The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

buku ini dapat menambah wawasan kita dalam filsafatnegara luar

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by silvianatasya014, 2021-05-06 02:38:33

PERKEMBANGAN FILSAFAT DI NEGARA AMERIKA SERIKAT

buku ini dapat menambah wawasan kita dalam filsafatnegara luar

Keywords: filsafat

frtrbjhbjhfyryn

1

KATA PENDAHULUAN

Didorong oleh doktrin " Manifest Destiny ", di sepanjang abad ke-19, Amerika Serikat
memulai ekspansi besar-besaran ke wilayah Amerika Utara lainnya, penduduk asli, otoritas
dan membeli teritori-teritori baru, dan secara bertahap sebagai bagian negara bagian yang
baru. Perang Saudara yang meletus pada 1861 - 1865 mengakhiri perbudakan di Amerika

Serikat. Pada akhir abad ke-19, perekonomian nasional Amerika Serikat merupakan
perekonomian termaju di dunia.

Keberhasilan dalam bidang ekonomi Amerika didukung oleh beberapa faktor antara lain
industrialisasi yang berkembang, teknologi, Sumber Daya Manusia dan Etos Kerja yang
tinggi. Perekonomian Amerika memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perekonomian
global hingga saat ini. Apabila perekonomian Amerika mengalami penurunan maka hal
tersebut akan berdampak pada perekonomian global. Diketahui bahwa mata uang Amerika

Serikat yakni Dollar menjadi acuan nilai mata uang negara-negara yang ada didunia.

Perekonomian Negara Amerika merupakan salah satu sistem perekonomian yang memiliki
pengaruh penting dalam sejarah perekonomian dunia. Bahkan dengan segala pengaruhnya

tersebut yang menyeluruh di muka bumi ini menjadikan Amerika sebagai negara yang
menjadi panutan bagi negara lain, khususnya dalam hal sistem pembangunan perekonomian.

Membahas filsafat amerika berarti membahas filosofi di negara yang maju, di negara yang
kuat yang selalu diperhitungkan negara-negara lain di dunia. Parameter kemajuan Amerika
terletak pada perekonomian, kesehatan, pendidikan, penguasaan informasi dan kecanggihan

peralatan perang yang semuanya berbasisi sekuler.

Filsafat sebagai bentuk kegiatan berfikir secara mendalam dan komprehensid secara kritis
sistematis akan menjadi energi intelektual yang dapat memperbaiki kondisi kehidupan umat

manusia. Suatu negara berkembang sesuai dengan filosofi yang diterapkan di negara
teresebut. Sejalan dengan pendahuluan di atas layak kiranya untuk dibahas lebih dalam
tentang filosofi Amerika. Dalam pembahasan sejarah ini bertujuan untuk mendeskripsikan
perkembangan filsafat Amerika, aliran-aliran filsafat Amerika, mendeskripsikan tokoh-tokoh
dan pemikiran filsafat Amerika, kemudian mendeskripsikan pemikiran ilmu ekonomi filosof

Amerika.

2

. Sejarah Perkembangan Filsafat di Amerika

Menurut Harun Hadiwijono berpendapat bahwa:

“Pada umumnya pada bagian pertama abad ke 20 ada bermacam-macam aliran yang berdiri
sendiri-sendiri dan yang ada di bermacam-macam Negara. Masing-masing kelompok
pengaruh yang mendalam dalam masyarakat di sekitarnya. Pada jaman parohan pertama abad
ke 20 ini umpamanya terdapat aliran pragmatisme di Inggris dan Amerika, falsafah hidup di
Perancis dan Jerman, fenomenologi dan masih ada lainnya lagi. ”

Pendapat Harun Hadiwijono ini menunjukkan bahwa sejarah filsafat di Amerika baru
nampak pada abad ke 20. Pada abad ini aliran filsafat yang ada di Amerika adalah aliran
filsafat pragmatisme di Amerika Serikat yang sekarang dikenal sebagai Negara maju dalam
mengubah tatanan kehidupan bersendikan pemikiran-pemikiran yang pragmatis.

Pemahaman tentang pragmatisme berita oleh Harun Hadiwijono bahwa:

“Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar-benar adalah apa
yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan sebab-akibatnya yang
bermanfaat secara praktis. Pegangan pragmatisme adalah logika pengamatan, aliran ini
bersedia menerima segala sesuatu, asal saja membawa akibat yang praktis. Pengalaman-
pengalaman pribadi di terimanya asal bermanfaat yang dipercaya sebagai kebenaran yang
dianggap sebagai kebenaran, asal kebenaran yang membawa praktis yang bermanfaat.
Demikianlah patokan pragmatisme adalah manfaat bagi hidup praktis. ”

Aliran ini mengajarkan bahwa yang benar adalah apa saja yang membuktikan dirinya sebagai
yang benar dan bermanfaat secara praktis. Ide aliran pragmatisme berasal dari William
James, pemikiran James pada awalnya karena James melihat bahwa telah terjadi pertentangan
antara ilmu pengetahuan dengan agama yang benar-benar kebenaran orang Amerika, ia
menginginkan hasil yang kongkret, untuk menemukan esensi tersebut maka harus diselidiki
konsekwensi praktisnya.

