The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Sri Rahayu Utami, 2021-08-02 02:08:39

Kelompok Sosial

KELOMPOK SOSIAL

Keywords: Pelajaran SMA,sosiologi,belajar,SMA,Kelompok Sosial

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Subhanallah Wata’ala atas segala nikmat
yang diberikan dengan selesainya buku ajar digital Kelompok Sosial untuk peserta didik kelas
XI program peminatan IPS edisi pertama. Buku ajar ini disusun untuk membantu siswa dalam
memahami materi Kelompok Sosial sesuai kompetensi dasar mata pelajaran Sosiologi
berdasarkan Kurikulum 2013 edisi revisi 2016.

Buku ini berisi deskripsi konten materi, tujuan pembelajaran , uraian materi ,
rangkuman dan diakhiri dengan evaluasi sesuai dengan kompetensi dasar yang akan dicapai.
Dengan struktur sistemtis dan simple ini diharapkan mudah dipahami oleh peserta didik dalam
proses pembelajaran. Dengan demikian buku ajar ini bisa menjadi buku pendamping belajar
agar peserta didik lebih termotivasi belajar sosiologi.

Kami berharap semoga buku ajar ini bermanfaat bagi peserta didik kota Depok. Kami
menyadari bahwa buku ajar ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu dengan senang
hati kami menerima saran dan kritik pembaca untuk memperbaiki buku ajar berikutnya.

Akhir kata kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah
membantu.

Depok, Agustus 2021

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................................................... 2
KELOMPOK SOSIAL DI MASYARAKAT...................................................................................................... 4

A. Dasar-Dasar Pembentukan Kelompok Sosial .............................................................................. 4
Hakikat Kelompok Sosial ................................................................................................................. 4
Syarat dan Ciri Kelompok Sosial...................................................................................................... 4
Faktor Pembentuk Kelompok Sosial ............................................................................................... 5

B. BERBAGAI BENTUK DAN JENIS KELOMPOK GAN DI MASYARAKAT ............................................ 6
Solidaritas Mekanik dan Solidaritas Organik .................................................................................. 6
Gemeinschaft (Paguyuban) dan gesselscharft (patembayan) ....................................................... 7
Kelompok primer dan sekunder ..................................................................................................... 8
In-Group dan Out-Group................................................................................................................. 8
Membership Group dan Reference Group ..................................................................................... 9
Kelompok formal dan Informal.....................................................................................................10
Kelompok okupasional dan volunter ............................................................................................10

C. KARAKTERISTIK KHUSUS ATAU PARTIKULARISME DAN EKSLUSIVISME KELOMPOK ....................10
Dimensi hubungan antarkelompok...............................................................................................10
Partikularisme dan Eksklusivisme Kelompok ................................................................................11

D. POLA HUBUNGAN ANTARKELOMPOK DALAM MASYARAKAT......................................................12
E. DINAMIKA KELOMPOK SOSIAL......................................................................................................14
DATA DIRI GURU SOSIOLOGI SMAN 5 DEPOK: .....................................................................................19

KELOMPOK SOSIAL DI MASYARAKAT

A. Dasar-Dasar Pembentukan Kelompok Sosial
Hakikat Kelompok Sosial
Berikut pandangan para ahli tentang pengertian kelompok sosial.

1. Paul B. Horton berpendapat bahwa kelompok berarti setiap kumpulan manusia secara fisik,
misalnya sekelompok orang yang sedang menunggu bus kota.

2. Roland L. Warren berpendapat bahwa satu kelompok sosial meliputi sejumlah manusia yang
berinteraksi dan memiliki pola interaksi yang dapat dipahami oleh anggotanya secara
keseluruhan.

3. Mayor Polak berpendapat bahwa kelompok sosial adalah sejumlah orang yang saling
berhubungan dalam sebuah struktur.

4. Wila Huky berpendapat bahwa kelompok merupakan suatu unit yang terdiri atas dua orang
atau lebih yang saling berinteraksi atau saling berkomunikasi.

5. Robert K. Merton mendefinisikan kelompok sebagai sekumpulan orang yang saling
berinteraksi sesuai dengan pola yang telah mapan.

6. Mac Iver dan Charles H. Cooley berpendapat bahwa kelompok sosial merupakan himpunan
atau kesatuan manusia yang hidup bersama.

1. Dari paparan di atas, dapat kita simpulkan bahwa kelompok sosial adalah kumpulan
individu yang memiliki hubungan dan saling berinteraksi.

Syarat dan Ciri Kelompok Sosial
Apakah semua himpunan manusia dapat disebut kelompok sosial? Robert K Merton
menyebutkan tiga kriteria suatu kelompok, yaitu:

1. memiliki pola interaksi,
2. pihak yang berinteraksi mendefinisikan dirinya sebagai anggota kelompok, dan
3. pihak yang berinteraksi didefinisikan oleh orang lain sebagai anggota kelompok.
Adapun ciri-ciri kelompok sosial adalah sebagai berikut.

1. Kelompok sosial adalah satu kesatuan yang nyata, dapat dikenal, dan dapat dibedakan
kelompok sosialnya.

2. Tiap anggota kelompok sosial merasa memiliki kepentingan yang sama dan
mempertahankan nilai-nilai hidup yang sama.

3. Tiap kelompok sosial memiliki struktur sosial karena terdiri dari individu yang saling terkait
satu sama lain berdasar status dan perannya.

