The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Si kancil yang menolong seekor beruang

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Amelia Putriyana, 2023-01-16 04:12:23

Kancil dan beruang

Si kancil yang menolong seekor beruang

Keywords: Penolong

Dongeng Kancil dan Beruang Alkisah, di sebuah hutan, pada awalnya kehidupan berjalan dengan tenteram, damai, dan semua kebutuhan hewan terpenuhi. Namun suatu hari, hutan tersebut kedatangan tamu tak diundang yang serta merta membuat penghuni hutan merasa ketakutan. Tak ada satupun binatang di hutan yang berani keluar dari sarangnya meskipun mereka merasa lapar. Jauh dari hutan, hiduplah si kancil yang sudah lama tidak mendatangi hutan tersebut. Tiba-tiba terbesit keinginannya untuk mengunjungi hutan dan bertemu dengan teman-temannya. Tanpa mengetahui situasi yang tengah terjadi, si kancil terus melangkah memasuki hutan. Setelah berjalan cukup lama, si kancil menyadari suasana hutan yang mendadak berubah sepi. Ia pun merasa curiga dan penasaran. “Mengapa hutan ini sunyi sekali?” gumam si kancil. Tak lama, si kancil mendengar seruan dari Burung Balam yang gerakannya cepat dan mengisyaratkan untuk waspada. “Hei kancil! Segeralah bersembunyi sebelum kau dimangsanya! Karena hutan ini sudah tidak aman lagi! Anak-anak kami banyak yang mati dibuatnya.” teriak Burung Balam. Kancil bertanya-tanya, siapa dan dimana hewan itu tinggal. “Aku tidak tahu dimana ia tinggal. Tapi yang pasti, ia akan keluar tiba-tiba dan memangsa setiap hewan yang berjumpa dengannya.” ujar Burung Balam yang langsung membuat ciut nyali si kancil. Tidak hanya Burung Balam, hewan-hewan lain yang kebetulan mendengar percakapan mereka juga membenarkan peringatan tersebut. Kancil lalu berusaha lari untuk mencari tempat persembunyian. Namun sebelum jauh berlari, ternyata binatang yang teman-temannya bicarakan tadi ternyata telah berdiri di hadapannya. Badannya besar dan cakarnya yang tajam membuat hewan-hewan kecil takut padanya.


Kancil berusaha melarikan diri. Namun gerakan hewan itu ternyata lebih cepat dari si kancil. Kancil yang terus berlari tidak sadar menabrak hewan itu dan membuatnya jatuh ke dalam lumpur. Walaupun dalam kondisi terancam, kancil tidak mau menyerah. Si kancil yang cerdik lalu mendapatkan ide untuk bisa terlepas dari hewan menyeramkan itu. “Stop! Jangan kau makan mangsamu dalam keadaan seperti ini. Nanti rasanya tidak akan nikmat seperti yang kau bayangkan.” ucap si kancil. “Kalau begitu, aku harus bagaimana?” tanya hewan buas itu. “Di sekitar sini, ada sungai. Izinkan aku membersihkan diri. Dan setelah itu, kau boleh menyantapku.” jawab si kancil memohon. Hewan buas itu setuju dan mengikuti si kancil dari belakang saat berjalan menuju sungai. Selama perjalanan, si kancil menyempatkan diri untuk bertanya. “Apakah kau hewan yang bernama Beruang?” “Iya! Aku beruang! Aku adalah raja hutan. Semua hewan takut kepadaku.” ucap beruang dengan sombongnya. “Jika kau beruang, tentulah kau suka madu ketimbang memakanku yang kelezatannya masih diragukan.” si kancil berusaha mencoba mengelabui beruang. “Ya! Jelas aku lebih suka madu. Tapi di hutan ini, aku belum menemukan madu itu.” ungkap beruang. “Aku tahu tempat yang menyimpan madu lezat. Jika kau berkenan, aku akan mengantarmu kesana setelah aku membersihkan tubuhku dulu.” kata si kancil.


