1
2 BANDUNG Karya tulis ini dibuat untuk melengkapi tugas akhir belajar.
3 Karya Eufrasia Clarie Djuwanta Kelas 6B SD.St Agustinus Tahun Ajaran 2023-2024
4 1 Bandung, dan Seisinya Bandung, kota dimana setiap bangku taman menyimpan beribu cerita. Hari demi hari ku lewati di Bandung seperti biasanya. Tapi lagi dan lagi Bandung yang dingin ingin membawaku menangis bersamanya. Aku merasa kasihan kepada Bandung dan seisinya yang harus menemani ku menangis lagi. Dibalkon apartemen terlihat gadis yang duduk meringkuk. Hanya ada dia, hewan peliharaannya dan langit malam yang begitu mengerikan baginya. Matanya yang buram akibat bulir-bulir air mata. “Kalau semua adil, terus kenapa gue harus nangis dengan alasan yang sama?" Malam demi malam ia hancur perlahanlahan akibat ekspetasi orang-orang terdekatnya. Memang tak bisa disangkal semua orang tak bisa lepas dari harapan. Woof! Woof! Suara anjing Caitlyn seolah memberi tahu bahwa ada seseorang di balkon apartemen sebelahnya.
5 “Eh ada cewe ehehehe, kudanil ngelahirinnya gimana ya? Blegug ih, apa sih, gak jelas ahahaha” Caitlyn langsung memutar balikkan kepala dan badannya untuk melihat sebenarnya siapa orang yang menjadi tetangganya itu. Caitlyn rasa lelaki itu sedang mabuk, dilihat dari tingkah lakunya dan omongannya yang melantur. Dan sayangnya rencana untuk dia menangis kali ini gagal. “Siapa lo?” Bodohnya Caitlyn malah mengajak lelaki mabuk itu berbicara. “Ujang ahahaha… canda … lo siapaa sihh” Jawab lelaki itu dengan nyengir. Sedari tadi dia ternyata sudah memandangi Caitlyn yang meringkuk dari jendela kamarnya. “Mabuk boleh, bego jangan deh kata gue mah” Ucap Caitlyn, yang sebenarnya ingin tertawa karena humornya yang juga receh. Lelaki itu ternyata harus ambruk tepat dibalkon kamarnya. Memang sedari tadi Caitlyn juga sudah mendengar suara bising dari kamar lelaki itu. Apalagi terdengan lagu Sheila on
6 Seven dengan judul Kita. “Balik aja yuk sayang” Ucap Caitlyn kepada anjing dengan ras jerman shepherd itu. __ Semua orang tak pernah luput dari kesialan, entah sengaja atau tidak. Kecerobohan pasti terjadi mau seperfeksionis apapun, sebab belum ada manusia yang sesempurna itu. Tapi lelaki bernama Raga ini selalu saja mendapat kesialan. Nyaris setiap hari ada saja hal bodoh yang ia dapat. Setiap kebodohan dihidupnya pasti ia akan ceritakan ke empat temannya, yang gak kelewat bodoh. “Aslinya kemarin aing teh geus ngantuk pisan, eh tiba-tiba naluri teh pengen ke balkon. Duar aih teh kaget ngeliat cewe geulis pisan” Ucap Raga seperti sedang mendongeng didepan anak kecil. “Can’t you stop use aing jeung maneh? So annoying” Respons Dika, lelaki dengan rambut ikal. Asli Jakarta dan sudah tinggal di Bandung hampir empat tahun tapi tak terbiasa berbahasa sunda.
7 “Udah diem lo pada, lanjut Rag aing penasaran.” Ujar lelaki bernama Radit, laki-laki dengan postur tubuh yang atletis. Hobinya berenang, tak heran menjadi seperti lada hitam alias hitam karena kolam renang outdoor. “Ya gitu deh, btw bukannya dia jurusan hukum ya dikampus kita?’ Balas Raga. “Iya, katanya dia juga primadonanya kampus, udah cantik, pinter, bapak sama emaknya kaya banget tuh katanya.” Jawab Varen si intel yang kepo banget urusan orang lain. Kalau boleh dia harus tau semua rahasia dunia. “Kenapa lo, suka?” sambung Varen “Dih apaan, emang namanya siapa sih … hehe” Ucap Raga cengengesan. “Yaelaaah, bilang aja sih kalo suka mah, Caitlyn namanya, gue juga ada nomornya nih, lo mau?” Tanya Gilang, sebelas dua belas sama Varen, keponya bikin orang kesel. Tiap hari kerjaannya cuma nyerocos. “Mau lah, kapan lagi aing deketin cewe. Udah dua tahun nih jomblo”
8 “Tuh ya, gua kirim di wa, by the way, gua, Dika, Varen, sama Radit cabut duluan ye” Ucap Gilang, karena Raga satu-satunya jurusan yang berbeda dengan mereka. Kini waktu sudah menunjukan pukul empat sore, Raga sudah membuat janji dengan hewan peliharaannya untuk memandikannya. Sebelum pulang, ia menghampiri warung andalannya untuk berpamit dengan keempat temannya. “Sial!” umpatnya, lelaki itu tak menemukan anjing kesayangannya dikamar, ini adalah salahnya ia lupa menutup balkon tadi pagi saat selesai mencuci bajunya. Raga sudah memikirkan yang tidak-tidak dengan nasib anjingnya itu, ia berburuk sangka bahwa mungkin saja anjing itu sudah melompat dan mati” Woof! Woof! Woof! “Sialan! Lo ngapain disitu sih nyet!” Teriak Raga karena telah melihat anjing itu berada di balkon tetangganya. Entah kesialan apa lagi yang akan menimpa dia selanjutnya. Ia
9 sudah cukup lelah dengan kesialan yang ia dapat hampir setiap hari. “Sini ya dim, iya ayo kesini dim” Raga berusaha agar anjing bernama Dimas itu melompat dari balkon sebelah. Di sisi lain terdengar suara bising orang yang sedang teriak-teriak diluar kamar Caitlyn, ia begitu terganggu, sedari tadi tugas lukisan dia tak kunjung jadi karena tidak bisa fokus dengan suara bising diluar. Ia kesal dan memutuskan melihat apa yang sedang terjadi. “ANJING SIAPA INI WOI?” Teriak Caitlyn karena melihat anjing berwarna putih dengan corak coklat yang tiba-tiba ada di balkon kamarnya. “Hehe, maaf ya anjing gue tadi lompat kesono” Jawab Raga dengan cengengesan dan menggaruk kepala nya yang tak gatal karena merasa bersalah terus mengganggu perempuan itu. “Gak mau, buat gue aja anjingnya ehehehe bersyandaaa” Caitlyn memperlihatkan giginya di depan lelaki itu karena candaan yang
