajiban untuk berperang hingga kaum muslimin menyusun strategi dan menggalang kekuatan. Kedua: Peperangan ini berbeda dengan peperangan yang digencarkan oleh orang-orang yang hanya ingin memenuhi hasrat duniawi karena ingin menjadi pahlawan dan mendapatkan kedudukan yang tinggi. Sedangkan, jihad dalam Islam bertujuan untuk mewujudkan keadilan menegakkan kebenaran sehingga benar-benar Islam menjadi rahmat untuk sekalian alam. Allah Ta’ala berfirman,
17 ال آم َ ِذين ’ ن َ ق ُوا vُ ل ِات َ ون ï َ ‰ Ä س õِ َ ≠ ا“ ِSل ِ ال َ ِۖ و ’ ك َ ِذين ’ \ ف ر َ ق ُ وا vُ ل ِات َ ون ï َ ‰ Ä س õِ َ ≠ ِSل ِ الط اغ َّ َ و ِت ف ُ ق ل ِات َ وا أ ï \ و ْ ل ِ S اء َ الش َ S َّ ط ْ إ ِۖ ان َ ن ِ ك َّ \ S د ْ الش َ S َّ ط ْ ∑ ِان َ ان \ ض َ ِعSف َ ً ا “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (QS. An-Nisaa’: 76) Di antara tujuan jihad adalah menjadikan ketaatan semata-mata hanya kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman, و ق َ َ ل ِات وه ï م ُ ح ْ َ ôö ت َ ٰ لا َّ َ [ ون ï ِفت َ ْ ن َ ة و ٌ َ Õ َ [ ون ï الد َ ين ِّ ُ ”ِ َ ِۖ ف ’ ان ِ ِن إ ْ ت َ ه و َ ا ف ْ لا َ ع َ د ُ و ْ ان َ َ إ لا ِ ع َّ َ ˆ الظ \ Äِ ِ مΩ ال ’ َ “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 193) Misi utama yang ingin dicapai oleh para mujahid ialah memberikan keamanan bagi orang-orang yang ingin masuk Islam sehingga tidak ada yang
18 menghalangi dan mencegahnya. Bagi yang telah masuk Islam untuk menghindarkan mereka dari rongrongan orang-orang musyrik yang ingin membalikkan mereka ke agamanya yang dulu. Itulah tujuan jihad yang hakiki. Jadi, bukan untuk menjadi pahlawan apalagi untuk menumpahkan darah semata, mengambil harta, merebut tanah, dan ini tidak pernah terjadi dalam sejarah umat Islam. Ketiga: Tujuan jihad adalah untuk menyebarkan agama Allah. Mungkin seseorang yang ingin masuk agama Allah, tetapi ada yang menghalanginya dan menggodanya agar ia tidak mendekati dan dimasukkan akidah-akidah sesat lainnya, disyariatkannya jihad tujuannya menjadi jelas. Menolong akidah pengikutnya dan memudahkan dalam menyampaikan agama Allah untuk umat manusia. Yang menguatkan bahwa Islam memberi kebebasan dalam berakidah ialah di mata Islam, Yahudi dan Nasrani memiliki kebebasan dalam menjalankan agama Allah meskipun di lingkup umat Islam. Karena tujuan dari jihad bukan mengharuskan seseorang menggantikan akidahnya.
