The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Dena Silvia, 2023-07-31 22:08:53

BUKU PENGAYAAN DENA FIX

BUKU PENGAYAAN DENA FIX

Keywords: tradisi berebut lawang

TRADISI BEREBUT LAWANG MASYARAKAT BELITUNG Dena Silvia, S.Pd Dr. Yeti Mulyati, M.Pd. Dr. Tedi Permadi, M.Hum. PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA


TRADISI BEREBUT LAWANG MASYARAKAT BELITUNG Penulis Dena Silvia, S. Pd. Dr. Yeti Mulyati, M.Pd. Dr. Tedi Permadi, M.Hum. Penyelia Dr. Yeti Mulyati, M.Pd. Dr. Tedi Permadi, M.Hum. Diah Eka Sari, M. Pd. Desain Sampul Dena Silvia, S.Pd. Tata letak Dena Silvia, S.Pd. Cetakan Pertama, …….. ISBN:.............. Penerbit


i PRAKATA Alhamdulillah, penulis dengan rendah hati mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan berkah-Nya sehingga berhasil menyelesaikan buku pengayaan pengetahuan berjudul "Tradisi Berebut Lawang Masyarakat Belitung". Buku ini ditulis untuk menjawab permasalahan yang dirasakan oleh penulis terhadap tradisi Berebut Lawang, di mana sebagian masyarakat masih belum memahami urgensi yang tersirat di dalamnya. Selain itu, tujuan dari buku ini adalah memberikan kontribusi pemikiran dan wawasan bagi pembaca tentang esensi dari tradisi tersebut. Buku ini ditujukan para pembelajar tingkat SMA pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Buku ini dikemas menggunakan bahasa yang lugas dan mudah untuk dipahami serta disesuaikan dengan segala kebutuhan pembelajaran tingkat SMA. Buku ini menyajikan materi yang berkaitan dengan tradisi Berebut Lawang, diantaranya: Penulis berharap bahwa buku ini dapat membantu pembaca untuk memahami dan menjaga kekayaan budaya, khususnya dalam tradisi Berebut Lawang.


ii Pemahaman tentang aset budaya tidak hanya sebatas hiburan semata, namun harus dipandang sebagai warisan leluhur yang mendukung kehidupan masyarakat dalam menciptakan kedamaian dan kesejahteraan. Diharapkan dengan adanya karya ini, kita semua dapat menjadi contoh untuk menjaga keberlangsungan budaya di lingkungan masyarakat maupun dunia pendidikan. Bandung, Juni 2023 Dena Silvia


iii Petunjuk Penggunaan Buku Pengayaan Buku ini berjudul "Tradisi Berebut Lawang Masyarakat Belitung" yang berisi mengenai pengetahuan tradisi Berebut Lawang yang meliputi, 1) pengertian tradisi Berebut Lawang , 2) struktur tradisi Berebut Lawang (struktur pertunjukan dan struktur teks), dan 3) nilai budaya. Pada bagian pertama, penulis akan menguraikan pengertian tradisi Berebut Lawang. Pada bagian ini penulis memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang informasi tradisi Berebut Lawang agar tidak salah kaprah. Bagian kedua, peserta didik akan mengetahui konsep struktur tradisi Berebut Lawang. Penulis menyajikan konsep struktur pertunjukan dan struktur teks tradisi Berebut Lawang. Penulis menyuguhi unsur-unsur yang membangun terciptanya pertunjukan tradisi Berebut Lawang, mulai dari penampil tradisi Berebut Lawang, penonton tradisi Berebut Lawang, alat ekpresif yang digunakan, interaksi sosial dan rangkaian tindakan. Disamping itu juga, peserta didik akan dikenalkan dengan struktur teks tradisi Berebut Lawang. Pada bagian ini penulis mengemukakan analisi teks tradisi Berebut


iv Lawang lewat rima dan gaya bahasa. Bagian ketiga, penulis mengemukakan nilai-nilai yang terkandung dalam pantun besaot tradisi Berebut Lawang. Nilai yang menjadi fokus kajian penulis dalam menganalisis pantun besaot tradisi Berebut Lawang ini adalah nilai budaya.Pada bagian ini peserta didik akan melihat beberapa nilai budaya atas hasil kajian analisis penulis terhadap teks pertunjukan dambus dalam. Pada bagian akhir buku ini terdapat daftar pustaka serta selayang pandang sekilas tentang penulis


5 DAFTAR ISI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .....................................................i PRAKATA...................................................................1 PETUNJUK PENGGUNAAN BUKU PENGAYAAN..1 DAFTAR ISI................................................................2 Tradisi Berebut Lawang Masyarakat Belitung ...............2 A. Pengertian Tradisi Berebut Lawang..........................1 B. Struktur Tradisi Berebut Lawang..............................3 1. Struktur Pertunjukan Tradisi Berebut Lawang ...........3 a. Identitas Peran Partisipan .........................................3 b. Alat ekspresif............................................................8 c. Interaksi sosial ..........................................................9 d. Rangkaian tindakan...................................................9 2. Struktur Teks Tradisi Berebut Lawang .................... 13 a. Rima ....................................................................... 13 b. Gaya Bahasa ........................................................... 20 C. Nilai Budaya .......................................................... 24 Daftar Pustaka ............................................................ 39 Biografi Penulis.......................................................... 40


1 TRADISI BEREBUT LAWANG MASYARAKAT BELITUNG Berebut Lawang adalah sebuah adat istiadat atau budaya yang berasal dari daerah Belitung. Tradisi ini berisi Pantun Besaot atau saling berbalas pantun antara perwakilan kedua mempelai pada acara pernikahan. Konsep Berebut Lawang sama dengan palang pintu di mana untuk melewati pintu tersebut, harus dilakukan pertarungan pantun saat pengantin laki-laki ingin memasuki rumah pengantin perempuan pada acara resepsi pernikahan. Sebelum pelaksanaan tradisi Berebut Lawang, dimulai dengan penjemputan rombongan pihak pengantin laki-laki oleh rombongan pihak pengantin perempuan dan A. Pengertian Tradisi Berebut Lawang


