The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-book panduan Konstruksi Jembatan

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by najwamutifa, 2020-11-08 08:09:09

Konstruksi Jembatan

E-book panduan Konstruksi Jembatan

Keywords: #ebook,#konstruksi #jembatan,#konstruksijembatan

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-
Nya sehingga E-book yang berjudul Konstruksi Jembatan dapat terselesaikan dengan baik
dan tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari pembuatan E-book ini adalah untuk memenuhi tugas Simulasi
Komunikasi dan Digital. Selain itu, E-book ini juga bertujuan untuk menambah wawasan
tentang kontruksi jembatan bagi para pembaca dan juga bagi penulis.
Saya mengucapkan terima kasih kepada ibu guru yang telah memberikan tugas ini sehingga
dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang study yang saya tekuni.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan refrensi
sehingga saya dapat menyelesaikan E-book ini.
Saya menyadari, E-book ini tidak lepas dari kesalahan dan masih jauh dari kesempurnaan.
Berkenaan dengan hal itu, kritik, saran, dan masukan yang membangun sangat saya harapkan
demi perbaikan.Semoga E-book ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Semarang, 8 November 2020

Penulis,

i

DAFTAR ISI
Kata Pengantar…………………………………………………………………………………i
Daftar Isi………………...……………………………………………………………………..ii
Daftar Gambar………………………………………………………………………………...iii
Bab I Pengertian Jembatan…………………………………………………….………………1
Bab II Klasifikasi Jembatan…………………………..……………………………………….2
Bab III Struktur Jembatan…..……………………………………………………………..…..8
Bab IV Perencanaan Struktur Jembatan……………………………………..……………….11
Bab V Kriteria Perencanaan Jembatan……………………………………..………………...13
Daftar Pustaka………………….…………………………………………………………….15

ii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Highway Bridge………………………………………………………..….…….2
Gambar 2.1 Railway Bridge………………………………………………….………………2
Gambar 3.1 Pedestrian Bridge…………………………………………………..……………3
Gambar 1.2 Jembatan kayu…………………………………………………………...………4
Gambar 2.2 Jembatan Pasangan Batu dan Bata………………………………………..……..4
Gambar 3.2 Jembatan Beton Prategang dan Bertulang…………...……………….…………5
Gambar 4.2 Jembatan Baja……………….…………………………………..………………5
Gambar 5.2 Jembatan Komposit……………………………………...……………………...6
Gambar 1.3 Bagian-bagian jembaatan……………………………….……………………….8

iii

BAB I

PENGERTIAN JEMBATAN

Secara umum jembatan adalah suatu konstruksi yang dibangun untuk menghubungkan dua
jalan yang terputus karena adanya hambatan seperti aliran sungai, lembah yang curam,
jurang, jalanan yang melintang, jalur kereta api, waduk, saluran irigasi dan lainnya. Bisa
dibilang jika jembatan merupakan sarana transportasi yang sangat penting, karena dengan
adanya jembatan dapat menyingkat waktu tempuh ke suatu tempat atau wilayah.

Jembatan memiliki arti penting bagi setiap orang. Akan tetapi tingkat kepentingannya tidak
sama bagi tiap orang, semisal suatu jembatan tunggal diatas sungai kecil akan dipandang
penting bagi orang yang tinggal didaerah yang sulit dijangkau, sebab jembatan menjadi
tempat penyeberangan yang dipandang perlu dan sangat dibutuhkan. Sebaliknya pandangan
masing- masing orang akan berbeda pula, jika mereka tinggal didaerah yang mudah
dijangkau dan tidak ada rintangan sehingga tidak dibutuhkan adanya jembatan.

Seiring dengan perkembangan zaman jembatan menjadi bagian dari infrastruktur transportasi
darat yang sangat vital dalam aliran perjalanan (traffic flows). Jembatan sering menjadi
komponen kritis dari suatu ruas jalan, karena sebagai penentu beban maksimum kendaraan
yang melewati ruas jalan tersebut. Sebagai suatu prasarana transportasi jembatan yang
merupakan bagian jalan yg sangat penting harus memenuhi persyaratan (BSP) yaitu:

1. Keamanan

2. Kenyamanan

3. Estetika

4. Keawetan

5. Kemudahan pengerjaan

6. Ekonomis

Maka dari itu dalam pembangunan jembatan tentunya dibutuhkan pondasi yang kuat dengan
tujuan untuk menahan seluruh beban jembatan ke dasar tanah. Beberapa instrument yang
biasa digunakan dalam pembangunan pondasi jembatan yaitu piezometer, inclinometer, PDA,
dan lainnya.

