Komunikasi dalam Keperawatan 191 4. Pengembangan Skenario Percakapan - SP Komunikasi (Buatlah percakapan perawat-pasien sesuai format untuk didiskusikan dalam kelompok). a. Fase orientasi b. Fase kerja c. Fase terminasi B. PELAKSANAAN 1. Lakukan bermain peran secara bergantian dengan menggunakan SP komunikasi yang telah kelompok kembangkan berdasarkan ilustrasi kasus pada latihan 2 di atas. 2. Selama proses bermain peran sebagai perawat, observer melakukan observasi dengan menggunakan format observasi komunikasi terapeutik, berikan penilaian secara objektif dan sampaikan hasilnya setelah selesai melakukan role play. C. EVALUASI PASCAPELAKSANAAN 1. Ungkapkan perasaan Anda setelah melakukan latihan/praktik. 2. Identifikasi kelebihan dan kekurangan Anda selama proses interaksi/ komunikasi. 3. Mintalah masukkan anggota tim untuk meningkatkan kemampuan Anda dalam berinteraksi dan komunikasi. 4. Catat kekurangan untuk perbaikan pada masa yang akan datang dan gunakan kelebihan Anda untuk meningkatkan motivasi Anda. Petunjuk Evaluasi Latihan Untuk melakukan evaluasi dari praktik komunikasi yang telah Anda lakukan, gunakan format penilaian yang telah disediakan. Hitung skor yang Anda peroleh, apakah Anda puas dengan hasil yang dicapai? Ulangi jika penilaian Anda masih kurang. frekuensi Kemampuan Keterampilan Komunikasi = x 100% Jumlah item
Komunikasi dalam Keperawatan 192 Latihan 3: Praktik Komunikasi Terapeutik pada Pasien Gangguan Fisik Fase Perencanaan Ilustrasi Kasus Berikut ini kasus terkait gangguan fisik yang berdampak pada tidak terpenuhinya kebutuhan oksigen (gangguan kebutuhan oksigen). Seorang klien wanita bernama ibu Neny, usia 40 tahun diantar keluarganya ke rumah sakit dengan keluhan sesak napas. Ibu Neny mengeluh batuk-batuk sudah lebih dari satu minggu dan hari ini ditambah dengan sesak yang semakin berat disertai perasaan tidak nyaman di dada. Kondisi klien: tampak pucat, ada pernapasan cuping hidung, respirasi rate lebih dari 20x/menit. Tugas: Bentuklah kelompok kecil (3—4 orang). Tentukan peran masing-masing sebagai: pasien model, keluarga (model) dan peran perawat, serta observer. Gunakan format SP komunikasi. Diskusikan skenario percakapan SP komunikasi pada tahap perencanaan proses keperawatan. Praktikkan SP komunikasi yang sudah dibuat dengan cara bermain peran. Lakukan role play secara bergantian dan setiap anggota harus pernah berperan sebagai perawat. A. PERSIAPAN 1. Alat dan Bahan (Materi) a. Kasus b. Format SP komunikasi c. Skenario SP komunikasi d. Instrumen observasi e. Pasien model 2. Persiapan Lingkungan Mendesain lingkungan/setting tempat untuk interaksi (sesuai setting lokasi dalam kasus misal: ruang perawatan, klinik, ruang konsultasi, atau rumah). 3. Pembagian Peran a. Membentuk kelompok. b. Menentukan peran: model pasien, model ibu, dan peran perawat, serta observer.
Komunikasi dalam Keperawatan 193 4. Pengembangan Skenario Percakapan - SP Komunikasi (Buatlah percakapan perawat-pasien sesuai format untuk didiskusikan dalam kelompok) a. Fase orientasi b. Fase kerja c. Fase terminasi B. PELAKSANAAN 1. Lakukan bermain peran secara bergantian dengan menggunakan SP komunikasi yang telah kelompok kembangkan berdasarkan ilustrasi kasus lansia pada latihan 3 di atas. 2. Selama proses bermain peran sebagai perawat, observer melakukan observasi dengan menggunakan format observasi komunikasi terapeutik, berikan penilaian secara objektif, dan sampaikan hasilnya setelah selesai melakukan role play. C. EVALUASI PASCAPELAKSANAAN 1. Ungkapkan perasaan Anda setelah melakukan latihan/praktik. 2. Identifikasi kelebihan dan kekurangan Anda selama proses interaksi/ komunikasi. 3. Mintalah masukan anggota tim untuk meningkatkan kemampuan Anda dalam berinteraksi dan komunikasi. 4. Catat kekurangan untuk perbaikan pada masa yang akan datang dan gunakan kelebihan Anda untuk meningkatkan motivasi Anda. Petunjuk Evaluasi Latihan Untuk melakukan evaluasi dari praktik komunikasi yang telah Anda lakukan, gunakan format penilaian yang telah disediakan. Hitung skor yang Anda peroleh, apakah Anda puas dengan hasil yang dicapai? Ulangi jika penilaian Anda masih kurang. frekuensi Kemampuan Keterampilan Komunikasi = x 100% Jumlah item
