The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Stephen Agung, 2023-06-10 23:38:53

kontol

kontol

1


2 Puji serta syukur kami panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan Karunia dan Rahmat-Nya, sehingga kelompok kami mampu menyelesaikan makalah ini dengan tepat pada waktunya. Makalah ini berhasil tersusun berkat kerjasama dalam kelompok yang sangat baik, dan berkat bantuan dari pihak-pihak lain yang senantiasa membantu kami. Makalah ini kami buat untuk memberikan wawasan tambahan kepada para pembaca tentang Biografi para penggiat seni yang berada di Indonesia. Tak lupa juga kami ucapkan terima kasih kepada Ibu Christina Fitri Puji W. S.Pd selaku guru Bahasa Indonesia yang telah memberikan arahan kepada kami sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Kami ucapkan pula terima kasih sebanyak-banyaknya kepada teman-teman yang sudah ikut berpartisipasi meluangkan waktunya untuk sekedar membantu kelompok kami. Dan ucapan terima kasih kami untuk semua yang tak bisa kami sebutkan satu per satu. Penyusun menyadari bahwa masih terdapat kekurangan maupun mungkin kesalahan dalam penyusunan makalah ini sehingga penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan di masa yang akan datang dari seluruh pembaca. Akhir kata, penyusun berharap dengan adanya makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan para siswa / siswi SMA Virgo Fidelis Bawen. Penyusun mengucapkan terima kasih dan mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam penyusunan laporan ini.


3 Daftar isi Biografi Indro Hardjodikoro .........................................................................................................1 Biografi Gregorius Sidharta Soegijo .............................................................................................2 Biografi Benyamin Sueb ..............................................................................................................3 Biografi Roby Dwi Antono ...........................................................................................................4 Biografi Raden Saleh Syarif Bustaman ........................................................................................6 Biografi Arie Smith .......................................................................................................................7 Biografi Ebiet G. Ade ..................................................................................................................8 Biografi Johanes Taslim .............................................................................................................11 Biografi Affandi Koesoma .........................................................................................................12 Infografik Indro Hardjodikoro ....................................................................................................14 Infografik Gregorius Sidharta Soegijo ........................................................................................15 Infografik Benyamin Sueb ..........................................................................................................16 Infografik Roby Dwi Antono ......................................................................................................17 Infografik Raden Saleh Syarif Bustaman ....................................................................................18 Infografik Arie Smith ..................................................................................................................19 Infografik Ebiet G. Ade............................................................................................................... 20 Infografik Affandi Koesoma .......................................................................................................21 Tim Penyusun ............................................................................................................................22


4 Indro Si Pelawak Indro, nama lengkap Indro Hardjodikoro adalah seseorang aktor, komedian, dan sutradara terkenal di Indonesia. Ia lahir pada tanggal 1 januari 1959 di Jakarta Indonesia. Indro merupakan anak dari Irjen Pol. Mochammad Oemargatab dan Soeselia Kartanegara. Ayahnya merupakan seorang jenderal polisi sementara ibunya seorang pengusaha katering. Saat masih kecil Indro sempat ingin mengikuti jejak ayahnya menjadi perwira tetapi kemudian mengurungkan niatnya setelah kedua orang tuanya tidak setuju. Ayah Indro meninggal pada tahun 1968. Setelah kematian ayahnya, Indro membantu ibunya yang mengelola usaha katering dengan menjadi tukang berbelanja ke pasar. Indro juga mengenyam pemdidikan di Universitas Pancasila. Indro menikah dengan Nita Octobijanthy pada tahun 1981. Pasangan ini dikaruniai tiga anak yaitu Handhika Indrajanthy Putrie, Satya Paramita Hada Dwininta dan Harleyano Triandro Kusumonegoro. Anak kedua Indro yaitu Hada Dwininta pernah menjadi anggota tim Paskibraka Nasional tahun 2001 mewakili Provinsi DKI Jakarta. Pada tanggal 9 Oktober 2018, istri Indro meninggal dunia akibat kanker paru-paru. Jenazahnya dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Indro memulai karir profesionalnya sebagai komedian pada tahun 1980-an, ketika ia bergabung dengan grup lawak legendaris Indonesia, Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro). Perkenalan Indro dengan grup Warkop dimulai pada 1976 ketika ia masih SMA dan untuk menambah pundi pemasukan uang ia memberanikan diri melamar menjadi penyiar radio di Prambors. Indro yang saat itu berusia paling muda diajak bergabung. Sejak acara obrolan itu mengudara, Indro bersama keempat rekannya akhirnya mulai berkomitmen menjadi komedian dengan nama Warkop Prambors. Debut Indro sebagai pelawak di Warkop Prambors dimulai dengan mengisi sebuah acara perpisahan di SMA Negeri 9 Jakarta ketika ia diminta oleh Rudy Badil untuk menggantikan posisinya yang kerap demam panggung. Indro sendiri menjadi satusatunya personil Warkop yang bukan mahasiswa Universitas Indonesia karena ia berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila. Bersama Dono, Kasino dan Nanu, Indro kemudian melebarkan sayap Warkop Prambors dengan membintangi film perdana saat itu yang berjudul Mana Tahan yang dirilis pada 1979. Rekan-rekan Warkop lainnya seperti Dono, Kasino, Nanu Moeljono dan Rudy Badil hendak membuat sebuah program siaran bertajuk obrolan santai yang berbau jenaka. Bersama dengan Dono dan Kasino, Indro menciptakan gelombang kegembiraan di dunia hiburan dengan gaya komedinya yang unik dan cerdas. Mereka meraih kesuksesan besar melalui film-film komedi yang mereka bintangi, seperti "Pintar-pintar Bodoh" dan Sama-sama Enak. Di samping karirnya di dunia hiburan, Indro juga dikenal sebagai seorang pengusaha sukses. Ia memiliki beberapa bisnis, termasuk restoran dan properti. Namun, pada tahun 1994, tragedi menimpa Warkop DKI. Dono, salah satu anggota grup, meninggal dunia akibat serangan jantung. Setelah kepergian Dono, Warkop DKI berhenti beraktivitas sebagai grup dan anggotanya fokus pada proyek-proyek individu. I Namun, karir Indro dalam Warkop harus berhenti ketika 2 rekannya meninggal dunia. Kasino meninggal di tahun 1997 akibat kanker otak sedangkan Dono meninggal pada 2001 karena komplikasi. Selepas itu, penggemar motor gede ini lebih sering terlihat sebagai bintang tamu beberapa acara komedi. Ia juga muncul di sebuah Sitkom berjudul "Sitkom NETO (Naik Enak Turun Ogah)" yang tayang di Global TV 2012 lalu. Indro tetap aktif dalam dunia hiburan setelah bubarnya Warkop DKI. Ia terlibat dalam beberapa proyek film dan serial televisi. Selain itu, ia juga aktif sebagai produser dan sutradara dalam beberapa produksi film. Selain karir di dunia hiburan, Indro juga dikenal sebagai sosok yang peduli dengan masalah sosial. Ia terlibat dalam beberapa kegiatan amal dan menjadi duta bagi beberapa kampanye kemanusiaan. Dia aktif terlibat dalam kegiatan amal dan sering kali mendukung berbagai acara yang bertujuan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Indro juga terlibat dalam kampanye HIV/AIDS dan menjadi duta untuk penyuluhan tentang pentingnya kesehatan dan pencegahan penyakit menular. Indro Warkop adalah salah satu ikon komedi Indonesia


