38 logam paduan aluminium relatif tidak sensitif terhadap konsentrasi oksigen terlarut (Vargel, 2020). 4. Nilai pH lingkungan Nilai pH mencirikan media berair. Nilai ini sangat penting dalam kimia, elektrikimia dan biologi karena membantu memahami reaksi dalam media berair. Presipitasi dari hidroksida dan karbonat tergantung dari nilai pH nya. Material baja terkenal memiliki ketahanan yang buruk terhadap lingkungan asam, sedangkan aluminium memiliki ketahanan yang buruk terhadap lingkungan basa seperti soda api atau garam abu (Vargel, 2020). 5. Suhu lingkungan Kenaikan suhu akan menaikkan laju dari reaksi kimia. Dalam kasus korosi pada logam aluminium, pernyataan ini benar untuk zat anorganik asam dan basa dan juga untuk media organik tertentu termasuk alkohol turunan terklorinasi dan fenol terlebih ketika suhu mendekati titik didihnya. Di sisi lain, pada air yang murni, terdestilasi atau yang memiliki kandungan mineral sangat sedikit, kenaikan suhu dapat mempengaruhi perubahan bentuk korosi pada aluminium karena lapisan oksida dapat bereaksi dengan air membentuk lapisan pelindung boehmit (Vargel, 2020). 6. Komposisi paduan logam Komposisi kimia menjadi satu dari parameter utama dalam ketahanan korosi logam paduan. Semua unsur paduan dapat memberikan pengaruh terhadap ketahanan korosi logam pada level-level tertentu dan dapat juga menentukan jenis korosi yang mudah menyerang, seperti korosi sumuran, korosi batas butir, dan sebagainya. Ketahanan korosi pada logam paduan tergantung pada sifat elektrokimia dari intermetaliknya. Pada paduan aluminium yang sangat murni, ketahanannya terhadap korosi sangat tinggi karena kandungan besi pada paduan jauh lebih rendah dan kerapatan partikel intermetaliknya berkurang (Vargel, 2020). 3.2.4 Proses Terjadi Korosi Seperti yang sudah di bahas sebelumnya bahwa korosi adalah proses degradasi dan menurunnya kualitas material karena reaksi kimia dalam proses elektrokimia dengan lingkungan yang korosif (Arwati, Izzati, & Arifin, 2016). Reaksi elektrokimia terjadi ketika ada perpindahan muatan listrik (elektron) di
39 antara konduktor listrik yaitu logam yang disebut elektroda, dan konduktor ionik yang merupakan larutan air dengan kandungan berbagai macam ion yang disebut elektrolit (Vargel, 2020). Korosi pada logam adalah hasil dari dua reaksi secara serentak yang berada pada keseimbangan listrik. Dua reaksi ini adalah oksidasi dan reduksi. Oksidasi pada logam menghasilkan pengurangan elektron, menurut reaksi dasarnya: M → Mn+ + ne− (3.1) yang menghasilkan arus anodik ia yang mengalir dari logam menuju larutan. Kemudian reaksi reduksi yang menerima elektron di dalam larutan air mengikuti salah satu dari reaksi dasar berikut: Xn+ + ne− → X (3.2) atau X + ne− → Xn− (3.3) yang menghasilkan arus katodik ik yang mengalir berlawanan arah yaitu dari larutan menuju logam. Reaksi oksidasi dan reduksi terjadi di tempat yang berbeda pada permukaan logam. Permukaan di mana terjadi oksidasi disebut anoda yang memiliki muatan negatif dan ditandai dengan tanda (−), arus yang dihasilkan adalah arus anodik. Sedangkan reduksi terjadi pada permukaan yang disebut sebagai katoda, ditandai dengan tanda (+), arus reduksi disebut sebagai arus katodik. Beberapa reaksi anodik dan katodik dapat terjadi secara serentak pada elektroda yang terendam dalam larutan air, pada prinsipnya tanpa tautan langsung. Namun karena ada perpindahan elektron, memungkinkan terjadi interaksi diantara reaksi anodik dan katodik (Vargel, 2020). 3.2.5 Proses Terjadi Korosi pada Aluminium Secara sederhana, proses oksidasi pada aluminium dalam air berlangsung dengan persamaan berikut: Al → Al3+ + 3e− (3.4) Aluminium logam sebagai keadaan oksidasi 0 masuk ke dalam larutan sebagai kation trivalen Al3+ melalui hilangnya tiga elektron. Reaksi ini diseimbangkan oleh reduksi ion yang ada di larutan secara bersamaan untuk menangkap elektron yang
