Disusun untuk memenuhi tugas UAS pada mata kuliah Teori Sosial Kritis
TEORI SOSIAL
KRITIS
PENGERTIAN, SEJARAH, TOKOH, TEORI
DAN BENTUK TEORI SOSIAL DI INDONESIA
Alifia Sasmi Putri - 04020220025
Pengembangan Masyarakat Islam
Dakwah dan Komunikasi
UIN Sunan Ampel Surabaya
ii
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim,
Rasa syukur saya ucapkan atas karunia Allah SWT, karena berkat rahmat dan
ridha-Nya saya dapat menyusun Mini Book ini dengan baik dan selesai tepat pada
waktunya. Mini Book ini bertema “Teori Sosial Kritis”.
Penyusunan Mini Book ini bertujuan untuk memenuhi Ujian Akhir Semester 3
Mata Kuliah Teori Sosial dan Teori Sosial Kritis dari Dosen Bapak Abu Amar Bustomi,
M.Si. Selain itu, Mini Book ini juga bertujuan untuk memberikan tambahan wawasan bagi
saya sebagai penulis dan bagi para pembaca. Khususnya dalam hal Teori Sosial Kritis.
Saya selaku penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Abu Amar
Bustomi, M.Si selaku Dosen mata kuliah Teori Sosial dan Teori Sosial Kritis dan bagi
pihak-pihak lain yang telah mendukung penulisan Mini Book ini saya ucapkan terima
kasih.
Saya menyadari bahwa Mini Book ini masih jauh dari sempurna. Maka dari itu
saya membutuhkan kritik dan saran yang bisa membangun kemampuan saya, agar
kedepannya bisa menulis makalah dengan lebih baik lagi. Semoga makalah ini bermanfaat
bagi para pembaca, dan khususnya bagi saya sebagai penulis.
Bali, 29 Desember 2021
Alifia Sasmi Putri Suldiniani
iii
DAFTAR ISI
Halaman Judul iii
Kata Pengantar iv
Daftar isi
Bab I Pengertian Teori Sosial Kritis 5
Bab II Sejarah Teori Sosial Kritis 7
Bab III Tokoh-tokoh Sosial Kritis 9
Bab IV Teori Sosial Dan Budaya Di Indonesia 17
Bab V Pemetaan Teori Sosiologi Dari Tahapan Klasik Hingga Postmodern 20
Dan Kritis
29
Bab VI Teori Kritis: Perkembangan Dan Relevansinya Terhadap 33
Problematika Di Era Disrupsi
37
Bab VII Teori Kritis Jurgen Habermas Dan Theodor Adorno
Bab VIII Analisis Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Konteks
Pendidikan Umum Menurut Kajian Teori Kritis Jurgen Hubermas
Daftar Pustaka 41
iv
BAB I
PENGERTIAN TEORI SOSIAL KRITIS
Teori kritis merupakan sebuah aliran pemikiran yang menekankan penilaian
reflektif dan kritik dari masyarakat dan budaya dengan menerapkan pengetahuan dari ilmu-
ilmu sosial dan humaniora. Sebagai istilah, teori kritis memiliki dua makna dengan asal-
usul dan sejarah yang berbeda, yaitu: pertama berasal dari sosiologi dan yang kedua
berasal dari kritik sastra, di mana digunakan dan diterapkan sebagai istilah umum yang
dapat menggambarkan teori yang didasarkan atas kritik.
Dengan demikian, teori Max Horkheimer menggambarkan teori kritis adalah
sejauh berusaha "untuk membebaskan manusia dari keadaan yang memperbudak mereka."
berasal dari kata Yunani kritik yang menjadi kritikos yang berarti penilaian atau kearifan,
dalam bentuk kata tersebut pada abad ke-18. Sementara kata tersebut dapat dianggap
sebagai pengejaran intelektual yang benar-benar independen, para sarjana semakin tertarik
di bidang kritik yang dari keduanya saling tumpang tindih.
Teori kritis adalah teori sosial yang menekankan pada analisis kehidupan sosial
secara menyeluruh dengan orientasi terciptanya transformasi sosial. Implementasi teori ini
tidak diarahkan kemana-mana melainkan untuk mendorong adanya perubahan sosial di
masyarakat. Perubahan sosial yang dimaksud adalah terciptanya masyarakat yang
terbebaskan, adil, dan mandiri dari dominasi kultural serta ideologis.
Berkaitan dengan yang disebutkan di awal, teori kritis bertujuan untuk
menggali ”kebenaran” yang beroperasi di bawah permukaan kehidupan sosial, seperti
adanya praktik dominasi kekuasaan secara kultural dan ideologis. Teori ini juga sering
secara frontal menyerang teori-teori sosial tradisional yang dianggap hanya menjelaskan
suatu fenomena tanpa mau mengubahnya. Dari tindakannya itulah teori kritis sering
disebut sebagi kritik teori atas teori.
Perbedaan secara epistemologis yang diperkenalkan oleh Jürgen Habermas di
Erkenntnis und Interesse pada tahun 1968 atau bisa diartikan dengan Pengetahuan dan
Minat Manusia. Teori kritis dalam studi sastra yang pada akhirnya merupakan
bentuk hermeneutika, yaitu pengetahuan melalui interpretasi untuk memahami makna teks
manusia dan simbolis ekspresi, termasuk penafsiran beberapa teks yang dengan sendirinya
menafsirkan teks lain. Teori sosial kritis merupakan suatu bentuk pengetahuan refleksi diri
yang melibatkan pemahaman dan penjelasan teoretis yang bertujuan untuk mengurangi
5
jebakan dalam sistem dominasi atau ketergantungan terhadap manusia.
Dari perspektif ini, banyak teori kritis sastra. Karena difokuskan pada
interpretasi dan penjelasan bukan pada transformasi sosial, akan dianggap sebagai teori
positivistik atau tradisional daripada kritis dalam arah Kant atau Marxis. Teori Kritis dalam
sastra dan humaniora pada umumnya tidak selalu melibatkan dimensi normatif, sedangkan
teori sosial kritis tidak. Melainkan baik melalui mengkritik masyarakat dari beberapa teori
umum nilai, norma, atau "kewajiban," atau melalui mengkritik dalam hal nilai-nilai yang
dianut sendiri.
6
BAB II
SEJARAH TEORI SOSIAL KRITIS
Dalam filsafat, istilah teori kritis menggambarkan filosofi neo-Marxis
dari Frankfurt School, yang dikembangkan di Jerman pada 1930-an. Teori Frankfurt
menarik tentang metode kritis Karl Marx dan Sigmund Freud. Teori Kritis menyatakan
bahwa ideologi adalah kendala utama untuk pembebasan manusia. Teori Kritis didirikan
sebagai sebuah sekolah pemikiran terutama oleh lima tokoh teori Mazhab
Frankfurt: Herbert Marcuse, Theodor Adorno, Max Horkheimer, Walter Benjamin,
dan Erich Fromm. Teori kritis modern telah bertambah dipengaruhi oleh György
Lukacs dan Antonio Gramsci, serta generasi kedua sarjana Mazhab Frankfurt,
terutama Jürgen Habermas. Dalam karya Habermas, teori kritis melampaui akar teoretis
dalam idealisme Jerman, dan berkembang lebih dekat dengan pragmatisme Amerika.
Kepedulian terhadap "dasar dan suprastruktur" sosial adalah salah satu yang tersisa dari
konsep filsafat Marxis di banyak teori kritis kontemporer.
Sementara teori kritis telah sering kali didefinisikan sebagai intelektual
Marxis, kecenderungan mereka untuk mengecam beberapa konsep Marxis dan untuk
menggabungkan analisis Marxian dengan tradisi sosiologis dan filosofis lainnya telah
menimbulkan tuduhan revisionisme oleh para Klasik, Ortodoks, dan Analisis Marxis, dan
oleh filsuf Marxis Leninis. Martin Jay telah menyatakan bahwa generasi pertama teori
kritis paling baik dipahami dengan tidak mempromosikan agenda filosofis tertentu atau
ideologi tertentu, tetapi sebagai "pengganggu dari sistem lain".
Dalam era demokrasi di depan mata seperti ini, perbedaan pendapat seringkali
terjadi dan tak dapat di hindari. Hal ini seringkali menimbulkan konflik yang berawal dari
adanya usaha untuk menegasikan pendapat pihak lain. Dalam ranah akademis hal ini
dikenal dengan istilah thesis dan anti-thesis. Anti-thesis inilah yang dikenal dalam
kehidupan sehari-hari sebagai kritik.
7
Dalam perjalanannya, teori kritis ini berusaha dirumuskan oleh beberapa ahli
teori Jerman yang tergabung dalam lembaga Institut fur Soziaflorschung tahun 1923.
Lembaga riset ini didirikan oleh Felix Weil bersama direktur utamanya Carl Grunberg.
Teori kritis awalnya bertujuan untuk menilai dan mengoreksi teori Marxian dan
mengbongkar teori yang dikembangan oleh Marxian melalui pengetahuan kritis. Pada
tahun 1931, teori kritis mengalami perkembangan pesat di bawah pimpinan Horkheimer
dengan idealismenya bahwa untuk menuju teori kritis dari yang sebelumnya berpedoman
pada filsafat, masyarakat harus bersifat praktis, dalam artian lebih luas, mampu membawa
perubahan sosial.
Pada tahun 1934, Horkheimer dan kawan-kawan terpaksa bermigrasi ke
Universitas Columbia, US, demi melanjutkan produksi teori-teori kritisnya lantaran
kondisi pemerintahan Nazi di Jerman yang tidak kondusif. Dalam pengungsinya ini,
Horkheimer dan Adorno menciptakan sebuah karya yang cukup penting pada masa itu,
yaitu Dialektik der Aufklrung (Dialektika Pencerahan). Pada tahun 1945 setelah perang
dunia II selesai, Adorno dan Horkheimer bertolak ke Universitas Franfurt, Jerman. Adorno
menggantikan posisi Horkheimer sebagai pemimpin yang dikenal sebagai Mahzab
Franfurt, disisi lain Horkheimer dipercaya menjadi rector Universitas Franfurt.
Dalam Kacamatanya, Horkheimer berpendapat bahwa masyarakat modern
cenderung mengarah pada positivism. Sedangkan hal ini ditentang oleh Harbert Marcuse,
tokoh revolusioner yang dianggap “nabi” bagi kelompok The New Left, yang menganggap
masyarakat modern hanya memiliki satu dimensi yaitu kapitalisme dan menyebabkan
masyarakat tersebut bertindak pasif dan reseptif. Setelah itu muncul juga Jurgern
Habermas yang menjadi penanda kembalinya cendekiawan Amerika. Dia membedakan
ilmu pengetahuan menjadi tiga macam yaitu empiris-analitis, historis-hermeneutis dan
ilmu tindakan. Solusi yang pada akhirnya ditawarkan oleh Habermas bagi teori kritis
adalah bukan menjauhkan manusia dengan modernitas, melainkan memperluas diskusi
rasional.
8
BAB III
TOKOH-TOKOH SOSIAL KRITIS
Tokoh-tokoh Barat terkadang diposisikan sebagai penemu, perintis beberapa teori
sosial yang pada tahapannya akhirnya ditanamkan dan digunakan dimasyarakat non-Barat.