Aliran Pragmatis ini tokohnya adalah William James, menurut Ahmad Tafsir bahwa:

“William James (1842-1910) adalah tokoh yang paling bertanggung jawab yang membuat
pragmatisme menjadi terkenal di seluruh dunia. Lebih dari itu, ia merupakan orang Amerika
pertama yang memberikan kontribusi dalam gelombang dahsyat pemikiran pemikiran di
dunia barat. ”

William James mendefinisikan pragmatisme sebagai "sikap memandang jauh terhadap benda-
benda pertama, prinsip-prinsip dan kategori-kategori yang suatu sangat penting, serta melihat
ke depan kepada benda-benda yang terakhir, buah akibat dan fakta-fakta.

3

Berdasarkan Ahmad pendapat Tafsir, perkembangan sejarah filsafat di Amerika mampu
mempengaruhi di seluruh dunia. Aliran pragmatisme ini sangat menonjol dalam pemikiran
alam para filosof di dunia barat. Dengan demikian bagi kontribusi yang cukup dahsyat
perkembangan pemikiran filsafat dunia barat ini merupakan bukti sejarah filsafta Amerika
yang paling menonjol.
Sejarah perkembangan ilmu komunikasi di amerika sangat terlihat oleh aliran interaksi
simbolik dibawah pengaruh filosofi pragmatisme, yang memiliki kontrol pada pembahasan
sikap dan kepribadian yang dititikberatkan pada diri dan kepribadian.
Aliran interaksi simbolik adalah bagian aliran filsafat Amerika yang kemudian melahirkan
gambar komunikasi. Komunikasi pada hakikatnya adalah interaksi simbolik dua arah antara
penyampai pesan dalam bentuk simbolik melalui media penerima pesan.
Pemikiran yang bersumber dari filosofi komunikasi inilah yang kemudian sekarang ini
Amerika Menguasai komunikasi media dunia. Dengan menguasai informasi, maka Negara
Amerika menjadi negara berkemajuan dan menguasai negara-negara di dunia.
Perkembangan filosofi komunikasi di amerika serikat dapat bergerak sejarah pertumbuhan
jurnalisme dan retorika di amerika, antara lain terdapat 4 fase, yaitu:
Sebuah. Fase Benjamin Franklin (1700-1870)
b. Fase Robert Lee (1870-1930)
c. Fase Harold Lasswell (1930-1950)
d. Fase Willbur Scramm (1950-sekarang)
Filsafat komunikasi di amerika berkembang pula melalui retorika yang diperoleh dari filsuf
dan romawi . Istilahnya adalah Pidato . Istilah tersebut berkembang setelah berdiri Speech
Association of America dan International Communication Association . Disini kesehatan
mengenai informatika, komunikasi antarpribadi, komunikasi massa, komunikasi
organisasional, komunikasi antar-budaya, komunikasi politik, komunikasi intruksional, dan
komunikasi.

4

Aliran-Aliran Filsafat Amerika

Sebuah Aliran Pragmatis Aliran-aliran filsafta Amerika yang dipandang penting adalah
aliran pragmatisme yang melahirkan filsafat pragmatis. Di Amerika Serikat aliran
Pragmatisme mendapat tempat yang berada didalam pemikiran pemikiran, William James
adalah orang yang memperkenalkan gagasan-gagasan pragmatisme kepada dunia.
Aliran Pragmatisme mengajarkan bahwa yang benar-benar apa yang membuktikan dirinya
sebagai benar-benar dengan perantaraan akibatnya yang bermanfaat secara praktis.
Aliran ini menganggap benar apa yang akibatnya bermanfa'at secara praktis. Jadi patokan
dari pragmatisme adalah bagaimana dapat bermanfaat dalam kehidupan praktis. Dan
pegangan pragmatisme adalah logika pengamatan. Kebenaran mistis pun dapat diterima
asalkan bisa bermanfa'at secara praktis misalnya ada penyembuhan alternatif yang
menggunakan tenaga magis. Pengalaman pribadi yang benar adalah pengalaman yang
bermanfaat secara praktis.
b. Aliran Interaksi Simbolik

Selain aliran Pragmatisme di Amerika ada juga Aliran Interaksi Sosial Simbolik yang
berkembang filsafat komunikasi.
Menurut Prof. Onong Unchjana Effendi, filsafat komunikasi adalah suatu disiplin yang
menelaah pemahaman ( verstehen ) secara lebih mendalam, fundamental, metodologis,
sistemats, analitis, kritis dan komperhensif teori dan proses komunikasi yang mencakup
segala dimensi menurut bidang, sifat, tatanan, tujuan, fungsi, teknik, dan metode-metodenya.
Filsafat komunikasi menuntun seseorang untuk mendalami kajian komunikasi lebih jauh.
Lebih dari itu, membuat seseorang memahami akar permasalahan yang ada pada proses
penggalian ilmu. Titik terang epistimologi komunikasi bisa dicari dengan adanya filosofi
dalam komunikasi. Sehingga penelusuran yang dilakukan menjadi terarah dan sistematis.

