The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan YPIB, 2023-07-27 02:26:43

PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL

PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL

Praktikum Teknologi Sediaan Steril 241 Kegiatan Praktikum 3 Evaluasi Sediaan Obat Tetes Steril Evaluasi sediaan dilakukan setelah sediaan disterilkan dan sebelum wadah dipasang etiket dan dikemas. Evaluasi sediaan ini hampir sama dengan sediaan injeksi yang telah dijelaskan di Modul sebelumnya. Evaluasi dilakukan sesuai dengan bentuk sediaan yang dibuat. LARUTAN 1. Penetapan pH (FI IV <1071>, 1039-1040) 2. Kejernihan Larutan(FI IV <881>, 998) => Untuk uji partikulat dapat dilihat di USP <788> atau FI IV <751>, 981. 3. Viskositas Larutan Tujuan Menjamin harga viskositas ruahan sesuai dengan spesifikasi dari produk yang telah ditentukan. Alat Viskometer Hoppler Prinsip Mengukur kecepatan bola jatuh melalui cairan dalam tabung pada suhu tetap Penafsiran hasil Viskositas cairan dapat dihitung dengan rumus : η = B (ρ1 – ρ2 ) t ket : η = viskositas cairan B = konstanta bola ρ1 = bobot jenis bola ρ2 = bobot jenis cairan t = waktu yang dibutuhkan bola untuk menempuh jarak tertentu SUSPENSI 1. Penetapan pH (FI IV <1071>, 1039-1040) 2. Homogenitas(Goeswin Agus, Teknologi farmasi liquida dan semisolida, 127) Tujuan Menjamin ke-homogenitas-an sediaan emulsi Prinsip Homogenitas dapat ditentukan berdasarkan jumlah partikel maupun distribusi ukuran partikelnya dengan pengambilan sampel pada berbagai tempat menggunakan mikroskop untuk hasil yang lebih akurat atau jika sulit dilakukan atau membutuhkan waktu yg lama, homogenitas dapat ditentukan secara visual.


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 242 PenafsiranHasil Suspensi yang homogen akan memperlihatkan jumlah atau distribusi ukuran partikel yang relatif hampir sama pada berbagai tempat pengambilan sampel. 3. Viskositas Larutan Tujuan Menjamin harga viskositas dan sifat aliran ruahan sesuai dengan spesifikasi dari produk yang telah ditentukan. Alat Viskometer Brookfield Prinsip Pengukuran dilakukan pada beberapa kecepatan geser. Penafsiran hasil Viskositas dihitung dengan mengalikan angka pembacaan dengan suatu faktor yang dapat dikutip dari tabel yang terdapat pada brosur alat.Untuk mengetahui sifat aliran, dibuat kurva antara ppm dengan usaha yang dibutuhkan untuk memutar spindle. A. EVALUASI FISIK 1. Evaluasi Organoleptik Tujuan Menjamin organoleptik sediaan sesuai dengan spesifikasi dari produk yang telah ditentukan. Prinsip Mengamati penampilan sediaan dari segi bau dan warna secara makroskopis. Penafsiran Hasil Sediaan memenuhi syarat bila warna dan bau sesuai dengan spesifikasi sediaan. 2. Kejernihan Larutan (FI IV <881>, 998) (khusus larutan) Untuk uji partikulat (adanya untuk injeksi) dapat dilihat di USP <788> atau FI IV <751>, 981. 3. Penentuan Bobot Jenis (FI IV <981>, hlm. 1030) 4. Penetapan pH (FI IV <1071>, 1039-1040) 5. Uji Volume Terpindahkan (FI IV <1261>, hlm. 1089) 6. Viskositas Larutan Tujuan Menjamin viskositas ruahan sesuai dengan spesifikasi dari produk yang telah ditentukan. Alat Viskometer Hoppler Prinsip Mengukur kecepatan bola jatuh melalui cairan dalam tabung pada suhu tetap Penafsiran hasil Viskositas cairan dapatdihitung dengan rumus : η = B (ρ1 – ρ2 ) t ket : η = viskositas cairan B = konstanta bola ρ1= bobot jenis bola


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 243 ρ2= bobot jenis cairan t = waktu yang dibutuhkan bola untuk menempuh jarak tertentu Viskositas Suspensi (khusus suspensi) Tujuan Menjamin viskositas dan sifat aliran ruahan sesuai dengan spesifikasi dari produk yang telah ditentukan. Alat Viskometer Brookfield Prinsip Pengukuran dilakukan pada beberapa kecepatan geser. Penafsiran hasil Viskositas dihitung dengan mengalikan angka pembacaan dengan suatu faktor yang dapat diambil dari tabel yang terdapat pada brosur alat.Untuk mengetahui sifat aliran, dibuat kurva antara ppm dengan usaha yang dibutuhkan untuk memutar spindle . 7. Uji Kebocoran (Goeswin Agoes, Larutan Parenteral, 191) Tujuan Memeriksa keutuhan kemasan untuk menjaga sterilitas dan volume serta kestabilan sediaan. Prinsip Untuk cairan bening tidak berwarna (a) wadah takaran tunggal yang masih panas setelah selesai disterilkan, dimasukkan ke dalam larutan metilen biru 0,1%. Jika ada wadah yang bocor maka larutan metilen biru akan masuk ke dalam karena perubahan tekanan di luar dan di dalam wadah tersebut sehingga larutan dalam wadah akan berwarna biru. Untuk cairan yang berwarna (b) lakukan dengan posisi terbalik, wadah takaran tunggal ditempatkan diatas kertas saring atau kapas. Jika terjadi kebocoran, maka kertas saring atau kapas akan basah. (c) wadah-wadah yang tidak dapat disterilkan, kebocorannya harus diperiksa dengan memasukkan wadah-wadah tersebut dalam eksikator, yang kemudian divakumkan. Jika ada kebocoran larutan akan diserap keluar. Harus dijaga agar jangan sampai larutan yang telah keluar, diisap kembali jika vakum dihilangkan. Hasil Sediaan memenuhi syarat jika larutan dalam wadah tidak menjadi biru (prosedur a) dan kertas saring atau kapas tidak basah (prosedur b) Tambahan untuk Suspensi 8. Distribusi Ukuran Partikel Tujuan Menentukan distribusi ukuran partikel sediaan suspensi. Prinsip Menghitung frekuensi ukuran partikel dengan menggunakan mikroskop dan membuat plot antara frekuensi ukuran terhadap rentang ukuran partikel. Penafsiran Hasil Distribusi ukuran yang baik adalah yang menghasilkan kurva distribusi normal.


