METODE PENELITIAN HUKUM Dr. Muhammad Citra Ramadhan, SH, MH
Hak Cipta Dilindungi Undang-undang Menurut Pasal 72 Undang-Undang Hak Cipta, bagi mereka yang dengan sengaja atau tanpa hak melanggar Hak Cipta orang lain dapat dikenakan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah). Selain itu, beberapa sanksi lainnya adalah: Menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta dipidana dengan dengan pidana penjara maksimal 5 (lima) tahun dan/atau denda maksimal Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) Memperbanyak penggunaan untuk kepentingan komersial suatu program komputer dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)
iv Metode Penelitian Hukum Metode Penelitian Hukum Penulis : Dr. Muhammad Citra Ramadhan, SH, MH Editor : Ikhsan Mujtaba Ilustrator : Tim Kaizen Sarana Edukasi Desain Cover : Tim Kaizen Sarana Edukasi ISBN : E-ISBN : Cetakan I, Februari 2021 Penerbit Kaizen Sarana Edukasi Anggota IKAPI 118/DIY/2020 CV. Kaizen Sarana Edukasi Kanggotan RT.02 Pleret Pleret Bantul 55791 D.I. Yogyakarta Email : [email protected] Web : www.kaizenedukasi.com Telp : 085647336552
Metode Penelitian Hukum v KATA PENGANTAR Syukur Alhamdulillah panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan Rahman dan Rahimnya- Nya, sehingga buku ini dapat terselesaikan dengan baik. Di dalam buku ini, disajikan pokok-pokok bahasan yang berkaitan dengan penelitian hukum, tahapan dalam penelitian hukum, metode penelitian hukum dan teknik penulisan yang sering digunakan dalam penelitian Skripsi, Tesis, dan Disertasi Mahasiswa Hukum, termasuk metode penelitian yang umum digunakan oleh dosen Fakultas Hukum dalam menyusun proposal penelitian hukum. Secara umum ada 3 (tiga) jenis metode penelitian hukum yang digunakan yakni; metode penelitian hukum normatif, metode penelitian hukum empiris dan metode penelitian hukum normatif-empiris. Besar harapan buku ini dapat menjadi bahan ajar dan referensi bagi mahasiswa Fakultas Hukum dan Program Pascasarjana, pengajar Metode Penelitian Hukum serta peneliti hukum. Buku ini, tidak terlepas dari kekurangan dan keterbatasan, yang
vi Metode Penelitian Hukum disebabkan oleh keterbatasan penulis, walaupun telah penulis upayakan, namun masih terdapat kekurangan. Untuk itu, penulis berharap masukan dan saran yang konstruktif agar buku ini dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa, akademisi dan para peneliti di bidang hukum. Ucapan terima kasih yang tak terhingga disampaikan kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan buku ini. Semoga buku ini dapat memberi manfaat dan kemaslahatan bagi semua pihak khususnya dalam pengembangan penelitian hukum pada masa yang akan datang. Aamiin Yaa Rabbalaalamiin. Penulis, Dr. Muhammad Citra Ramadhan, SH, MH
Metode Penelitian Hukum vii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ............................................................... v DAFTAR ISI......................................................................... vii BAB I PENDAHULUAN......................................................... 1 1. Pentingnya Penelitian dan Publikasi Ilmiah ......................1 2. Ilmu Pengetahuan dan Proses Berfikir .............................6 3. Tipologi Penelitian Hukum .............................................18 BAB II KARAKTERISTIK ILMU HUKUM DAN PENELITIAN HUKUM............................................................................. 27 1. Ilmu dan Penelitian.........................................................27 2. Karakteristik Ilmu Hukum...............................................29 3. Karakteristik Penelitian Hukum ......................................35 BAB III PENELITIAN DAN METODE PENELITIAN HUKUM.... 37 1. Pengertian Penelitian dan Penelitian Hukum.................37 2. Tujuan dan Ciri Penelitian Hukum ..................................41 3. Fungsi Penelitian Hukum................................................44 4. Hasil Penelitian Hukum ..................................................45 5. Jenis Penelitian Hukum ..................................................46
viii Metode Penelitian Hukum BAB IV TAHAPAN PENELITIAN HUKUM............................. 55 1. Pemilihan Topik dan Judul ..............................................55 2. Latar Belakang Masalah..................................................56 3. Identifikasi dan Perumusan Masalah dan Ruang Lingkup Penelitian .......................................................................58 a. Identifikasi Masalah....................................................58 b. Rumusan Masalah......................................................59 4. Perumusan Tujuan Penelitian.........................................60 5. Manfaat/Kegunaan/Kontribusi Penelitian......................60 6. Tinjauan Pustaka/Kerangka Teoritis dan Konseptual......61 a. Tinjauan Pustaka ........................................................61 b. Kerangka Teoritis dan konseptual...............................62 c. Kerangka Konseptual ..................................................65 7. Memilih Metode Penelitian............................................66 BAB V PENELITIAN HUKUM NORMATIF ............................ 67 1. Pengertian Penelitian Hukum Normatif .........................67 2. Ruang Lingkup Penelitian Hukum Normatif ...................70 3. Manfaat Penelitian Hukum Normatif .............................76 4. Kesalahan Dalam Penelitian Hukum Normatif................77 5. Metode Penelitian Hukum Normatif..............................78 a. Pendekatan Penelitian Hukum Normatif....................78 b. Jenis dan Sumber Bahan Hukum Penelitian Hukum Normatif.........................................................................83 c. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum...........................88 d. Seleksi Bahan Hukum.................................................91 e. Pengolahan dan Analisis Bahan Hukum .....................92 f. Penyimpulan................................................................96 6. Sistematika Proposal Penelitian Hukum Normatif:.........97
Metode Penelitian Hukum ix BAB VI PENELITIAN HUKUM EMPIRIS ............................. 105 1. Pengertian Penelitian Hukum Empiris..........................106 2. Tipe Penelitian Hukum Empiris.....................................110 3. Obyek Kajian Penelitian Hukum Empiris.......................112 4. Metode Penelitian Hukum Empiris...............................115 a. Pendekatan Penelitian Hukum Empiris ....................115 b. Jenis dan Sumber Data Penelitian Hukum Empiris...116 c. Lokasi dalam Penelitian Hukum Empiris...................120 d. Populasi dan Sampel Penelitian Hukum Empiris......121 e. Teknik Pengumpulan Data Penelitian Hukum Empiris.... 123 f. Validasi Data Penelitian Hukum Empiris....................130 g. Analisis (Pengolahan) Data Penelitian Hukum Empiris... 133 h. Penyimpulan.............................................................138 5. Sistematika Proposal Penelitian Hukum Empiris..........139 BAB VII PENELITIAN HUKUM NORMATIF-EMPIRIS.......... 145 1. Pengertian Penelitian Hukum Normatif-Empiris ..........145 2. Tipe Penelitian Hukum Normatif-Empiris.....................149 3. Obyek Kajian Penelitian Hukum Normatif-Empiris.......149 4. Metode Penelitian Hukum Normatif-Empiris...............153 a. Pendekatan Penelitian Hukum Normatif-Empiris.....153 b. Jenis dan Sumber Data Penelitian Hukum NormatifEmpiris .........................................................................155 c. Lokasi Penelitian Hukum Normatif-Empiris..............156 d. Teknik Pengumpulan Data Penelitian Hukum NormatifEmpiris .........................................................................157 e. Pengolahan dan Analisis Data Penelitian Hukum Normatif-Empiris..........................................................157
x Metode Penelitian Hukum f. Penyimpulan Penelitian Normatif-Empiris ................162 5. Sistematika Proposal Penelitian Hukum Normatif- Empiris 163 BAB VIII TEKNIK PENULISAN........................................... 167 1. Bahasa ..........................................................................167 2. Tata Tulis.......................................................................167 3. Sistem Pengutipan........................................................170 a. Kutipan Langsung .....................................................171 b. Kutipan Tidak Langsung............................................171 c. Kutipan dari Peraturan Perundang-undangan ..........172 4. Cara Penulisan Sumber Kutipan ...................................172 5. Penulisan Daftar Pustaka..............................................174 BAB IX PENULISAN ARTIKEL JURNAL ILMIAH.................. 175 1. Pendahuluan ................................................................175 2. Publikasi Jurnal Ilmiah ..................................................176 3. Sistematika Penulisan Jurnal Ilmiah .............................177 4. Komponen-Komponen Dan Teknik Penulisan Artikel Ilmiah ...........................................................................178 5. Petunjuk bagi Penulis...................................................183 6. Proses Penulisan Naskah ..............................................184 7. Pengiriman Naskah.......................................................185 8. Daftar Pustaka/Rujukan................................................185 DAFTAR PUSTAKA ............................................................ 187 BIOGRAFI PENULIS .......................................................... 192