5 yang berhasil menciptakan kenangan dan kebahagiaan bagi banyak penonton. Karya-karyanya tetap dikenang dan menginspirasi generasi komedian di Indonesia. Warkop DKI menjadi fenomena di industri film Indonesia, dengan Indro berperan sebagai sosok yang kocak dan kharismatik. Mereka membuat lebih dari 40 film komedi yang sukses di pasaran dan menjadi ikon bagi generasi Indonesia pada waktu itu. Selain berperan sebagai aktor, Indro juga terlibat dalam pengembangan karirnya sebagai sutradara. Ia menyutradarai beberapa film yang juga mendapatkan sambutan baik, seperti "Sama-Sama Enak" dan "Awas Ada Sule." Pada tahun 2019, Indro bersama rekan-rekannya, Tora Sudiro dan Abimana Aryasatya, membentuk grup lawak baru dengan nama Warkop DKI Reborn. Mereka mengambil inspirasi dari warisan Warkop DKI dan membuat film-film baru dengan cerita dan karakter yang segar, sambil menghormati warisan Dono, Kasino, dan Indro yang sebelumnya. Selain terlibat dalam proyek Warkop DKI Reborn, Indro juga terlibat dalam berbagai proyek kolaborasi dengan komedian dan aktor lainnya. Ia sering tampil dalam acara komedi dan film-film bersama para aktor muda yang sedang naik daun. Pada tahun 2021, Indro Warkop menerima penghargaan Lifetime Achievement dari Festival Film Indonesia atas kontribusinya yang luar biasa dalam industri perfilman Indonesia. Penghargaan ini mengakui prestasi dan dedikasinya yang telah memberikan warna dan keceriaan bagi penonton selama puluhan tahun. Indro Warkop adalah seorang tokoh penting dalam sejarah komedi Indonesia. Kecerdasannya, kepiawaiannya dalam menghibur, dan dedikasinya terhaap generasi muda Indonesia. Meskipun telah lama berkarir, Indro tetap rendah hati dan bersemangat dalam menciptakan karyakarya baru. Ia terus mencoba berbagai genre dalam filmfilmnya dan menunjukkan fleksibilitasnya sebagai seorang seniman. Indro juga masih sering tampil di acaraacara komedi, menghibur penonton dengan leluconlelucon terbarunya. Prestasi Indro dalam dunia hiburan telah diakui secara luas. Dia telah menerima berbagai penghargaan, termasuk Piala Citra dari Festival Film Indonesia. Selain itu, ia juga dianugerahi penghargaan dari beberapa festival film internasional. Kehadiran Indro dalam industri hiburan Indonesia telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan film komedi di negara ini. Sosok Indro adalah salah satu tokoh dalan dunia persenian yang sikapnya perlu dicontoh oleh kaum muda karena dia telah berjuang tanpa lelah untuk mencapai puncak karirnya sebagai seseorang komedi dan ia tidak putus asa meskipun keinginannya menjadi seseorang polisi tidak disetujui oleh kedua orangtua nya. Ia juga perlu di tiru dalam hal social Sikap ini mengajarkan kita pentingnya memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Indro adalah sosok yang berani dalam mengambil risiko dan mencoba hal-hal baru. Keberanian ini menginspirasi kita untuk tidak takut mencoba hal-hal baru dalam hidup, bahkan jika itu berarti keluar dari zona nyaman kita. Meskipun telah mencapai kesuksesan besar, Indro tetap rendah hati. Sifat kerendahan hati ini mengajarkan kita untuk tidak sombong atau menyombongkan diri saat mencapai keberhasilan, dan tetap menghargai orang lain di sekitar kita. GREGORIUS SIDHARTA SOEGIJO PEMATUNG Gregorius Sidharta Soegijo adalah seorang pematung terkenal Indonesia, ia juga dianggap sebagai tokoh pembaruan seni patung Indonesia, ia seniman yang merupakan pelopor bagi perkembangan seni rupa modern Indonesia dan ide-idenya memberikan sumbangan penting didalamnya. Sebagai pematung, ia tidak hanya sukses menggelar pameran tunggal di dalam dan luar negeri, tetapi karya-karyanya juga dipajang di ruang publik. Gregorius lahir pada 30 November 1932 di Yogyakarta, dan meninggal pada 4 Oktober 2006 usia 73


6 tahun di Surakarta. Gregorius dilahirkan sebagai anak ketiga dari sepuluh bersaudara, orang tuanya bernama Bernadius Soegijo meninggal tahun 1950 dan ibunya bernama Claudia Soemirah meninggal tahun 1985. Istri dari Gregorius bernama Maria Sri Noerna Moerdani dan mempunyai empat orang anak yang bernama, Maria Antoinette Marisa Sandra, Brigitta Rina Aninda, Dionne Mira Trisani, Gregorius Bima Bathara. Ia mulai belajar melukis di Sanggar Pelukis Rakyat, Yogyakarta pada tahun 1947 yang kemudian dilanjutkannya di Akademi Seni Rupa Indonesia juga di Yogyakarta, ia menjadi lulusan pertama dari ASRI yang berdiri pada tahun 1950 bersama Widayat, Fadjar Sidik, Abas Alibasjah, dan Edi Sunarso. Kemudian setelah lulus,Gregorius telah merintis Organisasi Pelukis Muda Indonesia(Pelukis Indonesia Muda atau PIM), sebelum beralih ke seni patung, ia sempat mempelajari dasar-dasar melukis dari tokohtokoh pelukis, pada tahun 1953 ia dikirim belajar di Jan Van Eyck Academie di Maastricht, Belanda selama tiga tahun oleh misi Gereja Katolik. Sekembalinya ke Indonesia pada tahun 1956, Gregorius mengajar di jurusan Seni Patung ASRI hingga 1964. Pada tahun 1965, ia pindah mengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FRSD) ITB(Institut Teknologi Bandung) hingga pensiun pada 1997. Di ITB, Gregorius juga mendirikan Jurusan Patung bernama But Mochtar dan Rita Widagdo. Di sela-sela mengajar, ia pun aktif membuat patung dan menggelar pameran di Jakarta dan Yogyakarta. Tidak hanya itu, pameran Gregorius juga diadakan di Singapura, Manila, Jepang, Korea Selatan, India, Polandia, dan Norwegia. Namanya semakin dikenal luas setelah menampilkan karya patungnya, “Tangisan Dewi Betari” yang saat ini dikoleksi di Museum Jepang. Pada tahun 2000, ia ,mendirikan ASPI(Asosiasi Pematung Indonesia) bersama rekan-rekan pematung lainnya. Gregorius menjabat sebagai ketua ASPI selama dua periode, hingga akhir hayatnya pada 4 Oktober 2006 karena kanker paru-paru yang dideritanya selama satu tahun. Sebelum meninggal, ia sempat dibawa ke Singapura untuk menjalani kemoterapi namun sudah tidak terselamatkan. Jasad gregorius dikebumikan di Pemakaman Keluarga Besar Moerdani di Astana Bonoloyo, Solo pada 5 Oktober 2006. Rencananya, jika kesehatannya memungkinkan, ia masih ingin melakukan Pameran Tunggal di Daleri Dhaupin, Singapura pada April 2007. Sebelumnya, galeri itu pernah memajang beberapa karya Gregorius dalam sebuah ekshibisi patung. Hingga akhir hidupnya, Gregorius masih aktif membuat patung, karya terakhirnya adalah sebuah salib yang diberi nama Crucifix 2006. Karya-karyanya mulai dari proyek publik hingga monumen nasional, seperti perencana asli desain Piala Citra yang diberikan kepada pemenang Festival Film Indonesia(FFI), dan patung Garuda Pancasila di gedung DPR-MPR RI. Gregorius juga mendapatkan Penghargaan Seni Lukis Terbaik dari Akademik BMKN(Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional) di Belanda, Penghargaan Seni Patung Terbaik dari DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) dalam pameran Patung Tiga Tahunan pada tahun 1986, dan Penghargaan Budaya Asia Kedua di Singapura. Dalam seni patung ia sering menggunakan media yang tak lazim, seperti beras atau mata uang. Ia juga banyak menjelajahi berbagai media seni rupa lainnya, seperti seni lukis, cetak saring, keramik, dan kerajinan tangan. Mengenai konsep berkaryanya, Gregorius pernah mengatakan, "Saya berkarya mengikuti nafas, dari hari ke hari, dari pagi hingga malam. Ke depan saya berjalan ke belakang saya menengok agar perjalanan tak pernah putus. Dahulu adalah leluhurku, kini saya berada dan esok adalah keturunanku. Satu rangkaian yang bersambung tak terputus menyongsong masa depan yang abadi". Dalam proses berkarya, Gregorius sering tidak memiliki anganangan yang sangat jelas terhadap hasil akhir. Ada gejolak antara dunia gagasan dan persoalan lain, yaitu alat, bahan, teknik, dan kemampuan tangannya. Sekalipun mulanya gagasan telah dikonsepkan, baik ketika masih di otak(imajinasi) dan akhirnya tergambar pada sketsa, tarik ulur antara imajinasi, konsep, dan medium selalu saja terjadi. Disini telah terjadi "musyawarah dan perang" antar gagasan. Benyamin Sueb Benyamin Sueb kerap dipanggil Babe Sabeni atau bang Ben, lahir di Jakarta pada tanggal 5 Maret 1939. Ia merupakan seniman Betawi yang serba bisa. Mungkin anak anak jaman sekarang tidak begitu mengenal siapa Benyamin Sueb, tetapi para orang tua pasti mengenal