Komunikasi dalam Keperawatan 194 Latihan 4: Praktik Komunikasi Terapeutik pada Pasien Gangguan Fisik Fase Implementasi Ilustrasi Kasus Berikut ini kasus terkait gangguan fisik yang berdampak pada tidak terpenuhinya kebutuhan oksigen (gangguan kebutuhan oksigen). Seorang klien wanita bernama Ibu Neny , usia 40 tahun diantar keluarganya ke rumah sakit dengan keluhan sesak napas. Ibu Neny mengeluh batuk-batuk sudah lebih dari satu minggu dan hari ini ditambah dengan sesak yang semakin berat disertai perasaan tidak nyaman di dada. Kondisi klien: tampak pucat, ada pernafasan cuping hidung, respirasi rate lebih dari 20x/menit. Tugas: Bentuklah kelompok kecil (3—4 orang). Tentukan peran masing-masing sebagai pasien model, keluarga (model) dan peran perawat, serta observer. Gunakan format SP komunikasi. Diskusikan skenario percakapan SP Komunikasi pada tahap implementasi proses keperawatan. Praktikkan SP komunikasi yang sudah dibuat dengan cara bermain peran. Lakukan role play secara bergantian dan setiap anggota harus pernah berperan sebagai perawat. A. PERSIAPAN 1. Alat dan Bahan (Materi) a. Kasus b. Format SP komunikasi c. Skenario SP komunikasi d. Instrumen observasi e. Pasien model 2. Persiapan Lingkungan Mendesain lingkungan/setting tempat untuk interaksi (sesuai setting lokasi dalam kasus misal: ruang perawatan, klinik, ruang konsultasi, atau rumah). 3. Pembagian Peran a. Membentuk kelompok. b. Menentukan peran: model pasien, model ibu, dan peran perawat, serta observer.
Komunikasi dalam Keperawatan 195 4. Pengembangan Skenario Percakapan - SP Komunikasi (Buatlah percakapan perawat-pasien sesuai format untuk didiskusikan dalam kelompok). a. Fase orientasi b. Fase kerja c. Fase terminasi A. PELAKSANAAN 1. Lakukan bermain peran secara bergantian dengan menggunakan SP komunikasi yang telah kelompok kembangkan berdasarkan ilustrasi kasus lansia pada latihan 4 di atas. 2. Selama proses bermain peran sebagai perawat, observer melakukan observasi dengan menggunakan format observasi komunikasi terapeutik, berikan penilaian secara objektif dan sampaikan hasilnya setelah selesai melakukan role play. B. EVALUASI PASCAPELAKSANAAN 1. Ungkapkan perasaan Anda setelah melakukan latihan/praktik. 2. Identifikasi kelebihan dan kekurangan Anda selama proses interaksi/ komunikasi. 3. Mintalah masukan anggota tim untuk meningkatkan kemampuan Anda dalam berinteraksi dan komunikasi 4. Catat kekurangan untuk perbaikan pada masa yang akan datang dan gunakan kelebihan Anda untuk meningkatkan motivasi Anda. Petunjuk Evaluasi Latihan Untuk melakukan evaluasi dari praktik komunikasi yang telah Anda lakukan, gunakan format penilaian yang telah disediakan. Hitung skor yang Anda peroleh, apakah Anda puas dengan hasil yang dicapai? Ulangi jika penilaian Anda masih kurang. frekuensi Kemampuan Keterampilan Komunikasi = x 100% Jumlah item
Komunikasi dalam Keperawatan 196 Latihan 5: Praktik Komunikasi Terapeutik pada Pasien Gangguan Fisik Fase Evaluasi Ilustrasi Kasus Berikut ini kasus terkait gangguan fisik yang berdampak pada tidak terpenuhinya kebutuhan oksigen (gangguan kebutuhan oksigen). Seorang klien wanita bernama Ibu Neny, usia 40 tahun diantar keluarganya ke rumah sakit dengan keluhan sesak napas. Ibu Neny mengeluh batuk-batuk sudah lebih dari satu minggu dan hari ini ditambah dengan sesak yang semakin berat disertai perasaan tidak nyaman di dada. Kondisi klien: tampak pucat, ada pernapasan cuping hidung, respirasi rate lebih dari 20x/menit. Tugas: Bentuklah kelompok kecil (3—4 orang). Tentukan peran masing-masing sebagai pasien model, keluarga (model) dan peran perawat, serta observer. Gunakan format SP komunikasi. Diskusikan skenario percakapan SP komunikasi pada tahap evaluasi proses keperawatan. Praktikkan SP komunikasi yang sudah dibuat dengan cara bermain peran. Lakukan role play secara bergantian dan setiap anggota harus pernah berperan sebagai perawat. A. PERSIAPAN 1. Alat dan Bahan (Materi) a. Kasus b. Format SP komunikasi c. Skenario SP komunikasi d. Instrumen observasi e. Pasien model 2. Persiapan Lingkungan Mendesain lingkungan/setting tempat untuk interaksi (sesuai setting lokasi dalam kasus misal ruang perawatan, klinik, ruang konsultasi, atau rumah). 3. Pembagian Peran a. Membentuk kelompok. b. Menentukan peran: model pasien, model ibu, dan peran perawat, serta observer.
