The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by setyansyarafynchia, 2022-11-15 07:12:43

Perasaan bukan pilhan

Perasaan

Keywords: Novel

Perasaan Bukan Pilihan

Karangan: Wasilatul Maghfiroh

Sederhananya sebuah sakit seperti ini, pernahkah kau ditinggalkan hanya karena kau tak
berbakat dalam menerjemahkan perasaan seseorang? Pernahkah kau harus berjalan mundur
secara teratur karena kebaikanku yang terlalu lugu untuk menganggap semuanya baik-baik saja?
Pernahkah kau dihadapkan dengan sebuah pilihan, namun ketika kau memilih salah satu di
antaranya maka kau kehilangan semuanya?

Aku perempuan yang katanya ditakdirkan memiliki kepekaan yang tinggi hanya bisa merutuki
kebodohan bahwa aku terlalu erat menggenggam hingga kamu enggan. Aku harus segera
berkemas agar potongan hati kita tak lagi tercecer di jalan. Kamu sudah lama berkemas
rupanya sampai-sampai kini engkau sudah siap dengan perjalanan hidup yang baru. Segera
pergilah! Bukankah kau tahu bahwa seluruh wanita di dunia memiliki kode yang aneh. Tak
mengapa aku melepasmu. Pergilah! Sebelum kau mengerti kode itu, karena aku takut kau lupa
bahwa aku salah satu yang mempunyai kode perempuan itu.

Akhirnya setelah sekian lama aku tumbuh dengan perasaan berdebar, kini aku harus
membunuhnya dengan tak sabar. Aku sempat berpikir tentang kejadian di mana kamu lebih
memilih berteman. Aku hanya bisa tesenyum kecut dengan alasan palsumu itu. Jika aku
mengingatnya aku tak bisa berkata apa-apa. Jangankan untuk berkata, “aku sakit hati” berkata,
“hai” saja ketika bertemu denganmu lidahku kelu semenjak kejadian saat itu. Aku ingin marah
ketika kamu memutuskan ikatan yang sudah susah payah aku jamah. Tapi sekali lagi rasa
takutmu mengalahkanmu kembali.

Kamu takut aku terlalu masuk dalam hidupmu, mungkin juga kau takut bahwa aku akan
menggantikan posisi sahabatmu. Sepenting itu ternyata arti sahabat bagimu. Entah aku harus
merasa beruntung pernah mencintai laki-laki bersolidaritas tinggi atau bahkan menyesal karena
pernah mencintai laki-laki bodoh yang tak tahu mana bedanya teman rasa pacar. Bahkan kamu
tak pernah memberiku kesempatan untuk mengatakan bahwa kau sama sekali tak perlu merasa
rugi dalam posisi ini, karena tak akan ada yang bersedia bersaing dengan kawan yang sudah
lama berada dalam bagian hidupmu. Aku yang harus mencoba mengubur kuat-kuat rasa tak
enak itu. Sekali lagi aku gagal membuatmu mengerti. Kamu hanya mengerti jika kamu
memutuskan semua ini maka tak akan ada yang tersakiti.

Keputusanmu awalnya membuatku jatuh terpuruk. Namun, lambat laun aku akan sadar bahwa
keputusanmu sangat bijak. Pernah suatu sore aku melihatmu tertawa lepas dengan sahabatmu
itu. Kamu selalu tersenyum ketika dia berceloteh riang kepadamu. Sesekali kamu mengelus
pipinya yang merah merona karena tersipu waktu kamu memandangnya dengan lekat. Kamu
yang terus menggenggam tangannya seakan kau takut ia terlepas. Ah, Ramadhan, maafkan aku
yang diam-diam masih memperhatikanmu. Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaanmu saat
jauh dariku. Samakah sepertiku? Kalau boleh jujur aku ingin bercerita kepadamu bahwa aku
cemburu. Ketika kita masih bersama waktu aku bercerita kamu selalu saja menimpali dengan
cerita baru tentang sahabatmu dengan senyum yang sangat merekah. Aku sekuat hati mencoba
tersenyum setulus mungkin agar kau tersipu, namun sering kali gagal. Justru kamu yang sering
membuatku tersipu. Aku sadar aku memang telah merebut banyak hal tentang kebahagiaanmu.
Aku terlalu menutup mata jika kamu hanya menganggapku pilihan ketika sahabatmu sedang
jauh. Wajah tenangmu sama sekali tak menggambarkan rasa lelah akibat kau menahan rindu.
Aku lupa bahwa kau bukan Dilan yang mengatakan rindu itu berat. Berbeda sekali denganku.
Lihatlah! Aku harus memakai bedak tebal di sekitar daerah mataku. Aku harus belajar memakai
lipstik yang sering digunakan teman-temanku agar aku juga dapat terlihat baik-baik saja dilepas
olehmu. Aku harus belajar menutup wajah polosku karena aku masih suka pucat ketika bertatap
denganmu.