7 siapa dia. Ia adalah aktor, pelawak, sutradara dan penyanyi. Benyamin Sueb merupakan anak bungsu dari delapan bersaudara lahir dari pasangan Suaeb-Aisyah. Ia kehilangan ayahnya saat umur dua tahun. Karena kondisi ekonomi keluarga yang tak menentu, sejak umur tiga tahun ia diizinkan mengamen keliling kampung dan hasilnya untuk biaya sekolah kakak-kakaknya. Benjamin kecil suka bermain musik, bersama kakak-kakaknya ia membuat alat musiknya sendiri dengan barang-barang bekas. Bungsu dari delapan bersaudara ini paling dikenal di antara ketujuh saudaranya saat itu sebagai seniman Betawi. Saat umur 7 tahun, ia masuk Sekolah Rakyat Bendungan Jago. Sempat berpindah sekolah ke Bandung saat kelas 5 SD, tetapi kemudian kembali ke Jakarta lagi saat ia SMP. Ia melanjutkan SMA di Taman Kemayoran Jakarta dan sempat setahun Kuliah di Akademi bank Jakarta walaupun hanya setahun. Ia kembali menekuni musik setelah menikahi Nonnie tahun 1959, istrinya yang pada tahun 1979 pernah bercerai dan rujuk di tahun yang sama. Ia dikaruniai 5 orang anak dari pernikahannya yang pertama yaitu Beib Habbani (alm), Bob Benito, Biem Triani, Beno Rahmat, Beni Pandawa. Di tahun 1983 ia menikah dengan Alifah. Dan dikaruniai 4 orang anak yaitu Bayi Nurhayati, Billy Sabila, Bianca Belladina Belinda Sahadati Amri. Di masa hidupnya Benyamin menghasilkan lebih dari 75 album musik dan 53 judul film. Benyamin Sueb masuk ke dalam daftar The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa versi majalah Rolling Stone Indonesia. Beberapa judul film seperti SI DOEL ANAK BETAWI dan BANTENG BETAWi kian melambungkan namanya. Sinetron dan film televisi pun pernah ia coba. Tetapi ia diidentikkan sebagai seorang seniman yang berjasa dalam seni tradisional betawi khususnya Gambang Kromong. Pada tahun 1990 tanggal 5 Maret, ia mendirikan stasiun radionya sendiri dengan nama BENS RADIO yang bekerja sama dengan ETNIKOM NETWORK. Pria yang sampai akhir hayatnya bersentuhan dengan dunia hiburan ini akhirnya meninggal pada 5 september 1995 karena serangan jantung seusai bermain sepak bola. Benyamin dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta. Sebab, ini merupakan wasiat yang dituliskannya agar dapat dimakamkan bersebelahan dengan makam Bing Slamet. Meskipun memiliki kehidupan yang rumit, Benyamin Sueb tak pernah putus asa. Ia terus berjuang untuk menggapai kesuksesan. Banyak sekali karya karya yang telah ia buat semasa hidupnya. Bahkan ia dapat mendirikan sebuah stasiun radio miliknya sendiri. Dan di tahun 2018 Benyamin Sueb mendapatkan penghargaan AMI Legend Award. Roby Dwi Antono Roby Dwi Antono pemuda asal Ambarawa, Jawa Tengah lahir pada 31 Oktober 1990, ia adalah seorang seniman muda Indonesia yang menetap di Yogyakarta. Roby lebih dikenal sebagai pelukis pop surealis atau perupa dengan gaya surealis.ketertarikannya terhadap seni sudah Roby tunjukan sejak kecil,ia mempunyai kebiasaan menggambar. Dari kegiatan menggambar ini lah yang membuat Roby ingin lebih mendalami lagi di dunia lukis. Sejak pertama kali melihat lukisan California Brown Bear, objeknya beruang coklat yang ada di tengah-tengah hutan pinus, karya Mark Ryden, Roby sangat tertarik dan dari sini lah ia terinspirasi. Sejak saat melihat lukisan karya Mark Ryden, ia mulai mencari tau siapa Mark Ryden dan seperti apa gaya yang di pakai Mark Ryden


