The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by syahlaa72, 2022-03-05 07:04:53

SOSIOLOGI - EMILE DURKHEIM

SOSIOLOGI - EMILE DURKHEIM

Kelompok Emile Durkheim Pencarian

Kampung Naga

Sosiologi

SEJARAH KAMPUNG NAGA Kampung Naga

Kampung Naga merupakan sebuah kampung adat yang masih lestari. Masyarakatnya masih memegang adat tradisi
nenek moyang mereka. Mereka menolak intervensi dari pihak luar jika hal itu mencampuri dan merusak kelestarian
kampung tersebut. Namun, asal mula kampung ini sendiri tidak memiliki titik terang. Tak ada kejelasan sejarah, kapan
dan siapa pendiri serta apa yang melatarbelakangi terbentuknya kampung dengan budaya yang masih kuat ini. Warga
kampung Naga sendiri menyebut sejarah kampungnya dengan istilah "Pareum Obor". Pareum jika diterjemahkan dalam
bahasa Indonesia, yaitu mati, gelap. Dan obor itu sendiri berarti penerangan, cahaya, lampu. Jika diterjemahkan secara
singkat yaitu, Matinya penerangan. Hal ini berkaitan dengan sejarah kampung naga itu sendiri. Mereka tidak
mengetahui asal usul kampungnya. Masyarakat kampung naga menceritakan bahwa hal ini disebabkan oleh
terbakarnya arsip/sejarah mereka pada saat pembakaran kampung naga oleh Organisasi DI/TII Kartosoewiryo. Pada
saat itu, DI/TII menginginkan terciptanya negara Islam di Indonesia. Kampung Naga yang saat itu lebih mendukung
Soekarno dan kurang simpatik dengan niat Organisasi tersebut. Oleh karena itu, DI/TII yang tidak mendapatkan simpati
warga Kampung Naga membumihanguskan perkampungan tersebut pada tahun 1956.

Adapun beberapa versi sejarah yang diceritakan oleh beberapa sumber diantaranya, pada masa kewalian Syeh Syarif
Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, seorang abdinya yang bernama Singaparana ditugasi untuk menyebarkan agama
Islam ke sebelah Barat. Kemudian ia sampai ke daerah Neglasari yang sekarang menjadi Desa Neglasari, Kecamatan
Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Di tempat tersebut, Singaparana oleh masyarakat Kampung Naga disebut Sembah
Dalem Singaparana. Suatu hari ia mendapat ilapat atau petunjuk harus bersemedi. Dalam persemediannya Singaparana
mendapat petunjuk, bahwa ia harus mendiami satu tempat yang sekarang disebut Kampung Naga. Namun masyarakat
kampung Naga sendiri tidak meyakini kebenaran versi sejarah tersebut, sebab karena adanya "pareumeun obor" tadi.

Tabu, pantangan atau pamali bagi masyarakat Kampung Naga masih dilaksanakan Adapun pantangan atau tabu yang lainnya yaitu
dengan patuh khususnya dalam kehidupan sehari-hari, terutama yang berkenaan pada hari Selasa, Rabu, dan Sabtu. Masyarakat
dengan aktivitas kehidupannya.pantangan atau pamali merupakan ketentuan hukum kampung Naga dilarang membicarakan soal adat-
yang tidak tertulis yang mereka junjung tinggi dan dipatuhi oleh setiap orang. Misalnya istiadat dan asal usul kampung Naga. Masyarakat

tata cara membangun dan bentuk rumah, letak, arah rumah,pakaian upacara, Kampung Naga sangat menghormati Eyang
kesenian, dan sebagainya. Sembah Singaparna yang merupakan cikal bakal


masyarakat Kampung Naga. Sementara itu, di
Tasikmalaya ada sebuah tempat yang bernama
Bentuk rumah masyarakat Kampung Naga harus panggung, bahan rumah dari bambu
dan kayu. Atap rumah harus dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang, lantai rumah NamaSingaparna, Masyarakat Kampung Naga

harus terbuat dari bambu atau papan kayu. Rumah harus menghadap kesebelah utara menyebutnya nama tersebut Galunggung, karena
atau ke sebelah selatan dengan memanjang kearah Barat-Timur. Dinding rumah dari kata Singaparna berdekatan dengan Singaparna
bilik atau anyaman bambu dengan anyaman sasag. Rumah tidak boleh dicat, kecuali
nama leluhur masyarakat Kampung Naga.
dikapur atau dimeni. Bahan rumah tidak boleh menggunakan tembok, walaupun
mampu membuat rumah tembok atau gedung (gedong).