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 244 9. Homogenitas (Goeswin Agus, Tekno farmasi liquida dan semisolida, 127) Tujuan Menjamin ke-homogenitas-an sediaan OTM/OTT/OTH Prinsip Homogenitas dapat ditentukan berdasarkan jumlah partikel maupun distribusi ukuran partikelnya dengan pengambilan sampel pada berbagai tempat menggunakan mikroskop untuk hasil yang lebih akurat atau jika sulit dilakukan atau membutuhkan waktu yang lama, homogenitas dapat ditentukan secara visual Penafsiran Hasil Suspensi yang homogen akan memperlihatkan jumlah atau distribusi ukuran partikel yang relatif hampir sama pada berbagai tempat pengambilan sampel. 10. Volume Sedimentasi (Disperse System Vol. II, 299) Tujuan Melihat kestabilan suspensi yang dihasilkan. Prinsip Perbandingan antara volume akhir (Vu) sedimen dengan volume asal (Vo) sebelum terjadi pengendapan. Penafsiran Hasil Volume sedimentasi dapat dihitung dengan rumus: F = Vu/Vo x 100 Semakin besar fraksi, semakin baik suspendibilitasnya. Ketika rasio di- plot terhadap waktu, semakin horizontal slope-nya, semakin flokul suspensinya. Secara umum, volume sedimentasi berbanding langsung terhadap ukuran flok, dan laju pengendapan berbanding terbalik terhadap jumlah deflokulasi. 11. Kemampuan Redispersi (Disperse System Vol. II, 304) Cara 1. Tujuan Mengamati kemampuan redispersi sediaan, untuk memperkirakan penerimaan pasien terhadap suatu suspensi, di mana endapan yang terbentuk harus dengan mudah didispersikan kembali dengan pengocokan sedang agar menghasilkan sistem yang homogen. Prinsip 100 mL Suspensi yang telah tersedimentasi dimasukkan ke dalam tabung silinder, lalu dirotasikan 360° pada 20 rpm. Penafsiran Hasil Kemampuan redispersi baik bila dasar silinder bebas dari sedimentasi, atau suspensi telah terdispersi sempurna. Cara 2. Prinsip Penentuan kemampuan redispersi dilakukan dengan mengendapkan suspensi menggunakan pengocok mekanik dalam kondisi yang terkendali kemudian diredispersikan kembali. Penafsiran Hasil Kemampuan redispersi baik bila suspensi telah terdispersi sempurna dengan pengocokan tangan maksimum 30 detik


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 245 B. EVALUASI KIMIA Identifikasi dan Penetapan kadar C. EVALUASI BIOLOGI 1. Uji Sterilitas (FI IV <71>, hlm 855-863) 2. Uji Efektivitas Pengawet (FI IV <61>, 854-855) (khusus untuk formula yang menggunakan pengawet) 3. Penetapan Potensi Antibiotik Secara Mikrobiologi (FI IV <131>, 891-899) (untuk zat aktif antibiotik) Hasil Praktikum Berdasarkan pustaka yang telah dituliskan untuk masing-masing evaluasi, lakukan evaluasi untuk dua sediaan obat tetes steril yang telah dibuat dan tuliskan hasilnya pada tabel berikut ini: Tabel 1. Hasil Evaluasi Sediaan No Jenis Evaluasi Prinsip Evaluasi Jumlah Sampel Hasil Pengamatan Syarat 1 2 3 4 5 6 Laporan Hasil Praktikum Format penilaian di atas dapat digunakan baik oleh mahasiswa sebagai panduan praktikum, maupun oleh instruktur sebagai pedoman praktikum dalam melakukan persiapan pembuatan sediaan obat tetes steril. Instruktur akan mengumpulkan hasil penilaian praktikum mahasiswa yang dinyatakan lulus.


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 246 RINGKASAN Evaluasi sediaan yang dilakukan untuk sediaan larutan steril dalam bentuk Obat Tetes sebagai berikut: 1. Evaluasi IPC a. Penetapan pH b. Homogenitas c. Penetapan viskositas 2. Evaluasi sediaan akhir A. Evaluasi fisik 1) Organoleptik 2) Uji kejernihan 3) Penetapan pH 4) Penentuan bobot jenis 5) Uji volume terpindahkan 6) Penentuan viskositas dan aliran 7) Distribusi ukuran partikel 8) Homogenitas 9) Volume sedimentasi 10) Kemampuan redispersi 11) Uji kebocoran wadah 12) Pemeriksaan bahan partikulat B. Evaluasi kimia 1) Identifikasi 2) Penetapan kadar C. Evaluasi biologi 1) Uji sterilitas 2) Uji efektivitas pengawet antimikroba 3) Kandungan zat antimikroba TES 3 Pilihlah satu jawaban yang paling tepat! 1) Berikut merupakan evaluasi fisik sediaan obat tetes mata tipe suspensi, yaitu: A. Penentuan potensi dan pengawet B. Identifikasi dan penetapan kadar C. Penentuan homogenitas dan distribusi ukuran partikel D. Penetapan kadar dan volume sedimentasi E. Kenampuan redispersibilitas dan uji sterilitas


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 247 2) Berikut ini adalah alat yang digunakan untuk menguji viskositas suspensi: A. Viskometer Cup and Bob B. Viskometer Stormer C. Viskosimeter Brookfield D. Viskosimeter kapiler E. Viskosimeter Hoppler 3) Berikut ini adalah evaluasi yang dilakukan untuk obat tetes steril, kecuali: A. Pengujian bobot jenis B. Penentuan pH C. Uji viskositas D. Uji isi minimum E. Uji volume terpindahkan


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 248 Kunci Jawaban Tes Formatif Tes 1 1) B 2) A 3) E 4) B 5) C Tes 2 1) C 2) C 3) D 4) A 5) E Tes 3 1) E 2) E 3) A 4) C 5) A