2 mereka akan saling bersalaman. Selanjutnya, pihak mempelai perempuan memberikan sirih gambir dan kapur sirih sebagai tanda penghormatan kepada mempelai laki-laki. Rombongan dari pihak mempelai laki-laki juga akan disertai oleh musik Hadrah atau rebana sambil menyanyikan lagu-lagu Islam. Tradisi Berebut Lawang terdiri dari tiga tempat atau tiga pintu yang harus dilewati oleh rombongan dari pihak mempelai laki-laki agar sampai di rumah pengantin perempuan. Tiga tempat atau tiga pintu ini merupakan simbol tanggung jawab seorang suami terhadap istrinya setelah mereka menikah dan membina rumah tangga. Selain berbalas pantun, tradisi Berebut Lawang juga melibatkan memberikan uang perayu di ketiga pintu yang dilewati. Uang tersebut tidak hanya menjadi milik pengantin perempuan, tetapi juga digunakan untuk kelancaran jalannya acara pernikahan. Pada Tempat pertama, uang akan diberikan kepada juru masak hidangan pernikahan. Kemudian pada Tempat kedua, uang akan diberikan kepada kepala hajatan dan pada Tempat ketiga, uang perayu akan diberikan kepada tukang make-up atau biasa disebut Mak Inang oleh orang Belitung. Oleh karena itu, uang-uang perayu tersebut


3 bukan hanya untuk kepentingan pengantin wanita saja tetapi juga untuk memperlancar acara pernikahan secara keseluruhan. 1. Struktur Pertunjukan Tardisi Berebut Lawang a. Identitas peran partisipan Identitas peran penampil dalam tradisi berebut lawang, terdapat dua jenis peran partisipan, yakni peran partisipan penampil dan peran partisipan penonton. Kedua jenis peran partisipan tersebut menjadi unsur pokok dalam analisis kajian tradisi berebut lawang. 1) Partisipan Penampil Partisipan penampil merupakan orang-orang yang B. Struktur Tradisi Berbut Lawang


4 berperan (pelaku) dalam sebuah pertunjukan tradisi lisan. Dalam pertunjukan adat perkawinan Melayu, penampil meliputi kedua mempeai, tuan rumah (orang yang punya hajat, yakni orang tua dari pengantin), 'Mak Inang' (perias pengantin), kerabat atau keluarga kedua mempelai, tamu undangan dan pemantun atau penutur pantun. Pengantin mempekai laki-laki (Raja) dan orang tua kedua mempelai sebagai penampil turut terlibat dalam setiap tahapan yang dilalui dalam tradisi berbut lawang walaupun hanya mendampingi pemantun. Partisipan berikutnya adalah 'Mak Inang'. Istilah 'Mak Inang' merupakan sapaan terhadap orang yang merias pengantin. Berikutnya yang utama tidak kalah penting yakni partisipasi dari pemantun atau penutur pantun. Dalam tradisi berpantun tidak semua orang dapat menjadi pemantun (penutur pantun). Penampil pada tradisi berebut lawang tentu saja orang yang memiliki kemampuan dalm berpantun serta mengetahui seluk beluk tentang tradisi berebt lawang serta tata cara pelaksanaannya, memiliki keahlian dalam seni bertutur serta fasih berbahasa Melayu setempat dengan dialek dan lafal yang bernuansa kemelayuan. Pemantun dalam tradisi berbut lawang ini terbagi menjadi dua kategori, yakni pemantun (penutur pantun) dari pihak laki-laki dan pemantun dari pihak


5 perempuan. Pemantun dari pihak laki-laki bertugas sebagai penyambung lidah kepada pihak perempuan. Begitupun pemantun pihak perempuan merupakan perwakilan atau juru bicara dari pihak perempuan. Pada hakikatnya, kedua pemantun memiliki tujuan yang sama, yakni mendapatkan kata kesepakatan. Pemantun pihak laki-laki melalui seni bertutur berupa pantun menyampaikan maksud kedatangan kepada pihak perempuan. Begitu juga pemantun dari pihak perempuan melalui seni bertutur bertugas dan menerima menyambut maksud kedatangan yang diutarakan pihak laki-laki, yang kemudian menanyakan menetapkan maksud kedatangan. Pada masyarakat Belitung khusunya di Belitung Timur tempat peneliti melakukan penelitian ini, baik keluarga pihak mempelai laki-laki maupun keluarga mempelai pihak perempuan menyewa budayawan setempat yang sudah terbiasa berpantun dalam tradisi berebut lawaang ini. Ada dua orang pemantun yang berperan penting dalam proses pelaksanaan tradisi berebut lawang ini, yang pertama adalah Bapak Toto Iswanto dan yang kedua adalah Bapak Nozel, selebihnya adalah yang membantu dalam pelaksanaan tradisi tersebut. Mempelai pengantin


6 laki-laki (Raja), keluarga kedua mempelai beserta tamu undangan disini hanya berdiri dan mendampingi pemantun dalam tradisi berebut lawang ini. 2) Partisipan Penonton Kehadiran partisipan penonton tidak kalah pentingnya dengan partisipan penampil. Partisipan penonton adalah orang-orang yang menyaksikan atau menikmati jalannya rangkaian pertunjukan tradisi lisan. Orang-orang yang menyaksikan rangkaian peristiwa dalam sebuah pertunjukan tersebut diberikan tempat sebagai partisipan penonton. Simatupang (2013, hlm. 68) juga menegaskan, dengan pemahaman dari penonton sebagai partisipan menuntut pengakuan akan peran maupun keterlibatan mereka dalam menentukan keberhasilan atau kegagalan sebuah pertunjukan sebagai peristiwa interaktif. Disebabkan pelaksanaan tradisi Berebut Lawang dalam penelitian ini berada pada konteks perkawinan, kehadiran partisipan penonton bukan hanya sekedar untuk menonton atau menikmati tradisi Berebut Lawang. Namun, lebih kepada tujuan partisipan penonton sebagai saksi terhadap jalannya peristiwa sakral tersebut. Selain itu, sasaran dari perfomansi penuturan pantun dalam menyampaikan pesan,


7 kaidah, dan nilai-nilai luhur adalah penonton. Dengan begitu, keberhasilan atau kegagalan suatu pertunjukan dipengaruhi oleh keterlibatan partisipan penontonnya. Biasanya yang menjadi partisipan penonton dalam tradisi Berebut Lawang adalah partisipan yang diundang secara khusus oleh tuan rumah untuk menghadiri acara perkawinan yang diselenggarakan atau biasa kita sebut tamu undangan. Pada dasarnya tidak ada ketentuan khusus terkait siapa yang boleh menyaksikan pesta perkawinan yang di dalamnya terdapat tradisi Berebut Lawang. Namun, terkadang keterbatasan tempat dapat menjadi penyebab seseorang tidak dapat menjadi partisipan penonton. Terutama untuk tahapan tradisi Berebut Lawang yang diselenggarakan di dalam rumah khusunya di depan pintu Mak Inang. Rombongan keluarga calon mempelai laki-laki dan pihak yang berperan dalam keluarga perempuan mendapat tempat yang diprioritaskan sebagai penonton. Mereka duduk berdekatan dengan partisipan penampil. Tidak ada aturan mengenai tempat duduk bagi partisipan penonton. Penonton bebas apakah ingin berdiri ataukah duduk. Namun, biasanya pihak tuan rumah pengantin akan menyediakan kursi bagi para penonton yang merupakan