Jenis pondasi yang biasa digunakan untuk konstruksi jembatan yaitu steel pile, reinforced
concrete pile, precast prestressed concrete pile, composite piles, concrete cast in place.
Dengan pondasi yang kuat maka jembatan bisa berfungsi dengan layak dan bisa menahan
beban yang diterima.

1

BAB II
KLASIFIKASI JEMBATAN
A. Klasifikasi Berdasarkan Fungsinya
Berdasarkan fungsinya, jembatan dapat dibedakan sebagai berikut :
1) Jembatan Jalan Raya (Highway Bridge)
Sesuai dengan namanya, jembatan ini dibangun untuk sarana transportasi berbagai
kendaraan. Jembatan yang direncanakan untuk memikul beban lalu lintas kendaraan
baik kendaraan berat maupun ringan. Jembatan jalan raya ini menghubungkan antara
jalan satu ke jalan lainnya.

Gambar 1.1 Highway Bridge
2) Jembatan Jalan Kereta Api (Railway Bridge)

Jembatan ini dibangun khusus untuk jalur kereta api yang terhubung antar kota
ataupun antar pulau.

Gambar 2.1 Railway Bridge
2

3) Jembatan Pejalan Kaki/Penyebrangan (Pedestrian Bridge)
fasilitas pejalan kaki untuk menyeberang jalan yang ramai dan lebar. Jembatan
penyeberangan juga digunakan untuk menuju tempat pemberhentian bus (seperti
busway Transjakarta di Indonesia), untuk memberikan akses kepada penderita cacat
yang menggunakan kursi roda, tangga diganti dengan suatu akses dengan kelandaian
tertentu. Langkah lain yang juga dilakukan untuk memberikan kemudahan akses bagi
penderita cacat adalah dengan menggunakan tangga berjalan ataupun dengan
menggunakan lift seperti yang digunakan pada salah satu akses JPO menuju tempat
perhentian bus di Jl. M.H. Thamrin, Jakarta.

Gambar 3.1 Pedestrian Bridge
B. Klasifikasi Berdasarkan Lokasinya

Berdasarkan lokasinya, jembatan dapat dibedakan sebagai berikut :
1) Jembatan di atas sungai atau danau,
2) Jembatan di atas lembah,
3) Jembatan di atas jalan yang ada (fly over),
4) Jembatan di atas saluran irigasi/drainase (culvert),
5) Jembatan di dermaga (jetty).
C. Klasifikasi Berdasarkan Bahan Konstruksi
Berdasarkan bahan konstruksinya, jembatan dapat dibedakan menjadi beberapa macam :
1) Jembatan kayu (log bridge)

Jembatan kayu merupakan jembatan sederhana yang mempunyai panjang relatif
pendek dengan beban yang diterima relatif ringan. Meskipun pembuatannya
menggunakan bahan utama kayu, struktur dalam perencanaan atau pembuatannya
harus memperhatikan dan mempertimbangkan ilmu gaya (mekanika).

3

Gambar 1.2 Jembatan kayu
2) Jembatan pasangan batu dan bata

Jembatan pasangan batu dan bata merupakan jembatan yang konstruksi utamanya
terbuat dari batu dan bata. Untuk membuat jembatan dengan batu dan bata umumnya
konstruksi jembatan harus dibuat melengkung. Seiring perkembangan zaman
jembatan ini sudah tidak digunakan lagi.

Gambar 2.2 Jembatan Pasangan Batu dan Bata
3) Jembatan beton prategang dan bertulang (prestressed concrete bridge)

Jembatan dengan beton bertulang pada umumnya hanya digunakan untuk bentang
jembatan yang pendek. Untuk bentang yang panjang seiring dengan perkembangan
zaman ditemukan beton prategang. Dengan beton prategang bentang jembatan yang
panjang dapat dibuat dengan mudah.

4

Gambar 3.2 Jembatan Beton Prategang dan Bertulang
4) Jembatan baja (steel bridge)

Jembatan baja pada umumnya digunakan untuk jembatan dengan bentang yang
panjang dengan beban yang diterima cukup besar. Seperti halnya beton prategang,
penggunaan jembatan baja banyak digunakan dan bentuknya lebih bervariasi, karena
dengan jembatan baja bentang yang panjang biayanya lebih ekonomis.