19 Keempat: Ketika kita melihat periode-periode pensyariatan jihad jelaslah bahwa Islam bukan disebarkan dengan pedang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama 14 tahun sebelum disyariatkannya jihad menyeru kepada Allah dengan penjelasan kebenaran dan nasihat yang baik. Pada masa ini, banyak sekali dari para sahabat masuk Islam dengan penuh kerelaan dan ketentraman hati. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memiliki sesuatu yang dapat diberikan kepada mereka sehingga mereka masuk Islam. Referensi: 1. Fiqh As-Sirah. Cetakan kesepuluh, tahun 1437 H. Prof. Dr. Zaid bin ‘Abdul Karim AzZaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. 2. https://rumaysho.com/33464-faedah-sirahnabi-pensyariatan-jihad-dan-pelajaran-didalamnya.html 3. https://rumaysho.com/24843-jihaddengan-ilmu-vs-jihad-dengan-senjata.html
20 Sirah Tiga Peristiwa Penting Rasulullah pada Bulan Rabi’ul Awal Bulan Rabiul Awal merupakan bulan istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia karena bulan ini menjadi penanda penting dari periode kehidupan Sang Utusan Allah, Rasulullah. Pada bulan ini Rasulullah lahir, melakukan hijrah, dan wafat. 1. Kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Bulan rabi’ dianggap bulan di mana tumbuh bunga-bunga dan turunnya hujan di padang pasir. Dengan demikian, lahirnya Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam ibarat sebuah isyarat bahwa akan ada sosok penyubur, penyembuh dahaga di tengah gersangnya peradaban masyarakat jahiliyyah kala itu. Para ulama sepakat bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir pada hari Senin. Dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab,
21 ذ اك َ ي َ و َ م ْ و ٌ ُ ل د ِ ت ْ َ ِفSِه و ُ Õ و َ م ْ ٌ U ِعث ُ ت ْ أ ُ \ و أ ْ ï ن ْ ل «ز ع َ َ ˆ ِفSِه َّ \ “Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.” (HR. Muslim, no. 1162) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir di kota Mekkah. Adapun tempat kelahirannya di Mekkah, ada yang mengatakan di sebuah rumah yang ada di Syi’ib Bani Hasyim. Ada yang mengatakan di sebuah rumah dekat Shafa. Selain itu, orang yang bertindak sebagai bidannya adalah ibunda ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu wa ‘anha. Pendapat yang benar adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan di bulan Rabi’ul Awal. Adapun tanggal lahirnya, para ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan tanggal 2, tanggal 8, tanggal 9, tanggal 10, tanggal 12, tanggal 17, atau tanggal 22 Rabi’ul Awal. Adapun tahun kelahiran beliau adalah di tahun Gajah, yaitu tahun 571 Miladiyah. Setelah kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ibunya mengirimkan beliau ke kakeknya, ‘Abdul Muthallib. Dia menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam Ka’bah. Setelah sampai pada hari yang ketujuh, dia memotong kambing dan mengundang orang-orang Quraisy. Setelah mereka selesai makan, mereka bertanya,
22 “Wahai ‘Abdul Muthallib, siapa nama anak kamu yang karenanya kamu memanggil kami?” Abdul Muthallib berkata, “Saya namakan dia Muhammad.” Mereka bertanya lagi, “Bagaimana kamu menamakan anakmu dengan nama yang bukan nama dari kakek kamu dan juga bukan nama yang dikenal pada kaummu?” ‘Abdul Muthallib berkata, “Saya berharap penduduk bumi memujinya dan pendudukan langit pun memujinya.” [Muhammad berarti yang terpuji] Nama Muhammad adalah nama langka di kalangan Arab Jahiliyah, kecuali beberapa orang tua yang mengetahui bahwa Nabi akhir zaman adalah bernama Muhammad dan berharap anaknya menjadi nabi, maka dia pun menamakan anaknya dengan Muhammad. Selain itu, Allah Ta’ala, menjaga setiap orang yang bernama Muhammad pada waktu itu dari mengaku sebagai nabi, atau seorang menganggapnya sebagai nabi, atau bahkan menampakkan masalah yang membuat orang lain bertanya-tanya. Ibunya bernama Aminah binti Wahab dari Kabillah Bani Zuhrah al-Quraisyiyah. Lahir dalam
23 keadaan yatim karena ayahnya Abdullah, meninggal dunia tiga bulan setelah menikahi Aminah. Nabi Muhammad merupakan sosok yang telah dipersiapkan untuk membawa risalah-Nya yang terakhir. Allah berfirman: ا \ ل \ م ْ v ِجد َ ك ْ ي َ َ ÌSِ م ْ ا ف ً َ ا و ۖ ٰوى * و َ ج َ د َ ك َ ض َ ا َ لا + ف , َ ه و ۖ ٰدى َ و َ ج َ د َ ك َ ع َ َ ا + .لا ى ف ً َ ا \ غ ْ ôÄٰ ۗ “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu dia melindungimu (Muhammad). Dan dia mendapatimu sebagai orang yang bingung, lalu Dia memberi petunjuk. Dan dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberi kecukupan.” (QS. Ad Dhuha: 6-8). Setelah Aminah meninggal, Abdul Muthalib mengambil alih tanggung jawab merawat Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Namun, dua tahun kemudian Abdul Muthalib meninggal karena renta. Tanggung jawab selanjutnya beralih kepada pamannya, Abu Thalib.
