The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by eko Soema, 2024-06-21 00:13:23

Modul Pelatihan TSM (smnt)

Modul Pelatihan TSM (smnt)

Keywords: modul

6/16/2024 1 PENGANTAR PRAKTEK LISTRIK TUJUAN : Peserta memahami dasar-dasar kelistrikan dan penerapannya dalam sistem listrik di sepeda motor Peserta mampu menjelaskan konstruksi dan cara kerja komponen sistem listrik. Peserta mampu melakukan pengukuran, analisa dan perbaikan sistem kelistrikan.


6/16/2024 2 Pokok Bahasan : 1. Pengetahuan Dasar Listrik 2. Diagram Listrik 3. Sistem Pengapian 4. Sistem Pengisian 5. Sistem Beban PENGETAHUAN DASAR LISTRIK BAB


6/16/2024 3 BAHAN MOLEKUL SIFAT = BENDA ASLI MOLEKUL SIFAT = BENDA ASLI MOLEKUL SIFAT = BENDA ASLI ATOM SIFAT BERBEDA BENDA ASLI ATOM SIFAT BERBEDA BENDA ASLI + - + - INTI (+) ELEKTRON (-) INTI (+) ELEKTRON (-) + - + - (Proton) (Proton) ASAL MULA LISTRIK (TEORI ELEKTRON) A Elektron bebas mudah berpindah ke atom lain. Pergerakan elektron bebas yg teratur ke satu arah = aliran elektron. Aliran elektron Aliran listrik Untuk membangkitkan aliran listrik di sepeda motor : 1. Proses kimia battery 2. Kemagnetan alternator


6/16/2024 4 + - Arah arus listrik Arah arus elektron + Beban - ARAH ALIRAN LISTRIK Syarat terjadinya aliran listrik : 1. Ada beda potensial (tegangan listrik) 2. Membentuk rangkaian tertutup. Listrik mengalir pada kawat seperti air mengalir melalui pipa Air mengalir : Tempat tinggi tempat rendah. Listrik mengalir : Tegangan tinggi tegangan rendah Tegangan listrik terjadi karena beda potensial antara kedua kutupnya. Disingkat : E = Electromotive, satuannya Volt dan diukur dg Voltmeter. PENGERTIAN POKOK DALAM LISTRIK B 1. Tegangan dan Potensial Listrik


6/16/2024 5 CONNECTING IN PARALEL ( GOOD ) V V CONNECTING IN SERI ( BAD ) Tujuannya adalah : 1. Memeriksa ada tidaknya tegangan listrik di sirkuit listrik rangkaian terbuka atau terputus. 2. Mengukur besarnya tegangan listrik : Penurunan tegangan listrik sambungan kendor/kotor. Mengetahui komponen listrik bekerja dg baik? Pengukuran Tegangan Listrik Contoh 1. Penggunaan Voltmeter : Jika Ignition Switch ON dan lampu B dan C tidak bekerja, langkah pemeriksaannya : 1. Ukur di titik 1 , jika tidak ada tegangan, lanjutkan ke titik 2 : 2. Ada tegangan Connector A rusak 3. Tidak ada tegangan, lanjutkan ke titik 3 : 4. Ada tegangan kabel antara connector A dan B putus, jika tidak ada tegangan lanjutkan ke posisi 4 : 5. Ada tegangan connector B rusak. SWITCH A CONNECTOR A LAMPU B LAMPU C 2 1 CONNECTOR B 3 4


6/16/2024 6 Contoh 2. Penggunaan Voltmeter : Mendiagnosa dengan Voltmeter langsung pada terminal inputnya. Mendiagnosa dengan Voltmeter AC pada kasus lampu sering mati, apakah tegangan yang masuk ke lampu terlalu besar. Lepas konektor kabel Lampu Depan Lakukan pengukuran di konektor V V A A SAMBUNGAN SERIES ( Betul ) SAMBUNGAN PARALEL ( Salah ) SALAH !!! Adalah jumlah elektron bebas yang mengalir melalui penghantar tiap satuan waktu Satuan Ampere (A). 1 A = 1 Coulomb/detik. Alat pengukurnya Ampere Meter. Pengukuran Arus Listrik : Dipasang seri Bertujuan : 1. Mengetahui kemampuan pengisian battery. 2. Pemakaian energi listrik dari setiap komponen Perhatian : Ampere Meter yang terdapat pada AVOMeter hanya mempunyai batas ukur terbatas, sedangkan arus listrik yang bekerja pada sistem kelistrikan sepeda motor berkisar antara 0 s/d 15 A. 2. Arus Listrik