Metode Penelitian Hukum 1 BAB I PENDAHULUAN 1. Pentingnya Penelitian dan Publikasi Ilmiah Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, menguraikan bahwa “Perguruan Tinggi memiliki kewajiban untuk melaksanakan tridharma perguruan tinggi yakni untuk menyelenggara- kan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat”. Sejalan dengan itu, dalam Pasal 5 Undang- Undang Nomor 12 Tahun 2012 mengatur tujuan penyelenggaraan pendidikan tinggi, yaitu: 1) berkembangnya potensi Mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan berbudaya untuk kepentingan bangsa; 2) dihasilkannya lulusan yang menguasai cabang Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi untuk memenuhi kepentingan nasional dan peningkatan daya saing bangsa;
2 Metode Penelitian Hukum 3) dihasilkannya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi melalui penelitian yang memperhatikan dan menerapkan nilai humaniora agar bermanfaat bagi kemajuan bangsa, serta kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia; dan 4) terwujudnya Pengabdian kepada Masyarakat berbasis penalaran dan karya Penelitian yang bermanfaat dalam memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Sejalan dengan tridharma pendidikan tinggi dan tujuan pendidikan tinggi di atas, penelitian merupakan bagian yang tidak dapat dipisakan dalam sistem pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi tanpa kegiatan penelitian, dapat mengurangi esensi dan hakikat dari pendidikan tinggi itu sendiri. Karena ilmu pengetahuan dapat berkembang dan berguna bagi bangsa, negara, dan kemanusiaan melalui penelitian. Pada ketentuan umum Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 menjelaskan bahwa “Penelitian adalah kegiatan yang dilakukan menurut kaidah dan metode ilmiah secara sistematis untuk memperoleh informasi, data, dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan/atau pengujian suatu cabang ilmu pengetahuan dan teknologi”. Sejalan dengan pengertian tersebut Ilmu Hukum sebagai sebuah cabang ilmu juga melakukan kegiatan penelitian melalui kaidah dan metode ilmiah secara sistematis dengan tujuan untuk memperoleh informasi, data, dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan/ atau pengujian hukum sebagai norma maupun hukum sebagai sebuah kenyataan. Berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-
Metode Penelitian Hukum 3 Undangan “mewajibkan setiap penyusunan rancangan peraturan perundang-undangan harus dilengkapi dengan naskah akademik”. Secara substansi maupun mekanisme pembentukannya, naskah akademik merupakan dokumen yang disusun berdasarkan kegiatan penelitian ilmiah di bidang hukum untuk kepentingan praktik legislative drafting di lembaga legislatif maupun eksekutif. Dalam tradisi akademik pendidikan tinggi, penelitian merupakan tradisi akademik yang telah berkembang dengan baik di lingkungan pendidikan tinggi. Oleh karena itu, berdasarkan Peraturan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Nomor 44 Tahun 2014 dan perubahannya di mana jumlah SKS untuk Program Sarjana, Magister dan Doktor wajib melakukan penyusunan dan penulisan Skripsi, Tesis, Disertasi dan jurnal ilmiah hukum sebagai persyaratan untuk kelulusan, sehingga penelitian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan pendidikan tinggi hukum dan praktek hukum dalam masyarakat. Oleh karena itu, buku ini sangat penting untuk menjadi pedoman bagi para mahasiswa, dosen, dan peneliti dalam melakukan pengajaran dan penelitian hukum baik untuk kebutuhan akademis dan praktis dalam pengembangan ilmu hukum. Perguruan tinggi dalam rangka menjalankan tugas- tugas tridharma berkewajiban menyelenggarakan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, di samping melaksanakan pendidikan. Untuk dapat menyelenggarakan kewajiban penelitian dan pengabdian kepada masyarakat tersebut, perguruan tinggi dituntut untuk memiliki dosen yang kompeten dan mampu menyusun proposal penelitian, melaksanakan penelitian, mendiseminasikan hasil penelitian yang pada akhirnya menghasilkan berbagai luaran (output) penelitian yang
4 Metode Penelitian Hukum bermutu, antara lain berupa publikasi ilmiah, proses dan produk teknologi, seni, dan budaya dalam rangka meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian harus dilakukan secara profesional dengan prinsip-prinsip akuntabel, transparan, dan mengacu pada sistem penjaminan mutu penelitian. Penelitian sebagai bagian dari proses pengembang- an ilmu pengetahuan menempati kedudukan yang sangat penting dan perlu dijadikan tradisi dalam kegiatan akademik. Lembaga pendidikan tinggi dikatakan tidak melakukan pengembangan ilmu pengetahuan dengan baik, jika tidak mendorong serta mendukung kegiatan ilmiah penelitian dan publikasi ilmiah, serta mendorong pengembangan hal-hal baru yang aktual mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai bidang keilmuan masing-masing. Perguruan Tinggi sebagai “rumah” bagi dosen dan mahasiswa telah mencanangkan penelitian sebagai salah satu bentuk darma Perguruan Tinggi yang harus dilaksanakan setiap tahunnya. Publikasi karya ilmiah menjadi agenda penting bagi para akademisi dan mahasiswa, bukan hanya sebagai prasyarat semata tetapi hal tersebut juga dilakukan untuk masa depan bangsa Indonesia. Peraturan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Nomor 20 Tahun 2017 tentang Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor juga mewajibkan dosen yang memiliki jabatan akademik Lektor Kepala dan Profesor untuk melakukan publikasi ilmiah minimal 1 artikel ilmiah hasil penelitian pada jurnal nasional terakreditasi dalam tiap tahun dan
Metode Penelitian Hukum 5 1 artikel ilmiah hasil penelitian untuk setiap 3 tahun untuk jurnal internasional. Kewajiban melakukan publikasi ilmiah ini adalah kewajiban dosen sebagai seorang ilmuwan yang wajib mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan menyebarluaskannya kepada masyarakat. Peraturan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Nomor 20 Tahun 2017 lebih memberikan penekanan kewajiban publikasi ilmiah bagi dosen yang memiliki jabatan akademik tinggi, yakni Lektor Kepala dan Profesor. Hal ini karena penanganan pengelolaan karir jabatan akademik Lektor Kepala dan Profesor berada di bawah tanggung jawab langsung Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi di tingkat pusat. Sementara itu, keharusan publikasi ilmiah untuk dosen yang memiliki jabatan akademik Asisten Ahli dan Lektor telah diatur dalam Peraturan Menteri Penertiban Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 17 Tahun 2013 tentang Jabatan Fungsional Dosen dan Angka Kreditnya. Dalam Permenpan dan RB tersebut dosen yang ingin memperoleh jabatan akademik Asisten Ahli, atau kenaikan jabatan dari Asisten Ahli ke Lektor, atau dari Lektor Kepala harus memiliki publikasi ilmiah. Untuk dosen yang memiliki jabatan akademik Asisten Ahli dan Lektor, penanganan pengelolalan karir jabatan akademiknya diserahkan kewenangannya kepada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) untuk dosen di PTN, kepada Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis)/Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi untuk dosen perguruan tinggi swasta (PTS).
6 Metode Penelitian Hukum Kewajiban untuk melakukan publikasi pada jurnal ilmiah bagi mahasiswa merupakan amanat dari Peraturan Menteri Ristekdikti Nomor 44 Tahun 2015 mengatur secara khusus tentang kewajiban publikasi mahasiswa Program Magister, Doktor, dan Doktor Terapan sebagai berikut: a. Mahasiswa Program Magister wajib menerbitkan makalah (karya ilmiah penelitian) di jurnal ilmiah terakreditasi atau diterima di jurnal internasional; b. Mahasiswa Program Doktor wajib menerbitkan makalah di jurnal internasional bereputasi; c. Mahasiswa Program Doktor Terapan wajib menerbitkan makalah di jurnal nasional terakreditasi atau diterima di jurnal internasional atau; karya yang dipresentasikan atau dipamerkan dalam forum internasional. Jurnal Ilmiah memegang amanah penting untuk dapat menjadi sarana baik bagi peneliti, dosen dan mahasiswa untuk dapat menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kemanusiaan. Namun, fakta yang terjadi adalah Indonesia masih kekurangan baik dalam hal ketersediaan jurnal ilmiah yang memadai serta hasil riset yang dapat dipublikasikan. Namun demikian pada akhir ini secara nasional, kesadaran akan pentingnya publikasi nasional maupun internasional terusmengalami peningkatan dari tahun ke tahun.1 2. Ilmu Pengetahuan dan Proses Berfikir Manusia sebenarnya diciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluk yang sadar. Kesadaran manusia itu dapat dilihat 1 Muhaimin, Metode Penelitian Hukum, Mataram University Press, Mataram, 2020, hal. 2.
