TARI GIRING-GIRING
KELAS 2
RENCANA PELAKSANAAN
PEMBELAJARAN (PERTEMUAN 1)
Mata Pelajaran : Seni Budaya (Seni Tari)
Kelas / Semester : 2 / Semester I (Satu)
Alokasi Waktu : 2 jam pelajaran @ 60 menit
Standar Kompetensi : 1. Mengapresiasi karya seni tari daerah setempat
Kompetensi Dasar : 1.1. Mengidentifikasi gerak tari Kalimantan Tengah dengan
menceritakan sinopsis tari giring-giring
1.2.Menampilkan seni tari giring-giring dengan berupa gerak
Materi Pokok
Unsur-unsur gerak tari melalui wiraga bersumber dari tari giring-
giring ( bentuk tubuh pada saat menari)
Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari wiraga ini, siswa diharapkan mampu:
• Menggerakan tubuh melalui gerakan tari giring-giring dan
memberi contohnya.
• Memahami 1-5 gerakan tari giring-giring tangan dan memberi
contohnya.
• Menghafal urutan 1- 5 gerakan tari giring-giring dari daerah
setempat.
• Menyebutkan nama-nama gerakan
Metode Pembelajaran
Informasi (ceramah), Tanya Jawab, Diskusi,penugasan
Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa yang ditanamkan:
Kerjasama
Kerja keras
Kreatif
Inovatif
Berani tampil dan mengungkapkan pendapat
Kewirausahaan/ Ekonomi Kreatif yang ditanamkan :
Mandiri
Kreatif
Berani mengambil tampil
Berorientasi pada tindakan
1. Pembukaan
2. Membaca doa
3. Mendengarkan penjelasan guru ( duduk
rapih dan menyimak dengan baik )
5. Tidak mencorat-coret layar screen
6. Sesi tanya jawab5. Penutup
Kalimantan Tengah Suku dayak
Orang utan
SinopsisTari Giring-giring merupakan tarian khas yang berasal dari
suku Dayak Ma’anyan dan kemudian berkembang dan populer di
Pulau Kalimantan, tepatnya di daerah Barito, Kalimantan Tengah.
Suku Dayak Ma’anyan biasanya menarikan tarian ini untuk
menyambut kedatangan tamu-tamu istimewa atau terkadang dijadikan
tarian pergaulan oleh para muda-mudi di Kalimantan. Keistimewaan
dari tarian ini adalah penggunaan atribut yang khas yaitu dua tongkat
berbentuk panjang dan pendek yang dipegang dan dihentakan saat
menari. Tari Giring-giring ini memiliki berbagai macam bentuk
dalam penampilannya, walau pun serupa tetapi tidak sama. Hal ini
disesuaikan dengan ciri khas etnik budaya di masing-masing daerah
sehingga namanya pun berbeda. Di Kalimantan Tengah Tarian
Giring-giring juga disebut Tarian Tolang Totai dan Tarian
Ganggareng. Sedangkan Tarian Giring-giring dari Kalimantan Timur
disebut dengan Tarian Gantar.
SinopsisTari Giring-giring merupakan tarian khas yang berasal dari suku
Dayak Ma’anyan dan kemudian berkembang dan populer di Pulau
Kalimantan, tepatnya di daerah Barito, Kalimantan Tengah. Suku Dayak
Ma’anyan biasanya menarikan tarian ini untuk menyambut
kedatangan tamu-tamu istimewa atau terkadang dijadikan tarian
pergaulan oleh para muda-mudi di Kalimantan. Keistimewaan dari tarian
ini adalah penggunaan atribut yang khas yaitu dua tongkat berbentuk
panjang dan pendek yang dipegang dan dihentakan saat menari. Tari
Giring-giring ini memiliki berbagai macam bentuk dalam penampilannya,
walau pun serupa tetapi tidak sama. Hal ini disesuaikan dengan ciri khas
etnik budaya di masing-masing daerah sehingga namanya pun berbeda.
Di Kalimantan Tengah Tarian Giring-giring juga disebut Tarian Tolang
Totai dan Tarian Ganggareng. Sedangkan Tarian Giring-giring dari
Kalimantan Timur disebut dengan Tarian Gantar.
Tari Giring-Giring awalnya adalah tarian tradisional suku Dayak Ma’anyan di Provinsi
Kalimantan Tengah yang kemudian menyebar luas ke seluruh wilayah Kalimantan, terutama
Selatan dan Timur. Tari Giring-Giring atau “Gangereng” ditampilkan saat menyambut
kedatangan pahlawan suku Dayak yang menang dari pertempuran melawan penjajah untuk
mempertahankan harkat dan martabat suku Dayak. Mereka bersorak, menari, bersuka cita,
dan membunyikan “Gangereng” sebagai lupan kegembiraan atas kemenangan yang diraih
para pahlawannya. Penamaan tari Giring-Giring itu sendiri diambil dari nama tongkat yang
menjadi properti tarian ini yaitu “gangereng”. Suku Dayak Taboyan Bawo menyebutnya
“tolang totai”, tolang artinya ruas bambu, sedangkan totai artinya tongkat kayu. Legenda
“tolang totai” di kalangan suku Dayak Taboyan Bawo berkisah tentang seorang pemuda
yang tersesat dalam sebuah goa selama beberapa hari, dan mendengar bunyi gemericik air
seperti alunan musik. Setelah berhasil keluar dari goa sang pemuda melihat penduduk di
desanya sedang menari bersama sambil menanam padi. Ia teringat bunyi gemericik air saat
berada di dalam goa, maka dibuatlah alat musik dari ruas bambu “tolang totai” yang disebut
juga “salung”, yaitu sepotong bambu kecil yang diisi biji-biji piding sehingga saat digoyang-
goyang akan terdengar bunyi gemerincing. Penyebutan yang berbeda menjadikan tari Giring-
Giring di Kalimantan Tengah juga dikenal dengan nama Tari Tolang Totai atau Tari
Gangereng, sedangkan di Kalimantan Timur disebut tari Gantar.
Tarian ini meski memiliki banyak variasi tetapi
gerakan dasarnya tetap sama, yaitu gerak dasar
“Manasai”, tari pergaulan suku Dayak di
Kalimantan Tengah, serta ragam gerak “tandrik”,
“menjinggit-jinggit”, gerak dua kali melangkah ke
kanan dan ke kiri yang merupakan pakem gerak
tari Giring-Giring.
Pakaian tari giring-giring dan alat yang digunakan
Tujuan Pembembelajaran
Tari Giring-giring
1. Siswa mampu menari giring-giring sesuai dengan
gerakan ( wiraga )
2. 2. Siswa mampu menari giring-giring sesuai dengan
musik ( wirama )
3. Siswa mampu menari giring-giring dengan
menyesuaikan gerak dan musik ( wirasa )
4. Siswa mampu menari giring-giring dengan mimik
wajah yang tepat ( mengejewantahkan )