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 249 Glosarium BP : British Pharmacope FI : Farmakope Indonesia mOsm/L : Mili osmol per liter BM : Bobot molekul ⁰C : Derajat Celcius LAL : Limulus Amebocyte Lysate


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 250 Daftar Pustaka Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1978. Formularium Nasional Edisi Kedua. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 323. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 173-174; 519-521; 1044. Lachman, Leon.(1993) Pharmaceutical Dosage Forms: Parenteral Medications Volume 2, 2 nd edition, New York: Marcell Dekker Inc. hal: 561 Lukas, Stefanus. 2006. Formulasi Steril. Yogyakarta: Andi Offset. Halaman 61, 81. Lund, W. 1994. The Pharmaceutical Codex 12th Edition. London: The Pharmaceutical Press. Halaman 101. Rowe, Raymond C., Sheskey, Paul J., Quinn, Marian E.. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th Edition. London: The Pharmaceutical Press. Halaman 637-639. Sweetman, Sean C., 2009. Martindale 36th Edition. London: The Pharmaceutical Press. Halaman 2414. Syamsuni .2007. Ilmu Resep. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta The Council of The Pharmaceutical Society of Great Britain. The Pharmaceutical Codex, 12thed, Principles and Practice of Pharmaceutics., 1994. London: The PharmaceuticalPress (hal 164) The Department of Health, Social Service and Public Safety. British Pharmacopoeia 2002. London. Halaman 1889.


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 251 MODUL VIII PEMELIHARAAN ALAT DI INDUSTRI FARMASI Angreni Ayuhastuti, M.Si., Apt PENDAHULUAN Pada modul sebelumnya, Anda dipandu untuk dapat membuat sebagian besar bentuk sediaan steril agar dapat bekerja di industri farmasi khususnya divisi Steril. Dalam modul praktikum kedelapan ini, Anda akan mempraktekkan pemeliharaan (maintenance) peralatan. Validasi dan perawatan terencana terhadap semua peralatan seperti sterilisator, sistem penangadan dan penyaringan udara, ventilasi udara dan filter gas serta sistem pengolahan, penyimpanan dan pendistribusian air wajib dilakukan di industri farmasi. Keterampilan dalam melakukan perawatan alat, penting untuk Anda pahami karena proses tersebut dilakukan secara rutin dan terjadwal untuk menunjang pembuatan sediaan steril di industri farmasi. Agar kompetensi belajar praktikum ini tercapai maka anda diharapkan mengerjakan semua tugas secara berurutan, dari Kegiatan Praktikum 1 dan 2. Pada kegiatan praktikum 1, anda akan dipandu dalam melakukan kualifikasi kinerja autoklaf. Sebelum memulai praktikum Anda diminta untuk mempelajari alur praktikum dan terpenting adalah prosedur pelaksanaan kualifikasi kinerja. Setelah melaksanakan praktikum ini, pada kegiatan Praktikum 2, anda akan dipandu untuk melakukan kualifikasi kinerja oven, akan tetapi terlebih dahulu Anda harus mengisi jurnal dengan mengacu pada contoh pada Kegiatan Praktikum 1. Setelah melakukan praktikum ini, Anda diharapkan untuk dapat: 1. Melakukan kualifikasi kinerja autoklaf 2. Melakukan kualifikasi kinerja oven Agar kompetensi di atas dapat dicapai dengan baik, maka materi dalam modul praktikum ini dikemas dalam 2 (dua) kegiatan praktikum sebagai berikut. Kegiatan Praktikum 1. Kualifikasi kinerja autoklaf Kegiatan Praktikum 2. Kualifikasi kinerja oven


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 252 Kegiatan Praktikum 1 Kualifikasi Kinerja Autoklaf Seluruh peralatan yang digunakan dalam pembuatan dan analisis, dimana perlu, hendaklah dilakukan kualifikasi dan kalibrasi secara berkala (CPOB 2012, hlm. 119). Berdasarkan Annex 4 WHO Supplementary guidelines on good manufacturing practices: validation, kualifikasi adalah tindakan untuk membuktikan dan mendokumentasikan bahwa semua hal, sistem dan peralatan telah diinstalasi dengan seharusnya, dan/atau telah beroperasi dengan benar dan memberikan hasil yang sesuai dengan yang diinginkan. Kualifikasi merupakan bagian (bagian awal) dari validasi, akan tetapi tiap langkah kualifikasi sendiri bukan merupakan proses validasi. Terdapat empat tahap kualifikasi, antara lain kualifikasi desain (DQ), kualifikasi instalasi (IQ), kualifikasi operasional (OQ), dan kualifikasi kinerja (PQ) (Annex 4 WHO Technical Report Series, No. 937, 2006). Peralatan kritis yang harus dikualifikasi antara lain sterilisator, misalnya autoklaf dan oven. Kualifikasi kinerja autoklaf hendaklah mencakup: Distribusi panas Pengukuran hendaklah menggunakan probe/ termokopel minimal 10 buah; 12 buah untuk 2 m3 dan tiap penambahan 1 m3 jumlah probe/ termokopel hendaklah ditambah 2, dengan perbedaan suhu antar probe / termokopel tidak lebih dari 1°C sedangkan titik tertinggi dan terendah hasil pemeriksaan distribusi panas hendaklah maksimal 5°C dalam keadaan kosong. Penetrasi panas Penetrasi panas dilakukan menggunakan mikroba standar antara lain: Bacillus stearothermophilus Kualifikasi hendaklah dilakukan terhadap autoklaf dalam keadaan baik kosong maupun terisi untuk tiap jenis muatan, misal: wadah terisi, wadah kosong, pakaian dan sebagainya. Untuk muatan yang berisi cairan lebih dari 100 ml (misalnya 250 ml, 500 ml dan 1000 ml) hendaklah dilakukan pemetaan suhu (container mapping). Pemetaan suhu dapat dilakukan dengan ”bracketing method” bila mempunyai ketiga jenis kemasan tersebut. Untuk proses sterilisasi wadah yang besar, filter yang sudah dirakit dalam wadah filter dan obat jadi dalam kemasan yang besar, termokopel dan bioindikator hendaklah dimasukkan ke dalamnya.