24 Bersama pamannya ini, Rasulullah belajar hidup mandiri dengan mengembala kambing dan berdagang ke wilayah Syam. 2. Hijrah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Selain menjadi bulan kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, pada bulan Rabi’ul Awal juga Rasulullah melaksanakan hijrah dari Mekkah ke Madinah. Dalam Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam berkata, Nabi membawa rombongannya ke Bani Amr ibn Auf pada 12 Rabi’ul Awal malam Senin. Ibnu Katsir juga berkata bahwa Nabi tinggal bersama mereka di Bani Amr ibn Auf pada Senin Rabiul Awal. Menurut Buya Hamka, hijrah Nabi ke Madinah tentu bukan sebuah kebetulan. Rasulullah mendapatkan perintah hijrah dari Allah, sebelum akhirnya mengimbau para sahabatnya untuk melakukan perjalanan secara sembunyi-sembunyi menuju Madinah. Adapun alasan Madinah menjadi tujuan hijrah, bukan kota lain, adalah karena Madinah memiliki beberapa keutamaan.
25 Misalnya penduduknya yang ramah dan berpengalaman dalam berperang, serta lokasinya yang strategis untuk menjaga dakwah Islam. Menurut Haedar Nashir, Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam bersama kaum muslimin hijrah dari Makkah ke Yastrib bukanlah perpindahan fisik semata. Bukan pula terbatas pada perpindahan pola tindak sehari-hari yang bersifat individual dan simbolik. Lebih luas dari itu, hijrah Nabi tahun 622 Miladiyah itu sejatinya merupakan hijrah membangun peradaban baru, yakni peradaban “AlMadinah Al-Munawwarah”, peradaban nan tercerahkan yang lahir dari “Ad-Din” yakni ajaran Islam. Peradaban Islam yang membebaskan kehidupan jahiliyah Arab yang berada dalam kegelapan segala hal menjadi kehidupan baru yang bercahaya dan mencahayai peradaban semesta. Allah Subhanahu wa ta'ala dalam Surat An-Nisa’ Ayat 100 berjanji kepada orang-orang yang hijrah dari Makkah ke Madinah karena Allah dan Rasulullah. Mereka yang berhijrah dijanjikan akan mendapat rezeki yang banyak, jika mati dalam
26 perjalanan hijrah maka akan mendapatkan pahala yang ditetapkan di sisi Allah. و م َ ن َ ي ْ ه ُّ ِ ر اج َ ْ ‰ Ä =/ َ ْ س ِõ ِ S ا“ ِل ْ 0 v ِ ِجد َ ْ ‰ Ä الا ِ م « ْض ر ْ َ ٰرغ ُ َ م ا ك ً ا و ًْ ِثΩ\ ] س َّ ع َ ة َ ۗو ً م َ ن َ ْ v خ َّ ْ x ج ُ ِمن ْ ْ ب ۢ َ 4 ه ُ ِت ٖه م ْ ِ ر اج َ اِاËً ا“ \ ر َ ِ و 0 س َ و ُ ْ ل ث ٖه ِ ُ م v َّ د ُ ك «ر ْ n ه ال ُ n م و َ ت ْ ف ُ َ ق د َ و ْ ق َ َ ع َ ا ج \ ر ْ ە ُ ع ٗ َ ˆ ا“ \ َ ِۗو 0 ° ان \ غ 0 ُ ا“ َ َ ف و ُ ر ْ ا ر ً ِحS َّ م ْ ا ً “Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 100). 3. Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Wafat Dua bulan sebelum wafat, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berhaji atau Haji Wada’ bersama lebih dari 100 ribu kaum muslimin. Dalam potongan khutbah haji yang beliau sampaikan di
27 tengah lautan manusia, Nabi berpesan: أ \ ي ه ُّ م ْ ، اس ُ اس َّ ا الن َ ع َ وا ق ُ َ و ، ف ِËõْ َ ِŸ إ Ä ِّ لا õ أ َ \ د ل «ير ْ \ ع َ ˆ : لا õ أ َ \ ل n ق ا° َ ï م ْ U ع َ د ْ ع َ ِ õ ا; َ ه ذ َ ه ِ ا ب َ ذ َ ا ال َ n م و َ أ ِ ِ ف ق ْ \ U د َ ً ا “Wahai sekalian manusia, dengarkanlah perkataanku! Aku belum tahu secara pasti, boleh jadi aku tidak akan bertemu kalian lagi setelah tahun ini dengan keadaan seperti ini.” Belum selesai khutbah, turun ayat Al Quran yang mengindikasikan