6/16/2024 7 Tiap benda mempunyai tahanan listrik yang berbeda, seperti aliran air yang melalui pipa. Besarnya tahanan listrik tergantung : Sifat bahan Panjang kawat Besar penampang Tahanan listrik yang besar mengakibatkan berkurangnya aliran arus listrik dan hubungannya dinyatakan dlm Hukum Ohm : 3. Tahanan (Resistance) Listrik I x R E E = I x R I = E : R R = E : I ( E = Tegangan, I = Arus, R = Tahanan ) Satuan Ohm Alat ukur = Ohmmeter Tujuannya adalah untuk mengetahui : 1. Nilai tahanan. 2. Rangkaian terbuka atau putus. 3. Hubungan jelek. 4. Hubungan singkat. Pengukuran Tahanan Listrik Cara penggunaan Ohmmeter : • Sebelum pemakaian Ohmmeter harus dikalibrasi nol (Ø). • Terminal positif dan negatif dapat dibalik, kecuali dioda. • Bebaskan komponen dari sumber arus listrik. • Sirkuit yang bercabang harus dilepaskan terlebih dahulu • Sesuaikan selektor dengan nilai tahanan yang akan diukur • Baca hasil ukur = Nilai skala garis x Bilangan selektor


6/16/2024 8 Contoh Menggunakan Ohmmeter : Pemeriksaan di Sistem Pengapian Pemeriksaan putus tidaknya kabel Bl/R Pemeriksaan hubung singkat antara kabel Bl/R dengan kabel G WIRE HARNESS EXCITER COIL CDI UNIT Ω CDI UNIT 1 2 Pemeriksaan nilai tahanan Kumparan Pengapian Contoh Menggunakan Ohmmeter : Pemeriksaan di Sistem Pengapian Ω CDI UNIT


6/16/2024 9 Tenaga listrik dapat diubah menjadi tenaga : Panas/cahaya setrika, solder dan lampu-lampu Magnet Motor starter, relay switch starter, Fuel Meter, Klakson dll Kimia Pengisian battery, penyepuhan Tenaga listrik dinyatakan dengan W (Work) satuannya = Watt. Hubungan dengan E dan I dinyatakan : 4. Tenaga Listrik E x I W W = E x I 1 Watt = Tenaga listrik yg keluar pd tegangan 1 Volt dengan arus listrik yg mengalir 1 Ampere. 0 1 2 t1 t2 t3 t4 t5 t1 t2 t3 t4 t5 t6 0 Waktu (detik) Waktu (detik) 1 0 2 JENIS ARUS LISTRIK : t2 t4 t6 t8 t10 t12 t14dst 0 +1 +2 ( detik ) -1 +2 Harga Maksimum Harga puncak (amplitudo) 1 periode (1 getar) 1. Arus Searah atau arus DC (Direct Current) 2. AC (Alternating Current) atau Arus Bolak-balik


6/16/2024 10 5. Rangkaian Listrik Syarat terjadinya aliran listrik : 1. Ada beda potensial (tegangan listrik) 2. Membentuk rangkaian tertutup. Rangkaian Listrik = Jalannya aliran arus listrik. Jenis Rangkaian Listrik : 1. Sirkut Seri Sifat : Arus listrik tetap, tegangan listrik berubah, tahanan totalnya bertambah besar. Rt = R1 + R2 + R3 … dst 2. Sirkuit Paralel Sifat : Arus listrik berubah, tegangan listrik tetap dan tahanan totalnya lebih kecil. 1 1 1 1 Rt R1 R2 R3 … dst + - SAMBUNGAN “ SERI “ R1 R2 + - SAMBUNGAN “PARALEL“ R1 R2


6/16/2024 11 2 3 1 R 1 R 2 R 3 2 3 1 R 1 R 2 R 3 A B C D + - E = 12 VOLT Contoh Rangkaian Seri Rt = 2 + 3 + 1 = 6 Ohm E = I . R 12 = I . 6 I = 12/6 = 2 A W = E . I = 12. 2 = 24 Watt 1. Menghitung Tahanan Total 2. Menghitung Tenaga Listrik Contoh Rangkaian Seri : Menghitung Voltage Drop di Rangkaian Seri 2 3 1 R 1 R 2 R 3 + - E = 12 VOLT E1 E2 E3 1. E1 = I x R1 = 2 x 2 = 4 V 2. E2 = I x R2 = 2 x 3 = 6 V 3. E3 = I x R3 = 2 x 1 = 2 V 4. ET = E1 + E2 + E3 = 4 + 6 + 2 = 12 V


6/16/2024 12 300 150 100 ( + ) ( - ) E = 12 VOLT R 3 R 2 R 1 A B Rd = 0 I 1 I 2 I 3 Contoh Rangkaian Paralel : Menentukan Tahanan Total 1 1 1 1 Rt R1 R2 R3 … dst 1 1 1 1 Rt 100 150 300 1 3 2 1 Rt 300 300 300 1 6 Rt 300 1 6 Rt 300 Rt 300 50 Ohm 1 6 300 150 100 ( + ) ( - ) E = 12 VOLT R 3 R 2 R 1 A B Rd = 0 I 1 I 2 I 3 I1 E R1 12 0,12 A 100 E = I x Rt 12 = I x 50 I = 12/50 = 0,24 A I2 E R2 12 0,08 A 150 I3 E R3 12 0,04 A 300 IT = I1 + I2 + I3 = 0,12 + 0,08 + 0,04 = 0,24 A Contoh Rangkaian Paralel : Menentukan Kuat Arus di Percabangan