10 ia buat sendiri. “Jadi gimana? gue anterin aja ya” Lanjutnya Tok! Tok! Tok “Ini! Lain kali jangan ganggu gue lagi, by the way lo Bragaska Kitorama kan? Salam kenal ya Caitlyn teman kampus lo!” Gadis itu menjulurkan tangannya yang ramai dengan coretan cat hasil melukis. “Iya, sorry ngerepotin!” Lelaki itu mengukir senyum dibibirnya dan membalas juluran tangan itu. Raga memang mempunyai banyak mantan, tapi itu sudah hampir tiga tahun lalu saat ia baru saja lulus sekolah menengah atas. Sedari dulu Raga memang cukup aktif di non-akademik terutama prestasi yang bagus di olahraga sepak bola membuatnya lebih dikenal. Tampangnya juga tidak pas-pas an, bisa dibilang ia memiliki tubuh tinggi atletis dan wajah yang cukup. Ke duanya sudah kembali dengan kesibukannya sendiri, tapi sejak tadi Raga tak kunjung memandikan Dimas, ia justru bertanyatanya mengapa Caitlyn justru mengajaknya
11 berkenalan, padahal sudah banyak rumor buruk yang tersebar di kampus tentang dirinya, dan mungkin saja Caitlyn telah mengetahui hal itu. “Raga! Udah tidur?” Teriak Caitlyn dari balkon kamarnya. Langkah kaki terdengar begitu jelas menuju balkon. “Belum, kenapa? Kangen ya” Lelaki itu tertawa ia geli dengan kata-kata yang ia buat. “Malas banget kangen sama orang kaya lo! Bentukannya aja aneh! Mending gue tidur!” Caitlyn melihatkan wajah gelinya kepada Raga karena kata-katanya yang nyeleneh dan ia bergegas masuk ke kamar. Ketika kamu lelah, apakah rumah menjadi tempat terbaik mu? Atau itu justru pilihan terburuk, biasanya rumah adalah tempat di mana kamu menyimpan rasa lelah kan? Tapi kalau itu justru menjadi ancaman bagaimana? Karena menurut Caitlyn rumah bisa berbentuk apapun, entah benda, orang, ataupun bangunan. Apakah kamu telah menemukan rumahmu? Memang bukan tentang ancaman pembunuhan, tapi perlahan lahan akan
12 membunuh, Caitlyn tidak seberani itu untuk mengeluh kepada ibunya, karena yang mungkin ia dapat hanya makian. Lahir didalam keluarga yang begitu mementingkan reputasi sangat membuat ia tertekan. Caitlyn benci akan reputasi dan sosial media, ia harus tetap tersenyum dan memperlihatkan fakta yang tidak benar kepada semua orang. Apakah dia baik-baik saja? Tidak. Beberapa tahun lalu, ia pernah ribut besar bersama keluarganya, awal permasalahan ini karena Calie kakak Caitlyn. Iri dan dengki terus bertumbuh di antara Calie dan Caitlyn seiring berjalannya waktu, Calie adalah anak kesayangan kedua orang tua mereka, ia dimanja, dan begitu disayang. Carol ibunya begitu menyukai anak yang penurut dan itu mencerminkan Calie. Di tahun 2020 akhir keributan besar terjadi. Bermunculan rumor di mana-mana bahwa Calie terlihat berkencan dengan buronan kelas kakap. Tapi ia terus membela dirinya. Ia mengatakan bahwa Caitlyn membuat ia mabuk untuk membuat rumor tentang Calie. Carol ibunya geram dan kesal, reputasi keluarganya hancur saat itu. Diumurnya yang baru menginjak lima belas tahun ia sudah mendapat makian dari banyaknya orang. Ia hancur saat itu, tapi ia tau dia masih sekuat itu
13 untuk bisa bangun kembali. Ia memutuskan untuk tinggal sendiri dan pindah ke apartemen sejak sekolah menengah pertama. Ia lelah, tapi tak cukup hanya dengan istirahat kan? Lamunan Caitlyn dibuyarkan karena suara ketukan pintu yang baru ia dengar, padahal sudah tiga kali pintu itu diketuk. “Hai, sibuk gak?” Suara laki-laki yang sudah beberapa kali Caitlyn dengar itu membuatnya muak, ditengah-tengah lamunannya tiba-tiba ada lelaki yang menganggunya. “Mau ngapain sih lo? Heran banget gue” Caitlyn memutar bola matanya, ia malas sekali malam-malam begini harusnya ia menikmati langit sambil memikirkan berbagai macam hal, tapi karena satu laki-laki ini ia harus beranjak dari kasurnya. “Gak kenapa napa. Cuma ngetes doang hidup atau engga” Raga berjalan kembali ke unit kamarnya dengan santai. “Aneh lo!” Teriak Caitlyn, Ia langsung membanting pintu kamarnya rapat-rapat. Ia
14 kesal kenapa ada laki-laki semenyebalkan Bragaska Kitorama. Belum sempat Raga masuk ke kamarnya, ia malah menghampiri unit pintu kamar Caitlyn dan berkata sambil berteriak juga disitu “Cantik, cantik kok galak sih neng?” Teriak Raga pada pintu Caitlyn mengajak anjingnya yang bernama Browny itu untuk naik dikasurnya dan menemani ia tidur. Ia senang hari ini karena bertemu dengan lelaki seperti Raga. Tetapi kesenangan Caitlyn masih belum bisa mengalahkan kekecawaan Caitlyn. Masih tak bisa dipungkiri ia begitu kecewa dengan kedua orang tua dan kakaknya. Ia sakit hati, sangat dalam. Caitlyn frustasi, ketika frustasi Caitlyn tidak menghisap rokok atau mabuk, ia masih cukup sadar. Biasanya ia akan mendengarkan lagu, atau membuat cerita didalam hatinya, itu cukup membuat dirinya tertidur lelap daripada ia harus menangis kan?