4. Tiap anggota kelompok sosial memiliki peran-peran yang berbeda.
5. Tiap kelompok sosial memiliki norma-norma kelakuan yang mengatur peran anggota.

Menurut Soerjono Soekanto, himpunan manusia baru dapat dikatakan sebagai kelompok sosial
apabila memiliki beberapa persyaratan berikut.

1. Adanya kesadaran sebagai bagian dari kelompok yang bersangkutan.
2. Ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan yang lain dalam kelompok itu.
3. Ada suatu faktor pengikat yang dimilika bersama oleh anggota-anggota kelompok sehingga

hubungan di antara mereka bertambah erat. Faktor tadi dapat berupa kepentingan yang
sama, tujuan yang sama, ideologi politik yang sama, dan lain-lain,
4. Memiliki struktur, kaidah, dan pola perilaku yang sama.
5. Memiliki sistem dan proses.

Faktor Pembentuk Kelompok Sosial
Dalam kaitannya dengan proses pembentukan kelompok sosial, ada beberapa faktor yang dapat
menjadi penyebab pembentukan kelompok sosial, di antaranya sebagai berikut.

1. Kepentingan yang sama

Orang-orang membentuk kelompok sosial karena mempunyai kepentingan yang sama.
Kelompok ini disebut kelompok kepentingan, Kelompok kepentingan ini kadang-kadang
disebut asosiasi, seperti asosiasi seniman, asosiasi kaum buruh, asosiasi pengusaha kayu,
asosiasi para advokat, dan sebagainya.

2. Pertalian darah atau keturunan yang sama

Sejak dulu, faktor keturunan merupakan dasar yang kuat bagi persatuan dan tali persaudaraan.
Karena itu, tidak jarang orang membentuk kelompok sosial pertama kali berdasarkan keturunan
atau pertalian darah. Di Indonesia, ada kelompok-kelompok keturunan etnis, seperti Batak,
Minangkabau, Aceh, Jawa, Sunda, Bugis, Maluku, Papua, India, Arab, dan sebagainya.

3. Daerah atau wilayah yang sama

Kesamaan daerah atau wilayah kadang-kadang dipakai sebagai dasar bagi pembentukan sebuah
kelompok. Pembentukan kelompok berdasarkan daerah yang sama terjadi karena orang-orang
dari daerah yang sama memiliki kebudayaan, bahasa, cara berpikir, dan dapat pula memiliki
pola kerja yang sama sehingga dengan mudah dapat memahami satu sama lain. Hal ini
disebabkan oleh adanya perasaan senasib dan sepenanggungan karena lingkungan tempat
tinggal yang sama.

Terbentuknya kelompok sosial yang didasari oleh faktor-faktor tersebut menumbuhkan ragam
dan jenis kelompok. Terutama di negara Indonesia yang memiliki keragaman ras dan etnis yang
terdapat dalam berbagai wilayah dengan ciri khusus sehingga melahirkan keragaman budaya
yang banyak membentuk ragam kelompok sosial sesuai dengan karakternya masing-masing.

B. BERBAGAI BENTUK DAN JENIS KELOMPOK GAN DI
MASYARAKAT

Solidaritas Mekanik dan Solidaritas Organik
Emile Durkheim membagi kelompok sosial menjadi dua, yaitu kelompok sosial yang
didasarkan pada solidaritas mekanik dan yang didasarkan pada solidaritas organik.

1. Solidaritas mekanik
Solidaritas mekanik merupakan ciri dari masyarakat yang masih sederhana dan belum
mengenal pembagian kerja. Tiap-tiap kelompok dapat memenuhi keperluan mereka masing-
masing tanpa memerlukan bantuan atau kerja sama dengan kelompok dari luar.

Dalam masyarakat yang menganut solidaritas mekanik, yang diutamakan adalah persamaan
perilaku dan sikap. Seluruh warga masyarakat diikat oleh kesadaran kolektif, yaitu kesadaran
bersama yang memiliki tiga karakteristik, yaitu mencakup keseluruhan kepercayaan dan
perasaan kelompok, ada di luar warga, dan bersifat memaksa. Sanksi terhadap pelanggaran
kesadaran bersama akan dikenai hukuman yang bersifat represif (hukuman pidana). Kesadaran
bersama itu menjaga persatuan, sedangkan hukuman bertujuan agar kondisi tidak seimbang
akibat perilaku menyimpang dapat pulih kembali.

2. Solidaritas organik
Solidaritas organik merupakan bentuk solidaritas yang telah mengenal pembagian kerja.
Bentuk solidaritas ini bersifat mengikat sehingga unsur-unsur di dalam masyarakat tersebut

saling bergantung. Karena adanya kesalingtergantungan ini, ketiadaan salah satu unsur akan
mengakibatkan gangguan pada kelangsungan hidup bermasyarakat.

Pada masyarakat dengan solidaritas organik, ikatan utama yang mempersatukan masyarakat
bukan lagi kesadaran kolektif, melainkan kesepakatan yang terjalin di antara berbagai profesi.
Hukum yang menonjol bukan hukum pidana, melainkan ikatan hukum perdata. Sanksi
terhadap pelanggaran kesepakatan bersama bersifat restitutif. Artinya, Si pelanggar harus
membayar ganti rugi kepada yang dirugikan untuk mengembalikan keseimbangan yang telah
ia langgar.