6/16/2024 13 Contoh Perhitungan Sambungan Seri dan Paralel Sistem Lampu Sein SMH Win DIODE ARUS LISTRIK MENGALIR DARI ANODE KE KATODE ARUS LISTRIK TIDAK DAPAT MENGALIR PADA ARAH YG BERLAWANAN XXX ZENER DIODE CURRENT FLOWS NO CURRENT FLOWS BELOW REVERSE VOLTAGE 6. Komponen Listrik a. Diode Komponen dasar pada Rectifier Regulator sebagai penyearah arus listrik. b. Diode zener Komponen dasar pada Rectifier Regulator sebagai pembatas out put pengisian. A K A K


6/16/2024 14 ANODE A KATHODE K G GATE (+) (-) NO CURRENT FLOW NO CURRENT FLOW ANODE A KATHODE K G( GATE) (+) (-) CURRENT FLOWS WHEN SCR IS ON NO CURRENT FLOWS VOLTAGE c. Thyristor/SCR (Silicon Controlled Regulator) Komponen dasar pada Rectifier Regulator dan CDI berfungsi sebagai saklar listrik arus AC yang ON OFF nya diatur oleh arus yang mengalir pada kaki gatenya. E C B E C B TRANSISTOR SYMBOLS (EMITOR) (COLLECTOR) (BASE) ( PNP TYPE ) ( NPN TYPE ) d. Transistor Komponen dasar pada Rectifier Regulator dan CDI berfungsi sebagai saklar listrik arus DC yang ON OFF nya diatur oleh arus yang mengalir dari Base ke Emitornya (PNP) atau sebaliknya (NPN). Terdiri 2 Jenis : 1. Tipe PNP 2. Tipe NPN


6/16/2024 15 E B C E B C Base Current PRINSIP KERJA TRANSISTOR PNP PRINSIP KERJA TRANSISTOR NPN Base Current Arus listrik yang besar akan mengalir dari Emitor ke Collector, jika ada arus kecil mengalir dari Emitor ke base Arus listrik yang besar akan mengalir dari Collector ke Emitor, jika ada arus kecil mengalir dari Base ke Emitor U S ARAH GARIS GAYA MEDAN MAGNIT Magnet = Logam yg mempunyai gaya tarik terhadap besi lainnya. Gaya tarik terbesar terdapat pd ujung magnet Kutub magnet Arah gaya tarik magnet dinyatakan gari-garis gaya magnet dan di luar batang magnet bergerak dari kutup Utara ke kutup Selatan. MAGNET C


6/16/2024 16 Bahan yg mempunyai sifat magnet terbentuk dari magnet-magnet kecil magnet molekuler. Magnet molekuler besi tidak teratur letaknyadiatur ke satu arah menjadi teratur magnet. Magnet remanen : mudah menjadi magnet dan mudah hilang kemagnetannya. Magnet permanen = sukar menjadi magnet, tetapi setelah menjadi magnet akan mempertahankan kemagnetannya. U U S S U S U U S S U S ARAH GARIS GAYA MEDAN MAGNIT Kutup sejenis saling tolak menolak Kutup berlawanan jenis saling tarik menarik


6/16/2024 17 X Kawat yg dialiri listrik akan menimbulkan kemagnetan Elektromagnet Garis-garis gaya magnet bergerak menurut arah perputaran jarum jam, kalau dilihat dari arah datangnya arus listrik. Arus Garis Gaya Arus listrik menjauhi kita, garis gaya magnet searah jarum jam Arus listrik mendekati kita, garis gaya magnet berlawanan arah jarum jam ELECTROMAGNIT D Apabila suatu kawat beraliran listrik dilengkungkan membentuk lingkaran garis-garis gaya menuju satu arah Gaya medan magnet ini akan bertambah besar jika kawat membentuk gulungan/ kumparan Kuat medan magnet tergantung : Besarnya aliran listrik Banyaknya kumparan Letak kutup magnet kumparan : Arah arus listrik searah jarum jam = kutup Selatan S U KUMPARAN E


6/16/2024 18 KUMPARAN DENGAN TERAS BESI + Kumparan Primer Kumparan Sekunder S U Kumparan dg teras besi, jumlah garis gaya magnetnya lebih banyak (± 6000 X) Magnet molekuler besi magnet Saat saklar di ON-OFF kan medan magnet berubahubah pd gulungan sekunder timbul arus listrik tegangan induksi KUMPARAN DENGAN TERAS BESI F Besarnya tegangan induksi = Ep Es Np Ns Ep = Tegangan induksi kump. primer Es = Tegangan induksi kump. sekunder Np = jumlah lilitan kump. Primer Ns = jumlah lilitan kump. sekunder = + Kumparan Primer Perubahan medan magnet di kump primer menimbulkan timbulnya potensial induksi diri : Saat saklar dihubungkan bersifat menentang aliran arus listrik dari sumbernya. Saat saklar dilepaskan listrik tambahan/extra bersifat searah dengan arus listrik dari sumbernya Arus listrik timbul bunga api Pada teras besi mengalir fluks magnetik. Pada teras besi pejal fluks magnetik kurang teratur arus pusar (Eddy Current) panas Teras besi dibuat dari plat-plat tipis ditumpuk menjadi satu.


