MODUL PRAKTIKUM KOMPREHENSIF KEDARURATAN KODE MK: FIS3221063 PROGRAM STUDI S1 FISIOTERAPI FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2022
ii MODUL PRAKTIKUM MODUL PRAKTIKUM FISIOTERAPI KOMPREHENSIF KEDARURATAN KODE MATKUL: FIS3221063 Dosen Pengampu: Farid Rahman, SSt.Ft., M.Or., Ftr. Program Studi S1 Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022
iii MODUL PRAKTIKUM KATA PENGANTAR Fisioterapi Komprehensif Kedaruratan sebagai mata kuliah dalam program S1 Fisioterapi memberikan metode implementasi atau penerapan keterampilan dan komptensi promosi Kesehatan fisik, mental dan social untuk kedaruratan. Untuk itu dalam mata kuliah fisioterapi komprehensif Kedaruratan 2 SKS dirancang agar mahasiswa mampu menguasai Mahasiswa mampu memahami, menguasai dan mengaplikasikan integrasi keilmuan kedaruratan dan fisioterapi. Mata kuliah ini ditempuh dalam 16 pekan dengan 14 pekan pembelajaran praktikum di lab dan 2 pekan untuk ujian praktikum. Praktikum Ft Komprehensif Kedaruratan dirancang dalam 10 modul, setiap modul dikerjakan dalam 1 minggu sekali selama 1 semester untuk menggenapi teori yang diajarkan di kelas dengan beberapa topik dikerjakan dua kali sesuai beban CPMK. Praktikum mata kuliah ini berbantuan dengan modalitas yang dimiliki oleh program studi Fisioterapi UMS. Dalam 1 semester mahasiswa wajib untuk menyelesaikan 10 modul praktikum. Modul dirancang mengacu pada Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) di RPS (Rencana Pembelajaran Semester) mata kuliah Fisioterapi Komprehensif Kedaruratan. Mahasiswa diharapkan dapat bekerja secara mandiri dengan mengerjakan modul praktikum dan membuat laporan sebagai kinerja pelaksanaan praktikum dengan simulasi. Pengampu, Farid Rahman, SSt.Ft., M.Or., Ftr. NIDN. 0610019101
iv MODUL PRAKTIKUM LEMBAR PENGESAHAN Modul Praktikum Fisioterapi Komprehensif Kedaruratan Modul ini telah setujui untuk digunakan dalam pembelajaran Fisioterapi Komprehensif Kedaruratan Surakarta, 10 Juli 2022 Dosen Pengampu, Farid Rahman, SSt.Ft., M.Or., Ftr. Kepala Laboratorium, Agus Widodo, S.Fis., Ftr., M.Fis
v MODUL PRAKTIKUM DAFTAR ISI HALAMAN DEPAN ...................................................................................... ii KATA PENGANTAR .................................................................................... iii LEMBAR PENGESAHAN .............................................................................. iv DAFTAR ISI .............................................................................................. v VISI KEILMUAN PROGRAM STUDI FISIOTERAPI .................................... vii MODUL 1 KEDARURATAN......................................................................... 1 CPL.................................................................................................. 1 CPMK............................................................................................... 1 DASAR TEORI.................................................................................. 1 LANGKAH KERJA............................................................................. 2 PENILAIAN...................................................................................... 4 REFERENSI..................................................................................... 4 MODUL 2 TEKNIK EVAKUASI................................................................... 5 CPL................................................................................................. 5 CPMK.............................................................................................. 5 DASAR TEORI................................................................................. 5 LANGKAH KERJA............................................................................ 7 PENILAIAN..................................................................................... 9 REFERENSI..................................................................................... 9 MODUL 3 CIDERA AKUT........................................................................... 10 CPL.................................................................................................. 10 CPMK............................................................................................... 10 DASAR TEORI.................................................................................. 10 LANGKAH KERJA............................................................................. 11 PENILAIAN..................................................................................... 13 REFERENSI..................................................................................... 13 MODUL 4 PERTOLONGAN SERANGAN ASMA........................................... 14 CPL................................................................................................. 14 CPMK.............................................................................................. 14 DASAR TEORI................................................................................. 14