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 253 PROTOKOL KUALIFIKASI KINERJA AUTOKLAF 1. Tujuan Untuk membuktikan bahwa autoklaf merek ... tipe ... yang terpasang di gedung ... pada ruang ...................... menunjukkan kinerja yang sesuai dengan pengoperasian alat yang konsisten. 2. Ruang Lingkup Kualifikasi kinerja ini khusus untuk autoklaf dengan muatan pakaian kerja steril. 3. Referensi Farmakope ........................ Manual autoklaf merek …………….. tipe ... 4. Bahan dan Alat Spore strips Bacillus stearothermophilus ATCC 7953 (>1 x 106) Steritape Thermocontrol yang dilengkapi dengan 12 sensor termokopel Plat pemanas merek…………………… tipe ……………… Pengaduk otomatis merek …………….. tipe …………… Beaker glass ……ml berisi minyak silikon … ml yang dilengkapi dengan thermometer standar .... set pakaian kerja steril yang digunakan di Area Aseptik Wadah larutan kosong ……………. L dengan satu set filter merek………. Dilengkapi filter membran Ø …… mm, ukuran pori ... μ yang digunakan untuk penyaringan. 5. Prosedur 5.1. Kalibrasi Termokopel Sebelum dan Sesudah Kualifikasi 5.1.1.Kalibrasi dilakukan dengan cara memasukkan secara bersamaan semua termokopel dalam beaker glass yang berisi minyak silikon yang dilengkapi dengan termometer standar atau termokopel standar. beaker glass dipanaskan dengan menggunakan plat pemanas dan pengaduk otomatis sampai suhu 121ºC. 5.1.2.Setelah 10 menit suhu yang di-set 121ºC tercapai, catat hasil dari 5 kali pengukuran pada waktu yang berbeda. 5.1.3.Tentukan suhu tertinggi dan terendah pada setiap pengukurannya. 5.1.4.Lakukan penghitungan perbedaan pada suhu tertinggi dan terendah denganmenggunakan rumus sbb. dT maks (1) = Maks dari (Tx(maks)-Ty(min)) ; termokopel x dan y 5.1.5.Tentukan perbedaan terbesar antara termokopel yang sedang diukur dengan termokopel standar sesuai dengan rumus :


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 254 Kriteria Keberterimaan: Perbedaan tertinggi (maksimum) suhu antara semua termokopel (rata-rata dT maks (1)) tidak boleh lebih dari 1,0 °C. Perbedaan tertinggi (maksimum) suhu antara sebuah termokopel dan termokopel standar (rata-rata dT maks (2)) tidak boleh lebih dari 0,5 °C. 5.2. Uji Kebocoran Sebelum dan sesudah kualifikasi, lakukan pemeriksaan kebocoran pada autoklaf dengan memulai program uji kebocoran yang ada di menu komputer autoklaf. Pada saat terakhir uji kebocoran, lakukan pembacaan tekanan absolut terakhir. Vakum dari tampilan komputer di autoklaf dan catat pada hasil cetakan untuk setiap uji. Tempelkan hasil cetakan komputer dari uji kebocoran autoklaf pada laporan kualifikasi. Kriteria Keberterimaan: Rata-rata kebocoran tidak boleh lebih dari 1,3 kPa/10 menit. Nilai absolut vakum < 7 kPa. 5.3. Distribusi Panas pada Autoklaf dalam Keadaan Kosong Letakkan termokopel dalam autoklaf seperti yang terlihat pada Gambar 1. Letakkan termokopel 1,2 dan 3 pada bagian depan diagonal. Letakkan termokopel 4,5,6 dan 7 pada bagian tengah depan dan belakang autoklaf. Letakkan termokopel 8,9 dan 10 pada bagian belakang diagonal. Letakkan termokopel 11 pada rak no. 2 di tengah, berdekatan dengan termokopel dari autoklaf. Letakkan termokopel 12 di bagian pembuangan. Gunakan Steritape untuk melekatkan termokopel.


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 255 Letakkan termokopel standar pada alat pemanas dan atur agar suhunya 121°C. Tanpa ada material lain di autoklaf, pilih menu sterilisasi pada siklus “porous load”,suhu 121°C, 15 menit untuk uji waktu siklus. Catat suhu pada saat program tersebut dimulai sampai dengan siklus sterilisasi otomatis dimulai. Pada saat siklus sterilisasi dimulai, catat suhu tiap 1-2 menit dari termokopel, lanjutkan pencatatan sampai siklus sterilisasi berakhir. Buat rangkuman data dalam bentuk format tabel. Masukkan dalam tabel tersebut suhu yang terukur oleh termokopel dari autoklaf (Lihat hasil cetakan printer autoklaf). Juga masukkan dalam tabel tersebut tekanan di dalam autoklaf yang diukur oleh alat pengukur tekanan di autoklaf (Lihat hasil cetakan printer autoklaf). Tentukan titik terdingin / terendah dan titik terpanas / tertinggi. Tentukan perbedaan suhu masing-masing pada waktu tertentu. Kriteria Keberterimaan: Perbedaan suhu antara suhu terpanas / tertinggi dengan suhu terendah / terdingin tidak boleh melebihi 5 °C. 5.4. Distribusi Panas pada Autoklaf dengan Muatan Pakaian Kerja Steril Kemas pakaian kerja steril dalam kantong untuk sterilisasi yang disegel dengan Steritape. Masukkan pakaian kerja steril pada rak no. 2, dan pakaian kerja steril pada rak no. 1 dalam autoklaf. Letakkan pakaian secara merata pada rak yang disebut di atas. Letakkan termokopel di dalam autoklaf pada posisi sesuai Gambar Butir 6.3. Letakkan termokopel 2,3,5,7,9,10 dan 11 di dalam atau di antara pakaian kerja steril tersebut. Jika dibutuhkan lekatkan termokopel dengan Steritape. Letakkan termokopel standar pada alat pemanas dan atur agar suhunya 121°C. Pilih menu sterilisasi pada siklus “porous load”, suhu 121°C, 15 menit untuk uji waktu siklus. Catat suhu pada saat program tersebut dimulai sampai dengan siklus sterilisasi otomatis berjalan. Pada saat siklus sterilisasi dimulai, catat suhu tiap 1-2 menit dari termokopel, lanjutkan pencatatan sampai siklus sterilisasi berakhir. Buat rangkuman data dalam bentuk format tabel. Masukkan dalam tabel tersebut suhu yang terukur oleh termokopel dari autoklaf (lihat hasil cetakan printer autoklaf). Juga masukkan dalam tabel tersebut tekanan di


