Kata Pengantar
Puji syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, karena atas berkat dan tuntunan-Nya maka
buku ini dapat terselesaikan dan diterbitkan. Kami juga memanjatkan syukur Karena
kami dapat menyelesaikan buku ini sesuai dengan waktu yang di tentukan. Buku ini
kami terbitkan dengan judul “ Mengenal Sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara”
sebagai bentuk dari hasil kerjasama kami. Dalam buku ini kami sekelompok telah
berusaha untuk menyusun dan menyajikan sejarah dari kerajaan Kutai.
Kami juga mengucapkan banyak terima kasih kepada guru kami yang telah
membimbing kami dalam membuat buku ini. Semoga buku ini dapat memberikan
pengetahuan yang baru dan lebih lagi kepada anda mengenai kerajaan Kutai. kami
sebagai pembuat buku ini tentu menyadari bahwa buku ini masih jauh dari kata
sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan. Untuk itu, kami
mengharapkan kritik serta saran untuk buku ini, agar buku ini nanti nya bisa menjadi
lebih baik lagi. Kami memohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan kata
maupun kalimat.
KERAJAAN KUTAI KERTANEGARA
Masuknya agama dan kebudayaan Hindu dan Budha membawa perubahan-perubahan
diberbagai aspek kehidupan, baik social, ekonomi, budaya termasuk pada bidang birokrasi
pemerintahan dengan munculnya kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha di Indonesia. Di
Indonesia sendiri banyak peninggalan sejarah yang berunsur Hindu seperti candi, yupa,
prasasti dan kerajaan.
Salah satu peninggalan dari kebudayaan Hindu adalah Kerajaan Kutai. Kerajaan Kutai
merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesia.. Nama Kutai diambil dari nama tempat
ditemukannya prasasti yang menggambarkan kerajaan tersebut. Nama Kutai diberikan oleh
para ahli karena tidak ada prasasti yang jelas menyebutkan nama kerajaan ini. Karena
memang sedikit informasi yang dapat diperoleh akibat kurangnya sumber sejarah.
Keberadaan kerjaan tersebut diketahui berdasarkan sumber berita yang ditemukan yaitu
berupa prasasti yang berbentuk yupa atau tiang batu yang berjumlah 7 buah. Yupa yang
menggambarkan huruf Pallawa dan bahasa sansererta tersebut, dapat disimpulkan tentang
keberadaan Kerajaan Kutai dalam berbagai aspek kebudayaan antara lainpolitik, social, dan
budaya.
Teori Masuknya Islam Ke Indonesia
Masuknya Islam ke Nusantara atau Indonesia belum diketahui secara pasti Banyak yang berpendapat masuknya Islam
di Nusantara tidak lepas adanya jalur perdagangan di Selat Malaka. Banyak kapal-kapal dagang muslim yang datang
dan singgah di Nusantara. Adanya interaksi antar pedagang dari penjuru dunia dengan intensitas tinggi, memunculkan
beragam teori mengenai proses masuknya Islam ke Nusantara
Dalam buku Menemukan Sejarah, Wacana Pergerakan Islam di Indonesia (1995) karya Ahmad Mansur Suryanegara,
ada tiga teori mengenai masuknya Islam di Nusantara. Ketiga teori tersebut yakni, Islam datang dari Gujarat (teori
gujarat), Islam dari Arab (teori Mekah) dan Islam datang dari Persia (teori Persia).
1.Islam datang dari Gujarat (teori gujarat)
Pada teori tersebut, Islam masuk di Nusantara dipercaya datang dari wilayah Gujarat, India. Di mana melalui peran
para pedagang muslim yang datang ke Nusantara lewat jalur perdagangan Selat Malaka. Masuknya Islam dari Gujarat
dikemukakan oleh Snouck Hurgronje dari Belanda. Ia berpendapat jika Islam masuk ke Nusantara buka dari Arab tapi
Gujarat, India. Hubungan langsung antara Nusantara dan Arab baru terjadi pada masa kemudian. Seperti utusan dari
Mataram dan Banten ke Mekah pada abad ke-7. Ia juga berbendapat adanya persamaan unsur-unsur Islam Nusantara
dengan India.