vi MODUL PRAKTIKUM LANGKAH KERJA.......................................................................... 15 PENILAIAN................................................................................... 17 REFERENSI.................................................................................. 17 MODUL 5 TEKNIK PEMBIDAIAN............................................................ 18 CPL............................................................................................... 18 CPMK........................................................................................... 18 DASAR TEORI.............................................................................. 18 PENILAIAN.................................................................................. 23 REFERENSI.................................................................................. 24
vii MODUL PRAKTIKUM VISI KEILMUAN PROGRAM STUDI FISIOTERAPI Pada tahun 2029 menjadi pusat unggulan dan inovasi IPTEKS yang islami di Bidang Fisioterapi melalui budaya akademik yang kuat, pelayanan kesehatan serta kemitraan yang berorientasi pada fisioterapi komunitas pada lingkup nasional dan global
1 MODUL PRAKTIKUM MODUL 1 TOPIK: PRAKTIK KEDARURATAN A. CPL a. Mampu melakukan interview, prosedur asesmen, observasi, tes fisioterapi, behavioral dan skoring tes Fisioterapi yang sesuai dengan prinsip diagnosis Fisioterapi dipakai di lapangan kerja serta diperbolehkan sesuai kode etik fisioterapi Indonesia; b. Mampu menyampaikan gagasan secara tertulis, menampilkan presentasi secara efektif, dan menggunakan teknologi informasi secara bertanggungjawab; c. Mampu melakukan evaluasi diri, mengelola penyuluhan secara mandiri, dapat secara efektif mengkomunikasikan informasi dan ide dengan berbagai bentuk media kepada masyarakat; B. CPMK Mahasiswa memahami dan menjelaskan tentang konsep praktik kedaruratan C. Dasar Teori 1. Bantuan Hidup Dasar Bantuan Hidup Dasar (BHD) mengacu pada perawatan medis segera dan esensial yang diberikan kepada individu yang mengalami henti jantung, gangguan pernapasan, atau keadaan darurat yang mengancam jiwa lainnya. Hal ini bertujuan untuk menjaga sirkulasi darah dan memastikan pengiriman oksigen ke organ vital hingga bantuan medis yang lebih canggih tiba. Berikut adalah ringkasan poin-poin penting yang terkait dengan Bantuan Hidup Dasar:
2 MODUL PRAKTIKUM a.) Rantai Kelangsungan Hidup: BHD sering dikonseptualisasikan sebagai rantai kelangsungan hidup yang terdiri dari empat mata rantai penting: - Pengenalan dini dan aktivasi tanggap darurat. - Resusitasi jantung paru dini (RJP). - Defibrilasi dini (jika diperlukan). - Perawatan medis lanjutan dini. D. Langkah Kerja ● Prosedur 1.) RJP (Resusitasi Jantung Paru): - RJP adalah teknik BHD kritis yang melibatkan kompresi dada dan napas bantuan. - Kompresi harus dilakukan dengan kecepatan sekitar 100- 120 kompresi per menit, sehingga dada dapat sepenuhnya mundur di antara kompresi. - Nafas penyelamatan memberikan oksigen ke paru-paru; rasio kompresi terhadap napas biasanya 30:2 untuk orang dewasa dan anak-anak. 2.) Defribilasi Dini (Alat Defibrilasi Eksternal Otomatis): - Defibrilasi adalah perangkat portabel yang menganalisis irama jantung dan memberikan kejutan listrik jika terdeteksi adanya irama yang dapat disetrum, seperti fibrilasi ventrikel atau takikardia ventrikel. - Defibrilasi dini dapat secara signifikan meningkatkan peluang untuk memulihkan irama jantung normal. 3.) Penanganan Tersedak: - BHD mencakup teknik untuk membantu orang yang tersedak dengan melakukan dorongan perut (manuver Heimlich).
3 MODUL PRAKTIKUM - Untuk bayi, pukulan punggung dan dorongan dada digunakan. 4.) Penilaian dan Penentuan Prioritas: - Dalam BHD, penyedia layanan menilai respons, pernapasan, dan denyut nadi pasien. - Pasien yang tidak responsif atau pasien yang tidak bernapas atau bernapas tidak teratur memerlukan intervensi segera, dimulai dengan kompresi dada. 5.) Sirkulasi, Jalan Napas, Pernapasan (C-A-B): - Urutan tindakan dalam BHD sering diingat dengan singkatan C-A-B : Compression, Airways, Breathing. - Kompresi dada berkualitas tinggi merupakan prioritas untuk menjaga sirkulasi darah. 6.) Keselamatan Pribadi dan Pengendalian Infeksi: - Penyedia layanan BHD harus memastikan keselamatan mereka dan keselamatan korban saat memberikan perawatan. - Tindakan pencegahan universal, seperti mengenakan sarung tangan dan menggunakan penghalang pelindung, membantu mencegah penyebaran infeksi. 7.) BHD untuk Populasi Khusus : - Teknik BHD mungkin berbeda untuk bayi, anak-anak, dan orang dewasa, dengan mempertimbangkan perbedaan anatomi dan fisiologi.