8 dalam menuangkan imajinasinya, salah satu alasan Roby terinspirasi yaitu dari cara Mark Ryden dalam menuangkan imajinasinya,penuh teka-teki dan misteri. Walaupun ia sangat terinspirasi dari lukisan Mark Ryden, Roby sudah berkarya sejak tahun 2011 ia mampu menegaskan ciri khas dalam tiap karyanya, yang tidak hanya berupa lukisan di atas kanvas, namun juga seringkali berupa drawing. Memadukan unsur lembut, cute, sendu, dan seringkali menyelipkan sentuhan macabre, karya-karya Roby sarat akan kesan dramatik, melankolis, dan menimbulkan ironi dari unsur yang bertentangan di dalamnya.Kecintaannya terhadap hewan kelinci, Roby membuat lukisan dengan objek kelinci atau yang disebutnya sebagai kincy.Kelinci seringkali menjadi alterego sang seniman, yang selalu membawa cerita berbeda di tiap karya. Seperti karya Ballad of a Hero #3 yang menampilkan sosok kelinci berbadan gadis perempuan yang duduk di samping kepala tokoh ranger merah dan masih banyak lagi. Ketertarikannya terhadap seni ini lah yang menghantarkan Roby pada bangku pendidikan menengah kejuruan grafika dengan peminatan desain grafis. Roby sempat bekerja setahun di Batam, kemudian ia pindah ke Jogja untuk melanjutkan kuliah di jurusan desain grafis ISI Yogyakarta, di Jogja ia bekerja sebagai desainer grafis. Lulusan SMK Grafika Semarang ini memiliki pengalaman yang berbeda dari seniman seniman lainnya. Dari pengalaman yang sudah ditempuhnya, ia belajar menggunakan karya seni dengan aplikasi computer. Setelahnya barulah ia mulai melukis di atas kanvas. Tapi karya karyanya tidak langsung diterima oleh pecinta seni Tanah Air. Roby sama sekali tidak memenanginy, Februari 2017. Meskipun ditolak akan tetapi Roby tidak pantang menyerah, ia terus mengasah kemampuannya dan terus melukis dengan ciri khasnya. Awal mula Roby dikenal banyak kalangan pecinta seni dan masyarakat pada tahun 2012, ia mampu mengadakan pameran tunggal di Tirana Art House And Kitchen,Mantrijeron Yogyakarta dengan tema “Pilu Lalu”. Pada pertengahan Mei 2016, Roby sempat digandeng oleh Galerie Stephanie untuk berpartisipasi dalam gelar seni bergengsi di Jepang. Pada tahun 2016 juga lebih tepatnya bulan Juni,Roby juga terlibat dalam pameran bersama “Fundamental 2.0”. Setelah penolakan pada tahun 2012,ia mengadakan pameran tunggal dengan tema “Imajinasi” di Tirana Art House And Space Yogyakarta dan pameran tunggal dengan tema “The Way of Grace” digelar bersama dengan Srisanti Syndicate pada helatan Bazar Art Jakarta . Keyakinannya membuahkan hasil, pada tahun 2017, karya lukisan Roby ditampilkan di Art Stage Singapore dan satu bulan setelah di pajang , karyanya Roby juga dipamerkan pada Art Fair Philippines. Karyannya menembus Amerika Serikat saat ia ikut serta pada pameran Thinkspace di Los Angeles pada Februari 2020, dan padatahun yang sama tepatnya pada bulan Desember, karya Roby dipamerkan di London,Inggris. Karyannya makin diakui dunia takkala digunakan sebagai sampul album band denga genre dream pop asal Denmark Sleep Party People. Tak hanya itu,cover album Heand in the Cloud milik Rich Brian juga mendapatkan sentuhannya . Setelah itu, pada Juni 2021, lukisannya yang berjudul Lonesome Hero #3 dijual dengan angka 30 ribu Dollar AS di lrmbaga lelang seni Artsy. tal 2.0"at dalam pameran bersama " seni bergengsi di terus melukis dengan ciri khasnya Setelah pencapaianpencapaiannya selama ini, Roby banyak di liput banyak media bahkan ia di wawancarai banyak wartawan pecinta seni, ia banyak di tanyai wartawan soal bagaimana perjuangannya diterima oleh para pecinta seni, bagaimana ia mengembangkan karyannya sehingga saat mendengar nama Roby Dwi Antono orang orang mengingat lukisannya dengan ciri khasnya, wartawan juga mengajukan pertanyaan makna dari setiap karyanya yang di dalamnya terdapat teka teki. Dan dari sini lah Roby di kenal banyak orang.


9 Raden Saleh Syarif Bustaman Raden Saleh Syarif Bustaman atau lebih dikenal sebagai Raden Saleh adalah pelukis Hindia Belanda beretnis Arab-Jawa. Lahir pada 30 Mei 1811 istrinya bernama Raden Ayu Danudirja Ayahnua bernama sayyid Husen Bin Alwi Yahya Pada usia 15 tahun, Raden Saleh mulai belajar melukis di bawah bimbingan pelukis belanda, A.J Payen. Setelah menyelesaikan pelajaran dasarnya , ia melanjutkan studinya ke Batavia dan belajar di bawah pengawasan Nicolas Pieneman, seorang pelukis belanda terkenal pada masa itu. Setelah beberapa tahun belajar di Batavia Raden Saleh melanjutka studinya ke Eropa, Dua tahun pertama di Eropa ia pakai untuk memperdalam bahasa Belanda dan belajar teknik mencetak menggunakan batu. Sedangkan soal melukis, selama lima tahun pertama, ia belajar melukis potret dari Cornelis Kruseman dan tema pemandangan dari Andreas Schelfhout Raden Saleh makin dikenal, sehingga ia berkesempatan berpameran di Den Haag dan Amsterdam. Saat pemerintahan Raja Willem II (1792-1849) ia mendapat dukungan serupa. Beberapa tahun kemudian ia dikirim ke luar negeri untuk menambah ilmu,[6] misalnya Dresden, Jerman. Di sini ia tinggal selama lima tahun dengan status tamu kehormatan Kerajaan Jerman, dan diteruskan ke Weimar, Jerman. Ia kembali ke Belanda tahun 1844. Selanjutnya ia menjadi pelukis istana kerajaan Belanda. Wawasan seninya pun makin berkembang seiring kekaguman pada karya tokoh Ferdinand Victor Eugene Delacroix ,pelukis Prancis legendaris. Ia pun terjun ke dunia pelukisan hewan yang dipertemukan dengan sifat agresif manusia. Mulailah pengembaraannya ke banyak tempat, untuk menghayati unsur-unsur dramatika yang ia cari. Saat di Eropa, ia menjadi saksi mata revolusi Februari 1848 di Paris, yang mau tak mau memengaruhi dirinya. Dari Prancis ia bersama pelukis Prancis kenamaan, Horace Vernet, ke Aljazair untuk tinggal selama beberapa bulan pada tahun 1846. Di kawasan inilah lahir ilham untuk melukis kehidupan satwa di padang pasir. Pengamatannya itu membuahkan sejumlah lukisan. Selain sebagai pelukis raden Saleh juga terlibat dalam politik dan berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Ia ikut serta dalam perjuangan untuk menghapus sistem tanam paksa, ia juga mendukung hak-hak pribumi di Indonesia. Selama hidupnya, banyak pejabat dan bangsawan Eropa yang mengagumi Raden Saleh. seperti bangsawan Sachsen Coburg-Gotha, keluarga Ratu Victoria, Johannes van den Bosch, Jean Chrétien Baud, dan Herman Willem Daendels. Dan beberapa penghargaan yang pernah ia dapatkan, di antaranya terdapat bintang Ridder der Orde van de Eikenkoon (R.E.K.), Commandeur met de ster der Frans Joseph Orde (C.F.J.), Ksatria Orde Mahkota Prusia (R.K.P.), dan Ridder van de Witte Valk (R.W.V.). Raden Saleh meningal pada tangal 23 Apri 1880 Bultenzory, Hindia belanda ia dimakamkan di Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Secara keseluruhan, Raden Saleh Syarif Bustaman adalah seorang seniman visioner yang membawa perubahan penting dalam seni lukis Indonesia, serta menginspirasi dan memberikan pengaruh positif bagi generasi seniman berikutnya. Affandi Koesoma adalah maestro seni lukis Indonesia. Dia lahir pada tanggal 18 Mei 1907 di Cirebon. Ayahnya, R. Koesoma dan Ibunya Ladjem, bekerja sebagai mantri ukur pabrik gula. Peruntungan ini membuat Affandi kecil berkesempatan mengecap berbagai tingkat bangku pendidikan (dalam sistem kolonial Belanda) mulai dari HIS, MULO, dan AMS; sebuah peruntungan yang memang tidak banyak bisa dirasakan teman sebayanya.


