The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by rbdskts, 2021-08-25 04:48:01

Gonbe dan 100 Itik

Gonbe dan 100 Itik

Gonbe dan
100 Itik

Di sebuah desa, tinggal seorang
ayah dengan anak laki-lakinya
yang bernama Gonbe. Mereka
hidup dari berburu itik.

Setiap kali berburu, ayah Gonbe
hanya menembak satu ekor itik
saja. Melihat hal tersebut Gonbe
bertanya pada ayahnya, "Ayah,
kenapa kita hanya menembak
satu ekor saja?"

"Kerana kalau kita membunuh
semua itik, nanti itik tersebut
akan habis dan tidak boleh
berkembang biak, selain itu
kalau kita membunuh itik
sembarangan kita boleh
mendapat hukuman," kata ayah
Gonbe menjelaskan.

Beberapa bulan kemudian, ayah
Gonbe jatuh sakit dan akhirnya
meninggal dunia. Sejak saat itu,
Gonbe berburu itik sendirian dan
menjualnya. Lama-kelamaan,

Gonbe bosan dengan
pekerjaannya, lalu dia mendapat
satu idea. Gonbe pergi ke tasik
yang sudah menjadi ais. Dia
menebarkan makanan yang
sangat banyak untuk itik-itik.

Tak berapa lama, itik-itik mulai
datan dan makan makanan yang
ditebar. Kerana kekenyangan,
mereka tertidur. Gonbe segera
mengikat itik-itik menjadi satu.
Ia mengikat 100 itik sekaligus.

Ketika itik ke seratus akan di
ikatnya, tiba-tiba itik-itik
tersebut terbangun dan segera
terbang. Gonbe yang takut
kehilangan tangkapannya,
segera memegang tali yang
diikatkannya ke itik tersebut.

Oleh kerana banyaknya itik yang
diikat, Gonbe terangkat dan
terbawa ke atas. Gonbe terus
terbang dibawa melintasi awan.

Di awan tersebut, ayah dan anak
halilintar sedang tidur dengan
nyenyak. "Dugg!" Kaki Gonbe
tersandung badan ayah
halilintar. Ayah halilintar terjaga
sambil marah-marah, ia segera
mengeluarkan halilintarnya yang
kemudian menyambar tali- tali
yang mengikat itik-itik itu.

Gonbe jatuh ke dalam laut. Dia
jatuh tepat di atas kepala naga
laut yang berada di
kerajaannya. Naga laut menjadi

marah dan mulai memutar-
mutar ekornya, lalu
memukulkannya ke Gonbe. Gonbe
tercampak lagi dari dalam laut
sehingga jatuh ke tanah.

Akhirnya, Gonbe jatuh ke atap
jerami rumah seorang pembuat
payung. "Kamu tidak apa-apa?"
Tanya si pembuat payung sambil
menolong Gonbe. "Maaf atap
anda jadi rosak. Berilah
pekerjaan pada saya untuk

mengganti kerugian anda".
"Kebetulan, aku memang sedang
kekurangan tenaga pembantu",
kata pembuat payung.

Sejak itu, Gonbe menjadi rajin
membuat payung. Suatu hari,
ketika sedang mengeringkan
payung di halaman, datang angin
yang sangat kencang. Kerana
takut payungnya terbang,
Gonbe segera menangkap
payung tersebut. Tetapi payung
tersebut terus naik ke atas

bersama Gonbe. Dengan tangan
gementar, Gonbe terus
memegang payung sambil terus
terbang dengan payungnya
hingga melintasi beberapa kota.

Payung tersebut akhirnya koyak
kerana tersangkut akan
menara dan pokok-pokok. Gonbe
pun jatuh. Untungnya, dia jatuh
tepat di sebuah tasik. Gonbe
merasa lega. Tidak lama
kemudian, tiba-tiba kepala

Gonbe dipatuk oleh sekawanan
haiwan. "Inikan itik-itik yang aku
ikat dengan tali? Ternyata
benar ya, kita tidak boleh tamak
menangkap sekaligus banyak."
Akhirnya Gonbe melepaskan
tali-tali yang mengikat kaki-
kaki itik tersebut dan
membiarkan mereka terbang
dengan bebas.

HIKMAH :
Kita tidak boleh menjadi orang
yang tamak haloba. Cerita di
atas menggambarkan adanya
hukuman bagi orang yang tamak
serta melanggar ketentuan
yang sudah ada.


Click to View FlipBook Version