2.Islam dari Arab (teori Mekah)
Dalam teori tersebut mengemukan pada abab ke-7 di pantai barat Sumatera sudah ada perkampungan Islam. Hal itu
di dukung adanya jalur perdagangan yang bersifat internasional. Bahkan berita dari China, pada zaman Dinasti Tang
pada 674 mesehi, jika orang-orang Arab sudah mendirikan perkampungan di pantai barat Sumatera. Dilansir situs
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud), pada waktu Kerajaan Sriwijaya mengembangkan
kekuasaan sekitar abad ke-8 dan 8, para pedagang muslim sudah singgah. Banyak tokoh-tokoh yang mendukung teori
tersebut. Masuknya Islam ke Nusantara terjadi sebelum abad ke-7 masehi dan berperan besar terhadap proses
penyebaran selanjutnya.
3.Islam datang dari Persia (teori Persia)
Dalam teori tersebut diungkapkan adanya kesamaan budaya yang dimiliki oleh beberapa kelompok masyarakat Islam
Nusantara dengan Persia. Dalam buku Sejarah Islam Nusantara (2015) karya Michael Laffan, sejak awal masehi para
penguasa di kawasan barat Nusantara berbagi budaya istana yang bercorak India dan mendapat keuntungan dari
kehadiran para pedagang asing. Karena Asia Tenggara berada di persimpangan dua zona perdagangan kuno yang
penting. Pertama, meliputi Samudera Hindia, sedangkan yang lain menyusuri Laut China Selatan. Kerajaan-kerajaan
di Asia Tenggara paling awal berasal dari berbagai catatan berbahasa China yang merekam kedatangan para utusan
dengan nama-nama yang tampaknya nama muslim. Dari arah lain, memiliki laporan-laporan berbahasa Arab
mengenai berbagai rute pelayaran dari Teluk Persia ke pelabuhan-pelabuhan di China Selatan dengan titik tumpu di
Selat Makaka. Di sana para kapten menunggu perubahan angin monsun untuk membawa mereka melanjutkan
perjalanan atau kembali pulang.
Karakteristik Kehidupan Masyarakat
Kehidupan Ekonomi
Kerajaan Kutai terletak di tepi sungai Mahakam sehingga masyarakatnya banyak
berpencaharian di bidang pertanian.
Selain pertanian, mereka juga melakukan perdagangan. Bahkan diperkirakan sudah terjadi
hubungan dagang dengan bangsa luar. Sebab jika dilihat dari letak geografisnya, Kerajaan
Kutai berada pada jalur perdagangan antara China dan India.
Jalur perdagangan internasional dari India melewati Selat Makassar, terus ke Filipina dan
sampai di China. Dalam pelayarannya para pedagang diperkirakan singgah terlebih dahulu di
Kutai.
Oleh sebab itu Kutai semakin ramai dan rakyat hidup makmur. Kemakmuran Kutai tercermin
dari kedermawanan Raja Mulawarman. Dikisahkan ia mengadakan kurban emas dan 20.000
ekor lembu untuk para brahmana.
Kehidupan Sosial Dan Budaya
Dalam Prasasti Yupa tertulis bahwa masyarakat sudah banyak yang menganut agama Hindu,
sehingga pola pengaturan kerajaan kepada masyarakat sangat teratur seperti pemerintahan
Kerajaan India.
Masyarakat di Kerajaan Kutai dapat menerima unsur budaya luar (India), namun tetap
memelihara dan melestarikan budayanya sendiri.
Contohnya prasasti berbentuk Yupa yang menggunakan huruf Pallawa menunjukkan adanya
pengaruh dari India Selatan. Sedangkan Yupa sendiri merupakan bentuk perkembangan dari
menhir, kebudayaan asli nenek moyang bangsa Indonesia zaman Megalitikum.
Kehidupan budaya Kerajaan Kutai juga sudah maju. Hal ini dibuktikan dengan upcacara
penghinduan Vratyastoma. Di masa Raja Mulawarman, upacara tersebut telah dipimpin oleh
pendeta Brahmana yang merupakan orang lokal.