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 256 dalam autoklaf yang diukur oleh alat pengukur tekanan di autoklaf (Lihat hasil cetakan printer autoklaf). Tentukan titik terdingin / terendah dan titik terpanas / tertinggi. Tentukan perbedaan suhu masing masing pada waktu tertentu. Kriteria Penerimaan: Perbedaan suhu antara suhu terpanas / tertinggi dengan suhu terendah/ terdingin tidak boleh melebihi 5 °C (semua suhu harus berkisar 119-124°C). 5.5. Penetrasi Panas pada Autoklaf dengan Muatan Pakaian Kerja Steril Ulangi prosedur seperti distribusi panas pada Butir 6.4, tetapi letakkan 10- 12 spore strips (Bacillus stearothermophilus, > 106 / strip) berdekatan dengan 12 termokopel. Setelah selesai proses sterilisasi, kumpulkan spore strips. Lakukan pembiakan bersamaan dengan 2 spore strips yang tidak disterilkan dengan bets yang samasebagai kontrol positif. Hitung untuk titik terpanas / tertinggi dan titik terdingin / terendah nilai F0 untuk selang waktu 2 menit dengan rumus sbb: F0(121°C) = 2 x 10A (menit) A : ((T(t=x) + T(t=x+2))/2 - 121)/nilai Z, T(t=x) : suhu pada waktu x menit T(t=x+2) : suhu pada waktu x+2 menit Nilai Z : nilai Z (= 10) Bacillus stearothermophilus pada 121 °C. Hitung nilai F0 kumulatif untuk suhu terendah dan tertinggi selama 15 menit, dengan menambahkan semua nilai F0. Kriteria Keberterimaan: Suhu di dalam autoklaf > 121 °C tidak boleh kurang dari 12 menit, untuk menjamin bahwa nilai F0 > 12 (F0 lihat berikutnya). Nilai kumulatif F0 > 12 untuk titik terendah / terdingin. Semua spore strips yang mengalami proses sterilisasi tidak menunjukkan pertumbuhan mikroba sedangkan kontrol positif menunjukkan pertumbuhan mikroba. RINGKASAN Kualifikasi adalah tindakan untuk membuktikan dan mendokumentasikan bahwa semua hal, sistem dan peralatan telah diinstalasi dengan seharusnya, dan/atau telah beroperasi dengan benar dan memberikan hasil yang sesuai dengan yang diinginkan.


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 257 Kualifikasi merupakan bagian (bagian awal) dari validasi, akan tetapi tiap langkah kualifikasi sendiri bukan merupakan proses validasi. Terdapat empat tahap kualifikasi, antara lain kualifikasi desain (DQ), kualifikasi instalasi (IQ), kualifikasi operasional (OQ), dan kualifikasi kinerja (PQ) (Annex 4 WHO Technical Report Series, No. 937, 2006). Prosedur kualifikasi kinerja autoklaf secara singkat adalah sebagai berikut: 1. Kalibrasi Termokopel Sebelum dan Sesudah Kualifikasi 2. Uji Kebocoran 3. Distribusi Panas pada Autoklaf dalam Keadaan Kosong 4. Distribusi Panas pada Autoklaf dengan Muatan Pakaian Kerja Steril 5. Penetrasi Panas pada Autoklaf dengan Muatan Pakaian Kerja Steril TES 1 Pilihlah satu jawaban yang paling tepat! 1) Apakah yang dimaksud dengan kualifikasi? A. Seperangkat pekerjaan untuk memastikan bahwa alat ukur dapat memberikan hasil pengukuran sesuai dengan nilai referensi standar. B. Suatu tindakan penyesuaian dan pengujian alat atau sistem untuk memastikan bahwa alat atau sistem telah sesuai dengan persyaratan. C. Tindakan pembuktian dan pendokumentasian semua hal, sistem dan peralatan telah diinstalasi dengan seharusnya, dan/atau telah beroperasi dengan benar dan memberikan hasil yang sesuai dengan yang diinginkan. D. Tindakan pendokumentasian dan pemastian bahwa proses pembuatan sediaan dapat menghasilkan produk yang memiliki hasil yang konsisten/ reproducible. E. Evaluasi produksi yang telah dilakukan, pemastian bahwa produk yang telah dihasilkan memiliki komposisi, prosedur, dan peralatan yang sama/ tidak berubah. 2) Berikut ini adalah jenis kualifikasi yang harus dilakukan di industri farmasi, kecuali A. Revalidasi B. Kinerja C. Operasional D. Instalasi E. Desain 3) Berikut ini adalah persyaratan kualifikasi kinerja alat, yaitu: A. Dilakukan pada alat dengan adanya modifikasi atau pemindahan lokasi B. Dilakukan pada alat yang telah dipasang dalam waktu yang lama C. Terdapat permasalahan kontaminasi


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 258 D. Rekualifikasi periodik E. Terdapat penggantian setiap komponen yang kritis dari alat 4) Berikut ini adalah mikroba standar yang digunakan untuk penetrasi panas, yaitu: A. Bacillus var niger B. Bacillus stearothermophillus C. Bacillus algicola D. Bacillus alvei E. Bacillus amyloliquefaciens 5) Uji kebocoran pada autoklaf dapat diterima bila rata-rata kebocoran tidak boleh lebih dari: A. 1,1 kPa/10 menit B. 1,2 kPa/10 menit C. 1,3 kPa/10 menit D. 1,4 kPa/10 menit E. 1,5 kPa/10 menit


