The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by HOTMAN MANALU, 2024-05-30 06:41:29

Pertobatan Ekologis

Berdamai dengan alam

1 Pertobatan Ekologis Kembali Pada Allah Melalui Alam


2 Daftar Isi 1. Pengantar........................................................................................................................ 3 2. Apa yang dimaksud dengan dosa ekologis? ....................................................................3 3. Apa yang dimaksud dengan krisis ekologis? ...................................................................4 a. Krisis Etika: Paham Antroposentrisme .....................................................................4 b. Krisis Spiritualitas: Manusia Terputus dengan Alam ................................................4 4. Mencintai alam semesta ..................................................................................................5 5. Jangan Khawatir dan Serakah ........................................................................................6 6. Kesalehan Ekologis dan Laudato Si’ ..............................................................................9 a. Manusia, Makhluk Ekologis .....................................................................................9 b. Mengupayakan Kesalehan Ekologis ..........................................................................10 7. St Fransiskus Asisi: Model Relasi Ekologis ..................................................................11 8. Beberapa Imperatif ........................................................................................................11 a. Reboisasi ..................................................................................................................12 b. Bioremidiasi ............................................................................................................12 c. Rehabilitasi lahan ...................................................................................................12 d. Reklamasi pantai .....................................................................................................12 9. Wujud “Pertobatan Ekologis” .......................................................................................13


3 1. Pengantar Kita sudah memasuki masa berpantang dan berpuasa di Masa Prapaskah tahun 2024 ini. Besok kita akan memasuki masa Prapaskah II. Masa Prapaskah adalah masa pertobatan rohani, pertobatan hati, agar lepas dari kuasa dosa dan kungkungan nafsu serta kecenderungan yang tak teratur. Perjuangan untuk itu perlu disertai permohonan rahmat Allah Roh Kudus sambil melatih diri seperti olahragawan (bdk 1Kor 9:24-27), untuk menguasai diri. Semoga Roh Kudus mengaruniakan keutamaan hidup atau buah Roh (bdk. Gal 5:22-25), yang membuat kita mampu menguasai diri dan setia. Pada masa Prapaskah ini kita diajak pula mewujudkan pertobatan ekologis. Pertobatan ekologis adalah pertobatan manusia dalam kaitan dengan lingkungan hidupnya. Ketidakpedulian manusia pada alam menimbulkan dosa ekologis. Karena itu, bertobat dari dosa ekologis berarti berbalik menjadi peduli. 2. Apa yang dimaksud dengan dosa ekologis? Dosa ekologis berarti pola pikir dan tindakan manusia selama ini telah melawan dan menghancurkan lingkungan hidup. Dalam konteks itu manusia tidak hanya berdosa terhadap alam semesta,tetapi terhadap Allah karena kita tidak bertanggungjawab terhadap tugas perutusan kita sebagai rekan kerja Allah Dosa ekologi manusia bersumber dari sikap manusia yang egoistik. Orang tidak pernah berpikir bahwa antara manusia dan alam merupakan satu entitas yang saling membutuhkan. Tetapi dalam banyak kejadian, seringkali manusia menjadi racun bagi makhluk hidup yang lain. Dosa ekologis sebagai tindakan atau kelalaian terhadap Tuhan, terhadap sesama, masyarakat dan lingkungan hidup. Ini adalah dosa terhadap generasi mendatang, dan dilakukan dalam tindakan dan kebiasaan pencemaran dan perusakan keharmonisan lingkungan hidup. Ini adalah pelanggaran terhadap prinsip-prinsip saling ketergantungan, dan menghancurkan jaringan solidaritas antar makhluk hidup dan melanggar nilai keadilan." Berdasarkan definisi tersebut, tindakan kecil seperti membuang sampah sembarangan dan konsumsi berlebihan, atau tindakan yang lebih besar seperti menebang hutan atau membuang racun ke sungai dan danau, semuanya dapat dianggap berdosa. Hal ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai konsekuensi tidak langsung dari hal-hal seperti plastik sekali pakai, yang mempunyai dampak besar terhadap ekosistem . Dosa ekologis menyoroti aspek relasional dari dosa. Orang cenderung menganggap dosa sebagai sesuatu yang melawan Tuhan atau melawan orang lain. Namun dosa ekologis menunjukkan bagaimana hubungan dengan alam juga bisa terputus. Dalam ensikliknya “ Laudato Si’ , tentang Peduli Rumah Kita Bersama,” Paus Fransiskus menentang penafsiran kekuasaan dalam Kitab Kejadian dengan memberi manusia kebebasan untuk melakukan “eksploitasi alam secara tak terkendali,” dengan menulis “Alkitab tidak mempunyai tempat untuk a antroposentrisme tirani yang tidak peduli terhadap makhluk lain." Paus mengutip Katekismus Gereja Katolik yang menyatakan “setiap makhluk memiliki kebaikan dan kesempurnaannya masing-masing.” Itu berarti Tuhan menciptakan setiap makhluk dengan tujuan yang disengaja di luar kegunaannya bagi manusia, kata Pastor Jesuit. Christopher Steck, teolog di Universitas Georgetown dan penulis All God's Animals: A Catholic Theological Framework for Animal Ethics . "Ketika kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan tujuan Tuhan bagi makhluk itu, tentu saja kita berdosa terhadap Tuhan. Namun kita juga melakukan ketidakadilan


