MUSEUM SEJARAH JAKARTA Abraham Anelka Amar Paraeye
Daftar Isi 01 Cerita 01 Acara & Kegiatan 02 Sejarah 01 Fasilitas 04 Arsitektur 01 Dekat Museum 06 Koleksi 01 Cara Mengunjungi
CERITA 01 Museum Sejarah Jakarta atau yang dikenal Museum Fatahillah, terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 1, Jakarta Barat. Museum Fatahillah dulunya merupakan bangunan Balai Kota Batavia. Bangunan ini dibangun antara tahun 1707 dan 1712 atas perintah Gubernur Jenderal Joan Van Hoorn. Di Museum Sejarah Jakarta, Anda dapat menemukan benda-benda seperti: Sejarah Jakarta, Replika peninggalan Tarumanegara dan Pajajaran, Hasil penggalian arkeologi di Jakarta, Furnitur antik abad ke17-19, Keramik, Tembikar, Monumen batu.
02 Sejarah Museum & Gedung
Museum Sejarah Jakarta pada mulanya digunakan sebagai gedung Balaikota (Stadhuis). Gedung ini merupakan gedung Balai Kota kedua yang dibangun pada masa pemerintahan VOC di Batavia. Selain sebagai Balaikota, gedung ini juga berfungsi sebagai Pengadilan, Kantor Catatan Sipil, tempat warga beribadah di hari Minggu, dan Dewan Kotapraja. Setelah itu pada tahun 1968 gedung ini diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta dan kemudian dijadikan sebagai Museum pada tahun 1974. Museum Sejarah Jakarta yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No.1, Jakarta Barat, adalah sebuah lembaga museum yang memiliki sejarah yang cukup panjang. Pada tahun 1919, dalam rangka 300 tahun berdirinya kota Batavia, warga kota Batavia khususnya Belanda mulai tertarik dengan sejarah kota Batavia. Pada tahun 1930 didirikanlah sebuah yayasan yang bernama Oud Batavia (Batavia Lama) yang bertujuan untuk mengumpulkan segala ihwal tentang sejarah kota Batavia. Maka pada tahun 1936, Museum Oud Batavia diresmikan oleh Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer (1936-1942). Museum ini dibuka untuk umum pada tahun 1939. 03
04 Arsitektur Arsitektur yang didirikannya bergaya zaman ke-17 merupakan langgam arsitektur Barok klasik. Penggunaan beberapa elemen dengan skala yang monumental masih menghiasi beberapa sudut bangunan karena pengaruh gaya Neoklasik.
05 Terdiri tiga lantai dengan cat kuning tanah, kusen pintu dan jendela dari kayu jati berwarna hijau tua. Anggota atap utama memiliki penunjuk arah mata angin. Museum ini memiliki luas lebih dari 1.300 meter persegi. P e k a r a n g a n dengan yang d i b a n g u n konblok, dan sebuah kolam dihiasi beberapa pohon tua. Bangunan itu m e n y e r u p a i Istana Dam di A m s t e r d a m , terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang d i g u n a k a n s e b a g a i kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.
06 Koleksi Hermes Orang Eropa membuat patung Hermes ini pada abad ke-18. Patung ini terbuat dari perunggu dan tembaga dan didasarkan pada cerita dari mitologi Yunani. Patung dewa Hermes ini melambangkan kesuksesan dalam hidup. Patung ini memiliki berat 120 kg dan tinggi sekitar 2 meter.
07 Prasasti Ciaruteun Ditemukan di Desa Ciaruteun Hilir, Kecamatan Cibungbulang, kabupaten Bogor pada 1863. Tahun 1893 terjadi banjir besar sehingga prasasti ini terseret beberapa meter ke hilir dan bagian batu yang bertuliskan menjadi terbalik posisinya. Tahun 1903 dikembalikan ke tempat semula. Tahun 1981 Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalah Sejarah dan Purbakala Depdikbud mengangkat dan memindahkan prasasti ini ke dekat prasasti Kebon Kopi. Prasasti Ciaruteun bergoreskan aksara Pallawa yang disusun dalam bentuk seloka bahasa Sansekerta dengan metrum Anustubh yang terdiri dari tiga baris dan pada bagian bawah tulisan terdapat pahatan gambar umbi dan sulur-suluran (pilin), sepasang telapak kaki, dan laba-laba.
08 Lukisan Dinding Lukisan dinding ini dibuat oleh Harijadi yang dimulai sejak 1975 atas permintaan langsung Gubernur Ali Sadikin. gambar-gambarnya adalah situasi yang terjadi di Jakarta pada era 1880 hingga 1920an. Pada gambar ini menceritakan suasana pesta rakyat.
09 Peninggalan Sultan Agung bisa dijadikan bukti Peperangan antara Kesultanan Mataram dan VOC Belanda (1628 dan 1629) adalah sebuah benda menyerupai Mihrab yang kini jadi salah satu koleksi Museum Sejarah Jakarta. Ruang Sultan Agung
10 Lemari berukuran besar yang berbentuk unik, dan kental dengan nuansa klasik. Maklum, lemari ini dibuat pada 1748. Awalnya, lemari ini dibesut untuk Dewan Pengadilan (Raad van Justitie) yang semua berkantor di kasteel Batavia dan kemudian pindah ke ruang sidang balai kota Batavia, tempat sekarang lemari ini berada. Lemari ini digunakan untuk arsip dan kepustakaan, yang paling unik dari lemari ini, yakni ukiran kayunya disepuh dari emas (prada) dan Yang paling unik dari lemari ini, yakni ukiran kayunya disepuh dari emas (prada). Lemari Buku
11 Ruang tanpa cahaya ini diisi oleh puluhan orang hingga sesak dan kedua kakinya diikat dengan bola besi. Penjara Bawah Tanah Hanya 2 Meter
12 Koleksi
13 Lainnya
14 Fasilitas Kantin Toko souvenir Taman dalam Musholla
15 Dekat Museum Museum wayang Museum Bank Indonesia Museum Seni Rupa & Keramik Museum Bank Mandiri Kota Tua Cafe Batavia Kedai Seni Djakarte Pasar Asemka
16 Cara Mengunjungi Alamat Museum: Jl. Pos Kota No.2, RT.9/RW.7, Pinangsia, Kec. Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11110 Transportasi Publik turun di stasiun Jakarta Kota, lalu keluar menuju pintu keluar stasiun dan berjalan kaki menuju lokasi dengan menempuh jarak sekitar 300 meter dari stasiun. Kereta KRL Transjakarta Dari blok-M (koridor 1), kemudian turun di akhir terminal kota. Lanjutkan perjalanan dari terminal tersebut dengan berjalan kaki menuju kawasan Kota Tua, lalu dengan mudah kamu dapat menemukan Museum Seni Rupa dan Keramik.
17 Informasi dan Tiket Tiket: Dewasa RP. 5.000/ orang Mahasiswa RP. 3.000/ orang Anak-anak RP. 2.000/ orang Waktu buka: Selasa - Minggu : 09.00 - 15.00 WIB Senin tutup
Abraham Anelka Amar Paraeye