5

Proses komunikasi - dalam berbagai bentuk - bertujuan agar tersampaikannya pesan secara
baik untuk mendapatkan timbal balik yang baik pula. Pada akhirnya, komunikator bisa
mendapatkan apa yang diharapkan dan komunikan mendapatkan apa yang dibutuhkan secara
terarah.
Dari paparan diatas bahwa aliran filsafat yang berkembang di Amerika mendorong kehidupan
manusi untuk memilih cara-cara pemenuhan kebutuhan secara pragmatis. Interaksi interaksi
simbolikpun adalah hal yang dapat mempengaruhi opini publik serta membentuk sikap
masyarakat.
Dalam berbagai aspek kehidupan pola pikir pragmatis yang tertanam, tumbuh subur, dan
berkembang di Amerika meliputi tradisi anglo Saxon melahirkan insan-insan Amerika
dengan keunikannya sendiri.
Pragmatisme mengajarkan bahwa manusia dibekali dengan pengalaman yang merupakan
landasan untuk mencapai “kebenaran”, yakni manfaat. Berdasarkan pengalaman dan
kekuatan intelektual manusia memperoleh kesempatan dalam berbagai pengamataan,
perkobaa, pengungkit, dan validasi kebenaran yakni sesuatu yang bermanfaat. Pandangan
pragmatisme mengenai manusia yang diajarkan oleh William James meyakini bahwa
manusia dengan kategori jiwa jiwa raga yang tegar.

6

Beberapa Tokoh dan Pemikiran Filsafat Amerika

1) Biografi William James

William James [10] peningkatan di New York pada tanggal 11 Januari 1842 dan dibesarkan
dalam suatu keluarga cendekiawan yang sejak lama menaruh perhatian pada agama dan hal-
hal yang bersifat kerohanian (teologis). Ayahnya, Henry James, Sr., yang kebetulan adalah
seorang penulis filosofis, ahli teologi, dan seorang yang mencintai kebudayaan lebih
mengembangkan sikap demokratis dalam mendidik anak-anaknya. Ia lebih menyukai dan
menyukai penghayatan pribadi yang unik, khas dan mendalam yang mengikuti aturan-aturan
institusional yang serba formal. Ia berusaha menanamkan nilai-nilai demokrasi, dan
mengharapkan agar anak-anaknya kelak menjalani hidup sebagai cendekiawan, republikan
dan kosmopolitan. Salah seorang adik William James, adalah seorang novelis terkenal,
bernama Henry James, Jr.
Pola asuh ini sangat mempengaruhi kehidupan dan pribadi sikap James di kemudian hari,
terkait dengan aturan yang serba formal dan otoriter. Ia juga tidak menghargai yang terlalu
kaku antardisiplin ilmu dan lembaga keagamaan yang menganggap dirinya sebagai hal yang
dianggap sebagai perantara rohani-ah antara Tuhan dan manusia. Ketika masa mudanya,
James berhasrat untuk menjadi pelukis tekenal. Tetapi, kemudian dalam kehidupannya
dengan seni, dia mendapat pelajaran bahwa dirinya dapat hidup tanpa seni, dan James
mengarah pada dunia medis dan ilmu kealaman ( ilmu alam ).
Keahliannya dalam keilmuan dunia bersamaan dengan kepekaan akan dunia seni, seperti
dalam keahliannya dalam bidang psikologi, yang kemudian diperkaya dan dilengkapi dengan
penguasaan seni yang sebelumnya sudah dipelajari oleh James, serta latihan kedisiplinan
dalam bidang keilmiahan, merupakan wadah yang menjadikan James sebagai seorang
pengajar dan penulis yang cemerlang, dan meraih sukses luar biasa. Kehebatan itu dikenal
oleh khalayak umum pada tahun 1980 ketika karyanya Principles of Psychology terbit, dan

7

menandakan periode yang baru bagi cabang keilmuan serta menandakan arah James ke
filosofi.

Pandangan James mengenai permasalahan moral, espitemologis, dan metafisika dalam
konteks pengalaman yang nyata merupakan semangat pemberontakan beliau terhadap
idealisme intelektual. Radikal empirisme yang ditawarkan oleh James mempertahankan
pluralitas dari pengalaman dalam rangka melawan pandangan keharmonisan dan
kesederhanaan monisme. Pragmatisme, seperti yang didefinisikan oleh James dalam
empirisme radikal-nya, telah menimbulkan dampak besar dalam pemikiran modern. Di
samping itu, James dapat disebut sebagai tokoh pertama yang mempopulerkan pragmatisme
dan sekaligus oleh sebagai mazhab filsafat yang hampir dapat dijadikan tumpuan dan
pegangan kebanyakan orang Amerika.