4 terhadap mereka. Kita melakukan sesuatu yang menghalangi harapan Tuhan terhadap makhluk itu," katanya. dikatakan. Hal penting lainnya dalam memahami dosa ekologis adalah dengan melihatnya tidak hanya melalui tindakan pribadi namun juga dimensi sosialnya. Oleh karena itu, melakukan kejahatan terhadap alam adalah dosa. Manusia menyebabkan kepunahan spesies dan menghancurkan keanekaragaman hayati ciptaan Tuhan, manusia merusak keutuhan bumi dengan menyebabkan perubahan iklim, dengan melucuti hutan alami bumi atau menghancurkan lahan basah, menyebabkan manusia melukai manusia lain dengan penyakit, manusia mencemari perairan bumi, tanahnya, udaranya, dan kehidupannya dengan zat-zat beracun – semua ini adalah dosa.” Ada tiga dosa ekologis, yaitu: keserakahan, ketidakpedulian terhadap alam dan sesama, serta egosentris. Persoalan tersebut dapat mendatangkan dampak negatif. Untuk meminimalisir atau bahkan menghindari diri dari bahaya, tiap manusia dituntut bertobat dan melakukan kebiasaan baik. 3. Apa yang dimaksud dengan krisis ekologis? 4 Krisis ekologi seperti ini mencerminkan ketidakseimbangan hubungan manusia dengan alam yang sudah sangat parah. Krisis ekologi saat ini, seperti pemanasan global, kepunahan spesies, polusi udara dan air, serta kerusakan ekosistem, menunjukkan adanya krisis mendasar dalam etika dan spiritualitas manusia (Gardner, 2010). Mengapa ekologi penting terhadap kehidupan umat manusia? Peran ekologi sangat penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Sebagai disiplin ilmu, ekologi harus dikaji, dipahami dengan serius dan benar, sehingga perilaku kita terhadap lingkungan menjadi lebih arif dan tidak merusak karena kepentingan pembangunan semata Krisis ekologi saat ini, seperti pemanasan global, kepunahan spesies, polusi udara dan air, serta kerusakan ekosistem, menunjukkan adanya krisis mendasar dalam etika dan spiritualitas manusia (Gardner, 2010). Berbagai bencana ekologis yang terjadi belakangan ini merupakan cermin dari hilangnya harmoni hubungan antara manusia dengan alam. 3.1 Krisis Etika: Paham Antroposentrisme 4 Secara etis, krisis ekologi disebabkan oleh pandangan dunia antroposentrisme yang menempatkan manusia sebagai pusat segala sesuatu dan berhak mengeksploitasi alam demi kepentingannya sendiri. Antroposentrisme berakar pada pandangan dunia mekanistik di era modern awal yang memisahkan manusia dan alam, serta menekankan dominasi manusia atas alam. Alam dipandang sebagai mesin tanpa roh yang dapat dieksploitasi demi kepentingan manusia. Pandangan ini mereduksi nilai alam hanya sebatas manfaatnya bagi manusia. Diperlukan pergeseran menuju eksentrisme yang memandang bumi sebagai satu komunitas saling terhubung di mana manusia adalah bagian darinya, bukan penguasa tunggal. Etika lingkungan bertujuan mengembalikan harmoni hubungan manusia dan alam dengan memandang alam juga memiliki nilai intrinsik. 3.2 Krisis Spiritualitas: Manusia Terputus dengan Alam 4 Secara spiritual, krisis ekologi mencerminkan keterputusan hubungan spiritual manusia dengan alam. Alam dipandang sebagai objek untuk dieksploitasi, bukan sesuatu yang sakral dan perlu dihormati. Krisis spiritual ini ditandai dengan hilangnya rasa kekaguman dan keajaiban terhadap alam.


5 Diperlukan menumbuhkan kembali spiritualitas yang menghargai keterhubungan dan kesatuan semua makhluk hidup dan alam. Spiritualitas ramah lingkungan dalam agamaagama besar dunia mengajarkan untuk menghormati bumi dan semua ciptaan tuhan di dalamnya. Pandangan dunia indigenous juga memuliakan alam dan mengajarkan hidup harmonis dengannya. Pertobatan ekologis berarti membangun suatu hubungan yang sehat dengan membaharui kemanusiaan, pertobatan batin, rekonsiliasi dan pertobatan komunal. Pertobatan ekologis berarti memperlakukan dan memandang semua entitas dalam alam semesta sebagai suatu persekutuan universal. Apa itu Iman ekologi? Iman ekologis menuntut realisasi di dalam praktis dalam bentuk perbuatan atau aksi konkret-nyata. Untuk itu manusia perlu segera bertindak! Saat ini yang lebih penting adalah keberanian bertindak nyata peduli pada alam daripada sebuah renungan bijak tentang alam. Apa yang dimaksud dengan Laudato Si? Laudato si' (bahasa Italia Tengah yang berarti "Puji Bagi-Mu") adalah ensiklik kedua dari Paus Fransiskus. Ensiklik ini memiliki subjudul On the care for our common home (Dalam kepedulian untuk rumah kita bersama). Walaupun Laudato Si adalah dokumen yang dikeluarkan oleh Pemimpin tertinggi Gereja Katolik, isinya mengajak seluruh dunia untuk bersama-sama melakukan perubahan demi menjaga dan memastikan kelestarian bumi kita bersama. Laudato si berbicara tentang apa? Paus Fransiskus telah mengeluarkan Ensiklik “Laudato Si” sebuah ensiklik apostolik pertama yang membicarakan tentang ibu bumi sebagai rumah bersama. Ensiklik ini telah dikaji oleh berbagai macam tokoh dengan berbagai latarbelakang baik oleh kelompok Katolik maupun non Katolik Kapan Laudato Si dibuat? Ensiklik tersebut, tertanggal 24 Mei 2015, dipublikasikan secara resmi pada siang hari (waktu setempat) tanggal 18 Juni 2015 dan disertai dengan konferensi pers. Vatikan merilis dokumen tersebut dalam bahasa Italia, Jerman, Inggris, Spanyol, Prancis, Polandia, Portugis, dan Arab. Apa yang disoroti Paus Fransiskus tentang bumi sebagai rumah tinggal bersama dalam ensiklik Laudato si? Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato-Si artikel 1-2 mengungkapkan keprihatinannya karena hancurnya bumi sebagai rumah kita bersama dengan menyatakan bahwa ibu pertiwi yang memelihara dan mengasuh kita dengan aneka ragam buah-buahan beserta bunga yang warna-warni sekarang telah menjerit karena segala kerusakan yang ... Apa yang dimaksud dengan pertobatan ekologis? Pertobatan ekologis berarti membangun suatu hubungan yang sehat dengan membaharui kemanusiaan, pertobatan batin, rekonsiliasi dan pertobatan komunal. Pertobatan ekologis berarti memperlakukan dan memandang semua entitas dalam alam semesta sebagai suatu persekutuan universal. Pertobatan ekologis selanjutnya menyampaikan ajakan agar umat manusia proaktif merawat alam semesta. Ini dimulai dari hal-hal yang kecil seperti tidak membuang sampah sembarangan yang akan mengotori saudara tanah dan merusak saudari pepohonan. 4. Mencintai alam semesta 5 Dalam perkembangannya, muncul pemikiran dan kesadaran bahwa bakti dan kasih bukan hanya ditujukan kepada sesama manusia, tetapi juga terhadap alam semesta. Ini dirumuskan dalam Ensiklik Paus Fransiskus Laudato Si’ (2015). Lewat ilustrasi yang sangat