Berikut beberapa tokoh pencetus teori sosial kritis :
1. Karl Marx
Karl Marx lahir pada tahun 1818 di Trier, Jerman Barat dan meinggal di London
pada 1883. Marx meraih gelar doktor dari Universita Jena. Ia merupakan seorang filsuf,
jurnalis, kritikus sosial, dan juga ekonom walaupun ia sering dianggap sebagai seorang
sosiolog (Calhound, Gerteis, Moody, dkk, 2007). Marx merupakan pencetus aliran marxisme.
Marxisme merupakan suatu aliran teori yang didasari pada keyakinan bahwa potensi
pencapaian individu dalam aktivitas eknomi dan kesempatan untuk bebas dalam masyarakat
modern hanya dapat dicapai jika kapitalisme dihapuskan (Jones, 2009).
Jika diartikan secara sederhana, dalam pandangan ini, hanya orang-orang borjuis
yang memiliki modal kapital (pemilik kekayaan) saja yang bisa menikmati pencapaian dalam
masyarakat modern. Kelompok proletar (pekerja) tanpa modal kapital yang cukup tidak dapat
mencapai hal tersebut karena mereka umumnya bekerja untuk memperkaya pemilik modal
kapital. Menurut Marx, dalam kapitalisme, kelompok borjuis memiliki aset produktif (semisal
tanah, tambak, dsb), dan mempekerjakan kelompok proletar dengan upah yang rendah (Jones,
2009).
Di masa sekarang, kepemilikan aset produktif biasanya berubah dalam bentuk
saham atau investasi modal simpanan (Jones, 2009). Untuk menyukseskan kapitalisme, dalam
artian mencapai keuntungan maksimal, Marx berpendapat bahwa para kelompok borjuis
(pemilik modal) melakukan kontrol terhadap infrastruktur (sumber daya produksi). Meskipun
begitu, ia juga berpendapat bahwa kelompok borjuis juga mengontrol faktor suprastruktur
(nilai-nilai moral, agama, politik dan budaya).
Nah, para penggagas Mazhab Frankfurt nantinya mengembangkan teori kritis
berdasarkan pandangan Marx mengenai faktor suprastruktur. Intinya, Marx menitikberatkan
9
perjuangan kelas antara kelompok borjuis dengan kelompok proletar sebagai fokus utama
untuk menghancurkan kapitalisme. Karya-karya penting Marx yang hingga saat ini masih
menjadi acuan ialah (Jones, 2009):
A. The Poverty of Philosophy (1847)
B. The Communist Manifesto (1848)
C. The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte (1852)
D. Grundisse (Outline of a Critique of Political Economy) (1857)
E. Preface to a Contribution to the Critique of Political Economy (1857)
F. Theories of Surplus Value (1862-1863)
G. Capital, Vol. 1-3 (1863-1867)
H. Critique of the Gotha Programme (1875)
2. Sigmun Freud
Sigmund Freud lahir dari keluarga Yahudi pada tahun 1856 di Freiburg (sekarang
Příbor, Republik Ceko). Freud meraih gelar dokternya dari Universitas Wina pada tahun 1881
di usia 25 tahun (Lechte, 2001). Pada tahun 1885, ia mendapatkan beasiswa untuk
melanjutkan studi di Paris, di bawah pengawasan Jean Martin Charcot di Salpetriere (Lechte,
2001).
Freud berfokus pada bidang psikologi, hingga pada 1895 ia mulai menerbitkan
buku pertamanya yang berjudul Studies in Hysteria, serta buku keduanya yakni the
Interpretation of Dreams pada tahun 1900. Freud mengembangkan teori psikoanalisis melalui
analisisnya terhadap gejala-gejala yang di masa itu dianggap sebagai hal yang baru, seperti
mimpi dan igauan (Lechte, 2001). Selain itu, Freud juga berfokus pada analisa mengenai
histeria, seksualitas dan juga perkembangan diri. Teori Psikoanalisis yang dikembangkan oleh
Freud menitikberatkan pada “ketidaksadaran” individu yang berperan besar pada diri
seseorang. Semisal, dalam the Interpretation of Dreams, Freud berpendapat bahwa seksualitas
manusia itu bukan hanya dorongan hewani semata, melainkan suatu hal yang wajar namun
10
tidak disadari kewajarannya. Proses tidak meyadari kewajaran seksualitas terjadi karena
adanya “pengalihan” kehidupan sosial dan kultural (Lechte, 2001). Istilah “pengalihan” juga
didefinisikan pula oleh Freud dalam bahasan mengenai mimpi. Pengalihan merupakan salah
satu cara kerja mimpi menyamarkan pesan tak sadar dari mimpi (Lechte, 2011). Pengalihan
mengarah pada hilangnya gagasan utama mimpi karena beberapa unsur dalam isi/muatan
mimpi dikesampingkan (Lechte, 2001). “Ketidaksadaran” individu mengenai “pengalihan”
merupakan dasar yang digunakan para pencetus teori kritis dalam membedah gagasan
marxisme serta kritiknya terhadap masyarakat modern di masa itu. Nah, untuk mulai
memahami teori kritis dalam kajian ilmu komunikasi, kamu perlu membaca pandangan
beberapa tokoh teori kritis seperti Max Horkheimer, Theodor Adorno, Herbert Marcuse, dan
Jurgen Habermas.
3. Marx Horkheimer
Max Horkheimer merupakan pentolan generasi pertama dari Mazhab Frankfurt
yang lahir pada 1895 dan meninggal pada 1973 di Jerman Barat (Bohman, 1999). Horkeimer
besar dalam keluarga keturunan Yahudi. Setelah berhenti meneruskan perusahaan tenun
ayahnya, ia belajar filsafat dan mendapatkan gelar doktor dengan disertasi mengenai
Immanuel Kant. Sebagai direktur dari Institute for Social Research, Horkheimer
memfokuskan institusi ini pada perkembangan kapitalisme di Eropa yang menimbulkan krisis
sosial (Tjahjadi, 2007).
Krisis sosial tersebut mencakup pada konflik ideologi individualisme kelompok
bourjuis yang melakukan pemusatan kekuasaan dan kontrol dalam wujud perusahaan besar,
militer, maupun pemerintah. Mengapa bisa dikatakan pertentangan? Sebab, di satu sisi
individualisme yang dianut kelompok borjuis (contoh: perusahaan besar) menjanjikan adanya
“kebebasan” bagi tiap orang, namun di sisi lain “mekanisme pasar bebas” yang dijalankan
oleh kelompok borjuis menciptakan suatu dominasi atas individu (contoh: pekerja).
Menurut Hokheimer, perlu ada suatu “pendekatan sosial” yang bisa menjadi jalan
keluar krisis tersebut. Caranya ialah melalui pengembangan teori kritis. Bagi Horkheimer,
teori kritis hendak mengungkap topeng distorsi sosial yang demikian (Roderick, 1986). Istilah
‘critical’ dalam teori kritis (critical theory) pertama kali digunakan dan didefinisikan oleh Max
Horkheimer dalam esainya yang berjudul ‘Traditional and Critical Theory’ (Indoprogress,
5/5/2013). Definisi ‘critical theory’ oleh Horkheimer dibangun dengan cara
membandingkannya dengan konsep ‘traditional theory’.
11
Menurutnya, traditional theory tidak dapat menggambarkan kenyataan sosial yang
sesungguhnya karena pada umumnya hanya memaksakan kalkulasi matematis untuk
mengungkapkan fakta kehidupan manusia (Indoprogress, 5/5/2013). Padahal, suatu fenomena
sosial terjadi karena berbagai faktor, seperti faktor historis dan faktor budaya. Latar belakang
historis dan budaya bukanlah hal yang tidak dapat diukur secara matematis. Oleh sebab itu,
Hokheimer berkeyakinan bahwa keberhasilan temuan baru yang cukup faktual untuk
mengembangkan pengetahuan hanya dapat digambarkan dengan memahami proses sosial
secara mendalam mulai dari sejarah hingga budaya masyarakat.
Teori kritis lekat dengan “pengungkapan dominasi” sebagai wujud emansipasi dan
perubahan sosial. Hokheimer menjadikan teori kritis sebagai kritik terhadap pendekatan
tradisional dalam ilmu sosial yang positivistik (baca: matematis), yang hasil risetnya
cenderung digunakan untuk melayani kebutuhan kelompok borjuis di masa itu (Indoprogress,
5/5/2013). Selain mencetuskan istilah teori kritis, bersama dengan kawan sejawatnya, Theodor
Adorno, Horkheimer juga menciptakan konsep ‘industri budaya.’ Konsep ini merupakan
wujud kritik terhadap nasib kemanusiaan dalam kapitalisme (Indoprogress, 5/5/2013).
Menurut Horkheimer dan Adorno, dalam bukunya Dialectic of Enlightment,
industri budaya hanya menuntun manusia pada dominasi dan penindasan. Produk-produk
dalam industri budaya dianggap sebagai produk komersil. Selain itu, produk budaya juga
dianggap sebagai alat yang digunakan untuk mencapai tujuan kelompok borjuis (pengusaha,
pemerintah, dsb). Tujuan tersebut dapat berupa keuntungan kapital (contoh: iklan di televisi)
ataupun pelanggengan kekuasaan (contoh: pemerintah otoriter menggunakan dan mengatur
media massa sebagai corong propaganda).
Dalam industri budaya, manusia ditempatkan sebagai konsumen dan pekerja.
Pekerja adalah mereka yang memproduksi produk-produk budaya (contoh: tayangan televisi,
musik, karya sastra, dsb), sedangkan konsumen ialah audiens. Jika dikaitkan dengan industri
budaya, audiens diperlakukan sebagai objek yang “tidak sadar” bahwa mereka dipengaruhi
oleh kelompok penguasa melalui produk budaya.
4. Theodor Adorno
Theodor Adorno lahir pada tahun 1903 dengan nama lengkap Theodor
Wiesengrund Adorno, namun ia menghilangkan nama tengahnya karena menganggap nama
tersebut agak berbau Yahudi (Lechte, 2001). Ia menempuh pendidikan di Universitas
Frankfurt, tempat ia belajar filsafat, sosiologi dan musik. Pada tahun 1924 ia meraih doktor
12
filsafat. Adorno sempat pindah ke Wina, Austria untuk belajar komposisi di bawah bimbingan
Alban Berg pada tahun 1925. Ia mulai kembali ke Frankfurt pada tahun 1926 dan mulai fokus
pada studi mengenai Kant dan Freud.
Setelah Horkheimer menjabat sebagai direktur, Adorno bergabung pada Institute
for Social Research. Adorno merupakan salah satu tokoh teori kritis yang fokus pada
perkembangan budaya di masyarakat, terutama musik, dan mempopulerkan konsep mengenai
industri budaya massa. Bersama dengan Horkheimer, Adorno melakukan analisis mengenai
“industri budaya.” Industri budaya merupakan istilah yang mereka populerkan sebagai bentuk
kritik terhadap produk budaya massa seperti film, tayangan televisi ataupun musik yang
diproduksi secara masif untuk kepentingan pasar industri semata, bukan untuk melestarikan
kultur ataupun mengembangkan kreativitas.