8 tamu undangan. Khusunya bagi tamu undangan yang menyaksikan tradisi berebut lawang pada pintu pertama. Berdasarkan usianya, partisipan penonton biasanya terdiri atas orang-orang dewasa, ada juga sebagian anakanak. Dari jenis kelamin, tiada pembeda antara partisipan penonton laki-laki dengan partisipan penonton perempuan. b. Alat ekspresif Alat ekspresif, yaitu berkaitan dengan peralatan atau bahan-bahan yang digunakan dalam proses pelaksanaan tradisi berebut lawang. Jika Bauman menyebutnya sebagai alat ekspresif, maka Sibarani menyebutnya sebagai koteks material. Alat ekspresif dan koteks material merupakan dua hal yang memiliki kesejajaran makna. Berdasarkan pendapat tersebut, dalam pelaksanaan tradisi berebut lawang disebut sebagai alat dan peralatan yang digunakan ketika prosesi pelaksanaan tradisi berebut lawang tersebut berlangsung. tidak banyak alat ekspresif yang digunakan dalam tradisi berebut lawang ini. pada pintu pertama hanya ada seutas tali atanu selendang yang digunakan sebagai penghadang pihak mempelai lakilaki untuk masuk kedalam kediaman pohak mempelai perempuan.


9 selanjutnya ada uang yang dijadikan syarat ketika phak mempelai laki-laki ingin masuk kedalam kediaman pihak mempelai perempuan. c. Interaksi sosial Pemantun dalam menampilkan tradisi berebut lawang tidak hanya serta-merta berinteraksi dengan sendirinya. Terdapat interaksi sosial lewat pantun yang dilantunkan. Partisipan penonton akan merespon interaksi yang disampaikan oleh pemantun. Respon yang dimaksudkan adalah berupa ungkapan lisan secara spontan yang dianggap menarik perhatian penonton. Misalnya: ungkapan yang berupa seruan kegembiraan, seperti cakeepp!, mantap!, aseekkk!, yiiihaaa!, haayooo!, lanjut mangggg!. Adapun interaksi sosial yang disampaikan dapat berupa visual dan lisan lewat pantun yang dilantunkan oleh penampil. d. Rangkaian tindakan 1) Tahap Awal Tahap awal tradisi Berebut Lawang terdiri dari beberapa bagian, yakni, pertama, tahap penentuan waktu. Pada tahap ini, pemantun akan berdiskusi dengan yang mempunyai


10 hajatan kapan pelaksanaan pesta pernikahan akan dilaksanakan. dalam pesta pernikahan tersebutlah hadir tradisi berebut lawang. 2) Tahap Pelaksanaan Tradisi berebut lawang merupakan bagian dari prosesi perkawinan adat masyarakat melayu Belitung. Tradisi berebut lawang dilaksanakan setelah akad nikah, pada acara gawai gede yang biasa dilaksanakan pada hari minggu. Orang melayu Belitong dahulunya melangsungkan upacara akad nikah pada malam jum'at. Selesai akad nikah, mempelai laki2 pulang dulu kerumahnya, untuk nanti akan dijemput guna mengikuti upacara gawai adat (disandingkan) pada hari Minggu besoknya. Upacara berebut lawang bagi masyarakat melayu belitung dilakukan ketika pengantin laki2 (setelah sah nikah) untuk mendatangi kediaman pengantin perempuan. Dalam pelaksanaannya berebut lawang itu ditandai dengan 3 pintu yg harus dilewati. Pertama pintu gerbang dihalaman rumah, kedua pintu depan rumah dan ketiga pintu kamar mempelai wanita. Pintu petama berada ketika mempelai laki-lai memasuki halaman rumah sang mempelai perempuan, dimana di


11 pintu ini akan terjadi adu pantun pertama antara perwakilan pihak mempelai laki-laki dengan pihak mempelai perempuan. Adu pantun di pintu ini umumnya berisi pantun-pantun dengan maksud pengenalan calon suami dan keluarganya kepada pihak calon istri. Filosofi dari pos pertama ini sendiri adalah keharusan pengantin laki-laki atau calon suami untuk siap memberi nafkah kepada keluarganya nanti. Setelah melewati pos pertama, rombongan pengantin pria akan kembali berhadapan pantun di pintu kedua yang berada di depan pintu masuk rumah pengantin perempuan. Pada adu pantun di pintu kedua ini, pantun-pantun yang dilontarkan umumnya berisi ucapan salam kepada sang pemilik rumah. Filosofi pada pos kedua ini yaitu cerminan bahwa pengantin laki-laki yang akan jadi suami harus mampu memimpin atau menjadi imam yang baik bagi istri dan anaknya nanti. Tantangan terakhir muncul di pintu ketiga yang berada tepat di depan kamar mempelai wanita. Pada pintu ini, kembali terjadi adu pantun yang pada kali ini pemantun dari pihak mempelai laki-laki beradu pantun dengan Mak Inang agar bisa menemui pengantin perempuan di dalam kamarnya. Sementara itu, filosofi di pintu terakhir ini


12 adalah kelak calon suami harus bisa merias istri dan anakanaknya dengan salah satunya memberikan pakaian yang layak. Selain harus beradu pantun, rombongan pihak mempelai laki-laki harus juga memberikan ‘uang perayu’ kepada perwakilan mempelai wanita di setiap pintu yang dilewati. ‘Uang perayu’ ini sendiri merupakan syarat agar pihak rombongan pengantin laki-laki bisa melewati ketiga pintu tersebut. ‘Uang perayu’ ini pun nantinya bukan untuk menjadi kepemilikan pengantin wanita, tetapi uang tersebut akan digunakan untuk membantu kelancaran jalannya pernikahan. Setelah proses Berebut Lawang ini selesai dilakukan, pihak rombongan mempelai laki-laki akan menyerahkan berbagai hantaran yang telah mereka bawa kepada pihak mempelai wanita dan kemudian pengantin laki-laki dan wanita akan duduk di pelaminan. Dan setelah itu, barulah acara resepsi pernikahan dimulai. Namun dalam penelitian tradisi berebut lawang dalam pernikahan Riko dan Suti Yulia yang dilaksanakan pada tanggal 5 Maret 2023 beralamat didusun Baru Selatan RT 16 RW 07 Kecamatan Manggar Kabupaten Belitung Timur ini hanya melaksanakan dua pintu yaitu pintu pertama dan pintu ketiga.