15 2 Braga, Temani Aku Malam Ini Sedari kecil Caitlyn memang lebih akrab dengan pengasuhnya. Ia sudah terlatih menjadi mandiri semenjak dirinya menginjak umur sebelas tahun. Contohnya, beberapa kali ia membenarkan ban motornya, sewaktu-waktu ia membenarkan kran air rusak di apartemennya, dan terkadang ia berjualan disekolahnya untuk mendapat barang yang ia inginkan, Caitlyn memang mau tidak mau harus bisa melakukannya sendiri. Kata bibi anak bungsu memang harus mandiri, agar tidak bergantung kepada siapapun. Bibi itu sosok yang baik, periang, dan humoris dimatanya. Sebenarnya ia juga tak merasa keberatan harus melakukan segala sesuatu sendiri, tapi ia ingin sesekali merasakan apa itu adil. Di mata Carolibu kandung Caitlyn- kakanya itu lebih pantas mendapat fasilitas mewah karena perilaku seperti anjing yang begitu menurut kepada pemiliknya. Malam ini perut Caitlyn terasa bergelitik, entah apa yang ia rasakan. Ketika jam di nakasnya menunjukan pukul sebelas malam dan satu
16 pesan dari orang tak dikenal masuk ke ponselnya.
17 Caitlyn merasa bingung sekarang. Sebenarnya apa yang lelaki itu inginkan di benaknya. Caitlyn memutuskan meninggalkan tugas-tugasnya dan mengganti baju seadanya. Tangannya sempat mengetikan sesuatu di ponsel, ia bertanya kepada temanya-Gisel, Ciri-ciri cowok suka gimana si Sel? Tapi nahasnya pesannya tak kunjung dibalas sampai bel apartemen Caitlyn berbunyi di pukul sebelas lebih tiga puluh menit. Caitlyn pun segera meraih tas dan jaket lalu membuka pintu unitnya. “Kemana?” Tanya Caitlyn “Ayo, ke Braga” “Serius? Naik apa? Emang gak jauh ya? Lama gak? Sepi?” Caitlyn terus menerus melontarkan pertanyaan selama menuju lift apartemen, karena sudah hampir tiga bulan lalu ia tidak mengelilingi Bandung di malam hari. Ting! Pintu lift terbuka, Raga melihat ke arah Caitlyn dan memberikan kode agar dia bisa keluar lebih dulu, tapi perempuan itu
18 menggeleng dan menyuruh Raga keluar lebih dulu. Raga sudah berdiri di luar sambil menggerakan kaca spionnya. Mau tidak mau Caitlyn mendekati Raga dan menendang tengkuk lututnya pelan. “Ngapain sih kita ke Braga?” Caitlyn bertanya saat Raga menoleh ke arahnya. Raga mengangkat bahunya. “Ya pengen aja, lagian jarang kan lo jalan-jalan gini?” Caitlyn kesal, karena yang dikatakan Raga memang fakta, ia tak sempat untuk jalanjalan atau menikmati hidupnya sesekali. “Iyain aja” Kata Caitlyn singkat. Malam itu, Raga nekat membonceng Sera yang duduk di belakang motor Kawasaki W175 hitamnya menyusuri jalanan Kota Bandung yang masih cukup ramai. Jalanan demi jalanan, Raga membawa Caitlyn memutari kota tanpa tujuan yang jelas mengapa mengajak perempuan itu. Motor itu akhirnya berhenti tepat di depan toko yang sudah tutup dengan bangku di depannya. “Sini turun” kata lelaki itu.
