The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by goesty.ayu, 2021-09-26 04:36:46

PENCIPTAAN TARI IKONIK KOTA METRO

DESKRIPSI TARI JUNJUNGAN BUAY PUUN

PENCIPTAAN TARI IKONIK KOTA
METRO

“JUNJUNGAN
BUAY PUUN”

Oleh:
Koreografer: Goesthy Ayu Mariana Devi Lestari, M.Sn.
Komposer Musik: I Gusti Nyoman Arsana, S.Ag.,M.Si.

LATAR BELAKANG PENCIPTAAN

Judul ini diambil untuk memaknai penghormatan masyarakat Metro
yang majemuk terhadap marga keturunan asli masyarakat Kebuayan
Nuban yang menjiwai spirit kehidupan di kota Metro. Kebuayan Nuban
senantiasa disanjung dan dijunjung masyarakat Metro dengan
berbagai cara sesuai perspektif budaya asal sehingga mempengaruhi
gaya dan karakter yang muncul sebagai bentuk akulturasi. Silang
budaya ini yang menjiwai setiap nafas dari gerak tari yang kemudian
dikomposisi menjadi bentuk repertoar baru yang dipopulerkan dengan
judul: Junjungan Buay Puun.

LATAR BELAKANG PENCIPTAAN

Kota Metro berbudaya, multikultur, dan dinamis

Keharmonisan masyarakat dengan berbagai variasi
latar belakang budaya mengisi dinamika kehidupan
sosial budaya di Kota Metro yang diperkuat secara arif
sesuai local wisdom, Kebuayan Nuban.

Spirit Kebuayan Nuban dalam perspektif lintas budaya
menginspirasi warna gerak yang hadir dalam
koreografi Junjungan Buay Puun

Pengalaman ketubuhan serta apresiatif penata tari
menjadikan salah satu sumber kreativitas dalam
penggarapan karya tari ini.

RUMUSAN PENCIPTAAN

Bagaimana mewujudkan karya seni tari kreasi baru yang utuh dan
memiliki warna khas untuk dapat diteruskan sebagai identitas khas
yang mentradisi bagi masyarakat kota Metro?

TUJUAN DAN MANFAAT
PENCIPTAAN

TUJUAN:
Mewujudkan koreografi yang berakar pada kearifan lokal Kebuayan Nuban
(Lampung) dengan melibatkan literasi variasi gerak budaya Nusantara lainnya
(sesuai dengan fenomena kehidupan masyarakat kota Metro)

MANFAAT:
Sebagai kesenian yang menjadi identitas khas masyarakat kota Metro dan
dapat dilakukan secara terus-menerus (mentradisi)

ELEMEN KARYA

Gerak: merupakan pengembangan gerak dasar
tari Lampung yang juga mengadopsi dari
beberapa teknik gerak tradisi Nusantara,
misalnya: langkah silang gerak silek dari Minang,
teknik gerak terisik dan kengser wedi yang sering
dijumpai pada Tari daerah Jawa bagian tengah,
sikap tangan tumpangtali dari Tari Sunda, sikap
torso menyerupai tribangga seperti yang sering
dijumpai pada Tari Bali, dll.

ELEMEN KARYA

MUSIK: merupakan penuangan kreativitas
komposer dan pelaku (pemusik) dalam
mengemas karya tari sesuai dengan prinsip
gagasan awal. Dalam musik dijumpai
nada-nada Tallo Balak dimainkan dengan
ritme yang juga mengadopsi dari berbagai
kesenian musik yang telah berkembang di
daerah Nusantara lainnya.

ELEMEN KARYA

POLA Lantai: terinspirasi pada pola lantai pada penari
Bedhaya, koreografer mewujudkan karyanya dalam pola
lantai yang cukup variatif, dinamis, dan kompleks serta
terbagi melalui beberapa peran penari.