Gambar 4.2 Jembatan Baja
5) Jembatan komposit (compossite bridge)

Jembatan komposit merupakan perpaduan antara dua bahan yang sama atau berbeda
dengan memanfaatkan sifat menguntungkan dari masing – masing bahan tersebut,
sehingga kombinasinya akan menghasilkan elemen struktur yang lebih efisien.

5

Gambar 5.2 Jembatan Komposit

D. Klasifikasi Berdasarkan Tipe Strukturnya
Berdasarkan tipe strukturnya, jembatan dapat dibedakan menjadi beberapa macam, antara
lain :

1) Jembatan plat (slab bridge)
Elemen struktur horizontal yang berfungsi untuk menyalurkan beban mati ataupun
beban hidup menuju rangka pendukung vertical dari suatu sistem struktur.

2) Jembatan plat berongga (voided slab bridge)
plat beton prategang yang biasa digunakan untuk bentangan yang lebih panjang pada
jembatan.

3) Jembatan gelagar (girder bridge)
terdiri dari I girder, box girder dan U/V Girder.

4) Jembatan rangka (truss bridge)
menyusun tiang-tiang jembatan yang berupa rangka membentuk segitig. Setiap
sturktur truss yang terhubung harus ditekankan terhadap beban statis dan beban
dinamis yang diterima oleh jembatan.

5) Jembatan pelengkung (arch bridge)
Sebuah jembatan yang terdapat struktur berbentuk setengah lingkaran dengan
abutmen pada kedua sisinya.

6) Jembatan gantung (suspension bridge)
Berfungsi sebagai pemikul langsung beban lalu lintas yang melewati jembatan
tersebut. Seluruh beban yang lewat di atasnya ditahan oleh sepasang kabel penahan
yang bertumpu di atas 2 pasang menara dan 2 pasang blok angkur.

7) Jembatan kabel (cable stayed bridge)

6

menggunakan kable baja yang kuat dan kokoh untuk menahan setiap beban yang
melewati jembatan.
8) Jembatan cantilever (cantilever bridge)
Pada system ini balok jembatan dicor (cast insitu) atau dipasang (precast), segmen
demi segmen sebagai kantilever di kedua sisi agar saling mengimbangi (balance) atau
satu sisi dengan pengimbang balok beton yang sudah dilaksanakan lebih dahulu.

7

BAB III
STRUKTUR JEMBATAN

Menurut Departement Pekerjaan Umum (Pengantar Dan Prinsip – Prinsip Perencanaan
Bangunan bawah / Pondasi Jembatan, 1988 ) Suatu bangunan jembatan pada umumnya
terdiri dari 6 bagian pokok, yaitu :

Gambar 1.3 Bagian-bagian
jembaatan

Keterangan :
1. Bangunan atas
2. Landasan ( Biasanya terletak pada pilar/abdument )
3. Bangunan Bawas ( memikul beban )
4. Pondasi
5. Optrit, ( terletak di belakang abdument )
6. Bangunan pengaman
Secara umum struktur jembatan dapat dibedakan sebagai berikut :
1. Struktur Atas Jembatan (Super Structures)

Struktur atas jembatan merupakan bagian yang menerima beban langsung yang meliputi
berat sendiri, beban mati, beban mati tambahan, beban lalu-lintas kendaraan, gaya rem,
beban pejalan kaki, dll.
Struktur atas jembatan umumnya meliputi :

8

a) Trotoar
Jalur untuk pejalan kaki yang biasanya dibuat lebih tinggi tapi tetap sejajar dengan
jalan utama, tujuannya agar pejalan kaki lebih aman dan bisa dilihat jelas oleh
pengendara yang melintas. Trotoar terbagi atas :

 Sandaran (Hand Rail), biasanya dari pipa besi, kayu dan beton bertulang.
 Tiang Sandaran (Rail Post), biasanya dibuat dari beton bertulang untuk

