The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

21051000050
Lukas Rayvaldo Murdiaanto
D3 PHT

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by lukasrayvaldo, 2022-07-05 13:29:00

Desa Wisata Seigentung Gunung kidul

21051000050
Lukas Rayvaldo Murdiaanto
D3 PHT

Keywords: #desawisata #wisata #tugas

NAMA : LUKAS RAYVALDO M
NIM : 21051000050
PRODI : D3 PHT
SUB : TUGAS UAS LINTAS BUDAYA

JAWAB

BAB I
PENDAHULUAN

Dahulu kala dikenal daerah yang sering dilanda kekeringan, kini Kabupaten Gunungkidul adalah
kabupaten dengan potensi wisata tiada duanya di Yogyakarta. Berkali-kali menyabet gelar
nasional, Asian dan internasional dalam bidang wisata. Kini kembali muncul Desa Wisata IPTEK
yakni Seigentung. Sangat unik karena selama ini desa identik dengan berbagai ketertinggalan.
Seigentung membuktikan warga desa sangat adaptif terhadap teknologi dan bisa menjadikan
teknologi menjadi kekuatan mengembangkan ekonomi.

Gunungkidul merupakan salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta yang berkembang
karena potensi wisatanya. Berada di dataran tinggi yang terbentuk atas muntahan gunung api,
Gunungkidul menyimpan beragam ilmu pengetahuan. Pemerintah melalui Kemendes pun
memberikan penghargaan kepada desa ini sebagai “Desa Wisata Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
(IPTEK)”. Salah satu pertimbangan Kemendes memilih desa wisata ini sebagai Desa Wisata
IPTEK ialah kemampuannya dalam memanfaatkan teknologi air bersih. Sejalan dengan itu, Desa
Seigentung membuktikan bahwa desa tidak selalu identik dengan ketertinggalan dan justru mampu
meningkatkan perekonomian.

BAB II

ISI

A. Asal mula/Sejarah
Pada waktu Gunungkidul masih merupakan hutan belantara, terdapat suatu desa yang
dihuni beberapa orang pelarian dari Majapahit. Desa tersebut adalah Pongangan, yang
dipimpin oleh R. Dewa Katong saudara raja Brawijaya. Setelah R Dewa Katong pindah ke
desa Katongan 10 km utara Pongangan, puteranya yang bernama R. Suromejo membangun
desa Pongangan, sehingga semakin lama semakin rama. Beberapa waktu kemudian, R.
Suromejo pindah ke Karangmojo.

Perkembangan penduduk di daerah Gunungkidul itu didengar oleh raja Mataram Sunan
Amangkurat Amral yang berkedudukan di Kartosuro. Kemudian ia mengutus Senopati Ki
Tumenggung Prawiropekso agar membuktikan kebenaran berita tersebut. Setelah
dinyatakan kebenarannya, Tumenggung Prawiropekso menasihati R. Suromejo agar
meminta izin pada raja Mataram, karena daerah tersebut masuk dalam wilayah
kekuasaannya.

R. Suromejo tidak mau, dan akhirnya terjadilah peperangan yang mengakibatkan dia tewas.
Begitu juga 2 anak dan menantunya. Ki Pontjodirjo yang merupakan anak R Suromejo
akhirnya menyerahkan diri, oleh Pangeran Sambernyowo diangkat menjadi Bupati
Gunungkidul I. Namun Bupati Mas Tumenggung Pontjodirjo tidak lama menjabat karena
adanya penentuan batas-batas daerah Gunungkidul antara Sultan dan Mangkunegaran II
pada tanggal 13 Mei 1831. Gunungkidul (selain Ngawen sebagai daerah enclave
Mangkunegaran) menjadi kabupaten di bawah kekuasaan Kasultanan Yogyakarta. Mas
Tumenggung Pontjodirjo diganti Mas Tumenggung Prawirosetiko, yang mengalihkan
kedudukan kota kabupaten dari Ponjong ke Wonosari.