40 lepas. Pada media air yang umum dengan nilai pH mendekati netral seperti air bersih, air laut dan uap, dapat ditunjukkan dengan pertimbangan termodinamika di mana hanya ada dua reaksi reduksi yang dapat terjadi, yaitu reduksi dari proton H+ atau reduksi oksigen terlarut dalam air. Reduksi proton H+ dalam media asam dan netral ditunjukkan dalam persamaan berikut: 3H+ + 3− → 3 2 H2 (3.5) Proton H+ adalah hasil dari penguraian dari air: H2O ↔ H+ + OH− (3.6) Sedangkan reduksi oksigen terlarut dalam air pada media netral atau basa: O2 + 2H2O + 4e− → 4OH− (3.7) Dan reduksi oksigen terlarut dalam air pada media asam: O2 + 4H+ + 4e− → 2H2O (3.8) Dalam lingkungan yang netral atau basa dan deaerasi, reduksi pada air dapat terjadi: 2H2O + 2e− → H2 + 2OH− (3.9) Pada suhu 20o C di bawah tekanan atmosfer yang normal, kelarutan oksigen dalam air adalah 43,4 mg/kg. Kelarutan ini akan berkurang seiring dengan naiknya suhu, pada suhu 40o C kelarutan oksigen hanya 30,8 mg/kg dan pada suhu 80o C hanya 13,8 mg/kg. Secara umum, korosi pada aluminium dalam media berair adalah jumlah dari dua reaksi elektrokimia, oksidasi dan reduksi yaitu seperti pada persamaan (3.4), (3.5) dan persamaan berikut: Al + 3H+ → Al3+ + 3 2 H2 (3.10) Atau Al + 3H2O → Al(OH)3 + 3 2 H2 (3.11) Korosi aluminium menghasilkan pembentukan aluminium hidroksida Al(OH)3, yang mana tidak dapat larut dalam air dan mengendap sebagai gel putih yang seperti biasa ditemukan pada korosi sumuran. Pada korosi, 27 gram aluminium akan membentuk 33,6 liter hidrogen (Vargel, 2020).
41 3.2.6 Chemical Conversion Sebagai Inhibitor Korosi Aluminium Inhibitor korosi adalah zat kimia yang ketika diaplikasikan terhadap suatu lingkungan dalam konsentrasi yang kecil maka secara efektif akan menurunkan laju korosi. Efisiensi dari inhibitor dapat dihitung menggunakan persamaan (3.12) berikut (Roberge, 2000): Efisiensi Inhibitor (%) = 100 (ℎ− ℎ) ℎ (3.12) Di mana: CRuninhibited = Laju korosi dari sistem yang tidak diberi inhibitor CRinhibited = Laju korosi dari sistem yang diberi inhibitor Perlakuan Chemical Conversion bertujuan untuk membentuk lapisan oksida kompleks tipis yang mencapai ketebalan 500 hingga 600 nm. Fungsi dari lapisan conversion ini adalah untuk menghasilkan lapisan pada permukaan aluminium untuk meningkatkan ketahanan korosi dan juga meningkatkan daya rekat cat. Keunggulan dari proses ini adalah waktu perendamannya yang singkat (Vargel, 2020). Pada penelitian ini jenis chemical conversion yang digunakan adalah chromate conversion coating dengan cairan alodine 1200S. Alodine 1200S atau BONDERITE M-CR 1200S AERO merupakan kimia yang digunakan untuk menciptakan lapisan pelindung pada aluminium yang dapat meminimalisir terjadinya korosi dan juga meningkatkan daya rekat yang lebih baik untuk proses pengecatan. Permukaan yang diberikan perlakuan BONDERITE M-CR 1200S AERO akan meninggalkan warna yang keemasan warna-warni mengkilap hingga kecoklatan. Pengaplikasiannya dapat dilakukan dengan cara perendaman, penyemprotan ataupun pengolesan (Henkel, 2019). Chromate conversion coating menghasilkan perlindungan korosi yang baik dan juga menghasilkan pelekatan yang baik untuk cat organik kepada aluminium. Dalam media asam, chromate conversion coating heksavalen yang terdiri dari lapisan campuran endapan kromium dan aluminium oksida / hidroksida terbentuk sebagai hasil dari reaksi berikut: 2Al + Cr2O7 2− + 8H+ ↔ 2Cr(OH)3 + H2O + 2Al3+ (3.13) Dan 6OH− + 2Al3+ → 2Al(OH)3 (3.14)