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 259 Kegiatan Praktikum 2 Melakukan Kualifikasi Kinerja Oven Pada praktikum kedua ini, Anda akan dipandu untuk melakukan kualifikasi kinerja alat sterilisasi yang kedua, yaitu oven. Oven digunakan untuk sterilisasi bahan yang tahan pemanasan, dengan menggunakan suhu 170o C selama 1 jam. Prinsip sterilisasi ini adalah menggunakan panas kering. Kualifikasi kinerja oven hendaklah dilakukan terhadap oven dalam keadaan kosong maupun terisi untuk tiap jenis muatan, misal: wadah kosong, nozzle dan sebagainya. Untuk produk yang harus bebas pirogen, kualifikasi oven hendaklah mencakup validasi proses depirogenisasi (CPOB, 2012). Penetrasi panas dilakukan menggunakan mikroba standar antara lain: * Bacillus subtilis Kualifikasi hendaklah dilakukan pada: alat baru dipasang, dimodifikasi, dipindahkan atau penggantian setiap komponen yang kritis dari sterilisator; rekualifikasi periodik; tiap perubahan konfigurasi muatan (”loading pattern”); dan masalah kontaminasi. Termokopel yang dipakai untuk melakukan kualifikasi baik otoklaf maupun oven sterilisator hendaklah dikalibrasi sebelum dan sesudah kualifikasi. Protokol Kulifikasi Kinerja Oven Sterilisator / Depirogenasi 1. Tujuan Kualifikasi Kinerja Oven Sterilisator / Depirogenisasi model .......... adalah sebagai tindak lanjut Kualifikasi Operasional bertujuan untuk menjamin bahwa parameter yang digunakan pada proses sterilisasi dan depirogenisasi telah cukup efektif dan efisien yaitu mampu menunjukkan sterility assurance level berupa penurunan endotoksin minimal 3 log dengan reference standard endotoksin E. coli dan penurunan jumlah mikroba minimal 6 log (metode overkill) pada konfigurasi muatan maksimum dalam wadah / barang yang paling sukar menerima panas yang ditempatkan pada daerah terdingin. 2. Ruang Lingkup Meliputi proses sterilisasi dan depirogenisasi pada Oven Sterilisator / Depirogenisasi model ....... untuk Konfigurasi Muatan 1 (Ampul 2 ml) dan Konfigurasi Muatan 2 (Tangki Baja dan peralatan lain).


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 260 3. Tanggung Jawab Semua Personil yang terlibat dalam pengujian dan dokumentasi yang dilakukan dalam Protokol ini mempunyai tanggung jawab sebagai berikut: Memastikan bahwa seluruh prosedur diikuti dengan benar sesuai Protokol. Memastikan bahwa semua data yang diperlukan dicatat dengan benar dalam lembar kerja. Memastikan raw data, isian pada lembar kerja, gambar dan diagram ditandatangani serta dibubuhi tanggal. Bahwa laporan hasil pengujian dikerjakan sesuai Protokol, dan dokumentasi hasil uji merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Protokol ini (akan dilampirkan pada laporan validasi). 4. Referensi Buku Manual Oven Merek .... Tipe .... Farmakope..... 5. Alat Bahan Pendukung yang Diperlukan Thermocontrol Termokopel Steritape LAL Standard, sensitivity 0,125 EU/ml LAL Reagent Water Beaker glass berisi minyak silikon yang dilengkapi dengan termometer standar atau Thermoblock Vortex mixer Airborne Particle Counter Merek .... Tipe ..... Stopwatch 6. Pemeriksaan Jumlah Partikel dalam Oven Prosedur : Hidupkan oven tanpa pemanasan. Ukur partikel pada tiga titik di depan masing-masing HEPA Filter (ada tiga HEPA filter) dengan menggunakan Particle Counter. Lakukan 3 kali pengukuran. Lampirkan data yang diperoleh ke Dokumen Kualifikasi. Kriteria keberterimaan: Jumlah partikel dalam oven harus memenuhi persyaratan untuk kelas A.


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 261 7. Verifikasi Kebocoran Oven Prosedur : Tutup pintu pada sisi steril maupun sisi nonsteril dan pasang grendel pintu. Set oven pada temperatur rendah (40ºC) dan nyalakan oven dengan memutar tombol oven-pressure fan. Uji kebocoran dengan menggunakan asap yang diciptakan dengan “smoke stick” merek ......................... di sepanjang sela-sela pintu. Kebocoran ditandai dengan hembusan angin dari sela-sela pintu yang menghalau asap. Kriteria keberterimaan: Tidak ada kebocoran dari dalam oven baik ke ruangan nonsteril maupun ruangan steril yang ditunjukkan dengan tidak ada hembusan angin dari selasela pintu yang menghalau asap baik pada sisi steril maupun sisi nonsteril. 8. Kalibrasi Termokopel Kalibrasi Termokopel harus dilaksanakan segera sebelum dan sesudah Kualifikasi Kinerja Oven. Kalibrasi dilakukan dengan cara memasukkan secara bersamaan semua termokopel ke dalam beaker glass yang berisi minyak silikon yang dilengkapi dengan thermometer standar dipanaskan dengan menggunakan pelat pemanas dan pengaduk otomatis sampai temperatur 230 ºC. Setelah temperatur 230 ºC tercapai selama 10 menit, catat hasil dari 5 kali pengukuran pada waktu berbeda. Tentukan temperatur tertinggi dan terendah pada tiap pengukuran. Lakukan penghitungan perbedaan antara temperatur tertinggi dan temperatur terendah dengan menggunakan rumus sbb: dT maks (1) = Maks dari (Tx(maks)-Ty(min)); Termokopel x dan y Tentukan juga perbedaan hasil pengukuran terbesar antara termokopel yang sedang diukur dan termokopel standar sesuai dengan rumus : dT maks (2) = Maks dari (Tstd(t)-Tx(min)), std = standar, x = termokopel Kriteria keberterimaan: Perbedaan terbesar (maksimum) temperatur antara semua termokopel (ratarata dT maks (1)) tidak boleh lebih dari 1,0 °C. Perbedaan terbesar (maksimum) temperatur antara sebuah termokopel dan termokopel standar (rata-rata dT maks (2)) tidak boleh lebih dari 0,5 °C. 9. Pengamatan Distribusi Panas dalam Keadaan Kosong Tujuan : Untuk mengetahui distribusi panas atau keseragaman panas di dalam oven kosong.