Metode Penelitian Hukum 7 dari kemampuannya untuk berfikir, bernalar, berkehendak dan merasa. Dengan akal pikirannya manusia mendapatkan pengetahuan mengenai seluk beluk alam di sekitarnya, termasuk hubungan antara sesama manusia, hubungan antara manusia dengan makhluk hidup lain, dan hubungan dengan lingkungan fisik, baik di daratan, di lautan, di dalam perut bumi, maupun di ruang angkasa. Dengan akal pikirannya inilah manusia kemudian dapat belajar dan mengajari sesamanya memburu sebagian rahasia pengetahuan alam, sosial dan budaya. Pengetahuan pada dasarnya terdiri dari sejumlah fakta dan teori yang memungkinkan seseorang untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. Pengetahuan yang dikumpulkan manusia melalui penggunaan akal pikirannya inilah kemudian disusun olehnya menjadi suatu bentuk yang berpola. Pengetahuan secara etimologi diambil dari kata bahasa Inggris yakni knowledge. Dalam Encyclopedia of Philosophy disebutkan bahwa definisi pengetahuan yaitu kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief)2. Kemudian pengetahuan secara terminologi akan dijelaskan beberapa definisi para ahli, diantaranya adalah menurut Sidi Gazalba yang dikutip oleh Amsal Bakhtiar, bahwa pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti, dan pandai. Pengetahuan itu adalah semua milik atau isi pikiran3. Jadi pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu. Selanjutnya pengetahuan (knowledge) menurut Soekidjo Notoatmodjo adalah sebagai berikut: Pengetahuan adalah hasil tahu dari manusia, yang 2 Paul Edwards, The Encyclopedia of Philosophy, (New York: Macmillan Publishing, 1972), vol. 3. 3 Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), hal. 85.
8 Metode Penelitian Hukum sekedar menjawab pertanyaan ”What”, misalnya apa air, apa manusia, apa alam. Sedangkan ilmu (science) bukan sekedar menjawab ”What”, melainkan akan menjawab pertanyaan ”Why” dan ”How”, misalnya mengapa air mendidih bila dipanaskan, mengapa bumi berputar, mengapa manusia bernafas4. Setelah pengetahuan mempunyai sasaran yang tertentu, mempunyai metode untuk mengkaji objek tersebut sehingga memperoleh hasil yang dapat disusun secara sistematis dan diakui secara universal, maka terbentuklah disiplin ilmu. Selanjutnya Andi Hakim Nasution mengemukakan, bahwa kumpulan pengetahuan yang dikumpulkan manusia melalui penggunaan akal itu disebut ilmu naqliah atau ilmu falsafiah, yaitu ilmu yang diperoleh melalui penggunaan akal dan kecendekiaan. Ilmu inilah pula yang dinamakan sains dan disebut juga ilmu pengetahuan5. Dalam bahasa Inggris disebut science, dari bahasa Latin scientia (pengetahuan), scire (mengetahui)6. Pertumbuhan selanjutnya pengertian ilmu mengalami peluasan arti sehingga menunjukkan pada segenap pengetahuan sistematik. Ilmu lahir karena adanya keingintahuan seseorang terhadap masalah yang memerlukan pemecahan. Permasalahan itu sendiri dapat dipecahkan melalui penggalian data atau informasi yang menunjang. Ilmu menurut Nana Sudjana adalah pengetahuan yang telah teruji kebenarannya melalui metode–metode ilmiah7. Oleh 4 Soekidjo Notoatmodjo, Metodologi Penelitian Kesehatan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), Cetakan Ketiga, hal. 3. 5 Andi Hakim Nasution, Pengantar ke Filsafat Sains, (Bogor: Litera Antar Nusa, 1989),hal. 18. 6 Amsal Bakhtiar, Op-Cit, hal. 12. 7 Nana Sudjana, Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah Makalah-Skripsi-TesisDisertasi, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1995), Cetakan ketiga, hal. 4.
Metode Penelitian Hukum 9 karena itu, ilmu pada hakikatnya adalah pengetahuan ilmiah Kemudian di dalam Kamus Bahasa Indonesia disebutkan bahwa ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu8. Jadi ilmu pengetahuan tidak lain dari suatu pengetahuan yang sudah terorganisir serta tersusun secara sistematik menurut kaidah umum. Menurut Soetriono dan SRDm Rita Hanafie, bahwa ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang bertujuan mencapai kebenaran ilmiah tentang obyek tertentu, yang diperoleh melalui pendekatan atau cara pandang (approach), metode (method), dan sistem tertentu9. Kemudian Soerjono Soekanto menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan adalah pengetahuan (knowledge) yang tersusun sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran, pengetahuan mana selalu dapat diperiksa dan di telaah (dikontrol) dengan kritis oleh setiap orang lain yang ingin mengetahuinya10. Menurut rumusan tersebut di atas mengandung beberapa unsur yang pokok. Unsur-unsur (elements) yang merupakan bagian-bagian yang tergabung dalam suatu kebulatan, yaitu: a. Pengetahuan (knowledge); b. Tersusun secara sistematis; c. Menggunakan pemikiran; d. Dapat dikontrol secara kritis oleh orang lain atau umum (obyektif). 8 Wihadi Atmodjo, et.al., Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1998), cetakan kesatu, hal. 324. 9 Soetriono dan SRDm Rita Hanafie, Filasat Ilmu dan Metodologi Penelitian, (Yogyakarta: Andi, 2007), hal. 12. 10 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Rajawali, 1982), hal. 5.
10 Metode Penelitian Hukum Pengetahuan sebagai ilmu, jika pengetahuan itu tersusun secara sistematis. Sistematis berarti urutan-urutan yang tertentu dari pada unsur-unsur yang merupakan suatu kebetulan, sehingga dengan adanya sistematika tersebut akan jelas tergambar apa yang merupakan garis besar dari ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Ilmu pengetahuan lahir karena manusia diberkahi Allah SWT suatu sifat ingin tahu. Keingintahuan manusia yang terus menerus, maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berfikir secara logis, yang sering disebut penalaran. Menurut M. Solly Lubis bahwa penalaran adalah proses berfikir dalam menarik suatu kesimpulan, yang berupa pengetahuan. Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan berfikir dan bukan perasaan11. Bernalar adalah merupakan suatu proses bekerjanya akal. Akal merupakan salah satu unsur kejiwaan manusia untuk mencapai kebenaran di samping rasa untuk mencapai keindahan dan kehendak untuk mencapai kebaikan. Dengan akal inilah manusia dapat berfikir untuk mencari kebenaran hakiki12. Kebenaran adalah persesuaian antara pengetahuan dengan obyeknya. Berfikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Apa yang disebut benar bagi tiap orang tidaklah sama, maka oleh sebab itu kegiatan proses berfikir untuk menghasilkan pengetahuan yang benar itu juga berbeda-beda. Dalam hal ini penalaran merupakan suatu proses penemuan kebenaran dimana tiap-tiap jenis penalaran mempunyai kriteria kebenarannya masing- masing. 11 M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Bandung: Mandar Maju, 1994), hal. 12. 12 Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Liberty, 1996), hal. 67.
Metode Penelitian Hukum 11 Menurut Jujun S. Suriasumantri, bahwa penalaran mempunyai ciri-ciri tertentu, yaitu: 1. Adanya suatu pola berfikir yang secara luas dapat disebut logika. Dalam hal ini maka dapat kita katakan bahwa tiap bentuk penalaran mempunyai logikanya sendiri. 2. Adanya sifat analitik dari proses berfikirnya. Penalaran merupakan suatu kegiatan berfikir yang menyandarkan diri kepada suatu analisis dan kerangka berfikir yang dipergunakan untuk analisis tersebut adalah logika penalaran yang bersangkutan13. Ciri pertama dari berfikir adalah adanya unsur logis, artinya sebagai kegiatan berfikir menurut suatu pola tertentu, atau menurut logika tertentu. Dengan perkataan lain, berfikir secara nalar tidak lain dari berfikir secara logis. Hal ini patut disadari bahwa berfikir secara logis mempunyai konotasi jamak (plural) dan bukan tunggal (singular). Suatu kegiatan berfikir bisa disebut logis ditinjau dari suatu logika tertentu, dan mungkin tidak logis bila ditinjau dari sudut logika yang lain. Kecenderungan tersebut dapat menjurus kepada apa yang dinamakan kekacauan penalaran yang disebabkan karena tidak adanya konsistensi dalam menggunakan pola pikir tertentu. Ciri kedua dari berfikir adalah adanya sifat analitik dari proses berfikirnya. Dengan logika yang ada ketika berfikir, maka kegiatan berfikir itu secara sendirinya mempunyai sifat analitis, yang mana sifat ini merupakan konsekuensi dari adanya pola berfikir tertentu. Berfikir secara ilmiah berarti melakukan kegiatan analitis dalam menggunakan logika secara ilmiah. Untuk melakukan kegiatan analisis, maka kegiatan-kegiatan 13 Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta:Pustaka Sinar Harapan, 1996), hal. 43.