6 sederhana dinyatakan bahwa bumi dan alam semesta adalah ibu yang menyediakan segalanya yang dibutuhkan manusia. Tanaman, hewan, dan mahluk hidup dan mati yang ada di alam semesta adalah saudara dan saudari bagi umat manusia. Klaim bahwa manusia adalah mahluk yang paling dikasihi Allah tetap dipertahankan, tetapi hal itu tidak seyogianya menafikan keberadaan mahluk lain. Umat manusia wajib hukumnya untuk tidak sekadar mengakui keberadaan mereka, tetapi juga punya kewajiban merawat alam semesta. Ini selanjutnya bermuara pada pernyataan bumi dan alam semesta sebagai rumah bersama. Umat Katolik, agar melakukan pertobatan ekologis. Pertama, ini merupakan ajakan pengakuan akan kehadiran atau keberadaan segala sesuatu di sekitar kehidupan manusia. Kedua, menyusul pembangunan kesadaran tersebut, umat diajak agar menghormati keberadaan mereka (tanah, udara, air, pohon, dan berbagai mahluk lainnya). Dan, ketiga, umat diajak agar menjaga dan merawat mereka sebagai makhluk yang sama ciptaan Allah yang Maha Kuasa. Hal itu semua merupakan wujud keimanan dan ketaqwaan. Pertobatan ekologis menjadi semakin relevan mengingat persoalan yang dihadapi umat manusia sebagai akibat pengingkaran atau penyangkalan terhadap eksistensi dan signifikansi mereka. Ini tidak terbatas pada terjadinya bencana alam berupa tanah longsor, banjir, atau kekeringan. Hal-hal yang terkait dengan kemampuan alam untuk menyediakan secara berkelanjutan kebutuhan hidup manusia, seperti pangan, air bersih dan energi, juga menjadi persoalan. Semuanya mengarah pada situasi krisis dan menjadi ancaman serius yang harus dihadapi dan dicari jalan keluarnya. 5. Jangan Khawatir dan Serakah 6 Ada dua sikap dasar manusia yang berakibat pada munculnya persoalan dan krisis tersebut. Yang pertama adalah kekhawatiran dan yang kedua adalah keserakahan. Manusia teramat sering dihinggapi rasa khawatir yang berlebihan. Khawatir tidak memiliki sesuatu untuk hal yang paling mendasar sekalipun seperti makan dan minum, pakaian dan tempat tinggal. Lebih dari itu, berkembang kekhawatiran tidak mendapatkan pengakuan atau penghormatan dari pihak lain. Milik dan kepemilikan menjadi sarana pengusir kekhawatiran dan selanjutnya menjadi takaran pengakuan sosial. Dalam perkembangannya, manusia tidak hanya berusaha menghalau kekhawatiran, tetapi juga membangun jaminan. Hal ini tanpa disadari mendorong manusia menjadi serakah, ingin memiliki lebih dari apa yang dibutuhkan. Tidak dapat dimungkiri bahwa segala sesuatu yang disediakan alam (ibu) menjadi sesuatu yang mesti dimiliki, bukan saja untuk mengusir kekhawatiran, tetapi juga membangun jaminan. Terjadilah penjarahan alam secara tidak rasional, bahkan tidak jarang kelompok manusia lain pun dijadikan jaminan dan cenderung membangun struktur sosial dengan karakter de exploitation l’homme par l’homme. Tidak sulit untuk mengatakan bahwa mereka yang penuh dengan kekhawatiran dan lalu menjadi serakah adalah mereka yang tidak bertakwa, tidak percaya akan rida dan berkah Allah. Mereka adalah manusia yang lupa bahwa “burung-burung di udara pun diberi makan, walaupun mereka tidak pernah menabur”. Pertobatan ekologis selanjutnya menyampaikan ajakan agar umat manusia proaktif merawat alam semesta. Ini dimulai dari hal-hal yang kecil seperti tidak membuang sampah sembarangan yang akan mengotori saudara tanah dan merusak saudari pepohonan. Sebaliknya manusia diajak merawat saudari tumbuhan dan tanaman, membiarkan saudari air dapat meresap ke dalam bumi, atau mengalir dengan lancar di sungai-sungai sehingga tidak menggerus bukit dan menyebabkan longsor, tidak menggerus perumahan, dan merendam kota.


