MAKALAH IKHTIOLOGI
DISTRIBUSI IKAN
Disusun Oleh:
Kelompok 5
1. Ade Kodir (4443210038)
2. Andhika Dwi Karunia (4443210084)
3. Anissa Salsabila Febriyanti (4443200067)
4. Firman Mutiara Saputra (4443210056)
5. Muhammad Wildan (4443210026)
6. Saidah Asbet Munajati (44432100040)
7. Syahra Nur Adjiyati (44432100097)
PROGRAM STUDI ILMU PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2022
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Tuhan semesta alam yang telah memberikan rahmat dan
karunianya sehingga dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Distribusi Ikan”
dengan mudah dan selesai tepat waktu. Tanpa rahmat dan karunianya, kami tidak
akan mampu menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah ini disusun untuk
memenuhi tugas pada mata kuliah Ikhtiologi. Kami berharap makalah ini tentang
“Distribusi Ikan” dapat menjadi referensi bagi para pembaca dalam mempelajari
materi Ikhtiologi.
Terima kasih kami ucapkan kepada Ibu Desy Aryani S.Si., M.Si selaku dosen
mata kuliah Ikhtiologi. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada semua
pihak yang membantu dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa masih banyak kesalahan dan kekurangan dalam
penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, kami terbuka terhadap kritik dan saran
bagi kesempurnaan makalah ini agar dapat lebih baik. Jika terdapat banyak
kekurangan pada makalah ini, baik terkait penulisan maupun isi, kami memohon
maaf. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Serang, 26 Mei 2022
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 1
1.3 Tujuan Penulisan 2
1.4 Manfaat Penulisan 2
BAB II PEMBAHASAN 3
2.1 Distribusi Ikan 3
2.2 Tipe-Tipe Distribusi Ikan 3
2.3 Daerah Distribusi Ikan di Indonesia 8
2.4 Keanekaragaman Jenis-Jenis Ikan di Kawasan Perairan Ekosistem
Mangrove Kampung Laut, Cilacap…… … .. . 3
2.5 Pemetaan sebaran ikan tongkol (Euthynnus sp.) dengan data klorofil-α citra
modis pada alat tangkap payang (Danish-seine) di perairan Teluk Palabuhanratu,
Sukabumi, Jawa Barat
BAB III PENUTUP 10
3.1 Kesimpulan 10
3.2 Saran 11
DAFTAR PUSTAKA 12
ii
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Secara teori, distribusi ikan dari suatu daerah tertentu akan menyebar ke
seluruh penjuru dunia. Hal ini dikarenakan suatu lautan terhubung antara satu
dengan yang lainnya, sehingga suatu jenis ikan dapat ditemukan di setiap perairan.
Apabila ikan tidak mencapai tujuan disebabkan oleh beberapa hambatan ataupun
rintangan. Ikan yang sampai pada tempat tujuannya dapat beradaptasi ataupun tidak
mampu melakukan adaptasi.
Ikan hampir dapat ditemukan di semua genangan air yang berukuran besar
maupun yang berukuran kecil, baik air tawar, air laut, dan air payau. Ikan hidup di
kedalaman yang bervariasi, mulai dari permukaan hingga dasar laut. Ikan dapat
hidup di perairan dengan kemampuan hidupnya yang berbeda-beda. Ada beberapa
spesies ikan yang dibudidayakan untuk dipelihara ataupun dipamerkan dalam
akuarium (Odum, 1993).
Untuk mengetahui kondisi kualitas perairan dilakukan pengukuran beberapa
parameter kualitas air (Anonim 1995) meliputi parameter físik (suhu, kedalaman,
kecerahan, dan turbiditas) dan parameter kimiawi (pH, oksigen terlarut, total N,
total P, dan NH4). Distribusi biota perairan bergantung pada beberapa faktor biotik
maupun abiotik. Pola distribusi yang khas suatu biota dipengaruhi habitat di mana
biota tersebut berada. Faktor penentu distribusi ikan yaitu tipe habitat, stratifikasi
suhu, oksigen terlarut, serta ketersediaan makanan alami (Lagler et al., 1977 dan
Krebs 1985).