19 “Kita ngapain? Diem aja?” “Turun aja dulu.” Raga menarik jaket Caitlyn dan menyuruhnya duduk di bangku itu bersamanya. Tidak ada tujuan yang jelas mengapa lelaki itu mengajaknya kesini. “Bagus gak sih langitnya?” tanya Raga. “Bagus, untung ada bintang” kata Caitlyn. “Kenapa, kalau ada bintang?” “Berarti gak bakal hujan.” “Sini ikut gue, tas nya lo masukin aja ke jaket, takut di copet. Kata Raga waspada karena beberapa tahun lalu tas yang ia pakai dicuri. “Lo mau ke mana lagi?” tanya Caitlyn. “Jalan-jalan aja” jawab Raga sambil mengambil permen dari saku celananya. “Mau gak?” tanyanya. “Mau, sini in” Caitlyn langsung menarik permen itu dan membukanya. Sekarang pikiran
20 Caitlyn campur aduk, sebenarnya apa yang lelaki ini lakukan. Mereka pun melewati satu per satu toko yang tutup di jalanan. Caitlyn menikmati bagaimana sepi dan sunyinya malam itu. Mereka tak banyak mengobrol, Raga sibuk menatap ke depan dan Caitlyn sibuk memperhatikan langit malam. “Lo punya cita-cita?” tanya Caitlyn. “Punya” “Apa?” “Jadi pemain bola.” Mendengar jawaban itu Caitlyn jadi teringat ia pernah mempunyai teman laki-laki masa kecil yang bercita-cita menjadi pemain bola dan masuk klub bola. Dahulu setiap hari Caitlyn menemani temannya bermain dilapangan komplek, saat itu mereka baru saja menginjak umur sepuluh tahun. Mereka berbagi cerita, berbagi tawa, berbagi mimpi. Di tengah lamunannya, Caitlyn masih sadar untuk berjalan lurus, hingga lima menit
21 kemudian mereka terhenti karena Raga berhenti disalah satu bangku. “Duduk aja ya?” kata Raga. “Oh iya, lo biasa latihan bola di mana?” tanya Caitlyn dengan maksud tujuan bahwa ia ingin menemani Raga saat berlatih bola. “Gue biasanya lari di Brigif, kalau latihan gak nentu, tergantung temen gue mau dimana.” Caitlyn membentuk bibirnya seperti huruh o. “Gue ikut boleh gak sih? Udah jarang gue gak olahraga takut gendut…hahaha” Caitlyn beralasan bahwa ia takut gendut padahal dirinya memang menyukai lelaki yang bisa bermain bola. Satu alis Raga terangkat, sekarang ia yang bingung mengapa gadis ini mau menemaninya bermain bola. “Boleh aja sih, tapi kok lo mau?” “Ya biar gak gendut, aneh lo” kata Caitlyn, yang masih fokus kepada langit serta bintang-bintang malam hari ini.
22 “Ngeliat langit terus lo, gak takut copot tuh leher?” sindir Raga “Dih itumah elo sih!” teriak Caitlyn sambil menabok lelaki itu memakai jaketnya. “Lagian lo gak ngerasa langitnya bagus banget apa?” Lanjut Caitlyn “Gak tuh, lo aja kali yang emang jarang liat, ih dasar kudet” ejek Raga sambil tertawa. “Jelek lo!” kata Caitlyn tepat di telinga Raga. “By the way, kita gak kemaleman nih?” Caitlyn tak begitu terbiasa berjalan-jalan sampai larut malam. Raga mengecek jam yang terpakai dilengan sebelah kanannya yang sudah menunjukan pukul 00.23 “Yaudah ayo, sekarang aja” ajak Raga. Malam itu, misi Raga selesai untuk mengajak perempuan itu dan pulang dengan selamat. Ia begitu senang, hingga senyum terus terukir diwajahnya. Ting!
23 Pintu lift terbuka, ke duanya bertabrakan saat ingin keluar, mungkin lelah yang mengusik mereka sekarang. “Misi gue duluan” kata Caitlyn dengan jalan sempoyongan. “Night lyn, mimpiin gue ya…hahaha” Raga tertawa dengan gombalan mautnya sendiri. “Ih, gelo maneh!” untuk ke dua kalinya Caitlyn membanting pintu unitnya karena Raga.
24 3 Kesalahan “Seneng banget kayanya lo” tanya Varen yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku Raga yang menurutnya lebih ceria dari biasanya. “Jatuh cinta lo?” “Apaan dah?” Raga terkekeh “Iya sih, gue kemarin berhasil jalan sama cewe” lanjutnya. “WIDIH SIAPA TUH MANG?” ucap Radit heboh sambil membenarkan posisi duduknya yang awalnya duduk di lantai menjadi di atas kursi. “Beneran cewe gak? Nanti bencong lagi” ujar Gilang tak percaya seorang lelaki seperti Raga yang tidak ada akhlak ini disukai seorang perempuan. “Really?” kata Dika singkat. “Jadi…. Gue ngajak jalan Caitlyn kemarin malem” Raga bersikap sok keren karena diri nya berhasil mengajak seorang perempuan untuk menemaninya pergi. “Pada diem kan lo, iri bilang
25 dong! Slebew” Raga melipat tangannya dengan wajah kepedean akan dipuji. “LO PIKIR KITA PERCAYA?” sontak keempat temannya yang tentu tak percaya bisa mengajak perempuan seperti Caitlyn berjalanjalan.