Penari Junjungan sangat variatif sesuai kebutuhan dan
sikon yang ada

Jumlah penari dapat bervariasi sesuai kebutuhan dan
kondisi pementasan, idealnya terpenuhi kebutuhan
beberapa orang penari agar nampak lebih dinamis dan
kompleks

Idealnya: penari terdiri dari 10 orang yang terbagi
dalam 2 orang penjunjung muka, 6 orang penjunjung
juntai, 2 orang atau lebih penjunjung tepi

ELEMEN KARYA

Properti tari: berupa tepak sekapur sirih yang
berbentuk siger dan selalu dijunjung diatas
kepala oleh satu penari junjungan (penjunjung
muka), gelang kanarincing dipakai di
pergelangan tangan seluruh penari

Setting tari: berupa podium/trap/level bagi
penari junjungan ketika melakukan gerakan statis
di tengah tarian (kondisional ifatnya)

ELEMEN KARYA

Kostum tari: bernuansa tradisi Lampung dalam
desain terbarukan hasil kolaborasi terhadap
teknik berkain serta aksesoris yang
difungsionalkan sebagai properti penunjang
tarian. Warna yang muncul cenderung emas
sebagai simbol keagungan Kebuayan yang
dijunjung. Juntaian rantai pada kostum menambah
estetika serta sarat makna persatuan meski
dalam perbedaan.

ALUR TARIAN

Pebukou
Kughuk Buay
Sanjung Junjung
Nemui Buay
Balik Ibah

SIKAP DAN GERAK TUBUH

Jajar Langit
Jajar Tiyan
Jajar Rendah
Ibah (kanan-kighei)
Patah tuku (kanan-kighei)
Ngumbak (vertikal - horizontal)
Nyikahko ratting: Posisi Jajar Langit dagonal kanan/kiri menuju Jong Layang
diagonal kiri/kanan
Jong (jong Salimpat ka-ki, Jong Cundung, Jong Tuwot rendah-tinggi; Jong Tuwot
tinggi silang ka-ki, jong-layang)

SIKAP DAN GERAK DASAR TANGAN

Pappang: sikap ibu jari ditekuk ke arah depan, 4 jari lainnya berdiri tegak rapat ke atas
Lembayung: sikap kedua tangan saling silang berlilit di depan dada dengan siku sedikit terbuka
Sumbah Rincing: posisi kedua telapak tangan menyatu di depan dada ditambah dengan aksen hentakan pergelangan tangan
kanan-kiri secara bersamaan
Tepis/ Tengis: membuka kedua tangan sedikit ke arah samping, biasanya diawali dari posisi Sumbah
Tepis Kalai: sikap tangan pappang pergelangan tangan didorong ke arah luar
Tepis Tanggai: sikap tangan pappang, telapak tangan dan jari dipathkan ke arah luar
Tetabokh: sikap tangan pappang pergelangan tangan ditekuk ke bawah, putar ke atas, lalu tabor ke arah luar
Kenong cutik: ukel setengah dan berakhir dengan posisi membuka
Cum Putik: sikap seluruh jari disatukan dalam satu titik, tetapi jari kelingking tetap naik ke atas. Sikap tangan pappang cum
hentak bawah lalu kembali ke posisi semula
Seuntai: sikap tangan cum seperti menarik benang panjang, dapat dilakukan oleh satu tangan atau dua tangan
sekaligus
Ngehallik: perubahan posisi tangan dari Lembayung kanan-kiri/ sebaliknya lalu menuju seuntai ataupun sikap tangan
lainnya, gerakan ini seperti memilin benang agar lebih tebal dan kuat, ada pada ragam Seuntai Silang, awalan
gerak pada posisi Jong Salimpat ragam gerak Sanjung Junjung serta pada ragam gerak Lembayung Langit
Ukel Jalin: gerak tangan ukel bergantian saling menyusul, seperti anyaman

SIKAP DAN GERAK KAKI

Lapah Lassagh Mudik: langkah kaki kecil-kecil dengan sangat halus, arah maju dan
mundur
Jingkah Ngumbak: langkah kaki tidak terlalu lebar dengan enjotan tubuh
Cukut liyut: posisi kaki lurus di sudut depan, sementara badan ibah ke sudut belakang
berlawanan
Salimpat: Gerak kaki silang ke arah berlawanan sebelum berputar
Gisegh: gerak kaki bergeser ke samping dengan tetap menapak diserta badan Jajar
Rendah
Jingkah Tilu ( versi pulang, versi lipetto,
Lapah Pak
Jingkah Cutik: hentak jinjit satu kaki dengan badan Ngumbak, hentakan ke atas
Putik Tejang Galah: langkah cepat dengan tumpuan satu kaki, badan Ngumbak