7 Tidak sedikit pendapat yang mengatakan bahwa ajakan semacam itu sangat terlambat sebagaimana sebenarnya telah disadari dan dilakukan oleh para leluhur lewat kearifankearifan lokal yang mereka miliki. Mereka sungguh bertakwa dengan cara dan keyakinan mereka melalui pemeliharaan lingkungan hidup. Mereka tidak khawatir akan apa yang akan mereka makan dan minum. Dan, yang pasti, mereka tidak serakah untuk memperoleh banyak harta-milik, karena alam semesta bukan untuk dimiliki melainkan dijaga dan dirawat. Pesan Paskah dan Pertobatan Ekologis, dengan demikian, mengajak umat manusia agar bangkit dan menjalani hidup yang bersaudara dengan alam semesta dan sebagai rumah bersama, baik bagi yang kaya maupun yang miskin, tidak peduli apa pun identitas primordialnya. eko.lo.gi (n) ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan (kondisi) alam sekitarnya (KBBI) Isu lingkungan hidup akhir-akhir ini sedang ramai diperbincangkan. Berbagai kerusakan alam yang terjadi menimbulkan keprihatinan banyak pihak, seperti banjir yang masih terus terjadi akibat penumpukan sampah atau kebakaran hutan yang akan dialihfungsikan menjadi permukiman. Krisis ekologi merupakan masalah moral manusia yang menuntut adanya tanggungjawab bersama. Namun sebelum membahas apa itu pertobatan ekologis, kita akan menelusuri apa sih penyebab kerusakan alam? Berdasarkan sumbernya dibagi menjadi dua, yaitu peristiwa alam dan perbuatan manusia. Kerusakan alam akibat peristiwa alam di antaranya gunung meletus, gempa bumi, tanah longsor. Sedangkan kerusakan alam akibat perbuatan manusia diantaranya alih fungsi hutan, pencemaran lingkungan, bahkan yang terparah yaitu masalah sampah. Berdasarkan data KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia) pada tahun 2021 mencatatkan jumlah sampah di Indonesia mencapai 21,88 juta ton. Tentu angka ini bukanlah angka yang menggembirakan, mengingat gerakan sadar lingkungan telah dilaksanakan sejak dahulu. Pendidikan di sekolah pun sudah mengimplementasikannya dalam pelajaran pengembangan diri. “Dengan hikmat TUHAN telah meletakkan dasar bumi, dengan pengertian ditetapkan-Nya langit, dengan pengetahuan-Nya air samudera raya berpancaran dan awan menitikkan embun. Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu, maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu” Amsal 3 : 19 - 22 Melalui kutipan ayat di atas, Tuhan mengatakan kepada kita untuk memelihara alam, bukan merusak atau menghancurkan alam itu sendiri dengan perlahan-lahan. Tuhan telah menciptakan alam semesta beserta isinya dengan sangat amat indah. Itu merupakan anugerah yang amat besar yang telah Dia sediakan sebelum menciptakan manusia. Teman-teman pasti pernah mendapat pelajaran dalam katekisasi mengenai pertobatan. Ketika kita melakukan sebuah dosa atau kesalahan lalu datang kepada Tuhan dalam doa menyesali kesalahan dan memohon ampun, serta berjanji tidak akan mengulang perbuatan tersebut. Itulah yang dinamakan bertobat. Bagaimana dengan pertobatan ekologis? Kita kembali diingatkan bahwa manusia diciptakan dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu ketika sudah meninggal, maka selama hidup Tuhan memberi amanat untuk kita mengusahakan dan memelihara alam. Dalam tulisannya yang berjudul “Laudato Si”, Paus Fransiskus menyampaikan perlunya pertobatan ekologis, yakni kesadaran religius untuk memperhatikan terwujudnya kondisi lingkungan berkelanjutan di bumi yang menjadi rumah bersama seluruh ciptaan. Apakah pertobatan ekologis hanya berakhir dari penyesalan dan pertobatan saja? Tentu saja tidak.