Psikologi telah membawa James ke alam filsafat sehingga ia beralih ke banyak problematika
agama dan metafisika. William James menjadi dosen filsafat di Universitas Harvard
selamakurang lebih dari 31 tahun dan meninggal dunia tahun 1910, setelah filsafat
Pragmatismenya terkenal luas di Amerika dan Eropa. [11]

William James merupakan pendiri dari suatu gerakan dari sebuah pemikiran yang dikenal
dengan nama „Pragmatisme‟, yang tidak hanya menyebar di Amerika, tetapi juga melebihi
Eropa sebagai aliran filsafat selama lebih dari dua puluh tahun. Selain itu, James tidak hanya
umum dikenali sebagai salah satu dari filsuf Amerika yang berpengaruh, tetapi juga
seseorang yang sangat mewakili pemikiran Amerika.

Pada tahun 1910 William James meninggal dunia karena gagal jantung pada musim panas di
rumah, di daerah Chocorua, New Hampshire.

Pemikiran William James

Mengenai kebenaran , ada satu kalimat dari William James yang cukup padat dalam
menggambarkannya, yaitu " kebenaran terjadi pada sebuah ide ". Berbeda dengan konsepsi
tradisional mengenai kebenaran yang kebenarannya sebagai sesuatu yang pasti dan tetap,
James meyakini bahwa kebenaran itu terjadi pada suatu gagasan. Hal ini, dilaksanakan
sebagai sesuatu yang dinamis. Suatu kebenaran yang dikatakan sebagai "benar", melainkan
"menjadi benar". Hal ini ditakar dari efek-efek praktis dan tindakan yang mengikuti gagasan
tersebut.

Sebuah gagasan yang benar, jika mengarahkan manusia suksesnya suatu tindakan. Dengan
kata lain, jika gagasan itu mengarahkan kita pada tindakan yang membawa manfaat. Bagi
James, benar dan bermanfaat merupakan satu hal yang sama. Hal ini berkaitan dengan
pengungkit yang dikenakan pada suatu gagasan untuk menguji apakah itu benar atau tidak.

Terlihat pula bahwa bagi James, kemauan mendahului kebenaran, di mana kemauan itu
sesuai dengan kehendak untuk percaya. Hal ini karena kebenaran merupakan sesuatu yang
diaktualisasikan oleh manusia gagasan tertentu yang ia jadikan baru untuk tindakannya, [12]

8

3) Karya-Karya Kefilsafatan William James
- Prinsip Psikologi
- Berbicara dengan Guru
- Keinginan untuk dipercaya, (1897)
- The Variety of Religius Experience (1902)
b. John Dewey

1) Biografi
John Dewey adalah seorang filosof dari Amerika Serikat, termasuk Mazhab Pragmatisme.
Selain sebagai filsuf, Dewey juga dikenal sebagai kritikus sosial dan pemikir dalam bidang
pendidikan.
Dewey pengembangan di Burlington pada tahun 1859 M. Setelah menyelesaikan studinya di
Baltimore, ia menjadi guru besar dalam bidang 62 dan kemudian dalam bidang pendidikan
pada beberapa universitas. Sepanjang karirnya, Dewey menghasilkan 40 buku dan lebih dari
700-an artikel. Dewey meninggal dunia pada tahun 1952 M.
Dari tahun 1884-1888 M, Dewey mengajar pada Universitas Michigan dalam bidang isi.
Tahun 1889 M ia pindah ke Universitas Minnesota. Akan tetapi pada akhir tahun yang sama,
ia pindah ke Universitas Michigan dan menjadi kepala bidang filsafat. Tugas ini dijalankan
sampai tahun 1894 M, ketika ia pindah ke Universitas Chicago yang membawa banyak
pengaruh pada pandangan-pandangannya tentang pendidikan sekolah di kemudian hari. Ia
menjadi sebagai pemimpin departemen filsafat dari tahun 1894-1904 di universitas ini. Ia
kemudian menentukan Sekolah Laboratorium yang dikenal dengan nama The Dewey School
. Di pusat penelitian ini ia memulai penelitiannya mengenai pendidikan di sekolah-sekolah
dan mencoba menerapkan teori pendidikannya dalam praksis sekolah-sekolah. Hasilnya, ia
meninggalkan pola dan proses pendidikan tradisional yang memiliki kemampuan mendengar

9

dan menghafal. Sebagai ganti, ia menekankan pentingnya dan interaksi murid dalam diskusi
dan masalah masalah. Selama periode ini pula ia perlahan-lahan meninggalkan gaya
pemikiran idealisme yang telah mempengaruhinya. Jadi selain menekuni pendidikan, ia juga
menukuni bidang logika, psikologi dan etika. [13]

2) Pemikiran John Dewey

Menurut Dewey, tugas 62 adalah memberikan pengarahan bagi perbuatan nyata dalam
kehidupan. Oleh karena itu, filsafat tidak boleh tenggelam dalam pemikiran-pemikiran
metafisik belaka. Filsafat harus berpijak pada pengalaman, dan situasi serta mengolah
pengalaman tersebut secara kritis. Dengan demikian, filsafat dapat menyusun suatu sistem
nilai atau norma.