RAGAM GERAK 1
“LAPAH KUGHUK”

Gerakan berjalan serta berputar di awal tarian, ditarikan khusus oleh penari Junjungan meskipun
dapat dikreasikan dengan melibatkan penari lainnya.
1-8 Sumbah Ricing langkah maju sebanyak 4x
1-2 Tepis luar Salimpat kanan
3-4 Cum arah bawah badan berputar kiri
5-8 Ukel arah luar menuju sikap Sumbah
Diulangi 1x lagi dengan gerak dan arah yang sama
diakhiri dengan gerak di tempat Jajar langit menuju Jajar Rendah
1-2 Sikap dan posisi sebelumnya dipertahankan
3 Tepis luar
4-7 Gerak tangan dilanjutkan membuka ke samping
8 Gerak tangan Cum Putik, posisi badan Jajar Langit menuju Jajar Rendah

RAGAM 2
“KUGHUK JUNJUNG”

Keanggunan Penari Junjungan memasuki arena pementasan seraya
menyunggi properti tepak dan siger di atas kepala
1-4 Lapah Lasagh Mudik Samber Melayang
5-6 Mempam Biyas Kanan
7-8 Ngumbak
1-4 Tepis lalu ukel menuju posisi Sumbah
5-8+ 1-4 Sumbah Rincing berputar kanan perlahan
5-6 Tepis Samping
7-8 Cum Putik
Diulangi ke arah kiri

PENGHUBUNG 1

Gerak Lapah Pak Seuntai kanan-kiri dilakukan
sebanyak 6 kali selama 3x8 hitungan
Gerak Lapah Lasagh maju dengan sikap tangan
Lembayung selama 1x8 hitungan

RAGAM 3
“TATTU JUNJUNG”

Karakter tegas dalam kelembutan dan keramahan menyambut para
kehormatan
1-2 langkah kaki kiri tutup kaki kanan badan mengarah sudut kiri,
tangan menuju Lembayung
3-4 pose gerak terakhir
5-6 tangan posisi Lembayung sambil bergerak Cum lalu kembali
Lembayung, kaki kanan Liyut lalu kembali titik disamping kaki kiri
7-8 pose gerak terakhir
1-8 + 1-8 gerak Tepis Kalai sambil berputar arah kanan perlahan

Diulangi utuh arah sebaliknya

RAGAM 4
“TEPAS TEPIS KALAI”

Gerakan tegas dalam posisi statis berkumpul dari segala arah membentuk satu garis lurus sebagai wujud persatuan
masyarakat Kota Metro meskipun datang dari berbagai daerah asal, menepis segala hal buruk, mengadopsi segala
hal yang baik dalam beradaptasi menjunjung kebudayaan asli Nuban.

Diawali dengan sikap tangan Lembayung, lalu menggerakkan tangan perlahan membuka secara tegas melalui
hentakan pergelangan tangan ke kanan dan kiri

1 Tepis Kalai kanan

2 Tepis Kalai kiri

diulangi sebanyak 16 x dalam 2x8 hitungan

1-6 Lalu dilanjutkan Salimpat berputar ke arah kiri, kedua tangan proses menuju Sumbah

7-8 Tepis Luar

1-6 Melanjutkan gerakan tangan membuka ke arah samping

7-8 Cum Putik

1-4 Gerak kedua tangan prose cepat menuju Sumbah lalu langsung tepis luar

5-8 Kedua telapak tangan menghadap ke depan dan megusap lingkar luar, dilanjutkan dengan Ukel menuju sikap
Lembayung

RAGAM 5
“MACCOR NGAHELOK”

Gerakan membuka sambil membelokkan arah badan, sebagai interpretasi terhadap pergerakaan
sosial masyarakat kota Metro yang selalu memperhatikan dan mempedulikan sekitarnya dalam
kewaspadaan dan keramahan.