Gemeinschaft (Paguyuban) dan gesselscharft (patembayan)
Menurut Ferdinand T6nnies (dalam Kamanto Sunarto, 2004), kelompok di dalam masyarakat
dibedakan menjadi dua, yaitu gemeinschaft dan geselischaft.

1. Gemeinschaft atau paguyuban merupakan bentuk kehidupan bersama di mana anggota-
anggotanya memiliki hubungan batin yang kuat, bersifat alamiah dan kekal. Contohnya,
hubungan yang terdapat dalam keluarga, kelompok kekerabatan, dan hubungan dengan
tetangga pada masyarakat tradisional atau pada masyarakat pedesaan.

Menurut Tönnies, gemeinschaft memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

1) Intim, pribadi, dan eksklusif.
2) Suatu keterikatan yang dibawa sejak lahir.
Gemeinschaft dapat dibedakan atas tiga tipe, sebagai berikut.

1) Gemeinschaft by blood, yaitu mengacu pada ikatan-ikatan kekerabatan. Contohnya,
keluarga dan kelompok kekerabatan.

2) Gemeinschaft of place, yaitu suatu ikatan yang terdiri atas orang Orang yang berdekatan
tempat tinggal atau tempat bekerjanya sehingga mendorong orang untuk berhubungan
secara intim satu sama lain dan mengacu pada kehidupan bersama di pedesaan.
Contohnya, rukun tetangga dan rukun warga.

3) Gemeinschaft of mind, yaitu hubungan persahabatan yang disebabkan anggotanya
memiliki keahlian, pekerjaan, atau pandangan yang sama sehingga mendorong orang
untuk saling berhubungan secara teratur.

2. Gesellschaft atau patembayan merupakan kehidupan publik sebagai sekumpulan orang yang
secara kebetulan hadir bersama, tetapi setiap orang tetap mandiri. Gesel/lschaft bersifat
sementara dan semu. Di dalam gemeinschaft individu tetap bersatu meskipun tinggal secara

terpisah, sebaliknya di dalam gesellschaft, individu pada dasarnya terpisah meskipun ada
faktor pemersatu. Strukturnya bersifat mekanis seperti mesin yang setiap komponennya
memiliki fungsi atau kegunaan. Hal ini terjadi karena dalam masyarakat patembayan
diutamakan berlangsungnya suatu hubungan perjanjian atau kontrak yang memiliki tujuan
tertentu dan bersifat rasional. Masyarakat patembayan bersifat sementara. Contoh
gesellschaft atau patembayan adalah hubungan dalam dunia industri atau organisasi politik.

Kelompok primer dan sekunder
Menurut Charles H. Cooley (dalam Kamanto Sunarto, 2004), di dalam masyarakat terdapat
kelompok primer. Kelompok ini ditandai dengan pergaulan, kerja sama, dan tatap muka yang
intim. Ruang lingkup terpenting kelompok primer adalah keluarga, teman bermain pada masa
kecil, rukun warga, dan komunitas orang dewasa. Pergaulan yang intim ini menghasilkan
keterpaduan individu dalam satu kesatuan, membuat seseorang hidup dan memiliki tujuan
kelompok bersama.

Klasifikasi kelompok juga diungkapkan oleh Ellsworth Faris. la mengkritik Cooley yang
menurutnya hanya menjelaskan kelompok primer. Menurut Faris, di dalam masyarakat juga
terdapat kelompok sekunder yang formal, tidak pribadi, dan berciri kelembagaan. Contoh
kelompok sekunder adalah koperasi dan partai politik.

In-Group dan Out-Group
William. G6. Sumner membagi kelompok menjadi dua, yaitu in-group dan out-group. Menurut
Sumner, dalam masyarakat primitif yang terdiri atas kelompok-kelompok kecil dan tersebar di
suatu wilayah, terdapat pembagian jenis kelompok, yaitu kelompok dalam (in-group) dan
kelompok luar (out-group).

Menurut Sumner (dalam Kamanto Sunarto, 2004) di kalangan kelompok dalam, dijumpai
persahabatan, kerja sama, keteraturan, dan kedamaian. Apabila kelompok dalam (in-group)
berhubungan dengan kelompok luar, muncullah rasa kebencian, permusuhan, perang, atau
perampokan. Rasa kebencian itu diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain dan
menimbulkan perasaan solidaritas dalam kelompok (in-group feeling). Anggota kelompok
menganggap kelompok mereka sendiri sebagai pusat segala-galanya (etnosentris).

Kajian dari Sumner dapat digunakan untuk menjelaskan masalah tawuran antarsiswa.
Sebagaimana masyarakat primitif, di kalangan siswa dari suatu sekolah dapat muncul in-group
feeling yang kuat, yang terwujud dalam rasa solidaritas, kesetiaan, dan pengorbanan. Perasaan
ini dapat memicu etnosentrisme sehingga mereka memandang siswa dari sekolah lain dengan

penuh rasa permusuhan, kebencian, dendam, dan hasrat ingin menyakiti. Rasa permusuhan
antarsekolah ini terkadang diwariskan oleh satu angkatan ke angkatan yang lain.