Cara-cara non-ilmiah (unscientific) membuat manusia tidak puas sehingga mereka
menggunakan cara berpikir deduktif atau induktif. Kemudian orang mulai memadukan cara
berpikir deduktif dan induktif, dimana perpaduan ini disebut dengan berpikir reflektif
(pemikiran reflektif) .

Teori-teori awal yang mampu menjelaskan perilaku seseorang, difokuskan pada dua
kemungkinan (1) perilaku yang diperoleh dari keturunan dalam insting-insting biologis - lalu
dikenal dengan penjelasan "sifat" - dan (2) perilaku bukan diperoleh dari hasil pengalaman
selama kehidupan mereka - dikenal dengan penjelasan "nurture". Penjelasan "alam"
dirumuskan oleh ilmuwan Inggris Charles Darwin pada abad kesembilan belas di mana dalam
teorinya dikemukakan bahwa semua perilaku manusia merupakan instink yang diperlukan
agar bisa bertahan hidup. Namun banyak analis sosial yang tidak percaya bahwa instink
merupakan perilaku sosial. John Dewey mengatakan bahwa perilaku kita tidak muncul
berdasarkan pengalaman masa lampau, tetapi juga secara terus menerus berubah atau diubah
oleh lingkungan. - "situasi kita" - termasuk tentunya orang lain, [14]

Pandangan Dewey tentang manusia bertolak dari konsepnya tentang situasi kehidupan
manusia itu sendiri. Manusia adalah makhluk sosial, sehingga perbuatannya, baik atau buruk,
akan melayani oleh masyarakat. Akan tetapi pihak lain, manusia adalah yang menciptakan
nilai bagi dirinya sendiri secara alamiah. Masyarakat di sekitar manusia dengan segala
lembaganya, harus diatur dan dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat memberikan
perkembangan semaksimal mungkin. Itu berarti, seorang pribadi yang berkembang di
samping berkembang kemungkinan alamiahnya, perkembangannya juga didukung oleh
masyrakat yang ada di sekitarnya.

Dewey juga berpandangan bahwa setiap pribadi manusia memiliki struktur-struktur kodrati
tertentu. Misalnya insting dasar yang dibawa oleh setiap manusia. Insting-insting Basis itu
tidak bersifat statis atau sudah memiliki bentuk baku, melainkan sangat fleksibel.
Fleksibilitasnya tampak ketika insting bereaksi terhadap kesekitaran. Pokok pandangan
Dewey di sini sebenarnya adalah struktur yang secara kodrati psikologis manusia atau kodrat
manusia mengandung kemampuan-kemampuan tertentu. Kemampuan-kemampuan itu
diaktualisasikan sesuai dengan kondisi sosial sekitar manusia. Bila seseorang berlaku yang
sama terhadap kondisi sekitar, itu disebabkan karena “kebiasaan”, cara seseorang berlaku

10

terhadap stimulus-stimulus tertentu. Kebiasaan ini dapat berubah sesuai dengan ketentuan
kesekitarnya, [15]
Dewey juga menjadi sangat terkenal karena pandangan-pandanganya tentang filsafat
pendidikan. Pandangan yang dikemukakan dalam mempengaruhi perkembangan pendidikan
modern di Amerika. Ketika ia pertama kali memulai eksperimennya di Universitas Chicago,
ia telah mulai mengkritik tentang sisitem pendidikan tradisional yang bersifat determinasi.
Sekarang ini, pandangannya tidak hanya digunakan di Amerika, tetapi juga di banyak negara
lainnya di seluruh dunia.
Untuk memahami pemikiran John Dewey, kita harus berusaha untuk memahami titik-titik
lemah yang ada dalam dunia pendidikan itu sendiri. Ia secara realistis mengkritik praktek
pendidikan yang hanya menekankan pentingnya peran guru dan mengesampingkan para
siswa dalam sistem pendidikan. Penyiksaan fisik dan indoktrinasi dalam bentuk penerapan
doktrin-doktrin menghilangkan kebebasan dalam pelaksanaan pendidikan. Tak lepas dari
kritikannya juga yakni sistem kurikulum yang "ditentukan dari atas" tanpa memperhatikan
status-status dari bawah. Intinya bahwa, dalam dunia pendidikan harus diterapkan sistem
yang demokratis, [16]
Menurutnya, proses belajar berarti menangkap makna dengan cara sederhana dari sebuah
praktek, benda, proses atau peristiwa. Menangkap makna berarti mengukur kegunaannya.
Sesuatu yang mempunyai makna berarti memiliki fungsi sosial. Oleh karena itu pendidikan
harus mampu mengantar kaum muda untuk memahami aktivitas yang mereka temukan dalam
masyarakat. Semakin banyak aktivitas yang mereka pahami berarti semakin banyak pula
makna yang mereka diperoleh. Dalam pengertian inilah ia mengatakan bahwa pengetahuan
yang mempengaruhi demokrasi.
3) Karya-Karya Kefilsafatan John Dewey
- sychol ogy 1891