8 Berikut hal-hal yang bisa kita lakukan sebagai anak -anak Tuhan dalam melestarikan lingkungan : 1. Bergabung dalam komunitas “Eco Ministry”. Program ini tengah menjadi perhatian dan gereja saat ini, beberapa karya yang dihasilkan antara lain pembuatan ecobrick, pembuatan peralatan mandi dari tumbuhan, pembuatan eco enzyme, bahkan minuman dari berbagai tumbuhan. Selain membantu bumi menjadi lebih sehat tentunya kita juga menjalankan misi gereja untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi umat untuk mengambil bagian dalam pelestarian dan penyelamatan lingkungan hidup. 2. Menerapkan gaya hidup sehat dan ramah lingkungan, di antaranya mengonsumsi makanan sehat, berhenti menggunakan kantong plastik untuk berbelanja, mematikan peralatan listrik jika tidak digunakan, membawa tumbler ketika bepergian, mengatur suhu AC tidak terlalu dingin (antara 24-250C). dan tentunya membuang sampah pada tempatnya. 3. Mensyukuri alam yang telah Tuhan ciptakan. Yaps, jika kita tidak belajar terlebih dahulu bersyukur atas apa yang alam telah berikan bagi kehidupan kita selama ini rasanya akan cukup sulit mengumpulkan niat dan ikut bertindak dalam pelestarian ekologis ini. Tiga hal di atas hanyalah contoh, dan memang tidak akan bisa memperbaiki bumi jika kita melakukannya sendirian. Namun, ada kemungkinan lain jika kita—sebagai tubuh Kristus—melakukannya bersama-sama. Toh akan ada dampak yang lebih baik bagi lingkungan yang menjadi lebih nyaman dan terawat, tidak hanya untuk saat ini tetapi juga generasi selanjutnya. Semua golongan usia diharapkan terlibat yang dimulai dari kesadaran hati lalu dimulai dengan aksi. Lantas, bagaimana jika selama ini kita kurang “sadar” akan kebersihan lingkungan dan merawat bumi? Jangan terlalu merasa bersalah, selagi belum terlambat mari kita mulai gerakan ini dari sekarang, supaya kelak generasi mendatang tetap bisa merasakan suasana sejuk dan alam yang lestari. Kita sebagai umat Katolik sudah sewajarnya kalau kita harus berani menjadi pelopor kepedulian pada lingkungan hidup, atau yang sering disebut ‘go green’ memang juga bersemangat kristiani, yaitu semangat menjaga ciptaan sebagai mitra Allah. Kita juga dibekali ajaran ajaran yang sudah tertanam dalam hati kita , antara lain : 1. Allah terlebih dahulu menciptakan alam semesta atau jagad raya ini sebelum menciptakan manusia. Allah melihat bahwa seluruh alam semesta itu baik. Bahkan setelah Allah menciptakan manusia (Kej 1:31) maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam. Menurut permenungan saya pribadi, Allah sungguh amat peduli dan mengerti apa saja yang menjadi kebutuhan manusia, maka Allah telah menyediakannya terlebih dahulu 2. Manusia yang diciptakan menurut gambar dan citra Allah sendiri, dipanggil dan diutus menjadi mitra atau rekan sekerja Allah untuk memelihara, menjaga dan melestarikan jagad raya supaya tetap baik, bahkan menjadi lebih baik, untuk itu manusia telah dianugrahi kehendak bebas (free will) serta akal budi.(bdk Kej 1:26- 28). 3. Namun manusia telah menyalahgunakan kehendak bebasnya dengan lebih memilih non serviam daripada serviam, manusia jatuh ke dalam dosa, atau berpaling dari Allah 4. Kita pun sebagai keturunan Adam dan Hawa sering lupa, bahkan kurang peduli akan amanat-Nya untuk melestarikan jagad raya ini, dikarenakan kita dikuasai rasa


9 ketidakpedulian, kesombongan, keserakahan, ketamakan, kerakusan, egoisme bahkan ego sentris lebih menjadi pilihan kita(tidak semua kita) yang berakibat bumi kita saat ini sedang mengalami krisis ekologi yang begitu parah. Kerusakan-kerusakan terhadap alam terjadi dimana-mana. 5. Kesadaran dan tanggung jawab melakukan berbagai upaya pelestarian untuk memulihkan keadaan alam semesta. Antara lain : APP “Makin beriman, makin bersaudara, makin berbelarasa.” Termaktub di dalamnya bahwa iman, yang berarti meyakini cinta Tuhanpada manusia, akan mengalir dalam persaudaraan dengan sesama dan akan menumbuhkan belarasa pada yang menderita. Kita diajak untuk semakin menyadari bahwa penderitaan manusia tidak lepas dari ‘penderitaan’ yang dialami bumi seisinya. Dengan kata lain, belarasa kita tidak hanya langsung pada sesama yang menderita, tetapi juga melalui belarasa pada ciptaan Tuhan yang lain. Pertobatan Ekologis: “Krisis ekologi terjadi sebagai akibat dari kemerosotan moral manusia, terlebih dalam menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penemuanpenemuan baru di bidang teknologi digunakan oleh berbagai industri untuk mengeksploitasi alam dan meracuninya dengan limbah yang dihasilkan.” Kemerosotan moral membuat manusia semakin tidak peduli terhadap alam. Keterlibatan moral dalam masalah ekologi yang paling mendalam, ditandai oleh kurangnya rasa hormat manusia terhadap alam, seperti banyaknya pola pencemaran. Yohanes Paulus II mengatakan: “Ini terlihat dalam kegiatan perindustrian, yang mana manusia dibelenggu oleh keegoisan dan keserakahan, sehingga yang menjadi utama adalah hasil, sedangkan tidak pernah sedikitpun mempertimbangkan dampaknya bagi alam.” 6. Kesalehan Ekologis dan Laudato Si’ 9 Hubungan erat antara iman dan kepedulian terhadap lingkungan hidup di artikulasikan dengan tegas oleh Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’ (LS) dengan kata-kata berikut ini : “…menghayati panggilan untuk melindungi karya Allah adalah bagian penting dari kehidupan yang saleh”(LS 217). Maka, manusia akan berjiwa kerdil dan bahkan tampak tak waras ketika perhatian dan perawatan terhadap lingkungan dikecualikan dari hidupnya sebagai makhluk beriman. Sebabnya, lingkungan hidup merupakan “rumah bersama bagi segenap ciptaan” (LS 1). 6.1 Manusia, Makhluk Ekologis 9 Manusia, secara hakiki, adalah makhluk ekologis. Hidupnya ditopang dan didukung oleh lingkungan hidup, oleh air, oleh udara, oleh tumbuh-tumbuhan, dan oleh beragam binatang yang hidup di dalamnya. Bahkan manusia sendiri dibentuk dari debu tanah (Kej 2:7). Tuhan pun menempatkan manusia itu dalam relasi mutual dengan sesama ciptaan lainnya dalam taman kehidupan. Kitab Kejadian melukiskan harmoni dan kebaikan relasi itu dengan kalimat ini, “Tuhan melihat segala sesuatu yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik!” (Kej. 1:31). Ada dua aspek yang dapat dikatakan mengenai apresiasi positif Tuhan itu. Pertama, manusia dan aneka ciptaan itu berstatus sama, yakni makhluk yang diciptakan Tuhan sendiri. Diakui bahwa Tuhan adalah Pencipta. Dan Dia mencipta karena cinta. Maka, kita dan semua yang lain adalah ciptaan-Nya (LS 76,77). Kita satu sama lain dan lingkungan hidup adalah hadiah dari Tuhan.Namun demikian, kesamaan status sebagai “ciptaan” itu tidak perlu membawa kita pada sikap biosentris yang berpandangan bahwa manusia itu tak lebih istimewa daripada makhluk-makhluk hidup lainnya (LS 118). Tidak! Manusia tetaplah pribadi dan subjek yang unik baik dalam hubungannya dengan Tuhan maupun dalam panggilannya yang khusus untuk