jembatan girder beton, sedangkan untuk jembatan rangka tiang sandaran
menyatu dengan struktur rangka tersebut.
 Peninggian Trotoar (Kerb)
 Slab Lantai Trotoar
b) Girder
Bagian pada struktur atas yang berfungsi untuk menyalurkan beban kendaraan
pada bagian atas ke bagian bawah atau abutment.
c) Balok Diafgrama
Bagian penyangga dari gelagar-gelagar jembatan yang memanjang dan hanya
berfungsi sebagai balok penyangga biasa bukan sebagai pemikul beban plat lantai.
d) Slab Lantai Kendaraan
Berfungsi sebagai lewatan dan penahan beban kendaraan ketika lalu lintas sedang
berjalan.
e) Ikatan pengaku (ikatan angin, ikatan melintang)
Untuk mendapatkan kekakuan jembatan pada arah melintang dan menjaga torsi
maka diperlukan adanya ikatan-ikatan angin tersebut. Ikatan angin pada jembatan
berfungsi untuk memberi kekakuan pada jembatan dan meneruskan beban akibat
angin kepada portal akhir.
f) Tumpuan (Bearing)
Karet jembatan yang merupakan salah satu komponen utama dalam pembuatan
jembatan, yang berfungsi sebagai alat peredam benturan antara jembatan dengan
pondasi utama.

2. Struktur Bawah Jembatan (Sub Structures)

Struktur bawah jembatan berfungsi memikul seluruh beban struktur atas dan beban lain
yang ditumbulkan oleh tekanan tanah, aliran air dan hanyutan, tumbukan, gesekan pada
tumpuan dsb. untuk kemudian disalurkan ke fondasi. Selanjutnya beban-beban tersebut
disalurkan oleh fondasi ke tanah dasar.
Struktur bawah jembatan umumnya meliuputi :
a) Pangkal jembatan (Abutment)

merupakan bangunan yang berfungsi untuk mendukung bangunan atas dan juga
sebagai dinding penahan tanah. Bagian – bagian abutment terdiri dari :
 Dinding belakang (Back wall)
 Dinding penahan (Breast wall)
 Dinding sayap (Wing wall)

9

 Oprit, plat injak (Approach slab)
 Konsol pendek untuk jacking (Corbel)
 Tumpuan (Bearing)
b) Pilar jembatan (Pier)
Terletak di tengah jembatan yang memiliki fungsi yaitu mentransfer gaya beban
jembatan ke pondasi. Sesuai dengan standar yang ada, panjang bentang rangka baja,
sehingga apabila bentang sungai melebihi panjang maksimum jembatan tersebut maka
dibutuhkan pilar. Pilar terdiri dari bagian – bagian antara lain :
 Kepala pilar (Pier Head)
 Pilar (Pier), yg berupa dinding, kolom, atau portal
 Konsol pendek untuk jacking (Corbel)
 Tumpuan (Bearing)

3. Pondasi
Pondasi jembatan berfungsi meneruskan seluruh beban jembatan ke tanah dasar.
Berdasarkan sistimnya, Pondasi abutment atau pier jembatan dapat dibedakan menjadi
beberapa macam jenis, antara lain :
a) Pondasi telapak (spread footing)
Pondasi telapak digunakan jika lapisan tanah keras (lapisan tanah yang dianggap baik
mendukung beban) terletak tidak jauh (dangkal) dari muka tanah. Dalam perencanaan
jembatan pada sungai yang masih aktif, pondasi telapak tidak dianjurkan mengingat
untuk menjaga kemungkinan terjadinya pergeseran akibat gerusan.
b) Pondasi sumuran (caisson)
Pondasi sumuran digunakan untuk kedalaman tanah keras antara 2-5 m. Pondasi
sumuran dibuat dengan cara menggali tanah berbentuk lingkaran berdiameter kurang
dari 80 m. penggalian secara manual dan mudah dilaksanakan. Kemudian lubang
galian diisi dengan beton siklop (1pc : 2 ps : 3 kr) atau beton bertulang jika dianggap
perlu. Pada ujung pondasi sumuran dipasang pier untuk menerima dan meneruskan
beban ke pondasi secara merata.
c) Pondasi tiang (pile foundation)
 Tiang Pancang Kayu (Log Pile)
 Tiang Pancang Baja (Steel Pile)
 Tiang Pancang Beton (Reinforced Concrete Pile)
 Tiang Pancang Komposit (Compossite Pile)