Komunikasi dalam Keperawatan 197 4. Pengembangan Skenario Percakapan - SP Komunikasi (Buatlah percakapan perawat-pasien sesuai format untuk didiskusikan dalam kelompok) a. Fase orientasi b. Fase kerja c. Fase terminasi B. PELAKSANAAN 1. Lakukan bermain peran secara bergantian dengan menggunakan SP komunikasi yang telah kelompok kembangkan berdasarkan ilustrasi kasus lansia pada latihan 5 di atas. 2. Selama proses bermain peran sebagai perawat, observer melakukan observasi dengan menggunakan format observasi komunikasi terapeutik, berikan penilaian secara objektif dan sampaikan hasilnya setelah selesai melakukan role play. C. EVALUASI PASCAPELAKSANAAN 1. Ungkapkan perasaan Anda setelah melakukan latihan/praktik. 2. Identifikasi kelebihan dan kekurangan Anda selama proses interaksi/ komunikasi. 3. Mintalah masukan anggota tim untuk meningkatkan kemampuan Anda dalam berinteraksi dan komunikasi. 4. Catat kekurangan untuk perbaikan pada masa yang akan datang dan gunakan kelebihan Anda untuk meningkatkan motivasi Anda. Petunjuk Evaluasi Latihan Untuk melakukan evaluasi dari praktik komunikasi yang telah Anda lakukan, gunakan format penilaian yang telah disediakan. Hitung skor yang Anda peroleh, apakah Anda puas dengan hasil yang dicapai? Ulangi jika penilaian Anda masih kurang. frekuensi Kemampuan Keterampilan Komunikasi = x 100% Jumlah item
Komunikasi dalam Keperawatan 198 RINGKASAN 1. Semua aktivitas perawatan selalu menggunakan komunikasi. Penerapan komunikasi dilakukan pada setiap tahap proses keperawatan mulai pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi untuk menyelesaikan masalah klien/pasien yang mengalami gangguan fisik dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar manusia melalui kerja sama antara perawat dan klien/pasien. 2. Pada setiap fase dalam proses perawatan, perawat harus menggunakan teknikteknik komunikasi terapeutik dan menggunakan strategi pelaksanaan komunikasi meliputi fase-fase berhubungan terapeutik perawat-klien mulai dengan fase praorientasi yang dilanjutkan dengan fase orientasi, kerja, dan terminasi. TES 2 Pilihlah satu jawaban yang betul. 1) Seorang pasien mengeluh mengalami nyeri di perut. “Jelaskan kepada saya bagaimana sifat nyeri yang ibu alami, dan kapan rasa nyeri itu datang?” Apakah tahapan proses keperawatan dalam penerapan komunikasi pada kasus di atas? A. Pengkajian. B. Penentuan diagnosa. C. Perencanaan. D. Implementasi. 2) Seorang perawat sedang berinteraksi dengan pasien. Berikut komunikasi verbal perawat. “Untuk menurunkan nyeri, saya akan ajarkan teknik relaksasi napas dalam, sebagai salah satu teknik untuk mengurangi nyeri tanpa pengobatan. Teknik ini bisa Ibu lakukan saat di rumah jika nyeri datang.” Apakah tahapan proses keperawatan dalam penerapan komunikasi pada kasus di atas? A. Pengkajian. B. Menetapkan diagnosis. C. Perencanaan. D. Implementasi. 3) Berikut komunikasi antara perawat dan klien. P : “Selamat pagi” (sambil berjabat tangan). “Bagaimana perasaan Ibu hari ini?” Sambil memandang klien dan tersenyum.
Komunikasi dalam Keperawatan 199 K : “Selamat pagi. Perasaan saya sangat tidak nyaman, banyak hal tidak mampu saya kerjakan karena saya harus sering kontrol ke rumah sakit” (pasien menunduk dan tampak sedih). Apakah fase komunikasi selanjutnya yang harus dilakukan perawat? A. Melakukan kontrak. B. Menyimpulkan perasaan klien. C. Menjelaskan masalah klien. D. Melakukan sentuhan. 4) Berikut petikan komunikasi antara perawat dan klien. Pasien : “Gangguan saya muncul Lebih kurang 1 tahun yang lalu sejak anak kedua saya menikah dan meninggalkan saya untuk hidup di luar kota. Akhir-akhir ini saya rasakan gangguan tersebut lebih meningkat”. Perawat: (Mengangguk-angguk dan memandang klien). “Iya, saya mengerti, teruskan Bu”. Apakah fase komunikasi yang sedang terjadi pada kasus tersebut? A. Fase prainteraksi. B. Fase orientasi. C. Fase kerja. D. Fase terminasi. 5) Perawat: “Selamat pagi” (sambil berjabat tangan). “Bagaimana perasaan Ibu hari ini?” (perawat diam sambil memandang klien selanjutnya tersenyum). Fase interaksi dan tahapan proses keperawatan apakah yang sedang dilakukan perawat? A. Fase praorientasi – tahap pengkajian. B. Ffase orientasi – tahap pengkajian. C. Fase kerja – tahap pengkajian. D. Fase orientasi – tahap implementasi. Uji Keterampilan: Seorang pasien datang dengan keluhan muntah-muntah dan buang air besar. Saat ini kondisinya lemah, turgor kulit turun, mata cowong, tekanan darah 90/70 mmHg. Pasien mengalami dehidrasi sedang dan direncanakan dilakukan rehidrasi pemberian terapi intravena.