4 MODUL PRAKTIKUM E. Penilaian dan Kriteria Penilaian 0 = Tidak melakukan 1 = Melakukan Sebagian besar tidak tepat 2 = Melakukan semua prosedur dengan benar/sebagian kecil salah (50%+1 prosedur benar) E. Referensi Abzug JM, Schwartz BS, Johnson AJ. Assessment of Splints Applied for Pediatric Fractures in an Emergency Department/Urgent Care Environment. J Pediatr Orthop. 2019 Feb;39(2):76–84. Powell RA, Weir AJ. EMS, Bone Immobilization. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2019. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK507778/ Anderson, M.K. and Hall, S.J. Sports Injury Management. Williams and Wilkins: Philadelphia, 1995. Gerrard, D. The young athlete: children and physical activity. Sports Medicine NZ, Dunedin 1999. Ross I. Splinting Techniques. 2017. Available at: emra.org. Available from: https://www.emra.org/globalassets/emra/publications/referencecards/emra_sportsmedicine_splint_guide.pdf No Aspek yang dinilai Nilai 0 1 2 1 Menjelaskan maksud dan tujuan pemeriksaan 2 Menyiapkan Instrumen untuk tes 3 Melakukan teknis pengukuran core sesuai prosedur 4 Mengisntruksikan klien dengan prosedur yang benar 5 Melakukan evaluasi dan dokumen Total skor Skor perolehan/Skor total x 100%
5 MODUL PRAKTIKUM
6 MODUL PRAKTIKUM MODUL 2 TOPIK: TEKNIK EVAKUASI A. CPL a. Mampu melakukan interview, prosedur asesmen, observasi, tes fisioterapi, behavioral dan skoring tes Fisioterapi yang sesuai dengan prinsip diagnosis Fisioterapi dipakai di lapangan kerja serta diperbolehkan sesuai kode etik fisioterapi Indonesia; b. Mampu menyampaikan gagasan secara tertulis, menampilkan presentasi secara efektif, dan menggunakan teknologi informasi secara bertanggungjawab; c. Mampu melakukan evaluasi diri, mengelola penyuluhan secara mandiri, dapat secara efektif mengkomunikasikan informasi dan ide dengan berbagai bentuk media kepada masyarakat; B. CPMK Mahasiswa memahami dan menjelaskan tentang konsep teknik evakuasi C. Dasar Teori 1. Teknik Evakuasi Evakuasi orang dengan henti jantung adalah proses yang memerlukan perhatian khusus dan dilakukan dengan hati-hati untuk meminimalkan risiko tambahan. Berikut adalah beberapa langkah penting dalam teknik evakuasi orang dengan henti jantung: a. Evaluasi Keamanan : Sebelum melakukan evakuasi, pastikan lingkungan sekitar aman bagi korban dan rescuer (penolong). Periksa adanya bahaya seperti api, ledakan, bahan kimia berbahaya, atau benda-benda tajam. b. Aktifkan Bantuan Medis : Sebelum memulai evakuasi, pastikan Anda telah memanggil bantuan medis darurat (ambulans atau
7 MODUL PRAKTIKUM petugas medis) untuk memberikan perawatan lanjutan secepat mungkin. c. Beri Prioritas CPR : Jika korban tidak sadar, tidak bernafas, dan tidak memiliki denyut jantung yang teraba, segera mulai CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) dengan memberikan kompresi dada. Kompresi dada yang kuat membantu menjaga aliran darah dan oksigen ke otak dan organ vital. d. Gunakan Alat Bantu Evakuasi : Jika tersedia, gunakan alat bantu evakuasi seperti brankar atau alat pelindung kepala dan leher (Cervical Collar) untuk mengamankan kepala dan leher korban. e. Tim Kerja : Jika memungkinkan, minta bantuan dari anggota tim atau orang lain yang ada di sekitar. Evakuasi orang dengan henti jantung memerlukan kerjasama dan koordinasi. f. Posisi Korban : Jika evakuasi harus dilakukan dalam posisi terbaring, pastikan kepala, leher, dan tubuh korban tetap dalam poros lurus. Hindari gerakan yang tiba-tiba atau menggoyangkan korban. g. Gerakan Yang Hati-Hati : Hindari gerakan atau guncangan yang berlebihan pada korban. Posisikan tubuh korban secara hati-hati untuk menghindari cedera tambahan pada tulang belakang atau organ dalam. h. Evakuasi Bertahap : Evakuasi harus dilakukan dengan perlahan dan hati-hati. Jika mungkin, gunakan metode "angkat dan tarik" untuk memindahkan korban ke tempat yang lebih aman. i. Jaga Kompresi Dada : Jika CPR masih dilakukan saat evakuasi, pastikan kompresi dada tetap berlanjut saat korban dipindahkan. j. Berkoordinasi dengan Tim Medis : Saat tim medis tiba di lokasi, komunikasikan dengan baik dan serahkan perawatan korban kepada mereka. Tim medis akan melanjutkan perawatan dan memutuskan langkah selanjutnya.
8 MODUL PRAKTIKUM k. Catat Informasi Penting : Jika memungkinkan, catat informasi penting mengenai waktu mulai CPR, tindakan yang dilakukan, dan reaksi korban. D. Langkah Kerja ● Prosedur Prosedur teknik evakuasi adalah langkah-langkah yang harus diikuti untuk mengamankan keselamatan dan mengeluarkan orang-orang dari suatu lokasi yang berpotensi berbahaya, seperti bencana alam, kebakaran, ledakan, atau situasi darurat lainnya. Berikut adalah contoh prosedur umum untuk teknik evakuasi: a) Identifikasi bahaya: Ketahui potensi bahaya di sekitar Anda. Ini dapat berupa bencana alam, bahaya kimia, kebakaran, ledakan, atau ancaman lainnya. b) Tetap tenang: Pertahankan ketenangan dan jangan panik. Tetap fokus pada prosedur evakuasi. c) Peringatkan orang lain: Jika Anda menyadari bahaya dan tidak ada peringatan sebelumnya, segera beritahu orang lain di sekitar Anda untuk memulai evakuasi. d) Ikuti tanda dan petunjuk evakuasi: Di banyak tempat umum, seperti gedung perkantoran atau hotel, akan ada tanda-tanda dan petunjuk evakuasi yang mengarahkan jalur keluar dan titik pertemuan. e) Gunakan jalur evakuasi yang aman: Hindari penggunaan lift selama evakuasi, terutama jika ada bahaya kebakaran. Gunakan tangga darurat dan jalur keluar yang telah ditentukan. f) Bantu orang lain: Jika Anda melihat seseorang kesulitan atau membutuhkan bantuan, bantu mereka dengan aman tanpa mengorbankan keselamatan Anda sendiri. g) Cari tempat berkumpul: Setelah Anda keluar dari bangunan atau area yang berbahaya, cari tempat berkumpul yang telah ditentukan
9 MODUL PRAKTIKUM sebagai titik pertemuan untuk memastikan semua orang keluar dengan selamat. h) Hitung kehadiran: Jika Anda adalah kepala kelompok atau pekerjaan, pastikan untuk menghitung jumlah orang di titik pertemuan dan pastikan semua orang selamat. i) Laporkan keadaan: Jika diperlukan, laporkan keadaan kepada petugas evakuasi atau petugas keamanan di titik pertemuan. j) Jangan kembali masuk: Setelah keluar dari area berbahaya, jangan kembali ke dalam gedung atau area tersebut sampai mendapatkan izin dari petugas yang berwenang. k) Ikuti instruksi dari petugas: Selalu patuhi instruksi dari petugas evakuasi atau petugas keamanan. Mereka akan membantu mengarahkan Anda ke tempat yang aman. l) Latihan reguler: Penting untuk melakukan latihan evakuasi secara berkala, terutama jika Anda berada di gedung atau lingkungan yang padat. Latihan akan membantu meningkatkan respons dan kesadaran tentang prosedur evakuasi.