Membership Group dan Reference Group
Pembagian kelompok menjadi membership group dan reference group dicetuskan oleh Robert
K. Merton. Menurutnya, membership group adalah kelompok di mana setiap orang secara fisik
menjadi anggota dari kelompok tersebut. Namun, batas-batas keanggotaan tidak dapat
dilakukan secara mutlak karena situasi yang tidak tetap akan memengaruhi derajat interaksi
dalam kelompok. Ukuran utama keanggotaan seseorang pada kelompok adalah tingkat
interaksinya dengan kelompok tersebut.

Adapun reference group adalah kelompok sosial yang menjadi acuan pagi seseorang secara
psikologis sehingga dapat membentuk pribadi dan perilakunya. Seseorang tidak perlu menjadi
anggota dari suatu kelompok untuk menjadikan kelompok tersebut sebagai acuan pribadi dan
perilakunya. Nilai-nilai, standar, dan keyakinan kelompok yang menjadi acuan (reference)

seseorang membimbing dirinya dalam bersikap dan menilai tindakannya. Menurut Soerjono
Soekanto, seseorang dapat menjadi bagian dari membership group dan reference group dan
dapat sulit dipisahkan. Misalnya, seorang anggota partai politik yang menjadi anggota Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR). Orang tersebut menjadi bagian dan DPR (membership group),
namun jiwa dan pikirannya tetap terikat pada partainya (reference group). Hal ini menurut
Soekanto terkadang dapat menampakkan segi negatif jika terlalu berpegang pada prinsip-
prinsip dan reference group-nya.

Robert Merton mengemukakan dua tipe umum reference group yaitu sebagai berikut.

a. Tipe normatif (normative type). Tipe ini menentukan dasar-dasar bagi kepribadian
seseorang. Tipe ini merupakan sumber nilai bagi individu, baik anggota maupun bukan
anggota kelompok. Contohnya anggota angkatan bersenjatan berpegang teguh pada tradisi
yang dipelihara para veteran dari angkatan bersenjata tersebut.

b. Tipe perbandingan (companson type). Tipe ini merupakan pegangan bagi individu dalam
menilai kepribadiannya. Tipe ini lebih kepada perbandingan untuk menentukan kedudukan
seseorang. Contohnya, status ekonomi seseorang dibandingkan orang-orang lain dalam
lingkungannya.

Kelompok formal dan Informal
Kelompok formal adalah kelompok yang memiliki aturan tegas dan kelompok ini sengaja
diciptakan untuk mengatur hubungan antarsesama anggota. Kelompok formal ini memiliki
struktur dan administrasi yang pasti. Contohnya organisasi.

Kelompok informal adalah kelompok yang tidak memiliki organisasi dan struktur yang pasti.
Kelompok informal ini umumnya terbentuk atas dasar seringnya pertemuan di antara anggota
kelompok yang memiliki pengalaman dan kepentingan yang sama. Contohnya adalah klik
(kelompok kecil di antara kelompok besar).

Kelompok okupasional dan volunter
Kelompok okupasional adalah kelompok yang tercipta karena semakin memudarnya fungsi
kekerabatan. Kelompok ini terdiri atas berbagai profesi atau memiliki pekerjaan yang sama.
Anggota kelompok ini biasanya memiliki aturan atau pedoman dalam bertingkah laku, yaitu
berupa kode etik. Ketika anggota kelompok melanggar kode etik tersebut, anggota kelompok
lain bertugas untuk menilai. Contoh kelompok ini adalah Ikatan Dokter Indonesia, asosiasi
pekerja, dan sebagainya.

Kelompok volunter adalah kelompok yang terdiri atas berbagai anggota yang memiliki
kepentingan yang sama juga. Namun, yang membedakan kelompok ini dengan kelompok
okupasional adalah keberadaan kelompok ini tidak mendapatkan perhatian dari masyarakat.
Umumnya, pembentukan kelompok ini dilandasi oleh kepentingan primer dan sekunder yang
harus terpenuhi. Dengan adanya kelompok volunter ini, kepentingan individu diharapkan dapat
terpenuhi tanpa harus mengganggu kepentingan umum. Contohnya tim sukarelawan yang
membantu korban bencana alam.

C. KARAKTERISTIK KHUSUS ATAU PARTIKULARISME DAN
EKSLUSIVISME KELOMPOK

Dimensi hubungan antarkelompok
Di dalam masyarakat, terdapat berbagai kelompok. Kelompok-kelompok ini saling berinteraksi
atau berhubungan dengan kelompok lain. Menurut Kamanto Sunarto, dalam hubungan
antarkelompok terdapat berbagai macam dimensi, di antaranya dimensi sejarah, institusi,
gerakan sosial, perilaku, perilaku kolektif, dan sikap.
1. Dimensi sejarah