Menurut Mr. R.M Suryodiningrat dalam bukunya ”Peprentahan Praja Kejawen” yang
dikuatkan buku de Vorstenlanden terbitan 1931 tulisan G.P. Rouffaer, dan pendapat
B.M.Mr. A.K. Pringgodigdo dalam bukunya Onstaan En Groei van het
Mangkoenegorosche Rijk, berdirinya Gunungkidul (daerah administrasi) tahun 1831
setahun seusai Perang Diponegoro, bersamaan dengan terbentuknya kabupaten lain di
Yogyakarta. Disebutkan bahwa ”Goenoengkidoel, wewengkon pareden wetan lepen opak.
Poeniko siti maosan dalem sami kaliyan Montjanagari ing zaman kino, dados bawah ipun
Pepatih Dalem. Ing tahoen 1831 Nagoragung sarta Mantjanagari-nipoen Ngajogjakarta
sampoen dipoen perang-perang, Mataram dados 3 wewengkon, dene Pangagengipoen
wewengkon satoenggal-satoenggalipoen dipoen wastani Boepati Wadono Distrik
kaparingan sesebatan Toemenggoeng, inggih poeniko Sleman (Roemijin Denggong),
Kalasan serta Bantoel. Siti maosan dalem ing Pengasih dipoen koewaosi dening Boepati

Wedono Distrik Pamadjegan Dalem. Makanten oegi ing Sentolo wonten pengageng distrik
ingkang kaparingan sesebatan Riya. Goenoengkidoel ingkang nyepeng siti maosan dalem
sesebatan nipoen Riya.”

Dan oleh upaya yang dilakukan panitia untuk melacak Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul
tahun 1984 baik yang terungkap melalui fakta sejarah, penelitian, pengumpulan data dari
tokoh masyarakat, pakar serta daftar kepustakaan yang ada, akhirnya ditetapkan bahwa
Kabupaten Gunungkidul dengan Wonosari sebagai pusat pemerintahan lahir pada hari
Jumat Legi tanggal 27 Mei 1831 atau 15 Besar Je 1758 dan dikuatkan dengan Keputusan
Bupati Kepala Daerah Tingkat II Gunungkidul No : 70/188.45/6/1985 tentang Penetapan
hari, tanggal bulan dan tahun Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul yang ditandatangani oleh
bupati saat itu Drs KRT Sosro Hadiningrat tanggal 14 Juni 1985.

Sedangkan secara yuridis, status Kabupaten Gunungkidul sebagai salah satu daerah
kabupaten kabupaten yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dalam
lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta dan berkedudukan di Wonosari sebagai ibukota
kabupaten, ditetapkan pada tanggal 15 Agustus 1950 dengan UU no 15 Tahun 1950 jo
Peraturan Pemerintah No 32 tahun 1950 pada saat Gunungkidul dipimpin oleh KRT
Labaningrat.

B. Aksesibilitas/Transportasi

Naik Pesawat
Untuk mencapai Gunung Kidul Jogja harus menuju Daerah Istimewa Yogyakarta terlebih
dahulu. Cara termudah dan tercepat menuju ke D.I.Yogyakarta adalah dengan
menggunakan pesawat terbang. Sebagai salah satu destinasi wisata utama di Indonesia
sekaligus kota pelajar, banyak maskapai penerbangan yang membuka layanan dari dan
menuju Jogja. Saat ini, bandara utama di Jogja sudah menggunakan Bandar Udara
Internasional Yogyakarta di Kabupaten Kulon Progo yang berjarak kurang lebih 1 jam
perjalanan menuju Kota Yogyakarta. Bandaranya jauh lebih besar dan megah daripada
Bandar Udara Adi Sucipto yang lama di Maguwo.

Naik kereta api
Salah satu cara terbaik menuju Jogja adalah dengan menggunakan kereta api, posisi Jogja
yang terletak di tengah pulau Jawa sangat strategis dicapai dari berbagai penjuru pulau
dengan kereta api. Selain itu, perjalanan dengan kereta api ke Jogja sangat menyenangkan
karena melintasi wilayah dengan pemandangan indah. Benar-benar memanjakan panca
indera. Jika naik kereta api ke Jogja, maka Anda bisa turun di salah satu stasiun dari dua
stasiun utama di Jogja yakni Stasiun Yogyakarta/Stasiun Tugu dan Stasiun Lempuyangan.
Keduanya sama-sama berada di pusat kota Yogyakarta.

Jika Anda sudah tahu cara menuju Jogja, maka kali ini Anda juga harus tahu cara menuju
Gunung Kidul dan cara berkeliling di Desa wisata di Gunung Kidul Jogja.

Ada beberapa opsi yang bisa Anda coba. Inilah pilihan transportasi di antaranya.