- Garis Besar Teori Kritik Etika 1984
- The Study Of Etics dan lain-lain

11

Pemikiran Ilmu Ekonomi Filosof Amerika

Pada garis besar, filsafat Amerika Serikat senasib dengan kebudayaan Amerika pada
umumnya. Seperti kita ketahui bahwa kebudayaan Amerika Serikat mempunyai ciri khas
yaitu tidak mempunyai tradisi yang panjang. Karena itu, ia belum pernah mempunyai wajah
sendiri. Kebudayaannya bersandar pada "self made man" . Apabila kita lihat, pandang secara
cermat, ciri yang penting adalah perkembangan materi dan tekniknya. Perkembangan ini
sangat mempengaruhi alam pemikiran bangsa tersebut. Pengaruh itu jelas dalam
pragmatisme.

Kemunculan pragmatis sebagai aliran filsafat dalam kehidupan kontemporer, khususnya di
Amerika Serikat, telah kemajuan kemajuan-kemnjuan yang pesat bagi ilmu pengetahuan
maupun teknologi. Pragmatisme telah berhasil membumikan filsafat dari corak sifat yang
Tender Minded yang cenderung berfikir metafisis, idealis, abstrak, intelektualis, dan
cenderung berfikir hal-hal yang naik atas, materialis, dan atas kebutuhan-kebutuhan dunia,
bukan belakangan di akhirat. Dengan demikan, filsafat pragmatisme mengarahkan aktivitas
manusia untuk hanya mempercayai ( kepercayaan ) pada hal yang sifatnya riil, indriawi, dan
yang memanfaatnya dapat dinikmati secara praktis-pragmatis dalam kehidupan sehari-hari.

Pragmatisme telah berhasil mendorong berfikir yag liberal, bebas dan selalu menyangsikan
segala yang ada. Barangkali dari sikap skeptis tersebut, pragmatisme telah mampu
mendorong dan memberi semangat pada seseorang untuk berlomba-lomba membuktikan
suatu konsep lewat penelitian-penelitian, pembuktian-pembuktian dan eksperimen-
eksperimen sehingga muncullah temuan-temuan baru dalam ilmu pengetahuan dunia yang
mampu mendorong secara dahsyat terhadap kemajuan di badang sosial dan ekonomi.

Sesuai dengan coraknya yang sekuler, pragmatisme tidak mudah percaya pada "kepercayaan
yang mapan". Suatu kepercyaan yang diterima terbukti kebenarannya melalui pembuktian
yang praktis sehingga pragmatisme tidak mengakui sesuatu adanya yang sakral dan mitos,
Dengan coraknya yang terbuka, kebanyakan kelompok pragmatisme merupakan pendukung
terciptanya demokratisasi, kebebasan manusia dan gerakan-gerakan progresif dalam
masyarakat modern.

Bagi kaum pragmatis tidak ada kesadaran kosmis, tetapi kesadaran sosial. Kesadaran ini
mendorongnya lebih kuat untuk menjadi penguasa dunia. ini ada persamaannya dengan
Nietzche. Tuan-tuan dari dunia bisnis Amerika yang mottonya adalah “ Berhasil di semua
bahaya” adalah sepupu dengan superman Teitonic yang bekerja dikawasan “melampaui yang
baik dan yang jahat” [17]

Pragmatisme sebagai sistem yang sangat diperlukan oleh bangsa Amerika sebab pragmatisme
adalah filsafat hasil, filsafat kerja, filosofi keuntungan. Ini sesuai dengan sikap Amerika
terhadap ilmu yang menempatkan Edison dan Morse pada tingkat pertama, Ampere dan
Fresnel pada tingkat kedua. Kaum Pragmatisme adalah filsuf yang tidak dapat membuktikan
ide-idenya dengan mimpi, tetapi dengan bekerja. Pendeknya, pragmatisme adalah hal yang

12

praktis, yang jelas bagi pria bisnis-perselingkuhan , kapitalis-kapitalis dengan kekuatan
ekonomi dan kemenangan materi. Deri ras setengah Bar Bar, orang hanya dapat mengharap
filsafat tukang, filsafat calo, filsafat pedagang. Namun, filosofi itu adalah penangkis
intelektualisme aristokrat yang merendahkan hasil. [18]

Filsafat ilmu ekonomi meliputi pembahasan tentang aspek konseptual, metodologi, dan etika
yang berkaitan dengan disiplin ilmu ekonomi Fokus utamanya adalah aspek metodologi dan
epistemologi yang mencakup metode, konsep, dan teori yang dibangun oleh para ekonom
untuk sampai pada yang disebut "ilmu" tentang proses ekonomi . Filsafat ekonomi juga
berkaitan dengan bagaimana nilai-nilai etika menjadi bagian argumentasi dalam ilmu
ekonomi seperti kesejahteraan, keadilan, dan adanya pertukaran antara pilihan-pilihan yang
tersedia.