42 Chromate conversion coating secara umum mengandung fluorida untuk membuat tidak stabil lapisan oksida. Pembentukan lapisan chromate conversion dimulai pada partikel intermetalik katodik dan batas butir. Kemudian lapisan berkembang pada martriks. Oleh karena itu, keberadaan situs katoda diperlukan untuk pengendapan lapisan konversi. Chromate conversion coating melindungi aluminium dan paduannya dengan 3 cara, yaitu: membentuk pelindung yang memisahkan aluminium dari lingkungan luar, bertindak sebagai membran bipolar di mana mereka menghambat adsorpsi ion klorida dan masuknya mereka serta keluarnya kation logam seperti Al3+, ia menyembuhkan diri sendiri karena pencucian ion Cr(VI) yang tersimpan di lapisan konversi (Vargel, 2020). 3.3 Metode Kehilangan Massa Metode kehilangan massa adalah pengujian laju korosi dengan menghitung massa dari benda yang diuji setelah dimasukkan kedalam larutan korosif dengan ketentuan waktu tertentu (Susetyo, Dwiyanti, & Pangestu, 2019). Metode ini digunakan karena peralatan yang sederhana dan dengan hasil yang cukup akurat. Metode ini menggunakan standar ASTM G 31 – 72 untuk standar praktis pengujiannya. Berdasarkan ASTM G 31 – 72 (2004), metode ini memiliki langkah-langkah diantaranya: persiapan spesimen, persiapan peralatan, persiapan kondisi pengujian, pelaksanaan pengujian, pembersihan spesimen setelah pengujian, pengambilan data hasil pengujian, penghitungan laju korosi. Untuk spesimen yang akan diuji diharapkan memiliki rasio permukaan terhadap massa yang besar dan memiliki rasio luas tepi terhadap total luas yang kecil. Rasio ini dapat dicapai dengan menggunakan spesimen dengan bentuk kotak atau lingkaran dengan ketebalan yang minimum. Spesimen berbentuk lingkaran dengan diameter 38 mm adalah bentuk yang nyaman untuk pengujian laboratorium. Sedangkan spesimen berbentuk kotak dengan dimensi 50 × 25 × 1,6 atau 3 mm dapat juga menjadi spesimen yang disarankan untuk pengujian korosi. Selanjutnya, untuk menghitung laju korosi dapat dihitung menggunakan persamaan berikut (Abu-Dalo, Othman, & Al-Rawashdeh, 2012):
43 Laju Korosi () =1−2 At (3.15) Di mana: CR = Laju korosi (mg/cm2 jam) m1 = Massa awal (mg) m2 = Massa akhir (mg) A = Luas permukaan spesimen (cm2 ) t = Waktu perendaman (jam)
44 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengujian Laju Korosi dan Efektivitas Inhibitor Pengujian laju korosi dilaksanakan menggunakan standar ASTM G 31 – 72 dengan tambahan perlakuan inhibisi pada specimen. Metodenya adalah sebagai berikut: 1. Persiapan Spesimen Mempersiapkan spesimen logam paduan aluminium 2219 T62 dan dipotong dengan dimensi 50 mm × 25 mm × 1,8 mm. Kemudian setiap spesimen diberi identifikasi dengan cara diukir lalu diampelas menggunakan kertas ampelas grid 80 untuk menghilangkan lapisan pelindung logam ataupun menghilangkan korosi yang mungkin ada kemudian dihaluskan menggunakan kertas ampelas grid 400. 2. Pembersihan Spesimen Langkah ini diperlukan untuk menghilangkan kotoran, korosi, atau lapisan yang ada pada spesimen yang jika dibiarkan dapat mengganggu keakuratan hasil uji. Larutan yang digunakan untuk pickling yaitu alkaline clean dengan perendaman selama 10 menit dengan suhu 45o C mengikuti standar BAC 5749 (Alkaline Cleaning). Gambar 4.1 Perendaman Spesimen dalam Larutan Alkaline Clean pada Suhu 45o C (Sumber: Pribadi)