26 “Serius deh, liat geura sini” Raga menunjukan foto Caitlyn yang ia potret diamdiam saat di bangku. “Anjir, beneran dong ternyata” Varen heran, mengapa gadis se cantik Caitlyn mau diajak jalan oleh temannya yang sudah kelewat gila itu. “Kok bisa sih Rag? Pake ilmu ya lo?” kata Gilang “Dih, iri kan lo, makanya ganteng kaya gue” ucap Raga kepedean. “Gantengan juga gue kali!” ujar Radit, sambil merapikan rambutnya yang jelek itu. “Berisik banget sih? Mendingan juga gue, pacarnya Dasha Taran!” Dika langsung memperlihatkan wallpaper handphone nya yaitu Dasha Taran. “Gila kok di pelihara sih Di?” ejek Varen melihat kehaluan temannya yang sudah kelewat batas. “Elo juga kali ren, kamar lu aja isinya poster Lisa, dipikir kaga jijik kali ya” Gilang membuka galeri handphone nya dan
27 menunjukan foto Varen sedang berpelukan dengan guling yang bergambar Lisa. “Setan lo, gue sumpahin jomblo seumur hidup” kata Varen karena tak kuat menahan rasa malu. “Kasian amat lo pada, makanya cari gebetan dong” ejek Raga karena merasa dirinya sudah keren, mengajak perempuan jalan-jalan. “BERISIK” kata keempat teman Raga. ___ “Lucu banget sih anak akuuu…” Caitlyn memainkan pipi anjing kesayangannya. Hari ini Caitlyn memutuskan bolos dari kampus, ia terlalu malas mendengar dosen berbicara atau mungkin karena lelaki yang mengajaknya kencan? Tadi malam. Saat dirasa tak ada yang harus Caitlyn lakukan lagi, ia memutuskan untuk mencari udara di rooftop apartemennya. Rooftop di lantai tujuh menjadi tempatnya menenangkan diri. Langit perlahan mulai gelap, Caitlyn duduk di bawah, ia
28 berselonjor sambal bersandar di pembatas rooftop. Caitlyn meraih ponselnya untuk menghubungi Raga. Ia sangat lelah hari ini, dan suara temannya mungkin sedikit membantu. Nada dering terdengar beberapa kali, Raga tak menjawab, sampai Caitlyn tak lagi menghubunginya karena takut mengganggu. Tapi tiba-tiba ada notif panggilan dari Raga. “Hai bang” Sapaan itu terdengar di ponsel Raga. “Di mana lo? Lagi apa? Kenapa nelpon?” Begitu banyak pertanyaan yang Raga lontarkan kepada Caitlyn. Hingga Caitlyn tak sempat menjawab satu pertanyaan pun. “Engga, bosen aja Balasnya. “Lo di mana?” tanya Raga “Rooftop” “Okey, gue ke sana ya” Raga langsung mematikan telepon itu, ia bergegas menyusul Caitlyn di rooftop
29 Ting! Lift berbunyi di rooftop, Caitlyn sudah bisa menebak siapa yang akan keluar dari lift. “Nih, pake dari pada jadi beku lo” Raga menyodorkan jaket yang ia bawa. “Buat gue aja nih jaketnya … bersyandaa” Caitlyn tertawa tipis. “Boleh, by the way lo tau pemain bola gak sih?” tiba-tiba pertanyaan tak di duga dilontarkan oleh Raga. “Tau lah, pacar gue kan Rafael Struick” Ucap Caitlyn dengan pede, dan langsung menunjukan wallpaper ponselnya dipenuhi wajah lelaki dengan nomor punggung sebelas di timnas. “Dih, itu mah tau bola jalur tiktok” ejek Raga karena faktanya yang memang begitu. “Bae weh atuh, kumaha abdi!” Reflek Bahasa sunda Caitlyn berjalan ketika sedang kesal
30 “Aduhhh, ternyata si neng tiasa basa sunda euy” Raga tertawa geli mendengar Caitlyn memakai Bahasa sunda. “Berisik deh, lagian lo gak bosen apa latihan bola terus?” tanya Caitlyn. “Gak, sama aja kaya hidup, walaupun hidup ngebosenin ya jalanin aja selagi bisa” ceramah Raga. “Siap komandan” Caitlyn menghadap Raga dan memberi hormat, dengan gigi kelincinya. Konyolnya Raga membalas hormat itu. “Random banget sih neng, Orang tua lo gak capek apa punya anak kaya lo?” Raga bertanya heran melihat kelakuan random perempuan itu. “Udah gak capek mereka mah, pernah ngurus gue aja engga” Jawab Caitlyn terawa hambar mendengar pertanyaan itu. “Kasar amat neng, orang tua loh itu” Raga menasihati perempuan itu, karena se umur hidupnya Raga tak pernah membicarakan orang tuanya yang tidak-tidak.
31 “Orang tua sih orang tua ya, tapi kalau gak mencerminkan sikap sebagai orang tua, emang pantas ya disebut orang tua? Kisah lo sama kisah gue beda Raga. Semua orang tau nya gue punya keluarga yang baik, humoris kan? Nyata nya gak gitu Raga. Berhenti liat gue sebagai anak orang kaya. Gue cuma mau di kenal sebagai Brigitta Caitlyn Lapeo. Gue cukup dikenal sebagai itu, gak lebih gak kurang. Gue gak bakal pernah anggap orang yang fitnah, nuntut, maksa gue sebagai keluarga” Sedari tadi Raga terus menunduk karena merasa bersalah tentang kata-kata yang ia ucap beberapa menit lalu. “Maaf, gue gak tau lyn” “Santai, gue aja yang berlebihan” “Sorry ya, gak bermaksud, lo mau apa? Es krim? Jajan? Atau apa?” Raga berusaha membujuk Caitlyn agar ia tak sedih atau kecewa. Tapi di mata Caitlyn Raga sangat lucu ketika memohon. “Gak ah, males” Caitlyn bersikap jual mahal agar ia dibujuk oleh Raga lebih lama lagi.