Dilihat dari dimensi sejarah, hubungan antarkelompok mengarahkan pada masalah tumbuh
dan berkembangnya hubungan antarkelompok. Hubungan ini menimbulkan stratifikasi

etnik, stratifikasi jenis kelamin, dan stratifikasi usia. Stratifikasi etnik dapat terjadi apabila
di dalam masyarakat muncul etnosentrisme, persaingan, dan perbedaan kekuasaan.
Stratifikasi jenis kelamin terkait dengan industrialisasi, yaitu pembagian pekerjaan antara
laki-laki dan perempuan yang semakin jelas dan terperinci. Adapun stratifikasi usia terkait
dengan kekuasaan, hak istimewa, dan prestise yang dimiliki individu sejak mulai beranjak
dewasa hingga menjelang tua. Dengan bertambahnya usia, maka kekuasaan, hak istimewa,
dan prestise umumnya semakin berkurang sehingga mulai bergantung dengan orang yang
lebih muda.
2. Dimensi institusi
Dilihat dari dimensi institusi, hubungan antarkelompok dapat berupa institusi politik dan
ekonomi. Dalam masyarakat, institusi dapat memperkuat pengendalian sosial, sikap, dan
hubungan antarkelompok, serta menghilangkan pola hubungan antarkelompok dalam
masyarakat. Dalam hal ini, hubungan antarkelompok lebih bersifat birokratis dan tidak ada
hubungan antarpersonal.
3. Dimensi gerakan sosial
Dilihat dari dimensi gerakan sosial, hubungan antarkelompok sering melibatkan gerakan
sosial. Gerakan sosial ini dapat diprakarsai oleh pihak yang menginginkan perubahan
maupun yang mempertahankan keadaan. Contohnya: gerakan perempuan yang menentang
kekerasan terhadap perempuan.
4. Dimensi Perilaku
Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan antarkelompok terwujud dalam interaksi dengan
anggota kelompok lain. Salah satu bentuk perilaku yang ditampilkan adalah diskriminasi
yang ditujukan pada anggota berbagai kelompok. Menurut Banton, diskriminasi yang
didefinisikan sebagai perlakuan berbeda terhadap orang yang termasuk dalam tertentu
mewujudkan jarak sosial.
5. Dimensi Perilaku Kolektif
Hubungan antarkelompok sering berwujud perilaku kolektif. Perilaku kolektif merupakan
tindakan bersama oleh sejumlah besar orang, bukan tindakan individu semata. Perilaku
kolektif dipicu oleh rangsangan yang sama. Menurut Light, Keller dan Calhun, rangsangan
ini dapat terdiri atas suatu peristiwa, benda, dan ide.
6. Dimensi Sikap
Dilihat dari dimensi sikap, hubungan anterkelompok sering memunculkan sikap atau
perilaku yang berbeda. Dimensi sikap ini dapat juga memunculkan sikap partikular
(partikularisme) dan eksklusif (eksklusivisme).

Partikularisme dan Eksklusivisme Kelompok

Anda sudah mempelajari dimensi sikap yang dapat memunculkan partikularisme dan
eksklusivisme. Partikularisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang
mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum atau aliran politik, ekonomi,
kebudayaan yang mementingkan daerah atau kelompok khusus, sukuisme.

Adapun menurut Craig Stortie, partikularisme berkaitan dengan bagaimana seseorang
berperilaku dalam situasi tertentu. Orang tersebut akan memperlakukan keluarga, teman, dan
in-groupnya sebaik yang dia bisa, dan membiarkan orang lain mengurus dirinya sendiri
(dengan asumsi mereka akan dilindungi in-group mereka sendiri). In-group dan out-group
seseorang dengan demikian dibedakan dan akan selalu ada pengecualian untuk orang-orang

tertentu. Menjadi adil menurut orang tersebut adalah memperlakukan setiap orang secara
unik/berbeda.

Contoh dari partikularisme adalah seorang pimpinan di suatu perusahaan konstruksi hanya mau
memperkerjakan buruh yang berasal dari kampungnya sendiri. Kecenderungan partikularisme
adalah mementingkan pribadi atau kelompok di atas kepentingan bersama. Secara sosiologis,
sikap dan pandangan partikularisme ini cenderung memicu konflik apabila kita hidup di
tengah-tengah masyarakat yang majemuk dan heterogen. Partikularisme juga dapat
menghambat integrasi sosial dan nasional.

Dalam masyarakat majemuk, terdapat berbagai budaya yang dianut masyarakat. Setiap budaya
memiliki tata cara dan cara pandang yang berbeda. Sementara itu, pada masyarakat plural yang
anggotanya terdiri atas berbagai profesi atau pekerjaan, akan memiliki status dan peranan
berbeda dalam masyarakat. Apabila kondisi tersebut tidak diimbangi dengan cara pandang dan
sikap saling menghargai antarindividu dan kelompok, kehidupan yang harmonis sangat sulit
terwujud karena partikularisme mendorong suatu cara pandang yang cenderung subjektif dan
tidak objektif.

Adapun eksklusivisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah paham yang
mempunyai kecenderungan untuk memisahkan diri dari masyarakat. Contohnya, seorang anak
orang kaya hanya mau bergaul dengan seseorang yang memiliki latar belakang sosial dan
ekonomi yang sama. Dampak negatif eksklusivisme antara lain membuat seseorang
menganggap kepentingan kelompok sendiri menjadi satu-satunya hal yang penting.