10 MODUL PRAKTIKUM E. Penilaian dan Kriteria Penilaian 0 = Tidak melakukan 1 = Melakukan Sebagian besar tidak tepat 2 = Melakukan semua prosedur dengan benar/sebagian kecil salah (50%+1 prosedur benar) F. Referensi Abzug JM, Schwartz BS, Johnson AJ. Assessment of Splints Applied for Pediatric Fractures in an Emergency Department/Urgent Care Environment. J Pediatr Orthop. 2019 Feb;39(2):76–84. Powell RA, Weir AJ. EMS, Bone Immobilization. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2019. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK507778/ Anderson, M.K. and Hall, S.J. Sports Injury Management. Williams and Wilkins: Philadelphia, 1995. Gerrard, D. The young athlete: children and physical activity. Sports Medicine NZ, Dunedin 1999. Ross I. Splinting Techniques. 2017. Available at: emra.org. Available from: https://www.emra.org/globalassets/emra/publications/referencecards/emra_sportsmedicine_splint_guide.pdf No Aspek yang dinilai Nilai 0 1 2 1 Menjelaskan maksud dan tujuan pemeriksaan 2 Menyiapkan Instrumen untuk tes 3 Melakukan teknis pengukuran core sesuai prosedur 4 Mengisntruksikan klien dengan prosedur yang benar 5 Melakukan evaluasi dan dokumen Total skor Skor perolehan/Skor total x 100%
11 MODUL PRAKTIKUM
12 MODUL PRAKTIKUM MODUL 3 TOPIK: CIDERA AKUT A. CPL a. Mampu melakukan interview, prosedur asesmen, observasi, tes fisioterapi, behavioral dan skoring tes Fisioterapi yang sesuai dengan prinsip diagnosis Fisioterapi dipakai di lapangan kerja serta diperbolehkan sesuai kode etik fisioterapi Indonesia; b. Mampu menyampaikan gagasan secara tertulis, menampilkan presentasi secara efektif, dan menggunakan teknologi informasi secara bertanggungjawab; c. Mampu melakukan evaluasi diri, mengelola penyuluhan secara mandiri, dapat secara efektif mengkomunikasikan informasi dan ide dengan berbagai bentuk media kepada masyarakat; B. CPMK Mahasiswa memahami dan menjelaskan tentang konsep cidera akut C. Dasar Teori 1. Cidera Akut Penanganan cidera akut meliputi mengidentifikasi, merawat, dan memulihkan cidera. Manajemen cidera yang tepat dapat mempercepat pemulihan dan dapat mengurangi kemungkinan masalah yang berkelanjutan. Manajemen cidera yang baik bertujuan untuk mencegah rasa sakit atau ketidaknyamanan pada korban dan meminimalkan konsekuensi dari cidera tersebut. Manfaat ini termasuk berkurangnya gejala akut, (nyeri, bengkak, dll) dan pemulihan lebih cepat. Manajemen cidera yang efektif sangat penting untuk anak-anak. Tubuh anak-anak masih tumbuh dan berkembang. Namun cidera yang
13 MODUL PRAKTIKUM tidak ditangani secara menyeluruh dapat menyebabkan masalah dikemudian hari. Namun, dengan perawatan dan pengawasan yang tepat, cidera pada anak-anak cenderung sembuh dengan cepat. Diagnosis dini dan akurat dari para medis professional seperti fraktur merupakan hal yang penting. Jika ada kegagalan untuk mendeteksi cider aini dapat menyebabkan cidera permanen. Jika terjadi cidera dapat dengan cepat melakukan TOTAPS (talk, observe, touch, active movement, passive movement, skill test). Lalu ada RICED (Rest, Ice, Compression, Elevation, Diagnosis) harus dilakukan untuk cidera jaringan lunak seperti sprain, strain, dll. D. Langkah Kerja ● Prosedur - T.O.T.A.P.S ➢ TALK : tanyakan kepada korban apa yang terjadi, dibagian mana yang sakit, sakit seperti apa yang dirasakan. ➢ OBSERVE : lihat pada area yang cidera apakah ada bengkak, kemerahan, atau lainnya lalu bandingkan dengan sisi yang sehat. ➢ TOUCH : sentuh area tersebut dengan lembut dan rasakan apakah ada rasa hangat atau sakit saat disentuh ➢ ACTIVE MOVEMENT : minta korban untuk menggerakkan bagian yang cidera tanpa bantuan apakah korban mampu atau tidak ➢ PASIVE MOVEMENT : jika korban dapat menggerakkan bagian yang sakit, coba gerakkan bagian sakit tersebut apakah pergerakkannya lebih baik ➢ SKILL TEST : jika prosedur sebelumnya korban tidak merasakan sakit maka korban dimohon berdiri dan bergerak