10

BAB IV
PERENCANAAN STRUKTUR JEMBATAN

Perencanaan struktur jembatan yang ekonomis dan memenuhi syarat teknis ditinjau dari
segi keamanan serta rencana penggunaannya, merupakan suatu hal yang sangat penting
untuk diupayakan.
Dalam perencanaan teknis jembatan perlu dilakukan identifikasi yang menyangkut
beberapa hal antara lain :
1. Kondisi tata guna lahan, baik yang ada pada jalan pendukung maupun lokasi jembatan

berkaitan dengan ketersediaan lahan yang ada.
2. Kelas jembatan yang disesuaikan dengan kelas jalan dan volume lalu lintas.
3. Struktur tanah, geologi dan topografi serta kondisi sungai dan perilakunya.
4. Pemilihan jenis struktur dan bahan konstruksi jembatan yang sesuai dengan kondisi

medan, ketersediaan material dan sumber daya manusia yang ada.
5. Penguasaan tentang teknologi perencanaan, metode pelaksanaan, peralatan, material/

bahan mutlak dibutuhkan dalam perencanaanjembatan.
6. Analisis Struktur yang akurat dengan metode analisis yang tepat agar diperoleh hasil

perencanaan jembatan yang optimal.

Metode perencanaan struktur jembatan yang digunakan ada dua macam, yaitu Metode
perencanaan ultimit (Load Resistant Factor Design, LRFD) dan Metode perencanaan
tegangan ijin (Allowable Stress Design, ASD). Perhitungan struktur atas jembatan
umumnya dilakukan dengan metode ultimit dengan pemilihan faktor beban ultimit sesuai
peraturan yang berlaku. Metode perencanaan tegangan ijin dengan beban kerja umumnya
digunakan untuk perhitungan struktur bawah jembatan (fondasi). Untuk tipe jembatan
simple girder, perhitungan dapat dilakukan secara manual dengan Excel. Untuk tipe
jembatan yang berupa rangka, perhitungan struktur dilakukan dengan komputer berbasis
elemen hingga (finite element) untuk berbagai kombinasi pembebanan yg meliputi berat
sendiri, beban mati tambahan, beban lalu-lintas kendaraan (beban lajur, rem, pedestrian),
dan beban pengaruh lingkungan (temperatur, angin, gempa) dengan pemodelan struktur
3-D (space-frame). Metode analisis yang digunakan adalah analisis linier metode matriks
kekakuan langsung (direct stiffness matriks) dengan deformasi struktur kecil dan material
isotropic. Program komputer yang digunakan untuk analisis adalah SAP2000 V-11.
Dalam program tersebut berat sendiri struktur dan massa struktur dihitung secara
otomatis.

Dalam blog ini diberikan beberapa contoh perhitungan struktur jembatan beton prategang
mulai dari struktur atas yang terdiri dari slab lantai jembatan dan girder prategang
(prestressed concrete girder) sampai struktur bawah yang berupa abutment dan pier tipe
dinding termasuk fondasinya. Perhitungan PCI-girder ini digunakan untuk perencanaan
struktur Jembatan Srandakan II, Kulon Progo, D.I. Yogyakarta dan Jembatan Tebing
Rumbih, Kalsel. Selain itu diberikan juga beberapa contoh perhitungan struktur atas sbb.
 Prestressed Concrete Box Girder (Gejayan Fly Over, Yogyakarta).

11

 Concrete I – Girder (Jembatan Ngawen, Gunung Kidul).
 Concrete T – Girder (Jembatan Brantan, Kulon Progo).
 Compossite Girder (Jembatan Bonjok, Kebumen, Jateng)
Untuk jembatan beton tipe busur (Concrete Arch Bridge) diberikan contoh perhitungan
yang meliputi :
 Jembatan Plat Lengkung (Jembatan Wanagama, D.I. Yogyakarta)
 Jembatan Rangka Lengkung (Jembatan Sarjito II, Yogyakarta).
Contoh perhitungan struktur jembatan tipe plat untuk bentang pendek meliputi :
 Underpass (Jombor Fly Over, Yogyakarta)
 Box Culvert (Jembatan Kalibayem, Yogyakarta)
Selain perhitungan Pier tipe dinding, juga diberikan contoh perhitungan Pier tipe yang
lain seperti :
 Pier Tipe Kolom Tunggal (Gejayan Fly Over, Yogyakarta)
 Pier Tipe Portal (Jembatan Boro, Purworejo, Jateng)

12

BAB V
KRITERIA PERENCANAAN JEMBATAN

1. Survei dan Investigasi
Dalam perencanaan teknis jembatan perlu dilakukan survei dan investigasi yang
meliputi :
1) Survei tata guna lahan,
2) Survei lalu-lintas,
3) Survei topografi,
4) Survei hidrologi,
5) Penyelidikan tanah,
6) Penyelidikan geologi,
7) Survei bahan dan tenaga kerja setempat.