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan distribusi ikan?
2. Tipe-tipe apa saja yang terdapat pada distribusi ikan?
3. Dimana saja daerah distribusi ikan di Indonesia?
1
1.3 Tujuan Penulisan
1. Mengetahui pengertian dari distribusi ikan.
2. Mengidentifikasi tipe-tipe yang terdapat pada distribusi ikan.
3. Mengidentifikasi daerah distribusi ikan di Indonesia.
1.4 Manfaat Penulisan
1. Sebagai bahan pembelajaran mata kuliah Ikhtiologi materi distribusi ikan.
2. Sebagai bahan wawasan dan sumber pengetahuan bagi para pembaca.
3. Sebagai bahan evaluasi dan tolak ukur dalam pemahaman materi distribusi
ikan.
2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Distribusi Ikan
Distribusi ikan adalah suatu proses atau peristiwa penyebaran atau
perpindahan organisme (ikan) pada suatu tempat ke tempat lain dan waktu tertentu.
Terjadinya proses distribusi ikan ada beberapa hal yang menyebabkannya, ada yang
karena terbawa oleh arus, terbawa angin, perubahan pada permukaan bumi, karena
hanyutan benua, ataupun karena dibawa oleh manusia. Faktor terjadinya distribusi
ikan sendiri digolongkan menjadi dua yaitu tidak disengaja atau alami dan disengaja
atau buatan.
Distribusi hasil perikanan juga dapat dimaknai sebagai rangkaian kegiatan
penyaluran hasil perikanan dari suatu tempat ke tempat lain sejak produksi,
pengolahan, sampai pemasaran. Hal yang paling prinsip dalam proses distribusi
hasil perikanan adalah mempertahankan kondisi alat, wadah, dan saranayang
digunakan dalam proses distribusi agar produk yang didistribusikan sampai ke
tempat tujuan dengan tetap mempertahankan mutu dan kualitasnya. Oleh karena
itu, distributor atau penyalur hasil perikanan harus memahami persyaratan yang
harus dipenuhi dalam proses distribusi hasil perikanan.
2.2 Tipe-Tipe Distribusi Ikan
1. Distribusi Geologis Ikan
Distribusi geologis ikan adalah distribusi suatu spesies organisme yang
berhubungan dengan waktu atau zaman dan periode umur spesies organisme
tersebut terdapat. Kehadiran ikan di permukaan bumi diperkirakan sekitar 400 juta
tahun lalu, yaitu ikan Ostracoderms yang diperkirakan hidup di zaman palaezoik
pada periode ordovician. Sedangkan spesies ikan yang ada saat ini terdapat sekitar
50 juta tahun yang lalu hingga sekarang.
Ikan Ostracoderms yang ditemukan pertama kali pada zaman palaezoik,
periode ordovician, maupun binatang lainnya tersebar, dan terdapat hampir di
3
seluruh dunia. Secara teoritis, bahwa ikan ini dan binatang lainnya berasal dari
suatu daerah tertentu pada salah satu tempat di belahan bumi. Di daerah tersebut,
ikan-ikan tersebar ke seluruh bagian bumi, baik secara aktif maupun pasif.
Sehubungan dengan ini, Jordan Vide Axelord dan Schultz (1955) mengemukakan
hukum-hukum tentang penyebaran (distribusi ikan yaitu setiap spesies akan
dijumpai di seluruh perairan permukaan bumi), terkecuali hal-hal sebagai berikut:
Individu spesies tersebut tidak berhasil mencapai daerah yang menjadi
tujuannya, dikarenakan dalam tujuan migrasi aktif terhambat oleh adanya
barrier.
Individu jika seandainya berhasil mencapai daerah yang menjadi tujuan
migrasinya, tetapi tidak lagi mampu beradaptasi dengan lingkungan baru.