10 Dengan bakat lukis dan minat seni yang mengalahkan disiplin ilmu lain, Affandi, sebelum menjadi pelukis besar, dia adalah tukang sobek karcis dan pembuat iklan. Menginjak usia 26 tahun, ia menikahi Maryati dan dikaruniai Kartika Affandi, matahari lain dalam wujud seorang putri. Affandi mulai melukis dengan bergabung dalam kelompok seniman Lima Bandung yang menjadi tempat berkumpulnya pelukis kenamaan Hendra Gunawan, Barli, Sudarso, dan Wahdi, dan Affandi sendiri sebagai ketua. Selain itu, nama maestro lukis ini pernah menuai 'kontroversi' pada masa-masa Orde Baru terkait keterlibatannya dalam kepemimpinan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Pada 1943, pameran tunggal pertama Affandi diadakan di Gedung Poetra Djakarta. Sejak itu, Affandi berubah menjadi matahari. Lebih dari 2000 karya lukis dihasilkan begawan warna Indonesia ini. Dan matahari lukisnya terus bersinar di benua Asia, Eropa, Amerika dan Australia. Sederet penghargaan yang telah dicapau Affandi Koesoema di dunia seni antaranya sebagai berikut. Piagam Anugerah Seni, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1969 Doktor Honoris Causa dari University of Singapore, 1974 Dag Hammarskjöld, International Peace Prize (Florence, Italia, 1997) Bintang Jasa Utama, tahun 1978 Pelukis Ekspresionis Baru Indonesia oleh Koran International Herald Tribune Gelar Grand Maestro di Florence, Italia Meski dunia internasional menyebut Affandi terpayungi dalam genre ekspresionisme, sang Begawan Lukis ini menyatakan tidak mengenal aliran seperti itu dalam karyanya. Dalam melukis Affandi melangkah dengan lebih mengutamakan kebebasan berekspresi. Dilandasi jiwa kerakyatan, Affandi tertarik dengan tema kehidupan masyarakat kecil. Teknik melukis bentuk bahkan yang cenderung memerintah objeknya seperti yang dilakukan angkatan Moi India atau India Jelita, dirasakan Affandi tidak mewakili kondisi masyarakat dengan kemelaratan akibat penjajahan. Pada 23 Mei 1990 Affandi meninggal dunia. Meski telah tiada, karya-karyanya masih dapat dinikmati di Museum Affandi. Museum yang diresmikan oleh Fuad Hassan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ketika itu dalam sejarahnya telah pernah dikunjungi oleh Mantan Presiden Soeharto dan Mantan Perdana Menteri Malaysia Dr. Mahathir Mohammad pada Juni 1988 kala keduanya masih berkuasa. Museum ini didirikan tahun 1973 di atas tanah yang menjadi tempat tinggalnya. Belajar dari Affandi Koesoema yang lebih mengutamakan kebebasan berekspresi. Sikap sang maestro yang tidak gemar berteori dan lebih suka bekerja secara nyata ini dibuktikan dengan kesungguhan dirinya menjalankan profesi sebagai pelukis yang tidak cuma musiman pameran. Arie Smith Arie Smith dikenal sebagai seorang pelukis dari Belanda yang kemudian menetap dan berkarya di Bali. Lahir pada tanggal 15, Aperil 1916 di Zaandam, Belanda. Dengan nama Adrianus Wilhemus Smith, Arie adalah anak tertua dari delapan saudaranya dan ia adalah satu- satunya yang erbakat dalam seni lukis. Ayahnya adalah seorang saudagar keju, bernama Johannes Smith dan Ibunya bernama Elisabeth Ahling. Ia pernah menempuh pendidikan di Rotterdam, Belanda. Arie Smith sejak kecil sudah memperlihatkan ketertarikan akan keindahan alam dengan pesona warnawarni alami dan artistik. Hal ini yang membuatnya memilih sekolah seni, Akademi Seni Rupa di Rotterdam, Belanda. Selama menempuh pendidikan di Rotterdam, ia


11 berkenalan dan bersahabat dengan seorang anak Indonesia. Kisah sahabatnya mengenai Indonesia, dengan pemandangan menakjubkan hutan tropis, pegunungan, lembah, dan berbagai hewan daerah tropis menggugah hasratnya untuk mengunjungi Indonesia suatu saat kelak. Belum tuntas pendidikan, ia memilih ikut dalam aktivitas wajin militer, dan bergabung pada tahun 1934 saat ia berusia 18 tahun dengan ketentaraan Belanda. Ia diberangkatkan pada tahun 1938 untuk bertugas di Hindia Belanda. Tiba di Indonesia ia awalnya bekerja sebagai litografer di Jawatan Tipografi Jakarta dengan bekerja sambilan sebagai seorang pelukis, belajar seni grafis, dan bahasa Indonesia. Ia berteman akrab dengan Pelukis sudjojono seorang pendiri Persagi. Pada saat Jepang datang ia ditangkap dan pada bulan Maret 1942 ia dikirim ke Muangthai sebagai Romusa untuk membangun rel kereta api. Ia dibebaskan ketika Jepang telah takluk, dan dikembalikan ke Indonesia pada saat Indonesia telah merdeka. Saat dimana Belanda pada tanggal 27 Desember 1949 mengakui kedaulatan Indonesia yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Ia memperoleh kewarganegaraan Indonesia pada tahun 1951. Pada tahun 1956 dia berkunjung ke Bali untuk pertama kalinya, dan akhirnya memutuskan untuk menetap di Bali. Pelukis ini sebelumnya pernah tinggal menetapdi Bandung, da menjadi staff pengajar Seni Rupa ITB. Tetapi karena ia tidak betah maka ia pindah ke Bali. Konon berbeda dengan rekan rekan sesama pengajar. Kini ia tinggal dirumah sewaan Sanur, hidup membujang hanya makan roti atau sayur yang dibelikan seorang pembantu yang tinggal bersamnya. kabarnya hubungan dengan keluarganya di Belanda telah putus. dengan bercelana pendek dan bersandal, ia gemar bersepeda ke desa desa. Dia juga mendirikan aliran Young Artist di Penestanan, Ubud, Bali sekitar tahun 1960-an. Sampai umurnya 80 tahun yaitu tahun 1996, dia telah pindah tempat lebih dari 30 kali dari satu tempat ke tempat yang lain di Bali, untuk melihat apa yang ada di balik bukit berikutnya. Arie smit merupakan sosok seniman yang selalu mencari ketenangan dan kejernihan dalam hidup, dan ia menyukai tempat yang sunyi. Sikap personal ini sangat bertolak belakang dengan karya-karyanya yang hampir semuanya kaya dengan warna yang terang dan cerah. Sebagai pengakuan atas peran-Nya dalam perkembangan seni lukis di pulau itu, Smith menerima Dharma Kusama (Bunga pengabdian, penghargaan budaya Bali) pada tahun 1992 dari pemerintah Bali. pavilium Arie Smith dibuka di Museum Seni Neka pada tahun 1994 untuk memajang karya- karyanya dan seniman kontemporer Bali. Museum Bali di Denpasar dan Museum Penang di Malaysia juga memiliki koleksi karyanya. Arie Smith menyumbangkan 50 karya seni, separuhnya adalah karya anak didiknya yang sudah di beli. Smith selanjutnya mengadakan pameran di Jakarta, Singapura, Hololu, dan Tokyo. Dia meninggal dunia pada 23, Maret 2016 di Denpasar, Bali. Belajar dari biografi Arie Smith, untuk mengukir sebuah prestasi dalam suatu bidang, seseorang harus menekuni bidang tersebut dan merasa senang saat menjalaninya. Untuk sampai pada titik ini, tidak didapatkanya dengan mudah. Perjuangan yang ia lakukan, bahkan dilakukan sampai keluar dari zona nyamanya, hingga berpindah negara. Pengalaman hidupnya mengantarkan ia pada cita- citanya. Untuk mengenang Arie Smith, sebuah monografi lengkap muncul “Arie Smith- Kehidupan Seorang Pelukis di Daerah Tropis”. Ditulis oleh keponakanya, Lucienne Smith (1953, Koongaan De Zaan), diterbitkan dalam bahasa Belanda dan Inggris. EBIET G. ADE Ebiet G. Ade (kelahiran di Wanadadi, Banjarnegara, Jawa Tengah, 21 April 1954) merupakan seorang penyanyi dan penulis lagu berkewarganegaraan Indonesia. Ebiet dikenal dengan lagu-lagunya yang bertemakan dunia dan duka derita gugusan tersisih. Lewat lagu-lagunya yang