Rumah tidak boleh dilengkapi dengan perabotan, misalnya kursi, meja, dan tempat
tidur. Rumah tidak boleh mempunyai daun pintu di dua arah berlawanan. Karena
menurut anggapan masyarakat Kampung Naga, rizki yang masuk kedalam rumah
melaui pintu depan tidak akan keluar melalui pintu belakang. Untuk itu dalam

memasang daun pintu, mereka selalu menghindari memasang daun pintu yang sejajar
dalam satu garis lurus.

HUKUM ATAU ATURAN YANG MENGIKAT

KEPERCAYAAN KAMPUNG NAGA





Penduduk Kampung Naga semuanya Kepercayaan masyarakat Kampung Naga
mengaku beragama Islam. Pengajaran kepada mahluk halus masih dipegang kuat.
mengaji bagi anak-anak di Kampung Percaya adanya jurig cai, yaitu mahluk halus
Naga dilaksanakan pada malam Senin yang menempati air atau sungai terutama
dan malam Kamis, sedangkan bagian sungai yang dalam ("leuwi").
pengajian bagi orang tua dilaksanakan Kemudian "ririwa" yaitu mahluk halus yang
pada malam Jumat. Dalam senang mengganggu atau menakut-nakuti
menunaikan rukun Islam yang kelima manusia pada malam hari, ada pula yang
atau ibadah Haji, mereka beranggapan disebut "kunti anak" yaitu mahluk halus
tidak perlu jauh-jauh pergi ke Tanah yang berasal dari perempuan hamil yang
Suci Mekkah, tetapi cukup dengan meninggal dunia, ia suka mengganggu
menjalankan upacara Hajat Sasih yang wanita yang sedang atau akan melahirkan.
waktunya bertepatan dengan Hari Sedangkan tempat-tempat yang dijadikan
Raya Haji yaitu setiap tanggal 10 tempat tinggal mahluk halus tersebut oleh
Rayagung (Dzulhijjah). Upacara Hajat masyarakat Kampung Naga disebut sebagai
Sasih ini menurut kepercayaan tempat yang angker atau sanget. Demikian
masyarakat Kampung Naga sama juga tempat-tempat seperti makam Sembah
dengan Hari Raya Idul Adha dan Hari Eyang Singaparna, Bumi ageung dan masjid
Raya Idul Fitri. merupakan tempat yang dipandang suci
bagi masyarakat Kampung Naga.

KEUNIKAN KAMPUNG NAGA Jumlah bangunan yang tetap

Kampung di bawah tebing 112 Bangunan

Kampung tanpa listrik Desain rumah yang unik
Kampung berkelanjutan

Mata Pencaharian Masyarakat Kampung Naga

Mata pencaharian masyarakat kampung naga erat kaitannya dengan kearifan lokal yang berhubungan dengan budaya dan pemanfaatan alam. Mata
pencaharian yang dikerjakan masyarakat diantaranya adalah bertani, berkebun, beternak (ayam, bebek, kambing, ikan, dan sapi) dan membuat
kerajinan tangan.

Lahan pertanian dan perkebunan di kampong naga masih diolah dengan cara dan peralatan tradisional. Sebagai penyubur tanah, umumnya masyarakat
menggunakan pupuk organik yang terbuat dari kotoran ternak, sehingga menjaga kelestarian ekosistem yang ada.
Masyarakat Kampung Naga memiliki kebiasaan menanam padi dua kali dalam setahun. Ketika waktu panen tiba, tanah yang semula ditanam padi akan
dibiarkan kosong selama 3 bulan agar tanah tersebut dapat bernafas dan bersiap untuk kembali ditanam. Hasil panen yang didapat dipakai untuk
makan sehari-hari oleh masyarakat yang disimpan dalam lumbung padi di masing-masing keluarga dan lumbung padi bersama.

Selain bertani dan berkebun, sebagian masyarakat kampong naga juga membuat kerajinan tangan dari bambu, seperti membuat keranjang yang di iris
tipis untuk tempat makanan seperti dodol, membuat anyaman tas tangan, topi, celengan, bakul (boboko), kukusan (aseupan), kipas, tampah (nyiru)
pernak-pernik dan barang-barang kebutuhan lokal lainnya. Hasil kerajinan tersebut, dijual diluar dan di dalam kampung naga sebagai oleh-oleh khas
dan sebagiannya ada yang dikirim ke berbagai wilayah, bahkan sampai diekspor ke luar negeri.