Jika seandainya spesies tersebut mampu beradaptasi sementara waktu dengan
lingkungannya, tetapi dengan adanya proses evolusi maka tipe asalnya
mengalami modifikasi dan menyebabkan terbentuknya tipe yang berbeda.
Teori tentang kemungkinan terjadinya distribusi ikan menurut Axelrod dan
Schults (1955) dapat dibagi sebagai berikut:
Secara pasif ikan-ikan pelagis dibawa oleh arus laut dari suatu perairan tertentu
ke perairan lainnya.
Secara pasif ikan-ikan dibawa oleh manusia dari suatu perairan tertentu ke
perairan yang lainnya.
Angin dan badai dapat pula memindahkan ikan-ikan dari suatu perairan ke
perairan yang lainnya.
Perubahan yang terjadi pada permukaan bumi, seperti adanya tanah-tanah
daratan yang tenggelam dan timbul menjadi daerah baru. Misalnya, Terusan
Panama, Terusan Suez, dan penghubung antara Alaska dan Siberia.
Adanya perubahan aliran air, arus sungai, dan lain sebagainya. Misalnya Great
Lakes di Amerika pada zaman es mendapat aliran air dari sungai Mississipi,
sedangkan saat ini tidak mendapat aliran dari sungai tersebut dan mendapatkan
aliran dari Chocago Sewage Canal.
Disebabkan kemungkinan lain, seperti terjadinya hanyutan benua akibat adanya
gaya-gaya yang berasal dari dalam lapisan bumi.
4
Spesies ikan dapat musnah dari tempat perairan tertentu, hal ini berarti secara
teoritis ada beberapa kemungkinan, yaitu sebagai berikut:
Kemusnahan yang disebabkan oleh kejadian evolusi lebih lanjut berlangsung,
sehingga spesimen ikan-ikan mengalami modifikasi menjadi bentuk yang lebih
maju tingkatan evolusinya.
Spesimen suatu spesies tidak dapat mengadaptasikan dirinya dengan keadaan
lingkungan, karena lingkungan mengalami perubahan yang jauh lebih cepat
daripada kemampuan beradaptasi.
Kemusnahan yang disebabkan berbagai persaingan yang dialami oleh spesimen
dalam lingkungan hidupnya.
Spesialiasi yang sangat ekstrem dari suatu spesies, dimana hanya dapat hidup
pada lingkungan yang sangat terbatas.
Populasi suatu spesies memang sudah benar-benar tidak mempunyai
kemampuan untuk dapat hidup terus menerus.
Dari kelima teori tersebut dapat dikatakan bahwa kemusnahan (kepunahan)
suatu spesies pada suatu tempat atau perairan tertentu sebagian besar disebabkan
oleh ketidakmampuan organisme beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi di
dalam lingkungan hidupnya. Organisme yang tidak dapat bertahan hidup akan
mengalami kematian. Kematian tersebut dapat mengakibatkan berkurangnya
jumlah spesies yang terdapat di perairan.
2. Distribusi Geografis Ikan
Distribusi geografis ikan adalah distribusi ikan yang berkaitan dengan kondisi
atau letak geografisnya. Ikan air tawar memiliki beberapa definisi sesuai dengan
perbedaan tujuan dan ragam penggunaan. Ikan air tawar dapat diartikan sebagai
ikan yang ditemukan di air tawar, termasuk ikan yang bermigrasi ditemukan di air
tawar pada beberapa fase kehidupannya. Selain itu, dapat juga dikatakan sebagai
ikan yang tidak dapat masuk atau hidup di dalam air laut.
Secara geografis ikan air tawar di dunia dapat dibagi atas beberapa mintakat.
Alfred Russel Wallacea dalam bukunya berjudul The Geographical Distribution of
Animal yang terbit pada tahun 1876. Isi buku ini adalah membahas mengenai
5
pemecahan dunia menjadi 6 mintakat distribusi hewan (zoogeographic realms),
yaitu:
Mintakat Australia, meliputi Australia, Selandia Baru, Papua, dan pulau-pulau
di Samudera Pasifik.