14 MODUL PRAKTIKUM sesuai kemampuan dan memang tidak ada rasa sakit. Jika teridentifikasi ada cidera maka korban harus segera dirawat. - R.I.C.E.D Cedera menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak (otot, tendon, ligamen, kapsul, fasia dan kulit). Ini menghasilkan penumpukan cairan abnormal, yang terlihat sebagai pembengkakan. Tekanan akibat pembengkakan dapat menghambat penyembuhan dan menyebabkan nyeri dan spasme otot. Cara yang efektif mengurangi jumlah perdarahan di lokasi cedera tersebut seperti ketegangan otot, keseleo ligamen, dan memar dengan prosedur R.I.C.E.D. ➢ REST : meminimalisir cidera semakin parah. Hindari Gerakan pada bagian yang mengalami cedera. ➢ ICE : es merupakan cara yang efektif untuk mengurangi nyeri dan dapat meminimalkan pembengakakan karena pendarahan. Gunakan es dengan cara membungkus es dengan handuk namun jangan mengompres es langsung di atas luka. ➢ COMPRESSION : membantu mengurangi pendarahan dan pembengkakan. Hal ini dapat mengurangi aliran darah dengan menerapkan tekanan ke pembuluh darah yang dekat dengan lokasi cidera. Pastikan bahwa penekanan ini tidak terlalu kencang. ➢ ELEVATION : posisikan bagian yang cidera lebih tinggi dari jantung sehingga dapat mengurangi pembengkakan. ➢ DIAGNOSIS : konsultasikan dengan tenaga medis professional, terutama saat cidera semakin parah. Jika nyeri atau bengkak belum mereda secara signifikan dalam waktu 48 jam, cari pengobatan dari professional.
15 MODUL PRAKTIKUM E. Penilaian dan Kriteria Penilaian 0 = Tidak melakukan 1 = Melakukan Sebagian besar tidak tepat 2 = Melakukan semua prosedur dengan benar/sebagian kecil salah (50%+1 prosedur benar) F. Referensi Abzug JM, Schwartz BS, Johnson AJ. Assessment of Splints Applied for Pediatric Fractures in an Emergency Department/Urgent Care Environment. J Pediatr Orthop. 2019 Feb;39(2):76–84. Powell RA, Weir AJ. EMS, Bone Immobilization. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2019. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK507778/ Anderson, M.K. and Hall, S.J. Sports Injury Management. Williams and Wilkins: Philadelphia, 1995. Gerrard, D. The young athlete: children and physical activity. Sports Medicine NZ, Dunedin 1999. Ross I. Splinting Techniques. 2017. Available at: emra.org. Available from: https://www.emra.org/globalassets/emra/publications/referencecards/emra_sportsmedicine_splint_guide.pdf No Aspek yang dinilai Nilai 0 1 2 1 Menjelaskan maksud dan tujuan pemeriksaan 2 Menyiapkan Instrumen untuk tes 3 Melakukan teknis pengukuran core sesuai prosedur 4 Mengisntruksikan klien dengan prosedur yang benar 5 Melakukan evaluasi dan dokumen Total skor Skor perolehan/Skor total x 100%
16 MODUL PRAKTIKUM
17 MODUL PRAKTIKUM MODUL 4 TOPIK: PERTOLONGAN SERANGAN ASMA A. CPL a. Mampu melakukan interview, prosedur asesmen, observasi, tes fisioterapi, behavioral dan skoring tes Fisioterapi yang sesuai dengan prinsip diagnosis Fisioterapi dipakai di lapangan kerja serta diperbolehkan sesuai kode etik fisioterapi Indonesia; b. Mampu menyampaikan gagasan secara tertulis, menampilkan presentasi secara efektif, dan menggunakan teknologi informasi secara bertanggungjawab; c. Mampu melakukan evaluasi diri, mengelola penyuluhan secara mandiri, dapat secara efektif mengkomunikasikan informasi dan ide dengan berbagai bentuk media kepada masyarakat; B. CPMK Mahasiswa memahami dan menjelaskan tentang konsep pertolongan serangan asma C. Dasar Teori 1. Pertolongan Serangan Asma Asma merupakan salah satu penyakit paru obstruksi kronis dimana terdapat kesusahan bernafas yang ditandai dengan kontraksi spastik otot polos bronkiolus yang menghambat bronkiolus secara parsial. Biasanya asma ditandai dengan gejala batuk, terdapat suara mengi, dada yang terasa sesak, dan sesak nafas, sedangkan faktor dari luar yang dapat memicu serangan asma yaitu faktor genetik, paparan zat yang bisa memicu reaksi alergi, olahraga, medikasi, udara dingin, serta emosi. Seseorang dapat terkena serangan asma yang ditandai dengan perburukan gejala. Serangan asma dapat berlangsung secara
18 MODUL PRAKTIKUM mendadak atau dalam beberapa hari. Kondisi ini ditandai dengan gejala yang lebih serius, seperti: a. Gejala batuk, mengi, dan sesak di dada yang makin sering dan memburuk b. Gangguan bicara, makan, atau tidur akibat sulit bernafas c. Bibir dan jari-jari yang terlihat membiru d. Butuh lebih sering menggunakan inhaler e. Denyut jantung meningkat f. Pusing, lelah, atau mengantuk g. Pingsan D. Langkah Kerja ● Prosedur Terdapat pertolongan pertama bagi yang sedang terkena asma yaitu: 1. Duduk dan ambil nafas pelan-pelan dengan stabil. Coba untuk tetap tenang 2. Semprotkan obat inhaler untuk asma setiap 30-60 detik, maksimal 10 semprotan 3. Menghubungi ambulans jika tidak memiliki inhaler atau jika tidak ada perbaikan setelah menyemprotkan inhaler sebanyak 10 semprotan 4. Jika ambulans belum tiba dalam waktu 15 menit, ulangi langkah nomor 2 Jika terdapat orang lain yang terkena asma, maka hal yang harus dilakukan yaitu: 1. Pertama, penolong dapat mencari tempat untuk mengevakuasi penderita asma. Upayakan tempat tersebut tidak banyak orang (ramai) atau bukan tempat yang penuh agar penderita mendapat ruang untuk bernafas.