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 262 10. Prosedur : a. Pasang minimal 10 - 12 buah termokopel dalam chamber secara horizontal, vertikal dan lateral pada titik-titik yang ditunjuk pada Gambar 1. Gambar Titik Penempatan Termokopel). b. Hubungkan termokopel dengan recorder. c. Mulai siklus pemanasan. d. Catat hasil pada Lembar Kerja (Lampiran 2. Hasil Pengamatan dan Perhitungan). e. Lampirkan hasil rekam grafik sterilisasi. Perhitungan : 1. Rata-rata temperatur dari masing-masing termokopel T rata-rata = T1 + T2 + T3+ ….TN/N T = Bacaan temperatur dari masing-masing termokopel N = Jumlah termokopel yang digunakan pada Temperatur Distribusi 2. Perbedaan temperatur daerah tertinggi dan daerah terendah dari masing-masing termokopel. T = T hot - T cold T = Perbedaan temperatur yang terbesar T hot = Temperatur yang tertinggi T cold = Temperatur yang terendah 3. Perbedaan temperatur terendah dan temperatur setting pada tiap termokopel T = T cold - T set point T = Perbedaan temperatur yang terkecil T cold = Temperatur yang terendah T set point = Temperature Setting yang diatur pada alat Lakukan 3 kali pengamatan. Kriteria keberterimaan: Perbedaan antara temperatur yang tertinggi (hottest point) dan temperatur yang terendah (coldest point) : Maksimal 5o C. Pengamatan Distribusi Panas dengan Muatan Tujuan : Untuk menentukan daerah dengan temperatur terendah pada tiap jenis muatan oven / peralatan yang disterilkan.


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 263 Prosedur : 1. Masukkan ampul 2 ml kosong ke dalam oven sampai penuh (Konfigurasi Muatan 1) atau tangki baja serta peralatan (Konfigurasi Muatan 2). 2. Pasang termokopel pada oven pada posisi yang sama dengan yang digambarkan pada Lampiran 1. Gambar Titik Penempatan Termokopel. 3. Jalankan oven dan mulai sterilisasi / depirogenisasi pada setting 230oC selama 90 menit. 4. Catat temperatur pada saat program tersebut dimulai sampai dengan siklus sterilisasi otomatis dimulai (Lihat Pedoman CPOB 2012, Butir 115). 5. Pada saat siklus sterilisasi dimulai, catat temperatur pada lembar kerja (Lampiran 2. Hasil Pengamatan dan Perhitungan), lanjutkan pencatatan sampai siklus sterilisasi berakhir. 6. Lampirkan hasil rekam grafik sterilisasi. 7. Tentukan titik terendah dan titik tertinggi. Tentukan perbedaan temperatur masingmasing pada waktu tertentu. Lakukan minimal 3 kali pengamatan. Kriteria keberterimaan: Perbedaan temperatur antara temperatur tertinggi dengan temperatur terendah tidak boleh melebihi 15°C pada siklus depirogenisasi. Perbedaan temperatur terendah dengan temperatur setting tidak boleh lebih dari 2°C. Pengamatan Penetrasi Panas dengan Muatan Maksimal Percobaan ini dapat dilakukan bersamaan dengan Uji Endotoksin Prosedur : Lakukan percobaan ini pada peralatan yang disterilkan. Letakkan peralatan / vial / ampul / tangki yang akan disterilkan dalam oven yang dikualifikasi. Masukkan probe thermocouple ke dalam masing-masing perlengkapan / alat / vial / ampul atau bahan yang disterilkan. Jalankan oven dan mulai sterilisasi pada setting 230°C selama 90 menit. Catat temperatur pada saat program tersebut dimulai sampai dengan siklus sterilisasi otomatis dimulai. Setelah tercapai temperatur sterilisasi / depirogenisasi (230oC), catat temperatur tiap 5 menit pada tabulasi. Lampirkan hasil rekam grafik sterilisasi. Tentutan titik terendah dan titik tertinggi. Hitung L dari tiap termokopel.


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 264 Perhitungan : 1. Hitung lethal rate (L) dari temperatur terendah dan tertinggi dari tiap termokopel. L = 10 (t- 170)/Z t = Temperatur yang dibaca 170 oC = Temperatur dasar Z = Temperatur incremental untuk oven (20) 2. Hitung acumulative lethality (Fh) Fh = Δ T x Σ L L = Lethal rate dari tiap waktu pengamatan Δ T = Interval waktu pengamatan Lakukan 3 kali pengamatan Kriteria keberterimaan : 1. Temperatur dalam oven 220 o C – 235 o C selama minimal 60 menit. 2. Perbedaan temperatur tertinggi dan terendah tidak boleh lebih dari 10 o C. 3. Fh (170 °C) > 40 menit. (Berdasarkan Bacillus subtilis, D(160°C) 10 menit, prinsip overkill, lebih dari pengurangan 12 log , Fh(160°C) = D(160°C) x (Log N(o) - Log N(t) = 120 menit. Dengan nilai Z = 20, dapat dihitung bahwa D(170°C) = 10 exp 0.5 = 3.3 maka Fh(170°C) = 3.3 x 12 = 40 menit). Uji Endotoksin Uji ini dapat dilakukan bersamaan dengan pengamatan penetrasi panas dengan menempatkan endotoksin di dekat semua termokopel, atau bila dilakukan setelah pengamatan penetrasi panas, endotoksin ditempatkan dekat dengan 50% jumlah termokopel dan pada daerah temperatur terendah. Prosedur : 1. Gunakan minimal 10 buah indikator biologi endotoksin untuk masing-masing pola pengujian. 2. Tentukan kadar endotoksin sebelum digunakan untuk Uji Endotoksin. 3. Letakkan minimal 50 % endotoksin pada daerah yang diketahui temperaturnya terendah dan letakkan endotoksin berdekatan dengan ujung termokopel pada bagian dalam alat yang disterilkan. 4. Catat hasil pada lembar kerja (Lampiran 2. Hasil Pengamatan dan Perhitungan). Lakukan 3 kali pengamatan Kriteria keberterimaan : Penurunan jumlah endotoksin tidak kurang dari 3log atau 1000 EU pada tiap lokasi. Kontrol positif endotoksin menunjukkan jumlah minimal 1000 EU. Kontrol negatif endotoksin tidak menunjukkan adanya endotoksin.