Adorno memang ingin memelihara kemurnian seni. Dalam bukunya
yakni Aestethic Theory, ia berpendapat bahwa seni seharusnya tidak menjadi komoditas yang
diberi harga (Adorno, 1997). Seperti harga sebuah album musik, harga tiket pertunjukan seni,
dsb. Pelaku seni pada akhirnya hanya terjebak dalam standar-standar pasar dan tidak dapat
mengembangkan hasil seni sesuai kreativitasnya. Pencipta industri budaya (misal: perusahaan
media) menciptakan kontrol dan dominasi terhadap masyarakat sebagai audiens (Indoprogress,
5/5/2013).
Masyarakat sebagai audiens hanya dianggap sebagai objek untuk memperoleh
keuntungan baik sebagai konsumen maupun pekerja (Adorno & Horkheimer, 2002). Intinya,
ketika dikaitkan dengan kajian media, Adorno memiliki pandangan kritis mengenai industri
budaya massa yang berfokus pada akumulasi kapital untuk mencapai keuntungan.
5. Herbert Marcuse
Herbert Marcuse lahir pada 19 Juli 1898 di Berlin di tengah-tengah keluarga
Yahudi yang telah berasimilasi dengan kebudayaan Jerman (Saeng, 2012). Ia meninggal pada
1979. Marcus belajar di Universitas Humbold dan melanjutkan studinya ke Universitas
Freiburg untuk menekuni sastra Jerman baru, filsafat dan ekonomi politik. Ia pernah menjadi
asisten Heidegger sebelum bergabung dengan Horkheimer di Institute for Social Research.
Marcuse mengembangkan teori kritis dengan fokusnya terhadap masyarakat
modern. Dalam opusnya Eros and Civilization, Marcuse berpendapat bahwa peradaban
modern telah membuat manusia kehilangan hasrat paripurnanya (lsfcogito.org, 23/12/2016).
Ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang memicu adanya sebuah industrialisasi yang
13
menciptakan kapitalisme dan mengubah pola sosial masyarakat. Pada akhirnya, hasrat
manusia ditundukan dan dimanipulasi demi keuntungan kapital. Lebih lanjut lagi, Marcuse
melanjutkan kritiknya melalui gagasan mengenai masyarakat satu dimensi yakni seputar krisis
kapitalisme di tengah-tengah dominasi teknologi dan masyarakat industri (lsfcogito.org,
23/12/2016).
Dalam bukunya One Dimensional Man, Marcuse masih mengkritisi masyarakat
industri modern di tengah-tengah dominasi teknologi. Dalam kekuasan kapitalis, teknologi
menjelma sebagai sebuah alat dominasi (Marcuse, 1994). Ambil contoh sederhana dari sistem
bekerja saat ini yang ‘katanya’ fleksibel. Adanya kemajuan teknologi seperti internet,
laptop, instant messaging, email, dan lain sebagainya, membuat kita dapat berkoordinasi
dengan mudah. Kita bisa bekerja dari mana saja dengan waktu yang fleksibel. Namun, saking
mudahnya berkoordinasi, terkadang jam kerja kita dapat melebihi jam kerja seharusnya (misal:
8 jam/hari).
Jam kerja tidak terhitung karena segala hal bisa dikerjakan kapan saja dan di mana
saja. Nah, itulah kira-kira wujud kritik Mercuse jika disesuaikan dengan kondisi saat ini.
Berbicara mengenai media, Marcuse juga berpendapat bahwa media massa berperan dalam
menciptakan masyarakat satu dimensi (one dimensional man). Media massa melakukan
kontrol psikologis dengan menggiring opini masyarakat luas seiring berkembangnya teknologi
(Marcuse, 1994).
Produk-produk seni yang ditampilkan dalam media bukanlah media untuk
mengekspresikan realita. Serupa dengan pendapat Adorno, Mercuse berpendapat bahwa
produk seni yang ditayangkan media massa sangatlah pragmatis dan bermuara pada
pendapatan kapital. Pada akhirnya, hal ini berujung pada kekuatan teknologi dalam
menciptakan dimensi kehidupan yang penuh ilusi, walaupun pada kenyataannya hanya berupa
penindasan.
6. Jurgen Habermas
Jurgen Habermas merupakan seorang filsuf dan tokoh teori kritis yang lahir di
Dusseldorf, Jerman pada tanggal 18 Juni 1927. Ia merupakan keturunan kelas menengah yang
sedikit tradisional (Suseno, 2004). Di antara para tokoh teori kritis, Habermas menjadi salah
satu figur yang paling memperhatikan isu-isu komunikasi. Bagi Habermas, para kapitalis tidak
hanya menjalankan penindasan karena memiliki kekuatan ekonomi dan teknologi, melainkan
juga karena faktor kecakapan komunikasi dalam berbagai bentuk. Untuk berjuang melawan
14
penindasan, kita juga perlu melakukan komunikasi. Menurut Habermas, komunikasi memiliki
peran sentral dalam sebuah emansipasi, sebab bahasa dalam komunikasi menjembatani tujuan
dari emansipasi itu sendiri (Littlejohn, Foss & Oetzel, 2017). Agar komunikasi yang dilakukan
berhasil, seseorang perlu mencapai standar validitas, atau secara sederhana perlu dipercayai
oleh lawan bicaranya. Dalam bukunya The Theory of Communicative Action, Habermas
menyebutkan tiga kriteria tersebut yakni kebenaran (truth), ketepatan (appropriateness) dan
ketulusan (sincerity) (Littlejohn, Foss & Oetzel, 2017).
Komunikasi yang dilakukan memuat argumentasi. Baik itu perbincangan atau
diskursus maupun kritik. Diskursus terjadi jika pernyataan seseorang, sebagai emansipator,
sedang dipertanyakan (Littlejohn, Foss & Oetzel, 2017). Emansipator perlu membuktikan
validitas pesan dan gagasan yang dibawa. Jika yang dipertanyakan ialah sebuah kebenaran,
maka perlu direspon dengan diskursus teoritis yang menjelaskan keadaan nyata (Littlejohn,
Foss & Oetzel, 2017). Misalnya, menjelaskan beban kerja secara rinci dan waktu
pengerjaannya jika dipertanyakan kebenaran bahwa merasa kelebihan beban. Jika yang
dipertanyakan ketepatan, maka perlu direspon dengan diskursus praktis (Littlejohn, Foss &
Oetzel, 2017).
Misalnya, kamu membutuhkan bantuan perangkat lunak untuk menunjang
pekerjaanmu. Maka, perlu menjabarkan secara praktis bagaimana hal tersebut menjadi
kewajiban perusahaan untuk menyediakannya. Nah, dalam proses komunikasi ini, Habermas
juga menekankan jika proses komunikasi dapat dikatakan emansipatif apabila setiap orang
memiliki kebebasan bersuara, akses yang sama untuk menyuarakan pendapat, dan juga
diberlakukan setara dengan yang lainnya (Littlejohn, Foss & Oetzel, 2017).
15
16
BAB IV
TEORI SOSIAL DAN BUDAYA DI INDONESIA
Teori-teori sosiologi tersebut tidak dapat secara independen murni tumbuh dan
berkembang , akan tetapi teori-teori itu sangat tergantung dan terpengaruh oleh ilmu-ilmu
Sosial lainnya, terutama yang obyek kajiannya sama. Peter L.Berger3 memberikan
penilaian tersendiri terhadap relasi manusia dan masyarakat terbentuk secara dialektis.
Berger memberikan altenatif terhadap determinisme menganggap bahwa individu itu
semata-mata dibentik oleh struktur Sosial dan tidak mempunyai peran dalam
pembentukann struktur Sosial. Beliau menolak kausalitas sepihak, beliau ingin
memperlihatkan bahwa manusia dapat mengubah struktur Sosial. Namun manusia pun
akan selalu dipengaruhi bahkan dibentuk oleh institusi Sosial itu sendiri.
Analisis Sosiologi dalam melihat hubungan manusia dengan masyarakatnya
sebagai mana pernah dikemukakan oleh para pendahulu sosiologi aliran fungsionalisme
seperti Aguste Comte, Spencer, Pareto dan Durkheim serta Radcliff Brown dan
Malinowski. Sosiologi beraliran fungsional ini adalah suatu teori sosiologi yang
memandang masyarakat sebagai suatu lembaga Sosial dalam keseimbangan Sosial.
Kelembagaan dalam sebuah masyarakat dipandang sebagai perwujudan konkret dari
sebuah tema cultural yang ada dalam kehidupan masyarakat.
Menurut teori ini masyarakat dipandang sebagai system Sosial atau institusi
yang terdiri dari berbagai bagian atau elemen yang satu dengan elemen lainnya saling
berkaitan, tergantung dan berada dalam keseimbangan ( equilibrium). Asumsi dasarnya
adalah setiap institusi atau struktur dalam system Sosial,fungsional terhadap lainnya. Oleh
karena itu apabila terjadi perubahan salah-satu bagian, maka akan mempengaruhi bagaian
lainnya yang pada akhirnya mempengaruhi kondisi system Sosial secara keseluruhan.
Karena itu, tidak mengherankan, bila institusi atau lembaga Sosial manapun, akan
mempola kegiatan manusia berdasarkan norma, nilai yang dianut secara bersama, dan
dianggap sah serta mengikat peran serta pendukungnya.
17
Beberapa tokoh sosiologi yang beraliran fungsionalisme dan fungsionalisme
modern, antara lain :
1. Aguste Comte ( 1798-1857 )
Secara umum diidentifikasikan sebagai “Bapak Sosiologi ”, mendasarkan
perhatiannya terhadap keadaan static (order) dan dinamik ( progress) dalam
masyarakat dari hasil penelitian umumnya terhadap dasar-dasar stabilitas Sosial.
Comte menetapkan asumsi dasar fungsionalisme mengenai saling ketergantungannya
system Sosial ketika Comte menyatakan , bahwa Studi static dari sosiologi meliputi
penyelidikan atas hukum-hukum aksi dan reaaksi dari berbagai bagaian system Sosial.
2. Emile Durkheim ( 1858-1917 )
Durkheim dipandang sebagai pewaris tradisi pencerahan , karena
penekanannya pada sains dan reformisme Sosial. Namun ia juga dinilai sebagai
pewaris tradisi konservatif, ia melegitimasi karya sosiologinya di Perancis yang
menjad kekuatan dominan dalam perkembangan sosiologi umumnya dan
perkembangan teori sosiologi khususnya. Dalam The Rule of Sociological Method (
1895-182 ). Ia menekankan bahwa tugas sosiologi adalah mempelajari apa yang ia
sebut sebagai fakta-fakta Sosial. Ia membayangkan fakta Sosial sebagai “ kekuatan
dan struktur” yang bersifat eksternal dan memaksa individu. Ia berpendapat bahwa
bila dapat menghubungkan perilaku individu seperti bunuh diri dengan sebab-sebab
social ( fakta Sosial), maka dapat menciptakan alasan yang menyakinkan akan
penyebab yang berbeda –beda dalam rata-rat perilku bunuh diri di kalangan kelompok,
wilayah, negara dan kalangan golongan individu yang berbeda.