45 Setelah itu spesimen dibilas dengan air suling dan dikeringkan. Selanjutnya spesimen direndam lagi dalam larutan deoxidizer pada suhu ruangan selama 5 menit mengikuti standar BAC 5765 (Cleaning and Deoxidizing Aluminum Alloy) setelah itu dibilas lagi menggunakan air suling dan dikeringkan. Gambar 4.2 Perendaman Spesimen dalam Deoxidizer pada Suhu Ruang (Sumber: Pribadi) 3. Pengaplikasian Chromate Conversion Coating Sebelumnya spesimen dipisahkan menjadi tiga kelompok yang nantinya satu kelompok diberi perlakuan Chromate Conversion Coating alodine 1200S, satu kelompok lagi diberi perlakuan Chromate Conversion Coating alodine 1500 dan satu kelompok sisanya tidak diberi perlakuan inhibisi. Spesimen yang mendapatkan perlakuan Chromate Conversion Coating alodine 1200S akan direndam dalam cairan alodine 1200S selama 30 detik dalam suhu ruangan, kemudian dibilas menggunakan air suling dan dikeringkan mengacu pada Bonderite M-CR 1200S Aero Technical Data Sheet.
46 Gambar 4.3 Perendaman Spesimen dalam Larutan Alodine 1200S (Sumber: Pribadi) Gambar 4.4 Spesimen Setelah Diberi Inhibisi Alodine 1200S (Sumber: Pribadi) 4. Mencatat Massa Awal Spesimen Semua spesimen ditimbang satu per satu menggunakan timbangan yang memiliki ketelitian setidaknya 0,001g kemudian dicatat sesuai identifikasinya sebagai massa awal.
47 Gambar 4.5 Penimbangan Spesimen (Sumber: Pribadi) 5. Proses Perendaman Spesimen Proses perendaman spesimen menggunakan air hujan yang diambil di Kota Tangerang, Banten. Selanjutnya spesimen paduan aluminium 2219 dimasukkan dalam wadah perendaman dan diberikan identifikasi pada tiap-tiap wadah perendaman. Perendaman dilaksanakan selama 336 jam, 504 jam dan 672 jam pada suhu ruang (28o C). Gambar 4.6 Perendaman Spesimen dalam Air Hujan (Sumber: Pribadi)
48 6. Pembersihan Spesimen Setelah Perendaman Setelah proses perendaman spesimen selesai, kemudian spesimen diangkat dan dibersihkan dari korosi yang terbentuk dengan cara mekanikal menggunakan kertas ampelas kemudian dilanjutkan dengan pembersihan kimia (pickling) seperti pada langkah kedua dalam metode penelitian ini. 7. Mencatat Massa Akhir Spesimen Setelah spesimen dibersihkan, kemudian spesimen ditimbang kembali massanya setelah proses pengujian dan dicatat sesuai identifikasinya sebagai massa akhir yang nantinya akan dihitung kehilangan massanya. 8. Menghitung Laju Korosi dan Efisiensi Inhibitor Perhitungan laju korosi dilaksanakan pada setiap logam uji sesuai identifikasinya baik yang diberi perlakuan Chromate Conversion Coating maupun yang tidak dan nantinya akan dihitung efisiensi dari perlakuan Chromate Conversion Coating pada logam paduan aluminium 2219. Perhitungan laju korosi menggunakan rumus yang mengacu pada persamaan (3.15). Sedangkan untuk menghitung efisiensi inhibitor dapat menggunakan persamaan (3.12). 4.2 Alat Dan Bahan Alat dan bahan yang diperlukan dalam penelitian ini antara lain: 4.2.1 Alat Alat yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi peralatan umum yang digunakan dalam pelaksanaan perbaikan struktur pesawat udara, peralatan laboratorium dan peralatan penunjang lainnya diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Pneumatic HighSpeed Gun + Cuting Wheel Alat ini digunakan untuk memotong spesimen. Alat ini digunakan karena portabel dan juga mudah dioperasikan.