Komunikasi dalam Keperawatan 200 Ilustrasi Kasus Soal: 1. Buat skenario SP komunikasi sesuai fase-fase komunikasi tahap pengkajian dengan menggunakan format yang disediakan. 2. Bentuklah kelompok kecil (3—4 orang). 3. Tentukan peran masing-masing sesuai kasus. 4. Praktikkan SP komunikasi yang sudah dibuat dengan cara bermain peran.
Komunikasi dalam Keperawatan 201 Praktik 3 Praktik Komunikasi Terapeutik pada Pasien dengan Gangguan Jiwa Kebutuhan Khusus Sebelum mengikuti praktik ini, pastikan bahwa Anda telah memahami konsep konsep dasar komunikasi dan komunikasi terapeutik dan memahami bagaimana penerapannya dalam bab teori. Setelah mempelajari Praktik 3 dalam Bab V ini diharapkan Anda mampu mengembangkan strategi pelaksanaan (SP) komunikasi dan mempraktekkannya pada pasien yang mengalami gangguan jiwa. Praktik 3 ini akan memberikan pengalaman kepada Anda tentang bagaimana melakukan interaksi dan berkomunikasi pada pasien yang mengalami gangguan jiwa setiap tahap proses keperawatan dengan menggunakan strategi dan teknik-teknik komunikasi. Setelah mempelajari Praktik 3 ini, diharapkan Anda dapat: 1. mengembangkan strategi pelaksanaan (SP) komunikasi dan mempraktikkannya pada pasien yang mengalami gangguan jiwa dengan menggunakan strategi dan teknik-teknik komunikasi tahap pengkajian; 2. mengembangkan strategi pelaksanaan (SP) komunikasi dan mempraktikkannya pada pasien yang mengalami gangguan jiwa dengan menggunakan strategi dan teknik-teknik komunikasi tahap diagnosa; 3. mengembangkan strategi pelaksanaan (SP) komunikasi dan mempraktekkannya pada pasien yang mengalami gangguan jiwa dengan menggunakan strategi dan teknik-teknik komunikasi tahap perencanaan; 4. mengembangkan strategi pelaksanaan (SP) komunikasi dan mempraktekkannya pada pasien yang mengalami gangguan jiwa dengan menggunakan strategi dan teknik-teknik komunikasi tahap implementasi; 5. mengembangkan strategi pelaksanaan (SP) komunikasi dan mempraktekkannya pada pasien yang mengalami gangguan jiwa dengan menggunakan strategi dan teknik-teknik komunikasi tahap evaluasi. Uraian (Landasan Teori) Proses keperawatan adalah metode ilmiah dan sistematik untuk menyelesaikan masalah klien, baik fisik, dan psikologis (jiwa) melalui kerja sama antara perawat dan klien dengan tahapan-tahapan pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Dalam pengkajian, perawat dituntut untuk mampu melakukan komunikasi dengan baik verbal dan melakukan pengamatan terhadap perilaku nonverbal serta
Komunikasi dalam Keperawatan 202 menginterpretasikan hasil pengamatan dalam bentuk masalah. Setelah data terkumpul, selanjutnya dikomunikasikan dalam bahasa verbal kepada klien atau tim kesehatan lainnya dan dikomunikasikan dalam bentuk tulisan (didokumentasikan) untuk dikomunikasikan pada tim kesehatan lain dan sebagai aspek legal asuhan keperawatan. Pasien yang mempunyai gangguan jiwa membutuhkan strategi khusus dan kemahiran berkomunikasi. Penerapan komunikasi pada pasien gangguan jiwa dan berkebutuhan khusus adalah penting karena komunikasi alat kerja utama dalam mengubah perilaku. Penerapan komunikasi pada dua kondisi di atas adalah sulit sehingga memerlukan kesabaran, sikap menerima, dan teknik-teknik khusus. Jika kita kesulitan untuk mencapai efektivitas komunikasi, maka komunikasi dapat dilakukan sepihak atau jika perlu membuat keputusan maka dapat dilakukan dengan persetujuan keluarga. Pada tahap pengkajian keperawatan (pengumpulan data) ini, komunikasi dilakukan untuk mengklarifikasi data dan melakukan analisis sebelum menentukan masalah keperawatan bersama pasien dan keluarga. Pada fase perencanaan, aktivitas yang penting dilakukan perawat adalah adalah mendiskusikan kembali rencana yang sudah disusun perawat dan bersama pasien/keluarga dan menentukan kriteria keberhasilan yang akan dicapai. Pada tahap implementasi, hal penting yang harus dilakukan perawat adalah memberikan informasi yang adekuat kepada pasien sebelum pelaksanaan tindakan, termasuk dalam memberikan informed consent. Pada tahap evaluasi, perawat menilai keberhasilan dari asuhan dan tindakan keperawatan yang telah dilakukan. Semua hasil dicatat dalam buku catatan perkembangan perawatan klien, mendiskusikan hasil dengan klien, meminta tanggapan klien atas keberhasilan atau ketidakberhasilan tindakan yang dilakukan, dan bersama klien merencanakan tindak lanjut asuhan keperawatannya.