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 265 Catatan: Bila oven hanya digunakan untuk proses sterilisasi (tanpa depirogenisasi) lakukan seluruh tahap kualifikasi pada temperatur 180ºC selama 1 jam. Uji Sterilisasi hanya menggunakan mikroba Bacillus subtilis yang ditempatkan berdekatan dengan seluruh termokopel.


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 266 Lampiran 1. Hasil Pengamatan dan Perhitungan Waktu Suhu Pengamatan I Pengamatan II Pengamatan III Rata-rata Standar Deviasi TABEL NILAI FT BERDASARKAN LOKASI TERMOKOPEL Nomor Termokopel Ratarata Standar Deviasi 1 2 3 4 5 6 7 8 Lampiran 3. Hasil Pengamatan Uji Endotoksin dan Mikroba HASIL PENGAMATAN UJI ENDOTOKSIN DAN MIKROBA KONTROL POSITIF – NEGATIF Mikroba Endotoksin Percobaan I Kontrol Negatif Kontrol Positif Percobaan II Kontrol Negatif Kontrol Positif Percobaan III Kontrol Negatif Kontrol Positif


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 267 UJI ENDOTOKSIN DAN MIKROBA Lokasi Jumlah Endotoksin Mikroba X Y Z Awal Akhir Tumbuh Tidak Tumbuh Percobaan I Percobaan II Percobaan III Lampiran 4. Laporan Penyimpangan dan Tindakan Perbaikan LAPORAN PENYIMPANGAN DAN TINDAKAN PERBAIKAN PENYIMPANGAN NO: _______ Uraian Penyimpangan: Dilaporkan oleh: Tanggal:


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 268 TINDAKAN PERBAIKAN Tindak lanjut perbaikan yang akan dilakukan: Dilaporkan oleh: Tanggal: RINGKASAN Tujuan kualifikasi kinerja oven adalah menjamin bahwa parameter yang digunakan pada proses sterilisasi dan depirogenisasi telah cukup efektif dan efisien yaitu mampu menunjukkan sterility assurance level berupa penurunan endotoksin minimal 3 log dengan reference standard endotoksin E. coli dan penurunan jumlah mikroba minimal 6 log (metode overkill) pada konfigurasi muatan maksimum dalam wadah / barang yang paling sukar menerima panas yang ditempatkan pada daerah terdingin. Tahap kualifikasi kinerja oven adalah: Verifikasi kebocoran oven Kalibrasi termokopel Pengamatan distribusi panas dalam keadaan kosong Pengamatan distribusi panas dengan muatan Pengamatan penetrasi panas dengan muatan maksimal Uji endotoksin TES 2 Pilihlah satu jawaban yang paling tepat! 1) Pada pemeriksanaan jumlah partikel dalam oven, jumlah partikel non viable yang diperbolehkan ada pada titik pengujian dengan ukuran ≥ 5 µm adalah sebanyak: A. 20/ m3 B. 29/ m3 C. 2900/ m3 D. 3520/ m3 E. 352000/ m3 2) Berikut ini adalah alat yang digunakan untuk pengukuran jumlah partikel dalam oven: A. Cawan kontak B. Autoklaf


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 269 C. Settle plate D. Particle counter E. Smoke stick 3) Berikut ini merupakan prosedur pelaksanaan verifikasi kebocoran oven: A. Memasukkan secara bersamaan semua termokopel ke dalam beaker glass yang berisi minyak silicon. B. Tentukan temperatur tertinggi dan terendah pada tiap pengukuran. C. Lakukan penghitungan perbedaan antara temperatur tertinggi dan temperatur terendah. D. Pasang minimal 10 - 12 buah termokopel dalam chamber secara horizontal. E. Menggunakan asap yang diciptakan dengan “smoke stick” di sepanjang sela-sela pintu. 4) Kalibrasi termokopel dilaksanakan sebelum dan sesudah kualifikasi kinerja oven. Pencatatan hasil pengujian dilakukan setelah mencapai suhu: A. 160oC B. 170oC C. 210oC D. 230oC E. 240oC 5) Berikut ini adalah tujuan dilakukannya pengamatan distribusi panas dengan muatan pada kualifikasi kinerja oven: A. Untuk mengetahui jumlah kontaminan dalam oven. B. Untuk menentukan daerah dengan temperature tertinggi pada tiap jenis muatan oven atau alat yang disterilkan. C. Untuk menentukan daerah dengan temperatur terendah pada tiap jenis muatan oven atau alat yang disterilkan. D. Untuk mengetahui distribusi panas atau keseragaman panas di dalam oven. E. Untuk mengetahui jumlah partikel dalam oven.


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 270 Kunci Jawaban Tes Tes 1 1) C 2) A 3) B 4) B 5) C Tes 2 1) A 2) D 3) E 4) D 5) C


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 271 Glosarium BP : British Pharmacope FI : Farmakope Indonesia mOsm/L : Mili osmol per liter BM : Bobot molekul ⁰C : Derajat Celcius LAL : Limulus Amebocyte Lysate


Praktikum Teknologi Sediaan Steril 272 Daftar Pustaka Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1978. Formularium Nasional Edisi Kedua. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 323. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 173-174; 519-521; 1044. Lachman, Leon.(1993) Pharmaceutical Dosage Forms: Parenteral Medications Volume 2, 2 nd edition, New York: Marcell Dekker Inc. hal: 561 Lukas, Stefanus. 2006. Formulasi Steril. Yogyakarta: Andi Offset. Halaman 61, 81. Lund, W. 1994. The Pharmaceutical Codex 12th Edition. London: The Pharmaceutical Press. Halaman 101. Rowe, Raymond C., Sheskey, Paul J., Quinn, Marian E.. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th Edition. London: The Pharmaceutical Press. Halaman 637-639. Sweetman, Sean C., 2009. Martindale 36th Edition. London: The Pharmaceutical Press. Halaman 2414. Syamsuni .2007. Ilmu Resep. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta The Council of The Pharmaceutical Society of Great Britain. The Pharmaceutical Codex, 12thed, Principles and Practice of Pharmaceutics., 1994. London: The PharmaceuticalPress (hal 164) The Department of Health, Social Service and Public Safety. British Pharmacopoeia 2002. London. Halaman 1889.


Click to View FlipBook Version