10 melindungi ciptaan. Sebab, “…semua makhluk bergerak maju bersama-sama kita dan melalui kita menuju titik akhir yang sama, yakni Allah sendiri” (LS 83). Kedua, Tuhan dialami kehadiran-Nya dalam dan melalui ciptaan. Kendati rapuh dan tidak abadi, ciptaan itu mengandung nilai sakramental. Segenap ciptaan dapat mengantar kita pada perjumpaan dengan Tuhan sendiri. Segenap ciptaan itu baik adanya karena Tuhan sendiri “intim hadir dalam setiap makhluk tanpa menghilangkan otonomi mereka” (LS 80). Maka, cinta kita kepada Tuhan Pencipta hanya dapat bertumbuh, berkembang, dan berdaya membebaskan kalau kita juga berlaku rendah hati dan penuh tanggung jawab terhadap sesama ciptaan. Inilah sebabnya, ditampik relativisme praktis yang memperlakukan ciptaan melulu sebagai objek dan sarana pemenuhan kebutuhan manusia semata (LS 122- 123). Manusia perlu menunjukkan simpati dan sikap syukur, berlaku hemat dan sahaja, berekonsiliasi dan memperlakukan ciptaan lain sebagai kerabat komunitas kehidupan. Buang pola hidup konsumeristik yang ditopang oleh kekejaman dan “logika pakai dan buang” (LS 123). Sudah pada tingkat ini, amatlah mendesak suatu ekologi yang integral, yakni visi dan sikap yang melibatkan perhatian yang menyeluruh terhadap aspek-aspek manusiawi, sosial, kesejahteraan umum, dan keadilan antargenerasi (LS bab IV). Setia pada iman Kristiani, kita dapat mengatakan bahwa lingkungan hidup adalah “rumah” yang diberikan Tuhan untuk semua: manusia dan segenap makhluk. Kita tinggal bersama di dalamnya sebagai satu keluarga. Maka, semua adalah kerabat, saudara-saudari yang berasal dari satu Allah, Pencipta. Untuk bisa merasa at home di “rumah” itu, dibutuhkan sikap saling perhatian dan bukan dominasi atas sesama ciptaan lainnya. Tuhan memberi manusia kepercayaan mulia, yakni tanggung jawab untuk memelihara keutuhan ciptaan. Kita perlu merawat dan melestarikan lingkungan di mana kita berada bersama ciptaan lainnya. Bagaimana itu dilakukan? Laudato Si’ 211 merinci dengan praktis: mengendalikan diri dari hidup berfoya-foya; menghindari penggunaan plastik dan kertas berlebihan, hemat air, menggunakan transportasi umum dan seterusnya. 6.2 Mengupayakan Kesalehan Ekologis 10 Kesalehan ekologis dimulai dengan melakukan pertobatan ekologis, yakni upaya untuk berekonsiliasi dengan lingkungan hidup. Suatu perjuangan untuk menemukan kembali kesadaran dan sikap yang benar terhadap lingkungan hidup. Pencemaran, pemiskinan alam melalui kebakaran dan eskploitasi bumi, limbah industri yang merusak ekosistem, banyak satwa kehilangan habitat, dan kemiskinan adalah beberapa contoh nyata krisis ekologis yang muncul dari cara pandang dan perilaku yang salah terhadap alam ciptaan. Maka itu, makna terpenting dari pertobatan ekologis adalah kesediaan yang hidup untuk membangun relasi persaudaraan kosmik dan mengupayakan keadilan lingkungan. Pertobatan ekologis itu mengandung dua hal. Pertama, visi teosentris mengenai ciptaan. Ciptaan itu tidak dapat berasal dari dirinya sendiri. Karena itu, alam semesta dan segenap isinya bagi kita tampak sebagai anugrah, hadiah dari Tuhan sendiri (LS 76). Kita dan alam ciptaan merupakan saudara-saudari yang berasal dari Allah yang satu dan sama, yakni Bapa dan Pencipta. Maka, relasi dengan sesama ciptaan perlu dibangun berdasarkan etika “persekutuan universal” (LS 89) dan bukan dominasi eskploitatif. Untuk dapat menghidupkan etika