13 3) Tahap Akhir Pada tahap ini, mempelai laki-laki sudah dapat disandingkan dengan mempelai perempuan. Itu artinya tradisi berebut lawang sudah berakhir. Namun, dilapangan dalam penelitian ini pada tahap akhir pemantun akn memberikan pantun nasihat sebagai bekal kedua mempelai dalm mengarungi bahtera rumah tangga. Berdasarkan deskripsi rangkaian tindakan dalam pelaksanaan tradisi berebut lawang dapat dikemukakan bahwa tradisi berebut lawang memiliki aturan pelaksanaan sehingga tradisi tersebut dipertunjukkan secara teratur dan tertib. Tradisi berebut lawang mengikat seluruh partisipan untuk mengikuti tindakan demi tindakan yang terjadi selama pelaksanaan tradisi berebut lawang berlangsung. 2. Struktur Teks Tradisi Berebut Lawang a. Rima Rima merupakan bentuk perulangan bunyi yang berselang pada teks. Sama halnya dengan analisis pantun pada umumnya, pantun besaot memiliki rima di akhir baris dan biasa dijadikan sebagai penanda akhir baris dalam bait. Pantun besaot yang merupakan pantun yang


14 dilantunkan secara bergiliran atau bersahut-sahutan antarpemantun banyak ditemukan rima berselang. Namun, ada juga ditemukan rima yang berangkai. Rima berselang yang dimaksudkan adalah rima yang berpola a-b-a-b atau c-d-c-d, sementara rima berangkai dimaksudkan adalah rima yang memiliki pola a-a-b-b atau c-c-d-d (Tarigan, 2011, hlm. 36–37). Berikut ini disajikan bentuk rima berselang dan rima bentuk berangkai pada pantun besaot. warna pelangi sungguh memikat a di kala senja menjelang malam b tanpa mengurangi rasa hormat a izinkan hamba bertutur salam b malam-malam naik kerete a mawak sekutum kembang sepatu b ku ucap salam pembuka kate a Assalamualaikum w.w. b minumlah jamu diwaktulah malam a malam itu si malamlah sabtu b karene tamulah ngucapken salam a Waalaikumsalam w.w. b batang mempelam sungguh menawan a jangan dtebang batang agik muda b sebelum berpantun aku nek berkenalan a siape jak abang yang bersidak? b memang banyak orang pegi ke ume a nek netek sibatang simpur b


15 ikak btanya masalah jak name a kenalkan Bang Nozel tuyul paling ganteng di Belitung Timur b mawa ikan nek naik lah uto a mewa peti isilah sepat b perkenalkan aku Bang Toto a nek nyalon bupati 2024 b muat peti diwaktu hendak luhor a hendak mawa kacang butor a kalo ade jalan jadi bupati belitung timor a kami minta jalan kampong kami jangan jadi hancor a pukul tige pegi ke simpang pesak a pegi bawa isi keladi b dengan saudare aku nak betanyak a bener dak ini rumah mang idi b memang banyak sibuah kurma a buah dicucok si dengan jak lidi b ikak betanyak siape tuan rumah a itu orang paling tampan nak name Pak Saidi b buah sengkuang buah periak a burong gelatik terbang kerumah b aku nek betanyak sikok pulak a permaisuri cantik siape punya name b ke air selumar aku nak beli buah a buah dijual dekat la tuko b ikak betanya tuan putri name e Siti Yuliah a bener kau yang ngelamar name Bang Riko? b


16 orang manggar bebaju koko a makai selindang di hari raya b memang benar nama raje ni Riko a galak makan nasi padang ke mang raya b ampai-ampai sarang penyengat a ubur-ubur dak betulang b kau la sampai, mohon maaf agik ku hambat a ni la adat tersohor berebut lawang b diujung ranting daun bersusun a takkan layu tetap bersemi b begitu penting berebut lawang berbalas pantun a melayu takkan hilang di bumi b ade urang bejalan die tejatok a bukan ditulong tapi diketawek a dari dulu sampai sekarang berebut lawang hanya ade sikok a adet urang Belitong jangan sampai dilupak a pakai kemeje darilah sijok a pegi jam empat arah ke manggar b tuan raje ni dak tahan nek masok a kire-kire ape sarat nek kami bayar b ade banyak si buah la langsat a buah langsat didapat dari mak jande b ikak betanyak masalah syarat a syarat die aku beri ade tige b bunga bakong si batang mangge a banyak tumbuh dipekarangan b kepalang tanggung sarat jak tige a minta sepuloh kami tunaikan b


17 badan tinggi jak semampai a ditambah wajah yang tampan b aku minta tanda materai a apekeh ade itu diatas tangan b pukul satu mawa peti a pegi ke pasar membeli duku b perkare itu sudah pasti a ade pacar di atas kuku b aku ngadang bukan sembarang ngadang a aku ngadang supaya raje dak masuk b ini lumpang bukan sembarang lumpang a lumpang e dak ade idang penutok b mawa keranjang, keranjang kemplang a keranjang kemplang bawa ke sijok b berhubung ikak la ade lumpang a Alhamdulillah kami nyiapin penutok b ade urang si urang sijok a urang e belagak badan e kecit b ini agik ku hadang itu tande dak jadi masok a kalo lom ade tande nek merik duit b ular sabak makan pelandok a kepala mutong ikor ngelilit b baru jak datang lom masok a ngape lah nak minta duit b ngajak kakak pegi la ke kampit a dak bebaju nak meli baju kemije b kepada ikak imang sengaje mintak duit a supaya tuan putri nyaman die nak belanje b