6/16/2024 19 DIAGRAM LISTRIK BAB SISTEM KELISTRIKAN SEPEDA MOTOR A


6/16/2024 20 Bl Menghubungkan kunci kontak dgn beban DC Menghubungkan spull lampu dgn sakelar lampu dan rectifier regulator (kiprok) Y AC Menghubungkan switch sein dgn bulb sein kiri dan indicator O DC Menghubungkan switch sein dgn bulb sein kanan dan indicator DC Lb Menghubungkan switch dimmer dgn bulb jauh dan indicator Bu AC Menghubungkan switch lighting dgn bulb posisi, panel dan tail light Br AC Menghubungkan switch horn dgn horn DC Lg G Menghubungkan accu dgn massa/ground Menghubungkan rectifier, accu dgn kunci kontak dan switch starter R DC W Menghubungkan spull pengisian dgn rectifier AC Menghubungkan spull pengapian dgn CDI Unit AC B/R Bu/Y Menghubungkan fixed pulser dgn CDI Unit AC Gr Menghubungkan winker relay dgn switch winker DC


6/16/2024 21 Bl/Y Menghubungkan CDI Unit dgn Ignition Coil AC R/Bl Menghubungkan Kunci kontak dgn CDI Unit DC Y/R Menghubungkan switch gigi 1 dgn lampu gigi 1 DC Lg/R Menghubungkan switch gigi netral dgn lampu netral DC Bl/Bu Menghubungkan switch gigi 2 dgn lampu gigi 2 DC W/Bu Menghubungkan switch gigi 3 dgn lampu gigi 3 DC Menghubungkan switch gigi 4 dgn lampu gigi 4 P DC SINGKATAN INGGRIS INDONESIA Bl atau B Black Hitam Br Brown Coklat Bu atau L Blue Biru G Green Hijau Gr Grey Abu - abu Lb atau Sb Light Blue/Sky Blue Biru muda Lg Light green Hijau muda O Orange Oranye P Pink Merah muda R Red Merah muda W White Putih Y Yellow Kuning SINGKATAN WARNA KABEL


6/16/2024 22 C WIRING DIAGRAM 1. ASTREA GRAND 2. GL PRO 3. KARISMA 4. TIGER M.STARTER STATOR CDI UNIT SWICTH DIMMER B. PANEL B. POSITION B.TAILIGHT RELAY FUEL METER FUEL UNIT SWITCH REM ( Rr ) B.HEAD LIGHT Horn RECTIFIER L.WINKER Rr Fr R.WINKER Rr Fr ACCU + - COIL OFF TOMBOL 3 3 3 3 3 3 3 3 WIRING DIAGRAM ASTREA GRAND Bulb Top Bulb Netral OFF ON 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 P H P H L R E F M. STARTER M.STARTER SWITCH REM ( Fr )


6/16/2024 23 STATOR CDI UNIT SWICTH DIMMER B. PANEL B. POSITION B.TAILIGHT RELAY FUEL METER FUEL UNIT SWITCH REM ( Rr ) B.HEAD LIGHT HORN RECTIFIER L.WINKER Rr Fr R.WINKER Rr Fr ACCU + - COIL OFF TOMBOL 3 3 3 3 3 3 3 3 Bulb Netral OFF ON 3 3 3 3 3 3 3 3 3 P H P H L R E F SWITCH REM ( Fr ) E F WIRING DIAGRAM GL NEOTECH M.STARTER STATOR CDI UNIT SWICTH DIMMER B. PANEL B. POSITION B.TAILIGHT RELAY SPEEDOMETER FUEL UNIT SWITCH REM ( Rr ) B.HEAD LIGHT RECTIFIER HORN L.WINKER Rr Fr R.WINKER Rr Fr ACCU + - COIL OFF TOMBOL 3 3 3 3 3 3 3 3 OFF ON 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 P H P H L R E F SWITCH M. STARTER M.STARTER SWITCH REM ( Fr ) 3 3 3 N 1 2 3 4 TSS E F WIRING DIAGRAM KARISMA


6/16/2024 24 M.STARTER STATOR CDI UNIT SWICTH DIMMER B. PANEL B. POSITION B.TAILIGHT RELAY FUEL UNIT SWITCH REM ( Rr ) B.HEAD LIGHT HORN RECTIFIER L.WINKER Rr Fr R.WINKER Rr Fr ACCU + - COIL OFF TOMBOL STARTER 3 3 3 3 3 3 3 3 Bulb Top Bulb Netral 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 P H P H L R SWITCH REM ( Fr ) E F 0 11 5 x1000rpm FUEL METER RPM METER M DIODE GLS 200 OFF ON Tombol Klakson E F 0 11 5 x1000rpm FUEL METER RPM METER E FE F 0 11 5 x1000rpm FUEL METER RPM METER SISTEM PENYALAAN BAB