Bukan perkara siapa yang terlalu jatuh cinta dalam keadaan ini. Bahkan ketika kau membaca
tulisan ini kau juga mengerti bahwa perjuanganku untuk memiliki ikatan denganmu tidaklah
mudah. Aku diam-diam mengagumimu semenjak kita masih berada dalam masa putih abu-abu.
Kamu yang sangat menawan ketika siaga dalam menangani teman-teman yang sakit, kamu
yang berwibawa ketika manjadi pemimpin komunitas kesehatan. Entah takdir ini baik atau
justru hanya ingin bermain-main, aku yang selepas SMA ingin menepis rasa kagumku yang tak
kunjung hilang justru kita dipertemukan di perguruan tinggi yang sama. Saat itu aku sudah
memperjelas perasaan abu-abuku. Sebisa mungkin aku mengubah diri menjadi lebih baik,
karena orang baik sepertimu pasti akan mendapatkan orang baik pula.

Aku diam-diam terus mengamatimu dari kejauhan. Aku tak berani bertegur sapa denganmu.
Aku hanya bisa diam sembari mempelajari keadaan. Aku tak bisa berbuat seperti kebanyakan
yang dilakukan orang-orang ketika jatuh cinta. Merayu? Aku takut bukannya kau tersipu malah
kamu terganggu. Menyatakan cinta sesungguhnya? Aku perempuan yang kodratnya hanya
untuk bersabar. Aku hanya dapat menunggu hingga jarak dan waktu bersedia mendekatkan.
Hingga waktu itu pun tiba saat kamu berada dalam satu komunitas kemanusiaan denganku.
Seiring berjalan waktu kita dekat lalu entah bagaimana caranya kamu tiba-tiba mengatakan
bahwa kau menyukaiku dan kita memutuskan untuk membuat ikatan yang pada akhirnya

menjerat kita terlebih hatimu.

“Bagaimana kalau kita berteman saja, Na?” ucapnya dengan kepala tertunduk.

“Berteman bagaimana maksudmu?”

“Kita ubah ikatan kita menjadi pertemanan saja agar kita lebih bebas dan tidak ada yang
tersakiti satu sama lain.”

“Kita bebas? Atau kamu yang ingin bebas sendiri?”

“Aku tak mau membuat keputusan yang salah lagi, aku sadar bahwa aku dibutakan oleh cinta
sampai-sampai sahabatku merasa aku berubah. Aku tak mau itu terjadi.”

“Cinta buta? Kamu tidak buta tapi aku yang buta, Ram. Benar ini keputusan yang salah jadi
pergilah, Ram! Jangan membuat sahabatmu kehilangan sama sepertiku juga.” ucapku dengan
sedatar mungkin agar aku tak terlihat lemah.

“Kamu pasti mendapatkan yang lebih baik daripada aku, Na. Maaf sudah membuatmu kecewa
dan terima kasih sudah mengajariku tentang perbedaan rasa sayang sebagai sahabat atau
bukan.”

Aku akan mendapatkan yang lebih baik, Ram. Sekarang aku mengerti mengapa ketika seorang
perempuan dan laki-laki ketika bersahabat banyak yang kalah oleh perasaan cinta, yang kalah
ialah yang jatuh cinta terlebih dahulu, karena dalam persahabatan perasaan nyaman, cinta, dan
cemburu terlihat abu-abu. Tak akan ada yang bisa menyalahkan dalam sebuah perasaan
cemburu kepada sahabat. Semua perasaan mereka yang lebih dari sekedar sahabat ditutupi
oleh alibi “status persahabatan”.

Rasanya memang menyakitkan ketika kita dilepaskan dan sudah terbuang dari pilihan. Namun,

bagaimana sakitnya hidup harus tetap berjalan bukan? Aku terlalu sibuk memperbaiki diri di
depan matamu. Hingga aku lupa bahwa aku juga memperburuk diri dengan keadaan rapuh
seperti ini di depan matamu. Aku butuh waktu untuk melupakan hingga aku harus berdamai
dengan ikatan yang benar-benar terputus. Tak ada yang salah memang ketika seseorang yang
pernah berdebar pada perasaan kemudian harus terpisah karena suatu alasan harus bersikap
layaknya orang tak kenal. Bukan karena masih cinta atau saling menyalahkan. Namun, memang
di sudut hati yang paling absurd bernama kenangan terkadang seakan menjadi radius tersendiri
untuk membentengi diri kita dengan pencipta kenangan.

Sebenarnya terlepas darimu bukanlah perkara yang mudah. Aku harus mengubur dalam-dalam.
Menangis diam-diam. Aku tahu rasanya mendapatkan sesuatu agar ikhlas melepaskan untuk
orang lain. Kamu memang benar kita adalah sebuah kesalahan. Aku takkan mengingat rasa
sakitnya. Percuma, jodoh sudah ditentukan dalam hati masing-masing orang. Seberapa lama
kamu tertawa dengan orang lain, aku akan menunggu tawanya reda. Jika bukan, sederhana kita
hanya perlu mengingat jika kita mempunyai sekelumit masa lalu, saling merasakan dalam diam,
kamu diam dengan perasaan lepasmu dan aku diam dengan perasaan rumitku. Kita pernah
menjalankan sekelumit waktu di mana kamu memutuskan untuk mengatakan bahwa sudah
waktunya kita bersekat. Kita sudah terlalu lama jauh dan terdiam. Suatu saat nanti dalam kisah
ini kamu harus tahu bahwa terkadang laki-laki harus lebih merasa karena pada hal terentu
wanita tidak bisa bersuara.

http://penulis.ukm.um.ac.id/cerpen-perasaan-bukan-pilihan/


Click to View FlipBook Version