bahwa Nabi yang Agung itu tidak akan lama lagi membersamai kaum Muslimin: ا \ ل n ي و َ م ْ ا َ \ ° n م ل َ ت n ل ُ \ î ï م ي ِد ْ ْ ن َ î ï م و ْ َ ا \ ت ْ م ع ُ ْ ت م َ َ ل \ S ْ î ï م ِع ن ْ م ْ َ ôö õِ و ْ ر َ óِ ض َ ت ْ ل ُ \ î ï م ُ الا ِ س ْ لا ْ م َ ي ِد َ ْ ن ً ا ۗ ف َ م اض «ن َ ط ْ ر ُ ‰ َّ Ä õِ م ْ خ َ م ْ ص َ ٍة غ َ َ ]Ω م َْ ت ُ ج َ ِّ ِ ٍف لا ان َ ِ ث ْ ٍم ف ۙ ِان َ 0 َ ا“ َّ غ َ ف و ُ ر ْ ر ٌ ِحS َّ م ْ ٌ “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Maidah: 3).
28 Beberapa hari sebelum wafat karena sakit, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menemui para sahabatnya untuk memberikan ceramah yang terakhir yang salah satu sabdanya yaitu, أ \ ي ه ُّ ، ف ُ اس َّ ا الن َ َ ِن إ الن َّ v َ اس َّ َ [ n ]} ُ ون ُ و َ َ Õ الأ ُّ ِقل َ َ ْ ن ص ْ ار َ ح ُ َ ôö v َّ َ [ ون ï Äوا ‰ ُ الن ِõ U » اس َّ م ِ َ ]Ä ْ Ä ل« \ ال ِة n ل ِم ‰ «ح n Ä الط ِõ ع َّ ام َ ف ِ َ م ن َ و ْ َ Ëõِ ِمن َ ْ î ï م ش ْ َ 4 ْ ئ ً v ا َ˜ Ä َ ِفSِه ق ُّ ُ و م ْ ا و ً َ Õ َ ن ْ ف ع َ ُ Õن «xِ َ فSِه آخ ف َ َ ل n S ق َ ْ Œ ل َ ِمن ْ م ْ ح ُ م ِ ِنه ِس ْ و ْ َ Õ َ ت ج َ او َ ز َ ع ْ ن َ م ْ م ِ ِ ه 4ئ ِس ُ ْ “Wahai manusia! Sesungguhnya manusia akan bertambah banyak namun Anshar akan semakin berkurang dan sedikit, sehingga para Anshar ini di tengah manusia ibarat garam dalam makanan. Barangsiapa diantara kalian yang diberi amanah untuk mengurusi sesuatu (menangani sesuatu sebagai pemimpin-red) yang sesuatu itu bisa mendatangkan madharat bagi sebagian kaum namun bisa mendatangkan manfaat bagi sebagian kaum yang lainnya, maka hendaklah dia menerima masukan dari orang-orang baik diantara mereka dan memaafkan orang-orang yang berbuat buruk.” Meskipun Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang mengalami sakit parah, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sering sekali memberikan wasiat kepada para Sahabatnya terutama wasiat tentang shalat. Bahkan wasiat tentang shalat merupakan wasiat terakhir, ketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami sakaratul maut. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
29 mengucapkannya dengan terbata-bata seraya menahan sakit: لا َّ الص َ ة لا َّ الص َ َ ة و َ ات َ َّ ق و ُ ِفS َ ا ∂ ْ م ْ ل َ ا م َ \ [ ت \ أ ْ \ v م ْ ان َ ُ î ï م ْ “Perhatikanlah shalat kalian… Perhatikanlah shalat kalian… Dan hendaklah kalian bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla dalam urusan budak-budak kalian.” Detik-detik sesaat sebelum wafat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membasuh wajahnya dari sebuah wadah air yang terbuat dari kulit. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memasukkan tangannya ke dalam air yang ada dihadapannya lalu mengusap wajahnya dengan air tersebut, sembari mengatakan: لا إ َ ل ِ \ ه إ َ لا ِ إ ُ∂ َّ ن ِ ل ِل َّ n م و َ ل ِت ْ س \ ك َ \ ر .الل ٍ ات َ ‘ ه م ُ أ َّ \ ôع ِÄ ِّ ع õ َ ˆ س \ ك َ \ ر ال ِ ات َ n م و َ ِت ْ “Tidak ada ilah yang diibadahi dengan hak selain Allah. Sesungguhnya kematian memiliki sakarat. Ya Allah! Bantulah aku menghadapi sakaratul maut ini!” Aisyah Radhiyallahu anhuma juga mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a: م ع َ ال َ أ َ ِذين ’ \ ن ْ ع ع َ ُ∂ م َ َ ل \ ي م ِه ْ ِمن ْ الن ْ َّ ≠ ِّ ي ِ Ω Ä و َ د ِّ الص َ ِّ قv Ω ِ Ä و َ الش َ ه ُّ د َ ِاء َ و Äِ ِ حΩ ال َّ الص َ و َ ح َ س َ ن ُ أ َ ï ول ِئك \ ر َ Sق ِف َ ً ا