Pembahasan tentang ilmu ekonomi dari perspektif filsafat ilmu pengetahuan tentang apakah
ilmu ekonomi memiliki klaim sebagai sebuah disiplin ilmu yang memiliki aspek metodologis
dan epistemologis yang menghasilkan pengetahuan empiris. Aspek kritis yang menjadi berita
tentang hal tersebut adalah terkait dengan struktur dan justifikasi teori dalam ilmu ekonomi.
Secara umum, terdapat 6 (enam) permasalahan utama yang terkait dengan aspek metodologis
dalam ilmu ekonomi, yaitu

Pertama, ekonomi positif versus normatif . Eksistensi pertimbangan normatif dalam ekonomi
mengajukan pertanyaan metodologis dari perpektif ilmu pengetahuan yang bersifat
positivisme. Sebagian besar mencoba mengatasi masalah tersebut dengan melakukan
pembahasan ilmu ekonomi dalam bentuk ilmu yang positif untuk menghindari bias
metodologis. Akan tetapi, banyak kelas penilaian bahwa pendekatan ini menimbulkan banyak
pertanyaan dan cenderung lemah karena selama teori ekonomi yang berkaitan dengan
kepentingan individu dan atau masyarakat, maka pasti mengandung aspek normatif

Kedua, alasan versus sebab.Teori ekonomi mengasumsikan bahwa individu bertindak
rasional dan melakukan pilihan-pilihan berdasarkan alasan-alasan tertentu. Alasan-alasan ini
menjadi justifikasi mengapa seseorang melakukan pilihan tertentu, dan alasan tersebut harus
sesuai dengan individu yang bersangkutan. Asumsi ini menimbulkan pertanyaan terkait
dengan kemungkinan bahwa individu bertindak karena adanya kausal, yang disebabkan oleh
kondisi tertentu sehingga tidak bertindak berdasarkan alasan rasional. Individu yang
bertindak bertindak rasional didasari oleh asumsi bahwa mereka memiliki informasi yang
sempurna terhadap sejumlah fakta yang relevan dengan pilihan-pilihan yang dibuatnya. Akan
tetapi, dalam kenyataannya tidak pernah terjadi, dan hal tersebut menjelaskan mengapa ilmu
ekonomi tidak paralel atau berbeda dengan ilmu alam

Ketiga, Naturalisme Ilmiah Sosial. Dari semua ilmu sosial, ilmu ekonomi adalah yang paling
mirip dengan ilmu alam. Pandangan membedakan antara ilmu sosial dan ilmu alam umumnya
terkait dengan tiga pertanyaan, yaitu (1) apakah ada perbedaan mendasar struktur struktur dan
konsep dalam hal teori antara penjelasan pada ilmu alam dengan ilmu sosial? (Masalah ini
terkait dengan alasan versus penyebab seperti yang telah diuraikan sebelumnya), (2) Apakah
ada perbedaan fundamental dalam tujuan antara ilmu ekonomi dan ilmu alam? Mahkamah

13

agama menyatakan bahwa ilmu ekonomi memiliki tujuan untuk memberikan penjelasan
mengapa suatu fenomena terjadi sehingga menciptakan adanya pengertian dan tanggapan
terhadap fenomena tersebut. Tujuan ini mengakibatkan adanya subjektivitas, yang tidak
terjadi dalam ilmu alam, (3) Pentingnya pilihan manusia (atau mungkin kehendak bebas),
menimbulkan pertanyaan apakah fenomena sosial terlalu tidak teratur sehingga digambarkan
dalam kerangka kerangka hukum dan teori? Dengan karakter manusia yang bersifat kehendak
bebas, mungkin perilaku manusia sulit diprediksi. Akan tetapi, dalam kenyataannya banyak
perilaku manusia yang menunjukkan keteraturan, disamping adanya ketidakteraturan.
Kondisi ini juga terjadi pada ilmu alam yang memiliki banyak ketidakteraturan dalam
hubungan kausal.

Kelas Keempat, Abstraksi, idealisasi, dan ceteris paribus dalam ilmu ekonomi. Dalam
perspektif ilmu pengetahuan, ilmu ekonomi banyak mengajukan pertanyaan yang berkaitan
dengan adanya abstraksi, idealiasasi, dan kebenaran teori yang ceteris paribus. Ada
pertanyaan yang mengemuka, tentang sekian banyak simplikasi, idealisasi, dan abtraksi dapat
dilegitimasi? Bagaimana legitimasi asumsi ceteris paribus dalam ilmu pengetahuan?
Pertanyaan tersebut telah menjadi metodologis yang mempertanyakan “ilmiah” dari ilmu
ekonomi.