49 Gambar 4.7 Pneumatic HighSpeed Gun + Cuting Wheel (Sumber: Pribadi) 2. Kikir 3. Mesin Potong Sheet Metal Mesin ini digunakan untuk memotong spesimen dalam dimensi yang lebih akurat dan cepat, sehingga dihasilkan bentuk spesimen yang rapi dengan dimensi yang dikehendaki. Gambar 4.8 Mesin Potong Sheet Metal (Sumber: Pribadi) 4. Kertas Ampelas grid 80 dan 400 Gambar 4.9 Kertas Ampelas grid 80 dan 400 (Sumber: Pribadi)
50 5. Hot Plate & Temperature Regulator Device Alat ini digunakan untuk memanaskan dan mengontrol suhu larutan alkaline clean pada proses pickling. Gambar 4.10 Hot Plate & Temperature Regulator Device (Sumber: Pribadi) 6. Gelas Ukur 7. Timbangan Digital Alat ini merupakan alat yang sangat vital dalam pengujian ini yang berfungsi untuk memperoleh informasi tentang massa awal dan massa akhir dari spesimen. Gambar 4.11 Timbangan Digital (Sumber: Pribadi)
51 8. Termometer 9. Penggaris 10. Spidol 11. Wadah perendaman 12. Pinset 4.2.2 Bahan Bahan yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi bahan untuk spesimen dan bahan untuk pengujian diantaranya: 1. Logam Paduan Aluminium 2219 T62 2. Alodine 1200S Gambar 4.12 Bonderite M-CR 1200S Aero atau Alodine 1200S (Sumber: Pribadi) 3. Alkaline Clean 4. Deoxidizer 5. Air Suling 6. Air Hujan Air hujan ditadah di kota Tangerang, kemudian setelah diuji menggunakan kertas lakmus menunjukkan tingkat pH nya yaitu sebesar 6.
52 Gambar 4.13 Air Hujan dengan Nilai pH Terukur Sebesar 6 (Sumber: Pribadi) 4.3 Analisis Laju Korosi Pada Spesimen Tanpa Inhibitor Setelah spesimen tanpa inhibitor direndam dalam media air hujan selama 336 jam, 504jam, dan 672 jam pada suhu ruang (28o C), spesimen diangkat dan diamati korosi yangterbentuk pada permukaan spesimen. Kemudian korosi yang timbul pada permukaan spesimen dihilangkan menggunakan kertas ampelas grid 400 untuk korosi yangringan, sedangkan untuk korosi yang cukup berat menggunakan ampelas grid 80 terlebih dahulu kemudian dihaluskan menggunakan grid 400. Setelah itu spesimen ditimbang massa akhirnya (m2) dan dilakukan penghitungan laju korosi menggunakanrumus pada persamaan (3.15), sehingga diperoleh data yang tertuang pada table 4.1
53 Tabel 4.1 Hasil Perhitungan Laju Korosi pada Aluminium 2219 T62 Tanpa Inhibisi Pada tabel 4.1. di atas dijelaskan mengenai laju korosi dari spesimen tanpa inhibitor yang direndam dalam larutan air hujan. Dari hasil pengujian dapat diketahui bahwa kehilangan massa spesimen menjadi semakin besar seiring bertambahnya waktu atau lama perendaman. Begitu pula laju korosi juga semakin meningkat seiring bertambahnya waktu, di mana laju korosi rata-rata terbesar terjadi pada proses perendaman 672 jam yaitu sebesar 0,00142 mg/cm2jam. Pengaruh waktu terhadap kehilangan massa digambarkan pada tabel 4.1. Sedangkan pengaruh waktu terhadaplaju korosi digambarkan pada grafik Gambar 4.14 Grafik Hubungan Lama Perendaman dengan Kehilangan pada Spesimen tanpa Inhibitor dapat dilihat bahwa semakin lama waktu perendamannya, maka semakin meningkat kehilangan massa dan laju korosinya. Nomor Spesimen Waktu Perendaman (jam) Massa Awal (mg) Massa Akhir (mg) Kehilangan Massa (mg) Rata-rata Kehilangan Massa (mg) Laju Korosi (mg/cm2 jam) 09 6525,4 6517,7 7,7 12 336 5822,9 5815,8 7,1 6,4333 69×10-5 15 5854,5 5850 4,5 01 6292 6276 16 03 504 6379,5 6359,6 19,9 17,1 123×10-5 04 6327,6 6312,2 15,4 05 6688,7 6663,4 25,3 07 672 5950,4 5921,2 29,2 26,367 142×10-5 08 6432 6407,4 24,6
54 Gambar 4.14 Grafik Hubungan Lama Perendaman dengan Kehilangan pada Spesimen tanpa Inhibitor (Sumber: Pribadi) Gambar 4.15 Grafik Hubungan Lama Perendaman dengan Laju Korosi pada Spesimen Tanpa Inhibitor