11 persekutuan itu dituntut sikap hormat, rendah hati, syukur, kerelaan berbagi dan sikap simpatik terhadap lingkungan hidup. Solidaritas dan perhatian terhadap kesejahteraan ciptaan lainnya mustahil terwujud kalau kita masih memeluk erat antroposentrisme sempit yang melicinkan pelbagai jalan bagi manusia untuk bersikap arogan, tidak adil dan memperlakukan alam semata sebagai ladang untuk memenuhi kebutuhan akan produksi dan konsumsi. Kedua, solidaritas dengan generasi yang akan datang. Secara etimologis, ekologi merupakan bentukan dua kata Yunani, yakni oikos: rumah dan logos: ilmu, refleksi, manajemen. Makna etimologis kata ini memperlihatkan suatu kesadaran dan tanggung jawab pokok bahwa kita sebaiknya menata diri sedemikian rupa sehingga membuka diri juga bagi generasi yang datang kemudian dari kita saat ini. Dengan kata lain, lingkungan hidup itu terbatas dan tersedia bukan hanya bagi kita saat ini tetapi juga bagi anak-anak cucu kita di kemudian hari. Maka, ditolak pemanfaatan yang egoistik, utilitaristik dan konsumeristik terhadap lingkungan hidup. 7. St Fransiskus Asisi: Model Relasi Ekologis 11 Bukan suatu kebetulan St. Fransiskus Assisi dikutip oleh Paus Fransiskus dalam ensiklik ini sebagai “contoh unggul” dalam membangun kesalehan ekologis (LS 10-12). Sebelumnya, pada 1979 Paus Yohanes Paulus II telah mengangkat St Fransiskus sebagai santo pelindung ekologi. Akan tetapi sesungguhnya jauh sebelum kata “ekologi” itu menjadi tema dan mode di saat kita ini, St Fransiskus Assisi, dengan cara hidupnya yang sederhana dan penuh kedamaian, telah membuktikan bahwa kita bisa hidup bersama dan menjadi saudara bagi segenap ciptaan. St Bonaventura, penulis riwayat hidup St Fransiskus Assisi, melukiskan iman dan spirit ekologis tersebut sebagai berikut, “Dengan memandang Asal segala makhluk, maka ia (St Fransiskus) dipenuhi dengan takwa yang berlimpah-l impah. Makhluk-makhluk, betapapun kecilnya, disebutnya dengan nama saudara atau saudari, justru karena, setahunya, mereka sekalian mempunyai satu asal seperti dia sendiri!” Dalam Kidung Saudara Matahari, St Fransiskus menyapa matahari “saudara”, air “saudari”, bumi “ibu”, dan bahkan kematian disebutnya dengan “saudari”. Begitupun burung-burung dan margasatwa lainnya diajaknya untuk memuji Pencipta. Sapaan manusiawi tersebut mengalir dari pandangan imannya akan Tuhan sebagai asal usul dan tujuan segala sesuatu yang ada di bumi ini. Segala sesuatu berasal dari dan kembali kepada Allah sendiri. Maka, sikap yang tepat adalah bersyukur atas kebaikan Tuhan yang nyata dalam anugrah saudara-saudari dan ciptaan lainnya. 8. Beberapa Imperatif 11 Tiga hal perlu. Pertama, moralitas ramah lingkungan. Ciptaan mengingatkan kita akan Allah yang menciptakannya. Pada saat yang sama kita perlu menyadari misi dan tanggung jawab kita untuk hidup dalam persaudaraan dengan segenap ciptaan, merawat dan memperhatikan keutuhannya. Tanggung jawab tersebut berupa suatu cara hidup yang mengalir dari keyakinan akan iman. Itu sebabnya, laku kita sebaiknya memperlihatkan keramahan, solidaritas, perhatian, dan pemeliharaan terhadap lingkungan di mana pun kita berada. Kedua, tolak antroposentrisme sempit yang melihat manusia semata sebagai pusat ekologi. Paham seperti ini mengabaikan nilai intrinsik tiap ciptaan dan memberikan


12 legitimasi kuat pada manusia untuk menghancurkan lingkungan hidup. Janganlah mereduksi alam sebagai instrumen atau sarana semata untuk dimanipulasi dan dieksploitasikan demi nilai guna. Tetapi juga kita tidak boleh membuat alam menjadi nilai mutlak atau menempatkannya di atas martabat manusia. Ketiga, corak hidup kita mesti berorientasi pada prinsip kesadaran, sikap hemat, dan disiplin diri, baik pada level personal dan komunnal. Orang perlu mencegah diri agar tak mudah memeluk mentalitas konsumtif dan pada saat yang sama mewartakan atau menyajikan cara-cara yang lebih menghormati tata ciptaan. Penting di sini suatu revolusi gaya hidup. Dan perubahan itu perlu dibantu oleh kesadaran kuat bahwa kita satu sama lain dengan alam adalah makhluk ciptaan Tuhan yang dicantumkan dalam relasi dan saling ketergantungan 9. Menerapkan prinsip 4 R 12 Apa saja 4R itu? Reduce, Reuse, Recycle dan juga Replant. Prinsip ini berguna untuk menaggulangi adanya bencana banjir yang sering terjadi. Reduce, yaitu mengurangi pemakaian barang yang tidak berguna. Reuse yaitu memakai ulang barang yang masih bisa digunakan. Recycle yaitu mendaur ulang barang ataupun sampah untuk menjadi barang yang berguna. Replant yaitu menimbun sampah organik untuk dijadikan kompos. Dengan menggunakan prinsip tersebut diharapkan sampah yang ada di berbagai daerah dikurangi dengan kesadaran masing-masing masyarakat. e. Reboisasi 12 Hutan di berbagai negara menjadi paru-paru dunia. Jika ada hutan yang dirusak, maka beberapa negara lain juga akan mendapatkan efek tersebut. Tentunya yang akan menerima pertama akibatnya yaitu negara yang sudah merusak lingkungannya sendiri. Untuk itu jangan pernah merusak hutan yang ada. Jika ingin menebang pohon, maka harus memiliki sikap tebang pilih dan menanam benih untuk pohon yang baru. f. Bioremidiasi 12 Limbah tidak hanya terjadi di industri saja, ada juga limbah rumah tangga. Semua limbah perlu kita cermati. Karena ini yang menyumbang bagi peningkatan gas rumah kaca. Untuk itu suatu industri haruslah mengetahui apa itu bioremidiasi. Terutama untuk industri yang mengeluarkan banyak limbah berbahaya berupa zat-zat toksik. Dampaknya tidak hanya mencemari lingkungan saja, tapi bisa mengganggu kesehatan masyarakat di daerah sekitar. Bioremidiasi berarti limbah yang akan dibuang harus dibersihkan dahulu. Jadi dengan adanya bioremidiasi ini limbah yang akan dibuang tidak menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan. g. Rehabilitasi lahan 12 Adanya rehabilitasi ini juga menjadi salah satu upaya untuk mengembalikan lahan secara ekologis, agar dapat difungsikan lagi seperti semula. Tanggung jawab untuk membuat rehabilitasi ini adalah pengusaha yang sudah melakukan penambangan di lahan tersebut. Jika hal ini tidak dilakukan, maka tanah akan menjadi tandus dan mati. h. Reklamasi pantai 12 Reklamasi pantai merupakan kegiatan pemulihan pantai untuk menyelamatkan lahan yang kritis dan mati menjadi lahan yang lebih produktif. Adanya lahan kritis disebabkan oleh