Artinya kala itu telah ada kaum Brahmana asli nusantara yang memiliki kemampuan
intelektual tinggi, khususnya penguasaan terhadap bahasa Sansekerta.
Kehidupan Politik
Yupa menjelaskan tentang silsilah para pemimpin Kerajaan Kutai. Adapun raja-raja yang
pernah pemimpin Kutai yakni:
• Kudungga
Kudungga merupakan pendiri Kerajaan Kutai. Kudungga awalnya merupakan seorang kepala
suku. Dilihat dari namanya, Kudungga masih menggunakan nama lokal yang tidak berbau
India.
Oleh sebab itu para ahli berpendapat saat Kudungga menjadi raja pengaruh agama Hindu
baru mulai masuk ke nusantara. Kudungga kemudian mewariskan tahta kepada keturunannya.
• Aswawarman
Kudungga mempunyai putra bernama Aswawarman yang menjadi raja. Dalam Yupa ia
disebut seperti Dewa Ansuman (Dewa Matahari) dan memiliki julukan Wamsakerta atau
pembentuk keluarga/dinasti Hindu.
Alasannya adalah karena Aswawarman diperkirakan merupakan raja pertama yang telah
menganut agama Hindu saat ia memimpin.
Beberapa ahli mengatakan bahwa saat Kudungga memimpin, ia belum menganut agama
Hindu. Saat itu ia masih berperan sebagai kepala suku yang pada akhirnya mempunyai
keturunan sebagai raja-raja Kutai.
Di masa pemerintahan Aswawarman, Kerajaan Kutai mulai memperluas wilayahnya.
Aswawarman memiliki tiga orang putera, salah satunya adalah Mulawarman.
• Mulawarman
Mulawarman merupakan raja terbesar di Kutai. Kerajaan Kutai berada pada puncak
kejayaannya di masa sang raja. Wilayah kekuasaan Kerajaan Kutai meliputi hampir seluruh
wilayah Kalimantan Timur. Saat itu rakyat Kutai diketahui hidup sejahtera dan makmur.
Sejarah masuknya Islam Ke Pulau Kalimantan
PENYEBARAN AGAMA ISLAM DI KALIMANTAN
Ekspedisi mereka berjalan dengan lancar, setelah itu dato’ Ribandang kembali ke Makassar dan Tuan
Tunggang Parangan menetap di Kutai, pada masa ini lah Raja Mahkota mulai menganut ajaran Islam.
Proses Masuknya Islam ke Kalimantan
Islam masuk ke Kalimantan atau yang lebih dikenal dengan Borneo-kala-itu-melalui-dua-jalur :
1.Jalur pertama yang membawa Islam masuk ke tanah Borneo
2.Jalur lain yang digunakan menyebarkan dakwah Islam
Perkembangan Islam di Kalimantan Timur
Kerajaan Islam di Kalimantan timur adalah Kesultanan Kutai yang merupakan kelanjutan dari
kerajaan Hindu Kutai Kartanegara yang sudah berdiri-sejak-tahun-1300.Masuknya Islam di
Kalimantan timur di mulai pada abad ke – 17, berawal dari Kerajaan Banjar yang berasal dari
Kalimantan selatan yang di komandai oleh Dato’ Ribandang dan Tuan Tunggang
Parangan.Perkembangan Islam di kalimantan selatan dalam abad ke- 17 menunjukkan kemajuan yang
pesat. Pada waktu itu seorang yang hidup dalam Kerajaan Banjar di Martapura telah menyusun
sebuah kitab ilmu tasawuf tentang Asal Kejadian Nur Muhammad yang dipengaruhi ajaran Ibnu Arabi
yang termasuk aliran Wahdatul wujud. Hal ini menunjukkan bahwa dalam abad ke- 17 dalam wilayah
Kerajaan Banjar sudah menunjukkan berkembangnya aliran tasawuf secara dominan sampai
melahirkan seorang ulama terkemuka dibidang tersebut dan mampu mengarang sebuah kitab yang
cukup berat. Kitab tasawuf itu dihadiahkan pengarangnya kepada Ratu Aceh.Daerah pertama di
Kalimantan Barat yang diperkirakan terdahulu mendapat sentuhan agama Islam adalah Pontianak,
Matan dan Mempawah. Islam masuk ke daerah-derah ini diperkirakan antara tahun 1741, 1743 dan
1750.