Mintakal Oriental, meliputi Benua India dan Asia Tenggara.
Mintakat Ethiopia, meliputi sebagian besar Benua Afrika, termasuk Madagaskar
dan pulau-pulau di sekitarnya.
Mintakat Neotropik, meliputi Amerika Tengah dan Amerika Selatan.
Mintakat Neartik, meliputi Amerika Utara sampai Green Land.
Mintakat Paleartik, meliputi Eropa dan Asia Utara sampai ke Himalaya dan
Afrika bagian Utara.
3. Distribusi Ekologis Ikan
Distribusi ekologis ikan adalah distribusi ikan yang dipengaruhi faktor-faktor
lingkungan, seperti faktor abiotik, biotik, teknologi, dan kegiatan manusia. Faktor
abiotik berupa tumbuhan maupun hewan yang terdiri atas produsen, konsumen, dan
dekomposer. Fitoplankton sebagai penghasil oksigen dan bahan makanan
organisme perairan pada rantai makanan. Fitoplankton dapat hidup dan
berkembang apabila mendapat sumber cahaya, kecuali zooplankton yang dapat
hidup sampai 6000-7000 meter di bawah permukaan laut (apabila terdapat oksigen
terlarut dan detritus). Oleh karena itu, distribusi ikan sangat dipengaruhi oleh
distribusi plankton.
a. Pengaruh tumbuhan air
Akar di dasar perairan, batang, dan daun di luar. Tumbuhan ini mengganggu
keseimbangan ekosistem dan kurang bermanfaat untuk ikan serta hewan air
lainnya, contohnya: gelagah.
Akar di dasar dan daun di luar perairan. Pelindung anak ikan dari sinar matahari
atau hujan, contohnya: teratai.
Tumbuhan kecil di permukaan akar terjulur ke dalam air. Sering terbawa arus
dan gelombang, serta menjadi tempat melekatnya telur ikan. Contohnya: eceng
gondok.
6
Tumbuhan yang seluruh bagiannya di dalam air. Biasanya sebagai makanan ikan
herbivora, menambah oksigen pada siang hari melalui fotosintesis, perlindungan
alami, dan tempat memperoleh makanan. Contohnya: ganggang air.
b. Pengaruh ikan buas
Ikan pemangsa (predator) mampu beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan,
sedangkan ikan dimangsa (prey) mampu beradaptasi dengan baik terhadap
predator, misalnya: duri sebagai senjata dan memperbesar volume tubuh sehingga
predator sulit memangsa, adanya kelenjar racun, dan lain sebagainya. Adanya
predator dan prey menciptakan terjadinya keseimbangan ekologis.
c. Pengaruh bakteri
Bakteri berperan dalam rantai makanan: bakteri-zooplankton-ikan dan dapat
juga sebagai makanan langsung ikan: ikan Cyprinoid amur dan Xenocypris
macrolepsis. Bakteri ada juga yang dapat menyebabkan penyakit semacam
Fluorocens, yaitu bakteri khusus yang mendiami organ cahaya pada ikan demersal,
selain itu ada Pseudomonas plehninae yang menyebabkan penyakit bintik merah.
d. Pengaruh protozoa
Protozoa dapat dijadikan makanan awal berbagai jenis ikan seperti infusoria
sebagai makanan ikan Labirinthodont yang baru menetas dan Titinnoidea sebagai
makanan ikan Japuh atau ikan Teri yang setelah dewasa tidak makan lagi. Selain
sebagai bahan pakan, protozoa juga dapat menyebabkan penyakit seperti Costisasis
(penyebab protozoa flagellata yang menyerang kulit).
e. Pengaruh faktor abiotik
Cahaya, sangat dibutuhkan ikan untuk memangsa, menghindari diri dari
predator, dan sebagai bahan perjalanan mendapatkan makanan.