13 ulah orang yang menambang pasir atau membuang sampah. Sangat baik ditanami pohon bakau. Biaya pemulihan selalu lebih besar dari hasil penambangan itu. 10. Wujud “Pertobatan Ekologis” 13 Pertobatan ekologis” adalah perilaku “berbalik” dari tidak peduli, kurang ramah terhadap lingkungan dan bumi – sebagai rumah bersama, menjadi ramah dan peduli dengan melakukan hal-hal yang bisa menyelamatkan dan melestarikan alam. Sikap tidak peduli manusia terhadap alam telah merusak sumber penghidupan mereka sendiri. Sesuai ensiklik Laudato Si’ dan Surat Gembala Uskup Jakarta beberapa hal praktis yang bisa dilakukan, adalah: 1. Membiasakan penggunaan botol air ketimbang membeli air mineral sekali pakai. Kalaupun ‘terpaksa’ dan kehabisan persediaan air di botol pribadi, gunakanlah air mineral ukuran 1500 mililiter. Upaya ini akan mengurangi sampah botol kemasan air mineral. 2. Memilih jeruk lokal ketimbang jeruk impor. Jeruk lokal mengurangi ‘jejak karbon’, lebih segar, meminimalisir penggunaan bahan pengawet, serta menopang kehidupan petani lokal. 3. Menggunakan kembali dan membawa kantong plastik dalam dompet. (Indonesia peringkat kedua negara paling banyak yang membuang sampah kantong plastik ke laut. Di laut, kantong plastik membunuh binatang yang mengiranya ubur-ubur, menutupi terumbu karang dan meracuni ikan. Kantong plastik sekali pakai memang praktis, namun sebaiknya digunakan semaksimal mungkin. Dengan membawa kantong plastik dalam dompet, kita bisa mengurangi penggunaan kantong plastik baru (saat berbelanja). Kantong plastik bisa dilipat tipis, tidak mempertebal dompet. 4. Jangan biarkan charger terpasang bila tidak dipakai, karena tetap mengalirkan arus listrik. Tinggalkan kebiasaan meninggalkan charger di colokan steker yang menyala! 5. Memilih minuman tradisional lokal daripada minuman instan modern. Air sari tebu minuman yang sangat sederhana, diproduksi berkat usaha petani tebu, dan penjual minuman dengan alat-alat yang sederhana sehingga minim jejak karbon,daripada minum “shaker” dan “bubble tea” yang diproduksi di pabrik dan jelas tidak segar. Minum sari tebu di tepi jalanan bukanlah pilihan yang buruk, karena kita berkontribusi pada pendapatan petani lokal dan pedagang skala kecil. 6. Perhatikan seberapa deras air yang digunakan saat membuka keran secara penuh dibandingkan bila kita membukanya sebagian saja. Perbedaan kecil berdampak besar, karena kita bisa menghemat banyak air hanya dengan mengurangi gerakan saat membuka keran. Bijaklah menggunakan air, karena air yang kita miliki kian terbatas. 7. Kreatif memanfaatkan barang bekas! Saat gelas plastik dan roll tisu dipasangkan, maka kita tidak perlu membeli tempat stasioneri baru. 8. Air keruh tak selamanya harus dibuang. Air bekas cucian pakaian jangan langsung dibuang, karena masih bisa dimanfaatkan. Tampung air dari selang pembuangan mesin cuci, manfaatkan untuk berbagai keperluan. Di musim kemarau, air keruh ini bisa untuk mencuci lantai dan membasahi jalanan agar tidak berdebu. Sabun dan pewangi yang terkandung di dalamnya dapat dimanfaatkan kembali untuk mencuci lantai yang berminyak. 9. Jangan buang sembarang tutup galon, karena bisa didaur ulang. Jangan mencampur tutup galon bekas dengan sampah basah. Bila sudah terkumpul cukup banyak, bisa diserahkan kepada Posko Daur Ulang Tzu Chi terdekat atau pada komunitas lainnya yang mendaur ulang.


14 10. Untuk keperluan menyetrika, sebaiknya Anda ‘merapel’-nya. Setrikalah pakaian pada kurun waktu tertentu (sekali seminggu atau tiga harian). Jangan menyetrika pakaian setiap hari dalam jumlah sedikit-sedikit, karena untuk memanaskan setrika butuh energi listrik yang besar. Sesuaikan jenis panas setrika dengan bahan pakaian. Jangan biasakan menyetel mode “Panas Maksimal”! Tidak semua pakaian perlu disetrika dengan model tersebut; misalnya pakaian tidur, pakaian dalam, selimut, alas bantal. Kurangilah jumlah, durasi, dan frekuensi menyetrika sehingga menghemat waktu, mengurangi penggunaan listrik sekaligus hemat pengeluaran dan ramah lingkungan. (kevin.a.b)


Click to View FlipBook Version