32 “Ayolahhh, gue beliin apa aja deh” bujuk Raga. “Gak ah, besok aja ya, gue balik duluan” Caitlyn lari terburu buru menuju lift dengan perasaan salah tingkah.\ “Woi! Serius nih gue ditinggalin? Jahat!” Teriak Raga merasa bahwa sekarang ia orang paling tersakiti. Caitlyn tertawa mendengar itu “BODOAMAT!” teriaknya. ___ Sudah hampir mencapai empat minggu hubungan Caitlyn dan Raga menjadi lebih dekat. Mulai banyak rumor mengatakan mereka berkencan, berpacaran, atau bahkan tinggal bersama. Banyak foto Caitlyn dan Raga bertebaran di kampus. Semua orang tau bahwa mereka sedang menjalin hubungan menjadi lebih dekat. Tapi akankah hubungan itu terus berlanjut? Atau hanya membuat kenangan sesaat? Tak ada yang tau.
33 “Besok mau ikut gue latihan bola gak?” ajak Raga dan ia berharap ajakan nya itu diterima. “Boleh, di mana?” Bersyukurnya Caitlyn menerima ajakan itu, walau besok ia sudah mempunyai janji bersama teman nya. “Di Brigif, udah dulu ya hari ini gue mau kumpul keluarga soalnya” Raga berdiri dari duduknya dan memutuskan berpamit kepada Caitlyn. Matahari telah terganti dengan bulan, terangnya telah terganti dengan gelap, bintang mulai bertaburan. Siang berganti malam. Sejak tadi Caitlyn masih memeluk kasurnya. Ia tak memiliki sesuatu untuk di lakukan. Tapi beberapa saat kemudian ia ingat bahwa sampah di dalam kamarnya sudah menumpuk dalam waktu yang lama. Dan itu satu-satunya yang bisa ia lakukan sekarang. Ia menggunakan seluruh tangannya untuk membawa sampah-sampah itu, bisa di katakana ada enam kantong sampah yang ia bawa.
34 “Berat ya teh? Mau saya bantu?” tawar lelaki yang tak di kenal oleh Caitlyn, lelaki itu memiliki postur tubuh yang tinggi, wajah nya juga cukup. Bajunya sopan dan rapih. “Bisa kok, makasih” Caitlyn menolak halus tawaran itu, karena menurutnya ia masih mampu membawa sampah itu sendirian. Tapi ternyata faktanya tak begitu belum sampai tujuan Caitlyn sudah sempoyongan. Lelaki yang menawarkan diri untuk membantu Caitlyn ternyata masih mengawasi Caitlyn. Tanpa suruhan apapun lelaki itu menghampiri Caitlyn dan membawa semua sampahnya “Saya bantu aja ya teh” ucap lelaki itu. Ke duanya berjalan menuju unitnya masing-masing. Mereka juga telah bertukar nama. Lelaki dengan paras lumayan itu bernama Sagaskara. Mereka masih asyik mengobrol hingga mata Caitlyn tertuju lurus. “Mampus gue!” umpat Caitlyn yang ternyata di dengar oleh Sagaskara atau Aska. “Kenapa Lyn?” Aska bertanya bingung, ia
35 langsung melihat apa yang dilihat oleh Caitlyn. Tatapan tajam tertuju kepada Caitlyn. “Eh mau kemana lo?” tanya Caitlyn canggung. Situasi nya seolah ia berselingkuh dengan lelaki lain. “Pergi” Raga pergi melewati Caitlyn dan Aska. Ia kesal melihat Caitlyn berjalan berdua dengan lelaki lain. Tangannya di kepal sekuat tenaga. Malam ini, Raga pergi ke rumah orang tua nya tak menggunakan motor ia memutuskan menggunakan mobil dan melaju sekencang mungkin untuk melepaskan ke kesalannya. Mobil berwarna hitam pekat itu berhenti di rumah yang berwarna putih yang cukup mewah. Raga di sambut baik oleh ke dua orang tua dan ke tiga saudaranya. “Anak mama dateng jugaaa” NadinMama Raga langsung mengecup semua muka Raga, sudah lama Raga tak merasakan kasih sayang sebesar ibunya. “abang! Temenin atu main dong” Rachel adik perempuan satu-satunya umurnya baru
36 menginjak tiga tahun dan kata-katanya belum terlalu fasih. “Nanti ya sayang, abang mau ngobrol sama mama papa dulu” Raga menolak halus ajakan dari sang adik. Lengan Raga di tarik oleh sang adik lakilakinya yang berumur sebelas tahun “Bang, main epep dong aku udah level 45” kata Rain-Adik laki-laki Raga. “Nanti dulu ya dek” Raga menarik perlahan lengannya yang di tarik oleh Rain. Raga langsung menghampiri ke dua orang tua yang sedang sibuk membuat makanan di dapur padahal sang bibi sudah membantunya. “Ma, kalau natal Tahun ini Raga bawa Perempuan ke rumah boleh?” tanya Raga berhati-hati. “SERIUS? Jadi bentar lagi mama bakal punya cucu ya? Punya menantu ya? Siapa namanya? Asal mana? Cantik ya?” Nadin ke girangan mendengar itu
37 “Kejauhan nih mama pikirannya, nikah aja belum” ejek Rafi-Papa Raga. “Boleh gak ma?” tanya Raga sekali lagi. “Boleh dong” jawabnya. “Namanya Caitlyn ma, temen kampus Raga, Asal bandung asli, Cantik ma” kata Raga. Mama Raga tertawa mendengar itu, ia melihat anaknya sedari kecil, hingga sekarang anak kecil itu mempunyai perempuannya sendiri. Ruang makan keluarga Kitorama menjadi seramai itu, canda dan tawa terdengar. Hingga tepat di pukul sepuluh malam Raga memutuskan untuk pulang ke apartemen nya. Raga telah kembali kepada kasur di apartemennya sedari tadi ia belum menghubungi tetangganya. Ia kesal karena melihat tetangganya bersama lelaki lain. Tapi ia memutuskan menurunkan ego dan gengsinya. Beruntungnya adalah, notif dari Caitlyn tiba padahal sebelumnya lelaki itu yang akan mengirim pesan.