Beruang yang tidak menyadari siasat si kancil spontan setuju. Tidak ada sedikitpun pikiran curiga di benak beruang. Sesampainya di sungai, kancil langsung membersihkan tubuhnya. Lantas si kancil dan beruang melanjutkan perjalanan menuju gua yang ada madunya. Begitu sampai di mulut gua, si kancil berkata “Gua ini gelap. Tapi di dasar gua, ada madu yang sangat lezat.” Kancil menjelaskan sambil menunjuk ke arah mulut gua. “Tidak apa. Kita akan kesana” ucap beruang dengan semangat. Setelah berjalan ke dalam gua tersebut, kancil memberitahu beruang “Hei beruang. Dengarkanlah suara lebah itu. Kita sudah sangat dekat dengan madunya. Tapi kita kesulitan melihat dimana letak madunya. Jadi tunggulah disini. Aku akan keluar mengambil api dan akan segera kembali.” ucap si kancil. Beruang membalasnya dengan anggukan. Kancil segera keluar dari gua untuk mengambil api. Namun di luar dugaan beruang, si kancil yang tadinya berjanji untuk membawa api ke dalam gua, malah menyulutkan api di mulut gua. Akibatnya mulut gua tertutup seketika dan beruang terjebak di dalam gua. Tidak lama setelah itu, tiba-tiba terdengar suara. “Terima kasih kancil. Kau telah menolongku dengan memberi makanan untukku. Sejujurnya aku sudah sangat kelaparan karena sudah lama sekali aku tidak makan.” ucap buaya yang telah memangsa beruang. “Sama-sama buaya. Aku memberikannya padamu karena dulu kau pernah membantuku menyeberang sungai.” sahut si kancil.


Ternyata sesungguhnya gua yang dimaksud si kancil tadi adalah mulut buaya yang sudah lama menunggu mangsa. Sedangkan suara lebah yang dimaksud si kancil adalah laron yang sedang bermain-main di mulut buaya. Kini beruang telah mati di dalam mulut buaya. Hutan pun kembali seperti sedia kala, tenteram, damai dan aman, Tidak ada lagi hewan yang hidup dalam ketakutan. Bunda dapat mengajarkan kepada si kecil untuk menggunakan kecerdasannya ketika dihadapkan dengan permasalahan. Selain itu janganlah mudah menyerah dan putus asa, karena setiap permasalahan pasti ada solusinya. PDongeng Kancil dan Beruang Alkisah, di sebuah hutan, pada awalnya kehidupan berjalan dengan tenteram, damai, dan semua kebutuhan hewan terpenuhi. Namun suatu hari, hutan tersebut kedatangan tamu tak diundang yang serta merta membuat penghuni hutan merasa ketakutan. Tak ada satupun binatang di hutan yang berani keluar dari sarangnya meskipun mereka merasa lapar. Jauh dari hutan, hiduplah si kancil yang sudah lama tidak mendatangi hutan tersebut. Tiba-tiba terbesit keinginannya untuk mengunjungi hutan dan bertemu dengan teman-temannya. Tanpa mengetahui situasi yang tengah terjadi, si kancil terus melangkah memasuki hutan. Setelah berjalan cukup lama, si kancil menyadari suasana hutan yang mendadak berubah sepi. Ia pun merasa curiga dan penasaran. “Mengapa hutan ini sunyi sekali?” gumam si kancil. Tak lama, si kancil mendengar seruan dari Burung Balam yang gerakannya cepat dan mengisyaratkan untuk waspada. “Hei kancil! Segeralah bersembunyi sebelum kau dimangsanya! Karena hutan ini sudah tidak aman lagi! Anak-anak kami banyak yang mati dibuatnya.” teriak Burung Balam. Kancil bertanya-tanya, siapa dan dimana hewan itu tinggal.