Suhu, ikan bersifat berdarah dingin sehingga perubahan suhu akan
mempengaruhi metabolisme ikan yang merupakan tanda alami ikan untuk beruaya
dan pemijahan.
Garam-garam organik, air sebagai media tumbuh dan berkembang ikan
banyak mengandung garam organik terlarut baik tawar maupun asin.
Poikilosmotik, organisme perairan yang tidak memiliki organ untuk
mempertahankan cairan dalam tubuh pada konsentrasi berbeda dengan konsentrasi
di sekitarnya.
7
Homoiosmotik, organisme yang mampu bertahan dengan konsentrasi cairan
tubuhnya terhadap konsentrasi di sekitarnya.
Angin, mempengaruhi tumbuhan air, sehingga dapat menyebabkan plankton
dan ikan berpindah.
f. Pengaruh teknologi (pembangunan bendungan)
Ikan yang beruaya ke hulu sungai (anadromus) terhalang.
Kesuburan muara sungai menurun akibat garam organik tertahan.
Perubahan komposisi ikan.
Ekosistem sungai berubah menjadi ekosistem waduk mengakibatkan jumlah
ikan predator tinggi.
Industri: limbah industri masuk ke perairan-> pencemaran-> perubahan
organisme-> keseimbangan organisme terganggu-> perubahan komposisi
organisme.
Penggundulan hutan: air hujan tidak banyak disimpan dalam tanah akibat
vegetasi berkurang-> air hujan langsung meluncur-> erosi air menjadi run off->
sungai menjadi keruh-> ikan migrasi akibat kehilangan tempat berpijah dan
kehilangan tempat mencari makan.
g. Pengaruh kegiatan manusia
Transportasi, BBI di setiap provinsi dan kabupaten.
Pemijahan buatan, kesulitan mendapatkan benih teratasi dan membantu
ikan agar tidak punah.
Pemupukan air, mendorong tumbuh dan berkembangnya plankton nabati
sebagai pakan alami ikan. Selain itu, pemupukan dapat mempercepat reproduksi dan
pertumbuhan ikan.
2.3 Daerah Distribusi Ikan di Indonesia
1. Daerah Paparan Sunda
Wilayah ini meliputi: Sumatera, Jawa, dan Kalimatan. Jenis ikan sangat mirip
dengan ikan dari daerah perbatasan di daratan Asia, kurang lebih terdapat 500
spesies. Contohnya: Cypriniformes, Perciformes (Ikan Gabus, Patin, Nilem, dan
Lais).
2. Daerah Wallacea
8
Wilayah ini meliputi: Sulawesi dan Nusa Tenggara. Tidak terlalu banyak
terdapat spesies ikan air tawar. Dominannya adalah Sidat, Ikan Betok, dan Ikan
Beloso.
3. Daerah Paparan Sahul
Wilayah ini meliputi: Papua dan Maluku. Spesies ikannya belum banyak
diketahui karena minimnya atau keterbatasan penelitian yang dilakukan. Sebagian
besar ikan termasuk ke dalam famili Gobiidae, Siluridae, dan ordo Percesoces, serta
tidak terdapat Cypriniformes.
2.4 Keanekaragaman Jenis-Jenis Ikan di Kawasan Perairan Ekosistem
Mangrove Kampung Laut, Cilacap
Hutan mangrove didefinisikan sebagai suatu tipe hutan yang tumbuh
di daerah pasang surut yang tergenang pada saat pasang dan bebas
dari genangan pada saat surut. Secara ekologis fungsi hutan mangrove
diantaranya sebagai tempat mencari makan (feeding ground), tempat
memijah (spawning ground), dan tempat berkembang biak (nursery
ground) berbagai jenis ikan, udang, kerang dan biota laut lainnya.