Naik Bus
Jika Anda ingin hemat, maka pilihannya bisa menggunakan bus untuk keliling di Gunung
Kidul. Namun, pilihannya sangat terbatas. Selain jadwalnya yang tidak menentu, Anda
juga akan kesulitan berlama-lama di Tempat Wisata yang bersangkutan.

Sewa mobil
Bila Anda pergi ke Gunung Kidul Jogja beramai-ramai, maka cara berkeliling Gunung
Kidul yang terbaik adalah dengan menyewa mobil. Cukup dengan 1 mobil, Anda sudah
bisa bertandang ke kawasan wisata tersebut dengan mudah tanpa ribet. Tersedia banyak
rental mobil di Jogja yang bisa Anda pilih. Untuk kisaran harga berada pada angka
Rp250.000,00 hingga Rp650.000,00 per hari. Harga bervariasi tergantung rental, tipe
mobil, dan layanan yang didapat. Biasanya, harga akan lebih mahal bila dengan supir dan
bensin.

Sewa motor
Inilah pilihan terbaik dari sekian banyak cara menuju dan berkeliling Gunung Kidul.
Dengan menyewa motor, maka Anda bisa menikmati kawasan Gunung Kidul dengan
mudah, praktis, dan fleksibel. Tak perlu bergantung dengan jadwal kendaraan umum bus
yang tidak pasti. Selain itu, ukuran motor yang relatif kecil membuat perjalanan lebih cepat
dan gesit. Anda bisa menyalip kendaraan dengan mudah dan pastinya bisa melintasi
sejumlah jalanan yang sempit di kawasan Gunung Kidul ini. Anda bisa menyewa motor di
Kota Jogja. Di sana, tersedia banyak rental motor dengan harga yang bersahabat. Anda bisa
menyewa motor mulai dari Rp75.000,00-Rp150.000,00 per hari. Harga bervariasi
tergantung tipe motor, ukuran motor, CC motor, dan rental motornya sendiri.

C. Amenitas/Fasilitas
Gunung Kidul terus mengejar jumlah turis asing yang diharapkan bisa datang kewilayah
ini. Untuk mewujudkan target itu sejumlah upaya dilakukan untuk memenuhi standar bagi
turis asing. Pasalnya, belum semua fasilitas yang ada di objek wisata di Gunungkidul sesuai
dengan standar mereka.
Hary Sukmono Sekretaris Dinas Pariwisata Gunung Kidul mengatakan Pemkab
Gunungkidul berharap angka kunjungan wisatawan mancanegara di tahun ini bisa tembus
di 24.000 ribu orang.
Harry Sukmono, mengatakan setiap wisman mempunyai cara pelayanan yang berbeda.
Menurutnya, kebutuhan aksesbilitas dan amenitas setiap spot wisata yang ada di
Gunungkidul harus disesuaikan.

Harry mengungkapkan untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisman ke Gunungkidul
Dinpar mengupayakan kerja sama dengan biro perjalanan luar negeri. Namun demikian,
peningkatan kebutuhan sarana dan prasarana lainnya harus mendukung kedatangan
wisman.
“Misalnya dari jenis toilet bisa disiapkan yang modelnya duduk,” ucap dia.
Ada karakter yang bisa dipenuhi, mulai dari akomodasi serta hotel yang menjadi preferensi
setiap wisman. Target wisman tidak hanya yang middle low tetapi harus menyasar wisman
kelas menengah ke atas atau middle up.

D. Atraksi
Kabupaten Gunungkidul biasanya dikenal dengan daerah yang kekeringan. Namun tidak
untuk sekarang ini, kini Gunungkidul mampu mendapatkan gelar sebagai Desa Wisata
IPTEK. Desa tersebut yakni Desa Seigentung, Gunungkidul. Dengan memanfaatkan
teknologi air bersih, Desa Seigentung membuktikan bahwa tidak semua desa berada dalam
ketertinggalan. Desa berhak untuk maju dan meningkatkan sistem perekonomiannya.

E. Harga tiket
Harga tiket masuk: Rp10.000/wisatawan lokal untuk siang, Rp15.000/wisatawan lokal
untuk malam | Rp30.000/wisatawan mancanegara untuk siang atau malam*.

Jadwal buka: Selasa – Minggu, pukul 08.00 – 18.00 WIB (Senin libur).


Click to View FlipBook Version