18 pakai kemije nek pegi ke Sijok a jangan lupa ngayau ke manggar b tuan raje kami lah nek masok a kire-kire berape duit nak kami bayar b maen ke laut maen selancar a mancing selayar ke pulau batu b semua urusan bejalan lancar a asak bayar dua ratus ribu b batang terong ditepi kali a buah e lebat daun e lebar b kepalang arong biar la a ni sisa sarat e kamek bayar b pegi ke kampit jua lah soreh a udeh hujan hari lah tedoh a dengan duit la diberik aku ucapkan terima kaseh a kepada undangan silahkan masuk makan bepenoh a batang lah pinang batang selasih a kedua cabang udah bingkok b mak inang cepat singkap penasih a tuan raje lah nek masok b ibarat burung dalam sangkar a badan e kecit sangkar e libar a mun tuan putri nak dsuruh keluar a sarat e ikak harus membayar a batang pinang si batang sukun a buah e lebat daun e lebar b


19 kalau mak inang lah beri pantun a minta berape jak pasti kami bayar b daging ayam masak bumbu ketumbar a aduklah santan jangan sambil nyebu b mun penganten nek disuroh keluar a ikak bayar dua ratus ribu b pukul satu pegi ke manggar a mawak lah buah,buah cempedak b dua ratus ribu ini kami bayar a jak mak inang nambah beli bedak b batang pinang batang belukak a ku cube tanam di Kampung Cine b ini keminangan disebut juga tipak a isi di dalem e punye banyak makne b setumpuk gambir ibarat bata a sedangkan tembakau tali pengikat b mulenye naksir sampai la nikah a mudah-mudahan panjang jodoh dunia akhirat b kalau kapur ibarat semen a sedangkan cengkeh ibarat pakuh b jangan takabur jangan agik bemaen-maen a jangan ade kate selingkuh b daun sirih ibarat atap a sedangkan pinang ibarat batu b ati nek bersih niatpun nek mantap a ingat kewajiban sholat lima waktu b idang tipak ibarat dahan a


20 sedangkan rukuk ibarat kayu b banyak-banyak minta bedu’e pada Tuhan a agar diberi sehat selalu b Pantun besaot di atas memiliki 35 pantun yang berirama berselang (a-b-a-b) dan memiliki 4 pantun yang memiliki irama serangkai (a-a-a-a atau b-b-b-b). b. Gaya Bahasa Gaya bahasa lazim disebut dengan style adalah penggunaan bahasa yang dilakukan oleh penutur/ pelantun untuk menyampaikan pesan. Penutur bisa berkreasi melalui bahasa yang digunakan. Kreasi yang dimaksudkan berupa penggunaan bahasa yang disampaikan tidak secara lazimnya, sehingga pesan-pesan yang disampaikan bisa terjadi secara langsung ataupun tidak secara langsung (Siswono, 2014, hlm. 27). Demikian halnya di dalam pantun besaot. Pelantun boleh menggunakan gaya bahasa yang berbeda untuk menimbulkan makna yang tersirat. Asalkan makna yang ingin diungkapkan bisa ditangkap oleh lawan tutur. Analisis gaya bahasa di dalam pantun besaot menampilkan teks pantun besaot. Terdapat beberapa gaya bahasa yang


21 dimainkan oleh pelantun pada seni pantun besaot. Berikut analisis bentuk gaya bahasa dalam teks pantun besaot. Pukul tige pegi ke Simpang Pesak Pukul tiga pergi ke Simpang Pesak Pegi bawa isi keladi Pergi membawa isi, isi talas Dengan saudare aku nak betanyak Dengan suadara saya mau bertanya Bener dak ini rumah Mang Idi Benar tidak ini Rumah Pak Idi? Ada penekanan diksi pada baris (Benar tidak ini rumah Pak Idi?). Kalimat pada baris tersebut menegaskan bahwa tempat kediaman tujuan pihak keluarga mempelai laki-laki tidak salah dan memang benar adanya. Ke air Selumar Aku nak beli buah Ke air selumar saya mau beli buah Buah dijual dekat la tuko Buah dijual dekat toko Ikak betanya tuan putri name e Siti Yuliah Kalian bertanya tuan putri namanya Siti Yuliah Bener kau yang ngelamar name Bang Riko? Benerkah kamu yang melamar namanya Bang Riko? Terdapat gaya bahasa yang sama seperti di atas seperti pada baris (Benarkah kamu yang melamar namanya Bang Riko?). Kata “benarkah” merupakan bentuk penekanan


22 gaya bahasa yang digunakan. Gaya bahasa di atas merupakan majas retorika. Terdapat juga penggunaan gaya bahasa sindiran sarkasme, seperi pada pantun di bawah ini. aku ngadang bukan sembarang ngadang Saya menghadang bukan sembarang menghadang aku ngadang supaya raje dak masuk Saya menghadang supaya raja tidak masuk ini lumpang bukan sembarang lumpang ini lumpang bukan sembarang lumpang lumpang e dak ade idang penutok lumpangnya tidak memiliki alu Pantun baris ketiga dan baris keempat menyiratkan bahwa kata “lumpang” yang dimaksud merupakan mahkota raja sang permaisuri. Maka ia termasuk ke dalam penggunaan gaya bahasa sarkasme. Lalu pernyataan pantun dari pihak mempelai perempuan di atas disambut oleh pihak mempelai laki-laki seperti pantun berikut. mawa keranjang, keranjang kemplang Membawa keranjang, keranjang kemplang keranjang kemplang bawa ke Sijok keranjang kemplang dibawa ke Sijok Berhubung ikak la ade lumpang Berhubung kalian sudah memiliki lumpang Alhamdulillah kami nyiapin penutok Alhamdulillah kami menyiapkan alu


23 Kalimat pantun yang disambut oleh pihak mempelai laki-laki masih termasuk ke dalam penggunaan majas sarkasme, yaitu menyiapkan “alu”. Konotasi “alu” juga sama halnya dengan mahkota sang raja. Berikutnya terdapat juga penggunaan gaya bahasa hiperbola seperti pada pantun berikut Bunga Bakong si Batang Mangge Bunga Bakung si pohon mangga Banyak tumbuh dipekarangan Banyak tumbuh dipekarangan Kepalang tanggung sarat jak tige Kepalang tanggung syarat hanya tiga Minta sepuloh kami tunaikan Minta sepuluh pun kami tunaikan Gaya bahasa hiperbola dapat dilihat pada pantun baris ketiga (Kepalang tanggung syarat hanya tiga) dan keempat (Minta sepuluh pun kami tunaikan). Artinya, pihak mempelai laki-laki mampu menunaikan syarat yang diminta oleh pihak mempelai perempuan. Berikutnya terdapat penggunaan diksi daerah, yaitu keminang atau tipak. Keminang atau tipak merupakan alat berupa wadah tempat sirih dalam rangka proses penghantaran sebelum memulai acara inti pantun besaot dari utusan pihak mempelai laki-laki kepada utusan pihak mempelai perempuan. Berikut pantunnya.