Kecamatan Kampung Laut merupakan kecamatan yang terletak di
perairan Segara Anakan. Laguna Segara Anakan merupakan daerah
penangkapan ikan, Ikan merupakan fauna yang mudah terganggu
dengan perubahan lingkungan. Tujuan mengetahui karakteristik
ekologi kawasan ekosistem mangrove, mempelajari dan mengkaji
perbedaan sub habitat ekosistem mangrove yang berpengaruh
terhadap keanekaragaman jenis-jenis ikan, mengkaji dan mempelajari
faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi keanekaragaman
jenis-jenis ikan, mempelajari dan mengkaji keanekaragaman jenis-
jenis ikan pada perairan ekosistem mangrove di Kampung Laut,
Cilacap. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari – Mei 2017.
Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan jenis-jenis ikan yang
9
tertangkap pada saat penelitian di perairan ekosistem mangrove,
Kampung Laut Cilacap yakni ada 32 jenis ikan yang tergolong ke
dalam 22 famili dengan total individu 941. Distribusi ikan yang
tertangkap pada setiap sub habitat cukup bervariasi baik jumlah jenis
maupun jumlah individunya, pada perairan terbuka (tidak tertutup
canopy) ditemukan 24 jenis ikan dengan 682 jumlah individu, perairan
tertutup (tertutup canopy) 7 jenis ikan dengan 121 jumlah individu,
dan perairan parit 16 jenis dengan jumlah individu 135. Faktor-faktor
lingkungan yang dapat mempengaruhi kelimpahan dan keberadaan
ikan di lokasi penelitian yaitu : vegetasi mangrove, suhu, pH, DO dan
kecerahan.
.
2.5 Pemetaan sebaran ikan tongkol (Euthynnus sp.) dengan data
klorofil-α citra modis pada alat tangkap payang (Danish-seine) di
perairan Teluk Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat
Perairan Palabuhanratu merupakan sentra perikanan komoditas ikan
ekonomi penting seperti tongkol (Euthynnus sp.). Data statistik
perikanan PPNP tahun 2011 menunjukkan penurunan produksi tahun
2011 sebesar 3% dari tahun sebelumnya, hal ini berdampak terhadap
kondisi perekonomian nelayan Palabuhanratu. Alat tangkap payang
(Danish-seine) sebagai salah satu alat tangkap ikan pelagis di
Palabuhanratu memiliki kendala dengan turunnya produksi,
perbekalan dan pendapatan menjadi tidak berimbang. Sebagai salah
satu prediktor keberadaan ikan, klorofil-a dapat digunakan dalam
menunjang studi penentuan fishing ground melalui teknologi
10
penginderaan jauh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa faktor-
faktor yang mempengaruhi sebaran ikan tongkol (Euthynnus sp.),
hubungan nilai klorofil-a dan hasil tangkapan, dan membuat peta
potensi ikan tongkol di perairan Palabuhanratu. Metode penelitian
yang digunakan adalah metode deskriptif studi kasus dan
pengumpulan data purposive sampling. Klorofil-a pada bulan Maret–
April 2012 berkisar antara 0, 70 mg/l–2,585 mg/l, dengan nilai rata-
rata 0,475 mg/l. Jumlah tangkapan untuk bulan Maret mencapai 695
kg dan April 426, 24 kg. Hasil pengukuran data lapangan
menunjukkan nilai rata-rata salinitas, SPL, DO, arus, dan kedalaman
berturut-turut: 33 ppt, 30, 9oC 6, 28 mg/l, 0,108 m/s, dan 288, 67 m.
Hasil uji regresi menunjukkan variabel arus signifikan dengan nilai p=
0, 02 (p< 0, 05) dan r= 0,690 (menunjukkan korelasi kuat). Hasil
penelitian menunjukkan pola hubungan antara parameter kualitas air,
klorofil-a, dan hasil tangkapan tongkol (Euthynnus sp.). Berdasarkan
overlay data lapangan dan citra MODIS, daerah berpotensi ikan bulan
Maret-April 2012 meliputi daerah: Cimandiri, Tanjung Kembar,
Gedogan, Ujung Karangbentang, Ujung Sodongprapat, dan Teluk
Amuran.