30 “Mereka bersama orang-orang yang Allah berikan nikmat padanya daripada para nabi dan orangorang sholeh dan mereka adalah sebaik-baiknya teman.” Aisyah Radhiyallahu anhuma juga mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa sambil bersandar pada Aisyah Radhiyallahu anhuma : الل ‘ ه م ُ اغ َّ ِفر ْ و ِËõْ ار َ ح ْ م َ ْ ôÄ ، و ِõ أل َ ِ ق ـح n ْ ôÄ õِ U ف َّ الر ِ يق ِ الأ ِ ع ْ َ ْ ˆ \ “Wahai Allah! Ampunilah dosaku! Karuniakanlah rahmat-Mu kepadaku dan angkatlah aku ke arRafiqul A’la.” (Masukkanlah aku ke dalam surga bersama orang-orang terbaik) Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan doa-doa itu, padahal Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang Rasul yang dijamin akan masuk surga, bagaimana dengan kita? Ketika berada di atas pangkuan Aisyah Radhiyallahu anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pingsan selama kurang lebih satu jam, lalu siuman. Saat itu Beliau memandang ke atap, lalu mengangkat kepala dan bersandar pada badan Aisyah Radhiyallahu anhuma. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangan Beliau yang mulia seraya terus memanjatkan doa: الل ‘ ه م ُ ف َّ الر َّ ي ِ ق ْ الأ َ َ ع ْ ˆ \ “ Ya Allah! Masukkanlah aku ke syurga.”
31 Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terus memanjatkan doa itu sampai ruh Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dicabut dan tangan Beliau yang mulia pun lemas. Kalimat itulah yang terakhir kali diucapkan oleh baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Aisyah Radhiyallahu anhuma yang menyaksikan saat yang paling menyedihkan itu mengatakan, “Ketika ruh Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dicabut, saya mencium aroma paling harum yang pernah saya ketahui“. Referensi : https://rumaysho.com/16090-faedah-sirah-nabitanggal-lahir-nabi-belum-jelas.html https://muhammadiyah.or.id/tiga-peristiwapenting-di-bulan-rabiul-awwal-lahir-hijrah-danwafat/#:~:text=Selain%20menjadi%20bulan%20kela hiran%20Nabi,12%20Rabiul%20Awal%20malam%20 Senin. https://mui.or.id/berita/38713/asal-usul-rabiulawal-bulan-kelahiran-dan-wafatnya-nabimuhammad-saw/
32 https://almanhaj.or.id/6284-detik-detik-menjelangwafatnya-rasulullah1.html
33 Tazkiyatun Nafs Faedah Sirah Nabi: Bagaimana Nabi Disakiti dan Diganggu dalam Dakwah? Kita semua tahu bahwa dalam berdakwah di Mekkah, Nabi menemui banyak aral rintangan yang tidak ringan. Gangguan demi gangguan bahkan datang dari kalangan yang masih tergolong bersaudara dengan beliau. Pada Bab ini, akan kami sajikan beberapa kejahatan kafir Quraisy terhadap Nabi Kenakalan ‘Uqbah bin Abi Mu’aith Ibnu Ishak berkata, “Mereka yang mengganggu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya adalah Abu Lahab, Al-Hakam bin Al-‘Ash bin Umayyah, ‘Uqbah bin Abi Mu’aith, ‘Adi bin Hamra’ Ats-Tsaqafi, Ibnu Al-Ashda’ AlHudzali, mereka adalah tetangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara mereka, ada yang melempari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan isi perut unta ketika sedang shalat, dan di antara mereka ada yang membuang isi perut (kotoran) itu ke dalam panci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sedang masak.