Secara sosiologis, cara pandang dan sikap eksklusivisme mempunyai sisi positif dan negatif.
Dari sisi positif, masyarakat dapat tetap mempertahankan kebudayaan kelompoknya karena
mereka menganggap kebudayaannya paling baik dan wajib dipertahankan. Tujuannya agar
tidak dipengaruhi budaya lain sehingga muncul sikap defensif guna menjaga kebudayaannya
tetap eksis. Dari sisi negatif, mereka sangat tertutup pada pengaruh budaya lain sehingga sangat
sulit melakukan berbagai perubahan yang bersifat progresif. Pada umumnya, masyarakat
primitif dan masyarakat tradisional cenderung bersikap ekslusif karena masyarakat tradisional
ingin selalu mempertahankan tradisinya, sedangkan masyarakat primitif cenderung sulit
melakukan perubahan karena faktor isolasi geografis.

Indonesia sebagai salah satu negara besar di kawasan Asia termasuk negara dengan masyarakat
yang multietnis, multiras, dan multireligi, sehingga disebut juga masyarakat multikultural.
Masyarakat adalah suatu kesatuan hidup yang saling berinteraksi sesuai dengan adat istiadat
terikat dengan identitas bersama. Indonesia sudah digariskan memiliki masyarakat dengan
berbagai keragaman, termasuk keragaman kelompok sosial. Kecenderungan partikularisme
dan eksklusivisme kelompok dengan demikian sebaiknya dijaga agar tidak berkembang dan
dapat merusak tatanan masyarakat multikultural Indonesia.

D. POLA HUBUNGAN ANTARKELOMPOK DALAM MASYARAKAT

Kita telah membahas bentuk dan jenis kelompok sosial. Kita juga telah melakukan pengamatan
terhadap kelompok-kelompok sosial yang ada dalam masyarakat kita masing-masing. Dari
semua kegiatan itu, dapatlah kita katakan bahwa dalam sebuah masyarakat, terdapat banyak
kelompok sosial. Dalam hal tersebut, pertanyaan yang timbul kemudian adalah bagaimana tiap
kelompok sosial dalam masyarakat itu dapat berhubungan?

Apa konsekuensi hubungan tersebut? Berikut uraiannya.

Hubungan antarkelompok juga diwarnai dengan pola-pola tertentu yang khas. Terhadap
kelompok ras, Michael Banton mengemukakan bahwa terdapat berbagai kemungkinan pola
hubungan antarkelompok ras, di antaranya adalah proses akulturasi, dominasi, paternalisme,
pluralisme, dan integrasi.

1. Akulturasi terjadi ketika kebudayaan kedua kelompok ras yang bertemu mulai berbaur dan
berpadu. Akulturasi terjadi tidak hanya pada masyarakat yang posisinya sama, tetapi juga
pada masyarakat yang posisinya berbeda. Dalam proses akulturasi, terjadi pula dekulturasi,
contohnya hilangnya kebudayaan asli daerah akibat interaksi paksa oleh pemerintah
kolonial Belanda.

2. Dominasi terjadi jika suatu kelompok ras menguasai kelompok lain. Contohnya, kedatangan
bangsa Eropa ke benua Afrika dan Asia untuk memperoleh sumber alam yang dilanjutkan
dengan dominasi atas penduduk setempat. Dalam kaitan dengan dominasi, Kornblum
menyatakan bahwa terdapat empat macam kemungkinan proses yang dapat terjadi dalam
suatu hubungan antarkelompok, yaitu genosida, pengusiran, perbudakan, segregasi, dan
asimilasi.
a. Genosida adalah pembunuhan secara sengaja dan sistematis terhadap anggota
kelompok tertentu. Contohnya, pembunuhan orang Yahudi oleh pemerintah Nazi
Jerman.
b. Pengusiran. Contohnya, pengusiran warga Palestina oleh pemerintah Israel dari tepi
barat Sungai Jordan.
c. Perbudakan. Contohnya, sistem kerja rodi yang dilakukan pada penjajahan Jepang
di Indonesia.
d. Segregasi, yaitu pemisahan antara warga kulit putih dan kulit hitam di Afrika Selatan
pada masa politik Apartheid.
e. Asimilasi, yaitu interaksi antara dua kelompok yang berbeda kebudayaan sehingga
memunculkan kebudayaan campuran.

3. Paternalisme adalah suatu bentuk dominasi kelompok ras pendatang atas kelompok ras
pribumi. Pola ini muncul apabila kelompok pendatang yang secara politik lebih kuat,
mendirikan koloni di daerah jajahan. Dalam pola hubungan ini, Michael Banton
membedakan tiga macam masyarakat, yaitu sebagai berikut.
a. Masyarakat metropolitan (di daerah asal pendatang).
b. Masyarakat kolonial yang terdiri atas para pendatang dan sebagian dari masyarakat
pribumi.
c. Masyarakat pribumi yang dijajah.

4. Integrasi adalah suatu pola hubungan yang mengakui adanya perbedaan ras dalam
masyarakat, tetapi tidak memberikan perhatian khusus pada perbedaan ras tersebut. Hak dan
kewajiban yang terkait dengan ras seseorang hanya terbatas pada bidang tertentu dan tidak
berkaitan dengan bidang pekerjaan atau status yang diraih dengan usaha.