6/16/2024 25 SISTEM PENGAPIAN A Fungsi : Menyediakan percikan api pada saat yang tepat untuk menyalakan campuran bensin dan udara dalam ruang bakar. Besarnya api busi pada saat yang tepat sesuai kondisi mesin sangat menentukan kesempurnaan pembakaran. Jenis Sistem Pengapian : 1. Battery : a. Konvensional (Platina) b. CDI CDI-DC 2. Magneto : a. Konvensional (Platina) b. CDI CDI-AC ASTREA SUPRA Ignition Coil Kunci Kontak CDI Unit Pulse Generator Alternator


6/16/2024 26 SPESIFIKASI SISTEM PENGAPIAN SUPRA KARISMA


6/16/2024 27 GL NEOTECH Fungsi Alternator : Alat pembangkit arus listrik AC Bekerja berdasarkan prinsip elektro magnetik. Stator Rotor ALTERNATOR B


6/16/2024 28 Prinsip kerja : Magnet yang melintasi kumparan, maka akan timbul garis gaya magnet di sekitar kumparan. Saat magnet melintasi kumparan, maka garis gaya medan magnet di sekitar kumparan hilang. Akibat berubah-ubahnya garis gaya medan magnet, maka akan dihasilkan tegangan induksi pada kumparan. Besarnya induksi tergantung : Kecepatan gerakan magnet Besarnya medan magnet Jumlah gulungan GENERATOR PEMBANGKIT PULSA B Fungsi : Menghasilkan tegangan pulsa untuk mengatur kerja SCR. Konstruksi : Generator Pulsa terdiri dari sebuah magnet permanen yang dililiti kumparan. Cara Kerja : Signal rotor mendekati atau meninggalkan generator pulsa, akan terjadi perubahan garisgaris gaya magnet. Perubahan garis-garis gaya magnet akan menghasilkan tegangan pulsa. Signal rotor mendekati kumparan Tegangan pulsa positif Signal rotor meninggalkan kumparan Tegangan pulsa negatif


6/16/2024 29 PEMERIKSAAN KUMPARAN PEMBANGKIT ALTERNATOR Ukur tahanan kumparan pembangkit alternator antara terminal Hitam/Merah dan Massa. STANDAR: 100 - 400 Ω (NF100) PEMERIKSAAN KUMPARAN PULSA PENGAPIAN Ukur tahanan generator pulsa pengapian antara terminal Biru/Kuning dan Hijau. STANDAR: 50 - 170 Ω (NF100) PEMERIKSAAN TEGANGAN PUNCAK KUMPARAN PENGAPIAN Ukur tegangan puncak dengan Voltmeter DC pada kabel Hitam/Merah dengan Hijau. STANDAR: 100 V (NF100) PEMERIKSAAN TEGANGAN PUNCAK KUMPARAN PEMBANGKIT Ukur tegangan puncak dengan Voltmeter DC pada kabel Biru/Silver dengan Hijau. STANDAR: 0,7 V (NF100)


6/16/2024 30 TYPE HITAM/MERAH BIRU/KUNING PUTIH GL SERIES 150 - 600 500 - 600 0,2 - 2,0 WIN 150 - 700 120 - 160 0,3 - 0,6 TIGER 100- 300 290 - 360 0,1 - 1,0 NEOTECH - 290 - 360 NSR 50 - 200 150 - 300 0,1 - 1,0 STAR 100 - 400 50 - 170 0,1 - 1,0 GRAND 100 - 400 180 - 280 0,1 - 1,0 SUPRA 100 - 400 180 - 280 0,1 - 1,0 KARISMA - 50 - 170 0,3 - 1,1 PEMERIKSAAN STATOR * Data ukur berubah sesuai komponen dan alat ukur yang dipakai CDI = CAPASITIVE DISCHARGE IGNITION Pengganti platina Mengontrol arus listrik ke Ignition Coil Keunggulan CDI >< Platina : Tidak memerlukan penyetelan. Menghasilkan tegangan listrik lebih besar dan stabil. Saat pengapian lebih tepat, sesuai putaran mesin. Berdasarkan sumber arus CDI : CDI – AC : Astrea Series, GL Series, Tiger, NSR 150R CDI – DC : GL Neotech, Karisma, Kirana, NSR 150RR, Sonic CDI C


6/16/2024 31 PRINSIP KERJA CDI - AC PRINSIP KERJA CDI - DC


6/16/2024 32 PENGAJUAN WAKTU PENGAPIAN Saat pengapian diatur oleh SCR yang akan bekerja berdasarkan tegangan pulsa pada kaki Gate Pengajuan pengapian diatur oleh ignition timing circuit dengan mengatur tegangan pulsa ke kaki Gate SCR. PRINSIP PENGAJUAN SAAT PENGAPIAN Putaran mesin naik tegangan kump pembangkit pulsa naik ambang batas tegangan picu ke SCR dicapai lebih awal.