34 Bukhari meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu ketika shalat dekat Ka’bah, sementara Abu Jahal dan teman-temannya sedang duduk-duduk. Tiba-tiba salah satu di antara mereka berkata, “Siapa yang berani untuk mengambil isi perut unta di pemotongan Bani Fulan kemudian meletakkannya di atas punggung Muhammad ketika ia sedang sujud?” Akhirnya berdirilah orang yang paling jahat di antara mereka yaitu ‘Uqbah bin Abi Mu’aith. Tidak lama kemudian, dia datang membawa kotoran itu dan menunggu hingga Muhammad sujud, lalu meletakkannya di atas punggungnya dan di antara pundaknya. Mereka melihatnya sambil tertawa, sementara saya (Ibnu Mas’ud) melihatnya dan tidak bisa berbuat apa-apa. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap sujud dan tidak bangun dari sujudnya hingga datang putrinya, Fatimah radhiyallahu ‘anha dan membersihkan kotoran itu. Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun dari sujudnya. Beliau berdoa, “Ya Allah, berilah hukuman kepada orang Quraisy.” Beliau mengatakan itu tiga kali hingga orang Quraisy ketakutan karena mereka berkeyakinan bahwa doa di tempat itu mustajab.
35 Setelah itu, Rasulullah menyebut nama, “Ya Allah, berilah hukuman kepada Abu Jahal, berilah hukuman kepada ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, AlWalid bin ‘Utbah, Umayyah bin Khalaf, dan ‘Uqbah bin Abi Mu’aith.” Beliau menyebut nama yang ketujuh, tetapi tidak ingat namanya. Demi Allah, saya telah melihat semua yang disebutkan namanya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammenjadi bangkai yang dibuang ke Qalib Badr (sumur tua tempat pembuangan bangkai di Badar). (HR. Bukhari, no. 240. Lihat Shahih Bukhari, Kitab AlWudhu, nomor 4, Bab 69: Jika dilemparkan pada punggung orang yang shalat kotoran atau bangkai yang berbau, maka tidak membatalkan shalat) Bukhari meriwayatkan dari Urwah bin AzZubair radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Saya telah bertanya kepada Abdullah bin ‘Amr tentang perilaku keras yang dilakukan oleh orang-orang musyrik terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Dia berkata, “Saya telah melihat ‘Uqbah bin Abi Mu’aith datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan beliau shalat, kemudian ‘Uqbah melilitkan sarungnya pada leher Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menariknya dengan keras, hingga datanglah Abu Bakar dan menolong beliau. Abu Bakar berkata, “Apakah kalian akan membunuh seorang hanya
36 karena berkata Rabbnya adalah Allah dan dia telah datang dengan bukti-bukti yang nyata dari Rabbnya?” (HR. Bukhari, no. 3678. Lihat Shahih Bukhari, 7:22, Kitab Fadhail Ash-Shahabah) Kejahatan Abu Jahal Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Abu Jahal berkata, ‘Apakah Muhammad memiliki kemuliaan di antara kalian?’ Mereka berkata, ‘Iya.’ Abu Jahal berkata, ‘Demi Laata dan ‘Uzzah, apabila suatu ketika saya melihat dia, maka saya akan injak pundaknya dan akan saya taburi mukanya (dengan debu).’” Suatu ketika Abu Jahal menemukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan shalat. Dia mendatanginya dengan maksud menginjak pundak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba ia mundur sambil mengangkat tangannya karena ketakutan, mereka yang hadir bertanya, “Apa apa wahai Abu Al-Hakam?” Dia berkata, “Saya melihat di depan saya, ada parit dari api, kengerian, dan sayap-sayap (yang menakutkan).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya dia mendekati saya, maka malaikat akan memotong-motong badannya.” (HR. Muslim, no. 2797. Kitab Sifat Al-