19 MODUL PRAKTIKUM 2. Posisikan penderita dalam posisi duduk atau posisi istirahat dan tenangkan penderita. 3. Longgarkan baju penderita agar lebih mudah bernafas dan tidak tertekan 4. Gunakan obat inhaler untuk membantu memudahkan penderita bernafas 5. Untuk pertolongan lebih lanjut, penolong dapat mencari atau memanggil layanan medis terdekat. Cara penggunaan inhaler : 1. Pertama lepaskan tutupnya, kocok, lalu sambungkan inhaler ke spacer, dan pasangkan mouthpiece pada spacer 2. Lalu, tempelkan mouthpiece pada mulut penderita. Usahakan agar mulut penderita menutupi seluruh ujung mouthpiece 3. Ketika penderita mengambil nafas perlahan-lahan, tekan inhaler satu kali. Minta dia agar tetap mengambil nafas pelan-pelan sedalam mungkin, kemudian tahan nafas selama 10 detik 4. Semprotkan inhaler sebanyak empat kali, dengan jarak waktu sekitar 1 menit tiap kali semprotan 5. Setelah empat semprotan, tunggu hingga 4 menit. Jika masih sulit bernafas, berikan empat semprotan lagi dengan jarak waktu yang sama 6. Jika tetap tidak ada perubahan, berikan empat semprotan inhaler setiap 4 menit sekali, sampai ambulans tiba Jika serangan asmanya berat, semprotkan inhaler sebanyak 6-8 kali setiap 5 menit
20 MODUL PRAKTIKUM E. Penilaian dan Kriteria Penilaian 0 = Tidak melakukan 1 = Melakukan Sebagian besar tidak tepat 2 = Melakukan semua prosedur dengan benar/sebagian kecil salah (50%+1 prosedur benar) F. Referensi Abzug JM, Schwartz BS, Johnson AJ. Assessment of Splints Applied for Pediatric Fractures in an Emergency Department/Urgent Care Environment. J Pediatr Orthop. 2019 Feb;39(2):76–84. Powell RA, Weir AJ. EMS, Bone Immobilization. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2019. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK507778/ Anderson, M.K. and Hall, S.J. Sports Injury Management. Williams and Wilkins: Philadelphia, 1995. Gerrard, D. The young athlete: children and physical activity. Sports Medicine NZ, Dunedin 1999. Ross I. Splinting Techniques. 2017. Available at: emra.org. Available from: https://www.emra.org/globalassets/emra/publications/referencecards/emra_sportsmedicine_splint_guide.pdf No Aspek yang dinilai Nilai 0 1 2 1 Menjelaskan maksud dan tujuan pemeriksaan 2 Menyiapkan Instrumen untuk tes 3 Melakukan teknis pengukuran core sesuai prosedur 4 Mengisntruksikan klien dengan prosedur yang benar 5 Melakukan evaluasi dan dokumen Total skor Skor perolehan/Skor total x 100%
21 MODUL PRAKTIKUM
22 MODUL PRAKTIKUM MODUL 5 TOPIK: TEKNIK PEMBIDAIAN A. CPL a. Mampu melakukan interview, prosedur asesmen, observasi, tes fisioterapi, behavioral dan skoring tes Fisioterapi yang sesuai dengan prinsip diagnosis Fisioterapi dipakai di lapangan kerja serta diperbolehkan sesuai kode etik fisioterapi Indonesia; b. Mampu menyampaikan gagasan secara tertulis, menampilkan presentasi secara efektif, dan menggunakan teknologi informasi secara bertanggungjawab; c. Mampu melakukan evaluasi diri, mengelola penyuluhan secara mandiri, dapat secara efektif mengkomunikasikan informasi dan ide dengan berbagai bentuk media kepada masyarakat; B. CPMK Mahasiswa memahami dan menjelaskan tentang konsep teknik pembidaian C. Dasar Teori 1. Teknik Pembidaian Secara garis besar, aspek dari teknik pembidaian (splinting) meliputi bantalan yang tepat, penggunaan elastik perban yang sesuai, memposisikan area yang mau dibidai sesuai dengan posisi anatomis, dan menggunakan panjang bidai yang sesuai. Pada keadaan tertentu, akan diperlukan anestesi untuk mengurangi nyeri. Bidai yang digunakan dapat bervariatif sesuai dengan bagian tubuh serta variasi indikasi pemakaian bidai. Berbeda jenis cedera, maka berbeda pula teknik pembidaian yang direkomendasikan. Persiapan Pasien