6/16/2024 33 PEMERIKSAAN WAKTU PENGAPIAN Pemeriksaan waktu pengapian menggunakan timing light : •Idle Speed : garis F segaris tanda penyesuai. •Putaran mesin ditambah, garis F bergeser. •High Speed : garis F harus berada tepat di tengah dua garis tanda penyesuai. IGN (Bl/Y) EXT (Bl/R) SW (Bl/W) PC (Bu/Y) E (G) KETERANGAN : Kabel SW EXT PC E IGN Bl/W Bl/R Bu/Y G Bl/Y SW Switch Kunci Kontak Bl/W S S S S EXT Exiter Kump Pengapian Bl/R 18 260 180 S PC Fixed Pulser Kump Pemb Pulsa Bu/Y 260 S 60 S E Earth Massa G 18 S S IGN Ignition Ignition Coil Bl/Y S S S S Terminal Menuju + - PEMERIKSAAN CDI UNIT ASTREA GRAND *Data ukur berubah sesuai komponen dan alat ukur yang dipakai TESTER : SANWA, SKALA : X 1KΩ


6/16/2024 34 IGN (Bl/Y) EXT (Bl/R) SW (Bl/W) PC (Bu/Y) E (G) KETERANGAN : Kabel SW EXT PC E IGN Bl/W Bl/R Bu/Y G Bl/Y SW Switch Kunci Kontak Bl/W 100 100 100 S EXT Exiter Kump Pengapian Bl/R 5 S S S PC Fixed Pulser Kump Pemb Pulsa Bu/Y 75 35 14 S E Earth Massa G 16,5 5 60 S IGN Ignition Ignition Coil Bl/Y S S S S Terminal Menuju + - PEMERIKSAAN CDI UNIT ASTREA PRIMA/ STAR/ WIN *Data ukur berubah sesuai komponen dan alat ukur yang dipakai TESTER : SANWA, SKALA : X 1KΩ IGN (Bl/Y) EXT (Bl/R) SW (Bl/W) PC (Bu/Y) E (G) KETERANGAN : Kabel SW EXT PC E IGN Bl/W Bl/R Bu/Y G Bl/Y SW Switch Kunci Kontak Bl/W S S S S EXT Exiter Kump Pengapian Bl/R 5 S S S PC Fixed Pulser Kump Pemb Pulsa Bu/Y 140 100 60 S E Earth Massa G 16,5 5 60 S IGN Ignition Ignition Coil Bl/Y S S S S Terminal Menuju + - PEMERIKSAAN CDI UNIT GL SERIES *Data ukur berubah sesuai komponen dan alat ukur yang dipakai TESTER : SANWA, SKALA : X 1KΩ


6/16/2024 35 IGN (Bl/Y) EXT (Bl/R) SW (Bl/W) PC (Bu/Y) E (G) KETERANGAN : Kabel SW EXT PC E IGN Bl/W Bl/R Bu/Y G Bl/Y SW Switch Kunci Kontak Bl/W S S S S EXT Exiter Kump Pengapian Bl/R 5,2 S S S PC Fixed Pulser Kump Pemb Pulsa Bu/Y 400 140 70 S E Earth Massa G 19 5,3 30 S IGN Ignition Ignition Coil Bl/Y S S S S Terminal Menuju + - PEMERIKSAAN CDI UNIT TIGER KOSONG *Data ukur berubah sesuai komponen dan alat ukur yang dipakai TESTER : SANWA, SKALA : X 1KΩ IGN (Bl/Y) SW (R/Bl) PC (Bu/Y) E (G) KETERANGAN : Kabel SW PC E IGN Bl/W Bu/Y G Bl/Y SW Switch Kunci Kontak Bl/W 500 26 S PC Fixed Pulser Kump Pemb Pulsa Bu/Y 300 120 S E Earth Massa G 13,2 200 S IGN Ignition Ignition Coil Bl/Y S S S Terminal Menuju + - PEMERIKSAAN CDI UNIT NEOTECH KOSONG KOSONG TESTER : SANWA, SKALA : X 1KΩ *Data ukur berubah sesuai komponen dan alat ukur yang dipakai


6/16/2024 36 IGN (Bl/Y) SW (Bl/W) PC (Bu/Y) E (G) KETERANGAN : Kabel SW EXT PC E IGN CNL Bl/W Bl/R Bu/Y G Bl/Y W/R SW Switch Kunci Kontak Bl/W 18 S S S S EXT Exiter Kump Pengapian Bl/R 18 400 120 S 300 PC Fixed Pulser Kump Pemb Pulsa Bu/Y 250 S 65 S 140 E Earth Massa G 18 S 65 S 17 IGN Ignition Ignition Coil Bl/Y S S S S CNL Control Unit Control Unit W/R S S S S S Terminal Menuju + - PEMERIKSAAN CDI UNIT NSR EXT Bl/R CNL W/R TESTER : SANWA, SKALA : X 1KΩ *Data ukur berubah sesuai komponen dan alat ukur yang dipakai CDI Bl/Y R/Bl Bu/Y E Reg. Rec. Ign. Coil Bl R R G Y W CDI, REGULATOR RECTIFIER, IGNITION COIL NF 125/D