12 Metode Penelitian Hukum penalaran tersebut harus diisi dengan materi pengetahuan yang berasal dari suatu sumber kebenaran. Pengetahuan yang dipergunakan dalam penalaran pada dasarnya bersumber pada rasio atau fakta. Mereka yang berpendapat bahwa rasio adalah sumber kebenaran dalam berfikir digolongkan dalam mazhab rasionalisme. Sedangkan mereka yang menyatakan bahwa fakta yang terungkap lewat pengalaman manusia merupakan sumber kebenaran dalam berfikir digolongkan mazhab empirisme. Penalaran ilmiah pada hakekatnya merupakan gabungan antara penalaran secara deduktif dan induktif, dimana lebih lanjut penalaran deduktif terkait dengan rasionalisme, dan penalaran induktif dengan empirisme. Oleh karena itu, maka dalam rangka mengkaji penalaran ilmiah terlebih dahulu diharuskan menelaah dengan saksama penalaran deduktif dan induktif tersebut. Penalaran deduktif atau penalaran rasional merupakan sebagian dari bernalar ilmiah. Penalaran deduktif merupakan cara bernalar berdasarkan pada pangkal pikir yang bersifat umum, kemudian diturunkan kesimpulan yang bersifat khusus. Dengan perkataan lain penalaran yang menarik dari kaidah yang bersifat umum untuk menuju kepada hal-hal yang bersifat khusus. Kemudian penalaran deduktif menurut Sukardi adalah cara berfikir untuk mencari dan menguasai ilmu pengetahuan yang berawal dari alasan umum menuju ke arah yang lebih spesifik14. Dengan demikian penalaran deduktif merupakan sistem berfikir/bernalar untuk mengorganisasi faktual dan mencapai suatu kesimpulan dengan menggunakan argumentasi logika. Dengan kata lain bernalar secara deduktif yaitu bertitik tolak dari pengertian bahwa sesuatu 14 Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), hal. 12.
Metode Penelitian Hukum 13 yang berlaku bagi keseluruhan peristiwa atau kelompok/jenis, berlaku juga bagi tiap-tiap unsur di dalam peristiwa atau kelompok/jenis tersebut. Selanjutnya H. Burhanuddin Salam pernah menjelaskan bahwa berfikir deduktif adalah proses pengambilan kesimpulan yang didasarkan pada premis-premis yang kebenarannya telah ditentukan15. Adapun Sidi Gazalba mengatakan, bahwa logika deduktif adalah cara berfikir dari soal-soal abstrak kepada yang konkrit16. Hasil atau produk bernalar deduktif dapat digunakan untuk menyusun hipotesis, yaitu jawaban sementara yang sebenarnya masih perlu diuji atau dibuktikan melalui proses keilmuan selanjutnya. Penalaran deduktif dalam manifestasinya dikenal sebagai silogisme. Silogisme ini merupakan suatu cara bentuk deduksi yang memungkinkan seseorang untuk dapat mencapai kesimpulan yang lebih baik. Adapun pengertian silogisme menurut M. Solihin adalah sebagai berikut: Suatu bentuk dari cara memperoleh konklusi yang ditarik dari proposisi demi meraih kebenaran, bukan sematamata untuk menyusun argumentasi dalam suatu perdebatan, melainkan juga sebagai metode dasar bagi pengembangan semua bidang ilmu pengetahuan17. Penggunaan penalaran deduksi ini berpangkal dari pengajuan premis mayor, kemudian diajukan premis minor. Dari kedua premis ini (mayor dan minor) selanjutnya ditarik suatu kesimpulan atau conclusion. Dengan demikian di dalam proses berfikir deduksi berlaku bahwa sesuatu 15 H. Burhanuddin salam, Logika Materil Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), hal. 147. 16 Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat Buku II, (Jakarta:Bulan Bintang, 1981), hal. 195. 17 M. Solihin, Perkembangan Pemikiran Filsafat Dari Klasik Hingga Moderen, (Bandung: Pustaka Setia, 2007), hal. 97.
14 Metode Penelitian Hukum yang dianggap benar secara umum pada kelas tertentu, berlaku juga kebenarannya pada semua peristiwa yang terjadi pada setiap yang termasuk dalam kelas itu. Di sini terlihat proses berfikir berdasarkan pada pengetahuan yang umum mencapai pengetahuan yang khusus. Silogisme sebagai bentuk berfikir deduksi yang teratur terdiri dari tiga pernyataan atau proposisi, yaitu pernyataan pertama disebut premis mayor yang berisi pernyataan yang bersifat umum atau yang mengemukakan hal umum yang telah diakui kebenarannya. Pernyataan yang kedua bersifat lebih khusus dan lebih kecil lingkupnya dari pada pernyataan yang pertama disebut premis minor. Sedangkan pernyataan ketiga yang merupakan kesimpulannya, disebut konklusi atau konsekuen yang ditarik berdasarkan kedua premis tersebut di atas. Selanjutnya Philipus M. Hadjon yang dikutip oleh Peter Mahmud Marzuki menjelaskan bahwa di dalam logika silogistik untuk penalaran hukum yang merupakan premis mayor adalah aturan hukum sedangkan premis minornya adalah fakta hukum. Dari kedua hal tersebut kemudian dapat ditarik suatu konklusi18. Oleh karena itu, kesimpulan dari penalaran deduktif akan merupakan suatu kepastian apabila penyimpulannya dilaksanakan sesuai dengan aturan logika, premis mayornya merupakan aturan hukum, dan premis minornya sesuai dengan kenyataan atau fakta hukum. Contoh Pertama (1) “Barangsiapa dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain, 18 Peter Mahmus Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), Cetakan ke 6. hal. 47.
Metode Penelitian Hukum 15 dihukum, karena makar mati, dengan hukuman penjara selama lamanya lima belas tahun. (Pasal 338 KUHP). A telah terbukti secara sengaja menghilangkan nyawa si B. Jadi A bersalah melakukan pembunuhan”. Contoh Kedua (2) “Semua Muslim yang mampu, wajib menunaikan ibadah haji (premis mayor). Ahmad termasuk muslim yang mampu (premis minor). Jadi Ahmad wajib menunaikan ibadah haji (kesimpulan)”. Contoh Ketiga (3) “Setiap orang yang melakukan perbuatan yang merugikan kepada orang lain wajib membayar ganti kerugian kepada pihak yang dirugikan (premis mayor). Sudirman melakukan perbuatan yang merugikan kepada orang (premis minor). Jadi Sudirman wajib membayar ganti kerugian kepada orang lain yang dirugikannya (kesimpulan). Kesimpulan yang diambil pada contoh pertama, bahwa Muhammad bersalah melakukan pembunuhan adalah sah atau benar menurut penalaran deduktif, sebab kesimpulannya itu ditarik secara logis dari dua premis yang mendukungnya. Begitu juga pada contoh kedua, yakni kesimpulan yang diambil, bahwa Ahmad wajib menunaikan ibadah haji adalah sah/benar menurut penalaran deduktif, sebab kesimpulan ini ditarik secara logis dari dua premis yang mendukungnya. Demikian halnya pada contoh ketiga, bahwa kesimpulan yang diambil, yakni Sudirman wajib membayar ganti kerugian kepada orang lain yang dirugikannya adalah benar/sah menurut penalaran deduktif, sebab kesimpulan ini ditarik secara logis dari dua premis yang mendukungnya. Dengan demikian sekiranya kedua premis yang mendukungnya
16 Metode Penelitian Hukum adalah benar maka dapat dipastikan bahwa kesimpulan yang ditariknya itu juga benar. Contoh lain berfikir secara deduktif jika dikaitkan hukum di dalam fisika menyatakan bahwa setiap benda padat, jika dipanaskan akan memuai/mengembang (premis mayor/ pernyataan umum). Besi, dan seng adalah benda padat (premis minor/fakta-fakta khusus). Jadi besi dan seng apabila dipanaskan akan memuai/mengembang (kesimpulan/pernyataan khusus). Penalaran induktif yaitu cara berfikirnya adalah kebalikan dari berfikir deduktif, yakni cara berfikir untuk menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Menurut Abdul Kadir Muhammad, bahwa proses berfikir induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataanpernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum19. Dengan perkataan lain bahwa penalaran induktif, yaitu penalaran yang menarik dari hal yang bersifat khusus untuk kepada kaidah yang bersifat umum. Jadi penalaran induktif itu bertitik tolak dari pengetahuan-pengetahuan yang bersifat khusus/tertentu atau fakta-fakta yang bersifat individual, untuk sampai pada kesimpulan yang bersifat umum. Menurut Sukardi bahwa penalaran induktif adalah proses berfikir yang diawali dari fakta-fakta pendukung yang spesifik, menuju pada arah yang lebih umum guna mencapai suatu kesimpulan20. Dengan kata lain penalaran induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang 19 Abdulkadir Muhammad, Hukum dan Penelitian Hukum, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2004), hal. 8. 20 Sukardi, Loc-Cit.