23 MODUL PRAKTIKUM Persiapan pasien dalam melakukan pembidaian yang pertama adalah menempatkan pasien pada posisi yang terbaik agar seluruh bagian yang mengalami cedera dapat diakses dengan mudah, lalu melepaskan seluruh perhiasan dan pakaian pada bagian tubuh yang akan dibidai. Kemudian, lakukan pemeriksaan fisik dengan cermat pada bagian yang mau dilakukan pembidaian, termasuk denyut nadi pada distal area yang cedera, fungsi motorik dan sensorik. Perawatan luka pada area kulit maupun jaringan penyambung lainnya perlu dilakukan sebelum memasang bidai. Pada fraktur terbuka maka perlu dilakukan kontrol perdarahan terlebih dahulu serta mengembalikan fragmen tulang yang “menonjol” keluar lewat luka. Apabila perdarahan sudah dikontrol, maka baru dilakukan pembidaian. Pada keadaan dislokasi sendi, maka perlu dilakukan reduksi tertutup terlebih dahulu untuk merelokasi sendi. Kemudian pembidaian baru dilakukan untuk mempertahankan ekstremitas pada posisi anatomisnya. Apabila tidak ada tanda-tanda gangguan vaskular atau keadaan yang mengancam terjadinya kerusakan kulit, serta gangguan hemodinamik, maka perlu dilakukan rontgen sebelum diberikan terapi. Peralatan Petugas kesehatan yang akan melakukan pembidaian perlu menggunakan alat pelindung diri (APD). Untuk pembidaian itu sendiri, alat dan bahan tergantung dari jenis bidai yang digunakan. Untuk soft splint, maka bidai yang digunakan dapat berupa plaster atau perban elastik dengan klip plester, dapat juga berupa keluaran pabrik seperti posterior splint. Untuk bidai keras yang konvensional dapat menggunakan bahan kayu yang diberikan bantalan (padding) sehingga memberikan ruang pada keadaan edema akut. Panjang bidai harus melewati 2 sendi yang berhubungan dengan bagian yang akan dibidai. Di
24 MODUL PRAKTIKUM indonesia, bidai yang masih sering digunakan pada terutama kasus fraktur adalah bidai yang terbuat dari kayu yang dibalut dengan kapas dan perban (spalk), dengan panjang kayu melewati dua sendi bagian yang cedera dan jumlah minimal 2 spalk pada ekstremitas atas, 3 spalk untuk ekstremitas bawah. Untuk wrist splint biasanya tersedia dalam bentuk yang sudah jadi dari pabrik, terbuat dari fiberglass atau plaster dengan ketebalan yang berbeda-beda. Untuk traction splint, terdapat set yang dapat disesuaikan dengan panjang tungkai bawah pasien serta ankle strapnya. Selain itu, ada pula thermoplastic splints. Bidai ini bisa dibentuk sesuai keperluan dan cocok digunakan untuk berbagai jenis keperluan, termasuk sindrom terowongan Karpal dan rheumatoid arthritis. Thermoplastic splints dapat dibagi menjadi 3 jenis. Jenis yang tidak memerlukan panas dapat terbuat dari material seperti fiberglass atau karet silikon. Jenis temperatur rendah (60-77 C) dapat terbuat dari material seperti plastik dan karet, cocok digunakan untuk ekstremitas atas atau area yang tidak membutuhkan tenaga yang besar. Jenis temperatur tinggi (149-177 C) lebih cocok digunakan pada cedera spinal dan ekstremitas bawah yang membutuhkan tenaga lebih besar. Posisi Pasien Pada pembidaian, tidak ada posisi yang khusus, namun disesuaikan dengan bagian yang akan dilakukan pembidaian. Pada bagian ekstremitas bawah, posisi yang disarankan adalah supinasi karena mempermudah pemasangan bidai serta traksi apabila diperlukan. Prosedural Prosedur dalam melakukan pembidaian diawali dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) untuk melindungi diri dari
25 MODUL PRAKTIKUM cairan tubuh pasien, terutama pada pasien dengan fraktur terbuka. Apabila diputuskan untuk menggunakan analgesik, misalnya saat diputuskan untuk melakukan reduksi, maka dapat digunakan obat intravena (IV), seperti morfin. Prosedur selanjutnya tergantung dari jenis bidai yang digunakan. • Soft Splint Contoh penggunaan soft splint adalah pada pasien dengan carpal tunnel syndrome (CTS). Pada CTS digunakan wrist splint buatan pabrik yang direkatkan pada pergelangan tangan ke telapak tangan, dengan sendi metacarpophalangeal dibiarkan bebas (tidak ikut difiksasi) agar jari-jari tangan dapat tetap bergerak. Bagian yang lebih keras diletakkan di dorsal telapak tangan. • Bidai Keras (Hard Splint) Tahap pertama dalam melakukan pembidaian adalah menggunakan fabric stockinette dengan panjangnya disesuaikan dengan bagian yang akan dilakukan pembidaian (2 inci dari materi bidai) dan dipotong pada bagian ujung untuk jari-jari. Lakukan pemasangan bantalan pada olecranon (untuk lengan bawah) dan bagian menonjol lainnya untuk mencegah ulkus dekubitus dan membiarkan proses edema tetap berjalan. Tebal bantalan 2-3 lapis, sedangkan pada tonjolan tulang ditambah 2-3 lapis. Pemberian bantalan yang berlebihan harus dihindari pada bagian anterior sendi dan siku karena akan memberikan tekanan dan pembengkakan di area bawah bidai. Balutan pada bidai dilakukan dari distal ke proksimal dengan tujuan untuk menghindari kompresi berlebihan pada ekstremitas. Setelah dilakukan pembidaian, maka harus diperiksa kembali apakah imobilisasi sudah adekuat, kesesuaian dengan posisi anatomis, kekuatan bidai, dan kenyamanan pasien dengan bidai yang terpasang. Selain itu, perlu dilakukan pemeriksaan motorik, sensorik, denyut nadi,