38 Memang hubungan mereka sekarang tak pasti, tapi bagi Raga sekarang Caitlyn adalah miliknya dan tak ada lelaki yang bisa mendekatinya. Raga memang tipe laki-laki yang posesif dan cemburuan jika miliknya di sentuh oleh orang lain. Makanya tak heran jika julukan nya sebagai lelaki red-flag itu melekat di dalam dirinya. Sejak dulu, Raga tak pernah menjalin hubungan lebih dari tiga minggu. Tapi Caitlyn adalah kecuali, mereka sudah hampir lima minggu dekat, tapi tak ada alasan yang pasti tentang hubungan ini. Apakah akan meninggalkan kenangan saja? Atau terus menerus membuat kenangan?
39
40 Raga membanting ponselnya ke nakas. Ia juga bingung padahal hubungannya masih tak pasti, untuk apa ia cemburu kan? Hari ini Raga berusaha tidur dengan hati yang berat. Ia takut Caitlyn berpaling kepada lelaki itu. Raga menguras banyak keringat ketika tidur. Sebenarnya apa yang ia mimpikan?
41 4 Perbaiki Semuanya Pagi hari ini, Caitlyn datang ke kampus seperti anak rajin biasanya. Hanya satu yang kurang, ia tak datang di antar oleh laki-laki Bernama Raga, sejak kejadian kemarin mereka berdua tak mengirim pesan atau saling menghubungi lagi. Biasanya pada pukul segini Raga akan mengirim pesan dan menanyakan apakah ia sudah makan. Tapi justru hanya ada notifikasi alarm yang mengingatkan Caitlyn untuk makan. Sebenarnya tadi Caitlyn sudah melihat Raga bersama teman-teman nya tapi mereka tak saling sapa. Caitlyn mungkin tau bahwa Raga cemburu dengan apa yang ia lakukan dengan Aska. Tapi itu ke tidak sengajaan kan? Mungkin nanti sore Caitlyn akan membujuk Raga dan memperbaiki semuanya. Dari tadi Caitlyn terus menunda membujuk Raga dan mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa nanti saja. Tapi bagaimana jika nanti tak pernah ada? Kita selalu kita pikir kita punya waktu kan? Caitlyn hanya berdiam diri
42 bersama anjingnya di kamarnya sejak pulang kampus. Tok! Tok! Suara ketukan pintu terdengar, Caitlyn bergegas membuka pintu kamarnya dan berharap bahwa Raga yang mengetuk pintu itu. “Hai, maaf yang kemarin gue kalau marah kaya gitu soalnya” belum sempat Caitlyn membuka pintu dengan benar, tapi Raga sudah meminta maaf tentang apay tang terjadi kemarin. Caitlyn seperti anak kecil yang baru pertama kali kasmaran, pipi nya merah mendengar kata maaf itu. “Oh, iyaaa santai aja” kata Caitlyn “Sibuk gak?” tanya Raga basa-basi. “Gak kok, kenapa gitu?” jawab Caitlyn. “Ke rooftop mau gak? Ngobrol aja” ajak Raga “Ayooo” Caitlyn menerima ajakan Raga.
43 “Pake jaket, nanti dingin” Raga memberitahu. Ting! Sudah hal biasa mereka berdua mengobrol di rooftop dan membahas tentang apapun yang bisa dibahas. “Lo mau jadi lebih deket gak sih Lyn?” tanya Raga dan ia juga tak mengerti apa yang ia maksud sekarang. Caitlyn memasang wajah bingung dengan pertanyaan Raga “Lebih deket gimana? Kita udah cukup deket kan?” sambung Caitlyn Raga menatap Caitlyn sesaat sebelum akhirnya ia mengucapkan kalimat “Cewe gue, jadi cewe gue” kata Raga perasaannya campur aduk entah malu, gugup, heran tak bisa dijelaskan. Caitlyn mematung beberapa detik, ia bingung sekarang apa yang perlu ia jawab? “Cewe lo? Gue mau tapi takut” jawabnya
44 “Takut? Kenapa takut lyn gue gak gigit kok” di tengah-tengah ketegangan ini konyolnya Raga masih bisa bercanda. “Iya tapi gue mau, hehe” Caitlyn memperlihatkan senyumnya ia belum pernah berpacaran seumur hidupnya. Mungkin pernah tapi ia tak pernah menganggap itu pacaran. “SERIUS LYN? YES” Raga berlompat ke sana ke mari dan menggoyangkan Pundak Caitlyn dengan bersemangat. Ia begitu mengekspresikan kebahagiaan nya. “Iya, sayang aku serius” kata Caitlyn yang sejujurnya ia juga geli mengucapkan itu. Sekarang seolah di dalam perut Raga ada kupu-kupu. “APASIH JANGAN GITU LYN” Teriak Raga ketika mendengar itu. Caitlyn ikut tertawa melihat respon itu. “Iya deh iya, kita tetep pake gue-lo aja ya?” tanya Caitlyn. “Iyaa santaii aja, gue juga udah kebiasaan pake gue-lo” balas Raga yang masih dengan senyum di wajahnya. “Awas lo sampe main sama cowo lain gue grebek” ancam Raga
45 “Dih, kalo lo berduaan sama cewe gue bakal siram air mendidih” Caitlyn tertawa dengan tingkahnya. Tapi ia pikir-pikir lebih konyol tingkah laku pacarnya. “Jadi hari ini kita beneran jadian ya? BENERAN YA? Serius gak sih ini? Atau gue mimpi ya?” Raga bertanya dan meyakinkan dirinya bahwa ia sudah berpacaran dengan Perempuan di sampingnya. Caitlyn berdiri, dan memegang batas penghalang rooftop, ia berteriak sekencang mungkin “BANDUNG, GUE UDAH JADIAN” ia tertawa. Raga terus melihat Caitlyn, melihat rambut panjangnya yang bergerak karena angin, matanya yang berkilap seperti bintang, tawanya yang semanis gula. “Raga, I love you” kata Caitlyn dan menatap Raga. “I love you more” balasnya. Mereka bukan pemain film di Netflix yang menunjukan cintanya dengan sangat baik.