Komunikasi dalam Keperawatan 203 Latihan 1: Praktik Komunikasi Terapeutik pada Gangguan Jiwa Fase Pengkajian Ilustrasi Kasus Berikut ini kasus terkait gangguan jiwa. Seorang pasien wanita bernama Neny, usia 20 tahun, diantar ibunya ke rumah sakit dengan keluhan sering menyendiri, tidak mau bergaul dengan orang lain, dan kadang-kadang menangis tanpa sebab. Kondisi ini terjadi setelah pasien putus dengan pacarnya. Saat pengkajian pasien selalu menghindar, tidak bisa duduk berhadapan, dan menatap lawan bicara dan kadang-kadang mengunci diri di kamar. Tugas: Bentuklah kelompok kecil (3—4 orang). Tentukan peran masing-masing sebagai pasien model, keluarga (model) dan peran perawat, serta observer. Gunakan format SP komunikasi. Diskusikan skenario percakapan SP komunikasi pada tahap pengkajian proses keperawatan. Praktikkan SP komunikasi yang sudah dibuat dengan cara bermain peran. Lakukan role play secara bergantian dan setiap anggota harus pernah berperan sebagai perawat. A. PERSIAPAN 1. Alat dan Bahan (Materi) a. Kasus b. Format SP komunikasi c. Skenario SP komunikasi d. Instrumen observasi e. Pasien model 2. Persiapan Lingkungan Mendesain lingkungan/setting tempat untuk interaksi (sesuai setting lokasi dalam kasus misal: ruang perawatan, klinik, ruang konsultasi, atau rumah). 3. Pembagian Peran a. Membentuk kelompok. b. Menentukan peran: model pasien, model keluarga, dan peran perawat, serta observer (sesuai skenario yang akan dikembangkan). 4. Pengembangan Skenario Percakapan (sesuai Format) a. Fase orientasi.
Komunikasi dalam Keperawatan 204 b. Fase kerja. c. Fase terminasi. Contoh Strategi Pelaksanaan Komunikasi Fase Pengkajian STRATEGI PELAKSANAAN (SP) KOMUNIKASI Kondisi Pasien Seorang pasien wanita bernama Neny, usia 20 tahun, diantar ibunya ke rumah sakit dengan keluhan sering menyendiri, tidak mau bergaul dengan orang lain, dan kadang-kadang menangis tanpa sebab. Kondisi ini terjadi setelah pasien putus dengan pacarnya. Saat pengkajian pasien selalu menghindar, tidak bisa duduk berhadapan, dan menatap lawan bicara dan kadang-kadang mengunci diri di kamar. Diagnosis/Masalah Keperawatan: Menarik diri. Rencana Keperawatan: 1. Bina hubungan saling percaya. 2. Kaji penyebab menarik diri pasien. 3. Identifikasi kelebihan dan kekurangan diri pasien. Tujuan: Pasien dapat mengembangkan kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain. SP Komunikasi Fase Orientasi : (salam terapeutik, evaluasi/validasi, dan kontrak) Perawat : “Selamat pagi, Mbak. Assalamualaikum”. Pasien : (Diam dan menghindar). P perawat : “Bagaimana perasaan Mbak Neny hari ini?” “Saya lihat Mbak Neny tampak kurang semangat hari ini”. Pasien : (Diam dan menghindar/tidak menatap lawan bicara). Perawat : “Tujuan saya datang ke Mbak Neny adalah akan melakukan pengkajian keperawatan untuk mendapatkan data terkait dengan masalah Mbak Neny. Pemeriksaan yang akan saya lakukan lebih kurang 15 menit, saya harap Mbak Neny dapat bekerja sama dengan baik”. Pasien : (Diam). Perawat : Tempatnya di taman saja ya supaya lebih santai. Pasien : (Diam).
Komunikasi dalam Keperawatan 205 Fase Kerja: (terkait dengan pemeriksaan yang akan dilakukan) Perawat : “Coba ceritakan apa yang terjadi sehingga Mbak selalu menjauh dari orang lain?” Pasien : “Aku bodoh. Semua bodoh. Pengkhianat”. Perawat : “Saya paham dengan masalah yang terjadi pada Mbak Neny, tetapi masalah tidak akan selesai dengan hanya diam”. Pasien : (Respons pasien diam). Perawat : “Ceritakan kepada saya apa yang menyebabkan Mbak Neny mengurung diri dan tidak mau bicara dengan orang lain”. Pasien : “Aku ingin mati saja untuk apa hidup kalau untuk dikhianati”. Perawat : “Saya sangat paham dengan perasaan Mbak. Untuk itulah, saya akan membantu Mbak Neny”. Pasien : “Pacar saya meninggalkan saya. Dia jahat. Dia sekarang bersama dengan sahabat saya”. Fase Terminasi : Perawat : “Baiklah, terima kasih, telah mampu bekerja sama dengan saya dalam rangka mengumpulkan data tentang masalah Mbak Neny. Setelah saya pelajari, penyebab masalah Mbak Neny adalah ditinggal oleh pacar?” Pasien : (Diam). Perawat : “Mbak Neny harus bersabar dan meningkatkan kemampuan penyelesaian masalah yang baik, lebih mencari kesibukan, dan meningkatkan komunikasi”. Pasien : “Aku harus bagaimana?” Perawat : “Mbak harus belajar menerima kenyataan dan meningkatkan aktivitas”. Pasien : (Diam). Perawat : “Bagaimana perasaannya sekarang? Saya simpulkan bahwa penyebab Mbak menyendiri adalah merasa marah karena pacar meninggalkan Anda sendirian. Mbak mengalami masalah berduka (depresi) dan harus segera diatasi”. Pasien : (Diam). Perawat : “Kita harus ketemu lagi, 1 jam lagi saya akan datang lagi untuk membantu Mbak merencanakan tindakan untuk mengatasi masalah ini”. Pasien : “Terserah”. Perawat : “Tempatnya di mana yang enak? Jam berapa?” Pasien : “Iya”. Perawat : “Setelah pertemuan ini Mbak harus mencoba terbuka dan mulai bicara lagi dengan orang lain”.