5. Pluralisme adalah suatu pola hubungan yang mengakui adanya persamaan hak politik dan
hak perdata masyarakat. Akan tetapi, pola hubungan itu lebih terfokus pada kemajemukan
kelompok ras daripada pola integrasi. Menurut J. S. Furnivall, masyarakat majemuk adalah
masyarakat yang di dalamnya terdapat berbagai kelompok berbeda: Tiap kelompok tersebut
tercampur tetapi tidak membaur. Contohnya, masyarakat Indonesia pada masa penjajahan

Belanda yang terdiri atas tiga kelompok ras yang hidup berdampingan tetapi terpisah.
Keti99 kelompok ras itu adalah kelompok Eropa, Timur Asing, dan pribumi.

Ahli lain, yakni Stanley Lieberson, mengklasifikasikan pola hubungan antarkelompok menjadi
dua pola berikut.

1) Pola dominasi kelompok pendatang atas pribumi (migran! Superordination). Contohnya
adalah kedatangan bangsa Eropa k benua Asia, Afrika, dan Amerika.

2) Pola dominasi kelompok pribumi atas kelompok pendatang (indigenous superordination).
Contohnya adalah mpok pendatang dari Aljazair, Tiongkok, ataupun Turki.

Lieberson berpendapat bahwa suatu pola mempunyai kecenderungan untuk lebih berkembang
ke suatu arah tertentu. Pola dominasi cenderung mengarah pada pola pluralisme, sedangkan
pola akulturasi dan paternalisme cenderung mengarah pada pola integrasi.

E. DINAMIKA KELOMPOK SOSIAL

Manusia dalam kehidupannya cenderung selalu ingin berubah untuk maju sehingga selalu
berusaha untuk mengembangkan aspek-aspek kehidupannya untuk mencapai suatu titik yang
diinginkan, walaupun kadang manusia menghadapi berbagai macam masalah atau tantangan
yang harus diatasinya. Masalah-masalah itu tidak hanya menyangkut eksistensinya secara fisik,
tetapi juga secara sosial. Manusia sebagai anggota dari suatu kelompok sosial berusaha untuk
menemukan pola-pola tertentu yang dapat memenuhi kebutuhannya sesuai yang diharapkan.
Inilah yang disebut suatu dinamika.

Dinamika kelompok berasal dari kata dinamika dan kelompok. Dinamika berarti interaksi atau
hubungan antara kelompok satu dengan kelompok yang lainnya. Adapun kelompok adalah
sekumpulan individu yang saling berhubungan dan memiliki tujuan yang sama. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, dinamika kelompok adalah gerak atau kekuatan yang dimiliki
sekumpulan orang dalam masyarakat yang dapat menimbulkan perubahan dalam tata hidup
masyarakat yang bersangkutan. Dengan demikian, dinamika kelompok adalah gerak
sekumpulan orang yang saling berhubungan dan memiliki tujuan bersama yang dapat
menimbulkan perubahan dalam masyarakat.

Dalam kehidupan masyarakat, dinamika kelompok memiliki fungsi sebagai berikut.

1. Menciptakan kerja sama di antara anggota kelompok sehingga akan menguntungkan satu
sama lain.

2. Memudahkan menyelesaikan pekerjaan yang dihadapinya.
3. Memberikan kesempatan kepada semua orang untuk memberikan pendapat atau gagasan.

Dalam perkembangannya, ada berbagai indikator yang dapat digunakan untuk mengukur
dinamika kelompok, yaitu sebagai berikut.

1. Adaptasi kelompok. Proses adaptasi suatu kelompok akan berjalan dengan baik jika setiap
individu dan kelompok memiliki keterbukaan dalam menerima informasi baru. Selain itu,
tiap anggota kelompok dapat menerima berbagai gagasan dari anggota lain tanpa saling
terganggu satu sama lain.

2. Pencapaian tujuan kelompok. Dalam mencapai tujuan kelompok diharapkan tiap anggota
kelompok mampu menunjukkan pengetahuan dan kemampuannya kepada anggota

kelompok. Selain itu, tiap anggota kelompok mampu menjalin relasi dengan berbagai pihak
serta menunda egonya demi terciptanya tujuan bersama.

Selain memiliki berbagai indikator sebagai tolok ukur dinamika kelompok, dalam proses
perkembangan suatu kelompok dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti faktor yang
datang dari dalam maupun dari luar.

1. Faktor dari dalam (intern), di antaranya sebagai berikut.
a. Konflik antarindividu atau sebagai akibat adanya ketidakseimbangan kekuatan dalam
kelompok tersebut.
b. Adanya perbedaan kepentingan sehingga menimbulkan ketidakadilan atau
ketidakseimbangan pada anggota kelompok.
c. Adanya perbedaan paham dari tiap anggota kelompok dalam upaya memenuhi berbagai
tujuan kelompok.

2. Faktor dari luar (ekstern), di antaranya sebagai berikut.
a. Perubahan situasi atau keadaan di mana kelompok tersebut hidup. Situasi ini dapat
berupa ancaman yang datang dari luar sehingga dapat menimbulkan perubahan.
Perubahan ini dapat berupa rasa persatuan dalam diri anggota kelompok.
b. Pergantian anggota kelompok akan memengaruhi perubahan kelompok. Dalam hal ini,
beberapa anggota akan mengalami keguncangan (shock) ketika ditinggal oleh salah
satu anggota kelompok.
c. Perubahan situasi sosial ekonomi kelompok. Kondisi kelompok yang memiliki
perbedaan pandangan dan kondisi emosional yang berbeda akan tetap bersatu dalam
menghadapi berbagai masalah yang ada.