1-2 Tangan kanan membuka dengan proses seperti air mancur, berakhir di sudut kanan depan
bawah tubuh, langkah maju kaki kanan, badan membelok ke arah kanan dalam posisi Jajar Rendah

3-4 (sebaliknya) Tangan kiri membuka dengan proses seperti air mancur, berakhir di sudut kiri
depan bawah tubuh, langkah maju kaki kiri, badan membelok ke arah kiri dalam posisi Jajar
Rendah

5-8 Sikap posisi tubuh, tangan, dan kaki dipertahankan dalam posisi diam

1-4 Ukel perlahan tangan kiri menuju sikap Lembayung, langkah kaki kanan, badan membelok ke
arah kanan

5-8 Ukel perlahan tangan kanan menuju sikap Lembayung, langkah kaki kiri, badan membelok ke
arah kiri

Diulangi 1x lagi dapat dilakukan sambil berpindah posisi

RAGAM 6
“JELANG JALIN”

Ragam gerak yang tidak berpindah tempat namun tetap mencerminkan ketegasan dalam kelembutan,
seperti karakter Kebuayan Nuban yang dijujnjung oleh masyarakat kota Metro. Keramahan masyarakat
menyambut siapa yang datang serta kesediaan untuk selalu menjalin hubungan baik dengan siapapun
menjadi makna simbolik dari ragam gerak ini.

1-8 Ukel jalin kedua tangan sesuai ritme melodi pada musik, dari arah kanan bawah menuju kanan atas
(agak sudut), Ibah kiri

1-8 Tepis tanggai dengan aksen di hitungaan ganjil, bergerak dari arah sudut kanan atas kemudian
membuka menuju sudut kanan bawah, Ibah kiri

1-4 Ukel Jalin di samping pinggang sebelah kanan, posisi badan Ibah kiri

5-8 kedua tangan pappang diarahkan menuju arah pinggang sebelah kiri, posisi badan berubah menuju
Ibah kanan

3-4 Cum sudut atas secara bergantian, cum tangan kiri terlebih dahulu lalu cum tangan kanan

7-8 Sikap Lembayung

Pengulangan 1x lagi dengan arah posisi badan dan tangan sebaliknya, namun diakhiri dengan sikap Jong
Tuwot rendah sebelah kanan, menghadap ke belakang, sikap tangan Makurancang kiri.

RAGAM 7
“SEUNTAI SILANG”

Gerak tegas dalam teba gerak silang membuka-melebar-dinamis
1-2 patah tuku kanan, tangan seuntai diagonal kanan
3-4 Jajar Langit, tangan seuntai diagonal kiri
5-6 Patah tuku kiri, tangan lembayung kiri
7 Tangan ganti lembayung kanan, Ngehallik
8 Kaki kiri diangkat menuju patah tuku kanan kembali, tangan seuntai diagonal kanan
1-2 Posisi tubuh masih sama, gerak tangan kenong cutik
3-4 posisi tubuh masih sama, gerak tangan ukel
5-6 posisi tubuh masih sama, gerak tangan cum putik
7 Jajar langit tubuh hadap diagonal kiri, posisi tangan diagonal dan tangan kiri lebih
tinggi
8 Jong Layang tubuh hadap diagonal kanan, tangan diagonal dan tangan kanan lebih
tinggi

RAGAM 8
“LAYANG JONG LAYANG”

Gerak yang mencerminkan kekuatan dan keseimbangan masyarakat
kota Metro terhadap filosofi kehidupan yang dinamis
Posisi Jong Layang samping kanan, namun badan dibelokkan teteap
menghadap ke arah depan
1-4 kedua tangan samber/ silang depan dada, langkah mundur kaki
kanan lalu kiri, badan Ngumbak vertikal
5-8 kedua tangan layang diagonal, tangan kanan lebih tinggi,
langkah mundur kaki kanan lalu kiri, badan Ngumbak vertikal
diulangi sebanyak 6x selama 3x8 hitungan

PENGHUBUNG 2

Gerakan yang dilakukan untuk menghubungkan sikap Jong Layang -
Jong Tuwot- Jong Salimpat
1-4 Jong Tuwot tinggi silang kaki kanan, tangan seuntai samping kanan-
kiri
5-8 gerakan yang sama dilakukan secara bergantian oeh penari lainnya
1-4 gerak tangan ukel sambil mengangkat tubuh dan meluruskan sikap
lutut kaki dalam posisi kaki yang tidak berubah
5-8 + 1-8 Tepis tangan kiri membentuk lingkaran didepan tubuh disusul
oleh tangan kanan dan berakhir pada sikap tangan Lembayung, posisi
kaki tidak berubah hanya menyesuaikan tubuh yang berputar
1-8 + 1-8 Sikap tangan Lembayung, melipat kaki kanan ke belakang
agak menyilang ke arah kiri, tubuh merendah menuju sikap Jong
Salimpat

RAGAM 9
“SANJUNG JUNJUNG”

Gerakan dalam level rendah yang mencerminkan bahwa masyarakat
kota Metro yang heterogen sangat menghargai kebudayaan asli
leluhur Kebuayan Nuban

Terdiri dari beberapa motif gerak tangan dan tubuh yang kompleks
meskipun dilakukan hanya dalam posisi melantai.

