The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Digital Library SMPN 1 Kaloran, 2023-10-25 02:36:42

Biji Semangka Ajaib

buku cerita

Keywords: fiksi,cerita

Futri Fuji Wijayanti dan Dewi Tri Kusumah PUSAT PERBUKUAN BADAN PENGEMBANGAN BAHASA DAN PERBUKUAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 2019


2


Muzakir dan Dermawan adalah kakak beradik dari keluarga petani yang kaya raya. Almarhum ayah mereka memberi kebun jeruk yang sama besar. Beliau juga berpesan bahwa mereka harus saling mengasihi satu sama lain. Muzakir harus menjaga adiknya, Dermawan. 3


Sifat mereka sungguh berbeda. Dermawan sangat pemurah sehingga ia suka memberikan benih jagung kepada burungburung. Sebaliknya, Muzakir sangat pelit. Katanya, setiap benih harus ditanam agar menghasilkan jagung sebanyak mungkin. 4


5


6


“Dermawan, jangan bagi-bagi jeruk hasil panen itu! Nanti kau akan jatuh miskin!” teriak Muzakir kepada adiknya saat ia membagi habis hasil panen pertamanya kepada para pekerja dan penduduk sekitar kebun. 7


Muzakir berpikir bahwa dia lebih pintar dari Dermawan. Ia tahu cara memilih pekerja yang andal. Ia paham cara membagi pekerjaan sesuai dengan keahlian pekerja. Ia juga paham bahwa sebagian keuntungan harus ditabung. Kebutuhan tak diduga bisa datang kapan saja. 8


Dermawan memang tidak mampu menolak siapa saja yang meminta pekerjaan. Akibatnya ia memiliki pekerja yang sangat banyak. “Bagaimana dia akan membayar pekerja sebanyak itu? Dia akan merugi karenanya,” gerutu Muzakir dalam hati. 9


Musim hujan tiba. Jalan menjadi berlumpur dan truk tidak bisa masuk ke ladang. Namun Muzakir tak khawatir. Ia dapat menyewa truk yang besar dengan uang tabungannya untuk membawa jeruknya ke kota. 10


Sementara itu, Dermawan sangat khawatir. Dia tidak punya uang untuk menyewa truk besar. Bagaimana ia akan memanen jeruk dan menjualnya ke kota? 11


Jeruk-jeruk Dermawan menumpuk dan membusuk. 12


Darmawan pun harus memberhentikan para pekerjanya. “Saya merugi. Saya tidak mampu membayar upah bulan ini. Tolong bagikan jeruk-jeruk ini saja kepada keluarga kalian,” katanya kepada mereka. 13


Hari-hari Dermawan kini dihabiskannya bersama temannya, sang burung pipit. 14


Namun, suatu hari, ketika Dermawan tak melihat ... 15


Kucing Muzakir menerkam burung pipit! Sayap burung yang malang itu terluka. 16


17


Hari demi hari, Dermawan merawat burung pipit yang terluka itu. 18


Hingga suatu hari, Dermawan melepaskan perban burung itu. “Sekarang kau sudah sehat. Terbanglah! Selamat tinggal, Burung!” 19


Keesokan harinya, burung pipit itu kembali. Ia menghampiri Dermawan dan menjatuhkan sebuah biji berwarna keemasan ke tangannya. Dermawan kemudian menanamnya di kebun. 20


Ternyata, itu adalah biji semangka. Biji semangka itu terus tumbuh ... 21


22


... tumbuh, dan terus tumbuh. Dermawan tak sabar ingin memotong-motong dan membagi semangka itu kepada tetangga dan kerabatnya. 23


Namun betapa terkejutnya Dermawan. Bukan daging buah yang merah yang dilihatnya, tetapi butiran emas dan perhiasan! 24


“Wow! Dengan butiran emas ini, aku bisa membayar upah para pekerjaku. Aku bisa mengurus lagi kebun jeruk lagi. Aku akan membeli lahan untuk menanam semangka. Aku juga bisa menanam jagung untuk makanan burung-burung sahabatku,” pikir Dermawan. 25


Suatu hari, kucing Muzakir menerkam burung itu lagi. Muzakir melihatnya tepat ketika burung luka itu mencoba terbang. 26


Muzakir menangkap burung pipit itu. Katanya, “Akhirnya sekarang tiba giliranku untuk mendapatkan biji ajaib darimu, burung kecil!” 27


Hari demi hari, Muzakir mengobati luka pada burung pipit itu. Saat sang burung pulih, ia pun meletakkan biji semangka di tangan Muzakir. Muzakir segera menanam biji semangka itu dengan riang. 28


Ukurannya bahkan lebih besar dari semangka milik Dermawan. Muzakir tak sabar ingin melihat isinya. Beberapa minggu berlalu, semangka milik Muzakir siap untuk dipetik. 29


Muzakir membelah buah semangka raksasa itu. Sungguh mengejutkan, bukan emas atau perhiasan yang ada di dalamnya, melainkan lumpur dan kotoran yang bau sekali. 30


Dermawan menghampiri Muzakir yang terlihat malu. Ia menggenggam beberapa biji semangka. “Kak Muzakir, mari kita tanam biji dari buah semangka ajaibku ini di tanahmu,” katanya. Muzakir berterima kasih kepada Dermawan. Ia berjanji akan membagi ilmunya kepada Dermawan agar menjadi petani yang lebih baik. 31


Setiap tahun, Muzakir pun memanen semangka dari kebunnya yang subur. Ia selalu memeriksa isinya. Meskipun sedikit kecewa karena semangkanya tidak berisi emas dan perhiasan, Muzakir menyukai semangka yang manis itu. Ia dan Dermawan pun membagi-baginya kepada kerabat dan tetangga mereka. 32


Click to View FlipBook Version