26 MODUL PRAKTIKUM dan penilaian capillary refill time pada bagian distal ekstremitas. Pemeriksaan radiologi diperlukan untuk memeriksa kembali fragmen fraktur dan dislokasi yang terjadi. Prosedur pemasangan bidai yang terbuat dari kayu diawali dengan stabilisasi bagian yang akan dibidai kemudian memposisikan bidai pada bagian yang mengalami cedera setelah bagian tersebut distabilisasi. Bidai pada ekstremitas atas dipasang minimal pada 2 sisi, sedangkan pada ekstremitas bawah minimal 3 sisi. Kemudian, dibalut dengan kassa gulung atau perban dari distal ke proksimal. Setelah itu, dibuat simpul pada akhir balutan. Seluruh prosedur pembidaian selalu diakhiri dengan pemeriksaan kembali, motorik, sensorik serta pulsasi pada bagian distal. • Traction Splint Sebelum dilakukan bidai, maka tungkai yang cedera harus distabilisasi terlebih dahulu. Kemudian panjang bidai yang diperlukan diukur sesuai dengan panjang tungkai sebelahnya. Bidai diletakkan di bawah tungkai dengan bantalan ischial diletakkan pada tuberositas ischia, kemudian ikatkan ischial strap pada garis lipat paha serta ankle hitch pada pasien. Lakukan traksi perlahan pada tungkai yang cedera hingga panjang menyerupai tungkai yang sehat. Setelah diyakini traksi sudah optimal, maka velcro straps lainnya dapat diikatkan pada tungkai. Jangan lupa untuk menilai kembali fungsi neurovaskular setelah prosedur ini. • Air atau Vacuum Splint (Bidai Udara) Bidai udara dikenakan secara longitudinal sepanjang ekstremitas, kemudian diikat dengan pengikatnya (straps). Setelah itu, dilakukan ekstraksi udara lewat katup yang ada pada bidai sehingga selanjutnya bidai akan menyesuaikan bentuk ekstremitas yang mengalami cedera dan menjadi keras.
27 MODUL PRAKTIKUM • Anatomic Splint (Bidai Dengan Anggota Tubuh) Anatomic splint intinya adalah mengeratkan bagian tubuh yang cedera ke bagian tubuh yang normal, sehingga bagian tubuh yang tidak mengalami cedera dapat berfungsi sebagai “bidai” untuk bagian tubuh yang tidak mengalami cedera. Sebagai contoh adalah dengan mengikat tungkai yang fraktur dengan tungkai sebelahnya yang sehat. Follow Up Follow up setelah dilakukan pembidaian antara lain adalah memeriksa kembali apakah bidai yang digunakan sudah sesuai, apakah imobilisasi sudah melibatkan seluruh sendi, serta apakah posisi imobilisasi sudah sesuai. Selain itu, perlu diperiksa kembali ada atau tidaknya komplikasi prosedur pembidaian yang muncul. Lakukan pemeriksaan terkait tanda gangguan neurovaskular, seperti nyeri, pucat, dingin pada area perifer, dan parestesia. D. Penilaian dan Kriteria Penilaian 0 = Tidak melakukan 1 = Melakukan Sebagian besar tidak tepat 2 = Melakukan semua prosedur dengan benar/sebagian kecil salah (50%+1 prosedur benar) No Aspek yang dinilai Nilai 0 1 2 1 Menjelaskan maksud dan tujuan pemeriksaan 2 Menyiapkan Instrumen untuk tes 3 Melakukan teknis pengukuran core sesuai prosedur 4 Mengisntruksikan klien dengan prosedur yang benar 5 Melakukan evaluasi dan dokumen Total skor Skor perolehan/Skor total x 100%
28 MODUL PRAKTIKUM E. Referensi Abzug JM, Schwartz BS, Johnson AJ. Assessment of Splints Applied for Pediatric Fractures in an Emergency Department/Urgent Care Environment. J Pediatr Orthop. 2019 Feb;39(2):76–84. Powell RA, Weir AJ. EMS, Bone Immobilization. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2019. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK507778/ Anderson, M.K. and Hall, S.J. Sports Injury Management. Williams and Wilkins: Philadelphia, 1995. Gerrard, D. The young athlete: children and physical activity. Sports Medicine NZ, Dunedin 1999. Ross I. Splinting Techniques. 2017. Available at: emra.org. Available from: https://www.emra.org/globalassets/emra/publications/referencecards/emra_sportsmedicine_splint_guide.pdf
29 MODUL PRAKTIKUM