Diawali dari posisi Jong Salimpat kiri, lalu Jong Cundung kanan-kiri,
Jong Salimpat kanan, Jong Tuwot Tinggi Liyut kanan

PENGHUBUNG 3

Gerak yang menghubungkan alur tarian Sanjung Junjung menuju
Nemui Buay. Ragam penghubung dilakukan dalam tempo lebih cepat
dari sebelumnya serta menggunakn teknik gerak yang lebih
bertenaga. Motif gerak tangan Seuntai, langkah Silang, patah tuku,
giser, kenong cutik dan cum putik menjadi bagian gerak penghubung
ini.

RAGAM 10
“LAJU TENGAREI”

Ragam gerak dalam tempo cepat yang cukup kompleks dan dinamis
namun tetap harmonis dengan kedisiplinan teknik gerak. Ragam
gerak ini merupakan perpaduan gerak yang memperlihatkan gerak-
gerik yang indah. Gerak merupakan stilisasi dari tumbuhan akar
wangi yang memiliki banyak serabut dan menebarkan aroma wangi.
Hal tersebut sesuai dengan cerminan kehidupan masyarakat Metro
yang tetap selaras dalam pluralitas serta menjadi kedisiplinan hidup
yang baik dan dijalankan setiap harinya.

RAGAM 11
“JINGKAH TETABOKH”

Langkah kaki menghentak ke atas dalam posisi Jajar rendah sambil
menggerakkan tangan dengan teknik tetabokh.
1-4 langkah kaki kiri-kanan, kiri-kanan-kiri+liyut sambil Samber
Melayang sesuai ritme melodi pada musik, posisi tangan berakhir
diagonal kanan
5-8 gerak tangan Tetabokh sebanyak 4x dalam posisi liyut kiri
1 Badan berbalik kanan, tangan bergerak Samber, langsung
melangkahkan kaki kanan mundur ke arah samping kanan panggung
2-4 Langkah kiri-kanan-kiri mundur ke arah samping kanan
panggung, gerak tangan Melayang hingga berakhir di posisi
diagonal kiri
5-8 langkah kiri-kanan-kiri-kanan, gerak tangan Tetabokh sebanyak
4x diakhiri dengan posisi tangan diagonal kiri, liyut kaki kanan.

PENGHUBUNG 4

Posisi bertahan pada Liyut kaki kanan, sikap tangan Pappang dalam
posisi diagonal kiri.
1-3 Berputar ke arah kiri, tangan menyesuaikan membentuk lingkaran
dan saling menyususl
4 Lembayung lalu menuju posisi awal kembali
5-7 diam atau bisa digerakkan pengulangan gerak seperti pada
hitungan 4 oleh penari lainnya
8 Lembayung lalu menuju posisi awal kembali

RAGAM 12
“LIPETTO MUNDUR”

Gerak tangan Lipetto dengan kaki meyilang ke belakang. Gerak ini dapat dilakukan dengan arah
yang berlawanan dalam pola koreografi kelompok.

1-2 silang belakang kaki kanan posisi tubuh Jajar Rendah disusul oleh langkah kaki kiri posisi tubuh
Jajar Langit berat badan dialihkan ke sebelah kanan, gerakan tangan Lipetto kanan sebanyak 2x

3-4 mengulang gerak yang sama

5-8 gerak tangan proses menuju sikap Lembayung, langkah kaki kiri diikuti dengan kaki kanan yang
menutup di arah diagonal kiri

1-8 lakukan rangkaian gerak yang sama namun berlawanan arah

1-2 silang belakang kaki kanan posisi tubuh Jajar Rendah disusul oleh langkah kaki kiri posisi tubuh
Jajar Langit berat badan dialihkan ke sebelah kanan, gerak tangan Lipetto kanan