Metode Penelitian Hukum 17 lingkup yang khas dan terbatas dalam penyusunan argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum. Menurut Sutrisno Hadi, bahwa berfikir induktif berangkat dari fakta-fakta yang khusus, kemudian dari fakta- fakta yang khusus konkrit itu ditarik generalisasi-generalisasi yang mempunyai sifat umum21. Dengan demikian proses berfikir induktif tidak dimulai dari teori yang bersifat umum, namun dari fakta atau data khusus berdasarkan pengamatan di lapangan atau pengalaman empiris. Data dan fakta hasil pengamatan empiris disusun, diolah, dikaji, untuk kemudian ditarik maknanya dalam bentuk pernyataan atau kesimpulan yang bersifat umum. Menarik kesimpulan umum dari data khusus berdasarkan pengamatan empiris tidak menggunakan rasio atau penalaran, akan tetapi menggeneralisasikan fakta melalui statistika. Dengan kata lain dalam berfikir induksi pembuatan kesimpulan tersebut berdasarkan pengalaman-pengalaman yang ditangkap oleh indera. Kemudian disimpulkan ke dalam suatu konsep yang memungkinkan seseorang untuk memahami suatu gejala. Karena proses berfikir induksi itu beranjak dari hasil pengamatan indra atau hal-hal yang nyata, maka dapat dikatakan bahwa induksi beranjak dari hal-hal yang kongkret kepada halhal yang abstrak. Contoh pertama sebagai berikut: Ahmad seorang muslim yang mukallaf wajib mengerjakan shalat lima waktu, Faruq seorang muslim yang mukallaf wajib mengerjakan shalat lima waktu, Aisyah seorang Muslimah yang mukallaf wajib mengerjakan shalat lima waktu, Fadli seorang muslim yang mukallaf wajib mengerjakan shalat lima waktu, 21 Sutrisno Hadi, Metodologi Research Jilid I, (Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, 1984), hal. 42.
18 Metode Penelitian Hukum Fatimah seorang Muslimah yang mukallaf wajib mengerjakan shalat lima waktu. Berdasarkan dari fakta-fakta di atas secara induktif dapat ditarik kesimpulan, bahwa semua orang Muslim dan Muslimat yang mukallaf wajib mengerjakan shalat lima waktu. Contoh kedua sebagai berikut: Ahmad penduduk Desa Mendalo Darat taat pada hukum. Firdaus penduduk Desa Mendalo Darat taat pada hukum. Mansur penduduk Desa Mendalo Darat taat pada hukum. Yahya penduduk Desa Mendalo Darat taat pada hukum. Alimusa penduduk Desa Mendalo Darat taat pada hukum. Fatimah penduduk Desa Mendalo darat taat pada hukum. Jadi semua penduduk Desa Mendalo Darat taat pada hukum. Contoh ketiga sebagai berikut: Berdasarkan statistik tahun 2014, di Kabupaten Jambi Timur tingkat kesadaran hukum penduduk umumnya rendah, sehingga sedikit jumlah penduduk yang taat hukum. Demikian juga di Kabupaten Jambi Selatan, Kabupaten Jambi Luar Kota terdapat situasi kondisi yang sama dengan Kabupaten Jambi Timur. Akan tetapi di Kota Jambi dimana kesadaran hukum penduduk umumnya tinggi, sehingga banyak jumlah penduduk yang taat hukum. Jadi semua Kabupaten yang tingkat kesadaran hukum penduduknya rendah, maka ketaatan hukum sulit dilaksanakan. 3. Tipologi Penelitian Hukum Apabila ditinjau dari sudut tujuan penelitian hukum itu sendiri, maka menurut Soerjono Soekanto dapat dibagi dalam dua tipologi penelitian hukum, yaitu:
Metode Penelitian Hukum 19 1. Penelitian hukum normatif, yang mencakup: a. penelitian terhadap asas-asas hukum, b. penelitian terhadap sistematika hukum, c. penelitian terhadap taraf sinkronisasi hukum, d. penelitian perbandingan hukum. 2. Penelitian hukum sosiologis atau empiris, yang terdiri dari: a. penelitian terhadap identifikasi hukum, b. penelitian terhadap efektivitas hukum22. Penelitian hukum normatif disebut juga penelitian hukum doktriner, penelitian perpustakaan, atau studi dokumenter. Dikata penelitian hukum doktriner, karena penelitian ini dilakukan hanya pada peraturan-peraturan yang tertulis atau bahan yang lain. Disebut juga penelitian perpustakaan atau studi dokumen dikarenakan penelitian ini lebih banyak dilakukan terhadap data yang bersifat sekunder yang ada di perpustakaan, seperti bukubuku, dan dokumen-dokumen resmi dari pemerintah. Penelitian hukum normatif menurut Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad adalah sebagai berikut: Penelitian hukum yang meletakkan hukum sebagai sistem norma. Sistem norma yang dimaksud adalah mengenai asas-asas, norma, kaidah dari peraturan perundang-undangan, putusan pengadilan, Sistem norma yang dimaksud adalah mengenai asas-asas, norma, kaidah dari peraturan perundang-undangan, putusan pengadilan, perjanjian serta perjanjian serta perjanjian serta doktrin (ajaran) doktrin (ajaran)23. 22 Soerjono Soekanto, Op.Cit, hal. 51 23 Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum
20 Metode Penelitian Hukum Penelitian hukum yang dikemukakan oleh Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad pengertiannya difokuskan kepada objek kajiannya. Objek kajian penelitian hukum normatif adalah pada hukum yang di konsepkan sebagai norma atau kaidah. Objek kajian norma meliputi undang-undang, peraturan-peraturan. Penelitian hukum normatif secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Penelitian terhadap Asas-asas Hukum. Penelitian hukum ini merupakan suatu penelitian hukum yang dikerjakan dengan tujuan menemukan asas atau doktrin hukum positif yang tertulis atau penelitian terhadap kaidah-kaidah hukum yang hidup di dalam masyarakat. Penelitian tipe ini lazim disebut Studi dogmatic atau penelitian doktrinal (doktrinal research)24. Penelitian hukum ini peneliti bekerja secara analitis induktif, prosesnya dimulai dari premis-premis yang berupa norma hukum positif yang diketahui dan berakhir pada penemuan asasasas hukum atau doktrin-doktrin. Menurut Satjipto Rahardjo, bahwa asas hukum merupakan jantungnya peraturan hukum, karena ia merupakan landasan yang paling luas bagi lahirnya suatu peraturan hukum25. Sebagai contoh adalah, di mana ada kesalahan, di situ ada penggantian kerugian. Inilah yang disebut asas hukum itu. Norma hukum positifnya adalah setiap perbuatan yang melawan hukum dan menimbulkan kerugian bagi pihak lain, wajib membayar ganti rugi (lihat pasal 1365 KUH Perdata). Contoh lain dapat diambil misalnya pada asasnya undang-undang Normatif dan Hukum Empiris, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hal. 34. 24 Penelitian doktrinal yaitu hasil abstraksi yang diperoleh melalui proses induksi dari norma-norma hukum positif yang berlaku. 25 Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, (Bandung: Alumni, 1986), hal. 85.
Metode Penelitian Hukum 21 tidak berlaku surut. Norma hukum positifnya adalah ”tiada suatu perbuatan pun dapat dihukum, kecuali atas kekuatan undangundang yang telah ada sebelum perbuatan itu dilakukan” (lihat pasal 1 ayat 1 KUHP). Berdasarkan contoh di atas dapat diketahui bahwa asas hukum merupakan jiwa dari norma hukum, norma hukum merupakan penjabaran secara konkrit dari asas hukum. Penelitian doktrinal terhadap hukum, menurut Ronny Hanitijo Soemitro adalah berpangkal dari postulat-postulat normatif yang berupa norma hukum positif dan konsekuensi logisnya berakhir pada asas-asas normatif dan doktrin-doktrin hukum26. 2. Penelitian terhadap Sistematika Hukum. Penelitian ini dilakukan dengan menelaah pengertian dasar dari sistem hukum yang terdapat dalam peraturan perundangundangan. Tujuan pokoknya adalah untuk mengadakan identifikasi terhadap pengertian-pengertian pokok dalam hukum, yaitu masyarakat hukum, subyek hukum, hak dan kewajiban, peristiwa hukum, hubungan hukum, dan obyek hukum. Penelitian ini penting artinya karena masing-masing pengertian pokok tersebut mempunyai arti tertentu dalam kehidupan hukum, misalnya pengertian pokok ‘peristiwa hukum” yang mempunyai arti penting dalam kehidupan hukum, mencakup keadaan, kejadian, dan perilaku atau sikap tindak. Jika dikembangkan keadaan kejadian tersebut, misalnya dapat memiliki sifat, yaitu: a. Alamiah, seperti dalam Pasal 362, dan 363 KUHP. Rumusan Pasal tersebut dapat dilihat di bawah ini: 26 Ronny Hanitijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1985), hal.12.