Komunikasi dalam Keperawatan 206 B. PELAKSANAAN 1. Lakukan bermain peran secara bergantian dengan menggunakan SP komunikasi pada anak menggunakan sesuai contoh di atas. 2. Selama proses bermain peran sebagai perawat, observer melakukan observasi dengan menggunakan format observasi komunikasi terapeutik, berikan penilaian secara objektif dan sampaikan hasilnya setelah selesai melakukan role play. C. EVALUASI (PASCAPELAKSANAAN) 1. Ungkapkan perasaan Anda setelah melakukan latihan/praktik. 2. Identifikasi kelebihan dan kekurangan Anda selama proses interaksi/ komunikasi. 3. Mintalah masukan anggota tim untuk meningkatkan kemampuan Anda dalam berinteraksi dan komunikasi. 4. Catat kekurangan untuk perbaikan pada masa yang akan datang dan gunakan kelebihan Anda untuk meningkatkan motivasi Anda. Petunjuk Evaluasi Latihan Untuk melakukan evaluasi dari praktik komunikasi yang telah Anda lakukan, gunakan format penilaian yang telah disediakan. Hitung skor yang Anda peroleh, apakah Anda puas dengan hasil yang dicapai? Ulangi jika penilaian Anda masih kurang. Mengacu pada ilustrasi kasus pada latihan 1, lanjutkan untuk mengembangkan SP komunikasi untuk latihan berikut ini seperti contoh pada fase pengkajian dan tahapan komunikasi. Latihan 2 : Praktik Komunikasi Terapeutik pada Gangguan Jiwa Fase Diagnosa Latihan 3 : Praktik Komunikasi Terapeutik pada Gangguan Jiwa Fase Perencanaan Latihan 4 : Praktik Komunikasi Terapeutik pada Gangguan Jiwa Fase Implementasi Latihan 5 : Praktik Komunikasi Terapeutik pada Gangguan Jiwa Fase Evaluasi Selanjutnya, lakukanlah praktik dengan melakukan role play bermain peran sesuai SP yang telah dikembangkan dengan mengikuti langkah-langkah kegiatan sebagai berikut. frekuensi Kemampuan Keterampilan Komunikasi = x 100% Jumlah item
Komunikasi dalam Keperawatan 207 A. PERSIAPAN 1. Alat dan Bahan (Materi) a. Kasus b. Format SP komunikasi c. Skenario SP komunikasi d. Instrumen observasi e. Pasien model 2. Persiapan Lingkungan Mendesain lingkungan/setting tempat untuk interaksi (sesuai setting lokasi dalam kasus misal: ruang perawatan, klinik, ruang konsultasi, atau rumah). 3. Pembagian Peran a. Membentuk kelompok. b. Menentukan peran: model pasien, model ibu, dan peran perawat, atau lainnya sesuai skenario. c. Observer. 4. Pengembangan Skenario Percakapan - SP Komunikasi (Buatlah percakapan perawat-pasien sesuai format untuk didiskusikan dalam kelompok). a. Fase orientasi b. Fase kerja c. Fase terminasi B. PELAKSANAAN 1. Lakukan bermain peran secara bergantian dengan menggunakan SP komunikasi yang telah kelompok kembangkan berdasarkan ilustrasi kasus lansia pada latihan 5 di atas. 2. Selama proses bermain peran sebagai perawat, observer melakukan observasi dengan menggunakan format observasi komunikasi terapeutik, berikan penilaian secara objektif dan sampaikan hasilnya setelah selesai melakukan role play. C. EVALUASI PASCAPELAKSANAAN 1. Ungkapkan perasaan Anda setelah melakukan latihan/praktik. 2. Identifikasi kelebihan dan kekurangan Anda selama proses interaksi/ komunikasi.