12 ber-genre balada, pada permulaan karirnya, ia 'memotret' suasana kehidupan Indonesia pada kesudahan tahun 1970-an hingga kini. Tema lagunya beragam, tidak hanya mengenai cinta, tetap mempunyai juga lagu-lagu bertemakan dunia, sosial-politik, bencana, religius, keluarga, dll. Sentuhan musiknya sempat mendorong pembaruan pada dunia musik pop Indonesia. Semua lagu ditulisnya sendiri, ia tidak pernah menyanyikan lagu yang dibuat orang lain, kecuali lagu Surat dari Desa yang ditulis oleh Oding Arnaldi dan Mengarungi Keberkahan Tuhan yang ditulis bersama dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Terlahir dengan nama Abid Ghoffar bin Aboe Dja'far di Wanadadi, Banjarnegara, merupakan anak termuda dari 6 bersaudara, anak Aboe Dja'far, seorang PNS, dan Saodah, seorang pedagang kain. Dahulu ia memendam jumlah cita-cita, seperti insinyur, dokter, pelukis. Semuanya melenceng, Ebiet malah berlaku penyanyi - kendati ia lebih suka disebut penyair karena latar belakangnya di dunia seni yang berawal dari kepenyairan. Menikah dengan Koespudji Rahayu Sugianto (atau lebih dikenal sebagai Yayuk Sugianto, kakak penyanyi Iis Sugianto) pada tanggal 4 Februari 1982, ia dikaruniai 4 anak, 3 laki-laki dan 1 perempuan: Abietyasakti "Abie" Ksatria Kinasih (kelahiran 8 Desember 1982) Aderaprabu "Dera" Lantip Trengginas (kelahiran 6 Januari 1986) Byatriasa "Yayas" Pakarti Linuwih (kelahiran 6 April 1987) Segara "Dega" Banyu Bening (kelahiran 11 Desember 1989) Mereka bertempat tinggal di daerah Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Anak sulung Ebiet, Abie juga memiliki bakat musik, dan sering mewakili Ebiet dalam mengecek sound system menjelang ayahnya manggung. Anak keduanya pun sudah merambah ke dunia musik, dan dikenal dengan nama panggung Adera. Ebiet juga seorang penggemar golf, namun sejak terjadinya bencana tsunami 2004, ia tidak pernah lagi bermain golf. Setelah lulus SD, Ebiet masuk PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) Banjarnegara. Sayangnya ia tidak betah sehingga pindah ke Yogyakarta. Sekolah di SMP Muhammadiyah 3 dan melanjutkan ke SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Di sana ia giat di PII (Pelajar Islam Indonesia). Namun, ia tidak bisa melanjutkan kuliah ke Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada karena ketiadaan biaya. Ia lebih memilih bergabung dengan grup vokal masa ayahnya yang pensiunan memberinya opsi: Ebiet masuk FE UGM atau kakaknya yang baru ujian lulus berlaku sarjana di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Nama Ebiet didapatnya dari pengalamannya kursus bahasa Inggris semasa SMA. Gurunya orang asing, biasa memanggilnya Ebiet, mungkin karena mereka mengucapkan A menjadi E. Terinspirasi dari tulisan Ebiet di segi punggung kaos merahnya, lama-lama ia lebih sering dipanggil Ebiet oleh teman-temannya. Nama ayahnya dipakai sebagai nama belakang, disingkat AD, selanjutnya ditulis Ade, sesuai bunyi penyebutannya, Ebiet G. Ade. Sekiranya dipanjangkan, ditulis sebagai Ebiet Ghoffar Aboe Dja'far. Sering keluyuran tidak keruan, dahulu Ebiet dekat dengan sekeliling yang terkait seniman muda Yogyakarta pada tahun 1971. Tampaknya, sekeliling yang terkait inilah yang membentuk persiapan Ebiet untuk mengorbit. Motivasi terbesar yang membangkitkan kreativitas penciptaan karya-karyanya merupakan masa bersahabat dengan Emha Ainun Nadjib (penyair), Eko Tunas (cerpenis), dan E.H. Kartanegara (penulis). Malioboro menjadi semacam rumah untuk Ebiet masa kiprah kepenyairannya diolah, karena pada masa itu jumlah seniman yang berhimpun di sana. Meski dapat membuat puisi, ia mengaku tidak dapat apabila dipersilakan sekedar mendeklamasikan puisi. Dari ketidakmampuannya membaca puisi secara langsung itu, Ebiet mencari cara supaya tetap dapat membaca puisi dengan cara yang lain, tanpa wajib berdeklamasi. Caranya, dengan menggunakan musik. Musikalisasi puisi, begitu istilah yang dipakai dalam sekeliling yang terkait kepenyairan, seperti yang jumlah diterapkannya pada puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Sebagian puisi Emha bahkan sering dilantunkan Ebiet dengan petikan gitarnya. Walaupun begitu, masa masuk dapur rekaman, tidak sebiji pun syair Emha yang turut dinyanyikannya. Hal itu terjadi karena ia pernah diledek