3. Bronislow Malinowski ( 1884-1942 )
Ia adalah orang yang pertama menggunakan istilah fungsional bagi jenis
penelitian sosiologi. Kajiannya menekankan pada analisis kebutuhan psikologi dan
fungi yang harus dipenuhi agar masyarakat dapat berkembang. Ia sangat dipengaruhi
oleh- ahli-ahli sosiologi yang melihat masyarakat sebagai organisme hidup seperti
Emile Durkheim. Malinowski lebih memperhatikan individu sebagai seebuah realitas
psiko biologis di dalam sebuah masyarakat atau kebudayaan. Fokus perhatiannya
terletak pada aspek manusia sebagai makhluk psiko-biologis yang mempunyai
seperangkat kebutuhan psikologis dan biologis yang perlu dipenuhi. Pernyataan
penting yang menjadikannya sebagai ahli sosiologi kebudayaan adalah menganggap
bahwa culture atau kebudayaan yang hidup dalam masyarakat lebih penting daripada
struktur social.
18
4. Talcott Parsons (1902-1979 )
Bahasan tentang sosiologi Parson ( fungsionalisme Parson ) akan dimulai
dengan empat fungsi penting untuk semua system tindakan terkenal dengan skema
AGIL. Skema AGIl adalah suatu fungsi berupa kumpulan kegiatan yang ditujukan ke
arah pemenuhan kebutuhan tertentu atau kebutuhan system. Dengan menggunakan
definisi ini Parsons yakin bahwa ada empat fungsi penting diperlukan semua system
antara lain:
a. Adaptation ( adaptasi) : sebuah system harus menanggulangi situasi eksternal yang
gawat dan tidak menentu. Sistem harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan
menyesuaikan lingkungan itu dengan kebutuhannya.
b. Goal Attainment (pencapaian tujuan): sebuah system harus mendefinisikan dan
mencapai tujuan.
c. Intergration (intergrasi): sebuah system harus mengatur antarhubungan bagian-
bagian yang menjadi komponennya. Sistem juga harus mengelola antarhubungan
ketiga fungsi penting lainnya.
d. Latency ( latensi atau pemeliharaan pola): sebuah system harus memperlengkapi,
memelihara dan memperbaiki, baik motivasi individu maupun pola-pola cultural
yang menciptakan dan menopang motivasi.12
.
19
BAB V
PEMETAAN TEORI-TEORI SOSIAL KLASIK,
MODERN, KRITIS, DAN POST MODERN
Lahirnya sebuah teori biasanya lebih disebabkan karena upaya berpikir keras
yang dilakukan oleh para ahli teori sosial untuk mengisi celah yang kosong dan tidak
mampu dijawab oleh penemu teori sebelumnya. Salah satu buku yang diartikan bunga
rampai tulisan dari para pengusung teori masing-masing yang dijelaskan dalam resensi
yang lebih ringkas dari edisi buku aslinya yang tentunya lebih tebal. Buku ini ditulis oleh
Turner yang terbagi dalam 5 bagian dan 28 Bab.
Pada dasar-dasar teori sosial menjelaskan mengenai dialektika filsafat
pemikiran sosial antara Karl Marx, Emile Durkheim, Hegel, Auguste Comte, Herbert
Spencer, Sigmun Freud dan Max Weber. Perubahan berupa revolusi sosial politik serta
kebangkitan kapitalisme membawa dampak-dampak yang tidak saja bersifat positif tetapi
juga memunculkan masalah-masalah sosial baru. Seperti perkembangan kehidupan politik
(Revolusi Prancis sejak tahun 1789) menjadi cikal bakal perkembangan teori sosiologi di
Prancis. Demikian pula, pertumbuhan kapitalisme di Inggris telah memacu munculnya
pemikiran – pemikiran baru dibidang sosial. Para pemikir di era tersebut dapat
dikategorikan sebagai penemu teori-teori klasik. Beberapa tokoh ternama penemu Teori
Klasik, diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Aguste Comte
Seseorang yang dikenal sebagai Bapak Sosiologi ini bukanlah orang
akademisi yang hidup di dalam kampus. Perjalanan pendidikan yang tersedat-sedat
dan putus ditengah jalan, tidak membuat Aguste Comte menyerah. Berkat
perkenalannya dengan Saint-Simon, sebagai sekretarisnya, pengetahuan Comte
semakin terbuka, bahkan mampu mengkritisi pandangan-pandangan dari Saint-
Simon. Pada dasarnya Auguste Comte adalah orang pintar, kritis, dan mampu hidup
sederhana tetapi kehidupan sosial ekonominya dianggap kurang berhasil. Pemikiran
Auguste Comte Tentang Individu, Masyarakat, dan Perubahan Sosial Perkembangan
masyarakat pada abad ke-19 menurut Comte dapat mencapai tahapan yang positif
(positive stage). Tahapan ini diwarnai oleh cara penggunaan pengetahuan empiris
20
untuk memahami dunia sosial sekaligus untuk menciptakan masyarakat yang lebih
baik.
b. Emile Durkheim
Sosiolog besar yang lahir di Epinal provinsi Lorraine, Perancis timur pada
tahu 1885 ini telah mengeluarkan empat karya buku, yaitu buku yang pertama
berjudul ”one the-division of social labor” diterbitkan tahun 1893. Dua tahun
kemudian pada tahun 1895 terbit buku keduanya “the rules of socuological method”
dan buku ketiganya “suicide” terbit pada tahun 1897 dan karya yang terakhir “the
elemententary forms of religious life” terbit pada tahun 1912 yang bertujuan untuk
mengukuhkan dirinya sebagai seorang sosiolog yang terkenal. Durkheim sangat
termashur dengan kerangka teorinya tentang adanya “jiwa kelompok” yang
mempengaruhi jiwa individu. Dia mengatakan bahwa ada dua macam kesadaran
yaitu kolektip dan individual conciousness. Durkheim menyatakan ada dua sifat yang
dimiliki oleh kesadaran kolektif yaitu sifatnya yang exterior dan sifatnya yang
konstarint. Dengan demikian kesadarn kolektif itu adalah suatu konsensus
masyarakat yang mengatur hubungan sosial diantara masyarakat yang bersangkutan,
maka masyarakat adalah merupakan suatu yang lebih baik dari pada individu.
c. Karl Marx
Seorang pemikir dalam banyak bidang ilmu, mulai dari lapangan ekonomi
sampai kepada sosiologi. Karya buku yang berjudul On the differences between the
natural philoshopy of democritus and epicurus (1841), karyanya lagi “The Mesery of
philophy, The Poverty of philosophy”, sampai kepada Manifesto Komunis dan Das
Kapital. Keistimewan Marx sebenarnya, yang melihat adanya suatu pertikaian abadi
yang menandai sejarah perkembangan manusia.
d. Max Weber
Seseorang yang mengemukakan teori kapitalisme, sedangkan karya Weber
pada dasarnya adalah teori tentang proses rasionalisasi (Brubaker,1984; Kalberg,
1980,1990,1994). Weber melihat birokrasi (dan proses historis birokrasi) sebagai
contoh klasik rasionalisasi, tetapi mungkin contoh terbaik rasionalisasi dewasa ini
adalah restoran cepat saji (Ritzer, 2000a).Weber memasukkan diskusinya mengenai
proses birokratisasi ke dalam yang lebih luas tentang lembaga politik. Weber juga
membuat analisis rinci dan canggih tentang rasionalisasi fenomena seperti agama,
hukum, kota, dan bahkan musik.
21
e. Hegel
Dua konsep yang mencerminkan esensi filsafat Hegel adalah dialektika dan
idealisme.Hegel juga selalu dikaitkan dengan filsafat idealisme yang lebih
menekankan pentingnya pikiran dan produk mental ketimbang kehidupan
material.Hegel menawarkan sejenis teori evolusi tentang kehidupan dalam artian
idealistik. Mula-mula manusia hanya dibekali kemampuan panca indera untuk
memahami dunia di sekitar mereka.Hegel kemudian mengemukakan teori umum
tentang evolusi kehidupan adalah sebuah teori subjektif yang berpendirian bahwa
perubahan terjadi pada tingkat kesadaran. Perubahan sebagian besar terjadi di luar
kontrol aktor. Aktor diturunkan derajatnya ke tingkat seperti bejana yang
dihanyutkan oleh kesadaran yang tak terelakkan.
f. Herbert Spencer
Seorang filsuf Inggris dan seorang pemikir teori liberal klasik terkemuka.
Spencer membagi tiga aspek dalam proses evolusi, yaitu diferensiasi struktural,
spesialisasi fungsional, dan integrasi yang meningkat. Lalu, Spencer membagi
struktur, bagian, atau sistem yang timbul dalam evolusi masyarakat menjadi tiga,
yaitu:
Sistem penopang, berfungsi untuk mencukupi keperluan-keperluan bagi
ketahanan hidup anggota masyarakat.
Sistem pengatur, berfungsi untuk memelihara hubungan-hubungan dengan
masyarakat lainnya dan mengatur hubungan-hubungan yang terjadi di antara
anggotanya.
Sistem pembagi (distributif), berfungsi untuk mengankut barang-barang dari suatu
sistem ke sistem lainnya.
Tahap-tahap dalam proses evolusi sosial dengan tipe-tipe masyarakat, dibagi
oleh Spencer menjadi tiga bagian, yaitu:
Tipe masyarakat primitif.
Tipe masyarakat militant.
Tipe masyarakat industry.
22
g. Sigmund Freud
Seorang psikiater Austria dan pendiri aliran psikoanalisis dalam
psikologi.Konsep dari teori Freud yang paling terkenal adalah tentang adanya alam
bawah sadar yang mengendalikan sebagian besar perilaku. Selain itu, dia juga
memberikan pernyataan pada awalnya bahwa prilaku manusia didasari pada hasrat
seksualitas pada awalnya (eros) yang pada awalnya dirasakan oleh manusia semenjak
kecil dari ibunya.Pada tahun 1900, Freud menerbitkan sebuah buku yang menjadi
tonggak lahirnya aliran psikologi psikoanalisa. Buku tersebut berjudul Interpretation
of Dreams yang masih dikenal sampai hari ini. Dalam buku ini Freud
memperkenalkan konsep yang disebut “unconscious mind” (alam ketidaksadaran).
Selama periode 1901-1905 dia menerbitkan beberapa buku, tiga diantaranya adalah
The Psychopathology of Everyday Life (1901), Three Essays on Sexuality (1905),
danJokes and Their relation to the Unconscious (1905).
Freud dikenal sebagai seorang perokok berat yang akhirnya menyebabkan
dia terkena kanker pada tahun 1923 dan memaksanya untuk melakukan lebih dari 30
kali operasi selama kurang lebih 16 tahun. Pada tahun 1933, partai Nazy di Jerman
melakukan pembakaran terhadap buku-buku yang ditulis oleh Freud. Dan ketika
Jerman menginvasi Austria tahun 1938, Freud terpaksa melarikan diri ke Inggris dan
akhirnya meninggal di sana setahun kemudian.