Jika kita simak uraian di atas, pada umumnya kelompok sosial tidak pernah berjalan di tempat
(stabil) dan bukan merupakan kelompok statis. Namun, pasti mengalami perkembangan serta
perubahan, hanya saja kecepatannya yang berbeda antara kelompok satu dengan kelompok
lain. Menurut Slamet Santosa, dinamika kelompok adalah suatu kelompok yang teratur dari
dua individu atau lebih yang mempunyai hubungan psikologis secara jelas antara anggota yang
satu dengan yang lain: antaranggota kelompok mempunyai hubungan psikologis yang
berlangsung dalam situasi yang dialami secara bersama-sama.

Soerjono Soekanto mengatakan masalah dinamika kelompok juga menyangkut gerak atau
perilaku kolektif. Dalam hal ini, gerak sebagai bentuk dari aksi kolektiva. Penyebab suatu
kolektiva menjadi agresif antara lain sebagai berikut.

1. Dalam jangka waktu yang lama mengalami frustasi.
2. Adanya ketersinggungan.
3. Merasa dirugikan.
4. Munculnya ancaman yang berasal dari luar.
5. Adanya perlakuan yang tidak adil.
6. Bidang-bidang yang bersifat sensitif terkena imbasnya.

Keenam hal tersebut dapat juga dikatakan sebagai pemicu timbulnya suatu masalah atau
konflik yang terjadi di masyarakat ataupun dapat terjadi di dalam kelompok sendiri.

RANGKUMAN
Kelompok sosial adalah kumpulan individu yang memiliki hubungan dan saling berinteraksi
sehingga mengakibatkan tumbuhnya rasa kebersamaan dan rasa memiliki.

Menurut Soerjono Soekanto, himpunan manusia baru dapat dikatakan sebagai kelompok
sosial apabila memiliki beberapa persyaratan berikut.

1.Adanya kesadaran sebagai bagian dari kelompok yang bersangkutan.

2. Ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan yang lainnya dalam
kelompok itu.

3. Ada suatu faktor pengikat yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota kelompok,
sehingga hubungan di antara mereka bertambah erat. Faktor tadi dapat berupa kepentingan
yang sama, tujuan yang sama, dan ideologi politik yang sama.

4. Memiliki struktur, kaidah, dan pola perilaku yang sama.

5. Bersistem dan berproses.

Beberapa tipe kelompok sosial, antara lain kelompok solidaritas mekanik, kelompok
solidaritas organik, gemeinschaft, gesselschaft, kelompok primer, kelompok sekunder, serta
in-group dan out-group. Proses pembentukan kelompok sosial adalah adanya individu-
individu yang

saling berhubungan dan saling memengaruhi dengan berbagai kedekatan secara fisik ataupun
kesamaan karakter dan kesamaan tujuan.

Faktor-faktor yang mendasari pembentukan kelompok sosial adalah adanya kepentingan

yang sama, pertalian darah atau keturunan yang sama, dan berasal dari daerah atau wilayah
yang sama.

Partikularisme adalah sistem yang mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan
umum atau aliran politik, ekonomi, kebudayaan yang mementingkan daerah atau kelompok
khusus (sukuisme). Adapun eksklusivisme berarti paham yang mempunyai kecenderungan
untuk memisahkan diri dari masyarakat.

Michael Banton mengemukakan bahwa terdapat berbagai kemungkinan pola hubungan
antarkelompok ras, di antaranya adalah proses akulturasi, dominasi, paternalisme,
pluralisme, dan integrasi.

Dinamika berarti interaksi atau hubungan antara kelompok satu dengan kelompok yang
lainnya. Adapun kelompok adalah sekumpulan individu yang saling berhubungan dan
memiliki tujuan yang sama. Dengan demikian, dinamika kelompok adalah gerak
sekumpulan orang

yang saling berhubungan dan memiliki tujuan bersama yang dapat menimbulkan perubahan
dalam masyarakat.

Faktor-faktor dari dalam yang memengaruhi dinamika kelompok adalah adanya konflik
antarindividu atau bagian akibat adanya ketidakseimbangan kekuatan dalam kelompok
tersebut, adanya perbedaan kepentingan sehingga menimbulkan ketidakadilan atay
ketidakseimbangan pada anggota kelompok, serta adanya perbedaan paham dari tiap anggota
kelompok dalam tentang upaya memenuhi berbagai tujuan kelompok. Sementara itu, faktor
yang datang dari luar antara lain karena adanya perubahan Situasi, pergantian anggota
kelompok, dan situasi sosial ekonomi kelompok.

DAFTAR PUSTAKA
Suryawati,Maryati.2013:18. Sosiologi Kelompok Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial untuk
SMA/MA Kelas XII. Jakarta: Esis.

DATA DIRI GURU SOSIOLOGI SMAN 5 DEPOK:

NAMA : Sri Rahayu Utami, S.Sos
TEMPAT/TANGGAL LAHIR : Tegal/ 20 Agustus 1977
INSTANSI : SMA N 5 DEPOK
EMAIL : [email protected]
NO HP : 081905554008




Click to View FlipBook Version