Upaya Pemberdayaan Masyrakat Kampung Naga

Upaya pemberdayaan masyarakat kampung naga dapat dilakukan melalui strategi inovasi yang
memiliki daya suai (adaptability in novation) dengan budaya lokal. Mengacu kepada pendapat
Rogers (1983: 157-163), agar inovasi cepat diadopsi oleh masyarakat maka inovasi tersebut
hendaknya memiliki karakteristik: adventage relative, compatibility, complexity, triability, dan
observanility. Masyarakat kampung naga relatif mudah mengadopsi inovasi apabila secara
ekonomi menguntungkan, secara teknis mudah dilaksanakan, secara budaya tidak
bertentangan dengan adat istiadat, secara praktis dapat dicoba, dan bersifat kasat mata.
Difusi inovasi dapat dilakukan secara partisipatif yakni dengan melibat masyarakat untuk
menghindari kecurigaan dan rasa tidak percaya warga terhadap pihak luar. Warga masyarakat
yang dapat dilibatkan adalah tokoh generasi muda dan kuncen karena mereka dipandang
sebagai tokoh kunci (key opinion) dan tokoh pimpinan (leaders opinion) bagi masyarakat
kampung naga. Selain itu, pihak luar yang sudah dikenal oleh masyarakat (homofili) dapat
dijadikan sebagai agen perubahan (change agents).

Unsur inovasi adalah yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, tidak bertentangan dengan
adat istiadat, berupa ma terial dan bersifat kasat mata menjadi pilihan agat relatif mudah
diadopsi oleh masyarakat (Kindevatter, 1979: 79; Rogers: 1983: 157-163). Hal ini merupakan
peluang yang dapat didayagunakan bagi percepatan proses pemberdayaan masyarakat. Proses
pemberdayaan akan berkelanjutan manakala masyarakat merasakan manfaat ekonomis dan
tidak bertentangan dengan tatanan kehidupan yang sudah mapan yakni adat istiadat, sehingga
budaya lokal terlestarikan.

Kampung Naga Masyarakat Kampung Naga memiliki keterampilan membuat peralatan rumah tangga dari
bambu. Kebiasaan tersebut telah mengalami perubahan yakni dari orientasi kebiasaan ke arah
Dinamika orientasi bisnis. Hal ini berkenaan dengan perubahan pengetahuan dan keterampilan usaha
Masyarakat kerajian, yakni dari teknologi tradisional ke teknologi tepat guna. Perubahan tersebut
menghasilkan produk kerajinan yang memiliki nilai ekonomi tinggi, dengan jangkaun
pemasaran ke perkotaan, hotel, dan luar negeri.

Perubahan tersebut merupakan dinamika masyarakat yang bersumber dari kebutuhan untuk
meningkatkan efisiensi dan peningkatan produktivitas. Bagi masyarakat Kampung Naga,
usaha kerajinan tidak terproteksi adat istiadat, sehingga perubahannya tidak menimbulkan
kegoncangan sosial (Margono dalam Ningrum; 2006: 478). Usaha kerajinan sebagai kebiasaan
untuk mengisi waktu luang, memanfaatkan sumber alam yang ada, dan untuk memenuhi
kebutuhan telah mengalami peningkatan efisiensi dan produktivitasnya.
Sesungguhnya, mata pencaharian utama adalah bertani yang terproteksi secara adat istiadat,
sehingga usaha kerajinan menjadi mata pencaharian sampingan. Artinya, masyarakat
Kampung Naga memiliki mata pencaharian baru dalam bidang usaha kerajinan. Fenomena
tersebut merupakan salah satu ciri perubahan sosial yaitu perubahan yang terjadi pada aspek
material maupun immaterial. Perubahan bentuk dan model produksi kerajinan (aspek
material), sedangkan pengelolaan usaha kerajinan (aspek immaterial).
Seiring dengan meningkatnya produktivitas usaha kerajinan, maka pendapatan masyarakat
mengalami peningkatan pula yang berdampak pada kepemilikan fasilitas hidup. Dinamika
masyarakat Kampung Naga memiliki dampak terhadap peningkatan kesejahteraan. Fasilitas
hidup yang dimiliki oleh masyarakat adalah alat transfortasi, media informasi dan hiburan,
mebeler, kepemilikan lahan, dan rumah permanen. Rumah panggung tradisional memiliki
perlengkapan yang relatif sama dengan masyarakat umumnya. Alat transfortasi, kepemilikan
lahan, dan rumah permanen berada di luar kampung naga, yakni di kecamatan Cigalontang
Kabupaten Tasikmalaya

Fenomena tersebut menunjukkan terpeliharanya solidaritas, pola hidup sederhana, dan damai
di kampung naga. Dinamika masyarakat tradisional kampung naga merupakan upaya
penyesuaian (conformity) antara kebutuhan, potensi alam, dengan adat istiadat dengan,
sehingga sifat-sifat masyarakat tradisional tetap terpelihara.

Kampung Naga

Te rimakas ih

Disusun Oleh :
- Arifah Syahla

( Design )



- Juan Adi



( Materi + Gambar )



- Miftahul Rizky

( Materi + Gambar)

Semoga Bermanfaat

Penugasan Sosiologi Kelas 12 IPS 2


Click to View FlipBook Version