22 Metode Penelitian Hukum Pasal 362 KUHP: “Barang siapa mengambil sesuatu barang, yang sama sekali atau sebagian termasuk kepunyaan orang lain, dengan maksud akan memiliki barang itu dengan melawan hak, dihukum, karena pencurian, dengan hukuman penjara selama-lamanya lima tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp 900,-” Pasal 363 KUHP. (1) Dengan hukuman penjara selama-lamanya tujuh tahun, dihukum: 1e. pencurian hewan. 2e. pencurian pada waktu kebakaran, letusan, banjir, gempa bumi, atau gempa laut, letusan gunung api, kapal karam, kapal terdampar, kecelakaan kereta api, huru-hara, pemberontakan atau kesengsaraan di masa perang. 3e. pencurian pada waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan yang tertutup yang ada rumahnya, dilakukan oleh orang yang ada di situ tiada dengan setahunnya atau bertentangan dengan kemauannya orang yang berhak. 4e. pencurian dilakukan oleh dua orang bersama-sama atau lebih. 5e. pencurian yang dilakukan oleh tersalah dengan masuk ke tempat kejadian itu atau dapat mencapai barang untuk diambilnya, dengan jalan membongkar, memecah atau memanjat atau dengan jalan memakai kunci palsu, perintah palsu atau pakaian jabatan palsu. (2) Jika pencurian yang diterangkan dalam No.3 disertai dengan salah satu hal yang tersebut dalam No. 4 dan 5, dijatuhkan hukuman penjara selama-lamanya sembilan tahun. b. Psikis, seperti dalam pasal 44 KUHP, yaitu: Pasal 44 KUHP (1) Barang siapa mengerjakan sesuatu perbuatan, yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya karena kurang
Metode Penelitian Hukum 23 sempurna akalnya atau karena sakit berubah akal tidak boleh dihukum. (2) Jika nyata perbuatan itu tidak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya karena kurang sempurna akalnya atau karena sakit berubah akal maka hakim boleh memerintahkan menempatkan dia di rumah sakit gila selama-lamanya satu tahun untuk diperiksa. (3) Yang ditentukan dalam ayat yang di atas ini, hanya berlaku bagi Mahakam Agung, Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Negeri. c. Sosial, seperti dalam Pasal 49 KUHP, yaitu: Pasal 49 KUHP (1) Barang siapa melakukan perbuatan, yang terpaksa dilakukannya untuk mempertahankan dirinya atau diri orang lain, mempertahankan kehormatan atau harta benda sendiri atau kepunyaan orang lain, dari pada serangan yang melawan hak dan mengancam dengan segera pada saat itu juga, tidak boleh dihukum. (2) Melampaui batas pertahanan yang sangat perlu, jika perbuatan itu dengan sekonyong-konyong dilakukan karena perasaan tergoncang dengan segera pada saat itu juga, tidak boleh dihukum. 3. Penelitian terhadap Taraf Sinkronisasi Hukum. Penelitian ini dapat dilakukan baik sinkronisasi secara vertikal (beda derajat) maupun secara horizontal (sama derajat/sederajat). Sinkronisasi secara vertikal menurut Bambang Sunggono adalah suatu peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi suatu bidang kehidupan tertentu tidak saling bertentangan antara satu dengan yang lain apabila dilihat dari sudut vertikal atau hierarki peraturan perundang-undangan yang ada27. Misalnya hierarki 27 Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998), hal. 97.
24 Metode Penelitian Hukum peraturan perundang-undangan menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2004 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, sebagaimana telah diganti dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, yaitu: a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat, c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti UU, d. Peraturan Pemerintah, e. Peraturan Presiden, f. Peraturan Daerah Provinsi; dan g. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Sinkronisasi horisontal, merupakan sinkronisasi terhadap peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang berbagai bidang yang mempunyai hubungan fungsional, konsisten yang sama derajatnya. Misalnya sinkronisasi antara undang-undang dengan undang–undang, antara peraturan pemerintah dengan peraturan pemerintah, atau antara peraturan Presiden dengan peraturan Presiden. 4. Penelitian Sejarah Hukum. Penelitian ini merupakan penelitian yang lebih menitikberatkan pada perkembangan-perkembangan hukum, atau perkembangan peraturan perundang-undangan. Di samping itu juga diadakan identifikasi terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan lembaga-lembaga hukum, seperti masalah Undang-Undang Perkawinan, hukum waris adat, dan hukum waris Eropa. Penelitian sejarah hukum dilakukan dengan
Metode Penelitian Hukum 25 menelaah latar belakang, perkembangan pengetahuan tentang isu yang dihadapi oleh perancang suatu peraturan perundangundangan. 5. Penelitian terhadap Perbandingan Hukum. Pada penelitian ini menekankan dan mencari adanya perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaan yang ada pada berbagai sistem hukum. Di dalam ilmu hukum dan praktik hukum metode perbandingan mungkin diterapkan dengan memakai unsur-unsur hukum sebagai titik tolak perbandingan, dimana sistem hukum sendiri mencakup tiga unsur pokok, yaitu (1) struktur hukum yang mencakup lembaga-lembaga hukum, (2) substansi hukum yang mencakup kaidah- kaidah hukum dan sikap tindak hukum, (3) budaya hukum yang mencakup perangkat nilai-nilai yang dianut. Ketiga unsur tersebut di atas dapat dibandingkan masing-masing satu sama lain, ataupun secara komulatif. Sedangkan penelitian hukum sosiologis atau empiris, atau penelitian lapangan yang bertitik tolak data primer. Data primer atau data dasar adalah data yang diperoleh langsung dari masyarakat sebagai sumber pertama dengan melalui penelitian lapangan, seperti melakukan pengamatan (observasi), wawancara, dan penyebaran kuesioner (angket). Penelitian hukum sosiologis dapat direalisasikan kepada penelitian terhadap efektivitas hukum yang sedang berlaku, ataupun penelitian terhadap identifikasi hukum. Penelitian terhadap efektivitas hukum yang sedang berlaku, misalnya penelitian yang berjudul, ”Efektivitas Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 Terhadap Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil.”Penelitian yang dilakukan nantinya dapat
26 Metode Penelitian Hukum merupakan penelitian hukum normatif maupun penelitian hukum empiris. Dalam judul tersebut di atas permasalahannya adalah, ”sejauh manakah peraturan pemerintah nomor 53 tahun 2010 dapat meningkatkan disiplin pegawai negeri sipil?”. Pertama-tama yang dilakukan penelitian normatif adalah inventarisasi pasal-pasal yang terdapat di dalam peraturan pemerintah nomor 53 tahun 2010. Selanjutnya efektivitas peraturan pemerintah nomor 53 tahun 2010 tersebut dikaitkan dengan tujuan yang diinginkan oleh pembentuk peraturan pemerintah tersebut. Dalam hal ini tentunya diperlukan data primer dari pegawai negeri, apakah benar-benar efektif atau tidak. Oleh karena itu, penelitian hukum empiris sebaiknya didukung juga data sekunder atau studi dokumentasi. Penggabungan penelitian antara penelitian sosiologis yang ditunjang penelitian normatif inilah yang seyogyanya dilakukan dalam praktik. Dengan demikian penelitian ini akan di dapat hasil yang memadai, baik dari segi praktik ataupun kandungan ilmiahnya28.
Metode Penelitian Hukum 27 BAB II KARAKTERISTIK ILMU HUKUM DAN PENELITIAN HUKUM 1. Ilmu dan Penelitian Istilah Ilmu (science) menyandang dua makna, yaitu sebagai produk dan sebagai proses. Sebagai produk, ilmu adalah pengetahuan yang sudah terkaji kebenarannya dalam bidang tertentu dan tersusun dalam suatu sistem. Menurut Wim van Dooren, menguraikan bahwa “ilmu dapat didefinisikan sebagai pengetahuan yang sah secara intersubyektif dalam bidang kenyataan tertentu yang bertumpu pada satu atau lebih titik tolak dan ditata secara sistimatis”29. Sebagai proses, istilah ilmu menunjuk pada kegiatan akal budi manusia untuk memperoleh pengetahuan dalam bidang tertentu secara bertatanan (stelselmatig) atau sistimatis dengan menggunakan seperangkat pengertian yang secara khusus diciptakan untuk itu, untuk mengamati gejala-gejala yang relevan pada bidang tersebut, yang hasilnya berupa putusan- putusan yang keberlakuannya terbuka untuk dikaji oleh orang lain
28 Metode Penelitian Hukum berdasarkan kriteria yang sama dan sudah disepakati atau yang dilazimkan dalam lingkungan komunitas keahlian dalam bidang yang bersangkutan30. C.A. Van Peursen, mendefinisikan bahwa ilmu adalah “sebuah kebijakan, sebuah strategi untuk memperoleh pengetahuan yang dapat dipercaya tentang kenyataan, yang dijalankan orang terhadap yang berkenan dengan kenyataannya”31. Penelitian dalam bahasa Inggris disebut research, adalah suatu aktifitas “pencarian kembali” suatu kebenaran (truth).32 Pencarian kebenaran yang dimaksud adalah upaya-upaya manusia untuk memahami dunia dengan segala rahasia yang terkandung didalamnya untuk mendapatkan solusi atau jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapinya. Bagi mahasiswa tidak asing lagi bila mendengar kata penelitian. Karena mahasiswa sering mendapat tugas untuk melakukan riset atau penelitian sederhana. Penelitian mempunyai banyak definisi. Pada dasarnya penelitian adalah “usaha yang dilakukan untuk memperoleh, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pokok permasalahan”. Terdapat dua macam sifat dari penelitian yakni penelitian yang bersifat pasif maksudnya penelitian yang hanya ingin memperoleh gambaran tentang suatu keadaan atau permasalahan; dan penelitian yang bersifat aktif yaitu penelitian yang pada dasarnya ingin menguji hipotesa dan memecahkan persoalan. Sesungguhnya kebenaran bisa diupayakan dengan berbagai 30 Valerine J.LK., Ibid 31 C.A. Van Peursen, dalam Valerine J.LK., Metode Penelitian Hukum,hlm. 76-77. 32 Sutandyo Wignyosubroto, Hukum, Paradigma, Metode, dan Dinamika Masalahnya, Huma, 2002, hlm.139.