55 (Sumber: Pribadi) 4.4 Analisis Laju Korosi Pada Spesimen Dengan Inhibitor Alodine 1200S Setelah spesimen yang diberikan perlakuan inhibitor alodine 1200S direndam dalam media air hujan selama 336 jam, 504 jam, dan 672 jam pada suhu ruang (28o C), spesimen diangkat dan diamati korosi yang terbentuk pada permukaan spesimen. Kemudian korosi yang timbul pada permukaan spesimen dihilangkan menggunakan kertas ampelas grid 400 untuk korosi yang ringan, sedangkan untuk korosi yang cukupberat menggunakan ampelas grid 80 terlebih dahulu kemudian dihaluskan menggunakan grid 400. Setelah itu spesimen ditimbang massa akhirnya (m2) dan dilakukan penghitungan laju korosi menggunakan rumus pada persamaan (3.15),sehingga diperoleh data yang tertuang pada tabel 4.2. berikut: Tabel 4.2 Hasil Perhitungan Laju Korosi pada Aluminium 2219 T62 dengan Inhibisi Alodine 1200S Nomor Spesimen Waktu Perendaman (jam) Massa Awal (mg) Massa Akhir (mg) Kehilangan Massa (mg) Rata-rata Kehilangan Massa (mg) Laju Korosi (mg/cm2 jam) 25 5858,9 5858,7 0,2 26 336 6411,2 6411,1 0,1 0,166667 1,7×10-5 27 6455,1 6454,9 0,2 28 6617,8 6617,5 0,3 29 504 6332,1 6331,7 0,4 0,366667 2,6×10-5 30 5972,2 5971,8 0,4 31 6449,5 6448,9 0,6 32 672 5942,2 5941,7 0,5 0,6 3,2×10-5 33 5950,6 5949,9 0,7 Pada tabel 4.2. di atas dijelaskan mengenai laju korosi dari spesimen dengan inhibitor alodine 1200S yang direndam dalam larutan air hujan. Dari hasil pengujian dapat diketahui bahwa kehilangan massa spesimen menjadi semakin besar seiring
56 bertambahnya waktu atau lama perendaman. Pengaruh lama perendaman terhadap kehilangan masa digambarkan dalam grafik pada gambar 4.1 Begitu pula laju korosi juga semakin meningkat seiring bertambahnya waktu yang dapat dilihat pada gambar 4.2. Namun dapat dilihat bahwa kehilangan massa dari spesimen dengan perlakuan alodine 1200S jauh lebih kecil dibandingkan dengan kehilangan massa dari spesimen tanpa inhibitor. Begitu pula dengan laju korosinya yang mana laju korosi terbesar dari spesimen dengan inhibitor alodine 1200S sebesar 0,000032 mg/cm2 jam pada lama perendaman 672 jam, sedangkan laju korosi terbesar dari spesimen tanpa inhibitor mencapai 0,00142 mg/cm2 jam pada lama perendaman 672 jam
57 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan, maka kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini antara lain: 1. Logam paduan aluminium 2219-T62 dapat terkorosi dalam air hujan. Apabila tidak diberikan perlakuan inhibisi, laju korosi dapat mencapai 0,00142 mg/cm2 jam. 2. Logam paduan aluminium 2219-T62 yang diberikan perlakuan inhibisi alodine 1200S laju korosinya menjadi jauh lebih kecil dibandingkan dengan yang tidak diberikan perlakuan inhibisi, yaitu hanya 0,000032 mg/cm2jam. 3. Dari beberapa poin di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan alodine 1200S sebagai inhibitor logam paduan aluminium 2219-T62 sangat efektif. Jika tidak ada masalah dengan perubahan warna pada permukaan logam yang menjadi keemasan maka dianjurkan menggunakan alodine 1200S. 5.2 Saran Berikut adalah beberapa saran yang dapat saya sampaikan untuk penelitian selanjutnya agar dapat lebih baik: 1. Pada proses pembersihan permukaan spesimen secara mekanik sebaiknya untuk penghalusan terakhir dapat menggunakan kertas ampelas yang lebih halus dari grid 400. 2. Untuk penelitian berikutnya dapat menggunakan metode pengukuran laju korosi yang lain seperti salt spray atau metode polarisasi potensiodinamik. 3. Untuk penelitian berikutnya, jenis aluminium yang digunakan sebagai spesimen uji dapat diganti agar dapat diketahui pula efisiensi inhibitor alodine 1200S terhadap paduan aluminium lainnya. Untuk penelitian berikutnya dapat juga menggunakan jenis inhibitor yang lain sehingga dapat diketahui efisiensi inhibitor-inhibitor lainnya.