Hasil survei dan investigasi digunakan sebagai dasar untuk membuat rancangan teknis
yang menyangkut beberapa hal antara lain :
 Kondisi tata guna lahan, baik yang ada pada jalan pendukung maupun lokasi

jembatan berkaitan dengan ketersediaan lahan yang ada.
 Ketersediaan material, anggaran dan sumberdaya manusia.
 Kelas jembatan yang disesuaikan dengan kelas jalan dan volume lalu lintas.
 Pemilihan jenis konstruksi jembatan yang sesuai dengan kondisi topografi,

struktur tanah, geologi, hidrologi serta kondisi sungai dan perilakunya.

2. Analisis Data
Sebelum membuat rancangan teknis jembatan perlu dilakukan analisis data hasil
survei dan investigasi yang meliputi, antara lain :
 Analisis data lalu-lintas.
 Analisis data lalu-lintas digunakan untuk menentukan klas jembatan yang erat
hubungannya dengan penentuan lebar jembatan dan beban lalu-lintas yang
direncanakan.
 Analisis data hidrologi.
 Analisis ini dimaksudkan untuk mengetahui besarnya debit banjir rancangan,
kecepatan aliran, dan gerusan (scouring) pada sungai dimana jembatan akan
dibangun.
 Analisis data tanah.
 Data hasil pengujian tanah di laboratorium maupun di lapangan yang berupa
pengujian sondir, SPT, boring, dsb. digunakan untuk mengetahui parameter tanah
dasar hubungannya dengan pemilihan jenis konstruksi fondasi jembatan.
 Analisis geometri.
 Analisis ini dimaksudkan untuk menentukan elevasi jembatan yang erat
hubungannya dengan alinemen vertikal dan panjang jalan pendekat (oprit).

13

3. Pemilihan Lokasi Jembatan
Dasar utama penempatan jembatan sedapat mungkin tegak lurus terhadap sumbu
rintangan yang dilalui, sependek, sepraktis dan sebaik mungkin untuk dibangun di
atas jalur rintangan.
Beberapa ketentuan dalam pemilihan lokasi jembatan dengan memperhatikan kondisi
setempat dan ketersediaan lahan adalah sebagai berikut :
1) Lokasi jembatan harus direncanakan sedemikian rupa sehingga tidak
menghasilkan kebutuhan lahan yang besar sekali.
2) Lahan yang dibutuhkan harus sesedikit mungkin mengenai rumah penduduk
sekitarnya, dan diusahakan mengikuti as jalan existing.
3) Pemilihan lokasi jembatan selain harus mempertimbangkan masalah teknis yang
menyangkut kondisi tanah dan karakter sungai yang bersangkutan, juga harus
mempertimbangkan masalah ekonomis serta keamanan bagi konstruksi dan
pemakai jalan.

4. Bahan Konstruksi Jembatan
Dalam memilih jenis bahan konstruksi jembatan secara keseluruhan harus
mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
1) Biaya konstruksi,
2) Biaya perawatan,
3) Ketersediaan material,
4) Flexibilitas (konstruksi dapat dikembangkan atau dilaksanakan secara bertahap),
5) Kemudahan pelaksanaan konstruksi,
6) Kemudahan mobilisasi peralatan.

BAHAN JENIS BENTANG MAX. (M)
Beton Culvert 4.00 – 6.00
Slab bridge 6.00 – 8.00
Beton Prategang T-Girder, I-Girder 6.00 – 25.00
PCI-Girder
Baja Prestressed Box Girder 15.00-35.00
Komposit Truss bridge 40.00 – 50.00
60.00 – 100.00
Compossite bridge
10.00 – 40.00

14

DAFTAR PUSTAKA
http://anjasmaracatur.blogspot.com/2015/06/jenis-jenis-jembatan.html
https://karetmalang.wordpress.com/2019/04/25/bagian-bagian-jembatan/
https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.sarjanasipil.my.
id%2F2017%2F11%2Fkeuntungan-beton-prategang-
dibandingkan.html&psig=AOvVaw0gAxbCU7kcOz0RdO8_dbVE&ust=1604912
660418000&source=images&cd=vfe&ved=0CAIQjRxqFwoTCNjr7eXL8uwCFQ
AAAAAdAAAAABAQ
http://ivanoktomi.blogspot.com/2013/02/konstruksi-jembatan.html

15


Click to View FlipBook Version