Metode Penelitian Hukum 29 cara, yaitu:33 1. Berdasarkan pengalaman. 2. Menanyakan pada orang yang ahli. 3. Karena kebetulan. 4. Berdasarkan penelitian. Untuk melaksanakan penelitian secara empiris, maka diperlukan metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan metode atau cara ilmiah. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena atau peristiwa yang terjadi. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis sudah melalui pengujian, maka hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah. 2. Karakteristik Ilmu Hukum Hukum merupakan suatu ilmu pengetahuan yang bersifat khusus (sui generis). Sebagai ilmu pengetahuan, hukum perlu dikaji dan dikembangkan secara ilmiah melalui penelitian hukum. Ilmu Hukum mempelajari: tujuan Hukum (makna hukum, apa yang seharusnya), nilai-nilai keadilan, validitas aturan hukum, konsep-konsep hukum dan norma-norma hukum. Sifat ini merupakan sifat yang substansial dalam Ilmu Hukum, sehingga sering disebut Ilmu Hukum yang normatif. Ilmu Hukum menetapkan standar prosedur: ketentuan-ketentuan hukum, rambu- rambu dalam melaksanakan ketentuan hukum. Sebagai ilmu terapan Ilmu Hukum dipelajari untuk praktik hukum, akan tetapi yang dinamakan praktik dalam hal ini tidak harus bersifat litigasi (berkonotasi sengketa).
30 Metode Penelitian Hukum Praktik hukum, dapat berupa: telaah atas suatu kontrak tertentu, pembuatan kontrak atau audit hukum atas perusahaan tertentu, penyiapan naskah akademis suatu peraturan perundangundangan, telaah atas putusan pengadilan. Berdasarkan hasil telaah tersebut dapat dibuat opini atau pendapat hukum. Opini/ pendapat hukum oleh ahli hukum tersebut merupakan suatu preskripsi. Demikian halnya dengan tuntutan jaksa, petitum/eksepsi dalam pokok perkara berisi preskripsi. Untuk dapat memberikan preskripsi tersebut guna keperluan praktik hukum, maka diperlukan penelitian hukum. Oleh karena itu, Ilmu hukum memiliki dua aspek yakni; aspek praktis dan aspek teoritis, sehingga penelitian hukum dibedakan menjadi penelitian hukum untuk keperluan praktis dan kajian akademis/ pengembangan keilmuan hukum. Penelitian hukum untuk keperluan praktis dilakukan bagi kepentingan klien dan sesama praktisi hukum atau lembaga hukum. Sedangkan Untuk kajian akademis penelitian hukum dilakukan bagi dunia akademis dan pembuatan Rancangan Peraturan Per- undang-Undangan. Sehingga hasilnya: Penelitian untuk kepentingan praktis dapat berupa pendapat hukum, Penelitian hukum untuk kepentingan teoritis, hasilnya dapat berupa karya akademis baik berbentuk; skripsi, tesis, disertasi, artikel dalam jurnal hukum maupun Rancangan Peraturan Perundang-Undangan. Dari sudut substansi dikenal dengan ilmu formal dan ilmu empiris. Ilmu formal merujuk kepada ilmu yang tidak bertumpu pada pengalaman atau empiris, obyek kajian bertumpu pada struktur murni yaitu analisis aturan hukum operasional dan struktur logika. Ilmu empiris merujuk bahwa
Metode Penelitian Hukum 31 untuk memperoleh pengetahuan faktual tentang kenyataan aktual, dan karena itu bersumber pada empiris (pengalaman) dan ekperimental. Menurut Philipus M. Hadjon34, ilmu hukum memiliki karakter yang khas, yaitu sifatnya yang normatif, praktis, dan preskristif. Karakter yang demikian me- nyebabkan sementara kalangan yang tidak memahami kepribadian Ilmu hukum mulai meragukan hakekat keilmuan hukum. Keraguan tersebut dikarenakan dengan sifat yang normatif ilmu hukum bukan- lah empiris. Dengan karakter dari ilmu hukum (yaitu sifatnya yang normatif, praktis, dan preskriptif), maka ilmu hukum merupakan ilmu tersendiri (sui generis). Sehingga dengan kualitas keilmiahannya sulit dikelompokkan dalam salah satu cabang pohon ilmu, baik cabang dalam ilmu pengetahuan alam, cabang ilmu pengetahuan sosial, maupun cabang ilmu humaniora. Menurut Bernard Arief Sidharta35, ilmu hukum termasuk dalam kelompok ilmu praktis, ilmu hukum menempati kedudukan istimewa dalam klasifikasi ilmu, bukan karena mempunyai sejarah yang panjang, tetapi juga karena sifatnya sebagai ilmu normatif dan dampaknya langsung terhadap kehidupan manusia dan masyarakat yang terbawa oleh sifat dan problematikanya. Dari sisi terminologi, Ilmu hukum memiliki beberapa istilah yaitu: rechtstenschap atau rechtstheorie dalam bahasa Belanda disebut, jurisprudence atau legal science (Inggris), dan jurisprudent (Jerman). Dalam kepustakaan Indonesia tidak 34 Philipus M. Hadjon, Materi Kuliah sampaikan pada Kuliah Metode Penelitian Hukum Program Doktor Ilmu Hukum Program Pascasarjana, Universitas Airlangga Surabaya, 2009 35 Bernard Arief Sidharta, Refleksi tentang Struktur Ilmu Hukum, Mandar Maju, Bandung, 2000, hlm 104.
32 Metode Penelitian Hukum tajam dalam penggunaan Istilah. Istilah ilmu hukum disejajarkan dengan istilah- istilah dalam bahasa asing tersebut. Istilah jurisprudence, legal science, dan legal philosophy dalam bahasa Inggris36, mempunyai makna yang berbeda dengan istilah-istilah Belanda. Istilah rechtswetenschap (Belanda) dalam arti sempit adalah dogmatik hukum atau ajaran hukum yang tugasnya adalah deskripsi hukum positif, sistimatisasi hukum positif dan dalam hal tertentu juga eksplanasi. Dengan demikian dogmatik hukum tidak bebas nilai tetapi syarat nilai. Rechtstenschap dalam arti luas meliputi: dogmatik hukum, teori hukum (dalam arti sempit) dan filsafat hukum37. Ilmu Hukum dari segi obyek dapat dibedakan dalam arti sempit dan dan arti luas. Ilmu hukum dalam arti luas dapat ditelaah dari sudut pandangan sifat pandang ilmu maupun dari sudut pandangan ilmu hukum dari segi obyek dibedakan dalam arti sempit dan dalam arti luas. Ilmu hukum dalam arti sempit adalah dogmatik (ilmu hukum normatif). Ilmu hukum dalam arti luas dapat ditelaah dari sudut pandangan sifat pandang ilmu maupun dari tentang lapisan ilmu hukum seperti yang dilakukan oleh J. Gijssels dan Mark Van Hoecke38. Ilmu hukum dari sudut pandang ilmu dibedakan pandangan positivisme dan pandangan normatif. Dari sudut pandang ini dibedakan ilmu hukum normatif dan ilmu hukum empiris. 36 Trianto dan Titik Triwulan Tutik, dkk, Bunga Rampai Hakikat Keilmuan Ilmu Hukum (Suatu Tinjauan Dari Sudut Pandang Filsafat Ilmu), Prestasi Pustaka Publisher, Jakarta, 2007, hlm. 3. 37 Ibid, hlm 13-14. 38 J. Gijssels dan Mark Van Hoecke dalam Hendri Lumbung Raja, Metode Penelitian Hukum, https://www.hlplawoffice.com/metode-penelitian- hukummph/.