24 Batang pinang batang belukak Pohon Pinang Pohon Belukak Ku cube tanam di kampung cine Saya coba tanam di kampung cina Ini keminangan disebut juga tipak Ini keminangan disebut juga tipak Isi di dalem e punye banyak makne Isi di dalamnya punya banyak makna Terdapat penggunaan diksi “keminang” dan “tipak”. Baik keminang ataupun tipak merupakan suatu alat yang memang wajib ada dalam proses pantun besaot sebagai tanda hantar sebelum memulai acara. Pemantun menggunakan diksi ini sebagai bentuk pengenalan diksidiksi daerah agar tetap dikenal oleh para generasi berikutnya. Gaya bahasa yang digunakan di atas termasuk gaya bahasa majas pleonasme. Nilai budaya merupakan akar dan dasar dari masyarakat atau kelompok masyarakat tertentu. Nilai-nilai ini terbentuk dan berkembang dari pola kehidupan masyarakat itu sendiri. Nilai-nilai budaya ini diwariskan dari generasi ke generasi sebagai panduan dalam mengatur kehidupan C. NILAI BUDAYA


25 agar mencapai kedamaian dan kesejahteraan. Contohnya, dalam tradisi Berebut lawang, terdapat nilai-nilai budaya yang tersirat yang disampaikan melalui pantun besaot. Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut menjadi pedoman dan acuan bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan. Nilai-nilai budaya yang ada memiliki peran penting sebagai acuan dalam pembentukan nilai karakter individu. Dalam naskah akademik yang berjudul "Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa" (Hasan, 2010), Kementerian Pendidikan Nasional telah merumuskan 18 nilai pendidikan karakter yang akan dikembangkan dan ditanamkan kepada generasi anak-anak sebagai dasar, yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional. Nilai budaya yang dijumpai dalam tradisi berebut lawang adalah sebagai berikut. 1. Nilai Religius Nilai religius dapat didefinisikan sebagai sikap atau perilaku seseorang yang tunduk pada ajaran Tuhan dan melakukan hal-hal yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari (Syarkawi, 2009, hlm. 31). Menurut Hasan (2010, hlm. 9), nilai religius juga dapat didefinisikan


26 sebagai sikap atau perilaku seseorang yang toleran dan rukun dengan ajaran agama lain. Selain itu, ada pendapat lain (Rifa'i, 2016, hlm. 120) yang mengatakan bahwa nilai religius adalah bagian agama yang dapat masuk ke dalam jiwa seseorang dan mendorong mereka untuk menjadi orang yang teguh dan kuat. Konsep nilai beragama bergantung pada konsep ketuhanan dan mengarahkan cara manusia bertindak, berperilaku, dan berbudaya dengan orang lain. Terdapat beberapa baris pantun besaot yang menjelaskan tentang nilai religius atau nilai agama, yakni terdapat pada kata dan kalimat, seperti ingat kewajiban sholat lima waktu dan banyak-banyak meminta berdoa pada Tuhan secara berurutan pada baris keempat dan ketiga. Daun sirih ibarat atap Daun sirih ibarat atap Sedangkan pinang ibarat batu Sedangkan pinang ibarat batu Ati nek bersih niatpun nek mantap Hati mau bersih niatpun mau mantap Ingat kewajiban sholat lima waktu Ingat kewajiban sholat lima waktu


27 Idang tipak ibarat dahan Memakai peci ibarat dahan Sedangkan rukuk ibarat kayu Sedangkan rukuk ibarat kayu Banyak-banyak minta bedu’e pada Tuhan Banyak-banyak meminta berdoa pada Tuhan Agar diberi sehat selalu Agar diberi sehat selalu Melihat dari struktur sintaksis dan semantik yang tertera pada beberapa pilihan kata atau beberapa kalimat tersebut (ingat kewajiban sholat lima waktu dan banyak-banyak meminta berdoa pada Tuhan) dapat disimpulkan bahwa terdapat makna yang bersifat agamis dan mendekatkan proses kepada Tuhan. Oleh karena itu, nilai yang terungkap dari analisis teks tersebut adalah nilai religius. 2. Nilai Kreativitas Kreativitas mencerminkan kemampuan seseorang dalam menciptakan, berkreasi, dan berinovasi dengan hal-hal baru. Seperti yang diungkapkan oleh Okpara (2007), kreativitas ditandai oleh kemampuan untuk mewujudkan dan menciptakan hal-hal baru melalui keterampilan


28 imajinatif. Hasan (2010) menjelaskan bahwa nilai kreativitas berhubungan dengan cara berpikir dan bertindak untuk menghasilkan serta mengembangkan halhal yang telah ada sebelumnya. Pendapat tersebut menggambarkan kemampuan seseorang dalam menciptakan atau mengembangkan sesuatu dari yang sudah ada. Terdapat kutipan tergambarkan pada baris ketiga dan keempat yang juga mencerminkan kreativitas masyarakat Melayu Belitung dalam pantun besaot tradisi Berebut Lawang. Diujung ranting daun bersusun Diujung ranting daun bersusun Takkan layu tetap bersemi Takkan layu tetap bersemi Begitu penting berebut lawang berbalas pantun Begitu penting berebut lawang berbalas pantun Takkan melayu hilang di bumi Takkan melayu hilang di bumi Kutipan kalimat di atas, secara semantik, isi kutipan pantun di atas menggambarkan seni dengan daya kreativitas yang tinggi, yakni berbalas pantun sebagai sebuah seni pertunjukan.