37 Munafiqin dan hukum terhadap mereka, Bab 6: “Sesungguhnya manusia telah melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup”, QS. Al- ‘Alaq: 6-7) Utaibah bin Abi Lahab Kena Batunya Pada suatu saat, Utaibah bin Abi Lahab melakukan kebiasaannnya dalam merintangi dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga baju beliau sobek, di situlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa kepada Allah agar Allah membunuh Utaibah melalui gigitan anjing. Selain itu, pada suatu saat, Utaibah melakukan perjalanan bersama orang-orang Quraisy dan setelah tiba di sebuah tempat bernama AzZarqa’ di daerah Syam, dan pada waktu malam, datanglah seekor serigala yang mengelilingi mereka, pada saat itulah, Utaibah berkata, “Demi Allah, saya akan mati oleh serigala. Muhammad telah membunuhku di tempat ini, sementara dia berada di Mekkah. Dia telah mendoakan kebinasaan bagiku melalui gigitan anjing.” Serigala itu akhirnya menerkam kepala Utaibah dan menggigit lehernya. (Lihat Al-Baihaqi, Dalail An-Nubuwwah, 4:339; AlHakim dalam Al-Mustadrak, 2:539; Adz-Dzahabi mengatakan shahih) Pelajaran Penting yang Bisa Diambil
38 • Setiap pendakwah pasti mengalami cobaan baik dengan lisan atau pun serangan fisik. • Orang kafir Quraisy berusaha menyakiti hingga membunuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. • Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diganggu dalam ibadah seperti dalam shalatnya dan ketika ia sujud. • Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disakiti dengan diganggu dalam shalat, dengan cara ingin dilempar berbagai kotoran dan benda yang menjijikkan. • Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu bersabar dan akhirnya mendapatkan pertolongan Allah. Dan memang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan terus mendapatkan pertolongan Allah dengan terlindung dari kejahatan Abu Jahal dan lainnya. Lihat Syarh Shahih Muslim, 17:127. • Boleh mendoakan orang yang zalim. Ibnu Mas’ud sampai mengatakan, “Aku tidaklah pernah mendengar doa jelek dari beliau kecuali pada hari ini.” (Fath Al-Bari, 1:353). Yaitu saat beliau dizalimi seperti kisah di atas. • Doa orang yang terzalimi itu mudah terkabul.
39 • Jika dilemparkan pada punggung orang yang shalat kotoran atau bangkai yang berbau, maka tidak membatalkan shalat. Menurut sebagian ulama, menjauhi najis bukanlah syarat wajib ketika shalat. Namun ulama lainnya berpandangan bahwa kasus yang dibahas dalam hadits yang dibicarakan di atas adalah bukan najis yang ditemui dari awal, namun ketika shalat sudah dimulai. Lihat Fath Al-Bari, 1:348. • Orang kafir begitu mengagungkan doa ketika di Ka’bah. Hal itu semakin diagungkan lagi di tengah kaum muslim. Lihat Fath Al-Bari, 1:353. • Orang kafir Quraisy sebenarnya sudah mengakui akan benarnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mereka sendiri takut akan doa jelek dari beliau. Namun karena hasad saja (kebencian) yang membuat kafir Quraisy yang membuat mereka enggan mengikuti beliau. Lihat Fath Al-Bari, 1:353. • Dianjurkan doa diulangi sampai tiga kali. Lihat Fath Al-Bari, 1:353. Doa Orang yang Terzalimi Mu’adz radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