Metode Penelitian Hukum 33 Perbedaan ilmu hukum empiris dan ilmu hukum normatif menurut D.H.M. Meuwissen digambarkan dalam sifat ilmu hukum empiris, antara lain: 1. Secara tegas membedakan fakta dan norma, 2. Gejala hukum harus murni empiris, yaitu fakta sosial, 3. Metode yang digunakan adalah metode ilmu empiris, dan 4. Bebas nilai39. Implikasi dari perbedaan mendasar antara Ilmu hukum normatif dan ilmu hukum empirik adalah: Pertama, dari hubungan dasar sikap ilmuwan. Dalam ilmu hukum empirik ilmuwan adalah sebagai penonton yang mengamati gejala-gejala obyeknya yang dapat ditangkap oleh panca indera, sedangkan dalam ilmu hukum normatif, yuris secara aktif menganalisis norma sehingga peranan subyek sangat menonjol. Kedua, dari segi kebenaran ilmiah. Kebenaran ilmu hukum empirik adalah kebenaran korespondensi, yaitu bahwa sesuatu itu benar karena didukung fakta dengan dasar kebenaran pragmatik yang pada dasarnya adalah konsensus sejawat yang satu keahlian40. Berdasarkan pendapat di atas Philipus M Hadjon berpendapat, ilmu hukum haruslah menegaskan41: 1. Dengan cara apakah yang pasti, dia membangun teorinya, 2. Haruslah menyajikan langkah-langkahnya sehingga pihak lain dapat mengontrol hasil teorinya, 3. Harus mempertanggungjawabkan kenapa memilih cara 39 D.H.M. Meuwissen, dalam Trianto dan Titik Triwulan Tutik, dkk, Bunga Rampai Hakikat Keilmuan Ilmu Hukum (Suatu Tinjauan Dari Sudut Pandang Filsafat Ilmu), Prestasi Pustaka Publisher, Jakarta, 2007, hlm 16. 40 Ibid. hlm 16-17 41 Philipus M. Hadjon, Materi Kuliah sampaikan pada Kuliah Metode Penelitian Hukum Program Doktor Ilmu Hukum Program Pascasarjana, Universitas Airlangga Surabaya, 2009. dalam Henri Lumban Raja, Metode Penelitian Hukum, https://www.hlplawoffice.com/metode-penelitian-hukum- mph/, diakses, 20 Agustus 2019
34 Metode Penelitian Hukum yang demikian. Ilmu hukum mempunyai karakteristik sebagai ilmu yang bersifat preskriptif dan terapan42, mengikuti karakteristik keilmuan tersebut, ilmu hukum selalu berkaitan dengan apa yang seyogyanya atau apa yang seharusnya. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah metode ilmiah dapat diterapkan untuk ilmu hukum. Sesuai dengan pembahasan di atas, ilmu hukum memilki karakter yang khas, yaitu preskriptif, terapan dan sifatnya yang normatif. Ciri-ciri yang demikian menyebabkan sebagian kalangan yang tidak memahami kepribadian ilmu hukum itu dan meragukan hakekat keilmuan hukum. Keraguan itu karena sifat yang normatif ilmu hukum bukanlah ilmu empiris. Selain itu juga obyek telaahannya berkenan dengan tuntunan perilaku dengan cara tertentu yang kepatuhannya tidak sepenuhnya bergantung pada kehendak bebas yang bersangkutan, melainkan dapat dipaksakan oleh kekuasaan publik. Dengan permasalahan di atas, ahli hukum Indonesia berusaha mengangkat derajat keilmuan hukum dengan mengempiriskan ilmu hukum melalui kajiankajian sosio-logik. Adapun pendekatan yang dipergunakan adalah:43 1. Pendekatan dari sudut falsafah ilmu. 2. Pendekatan dari sudut pandang teori hukum. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diuraikan beberapa hal sebagai berikut: 1. Ilmu hukum diterima sebagai ilmu dengan tetap menghormati karakter ilmu hukum yang merupakan 42 Peter Mahmud MZ, Penelitian Hukum, Prenada Media, Jakarta, 2005, hlm. 22 43 rianto dan Titik Triwulan Tutik, dkk, Bunga Rampai Hakikat Keilmuan Ilmu Hukum (Suatu Tinjauan Dari Sudut Pandang Filsafat Ilmu), Prestasi Pustaka Publisher, Jakarta, 2007, hlm 10-12.
Metode Penelitian Hukum 35 kepribadian ilmu hukum, yaitu normatif, terapan, dan preskriptif. 2. Menetapkan metode penelitian hukum dalam cakupan yang lebih luas seharusnya beranjak dari hakekat keilmuan hukum, yang meliputi dua aspek pendekatan yang dapat dilakukan untuk menjelaskan keilmuan hukum dan dengan sendirinya membawa konsekwensi pada metode kajiannya, yaitu: pendekatan dari sudut falsafah ilmu dan pendekatan dari sudut pandang teori hukum. Oleh karena itu, berdasarkan uraian di atas Henri Lumban Raja berpendapat sebagai berikut: 1. Dari sudut keilmuan ilmu hukum bukan sebagai ilmu formal dan ilmu empiris tetapi ilmu hukum adalah ilmu praktis. 2. Ilmu hukum memilki karakter yang khas, yaitu preskriptif, terapan dan sifatnya yang normatif. 3. Untuk meningkatkan taraf dari Ilmu hukum, maka para yuris berusaha melakukan pengkajian melalui kajiankajian sosio-logik dengan pendekatan sudut falsafah ilmu dan sudut pandang teori hukum44. 3. Karakteristik Penelitian Hukum Penelitian ilmu hukum merupakan penelitian yang doktrinal karena keilmuan hukum bersifat preskriptif, dan bukan deskriptif sebagaimana ilmu alamiah eksakta maupun ilmu sosial humaniora lainnya. Makna Preskriptif yakni bersifat memberi petunjuk/berdasarkan ketentuan resmi yang berlaku. Preskripsi yakni menyatakan apa yang diharuskan oleh hukum. Berbeda dengan sifat deskriptif yang berisi pemaparan/ 44 Henri Lumban Raja, Metode Penelitian Hukum, https://www.hlplawoffice.com/ metode-penelitian-hukum-mph/, diakses, 20 Agustus 2019
36 Metode Penelitian Hukum penggambaran dengan kata-kata secara jelas dan terperinci. Deskriptif maknanya bersifat deskripsi, bersifat menggambarkan apa adanya sesuai fakta dan data yang ditemukan. Penelitian hukum merupakan suatu proses untuk menemukan aturan hukum, asas, prinsip hukum maupun doktrin dalam hukum untuk menjawab isu hukum yang dihadapi. Hal ini sejalan dengan karakter preskriptif ilmu hukum. Dan berbeda dengan penelitian yang dilakukan dalam keilmuan yang bersifat deskriptif yang menguji kebenaran ada tidaknya suatu fakta disebabkan oleh suatu faktor tertentu. Sehingga penelitian hukum dilakukan untuk menghasilkan argumentasi, teori, konsep baru sebagai preskripsi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi terhadap permasalahan hukum.
Metode Penelitian Hukum 37 BAB III PENELITIAN DAN METODE PENELITIAN HUKUM 1. Pengertian Penelitian dan Penelitian Hukum Penelitian dalam bahasa Inggris disebut research, adalah suatu aktivitas “pencarian kembali” pada kebenaran (truth)45. Pencarian kebenaran yang dimaksud adalah upaya manusia untuk memahami dunia dengan segala rahasia yang terkandung didalamnya untuk mendapatan solusi atau jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapi. Oleh karena itu, kebenaran bisa diupayakan dengan berbagai cara yaitu:46 a. berdasarkan pengalaman. b. menanyakan pada orang yang ahli. c. karena kebetulan. d. berdasarkan penelitian. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 menjelaskan bahwa “Penelitian adalah kegiatan yang dilakukan menurut kaidah dan 45 Soetandyo Wignyosubroto, Hukum, Paradigma, Metode dan Dinamika Masalahnya, Huma, 2002, hlm. 139. 46 Soerjono Soekanto (Soekanto 1), Pengantar Penelitian Hukum,Rajawali Press, Jakarta, 1986, hlm.42.
38 Metode Penelitian Hukum metode ilmiah secara sistematis untuk memperoleh informasi, data, dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan/ atau pengujian suatu cabang ilmu pengetahuan dan teknologi”. Soerjono Soekanto menjelaskan bahwa penelitian adalah “suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan jalan menganalisisnya”. Di samping itu, mengadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta hukum, untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan permasalahan yang timbul di dalam gejala hukum47. Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan analisa dan konstruksi, yang dilakukan secara metodologis, sistematis dan konsisten. Sistematis berarti dilakukan berdasarkan perencanaan dan tahapan-tahapan yang jelas. Metodologis berarti menggunakan cara tertentu dan konsisten, yakni tidak ada hal yang bertentangan dalam suatu kerangka tertentu. Sehingga mendapatkan hasil berupa temuan ilmiah berupa produk atau proses atau analisis ilmiah maupun argumentasi baru. Ukuran keilmiahan suatu hasil penelitian, yaitu:48 a. Merupakan pengetahuan (knowledge); b. Tersusun secara sistematis; c. Menggunakan logika; dan d. Dapat diuji atau dikontrol serta dibuktikan secara kritis oleh orang lain. Oleh karena itu, kebenaran hasil penelitian adalah kebenaran ilmiah yang berbeda dengan yang datang dari ramalan dukun yang takhayul dan tidak bisa dibuktikan oleh orang lain. Kebenaran 47 Soerjono Soekanto (Soekanto2), Sosiologi, Suatu Pengantar, Rajawali Press, Jakarta, 1986, hlm.6 48 Ibid