Bagian ini mengenai tindakan, aktor, dan sistem, yang berisi tentang teori-teori
tindakan sosial, fungsionalisme dan teori sistem-sistem sosial, strukturalisme dan
postrukturalisme, teori jaringan aktor dan semiotika material, etnometodologi dan teori
sosial, serta teori pilihan rasional. Tokoh-tokoh pada teori-teori tindakan sosial,
fungsionalisme dan teori sistem-sistem sosial, strukturalisme dan postrukturalisme, teori
jaringan aktor dan semiotika material, etnometodologi dan teori sosial, serta teori
pilihan rasional salah satunya adalah Karl Marx. Tokoh-tokoh lain adalah sebagai
berikut:
h. Parsons
Talcott Parsons adalah seorang sosiolog yang cukup terkenal dengan
pemikiran-pemikirannya. Asumsi dasar dari Teori Fungsionalisme Struktural, yaitu
bahwa masyarakat terintegrasi atas dasar kesepakatan dari para anggotanya akan
nilai-nilai kemasyarakatan tertentu yang mempunyai kemampuan mengatasi
23
perbedaan-perbedaan sehingga masyarakat tersebut dipandang sebagai suatu sistem
yang secara fungsional terintegrasi dalam suatu keseimbangan.
Dengan demikian masyarakat adalah merupakan kumpulan sistem-sistem
sosial yang satu sama lain berhubungan dan saling ketergantungan. Dinyatakan
bahwa perkembangan masyarakat itu melewati empat proses perubahan struktural,
yaitu pembaharuan yang mengarah pada penyesuaian evolusinya Talcott Parsons
menghubungkannya dengan empat persyaratan fungsional di atas untuk menganalisis
proses perubahan.
i. Garfinkel
Harold Garfinkel adalah seorang Profesor Emeritus di University of
California, Los Angeles. Dia dikenal karena membangun dan mengembangkan teori
ini. Dalam bukunya Studies in Ethnomethodology (1984), untuk pertama kali di
tahun 1967, sebuah pendekatan baru yang berbeda dari pendekatan sosiologi biasa.
Perkembangan etnometodologi sebenarnya relatif baru bila dibandingkan dengan
pendekatan struktural fungsional dan interaksionis-simbolis yang sudah mapan.Bagi
Schutz, dunia sehari-hari merupakan dunia intersubjektif yang dimiliki bersama
orang lain dengan siapa kita berinteraksi.
Di sini terlihat teori Schutz, sangat mirip dengan interaksionis simbolis dari
George Herbert Mead, tetapi menurut Schutz dunia intersubyektif terdiri dari
realitas-realitas yang sangat berganda, yang mana realitas sehari-hari tampil sebagai
realitas yang utama. Schutz memberikan perhatiannya kepada dunia sehari-hari yang
merupakan common sense atau diambil begitu saja. Realitas seperti inilah yang kita
terima, dengan mengenyampingkan setiap keraguan.
j. Giddens
Anthony Giddens adalah seorang sosiolog kontemporer, lahir 18 Januari
1938 di Britain.Giddens memulai petualangan intelektual dengan menelaah
pemikiran tokoh-tokoh besar dalam sosiologi, Karl Marx, Emile Durkheim, serta
Max Weber. Hasilnya ia terbitkan sebagai buku, “Capitalism and Modern Social
Theory. An analysis of the Writings of Marx, Durkheim and Max Weber” (1971).
Setelah itu ia mengarahkan refleksinya ke berbagai pemikiran yang sudah menjadi
mazhab dewasa ini, seperti Fungsionalisme Talcott Parson, Interaksionisme Simbolis
Erving Goffman, Marxisme, Strukturalisme Ferdinand de Saussure dan Levi Strauss,
Post-Strukturalisme Michel Foucault, pemikiran Jacques Derrida, dsb.
24
Dan pada akhirnya Tahun 1984 karya Giddens mencapai puncaknya dengan
terbitnya buku the constitution of society outline of the theory of society, yang
merupakan pernyataan tunggal terpenting tentang perspektif teori Giddens.Giddens
mengatakan bahwa Obyek utama dari ilmu sosial bukanlah peran sosial (social role)
seperti dalam Fungsionalisme Talcot Parsons, bukan kode tersembunyi (hidden code)
seperti dalam Strukturalisme Claude Levi Strauss, bukan juga dari keunikan
situasional seperti dalam Interaksionisme Simbolis Erving Goffman.
Buku ini membahas mengenai perspektif-perspektif dalam analisis sosial dan
budaya, berisi pragmatism dan interaksionisme simbolik, fenomenologi, teori feminis,
teori sosial postmodern, konstruksi sosial, analisis percakapan sebagai teori sosial, serta
teori globalisasi.Ada beberapa istilah yang masih berkaitan dengan istilah postmodern,
yaitu postmodernitas, postmodernisme. Teori postmodern banyak memberikan kritik
atas realitas “manusia modern” yang terlalu dalam persepsi mereka.Sejauh yang terkait
pemikiran filsafat barat kontemporer secara periodik, ada beberapa aliran pemikiran
yang dominan yang semarak. Namun yang paling menonjol diantaranya ada tiga aliran:
k. Tipologi strukturalisme.
l. Post-marxisme.
m. Post-Strukturalisme.
Tokoh-tokoh pemikiran kriminologi aliran post-modernisme:
a. Jacques Lacan
Jacques Lacan (1900-1981), merupakan tokoh kunci dari perkembangan
analisis postmodern perancis.
b. Michel Foucault
Foucault sangat dikenal karena karya-karya kritisnya mengenai institusi
social peripheral (pinggiran), penjara, rumah sakit jiwa, kegilaan, ilmu-ilmu
kemanusiaan, dan sejarah seksualitas.
c. Lyotard
Jean Francois Lyotard adalah pemikir filsafat dan social Perancis yang
mulai meletakkan dasar argumentasi filosofis dalam diskursus postmodernisme.
Melalui bukunya yang telah menjadi klasik, the condition of postmodern: A Report
on knowledge (1984).
25
d. Jean Baudrillard
Menurut Baudrilland, perkembangan kapitalisme lanjut semenjak tahun
1920-an menunjukkan perubahan dramatis karakter produksi dan konsumsi dalam
masyarakat consumer. Dalam era ini, segala upaya pada penciptaan dan peningkatan
kapasitas konsumsi melalui permassalan produk, differensiasi produk dan
manajemen pemasaran.
e. Helene Cixous
Seiring dengan feminis Perancis seperti Luce Irigaray dan Julia Kristeva,
karya Cixous „mengacu pada tulisan-tulisan Jacques Lacan. Model Lacanian keluar
dari pekerjaan psikoanalis Sigmund Freud dan ahli bahasa struktural Perancis
Ferdinand de Saussure. Pentingnya rasi ini dari teori adalah minat dalam
menghubungkan bahasa, jiwa dan seksualitas. Feminis Perancis menemukan tulisan
Lacan untuk menjadi tanah untuk analisis dan sebuah situs untuk kritik.
f. Deleuze dan Guattari
Deleuze dan Guattari mengidentifikasi bawa negara sebagai subjek utama
penindasan manusia sebagai produk kapitalisme. Tujuan utama mereka adalah untuk
membebaskan realisasi keinginan manusia dari kendala buatan yang digunakan untuk
menundukkan kaum atasnya dengan hubungan sosial kapitalis dan teknik normalisasi
dominasi.
g. Roland Barthes
Barthes adalah salah satu teori terkemuka semiotika, studi tentang tanda-
tanda. Dia sering dianggap strukturalis, mengikuti pendekatan Saussure, tapi kadang-
kadang sebagai pascastrukturalis a. Sebuah tanda, dalam konteks ini, merujuk pada
sesuatu yang menyampaikan arti – misalnya, kata tertulis atau lisan, simbol atau
mitos.
h. Jacques Derrida
Derrida terutama dikenal sebagai pendukung utama dekonstruksi, sebuah
istilah yang merujuk pada strategi kritis yang menggugat konsep pembedaan atau
oposisi biner, yang melekat dalam sejarah pemikiran barat. Melalui dekonstruksi,
Derrida mencoba meletakkan kembali kedudukan struktur dalam keadaan aslinya,
yakni keadaan dimana relasi antara pusat pinggiran belum lagi mengeras.
26
Mengurai mengenai sosiologi dan ilmu-ilmu sosial yang berisi tentang genetika
dan teori sosial, sosiologi ekonomi, sosiologi kebudayaan, sosiologi historis, sosiologi
agama, demografi, studi teknologi dan sains: dari kontraversi ke teori sosial
posthumanis.Dalam abad sekular ini banyak pemeluk agama diliputi rasa cemas
mendengar pernyataan-pernyataan seperti “matinya Tuhan Allah”, dan “agama akan
punah”, atau “agama akan masuk museum”. Lalu akan lahir suatu masyarakat sekular
yang bersih dari segala unsure keagamaan.
Ramalan senada diucapkan oleh Comte, Bapak dari sosiologi modern ini
melihat agama dengan sudut pandang yang baru yakni Positivisme, sebagai konstruksi
pemikiran manusia mengenai perlunya menghubungkan dunia yang mengatasi alam
dengan dunia empiris ini untuk memuaskan kebutuhan manusia yang hidup dalam tahap
pemikiran tertentu. Tetapi hukum pemikiran itu sendiri yang berjalan dalam tiga tahap
(teologis, metafisik, dan positif) akan membawa agama ke dalam suatu zaman di mana
manusia secara radikal tidak membutuhkannya lagi. Dalam situasi demikian itu agama
akan lenyap dari masyarakat.
Jika dilihat dari sudut pandang sosiologis bahwa agama akan tetap lestari,
maka pernyataan tersebut bukanlah semacam ramalan yang disimpulkan dari silogisme
deduktif. Bukan, melainkan dari data-data pengalaman baik yang ditulis maupun yang
tidak ditulis atau dari pendengaran dan penglihatan banyak orang yang bukan ahli
sosiologi.Ramalan Marx hingga kini belum terbukti dan tidak pernah akan terbukti,
karena dasar argumentasinya sangat berat sebelah. Ia hanya bisa melihat masalah
kebutuhan manusia akan agama hanya dari satu sudut pandang saja, ialah dari segi
ekonomi sebagai faktor satu-satunya; dan ia menutup mata terhadap faktor-faktor lain
yang bukan ekonomi, misalnya naluri-naluri manusia yang tidak dipenuhi dengan nilai
ekonomi saja.
Membahas mengenai berbagai perkembangan terbaru yang berisi tentang
mobilitas dan teori sosial, teori sosiologi dan hak azasi manusia: dua logika satu dunia,
sosiologi tubuh, kosmopolitanisme dan teori sosial, serta masa depan teori sosial.Bab
terakhir mengetengahkan tentang masa depan teori sosial yang mana diperkirakan
masih akan terus berubah seiring dengan perkembangan dinamika kehidupan manusia
dan alam yang ditempatinya.