40 ف َ إv اك َّ و َ َ \ ر ِم ائ َ أم َ و ْ م ِ اله َ ، و ْ ات َ د ِق َّ ع َ و ْ ة َ n المظ َ ل ، ف ِوم ï َ إ ن ِ َّ ه ل ُ \ ب َ ْس ó 4ن َ َ ه Ω َ ا وbَ ْ Ä َ اب َ ِ∂ ِحج ٌ “Maka jauhilah harta berharga mereka. Waspadalah terhadap doa orang yang terzalimi karena tidak ada hijab (penghalang) antara doanya dan Allah (artinya: mudah terkabul, pen.).” (HR. Bukhari, no. 1496 dan Muslim, no. 19) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, د ع َ و ْ ة َ ال ُ n م ظ َ n ل م ِوم ï س ُ ت ْ ج َ اUَ ة َ و ٌ َ Û ن ِ ْ ∑ ان \ ف َ ا ِ ر اج َ ف H َ ف ج ُ ور ُ ە ُ ع ُ َ ˆ ن \ َ ف ِسِه ْ “Doa orang yang terzalimi itu terkabul meskipun yang mendoakan adalah orang yang fajir (gemar maksiat). Kefajiran yang perbuat itu tanggung jawab dirinya.” (HR. Ahmad, 2: 367. Ibnu Hajar menyatakan dalam Fath Al-Bari, 3: 360 bahwa hadits ini hasan. Sedangkan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth pada komentarnya dalam Musnad Imam Ahmad mengatakan bahwa hadits ini dha’if) Nabi Muhammad akan Terus Terlindungi dari Gangguan Manusia Allah Ta’ala berfirman, v ا أ َ \ ي ه ُّ س َّ ا الر َ ول ُ ُ U َ ل : غ م ْ ا أ َ ï ن ْ ل «ز إ َ ل ِ \ S ك ْ ِمن َ ر ْ َ b ك ِّ ۖو َ َ Û ن ِ ل ْ \ م ت ْ َ ف ع ْ ل َ ف ْ َ م ا Uَ َ ل ‘ غ ت ْ َ «سر ال َ \ ت ه َ ۚو ُ v ُ ‘ ا“ َ ع َ ك ُ ِصم ْ ِمن َ الن َ ۗإ « اس َّ ن ِ لا ’ َ ا“ َّ ي َ ه َ ال ِدي ْ n ق و َ م ْ ال َ n î Õن « ِ x اف \ َ
41 “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maidah: 67). Lihat penjelasan dalam Syarh Shahih Muslim, 17:127. Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf AnNawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetakan keempat, Tahun 1432 H. Al-Hafizh Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Al-‘Asqalani. Penerbit Dar Thiybah. Fikih Sirah Nabawiyah. Dr.Zaid bin Abdul Karim AzZaid. Penerbit Darus Sunnah.
Mengakses link Youtube https://www.youtube.com/@tarbiyahruhiyahbtkvfkua2865, atau Scan Barcode di samping kiri. Materi-materi kajian sunnah BTKV FKUA dapat disaksikan pada laman Youtube " Tarbiyah Ruhiyah BTKV FKUA" dengan cara 1. 2. Kesabaran Rasulullah dalam menghadapi cobaan dan kesulitan adalah inspirasi bagi kita semua. Beliau tidak pernah kehilangan kesabaran, bahkan dalam situasi yang paling sulit sekalipun. Rasulullah juga selalu peduli terhadap kondisi emosional dan fisik umatnya. Beliau mendengarkan, memahami, dan memberikan nasihat yang bijaksana kepada mereka. Untuk meningkatkan ukhuwah Islamiyah dalam diri kita, kita harus meneladani kesabaran dan kepemimpinan Rasulullah. Dalam hubungan kita dengan sesama, kita perlu memiliki kesabaran untuk mendengarkan, memahami, dan membantu mereka dalam waktu sulit. Kepedulian terhadap kondisi fisik dan emosional orang lain juga merupakan langkah penting dalam memperkuat ikatan ukhuwah Islamiyah. Meningkatkan ukhuwah Islamiyah dalam diri kita dengan meneladani kehidupan Baginda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam adalah suatu tugas yang memerlukan kesadaran, usaha, dan komitmen. Rasulullah adalah contoh sempurna bagi kita semua, dan ajaran-ajaran beliau tetap relevan dalam kehidupan modern. Dalam meneladani Rasulullah, kita dapat menjadi pemimpin yang adil, berbagi dengan orang lain tanpa pamrih, bersabar dalam menghadapi cobaan, dan ketaat kepada Allah dalam setiap aspek kehidupan kita. Semua ini akan membantu kita memperkuat ikatan ukhuwah Islamiyah dalam komunitas kita dan membawa berkah dalam kehidupan kita sendiri. Dengan mengambil langkah-langkah ini, kita dapat berkontribusi pada pembentukan masyarakat yang lebih baik dan harmonis, yang sesuai dengan ajaran Islam. Kita dapat menciptakan lingkungan di mana kasih sayang, kebaikan hati, dan kedamaian menjadi ciri khas, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Semoga kita semua dapat terus berusaha untuk menjadi lebih baik dalam mengikuti jejak beliau. "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah..” (QS. Al Ahdzab: 21)