3-4 gerak yang sama dengan arah berlawanan

5-8 gerak tangan proses menuju sikap Lembayung, salimpat kaki kanan dan berputar ke kiri

RAGAM 13
“LEMBAYUNG LANGIT”

Diawali sikap tangan Lembayung, kaki kanan di depan kaki kiri dalam posisi
tubuh Jajar Rendah
1-2 Posisi tubuh berubah menjadi Jajar Langit, aksen lembayung ditekan ke
arah depan
3-4 Tangan diluruskan ke arah depan
5-6 Ngehallik mundur kaki kanan dalam posisi Jajar rendah
7 gerak tangan Ngehallik mundur kaki kiri
8 posisi tubuh kembali Jajar Langit
1-4 keda tangan membuka dan lurus samping posisi Jajar Langit
5-6 Gerak tangan awalan Kenong Cutik
7-8 Gerak tangan lanjutan Kenong Cutik, Gerak tangan ukel dan Cum Putik,
posisi Jajar Langit

PENGHUBUNG 5

1-2 tepis tangan membuka ke arah samping, posisi tubuh Jajar Rendah, maju
kaki kiri disusul kaki kanan, badan berbelok dari miring samping kiri ke arah
depan

3-8 Ukel perlahan

1-8+1-8 Ukel setiap 2 hitungan dan gisegh ngumbak

1-2 kaki kanan Liyut, ukel kedua tangan

3-4 ukel kedua tangan, kaki kanan kembali menutup disamping kaki kiri

5-8 gerakan tangan berproses menuju sikap Lembayung, langkah kaki kanan ke
arah diagnal kanan lalu tutup kaki kiri

1-2 tepis tangan membuka ke arah samping, posisi tubuh Jajar Rendah, maju
kaki kiri ke arah samping kiri disusul kaki kanan, badan berbelok dari miring
samping kiri ke arah depan

3-8 Ukel perlahan

RAGAM 14
“TITEI LAKU”

1-2 Tusuk tangan kanan, tangan kiri Pappang
3-4 tangan kanan di depan dahi, jingkah tilu kanan
5-8 Cum seuntai kanan, kaki Jingkah Cutik kanan 2x
1-8 Tangan kenong cutik lalu cum putik, kaki bergerak putik tejang
galah sebanyak 4x sambil berputar ke arah kiri

Diulangi dengan arah yang berlawanan

RAGAM 15
“PETIK BETIK”

1-2 Lipetto kanan di arah sudut kiri depan, langkah kaki Jingkah Tilu
kanan, Jajar Langit
3-4 tangan diletakkan di arah samping bawah, tubuh dihadapkan ke
depan, sikap Jajar Rendah
5-6 Lipetto kiri di arah sudut kanan depan, langkah kaki Jingkah Tilu
kiri, Jajar Langit
7-8 sama seperti sikap pada hit 3-4
1-2 pengulangan gerak sperti hit 1-2 sebelumnya
3-4 idem
5-8 tepis kalai 4x sambil berputar kanan

RAGAM 16
“SUMBAH RINCING”

Sikap tubuh Patah Tuku kanan/kiri sesuai posisi. Gerak sumbah
dengan tekanan gerak ke arah depan tepat di hitungan ganjil,
properti kana rincing digerakkan hingga berbunyi. Gerakan sumbah
diarahkan ke atas tengah lalu samping kanan, melewati tengah lalu
ke samping kiri. Begitu seterusnya dilakukan sambil menantikan
prosesi penyerahan sekapur sirih kepada tamu agung. Sementara itu,
Penari Pejunjung berputar ditempat secara seimbang agar jurai-jurai
tapisnya dapat terangkat.

RAGAM 17
“LAPAH IBAH”

Gerakan kembali menuju luar arena pentas dengan skema gerak
dilakukan secara bercermin

PENUTUP

Demikian deskripsi tentang tari Junjungan Buay Puun ini dibuat dalam
bentuk yang sangat sederhana. Semoga bisa menjadi acuan dan
refrensi yang baik bagi kita semua dalam mempelajari dan
melestarikan ikon budaya kota Metro berupa tari Junjungan Buay
Puun.

Salam hangat,
Penata Tari

SELAMAT BERLATIH


Click to View FlipBook Version