27
n. Mobilitas dan teori sosial
o. Teori sosiologi dan hak azasi manusia
p. Dua logika satu dunia
q. Sosiologi tubuh
r. Kosmopolitanisme dan teori sosial
s. Masa depan teori sosial
Yang penting dari sudut pandang itu adalah sebuah kesadaran metodologis,
bukan hanya untuk melihat dinamika masyarakat Indonesia sebagai aktor pelaku di
dalam sejarahnya, tetapi juga membangkitkan cakrawala karya sejarah sosial meliputi
seluruh daerah di Indonesia (tidak hanya Jawacentrisme). Pada sisi yang lain, sosiologi
sejarah harus mampu membuka “gudang-gudang” sumber data yang selama ini tertutup
rapat. Salah satunya adalah mitos, atau tradisi oral sebagai bagian dari pencitraan lokal
masyarakat. Semua sumber sejarah sosial harus diperlakukan sebagai item-item yang
mendukung penggambaran detail masyarakat, termasuk dimensi mentifact, atau
ideologi, simbol, cara berpikiri, perilaku, pandangan dunia, bahasa, agama, politik,
ekonomi, dll.
28
BAB VI
TEORI KRITIS : PERKEMBANGAN DAN RELEVANSINYA
TERHADAP PROBLEMATIKA DI ERA DISRUPSI
Latar Belakang Lahirnya Teori Kritis
Filsafat merupakan induk dari pengetahuan dan landasan berpikir keilmuan yang
menentukan cara berpikir. Secara epistemologi filsafat merupakan padanan kata falsafah
(bahasa Arab) dan philoshopy (bahasa Inggris) yang diadaptasi dari bahasa Yunani
philosophia, Kata philosophia sendiri terdiri dari dua kata utama yaitu philo yang berarti
sahabat atau kekasih dan shopi yang berarti kebijaksanaan, kearifan atau dapat pula berarti
pengetahuan.
Teori kritis di Jerman lebih dikenal sebagai madzhab Frankrut. Bila ditinjau dari
latar belakang pendiriannya institut tersebut didirikan dikarenakan kemenangan revolusi
Bolshevick serta kegagalan-kegagalan Revolusi di Eropa Tengah khususnya di Jerman.
Teori ini dalam perkembangannya lebih banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh utama
filosof pendahulunya yakni seperti George Hegel, Karl Marx, Sigmund Freaud dan
Imanuel Kant. Pengaruh tokoh-tokoh tersebut merupakan suatu hal yang wajar, karena
institusi tersebut pada awalnya didirikan bertujuan untuk melakukan penelitian-penelitian
mengenai masyarakat yang berdasarkan pada landasan Sosialisme dan Marxisme.
Tokoh-tokoh yang termasuk dalam mazhab Frankurt adalah Max Horkheimer
(1985-1973) dia menjadi direktur institut Für Zosialforschung (Lembaga Penelitian Sosial).
Tokoh yang kedua adalah Theodor Wiesengrund Adorno (1903-1969), Tokoh ketiga,
Herbert Marcuse (1989-1979), adalah figur yang paling terkenal terutama karena ide-
idenya memberikan inspirasi dan arah kepada gerakan “kiri baru” pada tahun 1960-an.
Freud Rush, Dkk Dalam bukunya yang berjudul The Cambridge Companion to Critical
Theory membagi perkembangan teori kritis menjadi tiga generasi utama yakni Max
Horkheimer, Friederich Pollack, Harbert Marcuse dan Theodor Adorno sebagai fase
pertama teori kritis, tokoh fase kedua dalam perkembangan dari teori kritis yakni Jurgen
Habermas yang kemudian dalam perkembangannya menjadi toko sentral pemikiran sosial,
politik dan filsafat di Eropa, Fase ketiga dalam perkembangan teori kritis ini diteruskan
oleh Axel Honne.
29
Adanya tiga generasi dalam perkembangan teori kritis ini menunjukkan bahwa
teori berjalan bukan hanya dalam kerangka teori belaka, namun juga terjadi dalam
praktiknya yakni dalam mengkritik teori kritis yang dikemukakan oleh generasi
sebelumnya. Hal ini juga mengisyaratkan bahwa teori kritis tidak dilahirkan berdasarkan
sifat monopolistik. Sifat yang dinamis dari teori kritis merupakan wujud dasar
perkembangan filsafat yang akan terus mengalami perubahan dan perkembangan sesuai
dengan kebutuhan atau kondisi di mana filsafat itu dilahirkan. Tujuan utama dari teori
kritis adalah untuk mengubah arah baru filsafat dan cara berpikir masyarakat modern.
Menurut teori kritis, filsafat bukan hanya harus menafsirkan dunia, namun juga harus
mempunyai praksis yang dapat berkontribusi dalam perubahan dunia kerah yang lebih
baik.
1. Max Horkheimer: Perspektif Sejarah dalam Memandang Ilmu Pengetahuan.
Pemikiran mengenai teori kritis yang dicetuskan oleh Horkheimer yang
merupakan seorang direktur institut sosial Frankurt ini, merupakan hasil pemikiran dan
pengamatan yang sangat panjang di tengah distorsi sosial yang menimpah masyarakat
Eropa dan Amerika. Horkheimer memandang bahwa kapitalisme dan sistem feodal
menciptakan dominasi terhadap individu. Selanjutnya Horkheimer memandang bahwa
dunia modern telah dirusak secara radikal oleh ilmu pengetahuan yang tidak terkendali
lagi. Dalam rangka menyelesaikan masalah tersebut, perlu adanya perubahan secara
masif di bidang teori dan praksis agar membawa perubahan-perubahan ke arah yang
lebih positif.
Walaupun Horkheimer menjadikan Marxisme sebagai landasan cara berfikir
kritis yang dimilikinya, sebagai aliran kiri baru dia memandang filsafat spekulatif yang
ditentang oleh Marxisme, masih diperlukan dalam menjamin keluarnya individu dari
keterbelungguan cara berpikir yang disebabkan oleh positivisme. Fakta yang harus
dibuktikan secara ilmiah dan teruji menurut aliran tradisional positivisme, masih
diyakini sebagai hal yang perlu, namun cara pandang historis juga harus dijadikan
sebagai pertimbangan cara berfikir yang relevan.
Bila melihat cara pandang Horkheimer di atas, dapat di abstraksikan bahwa
terdapat tiga karakteristik utama teori kritis yang dikemukakan olehnya. Pertama,
diarahkan sebagai suatu kepentingan fundamental untuk mengarah kepada perubahan
masyarakat. Selanjutnya, teori kritis harus berlandaskan kepada cara berfikir yang
bersifat historis. Terakhir, lahirnya teori kritis sebagai sebuah upaya pengembangan
cara berfikir komprehensif. Pemikiran – pemikiran tersebut berkembang di tengah
30
masyarakat yang terjebak dalam one dimensional man sebagai akibat berkembangnya
positivisme yang diarahkan kepada legitimasi personal para kapitalis.
2. Herbert Marcuse: Emansipatoris Masyarakat Industri
Marcuse lahir di Berlin pada tahun 1898, merupakan salah seorang guru filsafat
politik di San Diego, Universitas California. Dia bergabung dengan institut ilmu sosial
Frankurt di Jerman, namun menjelang Hitler berkuasa (1932) dia dan rekan-rekannya
mengungsi ke Amerika Serikat. Dia adalah orang yang paling lantang menyuarakan
tentang terjadinya dominasi yang dilakukan oleh teknokrat. Dominasi ini bukan hanya
terjadi dalam lingkup filsafat, dan ilmu pengetahuan namun mencakup semua rana
dalam kehidupan bermasyarakat.
Pemikiran yang dikemukakan Marcuse kemudian mengarah kepada usaha
untuk menjelaskan keterbelengguan manusia yang seharusnya bebas yang terjamin
dalam suatu sistem liberalis. Agak berbeda dengan cara pandang Horkheimer,Marcuse
melihat dominasi yang terjadi di zaman ini bukan lagi dilakukan olehsesama manusia,
namun hal-hal yang bersifat tidak diketahui atau anonim. Maksud dari anonim adalah
dominasi yang terjadi secara tidak langsung dan tidak sadar,kebenaran yang bersumber
dari positivisme yang kemudian melahirkan teknologi,mendominasi berbagai lini
kehidupan manusia. Dominasi ini menyebabkan terjadinya one dimensional man ke
arah pembenaran yang melegalkan suatu sistem. Marcuse kemudian menawarkan untuk
tidak menyerahkan kemanusiaannya kepada teknologi agar manusia bebas untuk
mencari eksistensinya sebagai individu sehingga dapat melahirkan kreativitas dan
inovasi-inovasi baru di segala lini kehidupan.
Terpenuhinya kebutuhan isi perut, memudahkan pekerjaan, bertambahnya
waktu libur, memanjakan mata, banyaknya hiburan sebagai dampak perkembangan
teknologi menyebabkan manusia menghilangkan unsur kritis yang ada dalam dirinya.
Mereka tidak menyadari bahwa apapun yang mereka lakukan masih dalam kontrol dari
teknologi. Adanya waktu luang yang kemudian dimanfaatkan dengan berlibur ke
destinasi wisata tertentu merupakan suatu kontrol yang tidak terlihat dari adanya
pengiklanan oleh media-media. Hal inilah yang menurut Marcuse menjadi penyebab
hilangnya kemampuan kritis dan cara berpikir negatif tentang masyarakat sehingga
totalitarian teknologi kokoh di puncak kejayaannya.
31
3. Friederich Pollack: A New Order
Pollack adalah seorang ekonom, sosiolog, dan filosof yang bergabung menjadi
anggota Institut Sosial Frankurt, Jerman. Sama halnya dengan anggota lain yang
tergabung dalam institut tersebut, Pollack juga menyoroti masyarakat yang terbelenggu
dengan paradigma positivisme. Menurut pandangannya kapitalisme yang pada abad ke
sembilan belas lahir sebagai upaya pembentukan a new order menggantikan feodalisme
telah gagal mengantarkan perubahan ke arah kemajuan dalam bidang sosial dan
ekonomi.
Pollack dalam artikelnya yang berjudul is Nationalism Socialism a New Order
yang termuat dalam jurnal Studies in Philosophy and Social Since meragukan sistem
kapitalisme yang dianggap sistem tatanan sosial baru yang berhasil menggantikan
sistem feodal yang telah lama mengakar dalam sendi kehidupan masyarakat.
Menurutnya kapitalisme yang dipandang sebagai new order gagal membawa suatu
perubahan signifikan disebabkan karena terjadinya dominasi antara masyarakat yang
seharusnya mempunyai kedudukan sama sehingga tatanan yang diimpikan yaitu tidak
adanya dominasi bisa cepat terwujud.
Kesangsian terhadap sistem kapitalisme yang seharusnya menjadi jalan keluar
terhadap permasalahan yang ditimbulkan oleh sistem tradisional feodalisme. Akibatnya,
Pollack kemudian menawarkan konsep baru sebagai solusi permasalahan yang
ditimbulkan oleh sistem kapitalisme. Konsep ini kemudian disebut sebagai Nationalism
Socialism yang menawarkan perspektif baru pembentukan a New Order menggunakan
landasan sosialis yang ditawarkan oleh pandangan The New Left.