6/16/2024 37 Fungsi : Meningkatkan tegangan listrik dari sumber arus baik dari accu maupun dari alternator sampai mencapai tegangan lebih dari 10.000 V, sehingga mampu membentuk loncatan api di busi. Terdiri 2 Kumparan : Kumparan Primer Diameter kawat lebih besar, lilitan lebih sedikit Kumparan Sekunder Diameter kawat lebih kecil, lilitan lebih banyak. Pemeriksaan Kump. Primer Pemeriksaan Kump. Sekunder IGNITION COIL D KUMP PRIMER KUMP. SEKUNDER X 1 Ohm X 1 K Ohm STAR 0,5 - 0,6 7 - 9 K GRAND/SUPRA 0,5 - 0,6 7 - 9 K GL SERIES 0,5 - 0,6 7 - 9 K WIN 0,2 - 0,8 8 - 10 K NEOTECH 0,5 - 0,6 7 - 9 K TIGER 0,5 - 0,6 7 - 9 K NSR 0,1 - 1 2 - 6 K KARISMA 0,5 - 1 7 - 9 K KIRANA 0,5 - 1 7 - 9 K TYPE MOTOR PEMERIKSAAN IGNITION COIL Standard Pengukuran Ignition Coil dengan tanpa tutup busi.


6/16/2024 38 Fungsi : Menghasilkan percikan bunga api listrik . Tingkat panas (Heating Range) = Kemampuan busi melepaskan panas Busi Panas (Nomor Kecil) Pelepasan panas lambat Busi Dingin (Nomor Besar) Pelepasan panas cepat, cocok untuk kecepatan tinggi. Contoh : BUSI NSR STD = W24 ES, Kecep Tinggi = W 27 ES Pemakaian busi yang salah : Busi tipe dingin susah start, pembakaran tidak sempurna, timbul kerak Busi tipe panas Over heating, pre ignition, electrode meleleh. BUSI E SPESIFIKASI BUSI DENSO


6/16/2024 39 D P 8 E A-9 Remark Thread Lenght Heating Value Thread Dia Remark A, Z: Special type S: With copper wick V: Narrow center electrode K: Side electrode Number Indicates the plug gap. “9” : 0.9 mm. E: 19 mm H: 12.7 mm 4 (Hot type) 5 6 7 8 9 (Cold type) P: Porcelain projected type R: Resistor spark plug A: 18 mm B: 14 mm C: 10 mm D: 12 mm SPESIFIKASI BUSI NGK PEMERIKSAAN LONCATAN API BUSI


6/16/2024 40 SISTEM PENGISIAN BAB Fungsi : Untuk mengisi kembali energi listrik pada battery yang telah terpakai, sehingga battery selalu dalam kondisi penuh (full charged). Komponen : Generator sebagai pembangkit listrik. Rectifier sebagai penyearah dan pengatur tegangan pengisian. Battery sebagai penyimpan arus. FUNGSI DAN KOMPONEN A


6/16/2024 41 CARA KERJA BATTERY BATTERY B PERUBAHAN KIMIA SELAMA PENGISIAN DAN PEMAKAIAN Pelat (+) Elektrolit Pelat (-) PbO2 + 2H2SO4 + Pb Timbal Asam sulfat Timbal Peroksida berpori Pelat (+) Elektrolit Pelat (-) PbO4 + 2H2O + PbSO4 Timbal Air Timbal Peroksida sulfat PEMAKAIAN Reaksi Kimia Pemakaian : Asam sulfat secara berangsur-angsur berubah menjadi air, sehingga BJ electrolit akan turun. Untuk pengisian kembali harus berdasarkan BJ electrolit battery.


6/16/2024 42 PERUBAHAN KIMIA SELAMA PENGISIAN DAN PEMAKAIAN Pelat (+) Elektrolit Pelat (-) PbO2 + 2H2SO4 + Pb Timbal Asam sulfat Timbal Peroksida berpori Pelat (+) Elektrolit Pelat (-) PbO4 + 2H2O + PbSO4 Timbal Air Timbal Peroksida sulfat Reaksi Kimia Pengisian : Air secara berangsur-angsur berubah menjadi Asam Sulfat dan BJ electrolit akan naik kembali. Saat proses elektrolisa memecah air menjadi komponen hidrogen dan oksigen untuk bereaksi dengan timbal sulfat membentuk asam sulfat kembali, battery menghasilkan gas hidrogen yang dapat mudah terbakar atau meledak. Battery dilengkapi tutup dengan lubang angin dan slang pernafasan. PEMERIKSAAN BATTERY 1. TINGGI ELECTROLIT Pastikan tinggi electrolit berada antara Upper Level dan Lower Level 2. TERMINAL BATTERY Bila terjadi endapan putih (karatan), bukalah konektor siram dengan air hangat. Pasanglah kembali konektor,dan lapisi dengan grease (gemuk)


6/16/2024 43 3. BERAT JENIS : Muatan penuh : 1,270 – 1,290 pada 20 C Muatan kurang : Di bawah 1,260 pada 20 C PEMERIKSAAN BATTERY PENGISIAN BATTERY 1. Lepas battery dari kendaraan dengan mematikan mesin dan lepas kabel negatif lebih dahulu. 2. Lepas tutup pengisian electrolit 3. Periksa BJ electrolit 4. Sambungkan battery dengan Battery Charger 5. Hidupkan battery charger dan atur arus pengisian = 1/10 kapasitas battery. Contoh : Batery 5 AH arus pengisiannya 1/10 x 5 = 0,5 A. 6. Atur waktu pengisian berdasarkan BJ electrolitnya.