Komunikasi dalam Keperawatan 208 3. Mintalah masukan anggota tim untuk meningkatkan kemampuan Anda dalam berinteraksi dan komunikasi. 4. Catat kekurangan untuk perbaikan pada masa yang akan datang dan gunakan kelebihan Anda untuk meningkatkan motivasi Anda. Petunjuk Evaluasi Latihan Untuk melakukan evaluasi dari praktik komunikasi yang telah Anda lakukan, gunakan format penilaian yang telah disediakan. Hitung skor yang Anda peroleh, apakah Anda puas dengan hasil yang dicapai? Ulangi jika penilaian Anda masih kurang. RINGKASAN 1. Semua aktivitas perawatan selalu menggunakan komunikasi. Penerapan komunikasi dilakukan pada setiap tahap proses keperawatan mulai pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi untuk menyelesaikan masalah klien/pasien yang mengalami gangguan jiwa. 2. Pada setiap fase dalam proses perawatan, perawat harus menggunakan teknikteknik komunikasi terapeutik dan menggunakan strategi pelaksanaan komunikasi meliputi fase-fase berhubungan terapeutik perawat-klien mulai dengan fase praorientasi yang dilanjutkan dengan fase orientasi, kerja, dan terminasi. TES 3 Pilihlah satu jawaban yang betul. 1) “Selamat pagi, Mbak. Assalamualaikum”. Apakah tahapan proses keperawatan dalam penerapan komunikasi pada kasus di atas? A. Fase Orientasi tahap salam terapeutik. B. Fase Orientasi tahap evaluasi. C. Fase Orientasi tahap kontrak. D. Fase kerja. 2) Seorang perawat sedang berinteraksi dengan pasien. Berikut komunikasi verbal perawat. “Coba ceritakan apa yang terjadi sehingga Mbak selalu menjauh dari orang lain?” Apakah fase proses keperawatan dalam penerapan komunikasi pada kasus di atas? frekuensi Kemampuan Keterampilan Komunikasi = x 100% Jumlah item
Komunikasi dalam Keperawatan 209 A. Fase Orientasi. B. Fase Kerja. C. Fase Terminasi. D. Implementasi. 3) Berikut komunikasi antara perawat dan klien. Perawat : “Saya paham dengan masalah yang terjadi pada Mbak Neny, tetapi masalah tidak akan selesai dengan hanya diam”. Pasien : (Respons pasien diam). Perawat : “Ceritakan kepada saya apa yang menyebabkan Mbak Neny mengurung diri dan tidak mau bicara dengan orang lain”. Pasien : “Aku ingin mati saja untuk apa hidup kalau untuk dikhianati”. Perawat : “Saya sangat paham dengan perasaan Mbak. Untuk itulah, saya akan membantu Mbak Neny”. Pasien : “Pacar saya meninggalkan saya. Dia jahat. Dia sekarang bersama dengan sahabat saya”. Apakah fase komunikasi selanjutnya yang harus dilakukan perawat? A. Fase Orientasi. B. Fase Kerja. C. Fase Terminasi. D. Implementasi. 4) Berikut petikan komunikasi antara perawat dan klien. Perawat : “Coba ceritakan apa yang terjadi sehingga Mbak selalu menjauh dari orang lain?” Pasien : “Aku bodoh. Semua bodoh. Pengkhianat”. Perawat : “Saya paham dengan masalah yang terjadi pada Mbak Neny, tetapi masalah tidak akan selesai dengan hanya diam”. Pasien : (Respons pasien diam). Perawat : “Ceritakan kepada saya apa yang menyebabkan Mbak Neny mengurung diri dan tidak mau bicara dengan orang lain”. Pasien : “Aku ingin mati saja untuk apa hidup kalau untuk dikhianati”. Perawat : “Saya sangat paham dengan perasaan Mbak. Untuk itulah, saya akan membantu Mbak Neny”. Pasien : “Pacar saya meninggalkan saya. Dia jahat. Dia sekarang bersama dengan sahabat saya”. Apakah fase komunikasi yang sedang terjadi pada kasus tersebut? A. Fase prainteraksi. B. Fase orientasi. C. Fase kerja. D. Fase terminasi.
Komunikasi dalam Keperawatan 210 5) Perawat : “Baiklah, terima kasih, telah mampu bekerja sama dengan saya dalam rangka mengumpulkan data tentang masalah Mbak Neny. Setelah saya pelajari, penyebab masalah Mbak Neny adalah ditinggal oleh pacar?” Pasien : (Diam). Perawat : “Mbak Neny harus bersabar dan meningkatkan kemampuan penyelesaian masalah yang baik, lebih mencari kesibukan, dan meningkatkan komunikasi”. Pasien : “Aku harus bagaimana?” Perawat : “Mbak harus belajar menerima kenyataan dan meningkatkan aktivitas”. Pasien : (Diam). Perawat : “Bagaimana perasaannya sekarang? Saya simpulkan bahwa penyebab Mbak menyendiri adalah merasa marah karena pacar meninggalkan Anda sendirian. Mbak mengalami masalah berduka (depresi) dan harus segera diatasi”. Pasien : (Diam). Perawat : “Kita harus ketemu lagi, 1 jam lagi saya akan datang lagi untuk membantu Mbak merencanakan tindakan untuk mengatasi masalah ini”. Pasien : “Terserah”. Perawat : “Tempatnya di mana yang enak? Jam berapa?” Pasien : “Iya”. Perawat : “Setelah pertemuan ini Mbak harus mencoba terbuka dan mulai bicara lagi dengan orang lain”. Apakah fase komunikasi yang sedang terjadi pada kasus tersebut? A. Fase prainteraksi. B. Fase orientasi. C. Fase kerja. D. Fase terminasi. Uji Keterampilan: Ilustrasi Kasus Seorang pasien datang dengan keluhan sering marah tanpa sebab. Pasien tampak selalu mengancam orang yang mendekat dan melihat ke arahnya. Tampak wajah tegang, mata menatap tajam, dan tangan mengepal.