32
BAB VII
TEORI KRITIS JURGEN HABERMAS
DAN THEODOR ADORNO
Secara geneologis, akar teori kritis bersumber dari bersumber dari pemikiran
dialektis Hegel dan Marx yang diramu secara sistematis oleh Horkheimer dan sejawatnya
di Institut Penelitian Sosial Frankfurt. Logika berfikir dialektis Hegelian merupakan
fondasi dan sarana utama untuk menganalisis perkembangan sejarah perdabaan manusia.
Teori kritis semakin berkembang seiring dengan tumbuhnya kapitaaisme Barat dan betul-
betul menjadi bahan diskusi dikalangan filsafat dan sosiologi pada tahun 1960-an. Teori
kritis menjadi pisau analisis yang cukup tajam dan berpengaruh untuk mengkritisi realitas
sosial-ekonomi di Eropa dan Amerika yang sedang mengalami kemajuan industrialisasi
yang ditopang dan dilanggengkan oleh aliran positivisme yang disebut Horkheimer sebagai
teori tradisional.
Di Eropa dan Amerika pada tahun 1960-an terjadi perubahan besar yakni “iklim
budaya” yang mendalam. Pasca Perang Dunia I, para mahasiswa sangat merasakan pasca
Perang Dunia I, mereka muak dengan masifnya kebudayaan yang hanya membanggakan
pembangunan fisik-materialistik, tetapi abai dengan aspek humanisme (nir- humanisme).
Dalam kondisi ini, teori kritis dan para mahasiswa kritis mendapatkan lahan suburnya.
Teori kritis dijadikan sebagai alat untuk menggugat praktik-praktik ketidakadilan
masyarakat industri yang sangat kapitalistik. Ekonomi pembangunan kapitalisme Barat
yang di langgengkan dengan teori positivisme-modernisime ternyata menimbulkan apa
yang disebut Marx sebagai kontradiksi- kontradiksi, dominasi, dan penindasan.
Dalam konteks ini, teori kritis hadir sebagai guding principle untuk revolusi
melawan estabilishment (kemapanan; baik kemapanan ekonomi kapitalisme maupun
kemapanan teori tradisonal). Dalam konteks ini teori kritis, sangat berwajah “aktivisme
revolusioner” teori kritik muncul sebagai koreksi terhadap aliran dan teori Marxian.
Sekelompok neo-marxian Jerman merasa tidak puas terhadap teori Marxian, terutama
tentang diterminisme ekonomi.
33
Teori kritis, meskipun dalam pemikirannya sangat radikal dalam arti ingin
menjungkirbalikkan struktur masyarakat yang dianggapnya telah membawa ketidakadilan
dan penindasan yang begitu sistematis, masif dan terstruktur, namun senyatanya tidak
menghendaki adanya kekerasan. Baginya (teori kritis), jalan kekerasan tidak
menyelesaikan masalah dan tidak menjadikan kondisi masyarakat lebih baik. Perjuangan
untuk mencapai keadilan tidak harus dengan kekerasan. Pada level ini, teori kritis berbeda
dengan teori Marx.15
1. Jurgen Habermas
Habermas lahir di Düsseldorf, Jerman pada tahun 1929. Ia belajar filsafat di
Universitas Göttingen dan Bonn. Ia bergabung dengan Institut Fur Sozialforschung pada
tahun 1956, yang di bawah kepemimpinan Adorno lima tahun kemudian. Didirikan
kembali. Dia berusia 27 tahun saat itu dan memulai karir akademisnya sebagai asisten
Theodor Adorno (filsuf terkenal di Institut Ilmu Sosial Jerman) dari tahun 1958 hingga
1959. Setelah berhasil menyelesaikan dan mempertahankan disertasinya yang berjudul
“Absolut dan Sejarah” (Das Absolut und die Geschichte), ia memperoleh gelar Ph.
Konflik antar sejarah.
Jürgen Habermas, lahir pada tahun 1929, adalah seorang pemikir kontemporer
yang berkomitmen untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar ini melalui dan
berdasarkan tradisi yang disebut teori kritis. Teori kritis dipahami sebagai “teori sosial
yang disusun dengan niat praktis”, yaitu tentang hakikat pengetahuan, struktur
penelitian sosial, dasar normatif interaksi sosial, dan tren ekonomi dan sosial budaya
pada masanya. Habermas juga dianggap sebagai ahli teori neo-Marxis, dan di awal
karirnya, ia berhubungan langsung dengan Mazab yang kritis. Meskipun ia telah
memberikan kontribusi penting pada teori kritis, ia telah menggabungkan teori Marxis
dengan banyak masukan teoretis lainnya selama bertahun-tahun, menghasilkan
serangkaian gagasan teoretis yang sangat unik.
Habermas adalah juru bicara paling berpengaruh dan berpengaruh dalam tradisi
sekolah Frankfurt saat ini. Dia melakukan penelitian paling khusus tentang janji
epistemologis teori kritis, yang tercermin dalam upayanya untuk mengembangkan lebih
lanjut pemikir- pemikir Madzab Frankfurt. Habermas tertarik untuk mendemonstrasikan
hubungan antara kekuasaan dan pengetahuan dengan menggambarkan “epistemologi
politik” (Mumby dalam Miller, 2002: 66). Teori Habermas mengungkapkan bahwa
34
beberapa pemikir berjanji untuk secara kritis merefleksikan kebutuhan epistemologis
dan etis dari keyakinan pribadi dan sosial mereka (Endres, 1996: 1).
Arah aksiologis yang demikian akan dapat memenuhi kebutuhan
perkembangan ilmu-ilmu sosial dan humaniora, khususnya humaniora memiliki
kesulitan metodologis yang khusus, meskipun juga telah diatasi, yaitu dalam humaniora
umum, khususnya filsafat, tidak ada “ metode” “. “Ini dapat mencegah kemungkinan
kesalahan “metodologis”, misalnya, jika dibandingkan dengan metode dalam sains
eksperimental dan statistik. Habermas jelas mengadopsi cara berpikir yang berbeda dari
pemikiran pencerahan tradisional sebagaimana dilakukan Kant, yang tidak menaruh
perhatian pada kepentingan individu yang khusus.
Grand theory Habermas berbicara tentang kolonisasi dunia kehidupan oleh
sistem dan hambatan untuk komunikasi yang bebas dan terbuka. Dunia kehidupan
adalah realitas komunikasi sehari-hari. Sistem berasal dari dunia biologis, tetapi
kemudian mengembangkan strukturnya sendiri, yang semakin terasing dan terpisah dari
dunia biologis. Meskipun ada isu-isu “ontologis” terkait dengan “kemustahilan” bahwa
peserta debat dapat sepenuhnya menghilangkan kepentingan mereka sendiri, pemikiran
kritis masih berbuah, mencoba membawa elemen pemikiran yang tak terlukiskan ke
dalam pertimbangan dan realitas wacana.
Namun bekal teori kritis terletak pada dimensi “metateory”, yang berbicara
tentang paradigma analitis dan kerangka kerja di balik praktik sosial. Banyak aspek
pemikiran Habermas yang belum terungkap, tetapi upaya telah dilakukan untuk
menggambarkan konstruksi dasar teori kritis dalam konteks ontologi dan epistemologi.
Terdapat beberapa masalah yang masih terbuka, termasuk tuduhan „inkonsistensi‟
Habermas terhadap „semangat emansipatoris‟ yang muncul dalam Between Facts and
Norms. Juga beberapa issue tentang globalisme dan identitas budaya. Untuk kajian yang
lebih suntuk, sungguh memerlukan ruang lain yang memadai.
35
2. Teodor adorno
Istilah industri budaya pertama kali diperkenalkan oleh Theodor Adorno dan
Max Horkhaimer, dalam tulusannya yang berjudul The CurturalIndustry (1944), Adorno
menjelaskan bahwa produksi budaya ditandai oleh beberapa karakteristik, yaitu
standarisasi, massifikasi dan komodifikasi. Dengan menggunakan konsep industri
budaya, Adorno sebenarnya ingin menekankan bahwa budaya yang diproduksi secara
massif dan standard bukanlah berasal dari eskpresi kultural rakyat kebanyakan, tetapi
produk dari industri semata. Industri budaya telah menyatukan „yang lama‟ dengan
„yang familiar‟ ke dalam satu kualitas baru berupa produk industri.
Produk-produk tersebut memang diciptakan untuk kepentingan konsumsi
massa yang dalam banyak hal menentukan asal-muasal konsumsi tersebut sehingga
diciptakan dengan perencanaan yang strategis dalam hitungan bisnis. Secara bersamaan,
media dipahami memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi realitas. Publikasi media
yang massif melaluifilm, radio, dan majalah dinilai mampu menetapkan standarisasi
produksi budaya. Hal tersebut agaknya menjadi dasar para pemodal memanipulasi
kebutuhan massa melalui industrialisasi budaya.
Dengan demikian, secara tidak disadari,khalayak telah dimanipulasi dan
dipaksa untuk membutuhkan dan berusaha memilikibudaya yang serupa, bagaimanapun
kondisi mereka. Lebih lanjut, penulis melihat bahwa industri budaya oleh media massa
merupakan konsekuensi logis dari sebuah media yang hidup di sistem kapitalis, dimana
setiap media dituntut pemiliknya untuk memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan
biaya produksi. Media-media massa di Indonesia sendiri, hampir sebagian besar berada
dalam sistem kapitalis. Maka tidak lagi mengherankan, jika para pengguna media di
Indonesia tak jarang yang terpengaruh dengan budaya-budaya baru dan spontan
produksi media.
Industrialisasi dan komodifikasi budaya dalam praktik publisitas media massa
dengan tujuan komersil, telah merampas subjektivitas individu sebagai konsumen aktif.
Singkatnya, masyarakat sebagai konsumen tidak lagi memperhatikan komoditas dari
kualitas, nilai guna dan mutu, melainkan lebihkepada iklan yang impresif dan
menyentuh. Dengan kata lain, konsumen sebenarnya tidak membeli produk, tetapi
membeli citra atas produk yang diiklankan.
28
BAB VIII
ANALISIS IMPLEMENTASI PENDIDIKANKARAKTER
DALAM KONTEKS PENDIDIKAN UMUM
MENURUT KAJIAN TEORI KRITIS
JURGEN HABERMAS
Dalam konteks perkembangan sosial, kebenaran sering diukur dengan instrumen
sains. Padahal menurut Husserl sebagian besar sains telah kehilangan signifikansinya bagi
kehidupan manusia karena ia tidak dapat mempertahankan hubungan antara kebenaran
sains dan kebenaran 'kehidupan praktis'. Dunia sains, walaupun penuh dengan kebenaran
karakter yang absolut dan abadi, tidak dapat menyapa manusia dalam diri manusia
„Lebenswell‟ (atau dunia kehidupan) karena perspektif sains adalah obyektif dan bebas
nilai sedangkan perspektif manusia adalah subjektif dan sarat nilai. Hasilnya adalah
hubungan yang tidak pasti antara aktivitas ilmiah manusia dan aktivitas manusia dalam
mengejar kepentingan praktis. Ini juga menghasilkan devaluasi ranah manusia subyektif
karena ranah itu tidak dapat menghasilkan pengetahuan nomologis (Howard, 1992).