29 3. Nilai Jujur Jujur adalah sikap seseorang yang mencerminkan bahwa dirinya dapat dipercaya oleh orang lain. Nilai kejujuran mendorong seseorang untuk bertindak sesuai dengan norma dan kebenaran (Mansyur, 2018). Menurut Hasan (2010), kejujuran adalah perilaku seseorang yang menunjukkan bahwa dia dapat dipercaya dalam ucapan, perbuatan, dan tindakannya. Dalam tradisi dambus, nilai kejujuran dapat terlihat secara langsung maupun tidak langsung, baik secara tersirat maupun tersurat. Seperti yang diungkapkan oleh Martanti (2017, hlm. 47), kejujuran berarti apa yang dikatakan sesuai dengan perasaan hati nurani seseorang. Terdapat kutipan pada baris berikut yang menggambarkan nilai kejujuran. Pukul tige pegi ke Simpang Pesak Pukul tiga pergi ke Simpang Pesak Pegi bawa isi,isi keladi Pergi membawa isi, isi talas Dengan saudare aku nak betanyak Dengan suadara saya mau bertanya Bener dak ini rumah Mang Idi Benar tidak ini Rumah Pak Idi? Memang banyak sibuah lah kurma Memang banyak buah kurma


30 Buah dicucok si dengan jak lidi Buah ditusuk dengan lidi Ikak betanyak siape tuan rumah Kalian bertanya siapa tuan rumah Itu orang paling tampan nak name Pak Saidi Itu orang paling tampan namanya Pak Saidi Buah sengkuang buah periak Buah bengkuang buah pare Burong gelatik terbang kerumah Burung gelatik terbang kerumah Aku nek betanyak sikok pulak Saya mau bertanya satu lagi Permaisuri cantik siape punya name Permaisuri cantik siapa namanya Ke air selumar Aku nak beli buah Ke air selumar saya mau beli buah Buah dijual dekat la tuko Buah dijual dekat toko Ikak betanya tuan putri name e Siti Yuliah Kalian bertanya tuan putri namanya Siti Yuliah Bener kau yang ngelamar name Bang Riko? Benerkah kamu yang melamar namanya Bang Riko? Orang Manggar bebaju koko Orang Manggar berbaju koko Makai selindang di hari raya Memakai selendang di hari raya


31 Memang benar nama Raje ni Riko Memang benar nama Raja ini Riko Galak makan nasi padang ke Mang Raya Sering makan nasi padang ke Pak Raya Nilai kejujuran pada kutipan diatas dapat tercermin ketika dia ditanya tentang sesuatu dan memberikan jawaban yang benar. Kejujuran melibatkan konsistensi antara apa yang dikatakan oleh seseorang dengan kenyataan yang sebenarnya. Ketika seseorang jujur, dia tidak menyembunyikan fakta atau memberikan informasi yang menyesatkan, melainkan memberikan jawaban yang sesuai dengan apa yang dia ketahui atau alami. Kejujuran merupakan salah satu nilai moral yang sangat dihargai dalam masyarakat karena mencerminkan integritas dan tanggung jawab pribadi. Orang yang jujur dianggap dapat dipercaya, dapat diandalkan, dan memiliki integritas yang kuat. Sebaliknya, ketika seseorang tidak jujur dan seringkali memberikan jawaban yang tidak benar, hal ini dapat merusak kepercayaan orang lain terhadapnya dan menciptakan konsekuensi negatif dalam hubungan sosialnya. Seperti yang dijelaskan oleh M. Samani, (2013) bahwa jujur atau


32 nilai kejujuran adalah sifat terbuka, menyatakan apa adanya, dan konsisten terhadap apa yang dikatakan dan dilakukan. 4. Nilai Tanggung Jawab Tanggung jawab adalah perilaku seseorang dalam menjalankan tugas dan kewajiban yang seharusnya dilakukan terhadap diri sendiri, orang lain, atau lingkungan sekitar (Rahayu, 2016, hlm. 154). Konsep yang serupa diungkapkan oleh Hasan (2010), yang menyatakan bahwa nilai tanggung jawab mencakup sikap dan perilaku seseorang yang memiliki kesadaran terhadap diri sendiri dan orang lain. Selain itu, ada juga pendapat lain yang menyebutkan bahwa nilai tanggung jawab melibatkan sikap dan perilaku seseorang terhadap tugas dan kewajibannya terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan, negara, dan Tuhan Yang Maha Esa. Berikut kutipan yang menggambarkan bentuk tanggung jawab calon mempelai laki-laki kepada calon mempelai perempuan. ngajak kakak pegi la ke Kampit mengajak kakak pergi ke Kampit dak bebaju nak meli baju Tidak berbaju, mau


33 kemije membeli baju kemeja kepada ikak imang sengaje mintak duit kepada kalian memang sengaja minta uang supaya tuan putri nyaman die nak belanje Agar tuan putri mudah jika dia mau belanja Pakai kemije nek pegi ke Sijok Memakai kemeja mau pergi ke Sijok Jangan lupa ngayau ke Manggar Jangan lupa berkunjung ke Manggar Tuan raje kami lah nek masok Tuan raja kami sudah mau masuk Kire-kire berape duit nak kami bayar Kira-kira berapa uang mau kami bayar Maen kelaut maen selancar Bermain kelaut bermain selancar Mancing selayar ke Pulau Batu Memancing ikan selayar ke Pulau Batu Semua urusan bejalan lancar Semua urusan bejalan lancar asak bayar dua ratus ribu asal bayar dua ratus ribu


34 Batang terong ditepi kali Batang terung ditepi kali Buah e lebat daunnya lebar Buahnya lebat daunnya lebar Kepalang arong biar la Kepalang tanggung biar saja Ni sisa sarat e kamek bayar Ini sisa syaratnya kami bayar Secara semantik, makna yang terkandng di dalam penggalan pantun di atas bermakna tanggung jawab dari mempelai laki-laki yang mau membayar sebagai syarat hendak masuk ke rumah mempelai perempuan. Ini adalah sebuah komitmen dan tanggung jawab dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Dengan membayar, mempelai laki-laki menunjukkan keseriusannya dalam menjalankan pernikahan dan menegaskan niatnya untuk menjaga dan memenuhi kewajiban sebagai suami. Ini menandakan bahwa pernikahan bukan hanya sekadar transaksi finansial, tetapi juga sebuah ikatan emosional dan sosial yang dijalani dengan penuh tanggung jawab. Ini mencerminkan kesanggupan untuk memikul tanggung jawab ekonomi dalam rumah tangga. Dengan membayar ini pula mempelai laki-laki menegaskan niatnya untuk melindungi dan mengayomi mempelai perempuan. Ini mencerminkan


35 kesediaannya untuk bertanggung jawab dalam membimbing dan menjaga kebahagiaan keluarga. 5. Nilai Kerja Keras Kerja keras adalah sifat atau tingkah laku individu yang tidak menyerah ketika dihadapkan dengan tugas dan masalah. Sikap ini juga diiringi oleh kemampuan menyelesaikan tugas dengan baik. Hasan (2010) juga mengemukakan bahwa nilai kerja keras mencerminkan perilaku yang menunjukkan ketekunan dalam menghadapi tantangan dan berusaha menyelesaikan masalah dengan sebaik mungkin. Nilai ini menunjukkan sikap gigih seseorang dalam mengatasi hambatan dan kesulitan serta kemampuan dalam mencari solusi yang baik untuk masalah yang dihadapi. Kutipan pantun besaot dibawah ini menggambarkan sikap kerja keras seseorang dalam mencapai keinginannya. Terbukti pada ungkapan kata-kata berikut. Ade banyak si buah la langsat Ada banyak buah langsat Buah langsat didapat dari mak jande Buah langsat didapat dari janda Ikak betanyak masalah sarat Kalaian bertanya masalah syarat