13 teman-temannya supaya membuat lagu dari puisinya sendiri. Pacuan semangat dari teman-temannya ini melecut Ebiet untuk melagukan puisi-puisinya. Ebiet pertama kali belajar gitar dari kakaknya, Ahmad Mukhodam, lalu belajar gitar di Yogyakarta dengan Kusbini. Semula ia hanya menyanyi dengan menggelar pentas seni di Senisono, Patangpuluhan, Wirobrajan, Yogyakarta dan juga di Jawa Tengah, memusikalisasikan puisi-puisi karya Emily Dickinson, Nobody, dan memperoleh tanggapan positif dari pemirsanya. Walau begitu ia masih menganggap kegiataannya ini sebagai hobi belaka. Namun atas sorongan para sahabat tidak jauhnya dari PSK (Persada Studi Klub yang dibangun oleh Umbu Landu Paranggi) dan juga kenalannya satu kos, akhir-akhirnya Ebiet bersiap juga maju ke dunia belantika musik Nusantara. Setelah berkali-kali tidak diterima di beragam perusahaan rekam, akhir-akhirnya ia diterima di Jackson Record pada tahun 1979 Jika semula Ebiet enggan meninggalkan pondokannya yang tidak jauh dari pondok keraton, karenanya fakta telah menunjuk perlintasan lurus untuknya ke Jakarta. Ia melalui rekaman demi rekaman dengan sukses. Sempat juga ia melakukan rekaman di Filipina untuk mencapai hasil yang lebih adun, yakni album Camellia III. Tetapi, ia menolak merekam lagulagunya dalam bahasa Jepang, masa ia memperoleh kesempatan tampil di depan publik di sana. Pernah juga ia melakukan rekaman di Capitol Records, Amerika Serikat, untuk album ke-8-nya Zaman. Ia menyertakan Addie M.S. dan Dodo Zakaria sebagai rekan yang membantu musiknya. Lagu-lagunya menjadi trend baru dalam khasana musik pop Indonesia. Tak ajab, Ebiet sempat merajai dunia musik pop Indonesia di kisaran tahun 1979-1983. Sekitar 7 tahun Ebiet mengerjakan rekaman di Jackson Record. Pada tahun 1986, perusahaan rekam yang melambungkan namanya itu tutup dan Ebiet terpaksa keluar. Ia sempat mendirikan perusahaan rekam sendiri EGA Records, yang memproduksi 3 album, Menjaring Matahari, Sketsa Rembulan Emas, dan Seraut Wajah. Sayang, pada tahun 1990, Ebiet yang "gelisah" dengan Indonesia, akhir-akhirnya memilih "bertapa" dari hingar bingar indutri musik dan memilih berdiri di pinggiran saja. Baru pada tahun 1995 ia mengeluarkan album Kupu-Kupu Kertas (didukung oleh Ian Antono, Billy J. Budiardjo (alm), Purwacaraka, dan Erwin Gutawa) dan Cinta Sebening Embun (didukung oleh Adi Adrian dari KLa Project). Pada tahun 1996 ia mengeluarkan album Aku Mau Pulang (didukung oleh Purwacaraka dan Embong Rahardjo). Dua tahun berikutnya ia mengeluarkan album Gamelan yang memuat 5 lagu lama yang diaransemen ulang dengan musik gamelan oleh Rizal Mantovani. Pada tahun 2000 Ebiet mengeluarkan album Balada Sinetron Cinta dan tahun 2001 ia mengeluarkan album Bahasa Langit, yang didukung oleh Andi Rianto, Erwin Gutawa dan Tohpati. Setelah album itu, Ebiet mulai lagi menyepi selama 5 tahun ke depan. Ebiet merupakan salah satu penyanyi yang mendukung album Kita Untuk Mereka, sebuah album yang dikeluarkan selaras dengan terjadinya tsunami 2004, bersama dengan 57 musisi lainnya. Ia memang seorang penyanyi spesialis tragedi, terbukti lagu-lagunya sering menjadi tema bencana. Pada tahun 2007, ia mengeluarkan album baru berjudul In Love: 25th Anniversary (didukung oleh Anto Hoed), setelah 5 tahun tidak benar rekaman. Album itu sendiri merupakan peringatan buat ulang tahun pernikahan ke-25-nya, bersama pula 13 lagu lain yang masih dalam aransemen lama Kemunculan kembali Ebiet pada 28 September 2008 dalam cara Zona 80 di Metro TV cukup menjadi obat untuk para penggemarnya. Dengan dihadiri para sahabat di selangnya Eko Tunas, Ebiet G Ade membawakan lagu lama yang pernah popular pada dekade 80-an. Sebagian agung lagu Ebiet G. Ade didasarkan mengenai bencana. Di bulan Juni 1978, ia menulis " Berita Untuk Kawan " setelah bencana gas beracun di Dataran Tinggi Dieng. Pada tahun 1981, ia menulis " Sebuah Tragedi 1981 " mengenai tenggelamnya KMP Tampomas II di Kepulauan Masalembu. Setelah letusan Gunung Galunggung pada 1982, ia menulis " Untuk Kita Renungkan ". Lagu " Masih Mempunyai Masa " juga didasarkan masa kejadian kecelakaan kereta api Bintaro.


14 Johanes Taslim Johannes Taslim kelahiran 23 Juni 1981 (umur 41) Palembang, Sumatra Selatan, Indonesia kebangsaan: Indonesia nama lain: Joe Taslim pekerjaan: Aktor, Model, atlet, Bintang Iklan tahun aktif: 1997 – 2009 (sebagai atlet), 2008 – sekarang (sebagai aktor) Istri: Julia Taslim (m. 2004) Anak: 3 Orang tua: Mardjuki Taslim (ayah), Maria Goretty (ibu) Bela diri dan olah raga Taslim sudah mempelajari bela diri sejak usia dini. Ia menguasai wushu, judo, taekwondo, dan pencak silat.[1] Akan tetapi, ia lebih menyukai Judo dan keputusan ini menjadikannya atlet judo profesional bersama dengan kakaknya, Peter Taslim yang lebih dahulu menekuni judo. Ia memenangkan beberapa medali emas di kejuaraan nasional, satu medali emas di kejuaraan judo Asia Tenggara 1999, dua medali perunggu di SEA Games 2001 dan SEA Games 2005, serta satu medali perak di SEA Games 2007. Taslim adalah anggota tim nasional judo Indonesia sejak 1997 sampai 2009. Setelah sempat mengalami cedera pasca SEA Games 2009, ia memutuskan pensiun. Taslim juga aktif sebagai model dan aktor di sela-sela ia tidak bertanding di SEA Games. Ia tampil di berbagai majalah, iklan televisi, dan sejumlah film Indonesia. Pada tahun 2008–2009 (pasca pensiun sebagai atlet judo), Joe Taslim mengikuti beberapa casting untuk menjadi aktor di dunia perfilman, hingga pada tahun 2010, Taslim mendapatkan pecan sebagai Jaka, sersan pasukan khusus di film The Raid: Redemption, setelah mengikuti serangkaian audisi baku hantam.[3] Setelah The Raid, Taslim terlibat dalam film laga horor pertama buatan HBO Asia, Dead Mine, yang dirilis di sejumlah negara Asia pada September 2012 dan ditayangkan perdana di semua saluran televisi HBO Asia Pada Juli 2012, Variety melaporkan bahwa Taslim terlibat dalam film Fast and Furious 6 (2013). Keikutsertaannya dalam Fast and Furious 6 terjadi setelah ia ditunjuk dari Universal Pictures untuk bermain di film tersebut dan dengan mengirimkan sebuah “video audisi” yang dibantu oleh Gareth Evans pasca shooting film The Raid: Redemption. Taslim memerankan tokoh antagonis Jah, seorang mantan tentara yang merupakan pembunuh berdarah dingin, dan memakai kemampuan bela diri dan parkournya untuk melawan para protagonisnya, Dominic Toretto (Vin Diesel) dan Brian O’Conner (Paul Walker). Pada tahun 2016, Taslim kembali membintangi film besar Hollywood Star Trek Beyond. Dalam film tersebut, ia memerankan tokoh alien bernama Manas.[8] Selain itu, Joe juga membintangi film komedi-laga Hit & Run, sebuah film komedi-laga Indonesia tahun 2019 yang dibintangi oleh Joe Taslim, Jefri Nichol, Tatjana Saphira, Yayan Ruhian, Chandra Liow dan Nadya Arina sebagai pemeran utama. Film ini menjadi film dengan genre komedi-laga pertama di Indonesia. Tidak hanya itu, beberapa film besar lain sudah memastikan Joe ikut dalam film mereka. Ada beberapa film lagi yang sudah pasti akan dilakoni Joe dalam beberapa tahun kedepan, seperti film Sri Asih yang akan tayang pada tahun 2020. Disana, Joe akan berperan sebagai Mandala, yang mana film Sri Asih ini salah satu film dari beberapa film yang ada dalam Jagat Sinema Bumilangit. Film yang menceritakan pahlawan super asli Indonesia yang diambil dari cerita komik masa lalu. Sedangkan untuk film Mandala Golok Setan sendiri, Joe yang berperan sebagai Mandala akan diproduksi dalam 3-4 tahun mendatang. Selain itu, kabar baik dari permainan video fenomenal Mortal Kombat akan mengadaptasi permainan video populer itu kedalam film layar lebar. Joe memerankan karakter Sub-Zero yang merupakan salah satu karakter asli dari permainan video Mortal Kombat pertama. SubZero memiliki kemampuan bela diri yang hebat dan memiliki kemampuan bisa mengendalikan es. Film tersebut akhirnya dirilis pada 2021, setelah sebelumnya tertunda karena pandemi COVID-19. Prestasi:


15 South East Asia Judo Championship Singapore 1999 – Medali Emas SEA Games 2001 – Medali Perunggu SEA Games 2005 – Medali Perunggu SEA Games 2007 – Medali Perak Pekan Olahraga Nasional 2008 – Medali Emas AFFANDI KOESOEMA Affandi Koesoma adalah maestro seni lukis Indonesia. Dia lahir pada tanggal 18 Mei 1907 di Cirebon. Ayahnya, R. Koesoma dan Ibunya Ladjem, bekerja sebagai mantri ukur pabrik gula. Peruntungan ini membuat Affandi kecil berkesempatan mengecap berbagai tingkat bangku pendidikan (dalam sistem kolonial Belanda) mulai dari HIS, MULO, dan AMS; sebuah peruntungan yang memang tidak banyak bisa dirasakan teman sebayanya. Dengan bakat lukis dan minat seni yang mengalahkan disiplin ilmu lain, Affandi, sebelum menjadi pelukis besar, dia adalah tukang sobek karcis dan pembuat iklan. Menginjak usia 26 tahun, ia menikahi Maryati dan dikaruniai Kartika Affandi, matahari lain dalam wujud seorang putri. Affandi mulai melukis dengan bergabung dalam kelompok seniman Lima Bandung yang menjadi tempat berkumpulnya pelukis kenamaan Hendra Gunawan, Barli, Sudarso, dan Wahdi, dan Affandi sendiri sebagai ketua. Selain itu, nama maestro lukis ini pernah menuai 'kontroversi' pada masa-masa Orde Baru terkait keterlibatannya dalam kepemimpinan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Pada 1943, pameran tunggal pertama Affandi diadakan di Gedung Poetra Djakarta. Sejak itu, Affandi berubah menjadi matahari. Lebih dari 2000 karya lukis dihasilkan begawan warna Indonesia ini. Dan matahari lukisnya terus bersinar di benua Asia, Eropa, Amerika dan Australia. Sederet penghargaan yang telah dicapau Affandi Koesoema di dunia seni antaranya sebagai berikut. • Piagam Anugerah Seni, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1969 • Doktor Honoris Causa dari University of Singapore, 1974 • Dag Hammarskjöld, International Peace Prize (Florence, Italia, 1997) • Bintang Jasa Utama, tahun 1978 • Pelukis Ekspresionis Baru Indonesia oleh Koran International Herald Tribune • Gelar Grand Maestro di Florence, Italia Meski dunia internasional menyebut Affandi terpayungi dalam genre ekspresionisme, sang Begawan Lukis ini menyatakan tidak mengenal aliran seperti itu dalam karyanya. Dalam melukis Affandi melangkah dengan lebih mengutamakan kebebasan berekspresi. Dilandasi jiwa kerakyatan, Affandi tertarik dengan tema kehidupan masyarakat kecil. Teknik melukis bentuk bahkan yang cenderung memerintah objeknya seperti yang dilakukan angkatan Moi India atau India Jelita, dirasakan Affandi tidak mewakili kondisi masyarakat dengan kemelaratan akibat penjajahan.


16 Pada 23 Mei 1990 Affandi meninggal dunia. Meski telah tiada, karya-karyanya masih dapat dinikmati di Museum Affandi. Museum yang diresmikan oleh Fuad Hassan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ketika itu dalam sejarahnya telah pernah dikunjungi oleh Mantan Presiden Soeharto dan Mantan Perdana Menteri Malaysia Dr. Mahathir Mohammad pada Juni 1988 kala keduanya masih berkuasa. Museum ini didirikan tahun 1973 di atas tanah yang menjadi tempat tinggalnya. Belajar dari Affandi Koesoema yang lebih mengutamakan kebebasan berekspresi. Sikap sang maestro yang tidak gemar berteori dan lebih suka bekerja secara nyata ini dibuktikan dengan kesungguhan dirinya menjalankan profesi sebagai pelukis yang tidak cuma musiman pameran.


17


18


19


20


21


22


23


24


25 Tim Penyusun Koordinator Tristan Respati Parahita Wakil Koordinator Stephen Agung Setiabudi Editor Tristan Respati Parahita, Stephen Agung Setiabudi Cover Design Stephen Agung Setiabudi Background Desing Stephen Agung Setiabudi Back Cover Design Stephen Agung Setiabudi Kata Pengantar Natavicha Setyaning Cahya, Claudia Fereen Emanuella Tim Penyusun Stephen Agung Setiabudi Flippingbook Stephen Agung Setiabudi Penulis: Indro Si Pelawak Tristan Respati Parahita Gregorius Sidharta Soegijo Claudia Fereen Emanuella Benyamin Sueb Natavicha Setyaning Cahya Roby Dwi Antono Firnanda Putri Felisa Raden Saleh Syarif Bustaman Stephen agung Setiabudi Arie Smith Theresa Johanna Ebiet G. Ade Clemens Kiring Johanes Taslim Teudas Putra Efendi Affandi Koesoma Hendrikus Galuh Dwi Wicaksono


26


Click to View FlipBook Version