“Aku tidak tahu dimana ia tinggal. Tapi yang pasti, ia akan keluar tiba-tiba dan memangsa setiap hewan yang berjumpa dengannya.” ujar Burung Balam yang langsung membuat ciut nyali si kancil. Tidak hanya Burung Balam, hewan-hewan lain yang kebetulan mendengar percakapan mereka juga membenarkan peringatan tersebut. Kancil lalu berusaha lari untuk mencari tempat persembunyian. Namun sebelum jauh berlari, ternyata binatang yang teman-temannya bicarakan tadi ternyata telah berdiri di hadapannya. Badannya besar dan cakarnya yang tajam membuat hewan-hewan kecil takut padanya. Kancil berusaha melarikan diri. Namun gerakan hewan itu ternyata lebih cepat dari si kancil. Kancil yang terus berlari tidak sadar menabrak hewan itu dan membuatnya jatuh ke dalam lumpur. Walaupun dalam kondisi terancam, kancil tidak mau menyerah. Si kancil yang cerdik lalu mendapatkan ide untuk bisa terlepas dari hewan menyeramkan itu. “Stop! Jangan kau makan mangsamu dalam keadaan seperti ini. Nanti rasanya tidak akan nikmat seperti yang kau bayangkan.” ucap si kancil. “Kalau begitu, aku harus bagaimana?” tanya hewan buas itu. “Di sekitar sini, ada sungai. Izinkan aku membersihkan diri. Dan setelah itu, kau boleh menyantapku.” jawab si kancil memohon. Hewan buas itu setuju dan mengikuti si kancil dari belakang saat berjalan menuju sungai. Selama perjalanan, si kancil menyempatkan diri untuk bertanya. “Apakah kau hewan yang bernama Beruang?”


“Iya! Aku beruang! Aku adalah raja hutan. Semua hewan takut kepadaku.” ucap beruang dengan sombongnya. “Jika kau beruang, tentulah kau suka madu ketimbang memakanku yang kelezatannya masih diragukan.” si kancil berusaha mencoba mengelabui beruang. “Ya! Jelas aku lebih suka madu. Apakah kamu penakut, Kancil?” tanya suara itu lagi. Kancil berpikir apakah dia seorang penakut? Ah, tidak. Ayahnya selalu berpesan agar menjadi kuat dan pemberani. Tapi sesuatu yang bergerak dari balik rerimbunan itu muncul dan membuatnya hampir pingsan. Ternyata seekor beruang madu sedang menggosk-gosokkan punggungnya di sebuah batang pohon. “Aduh, durinya tidak mau terlepas.” Beruang itu mengaduh. Kancil merasa aneh dengan sikap hewan bertubuh besar ini. Dia tampak menahan sakit. Lalu beruang itu mendekatinya. Kancil melompat ingin melarikan diri. Namun diurungkan niatnya ketika mendengar beruang memanggilnya. “Kancil jangan takut. Aku ingin kau menolongku, mencabut duri di punggungku ini!” Dengan agak ragu Kancil mencoba mendekati beruang yang membungkuk di depannya. Tampak duri menancap di sana. Dijulurkan kaki depannya untuk menarik duri di punggung beruang itu. Agak sulit mengeluarkan duri itu karena menancap dengan kuat. Didorongnya sekuat tenaga duri yang sudah mulai terangkat. Terus dan terus didorongnya hingga akhirnya terlepas dan jatuh. Sejak saat itu Beruang dan Kancil bersahabat. Dengan diantarkan oleh Beruang, Kancil berhasil menemui pamannya. Paman Kancil bahagia dan mengucapkan terima kasih pa Man. Kancil segera bersiul memanggil angin. Setelah beberapa saat angin berhembus dan menggoyanggoyakan pohon bambu. Bambu berderit, menjepit ujung lidah beruang. Beruang menjerit kesakitan untunglah ia segera mencabut lidahnya.


Sadarlah Beruang Cokelat, bahwa Kancil sengaja menipunya. Tapi ia tidak marah, sebab derit suara bambu itu terdengar merdu. Begitu merdunya derit suara bambu itu sehingga Beruang Cokelat terlelap tidur di bawah pohon bambu itu. Kancil berusaha melarikan diri. Namun gerakan hewan itu ternyata lebih cepat dari si kancil. Kancil yang terus berlari tidak sadar menabrak hewan itu dan membuatnya jatuh ke dalam lumpur. Walaupun dalam kondisi terancam, kancil tidak mau menyerah. Si kancil yang cerdik lalu mendapatkan ide untuk bisa terlepas dari hewan menyeramkan itu. “Stop! Jangan kau makan mangsamu dalam keadaan seperti ini. Nanti rasanya tidak akan nikmat seperti yang kau bayangkan.” ucap si kancil. “Kalau begitu, aku harus bagaimana?” tanya hewan buas itu. “Di sekitar sini, ada sungai. Izinkan aku membersihkan diri. Dan setelah itu, kau boleh menyantapku.” jawab si kancil memohon. Hewan buas itu setuju dan mengikuti si kancil dari belakang saat berjalan menuju sungai. Selama perjalanan, si kancil menyempatkan diri untuk bertanya. “Apakah kau hewan yang bernama Beruang?” “Iya! Aku beruang! Aku adalah raja hutan. Semua hewan takut kepadaku.” ucap beruang dengan sombongnya. “Jika kau beruang, tentulah kau suka madu ketimbang memakanku yang kelezatannya masih diragukan.” si kancil berusaha mencoba mengelabui beruang.