Selain itu, pendekatan Idealis untuk pendidikan umum adalah melakukan asumsi
epistemologis mengenai kebenaran dan kondisi untuk validasinya. Sumbernya adalah
trancendental, atau setidaknya di luar cengkeraman duniawi dan kondisi untuk validasinya
cenderung didasarkan pada koherensi yang ideal. Koherensi logis adalah penengah akhir
dari proposisi untuk kaum Idealis, dan tidak tergantung pada penilaian manusia sejauh itu
merupakan syarat untuk penilaian manusia (Howard, 1992).
Dari sudut pandang teori kritis, sains 'bebas nilai' itu sendiri merupakan produk
dari suatu nilai: kontrol dan dominasi dunia alami (Horkheimer, 1972 dan 1974).
Keberhasilan sains modern dan khususnya teknologi modern, dalam pandangan para
pemikir Frankfurt School seperti Hoerkeimer (1972) cenderung membanjiri akal manusia
dengan kemungkinan penguasaan alam yang tidak tertandingi. Itulah kekuatan alasan
instrumental yang dapat memadamkan alasan kritis, dan karenanya menjadikan dirinya
sebagai standar tunggal untuk rasionalitas.
Teori kritis bercita-cita untuk membawa subjek sendiri ke kesadaran diri penuh
dari kontradiksi yang tersirat dalam keberadaan material mereka, untuk menembus
mistifikasi ideologis dan bentuk-bentuk kesadaran palsu yang menghancurkan makna
kondisi sosial yang ada. Ahli teori kritis melihat perbedaan antara teori dan tindakan yang
diterima oleh pendukung teori tradisional, sebagai dirinya sendiri dan refleksi ideologis
29
dari masyarakat di mana 'teori' hanya berfungsi untuk menumbuhkan status quo (Bernstein
1978).
Dalam pengetahuan dan kepentingan manusia (1971), Habermas berusaha untuk
membumikan teori kritis sosial dalam kepentingan kognitif manusia. Penting untuk dicatat
bahwa Hubermas tidak merendahkan klaim pengetahuan dari setiap kepentingan manusia.
Dia hanya berargumen bahwa klaim sains analitik empiris bukan satu-satunya klaim yang
memiliki legitimasi, dan bahwa mereka tidak boleh dianggap sebagai model untuk semua
jenis pengetahuan lainnya. Perbedaan antara apa yang ia sebut aksi atau interaksi
'purposive-rasional' dan interaksi atau 'aksi komunikatif' adalah yang kritis.
Klaim sains analitik-empiris divalidasi melalui metode ilmiah dan semua aturan
teknis yang menyiratkan metode ilmiah, sementara klaim sains hermeneutik historis
divalidasi melalui kesepakatan konsensus norma intersubjektif. Kritik terhadap
pengetahuan membutuhkan tematisasi kepentingan yang mendasari berbagai bentuk
penyelidikan, kritik terhadap kesadaran moral-praktis menuntut menanyakan apa yang
harus kita ketahui, dan ini bergantung pada apa yang bisa kita ketahui. Alasan teoretis dan
praktis terkait erat; mereka adalah momen-momen rasionalitas komprehensif yang
perkembangannya koheren menandakan perkembangan kehendak rasional (McCarthy,
1978).
Dengan demikian, implementasi pendidikan karakter dalam konteks pendidikan
umum menurut kacamata teori kritis Jurgen Hubermas harus mengikuti beberapa prinsip
dari jumlah 14 (empat belas) antara lain:
1) Terdapat hubungan epistemologis yang tidak terhindarkan antara pengetahuan dan
kepentingan manusia, antara fakta dan nilai, antara praktik dan teori
2) Teori kritis memiliki kepentingan mendasar dalam membawa pada kesadaran eksplisit
ketegangan antara apa yang seharusnya
3) Ilmu analitik empiris hanyalah salah satu cara untuk menghubungkan kepentingan
manusia dengan pengetahuan
4) Kebenaran suatu pernyataan tergantung pada kesepakatan potensial dari semua yang
lain.
30
Teori kritis pendidikan umum didasarkan pada proses komunikatif itu sendiri.
Dengan menerapkan teori Habermas tentang kompetensi komunikatif pada proses
komunikatif yang mengartikulasikan pendidikan umum, dimungkinkan untuk secara
filosofis melampaui ideologis langsung yang dapat dinilai oleh program-program semacam
itu. Ada tiga aplikasi tingkat untuk teori Habermas: tingkat awal ponseptualisasi dan
perencanaan, di mana program generasi tertentu diartikulasikan, tingkat implementasi dan
pemeliharaan melalui mana rencana pendidikan umum adalah dan disesuaikan dengan
keadaan kehidupan akademik yang tidak terduga, dan tingkat pedagogis di mana program
disampaikan siswa di kelas. Teori kompetensi komunikatif berlaku untuk ketiga level
aplikasi dan sejauh mana komunikasi di ketiga level tersebut memenuhi kriteria teori
Habermas 'mengukur sejauh mana program yang disusun dengan demikian adalah sah
(Howard, 1992).
Sifat sangat kritis dari teori kompetensi komunikatif Habermas mungkin dapat
dilihat dengan menyempurnakan analogi antara psikoanalisis dan kritik. Dalam
Pengetahuan dan Kepentingan Manusia (1971), Habermas menarik analogi yang sangat
selektif antara teori kritis dan psikoanalisis di mana ia berusaha menunjukkan bahwa
tujuan masingmasing adalah pemahaman diri melalui refleksi diri. Psikoanalis berusaha
tidak hanya untuk menembus pemahaman diri pasien, tetapi juga untuk menggerakkan
pasien untuk mengingat kembali dan merekonstruksi pemahaman dirinya sendiri.
Analisis ini tidak dapat melakukan untuk pasien seperti halnya pasien dapat
melakukannya untuk dirinya sendiri dengan menghadiri kuliah dan membaca buku tentang
psikoanalisis. Tidak cukup untuk menggambarkan pemahaman diri yang terdistorsi, pasien
harus menginternalisasi wawasan dengan melembagakan dan melanggengkan proses
refleksi diri. Pasien 'sembuh' sejauh ia mempertahankan kebiasaan refleksi diri seperti itu
dan membawanya melalui pengalaman masa depannya. Tujuan dari analogi ini adalah
untuk menunjukkan bagaimana kritik terhadap ideologi tergantung pada proses refleksi diri
semacam itu. Analogi yang sama berlaku untuk pendidikan umum di ketiga tingkatan
aplikasi.
Dalam analisis akhir, sebagaimana dikatakan Habermas,kondisi untuk wacana
ideal identik dengan kondisi untuk bentuk kehidupan ideal, dan kondisi untuk reformasi
kurikuler ideal identik dengan kondisi untuk pengajaran dan pembelajaran yang efektif
dalam konteks pendidikan umum,mereka termasuk konseptualisasi linguistik dari ide-ide
tradisional kebebasan dan keadilan. "Kebenaran," karena itu, tidak dapat dianalisis secara
independen dari "kebebasan" dan "keadilan" (Habermas, 1975). Dengan kata lain, komite
31
artikulasi harus menciptakan di antara mereka sendiri lingkungan yang mereka harapkan
untuk diperluas ke seluruh universitas - jika mereka tidak dapat melakukan itu, proyek
reformasi pasti akan gagal. Mungkin ada orang-orang di komite ini yang menginginkannya
gagal, dan jika itu masalahnya, mereka harus dikonversi atau dinetralkan oleh kekuatan
konsensus rasional.
Hal yang harus diingat, mahasiswa bukan sekadar wadah pasif tempat deposito
dibuat untuk penarikan di kemudian hari. Pikiran mereka juga bukan semacam otot yang
membutuhkan disiplin dan pelatihan. Para siswa memiliki martabat yang melekat, mereka
memiliki hak yang sama dengan tindakan berbicara bebas seperti peserta lain dalam
wacana komunikatif, dan mereka sering memberikan kontribusi penting untuk proses
pembentukan kehendak diskursif. Karena setiap generasi harus menegaskan kembali
hubungan dengan yang benar dan adil, dan karena setiap generasi mahasiswa tampaknya
lebih heterogen daripada yang terakhir, pendidikan umum harus dilihat sebagai kontribusi
yang berharga untuk proses ini (Howard, 1992).
32
DAFTAR PUSTAKA
Bryan S. Turner. (2012). Teori Sosial dari Klasik sampai Postmodern. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Budi Hardiman,Fransisco.(2004).Kritik Ideologi: Menyingkap Kepentingan Pengetahuan
Bersama Jurgen Habermas.Yogyakarta: Buku Baik.
Dahliyana,Asep, Syamsu Rizal,Ahmad, dan Syarief Nurdin,Ancep.(2020).ANALISIS
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KONTEKS PENDIDIKAN
UMUM MENURUT KAJIAN TEORI KRITIS JURGEN HABERMAS.Jurnal Visi
Ilmu Pendidikan, Vol.12,No.2,90-99
Haryanto,Sindung.(2012).Spektrum Teori Sosial : Dari Klasik Hingga
Postmodern.Yogyakarta:Ar-Ruzz Media
Iwan.(2014).Menelaah Teori Kritis Jurgen Habermas.Jurnal Edueksos, Vol.1, No1.
Magniz Suseno,Franz.(2010).Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, Kanisius: Yogyakarta.
Nasiwan, dkk.(2016).Seri Teori-teori Sosial Indonesia.Yogyakarta:Indonesia UNY Press.
Sholahudin,Umar.(2020). Membedah Teori Kritis Mazhab Frankfurt : Sejarah Asumsi dan
Kontribusinya Terhadap Perkembangan Teori Ilmu Sosial.Journal of Urban
Sociology, Vol.2, No.1.l
Sosiologi.com.(2018).Teori Kritis. https://sosiologis.com/teori-kritis. Diakses pada tanggal
31 Desember 2021
Sudrajat, Irvan Tasnur dan Ajat.(2020). Teori Kritis Perkembangan dan Relevansinya
Terhadap Problematika di Era Disrupsi.Jurnal Yaqzhan.
Suryani,Anis.(2009).Hegemoni Elit Membangun Gerakan Sosial (Studi Kasus pada
Masyarakat Desa Sekitar Pertambangan Galian C di Desa Manyaran Kecamatan
Banyakan Kabupaten Kediri).Diakses pada tanggal 30 Desember 2021
Tasnur,Irvan, dan Sudrajat, Ajat.(2020).TEORI KRITIS: PERKEMBANGAN DAN
RELEVANSINYA TERHADAP PROBLEMATIKA DI ERA DISRUPSI.Jurnal
Yaqzhan. Vol.6, No.1, 34-50.
Tjahyadi,Sidung.(2017).Teori Sosial Dalam Perspektif Teori Kritis Max Horkheimer.
Jurnal Filsafat, Vol.17, No.1
Wikipedia.org.(2020).Teori Kritis. https://id.wikipedia.org/wiki/Teori_kritis. Diakses pada
tanggal 31 Desember 2021
33
rabaya
34