46 Tapi mereka menunjukan cintanya dengan caranya masing-masing. Malam hari ini selesai dengan baik, tapi tak tau dengan esok. Yang jelas ke susahan hari ini cukup hari ini saja. Tentang besok cukup hari esok saja.
47 5 Kali Ini Berhasil Sabtu pagi tiba lagi untuk kesekian kalinya, tapi sabtu ini berbeda, pesan selamat pagi memang tak se spesial itu, tapi bagaimana jika seseorang yang spesial mengirim itu? Caitlyn sejak pagi sudah salah tingkah, ia masih heran apakah sekarang ia benar-benar sudah menjadi pacar lelaki? Hari ini Caitlyn telah mempunyai jadwal dengan sang pacar bahwa akan menemaninya berlatih bola. Caitlyn bergegas mandi dan mengganti bajunya dengan baju olahraga. Ia sudah menunggu Raga di lobby sekitar lima menit yang lalu. Hingga akhirnya lelaki dengan postur tubuh tinggi itu tiba, Raga tampil lebih santai dengan menggunakan celana pendek dan baju hitam lengan pendek. Disertai otot lengannya yang begitu terlihat. Banyak Perempuan di lobby melihat Raga, memang tak bisa dipungkiri bahwa lelaki itu cukup tampan. “Ayo” ajak Raga dan langsung merangkul pundak Caitlyn menuju mobilnya.
48 “Lho, naik mobil? Tumben banget” ucap Caitlyn karena tak biasanya Raga mau naik mobil ketika berpergian. “Iyalah, mau pamer paha lo naik motor?” Raga menggerutu karena memang baju olahraga Caitlyn cukup mini, ia menggunakan celana pendek dan kaos oversize nya. “Dih, aneh lo tangan lo aja diliatin tuh” Caitlyn juga kesal karena banyak Perempuan lain melihat Raga. “Gue mah cowok, udah cepet masuk” Raga malas berdebat dengan Caitlyn terlalu lama. ` Caitlyn terus memperhatikan jalan, entah kenapa menurut dia jalan menuju Brigif berbeda, tapi ia masih berpikir bahwa mungkin jalannya berbeda. Tapi mobil itu justru berhenti di salah satu rumah mewah Kawasan elite. “Kemana, anjir ini?” Caitlyn memelototi Raga yang membawanya ketempat yang tak di kenal. “Rumah keluarga gue” kata Raga singkat
49 “HAH?” teriak Caitlyn tepat di telinga Raga yang membuat Raga reflek menghindar. “Jangan teriak-teriak, udah cepet turun” kata Raga. “Gak mau ih Raga, gue takut” Caitlyn takut, kehadiranya tak di terima. “Udah cepetan” Hampir lima belas menit sudah Raga memaksa Caitlyn, dan akhirnya perempuan itu memutuskan turun “Mamaaa, abang dateng bawaa cewe” Rain berteriak kepada sang ibu, yang membuat Caitlyn menjadi lebih tegang. “Gak boleh gitu Rain” Rafa-Adik laki-laki pertama Raga menegur Rain. “Anak ganteng mamaaa” Nadin memeluk putranya begitu erat, sampai tak memperhatikan bahwa putranya membawa seorang gadis. Raga sekarang begitu menahan malu, karena Raga memang cukup manja kepada ke dua orang tua nya. “Ma, ada orang lho ma” Raga memberi tau bahwa ada orang dibelakangnya.
50 “Ini, yang namanya Caitlyn itu ya?” tanya Nadin kepada Caitlyn “Iya, tante” jawab Caitlyn gugup “Cantik banget sih, ayo duduk sayang” “Makasih tante” balas Caitlyn. “Gak usah panggil tante ah, langsung aja Mama” ucap Nadin dan tertawa kecil. Sekarang situasi lebih hangat, Caitlyn berkenalan dengan semua anggota keluarga Raga, ia begitu dekat dengan adik Perempuan Raga. Nadin begitu senang setelah cukup lama menunggu kedatangan Caitlyn akhirnya perempuan itu datang juga. Sejujurnya Caitlyn memang bukan perempuan pertama yang di ajak oleh Raga kerumahnya dulu ada perempuan bernama Flavya, tapi sayangnya hubungannya usai karena agama yang tak memperbolehkan mereka bersama. __ Hubungan Caitlyn dan Raga sudah berjalan selama enam bulan, bahkan akun fanbase Raga dan Caitlyn muncul. Di kampus semua orang tau