Komunikasi dalam Keperawatan 211 Soal: 1) Buat skenario SP komunikasi sesuai fase-fase komunikasi tahap pengkajian sampai evaluasi dengan menggunakan format yang disediakan. 2) Bentuklah kelompok kecil ( 3—4 orang). 3) Tentukan peran masing-masing sesuai kasus. 4) Praktikkan SP komunikasi yang sudah dibuat dengan cara bermain peran.
Komunikasi dalam Keperawatan 212 Lampiran FORMAT STRATEGI PELAKSANAAN (SP) KOMUNIKASI Kondisi Pasien : …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… Diagnosis Keperawatan : …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… Rencana Keperawatan : …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… Tujuan : …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… SP Komunikasi Fase Orientasi : …………………………………………………………………………………… Salam Terapeutik : …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… Evaluasi dan Validasi : …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… Kontrak : …………………………………………………………………………………… Fase Kerja : (Tuliskan kata-kata sesuai tujuan dan rencana yang akan dicapai/dilakukan) …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… Fase Terminasi : …………………………………………………………………………………… Evaluasi Subjektif/Objektif : …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… Rencana Tindak Lanjut : …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… Kontrak yang Akan Datang : …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………
Komunikasi dalam Keperawatan 213 STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)/ STRATEGI PELAKSANAAN KOMUNIKASI (SP – KOMUNIKASI) Jurusan Keperawatan PRECONFERENCE No. Dokumen No. Revisi …….. Halaman ………….. Prosedur Tetap Tanggal terbit Februari 2010 Dibuat Oleh : Tri Anjaswarni, S.Kp., M.Kep. Ditetapkan Ketua Jurusan Keperawatan Malang (Tri Anjaswarni,S.Kp. M.Kes) Pengertian Merupakan strategi yang digunakan perawat dalam melakukan proses/asuhan perawatan klien gangguan jiwa melalui tahaptahap/fase-fase interaksi mulai fase prainteraksi, orientasi, kerja, dan terminasi dengan menggunakan teknik-teknik komunikasi terapeutik Tujuan 1. Mengarahkan komunikasi perawat tetap fokus pada tujuan 2. Memberikan terapi keperawatan melalui model komunikasi Kebijakan 1. Pelaksanaan standar asuhan 2. Penerapan praktik keperawatan profesional 3. Penerapan model komunikasi dalam keperawatan jiwa Petugas Perawat generalis Perawat jiwa Persiapan : Fase Prainteraksi/Praorientasi 1. Persiapan diri perawat dan pasien 1. Mengeksplorasi perasaan diri, ketakutan, dan fantasi 2. Menganalisis kekuatan profesional diri dan keterbatasan 3. Mendapatkan data awal tentang klien 4. Membuat rencana pertemuan/kontrak dengan klien (kegiatan, waktu, dan tempat) 2. Persiapan alat dan tempat 1. Buku catatan/status klien (format pengkajian keperawatan jiwa) 2. ballpoint (pulpen) 3. Klien dan perawat duduk berhadapan dengan mengambil jarak terapeutik (± 70 cm) 4. Ruang nyaman dan kondusif Prosedur/Langkahlangkah Fase Orientasi: 1. Berikan salam terapeutik, perkenalkan diri dan tanyakan/sebut nama klien (sambil menjabat tangan klien) 2. Evaluasi/Validasi: Tanyakan perasaan klien saat ini
Komunikasi dalam Keperawatan 214 Jurusan Keperawatan PRECONFERENCE No. Dokumen No. Revisi …….. Halaman ………….. Prosedur Tetap Tanggal terbit Februari 2010 Dibuat Oleh : Tri Anjaswarni, S.Kp., M.Kep. Ditetapkan Ketua Jurusan Keperawatan Malang (Tri Anjaswarni,S.Kp. M.Kes) Lakukan Validasi (kognitif, afektif dan psikomotorik) 3. Kontrak: Jelaskan tujuan pertemuan (sesuai rencana) Lakukan kontrak waktu (15—20 menit) Lakukan kontrak tempat Fase Kerja : 4. Tanyakan keluhan klien dan gali alasan klien meminta bantuan/pertolongan 5. Eksplorasi pikiran, perasaan, dan tindakan klien 6. Sediakan komunikasi terbuka, kepercayaan, dan penerimaan klien apa adanya 7. Identifikasi masalah bersama klien dan berikan kesempatan klien menyimpulkan masalahnya dan berikan reinforcement 8. Berikan kesempatan klien untuk bertanya dan berikan reinforcement Fase Terminasi : 9. Evaluasi objektif/subjektif : Tanyakan perasaan klien setelah interaksi/pertemuan Evaluasi hasil pertemuan terkait tujuan pertemuan 10. Jelaskan rencana tindak lanjut setelah pertemuan 11. Lakukan untuk pertemuan yang akan datang (kontrak yang akan datang) 12. Mengakhiri interaksi/komunikasi dengan salam dan berjabat tangan. Evaluasi dan Dokumentasi 1. Pelaksanaan komunikasi sesuai dengan fase-fase interaksi 2. Catat hasil interaksi/tindakan pada status keperawatan klien 3. Komunikasikan hasil pada klien/keluarga