Kelima, Penyebab di bidang ekonomi dan ekonometrika. Generalisasi dalam ilmu ekonomi
dasar pada hubungan kausal, misalkan tentang hukum permintaan. Hubungan kausal ini juga
dapat diidentifikasi dengan ekonometrika. Akan tetapi, kemungkinan kemungkinan adanya
pertentangan analisis hubungan kausal antara yang dihasilkan oleh perubahan ekonomi dan
komparatif statik yang terkait dengan keseimbangan ekonomi, sehingga menimbulkan
pertanyaan metodologis tentang hubungan kausal mana yang akan dipilih.

Keenam, Struktur dan strategi ekonomi. Perdebatan aspek metodologis terkait dengan aspek
ini adalah masuknya filosofi Kuhnsian (Kuhn, 1970) dan Lakatonian (Lakatos, 1970) dalam
pembahasan tentang ekonomi.

Masalah metodologis lainnya dalam ilmu ekonomi adalah penggunaan pendekatan
eksperimental dan non-eksperimental. Kombinasi pendekatan tersebut dapat menjembatani
dikotomi antara teori ekonomi dan bukti empiris.

Dalam konteks ini, ekonomi positif dapat dipertemukan dengan ekonomi normatif dengan
menyamakan kesejahteraan dalam ekonomi normatif dengan kepuasan preferensi dalam
ekonomi positif.

Konsepsi lainnya dalam ekonomi normatif adalah efisiensi. Konsepsi ini memiliki
pembahasan yang cukup luas dalam ekonomi dalam hal kesejahteraan. Dua teorema tentang
ekonomi kesejahteraan , yaitu teorema fundamental pertama ekonomi kesejahteraan yang
disebutkan bahwa ekuilibrium yang kompetitif dapat mencapai pareto optimal (alokasi
sumber daya yang efisien) dalam pasar yang sempurna. Teorema ini merepresentasikan
konsepsi Adam Smith tentang invisible hand . Dalam kenyataannya, pasar yang sempurna
tidak pernah terjadi atau terjadi kegagalan pasar (kegagalan pasar) , sehingga lahirlah teori

14

fundamental kedua dari ekonomi kesejahteraan yang menyatakan bahwa dalam konteks
terjadi kegagalan pasar.
Kemajuan Amerika dibidang ekonomi dalam bentuk devisa negara tidak lepas dari pemikiran
para filosof yang melahirkan teori human capital oleh filosof bruner. Filosofi ini terkenal
dengan berkembangnya teori human capital, sehingga amerika mampu menginjakkna kakinya
di bulan. [19]
Berdasarkan teori human capital maka prioritas investasi negara diarahkan pada
pengembangan sumber daya manusia.

15

Simpulan

Sejarah perkembangan filsafat di Amerika, berdasarkan fakta pragmatis yang mulai
berkembang pada tahun 1842-1910 yang dibawa oleh William James. Sedang filosofi
komunikasi sudah mulai berkembang pada tahun 1700 yang berkutat dengan berkembangnya
jurnalisme sebagai seni penelitian.
Aliran filsafat Amerika yang sangat menonjol yakni aliran pragmatisme dan aliran interaksi
simbolik yang berkembang menjadi filsafat komunikasi.
Adapun tokoh-tokoh dan pemikir filosofi amerika antara lain William James yang
berpandangan bahwa kebenaran adalah segala sesuatu yang bermanfaat secara praktis. John
Dewey berpandangan bahwa tugas entitas memberikan pengarahan bagi perbuatan dalam
perbuatan dalam hidup.
Selaras dengan sikap hidup Amerika yang pragmatis. Sikap individualistis merupakan
manivestasi dari kebebasan yang diterapkan pada individu dan terbentuklah masyarakat
kapitalis. Sikap kapitalis merupakan landasan perekonomian Amerika yang mereka yakini
telah mengantar negara sebagai negara besar.

16

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Syadali dan Mudzakir, Filsafat Umum, Pustaka Setia, Bandung, 2004.
Ahmad Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra, Remaja
Rosdakarya, Bandung, 2010.
Albertine Minderop , Pragmatisme: Sikap Hidup dan Prinsip Politik Luar Negeri Amerika ,
Yayasan obor Indonesia, Jakarta, 2006.
Asmoro Achmadi, Filsafat Umum , Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2008.
Garth Kemerling, “William James (1842-1910)”, dapat diakses pada:
http://www.philosophypages.com/vy/james.ico
Hani'ah, Agama Pragmatis: Telaah atas Konsepsi Agama John Dewey, Penerbit Yayasan
Indonesiatera, Magelang, 2001.
Harold H. Titus dkk, terj. Prof. Dr. HM Rasjidi, Persoalan-masalah Filsafat , Cet. I, Bulan
Bintang, Jakarta, 1984.
Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2 , Kanisius, Yogyakarta, 1980.
Muhammad Mufid, Etika dan Filsafat Komunikasi, Kencana Prenada Media Group, Jakarta,
2010.
Reley Woodbridge , Pemikiran Amerika: Dari Puritanisme ke Pragmatisme dan Sesudahnya,
Mass: Peter Smith, Gloucertes, 1959.
Tilaar, Kebijakan Pendidikan Indonesia , PT. Grasindo, Jakarta, 2003

17


Click to View FlipBook Version