36 Sarat die aku beri ade tige Syarat nya saya beri ada tiga Bunga Bakong si Batang Mangge Bunga Bakung si pohon mangga Banyak tumbuh dipekarangan Banyak tumbuh dipekarangan Kepalang tanggung sarat jak tige Kepalang tanggung syarat hanya tiga Minta sepuloh kami tunaikan Minta sepuluh pun kami tunaikan Secara semantik, makna yang terkandng di dalamnya mencerminkan nilai kerja keras serta perjuangan dalam usaha mencapai suatu tujuan. Meskipun memenuhi syarat yang banyak, mereka tetap gigih dan tidak menyerah untuk memenuhi permintaan yang diajukan, yaitu "syarat hanya tiga, minta sepuluh pun kami tunaikan". Hal ini menunjukkan kesungguhan dan tekad untuk menyelesaikan tugas atau tantangan yang dihadapi.


37 SIMPULAN Sejak zaman dahulu hingga kini, tradisi Berebut Lawang telah menjadi bagian dari prosesi adat pernikahan masyarakat Belitung dan terus dipertahankan. Dalam tradisi Berebut Lawang tidak terpisahkan dengan Pantun Besaot atau berbalas pantun. Inilah esensi dari tradisi Berebut Lawang itu sendiri. Setiap perwakilan dari mempelai laki-laki maupun mempelai perempuan akan menunjukkan kehebatannya dalam berpantun yang memberikan hiburan bagi para undangan. Tradisi Berebut Lawang dimulai ketika mempelai laki-laki tiba dan dihadang dengan tali atau selendang sampai berbalas pantun selesai di tiga pintu yang disiapkan. Selain saling berbalas pantun, tradisi ini juga melibatkan uang perayu sebagai syarat masuk melewati setiap pintu. Setelah tradisi Berebut Lawang selesai, rombongan mempelai laki-laki akan menyerahkan hantaran kepada mempelai perempuan sebelum keduanya duduk di pelaminan dan resepsi pun dimulai. Di dalam tradisi Berebut Lawang terdapat beberapa bagian yang ikut andil dalam pelaksanaan tradisi Berebut Lawang diantaranya peran partisipan, alat ekspresif yang


38 digunakan, interaksi sosial, dan rangkaian tindakan dalam pelaksanaan tradisi Berebut Lawang. Struktur teks tradisi Berebut Lawang berisi pantun besaot. Pantun besaot merupakan berbalas pantun. Dalam pantun tersebut juga ditemukan nilai yang bisa dijadikan petunjuk dalam kehidupan.


39 DAFTAR PUSTAKA Budaya Adat Berbut Lawang. Diakses dari : https://dispar.belitung.go.id/read/900/budaya-adupantun-berebut-lawang https://www.infobudaya.net/2020/02/tradisi-berbalaspantun-ala-masyarakat-belitung/ Hasan, S. H. (2010). “Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa”, Bahan Pelatihan Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-Nilai Budaya untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa. Jakarta: Puskur Balitbang Kemendiknas. Mansyur, U. (2018). Pemanfaatan Nilai Kejujuran dalam Cerpen sebagai Bahan Ajar Berbasis Pendidikan Karakter. Retrieved from 10.17605/OSF.IO/Z4T3Y Martanti, F. (2017). Penanaman Nilai-Nilai Kejujuran Melalui Media Kantin Kejujuran di Pondok Pesantren Al-Hikmah Semarang. SOSIO DIALEKTIKA-Jurnal Ilmu Sosial-Humaniora, 2(1). Okpara, F. O. (2007). The Value of Creativity and


40 Innovation in Enterpreneuship. Journal of Asia Enterpreneurship and Sustainability, 3(2). Rahayu, R. P. (2016). Implementasi Pembelajaran Nilai Tanggung Jawab pada Siswa Kelas III SD 1 Pedes Sedayu Bantul Tahun Pelajaran 2014/2015. BASIC EDUCATION. Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar, 5(2), 152—160. Rifa’i, M. K. (2016). Internalisasi Nilai-Nilai Religius Berbasis Multikultural dalam Membentuk Insan Kamil. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 4(1), 117—133. Samani, M. (2013). Pendidikan Karakter: Konsep dan Model. Bandung: PT Remaja Rosda Karya. Samani, M. dan H. (2012). Pendidikan Karakter. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Simatupang, L. (2013). Pergelaran: Sebuah Mozaik Penelitian Seni-Budaya. Yogyakarta: Jalasutra. Siswono. (2014). Teori dan Praktik (Diksi, Gaya Bahasa, dan Pencitraan). Yogyakarta: Syarkawi. (2009). Pembentukan Kepribadian Anak. Jakarta: Bumi Aksara. Tarigan, H. G. (2011). Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung:Angkasa.


41 Alamat Kode QR Tradisi Berebut Lawang Guna memudahkan para pembaca dalam memahami dan mengaksesinformasi tentang tradisi Berebut Lawang, beikut ini penulis tampilkan kode QR yang bisa diakses oleh pembaca melalui media elektronik, seperti gawai, laptop, notebook dan tablet.


42 BIOGRAFIS PENULIS Dena Silvia, S. Pd., lahir di Desa Sempan, Kecamatan Pemali, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 14 Juli 1988, anak ketiga dari empat bersaudara. Adapun riwayat pendidikan penulis yaitu pada tahun 2000 lulus dari SDN 15 Sungailiat. Kemudian, melanjutkan pendidikan di SMPN 2 Sungailiat dan lulus pada tahun 2003. Setelah itu melanjutkan pendidikan di SMAN 1 Sungailiat dan lulus pada tahun 2006. Pada tahun yang sama, melanjutkan jenjang pendidikan Strata 1 di Universitas Pendidikan Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa danSastra Indonesia dan lulus pada tahun 2010. Kemudian pada tahun 2021 melanjutkan studi S-2 jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia, Kota Bandung, Jawa Barat. Dena Silvia memiliki ketertarikan dengan tradisi lisan khususnya di Kepulauan Bangka Belitung.


Click to View FlipBook Version