“Ya! Jelas aku lebih suka madu. Tapi di hutan ini, aku belum menemukan madu itu.” ungkap beruang. “Aku tahu tempat yang menyimpan madu lezat. Jika kau berkenan, aku akan mengantarmu kesana setelah aku membersihkan tubuhku dulu.” kata si kancil. Beruang yang tidak menyadari siasat si kancil spontan setuju. Tidak ada sedikitpun pikiran curiga di benak beruang. Sesampainya di sungai, kancil langsung membersihkan tubuhnya. Lantas si kancil dan beruang melanjutkan perjalanan menuju gua yang ada madunya. Begitu sampai di mulut gua, si kancil berkata “Gua ini gelap. Tapi di dasar gua, ada madu yang sangat lezat. Setelah berjalan ke dalam gua tersebut, kancil memberitahu beruang “Hei beruang. Dengarkanlah suara lebah itu. Kita sudah sangat dekat dengan madunya. Tapi kita kesulitan melihat dimana letak madunya. Jadi tunggulah disini. Aku akan keluar mengambil api dan akan segera kembali.” ucap si kancil. Beruang membalasnya dengan anggukan. Kancil segera keluar dari gua untuk mengambil api. Namun di luar dugaan beruang, si kancil yang tadinya berjanji untuk membawa api ke dalam gua, malah menyulutkan api di mulut gua. Mendengar derit bambu, timbul sifat jailnya. Ia punya rencana untuk temannya si Beruang. Kancil kesana kemari mencari Beruang, akhirnya ia temukan juga si Beruang yang sedang mencari ikan di sebuah telaga. "Cil! Ayo turun, ikannya banyak ini, airnya juga segar lho" "Beruang aku punya kabar untukmu .." kata Kancil. "Kau kan suka musik? Ayo ikut aku, kutunjukan musik alami yang sangat merdu sekali. "Wah, benarkah, Cil? Ayo kita berangkat!" berjalanlah mereka menuju rumpunan pohon bambu. Dari kejauhan Beruang melihat kancil seolah-olah sedang mempermainkan seruling dari bambu.


"Cil, daripada aku cuma melihat saja , ajari aku untuk memainkan seruling itu, "Kata Beruang sambil mendekati Kancil. Boleh, Kancil berpindah tempat mempersilahkan Beruang maju, julurkan lidahmu, tempelkan ke celah seruling bambu yang panjang ini, "Kata Kancil. Beruang tanpa berpikir panjang ia langsung menuruti ucapan Kancil. Kancil segera bersiul memanggil angin. Tak lama kemudian angin bertiup sepoi-sepoi dengan datangnya angin maka pohon bambu bergoyang-goyang. Bambu berderit saling bergesekan, menjepit ujung lidah Beruang. Mengaduh kesakitan Beruang langsung untuk segera mencabut lidahnya. Si Beruang, sedih, Kancil sengaja membohonginya. Tapi ia tidak marah, sebab suara bambu itu memang terdengar merdu saat tertiup angin. Begitu merdunya derit suara bambu itu sehingga membuat Beruang tertidur lelap. Beruang coklat ingin bisa bernyanyi atau bersiul tapi suaranya besar dan jelek. Suatu hari ia bermain si ladang dekat perkampungan. Ia kagum melihat anak gembala meniup suling dengan suara yang sangat merdu sekali. Bagaimana caranya ya... agar aku bisa bersuara merdu " tanyanya dalam hati. Beruang kembali masuk hutan dan menceritakan keinginannya kepada Kancil.


Click to View FlipBook Version