58 DAFTAR PUSTAKA Abdulkarim, B. I., Abdullahi, Y. A., & Salam, K. A. (2009). Corrosion resistance of commercial roofing sheets to acid rain water in Eleme, Rivers, Nigeria. International Journal of ChemTech Research, 1(4), 802–806. Afandi, Y. K., Arief, I. S., & Amiadji. (2015). Analisa Laju Korosi pada Pelat Baja Karbon dengan Variasi Ketebalan Coating. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), 4(1), 1–5. Budiyarti, P. B. (2018). STUDI EXPERIMENTAL FATIK KOROSI ALUMINIUM PADUAN 7075-T6 PADA LINGKUNGAN 3,5% NaCl DENGAN INHIBITOR Na2CrO4. Poros, 16(1), 69–78. https://doi.org/10.24912/poros.v16i1.6294 Ganapathy, V., Kurniawan, T., Ayu, H. M., Asmara, Y. P., Daud, R., Prastomo, N., & Nandiyanto, A. B. D. (2018). Aluminum alloy aa2024 coated with zro2 using a sol-gel-assisted dip-coating technique and its corrosion performance. Journal of Engineering Science and Technology, 13(6), 1713–1721. Grilli, R., Baker, M. A., Castle, J. E., Dunn, B., & Watts, J. F. (2010). Localized corrosion of a 2219 aluminium alloy exposed to a 3.5% NaCl solution. Corrosion Science, 52(9), 2855–2866. https://doi.org/10.1016/j.corsci.2010.04.035 Hikku, G. S., Jeyasubramanian, K., Venugopal, A., & Ghosh, R. (2017). Corrosion resistance behaviour of graphene/polyvinyl alcohol nanocomposite coating for aluminium-2219 alloy. Journal of Alloys and Compounds, 716, 259–269. https://doi.org/10.1016/j.jallcom.2017.04.324 Narayana, G. V., Sharma, V. M. J., Diwakar, V., Sree Kumar, K., & Prasad, R. C. (2004). Fracture behaviour of aluminium alloy 2219-T87 welded plates. Science and Technology of Welding and Joining, 9(2), 121–130. https://doi.org/10.1179/136217104225017035
59 Overview, P., & Paths, C. (2014). Aircraft Structural Repair Technician. 4067. Susiana, A., & Ilman, M. . (2019). ANALISA LAJU KOROSI MATERIAL AA7050 DI LINGKUNGAN 3,5% NaCl DENGAN PENAMBAHAN INHIBITOR Na2WO4. Kurvatek, 4(2), 45–52. https://doi.org/10.33579/krvtk.v4i2.1574
1 LAMPIRAN SURAT PERMOHONAN KERJA PRAKTEK
2 SURAT BALASAN INSTANSI
3 LEMBAR PENILAIAN Hangar atau Hanggar????` Kata asing dimiringkan Usahakan nama gambar singkat saja LENGKAPI DOKUMEN PERBAIKI SELESAIKAN o
4 KARTU BIMBINGAN DENGAN PEMBIMBING INSTANSI
5 KARTU BIMBINGAN DENGAN PEMBIMBING UNIVERSITAS PAMULANG
6 LOGBOOK DAN ABSENISI