perkembangan agama islam di kalimantan timur
Pada masa itu Kesultanan Kutai tampi sebagai daerah maritime yang memiliki armada pelayaran yang
meramikan perdagangan. Hasil rempah yang di hasilkan Kesultanan Kutai diantaranya adalah lada,
kopi, kopra, dan rempah-rempah. Sedangkan barang yang masuk ke daerah Kutai yaitu, sutra,
porselin, dan lain-lain. Para pedagang dari Kesultanan Kutai sangat aktif berlayar di Kepulauan
Nusantara, bahkan sampai ke Singapura, Filipina, dan Cina.
Nilai-Nilai dan unsur Kebudayaan Islam
Kutai Kartanegara memiliki warisan budaya yang memberi pesan dan kesan kepada generasi
penerusnya bahwa di wilayah ini pernah ada kehidupan yang memiliki budaya tinggi.
Warisan tersebut mencakup berbagai seni budaya seperti seni tari, seni kriya, tenun, dan seni
pahat, peninggalan arkeologi dan tradisi. Bahkan kekayaan seni budaya tersebut masih sangat
kental dan menjadi suatu pemandangan yang eksotik yang dapat ditemukan dalam keseharian
penduduk setempat.
Peninggalan seni – budaya ini masih dapat disaksikan terpahat di prasasti – prasasti
peninggalan kerajaan Hindu Kutai Ing Martadipura seperti situs situs, makam – makam raja,
Istana Sultan, dan tempat – tempat lain yang masih berkaitan dengan kehidupan seni budaya
di Kutai Kartanegara. Peninggalan situs jaman kolonial Belanda juga masih dapat ditemui di
Kutai Kartanegara, karena di salah satu kecamatan pernah terjadi peristiwa heroik.
Warisan budaya yang dimiliki ini bukanlah sekedar benda mati tanpa makna, namun semua
warisan budaya ini perlu dilestarikan dan diteliti lebih dalam lagi menyangkut nilai – nilai
kearifan masa lalu yang mungkin dapat diaktualisasikan kembali saat ini. Kearifan
masyarakat Dayak yang hidup berdampingan dengan alam merupakan cermin yang selalu
relevan pada setiap masa. Nilai – nilai luhur ini perlu dilestarikan dan dijaga, sehingga
kelestarian peninggalan budaya dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam pengambilan
keputusan dalam pembangunan Kabupaten Kutai Kartanegara. Beberapa pesona budaya yang
sudah dikembangkan menjadi objek wisata, diantaranya adalah:
1.situs Muara Kaman
2. Kompleks Makam Sultan Kutai Kartanegara
3. Desa Budaya Lekaq Kidau
Demikianlah isi dari buku “Mengenal Sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara” ini semoga
apa yang telah kami paparkan dalam buku online ini dapat menambah wawasan anda
mengenai kerajaan Kutai. Tak lupa kami berterimakasih atas kesediaan anda karena telah
membaca buku online ini yang kami buat untuk memenuhi tugas mata pelajaran sejarah
Indonesia kami. Semua yang telah kami telah tuliskan di dalam buku online ini merupakan
hasil dari penelitian dan pencarian informasi mengenai kerajaan Kutai namun kami sadar
bahwa apa yang telah kami tulis jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu kami meminta maaf
bila ada kesalahan dalam penulisan kata maupun kalimat juga jika informasi yang kami
berikan kurang tepat. Sekiranya jika anda memiliki saran maupun kritik mengenai buku
online ini kami akan menerimanya dan sangat mengharapkannya. Semoga anda dapat merasa
puas dengan informasi yang telah kami sajikan dalam buku online ini, terimakasih.