BAB III
11
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Distribusi ikan adalah suatu proses atau peristiwa penyebaran atau
perpindahan organisme (ikan) pada suatu tempat ke tempat lain dan waktu tertentu.
Terjadinya proses distribusi ikan ada beberapa hal yang menyebabkannya, ada yang
karena terbawa oleh arus, terbawa angin, perubahan pada permukaan bumi, karena
hanyutan benua, ataupun karena dibawa oleh manusia. Faktor terjadinya distribusi
ikan sendiri digolongkan menjadi dua yaitu tidak disengaja atau alami dan disengaja
atau buatan.
Distribusi geologis ikan adalah distribusi suatu spesies organisme yang
berhubungan dengan waktu atau zaman dan periode umur spesies organisme
tersebut terdapat. Kehadiran ikan di permukaan bumi diperkirakan sekitar 400 juta
tahun lalu, yaitu ikan Ostracoderms yang diperkirakan hidup di zaman palaezoik
pada periode ordovician. Sedangkan spesies ikan yang ada saat ini terdapat sekitar
50 juta tahun yang lalu hingga sekarang.
Distribusi geografis ikan adalah distribusi ikan yang berkaitan dengan kondisi
atau letak geografisnya. Ikan air tawar memiliki beberapa definisi sesuai dengan
perbedaan tujuan dan ragam penggunaan. Ikan air tawar dapat diartikan sebagai
ikan yang ditemukan di air tawar, termasuk ikan yang bermigrasi ditemukan di air
tawar pada beberapa fase kehidupannya. Selain itu, dapat juga dikatakan sebagai
ikan yang tidak dapat masuk atau hidup di dalam air laut.
Distribusi ekologis ikan adalah distribusi ikan yang dipengaruhi faktor-faktor
lingkungan, seperti faktor abiotik, biotik, teknologi, dan kegiatan manusia. Faktor
abiotik berupa tumbuhan maupun hewan yang terdiri atas produsen, konsumen, dan
dekomposer. Fitoplankton sebagai penghasil oksigen dan bahan makanan
organisme perairan pada rantai makanan.
3.2 Saran
12
Pada materi distribusi ikan dapat dijadikan bahan evaluasi bahwa makhluk
hidup (ikan) juga mempunyai tempat yang sama di dunia ini. Habitat atau tempat
tinggalnya jangan sampai dirusak ataupun dibinasakan. Ikan berhak hidup dan
memperbanyak keturunan agar dapat melestarikan jenisnya. Sebagai makhluk
hidup, sudah menjadi tanggung jawab bersama menjaga kebersihan maupun
keutuhan lingkungan. Tujuannya agar semua makhluk hidup yang ada di dunia ini
mampu bertahan hidup dan mendapat haknya yang telah diberikan oleh Tuhan
Yang Mahakuasa.
DAFTAR PUSTAKA
13
Nasution, S. H. 2015. Biodiversitas dan Distribusi Ikan di Danau Tempe.
In Prosiding Seminar Nasional Ikan, 8, 381-392.
Cahya, Citra N., Daduk Setyohadi, and Dewi Surinati. 2016. Pengaruh Parameter
tOseanografi Terhadap Distribusi Ikan. Oseana, 41(4), 1-14.
Purwanto, H., Pribadi, T. A., & Martuti, N. K. T. 2014. Struktur Komunitas dan
Distribusi Ikan di Perairan Sungai Juwana Pati. Life Science, 3(1).
Setiawan, A. N., Dhahiyat, Y., & Purba, N. P. 2013. Variasi Sebaran Suhu dan
Klorofil-a Akibat Pengaruh Arlindo terhadap Distribusi Ikan Cakalang
di Selat Lombok. Depik, 2(2).
Suprastini, S., Ardli, E. R., & Nuryanto, A. 2014. Diversitas dan Distribusi Ikan di
Segara Anakan Cilacap. Scripta Biologica, 1(2), 147-151.
14