6/16/2024 44 Pemeriksaan Kebocoran Arus (Leak Test) 1. Matikan kunci kontak, kemudian lepaskan kabel (-) dari battery. 2. Hubungkan amperemeter secara seri. 3. Dengan posisi kunci kontak mati, periksalah kebocoran arus. Kebocoran arus yang diperbolehkan = 0,1 mA maksimum. 3. Jika kebocoran arus terjadi diluar nilai standar, berarti terjadi konsluiting pada sistim sirkuit. 4. Periksa bagian yang terjadi konslet pada sistim sirkuit, dengan cara melepas konektor satu persatu, sambil memeriksa fungsi arusnya Catatan : Gunakan amperemeter sesuai besar arus yang di ukur, menggunakan amperemeter (Sanwa SP 15D & YX360TRD) yang mempunyai batas ukur lebih kecil (dari arus yang diukur), akan mengakibatkan kerusakan pada amperemeter. PEMERIKSAAN SISTEM PENGISIAN Pemeriksaan tegangan pengisian. 1. Pastikan bahwa battery dalam kondisi prima (Full charge) sebelum pemeriksaan sistim ini. 2. Gunakan kick starter untuk menghidupkan sepedamotor, agar tidak mempengaruhi kondisi battery. 3. Lakukan pemeriksaan tegangan pengisian pada putaran mesin tertentu. Gunakan tachometer untuk memastikan putaran mesinnya. Tegangan Pengisian Standard : 14 – 15 Volt pada 5000 rpm 4. Lakukan juga pemeriksaan arus pemeriksaan pada saat lampu depan dinyalakan. PEMERIKSAAN SISTEM PENGISIAN


6/16/2024 45 PERBEDAAN MF BATTERY DENGAN CONVENTIONAL BATTERY Larutan ( cairan ) elektrolit tidak berkurang sehingga : – tak perlu mengecek level cairan – tak perlu menambah cairan ( air aki) Setelah diisi dengan larutan elektrolit, lubang pengisian langsung ditutup secara permanen Cairan elektrolit terjaga konstan penggunaan senyawa Timbal Kalsium dan Separator khusus yang menyerap gas yang timbul saat overcharge MF BATTERY C PENGISIAN (CHARGING) MF Battery tetap dapat dicharger, jika tegangannya turun dengan Special Charger untuk menghindari kesalahan charging Ada 2 alternatif type : • Current control • Timer KEUNGGULAN DAN KEKURANGAN MF BATTERY KEUNGGULAN Tidak perlu check level dan tambah cairan elektrolit Dapat diletakkan dalam segala posisi Self discharge lebih kecil Life Time lebih lama Cranking power lebih tinggi KEKURANGAN Manufacturing cost tinggi


6/16/2024 46 REGULATOR / RECTIFIER C Berfungsi : 1. Menyearahkan arus AC yang dihasilkan alternator menjadi DC untuk mengisi battery. 2. Membatasi output pengisian agar tidak berlebihan. Jenis Regulator berdasarkan metode regulasinya : ZD D2 D1 SCR Regulator Regulator / Rectifier Gate X 1. Sistem Pengisian Setengah Gelombang Hanya memakai 1 diode (D1) penyearah. Diode hanya meneruskan tegangan positif. Output = ½ gelombang input. Digunakan pada tipe yang beban listriknya kecil.


6/16/2024 47 Wiring Diagram Sistem Pengisian Setengah Gelombang Type Win Malam Siang Siang Hari : Saklar Lampu OFF dan Saklar Regulator terhubung dengan massa. Beban listrik kecil, jika output pengisian berlebihan dibuang ke massa melalui Saklar Regulator. Malam Hari : Beban listrik besar, saklar regulator terputus semua arus listrik dari kumparan pengisian digunakan mengisi battery. Wiring Diagram Sistem Pengisian Setengah Gelombang Type Karisma


6/16/2024 48 2. Sistem Pengisian Gelombang Penuh Dilengkapi diode bridge yang dapat menyearahkan tegangan positif maupun negatif yang dihasilkan alternator dan diubah menjadi arus DC. Wiring Diagram Sistem Pengisian Gelombang Penuh Type GL200 (Tiger) - + G R G Bl Y Y Bl R R Battery Rectifier Regulator Alternator Kunci Kontak


6/16/2024 49 PEMERIKSAAN RECTIFIER REGULATOR GN8, GN5 MERAH PUTIH KUNING HIJAU MERAH S S S PUTIH 0,5 - 10 S S KUNING S S 5 - 100 HIJAU S S 5 - 100 Skala = 1 x 1K PEMERIKSAAN RECTIFIER REGULATOR GF6 (WIN) MERAH PUTIH PUTIH/HITAM MERAH S S PUTIH 1- 20 S PUTIH/HITAM S S TESTER SANWA SKALA X 1 K Ohm *Data ukur berubah sesuai alat ukur yang dipakai


Click to View FlipBook Version